Proses Produksi Aman di Indoice Kediri
Proses Produksi Aman di Indoice Kediri
23
Wibhawa., et al. / Perancangan Proses Produksi Berdasarkan CPMB di Indoice Kediri/ Journal Titra, Vol. 5, No. 1, Januari 2017, pp. 23–30
tersebut. Semakin besar nilai peluang maka Menentukan Titik Kendali Kritis (Critical
kemungkinan terjadi bahaya semakin sering, Control Point)
semakin besar nilai keparahan, semakin besar CCP ditetapkan pada setiap tahap proses mulai
akibanya. Berikut adalah tabel penilaian tingkat dari awal produksi suatau makanan hingga
keparahan dan peluang terjadinya terhadap sampai ke konsumsi. Penentuan CCP pada
bahaya potensial: sistem HACCP dapat dilakukan dengan
menerapan Decision Tree Diagram oleh Codex
Tabel 1. Penilaian tingkat keparahan dan peluang Alimentarius sebagai standar penyusunan CCP
terjadinya bahaya potensial HACCP.
Nilai Peluang Keparahan
Menetapkan Batas Kritis (Crtical Limit)
1 Sangat jarang Tidak berdampak pada Batas kritis adalah nilai yang memisahkan
(1-2 Tahun) kesehatan manusia antara nilai yang dapat diterima dengan nilai
yang tidak dapat diterima dan dilakukan dengan
2 Mungkin terjadi Tidak berdampak pada cara menyesuaikan pada peraturan resmi
(6 bulan-1tahun ) kesehatan manusia tapi mengenai keamanan pangan.
berdampak pada mesin
(trouble) Menetapkan Sistem untuk Memantau
Pengendalian (Monitoring Crtical Control Point).
3 Kadang terjadi Berdampak pada
(3-6 bulan) kesehatan manusia Penyusunan prosedur pemantauan yang tepat
sembuh dalam 1-2 hari untuk memastikan bahwa CL tidak terlampaui.
(demam, mual, dan
gangguan pencernaan) Menetapkan Tindakan Perbaikan
Tindakan perbaikan adalah kegiatan yang
4 Sering terjadi Berdampak pada dilakukan bila berdasarkan hasil pengamatan
(<3bulan) kesehatan manusia menunjukkan terjadi penyimpangan dalam CCP
(kronis) dan berdampak pada batas kritis tertentu.
pada mesin berhenti
beroperasi
Verifikasi
5 Selalu terjadi Berdampak pada Verifikasi mencakup berbagai aktifitas seperti
(harian/ mingguan) kesehatan manusia inspeksi, pengujian pencemaran pada produk
(meninggal, kanker, akhir untuk memastikan hasil pemantauan dan
cacat mental) menelaah keluhan konsumen.
berdampak pada mesin
rusak / tidak berfungsi Cara Produksi Makanan yang Baik
24
Wibhawa., et al. / Perancangan Proses Produksi Berdasarkan CPMB di Indoice Kediri/ Journal Titra, Vol. 5, No. 1, Januari 2017, pp. 23–30
25
Wibhawa., et al. / Perancangan Proses Produksi Berdasarkan CPMB di Indoice Kediri/ Journal Titra, Vol. 5, No. 1, Januari 2017, pp. 23–30
dilakukan sesuai standar, serta kemasan yang tujuan untuk mengetahui titik-titik proses
digunakan tidak menggunakan label dan polos. produksi Indoice mana yang menjadi perhatian
Saat ini bila terjadi kesalahan dan kelalaian dan membuat titik tersebut dikendalikan
dalam proses produksi tidak terdapat prosedur sehingga kemanan pangan [Link] dari
yang menjelaskan penarikan produk. pengendalian ini adalah agar menjaga keamanan
Setelah melakukan pengamatan awal pada pangan dan memproduksi sesuai dengan standar
fasilitas dan management, dilakukan yang ada. Pembuatan HACCP dan akan menjadi
pengamatan awal potensi bahaya. Pengamatan salah satu dasar perancnagan CPMB. Hasil CCP
awal potensi bahaya ini bertujuan untuk mencari dan Cl HACCP Indoice dapat dilihat di Tabel4.
bahaya-bahaya yang mungkin muncul dari
setiap-setiap proses dari pembuatan produk tube Tabel 4. Hasil CCP dan CL HACCP Indoice
ice. Hasil pengamatan awal potensi bahaya dapat No Bahaya CCP CL
dilihat di Tabel 3.
1 Serangga dan Proses penerimaan Sumur tertutup
Tabel 3. Potensi bahaya awal hama air dengan rapat
No Permasalahan Potensi bahaya
2 Serangga dan Proses penerimaan Kemasan
hama plastik plastik bagus
1 Sumur Terbuka Serangga, hama, pasir
,lumut, dan kualitas air
3 Kontaminasi Proses penerimaan Kemasan
barang plastik plastik bagus
2 Plastik pengemas Kontaminasi silang
berbahaya
tidak disimpan
dengan benar Standar SNI air
4 Logam berat Pemfilteran air
dan PH minum
3 Filter air tidak Hasil penyaringan tidak
terawat optimal Tidak ada pasir
5 Pasir dan Pemfilteran air
lumut / lumut
4 Penyimpanan air
yang terbuka Kontaminasi dari udara Standar SNI air
6 Bakteri dan Pensterilan air
total coliform minum
5 Kelengkapan
peralatan Kontaminasi silang Standar SNI air
7 Bakteri dan Quality Control
karyawan produksi minum
total coliform
6 Kebersihan diri dan Kontaminasi silang Standar SNI air
8 Bahan-bahan Quality Control
perilaku karyawan minum
kimia
7 Meja packaging Kontaminasi silang Bersih tidak
9 Serpihan- Quality Control
terbuat dari kayu terdapat
serpihan
serpihan
8 Pelubangan pada Kontaminasi silang
kemasan es tube
9 Palet penyimpanan Kontaminasi silang Setiap CCP diperlukan sebuah form rekaman
tube ice (kayu) untuk memantau apakah pengendalian bahaya
sudah dilakukan dengan baik atau tidak dengan
10 Trolley berkarat Kontaminasi silang tujuan batas kritis (Critical Limit) tidak
terlampaui. Pemantauan dilakukan dengan cara
11 Banyaknya sampah Kontaminasi silang pembuatan SOP dan form remakan-rekaman
berserakan
dari setiap CCP. Adanya pembuatan SOP
12 Adanya hewan Kontaminasi silang
diharapkan tindakan perbaikan yang dilakukan
peliharaan di area dapat dilaksanakan dengan baik dan sesuai
pabrik dengan kebutuhan serta dapat menyelesaikan
masalah. SOP juga dibuat secara bertahap agar
Perancangan Hazard Analysis Critical Control memudahkan pelaksana SOP untuk
Point menjalankanya. Form tindakan koreksi dibuat
untuk mendokumentasi tindakan-tindakan
Penyusunan HACCP terbagi menjadi 6 tahap, perbaikan yang dilakukan supaya mengetahui
dimulai dari identifikasi bahaya, hingga apakah tindakan perbaikan sudah selesai atau
verifikasi. HACPP dilakukan dilakukan dengan belum.
26
Wibhawa., et al. / Perancangan Proses Produksi Berdasarkan CPMB di Indoice Kediri/ Journal Titra, Vol. 5, No. 1, Januari 2017, pp. 23–30
27
Wibhawa., et al. / Perancangan Proses Produksi Berdasarkan CPMB di Indoice Kediri/ Journal Titra, Vol. 5, No. 1, Januari 2017, pp. 23–30
pihak ketiga untuk membantu melakukan dengan cara pembuatan tempat penyimpanan
pembasmian hama. baru yang tertutup rapat. Adanya temuan titik
kendali kritis akan bahaya serangga dan
Kemasan Produk kontaminasi barang berbahaya pada proses
Standar CPMB mengharuskan untuk penyimpanan plastik, mengharuskan proses
menggunakan kemasan produk berlabel. penyimpanan plastik dikontrol dengan baik serta
Sebelumnya packaging tube ice yang digunakan dibuatkan sarana yang baik. Agar kepastian
adalah polos dan tidak ada label, untuk kemanan bahan baku dapat terjaga, dibuat SOP
memenuhi standar yang ada, plastik yang yang mengatur bagaimana menerima,
digunakan untuk packaging akan disablon label menyimpan, memakai bahan baku yang benar.
yang telah dikehendaki dan seusai standar. Pembuatan form rekaman juga diperlukan
Label memuat jenis produk, nama perusahaan dengan tujuan untuk mendokumentasikan
pembuat, ukuran, tanggal kadaluarsa, berat jumlah bahan baku yang tersedia dan
bersih, nama bahan yang dipakai, dan kode kondisinya.
produksi.
Cold Storage diperbaiki dengan cara mengganti
palet untuk tatakan tube ice yang semula terbuat
Pengendalian Kualitas dari bahan kayu menjadi plastik. Penggantian
Keharusan untuk melakukan pengendalian ini bertujuan agar menghindari adanya
kualitas mulai dari tahap bahan baku sampai kemungkinan serbuk kayu yang berasal dari
produk jadi, diputuskan pengendalian kualitas palet yang merusak kemasan tube ice dan
terbagai menjadi 2 tahap, yaitu tahap bahan mengakibatkan kontaminasi. Pengecatan
baku dan produk akhir. Pengendalian bahan dinding cold storage juga dilakukan dengan
baku dilakukan dengan cara melakukan tujuan untuk mencegah masuknya cat cold
pemantauan mutu air sesuai dengan membuat storage yang terkelupas kedalam kemasan es
tube. Pemantuan suhu cold storage dikontrol
SOP tentang prosedur pemantauan mutu air dan
dengan SOP Pengecekan Suhu Cold Storage dan
mengisi dokumen form rekaman mutu kualitas
Form rekaman suhu cold storage.
bahan baku. Ditentukannya proses quality
control sebagai titik kendali kritis akan bahaya Gudang B3 (bahan-bahan berbahaya) diperbaiki
bakteri, bahan kimia, dan bahaya fisika dengan cara membuat gudang B3 tertutup secara
mengharuskan untuk dilakukan pemmantauan rapat dan memastikan gudang B3 senantiasa
secara baik dan benar. Pengendalian kualitas terkunci setiap saat. Barang-barang yang
produk akhir dilakukan dengan cara membuat termasuk barang bahaya dibuatkan suatu SOP
SOP tentang pemantauan mutu produk akhir yang menjelaskan bagaimana cara-cara
dan membuat form rekaman. Pengendalian mutu menyimpan dan menggunakan B3.
produk akhir dilakukan dengan cara random Pendokumentasian B3, dicatat dengan membuat
sampling, sehingga tidak setiap kemasan tube ice form rekaman B3. Tujuan dari pembuatan SOP
diperiksa. Pemeriksaan produk akhir dilakukan dan form rekaman dari B3 adalah bila B3
digunakan secara tidak benar akan berakibat
dengan memeriksa kembali PH dan TDS,
fatal, dengan adanya SOP dan form rekaman
ditambah lagi dengan pemeriksaan berat isi
diharapkan hal tersebut dapat dihindari.
kemasan, pemeriksaan kebersihan secara visual,
dan pemeriksaan plastik Penarikan Prouduk
Standar CPMB mengharuskan sebuah
Tempat Penyimpanan perusahaan memiliki langkah-langkah tindakan
Kontaminasi silang dapat berasal dari penarikan produk. Tindakan penarikan produk
penyimpanan, untuk itu, perusahan dituntut dilakukan ketika adanya kesalahan dalam
agar menjaga kepastian keamanan penyimpanan proses produksi atau adanya keluhan dari
bahan baku maupun produk jadi. Perbaikan pelanggan. Setelah dilakukan penarikan produk,
ruang penyimpanan dilakukan pada akan diidentifkasi penyebab permasalahan yang
keseluruhan ruang penyimpanan yang ada, setelah itu dilakukan perbaikan sehingga
digunakan (gudang bahan baku, cold storage, tidak terjadi kesalahan kembali. Prosedur
gudang peralatan dan B3). Penyimpanan bahan penarikan produk diatur dalam sebuah SOP
baku (plastik) dilakukan perbaikan dengan cara yang menjelaskan langkah-langkah detail yang
menajaga kepastian keamanan bahan baku,
28
Wibhawa., et al. / Perancangan Proses Produksi Berdasarkan CPMB di Indoice Kediri/ Journal Titra, Vol. 5, No. 1, Januari 2017, pp. 23–30
harus dilakukan dan didokumentasi degan dan membuat hal-hal yang telah diusulkan
sebuah form rekaman. sebelumnya. Penerapan Implementasi ini
dilakukan secara bertahap dan tidak semua
usulan yang dibuat diimplementasikan
Penyimpangan Produk
mengingat keterbatasan waku dan suber daya.
Adanya upaya penyesuaian dengan standar
CPMB, mengharuskan melakukan pembuatan
prosedur penyimpangan produk. Penyimpangan Simpulan
terjadi apabila keluarnya hasil pengukuran dari
batas yang telah ditetapkan. Kemungkinan Proses perbaikan perusahaan agar memenuhi
penyimpangan pada proses produksi tube ice standar keamanan pangan Indonesia harus
Indoice dapat terjadi pada saat pengujian bahan segera dilakukan mengingat kemungkinan
baku atau pada saat pengujian quality control timbul dampak yang tidak diinginkan.
Komitmen perusahaan yang kuat dan dukungan
produk akhir. Prosedur tindakan-tindakan yang
dari pihak-pihak yang terkait sangat diperlukan
harus dilakukan ketika terjadi penyimpangan
untuk melakukan perbaikan perusahaan dalam
bahan baku (air) dan produk akhir diatur dalam rangka keamanan pangan. Pembuatan HACCP
sebuah SOP dan didokumentasikan dengan meghasilkan sebanyak 9 titik kendali kritis dari
sebuah form rekaman. Tujuan dari pembuatan awal bahan baku sampai produk jadi dan
SOP ini adalah menjelaskan secara detail membuat titik batas kritisnya. Untuk memantau
langkah-langkah yang harus dilakukan utnuk titik kritis telah dibuatkan SOP dan form
menyelesaikan permasalahan ketika terjadi monitoring agar dapat melakukan pengendalian
penyimpangan bahan baku atau produk akhir. hazard dengan baik.
Tujuan dari form rekaman adalah
mendokumentasikan penyimpangan yang Usulan CPMB menghasilkan beberpa perbaikan
terjadi, mencatat penyebab, dan untuk fasilitas,peralatan, dan management. Perbaikan
mengetahui apakah permasalahan terselesaikan fasilitas meliputi ruang produksi, gudang, dan
beberapa fasilitas lain. Perbaikan peralatan
atau tidak.
meliputi pengolahan air, meja packaging, dan
kemasan produk. Management perusahaan
Komitmen manajemen diperbaiki dengan perbaikan hygiene karyawan,
Kepastian dan keberlangsungan standar komitmen management, penarikan produk,
keamanan pangan memerlukan komitmen penyimpangan produk, dan pengendalian
manajemen agar dapat berjalan dengan baik kualitas. Usulan-usulan perbaikan, dokumen,
sebagaimana mestinya. Pemenuhan standar dan implementasi ini diharapkan sudah
dalam aspek komitmen management membuat membuat perusahaan Indoice telah memenuhi
perusahaan harus memiliki visi dan misi yang standar kemanan pangan Indonesia yang diakui
jelas. Perusahaan juga harus membuat sebuah oleh Badan Pengawan Obat dan Makanan.
dokumentasi yang menjelaskan tiap-tiap tugas
dari karyawan yang berkaitan dengan komitmen Daftar Pustaka
untuk menjaga keamanan pangan yang disebut
1. Gasperez, Vincent. (2002). Pedoman
tim GMP. Pembuatan visi dan misi perusahan
Implementasi Progam Six Sigma. PT.
Indoice, dilakukan dengan cara berunding Gramedia, Jakarta.
dengan pimpinan perusahaan. Diharapkan 2. Ebookpangan. (2006). Pedomanp Pnyusunan
dengan adanya visi dan misi yang telah HACCP Bagi Industri Pangan. Retrieved from
terbentuk perusahaan ini dapat lebih [Link]
berkembang dan dapat memenuhi kebutuhan 3. Direktorat inspeksi dan sertifikasi BPOM.
konsumen. Visi misi tersebut juga harus (2002). Petunjuk penilaian CPMB sarana
disosialisasikan kepada seluruh karyawan produksi pangan. Jakarta,Indonesia: BPOM.
perusahaan agar para karyawan dapat 4. RI, Kementrian. P. (2013). Pedoman
mengetahui arah dan tujuan perusahaan. Pembuatan Standard OperatingProcedure
(SOP). Jakarta.
Implementasi
29
Wibhawa., et al. / Perancangan Proses Produksi Berdasarkan CPMB di Indoice Kediri/ Journal Titra, Vol. 5, No. 1, Januari 2017, pp. 23–30
30