CRITICAL BOOK REPORT
TATA RIAS PENGANTIN INDONESIA
OLEH :
Nama : Ashya Luqyana Suci
Nim : 5173144002
Kelas : Reguler A
Prodi : Pendidikan Tata Rias
Mata kuliah : Tata Rias Pengantin Indonesia
DOSEN PENGAMPU :
Desy Afianty Lubis. [Link] & Irmiah Nurul Rangkuti, [Link]
FAKULTAS TEKNIK
JURUSAN PKK
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN TATA RIAS
UNIVERSITAS NEGERI MEDAN
TAHUN 2019
KATA PENGANTAR
Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa yang telah melimpahkan
rahmat dan hidayahnya, sehingga kami mendapat kemudahan dan kelancaran
dalam menyelesaikan tugas mata kuliah Tata Rias Pengantin Indonesia. yang
bertujuan untuk memenuhi tugas wajib sebelum ujian MID semester. Di dalam
tugas yang telah saya selesaikan ini terdapat identitas dari Buku tersebut,
ringkasan, analisis kritikal beserta kelebihan dan kelemahan dari buku tersebut.
Di harapkan tugas saya ini dapat berguna bagi setiap orang yang
membacanya terkhususnya bagi mahasiswa FT Program Studi Pendidikan Tata
Rias dan terhadap para calon guru yang membutuhkannya dalam revisi
pengembangan kurikulum.
Semoga resensi ini dapat bermanfaat bagi para pembaca. Dan dapat
menjadi panduan bagi semua orang yang membutuhkan . Ada pun nanti nya
banyak kekeliruan atau pun kesalahan dalam resensi ini, mohon kritik dan saran
agar resensi ini menjadi resensi yang benar – benar berguna bagi para pembaca.
Terima kasih
Medan, 30 Maret 2019
Ashya Luqyana Suci
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR...................................................................................................... i
DAFTAR ISI .................................................................................................................. ii
BAB I PENDAHULUAN ........................................................................................ 1
A. Latar Belakang ................................................................................... 1
B. Tujuan dan manfaat .......................................................................... 1
BAB II ISI BUKU .................................................................................................... 2
A. Identitas buku.................................................................................... 2
B. Ringkasan buku ................................................................................. 2
BAB III PEMBAHASAN .......................................................................................... 8
A. Kelebihan buku .................................................................................. 8
B. Kekurangan buku............................................................................... 8
BAB IV PENUTUP…………………………………………………………………………………….. 9
A. Kesimpulan……………………………………………………………..………….. 9
B. Saran…………………………………………………………………………..………. 9
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Budaya melayu telah ada dan berkembang sejak lama hingga kini.
Masyarakat melayu sangat menjunjung tinggi adat istiadat yang bersumberkan
dari ajaran agama islam. Tradisi islam sangat kental dalam budaya masyarakat
melayu.
Tradisi dan adat istiadat yang masih dipegang teguh hingga kini adalah
mengenai adab kepada orang tua, sikap hidup bergotong royong dalam
masyarakat dan perilaku kehidupan yang harus selalu berpegang pada nilai
agama. Tradisi masyaakat melayu yang religius menjadi ciri penting orang
melayu.
Setiap suku bangsa di dunia mempunyai adat perkawinan yang berbeda –
beda. Hal ini sangat dipengarui oleh beberapa factor, antara lain: keadaan
geografis, agama, budaya, ekonomi maupun bahasa. Apapun bentuk
keragaman upacara perkawinan adat, tetapi pada hakekatnya perkawinan
merupakan suatu upacara yang sakral, suci dan religious, karena perkawinan
tidak lepas darisuatu kebutuhan biologis manusia dan juga merupakan suatu
perintah TUHAN, seperti yang tertera pada surat Q.S Ar-Rum: 21.
Salah satu adat istiadat yang tetap terpelihara di masyarakat yang tinggal
di Daik Lingga adalah tata cara perkawina adat melayu. Meskipun sebagai
akibat pengaruh terutama ekonomi dan budaya lain serta pemahaman-
pemahaman yang masih kurang tetapi tidak terelakkan terhadap perlaksanan
adat istiadat perkawinan itu sendiri, akan tetapi prinsip – prinsip kearifan nilai
– nilai dan maknanya tetapi terjaga dan terjunjung tinggi.
Bangsa melayu awalnya datangnya kesemenanjung tanah melayu hingga
sampai kekerajaan lingga-riau, mereka telah bersama membawa kebudayaan
unik dan tersendiri yang meliputi keseluruhan cara serta sudut pandang
berkehidupan . kebudayaan ini lebih kita kenal dengan istilah “ adat “ yang
diartikan sebagai tata cara dan peraturan hidup keseharian, baik itu perindividu
maupun di dalam bermasyarakat yang dapat mewujudkan kerukunan,
ketentraman dan penuh kedamaian serta keharmonisan di dalam hidup
bermasyarakat. Adat juga melingkupi tata cara / ritual yang diamalkan untuk
dijalani, pada upacara/ acara perayaan dan di majelis-majelis resmi selagi
tidak bertentangan kepada keimanan, ketaqwaan dan agama, baik secara
jasmaniah maupun rohaniah.
Diawali berazam dan bertamaddunnya bangsa Melayu, adatlah yang
menjadi tolak ukur utama dalam mengatur masyarakatnya. Walau bagaimana
pun adat secara terus menerus mulai di pengarui melalui proses perubahan
berlalunya masa, waktu dan tempat, terutama perkembangan agama Islam di
negeri ini. Dengan kedatangan Islam, undang- undang adat telah melebur
menjadi satu bersama aturan islam dalam menopang jalan nya pemerintahan
umat melayu.
B. Tujuan
1. Mengenal lebih jauh bagaimana sebenarnya adat istiadat Melayu.
2. Menambah wawasan pembaca
3. Menguatkan pemahaman pembaca mengenai tata rias pengantin
C. Manfaat
Bagi Penulis :
1. Untuk Memenuhi Tugas Mata kuliah Tata Rias Pengantin Indonesia
2. Melatih Kemampuan Penulis Dalam Mengkritisi Suatu Buku.
3. Menumbuhkan Pola Pikir Kreatif Dalam Membandingkan Buku Yang
Satu Dengan Yang Lain
Bagi Pembaca :
1. Untuk Menambah Pengetahuan Dan Wawasan Mengenai adat istiadat
Melayu.
BAB II
ISI BUKU
A. Identitas Buku
Buku Utama
1. Judul buku : Tata Rias Pengantin Melayu Sumatera Utara
2. Pengarang : Desy Afianty Lubis, [Link] & Nurhayati Lubis,
[Link]
3. Penerbit : Unimed Press
4. Tahun terbit : 2015
5. Kota Terbit : Medan
6. Tebal Buku : 170
Buku Pembanding
1. Judul buku : Adat Perkawinan Masyarakat Melayu Pesisir
Timur
2. Pengarang : Prof. Dr. H. O.K. Moehad Sjah
3. Penerbit : USU Press
4. Tahun terbit : 13 November 2012
5. Kota Terbit : Medan
6. Tebal Buku : 150
B. Ringkasan Isi Buku
Buku Utama
BAB I
PENDAHULUAN
Menurut definisinya yang sudah lazim sejak abd ke-14 M yang dikatakan
orang melayu itu adalah mereka yang beragama islam, yang bahsa sehari harinya
adalah bahasa melayu yang di laksanakan Adat-Budaya Melayu. Jadi masyarakat
budaya melayu adalah kesatuan etnis berdasarkan cultural bukan bedasarkan
genealogis serta memakai hukum kekerabatan parental.
Masyarakat melayu di Sumatera mendiami wilayah hunian yang meliputi :
wilayah tamiang (Aceh Timur), sepanjang pantai timur sumatera (kabupaten
langkat, Kabupaten Deli serdang, kabupaten asahan, dan kabupaten labuhan batu,
termasuk kota madya yang berada di sekitarnya), propinsi kalimantan barat,
Daerah selatan Muangthai (songkla, Narawat, Patani)Malaysia barat dan pesisir
Malaysia Timur, Kerajaan Brunai serta Singapura.
BAB II
UPACARA ADAT PERKAWINAN PENGANTI MELAYU
SUMATERA UTARA
A. Perkawinan
Menurut Undang-Undang perkawinan , bahwa tujuan perkawinan adalah
untuk membentuk keluarga(rumah tangga) yang bahagia yang kekal berdasarkan
ketuhanan yang maha esa.
Pada umumnya pelaksanaan perkawinan adat di Indonesia di pengaruhi oleh
bentuk dan system perkawinan adat setempat dan kaitannya dengan susunan
masyarakat atau kekeluargaan yang di pertahankan masyarakat yang
bersangkutan. Upacara perkawinan dalam segala bentuk dan tata caranya, pada
umumnya di laksanakan sejak masa pertunangan atau masa penyelesaian kawin
berlarian, penyampaian lamaran, upacraa adat perkawinan , upacara keagamaan
dan terakhir upacara kunjungan mempelai ke tempat mertuanya.
Upacara perkawinan keturunan para bangsawan berbeda dengan perkawinan
orang biasa. Perbedaan ini dapat dilihat dari segi kemeriahan upacara perkawinan
yang berlangsung sampai berberapa hari, pada busana dan perhiasan
menggunakan emas dan berlian, dan lainnya. Unutk wanita keturunan bangsawan
melayu harus menikah dengan golongan sesame bangsawan.
B. Proses Perkawinan
Proses perkawinan melayu terdiri dari beberapa rangkaian, diantara nya di
awali dengan kegiatan merisik yang di lakukan oleh penghulu telangkai, jamu
sukut, dilanjutkan dengan meminang dan ikat janji, mengantar bunga sirih, akad
nikah, berandam dan mandi berhias, malam berinai, nasi hadap-hadapan, malam
bersanding, malam berdimbar, mandi selamat, sampai tahapan meminjam
pengantin.
C. Perlengkapan adat perkawinan melayu
1. Ramuan sirih
Bagi orang melayu sirih dengan alat-alat tambahannya merupakan suguhan yang
paling utama.
2. Tepung tawar.
Tepung tawar juga merupakan salah satu kebiasaan adat yang paling utama dan
mencirikan suku melayu.
a. Ramuan penabur.
Di atas pahar di dalam tempat-tempat kecil terpisah di letakkan beras putih, beras
kuning, bertih, bunga rampai dan tepung beras.
b. Ramuan perincis.
Terdiri dari semangkuk air, segenggam beras putih di campur dengan sebuah
jeruk purut yang di iris-iris .
c. Pedupan
Di dalam sebuah dupa yang terbuat dari bahan logam dimasukkan kemenyan atau
setanggi yang di bakar.
d. Cara-cara penepung tawar.
Yang di tepung tawari di dudukkan di tempat khusus yang telah di sediakan dan di
pangkuan di beri kain sebagai alas , kedua tangan dalam posisi terbuka seperti
berdoa atau menampung. Kemudian tepung tawar di mulai dari snggota
keluararga tertua sampai termuda
D. Bentuk-Bentuk Perkawinan
1. Lari kawin
Di zaman dahulu jika tidak di adakan peminangan terlebih dahulu maka si gadis di
larikan saja. Jika mereka kembali sang suami akan dikenakan denda 10 tahil oleh
sang mertua.
2. Perkawinan janda
Sejak ia janda bolehlah ia kawin kembali dengan laki-laki lain atau rujuk kembali
dengan mantan suaminya (3 kali kawin cerai dengan suami yang sama sesudah itu
jika hendak kawin lagi harus “Cinta Buta” yaitu harus kawin dengan orang lain
terlebih dahulu).
a. Meminang janda
Meminang janda jauh lebih mudah dan ringkas dari pada peraturan peminangan
anak dara demikian juga upacara perkawinannya.
b. Perkawinan janda berhias
Peraturan “janda berhias” di jalankan oleh ibu bapaknya karena sebab-sebab
sebagai berikut :
a. Anak mereka, si janda tersebut masih sangat muda usianya.
b. Perkawinan yang sebelumnya sangat singkat masanya.
c. Kedua ibu bapaknya tiada mempunyai anak perempuan yang lain selain
janda tersebut.
d. Anaknya yang janda itu terpuji dan rupawan
e. Ibu/bapak si janda itu aadalah orang berada.
Peraturan perkawinannya adalah seperti perkawinan anak dara tetapi pada
upacara mandi berdimbar tidak di lakukan.
BAB III
TATA RIAS,BUSANA DAN KELENGKAPAN PENGANTIN
MELAYU SUMATRA UTARA
A. Tahap Persiapan
1. Persiapan Area Kerja
2. Persiapan Alat dan Bahan Serta Perlengkapannya
3. Persiapan Kosmetik
4. Persiapan Busana dan Perhiasan
5. Persiapan Model/Calon Pengantin
6. Persiapan Pribadi
B. Tata Rias Wajah,Sanggul,Busana,Serta Perhiasan Pengantin Wanita
Melayu Sumatra Utara
Dalam merias pengantin unsur budaya dari suatu bangsa memiliki peran
penting dalam menunjukan identitas diri dan keluarga pengantin. Merias wajah
tradisional pada prinsipnya tidak berbeda dari rias wajah intenasional, hanya saja
ada hal-hal yang menjadi ciri khas pengantin tersebut.
Tahapan merias pengantin melayu Sumatra utara dimulai dari merias wajah.
Kini dengan perkembangan kosmetik tindakan merias wajah pengantin lebih
efisien dan terlihat cantic. Untuk membuat tata rias pengantin Melayu Sumatra
Utara berikut dijelaskan tahapan pembuatannya.
1. Tahapan Merias Wajah
Pembersihan
Merias Wajah
2. Tahapan Merias Rambut atau Membentuk Sanggul
Sanggul berfungsi etika karena dengan menjunjung sanggul ini pengantin
menjaga keseimbangan,pengantin harus tertib dan berikat teguh. Tim konsultan
Fakultas Teknik Universitas Negri Malang mengemukakan sanggul adalah
tindakan membentuk sanggul,baik dari rambut sendiri maupun dengan menambah
rambut tambahan dari hairpiece untuk mencapai tujuan tertentu
Sanggul Melayu Sumatra Utara menggunakan sanggul tegang. Sanggul berada
dipuncak kepala (Top crown) dan sanggul harus tegak. Penataan puncak
menitikberatkan pembuatan kreasi tata rambut di daerah ubun ubun (pariental).
Persiapan Sanggul
7 tangkai Gerak gempa kupu-kupu tunggal
5 tangkai Gerak gempa kupu kupu cabang tiga
5 tangkai Gerak gempa tekwa
5-7 Gerak gempa dahlia
1 buah Mahkota Melayu
14 tangkai jurai
1. Busana Pengantin Wanita Melayu Sumut
Busana yang dikenakan oleh pengantin wanita Melayu Sumatra Utara adalah
sebagai berikut :
Baju Kurung atau kebaya Panjang
Kain Songket Batubara
Selendang Tile Berpayet
Selop tutup sewarna dengan busana
Rantai mastura
Rantai serati
Rantai Panjang kurang lebih 20 cm dari pinggang
Anting panjang beruntai yang terbuat dari berlian
Gelang berlian
Gelang kaki motif melayu
Krongsongan atau bros khas melayu
Cincin berlian dijari manis
Kecak lengan
C. Tata Rias Wajah dan Busana Pengantin Pria Melayu Sumatra Utara
1. Rias Wajah
2. Busana dan Perhiasan
Warna dan bahan busana pengantin pria Melayu Sumatra Utara sama dengan
busana pengantin wanita
Baju berbentuk teluk belanga
Celana Panjang
Kain sesamping yang panjangnya diatas lutut
Bengkung yang dibuat dari songket selebar 5 jari
Ditengah tengah bengkung dipasang pending
Selempang,dari bahu kiri selempang kanan
Selop tertutup
Kecak lengan
Keris dibungkus dengan kain kuning
Destar sesuai dengan warna baju
Rantai serati.
D. Membuat Kelengkapan
Kelengkapan tata rias pengantin melayu Sumatra utara adalah merangkai
sirih genggam yang dipegang oleh pria dan wanita. Sirih genggam yaitu 1
tangkai daun sirih yang jumlahnya ganjil,bunga ros, hiasan-hiasan bunga
dari kertas kilat berbentuk bunga dan lain lain yang diletakan di karton
berbentuk contong berlapis kertas emas.
Buku Pembanding
Saat ini perihal keaslian busana adat dari nenek moyang di dapat hanya
bila bertemu dengan tetua/sesepuh yang masih hidup. Sementara sejarah awal dan
perkembangannya tidak dapat diketahui pasti. Sedikit napak tilas sejarah busana
Melayu Deli, pada tahun 50-an kota Medan masih sepi. Petang hari para dara dan
makcik-makcik jalan -jalan berdua atau bertiga untuk menghirup udara petang.
Baik berjalan kaki atau bersepeda. Biasanya dara bersanggul 3 lenggek, berbaju
panjang. Sedang makcik yang bersanggul lintang dikelilingi bunga tanjung yang
sudah dironce. Busana dara ini kemudian dikenal dengan busana dara Melayu
Bagi masyarakat awam, busana Melayu terutama pengantin identik
berwarna kuning. Pandangan ini meluas sehingga warna lain tidak digubris dan
kurang dikenal. Ini salah kaprah. Perlu ditegaskan bahwa aneka warna berlaku dan
digunakan pada busana Melayu Deli. warna biru dipakai busana Melayu dari
daerah Hamparan Perak. Sedang hijau dari Binjai dan Medan warna kuning.
Dahulu warna kuning hanya boleh dipakai oleh keluarga raja-raja di istana karena
kuningberarti 'Mulia'.
Busana Melayu Deli untuk pengantin tidak sama dengan busana Melayu
rakyat biasa maupun busana Melayu para Jaka Dara. Baju Melayu pengantin
bahan baju terdiri dari sungkit (songket) tenunan Batubara(FOTO 1 & 3).
Pengantin ketika itu bersanggul tegang yang diletakkan di puncak kepala dengan
dibalut rambut sendiri. Sedang gerak gempa (sunting) dipasang satu persatu. Dulu
dipasang tekan kundai sekarang diganti mahkota. Bunga yang dipakai terdiri dari
bunga Aster warna merah dan putih. Di belakang sanggul dipacakkan daun jari
lima. Karena langkanya daun jari lima ini untuk diperoleh, akhirnya tidak dipakai
[Link] dengan bunga Aster dan jurainya bunga Sedap Malam. Belakangan
digunakan bunga Ros
Perlu ditegaskan bahwa Sumatera penuh dengan berbagai bunga. Jangan
seperti saat ini busana pengantin Melayu Medan latah dan salah kaprah dengan
berkiblat ke Jawa dengan memakai bunga Melati pada busana pengantin
Melayunya. Busana pengantin Melayu Medan/Melayu Deli tidak mengenal
pemakaian bunga Melati dalam busananya sejak dahulu kaladan secara turun
temurun. Bunga Melati digunakan secara umum pada busana pengantin adat Jawa
bukan Melayu.
Parahnya akibat modifikasi dan salah kaprah, busana pengantin Melayu
Deli sekarang justru lebih menyerupai busana pengantin Minang atau Banjar
Kalimantan dimana topi lelaki bagian atasnya menghadap ke depan, harusnya
yang benar di samping kiri dan dilipat yang disebut tengkulok atau memakai detar
dan memakai kain balut dari pinggang hingga paha. Demikian juga busana
wanitanya yang salah kaprah memakai sunting Minang yang tinggi besar dan
padat dan tak memakai selendang tule(tile) di bahu hingga punggung belakang.
Harusnya memakai sunting gerak gempa yang jarang dan bermahkota atau tekan
kundai di depan dan berselendang tule (tile) di belakang bahu dan punggung).
Alangkah sayangnya kita di tanah Deli Sumatera ini sudah mulai kehilangan jati
diri adat budaya yang asli.
Sementara untuk Melayu Jaka Dara, lelaki memakai teluk belanga
berkopiah dan kain plekat. Sedangkan yang perempuan memakai baju panjang
benang suring/rubiah dengan bawahan kain plekat juga dan berselendang tipis
tule (tile). Pengguntingan baju Melayu baik Jaka maupun Dara harus berkekek
(tanpa kerah). Yang perempuan baju tidak berkupnat dan berlengan lebar. Sangat
menarik bila dipakai menari. Perhiasan yang dipakai Dara Melayu sangat
sederhana terdiri dari kerabu dan kalung pribadi, kancing baju 3 susun serta di
rambut diletakkan setangkai bunga yang serasi
BAB III
PEMBAHASAN
A. Keunggulan
Sampul buku pada buku utama cukup menarik perhatian dilihat dari segi
warna dan gambar. Pada buku utama kata-katanya mudah dipahami sehingga
pembaca tidak perlu membaca berulang-ulang kali. Terdapat banyak gambar
sebagai pendukung materi sehingga pembaca lebih bersemangat dalam
membaca buku tersebut. Pada buku pembanding terdapat beberapa kata yang
sulit dipahami. Sampul buku pada buku pebanding cukup menarik perhatian.
B. Kelemahan
Buku ini juga masih terdapat kekurangan lain. Misalnya mengenai filosofi-
filosofi mengapa adat itu harus begini begitu. Dalam buku ini tidak dijelaskan
mengapa alasannya, sehingga dua orang peserta yang lebih beruntung dari
saya, dapat mengkritisi buku ini secara langsung. Jawaban dari pertanyaan
itupun tak memuaskan penanya. Saya kira isi buku ini nantinya dapat
disempunakan lagi oleh O.K. Moehad Sjah dan tidak menutup kemungkinan
bagi khlayak yang peduli dengan adat budaya Melayu yang juga ingin
menyempurnakannya biar adat budaya melayu itu terus hidup sepanjang masa.
BAB IV
PENUTUP
A. Kesimpulan
Setelah saya meringkas kedua buku tersebut dapat disimpulkan bahwa buku
Tata Rias Pengantin Melayu Sumatera Utara hasil penulisan Desy Afianty
Lubis, [Link] dan Nuryahati Lubis, [Link] cukup bagus untuk dibaca dan bisa
dijadikan pilihan untuk menjadi bahan bacaan dengan tujuan mencari
pengetahuan dan untuk memperluas cakrawala dalam hal adat istiadat Melayu.
B. Saran
Saran saya yaitu dalam bab hendaknya kita menerakan gambar-gambar
sebagai pendukung materi agar pembaca lebih bersemangat dalam membaca
buku tersebut. Menggunakan kata-kata yang mudah dipahami. cover harus
dibuat semenarik mungkin, karena cover merupakan bagian penting untuk
menarik pembaca dalam membeli buku.