0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
58 tayangan13 halaman

Pengertian dan Tujuan Community Development

Community development adalah pengembangan komunitas lokal untuk meningkatkan kemandirian masyarakat melalui pemanfaatan sumber daya yang ada secara berkelanjutan. Tujuannya adalah memberdayakan masyarakat agar dapat mengelola lingkungan sekitar dan memenuhi kebutuhan sendiri. Kegiatannya melibatkan unsur-unsur kemanusiaan dalam perubahan yang memberi dampak positif bagi program lokal dan merangsang inisiatif masyarakat

Diunggah oleh

Nisrina Fahidan
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
58 tayangan13 halaman

Pengertian dan Tujuan Community Development

Community development adalah pengembangan komunitas lokal untuk meningkatkan kemandirian masyarakat melalui pemanfaatan sumber daya yang ada secara berkelanjutan. Tujuannya adalah memberdayakan masyarakat agar dapat mengelola lingkungan sekitar dan memenuhi kebutuhan sendiri. Kegiatannya melibatkan unsur-unsur kemanusiaan dalam perubahan yang memberi dampak positif bagi program lokal dan merangsang inisiatif masyarakat

Diunggah oleh

Nisrina Fahidan
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

Community Development

Disusun Oleh

Nama : Putri Oktarina

NIM : 07101002077

Jurusan : Sosiologi

Mata Kuliah : Sosiologi Pembangunan

Dosen Pengasuh : Dr. Alfitri, [Link]

FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK

UNIVERSITAS SRIWIJAYA INDRALAYA

TAHUN AJARAN 2012


BAB I
PENDAHULUAN

Pengertian dasar Community

Community atau komunitas berarti “persaudaraan” untuk menggambarkan arti dari


kata tersebut, Aristoteles menyatakan bahwa orang-orang berkumpul bersama-sama dalam
lingkungan masyarakat menjalin persaudarran, memenuhi kebutuhan hidup dan mancari arti
kehidupan pada masyarakat dahulu kala komunitas mudah untuk diidentifikasikan. Mereka
adalah sekelompok orang yang hidup saling berdekatan dan terisolasi dari kelompok lainnya,
sehingga lebih sulit untuk melihat dan mendefinisikan letak goegrafis komunitas.

Hilley dan Wills, telah meringkas dari beberapa kepustakaan dan mengusulkan empat
komponen utama untuk mendefinisikan konsep komunitas :

1. Masyarakat (people)
2. Tempat dan wilayah (place and territory)
3. Ide saling melengkapi atau pengenalan secara psikologis dengan masyarakat (The
idea of common attachment of phychological identification whit a community)

Kesimpulannya bahwa komunitas adalah suatu bentuk pergaulan hidup dalam suatu
masyarakat yang bermukim disuatu tempat tertentu dimana para anggotanya hidup bersama
bukan karena kep-entingan pribadi, tetapi pokok kehidupan bersama yang didasari tenggang
rasa, solidaritas, loyalitas dan pertalian batin. Menurut Kaufan dan Sanders, komunitas dapat
dipandang sebagai bentuk susunan yang dinamis dan muncul dalam suatu kelompok, serta
keberbagai macam bidang kepentingan. Konsep dasar komunitas meliputi :
1. Perkumpulan (Association), yaitu organisasi kelompok yang terdiri dari komunitas,
dimana kelopmpok tersebut difokuskan untuk menyediakan pelayanaan atau sumber atau
pengkoordinasi usaha lokal.
2. Pelaku (Actors), yaitu pimpinan. Anggota perkumpulan, dan penduduk lain suatu
komunitas yang menunggu mobilitas atau penyerahan.
3. Tindakan (Action), yatiu pembangunan, pembuatan kebijaksanaan atau aktivitas lain,
dimana pelaku aktivitas tersebut melakukan aktivitas yang bertujuan untuk pengenalan
tujuan dasar komunitas
4. Susunan kepentingan (interest configuration), berkas-berkas urusan komunitas yang
mewakili perkumpulan, pelaku dan tindakan komunitas. (Kaufman, 1988:55).
Komunitas secara tidak langsung merupakan integrasi sosial, yang meliputi persoalan
dan tanggung jawab yang berhubungan dengan masyarakat. Definisi lain juga menjelaskan
bahwa masyarakat adalah kesatuan hidup manusia yang menggambarkan kekolektifan yang
banyak, dimana manusia pada hakekatnya akan hidup berkolektif antara satu dengan yang
lainnya, hal ini berkaitan dengan sifat manusia itu sendiri yang merupakan makhluk sosial,
(Budimanta dan Rudito, 2003:1). Masyarakat terdiri dari berbagai macam individu dan dari
individu-individu tersebut akan tergambar tindakan-tindakan yang seakan tidak beraturan
satu sama lainnya, namun bila diperhatikan secara teliti, maka dari kenyataan-kenyataan
tersebut justru akan muncul banyak keteraturan sebagai wujud dari kehidupan sosial mereka.
Individu-individu didalam masyarakat akan menempati status-status tertentu yang telah ada
dan tersedia dalam aturan di masyarakat, (Budimanta dan Rudito, 2003:2). Komunitas
berbeda dengan kumpulan manusia seperti kerumunan atau kelompok manusia lainnya,
Ogdin seperti yang dikutip Iriantara dalam Community Relations menyebutkan lima faktor
yang bisa membedakan komunitas dari indivudu-individu lainnya, yaitu :
1. Pembatasan dan ekslusifvitas yang berdasarkan hal ini bisa dirumuskan siapa yang
menjadi anggota dan bukan anggota komunitas tersebut
2. Tujuan yang merupakan landasan keberadaan komunitas
3. Aturan yang memberi pembatasan terhadap perilaku anggota komunitas, termasuk
ancaman disingkirkan untuk yang berperilaku melanggar aturan itu
4. Komitmen terhadap kesejahteraan orang lain, sehingga ada kepedulian terhadap orang
lain yang berada dalam komunitas yang sama, atau setidaknya ada tanggung jawab bagi
individu terhadap komunitas secara keseluruhan
5. Kemandirian yakni memiliki kebebasan sendiri untuk menentukan apa yang dilakukan
dan cara memasuki komunitas. (Iriantara, 2004:24)

Dengan demikian komunitas dapat dipandang sebagai interaksi dalam struktur sosial
yang berdiam pada lokasi yang berada atau mungkin berjauhan namun dipersatukan oleh
kepentingan dan nilai-nilai yang sama, namun komunitas juga dapat dipandang berdasarkan
karakteristik relasinya, yaitu ;

1. Komunitas sebagai pengelompokkan lokal yang didasarkan pada kedekatan dan kadang-
kadang relasi tatap-muka (seperti pada komunitas local dan komunitas pekerja)
2. komunitas sebagai kelompok kepentingan seperti dalam komunitas penelitian, komunitas
bisnis atau kelompok dengan karakteristik tertentu seperti komunitas etnis.
3. kualitas relasi didalamnya dalam bentuk keterkaitan moral dan emosional seperti
mengacu pada identitas, nilai-nilai dan tujuan bersama, pengambilan keputusan secara
partisipatif dan produksi simboliknya. (Iriantara, 2004:25)

Pengertian Development

Development dalam bahasa Indonesia diartikan sebagai pengembangan, yang secara


tidak langsug berarti perbaikan (improvement), pertumbuhan (growth) dan perubahan
(change). Pengembangan berhubungan dengan sejarah perubahan kebudayaan. Negara dan
komunitas dari tingkat sosial yang tingkat kemajuannya masih rendah ke tingkat kemajuan
bersosial yang lebih tinggi. Pengembangan masyarakat pada dasarnya merupakan upaya
pemberdayaan masyarakat melalui kemampuan dan potensi yang dimiliki masyarakat itu.
Dalam pengembangan masyarakat ini, masyarakat adalah partisipan sekaligus pemetik
manfaat (beneficiaries) dari pembangunan. Dalam pendekatan pengembangan masyarakat,
yang biasanya membentuk organisasi-organisasi masyarakat, seperti ditulis Kindervatter
(1979) dalam Iriantara memiliki komponen-komponenn sebagai beriut :

a. Berorientasi pada kebutuhan baik secara material maupun nonmaterial,


b. Memenfaatkan kesejatian (endogenous) masyaraka tsetempat termasuk visi dan misinya
tentang masa depan,
c. Mandiri yang berari mendasarkan pada kekuatan dan sumber daya yang dimilikinya
d. Bersifat ekologis yang memanfaatkan sumber daya secara rasional dan penuh kesadaran
e. Didasarkan pada transformasi structural yang berarti adanya perubahan dalam relasi
sosial, kegiatan ekonomi dan struktur kekuasaan.
BAB II
PEMBAHASAN

Community Development
Community development atau pengembangan komunitas, khususnya komunitas lokal,
merupakan suatu konsep yang menjelaskan kepada tumbuhnya keberdayaan masyarakat oleh
dan dari masyarakat itu sendiri. Kemunculan konsep community development ini umumnya
terkait atau dikaitkan oleh suatu keadaan misalnya Proyek Pembangunan yang ada di daerah.
Dengan demikian, kemunculan community development lebih disemangati oleh paradigma
pembangunan yang bersifat partisipatoris. Pembangunan yang melibatkan peran warga
masyarakat setempat. Keterlibatan masyarakat dalam konteks pembangunan, didasarkan atas
dua pengertian. Pertama, hakekat pembangunan pada dasarnya bertujuan memperbaiki
kualitas kehidupan. Ini artinya, pembangunan itu sendiri adalah untuk kepentingan
masyarakat. Sedang dalam arti khusus, proyek pembangunan yang dalam terminology tidak
untuk pemenuhan kebutuhan masyarakat sekitar, misalnya pembangunan yang berskala
nasional, maka implikasi atas pembangunan dimaksud harus memberi nilai tambah bagi
masyarakat sekitar. Dengan kata lain, di mana ada pembangunan, di sana masyarakat sekitar
juga harus memperoleh perbaikan kehidupan seperti kesejahteraan hidup. Kedua, dengan
diperolehnya kesejahteraan hidup maka masyarakat diharapkan semakin berdaya. Dari sini
lalu istilah community development, tidak terlepas dari empowerment (keberdayaan).

Pengembangan masyarakat (Community Development) adalah kegiatan pengembangan


atau pembangunan masyarakat (komunitas) yang dilakukan secara sistematis, terencana dan
diarahkan untuk memperbesar akses masyarakat guna mencapai kondisi sosial, ekonomi, dan
kualitas kehidupan yang lebih baik apabila dibandingkan dengan kegiatan pengembangan
sebelumnya (Budimanta, 2002). Hakekatnya Community Development merupakan proses
adaptasi sosial budaya yang dilakukan oleh industri, pemerintah pusat dan daerah terhadap
kehidupan masyarakat (Rudito, 2003). Tujuan dari program Community Development
sendiri adalah pemberdayaan masyarakat (Empowerment), bagaimana anggota masyarakat
dapat mengaktualisasikan diri mereka dalam pengelolaan lingkungan yang ada di sekitarnya
dan memenuhi kebutuhannya secara mandiri tanpa ketergantungan dengan pihak-pihak
perusahaan maupun pemerintah. Kegiatan Community Development dalam pelaksanannya
dikaitkan dengan kebijakan publik, tindakan pemerintah, kegiatan ekonomi, pengembangan
situasi dan bentuk-bentuk lain tidak hanya mempengaruhi orang-orang (masyarakat), tetapi
juga dipengaruhi masyarakat. Terutama dikaitkan dengan orang-orang sebagai stimulator
proses tindakan sosial, sehingga terjadi suatu perubahan dalam pertumbuhan kehidupan
masyarakat dan ketergantungan diantara keduanya, perusahaan dan komunitas sekitarnya.

Fokus dari kegiatan Community Development itu sendiri melibatkan unsur-unsur


humanistik dalam perubahan tersebut dan mengolah bagaimana jumlah perubahan dapat
memberikan dampak dari kegiatan Community Development yang dilaksanakan perusahaan
secara tidak langsung berpengaruh terhadap program lokal masyarakat, pengaruh tersebut
antara lain :

1. Merangsang inisiatif lokal yang melibatkan orang-orang dalam proses perubahan sosial
dan ekonomi
2. Membangun saluran komunikasi yang mempromosikan solidaritas
3. Meningkatkan aspek sosial, ekomnomi dan budaya dari warga komunitas
Pengaruh yang terjadi akibat kegiatan Community Development yang dilakukan
perusahaan tidak hanya berdampak kepada masyarakat atau lingkungan sekitar saja, namun
bagi pemerintah sendiri kegiatan Community Development dapat memberikan suatu
kontribusi dan masukan kepada pemerintah sebagai mitra kerja dengan pimpinan komunikasi
dan warga untuk memecahkan masalah sosial (seperti kesenjangan sosial ataupun konflik
etnik yang dialami bangsa Indonesia saat ini). Kini program Community Development
menjadi suatu program yang sudah tidak asing lagi bagi kebanyakan perusahaan-perusahaan,
terutama perusahaan besar pemerintahpun sudah mensosialisasikannya bahkan kini
Community Development sudah tidak bisa lagi dipandang sebelah mata oleh perusahaan-
perusahaan tersebut, karena Community Development kini sudah menjadi suatu kewajiban
bagi perusahaan untuk melaksanakannya. Secara umum Community Development adalah
kegiatan pengembangan masyarakat dengna dilakukan secara sistematis, terencana, dan
diarahkan untuk memperbesar akses masyarakat guna mencapai kondisi sosial, ekonomi, dan
kualitas kehidupan yang lebih baik apabila dibandingkan dengan kegiatan pembangunan
sebelumnya (Budimanta dan Rudito, 2004:29).
Definisi Community Development diatas dapat disimpulkan bahwa sebuah perusahaan
harus memiliki visi, misi, sasaran, strategi, tahap implementasi dan koordinasi sebagai
prioritas dari pelaksanaan kegiatan agar program tersebut dapat berjalan dengan baik sesuai
tujuannya. Program Community Development merupakan suatu kegiatan yang sangat
penting dilaksanakan oleh perusahaan, dengan tiga alasan penting yaitu :
1. Sebagai izin lokal dalam pengembangan hubungan dengan komuniti lokal
2. Untuk mengatur dan menciptakan strategi kehidupan melalui program Community
Development
3. Sebagai cara untuk membantu pemenuhan sasaran usaha (perusahaan harus dapat
mengidentifikasi keutungan usaha potensial dari Community Development perusahaan)
(Budimanta dan Rudita, 2004:30-33).
Community development yang dimaknai sebagai pengembangan masyarakat terdiri dari
dua konsep, yaitu ‘pengembangan’ dan ‘masyarakat’. Secara singkat, ‘pengembangan atau
pembangunan’ merupakan usaha bersama dan terencana untuk meningkatkan kualitas
kehidupan manusia pada umumnya. Bidang-bidang pembangunan biasanya meliputi berbagai
sektor kehidupan, yaitu sektor ekonomi, sektor pendidikan, kesehatan dan sosial budaya.
Sedangkan pengertian ‘masyarakat’ menurut pandangan Mayo (1998: 162) dapat diartikan
dalam dua konsep, yaitu Masyarakat sebagai sebuah ‘tempat bersama’, yakni sebuah wilayah
geografi yang sama. Sebagai contoh, sebuah rukun tetangga, perumahan di daerah perkotaan
atau sebuah kampung di wilayah pedesaan. Masyarakat sebagai ‘kepentingan bersama’, yakni
kesamaan kepentingan berdasarkan kebudayaan dan identitas. Sebagai contoh, kepentingan
bersama pada masyarakat etnis minoritas atau kepentingan bersama berdasarkan identifikasi
kebutuhan tertentu seperti halnya pada kasus para orang tua yang memiliki anak dengan
kebutuhan khusus (anak cacat phisik) atau bekas para pengguna pelayanan kesehatan mental.
Pemberdayaan masyarakat yang berbasis masyarakat seringkali diartikan dengan pelayanan
sosial gratis dan swadaya yang biasanya muncul sebagai respons terhadap melebarnya
kesenjangan antara menurunnya jumlah pemberi pelayanan dengan meningkatnya jumlah
orang yang membutuhkan pelayanan. Pemberdayaan masyarakat juga diartikan sebagai
pelayanan yang menggunakan pendekatan-pendekatan yang lebih bernuansa pemberdayaan
(empowerment) yang memperhatikan keragaman pengguna dan pemberi pelayanan. Dengan
demikian, pemberdayaan masyarakat dapat diartikan sebagai metoda yang memungkinkan
orang dapat meningkatkan kualitas hidupnya serta mampu memperbesar pengaruh terhadap
proses-proses yang mempengaruhi kehidupannya (AMA, 1993: 71).

Pemberdayaan masyarakat memiliki fokus terhadap upaya menolong anggota


masyarakat yang memiliki kesamaan minat untuk bekerja sama, mengidentifikasi kebutuhan
bersama dan kemudian melakukan kegiatan bersama untuk memenuhi kebutuhan tersebut.
Pemberdayaan masyarakat seringkali diimplementasikan dalam bentuk (a) proyek-proyek
pembangunan yang memungkinkan anggota masyarakat memperoleh dukungan dalam
memenuhi kebutuhannya; atau melalui (b) kampanye dan aksi sosial yang memungkinkan
kebutuhan-kebutuhan tersebut dapat dipenuhi oleh pihak-pihak lain yang bertanggungjawab
(Payne, 1995: 165). Melengkapi definisi di atas, Dunham seorang pakar community
development (dalam Suharto, 1997: 99) merumuskan community development adalah usaha-
usaha yang terorganisasi yang bertujuan untuk memperbaiki kondisi kehidupan masyarakat,
dan memberdayakan masyarakat untuk mampu bersatu dan mengarahkan diri sendiri.
Pembangunan masyarakat bekerja terutama melalui peningkatan dari organisasi-organisasi
swadaya dan usaha-usaha bersama dari individu-individu di dalam masyarakat, akan tetapi
biasanya dengan bantuan teknis baik dari pemerintah maupun organisasi-organisasi sukarela.

Proses Community Development

Community Development sebagai proses tingkat perpindahan dari suatu keadaan


menjadi lebih baik. Proses ini melibatkan perubahan kearah kemajuan dengan kriteria yang
spesifik. Pendekatan secara ilmiah melalui pencapaian sasaran dan tindakan yang jelas dari
pimpinan dalam interaksi sosial. Perubahan keadaan dimana satu atau dua orang atau
beberapa orang dari golongan atas atau tanpa komunitas lokal membuat suatu keputusan
kekeadaaan dimana orang itu sendiri yang membuat keputusan berkaitan dengan
permasalahan umum; dari keadaan yang dimana tidak adanya kerjasama antara masyarakat,
dari keadaan dimana hanya beberapa orang yang turut berparisipasi kekeadaan dimana
banyak orang yang turut berpartisipasi; dari keadaan dimana semua ahli dan tokoh
masyarakat sebagian besar dari lingkungan mereka sendiri dan lain sebagainya. Sebagai
proses Development berarti kemampuan membangun dan Development berarti kemampuan
masyarakat lokal untuk bekerjasama dengan tujuan untuk memenuhi kepentingan bersama di
lingkungan sekitar (Durham, 1960:3). Lima tahap proses Community Development:

1. Membina hubungan baik dengan masyarakat


2. Memahami masalah yang terjadi di masyarakat
3. Menyeleksi masalah
4. Melaksanakan solusi
5. Meningkatkan hubungan yang telah terjalin (Fear, 1984)
Fungsi Community development

Untuk membantu komunitas mencapai tujuan pengembangan para professional


membuat beberap tipe Community Development berdasarkan fungsinya, mereka
membutuhkan penilaian tingkah laku, dorongan partisipasi para masyarakat, fasilitas
pembuatan keputusan, identifikasi sumber informasi, pendidikan, mengajukan pilihan-
pilihan, menganalisis informasi, mengembangkan pimpinan, merumuskan rencana, usaha
mengarahkan organisasi dan pelaksanaan bantuan mencari solusi. Bennet (1973)
mengembangkan kesimpulan klarifikasi yang didasarkan pada lima prinsip fungsi
Community Development:

1. Penasihat (Process Consultant)

Peran Community Development sebagai pemberi nasihat, yang difokuskan pada


bagaimana memecahkan masalah, membuat keputusan, mengorganisir, membatu
memperoleh kedudukan yang lebih baik, dan sebagai alat bantu daripada sebagai fakta
akibat tindakan kelompok.

2. Penasehat secara tekhnis (technical consultant)

Difokuskan pada pemberian informasi, mencari tahu masalah dan perspektif tujuan
hubungan komunitas dalam program perubahan yang spesifik.

3. Penyokong program (program advocate)

Peran penyokong yaitu menganalisis dan memutuskan alternatif apa yang terbaik untuk
masyarakat dan merekomendasikan alternatif yang spesifik sebagai solusi yang terbaik
untuk masalah mereka.

4. Pengorganisir (organizer)
Staf Community Development membantu masyarakat mengorganisisr tindakannya, fokus
sebagai pengorganisir yaitu mengajak individu bersama-sama dalam kelompok yang
kepentingannya sama, sehingga mereka mempunyai hak bersuara mengenai unsur
masyarakat

5. Penyedia sumber informasi (Resource Provider)


Peran Community Development yaitu mengidentifikasikan masyarakat yang
memerlukan bantuan dari luar dan menentukan cara-cara untuk memberikan
perlindungan bagi masyarakat.

Dewasa ini, kita sering mendengar keluhan dari masyarakat yang tinggal di sekitar
proyek-proyek pembangunan. Baik pembangunan yang didirikan oleh pemerintah maupun
oleh pihak swasta. Keluhan yang berujung kepada semakin menurunnya kualitas kehidupan
penduduk maupun lingkungan oleh dampak pembangunan itu sendiri. Keluhan seperti
pencemaran, maupun oleh karena tidak adanya akses bagi penduduk sekitar untuk terlibat
dalam bekerja atau terhadap pekerjaan selama proses persiapan, maupun setelah operasional.
Munculnya berbagai demo penduduk sekitar, biasanya adalah akibat dari persoalan-persoalan
seperti itu. Itulah wajah dibalik pembangunan yang tidak dirancang dengan baik, yang kurang
memperdulikan keterlibatan masyarakat sekitar. Munculnya berbagai keluhan dan ekspresi
kekecewaan masyarakat demikian, menumbuhkan kesadaran baru bagi pihak-pihak yang
terkait dengan pembangunan (stakeholder) untuk memikirkan ulang bagaimana memberi
ruang kehidupan yang lebih baik bagi terutama masyarakat sekitar. Kesadaran pihak-pihak
terkait untuk melakukan serangkaian kegiatan yang diberi istilah community development,
yang sering disingkat dengan comdev atau cd.

Pemberdayaan Komunitas

Konsep berdaya atau keberdayaan (powered) itu sendiri, dalam kehidupan social
memiliki tiga dimensi pemaknaan. Pertama, pemaknaan dari internal komunitas itu sendiri
sebagai kelompok sasaran. Kedua, pemaknaan dari pihak yang terlibat di dalam perencanaan
pemberdayaan (empowerment), dan ketiga, pemaknaan yang berasal dari suatu kesepakatan
dari berbagai pihak yang terlibat atau melibatkan diri ke dalamnya. Jadi sifat dan ukuran
keberdayaan itu adalah relatif. Namun demikian, kata kunci dari apa yang disebut
pemberdayaan (empowerment) adalah terjadinya perubahan kualitas kehidupan masyarakat
ke arah yang lebih baik secara terencana dan berkelanjutan. Pemaknaan “berdaya” dari
internal komunitas merupakan pemaknaan yang bercorak kolektif dan terukur dalam
kelaziman yang bercorak social. Hal yang kurang lebih sama dengan konsep “welfare”
(sejahtera) pada masing-masing komunitas, akan menunjukkan perbedaan-perbedaan.
Welfare yang berarti sejahtera atau cukup, tidak semata-mata terukur oleh kemampuan
rumahtangga mengkonsumsi sejumlah makanan dengan menu gizi sesuai kebutuhan
fisikalnya, tetapi juga perasaan nyaman dan terhormat dalam konteks social. Dengan
demikian, konsep berdaya secara langsung maupun tidak langsung terkait dalam lingkup
individu, rumahtangga, dan lingkungan sosial. Pemaknaan seperti itu menjelaskan bahwa
tuntutan hidup, aktivitas kerja, dan kepuasan hidup masyarakat dipengaruhi oleh pandangan-
pandangan dan cara-cara bagaimana masyarakat itu memberi nilai terhadap hakekat kerja dan
hakekat hidup itu sendiri. Jika kerja dimaknai sebagai kegiatan yang berakibat kepada
diperolehnya pendapatan atau hasil sesuai dengan tujuan yang hendak diperoleh, misalnya
untuk memenuhi kebutuhan makan, maka ukuran keberhasilan dan ukuran kepuasan dalam
bekerja tidak akan bergeser jauh dari pemaknaan itu sendiri. Pemaknaan kerja semacam ini
tentu jauh dari konsep ideal dan menjadi alasan penurunan kualitas hidup seirama dengan
semakin menanjaknya usia. Itulah sebabnya, dalam pemberdayaan harus terjadi pengubahan
kebiasaan atau perilaku. Perubahan kebiasaan itu harus didasari oleh perubahan paradigma,
yakni bagaimana mengukur standar kualitas hidup yang relatif ideal. Mengubah perilaku
kendati untuk alasan memberdayakan kelompok masyarakat sasaran, tidak bisa serta merta
mengubah pendirian dan perilaku yang ukuran-ukurannya secara social budaya berbeda.
Boleh jadi karena terlalu bersemangatnya seorang peneliti atau pihak luar memperkenalkan
pengetahuan-pengetahuan baru sebagaimana yang tercantum dalam textbook yang dipelajari.
Akan tetapi, jika pihak luar itu tanpa mau memahami kebiasaan kelompok sasaran, bisa
diramalkan tidak akan mendapat respons secara positif. Karena itu doktrin yang diajarkan
dalam studi-studi kemasyarakatan (antropologi) dalam kaitannya dengan upaya
pemberdayaan ialah: mempertanyakan kebiasaan dalam hal memandang dan bertindak, apa
makna dan fungsi dari kebiasaan dan pilihan tindakan, lalu dicoba dikaitkan dengan faktor-
faktor lain yang relevan.

Dari karena alasan itu, maka konsep berdaya dalam kerangka pemberdayaan, perlu
dicarikan titik temu (kesepakatan kultural) antara kelompok sasaran dengan peneliti atau
penggagas pembangunan. Kesepakatan kultural demikian merupakan suatu strategi
bagaimana memperbaiki kualitas hidup masyarakat sasaran tanpa meninggalkan kebudayaan
mereka, sebagai mana pendapat DeLisi (1990: 4) yang dikutip oleh Paul Bate (1994: 17):
“Good strategy only equals success when we possess an appropriate culture”. Pemberdayaan
masyarakat berdasarkan pada kesepakatan cultural dapat ditempuh dengan proses-proses,
(meminjam dunia kedokteran) yaitu: prognosis, diagnosis, dan terapi. Prognosis adalah suatu
tahapan awal untuk dapat merasakan (berbagai keluhan), keinginan (idealisasi; harapan),
hambatan atau kendala, serta jalan keluar (solusi) yang dipilih dan dijalankan. Proses
demikian – dalam praktiknya – adalah suatu kegiatan penelitian awal yang tujuannya
memahami secara baik: apa yang sebenarnya terjadi dalam kehidupan masyarakat sasaran
sesuai dengan focus kajian dimaksud. Informasi awal dari penelitian baik secara kuantitatif
maupun kualitatif, ditindaklanjuti dengan pengecekan kembali hasil analisis sementara.
Benarkah demikian kejadian atau faktanya? Mengapa faktanya menunjukkan kondisi seperti
itu, faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi? Proses rechecking demikian ini merupakan
perwujudan dari apa yang disebut diagnosis. Untuk melakukan diagnosis, bisa ditempuh
dengan kegiatan focus group discussion (FGD). Dengan demikian, fungsi FGD yang utama
ialah: (a) rechecking terhadap hasil analisis awal; dan (b) mengelaborasi pengetahuan atau
informasi dimaksud sehingga ditemukan pengertian yang lebih baik.

Untuk memperoleh dua hal tersebut, substansi dan model dari pelaksanaan FGD dapat
diarahkan kepada bagaimana kelompok sasaran yang diwakili oleh peserta FGD untuk secara
bersama-sama melakukan analisis SWOT (strength, weakness, opportunity, and treatment).
Strength alias kekuatan adalah potensi yang ada dan yang bisa dikembangkan; Weakness
(keluhan, kelemahan, kebiasaan perilaku yang dianggap merugikan); Opportunity (jalan
keluar yang bisa diambil untuk memperbaiki keadaan); dan treatment (ancaman persaingan
dan masa depan dari kegiatan usaha). Melakukan FGD dengan memanfaatkan strategi SWOT
demikian, merupakan pemberdayaan dari sudut kognisi dan kesadaran. Melibatkan bersama
warga (kelompok sasaran) untuk memikirkan secara bersama persoalan mereka sendiri (yaitu
dengan strategi SWOT) merupakan salah bentuk pendidikan andragogi (pendidikan orang
dewasa). Tahap ketiga ialah memberikan therapitis. Konsep terapi di sini, mengacu kepada
tiga hal penting. Pertama, peneliti memberikan sejumlah alternative penyelesaian (solusi),
atau dalam istilah kedokteran, memberikan resep-obat. Kedua, peneliti menjelaskan
kandungan, implikasi, dan cara-cara bagaimana obat (alternatif solusi) itu mereka peroleh dan
konsumsi menurut takaran kebutuhan. Ketiga, kelompok sasaran secara mandiri (menjadi)
tahu kapan harus mengkonsumsi “supplement gizi”, tahu dan dapat memperoleh supplement
tersebut seperti modal usaha dan fasilitas yang dibutuhkan, dan terbukanya pasar. Untuk
membantu kelompok sasaran mampu berbuat menurut resep yang kita tawarkan, dibutuhkan
pemandu yang bijak. Pemandu yang bijak itulah desain atau model pemberdayaan yang
dirumuskan dari bawah (lapangan).
BAB III
PENUTUP

Program Community Development merupakan suatu kegiatan yang sangat penting


dilaksanakan oleh perusahaan, dengan tiga alasan penting yaitu :

 Sebagai izin lokal dalam pengembangan hubungan dengan komuniti lokal


 Untuk mengatur dan menciptakan strategi kehidupan melalui program Community
Development
 Sebagai cara untuk membantu pemenuhan sasaran usaha (perusahaan harus dapat
mengidentifikasi keutungan usaha potensial dari Community Development perusahaan)
(Budimanta dan Rudita, 2004:30-33).

Community Development sebagai proses tingkat perpindahan dari suatu keadaan


menjadi lebih baik. Proses ini melibatkan perubahan kearah kemajuan dengan kriteria yang
spesifik. Pendekatan secara ilmiah melalui pencapaian sasaran dan tindakan yang jelas dari
pimpinan dalam interaksi sosial. Perubahan keadaan dimana satu atau dua orang atau
beberapa orang dari golongan atas atau tanpa komunitas lokal membuat suatu keputusan
kekeadaaan dimana orang itu sendiri yang membuat keputusan berkaitan dengan
permasalahan umum; dari keadaan yang dimana tidak adanya kerjasama antara masyarakat,
dari keadaan dimana hanya beberapa orang yang turut berparisipasi kekeadaan dimana
banyak orang yang turut berpartisipasi; dari keadaan dimana semua ahli dan tokoh
masyarakat sebagian besar dari lingkungan mereka sendiri dan lain sebagainya. Sebagai
proses Development berarti kemampuan membangun dan Development berarti kemampuan
masyarakat lokal untuk bekerjasama dengan tujuan untuk memenuhi kepentingan bersama di
lingkungan sekitar (Durham, 1960:3).

Anda mungkin juga menyukai