LAPORAN PRAKTIKUM
MODULUS PUNTIR
NAMA : MUHAMMAD SYAHID
STAMBUK : 031 2018 0021
KELOMPOK / FREKUENSI : 2A / 4
JURUSAN / FAKULTAS : TEKNIK SIPIL / TEKNIK
LABORATORIUM FISIKA DASAR
FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI
UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA
MAKASSAR
2018
PRAKTIKUM FISIKA DASAR
LABORATORIUM FISIKA DASAR
FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI
UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA
MODULUS PUNTIR
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Dalam eksperimen ini, praktikan akan melakukan percobaan mengenai
modulus puntir pada suatu material. Dari modulus puntir tersebut, praktikan
akan dapat memahami sifat elastisitas bahan dan momen gaya yang bekerja,
serta dapat memprediksi bahan yang terkandung dari material tersebut.
suatu batang yang ditarik oleh suatu gaya dikatakan berada di bawah
tegangan meregang (tensile strees), sedangkan apabila tekanan menekan
maka benda berada di bawah tekanan menekan (compressive strees) yang
merupakan lawan dari gaya meregang. Apabila suatu benda diberi gaya
yang sama tetapi arahnya berlawan dan tidak segaris maka benda tersebut
berada di bawah tegangan memuntir (shear strees).
Modulus puntir dapat diartikan secara teoritis, yaitu adalah hubungan
besaran tegangan tarik dan regangan tarik. Atau lebih jelasnya adalah
perbandingan anatara tegangan geser dan regangan geser. Modulus puntir
sangat penting dalam ilmu fisika karena dengan mempelajarinya, di
harapkan kemudian kita bisa menggunakannya untuk menentukan nilai
kelastisan dari sebuah benda (objek studi).
Suatu material dapat dikarakterisasi dengan cara diberikan suatu gaya
kemudian ditentukan ketahannya terhadap gaya tersebut. Gaya yang
diberikan dapat menekan benda, menarik benda ataupun memuntir benda.
Jika benda dikenai gaya yang arahnya sejajar dengan permukaan benda dan
arah gaya searah permukaan, maka akan didapatkan tahanan regangan.
Kemudian ketika suatu gaya yang diberikan tagk lurus terhadap garis
normal permukaan benda, maka akan didapatkan tahan puntiran.
Prinsip prinsip tersebut telah di rumuskan secara sistematik dan
percobaan ini dilakukan untuk menerapkan kembali rumusan/teori yang
telah ada dalam kasus kasus yang sederhana agar praktikan lebih cepat
memahami rumusan atau teori tadi.
Pada kasus elastis, berdasarkan pengandaian pengandaian dimana
tegangan adalah perbandingan lurus dengan regangan dan yang belakangan
ini berubah pula secara linear dari sumbu pusat batang melingkar. Tegangan
tersebut yang disebabkan oleh penyimpang penyimpang yang disebut dalam
pengandaian diatas adalah tegangan geser yang terletak pada bidang yang
sejajar dengan irisan.
RAHMAT KAUSAR MAULANA MUHAMMAD SYAHID
03120180021
PRAKTIKUM FISIKA DASAR
LABORATORIUM FISIKA DASAR
FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI
UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA
MODULUS PUNTIR
1.2 Tujuan
1.2.1 Tujuan Instruksi Umum ( TIU )
1. Kami dapat memahami peristiwa puntiran pada batang akibat
momen puntir
2. Kami dapat menetapkan konsep dari azas-azas fisika tentang
momen puntir
1.2.2 Tujuan Instruksi Khusus ( TIK )
1. Kami dapat mengamati sudut puntir pada batang akibat dari
pengaruh momen puntir
2. Kami dapat menentukan shear modulus dari berbagai jenis logam
3. Kami dapat menggambarkan grafik hubungan anatar sudut puntir
(Ɵ) dan panjang (L)
RAHMAT KAUSAR MAULANA MUHAMMAD SYAHID
03120180021
PRAKTIKUM FISIKA DASAR
LABORATORIUM FISIKA DASAR
FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI
UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA
MODULUS PUNTIR
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Konsep Dasar
Dalam bahasa fisisnya, modulus puntir adalah gaya yang dibberikan
persatuan luas penampang dengan luas yang sejajar dengan vektor gaya
yang di terapkan. Bentuk persamaannya adalah :
𝐹 𝐿
G =𝐴 x ∆𝐿𝑜 ….............................................................................(3.2.1)
Dimana :
∆L = pertambahan panjang (m)
LO = panjang mula mula (m)
A = luas permukaan (m2)
F = Gaya (N)
G = modulus puntir.
Untuk material yang berbentuk silinder, konsep dari tegangan memuntir
tetap sama. Hanya saja, dalam perumusannya digunakan variabel variabel
baru yang terdapat pada silinder. Gejala puntiran pada silinder diskemakan
dengan gambar berikut
Gambar 3.2.1 Skema puntiran pada material berbentuk silinder
RAHMAT KAUSAR MAULANA MUHAMMAD SYAHID
03120180021
PRAKTIKUM FISIKA DASAR
LABORATORIUM FISIKA DASAR
FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI
UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA
MODULUS PUNTIR
Salah satu ujung batang di jepit keras – keras di T, sedangkan ujung
lainnya dibiarkan bebas berputar dan dipasangi erat roda P. Jika roda
dengan pertolongan katrol diberi beban maka roda itu akan meghasilkan
momen M terhadap batang.
Dengan jarum penunjuk yang melekat pada batang dan pembagian
skala S dapat dibaca sudut puntiran batang. nilai α dihitung dalam derajat.
Sehingga tidak perlu di konversikan ke dalam satuan rad.
Dalam pembahasan sebelumnya, benda yang mendapatkan gaya
diidealkan sebagai benda tegar, tidak mengalami perubahan bentuk bila
mendapat gaya. Sesungguhnya benda mengalami perubahan bentuk saat
mendapatkan gaya. Pada bagian ini akan dibahas tentang hubungan
perubahan bentuk tersebut dengan gaya yang menyebabkannya.
Gambar di atas melukiskan suatu batang yang mempunyai penampang
serbasama ditarik dengan gaya F pada kedua sisinya. Batang dalam keadaan
tertarik. Bila dibuat irisan di batang (gambar b) yang tidak dekat ujung
batang, maka pada irisan tadi terdapat tarikan dengan gaya F yang merata di
penampang batang (sistem dalam keadaan seimbang). Dari sini dapat
didefinisikan tegangan di irirsan tersebut sebagai perbandingan antara gaya
F dengan luas penampang A.
Bila gaya diberikan pada balok tersebut memberikan tegangan tarik,
maka balok tersebut juga mengalami perubahan bentuk yang disebut
regangan. Bagian pertama (O - a) tegangan sebanding dengan regangan, a
adalah batas proporsional tersebut. Dari a sampai b tidak sebanding lagi,
tetapi bila beban diambil, kurva akan kembali ke titik a [Link] a sampai b
masih bersifat elastik dan b adalah batas elastik. Bila beban di ambil setelah
melewati b, misal di c, kurva tidak kembali ke b tetepi kembali melellui
garis tipis. Sehingga panjang tanpa tegangan menjadi lebih besar dari
semula. Bila beban ditambah terus sampai patah di d, d disebut titik patah.
Bila b sampai d cukup besar, bahan tersebut bersifat ulet, tetapi kalau sangat
pendek disebut rapuh.
RAHMAT KAUSAR MAULANA MUHAMMAD SYAHID
03120180021
PRAKTIKUM FISIKA DASAR
LABORATORIUM FISIKA DASAR
FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI
UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA
MODULUS PUNTIR
Modulus puntir disebut juga Modulus geser, dan hanya terjadi pada
zat padat. Puntiran adalah suatu perlakuan terhadap material yang diberikan
torsi yang tegak lurus terhadap diameter material tersebut pada kedua
ujungnya secara berlawanan. Salah satu hal yang berpengaruh pada
percobaan ini adalah gravitasi, karena berkaitan dengan berat (massa), lalu
hukum yang menyatakan gaya tarik benda atau gaya tarik menarik benda
berbanding lurus dengan dua massa tersebut serta berbanding terbalik
dengan kuadrat jarak antara pusat dengan kedua benda tersebut.
Selain berhubungan dengan gravitasi, modulus geser atau modulus
puntir pun berkaitan dengan adanya gerak jatuh bebas dan gerak vertikal ke
atas. Gerak jatuh bebas mempengaruhi massa m dari benda juga oleh
gravitasi, Sedangkan kecepatan sama dengan nol.
S=v.t .......................................................................,,,,,.....(3.2.2)
Dimana :
S = jarak
v = kecepatan
t = waktu
Gerak vertikal keatas berlawanan dengan gaya gravitasi suatu benda
dalam hal ini arahnya yang membedakan. Gerak vertikal keatas menunjukan
gaya normal, yaitu gaya yang berlawanan dengan arah gravitasi.
Besarnya suatu gaya normal sangat bergantung dengan besarnya gaya
gravitasi suatu benda. Kecepatannya adalah sebesar :
Vt = V0 – gt ...............................................................................(3.2.3)
Kecepatan akhirnya:
Vt2 = Vo2 - 2gt ..........................................................................(3.2.4)
Dimana :
Vt = kecepatan dalam waktu (m/s)
Vo = kecepatan awal (m/s)
g = percepatan gravitasi (m/s2)
RAHMAT KAUSAR MAULANA MUHAMMAD SYAHID
03120180021
PRAKTIKUM FISIKA DASAR
LABORATORIUM FISIKA DASAR
FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI
UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA
MODULUS PUNTIR
t = waktu (s)
Sebuah benda yang bekerja pada batang katrol, digunakan pada sebuah
katrol dengan menggunakan seutas tali sehingga benda membentuk gaya ke
atas lalu terjadi perubahan sudut.
Secara umum puntiran terjadi bila balok atau kolom mengalami
perputaran terhadap sumbunya. Perputaran demikian dapat diakibatkan oleh
beban dengan titik kerja yang tidak terletak pada sumbu simetri.
Bila balok mengalami puntiran, maka lapisan-lapisan pada penampang
balok cenderung bergeser satu dengan yang lain. Karena kohesi maka bahan
akan melawan pergeseran tersebut sehingga timbullah tegangan geser puntir
pada balok. Hal ini dapat ditunjukkan dengan memuntir sebatang rokok
pada sumbu memanjang, akan timbul kerutan kerutan berbentuk spiral pada
permukaan rokok, kerutan ini menunjukkan garis geseran yang terjadi.
Contoh lain adalah sebatang kapur tulis yang dipuntir pada sumbu
memanjang, kapur akan terputus, bidang patahan adalah bidang geser
puntir.
Salah satu batang di jepit keras-keras di T, ujung lainya bebas berputar
dan pada badanya di pasang keras-keras roda p, maka roda itu akan
menghasilkan momen M terhadap batang. Dengan jarum penunjuk yang
melekat pada batang dan pembagian skala s dapat di baca sudut puntiran
batang, maka modulus puntir dapat di hitung dari :
G = (2.m.l)/(π.θ.R4) …………….................................. (3.2.5)
atau
G = (360.g.r.l.m)/(π2.a2.R2) …………....................... (3.2.6)
Dimana :
G = Modulus Puntir
M = momen yang bekerja pada batang
l = panjang batang yang dipuntir
g = gaya gravitasi
RAHMAT KAUSAR MAULANA MUHAMMAD SYAHID
03120180021
PRAKTIKUM FISIKA DASAR
LABORATORIUM FISIKA DASAR
FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI
UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA
MODULUS PUNTIR
r = jari-jari roda P
m = massa beban
a = sudut puntiran dalam derajat
Mengenai jari-jari yang dihitung tersebut ada dua, yaitu jari-jari luar
sehingga untuk menentukan jari-jari luarnya dikurangi jari-jari dalam, dan
momen gaya yang bekerja pada batang ini mempunyai banyak momen gaya.
Suatu poros dijepit di salah satu ujungnya, ujung lainnya bebas, dan
dibebani dengan momen putir secara seragam disepanjang poros dengan
besar t per satuan panjang.
Momen puntir per unit panjang dinyatakan dengan t, dan
koordinat xmempunyai origin disebelah kiri. Diagram porsi batang ujung
sebelah kiri dan bagian x. Suatu elemen dengan panjang dx kita akan
menentukan sudut putar pada elemen silinder dengan panjang dx ini. Untuk
kesetimbangan momen terhadap sumbu batang, suatu momen
puntir tx bekerja pada bagian sebelah kanan bagian. Momen puntir tx ini
menyebabkan elemen sepanjang dx terpuntir dengan sudut putar. Total
putaran pada ujung sebelah kiri diperoleh dengan integrasi keseluruhan
elemen sedemikian. Modulus Geser didefinisikan sebagi perbandingan
tegangan geser dan regangan geser.
Tegangan dibedakan menjadi dua jenis. Bila gaya internal tegak lurus
pada bidang yang diamati, maka didapat tegangan normal atau langsung,
dan sesuai dengan arah gaya, dapat bersifat tarik (tensile) atau mampat
(compressive). Bila gaya internal sejajar dengan bidang yang diamati,
didapat tegangan tangensial atau geser. Seringkali resultan gaya pada
elemen luasan membentuk sudut dengan bidang luasnya. Dalam keadaan
semacam itu, gaya tersebut diuraikan menjadi komponen normal dan
tangensial, serta menghasilkan kombinasi tegangan-tegangan normal geser.
Perubahan bentuk benda yang terjadi pada keadaan tegang disebut
regangan. Ada dua macam regangan. Bahan dapat membesar atau mengecil
RAHMAT KAUSAR MAULANA MUHAMMAD SYAHID
03120180021
PRAKTIKUM FISIKA DASAR
LABORATORIUM FISIKA DASAR
FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI
UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA
MODULUS PUNTIR
dan menghasilkan regangan normal; atau lapisan-lapisan bahan dapat
bergeser yang satu terhadap yang lain dan menghasilkan regangan geser.
Karena regangan hanya merupakan bilangan satuan modulus yang sama
seperti satuan tegangan, yaitu gaya persatuan luas. Tegangan biasanya
dinyatakan dalam pound per inci kuadrat atau dyne persenti meter kuadrat.
Hubungan antara setiap jenis tegangan dengan regangan yang
bersangkutan penting perananya dalam cabang fisika yang disebut teori
elastisitas pada kekuatan bahan dibidang enginering. Apabila suatu jenis
tegangan diluaskan grafiknya terdapat regangannya akan ternyata bahwa
diagram tegangan yang diperoleh akan berbeda-beda bentuknya menurut
jenis bahanya. Dua bahan yang termasuk jenis bahan yang sangat penting
dalam ilmu dan teknologi dewasa ini ialah logam dan karet yang
divulkanisir, hubungan prororsional antara tegangan dan regangan dalam hal
ini bahan itu elastis atau memperhatikan sifat elastis dan titik lainya
dinamakan batas elastis.
Apabila momen puntir yang bekerja baik pada poros pejal maupun
poros berlubang dinaikkan terus, nilai momen puntir mungkin akan
mencapai titik lelah geser dari bahan bagian luar. Ini adalah batas
maksimum untuk momen puntir elastis dan dinyatakan dengan Te. Kenaikan
selanjutnya dari momen puntir menyebabkan tercapainya titik-titik lelah
pada bahan untuk posisi lapis yang semakin kedalam, sampai keseluruhan
lapisan bahan mencapai titik lelahnya dan ini menunjukkan terjadinya
momen puntir plastis penuh (fully plastic twisting moment) Tp. Kita tidak
bicarakan tegangan yang lebih besar dari batas titik lelah, karena ini adalah
batas momen puntir yang dapat diberikan oleh poros. Dari hasil beberapa
pengujian diperoleh bahwa Tp = 4/3(Te).
Terdapat banyak peneliti yang melakukan studi tentang besarnya nilai
modulus geser maksimum (Gmax). Dan banyak parameter yang akan
mempengaruhi besarnya nilai modulus geser maksimum (Gmax), yang paling
utama adalah jenis tanah (lempung atau pasir), effective confining preassure, void
ratio (e), dan derajat konsolidasi. Hardin dan Black (1969) mengusulkan suatu
RAHMAT KAUSAR MAULANA MUHAMMAD SYAHID
03120180021
PRAKTIKUM FISIKA DASAR
LABORATORIUM FISIKA DASAR
FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI
UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA
MODULUS PUNTIR
rumus yang dipakai untuk menghitung nilai modulus. Ada beberapa model yang
mencoba meramalkan modulus geser logam (dan juga alloy). Model-model
modulus geser yang sudah digunakan dalam komputasi aliran plastik termasuk :
1. Model modulus geser MTS yang dikembangkan oleh dan digunakan dalam
hubungan dengan model tegangan aliran plastik "Mechanical Threshold
Stress" (MTS).
2. Model modulus geser "Steinberg-Cochran-Guinan" (SCG) yang
dikembangkan oleh dan digunakan dalam hubungan dengan model tegangan
aliran "Steinberg-Cochran-Guinan-Lund" (SCGL). Model modulus geser
"Nadal and LePoac" (NP) yang menggunakan teori Lindemann untuk
menentukan ketergantungan akan suhu dan model SCG untuk
ketergantungan akan tekanan dari modulus geser.
Karena dirasa penting bagi mahasiswa untuk mengetahui dan
menguasainya, maka dilakukanlah sebuah praktikum untuk memperdalam
materi fisika tentang modulus puntir.
Selanjutnya, untuk melengkapi praktikum tersebut, disusunlah laporan
praktikum tersebut. Laporan praktikum bertujuan pula untuk pemahaman
secara lebih sistematis mengenai percobaan yang dilakukan pada praktik
modulus puntir tersebut. Isi dari laporan ini antara lain adalah pendahuluan
yang berisi landasan awal mengenai praktik tersebut serta metode praktikum
yang dilakukan untuk mendapatkan data – data yang bersifat kuantitatif
melalui percobaan secara sistematis dan terkontrol. Pada pembahasan
selanjutnya, secara garis besar, laporan ini berisikan pembahasan mengenai
cara menganalisa suatu data melalui aplikasinya terhadap rumus yang telah
diberikan untuk kemudian dijabarkan melalui suatu bentuk grafik. Pada
pembahasan terakhir dipaparkan sedikit kesimpulan mengenai hasil akhir
percobaan. Tujuan lain dari laporan ini adalah memenuhi salah satu tugas
dari mata kuliah fisika dasar.
Pembuatan Alat Praktikum Modulus Puntir ini tidak membutuhkan
waktu yang terlalu lama, namun dalam pengambilan data dan
RAHMAT KAUSAR MAULANA MUHAMMAD SYAHID
03120180021
PRAKTIKUM FISIKA DASAR
LABORATORIUM FISIKA DASAR
FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI
UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA
MODULUS PUNTIR
perhitungannya lah yang membutuhkan kesabaran dalam pengerjaannya.
Batang yang saya Gunakan dalam Praktikum adalah batang silinder dari
logam kuningan dan besi, untuk logam jenis lain tidak saya gunakan karena
kesulitan dalam mendapatkannya.
Kegiatan praktikum selalu dilakukan kegiatan pengukuran. Pengukuran
merupakan pengumpulan informasi, dengan melakukan pengumpulan dapat
diperoleh besarnya suatu besaran, dan juga diperoleh bukti yang kuantitatif.
Namun dalam pengamatan suatu gejala pada umumnya belum lengkap jika
belum memberikan informasi yang kuantitatif, sehingga untuk memperoleh
informasi tersebut memerlukan pengukuran suatu sifat fisis.
Bila sebatang logam pejal dengan panjang L dan jari-jari R, salah satu
ujungnya dijepit dan ujung yang lain dipuntir dengan gaya F, maka akan
terjadi simpangan atau pergeseran sebesar α˚ (lihat gambar)
Gambar 3.2.2 alat modulus puntir
Besar pergeseran (α˚) untuk setiap logam berbeda-beda, tergantung
koefisien kekenyalannya. Hubungan tersebut dinyatakan sebagai berikut :
G=
360˚ 𝐿 ·𝑚 · 𝑔 · 𝑟 ………………..……................................ (3.2.7)
𝜋 2 𝑅4 𝛼˚
Dimana :
G = Modulus Puntir
M = momen yang bekerja pada batang
l = panjang batang yang dipuntir
g = gaya gravitasi
RAHMAT KAUSAR MAULANA MUHAMMAD SYAHID
03120180021
PRAKTIKUM FISIKA DASAR
LABORATORIUM FISIKA DASAR
FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI
UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA
MODULUS PUNTIR
r = jari-jari roda P
m = massa beban
a = sudut puntiran dalam derajat
Modulus puntir atau modulus geser hanya terjadi pada zat padat.
Modulus puntir adalah cara untuk mengetahui berputarnya gaya-gaya apa
saja yang mempengaruhi benda tersebut sehingga bisa berputar. Gaya yang
terjadi harus diimbangi oleh gaya penentang pada bagian dalam bahan
benda.
Modulus young adalah perbandingan regangan terhadap regangan
kesatu arah. Atau bisa juga diartikan sebagai deskripsi matematis dari
kecenderungan suatu benda untuk berdeformasi secara elastis ketika suatu
gaya dikenakan pada benda tersebut.
Modulus elastis adalah rasio dari tegangan dan regangan, maka
modulus elastisitas adalah kemiringannya.
Modulus puntir adalah bilangan yang menggambarkan perubahan benda
yang elastis atau konstanta yang menyatakan besarnya gaya yang diperlukan
untuk memuntirkan suatu bahan persatuan luar tiap satu derajat. Modulus
puntir adalah rasio dari tegangan geser dan regangan geser , pemahamannya
sama dengan modulus young , hanya saja perbedaannya terletak pada arah
gaya dan tegangan yang terjadi. Pada tegangan geser gaya diaplikasikan
secara tangensial , sedangkan pada tegangan biasa gaya diaplikasikan secara
tegak lurus. Sehingga arah regangannyapun berbeda .
Hukum hooke
“jika gaya tarik tidak melampaui batas elastisitas pegas , pertambahan
panjang pegas berbanding lurus (sebanding) dengan gaya tariknya”
Modulus puntir didefinisikan sebagai rasio tegangan dalam sistem
koordinasi kartesian terhadap regangan sepanjang aksi pada jangkauan
tegangan pada kurva tegangan. Regangan pada titik tertentu tertentu disebut
RAHMAT KAUSAR MAULANA MUHAMMAD SYAHID
03120180021
PRAKTIKUM FISIKA DASAR
LABORATORIUM FISIKA DASAR
FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI
UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA
MODULUS PUNTIR
dengan modulus tangen. Modulus tangen dari kemiringan linier awal
disebut dengan modulus young.
Mendapatkan modulus elastisitas bukan cuma uji tarik. Uji tekuk
(bending) lebih akurat dalam penentuannya karena pada uji tersebut
mesinnya lebih sedikit menerima gaya daripada uji tarik. Modulus elastisitas
atau disebut juga Modulus Young menyatakan tingkat kekakuan bahan.
Dirumuskan dalam perbandingan antara tegangan yang mampu ditahan
suatu bahan sebelum mengalami deformasi plastis terhadap regangan saat
yield point terjadi. Modulus elastisitas merupakan salah satu sifat bahan
yang dapat diperoleh dari uji tarik.. Deformasi Elastis Besarnya bahan
mengalami deformasi atau regangan bergantung kepada besarnya tegangan.
Pada sebagian besar metal, tegangan dan regangan adalah proporsional
dengan hubungan : E = modulus elastistas atau modulus young Dikenal
dengan HUKUM HOOKE Untuk logam harga E : 4,5 X 104 mpa S/D 40,7
X 104Mpa. Bahan disebut mengalami DEFORMASI ELASTIS Jika
tegangan dan regangan besarnya proporsional. Deformasi elastis adalah
tidak permanent, artinya jika beban dilepaskan maka bahan kembali ke
bentuk semula. Deformasi Elastis Non Linear Modulus elastisitas dicari
dengan modulus tangen atau modulus secant. dalam skala atom, deformasi
elastis adalah perubahan jarak antar atom. Jadi besar modulus elastisitas
adalah besarnya tahanan atom-atom yang berikatan Pada beban geser.
Deformasi Plastis Pada kebanyakan logam, deformasi elastis hanya terjadi
sampai regangan 0.005. Jika bahan berdeformasi melewati batas elastis,
tegangan tidak lagi proporsional terhadap regangan. Daerah ini disebut
daerah plastis. Pada daerah plastis, bahan tidak bisa kembali ke bentuk
semula jika beban dilepaskan. Pada tinjauan mikro deformasi plastis
mengakibatkan putusnya ikatan atom dengan atom tetangganya dan
membentuk ikatan yang baru dengan atom yang lainnya.
Dari banyak penelitian yang dilakukam, sebelum ditemukan penelitian
modulus puntir dengan menggunakan batang besi. Penelitian selanjutnya
yang akan memberikan tambahan informasi mengenai hasil modulus puntir.
RAHMAT KAUSAR MAULANA MUHAMMAD SYAHID
03120180021
PRAKTIKUM FISIKA DASAR
LABORATORIUM FISIKA DASAR
FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI
UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA
MODULUS PUNTIR
BAB III
PROSEDUR KERJA
3.1 Alat dan Bahan
3.1.1 Alat
1. Peralatan torsi satu set
2. Jangka sorong
3. Rol meter
RAHMAT KAUSAR MAULANA MUHAMMAD SYAHID
03120180021
PRAKTIKUM FISIKA DASAR
LABORATORIUM FISIKA DASAR
FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI
UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA
MODULUS PUNTIR
4. Beban pemberat satu set
5. Neraca analitik
3.1.2 Prosedur Kerja
Mula-mula kami menimbang massa beban, lalu kami
mengukur diameter roda (puly) secara vertikal, horizontal dan
diagonal dan juga kami mengukur diameter batang logam, setelah
itu kami mengatur skala pada busur derajat hingga jarumnya tepat
berada di tengah, kemudian kami memasang beban pada roda dan
mengukur beban yang tercipta, kami menyetel kembali panjang
batang sesuai ukuran yang ditentukan.
RAHMAT KAUSAR MAULANA MUHAMMAD SYAHID
03120180021
PRAKTIKUM FISIKA DASAR
LABORATORIUM FISIKA DASAR
FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI
UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA
MODULUS PUNTIR
BAB IV
TABEL PENGAMATAN
5.1 Tabel 1
Diameter Puly Diameter
No. Keterangan
Luas Dalam Batang
1. 0,1442 m 0,002 m 0,00445 m
2. 0,1441 m 0,00225 m 0,00445 m
3. 0,1444 m 0,00225 m 0,00445 m
5.2 Tabel II Beban tetap, Panjang batang berubah
No. W tetap (kg) L berubah (m) θ1 θ2
1. 4,050 0,1 20o 5o
2. 4,050 0,2 17o 5o
3. 4,050 0,3 14o 8o
5.3 Tabel III Beban berubah, Panjang batang tetap
No. W berubah (kg) L tetap (m) θ1 θ2
1. 1 0,35 5o 3o
2. 2,056 0,35 6o 3o
3. 3,056 0,35 10o 5o
Hari /tanggal praktikum : Jumat, 26 Oktober 2018
Frekuensi/Kelompok :4
Anggota Kelompok : 1. Muhammad Syahid
2. Ilham Yuna Dwi Januar
Makassar, November 2018
ASISTEN
(RAHMAT KAUSAR MAULANA)
RAHMAT KAUSAR MAULANA MUHAMMAD SYAHID
03120180021
PRAKTIKUM FISIKA DASAR
LABORATORIUM FISIKA DASAR
FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI
UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA
MODULUS PUNTIR
BAB V
PENGOLAHAN DATA
5.1 Hitunglah Modulus Puntir untuk masing-masing data
Tabel 3.5.1
Diameter Puly Diameter
No. Keterangan
Luas Dalam Batang
1. 0,1442 m 0,002 m 0,00445 m
2. 0,1441 m 0,00225 m 0,00445 m
3. 0,1444 m 0,00225 m 0,00445 m
D1 = {D luar – (2 x kedalaman)}
= {0,1442 – (2 x 0,002)}
= 0,1402 m
D2 = {D luar – (2 x kedalaman)}
= {0,1441 – (2 x 0,00225)}
= 0,1396 m
D3 = {D luar – (2 x kedalaman)}
= {0,1444 – (2 x 0,00225)}
= 0,1399 m
∑𝐷
Rata-rata = 𝑛
𝐷1 +𝐷2 +𝐷3
= 3
0,1402+0,1396+0,1399
= 3
= 0,1399 m
Mencari jari-jari pada puly
𝐷1 0,1402
R1 = = = 0,0701 m
2 2
𝐷2 0,1396
R2 = = = 0,0698 m
2 2
𝐷3 0,1399
R3 = = = 0,06995 m
2 2
RAHMAT KAUSAR MAULANA MUHAMMAD SYAHID
03120180021
PRAKTIKUM FISIKA DASAR
LABORATORIUM FISIKA DASAR
FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI
UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA
MODULUS PUNTIR
Mencari rata-rata jari-jari pada puly
∑𝐷 0,1399
R= = = 0,06995 m
2 2
Mencari diameter rata-rata batang
𝑑1 +𝑑2 +𝑑3 0,00445+0,00445+0,00445
d= = = 0,004451 m
𝑛 3
Mencari rata-rata jari-jari pada batang
𝑑 0,004451
R=2= = 0,002226 m
2
Tabel 3.5.2
No. W tetap (kg) L berubah (m) θ1 θ2
1. 4,050 0,1 20o 5o
2. 4,050 0,2 17o 5o
3. 4,050 0,3 14o 8o
W = m.g
σ = W.R = 4,050 . 0,002226 = 0,009015 kg.m
Mencari nilai θn
𝜋
θ1 = (θ tinggi – θ rendah) x 180 𝑟𝑎𝑑
𝜋
θ1 = (20 – 14) x 180 𝑟𝑎𝑑 = 0,104 rad
𝜋
θ2 = (8 – 5) x 180 𝑟𝑎𝑑 = 0,052 rad
Mencari Modulus Puntir
2𝜎. 𝐿
G1 = 𝜋.𝑟 4 .𝜃1
1
2.0,009015.0,1
= 𝜋.24,552 = 224.763.424
𝑥 10−12 .0,104
2𝜎. 𝐿
G2 = 𝜋.𝑟 4 .𝜃2
1
2.0,009015.0,2
= 𝜋.24,552 = 449.526.848
𝑥 10−12 .0,104
2𝜎. 𝐿
G3 = 𝜋.𝑟 4 .𝜃3
1
2.0,009015.0,3
= 𝜋.24,552 𝑥 10−12 .0,104
= 674.290.272
RAHMAT KAUSAR MAULANA MUHAMMAD SYAHID
03120180021
PRAKTIKUM FISIKA DASAR
LABORATORIUM FISIKA DASAR
FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI
UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA
MODULUS PUNTIR
2𝜎. 𝐿
G1 = 𝜋.𝑟 4 .𝜃1
2
2.0,009015.0,1
= 𝜋.24,552 = 449.526.847
𝑥 10−12 .0,052
2𝜎.𝐿
G2 = 𝜋.𝑟 4 .𝜃2
2
2.0,009015.0,2
= 𝜋.24,552 = 899.053.695
𝑥 10−12 .0,052
2𝜎. 𝐿
G3 = 𝜋.𝑟 4 .𝜃3
2
2.0,009015.0,3
= 𝜋.24,552 = [Link]
𝑥 10−12 .0,052
𝐺1 +𝐺2 +𝐺3 224.763.424+ 449.526.848+674.290.272
G rata-rata = = = 449.517.848
𝑛 3
𝐺1 +𝐺2 +𝐺3 449.526.847 +899.053.695+[Link]
G rata-rata = = = 899.053.695
𝑛 3
Dengan cara yang sama dapat pula dihitung G pada panjang batang yang
lain dan hasilnya pada tabel berikut :
Tabel 3.5.3
No L θ G G
1. 0,1 20o 224.763.424 449.526.847
2. 0,2 17o 449.526.848 899.053.695
3. 0,3 14o 674.290.272 [Link]
Tabel 3.5.4
No. W berubah (kg) L tetap (m) θ1 θ2
1. 1 0,35 5o 3o
2. 2,056 0,35 6o 3o
3. 3,056 0,35 10o 5o
W = m.g
∑𝐷 𝑑1 +𝑑2 +𝑑3 0,00445+0,00445+0,00445
D= = = = 0,004451 m
𝑛 𝑛 3
RAHMAT KAUSAR MAULANA MUHAMMAD SYAHID
03120180021
PRAKTIKUM FISIKA DASAR
LABORATORIUM FISIKA DASAR
FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI
UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA
MODULUS PUNTIR
𝜎𝑛 = 𝑊𝑛. 𝑅
𝜎1 = 𝑊1. 𝑅 = 1 . 0,002226 = 0,002226
𝜎2 = 𝑊2. 𝑅 = 2,056 . 0,002226 = 0,004576
𝜎3 = 𝑊3. 𝑅 = 3,056 . 0,002226 = 0,006802
Mencari nilai θn
𝜋
θn = (θ tinggi – θ rendah) x 180 𝑟𝑎𝑑
𝜋
θ1 = (5 – 3) x 180 𝑟𝑎𝑑 = 0,034 rad
𝜋
θ2 = (10 – 5) x 180 𝑟𝑎𝑑 = 0,087 rad
Mencari Modulus Puntir
2.𝜎 . 𝐿
Gn = 𝜋.𝑟 41.𝜃
1
2.𝜎 . 𝐿
G1 = 𝜋.𝑟 41.𝜃
1
2.0,002226.0,35
= 𝜋.24,552 = 594.165.642
𝑥 10−12 .0,034
2.𝜎 . 𝐿
G2 = 𝜋.𝑟 42.𝜃
1
2.0,004576.0,35
= 𝜋.24,552 = [Link]
𝑥 10−12 .0,034
2.𝜎 . 𝐿
G3 = 𝜋.𝑟 43.𝜃
1
2.0,006802.0,35
= 𝜋.24,552 = [Link]
𝑥 10−12 .0,034
2.𝜎 . 𝐿
G1 = 𝜋.𝑟 41.𝜃
2
2.0,002226.0,35
= 𝜋.24,552 = 232.202.664
𝑥 10−12 .0,087
2.𝜎 . 𝐿
G2 = 𝜋.𝑟 42.𝜃
2
2.0,004576.0,35
= 𝜋.24,552 = 477.340.248
𝑥 10−12 .0,087
2.𝜎 . 𝐿
G3 = 𝜋.𝑟 43.𝜃
2
2.006802.0,35
= 𝜋.24,552 = 709.542.913
𝑥 10−12 .0,087
RAHMAT KAUSAR MAULANA MUHAMMAD SYAHID
03120180021
PRAKTIKUM FISIKA DASAR
LABORATORIUM FISIKA DASAR
FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI
UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA
MODULUS PUNTIR
𝐺1 +𝐺2 +3 594.165.642+[Link] +[Link]
Rata-rata = = = [Link]
𝑛 3
𝐺1 +𝐺2 +3 232.202.664+477.340.248 +709.542.913
Rata-rata = = = 489.695.275
𝑛 3
Tabel 3.5.5
No. σ θ G G
1. 0,002226 5 594.165.642 232.202.664
2. 0,004576 6 [Link] 477.340.248
3. 0,006802 10 [Link] 709.542.913
5.2 Buatlah grafik antara sudut puntir dengan panjang pada batang
Persamaan garis linear :
Y = a.X ± b , dimana b = 0
Y = a.X
Tabel 3.5.6
No. L (x) θ (y) x.y x2
1. 0,1 20o 2 0,01
2. 0,2 17o 3,4 0,04
3. 0,3 14o 4,2 0,09
Ʃ 0,6 51 9,6 0,14
𝑁 (∑ 𝑥.𝑦)−(∑ 𝑥)(∑ 𝑦) 3(9,6)−(0,6)(51)
a= 2 = = -30
𝑁 (∑ 𝑥 2 )−(∑ 𝑥) 3(0,14)−(0,36)
Y1 = a.X1 = -30.0,1 = -3
Y2 = a.X2 = -30.0,2 = -6
Y3 = a.X3 = -30.0,3 = -9
Data grafik
Tabel 3.5.7
No. X Y
1. 0,1 -3
2. 0,2 -6
3. 0,3 -9
RAHMAT KAUSAR MAULANA MUHAMMAD SYAHID
03120180021
PRAKTIKUM FISIKA DASAR
LABORATORIUM FISIKA DASAR
FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI
UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA
MODULUS PUNTIR
𝑥max − 𝑥𝑚𝑖𝑛 0,3−0,1
Skala x = = = 0,066
𝑛 3
𝑦max − 𝑦𝑚𝑖𝑛 −3−(−9)
Skala y = = =2
𝑛 3
∆𝑦 2
Tan α = ∆𝑥 = 0,066 = 30,30
Tabel 3.5.8
No. L (x) θ (y) x.y x2
1. 0,1 5o 0,5 0,01
2. 0,2 5o 1 0,04
3. 0,3 8o 2,4 0,09
Ʃ 0,6 18 3,9 0,14
𝑁(∑ 𝑥.𝑦)−(∑ 𝑥)(∑ 𝑦) 3(3,9)−(0,6)(18)
a= 2 = = 15
𝑁 (∑ 𝑥 2 )−(∑ 𝑥) 3(0,14)−(0,36)
Y = a.x ± b
Y = a.x
Y1 = a.X1 = 15.0,1 = 1,5
Y2 = a.X2 = 15.0,2 = 3
Y3 = a.X3 = 15.0,3 = 4,5
Data grafik
Tabel 5.5.9
No. X Y
1. 0,1 1,5
2. 0,2 3
3. 0,3 4,5
𝑥max − 𝑥𝑚𝑖𝑛 0,3−0,1
Skala x = = = 0,066
𝑛 3
𝑦max − 𝑦𝑚𝑖𝑛 4,5−1,5
Skala y = = =1
𝑛 3
∆𝑦 1
Tan α = ∆𝑥 = 3 = 0,333
RAHMAT KAUSAR MAULANA MUHAMMAD SYAHID
03120180021
PRAKTIKUM FISIKA DASAR
LABORATORIUM FISIKA DASAR
FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI
UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA
MODULUS PUNTIR
TEORI KETIDAKPASTIAN
2𝜎.𝐿 2.0,009015.0,1
G = 𝜋.𝑟 4 .𝜃 = 𝜋.24,552 = 224.763.424
𝑥 10−12 .0,104
𝛿 2 𝛿 2 𝛿 2 𝛿 2
∆G = √(𝛿𝐺 ) . (∆𝜎)2 + ( 𝛿𝐺 ) . (∆𝐿)2 + ( 𝛿𝐺 ) . (∆𝑟)2 + (𝛿𝐺 ) . (∆𝜃)2
𝜎 𝐿 𝑟 𝜃
𝛿𝐺 𝑢′ .𝑣−𝑢.𝑣′ (2.0,1)(𝜋.24,552 𝑥 10−12 .0,104)−0
1. 𝛿𝜎 = = = 2,493216 x 1010
𝑣2 64,34875887.10−24
σ = W.R
𝛿𝐺 𝛿𝐺 2 2
2. ∆𝜎 = √(𝛿𝑊) . (∆𝑊)2 + ( 𝛿𝑟 ) . (∆𝑟)2
𝛿𝜎
= u’v + v’u = 0,002226 + 0 = 0,002226
𝛿𝑊
W = m.g
𝛿𝑊 2
∆𝑊 = √(𝛿𝑚 ) . (∆𝑚)2 = 0,01
𝛿𝑊
= u’v + v’u = 1.10 + 0 = 10
𝛿𝑚
1
∆m = 2 𝑥 𝑠𝑘𝑎𝑙𝑎 𝑡𝑒𝑟𝑘𝑒𝑐𝑖𝑙
= ½ x 10-3
= 0,0005
𝛿𝜎
= u’v + v’u = 0 + 1.4,050 = 4,050
𝛿𝑅
(𝑅 − 𝑅1 )2 + (𝑅 − 𝑅2 )2 + (𝑅 − 𝑅3 )2
∆𝑅 = √
𝑛 − (𝑛 − 1)
(0,06995 − 0,0701)2 +(0,06995 − 0,0698)2 +(0,06995 −0,06995)2
= √ 3−(3−1)
2,25.10−8 +2,25.10−8 +0
=√ = 2,1213 x 10-4
1
𝛿𝜎 2 𝛿𝜎 2
√
∆𝜎 = ( ) . (∆𝑊) + ( ) . (∆𝑅)2
2
𝛿𝑊 𝛿𝑅
RAHMAT KAUSAR MAULANA MUHAMMAD SYAHID
03120180021
PRAKTIKUM FISIKA DASAR
LABORATORIUM FISIKA DASAR
FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI
UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA
MODULUS PUNTIR
= √4,955076 𝑥 10−6 . 1 𝑥 10−4 + 16,4025.4,5 𝑥 10−8
= 8,59423 x 10-4
𝛿𝐺
3. 𝛿𝐿 = u’v + v’u = 2,2476 x 109
1
4. ∆m = 2 𝑥 𝑠𝑘𝑎𝑙𝑎 𝑡𝑒𝑟𝑘𝑒𝑐𝑖𝑙
= ½ x 10-3
= 0,0005
𝛿𝐺
5. = u’v + v’u = -4,039 x 1011
𝛿𝑟
(𝑅−𝑅1 )2 +(𝑅−𝑅2 )2 +(𝑅−𝑅3 )2
6. ∆𝑅 = √ = 2,1213 x 10-4
𝑛−(𝑛−1)
𝛿𝐺
7. = u’v + v’u = 2,161186 x 109
𝛿𝜃
(𝜃−𝜃1 )2 +(𝜃−𝜃2 )2 +(𝜃−𝜃3 )2
8. ∆𝜃 = √ 𝑛−(𝑛−1)
(17−20)2 +(17−17)2 +(17−14)2
=√ 3−(3−1)
9+0+9
=√ = 4,2426
1
Maka,
𝛿𝐺 2 𝛿𝐺 2 𝛿𝐺 2 𝛿𝐺 2
∆G = √( ) . (∆𝜎)2 + ( ) . (∆𝐿)2 + ( ) . (∆𝑟)2 + ( ) . (∆𝜃)2
𝛿𝜎 𝛿𝐿 𝛿𝑟 𝛿𝜃
21,427271 𝑥 1012 + 126,292644 𝑥 1012 + 7340,943648 𝑥 1012
√
+ 19816017,57 𝑥 1012
= 4.452,3596 x 106
Maka,
2𝜎 2.0,009015
G = 𝜋.𝑟 4 .tan 𝛼 = 𝜋.24,552 = 771465,2174
𝑥 10−12 .30,30
∆𝐺 4.452,3596 x 106
KR = 2(𝐺+∆𝐺) 𝑥 100% = 2(771465,2174+4.452,3596 x 106) = 0,002869
KB = 100% - KR = 100% - 0,002869 = 99,997 %
RAHMAT KAUSAR MAULANA MUHAMMAD SYAHID
03120180021
PRAKTIKUM FISIKA DASAR
LABORATORIUM FISIKA DASAR
FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI
UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA
MODULUS PUNTIR
BAB VI
ANALISA DAN PEMBAHASAN
6.1 Tabel Rekapitulasi Perhitungan
Beban tetap, Panjang batang berubah
No W (kg) L (m) θ1 θ2 G G
1. 4,050 0,1 20o 5o 224.763.424 449.526.847
2. 4,050 0,2 17o 5o 449.526.848 899.053.695
3. 4,050 0,3 14o 8o 674.290.272 [Link]
Beban berubah, Panjang batang tetap
No σ
W (kg) L (m) θ1 θ2 G G
(10-3)
1. 1 0,35 5o 3o 2,226 594.165.642 232.202.664
2. 2,056 0,35 6o 3o 4,576 [Link] 477.340.248
3. 3,056 0,35 10o 5o 6,802 [Link] 709.542.913
6.2 Pembahasan
Berdasarkan data tersebut dapat disimpulkan bahwa hubungan atau
pengaruh periode dan panjang kawat terhadap konstanta puntir yaitu
semakin besar periode osilasi maka konstanta puntirnya semakin kecil.
Dalam hal ini periode osilasi berbanding terbalik dengan konstanta puntir.
Adapun pengaruh panjang tali dan periode terhadap modulus geser yaitu
semakin panjang tali maka modulus gesernya akan semakin besar, karena
panjang kawat berbanding lurus dengan modulus geser. Sedangkan semakin
besar periode osilasi maka modulus gesernya akan semakin kecil karena
periode osilasi berbanding terbalik dengan modulus geser. Dan pula
pengaruh konstanta puntir terhadap modulus geser yaitu semakin besar
konstanta puntir maka modulus geser juga semakin besar.
RAHMAT KAUSAR MAULANA MUHAMMAD SYAHID
03120180021
PRAKTIKUM FISIKA DASAR
LABORATORIUM FISIKA DASAR
FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI
UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA
MODULUS PUNTIR
BAB VII
PENUTUP
6.1 Kesimpulan
Setelah mengikuti proses praktikum pesawat atwood saya menarik
kesimpulan bahwa :
1. Modulus geser adalah bilangan yang menggambarkan perubahan
benda yang elastis, atau suatu konstanta yang menyatakan besarnya
gaya yang diperlukan untuk memuntir suatu bahan per satuan luar
tiap satu derajat.
2. Pada percobaan ini terlihat pada saat batang ditambahkan beban
maka logam akan memuntir dan pada saat dikurangi beban maka
tidak akan langsung kembali ke posisi awal, karena batang tersebut
mempunyai daya elastisitas sehingga saat dibebani partikel-partikel
pada batang tersebut akan bertambah.
3. Puntiran diteruskan ke arah memanjang maksudnya adalah bahwa di
semua tempat di sepanjang batang mengalami puntiran. Hal ini
disebabkan karena setiap batang memiliki daya elastisitasnya
masing-masing. Semakin mendekati beban maka daya puntiran
batang akan semakin besar. Hal ini ditandai dengan simpangan pada
busur derajat akan semakin besar bila mendekati beban.
7.2 Saran
1. Saran Untuk Asisten
Cara menjelaskan sudah bagus dan untuk ke depannya agar lebih
baik lagi.
2. Saran Untuk Laboratorium
Dalam praktikum kedepannya agar bisa lebih baik dalam
memfasilitasi praktikan agar merasa aman dan nyaman saat praktikum
berlangsung.
RAHMAT KAUSAR MAULANA MUHAMMAD SYAHID
03120180021
PRAKTIKUM FISIKA DASAR
LABORATORIUM FISIKA DASAR
FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI
UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA
MODULUS PUNTIR
7.3 Ayat yang berhubungan
“Dan sesungguhnya Kami telah mengulang-ulangi bagi manusia
dalamAl-Qur‘an ini bermacam-macam perumpamaan. Dan manusia adalah
mahluk yang paling banyak membantah. (Al Kahfi :54)
RAHMAT KAUSAR MAULANA MUHAMMAD SYAHID
03120180021
PRAKTIKUM FISIKA DASAR
LABORATORIUM FISIKA DASAR
FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI
UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA
MODULUS PUNTIR
DAFTAR PUSTAKA
Abdullah, Micrajuddin, 2016. Fisika Dasar I. Bandung : Intitut Teknologi
Bandung
Asdak, C, 2018. Hidrologi dan Pengolahan Daerah Aliran Sungai. Yogyakarta:
Gadjah Mada University Press
High School Student Studying The Sciences Physics Greades 10-12 FHHST
Holzner, Steven, 2006. Phisisc for Dummies. Indiana: Wiley Publishing, Inc.
Horner, Mark, et all., 2008. The Free High School Sciense Texst: textbook for
Tsokas, K.A., 2011. Physics and Physical Measurement – Core. Cambirdge
Univesity Press
RAHMAT KAUSAR MAULANA MUHAMMAD SYAHID
03120180021