Karakterisasi Kitosan dari Limbah Udang
Karakterisasi Kitosan dari Limbah Udang
ABSTRAK
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakterisasi kitosan dari limbah kulit udang dengan perlakuan
perendaman (bleaching) aseton dan proses deasetilasi. Lingkup kegiatan meliputi persiapan peralatan dan
bahan baku kulit udang windu, proses pembuatan kitosan, pengujian, analisa data dan pelaporan. Metode yang
digunakan adalah metode eksperimental dengan 3 perlakuan dan 3 kali ulangan. Hasil karakterisasi raw material
kulit udang meliputi kadar air 75,10%, abu 5,02%, lemak 2,47% dan protein 14,85%. Hasil karakterisasi kitosan
dengan perendaman aseton 24 jam dan deasetilasi 2x adalah kadar air sebesar 9,72%, abu sebesar 3,37%,
lemak sebesar 3,50% dan protein sebesar 4,29%. Rendemen yang diperoleh sebesar 32,20%. Hasil
karakterisasi kitosan dengan perendaman aseton 24 jam dan deasetilasi 3x adalah kadar air sebesar 9,64%, abu
sebesar 0,09%, lemak sebesar 0,28% dan protein sebesar 0.63%. Rendemen yang diperoleh sebesar 32,17 %.
Hasil karakterisasi kitosan dengan perendaman aseton 48 jam dan deasetilasi 3x adalah kadar air sebesar 9,61
%, abu sebesar 0,02%, lemak sebesar 0,15% dan protein sebesar 0,51%. Rendemen yang diperoleh sebesar
22,18%. Karakterisasi kitosan komersial adalah kadar air sebesar 9,45%, abu sebesar 0,51%, lemak 2,31% dan
protein 0,48%. Selain perbandingan dengan kitosan komersial, hasil penelitian ini dibandingkan dengan standar
kitosan yaitu kadar air 9,28%, kadar abu 1,32%, lemak sebesar 0,29% dan protein <0,5% adalah memenuhi
standar. Proses perendaman (bleaching) dan deasetilasi sangat berpengaruh terhadap karakterisasi kitosan,
dilihat dari hasil F hitung (68,6302) > F tabel (2,9011).
Kata kunci : Limbah kulit udang windu, proses, kitosan, pengujian, karakterisasi kitosan.
ABSTRACT
This research aims to determine the characterization of chitosan from shrimp shell waste with soaking treatment
(bleaching) acetone and deacetylation process. The scope of activities includes the preparation of equipment
and raw materials of tiger shrimp shells, chitosan manufacturing process, testing, data analysis and reporting.
The method used is an experimental method with three treatments and three replications. Raw material
characterization results include the shrimp shell water content of 75.10%, 5.02% ash, 2.47% fat and 14.85%
protein characterization results chitosan with a 24-hour immersion acetone and deacetylation 2x is the water
content of 9.72% , ash of 3.37%, amounting to 3.50% fat and 4.29% protein. The yield obtained at 32.20%. The
results of the characterization of chitosan with a 24-hour immersion acetone and 3x deacetylation is a water
content of 9.64%, 0.09% ash, 0.28% fat and protein at 0.63%. The yield obtained at 32.17%. The results of the
characterization of chitosan with acetone immersion of 48 hours and deacetylation is 3x water content of 9.61%,
0.02% ash, 0.15% fat and protein of 0.51%. The yield obtained at 22.18%. Characterization of commercial
chitosan is a water content of 9.45%, ash of 0.51%, 2.31% fat and 0.48% protein. In addition to chitosan
comparison with commercial, these results compared to the standard chitosan the water content of 9.28%, ash
content of 1.32%, 0.29% fat and protein <0.5% is to meet standards. Soaking process (bleaching) and
deacetylation greatly affect the characterization of chitosan, seen from the results of F value (68.6302) > F table
(2.9011).
Key words : tiger shrimp shell waste, process, chitosan, testing, characterization of chitosan.
estetika lingkungan yang buruk (Kurniasih dan menghasilkan sifat dan manfaat yang spesifik,
Kartika 2011). Potensi limbah kulit udang yaitu adanya sifat bioaktif, biokompatibel,
mencapai 20 ton/ hari pada PT. Wahana Lestari pengkelat, anti bakteri dan dapat terbiodegrasi
Investama yang terletak di desa Sawai, Dengan adanya gugus reaktif amino pada atom
Kabupaten Seram Utara Maluku. Potensi limbah C-2 dan gugus hidroksil pada atom C-3 dan C-6.
kulit udang terdiri dari 15 ton udang vaname dan Melihat sifat hidrofilik, reaktifitas kimia,
5 ton udang windu. Dalam pemanfaatannnya kesanggupan membentuk film dan sifat mekanik
saat ini oleh PT. Wahana Lestari Investama yang baik, maka kitosan merupakan bahan yang
dibuat tepung untuk pakan yang dijual dengan baik untuk digunakan dalam berbagai bidang
harga Rp 12.000,-/ Kg (Puri 2015). aplikasi (Kaban 2009). Kitosan merupakan
Kitin merupakan N-asetil-D-glukosamina senyawa dengan rumus kimia poli (2-amino-2-
dengan ikatan β-1,4 yang banyak terdapat di dioksi-β-D-Glukosa) yang dapat dihasilkan
alam terutama pada cangkang krustase. dengan proses hidrolisis kitin menggunakan
Kandungan kitin kulit udang dapat mencapai 40 basa kuat. Saat ini terdapat lebih dari 200
– 60% berat kering tubuhnya. Kitin yang aplikasi dari kitin dan kitosan serta turunannya di
diperoleh dari berbagai sumber memiliki struktur industri makanan, pemrosesan makanan,
yang sama, kecuali ikatannya dengan protein bioteknologi, pertanian, farmasi, kesehatan, dan
dan kalsium karbonat yang merupakan 2 (dua) lingkungan. (Balley et al. 1977). Dalam
komponen lain pada kulit udang (Helda dan Dodi aplikasinya, kitosan bermanfaat sebagai
2014). Kitin sangat sulit larut dalam air dan pengawet hasil perikanan dan penstabil warna
beberapa pelarut organik. Rendahnya reaktivitas produk pangan, sebagai flokulan dan membantu
kimia dan sangat hidrofobik, menyebabkan proses reverse osmosis dalam penjernihan air,
penggunaan kitin relatif kurang berkembang aditif untuk produk agrokimia dan pengawet
dibandingkan dengan kitosan dan derivatnya benih. Aplikasi kitosan di berbagai bidang
(Kaban 2009). Apabila kitin mengalami tersebut ditentukan oleh karakterisasinya, sifat
deasetilasi baik secara kimia maupun enzimatis intrinsiknya yang meliputi derajat deasetilasi,
akan menghasilkan kitosan. Kitin, kitosan dan kelarutan, viskositas, dan berat molekul.
derivatnya merupakan biopolimer yang (Muzzarelli et al. 1997). Pengaplikasian kitosan
mempunyai potensi besar untuk dikembangkan di berbagai bidang tersebut didukung oleh
di Indonesia mengingat kegunaannya yang luas kualitas kitosan yang dilihat dari sifat
mulai dari bidang kedokteran, industri pangan, intrinsiknya, yaitu kemurniannya, massa molekul
farmasi, kosmetik, pertanian dan lainnya. Hal dan derajat deasetilasi. Umumnya kitosan
tersebut dikarenakan kitosan dan derivatnya mempunyai derajat deasetilasi 75-100%.
memiliki sifat - sifat istimewa dalam hal Penggunaan kitosan dalam bidang pertanian
biokompatibilitas, biodegradasi, aktivitasbiologis, dan hortikultura, terutama untuk pertahanan
tidak toksik, tidak menimbulkan alergi dan tanaman dan peningkatan hasil, didasarkan
kemampuannya dalam membentuk serat dan pada bagaimana polimer kitosan yang
film (Wibowo et al. 2005). mengandung glucosamine ini berpengaruh
Kitin dan Kitosan dapat dikarakterisasi terhadap sifat biokimia dan biologi molekuler dari
dengan sifat intrinsik (kemurnian, berat molekul, sel tumbuhan. Target seluler pada semembran
viskositas, dan derajat deasetilasi) dan bentuk plasma dan inti kromatin. (Hadwiger et al. 2013)
fisik. Lebih lanjut, kualitas dan sifat kitin dan dan biokontrol alami. Di bidang pertanian,
kitosan mungkin bervariasi karena banyak faktor kitosan biasanya digunakan dalam perlakuan
dalam proses preparasi yang dapat benih alami dan zat penembah pertumbuhan
mempengaruhi karakteristik produk kitosan tanaman, dan sebagai zat biopestisida ramah
akhir. Kitosan secara komersial dijual dengan lingkungan yang meningkatkan kemampuan
variasi tingkat kemurnian, berat molekul dan tanaman untuk membela diri terhadap infeksi
derajat deasetilasi. Karakterisasi kitosan dapat jamur. Biokontrol alami bahan aktif, kitin / kitosan
digunakan sebagai parameter mutu kitosan. , yang ditemukan di cangkang krustasea, seperti
Kitosan merupakan biopolimer alami lobster, kepiting, dan udang, dan banyak
dengan kelimpahan terbesar kedua setelah organisme lain, termasuk serangga dan jamur.
selulosa, merupakan produk deasetilasi kitin Ini adalah salah satu bahan biodegradable yang
baik melalui proses reaksi kimia maupun reaksi paling banyak di dunia (Linden et al. 2000).
enzimatis. Senyawa ini dapat ditemukan pada Kemampuan biokontrol alami khitosan
cangkang udang, kepiting, kerang, serangga, dapat mengurangi pengaruh negative dari
annelida serta beberapa dinding sel jamur dan pupuk atau pestisida pada tanaman atau
alga. Kitosan terdiri dari unit N-asetil glukosamin lingkungan. Kitosan biopestisida dapat
dan N glukosamin Hasil modifikasi kitosan meningkatkan biokontrol biologis yang hemat
2
Marni Kaimudin dan Maria F. Leunupun/Majalah BIAM 12 (01) (2016) 1-7
biaya untuk pertanian dan hortikultura. (Goosen gr . (CV. Chimulti 2016). Oleh sebab itu kitosan
et al. 1996). Aksi biokontrol kitosan dan derivatnya cukup potensial untuk
memunculkan respon pertahanan bawaan alami dikembangkan di Indonesia, mengingat
dalam tanaman untuk menolak serangga, ketersediaan limbah sebagai bahan bakunya
patogen, dan penyakit tanah dan baik bila yang melimpah (Puri 2015), biaya produksi
diterapkan pada daun atau tanah. (Linden dan rendah dan ramah lingkungan (Hasri 2007).
Stoner, 2005). Kitosan meningkatkan Melihat begitu besar manfaat kitosan
fotosintesis, mempromosikan dan meningkatkan dalam pengaplikasiannya dalam industri dan
pertumbuhan tanaman, merangsang serapan kehidupan sehari - hari, maka penelitian ini perlu
hara, meningkatkan perkecambahan dan dilakukan untuk mengetahui karakterisasi
meningkatkan kekuatan tanaman. Kitosan juga kitosan dengan perlakuan perendaman aseton
dapat digunakan dalam rekayasa pengolahan air dan proses deasetilasi yang berbeda, yang
sebagai bagian dari proses filtrasi. Kitosan juga kemudian dibandingkan dengan rawmaterial kulit
menghilangkan fosfor, mineral berat, dan minyak udang, kitosan komersial dan standar kitosan.
dari air. Kitosan merupakan aditif penting dalam
proses penyaringan. Filtrasi dengan pasir METODE PENELITIAN
ternyata hanya dapat menghilangkan sampai
50% dari kekeruhan saja, sedangkan kitosan a. Bahan
dengan filtrasi pasir menghilangkan hingga 99% Bahan utama yang digunakan dalam
[Link] telah digunakan untuk penelitian ini adalah limbah kulit udang. Bahan
mengendapkan kasein dari susu sapi dan pembantu yang digunakan adalah aquades,
pembuatan keju. (Ausar et al. 2002). natrium hidroksida, asam klorida dan aseton.
Kitosan juga berguna untuk filtrasi
lainnya seperti untuk menghilangkan partikel b. Alat
tersuspensi dari cairan. Dalam kombinasi Peralatan yang digunakan dalam
dengan bentonit, gelatin, silika gel, isinglass, penelitian ini adalah wajan, blender, pengaduk,
atau agen denda lainnya, digunakan untuk seperangkat alat gelas , kain saring, oven,
mengisolasi anggur, madu, dan bir. Kitosan pompa vakum dan neraca.
ditambahkan akhir dalam proses pembuatan bir
untuk meningkatkan flokulasi, dan c. Prosedur Kerja
menghilangkan sel-sel ragi, partikel buah, dan Kitosan diperoleh menggunakan metode
detritus lainnya yang menyebabkan wine Dwiyitno et al. (2004). Dengan memodifikasi
menjadi kabur. (Rayner. 2006). Karakteristik antara waktuproses bleaching dan suhu proses
kitosan yang dihasilkan sangat tergantung dari deasetilasi. Kulit udang dikeringkan, dihaluskan
jenis sumber asal kitin (bahan baku). Struktur hingga lolos 100 mesh. Selanjutnya direaksikan
fisik dan kimia kitin/kitosan sangat bervariasi, dengan NaOH 3,5% untuk deproteinasi,
antara lain tergantung pada posisi rantai N-asetil demineralisasi dengan HCl 15% untuk
glukosamin, derajat deasetilasi dan ikatan silang menghasilkan kitin. Selanjutnya dilakukan
komponen struktural dengan komponen lain proses bleaching (perendaman) dengan aseton
seperti protein dan glukosa (Svitil et al. 1997). dan deasetilasi dengan NaOH 60% untuk
Selain faktor bahan baku, kualitas atau menghasilkan kitosan. Proses bleaching aseton
karakteristik kitosan juga ditentukan oleh proses dan deasetilasi dengan NaOH 60% dilakukan
produksinya (Kaban 2009). dengan 3 kali perlakuan dan 3 kali ulangan.
Dengan potensi yang telah tersedia, Perlakuan yang dilakukan yaitu perendaman 24
dilakukan berbagai modifikasi untuk jam dan deasetilasi 2x (A1), perendaman 24 jam
meningkatkan nilai ekonomis limbah kulit dan deasetilasi 3x (A2) dan perendaman 48 jam
udang. Limbah kulit udang mengandung protein dan deasetilasi 3x (A3). Deasetilasi kitin yang
(25-40%), kitin (15-20%) dan kalsium karbonat telah diperoleh yang semula menggunakan
(45-50%) (Suhardi 1993) menjadi sumber kitin NaOH teknis 60% selama 48 jam pada suhu 70
o
dan kitosan (Uragami dan Tokura 2012). C (Dwiyitno et al. 2004), dimodifikasi
Pesatnya minat dalam mengeksplorasi kitosan, menggunakan NaOH teknis 60% selama 5 jam
o
semakin membuktikan bahwa prospek kitosan suhu 100 C. Selanjutnya dilakukan pencucian
begitu menjanjikan. Secara ekonomis, kitosan sampai pH netral, dikeringkan dalam oven pada
o
bentuk polimer atau glukosamin bentuk suhu 70 C selama 24 jam.
monomernya, lebih murah dibandingkan dengan
turunannya, seperti karboksi suksimat kitosan. d. Pengamatan
Harga kitosan Rp 150.000,- / 250 gr, sedangkan
harga karboksi sitrat kitosan Rp 750.000,-. / 250
3
Marni Kaimudin dan Maria F. Leunupun/Majalah BIAM 12 (01) (2016) 1-7
Kitosan adalah hasil deasetialasi dari memperbesar persentase gugus amina pada
kitin. (Gambar 1) yang memperlihatkan proses kitosan
deasetilasi, dimana pengubahan gugus asetil (- Hasil rendemen kitosan dengan
NHCOCH3) pada kitin menjadi gugus amina (- perlakuan perendaman aseton 24 jam,
NH2) pada penambahan NaOH konsentrasi deasetilasi 2x sebesar 32,20 %, perenda,an
tinggi. Reaksi deasetilasi bertujuan untuk aseton 24 jam, deasetilasi 3x sebesar 32,17 %
memutuskan gugus asetil yang terikat pada dan perendaman aseton 48 jam, deasetilasi 3x
nitrogen dalam struktur senyawa kitin untuk sebesar 22,18 %. Rendemen kitosan yang
4
Marni Kaimudin dan Maria F. Leunupun/Majalah BIAM 12 (01) (2016) 1-7
diperoleh berkisar antara 22,18 – 32,20 %. menjadi kitosan. Mineral – mineral yang
Rendemen terbesar pada proses perendaman terkandung dalam kulit udang semakin menurun.
aseton 24 jam, deasetilasi 2x dan terendah pada Penurunan mineral dalam limbah kulit udang
perendaman aseton 48 jam, deasetilasi 3x. Hal ditunjukkan dengan kadar abu dari kulit udang
ini disebabkan pada perendaman aseton selama menjadi kitosan menurun. Hal ini sesuai dengan
24 jam dengan proses deasetilasi 2x terjadi pendapat (Gyliene et al. 2003) yang
pembukaan pori – pori kulit udang dengan baik menyatakan bahwa mineral anorganik dapat
sehingga penyerapan natrium hidroksida pada dihilangkan melalui perlakuan asam dan basa.
proses deasetilasi semakin baik. Dengan Penurunan nilai kadar abu dibandingkan dengan
kenaikan lamanya perendaman menjadi 48 jam kitosan komersial dan standar kitosan sangat
dengan proses deasetilasi 3x, maka semakin signifikan dengan adanya perlakuan proses
terbukanya pori – pori kulit udang yang perendaman dan deasetilasi. Niali kadar abu
mengakibatkan daya larutnya dalam natrium terbesar dari ketiga proses yang dilakukan
hidroksida semakin besar dan menjadi bubur dibandingkan dengan kitosan komersal dan
kitosan sehingga saat pencucian terikut dengan standar kitosan adalah pada perlakuan
air. perendaman aseton 24 jam, deasetilasi 2x dan
Perolehan rendemen tersebut menurut terendah pada perlakuan perendaman aseton 24
Muzarelli dalam Bastaman (1989) menyatakan jam, deaseilasi 3x. Hal ini sejalan dengan
bahwa ada kaitan antara berat molekul dengan pendapat. Aldes et al. (2011) bahwa kadar abu
rendemen. Rendemen kitosan menurun sejalan menunjukkan oksida logam dan mineral yang
dengan meningkatnya konsentrasi larutan terdapat pada suatu bahan. Tingginya kadar abu
Natrium hidroksida dan suhu. suatu bahan mengidentifikasikan tingginya
Hasil karakterisasi kitosan yang kandungan oksida logam dan mineral yang
diperoleh pada Tabel 1 memperlihatkan bahwa terdapat dalam bahan tersebut. Abu yang
karakterisasi kitosan lebih kecil dari bahan baku terbentuk merupakan oksida - oksida logam atau
kulit udang. Hal ini menunjukkan bahwa telah logam yang terbakar
dengan adanya proses deproteininsasi, Dengan hilangnya mineral dan oksida –
demineralisasi, bleaching dan deasetilasi. oksida dalam bahan selain menyebabkan
Keempat proses ini mengakibatkan berat dari menurunnya kadar abu, juga menyebabkan
limbah kulit udang semakin kecil, adanya menurunnya kandungan lemak dalam bahan
penghilangan mineral – mineral dan protein yang tersebut. Penurunan kadar abu yang terjadi
terdapat dalam limbah kulit udang. sejalan dengan penurunan kadar lemak dari kulit
Tabel 1 menunjukkan bahwa kadar air udang menjadi kitosan.
kitosan dibandingkan dengan kulit udang, Proses deproteinisasi kulit udang
kitosan komersial dan standar kitosan adalah menjadi kitosan mengakibatkan protein yang
lebih rendah dari kulit udang dan lebih tinggi dari terkandung dalam kulit udang semakin menurun.
kitosan komersial dan standar kitosan. Hal ini Penurunan protein dalam kulit udang menjadi
disebabkan karena adanya proses pengeringan kitosan semakin menurun. Oleh sebab itu,
limbah kulit udang terlebih dahulu sebelum protein kitosan yang diperoleh lebih kecil
dibuat kitosan, sedangkan kulit udang tidak dibandingkan dengan kulit udang. Sebagaimana
dilakukan pengeringan dan penambahan dikatakan oleh Sukardjo dan Mawarni (2011)
natrium hidroksida. Dalam proses pembuatan bahwa makin tinggi konsentrasi NaOH dan suhu,
kitosan, pengaruh perendaman dan suhu reaksi proses pemisahan protein makin efektif.
yang digunakan juga mempengaruhi perolehan Hasil karakterisasi pada Tabel 1
nilai kadar air yang masih tinggi dibandingkan menunjukkan bahwa ada pengaruh terhadap
dengan kitosan komersial dan standar kitosan. perlakuan perendaman dan deasetilasi yang
Sebagaimana yang dikatakan Aldes et al. (2011) diberikan. Semakin lama waktu perendaman dan
bahwa kadar air kitosan lebih kecil deasetilasi yang dilakukan, maka semakin kecil
dibandingkan dengan kulit udang karena adanya nilai kadar air, abu, protein dan lemak yang
proses transformasi kitin menjadi kitosan diperoleh. Hasil karakterisasi yang diperoleh
menggunakan natrium hidroksida yang yang dibandingkan dengan kitosan komersial
merupakan senyawa higroskopis sehingga kadar dan standar kitosan, yang bisa diterima adalah
air kitosan lebih kecil dibandingkan dengan kulit pada perlakuan perendaman 24 jam, deasetilasi
udang. 3x.
Kadar abu kitosan menurun dengan Hasil uji annova diperoleh F hitung
adanya proses demineralisasi limbah kulit udang (68,6302) > F tabel (2,9011). Dengan perolehan
5
Marni Kaimudin dan Maria F. Leunupun/Majalah BIAM 12 (01) (2016) 1-7
F hitung > F tabel menguatkan pendapat bahwa Dompeipen, E.J., Kaimudin, M., Dewa, R.P.,
ada pengaruh proses perendaman aseton dan Sumarsana, Leounupun, M.F., Siahaya,
deasetilasi terhadap karakterisasi kitosan. J.D. 2015. Rekayasa alat dan teknologi
isolasi untuk pembuatan kitin dan kitosan
KESIMPULAN dari limbah kulit udang. Laporan Litbang
Tahun 2015. Balai Riset dan
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa Standardisasi Industri Ambon
kitosan dengan perlakuan perendaman aseton
dan proses deasetlasi dengan lama waktu dan Dwiyitno, Basmal, J dan Mulyasari. 2004.
suhu yang berbeda sangat mempengaruhi hasil Pengaruh suhu esterifikasi terhadap
kareakterisasi yang diperoleh. Dimana nilai hasil karakteristik karboksi metal kitosan
dari perlakuan proses perendaman aseton 48 (CMCts). Jurnal peneliti perikanan
jam, deasetilasi 3x (A3)lebih kecil dibandingkan Indonesia. 10 : 67-73
dengan proses perendaman aseton 24 jam,
deasetilasi 3x (A2) dan perendaman aseton 24 Hadwiger, Lee A. 2013. Multiple effects of
jam, deasetilasi 2x (A1). Pendapat ini diperkuat chitosan on plant systems: Solid science
dengan hasil annova F hitung > F table. or hype. Plant science. 208 : 42–9.
6
Marni Kaimudin dan Maria F. Leunupun/Majalah BIAM 12 (01) (2016) 1-7
Muzzarelli, R.A.A., Rocchetti, R., Stanic, V and pembentukan bead kitosan berikatan
Weckx, M. 1997. Methods for the silang dengan asetaldehid sebagai agen
determination of acetylation of chitin and pengikat silang untuk adsorbsi ion logam.
chitosan. In Muzzarelli, R.A.A and Peter,
M.G.(eds.). Chitin Handbook. European Svitil, A.L.,Nichadain, S.N,.. Moore, J.A and
Chitin Society. : 109-132 Kirchman, D.L. 1997. Chitin degradation
protein produced by the marine
Puri, P. 2015. Potensi Limbah kulit udang PT. bacterium Vibrio harveyii growing on
Wahana Lestari Investama, Arara, Seram different forms of chitin. Appl.
Timur. Environment. Microbiology.
Rayner, T. 2006. Fining and Clarifying Agents. Uragami S. and S. Tokura. 2012. Chitosan is
Archived from the original on June 16 readily soluble in dilute acidic solutions.
(2006). Retrieved 2006-07-18. Elsevier science publisher. 2 : 54-56
Suhardi.1993. Khitin dan khitosan. Pusat Antar Wibowo, S., Oktavia, D. O., dan Fawzya, Y.N.
Universitas Pangan dan Gizi UGM. 2005. Pengaruh jumlah monokloro asetat
Yogyakarta terhadap karakteristik karboksimetil
kitosan dari kitosan cangkang dan kaki
Sukardjo J.S. dan Mawarni, N.G. 2011. Sintesis rajungan. Jurnal penelitian perikanan
Kitosan dari cangkang kepiting dan indonesia. 11 (4) : 79-88.
kitosan yang dimodiikasi melalui