Laporan Pendahuluan
Rubela
A. Konsep Dasar Penyakit
1. Definisi
Rubela atau dikenal juga dengan nama Campak Jerman adalah penyakit menular yang
disebabkan oleh virus Rubella. Virus biasanya menginfeksi tubuh melalui pernapasan s eperti
hidung dan tenggorokan. Anak-anak biasanya sembuh lebih cepat dibandingkan orang
dewasa. Virus ini menular lewat udara. Rubela juga biasanya ditularkan oleh ibu kepada
bayinya, makanya disarankan untuk melakukan tes Rubela sebelum hamil. Bayi yang terkena
virus Rubela selama di dalam kandungan beresiko cacat. Rubela atau dikenal juga dengan
nama Campak Jerman adala h penyakit menular yang disebabkan oleh virus Rubella. Virus
biasanya menginfeksi tubuh melalui pernapasan seperti hidung dan tenggorokan (Sarwono :
2008).
Rubella dalam dunia kedokteran indonesia biasa diartikan sebagai campak jerman,
penyakit ini disebabkan oleh virus bernama Rubella. Mesti secara klinis mirip dengan
campak biasa, namun sebenarnya penyakit ini sangat berbeda, bila penyakit campak biasa
tergolong penyakit infeksi saluran napas, dimana virus ini measles hanya menyerang saluran
pernapasan, walau terkadang manifestasinya juga bisa menyerang bagian saraf, justru campak
rubella dapat menyerang bagian saraf atau otak yang kemudian manifestasinya baru kebagian
kulit ditandai dengan timbul bercak merah seperti campak biasa (Iswandi : 2008).
Rubella yang sering dikenal dengan istilah campak Jerman atau campak 3 hari adalah
sebuah infeksi yang menyerang terutama kulit dan kelenjar getah bening. Penyakit ini
disebabkan oleh virus rubella (virus yang berbeda dari virus yang menyebabkan campak),
yang biasanya ditularkan melalui cairan yang keluar dari hidung atau tenggorokan (America
College of Obstatrician and Gynecologist :1981)
2. Etiologi
Rubella disebabkan oleh suatu RNA virus, genus rubivirus, family [Link]
dapat diisolasi dari biakan jaringan penderita. Secar fisikokimia virus ini sama dengan
anggota virus lain dari family tersebut, tetapi virus rubela secara serologic berbeda. Pada
waktu terdapat gejal klinis virus ditemukan pada sekret nasofaring, darah, feses dan urin.
Virus rubella hanya menjangkiti manusia saja. Virus rubella adalah virus RNA beruntai
tunggal, dari keluarga paramyxovirus, dari genus morbilivirus. Virus campak hanya hanya
menginfeksi manusia, dimana virus cmpak ini tidak aktif oleh panas, PH asam, eter dan
tripsin (enzim). Ini memiliki waktu kelangsungan hidup singkat di udara, atau pada benda
dan permukaan. Virus rubella ditularkan melaui percikan ludah penderita atau karena kontak
dengan penderita. Penyakit ini juga ditularkan dari ibu hamil kepada janin yang penularan
virus rubella adalah melalui udara dengan tempat masuk awal melallui nasofaring dan
orofaring setelah masuk akan mengalami masa inkubasi antara 11-14 hari samapi timbulnya
gejala. Hampir 60% pasien akan timbul ruam. Penyebaran virus rubella pada hasil konsepsi
terutama secara hematogen infeksi kongenital biasanya terdiri dari 2 bagian : viremia
maternal dan viremia vetal. Viremia maternal terjadi pada saat replikasi virus harus terjadi
dalam sel endotel janin. Viremia vetal dapat menyebabkan kelainan organ secara luas. Bayi-
bayi yang dilahirkan dengan rubella kongenital 90% dapat menularkan virus yang infeksius
melalui cairan tubuh selama berbulan-bulan. Dalam 6 bulan sebanyak 30-50a%, dan dalam
satu tahun sebanyak kurang dari 10%. Dengan demikian bayi-bayi tersebut merupakan
ancaman bagi bayi-bayi lain, disamping bagi orang dewasa yang rentan dan berhubungan
dengan bayi.
3. Patofisiologi
Infeksi terjadi melalui mukosa saluran pernapasan bagian atas. Hanya sedikit yang
diketahui mengenai peristiwa yang terjadi selama minggu ke-2 hingga ke-3 masa inkubasi.
Replikasi virus mula-mula mungkin terjadi dalam saluran pernapasan, diikuti dengan
perkembangbiakan dalam kelenjar getah bening servikal. Viremia timbul setelah 5-7 hari dan
berlangsung hingga timbul antibodi pada sekitar hari ke-13 hingga ke-15. Timbulnya antibodi
berbarengan dengan timbulnya ruam, hal ini menunjukkan adanya dasar imunologik untuk
ruam. Viremia mencapai puncaknya tepat sebelum timbul erupsi di kulit. Setelah timbulnya
ruam, virus hanya dapat tetap dideteksi dalam nasofaring, dimana virus dapat menetap selama
beberapa minggu. Pada sekitar 25% kasus, infeksi primer bersifat subklinik. Di nasofaring
virus tetap ada sampai 6 hari setelah timbulnya erupsi dan kadang-kadang lebih lama. Selain
dari darah dan sekret rasofaring, virus rubela telah diisolasi dari kelenjar getah bening, urin,
cairan serebrospinal. AS1, cairan sinovial dan paru-paru. Penularan terjadi melalui oral
droplet, dan nasofaring, atau rate pernafasan Selanjutnya virus rubela memasuki aliran darah.
Namun terjadinya erupsi di kulit belum diketahui patogenesisnya. Penularan dapat terjadi
biasanya dari 7 hari sebelum hingga 5 hari sesudah timbulnya erupsi. Daya tular tertinggi
terjadi pada akhir masa inkubasi, kemudian menurun dengan cepat, dan berlangsung hingga
menghilangnya erupsi. Ruam pada rubella biasanya bertahan selama 3 hari. Kelenjar getah
bening akan tetap bengkak selama 1 minggu atau lebih dan nyeri sendi dapat bertahan lebih
dari 2 minggu. Waktu inkubasi rubella adalah 14-23 hari dengan rata-rata 16-18 hari, artinya
mungkin seseorang anak yang terinfeksi rubella baru menunjukkan gejalanya setelah 2-3
minggu kemudian.
4. Pathway
Infeksi
Virus Rubela Ibu hamil ke janin Abortus
Plasenta
Oral dropet
O Resiko Infeksi Infeksi dengan
Nasofaring
tanpa kelainan kelainan
(sal. Nafas)
Trias anomally congenital pada
Ruam Kulit mata (katarak, mikrof-talmia,
Aliran Darah
glaucoma), ketulian,
defekmental,
kelinan SSP, defek jantung
Bintik – bintik
merah
Viremia
Viremia
Gangguan rasa
Hipertermi nyaman: Gatal Kerusakan
Integritas Kulit
5. Manifestasi klinis
Keluhan yang dirasakan biasanya lebih ringan dari penyakit campak. Bercak – bercak
mungkin juga akan timbul tapi warnanya lebih muda dari campak biasa. Biasanya, bercak
timbul pertama kali di muka dan leher, berupa titik-titik kecil berwarna merah muda. Dalam
waktu 24 jam, bercak tersebut menyebar ke badan, lengan, tungkai, dan warnanya menjadi
lebih gelap. Bercak-bercak ini biasanya hilang dalam waktu 1 sampai 4 hari.
Masa inkubasi adalah 14-21 hari. Tanda yang paling khas adalah adenopati
retroaurikuler, servikal posterior, dan di belakang oksipital. Enantem mungkin muncul tepat
sebelum mulainya ruam kulit. Ruam ini terdiri dari bintik-bintik merah tersendiri pada
palatum molle yang dapat menyatu menjadi warna kemerahan jelas pada sekitar 24 jam
sebelum ruam.
Eksantemnya lebih bervariasi daripada eksantem rubeola. Eksantem pada muka dan
menyebar dengan cepat. Evolusinya begitu cepat sehingga dapat menghilang pada muka pada
saat ruam lanjutannya muncul pada badan. Makulopapula tersendiri ada pada sejumlah kasus;
ada juga daerah kemerahan yang luas yang menyebar dengan cepat ke seluruh badan,
biasanya dalam 24 jam. Ruam dapat menyatu, terutama pada muka. Selama hari kedua ruam
dapat mempunyai gambaran sebesar ujung jarum, terutama di seluruh tubuh, menyerupai
ruam demam scarlet. Dapat terjadi gatal ringan. Erupsi biasanya jelas pada hari ke 3.
Mukosa faring dan konjungtiva sedikit meradang. Berbeda dengan rubeola, tidak ada
fotofobia. Demam ringan atau tidak selama ruam dan menetap selama 1, 2 atau kadang-
kadang 3 hari. Suhu jarang melebihi 38oC (101oF). Anoreksia, nyeri kepala, dan malaise
tidak biasa. Limpa. sering sedikit membesar. Angka sel darah putih normal atau sedikit
menurun, trombositopeni jarang, dengan atau tanpa purpura. Terutama pada wanita yang
lebih tua dan wanita dewasa, poliartritis dapat terjadi dengan artralgia, pembengkakan, nyeri
dan efusi tetapi biasanya tanpa sisa apapun. Setiap sendi dapat terlibat, tetapi sendi-sendi
kecil tangan paling sering terkena. Lamanya biasanya beberapa hari; jarang artritis ini
menetap selama berbulan-bulan. Parestesia juga telah dilaporkan. Pada satu epidemi
orkidalgia dilaporkan pada sekitar 8% orang laki-laki usia perguruan tinggi yang terinfeksi.
Masa inkubasi berkisar antara 14-21 hari. Dalam beberapa laporan lain waktu
inkubasi minimum 12 hari dan maksimum 17-21 hari. Masa prodromal pada anak biasanya
erupsi timbul tanpa keluhan sebelumnya, jarang disertai gejala dan tanda pada masa
prodromal. Namun pada remaja dan dewasa muda masa prodromal berlangsung 1-5 hari dan
terdiri dari demam ringan, sakit kepala dan nyeri tenggorokan, kemerahan konjungtiva,
rinitis, batuk,dan limfodenopati. Gejala ini sering menghilang pada waktu erupsi timbul.
Gejala dan prodromal biasanya mendahului erupsi dikulit 1-5 hari sebelumnya. Masa
eksantema sepert pada rubela, eksentema mulai muncul pada muka dan dengan cepat meluas
kebagian lain dari dari tubuh. Mula-mula berupa makula yang berbatas tegas dan kadang-
kadang dengan cepat meluas dan menyatu, memberikan bentuk morbilliform. Pada hari
kedua ekstensema di muka menghilang, diikuti hari ketigadi tubuh dan hari keempat di
anggota gerak. Limfedenopati merupakan gejalan klinis yang penting pada rubella. Biasanya
pembengkakan kelenjar getah bening itu berlangsung selama 5-8 hari. Sebagian kecil
penderita masing terganggu dengan nyeri kepala, sakit kepala, rasa gatal selama 7-10 hari.
Pada remaja dan dewasa dapat terjadi artiritis dan artralgia dari sendi kecil tangan,kaki, lutut,
dan bahu yang berupa pembengkakan dan nyeri. Khususnya artralgia pada tangan timbul
setelah erupsi pada penderita dewasa.
Infeksi rubella pada ibu hamil dapat menimbulkan infeksi pda janin dengan kelainan
teratogenesis yang bergantung dari umur kehamilan. Pada waktu mengalami infeksi Rubella
ibu hamil tidak menunjukkan gejala atau tanda klinis. Meskipun demikian virus dapat
menimbulkan infeksi pada plasenta dan diteruskan ke janin, yang mana virus itu itu banyak
menyerang ke organ dan jaringan. Bayi yang lahir dari ibu hamil menderita infeksi Rubella
pada trimester pertama bisa terkena sindrom rubella kongenital, yaitu trias anomali
kongenital pada mata (katarak, mikroftalmia, glaukoma, retinopati), telinga (ketulian),
dandefek jantung (stenosis arteri pulmonalis, patent ductus arteriosus, ventrikal septaldefect).
Kerusakan jantung dan mata terjadi karena infeksi embrio yang berumur kurang dari 6
minggu, sedangkan ketulian defek mental terjadi pada semua embrio yang berumur kira-kira
16 minggu.
6. Pemeriksaan Penunjang
Dibandingkan dengan pemeriksaan bakteri, pemeriksaan virus Rubella lebih sulit.
Cara yang agak mudah mendeteksi dengan teknik Fluorescent. Pemeriksaan terhadap
penderita infeksi Rubella dilakukan dengan cara tes darah serologi antigen Rubella,
pemeriksaan ELISA. Kepastian infeksi dinyatakan pada konversi dari IgM negatif menjadi
positif dan meningkatnya IgG secara bermakna. Kadar IgM ini dapat pula dibuktikan dalam
darah tali pusat.
7. Penatalaksanaan
Jika tidak terjadi komplikasi bakteri, pengobatan adalah simptomatis. Adamantanamin
hidroklorida (amantadin) telah dilaporkan efektif in vitro dalam menghambat stadium awal
infeksi rubella pada sel yang dibiakkan. Upaya untuk mengobati anak yang sedang menderita
rubella congenital dengan obat ini tidak berhasil. Karena amantadin tidak dianjurkan pada
wanita hamil, penggunaannya amat terbatas. Interferon dan isoprinosin telah digunakan
dengan hasil yang terbatas.
8. Komplikasi
Pada anak yang sehat dan gizinya cukup, campak jarang berakibat serius. Namun
komplikasi dapat terjadi karena penurunan kekebalan tubuh sebagai akibat penyakit Campak.
Beberapa komplikasi yang bisa menyertai campak:
a) Infeksi bakteri : Pneumonia dan Infeksi telinga tengah
b) Kadang terjadi trombositopenia (penurunan jumlah trombosit),sehingga pendeita
mudah memar dan mudah mengalami perdarahan
c) Ensefalitis (radang otak) terjadi pada 1 dari 1,000-2.000 kasus.
d) Bronkopnemonia (infeksi saluran napas)
e) Otitis Media (infeksi telinga)
f) Laringitis (infeksi laring)
g) Diare
h) Kejang Demam (step)
B. Asuhan Keperawatan
1. Pengkajian
Pengkajian merupakan langkah utama dan dasar utama dari proses keperawatan
yang mempunyai 2 kegiatan pokok yaitu :
a) Pengumpulan Data
1) Identitas penderita
Meliputi nama anak, umur : rentan pada anak berumur 1-14 tahun dengan
status gizi yang kurang dan sering mengalami penyakit infeksi, jenis kelamin
(L dan P pervalensinya sama), suku bangsa, nomor register, tanggal masuk
rumah sakit, diagnosa medis.
2) Keluhan utama
Anak masuk rumah sakit biasanya dengan keluhan adanya eritema dibelakang
telinga, di bagaian atas la teral tengkuk, sepanjang rambut dan bagian
belakang bawah, badan panas, enantema (titik merah) dipalatum durum dan
palatum mole.
3) Riwayat kesehatan sekarang
Pada anak yang terinfeksi virus campak jerman biasanya ditanyakan pada
orang tua atau anak tentang kapan timbulnya panas, konjungtivitis, koriza,
bercak koplik dan enantema serta upaya yang telah dilakukan untuk
mengatasinya.
4) Riwayat kesehatan dahulu
5) Anak belum pernah mendapatkan vaksinasi dan pernah kontak dengan pasien
campak.
6) Riwayat kesehatan keluarga
Apakah anak belum mendapatkan vaksinasi rubella
7) Riwayat imunisasi
Imunisasi apa saja yang sudah didapatkan misalnya BCG, POLIO I,II,
III; DPT I, II, III; dan campak.
8) Riwayat nutrisi
Kebutuhan kalori 4-6 tahun yaitu 90 kalori/kg/[Link] kalori untuk
umur 1-6 tahun 900-1300 kalori/hari. Untuk pertambahan berat badan ideal
menggunakan rumus 8 + 2
b) Pemeriksaan fisik (head to toe)
a) Status kesehatan umum
Meliputi keadaan penderita, kesadaran, tinggi badan, berat badan, dan tanda-
tanda vital.
b) Kepala dan leher
a) Inspeksi: Kaji bentuk kepala, keadan rambut, kulit kepala, konjungtivitis,
fotofobia, adakah eritema dibelakang telinga, di bagian atas lateral
tengkuk, sepanjang rambut dan bagian belakang bawah.
b) Palpasi : Adakah pembesaran kelenjar getah bening di sudut mandibula
dan didaerah leher belakang,
c) Mulut
c) Inspeksi : Adakah bercak koplik dimukosa bukalis berhadapan dengan
molar bawah, enantema di palatum durum dan palatum mole, perdarahan
pada mulut dan traktus digestivus.
d) Toraks
d) Inspeksi : Bentuk dada anak, Adakah batuk, secret pada nasofaring,
perdarahan pada hidung. Pada penyakit campak, gambaran penyakit secara
klinis menyerupai influenza.
e) Auskultasi : Ronchi / bunyi tambahan pernapasan.
e) Abdomen
f) Inspeksi: Bentuk dari perut anak. puam pada kulit.
g) Auskultasi: Bising usus.
h) Perkusi: Perkusi abdomen hanya dilakukan bila terdapat tanda abnormal,
misalnya masa atau pembengkakan.
f) Kulit
- Inspeksi : Eritema pada kulit, hiperpigmentasi, kulit bersisik.
- Palpasi : Turgor kulit menurun
2. Diagnosa Keperawatan
Penilaian klinis tentang respon individu, keluarga atau komunitas terhadap proses
kehidupan/masalah kesehatan. Adapun diagnosa keperawatan yang muncul pada pasien
rubella adalah sebagai berikut :
a) Gangguan termoregulasi b/d penyakit yang dialami.
b) Kerusakan integritas kulit b/d infeksi virus
c) Gangguan rasa aman dan nyaman b/d rasa gatal.
3. Intervensi
a) Diagnosa I
Gangguan termoregulasi b/d penyakit yang dialami.
Tujuan : pemeliharaan ( mempertahankan ) suhu tubuh dalam rentang yang
normal.
Dengan kriteria hasil :
a. Suhu tubuh anak dalam rentang yang normal.
b. Anak bebas dari demam.
Intervensi
No Intervensi Rasional
1. 1. Monitor perubahan suhu tubuh, - Sebagai pengawasan
denyut nadi. terhadap adanya perubahan
keadaan umum pasien
sehingga dapat diakukan
penanganan dan perawatan
secara cepat dan tepat.
- Upaya – upaya tersebut
2. Lakukan tindakan yang
dapat membantu
dapat menurunkan suhu
tubuh sperti lakukan menurunkan suhu tubuh
kompres, berikan pakaian
pasien serta meningkatkan
tipis dalam memudahkan
proses penguapan. kenyamanan pasien.
3. Libatkan keluarga dalam
perawatan serta ajari cara - Meningkatkan rasa nyaman
menurunkan suhu dan
anak.
mengevaluasi perubahan
suhu tubuh.
4. Kaji sejauh mana pengetahuan
keluarga dan anak tentang
hypertermia
- Mengetahui kebutuhan
infomasi dari pasien dan
keluarga mengenai
5. Kolaborasi dengan dokter dengan perawatan pasien dengan
memberikan antipiretik dan hypertemia.
antibiotic sesuai dengan ketentuan
- Antipiretik
menurunkan/mempertahank
an suhu tubuh anak.
.
b) Diagnosa II
Kerusakan integritas kulit b/d infeksi virus
Tujuan : keutuhan struktural dan fungsi fisiologis dari kulit dan membrane
mukosa.
Dengan kriteria hasil :
a. Terbebas dari adanya lesi jaringan.
b. Suhu, elastisitas, hidrasi dan warna jaringan dalam rentang yang diharapkan.
Intervensi
No Intervensi Rasional
2. 1. Pantau kulit dari adanya: ruam - Mengetahui perkembangan
dan lecet, warna dan suhu, penyakit dan mencegah
kelembaban dan kekeringan terjadinya komplikasi melalui
yang berlebih, area kemerahan deteksi dini pada kulit.
dan rusak.
2. Mandikan dengan air hangat dan - Mempertahankan kebeersihan
sabun ringan tanpa mengiritasi kulit.
3. Dorong klien untuk menghindari
- Membantu mencegah friksi /
menggaruk dan menepuk kulit.
trauma kulit.
4. Ajarkan anggota keluarga / - Mengetahui terjadinya infeksi
memberi asuhan tentang tanda / komplikasi lebih cepat
kerusakan kulit, jika diperlukan.
5. Konsultasi pada ahli gizi tentang
- Perbaikan nutrisi klien agar
makanan tinggi protein, mineral,
kalori dan vitamin. terhindar dari infeksi karena
kulit dapat menjadi barier
utama yang dapat
memperberat kondisi anak
3. Diagnosa III
Gangguan rasa aman dan nyaman b/d rasa gatal
Tujuan : anak merasa nyaman
Dengan kriteria hasil :
a. Anak dapat beristirahat dengan nyaman.
b. Rewel berkurang.
Intervensi
No Intervensi Rasional
3. 1. Tubuh anak dibedaki - Mengurangi rasa gatal.
dengan bedak salisil 1% atau lainya
(atas resep dokter)
2. Tidurkan anak ditempat yang agak - Mencegah silau dan
jauh dari lampu (jangan tepat dibawah menambah kenyamanan
lampu)
anak.
3. Ajarkan keluarga untuk mengganti
popok setiap kali habis BAK - Untuk kenyamanan
pasien
4. Kolaborasi dengan dokter dalam
- Untuk ketepatan
pemberian terapi
penangan pasien
DAFTAR PUSTAKA
Nursalam. 2005. Asuhan Keperawatan Bayi dan Anak . Jakarta: Salemba Medika
Notoatmodjo, S. 2007. Pengantar Pendidikan Kesehatan dan Ilmu Perilaku Kesehatan.
Jakarta: PT. Rineka Cipta
Halimsyah. 2008. Pengantar Ilmu Keperawatan Anak . Jakarta: Salemba Medika
J. Corwin, Elizabeth. 2009. Buku Saku Patofisiologi. Jakarta: ECG
LAPORAN PENDAHULUAN
ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN DENGAN DIAGNOSA
MEDIS RUBELA DI RUANG PERINATOLOGI
RSUD. KAB. KARANGASEM
OLEH:
Ketut Rosalina Dewi, [Link] 18089142055
SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN BULELENG
PROGRAM PROFESI NERS
2017
Lembar Pengesahan
Laporan Pendahuluan
Asuhan Keperawatan Pada Pasien Dengan Diagnosa
Medis Rubela Di Ruang Perinatologi
Rsud. Kab. Karangasem
Telah Diterima Dan Disahkan Oleh Clinical Instruktur (CI) dan Clinical Teacher (CT)
Stase Anak Sebagai Syarat Memperoleh Penilaian Dari Departement Stase Anak STIKes
Buleleng.
Karangasem, Desember 2018
Clinical Instruktur (CI) Ruang Perinatologi Clinical Teacher (CT) Stase Anak
RSUD Kabupaten Karngasem STIKes Buleleng
Beatri Evy Patimang [Link] ...........................................................
NIP.19740227 199303 2 005 NIK.