100% menganggap dokumen ini bermanfaat (4 suara)
2K tayangan31 halaman

Kontrol Kontaminasi Alat Berat

Contaminant adalah material asing yang dapat menyebabkan kerusakan pada sistem alat berat. Jenis-jenis contaminant antara lain partikel, kimiawi, dan mikroorganisme yang dapat berasal dari berbagai sumber seperti debu, kotoran, dan oksidasi. Kontaminasi dapat mempengaruhi umur pakai komponen dan fluida serta menurunkan kinerja mesin."

Diunggah oleh

habib hidhayatullah
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
100% menganggap dokumen ini bermanfaat (4 suara)
2K tayangan31 halaman

Kontrol Kontaminasi Alat Berat

Contaminant adalah material asing yang dapat menyebabkan kerusakan pada sistem alat berat. Jenis-jenis contaminant antara lain partikel, kimiawi, dan mikroorganisme yang dapat berasal dari berbagai sumber seperti debu, kotoran, dan oksidasi. Kontaminasi dapat mempengaruhi umur pakai komponen dan fluida serta menurunkan kinerja mesin."

Diunggah oleh

habib hidhayatullah
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

CONTAMINATION CONTROL

REVISI : 00

PT. MADHANI TALATAH NUSANTARA


OPERATIONAL TRAINING DEPARTMENT
2015
PENDAHULUAN i

KATA PENGANTAR

Dengan rasa syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa yang telah memberikan kesempatan dan
kemampuan kepada kami, sehingga buku pegangan mechanic untuk Contamination Control bisa
tersusun.

Harapan kami semoga buku ini bisa bermanfaat bagi mechanic dalam mengikuti training
Contamination Control dan memudahkan dalam memahami cara perawatan unit yang benar
sesuai dengan prosedur serta peraturan keselamatan kerja.

Dengan demikian bisa diaplikasikan dengan baik setelah berada di lapangan nanti.

Seperti pepatah mengatakan,”Tiada Gading Yang Tak Retak”, dengan kerendahan hati maka
kami menyadari bahwa buku ini masih kurang sempurna. Untuk itu kami sangat mengharapkan
saran dan kritik yang membangun dari pembaca, demi kesempurnaan buku pegangan mekanik di
waktu yang akan datang.

Maret 2015

Training Departement
Penyusun

PT. MADHANI TALATAH NUSANTARA Contamination Control


MECHANICAL TRAINING SECTION.
PENDAHULUAN ii

TRAINING PROFILE

Training Tittle
 Contamination Control

Training prerequisites
 Sebagai persyaratan untuk mengikuti training Contamination Control adalah mekanik PT.
MADHANI TALATAH NUSANTARA yang telah mengikuti dan Lulus BMC

Supplementary training manual


 Untuk kelancaran proses pemahaman maintenance yang benar, diperlukan sarana penunjang
dari factory, sbb :

Training duration
 36 Hours –4 Days
 90 % Inclass - Discussion
 10 % Practice

Training Outcome
 Setelah mengikuti training dan dinyatakan lulus, peserta harus mampu :
 Menjelaskan apa itu kontami.
 Menjelaskan penyebab kontaminasi & Pengaruhnya.
 Mengendalaikan kontaminasi.
 Menganalisa penyebab kontaminasi.

Training passed
 Peserta dinyatakan lulus jika :
 Nilai post test – Min . 75
 Nilai praktek – Min. C

Recommended training
 Jika berhasil lulus dari Product Training ini, dapatkan dilanjutkan dengan training sbb :

PT. MADHANI TALATAH NUSANTARA Contamination Control


MECHANICAL TRAINING SECTION.
PENDAHULUAN iii

SEVEN HABITS
( 7 KEBIASAAN BAIK )

1. PROAKTIF.
Jadilah seseorang yang bersifat Proaktif.
Kerjakan sesuatu melalui inisiatif, motivasi yang tinggi, kemauan yang timbul dari diri
sendiri. Orang yang reaaktif biasanya baru bertindak setelah ada sesuatu yang
menggangu dia, seperti ditanya, disuruh, diminta dan sebagainya.

2. BEGIN WITH THE END MIND.


Mulailah sesuatu pekerjaan dengan tujuan jelas.
Jika orang tidak mempunyai target atau tujuan yang jelas maka orang tersebut
selamanya akan menemui kegagalan, sebab apa yang ia jalankan atau kerjakan
dilakukan tanpa arah ataupun perencanaan yang jelas.

3. PUT FIRTS THINK FIRTS.


Tempatkanlah yang utama dengan tujuan yang jelas.
Bila seseorang selalu mengerjakan yang kecil-kecil atau bukan utama, maka ia tidak
akan selesai dengan tugasnya.

4. THINK WIN – WIN.


Berpikirlah dan bertindaklah selalu untuk kebaikan maupun keuntungan kedua belah
pihak, jangan menjatuhkan orang lain untuk keuntungan diri sendiri.

5. SEEK TO UNDERSTAND AND TO BE UNDERSTOOD.


Belajarlah mengerti apa yang dimaksud atau dipikirkan oleh partner dan barulah
mencoba membuat partner mengerti apa yang kita maksud. Kebanyakan orang ingin
agar orang lain mengerti apa yang kita inginkan, tapi tidak mau mengerti apa yang
orang lain pikirkan.

6. SYNERGI.
Membiasakan diri untuk bekerja sama secara aktif dengan partner agar ada
kesimbangan didalamnya. Kemauan dan usaha untu kerjasama ini akan menghasilkan
suatu hubungan atau kelompok yang mempunyai Synergi yang tinggi.

7. SHARPEN THE SAW.


Asahlah kebiasaan anda dan teman anda setiap saat agar enam kebiasaan diatas tidak
terpolusi oleh kebiasaan lain.

PT. MADHANI TALATAH NUSANTARA Contamination Control


MECHANICAL TRAINING SECTION.
PENDAHULUAN iv

DAFTAR ISI

Topik 1 : Pengertian Contaminant dan Pengaruhnya Terhadap Alat Berat

Penjelasan ....................................................................................................................... 1-1


Jenis-jenis Contaminant.................................................................................................. 1-2
Sumber Contaminant ...................................................................................................... 1-5
Dampak Contaminant ..................................................................................................... 1-7

Topik 2 : Pengendalian Contaminant

Factory, Dealer dan Costumer ........................................................................................ 2-1


Pengukuran Contaminant ............................................................................................... 2-3
Proses Implementasi Contamination Control ................................................................. 2-5

PT. MADHANI TALATAH NUSANTARA Contamination Control


MECHANICAL TRAINING SECTION.
PENGERTIAN CONTAMINANT DAN PENGARUHNYA
TERHADAP SYSTEM ALAT BERAT 1-1

TOPIK 1

Pengertian Contaminant dan Pengaruhnya


Terhadap System Alat Berat
PENJELASAN

Contaminant merupakan berbagai macam material asing didalam sistem yang bukan merupakan
bagian dari sistem tersebut yang dapat mengakibatkan keuasan dini bahkan kerusakan.
Contaminant merupakan musuh utama sistem alat berat terutama pada engine, hidrolik dan
transmisi.
Contamination control merupakan program pengontrolan masuknya contaminant ke sistem yang
harus dimengerti, disadari dan diterapkan oleh dealer, factory dan customer untuk menjaga agar
produk Caterpillar mempunyai ketangguhan dan dapat menghasilkan nilai tambah dan
keuntungan sebesar-besarnya bagi pengguna.
Peningkatan tuntutan efisiensi alat berat menghasilkan desain sistem yang menggunakan kontrol
elektrik dan hidrolik, tekanan yang lebih tinggi dan clearance yang lebih teliti. Sistem ini
tentunya membutuhkan perawatan yang lebih baik, salah satunya yaitu dengan mengontrol
masuknya contaminant kedalam sistem.

Latar Belakang Contamination Control

Program contamination control ada karena dilatarbelakangi oleh berbagai aspek, diantaranya:

1. Costumer
Adanya contamination control diawali dari keinginan caterpillar untuk memenuhi
kebutuhan costumer. Pada umumnya costumer membutuhkan power machine lebih besar,
daya yang diaplikasikan untuk kerja lebih tinggi dan waktu siklus (cycle time) lebih cepat.
Costumer mengharapkan sesuatu yang lebih dari peralatan Caterpillar. Sesuai dengan
kenaikan cost dan bisnis yang lebih kompetitif, peralatan Caterpillar harus memberikan
performa yang bagus agar dapat seproduktif mungkin.

2. Trend Industri
Karena tuntutan Costumer, Caterpillar sebagai produsen mulai menggunakan sistem
machine yang lebih canggih, termasuk elektro hidrolik, sistem bertekanan tinggi, dan
clearance yang lebih rapat. Sistem machine yang canggih ini memungkinkan Caterpillar
untuk membuat machine yang lebih produktif dan lebih handal.

3. Fluida lebih sensitif terhadap contaminant


Penggunaan sistem yang canggih seperti elektro hidrolik, clearence yang rapat, dan presurre
yang tinggi menyebabkan fluida dan komponen lainnya lebih sensitif terhadap contaminant.

PT. MADHANI TALATAH NUSANTARA Contamination Control


MECHANICAL TRAINING SECTION
PENGERTIAN CONTAMINANT DAN PENGARUHNYA
TERHADAP SYSTEM ALAT BERAT 1-2

Umur fluida dan komponen akan lebih pendek jika contaminant masuk ke dalam sistem.
Karena presurre yang dibutuhkan tinggi maka diperlukan filter yang baik untuk menyaring
contaminant.

JENIS-JENIS CONTAMINANT

Contamination control sangat penting diterapkan dalam melakukan pekerjaan karena sering
sekali kita mengabaikan musuh utama ini akibat tidak terlihat ataupun tidak disadari.

Gambar 1

Jenis-jenis contaminant yang sering sekali mencemari sistem-sistem alat berat terdiri dari :
1. Partikel, yang terdiri dari :
a. Kotoran
b. Partikel bekas proses pengelasan
c. Cat
d. Serpihan atau lembaran plastik
e. Partikel akibat keausan logam
f. Debu rokok
g. Gemuk (grease)
h. Material yang timbul dari oksidasi oli

PT. MADHANI TALATAH NUSANTARA Contamination Control


MECHANICAL TRAINING SECTION
PENGERTIAN CONTAMINANT DAN PENGARUHNYA
TERHADAP SYSTEM ALAT BERAT 1-3

2. Kimiawi
a. Panas
b. Air
c. Udara
Jenis contaminant berdasarkan ukurannya :

Gambar 2

Gambar diatas merupakan jenis-jenis contaminant berdasar ukurannya. Jenis contaminant yang
masih bisa dilihat oleh mata yaitu sekitar 40 mikron misalnya weld splatter (sisa pengelasan),
shot blast (sisa penyemprotan sand blasting), paint chip (cat yang mengelupas), machine chip
(sisa permesinan), dust on TV (debu) dan jenis contaminant yang tidak bisa dilihat oleh mata
yaitu dibawah 40 mikron misalnya logam yang aus, silica, serbuk batu, serbuk batu bara, debu.

Gambar 3

Clearance dari komponen-komponen alat-alat berat Caterpillar berkisar antara 2-30 micron.
Clearance ini begitu kecil apabila dibandingkan dengan ukuran rambut manusia yang berukuran
80 mikron dan clearance sebesar ini cenderung tidak terlihat karena kemampuan mata manusia
untuk melihat hanya terbatas hingga 40 mikron. Satu mikron sama dengan sepersejuta meter.
100 microns (µ) - Sebutir garam meja
80 microns (µ) - Diameter rambut manusia
PT. MADHANI TALATAH NUSANTARA Contamination Control
MECHANICAL TRAINING SECTION
PENGERTIAN CONTAMINANT DAN PENGARUHNYA
TERHADAP SYSTEM ALAT BERAT 1-4

Gambar 4

Gambar 4 di atas menunjukan ukuran dari satu mikron. Satu mikron sangatlah kecil jika
dibandingkan dengan diameter rambut manusia. Juga menunjukan betapa kecil satu mikron
terhadap 1/1000 inchi. Partikel yang kecil ini bisa sangat merusak sistem jika berada di antara
dua komponen yang bergesekan.

Gambar 5

Suatu perusahaan pembuat pompa melakukan penelitian untuk mengetahui dampak dari
kontaminasi pada usia pompa. Grafik menunjukan beberapa informasi yang menarik mengenai
kontaminasi. ISO code yang lebih besar, akan memperpendek usia pompa. Jika oli dijaga pada
18/15 atau di bawahnya, usia komponen akan meningkat drastis.

PT. MADHANI TALATAH NUSANTARA Contamination Control


MECHANICAL TRAINING SECTION
PENGERTIAN CONTAMINANT DAN PENGARUHNYA
TERHADAP SYSTEM ALAT BERAT 1-5

SUMBER CONTAMINANT

Kontaminasi dapat bersumber dari beberapa proses yang terdiri dari :

1. Layout tempat perbaikan

Gambar 6

Layout tempat perawatan dan perbaikan yang tidak tepat dapat mengakibatkan masuknya
contaminant kedalam sistem.

2. Proses pembuatan dan perakitan

Gambar 7

Proses pembuatan komponen dan perakitan merupakan salah satu sumber masuknya
contaminant kedalam sistem. Untuk mengetahui tingkat kebocoran setelah proses perakitan,
factory biasanya menambahkan semacam zat pewarna pada oli atau fluida lainnya sehinga
apabila unit telah dikirim ke customer perlu dilakukan penggantian oli awal (initial oil change)
yang biasanya berkisar antara 50 hingga 250 jam tergantung dari petunjuk masing-masing
Operation & Maintenance Manual masing-masing unit.
PT. MADHANI TALATAH NUSANTARA Contamination Control
MECHANICAL TRAINING SECTION
PENGERTIAN CONTAMINANT DAN PENGARUHNYA
TERHADAP SYSTEM ALAT BERAT 1-6

1. Oli baru

Gambar 8

Oli baru, tidak dapat dianggap sudah sangat bersih karena contaminant dapat masuk selama
proses produksi atau penyimpanan. Pada gambar dibawah terlihat oli baru dengan kotoran
yang menempel disekeliling drum disertai dengan pompa tangan yang tidak dilengkapi
dengan filter yang dapat menyaring contaminant yang terdapat di dalam oli. Kondisi seperti
ini sangat memudahkan masuknya contaminant kedalam sistem dan akan mempercepat
proses keausan komponen.

2. Kondisi daerah beroperasi

Gambar 9
Kondisi daerah operasi yang tidak bisa dihindari selalu berhubungan dengan kotoran dan
debu memungkinkan masuknya contaminant kedalam sistem. Oleh sebab itu sangat penting
dilakukan pengecekan kebocoran baik itu oli, udara atau air.

• Cylinder wiper seal


Terletak pada cylinder hidrolik, akan menjadi sumber contaminant jika terdapat
kebocoran.

PT. MADHANI TALATAH NUSANTARA Contamination Control


MECHANICAL TRAINING SECTION
PENGERTIAN CONTAMINANT DAN PENGARUHNYA
TERHADAP SYSTEM ALAT BERAT 1-7

• Reservoir vent port


Lubang pernapasan pada tangki jika tidak tertutup, contaminant akan masuk kedalam
sistem.

• Kualitas maintenance yang buruk


Prosedur perawatan yang salah akan menjadi sumber contaminant bagi sistem.

3. Proses Maintenance dan Service

Gambar 10

Proses maintenance dan service yang mengabaikan faktor kebersihan dan dilakukan
ditempat yang tidak sesuai dapat menimbulkan masuknya contaminant kedalam sistem.

4. Dari dalam sistem


Contaminant dapat timbul di dalam sistem itu sendiri karena adanya gesekan dari komponen
yang bergerak saat mesin beroperasi.

DAMPAK CONTAMINANT

Akibat yang dapat ditimbulkan apabila mengabaikan proses contamination control adalah
sebagai berikut:
1. Pendeknya umur komponen dan fluida (semakin cepatnya masa penggantian oli).
2. Menurunkan produktivitas alat, contohnya operasi yang tidak handal, perfoma yang lambat.
3. Dapat menimbulkan kerusakan yang parah sehingga downtime dan biaya perbaikan tinggi,
contohnya erratic steering dan cylinder drift.
4. Meningkatnya biaya warranty.
5. Meningkatnya redo job
6. Terjadinya problem yang berulang ulang dan meningkatkan jumlah kerusakan .
7. Menurunkan kepercayaan costumer yang akan berdampak hilangnya prospek penjualan.

PT. MADHANI TALATAH NUSANTARA Contamination Control


MECHANICAL TRAINING SECTION
PENGERTIAN CONTAMINANT DAN PENGARUHNYA
TERHADAP SYSTEM ALAT BERAT 1-8

Tidak hanya Caterpillar saja yang berhati-hati terhadap contaminant tetapi ada banyak
perusahaan yang juga peduli. Perusahaan Timken Bearing Company pernah melakukan riset
terhadap umur pakai bearing.
Dari hasil riset umur pakai dari bearing yang seharusnya 12.000 jam menjadi 8000 jam setelah
bearing dimasuki contaminant sebesar 20 – 30 mikron.

Gambar 11

Gambar 12

Gambar diatas menunjukkan adanya contaminant yang terjebak diantara dua permukaan logam
yang bersuaian satu dengan yang lainnya, hal ini menyebabkan terjadinya pelipat gandaan
partikel setelah proses terperangkapnya contaminant setiap kali terjadi kontak permukaan.

PT. MADHANI TALATAH NUSANTARA Contamination Control


MECHANICAL TRAINING SECTION
IMPLEMENTASI CONTAMINATION
CONTROL
2-1

TOPIK 2
Implementasi Contamination Control
FACTORY, DEALER DAN CUSTOMER

Gambar 13

Karena sumber contaminant dapat berasal dari factory, dealer dan customer, maka semua pihak
harus bertanggung jawab dalam menciptakan kondisi yang bersih untuk mengurangi
contaminant. Penjelasan berikut ini merupakan aturan dan tanggung jawab yang seharusnya
dilakukan oleh masing-masing pihak untuk menjamin kondisi alat dapat beroperasi sebagaimana
mestinya.

Tanggung jawab dari masing-masing pihak adalah :

1. Caterpillar
Aturan dan tanggung jawab yang harus dilakukan Caterpillar adalah:

a. Mendesain alat yang dapat terhindar dari masuknya contaminant kedalam sistem serta
mudah bagi dealer maupun customer untuk menjaga kebersihannya seperti:
- Valve SOS sampel pada tempat yang mudah dijangkau dengan aliran oli yang baik.
- Tersedianya Valve pembuangan fluida seperti oli dan air .

b. Membuat dan mengirim alat yang terjamin kebersihannya yang dilakukan dengan
membentuk standar dan team contamination control .

c. Membuat tool yang dibutuhkan untuk menjaga dan memonitor kebersihan sistem seperti
Kidney loops, Hose Plug beserta petunjuk penggunaannya.

PT. MADHANI TALATAH NUSANTARA Contamination Control


MECHANICAL TRAINING SECTION
IMPLEMENTASI CONTAMINATION
CONTROL
2-2

d. Menerbitkan dan mempebaharui petunjuk pengaturan fasilitas kerja (Facility Layout


Guide).

e. Menyediakan panduan tentang penyebab, akibat dan solusi dari contamination control
bagi pabrik pembuat, supplier, dealer dan costumer.

f. Menyediakan target tingkat kebersihan bagi dealer dan customer.

2. Dealer
Dealer bertanggung jawab mengimplentasikan proses contamination control dengan cara:

a. Menciptakan budaya kebersihan melalui pendidikan tentang penyebab, akibat dan solusi
dari contamination control kepada karyawan (part, service dan sales) dan customer.

b. Membangun rencana kerja dan prosedur untuk mengimplementasikan contamination


control.

c. Menjadikan teknologi particle counter sebagai bagian dari program analisa fuel, oli dan
coolant.

d. Menyediakan peralatan dan fasilitas contamination control.

e. Meningkatkan fasilitas kerja dengan mengutamakan aspek contamination control yang


dapat dicontoh oleh customer.

3. Customer
Tanggung jawab customer dalam hal contamination control adalah:

a. Menciptakan budaya kebersihan melalui pendidikan tentang penyebab, akibat dan solusi
dari contamination control kepada karyawan (part, service dan operator).

b. Menciptakan suatu standar contamination control pada proses operasional seperti:

- Penyimpanan fluida seperti oli dan fuel


- Penyimpanan hose dan spare part lainnya
- Pengambilan sampel oli dan mengikuti program SOS secara berkala.
- Pekerjaan perawatan dan perbaikan.

c. Pengoperasian alat
Pengoperasian alat seharusnya diperhatikan sedemikian rupa dengan memperhatikan
aspek-aspek berikut ini :

PT. MADHANI TALATAH NUSANTARA Contamination Control


MECHANICAL TRAINING SECTION
IMPLEMENTASI CONTAMINATION
CONTROL
2-3

- Mengikuti rekomendasi Caterpillar tentang interval penggantian oli dan


menyesuaikan jadwal penggantian oli dengan kondisi operasi alat dan hasil analisa
sampel oli.
- Mengoperasikan alat sesuai petunjuk yang dikeluarkan pabrik.

d. Melakukan pemeriksaan tingkat kebersihan fluida seperti oli, setelah melakukan


perbaikan dan perawatan mesin yang mengacu kepada standar Caterpillar.

PENGUKURAN CONTAMINANT
Standar Caterpillar dalam pengukuran tingkat contaminant pada suatu sistem dilakukan dengan
dua metode yaitu :

1. Spectrographic analisis
Proses ini adalah proses pengukuran jumlah partikel pada sampel oli menggunakan peralatan
pada lab SOS yang dapat mengukur partikel minimal sebesar 10-15 micron. Alat ini
mengidentifikasi jenis-jenis partikel yang terkandung dalam fluida seperti metal atau logam
campuran.

2. Partikel counter
Metode ini adalah pengukuran partikel dengan menggunakan Pamas S2 Particle Analyzer
(gambar 14) sebesar 1-200 micron.

Gambar 14

Bagaimana cara penggunaan alat ini, dapat dibaca pada Tool Operating Manual Using Particle
Analyzer?????

Pengukuran tingkat contaminant yang dilakukan mengacu pada standar internasional ISO 4406
dengan 28 tingkat pengkodean.

PT. MADHANI TALATAH NUSANTARA Contamination Control


MECHANICAL TRAINING SECTION
IMPLEMENTASI CONTAMINATION
CONTROL
2-4

Standar kode ISO yang dipakai berupa nilai tertentu seperti 17/13, 16/13 dan lain sebagainya.
Maksud dari pengkodean ini dijabarkan dengan mengasumsikan nilai pertama pada kode dengan
huruf X dan nulai kedua dengan huruf Y sehingga nilai baku pengkodean ini adalah X/Y dimana:

a. X adalah jumlah partikel yang lebih besar dari 6 micron.


b. Y adalah jumlah partikel yang lebih besar dari 14 micron.

Gambar 15

Dari tabel diatas terlihat bahwa jika standar ISO code adalah 16/13 maka jumlah partikel yang
lebih besar dari 6 micron berjumlah 320-640 partikel/mL dan jumlah partikel yang lebih besar
dari 14 mikron adalah 40-80 partikel/ml.
Standar minimal jumlah partikel pada sistem yang diperbolehkan Caterpillar adalah:

• Hydraulic System (Implement & Steering) ......................................ISO 18/15


• Vehicles With Electronic Transmission ............................................ISO 18/15
• Vehicles With Mechanical Transmission .........................................ISO 21/17
• Oli yang akan diisikan ke sistem .......................................................ISO 16/13

PT. MADHANI TALATAH NUSANTARA Contamination Control


MECHANICAL TRAINING SECTION
IMPLEMENTASI CONTAMINATION
CONTROL
2-5

Gambar 16

Setengah sendok teh debu yang mencemari 55 gallon oli sudah mencapai batas maksimal
contaminant yang diperbolehkan untuk alat-alat berat Caterpillar. Dari ilustrasi diatas terlihat
jelas betapa pentingnya kesadaran kita untuk menjaga supaya contaminant jangan sampai
mencemari sistem.

Pemeriksaan kebersihan oli ini dilakukan dalam beberapa kondisi yaitu:

a. Memeriksa kebersihan sistem setelah melakukan perbaikan dilapangan atau setelah


melakukan penambahan perlengkapan.
b. Memeriksa kebersihan sistem sebelum serta setelah perawatan atau perbaikan.
c. Memeriksa kebersihan sistem pada unit sebelum dan setelah digunakan.

PROSES PENGIMPLEMENTASIAN CONTAMINATION CONTROL


PADA FIELD SERVICE DAN WORKSHOP
Proses pengimplementasian contamination control dilakukan pada berbagai hal seperti
keterangan berikut ini:

1. Pengelolaan fasilitas kerja (House Keeping)


Pengelolaan lingkungan kerja dilakukan dengan :

a. Menjaga daerah kerja selalu bersih dan tertata rapi sebelum, selama proses dan setelah
melakukan pekerjaan.
b. Membersihkan lantai setiap hari.
c. Menjaga lantai tetap bebas dari kotoran, tumpahan-tumpahan oli dan fluida lainnya
dengan melakukan pembersihan secepat mungkin.
d. Menjaga tempat penyimpanan komponen dan meja kerja dari kotoran dan debu.
e. Hindari menggunakan lantai dalam menyimpan barang.

PT. MADHANI TALATAH NUSANTARA Contamination Control


MECHANICAL TRAINING SECTION
IMPLEMENTASI CONTAMINATION
CONTROL
2-6

Gambar 17

Kondisi pengelolaan tempat kerja seperti pada gambar 16 tidak direkomendasikan karena
komponen berserakan, serta tempat penyimpanan sementara dan meja kerja tidak sesuai
standar.

Gambar 18

Gambar 18 diatas merupakan kondisi yang direkomendasikan dimana penempatan


komponen dan pengelolan ruang kerja terlihat teratur.

2. Pengisian, pemindahan dan penyimpanan oli


Proses pengisian, pemindahan dan penyimpanan oli harus mengikuti prosedur berikut:

PT. MADHANI TALATAH NUSANTARA Contamination Control


MECHANICAL TRAINING SECTION
IMPLEMENTASI CONTAMINATION
CONTROL
2-7

Gambar 19
a. Penyaringan harus dilakukan selama proses pengisian dan pemindahan dengan
menggunakan kidney loop atau dengan fluid recovery unit guna menjamin oli yang
masuk kedalam sistem bersih dari contaminant walaupun yang diisikan adalah oli baru.

Gambar 20

Fluid recovery unit adalah alat yang digunakan untuk menyimpan dan sekaligus menyaring
oli. Fluid recovery unit pada gambar 20 digerakkan oleh udara bertekanan. Beberapa fluid
recovery unit bisa juga digerakkan atau bertenaga listrik atau engine yang berukuran kecil.
Cara penggunaan alat ini dapat dilihat pada Tool Operating Unit Using Fluid Recovery
Unit ???

Gambar 21

PT. MADHANI TALATAH NUSANTARA Contamination Control


MECHANICAL TRAINING SECTION
IMPLEMENTASI CONTAMINATION
CONTROL
2-8

Kidney loop (gambar 21) digunakan untuk menyaring oli. Oli yang baru atau yang telah
disimpan sementara, sebelum masuk ke dalam tanki harus disaring terlebih dahulu dengan
alat ini. Kidney loop juga digunakan untuk mem-flashing (membersihkan dengan men-
sirkulasikan) oli yang ada di-tanki. Seperti pada fluid recovery unit, kidney loop juga bisa
bertenaga listrik, udara bertekanan atau engine yang berukuran kecil. Kidney loop pada
gambar diatas digerakkan oleh listrik. Cara penggunaan dan perawatan kidney loop pada
gambar 21 dapat dilihat pada Tool Operating Manual Using Kidney Loop.

Gambar 22

b. Penyimpanan oli harus dilakukan didalam tempat tertutup seperti drum, walaupun
lubang pemasukan oli pada drum telah ditutup, tidak tertutup kemungkinan masuknya
contaminant dan menumpuknya debu di permukaan atas drum sehingga masih
diperlukan 1U-5166 Drum Cover seperti gambar diatas.

3. Penggantian Filter
Filter pada umumnya diganti setiap 250-500 jam (berdasarkan rekomendasi OM&M), juga
dapat diganti dengan memeriksa sampel oli apakah perlu penggantian filter lebih dini. Filter
harus dalam keadaan terbungkus hingga pada saat pemasangan dilakukan.
Caterpillar TIDAK merekomendasikan mengisi filter baru dengan fluida pada saat
pemasangan, karena hal ini akan menyebabkan masuknya contaminant ke dalam sistem.
Gantilah seluruh elemen filter dalam keadaan kering termasuk pada fuel filter.
Pada saat penggantian filter, Caterpillar menganjurkan untuk menggunakan high efficiency
filter untuk mencegah contaminant masuk ke dalam sistem. Filter ini dapat digunakan lebih
dari 250 jam dibandingkan dengan menggunakan standar filter.
Periksalah filter yang sudah digunakan, dengan memotong house dari filter tersebut untuk
mengetahui kandungan partikel dalam filter. Filter dipotong dengan menggunakan Filter
Cutting Tool (4C-5084) (gambar 23).

PT. MADHANI TALATAH NUSANTARA Contamination Control


MECHANICAL TRAINING SECTION
IMPLEMENTASI CONTAMINATION
CONTROL
2-9

Gambar 23

4. Penanganan dan penyimpanan komponen


Penanganan dan penyimpanan komponen harus dilakukan sebaik mungkin untuk menjaga
komponen dari contaminant dan karat. Penanganan yang dilakukan meliputi :

Gambar 20

a. Komponen baru harus tetap terbungkus dan tersimpan di dalam cabinet secara teratur
sesuai dengan part number-nya dan komponen lama yang akan dipakai ulang setelah
dibersihkan diberi cairan anti karat dan dibungkus dengan plastik khusus sebelum siap
dipasang.

PT. MADHANI TALATAH NUSANTARA Contamination Control


MECHANICAL TRAINING SECTION
IMPLEMENTASI CONTAMINATION
CONTROL
2-10

Gambar 21

b. Komponen yang dikembalikan ke part departement harus terbungkus dengan rapi


kembali.
c. Proses penyimpanan harus bersih, baik itu tempat penyimpanan dan media
penyimpannya.

5. Perakitan dan penyimpan hose


Proses perakitan dan penyimpanan hose harus dilakukan dengan benar sesuai prosedur
berikut ini:

Gambar 22

a. Hose yang telah dipotong dan siap dirakit harus dibersihkan dengan menembakkan 130-
6105 projectil menggunakan 130-6061 Cat hose cleaner (Gambar 23). Hal ini
dimaksudkan untuk membuang debu dan serpihan bekas pemotongan pada bagian
dalam hose. Ukuran projectil harus sesuai dengan ukuran hose untuk menghasilkan
proses pembersihan maksimal dan pembersihan harus dilakukan minimal tiga kali.

PT. MADHANI TALATAH NUSANTARA Contamination Control


MECHANICAL TRAINING SECTION
IMPLEMENTASI CONTAMINATION
CONTROL
2-11

Gambar 23

Cara penggunaan Hose Cleaner (gambar 23) dapat dibaca pada Tool Operating Manual Using
Cat Hose Cleaner?????

b. Lindungi lubang hose yang belum di-assembly (bulk hose) dengan menggunakan cap dan plug.

Gambar 23

c. Lindungi hose yang telah di-assembly dengan cap dan plug untuk menghindari
masuknya contaminant.

PT. MADHANI TALATAH NUSANTARA Contamination Control


MECHANICAL TRAINING SECTION
IMPLEMENTASI CONTAMINATION
CONTROL
2-12

6. Perbaikan dan perakitan komponen


Prosedur dalam melakukan perbaikan dan perakitan komponen adalah sebagai berikut:

Gambar 24

a. Gunakan 4C8765 absorbent pad untuk menyerap tumpahan oli, bukan serbuk gergaji.
Lakukan penggantian absorbent pad jika seluruh permukaan telah penuh menyerap oli.
b. Pertahankan kebersihan selama proses pekerjaan berlangsung.
c. Gunakan sikat berputar untuk membersihkan cylinder liner yang telah di-honing.
d. Tempat melakukan proses welding, disassembly dan assembly harus terpisah satu sama
lain.
e. Mesin glass bead dan gerinda tidak boleh berada di assembly area.
f. Jangan melakukan pembersihan komponen di assembly area.
g. Jaga bagian dalam fuel injection pump tetap tertutup.

7. Kepedulian terhadap proses maintenance dan operasi


Kepedulian operator dan teknisi terhadap contamination control sangat diperlukan dalam
menjalankan proses perawatan dan pengoperasian sesuai dengan prosedur. Kepedulian
tersebut dapat diwujudkan sebagai berikut:

• Melakukan inspeksi harian sesuai dengan prosedur maintenance yang benar.


• Menjaga tangki hidrolik terisi penuh.
• Melakukan perawatan valve.
• Gunakan rod protector pada daerah operasi yang berbatu dan berdebu.
• Memonitor temperature gauge untuk mengetahui kenaikan dan penurunan suhu (panas
merupakan salah satu bentuk contaminant).

PT. MADHANI TALATAH NUSANTARA Contamination Control


MECHANICAL TRAINING SECTION
IMPLEMENTASI CONTAMINATION
CONTROL
2-13

8. Field service
Ruangan field service harus ditata sedemikian rupa untuk tetap mempertahankan kebersihan
ruangan sekitar dengan cara:

Gambar 25

a. Jaga komponen terbungkus hingga siap untuk dipasang, gambar diatas menunjukkan
komponen berserakan dan tidak dilindungi pembungkus dan memudahkan contaminant
masuk.
b. Stock high effisiensi filter harus tersedia di mobil field service.
c. Yakinkan oli yang bersih diisikan ke lub truck.
d. Biasakan memotong filter dan memeriksa kondisinya setelah melakukan perawatan atau
perbaikan.

Gambar 26

PT. MADHANI TALATAH NUSANTARA Contamination Control


MECHANICAL TRAINING SECTION
IMPLEMENTASI CONTAMINATION
CONTROL
2-14

9. Schedule oli sampling (SOS)


Schedule oil sampling merupakan suatu program yang dibuat Caterpillar untuk membantu
customer dalam mengetahui kerusakan alat secara dini dengan mengambil sampel oli,
coolant dan fuel guna mengurangi biaya perbaikan dan downtime.

Hal utama yang harus diperhatikan selama melakukan pengambilan sampel oli adalah:
a. Melakukan pengambilan oli yang representative untuk memudahkan proses pemeriksaan
material yang terdapat pada sistem akibat keausan dan material asing yang masuk
kedalam sistem.
b. Melakukan pengambilan sampel tepat waktu dan secara berkala sangat penting untuk
mengetahui problem secara dini dan mempertimbangkan waktu yang optimal untuk
melakukan perbaikan.
c. Menjaga masuknya contaminant selama proses pengambilan sampel.

Tool yang dipergunakan untuk pengambilan sampel adalah:

Gambar 27

169-8373 Bottle Group, 300 per box 1U-7648 Tube Cutter 1U-8589 Replacement
162-8873 Probe, Holder Blades
177-9343 Cap and Probe Group, 500 per box 8C-8456 Sealed Cap(for temporary sealing of
4C-4600 Mailer Container - reusable leaky sampel valve)
1U-8757 Tube - 6.35 mm (1/4 in) O.D. x 30.5 m 8C-3446 Oli Sampling Valve (7/16 inch-20 -
(100ft) rolls, 5 rolls per box ext. thread) 3J-7354 O-Ring Seal for 8C-3446
4C-4056 Tube - 7.9 mm (5/16 in) x 30.5 m (100 7X-3387 Oli Sampling Valve (1/4 inch-18
ft) rolls, 5 rolls per box NPTF - ext. thread)
169-7373 Clear Bottle, 71g (2 1/2 oz), 200 per 8C-3345 Oli Sampling Valve (M10 x 1 - ext.
box thread) 8T-7876 O-Ring Seal for 8C-3345
169-7372 Clear Bottle, 114g (4 oz), 200 per box 8C-3445 Dust Cap (Engine) 8C-
1U-5718 Vacuum Pump 1U-5719 Seal Kit for 3447 Dust Cap (Transmission) 8C-
1U-5718 Pump 3451 Dust Cap (Hydraulic) 6V-
8T-9208 Probe, purging 0852 Dust Cap (Blank)

PT. MADHANI TALATAH NUSANTARA Contamination Control


MECHANICAL TRAINING SECTION
IMPLEMENTASI CONTAMINATION
CONTROL
2-15

Metode pengambilan sampel terdiri dari:

a. Metode sampling valve


Metode sampling valve merupakan metode pengambilan sampel oli dari sampling valve
yang dipasang pada sistem yang bertekanan. Prosedur pengambilan sampel oli
menggunakan metode ini adalah:

- Menggunakan sampling bottle (169-8373), sampling probe & tubing (177-9343) dan
probe holder (162-8873).

- Selalu lakukan pengambilan sampel mulai dari sistem yang paling bersih terlebih
dahulu seperti hidrolik, transmisi dan engine serta lakukan pengambilan sampel sewaktu
oli masih panas.

- Jangan menggunakan sampling probe yang sama untuk setiap jenis oli dan tubing harus
selalu baru untuk masing-masing pengambilan.

- Isi label botol SOS dengan lengkap sebelum memulai pengambilan sampel.

Gambar 28
- Operasikan alat selama lima belas menit sehinga oli mengalir kesemua tempat pada
sistem dan turunkan RPM engine ke low idle, buka dust cup sampling valve dan
bersihkan sekelilingnya. Hal ini dilakukan untuk mendapatkan sampel yang betul-betul
mewakili kondisi sebenarnya.

PT. MADHANI TALATAH NUSANTARA Contamination Control


MECHANICAL TRAINING SECTION
IMPLEMENTASI CONTAMINATION
CONTROL
2-16

- Tekan probe ke sampling valve dan tampung sekitar 100 ml oli ke tempat oli bekas
seperti gambar diatas, Apabila oli tidak keluar pada kondisi low idle maka dibutuhkan
orang lain untuk menaikkan sedikit putaran engine hingga oli keluar. Hal ini dilakukan
untuk meyakinkan oli betul-betul terbebas dari contaminant yang mengendap pada valve
dan mendapatkan sampel yang representative.

- Tekan probe ke sampling valve dan isikan oli kedalam sampling bottle sebanyak kurang
lebih ½ botol untuk pembilasan.

Gambar 29
- Tekan kembali probe pada sampling valve dan isi botol hingga tiga perempat bagian,
jangan sampai penuh dan jangan biarkan masuknya debu atau kotoran ke dalam botol
atau tutupnya.

- Lepas tubing dan pasang tutup botol, kemudian pasang label yang sudah disiapkan
sebelumnya.

b. Metode pengambilan sampel menggunakan vacuum extraction


Prosedur pengambilan sampel menggunakan metode ini adalah :

- Pengambilan sampel dengan menggunakan sebuah Vacuum Pump (1U5718) dan tubing
(4C-4056). Direkomendasikan untuk menggunakan Tube Cutter (1U7648), yang dapat
dipergunakan untuk melakukan pemotongan tube dengan sebelah tangan.

PT. MADHANI TALATAH NUSANTARA Contamination Control


MECHANICAL TRAINING SECTION
IMPLEMENTASI CONTAMINATION
CONTROL
2-17

- Gunakan metode ini pada sistem yang tidak dilengkapi sampling valve.

- Gunakan tubing baru setiap melakukan pengambilan sampel guna mencegah


contaminant.

- Gunakan vacuum pump tersendiri untuk masing-masing sistem.

- Isi label terlebih dahulu sebelum mengambil sampel.

Gambar 30
- Operasikan alat selama lima belas menit lalu matikan dan potong selang sepanjang minimal
setengah kedalaman oli pada dipstick.

- Masukkan selang pada kepala vacuum pump dan kencangkan retaining nut. Jarak ujung
selang dari base vacuum pump sepanjang empat sentimeter.

Gambar 31

PT. MADHANI TALATAH NUSANTARA Contamination Control


MECHANICAL TRAINING SECTION
IMPLEMENTASI CONTAMINATION
CONTROL
2-18

- Masukkan selang pada pipa dipstick dan pasang botol sampel.

Gambar 32
- Tarik handle vacuum pump untuk menghasilkan kevakuman, tahan handle dan jangan
diputar karena oli dapat masuk kedalam ruangan pompa dan memungkinkan
contaminant masuk. Jika oli masuk kedalam ruang pompa, maka pompa harus
dibersihkan sebelum melakukan pengambilan sampel selanjutnya. Isi botol hingga tiga
perempat.

- Lepas selang dan pasang tutup botol beserta label yang telah disiapkan sebelumnya.

Pemasangan Sampling Valve


Apabila pada alat tidak terdapat sampling valve dapat dilakukan pemasangan dengan
petunjuk sebagai berikut :

a. Pasang sampling valve di setiap sistem yang bertekanan pada posisi yang mudah
dijangkau dan aman.
b. Idealnya pasang sampling valve pada tempat yang dapat dijangkau dari permukaan tanah
atau pada tempat pijakan diluar rangka utama alat.
c. Setiap sampling valve hanya boleh dipasang pada daerah yang bertekanan 50-500 psi dan
idealnya pada tempat yang bertekanan 50- 150 psi.
d. Pemasangan sampling valve harus pada tempat dimana oli mengalir bukan ditempat yang
buntu atau di ujung saluran karena pada daerah ini biasanya terdapat endapan kotoran.
e. Idealnya sampling valve ditempatkan sebelum filter dan setelah pompa yang biasanya
pada filter base.

PT. MADHANI TALATAH NUSANTARA Contamination Control


MECHANICAL TRAINING SECTION

Common questions

Didukung oleh AI

Contaminants affecting heavy machinery systems include particles like dirt, weld splatter, and paint chips, as well as chemical contaminants like heat, water, and air . They are introduced through various means such as during production, maintenance activities, or through environmental exposure at operational sites . Sources also include process leaks and inadequate sealing of components .

Performing oil sampling with a vacuum extraction method is significant for contamination management as it allows for precise and clean sampling without introducing new contaminants . This method ensures thorough collection of oil samples even from systems without sampling valves, maintaining the integrity of the samples . Utilizing new tubing for each sample collection and handling tools specific to each system helps prevent contamination, optimizing analysis accuracy and system monitoring .

Contaminants cause premature failure and damage to heavy equipment systems by entering engine, hydraulic, and transmission systems . This leads to increased wear and tear on components, as well as reduced lifespan for fluids and machine parts . Furthermore, contaminants can lead to erratic performance, frequent downtimes, and increased maintenance costs . Ensuring the cleanliness of oils and utilizing proper filters are vital in maintaining system health .

Advancements in fluid sensitivity, due to the use of electro-hydraulic systems and tighter component clearances, demand more rigorous contamination control measures . These systems are more susceptible to damage from contaminants, requiring improved filtration and cleanliness protocols to maintain operational reliability . Effective control not only protects sensitive fluids from degradation but also ensures high-performance levels of modern machinery, which are critical for meeting customer demands for efficiency and productivity .

Oil sampling is crucial in contamination control as it helps detect early signs of system wear and material intrusion, thereby preventing major failures . It facilitates timely maintenance actions, minimizing potential downtime and repair costs. By keeping a well-managed schedule and using appropriate tools, oil sampling ensures contaminants are kept in check and system health is maintained . Regular and accurate sampling helps identify and address problems early, extending the service life of machinery components .

Contaminants increase operational costs and warranty claims by accelerating component wear and reducing system efficiency, leading to frequent repairs and replacements . This results in heightened downtime, impacting productivity and increasing machine lifecycle costs. For manufacturers like Caterpillar, this can lead to elevated warranty claims and customer dissatisfaction due to reduced machine reliability, affecting market competitiveness and brand reputation . Effective contamination control is essential to mitigate these issues and maintain customer loyalty .

To minimize contamination risks, physical installation and maintenance should include using new, clean components and sealing them immediately until installation is needed . High-efficiency filters must be stocked and used consistently, and oil cleanliness must be verified before use. Regular inspections, sample testing, and timely component replacements are essential . Ensuring appropriate environments for equipment servicing, free from contaminants, is also critical .

Contamination control is critical for maintaining machine productivity and customer satisfaction for Caterpillar equipment as it ensures prolonged component life, reduced repair costs, and reliable machine performance . As customers demand powerful and efficient machines with lower operational costs, contamination control meets these needs by preventing early wear and maintaining optimal performance . Neglecting these controls leads to increased warranty expenses and loss of customer trust, adversely affecting future sales and company reputation .

Effective contamination control in field services includes maintaining cleanliness by keeping components sealed until installation, stocking high-efficiency filters, ensuring clean oils are used, and regularly inspecting filters post-maintenance . Implementing a scheduled oil sampling program helps detect system wear and contamination early, reducing repair costs and system downtime . Proper arrangement and maintenance of equipment and workplace ensure minimal contaminants enter the system .

Environmental conditions at operational sites, often involving dust, debris, and moisture, significantly contribute to contamination challenges . These factors facilitate the entry of contaminants, exacerbating wear and reducing the efficiency of systems unless proper control measures like sealing and filtering are implemented . Ensuring cleanliness and routine checks helps in maintaining the systems' integrity despite adverse environmental factors .

Anda mungkin juga menyukai