SATUAN ACARA PENYULUHAN (SAP)
KEHAMILAN RESIKO TINGGI
DI PUSKESMAS DUPAK
KOTA SURABAYA
Disusun Oleh:
1. Annisa Dwi Qotimawati ( P27824419052)
2. Firda Irmasari ( P27824419065)
3. Dhaina Muqarrachma ( P27824419059)
4. Dwi Rahmania ( P27824419062)
5. Dinar Eka M ( P27824419061)
6. Yance Sartina ( P27824419094)
KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA
BALAI PENGEMBANGAN DAN PEMBERDAYAAN SUMBER DAYA
MANUSIA KESEHATAN
POLITEKNIK KESEHATAN KEMENKES SURABAYA
JURUSAN KEBIDANAN
PROGRAM STUDI D4 ALIH JENJANG KEBIDANAN SUTOMO
TAHUN 2019
SATUAN ACARA PENYULUHAN
Topik : Kehamilan Risiko Tinggi
Sasaran : Ibu hamil di Puskesmas Dupak
Tempat : Puskesmas Dupak
Hari/Tanggal : Selasa, 10 Desember 2019
Waktu : 30 menit
I. Tujuan Instruksional umum
Setelah proses penyuluhan diharapkan pasien Ibu hamil mengerti tentang
kehamilan risiko tinggi
II. Tujuan Instruksional Khusus
Setelah diberikan penyuluhan diharapkan peserta mampu :
1. Menyebutkan pengertian kehamilan risiko tinggi
2. Menyebutkan faktor risiko terjadinya kehamilan risiko tinggi
3. Menyebutkan tanda bahaya kehamilan
4. Mengetahui deteksi pada kehamilan risiko tinggi
5. Menyebutkan bahaya yang dapat ditimbulkan karena kehamilan risiko
tinggi
6. Mengetahui cara pencegahan kehamilan risiko tinggi
III. Materi
1. Pengertian kehamilan risiko tinggi
2. Faktor risiko/penyebab terjadinya kehamilan risiko tinggi
3. Tanda bahaya kehamilan
4. Diagnosa kebidanan pada kehamilan risiko tinggi
5. Bahaya yang dapat ditimbulkan karena kehamilan risiko tinggi
6. Pencegahan kehamilan risiko tinggi
IV. Metode
1. Ceramah
2. Diskusi
3. Tanya jawab
V. Media
1. LCD
2. Leaflet
VI. Pengorganisasian
Pembimbing Klinik : Siska, SST.,[Link]
Pembimbing Pendidikan : Sherly J. SST.,[Link]
Rijanto, [Link].,[Link]
Penyaji : Dwi Rahmania
Moderator : Yance Sartina
Observer : Dhaina Muqarrohma
Operator : Dinar Eka M
Notulen : Annisa D.Q
Fasilitator : Firda Irmasari
VII. Kegiatan Penyuluhan
NO WAKTU KEGIATAN PENYULUHAN KEGIATAN PESERTA
1 5 menit Pembukaan Mendengarkan
pembukaan yang
a) Membuka kegiatan dengan
disampaikan oleh
mengucapkan salam
moderator.
b) Memperkenalkan diri
c) Menjelaskan tujuan dari
penyuluhan
d) Menyebutkan materi yang
akan diberikan
e) Menyampaikan kontrak waktu
2 10 menit Pelaksanaan Mendengarkan dan
memberikan umpan balik
Penyampaian materi oleh
terhadap materi yang
pemateri :
disampaikan.
a) Menggali pengetahuan peserta
tentang kehamilan risiko
tinggi
b) Menjelaskan tentang
pengertian kehamilan risiko
tinggi
c) Menjelaskan tentang
penyebab/ faktor risiko
kehamilan risiko tinggi
d) Menyebutkan tentang tanda
bahaya kehamilan
e) Menjelaskan tentang deteksi
pada kehamilan risiko tinggi
f) Menjelaskan tentang bahaya
yang dapat ditimbulkan
karena kehamilan risiko
tinggi
g) Menjelaskan tentang
pencegahan kehamilan risiko
tinggi
3 10 menit Tanya jawab Mengajukan pertanyaan
Memberikan kesempatan kepada
peserta untuk bertanya tentang
materi yang kurang dipahami
4 5 menit Evaluasi Menjawab pertanyaan
Menanyakan kembali kepada
peserta tentang materi yang telah
diberikan
danreinforcement kepada peserta
yang dapat menjawab pertanyaan
Penutup
a) Mempersilahkan fasilitator dari
pembimbing klinik dan/atau
pembimbing akademik untuk
menambahkan ataupun
menjelaskan kembali jawaban
pertanyaan peserta yang belum
terjawab.
b) Menjelaskan kesimpulan dari
materi penyuluhan
c) Ucapan terima kasih
d) Salam penutup
VIII. Kriteria Evaluasi
1. Evaluasi Struktur
a. Peserta hadir ditempat penyuluhan
b. Penyelenggaraan penyuluhan dilaksanakan di Puskesmas Dupak.
Pengorganisasian penyelenggaraan penyuluhan dilakukan
sebelumnya.
2. Evaluasi Proses
a. Peserta antusias terhadap materi penyuluhan
b. Peserta mengajukan pertanyaan dan menjawab pertanyaan secara
benar
3. Evaluasi Hasil
Setelah penyuluhan diharapkan sekitar 80% peserta penyuluhan mampu
mengerti dan memahami penyuluhan yang diberikan sesuai dengan tujuan
khusus.
KEHAMILAN RISIKO TINGGI
PENDAHULUAN
Secara garis besar, kelangsungan suatu kehamilan sangat bergantung pada
keadaan dan kesehatan ibu, plasenta dan keadaan janin. Jika ibu sehat dan didalam
darahnya terdapat zat-zat makanan dan bahan-bahan organis dalam jumlah yang
cukup, maka pertumbuhan dan perkembangan bayi dalam kandungan akan
berjalan baik. Dalam kehamilan, plasenta akan befungsi sebagai alat respiratorik,
metabolik, nutrisi, endokrin, penyimpanan, transportasi dan pengeluaran dari
tubuh ibu ke tubuh janin atau sebaliknya. Jika salah satu atau beberapa fungsi di
atas terganggu, maka janin seperti “tercekik”, dan pertumbuhannya akan
terganggu.
Demikian juga bila ditemukan kelainan pertumbuhan janin baik berupa
kelainan bawaan ataupun - kelainan karena pengaruh lingkungan, maka
pertumbuhan dan perkembangan janin dalam kandungan dapat mengalami
gangguan. Bagi kebanyakan wanita, proses kehamilan dan persalinan adalah
proses yang dilalui dengan kegembiraan dan suka cita. Tetapi 5-10% dari
kehamilan termasuk kehamilan dengan risiko tinggi, wanita dengan kehamilan
risiko tinggi, mereka harus mempersiapkan diri dengan lebih memperhatikan
perawatan kesehatannya dalam menghadapi kehamilan dengan risiko tinggi ini.
I. DEFINISI
Kehamilan risiko tinggi adalah ibu hamil dengan berbagai faktor risiko yang
dapat mengganggu proses kehamilan sampai bersalin atau mengancam jiwa ibu
dan janin.
Kehamilan risiko tinggi adalah kehamilan yang akan menyebabkan
terjadinya bahaya dan komplikasi yang lebih besar, baik terhadap ibu maupun
terhadap janin yang dikandungnya selama masa kehamilan, melahirkan ataupun
nifas bila dibandingkan dengan kehamilan persalinan dan nifas normal.
Kehamilan usia dini memuat risiko yang tidak kalah berat. Pasalnya,
emosional ibu belum stabil dan ibu mudah tegang. Sementara kecacatan kelahiran
bisa muncul akibat ketegangan saat dalam kandungan, adanya rasa penolakan
secara emosional ketika si ibu mengandung bayinya. (Ubaydillah, 2000).
II. FAKTOR RISIKO
Untuk menentukan suatu kehamilan risiko tinggi, dilakukan penilaian
terhadap wanita hamil untuk menentukan apakah dia memiliki keadaan atau ciri-
ciri yang menyebabkan dia ataupun janinnya lebih rentan terhadap penyakit atau
kematian (keadaan atau ciri tersebut disebut faktor risiko). Faktor risiko bisa
memberikan suatu angka yang sesuai dengan beratnya risiko.
Secara umum, kelompok ibu hamil yang tergolong resiko tinggi antara lain:
1. Umur di bawah 20 tahun, karena rahim dan panggul ibu belum
berkembang
2. Umur diatas 35 tahun, karena kesehatan dan keadaan rahim sudah tidak
sebaik umur sebelumnya
3. Pernah mengalami kesulitan dan kehamilan dalam persalinan sebelumnya
4. Jumlah anak lebih dari 4 orang, karena makin banyak anak, rahim ibu
makin lemah
5. Jarak persalinan terakhir dengan awal kehamilan sekarang kurang dari 2
tahun, karena pada keadaan tersebut rahim dan kesehatan ibu belum pulih
kembali dengan baik
6. Jarak persalinan terakhir dengan awal kehamilan sekarang lebih dari 10
tahun (terlalu lama)
7. Tinggi badan kurang dari 145 cm, karena ibu mungkin mempunyai
panggul sempit, sehingga sulit melahirkan
8. Kebiasaan ibu (merokok, alkohol, dan obat-obatan)
2.1. FAKTOR RISIKO SEBELUM KEHAMILAN
Sebelum hamil, seorang wanita bisa memiliki suatu keadaan yang
menyebabkan meningkatnya resiko selama kehamilan. Selain itu, jika seorang
wanita mengalami masalah pada kehamilan yang lalu, maka resikonya untuk
mengalami hal yang sama pada kehamilan yang akan datang adalah lebih
besar.
2.1.1. Karakteristik ibu
Usia wanita mempengaruhi resiko kehamilan. Anak perempuan berusia
15 tahun atau kurang lebih rentan terhadap terjadinya pre-eklamsi (suatu
keadaan yang ditandai dengan tekanan darah tinggi, protein dalam air kemih
dan penimbunan cairan selama kehamilan) daneklamsi (kejang akibat pre-
eklamsi). Mereka juga lebih mungkin melahirkan bayi dengan berat badan
rendah atau bayi kurang gizi.
Risiko kehamilan pada ibu yang terlalu muda biasanya timbul karena
mereka belum siap secara psikis maupun fisik. Secara psikis, umumnya
remaja belum siap menjadi ibu. Bisa saja kehamilan terjadi karena
"kecelakaan". Akibatnya, selain tidak ada persiapan, kehamilannya pun tidak
dipelihara dengan baik. Kondisi psikis yang tidak sehat ini dapat membuat
kontraksi selama proses persalinan tidak berjalan lancar sehingga
kemungkinan operasi sesar jadi lebih besar.
Risiko fisiknya pun tak kalah besar karena beberapa organ reproduksi
remaja putri seperti rahim belum cukup matang untuk menanggung beban
kehamilan. Bagian panggul juga belum cukup berkembang sehingga bisa
mengakibatkan kelainan letak janin.
Kurangnya persiapan untuk hamil juga dikaitkan dengan defisiensi
asam folat dalam tubuh. Akibat kurangnya asam folat, janin dapat menderita
spina bifida (kelainan tulang belakang) atau janin tidak memiliki batok
kepala. Risiko akan berkurang pada ibu yang hamil di usia tua karena
biasanya mereka sudah mempersiapkan kehamilan dengan baik.
Risiko kehamilan yang akan dihadapi pada primigravida tua hampir
mirip pada primigravida muda. Hanya saja, karena faktor kematangan fisik
yang dimiliki maka ada beberapa risiko yang akan berkurang pada
primigravida tua. Misalnya menurunnya risiko cacat janin yang disebabkan
kekurangan asam folat. Risiko kelainan letak janin juga berkurang karena
rahim ibu di usia ini sudah matang. Panggulnya juga sudah berkembang baik.
Bahaya yang mengancam primigravida tua justru berkaitan dengan fungsi
organ reproduksi di atas usia 35 tahun yang sudah menurun sehingga bisa
mengakibatkan perdarahan pada proses persalinan dan preeklamsia.
Hal yang patut dipertimbangkan adalah meningkatnya risiko kelainan
sindrom down pada janin, yaitu sebuah kelainan kombinasi dari retardasi
mental dan abnormalitas bentuk fisik yang disebabkan kelainan kromosom.
"Pada kehamilan di bawah usia 30 tahun kemungkinan adanya sindrom down
hanya 1:1600, tapi di atas 35 tahun menjadi 1:600, dan di usia 40 tahun
menjadi 1:160. Peningkatan beberapa kali lipat ini dikarenakan perubahan
kromosom akibat usia ibu yang semakin tua. Pada wanita hamil yang berusia
diatas 35 tahun bisa dilakukan pemeriksaan cairan ketuban (amniosentesis)
untuk menilai kromosom janin.
Wanita yang berusia 35 tahun atau lebih, lebih rentan terhadap tekanan
darah tinggi, diabetes atauobesitas dan terhadap keadaan medis lainnya
.Seorang wanita yang pada saat tidak hamil memiliki berat badan
kurang dari 50 kg, lebih mungkin melahirkan bayi yang lebih kecil dari usia
kehamilan (KMK, kecil untuk masa kehamilan). Jika kenaikan berat badan
selama kehamilan kurang dari 7,5 kg, maka resikonya meningkat sampai
30%. Sebaliknya, seorang wanita gemuk lebih mungkin melahirkan bayi
[Link] juga menyebabkan meningkatnya resiko terjadinya diabetes
dan tekanan darah tinggi selama kehamilan. Seorang wanita yang memiliki
tinggi badan kurang dari 1,4 meter, lebih mungkin memiliki panggul yang
sempit. Selain itu, wanita tersebut juga memiliki resiko yang lebih tinggi
untuk mengalami persalinan prematur dan melahirkan bayi yang sangat kecil.
2.1.2. Riwayat Kehamilan Sebelumnya
Seorang wanita yang 3 kali berturut-turut mengalami keguguran pada
trimester pertama, memiliki resiko sebesar 35% unuk mengalami keguguran
lagi. Keguguran juga lebih mungkin terjadi pada wanita yang pernah
melahirkan bayi yang sudah meninggal pada usia kehamilan 4-8 minggu atau
pernah melahirkan bayi prematur.
Sebelum mencoba hamil lagi, sebaiknya seorang wanita yang pernah
mengalami keguguran menjalani pemeriksaan untuk :
- kelainan kromosom atau hormon
- kelainan struktur rahim atau leher rahim
- penyakit jaringan ikat (misalnya lupus)
- reaksi kekebalan pada janin (biasanya ketidaksesuaianRh).
Jika penyebab terjadinya keguguran diketahui, maka dilakukan
tindakan pengobatan. Kematian di dalam kandungan atau kematian bayi baru
lahir bisa terjadi akibat:
- Kelainan kromosom pada bayi
- Diabetes
- Penyakit ginjal atau pembuluh darah menahun
- Tekanan darah tinggi
- Penyalahgunaan obat
- Penyakit jaringan ikat pada ibu (misalnya lupus).
Seorang wanita yang pernah melahirkan bayi prematur, memiliki resiko
yang lebih tinggi untuk melahirkan bayi prematur pada kehamilan
berikutnya. Seorang wanita yang pernah melahirkan bayi dengan berat badan
kurang dari 1,5 kg, memiliki resiko sebesar 50% untuk melahirkan bayi
prematur pada kehamilan berikutnya.
Jika seorang wanita pernah melahirkan bayi dengan berat badan lebih
dari 4 kg, mungkin dia menderita diabetes. Jika selama kehamilan seorang
wanita menderita diabetes, maka resiko terjadinya keguguran atau resiko
kematian ibu maupun bayinya meningkat.
Pemeriksaan kadar gula darah dilakukan pada wanita hamil ketika
memasuki usia kehamilan 20-28 minggu. Seorang wanita yang telah
mengalami kehamilan sebanyak 6 kali atau lebih, lebih mungkin mengalami:
- kontraksi yang lemah pada saat persalinan (karena otot
rahimnya lemah)
- perdarahan setelah persalinan (karena otot rahimnya lemah)
- persalinan yang cepat, yang bisa menyebabkan meningkatnya
resiko perdarahan vagina yang berat
- plasenta previa (plasenta letak rendah).
Jika seorang wanita pernah melahirkan bayi yang menderita
penyakit hemolitik, maka bayi berikutnya memiliki resiko menderita penyakit
yang sama.
Penyakit ini terjadi jika darah ibu memiliki Rh-negatif, darah janin
memiliki Rh-positif dan ibu membentuk antibodi untuk menyerang darah
janin; antibodi ini menyebabkan kerusakan pada sel darah merah janin. Pada
kasus seperti ini, dilakukan pemeriksaan darah pada ibu dan ayah. Jika ayah
memiliki 2 gen untuk Rh-positif, maka semua anaknya akan memiliki Rh-
positif; jika ayah hanya memiliki 1 gen untuk Rh-positif, maka peluang anak-
anaknya untuk memiliki Rh-positif adalah sebesar 50%. Biasanya pada
kehamilan pertama, perbedaan Rh antara ibu dengan bayinya tidak
menimbulkan masalah, tetapi kontak antara darah ibu dan bayi pada
persalinan menyebabkan tubuh ibu membentuk antibodi. Akibatnya, resiko
penyakit hemolitik akan ditemukan pada kehamilan berikutnya. Tetapi setelah
melahirkan bayi dengan Rh-positif, biasanya pada ibu yang memiliki Rh-
negatif diberikan immunoglobulin Rh-nol-D, yang akan menghancurkan
antibodi Rh. Karena itu, penyakit hemolitik pada bayi jarang terjadi.
Seorang wanita yang pernah mengalami pre-eklamsi atau eklamsi,
kemungkinan akan mengalaminya lagi pada kehamilan berikutnya, terutama
jika diluar kehamilan dia menderita tekanan darah tinggi menahun. Jika
seorang wanita pernah melahirkan bayi dengan kelainan genetik atau cacat
bawaan, biasanya sebelum merencanakan kehamilan berikutnya, dilakukan
analisa genetik pada bayi dan kedua orangtuanya.
2.1.3. Kelainan struktur
Kelainan struktur pada organ reproduksi wanita (misalnya rahim ganda
atau leher rahim yang lemah) bisa meningkatkan resiko terjadinya
keguguran. Untuk mengetahui adanya kelainan struktur, bisa dilakukan
pembedahan diagnostik, USG atau rontgen. Fibroid (tumor jinak) di dalam
rahim bisa meningkatkan resiko terjadinya.
- kelahiran prematur
- gangguan selama persalinan
- kelainan letak janin
- kelainan letak plasenta
- keguguran berulang.
2.1.4. Keadaan kesehatan
Keadaan kesehatan tertentu pada wanita hamil bisa membahayakan ibu
dan bayi yang dikandungnya. Keadaan kesehatan yang sangat penting adalah:
- Tekanan darah tinggi menahun
- Penyakit ginjal
- Diabetes
- Penyakit jantung yang berat
- Penyakit sel sabit
- Penyakit tiroid
- Lupus
- Kelainan pembekuan darah.
2.1.5. Riwayat keluarga
Riwayat adanya keterbelakangan mental atau penyakit keturunan
lainnya di keluarga ibu atau ayah menyebabkan meningkatnya kemungkinan
terjadinya kelainan tersebut pada bayi yang dikandung. Kecenderungan
memiliki anak kembar juga sifatnya diturunkan.
[Link] Risiko Selama Kehamilan
Seorang wanita hamil dengan resiko rendah bisa mengalami suatu
perubahan yang menyebabkan bertambahnya resiko yang dimilikinya.
Dia mungkin terpapar oleh teratogen (bahan yang bisa menyebabkan
cacat bawaan), seperti radiasi, bahan kimia tertentu, obat-obatan dan infeksi;
atau dia bisa mengalami kelainan medis atau komplikasi yang berhubungan
dengan kehamilan.
2.2.1 Obat-obatan atau infeksi
Obat-obatan yang diketahui bisa menyebabkan cacat bawaan jika diminum
selama hamil adalah :
- Alkohol
- Phenitoin
- Obat-obat yang kerjanya melawan asam folat (misalnya
triamteren atau trimethoprim)
- Lithium
- Streptomycin
- Tetracyclin
- Talidomide
- Warfarin.
Infeksi yang bisa menyebabkan cacat bawaan adalah:
- Herpes simpleks
- Hepatitis virus
- Influenza
- Gondongan
- Campak Jerman (rubella)
- Cacar air (varisela)
- Sifilis
- Listeriosis
- Toksoplasmosis
- Infeksi oleh virus coxsackie atau sitomegalovirus.
Merokok berbahaya bagi ibu dan janin yang dikandungnya, tetapi
hanya sekitar 20% wanita yang berhenti merokok selama hamil. Efek yang
paling sering terjadi akibat merokok selama hamil adalah berat badan bayi
yang rendah. Selain itu, wanita hamil yang merokok juga lebih rentan
mengalami:
- komplikasi plasenta
- ketubah pecah sebelum waktunya
- persalinan premature
- infeksi rahim.
Seorang wanita hamil yang tidak merokok sebaiknya menghindari asap
rokok dari orang lain karena bisa memberikan efek yang sama terhadap
janinnya. Cacat bawaan pada jantung, otak dan wajah lebih sering ditemukan
pada bayi yang ibunya merokok.
Merokok selama hamil juga bisa menyebabkan meningkatnya resiko
terjadinya sindroma kematian bayi mendadak. Selain itu, anak-anak yang
dilahirkan oleh ibu perokok bisa mengalami kekurangan yang sifatnya ringan
dalam hal pertumbuhan fisik, perkembangan intelektual dan perilaku. Efek ini
diduga disebabkan oleh karbon monoksida (yang menyebabkan berkurangnya
pasokan oksigen ke jaringan tubuh) dan nikotin (yang merangsang pelepasan
hormon yang menyebabkan pengkerutan pembuluh darah yang menuju ke
plasenta dan rahim).
Mengkonsumsi alkohol selama hamil bisa menyebabkan cacat bawaan.
Sindroma alkohol pada janin merupakan salah satu akibat utama dari
pemakaian alkohol selama hamil. Sindroma ini ditandai dengan:
- keterbelakangan pertumbuhan sebelum atau sesudah lahir
- kelainan wajah
- mikrosefalus (ukuran kepala lebih kecil), yang kemungkinan
disebabkan oleh pertumbuhan otak yang dibawah normal
- kelainan perkembangan perilaku.
Sindroma alkohol pada janin seringkali menyebabkan keterbelakangan
mental. Selain itu, alkohol juga bisa menyebabkan keguguran dan gangguan
perilaku yang berat pada bayi maupun anak yang sedang tumbuh (misalnya
perilaku antisosial dan kurang memperhatikan).
Resiko terjadinya keguguran pada wanita hamil yang mengkonsumsi
alkohol adalah 2 kali lipat, terutama jika wanita tersebut adalah peminum
berat. Berat badan bayi yang dilahirkan berada di bawah normal, yaitu rata-
rata 2 kg. Suatu pemeriksaan laboratorium yang sensitif dan tidak
memerlukan biaya besar, yaitu kromatografi, bisa digunakan untuk
mengetahui pemakaian heroin, morfin, amfetamin, barbiturat, kodein, kokain,
marijuana, metadon atau fenotiazin pada wanita hamil.
Wanita yang menggunakan obat suntik memiliki resiko tinggi terhadap :
- Anemia
- Bakteremia
- Endokarditis
- Abses kulit
- Hepatitis
- Flebitis
- Pneumonia
- Tetanus
- Penyakit menular seksual (termasuk AIDS).
Sekitar 75% bayi yang menderita AIDS, ibunya adalah pemakai obat
suntik atau pramuria. Bayi-bayi tersebut juga memiliki resiko menderita
penyakit menular seksual lainnya, hepatitis dan infeksi. Pertumbuhan mereka
di dalam rahim kemungkinan mengalami kemunduran dan mereka bisa lahir
prematur. Kokain merangsang sistem saraf pusat, bertindak sebagai obat bius
lokal dan menyebabkan pengkerutan pembuluh darah. Pembuluh darah yang
mengkerut bisa menyebabkan berkurangnya aliran darah sehingga kadang
janin tidak mendapatkan oksigen yang cukup. Berkurangnya aliran darah dan
oksigen bisa menyebabkan gangguan pertumbuhan berbagai organ dan
biasanya menyebabkan cacat kerangka serta penyempitan sebagian usus.
Pemeriksaan air kemih untuk mengatahui adanya kokain biasanya
dilakukan jika :
- seorang wanita hamil tiba-tiba menderita tekanan darah tinggi
yang berat
- terjadi perdarahan akibat pelepasan plasenta sebelum waktunya
- terjadi kematian dalam kandungan yang sebabnya tidak
diketahui.
31% dari wanita pemakai kokain mengalami persalinan prematur, 19%
melahirkan bayi yang pertumbuhannya terhambat dan 15% mengalami
pelepasan plasenta sebelum waktunya.
Jika pemakaian kokain dihentikan setelah trimester pertama, maka
resiko persalinan prematur dan pelepasan plasenta sebelum waktunya tetap
meningkat, tetapi pertumbuhan janinnya normal.
2.2.2. Keadaan kesehatan
Tekanan darah tinggi pada wanita hamil bisa disebabkan oleh
kehamilan atau keadaan lain. Tekanan darah tinggi di akhir kehamilan bisa
merupakan ancaman serius terhadap ibu dan bayinya dan harus segera
diobati. Jika seorang wanita hamil pernah menderita infeksi kandung kemih,
maka dilakukan pemeriksaan air kemih pada awal kehamilan. Jika ditemukan
bakteri, segera diberikan antibiotik untuk mencegah infeksi ginjal yang bisa
menyebabkan persalinan prematur dan ketuban pecah sebelum waktunya.
Infeksi vagina oleh bakteri selama hamil juga bisa menyebabkan persalinan
prematur dan ketuban pecah sebelum waktunya. Untuk mencegah terjadinya
hal tersebut, diberikan antibiotik.
Penyakit yang menyebabkan demam (suhu lebih tinggi dari 39,4°
Celsius) pada trimester pertama menyebabkan meningkatnya kemungkinan
terjadinya keguguran dan kelainan sistem saraf pada bayi. Demam pada
trimester terakhir menyebabkan meningkatnya kemungkinan terjadinya
persalinan prematur.
2.2.3. Komplikasi kehamilan
1. Inkompatibilitas Rh
Ibu dan janin yang dikandungnya bisa memiliki jenis darah
yang tidak sesuai. Yang paling sering terjadi adalah inkompatibilitas
Rh, yang bisa menyebabkan penyakit hemolitik pada bayi baru lahir.
Penyakit hemolitik bisa terjadi jika ibu memiliki Rh-negatif, ayah
memiliki Rh-positif, janin memiliki Rh-positif dan tubuh ibu
membuat antibodi untuk melawan darah janin. Jika seorang ibu
hamil memiliki Rh-negatif, maka dilakukan pemeriksaan antibodi
terhadap janin setiap 2 bulan.
Resiko pembentukan antibodi ini meningkat pada keadaan berikut:
- setelah terjadinya perdarahan dimana darah ibu dan darah
janin bercampur
- setelah pemeriksaan amniosentesis
- dalam waktu 72 jam setelah melahirkan bayi dengan Rh-
positif.
Pada saat ini dan pada kehamilan 28 minggu, diberikan
imunoglobulin Rh-nol-D kepada ibu, yang akan menghancurkan
antibodi Rh.
2. Perdarahan
Penyebab perdarahan paling sering pada trimester ketiga adalah:
- Kelainan letak plasenta
- Pelepasan plasenta sebelum waktunya
- Penyakit pada vagina atau leher rahim (misalnya infeksi).
Perdarahan pada trimester ketiga memiliki resiko terjadinya
kematian bayi, perdarahan hebat dan kematian ibu pada saat
persalinan.
Untuk menentukan penyebab terjadinya perdarahan bisa
dilakukan pemeriksaan USG, pengamatan leher rahim dan
Pap smear.
3. Kelainan pada cairan ketuban
Air ketuban yang terlalu banyak akan menyebabkan
peregangan rahim dan menekan diafragma ibu. Hal ini bisa
menyebabkan gangguan pernafasan yang berat pada ibu atau
terjadinya persalinan prematur. Air ketuban yang terlalu banyak
cenderung terjadi pada:
- ibu yang menderita diabetes yang tidak terkontrol
- kehamilan ganda
- inkompatibilitas Rh
- bayi dengan cacat bawaan (misalnya penyumbatan
kerongkongan atau kelainan sistem saraf).
Air ketuban yang terlalu sedikit ditemukan pada:
- bayi yang memiliki cacat bawaan pada saluran kemih
- bayi yang mengalami hambatan pertumbuhan
- bayi yang meninggal di dalam kandungan.
4. Persalinan prematur
Persalinan prematur lebih mungkin terjadi pada keadaan berikut :
- ibu memiliki kelainan struktur pada rahim atau leher rahim
- perdarahan
- stress fisik atau mental
- kehamilan ganda
- ibu pernah menjalani pembedahan rahim.
Persalinan prematur seringkali terjadi jika :
- bayi berada dalam posisi sungsang
- plasenta terlepas dari rahim sebelum waktunya
- ibu menderita tekanan darah tinggi
- air ketuban terlalu banyak
- ibu menderita pneumonia, infeksi ginjal atau apendisitis.
5. Kehamilan ganda
Kehamilan lebih dari 1 janin juga bisa menyebabkan meningkatnya
kemungkinan terjadinya cacat bawaan dan kelainan pada saat persalinan.
6. Kehamilan lewat waktu
Pada kehamilan yang terus berlanjut sampai lebih dari 42 minggu,
kemungkinan terjadinya kematian bayi adalah 3 kali lebih besar.
III. TANDA BAHAYA KEHAMILAN RISIKO TINGGI
Perdarahan
a. Perdarahan pada hamil muda dapat menyebabkan keguguran
b. Perdarahan pada hamil tua dapat membahayakan keselamatan ibu
dan bayi dalam kandungan
Bengkak di kaki/ tangan/ wajah, dan sakit kepala disertai kejang
a. Bengkak atau sakit kepala pada ibu hamil dapat membahayakan
keselamatan ibu dan bayi dalam kandungan
Demam tinggi
a. Demam tinggi bisa membahayakan keselamatan jiwa ibu,
menyebabkan keguguran atau kelahiran kurang bulan
Keluar air ketuban sebelum waktunya
a. Tanda adanya gangguan pada kehamilan dan dapat membahayakan
bayi dalam kandungan
Bayi dalam kandungan tidak bergerak
a. Keadaan ini tanda bahaya pada janin
Ibu muntah terus dan tidak mau makan
a. Keadaan ini akan membahayakan kesehatan ibu
IV. BAHAYA YANG DAPAT DITIMBULKAN
- Bayi lahir belum cukup bulan.
- Bayi lahir dengan berat kahir rendah (BBLR).
- Keguguran (abortus).
- Persalinan tidak lancar / macet.
- Perdarahan sebelum dan sesudah persalinan.
- Janin mati dalam kandungan.
- Ibu hamil / bersalin meninggal dunia.
- Keracunan kehamilan/kejang-kejang.
V. DETEKSI KEHAMILAN RESIKO TINGGI
Melakukan pemeriksaan kehamilan secara rutin di dokter/bidan terdekat.
VI. PENCEGAHAN
Kehamilan risiko tinggi dapat dicegah dan diatasi dengan baik bila
gejalanya ditemukan sedini mungkin sehingga dapat dilakukan tindakan
perbaikinya, dan kenyataannya, banyak dari faktor resiko ini sudah dapat
diketahui sejak sebelum konsepsi terjadi.
Jadi semakin dini masalah dideteksi, semakin baik untuk memberikan
penanganan kesehatan bagi ibu hamil maupun bayi. Juga harus diperhatikan
bahwa pada beberapa kehamilan dapat mulai dengan normal, tetapi
mendapatkan masalah kemudian.
Sangat penting bagi setiap ibu hamil untuk melakukan ANC (Antenatal
Care) atau pemeriksaan kehamilan secara teratur, yang bermanfaat untuk
memonitor kesehatan ibu hamil dan bayinya. Dengan memeriksakan
kehamilan sedini mungkin dan teratur ke Posyandu, Puskesmas, Rumah
Sakit, paling sedikit 4 kali selama masa kehamilan.
Dengan mendapatkan imunisasi TT 2X. Bila ditemukan kelainan risiko tinggi
pemeriksaan harus lebih sering dan lebih intensif. Makan makanan yang
bergizi yaitu memenuhi 4 sehat 5 sempurna. sHindari rokok, alkohol, dll
Cara mencegah kehamilan risiko tinggi
1. Usia hamil tidak kurang dari 20 tahun atau lebih dari 35 tahun.
2. Rencanakan jumlah anak 2 orang saja.
3. Hindari jarak kehamilan terlalu dekat atau terlalu jauh.
4. Memeriksa kehamilan secara teratur kepada tenaga kesehatan.
5. Menggunakan alat kontrasepsi untuk menunda kehamilan.
6. Melahirkan denan pertolongan tenaga kesehatan.