SOAL KASUS ABRAMS COMPANY BAB 5-4 SISTEM
PENGENDALIAN MANAJEMEN
TUGAS
disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah Sistem Pengendalian Manajemen pada
Program Studi Manajemen
Dosen Pengampu :
Rd. Dandy Tresna , S.E., [Link].
Di Susun Oleh :
Dimar Adirayudha Firdaus 10117058
Dimas Setiaji 10117077
PROGRAM STUDI MANAJEMEN STRATA-I
SEKOLAH TINGGI ILMU EKONOMI STEMBI BANDUNG
BANDUNG
2019/2020
BAB 1
PROFIL PERUSAHAAN
Perusahaan Abrams memproduksi suku cadang untuk mobil, truk, bus, dan
peralatan pertanian. Bagian produksi adalah: bagian pengapian, transmisi, dan mesin.
Suku cadang dijual ke manufaktur peralatan asli (OEM) dan distributor dimana suku
cadang dijual ke pengecer kemudian dijual lagi sebagai suku cadang pengganti kepada
konsumen. Distributor ini disebut Divisi aftermarket (AM Divison).
1. Divisi Produk dan Pemasaran
Masing-masing divisi produksi dikelola oleh Wakil Presiden dan Manajer
Umum yang diharapkan mencapai target ROI. Divisi AM juga diharapkan
mendapatkan pengembalian (return) tahunan sesuai dengan target investasi. Setiap
divisi produk memproduksi suku cadang dan menjual sebagian besar produknya
kepada OEM. Divisi AM mengoprasikan beberapa gudang distribusi suku cadang
milik perusahaan di AS dan pasar luar negeri.
2. Penjualan di Dalam dan di Luar
Pada tahun 1992, nilai penjualan dari keseluruhan sebesar $500 juta, meliputi
penjualan “di dalam” sebesar $100 juta dari ketiga divisi produk kepada divisi AM.
Salah satu tujuan Top Management pada Devisi AM adalah target penjualan sebesar
50% dari seluruh penjualan Luar Abrams, karena antisipasi pertumbuhan suku
cadang AM seiring dengan peningkatan jumlah kendaraan.
3. ROI untuk Pabrik Manufaktur
Target ROI berdasarkan laba anggaran (termasuk alokasi pengeluaran
overhead divisi dan perusahaan dan beban pajak pendapatan) dibagi dengan aktiva
bersih awal tahun (dihitung dengan mengurangi total aset dikurangi kewajiban
lancar). ROI aktual adalah laba aktual dibagi dengan aktiva bersih aktual awal
tahun. Unsur biaya overhead dan pajak dialokasikan dalam menentukan laba karena
akan memberikan perspektif yang lebih jelas kepada manajer pabrik terhadap
biaya-biaya dalam melaksanakan usaha dan kontribusi pabrik terhadap laba bersih
perusahaan serta dapat digunakan untuk menentukan dalam perhitungan laba untuk
laporan keuangan eksternal.
Manajer tingkat atas berpendapat bahwa investasi yang ditambahkan dalam
satu periode menghasilkan laba yang kecil dan investasi ini tidak dapat dilakukan
jika manajer memberikan pinalti (dalam bentuk aktiva bersih yang lebih tinggi dan
ROI yang lebih rendah) pada tahun pertama dari investasi yang baru. Karena
investasi dibekukan pada awal tahun, maka maksimalisasi laba selama tahun
tersebut sama dengan memaksimalkan ROI.
4. Strategi Pemasaran
Faktor-faktor kritis yang menentukan suksesnya pasar OEM adalah
kemampuan untuk merancang suku cadang yang inovatif dan andal untuk
memenuhi kualitas, kinerja, dan spesifikasi berat yang ditentukan konsumen;
menepati jadwal pengiriman sehingga OEM dapat meminimalkan persediaan suku
cadang di gudang dan pengendalian biaya. Dalam usaha AM, ketersediaan suku
cadang merupakan hal yang jauh lebih penting bagi wholesaler, baru kemudian
kualitas dan harga.
5. Rencana Kompensasi Insentif
Rencana bonus insentif untuk manajer pabrik, penghargaan standar juga
disesuaikan dengan suatu formula yang berkaitan dengan prsentase penghargaan
standar atas varians laba (laba aktual vs anggaran) pabrik. Dalam membuat
penyesuaian bonus, laba aktual pabrik disesuaikan atas setiap varians margin kotor
yang dihasilkan dari volume penjualan ke divisi AM. Makin tinggi posisi peserta
dalam hierarki organisasi, makin banyak poin yang dapat diterima. Total dari poin
tersebut dibagi dalam jumlah bonus untuk mendapatkan uang dari setiap poin.
6. Komentar-komentar Manajemen
Permasalahan utama yang timbul dalam perusahaan Abrams :
a. Adanya perselisihan transfer harga dari suku cadang yang dijual oleh divisi
produksi ke divisi AM.
b. Manajemen puncak merasa bahwa divisi produksi terlalu sering memperlakukan
divisi AM sebagai pelanggan yang tidak bebas (captive customer).
c. Manajemen puncak merasa bahwa divisi AM dan tiga divisi produksinya
mempunyai persediaan suku cadang yang berlebih di sepanjang tahun.
BAB II
PEMBAHASAN
1. Evaluasi Setiap Pertimbangan yang Dilakukan Manajemen Puncak
a. Adanya perselisihan mengenai harga transfer suku cadang yang dijual oleh divisi
produk kepada divisi AM. Hal ini dapat menyebabkan pusat
pertanggungjawaban laba menjadi lemah. Seharusnya perselisihan ini ditagani
dengan melibatkan divisi produk dan divisi AM. Tetapi, wakil presiden
keuangan yang diminta untuk menetralkan perselisihan tersebut.
b. Top management merasa bahwa divisi produk seringkali cenderung
memberlakukan divisi AM sebagai konsumen yang tidak bebas. Hal ini, terlihat
bahwa pabrik tersebut sering kali lebih memilih untuk memenuhi permintaan
konsumen OEM karena konsumen OEM akan memindahkan bisnisnya ke
tempat lain, sementara divisi AM tidak dapat membeli dari tempat lain. Hal ini
terjadi karena pengaturan unit bisnis sebagai profit center dimana otoritas
pembuatan keputusan bergeser dari manajemen atas ke level lebih rendah
sehingga divisi produk dapat tidak menjual ke divisi AM. Divisi-divisi dari
Abrams kehilangan kesamaan tujuan yaitu tujuan perusahaan secara
keseluruhan. Divisi produk bisa saja mengoptimalkan profit divisinya dengan
mengorbankan profit perusahaan secara keseluruhan. Selain itu, program
kompensasi perusahaan juga tidak mendorong terjadinya penjualan internal.
Manajer pabrik hanya diberi bonus atas penjualan di luar perusahaan dan tidak
ada bonus dan penalti atas kekurangan untuk penjualan internal. Hal ini
menyebabkan kecenderungan divisi produk mendahului OEM daripada divisi
AM.
c. Manajemen puncak merasa bahwa divisi AM dan ketiga divisi produk
menyimpan persediaan yang berlebihan. Hal ini terjadi dikarenakan
kekhawatiran oleh wakil presiden perencanaan volume produksi rendah karena
pegawai yang liburan natal. Selain itu, penilaian kinerja yang hanya
menggunakan ROI sebagai ukuran juga tidak tepat. Apalagi investasi atau aset
hanya diukur pada saat awal tahun sehingga kelebihan persediaan sepanjang
tahun tidak dipermasalahkan atau diperhatikan oleh manajer pabrik karena di
akhir tahun, persediaan barang juga akan berkurang karena adalah kebijakan
liburan Natal.
2. Rekomendasi:
a. Membentuk unsur divisionalisasi (penggabungan divisi produksi dengan
pemasaran) yang disebut pusat laba dalam perusahaan ini. supaya, terjadi
sinkronisasi agar dapat mencapai tujuan perusahaan.
b. Dengan menghitung harga transfer dapat ditetapkan pada biaya variabel (jika
ada kelebihan kapasitas) dan biaya penuh. Selain itu ditambah dengan profit
yang diinginkan. Untuk harga transfer cost-based , harga transfer dihitung dari
biaya standar ditambah profit yang diinginkan.
c. Perlunya perubahan rencana kompensasi yang sudah ada dimana manajer pabrik
juga mendapatkan bonus atas penjualan internal sehingga mendorong manajer
untuk menjual ke divisi AM.
d. Perlunya adanya perjanjian atau penetapan penjualan internal yang dianggarkan
oleh divisi dan manajemen atas. Kekurangan atau keengganan divisi produk
menjual ke divisi AM dapat diberikan penalti. Hal ini disebabkan pihak
manajemen atas yang tidak mau divisi AM membeli dari luar karena akan
merusak citra perusahaan.
e. Jika manajemen tetap menggunakan investasi di awal tahun maka untuk
mengatasi kelebihan persediaan dapat dilakukan dengan menambah ukuran
evaluasi kinerja.
3. Menurut kami evaluasi secara keseluruhan mengenai sistem pengendalian
abrams company.
Sistem pengendalian Abrams company memerlukan revisi atau perubahan
untuk menuju kearah yang lebih baik agar tujuan secara keseluruhan perusahaan
dapat tercapai.
Adapun kelemahan dan kekuatan sistem pengendalian Abrams company
yaitu :
a. Kelemahan :
1) Pengorganisasian unit bisnis sebagai profit center dilakukan secara
desentralisasi sehingga mudah menyebabkan terjadinya perselisihan serta
persaingan tidak sehat.
2) Strategi pemasaran dalam hal profit center tidak sinkron. Hal ini dikarenakan
tidak adanya divisionalisasi (penggabungan antara divisi produk dengan
divisi AM )
3) Komunikasi antara tiga divisi produk dengan divisi AM yang masih belum
efektif, misalnya untuk pemenuhan logistik suku cadang dari divisi produk ke
divisi AM yang masih memberikan kesan bahwa divisi AM tidak lebih
diutamakan dibanding OEM.
b. Kelebihan :
1) Divisi produksi berkerja sama dengan para ahli dari pihak OEM untuk
mengembangkan suku cadang baru yang inovatif dan efektif dalam hal biaya
untuk memenuhi kebutuhan dan melayani konsumen
2) Kemampuan untuk merangsang suku cadang yang inovatif untuk memenuhi
kualitas kinerja dan spesifikasi berat.
3) Adanya rencana kompensasi berdasarkan laba perlembar saham. Karyawan
akan termotivasi untuk meningkatkan kinerja perusahaan untuk
meningkatkan laba per lembar saham yang juga akan meningkatkan insentif
atau bonus. Jadi terwujudnya kesamaan tujuan (goal congruence).
4) Divisi-divisi Abrams memiliki produk berupa suku cadang yang berbeda-
beda dan departemen penjualan masing-masing. Rendahnya interaksi antara
divisi mempermudahkan pembebanan tanggungjawab dan pengukuran
kinerja kecuali divisi AM.
4. Rekomendasi :
Manajemen atas perusahaan Abrams perlu membatasi hal-hal yang
memerlukan pertimbangan strategis, keseragaman (misalnya metode akuntansi)
dan sebagainya. Setiap divisi memiliki cara atau strategi masing-masing yang berisi
kegiatan produksi dan pemasaran yang diperbolehkan dan tidak boleh merebut
bisnis unit bisnis lainnya. Manajemen tingkat atas harus terlibat dalam menjaga
kesamaan tujuan dan keutuhan organisasi.
BAB III
KESIMPULAN
Abrams Company merupakan perusahaan manufaktur yang memproduksi tiga
kelompok besar suku cadang: suku cadang pengapian (ignitions parts), suku cadang
transmisi (transmision parts), dan suku cadang mesin (engine parts). Abrams
Company melakukan supervisi dan desentralisasi dalam produksi dan pemasaran
produknya. Penilaian terhadap kinerja masing-masing divisi di perusahaan tersebut
dinilai berdasarkan pencapaian target ROI asing-masing divisi. Pemasaran produk
untuk pihak internal maupun eksternal didelegasikan kepada masing-masing
departemen penjualan di masing-masing divisi. Abrams Company menjadikan divisi
prosukdi maupun pemasaran di dalam perusahaan sebagai pusat laba. Abrams
company melakukan supervisi dan desentralisasi terhadap pusat laba.
Keputusan Manajemen puncak Abrams company atas pusat laba merupakan
keputusan yang tegas, jelas dan mendetail. Akan sangat bagus jika diterapkan pada
perusahaan berskala kecil. Namun, Abrams Company merupakan perusahaan
manufaktur berskala besar yang menuntut kemandirian di masing-masing divisi.
Keputusan manajemen puncak ini memiliki beberapa kekuatan dan kelemahan serta
ancaman dan peluang tersendiri.