0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
27 tayangan15 halaman

Analisis Kualitas Keripik Nenas SPC

Ringkasan dokumen tersebut adalah: 1) Dokumen tersebut membahas analisis pengendalian kualitas produk keripik nenas dengan menggunakan Statistical Process Control di PT. Inti Indosawit Subur. 2) Tujuannya adalah menganalisis pelaksanaan pengendalian kualitas dan mengidentifikasi faktor penyebab kerusakan produk. 3) Dokumen tersebut membahas kerangka teori tentang kualitas dan pengendalian kualitas.

Diunggah oleh

Erika Reskilla
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
27 tayangan15 halaman

Analisis Kualitas Keripik Nenas SPC

Ringkasan dokumen tersebut adalah: 1) Dokumen tersebut membahas analisis pengendalian kualitas produk keripik nenas dengan menggunakan Statistical Process Control di PT. Inti Indosawit Subur. 2) Tujuannya adalah menganalisis pelaksanaan pengendalian kualitas dan mengidentifikasi faktor penyebab kerusakan produk. 3) Dokumen tersebut membahas kerangka teori tentang kualitas dan pengendalian kualitas.

Diunggah oleh

Erika Reskilla
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

I.

Judul : Analisis pengendalian kualitas produk keripik nenas


dengan menggunakan Statistical Process Control (SPC) di PT. Inti
Indosawit Subur

II. Latar Belakang Masalah

Suatu perusahaan tidak lepas dari konsumen serta produk yang


dihasilkannya. Konsumen tentunya berharap bahwa barang yang dibelinya
akan dapat memenuhi kebutuhan dan keinginannya sehingga konsumen
berharap bahwa produk tersebut memiliki kondisi yang baik serta
terjamin. Oleh karena itu perusahaan harus melihat serta menjaga agar
kualitas produk yang dihasilkan terjamin serta diterima oleh konsumen
serta dapat bersaing di pasar.

Agar kualitas produk yang dihasilkan terjamin dan dapat bersaing


di pasar, maka pengendalian kualitas pada perusahaan baik perusahaan
jasa maupun perusahaan manufaktur sangatlah diperlukan. Dengan
kualitas jasa ataupun barang yang dihasilkan tentunya perusahaan berharap
dapat menarik konsumen dan dapat memenuhi kebutuhan serta keinginan
konsumen.

Pengendalian kualitas yang dilaksanakan dengan baik akan


memberikan dampak terhadap mutu produk yang dihasilkan oleh
perusahaan. Kualitas dari produk yang dihasilkan oleh suatu perusahaan
ditentukan berdasarkan ukuran- ukuran dan karakteristik tertentu.
Walaupun proses-proses produksi telah dilaksanakan dengan baik, namun
pada kenyataan masih ditemukan terjadinya kesalahan-kesalahan dimana
kualitas produk yang dihasilkan tidak sesuai dengan
standar atau dengan kata lain produk yang dihasilkan mengalami kerusakan
atau cacat pada produk.

Kualitas produk yang baik dihasilkan dari pengendalian kualitas


yang baik pula. Maka banyak perusahaan yang menggunakan metode
tertentu untuk menghasilkan suatu produk dengan kualitas yang baik.
Untuk itulah pengendalian kualitas dibutuhkan untuk menjaga agar produk
yang dihasilkan sesuai dengan standar kualitas yang berlaku.

Standar kualitas yang dimaksud adalah bahan baku, proses


produksi, dan produk jadi (M.N Nasution, 2005). Oleh karenanya,
kegiatan pengendalian kualitas tersebut dapat dilakukan mulai dari bahan
baku, selama proses produksi berlangsung sampai pada produk akhir dan
disesuaikan dengan standar yang ditetapkan.

Banyak sekali metode yang mengatur atau membahas mengenai


kualitas dengan karakteristiknya masing-masing. Untuk mengukur seberapa
besar tingkat kerusakan produk yang dapat diterima oleh suatu perusahaan
dengan menentukan batas toleransi dari cacat produk yang dihasilkan
tersebut dapat menggunakan metode pengendalian kualitas dengan
menggunakan alat bantu statistic, yaitu metode pengendalian kualitas yang
dalam aktifitasnya menggunakan alat bantu statistik yang terdapat pada
Statistical Process Control (SPC) serta Statistical Quality Control (SQC)
dimana proses produksi dikendalikan kualitasnya mulai dari awal produksi,
pada saat proses produksi berlangsung sampai dengan produk jadi.
Sebelum dilempar ke pasar, produk yang telah diproduksi di insipeksi
dulu, dimana produk yang baik dipisahkan dengan produk cacat sehingga
produk yang dihasilkan jumlahnya berkurang. Latar belakang munculnya
Statistical Processing Control karena adanya perbedaan kualitas (quality
dispersion) antara produk dengan type yang sama, urutan proses yang
sama, diproduksi pada mesin yang sama, operator dan kondisi lingkungan
yang sama, dan masalah ini selalu muncul pada perusahaan manufacturing
yang berproduksi dalam jumlah banyak (batch/mass production).

Pengendalian kualitas dengan alat bantu statistik bermanfaat pula


mengawasi tingkat efisiensi. Jadi, dapat digunakan sebagai alat untuk
detection yang mentolerir kerusakan dan prevention yang
menghindari/mencegah cacat terjadi. Detection biasanya dilakukan pada
produk jadi dan prevention melakukan pencegahan sedini mungkin
sehingga cacat pada produk dapat dicegah.

PT. Inti Indosawit Suburadalah salah satu perusahaan kelapa sawit


daerah Pangkalan Kerinci menjadi salah satu bisnis kelapa sawit terbesar
didunia, paling menguntungkan dengan pengelolaan terbaik dan
berkesinambungan. Oleh Sebab itu Kualitas merupakan salah satu
faktor penting yang harus dijaga oleh PT. Inti Indosawit Subur untuk
menjaga daya saing dan loyalitas konsumen mereka.
Dari data diatas dan hasil wawancara yang telah dilakukan oleh penulis
kepada pihak PT. Inti Indosawit Subur, maka diketahui masih ada kecacatan yang
terjadi selama proses produksi. Hal di atas memotivasi penulis untuk mengambil
judul “Analisis Pengendalian Kualitas Produk Dengan Menggunakan
Statistical Processing Control Pada PT. Inti Indosawit Subur”

III. Perumusan Masalah

Adapun perumusan masalah yang akan dibahas dalam penelitian ini


adalah sebagai berikut :

1. Apakah pelaksanaan pengendalian kualitas pada PT. Inti Indosawit


Subur berada dalam batas kendali.

2. Faktor-faktor apa saja yang menyebabkan kerusakan/kecacatan pada


produk yang diproduksi oleh PT. Inti Indosawit Subur.
1.3 Tujuan dan Manfaat Penelitian

Tujuan dari penelitian ini adalah :

1. Untuk menganalisis bagaimana pelaksanaan pengendalian kualitas pada


PT. INTI INDOSAWIT SUBUR dalam upaya menekan jumlah produk
cacat.
2. Mengidentifikasi faktor-faktor apa saja yang menyebabkan
kerusakan/cacat pada produk yang diproduksi oleh PT. INTI
INDOSAWIT SUBUR.

Adapun kegunaan penelitian ini adalah :

1. Memberikan pengetahuan tentang bagaimana Statistical Processing


Control dapat bermanfaat untuk mengendalikan tingkat kerusakan/cacat
pada produk yang terjadi pada PT. INTI INDOSAWIT SUBUR.
2. Memberikan manfaat bagi pihak perusahaan PT. Inti Indosawit
Subur sebagai bahan masukan yang berguna, terutama dalam menentukan
strategi pengendalian kualitas yang dilakukan perusahaan di masa yang
akan datang sebagai upaya peningkatan kualitas produksi.
3. Memberikan rujukan/referensi bagi kalangan akademisi untuk keperluan
studi dan penelitian selanjutnya mengenai topic permasalahan yang
sama.
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Kerangka Teori

2.1.1 Kualitas

Kualitas merupakan suatu istilah relatif yang sangat bergantung pada


situasi. Ditinjau dari pandangan konsumen, secara subjektif orang mengatakan
kualitas adalah sesuatu yang cocok dengan selera (fitness for use). Produk
dikatakan berkualitas apabila produk tersebut mempunyai kecocokan penggunaan
bagi dirinya. Pandangan lain mengatakan kualitas adalah barang atau jasa yang
dapat menaikkan status pemakai. Ada juga yang mengatakan barang atau jasa
yang memberikan manfaat pada pemakai (measure of utility and usefulness).
Kualitas barang atau jasa dapat berkenaan dengan keandalan, ketahanan, waktu
yang tepat, penampilannya, integritasnya, kemurniannya, individualitasnya, atau
kombinasi dari berbagai faktor tersebut. Uraian di atas menunjukkan bahwa
pengertian kualitas dapat berbeda-beda pada setiap orang pada waktu khusus
dimana kemampuannya (availability), kinerja (performance), keandalan
(reliability), kemudahan pemeliharaan (maintainability) dan karakteristiknya
dapat diukur (Juran, 1988). Ditinjau dari sudut pandang produsen,
kualitas dapat diartikan sebagai kesesuaian dengan spesifikasinya
(Juran, 1962; Krajewski, 1987). Suatu produk akan dinyatakan berkualitas oleh
produsen, apabila produk tersebut telah sesuai dengan spesifikasinya.

Adapun pengertian kualitas menurut American Society for Quality dari


buku Heizer & Render (2006: 253) : “Kualitas adalah keseluruhan fitur dan
karakteristik produk atau jasa yang mampu memuaskan kebutuhan yang terlihat
atau yang tersamar.”

Para ahli lainnya juga mempunyai pendapat yang berbeda tentang


pengertian kualitas, diantaranya adalah :

Menurut Philip B. Crosby (1979:58) dalam buku pertamanya “Quality is


Free” menyatakan bahwa, kualitas adalah “conformance to requirement”, yaitu
sesuai dengan yang diisyaratkan atau distandarkan. Suatu Produk memiliki
kualitas apabila sesuai dengan standar kualitas yang telah ditentukan.

W. Edwards Deming (1982:176) menyatakan, bahwa kualitas adalah


kesesuaian dengan kebutuhan pasar.

Suyadi Prawirosentono (2007:5), pengertian kualitas suatu produk adalah


“Keadaan fisik, fungsi, dan sifat suatu produk bersangkutan yang dapat
memenuhi selera dan kebutuhan konsumen dengan memuaskan sesuai dengan
nilai uang yang telah dikeluarkan.”

Kualitas tidak bisa dipandang sebagai suatu ukuran yang sempit, yaitu
kualitas produk semata-mata. Hal itu bisa dilihat dari beberapa pengertian tersebut
diatas, dimana kualitas tidak hanya kualitas produk saja akan tetapi
sangat kompleks karena melibatkan seluruh aspek dalam organisasi serta diluar
organisasi. Meskipun tidak ada definisi mengenai kualitas yang diterima secara
universal, namun dari beberapa definisi kualitas menurut para ahli di atas terdapat
beberapa persamaan, yaitu dalam elemen-elemen sebagai berikut (M.N Nasution,
2005:3) :

a. Kualitas mencakup usaha memenuhi atau melebihi harapan


pelanggan.
b. Kualitas mencakup produk, tenaga kerja, proses dan lingkungan.

c. Kualitas merupakan kondisi yang selalu berubah (misalnya apa yang


dianggap merupakan kualitas saat ini mungkin dianggap kurang
berkualitas pada masa mendatang).

2.1.2 Pengendalian Kualitas

Pengendalian kualitas merupakan salah satu teknik yang perlu dilakukan


mulai dari sebelum proses produksi berjalan, pada saat proses produksi, hingga
proses produksi berakhir dengan menghasilkan produk akhir. Pengendalian
kualitas dilakukan agar dapat menghasilkan produk berupa barang atau jasa yang
sesuai dengan standar yang diinginkan dan direncanakan, serta memperbaiki
kualitas produk yang belum sesuai dengan standar yang telah ditetapkan dan
sebisa mungkin mempertahankan kualitas yang sesuai.
Adapun pengertian pengendalian menurut para ahli adalah sebagai
berikut :

Menurut Sofjan Assauri (1998:25), pengendalian dan pengawasan adalah :

“ Kegiatan yang dilakukan untuk menjamin agar kepastian produksi dan


operasi yang dilaksanakan sesuai dengan apa yang direncanakan dan
apabila terjadi penyimpangan, maka penyimpangan tersebut dapat
dikoreksi sehingga apa yang diharapkan dapat tercapai.”

Sedangkan menurut Vincent Gasperz (2005:480), pengendalian adalah “


Kegiatan yang dilakukan untuk memantau aktivitas dan memastikan kinerja
sebenarnya yang dilakukan telah sesuai dengan yang direncanakan.”

Selanjutnya, pengertian pengendalian kualitas dalam arti menyeluruh


adalah sebagai berikut :

Pengertian pengendalian kualitas menurut Sofjan Assauri (1998:210)


adalah “Pengawasan mutu merupakan usaha untuk mempertahankan mutu/kualitas
barang yang dihasilkan, agar sesuai dengan spesifikasi produk yang telah
ditetapkan berdasarkan kebijaksanaan pimpinan perusahaan.”

Sedangkan menurut Vincent Gasperz (2005:480), pengendalian kualitas


adalah “ Pengendalian Kualitas adalah teknik dan aktivitas operasional yang
digunakan untuk memenuhi standar kualitas yang diharapkan.”

Berdasarkan pengertian di atas, maka dapat ditarik kesimpulan bahwa


pengendalian kualitas adalah suatu teknik dan aktivitas/tindakan yang terencana
yang dilakukan untuk mencapai, mempertahankan, dan meningkatkan kualitas
suatu produk dan jasa agar sesuai dengan standar yang telah ditetapkan dan
dapat memenuhi kepuasan konsumen.

[Link] Tujuan Pengendalian Kualitas

Adapun tujuan dari pengendalian kualitas menurut Sofjan Assauri

(1998:210) adalah :

1. Agar barang hasil produksi dapat mencapai standar kualitas yang telah
ditetapkan.
2. Mengusahakan agar biaya inspeksi dapat menjadi sekecil mungkin.

3. Mengusahakan agar biaya desain dari produk dan proses dengan


menggunakan kualitas produksi tertentu dapat menjadi sekecil mungkin.
4. Mengusahakan agar biaya produksi dapat menjadi serendah mungkin.

Tujuan utama pengendalian kualitas adalah untuk mendapatkan jaminan


bahwa kualitas produk atau jasa yang dihasilkan sesuai dengan standar kualitas
yang telah ditetapkan dengan mengeluarkan biaya yang ekonomis atau serendah
mungkin.

Pengendalian kualitas tidak dapat dilepaskan dari pengendalian produksi,


karena pengendalian kualitas merupakan bagian dari pengendalian produksi.
Pengendalian produksi baik secara kualitas maupun kuantitas merupakan
kegiatan yang sangat penting dalam suatu perusahaan. Hal ini disebabkan karena
kegiatan produksi yang dilaksanakan akan dikendalikan, supaya barang atau jasa
yang dihasilkan sesuai dengan rencana yang telah ditetapkan, dimana
penyimpangan-penyimpangan yang terjadi diusahakan diminimumkan.

Pengendalian kualitas juga menjamin barang atau jasa yang dihasilkan


dapat dipertanggungjawabkan seperti halnya pada pengendalian produksi, dengan
demikian antara pengendalian produksi dan pengendalian kualitas erat kaitannya
dalam pembuatan barang.

[Link] Faktor-faktor Pengendalian Kualitas

Menurut Douglas C. Montgomery (2001:26) dan berdasarkan beberapa


literatur lain menyebutkan bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi pengendalian
kualitas yang dilakukan perusahaan adalah :

1. Kemampuan Proses, batas-batas yang ingin dicapai haruslah


disesuaikan dengan kemampuan proses yang ada. Tidak ada gunanya
mengendalikan suatu proses dalam batas-batas yang melebihi
kemampuan atau kesanggupan proses yang ada.
2. Spesifikasi yang berlaku, Spesifikasi hasil produksi yang ingin dicapai
harus dapat berlaku, bila ditinjau dari segi kamampuan proses dan
keinginan atau kebutuhan konsumen yang ingin dicapai dari hasil
produksi tersebut. Dalam hal ini haruslah dapat dipastikan dahulu
apakah spesifikasi tersebut dapat berlaku dari kedua segi yang telah
disebutkan di atas sebelum pengendalian kualitas pada proses dapat
dimulai.
3. Tingkat ketidaksesuaian yang dapat diterima, Tujuan dilakukannya
pengendalian suatu proses adalah dapat mengurangi produk yang
berada di bawah standar seminimal mungkin. Tingkat pengendalian
yang diberlakukan tergantung pada banyaknya produk yang berada
dibawah standar yang dapat diterima.
4. Biaya kualitas, biaya kualitas sangat mempengaruhi
tingkat

pengendalian kualitas dalam menghasilkan produk dimana biaya


kualitas mempunyai hubungan yang positif dengan terciptanya
produk yang berkualitas.

2.1.3 Langkah-langkah Pengendalian Mutu

Standarisasi sangat diperlukan sebagai tindakan pencegahan untuk


memunculkan kembali masalah kualitas yang pernah ada dan telah diselesaikan.
Hal ini sesuai dengan konsep pengendalian mutu berdasarkan sistem manajemen
mutu yang berorientasi pada strategi pencegahan, bukan pada strategi
pendeteksian saja. Berikut ini adalah langkah-langkah yang sering digunakan
dalam analisis dan solusi masalah mutu.

1. Memahami kebutuhan peningkatan kualitas.

Langkah awal dalam peningkatan kualitas adalah bahwa manajemen


harus secara jelas memahami kebutuhan untuk peningkatan mutu.
Manajemen harus secara sadar memiliki alasan-alasan untuk peningkatan
mutu dan peningkatan mutu merupakan suatu kebutuhan yang paling
mendasar. Tanpa memahami kebutuhan untuk peningkatan mutu,
peningkatan kualitas tidak akan pernah efektif dan berhasil. Peningkatan
kualitas dapat dimulai dengan mengidentifikasi masalah kualitas yang
terjadi atau kesempatan peningkatan apa yang mungkin dapat dilakukan.
Identifikasi masalah dapat dimulai dengan mengajukan beberapa
pertanyaan dengan menggunakan alat-alat bantu dalam peningkatan
kualitas seperti brainstromming, check Sheet, atau diagram Pareto.
2. Menyatakan masalah kualitas yang ada

Masalah-masalah utama yang telah dipilih dalam langkah pertama perlu


dinyatakan dalam suatu pernyataan yang spesifik. Apabila berkaitan
dengan masalah kualitas, masalah itu harus dirumuskan dalam bentuk
informasi-informasi spesifik jelas tegas dan dapat diukur dan diharapkan
dapat dihindari pernyataan masalah yang tidak jelas dan tidak dapat
diukur.
3. Mengevaluasi penyebab utama

Penyebab utama dapat dievaluasi dengan menggunakan diagram sebab-


akibat dan menggunakan teknik brainstromming. Dari berbagai faktor
penyebab yang ada, kita dapat mengurutkan penyebab-penyebab dengan
menggunakan diagram pareto berdasarkan dampak dari penyebab terhadap
kinerja produk, proses, atau sistem manajemen mutu secara keseluruhan.
4. Merencanakan solusi atas masalah

Diharapkan rencana penyelesaian masalah berfokus pada tindakan-


tindakan untuk menghilangkan akar penyebab dari masalah yang ada.
Rencana peningkatan untuk menghilangkan akar penyebab masalah yang
ada diisi dalam suatu formulir daftar rencana tindakan.
5. Melaksanakan perbaikan

Implementasi rencana solusi terhadap masalah mengikuti daftar rencana


tindakan peningkatan kualitas. Dalam tahap pelaksanaan ini sangat
dibutuhkan komitmen manajemen dan karyawan serta partisipasi total
untuk secara bersama-sama menghilangkan akar penyebab dari masalah
kualitas yang telah teridentifikasi.
6. Meneliti hasil perbaikan

Setelah melaksanakan peningkatan kualitas perlu dilakukan studi dan


evaluasi berdasarkan data yang dikumpulkan selama tahap pelaksanaan
untuk mengetahui apakah masalah yang ada telah hilang atau berkurang.
Analisis terhadap hasil-hasil temuan selama tahap pelaksanaan akan
memberikan tambahan informasi bagi pembuatan keputusan dan
perencanaan peningkatan berikutnya.
7. Menstandarisasikan solusi terhadap masalah

Hasil-hasil yang memuaskan dari tindakan pengendalian kualitas harus


distandarisasikan, dan selanjutnya melakukan peningkatan terus-
menerus pada jenis masalah yang lain. Standarisasi dimaksudkan untuk
mencegah masalah yang sama terulang kembali.
8. Memecahkan masalah selanjutnya

Setelah selesai masalah pertama, selanjutnya beralih membahas masalah


selanjutnya yang belum terpecahkan (jika ada).

Anda mungkin juga menyukai