0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
184 tayangan124 halaman

Pengetahuan dan Kesiapsiagaan Bencana

Skripsi ini membahas hubungan antara pengetahuan dengan kesiapsiagaan bencana pada mahasiswa keperawatan Universitas Diponegoro. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat pengetahuan dan kesiapsiagaan bencana mahasiswa serta hubungan antara keduanya. Manfaatnya adalah untuk meningkatkan pengetahuan dan kesiapsiagaan bencana di kalangan mahasiswa keperawatan.

Diunggah oleh

Iman Ismail
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
184 tayangan124 halaman

Pengetahuan dan Kesiapsiagaan Bencana

Skripsi ini membahas hubungan antara pengetahuan dengan kesiapsiagaan bencana pada mahasiswa keperawatan Universitas Diponegoro. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat pengetahuan dan kesiapsiagaan bencana mahasiswa serta hubungan antara keduanya. Manfaatnya adalah untuk meningkatkan pengetahuan dan kesiapsiagaan bencana di kalangan mahasiswa keperawatan.

Diunggah oleh

Iman Ismail
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

HUBUNGAN ANTARA PENGETAHUAN DENGAN

KESIAPSIAGAAN BENCANA PADA MAHASISWA


KEPERAWATAN UNIVERSITAS DIPONEGORO

SKRIPSI
Disusun untuk Memenuhi Salah Satu Tugas Mata Ajar Skripsi

Oleh:
RANA ROFIFAH
NIM. 22020114130117

DEPARTEMEN ILMU KEPERAWATAN


FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS DIPONEGORO
SEMARANG, 2019

i
SURAT PERNYATAAN PUBLIKASI KARYA ILMIAH
Yang bertanda tangan dibawah ini, saya :
Nama : Rana Rofifah
NIM : 22020114130117
Fakultas/Jurusan : Kedokteran/Keperawatan
Jenis : Skripsi
Judul : Hubungan Antara Pengetahuan dengan Kesiapsiagaan
Bencana Pada Mahasiswa Keperawatan Universitas
Diponegoro

Dengan ini menyatakan bahwa saya menyetujui untuk :

1. Memberikan hak bebas royalty kepada Perpustakaan Departemen


Keperawatan Undip atas penulisan karya ilmiah saya, demi pengembangan
ilmu pengetahuan
2. Memberikan hak menyimpan, mengalih mediakan/mengalih formatkan,
mengelola dalam bentuk pangkalan data (data base), mendistribusikannya,
serta menampilkan dalam bentuk soft copy untuk kepentingan akademis
kepada Perpustakaan Departemen Keperawatan Undip, tanpa perlu
meminta ijin dari saya selama tetap mencantumkan nama saya sebagai
penulis/pencipta
3. Bersedia dan menjamin untuk menanggung secara pribadi tanpa
melibatkan pihak Perpustakaan Departemen Keperawatan Undip dari
semua bentuk tuntutan hukum yang timbul atas pelanggaran hak cipta
dalam karya ilmiah ini

Demikian pernyataan ini saya buat dengan sesungguhnya dan semoga dapat
digunakan sebagaimana mestinya.

Semarang, Februari 2019

Yang Menyatakan

Rana Rofifah

ii
PERNYATAAN BEBAS PLAGIARISME

Nama : Rana Rofifah

Tempat/Tanggal Lahir : Kulonprogo, 6 Juni 1997

Alamat Rumah : Rejoso (RT22/RW07), Wijimulyo, Nanggulan,


Kulonprogo, DIY

Nomor Telepon : 0859138841515

Email : ranarofifah6697@[Link]

Dengan ini menyatakan dengan sesungguhnya bahwa penelitian saya yang


berjudul “Hubungan Antara Pengetahuan dengan Kesiapsiagaan Bencana Pada
Mahasiswa Keperawatan Universitas Dponegoro” bebas dari plagiarism dan
bukan hasil karya orang lain.

Apabila di kemudian hari ditemukan sebagian atau seluruh bagian penelitian dan
karya ilmiah dari hasil-hasil penelitian tersebut terdapat indikasi plagiarism saya
bersedia menerima sanksi sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang
berlaku.

Demikian pernyataan ini dibuat dalam keadaan sadar tanpa unsur paksaan dari
siapapun.

Semarang, Februari 2019

Yang Menyatakan

Rana Rofifah

iii
iv
v
KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Allah SWT atas limpahan rahmat, hidayah dan

karunia-Nya kepada peneliti sehingga dapat menyelesaikan penyusunan skripsi

dengan judul “Hubungan Antara Pengetahuan dengan Kesiapsiagaan

Bencana Pada Mahasiswa Keperawatan Universitas Diponegoro”. Shalawat

serta salam tidak lupa peneliti junjungkan kepada Nabi besar Muhammad SAW

beserta seluruh kelurga dan sahabatnya.

Skripsi ini disusun sebagai salah satu persyaratan untuk mencapai Sarjana

Keperawatan di Departemen Keperawatan Fakultas Kedokteran Universitas

Diponegoro Semarang serta untuk memberikan informasi kepada pembaca

mengenai penelitian yang dilaksanakan.

Dalam penyusunan skripsi ini, peneliti tidak terlepas dari dukungan moril

maupun materil berbagai pihak. Oleh karena itu peneliti mengucapkan

terimakasih atas kerjasama dan dukungan yang telah diberikan. Peneliti

menyadari bahwa dalam penyusunan skripsi ini masih jauh dari kesempurnaan

dan masih terdapat banyak kekurangan. Kritik dan saran dari pembaca sangat

peneliti harapkan. Semoga skripsi ini dapat bermanfaat bagi pengembangan ilmu

pengetahuan khususnya ilmu keperawatan.

Semarang, Februari 2019

Peneliti

vi
UCAPAN TERIMAKASIH

Puji syukur kehadirat Allah SWT atas limpahan rahmat dan kasih

sayangNya sehingga peneliti mampu menyelesaikan penyusunan skripsi. Dalam

penyusunan skripsi ini peneliti banyak mendapat bantuan dan perhatian dari

berbagai pihak. Untuk itu pada kesempatan ini peneliti ingin menyampaikan

terima kasih kepada :

1. Allah SWT yang telah memberikan kemudahan dan kelancaran dalam

penyusunan skripsi.

2. Kedua orang tua serta keluarga yang senantiasa mendoakan dan

memberikan motivasi dalam menyelesaikan proposal skripsi ini.

3. Responden mahasiswa Departemen Ilmu Keperawatan Universitas

Diponegoro yang telah berkenan untuk diminta untuk mengisi kuisioner

4. Bapak Dr. Untung Sujianto, [Link]., [Link] selaku Ketua Departemen Ilmu

Keperawatan Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro.

5. Ibu Sarah Ulliya, [Link]., [Link] selaku Ketua Program Studi S-1 Ilmu

Keperawatan, Fakultas Kedokteran, Universitas Diponegoro.

6. Ibu Ns. Nana Rochana, S. Kep., MN selaku dosen pembimbing skripsi

yang telah memberikan motivasi, saran, dukungan, waktu, kesabaran dan

arahan selama proses penyusunan skripsi.

7. Bapak Ns. Dody Setyawan, [Link]., [Link] selaku penguji I yang telah

menyediakan waktu untuk melaksanakan ujian skripsi.

8. Bapak Agus Santoso, [Link]., [Link] selaku penguji II yang telah

menyediakan waktu untuk melaksanakan ujian skripsi.

vii
9. Bapak Muhammad Hasib Ardani, [Link]., [Link] selaku dosen wali yang

selalu memberikan dukungan dan semangat.

10. Seluruh civitas akademika Departemen Ilmu Keperawatan yang telah

memberikan fasilitas dengan baik.

11. Pihak Departemen Ilmu Keperawatan Universitas Diponegoro yang

berkenan memberikan ijin untuk studi pendahuluan.

12. Motivator saya, Feranika, Vita, Ana, Amel, Liliana, Mbak Lala, Mbak

Tya, Mbak Hayu, Anggi, dan Fanni serta teman-teman lainnya yang tidak

dapat saya sebutkan satu persatu serta Tara dan Putri yang senantiasa

berproses bersama.

13. Semua pihak yang telah membantu dalam proses penyusunan skripsi.

Peneliti menyadari dalam penyusunan skripsi terdapat banyak

kekurangan. Kritik dan saran yang bersifat membangun peneliti sangat

diharapkan. Semoga skripsi saya dapat bermanfaat dan menambah

wawasan.

Semarang, Februari 2019

Rana Rofifah

viii
DAFTAR ISI

SURAT PERNYATAAN PUBLIKASI KARYA ILMIAH .................................... i


PERNYATAAN BEBAS PLAGIARISME ........................................................... iii
LEMBAR PERSETUJUAN................................... Error! Bookmark not defined.
LEMBAR PENGESAHAN ................................... Error! Bookmark not defined.
KATA PENGANTAR ........................................................................................... vi
UCAPAN TERIMAKASIH .................................................................................. vii
DAFTAR ISI .......................................................................................................... ix
DAFTAR TABEL ................................................................................................. xii
DAFTAR GAMBAR ........................................................................................... xiii
DAFTAR LAMPIRAN ........................................................................................ xiv
ABSTRAK .............................................................................................................xv
ABSTRACT ......................................................................................................... xvi
BAB I PENDAHULUAN ........................................................................................1
A. Latar Belakang ................................................................................................1
B. Rumusan Masalah ...........................................................................................5
C. Tujuan Penelitian .............................................................................................6
D. Manfaat............................................................................................................6
BAB II TINJAUAN PUSTAKA..............................................................................8
A. Bencana ...........................................................................................................8
B. Klasifikasi Bencana .........................................................................................9
C. Pengetahuan ...................................................................................................18
D. Tingkat Pengetahuan .....................................................................................19
E. Faktor yang mempengaruhi pengetahuan ......................................................21
F. Kerangka Teori ..............................................................................................23
BAB III METODE PENELITIAN.........................................................................24

ix
A. Hipotesis Penelitian .......................................................................................24
B. Jenis dan Rancangan Penelitian.....................................................................25
C. Populasi dan Sampel Penelitian ....................................................................25
D. Besar Sampel .................................................................................................26
E. Tempat Penelitian ..........................................................................................29
F. Waktu Penelitian ............................................................................................29
G. Variabel Penelitian ........................................................................................30
H. Alat Penelitian dan Cara Pengumpulan Data ................................................33
1. Alat Penelitian ................................................................................................33
I. Teknik Pengolahan dan Analisa Data .............................................................37
J. Etika Penelitian ...............................................................................................40
BAB IV HASIL PENELITIAN .............................................................................44
A. Karakteristik Responden ...............................................................................44
B. Gambaran Pengetahuan Mahasiswa Keperawatan Tentang Bencana ...........45
C. Gambaran Pengetahuan Mahasiswa Keperawatan Tentang Resiko
Bencana di Lingkungan Kampus .......................................................................49
D. Gambaran Kesiapsiagaan Mahasiswa Keperawatan Menghadapi
Bencana Dalam Kehidupan Sehari-hari ............................................................49
E. Hubungan Antara Tingkat Pengetahuan dengan Tingkat
Kesiapsiagaan Bencana ......................................................................................51
BAB V PEMBAHASAN ......................................................................................53
A. Gambaran Pengetahuan Mahasiswa Keperawatan Tentang
Kesiapsiagaan Bencana ......................................................................................53
B. Gambaran Sikap Kesiapsiagaan Bencana Pada Mahasiswa Keperawatan....55
C. Hubungan antara Pengetahuan dan Sikap Kesiapsiagaan
Menghadapi Bencana .........................................................................................57
D. Keterbatasan Penelitian .................................................................................59

x
BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN ..............................................................60
A. Kesimpulan ...................................................................................................60
B. Saran ..............................................................................................................60
DAFTAR PUSTAKA ............................................................................................62
LAMPIRAN ...........................................................................................................67

xi
DAFTAR TABEL
Nomor
Judul Tabel Halaman
Tabel
3.1 Penghitungan Jumlah Sampel Tiap Kelas 29
3.2 Variabel Penelitian, Definisi Operasional, dan Skala 31
Pengukuran
3.3 Kisi-kisi Kuesioner 33
3.4 Skoring Jawaban 34
4.1 Karakteristik Responden 44
4.2 Gambaran Pengetahuan Mahasiswa Keperawatan Tentang 46
Bencana
4.3 Gambaran Sebaran Item Pengetahuan Mahasiswa 46
Keperawatan Tentang Bencana
Gambaran Pengetahuan Mahasiswa Keperawatan Tentang
4.4 Resiko Bencana di Lingkungan Kampus 49
Gambaran Kesiapsiagaan Mahasiswa Keperawatan
4.5 Menghadapi Bencana Dalam Kehidupan Sehari-hari 50
Gambaran Sebaran Item Kesiapsiagaan Mahasiswa
4.6 Keperawatan Menghadapi Bencana Dalam Kehidupan 50
Sehari-hari
Hubungan Antara Tingkat Pengetahuan dengan Tingkat
4.7 Kesiapsiagaan Bencana 51

xii
DAFTAR GAMBAR

Gambar 1 . Siklus Bencana dan Manajemen Penanggulangan Bencana. 22...........13


Gambar 2 . Kerangka Teori2, 21-38 ...........................................................................23
Gambar 3 . Kerangka Konsep ................................................................................24

xiii
DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1. Permohan Ijin Penggunaan Kuisioner


Lampiran 2. Lembar Persetujuan Sebagai Responden dan Kuisioner Penelitian
Lampiran 3. Permohonan Izin Pengambilan Data Awal
Lampiran 4. Permohonan Izin Pengajuan Ethical Clearence
Lampiran 5. Ethical Approval
Lampiran 6. Surat Izin Pengambilan Data
Lampiran 7. Hasil Penelitian
Lampiran 8. Lembar Konsultasi
Lampiran 9. Lembar Kemajuan Penelitian

xiv
Program Studi Sarjana Keperawatan
Departemen Ilmu Keperawatan
Fakultas Kedokteran
Universitas Diponegoro
Februari, 2019

ABSTRAK
Rana Rofifah
HUBUNGAN ANTARA PENGETAHUAN DENGAN KESIAPSIAGAAN
BENCANA PADA MAHASISWA KEPERAWATAN UNIVERSITAS
DIPONEGORO
xvi + 65 Halaman + 11 Tabel + 3 Gambar + 9 Lampiran

Indonesia merupakan negara yang rawan dilanda bencana. Bencana dapat terjadi
kapan saja dan dimana saja. Mahasiswa keperawatan merupakan calon perawat
yang berperan melakukan tugasnya dalam segala situasi termasuk bencana.
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan antara pengetahuan
dengan kesiapsiagaan bencana pada mahasiswa. Penelitian ini merupakan
penelitian korelasi kuantitatif dengan pendekatan cross sectional. Teknik
sampling yang digunakan adalah purporsive sampling, yaitu 246 mahasiswa
Departemen Ilmu Keperawatan Undip. Pengambilan data dilakukan dengan
membagikan kuisioner. Analisis data menggunakan uji Chi Square. Hasil
penelitian menunjukkan mayoritas mahasiswa memiliki tingkat pengetahuan
kurang baik (52,8%) dan memiliki tingkat kesiapsiagaan bencana kurang baik
(70,3%). Hasil analisa bivariat menunjukkan terdapat hubungan yang signifikan
antara pengetahuan dengan kesiapsiagaan bencana ρ = 0.000 (ρ<0.05) Hasil
penelitian menyimpulkan bahwa semakin baik pengetahuan mahasiswa maka
akan semakin baik kesiapsiagaan bencananya. Pengembangan mata kuliah
Keperawatan Bencana diperlukan untuk meningkatkan pengetahuan dan
kesiapsiagaan menghadapi bencana.

Kata kunci: Pengetahuan, Kesiapsiagaan Bencana, Mahasiswa Keperawatan


Referensi: 56 (2000-2018)

xv
School of Nursing
Department of Nursing Science
Faculty of Medicine
Diponegoro University
February, 2019

ABSTRACT
Rana Rofifah
THE RELATION BETWEEN KNOWLEDGE WITH DISASTER
PREPAREDNESS ON NURSING STUDENT OF DIPONEGORO
UNIVERSSITY
xvi + 65 Pages + 11 Tables + 3 Pictures + 9 Appendices

Indonesia is a country that is prone to disasters. Disaster can occur every time and
everywhere. Nursing students are prospective nurses who play a role in carrying
out their responsibilities in every situation including disasters. The purpose of this
study was to determine the relationship between knowledge and disaster
preparedness to students. This research method was descriptive quantitative with a
survey approach. The sampling technique used purposive sampling. Total
respondents were 246 students from the Nursing Department at Diponegoro
University. Data retrieval was done by distributing a questionnaire. Data analysis
used the Chi-Square test. The results showed that the majority of students had a
lower level of knowledge (52,8%) and had a lower level of disaster preparedness
(70,3%). The results of the bivariate analysis showed that there was a significant
relationship between knowledge and disaster preparedness ρ = 0.002 (ρ <0.05).
Suggesting that the better the knowledge of students, the better disaster
preparedness will be. Development of Disaster Nursing courses is needed to
increase the level of knowledge and disaster preparedness on nursing students.
Keywords: Knowledge, Disaster Preparedness, Nursing Student
References: 56 (2000-2018)

xvi
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Indonesia merupakan salah satu negara yang dilalui oleh sirkum

pegunungan Pasifik dan Mediterania yang mempengaruhi kondisi topografi

Indonesia. Selain itu Indonesia secara astronomis terletak pada garis

katulistiwa yang mempengaruhi iklim dan cuaca seperti musim hujan dan

kemarau. Kondisi geografis tersebut mengakibatkan Indonesia merupakan

salah satu negara yang rawan terkena bencana yang menimbulkan kerugian

baik korban jiwa, gangguan psikologis, dan kerusakan harta benda. 1,2

Indonesia telah mengalami berbagai bencana pada kurun waktu 2013-

2018. Menurut data dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) 3

tercatat telah terjadi 105 kasus gempa bumi, 3.179 kasus puting beliung, dan

40 kasus letusan gunung berapi. Selain bencana alam Indonesia juga

mengalami kasus bencana non alam seperti kebakaran sebanyak 22 kasus,

kecelakaan transportasi sebanyak 152 kasus, dan 10 kasus kerusuhan sosial.3

Provinsi Jawa Tengah menduduki peringkat pertama wilayah yang

mengalami bencana terbanyak di Indonesia dalam kurun waktu tahun 2013 –

2018 yang disusul oleh Provinsi Jawa Barat dan Jawa Timur. 4

Bencana alam maupun non alam dapat terjadi dimana saja dan kapan

saja termasuk pada lingkungan pendidikan seperti universitas. Bencana yang

terjadi di lingkungan universitas di Indonesia anatara lain angin puting

1
2

beliung di kampus UIN SUSKA Riau yang menyebabkan kerusakan pada

gedung rektorat dan masjid kampus pada tahun 2017.5 Gempa bumi yang

terjadi di Ambon pada bulan November tahun 2017 mengakibatkan rusaknya


6
gedung Fakultas Kedokteran dan Fakultas Pertanian Universitas Pattimura.

Bencana lain yang terjadi adalah kebakaran di Gedung Fakultas Teknologi

Pertanian IPB, Bogor pada tahun 2017 yang menghanguskan 2 ruangan

laboratorium kejadian ini disebakan oleh konsleting listrik.7 Kebakaran juga

terjadi di Gedung Rektorat Unimal (Universitas Malikussaleh)

Lohkseumawe, Aceh yang sengaja dibakar oleh salah satu oknum pegawai

honorer.8 Selain itu kebakaran juga menghanguskan Asrama Mahasiswa

UHO (Universitas Halu Oleo) Kendari, Sulawesi Tenggara yang diakibatkan

oleh api dari kompor gas yang menjalar ke dinding yang terbuat dari kayu

pada awal tahun 2018.9

Universitas Diponegoro yang berlokasi di Kecamatan Tembalang,

Kota Semarang memiliki potensi mengalami bencana kebakaran dan gempa

bumi,.10 Guncangan gempa bumi dengan kekuatan 7,3 SR yang berpusat di

Tasikmalaya terasa hingga di Kota Semarang pada tahun 2017.11 Selain itu,

terjadi kebakaran akibat konsleting listrik pada ruko di wilayah kampus

Universitas Diponegoro yang menyebabkan satu korban jiwa pada tahun

2016. 12

Merujuk pada peristiwa bencana diatas maka diperlukannya

pengetahuan terkait disaster preparedness oleh setiap individu maupun

komunitas. Kesiapsiagaan adalah serangkaian kegiatan yang dilakukan untuk


3

mengantisipasi bencana melalui pengorganisasian serta melalui langkah yang

tepat guna dan berdaya guna sehingga mampu mengurangi dampak yang

buruk dari bencana tersebut baik kerusakan fisik maupun korban jiwa. 2, 13

Terdapat beberapa hal pada kesiapan bencana diantaranya

pengetahuan personal, komunitas yang berhubungan dengan mitigasi bencana

dan ketentuannya. Hal lain yang diperlukan ialah pendidikan kebencanaan

berupa sosialisasi, pelatihan, maupun melalui pendidikan formal, tanggap

bencana, sistem peringatan dini bencana. Beberapa hal tersebut menjadi dasar

pengetahuan terkait bencana yang perlu diketahui oleh individu dan

komunitas. 13

Mahasiswa keperawatan merupakan calon perawat yang akan

melayani masyarakat. Profesi keperawatan bersifat luwes dan mencakup

segala kondisi, tidak terbatas pada pemberian asuhan di rumah sakit namun

juga dituntut mampu bekerja dalam kondisi siaga tanggap bencana. Situasi

penanganan antara keadaan siaga dan keadaan normal memang sangat

berbeda, sehingga perawat harus mampu secara keterampilan dan teknik

dalam menghadapi kondisi seperti ini.14 Perlunya persiapan baik secara

pengetahuan dan ketrampilan pada mahasiswa keperawatan untuk

menghadapi kondisi bencana sesuai dengan kompetensi yang telah diatur

oleh World Health Organization (WHO) dan The International Council of

Nurse (ICN) pada tahun 2009.15


4

Sebelumnya telah dilakukan penelitian terkait tingkat pengetahuan


16
tentang bencana pada pelajar. Usher dan Mayner melakukan penelitian

pada mahasiswa Keperawatan di 39 intitusi pendidikan di Australia pada

tahun 2011. Penelitian ini menunjukkan bahwa 32% intitusi pendidikan yang

memberikan mata kuliah kebencanaan.16 Pangestu 17


pada tahun 2012 juga

telah melakukan penelitian pada mahasiswa Keperawatan Universitas

Indonesia yang menunjukkan hasil bahwa pengetahuan baik pada 95%

reponden namun 99% responden belum mengaplikasikan kesiapan bencana.17

18
Pada tahun 2017 telah dilakukan penelitian serupa oleh Rahayu

kepada mahasiswa Program Studi Ilmu Keperawatan Universitas

Muhammadiyah Yogyakarta. Penelitian tersebut melaporkan tingkat

pengetahuan mahasiswa tentang gempa bumi pada kategori tinggi namun

memiliki tingkat kesiapsiagaan yang rendah dalam menghadapi bencana

gempa bumi.18 Kurniawati 19 melakukan penelitian pada mahasiswa Program

Studi Pendidikan Geografi di Universitas Kanjuruhan Malang tahun 2017

mendapatkan hasil bahwa tingkat pengetahuan responden dan tingkat

kesiapan menghadapi bencana masih kurang.19

Beberapa penelitian telah dilakukan terkait pengetahuan dan tingkat

kesiapsiagaan menghadapi bencana namun belum terdapat penelitian terkait

yang menganalisis hubungan antara pengetahuan dengan tingkat

kesiapsiagaan pada mahasiswa keperawatan. Peneliti tertarik melakukan

penelitian tersebut.
5

Setelah dilakukan studi pendahuluan terhadap 6 mahasiswa

Departemen Keperawatan pada tanggal 2 Juli 2018 didapatkan hasil bahwa

tingkat pengetahuan mahasiswa terkait kebencanaan baik namun

pengaplikasian kesiapsiagaan bencana masih kurang karena kurang

memahami beberapa fasilitas yang tersedia di lingkungan kampus dan

perlengkapan yang dipersiapkan untuk menghadapi bencana. Penelitian

terkait kesiapan bencana pada mahasiswa Keperawatan masih terbatas, maka

diperlukannya penelitian terkait hubungan tingkat pegetahuan dan tingkat

kesiapsiagaan mahasiswa Keperawatan dalam menghadapi bencana.

Kurikulum pendidikan yang diterapkan di Departemen Keperawatan

saat ini terdapat mata ajar Disaster Nursing and Trauma Healing atau

Keperawatan Bencana. Bahan kajian pada mata ajar tersebut adalah

manajemen pada fase sebelum dan sesudah bencana, terapi trauma untuk

berbagai rentang usia dan grup. 20

B. Rumusan Masalah

Bencana alam maupun non alam dapat terjadi dimana saja dan kapan

saja termasuk pada lingkungan pendidikan seperti universitas. Universitas

Diponegoro yang berlokasi di Kecamatan Tembalang, Kota Semarang

memiliki potensi mengalami bencana. Mahasiswa keperawatan yang

merupakan calon perawat yang menjalankan tugas dalam segala kondisi

termasuk bencana. Telah dilakukan beberapa penelitian terkait pengetahuan

dan kesiapsiagaan menghadapi bencana pada beberapa instansi pendidikan


6

keperawatan dengan hasil pengetahun mahasiswa terkait bencana baik namun

kesiapsiagaan menghadapi bencana masih pada kategori kurang Berdasarkan

penjelasan diatas peneliti bermaksud untuk melakukan penelitian serta

menganalisis, “Hubungan Antara Pengetahuan dengan Tingkat Kesiapsiagaan

Bencana pada Mahasiswa Departemen Ilmu Keperawatan Universitas

Diponegoro”.

C. Tujuan Penelitian

1. Tujuan Umum

Penelitian ini untuk mengetahui hubungan antara pendidikan

kebencanaan dengan tingkat kesiapsiagaan bencana pada mahasiswa

Departemen Ilmu Keperawatan Universitas Diponegoro.

2. Tujuan Khusus

a. Mengidentifikasi tingkat pengetahuan mahasiswa Departemen Ilmu

Keperawatan tentang manajemen bencana.

b. Mengidentifikasi tingkat kesiapsiagaan mahasiswa Departemen

Keperawatan dalam menghadapi bencana.

c. Menganalisis hubungan antara tingkat pengetahuan dan tingkat

kesiapsiagaan mahasiswa Departemen Ilmu Keperawatan dalam

menghadapi bencana.

D. Manfaat

1. Bagi Institusi

Dapat mengetahui hubungan antara pendidikan kebencanaan

dengan kesiapan bencana pada mahasiswa Departemen Ilmu Keperawatan


7

Universitas Diponegoro. Selain itu, dapat mengetahui ancaman bencana

yang dapat terjadi di lingkungan universitas untuk menindaklanjuti

pemberian edukasi serta sarana dan prasana terkait persiapan menghadapi

bencana.

2. Bagi Mahasiswa

Dapat mengetahui hubungan antara pendidikan kebencanaan

dengan kesiapsiagaan bencana pada mahasiswa Departemen Ilmu

Keperawatan Universitas Diponegoro sehingga dapat memotivasi

mahasiswa untuk mempelajari kebencanaan lebih lanjut dan melatih

ketrampilan dalam menghadapi situasi gawat darurat akibat kebencanaan.

3. Bagi Peneliti

Dapat menambah pengetahuan dan pengalaman terkait

kebencanaan termasuk implementasi kesiapsiagaan bencana pada

kehidupan sehari – hari.


BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Bencana

a. Definisi Bencana

Bencana adalah peristiwa atau rangkaian peristiwa yang mengancam

dan mengganggu kehidupan dan penghidupan masyarakat yang disebabkan,

baik oleh faktor alam dan/atau faktor nonalam maupun faktor manusia

sehingga mengakibatkan timbulnya korban jiwa manusia, kerusakan

lingkungan, kerugian harta benda, dan dampak psikologis.2

Menurut Federasi Internasional Palang Merah dan Bulan Sabit Merah

bencana ialah peristiwa, bencana terjadi secara tiba – tiba dan mengganggu

fungsi dari suatu komunitas atau masyarakat serta menyebabkan kerugian yang

harus ditanggung oleh masyarakat atau komunitas. Bencana dapat pula

diakibatkan oleh ulah manusia.21

Bencana merupakan suatu keadaan yang muncul tiba-tiba dan

mengancam kehidupan masyarakat disebabkan oleh faktor alam dan/atau non

alam maupun faktor manusia. Bencana dapat mengakibatkan korban jiwa,

kerusakan lingkungan yang melebihi kemampuan masyarakat untuk

mengatasinya sendiri.22

8
9

b. Klasifikasi Bencana
2
Bencana menurut UU No. 24 Tahun 2007 diklasifikasikan menjadi 3

diantaranya:

a. Bencana alam adalah bencana yang diakibatkan oleh peristiwa atau

serangkaian peristiwa yang disebabkan oleh alam antara lain berupa

gempa bumi, tsunami, gunung meletus, banjir, kekeringan, angin

topan, dan tanah longsor.

b. Bencana non alam adalah bencana yang diakibatkan oleh peristiwa

atau rangkaian peristiwa nonalam yang antara lain berupa gagal

teknologi, gagal modernisasi, epidemi, dan wabah penyakit.

c. Bencana sosial adalah bencana yang diakibatkan oleh peristiwa atau

serangkaian peristiwa yang diakibatkan oleh manusia yang meliputi

konflik sosial antarkelompok atau antar komunitas masyarakat, dan

teror.

c. Ancaman dan Resiko Bencana

Ancaman merupakan suatu situasi atau kejadian atau peristiwa yang

berpotensi menimbulkan kerusakan, kehilangan jiwa manusia, atau

kerusakan Iingkungan. Resiko adalah potensi kerugian yang diakibatkan

oleh bencana dapat berupa kematian, luka, sakit, jiwa terancam, hilangnya

rasa aman, jumlah orang mengungsi, kerusakan atau kehilangan harta dan

infrastruktur, dan gangguan kegiatan masyarakat secara sosial dan

ekonomi. Kota Semarang memiliki indeks resiko bencana yang termasuk


10

dalam kategori tinggi diantaranya adalah gempa bumi dan kebakaran.23,24

Berikut ancaman bencana di kota Semarang:

a. Gempa Bumi

Gempa merupakan getaran atau guncangan yang terjadi

akibat aktivitas magma (vulkanik) dan pergeseran lempengan bumi

di lempengan kulit bumi (tektonik). Bumi terdiri atas beberapa

lempengan kulit yang mengalami pergerakan yang disebabkan oleh

aktivitas magma. 25

Dampak yang muncul setelah gempa antara lain: longsor

dapat terjadi akibat pegerakan tanah yang terjadi ketika gempa,

tsunami terjadi akibat pergeseran lempeng sehingga menimbulkan

terjadinya gelombang tinggi di pantai. Kebakaran yang diakibatkan

oleh kerusakan listrik akibat dan/atau kebocoran gas dan tumpahan

kompor minyak setelah terjadi guncangan.25

Getaran gempa 1-3 SR tidak dapat dirasakan manusia;

gempa 3-4 SR terasa seperti getaran dari mobil yang lewat; gempa

4-5 SR seperti getaran saat truk kontainer lewat; gempa 5-6 SR

dapat menimbulkan retak pada tembok; gempa 6-7 SR dapat

meruntuhkan banguan dengan kontruksi buruk dan getarannya

terasa hingga sejauh 160 Kilometer (Km); getaran gempa 7-8 SR

dapat terasa hingga sejauh 400 Km; getaran gempa 8-9 SR dapat

terasa hingga sejauh 1000 Km; dan getaran gempa di atas 9 SR

dapat terasa hingga sejauh ribuan Km. 24


11

b. Kebakaran

Kebakaran dapat terjadi kerena hubungan pendek arus

listrik, bahan kimia yang bereaksi, letusan kompor gas, puntung

rokok, dan kelalaian dalam menggunakan mesin atau peralatan

listrik. Kebakaran mampu mengganggu kelancaran kegiatan atau

aktivitas, kerusakan fasilitas, lingkungan. Dampak negatif yang

mungkin di alami berupa cidera, cacat, maupun meninggal dunia.26

Kebakaran diklasifikasikan menjadi 2 yaitu kebakaran

kecil dan kebakaran besar. Kebakaran kecil ialah kebakaran yang

dapat ditanggulangi oleh karyawan setempat baik secara

perorangan, kelompok dengan menggunakan alat pemadam api

yang tersedia di tempat tersebut. Kebakaran besar ialah kebakaran

yang tidak dapat ditanggulangi oleh penghuni gedung dan alat

pemadam api yang tersedia di tempat, tetapi memerlukan

pengarahan dari seluruh penghuni gedung yang terlibat dalam

organisasi penanggulangan keadaan darurat.27

d. Gawat Darurat

Situasi gawat darurat dapat terjadi akibat bencana. Gawat darurat

menurut Peraturan Menteri Kesehatan Tentang Sistem Penanggulangan


28
Gawat Darurat Terpadu Tahun 2016 adalah keadaan klinis

korban/pasien gawat darurat yang membutuhkan tindakan medis segera

untuk penyelamatan nyawa dan pencegahan kecacatan. Sistem

Penanggulangan Gawat Darurat Terpadu (SPGDT) merupakan suatu


12

mekanisme pelayanan korban/pasien gawat darurat yang terintegrasi dan

berbasis call center dengan menggunakan kode akses telekomunikasi 119

dengan melibatkan masyarakat.28

Tujuan dari penyelenggaraan SPGDT adalah meningkatkan akses

dan mutu pelayanan kegawatdaruratan dan mempercepat waktu

penanganan (respon time) korban dan menurunkan angka kematian serta

kecacatan. SPGDT dilaksanakan oleh Pusat Komando Nasional beserta

PSC tingkat Kabupaten/ Kota dan fasilitas kesehatan.28

Pada kondisi bencana kegiatan yang dilakukan pada fase bencana

atau fase gawat darurat disebut tanggap darurat. Pada fase tanggap darurat

dilakukan berbagai aktivitas darurat yang nyata untuk menjaga diri sendiri

atau harta kekayaan.29

Aktivitas yang dilakukan secara kongkret yaitu:

a. Instruksi penyelamatan diri

b. Pencarian dan penyelamatan korban,

c. Menjamin keamanan di lokasi bencana,

d. Pengkajian kerugian yang timbul setelah bencana

e. Pembagian dan penggunaan sarana dan prasarana pada kondisi

darurat

f. Pendistribusian barang material, dan

g. Menyediakan lokasi pengungsian, dan lain-lain.


13

5. Manajemen Penanggulangan Bencana

Manajemen penanggulangan bencana merupakan serangkaian

kegiatan yang meliputi penetapan kebijakan pembangunan yang berisiko

timbulnya bencana, pencegahan bencana, tanggap darurat, dan rehabilitasi.

Kegiatan penanggulangan bencana sesuai pada siklus bencana.22

Siklus bencana dibagi menjadi 3 diantaranya fase pra bencana

disebut sebagai fase kesiapsiagaan yang terdiri atas pencegahan dan

mitigasi (prevention and mitigation). Selanjutnya fase bencana disebut

sebagai fase tanggap darurat (response ) yang terdiri atas fase akut (acute

phase) serta fase sub akut (sub acute phase). Terakhir adalah fase pasca

bencana atau disebut sebagai fase rekonstruksi yang terdiri dari fase

pemulihan atau perbaikan (recovery phase) dan fase rehabilitasi atau

rekonstruksi (rehabilitation/reconstruction phase). 22

Gambar 1. Siklus Bencana dan Manajemen Penanggulangan Bencana. 22

Kesiapsiagaan (preparedness) adalah aktivitas serta yang

diambil sebelum bencana untuk memastikan respon yang efektif terhadap

dampak bahaya, berupa memberikan peringatan dini yang tepat dan efektif
14

dan dengan mengevakuasi penduduk dan harta benda dari lokasi yang

terancam. Peringatan dini adalah pemberian peringatan sesegera mungkin

kepada masyarakat tentang kemungkinan terjadinya bencana pada suatu

tempat oleh lembaga yang berwenang.22

Mitigasi (mitigation) adalah langkah struktural dan non

struktural yang dilakukan untuk memngurangi dampak yang ditimbulkan.

Tindakan mitigasi dilihat dari sifatnya dapat digolongkan menjadi 2 (dua)

bagian, yaitu mitigasi pasif dan mitigasi aktif. 22

Tahap tanggap darurat merupakan tindakan atau pengerahan

pertolongan untuk membantu masyarakat atau komunitas yang mengalami

bencana, guna mengantisipasi bertambahnya korban jiwa. dari sudut

pandang pelayanan medis, bencana terbagi menjadi “fase akut” dan “fase

sub akut”. Pada fase akut, 48 jam pertama sejak kejadian bencana

dinamakan “fase penyelamatan dan pertolongan/pelayanan medis darurat”

kegiatan yang dilakukan adalah penyelamatan dan pertolongan baik

berupa tindakan medis darurat terhadap korban luka. Satu minggu setelah

terjadinya bencana disebut dengan “fase sub akut” kegiatan yang

dilakukan adalah perawatan terhadap orang-orang yang terluka pada saat

mengungsi atau dievakuasi, serta dilakukan intervensi terhadap munculnya

permasalahan kesehatan selama dalam pengungsian. Pada fase pemulihan

individu atau masyarakat menggunakan kemampuan sendiri untuk

memulihkan fungsinya seperti sedia kala (sebelum terjadi bencana). 22


15

Tahap pemulihan berupa tahap rehabilitasi dan rekonstruksi.

Kegiatan yang dilakukan pada tahap rehabilitasi bertujuan untuk

mengembalikan kepada kondisi normal. Tahap rekonstruksi merupakan

tahap yang bertujuan untuk membangun kembali sarana dan prasarana

yang rusak akibat bencana. 22

6. Upaya Penyelamatan Diri Saat Bencana

a. Gempa Bumi

Perabotan dari jati dan ranjang yang kokoh dapat menjadi tempat

berlindung. Pojok-pojok ruangan atau dekat pondasi bangunan juga

dapat menjadi tempat berlindung. Hindari jendela kaca, kompor gas,

dan lemari berisi barang-barang berat. Tidak ada waktu untuk lari

keluar ruangan. Tetap tenang di dalam ruangan, usahakan merapat ke

dinding/pondasi bagian dalam bangunan. Konstruksi terkuat gedung

bertingkat yang dapat dijadikan tempat berlindung adalah pondasi dekat

lift namun, jangan berada di dalam lift atau di area tangga.25

Apabila sedang berada diluar bangunan hindari berada di sekitar

tiang listrik, tiang telepon, papan reklame, pohon-pohon besar, serta

berhati – hati pada reruntuhan bangunan. Berkumpulah pada titik

kumpul yang telah ditentukan. 25

b. Kebakaran

Proses evakuasi yang dapat dilakukan selama terjadi kebakaran

adalah berjalan dengan cepat jangan lari. Hindari membawa atau

memakai barang – barang yang dapat mempersulit pelaksanaan


16

evakuasi. Berikan prioritas kepada penghuni gedung perempuan atau

penghuni yang lain yang lemah fisiknya. Apabila hendak membuka

pintu, rabalah dan rasakan lebih dahulu pintunya untuk mengetahui

apakah dibalik pitu tersebut terdapat api atau tidak lalu menuruni tangga

dengan cara berjajar berturut – turut sesuai lebar kapasitas tangga.

Apabila memungkinkan tutuplah semua pintu dan jendela untuk

membantu memperlambat rambatan api. Apabila terperangkap asap,

bernafaslah dengan pendek – pendek melalui hidung, bergeraklah

dengan cara merangkak karena udara dibawah lebih dingin. Tahanlah

nafas anda, kalau perlu pakailah masker asap/escape hood saat

menerobos asap. Keluar dari tangga darurat harus melalui pintu menuju

titik kumpul serta melapor kepada kepala Regu Evakuasi Lantai masing

–masing.26

7. Kesiapsiagaan Bencana

Kesiapsiagaan bencana merupakan kemampuan atau ketrampilan

dan pengetahuan yang dikembangkan oleh pemerintah, intitusi terkait

kebencanaan, komunitas, dan individu. Tujuannya dari kesiapsiagaan

bencana ialah untuk mengantisipasi dan memberikan respon yang efektif

terhadap dampak yang mungkin terjadi dari ancaman bencana.30

Komunitas dan masyarakat memiliki peran dalam mengurangi

resiko kebencanaan. Komunitas dan masyarakat perlu memperkuat dan

meningkatkan kemampuan dalam kesiapsiagaan bencana pada tingkat

komunitasnya. Setiap tingkat kesiapan dan sistem respon membutuhkan


17

kemampuan masing – masing individu dalam memahami perannya pada

manajemen kebencanaan.30

Upaya yang dapat dilakukan untuk meningkatkan pengetahuan dan

keterampilan dalam kesiapsiagaan bencana diantaranya dengan melakukan

pembelajaran, pelatihan, dan diskusi baik ditingkat regional, nasional,

maupun internasional. Proses pembelajaran dapat diberikan oleh institusi

pemerintah, komunitas yang bergerak pada bidang kebencanan, sekolah,

media massa, pembelajaran informal, dan di kampus.30

8. Faktor yang mempengaruhi kesiapsiagaan bencana


31
Muhammad dan Abdul menemukan beberapa faktor yang

mempengaruhi kesiapsiagaan masyarakat pada tahun 2014: 31

a. Pendapatan

Kelompok masyarakat dengan pendapatan tinggi lebih siap

menghadapi bencana dibandingkan dengan kelompok masyarakat

dengan pendapatan rendah.

b. Ras

Ras yang minoritas cenderung lebih rentang tidak siap menghadapi

bencana.

c. Jenis Kelamin

Wanita lebih rentang terhadap bencana.

d. Kepemilikan properti
18

Kepemilikan properti (rumah dan bangunan) mempengaruhi tingat

kesiapsiagaan menghadapi bencana dibandingkan kelompok yang

menyewa properti.

e. Usia

Penelitian menunjukkan hasil bahwa lansia lebih rentang terhadap

bencana.

f. Pendidikan

Kelompok masyarakat dengan tingkat pendidikan yang lebih tinggi

memiliki tingkat kesiapsiagaan bencana yang lebih baik.

g. Pengalaman

Kelompok masyarakat dengan pengalaman bencana cenderung lebih

siap menghadapi bencana karena kelompok tersebut akan mencari

informasi terkait bencana dan mempersiapkan diri untuk menghadapi

bencana di masa mendatang.

9. Pengetahuan

1. Definisi

Pengetahuan merupakan hasil penginderaan manusia, atau hasil tahu

seseorang terhadap objek melalui indera yang dimilikinya (mata, hidung,

telinga, dan sebagainya). Dengan sendirinya, pada waktu penginderaan sampai

menghasilkan pengetahuan tersebut sangat dipengaruhi intensitas perhatian

dan persepsi terhadap objek. 32


19

2. Tingkat Pengetahuan

Menurut Kratwohl dan Anderson33 pengetahuan di dalam domain

kognitif mempunyai 6 tingkatan, yaitu:

a. Mengingat (Remember)

Mengingat merupakan usaha mendapatkan kembali pengetahuan

dari memori atau ingatan yang telah lampau, baik yang baru saja

didapatkan maupun yang sudah lama didapatkan. Mengingat merupakan

dimensi yang berperan penting dalam proses pembelajaran yang bermakna

(meaningful learning) dan pemecahan masalah (problem solving).

Kemampuan ini dimanfaatkan untuk menyelesaikan berbagai

permasalahan yang jauh lebih kompleks.

Mengingat meliputi mengenali (recognition) dan memanggil

kembali (recalling). Mengenali berkaitan dengan mengetahui pengetahuan

masa lampau yang berkaitan dengan hal-hal yang konkret, misalnya

tanggal lahir, alamat rumah, dan usia, sedangkan memanggil kembali

(recalling) adalah proses kognitif yang membutuhkan pengetahuan masa

lampau secara cepat dan tepat.

b. Memahami (Understand)

Memahami diartikan sebagai suatu kemampuan mengklarifikasi dan

membandingkan tentang objek yang diketahui, serta dapat

menginterpretasikan materi tersebut secara benar. Orang yang telah paham

terhadap objek atau materi harus mampu menjelaskan, menyebutkan


20

contoh, menyimpulkan, meramalkan, dan mengetahui ciri-ciri tiap objek

yang dipelajari.

c. Aplikasi (Apply)

Aplikasi adalah kemampuan untuk menggunakan materi yang telah

dipelajari pada situasi atau kondisi real (sebenarnya). Cara yang dilakukan

dalam proses mengaplikasikan ilmu adalah dengan memanfaatkan atau

mempergunakan suatu prosedur untuk melaksanakan percobaan atau

menyelesaikan permasalahan. Aplikasi berkaitan dengan dimensi

pengetahuan prosedural (procedural knowledge). Menerapkan meliputi

kegiatan menjalankan prosedur (executing) dan mengimplementasikan

(implementing). Contohnya penggunaan hukum-hukum, rumus, metode,

prinsip dan sebagainya dalam konteks atau situasi yang lain.

d. Analisis (Analysis)

Analisis adalah kemampuan untuk menjabarkan materi atau suatu

objek ke dalam komponen-komponen, tetapi masih di dalam satu struktur

organisasi, dan masih ada kaitannya satu sama lain. Contohnya dapat

menggambarkan bagan, membedakan, memisahkan, mengelompokkan,

dan sebagainya.

e. Evaluasi (Evaluation)

Evaluasi ini berkaitan dengan kemampuan untuk mengecek dan

melakukan penilaian atau kritisi terhadap suatu materi atau objek.

Penilaian itu didasarkan pada suatu kreteria yang ditentukan sendiri, atau

menggunakan kriteria-kriteria yang telah ada.


21

f. Menciptakan (Create)

Menciptakan mengarah pada proses kognitif meletakkan unsur-

unsur secara bersama-sama untuk membentuk kesatuan yang koheren dan

mengarahkan siswa untuk menghasilkan suatu produk baru dengan

mengorganisasikan beberapa unsur menjadi bentuk atau pola yang berbeda

dari sebelumnya.

10. Faktor yang mempengaruhi pengetahuan

a. Pendidikan

Pendidikan merupakan proses perubahan sikap dan perilaku

individu ataupun kelompok serta menajadi salah satu upaya proses


31
pendewasaan melalui pengajaran dan pelatihan. Pendidikan formal

memiliki peran penting dalam mempromosikan kesiapsiagaan bencana

melalui tenaga pengajar yang medapatkan pelatihan terkait kebencanaan.

Pendidikan formal yang ditempuh selama beberapa tahun oleh masyarakat

memiliki peran yang penting dalam pendidikan kebencanaan baik di

tingkat sekolah maupun universitas. Selain pendidikan formal pendidikan

kebencaan dapat ditempuh melalui pendidikan non – formal melalui

komunitas atau lembaga yang berfokus pada kebencanaan berupa

memberikan edukasi dan pelatihan. 34,35 Menurut hasil penelitian Maryanti


36 37
dan Hoffman tingkat pendidikan yang lebih tinggi memiliki tingkat

kesiapan yang lebih baik karena individu dengan tingkat pendidikan yang

lebih tinggi dapat mengakses informasi yang lebih beragam dari beberapa

sumber. 37
22

b. Informasi

Pengetahuan individu akan baik apabila semakain banyak

informasi yang diterima dalam suatu pembelajaran. Informasi dapat

diperoleh melalui pembelajaran formal maupun informal. 38

c. Sosial, budaya, dan ekonomi

Sosial dan budaya yang baik maka akan meningkatkan

pengetahuan individu melalui cara berpikir yang sesuai dengan ilmu yang

dipelajari. Status ekonomi seseorang akan mempengaruhi ketersediaan

fasilitas belajar apabila fasilitas memadai maka proses pembelajaran akan

berjalan dengan baik. 37

d. Lingkungan

Proses pembelajaran akan dipengaruhi oleh lingkungan apabila

lingkungan mendukung proses pembelajaran maka akan lebih baik hasil

pembelajaran yang dicapai. 37

e. Pengalaman

Pengalaman merupakan pembelajaran bagi individu untuk mencari

penyelesaian dari masalah yang dihadapi. Pengalaman dapat dirasakan

oleh individu itu sendiri atau orang lain.37 Pengalaman dapat

meningkatkan kesadaran tentang potensi kehancuran, menunjukkan

manfaat dari persiapan dan evakuasi, dan meningkatkan pengetahuan

tentang bagaimana memulikan kondisi pasca bencana serta bagaimana

menghadapi ancaman bencana. 37


23

f. Usia

Pertambahan usia akan berbanding lurus dengan pertambahan ilmu

atau pengetahuan karena adanya peningkatan pola pikir dan daya tangkap

dari individu tersebut. 38

11. Kerangka Teori

Berdasarkan tinjauan pustaka, dapat digambarkan kerangka teori

sebagai berikut:

Faktor yang mempengaruhi:

- Pendidikan Ancaman Bencana


- Pengalaman

- Usia Pengetahuan manajemen Faktor yang


bencana mempengaruhi:
- Lingkungan
- Pendidikan
- Sosial, budaya, dan
ekonomi - Pengalaman
Kesiapsiagaan Bencana
- Informasi - Usia

- Lingkungan

Individu Keluarga Komunitas Pemerintah - Ekonomi

Mencegah terjadinya Melakukan respon yang Mengurangi dampak


dampak bencana efektif terhadap dampak bencana (Korban luka dan
bencana jiwa, kerusakan bangunan,
psikologis)

Gambar 2. Kerangka Teori2, 21-38


BAB III

METODE PENELITIAN

Kerangka Konsep

Variabel Independen Variabel Dependen

Tingkat Pengetahuan Bencana Tingkat Kesiapsiagaan


Menghadapi Bencana

Variabel Perancu
Pengalaman Bencana
Seminar, pelatihan, dan
simulasi
Lingkungan

Gambar 3. Kerangka Konsep


A. Hipotesis Penelitian

Hipotesis merupakan kesimpulan yang berasal dari tinjauan teoritis,

sehingga harus dibuktikan kebenarannya melalui analisis terhadap bukti-bukti

empiris. Terdapat dua bentuk hipotesis yaitu, hipotesis nol dan hipotesis

alternatif. Hipotesis nol adalah hipotesis yang diartikan sebagai tidak adanya

hubungan antara variabel yang diteliti dan diberi simbol H0. Sementara

hipotesis alternatif adalah hipotesis yang diartikan sebagai adanya hubungan

antara variabel yang diteliti dan diberi simbol Ha.39 Hipotesis alternatif (Ha)

dalam penelitian ini adalah terdapat hubungan antara pengetahuan bencana

dengan tingkat kesiapsiagaan bencana.

24
25

B. Jenis dan Rancangan Penelitian

Penelitian ini menggunakan desain penelitian deskriptif korelasional,

karena tidak terdapat intervensi yang diberikan dan penelitian ini mencoba

mencari hubungan antara variabel.39,40 Pendekatan yang digunakan adalah

cross sectional yaitu melakukan pengukuran data hanya dalam satu waktu,

namun bukan berarti pengukuran hanya dilakukan pada hari atau waktu yang

sama, melainkan variabel diukur satu kali saja, sehingga tidak ada tindak

lanjut pada variabel yang diteliti.41

C. Populasi dan Sampel Penelitian

1. Populasi Penelitian

Populasi adalah keseluruhan subjek dengan karakteristik tertentu

yang akan diteliti oleh peneliti. Populasi dalam penelitian ini yaitu

mahasiswa Departemen Ilmu Keperawatan Fakultas Kedokteran Undip

yang bejumlah 496 mahasiswa.

2. Sampel Penelitian

Sampel adalah sebagian jumlah dari karakteristik yang dimiliki

oleh suatu populasi penelitian.42 Sampel yang digunakan pada penelitian

ini adalah mahasiswa Departemen Ilmu Keperawatan Universitas

Diponegoro.
26

D. Besar Sampel

Besar sampel adalah jumlah dari subjek penelitian yang digunakan

untuk sampel penelitian.42 Penelitian ini melibatkan 246 mahasiswa

Departemen Keperawatan sebagai responden.

1. Kriteria Sampel

a. Kriteria Inklusi

Kriteria inklusi merupakan karakteristik umum subjek

penelitian dari populasi yang akan diteliti oleh peneliti. Kriteria

inklusi pada penelitian ini adalah Mahasiswa Departemen Ilmu

Keperawatan Fakultas Kedokteran Undip angkatan 2014 – 2017.

b. Kriteria Eksklusi

Kriteria eksklusi adalah kriteria-kriteria untuk

mengeluarkan subjek yang telah memenuhi kriteria inklusi yang

diakibatkan oleh beberapa penyebab misalnya hambatan etis, menolak

berpartisipasi dalam penelitian atau karena hal lainnya. Kriteria

eksklusi pada penelitian ini adalah mahasiswa S-1 yang sedang cuti.

c. Kriteria Drop Out

Kriteria drop out adalah kriteria responden yang dikeluarkan

pada pertengahan atau saat proses penelitian berlangsung. Kriteria

drop out dalam penelitian ini adalah responden yang tidak

menyelesaikan proses pengisian kuesioner.


27

d. Teknik Sampling

Teknik sampling adalah cara pengambilan sampel dalam

suatu populasi penelitian.44 Pengambilan sampel dalam penelitian ini

dengan teknik purposive sampling dengan menggunakan rumus

slovin. purposive sampling dilakukan ketika peneliti telah memahami

karakteristik dari populasi, atau sampling dilakukan oleh orang yang

telah mengenal betul populasi yang akan diteliti (seorang ahli di

bidang yang akan diteliti). Penentuan sample selanjutnya berdasarkan

tujuan-tujuan tertentu yang telah ditetepakan serta mewakili

karakteristik dari populasi. Dengan demikian, sampel tersebut akan

representatif terhadap populasi yang sedang diteliti. 44

Besarnya sampel dalam penelitian ini ditentukan dengan

rumus Slovin sebagai berikut:

Keterangan:

n = jumlah elemen / anggota sampel

N = jumlah elemen / anggota populasi

e = error level (tingkat kesalahan) (catatan: umumnya digunakan 1 %

atau 0,01, 5 % atau 0,05, dan 10 % atau 0,1) (catatan dapat dipilih

oleh peneliti).

Jumlah sampel yang akan di teliti dari total mahasiswa

Departemen Keperawatan Undip dengan jumlah 496 mahasiswa

adalah 221 mahasiswa dengan perhitungan sebagai berikut:


28

n = 496/(1+ 496x0,052)

n = 496/(1+1,24)

n = 496/2,24

n = 221,4

n = 221 mahasiswa

Peneliti juga mengantisipasi apabila terdapat responden yang

drop out dari sampel penelitian, maka formulasi koreksi jumlah

sampel adalah:

n’ = n/(1-f)

Keterangan:

n’ : besar sampel setelah dikoreksi

n : jumlah sampel berdasaarkan estimasi

f : prediksi persentase drop out

Maka jumlah sampel setelah ditambahkan perkiraan drop out

adalah :

n’ = n/(1-f)

n’ = 221/(1-0,1)

n’ = 245,55

n’ = 246 mahasiswa

Teknik pengambilan sampel adalah purposive sampling.37

Untuk menentukan besarnya sampel pada setiap kelas dilakukan


29

dengan alokasi proporsional agar sampel yang diambil lebih

proporsional dengan cara:

Sampel
Jumlah Sampel Tiap Kelas =  Jumlah TiapKelas
Populasi

Namun, pada penelitian ini jumah sampel tidak sesuai

dengan hasil penghitungan yang telah dilakukan sebelum proses

pengambilan data sehingga jumlah sampel dipenuhi oleh angkatan

yang lainnya seperti pada tabel berikut:

Tabel 3.1 Penghitungan Jumlah Sampel Tiap Kelas


Nama
No. Penghitungan Target Sampel Sampel Penelitian
Angkatan
1. 2014 246/496 x 118 59 81
2. 2015 246/496 x 104 51 64
3. 2016 246/496 x 113 56 55
4. 2017 246/496 x 161 80 46
Jumlah 246 246

E. Tempat Penelitian

Penelitian ini dilakukan di kampus Departemen Keperawatan

Universitas Diponegoro.

F. Waktu Penelitian

Penelitian ini dilakukan selama periode bulan Januari 2019.


30

G. Variabel Penelitian

1. Variabel Penelitian

Variabel penelitian adalah karakteristik-karakteristik yang diamati

dari subjek penelitian yang diteliti secara empiris karena mempunyai nilai

maupun operasionalisasi dari suatu konsep.43 Di dalam penelitian ini,

terdapat dua jenis variabel yaitu, variabel bebas (independen) dan variabel

terikat (dependen). variabel bebas (independen) merupakan variabel yang

memiliki pengaruh untuk variabel lainnya, sehingga dapat dikatakan

variabel ini dapat mempengaruhi variabel lainnya.41 Variabel independen

dalam penelitian ini adalah tingkat pengetahuan kebencanaan pada

mahasiswa. Variabel terikat (dependen) adalah variabel yang nilainya

dipengaruhi oleh variabel yang lain. Pada penelitian ini variabel

dependennya adalah kesiapan bencana pada mahasiswa.

2. Definisi Operasional dan Skala Pengukuran

Definisi operasional merupakan identifikasi dari variabel penelitian

agar pembaca mudah dalam memahami dan mengartikan suatu variabel.

Setiap orang memiliki pemikiran masing-masing dalam menilai sesuatu,

oleh karena itu definisi operasional dibuat untuk kepentingan akurasi atau

menyamakan persepsi dari setiap orang. Pada definisi operasional

dijelaskan cara penentuan variabel dan bagaimana mengukur suatu

variabel tersebut, oleh karena itu definisi operasional juga merupakan

suatu informasi ilmiah yang dapat membantu peneliti selanjutnya jika


31

ingin menggunakan variabel penelitian yang sama. Definisi operasional

bertujuan menjelaskan semua variabel dan istilah yang digunakan dalam

penelitian secara operasional sehingga mempermudah pembaca dalam

mengartikan makna penelitian.

Tabel 3.2. Variabel Penelitian, Definisi Operasional, dan Skala Pengukuran

Variabel Definisi Alat Ukur Hasil Ukur Skala


Penelitian Operasional Ukur
Karakteristik Responden
Usia Usia adalah Kuesioner tentang Kategori pada hasil Interval
lamanya waktu karakteristik ukur ditentukan
hidup individu responden yang setelah mendapatkan
yaitu terhitung telah diisi oleh data dan dilakukan
sejak lahir sampai responden dengan penghitungan
tahun terakhir saat menulis sesuai interval
mengisi data. usia responden < 20
saat penelitian 20 - 29
30 - 39
40 - 49
Jenis Kelamin Jenis Kelamin Kuesioner tentang 1 = Laki Laki Nominal
adalah perbendaan karakteristik 2 = Perempuan
seorang laki laki responden yang
dengan perempuan telah diisi oleh
secara biologis responden dengan
sejak seseorang menulis sesuai
lahir. jenis kelamin
responden.
Angkatan Angkatan adalah Kuesioner tentang 1 = 2014 Nominal
perbedaan tahun karakteristik 2 = 2015
masuk kuliah responden yang 3 = 2016
telah diisi oleh 4 = 2017
responden dengan
menulis sesuai
angkatan
responden.
Program Program Kuesioner tentang 1 = Sarjana Reguler Nominal
Pendidikan pendidikan adalah karakteristik 2 = Sarjana Ekstensi
perbedaan program responden yang
pendidikan yang telah diisi oleh
diikuti diantaranya responden dengan
adalah program menulis sesuai
sanrjana Reguler program
dan Ekstensi pendidikan
responden.
Mata Kuliah Pendidikan Kuesioner tentang 1 = Pernah Nominal
Keperawatan kebencanaan karakteristik 2 = Tidak Pernah
Kebencanaan adalah salah satu responden yang
tindakan telah diisi oleh
pengendalian responden dengan
32

Variabel Definisi Alat Ukur Hasil Ukur Skala


Penelitian Operasional Ukur
resiko menulis sesuai
27
kebencanaan. pendidikan
Pendidikan kebencanaan yang
kebencanaan pernah diikuti.
diberikan melalui
mata ajar
Pengalaman Pengalaman Kuesioner 1 = Pernah Nominal
Bencana kebencanaan Pangestu tentang 2 = Tidak Pernah
adalah pernah atau karakteristik
tidaknya seseorang responden yang
individu telah diisi oleh
mengalami responden dengan
bencana. menulis sesuai
pengalaman
bencana yang
dialami

Pengalaman Pengalaman Kuesioner tentang 1 = Pernah Nominal


Simulasi simulasi bencana karakteristik 2 = Tidak Pernah
Bencana adalah pernah atau responden yang
tidaknya seseorang telah diisi oleh
individu responden dengan
mengalami menulis sesuai
simulasi bencana pengalaman
simulasi bencana
responden.
Variabel Penelitian
Pengetahuan Pengetahuan Kuesioner Kategori pada hasil Ordinal
Bencana meliputi definisi, Pangestu tentang ukur ditentukan
ancaman bencana, pengetahuan setelah melakukan
tindakan mitigasi, bencana yang telah uji normalitas data
jenis bencana diisi oleh yang menunjukkan
responden melalui data terdistribusi
formulir online secara normal,
kemudian peneliti
mencari nilai mean
sebagai nilai ukur
dan didapatkan mean
16,27
≥ 16,27 = Baik
< 16,27 = Kurang

Kesiapsiagaan Penerapan Kuesioner Kategori pada hasil Ordinal


bencana kesiapsiagaan Pangestu tentang ukur ditentukan
dalam penerapan setelah melakukan
menghadapai kesiapan bencana uji normalitas data
bencana pada yang telah diisi yang menunjukkan
kehidupan sehari- oleh responden data terdistribusi
hari responden melalui formulir secara normal,
online kemudian peneliti
mencari nilai mean
sebagai nilai ukur
dan didapatkan nilai
33

Variabel Definisi Alat Ukur Hasil Ukur Skala


Penelitian Operasional Ukur
mean 3,3
≥ 3,3 = Baik
< 3,3 = Kurang

H. Alat Penelitian dan Cara Pengumpulan Data

1. Alat Penelitian

Alat ukur yang digunakan dalam penelitian ini adalah

kuesioner yang terdiri dari beberapa pertanyaan berjenis multiple

choice question dan check list yang diharapkan dapat dipilih sesuai

dengan kondisi responden. Kuesioner yang digunakan berasal dari

pembuatan pertanyaan terkait kerangka teori melalui modifikasi

pertanyaan oleh Pangestu pada tahun 2012. 17

Kuesioner ini terdiri atas 4 bagian yaitu data demografi,

pertanyaan terkait pengetahuan bencana, pengalaman bencana, dan

penerapan kesiapan bencana. Total pertanyaan yang diberikan pada

responden adalah 40 pertanyaan. Kuesioner ini disampaikan langsung

kepada mahasiswa yang menjadi.

Tabel 3.2 Kisi-kisi Kuesioner

Jumlah item Nomor item Indikator


Karakteristik Responden
5 1, 2, 3, 4, 5 Data Demografi
6 6, 7, 8, 9, 10, 11, Pengalaman mempelajari bencana
Pertanyaan Penelitian
14 1, 2, 3, 4, 9, 10, 11, Definisi bencana
14, 15, 16, 17, 22,
23, 24
3 12, 13, 20 Resiko bencana
6 5, 6, 7, 8, 19, 21 Teknik penyelamatan diri
34

1 18 Sarana penyelamatan diri

13 1 – 13 Pengalaman menghadapi bencana


5 1–4 Implementasi kesiapsiagaan bencana

Tabel 3.3 Skoring Jawaban

Nomor item Skor


Pengetahuan Kebencanaan
1–5 A=0
B=0
C=1
6 – 10 A=0
B=1
C=0
11 – 15 A=1
B=0
C=0
16 – 20 A=0
B=1
C=0
21 – 24 A=0
B=0
C=1
Pengalaman Kebencanaan
1 -13 A=1
B=0
Kesiapsiagaan bencana
1–4 < 3,3 = Kurang
≥ 3,3 = Baik

2. Uji Validitas

Validitas adalah suatu indeks yang menunjukkan alat ukur itu

benar-benar mengukur apa yang diukur. Pada penelitian ini tidak

melakukan uji validitas ulang karena sudah diuji pada penelitian

Pangestu17 tahun 2012. Uji validitas pada kuesioner tersebut dilakukan

pada bulan April 2012 dengan melakukan uji baca kepada 30 sampel

diluar dari populasi yang memiliki karakteristik sama. Pada hasil uji,
35

kategori soal mudah sebanyak 60%, sedang sebanyak 30%, dan sulit

sebanyak 10% sehingga dilakukan revisi agar distribusi tingkat

kesulitan pertanyaan seimbang. Uji baca juga dilakukan terhadap

pertanyaan terkait pengalaman bencana dan aplikasi kesiapan bencana.


17

3. Uji Reliabilitas

Reliabilitas adalah indeks yang menunjukkan sejauh mana

alat pengukur dapat dipercaya atau diandalkan. Hal ini menunjukkan

sejauh mana hasil pengukuran itu konsisten bila dilakukan pengukuran

dua kali atau lebih terhadap gejala yang sama menggunakan alat ukur

yang sama. Indikator reliabilitas adalah mengetahui alpha cronbach.

Bila alpha cronbach ≤ 0.6 maka pertanyaan kuesioner dianggap

reliabel. Pada penelitian ini tidak dilakukan uji reliabilitas karena

pertanyaan pengetahuan pada kuesioner diberikan dalam bentuk

pilihan ganda (multiple choice qustion) dengan pilihan (a),(b), dan (c).
16

4. Proses Penelitian

Metode pengumpulan data dalam penelitian ini adalah

dengan membagi kuesioner kepada Mahasiswa Departemen Ilmu

Keperawatan Fakultas Kedokteran Undip dengan mempertimbangkan

kriteria inklusi dan eksklusi. Langkah-langkah dalam pengumpulan

data dilakukan dengan cara:


36

a. Peneliti melakukan pengambilan data awal/studi pendahuluan yang

ditujukan kepada Mahasiswa Departemen Ilmu Keperawatan

Fakultas Kedokteran Undip

b. Peneliti memperoleh data awal Mahasiswa Departemen Ilmu

Keperawatan Fakultas Kedokteran Undip terkait dengan kesiapan

bencana Mahasiswa Departemen Keperawatan Fakultas

Kedokteran Undip.

c. Peneliti menyusun dan mengajukan proposal penelitian.

d. Peneliti mendapatkan persetujuan oleh dosen pembimbing dan

penguji

e. Peneliti mengajukan permohonan ethical clearance di Komisi Etik

Penelitian Kesehatan Universitas ‘Aisyiyah Yogyakarta dan

mendapatkan ethical approval dengan nomor No. 799/KEP-

UNISA/I/2019.

f. Peneliti mengajukan surat izin peneltian kepada Dekan Fakultas

Kedokteran Universitas Diponegoro.

g. Peneliti mengajukan izin penelitian kepada Departemen Ilmu

Keperawatan Undip.

a. Setelah pihak Departemen Ilmu Keperawatan Undip mengizinkan

pelaksanaan penelitian, peneliti memulai proses pengambilan data.

Proses pengambilan data berlangsung pada bulan Januari 2019

h. Mengumpulkan 4 komandan tingkat sebagai enumerator dan

menjelaskan terkait cara pengisian kuesioner untuk melaksanakan


37

assessment pengetahuan dan kesiapsiagaan bencana pada

mahasiswa keperawatan di Departemen Ilmu Keperawatan Undip

menggunakan kuesioner pengetahuan dan kesiapsiagaan bencana.

i. Peneliti menjelaskan secara rinci mengenai tujuan, manfaat dan

prosedur pengisian kuesioner kepada responden melalui e-mail.

j. Peneliti mengumpulkan kembali kuesioner dan memastikan bahwa

kuesioner telah diisi secara lengkap oleh responden.

b. Mengolah seluruh data yang terkumpul, kemudian disusun dalam

bentuk laporan hasil penelitian

I. Teknik Pengolahan dan Analisa Data

1. Teknik Pengolahan Data

Pengolahan data adalah proses untuk memperoleh data berupa

total/jumlah, presentase, proposi dengan rata-rata berdasarkan kelompok

data mentah. Langkah-langkah pengolahan data yang dilakukan peneliti

adalah sebagai berikut:

a. Editing

Editing merupakan upaya untuk mengedit data guna

memeriksa kembali kebenaran data yang dikumpulkan atau

diperoleh. Editing dilakukan setelah responden mengisi kuesioner

sehingga saat terjadi kesalahan dapat segera diklarifikasi kepada

responden. 43
38

b. Coding

Coding merupakan kegiatan pemberian kode numerik atau

angka terhadap data yang terdiri dari beberapa kategori. Pada tahap

Coding bertujuan untuk mengubah data yang berbentuk huruf

menjadi data dalam bentuk angka, untuk mempermudah proses


43
analisa data. Coding dilakukan pada data yang didapatkan

setelah dilakukan pengisian kuesioner diantaranya data

karakteristik responden dan jawaban dari pertanyaan pada

kuesioner.

c. Penilaian (Scoring)

Pada tahap scoring bertujuan untuk memberi penilaian

pada jawaban yang diberikan responden terkait pertanyaan pada

kuesioner. Proses scoring pada penelitian ini menggunakan Excel

Statistic Analysis dan aplikasi yang membantu pengolahan data. 43

d. Entry Data

Entry data adalah proses memasukkan data yang telah

dikumpulkan ke dalam Microsoft Excel. 43

e. Tabulating

Tabulating merupakan pengorganisasian data untuk

mempermudah penjumlahan dan penyusunan penyajian data untuk

dianalisis. 43
39

f. Cleaning

Cleaning data atau proses memeriksa kembali data yang

telah dimasukkan kemudian dapat membenarkan dan

menyelesaikan hal-hal yang masih salah atau kurang jelas sebelum

analisa data. 43

2. Analisa Data

Analisa data yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisa

univariat dan bivariat.

a. Uji Normalitas

Uji normalitas digunakan untuk mengetahui apakah data

yang digunakan berdistribusi normal atau tidak. Hasil analisis

data dengan bantuan aplikasi pengolahan data. Data normal

dengan analisis menggunakan alternatif kedua yaitu

menggunakan harga koefisien signifikansi. Apabila nilai

sifnifikansi dari signifikansi > alpha (5%) berarti normal dengan

taraf signifikan 5% (α = 0, 05).

b. Analisa univariat

Analisa univariat dilakukan untuk mendeskripsikan atau

menjabarkan data secara sederhana dari masing-masing variabel

mengenai distribusi frekuensi dan proporsinya.43


40

Variabel yang dianalisis dalam penelitian ini adalah

gambaran tingkat pengetahuan dan gambaran tingkat kesiapan

bencana pada Mahasiswa Departemen Ilmu Keperawatan

Fakultas Kedokteran Undip.

c. Analisa Bivariat

Analisa bivariat dilakukan untuk mengetahui hubungan

dari tingkat pengetahuan dengan implementasi kesiapsiagaan

bencana pada Mahasiswa Departemen Keperawatan Fakultas

Kedokteran Undip. Pada penelitian ini, untuk mengetahui tingkat

hubungan antara variabel bebas dan variabel terikat digunakan

teknik uji Chi. Uji Chi Square yang digunakan adalah uji statistik

non parametrik yang memiliki fungsi untuk menentukan besarnya

hubungan antara kedua variabel yang berskala ordinal dan berbentuk

kategorik. Sementara, untuk memutuskan apakah terdapat hubungan

antara kedua variabel, maka digunakan p value yang dibandingkan

dengan tingkat kesalahan (Alpha) yaitu 5% atau 0,05. Apabila nilai p

value ≤ 0,05 maka H0 ditolak dan HI diterima, yang berarti terdapat

hubungan antara kedua variabel, sedangkan jika p value ≥ 0,05 maka

hasilnya adalah sebaliknya.

J. Etika Penelitian

Etika dalam penelitian merupakan salah satu komponen yang penting

di dalam penelitian keperawatan, hal ini dikarenakan penelitian berhubungan


41

secara langsung dengan manusia atau masyarakat. Kode etik dalam penelitian

secara khusus belum dinyatakan secara universal, akan tetapi ada beberapa

kriteria etik yang dapat diterapkan dalam melaksanakan penelitian. Berikut

merupakan beberapa etika penelitian yang diharapkan dapat diterapkan oleh

peneliti, yaitu:

a. Anonimity

Anonimity merupakan prinsip dalam etika penelitian yang

memberikan jaminan dalam penggunaan subjek penelitian dengan cara

tidak memberikan atau mencantumkan nama responden pada lembar alat

ukur dan hanya menuliskan kode pada lembar pengumpulan data atau hasil

penelitian yang disajikan.45 Kode diberikan oleh peneliti untuk

mempermudah pengolahan data.

b. Beneficience (kemanfaatan)

Penelitian ini bermanfaat bagi subyek penelitian, masyarakat dan

ilmu pengetahuan. Seluruh proses yang dilakukan dalam penelitian ini

mengandung prinsip kebaikan yaitu mengetahui tingkat kesiapan bencana

Mahasiswa Departemen Ilmu Keperawatan Fakultas Kedokteran Undip.

Nilai kebermanfaatan bagi Departemen Ilmu Keperawatan yaitu

membantu menganalisa tingkat pengetahuan dan kesiapsiagaan mahasiswa

keperawatan dalam menghadapi bencana sehingga dapat menjadi bahan

pertimbangan dalam proses pembelajaran terkait keperawatan bencana,


42

sedangkan nilai kebermanfaatan bagi responden adalah mengetahui

pentingnya pengetahuan dan kesiapsiagaan dalam menghadapi bencana.

c. Non-maleficience (bukan kejahatan)

Penelitian ini dilakukan dengan menghindari bahaya terhadap

responden dan bersifat mengurangi risiko-risiko berat yang mungkin dapat

terjadi pada responden.46 penelitian ini tidak melakukan perlakuan

terhadap responden dan selama penelitian berlangsung tidak terdapat unsur

bahaya atau merugikan responden penelitian.

d. Confidentiality (kerahasiaan)

Confidentiality merupakan prinsip dalam etika penelitian dengan

memberikan jaminan kerahasiaan hasil penelitian.43 Seluruh informasi

yang berupa data-data penelitian dijamin kerahasiaannya oleh peneliti dan

hanya kelompok data tertentu yang dilaporkan dalam hasil riset.

e. Veracity (kejujuran)

Peneliti menjelaskan dengan jujur mengenai tujuan, manfaat dan

dampak penelitian serta hak subjek juga dijelaskan apakah akan terlibat

atau tidak terlibat dalam penelitian yang termasuk ke dalam informed

consent. Pertanyaan yang disampaikan oleh responden juga dijawab

dengan jujur oleh responden.44


43

f. Justice (keadilan)

Justice adalah prinsip dalam etika penelitian dimana peneliti

memperlakukan seluruh responden dengan sama tanpa membedakan jenis

kelamin, ras, agama, dan lainnya baik sebelum dan selama maupun setelah

penelitian. Hak-hak diwakili dalam sampel penelitian yang meliputi hak-

hak untuk mempergunakan pengetahuan yang sama, dan hak untuk tidak

didiskriminasi menurut kelas atau kategori tertentu.46


44

BAB IV

HASIL PENELITIAN

Bab ini menyajikan hasil penelitian mengenai karakteristik responden

(jenis kelamin, usia, pendidikan, pelatihan), pengetahuan dan kesiapsiagaan

mahasiswa keperawatan terkait bencana di Departemen Ilmu Keperawatan

Universitas Diponegoro. Response rate pada penelitian ini adalah 100% dengan

jumlah sampel 246 responden.

A. Karakteristik Responden
Data demografi ditunjukkan pada tabel 4.1. Mayoritas responden

adalah perempuan (223; 90,7%), berusia 20-29 tahun (207; 84,1%), program

Sarjana Reguler (232; 94,3%), angkatan 2014 (81; 32,9%). Mayoritas

responden telah mengikuti mata kuliah Keperawatan Bencana (142; 57,7%).

Sebagian besar responden memiliki pengalaman mengikuti simulasi

menghadapi bencana (175; 7118%), namun mayoritas responden yang tidak

pernah mengikuti seminar atau pelatihan selama kuliah (174; 70,7%).

Mayoritas responden memiliki pengalaman menghadapi bencana (210;

85,4%).
45

Tabel 4.1. Karakteristik Responden (n=246)

No Karakteristik Frekuensi n (%)


Demografi (f)
1 Jenis Kelamin
Laki-laki 23 9.3
Perempuan 223 90.7
2 Usia
< 20 tahun 25 10.2
20 - 29 tahun 207 84.1
30 - 39 tahun 13 5.3
40 - 49 tahun 1 0.4
3 Program Pendidikan
Sarjana Reguler 232 94.3
Sarjana Ekstensi 14 5.7
4 Angkatan
2014 81 32.9
2015 64 26
2016 55 22.4
2017 46 18.7
5 Mata Kuliah Keperawatan
Bencana
Mengikuti 142 57.7
Tidak mengikuti 104 42.3
6 Seminar dan Pelatihan
Mengikuti 72 29.3
Tidak mengikuti 174 70.7
7 Pengalaman Simulasi
Ya 175 71.1
Tidak 71 28.9
8 Pengalaman Bencana
Ya 210 85.4
Tidak 36 14.6

B. Gambaran Pengetahuan Mahasiswa Keperawatan tentang Bencana

Pengetahuan responden terkait bencana ditunjukkan pada tabel 4.2.

Mayoritas responden (130; 52,8%) memiliki pengetahuan dengan kategori

kurang baik. Sedangkan pada tabel 4.3 menunjukkan beberapa pertanyaan

pada kuesioner yang dijawab dengan tepat oleh responden adalah sebagai

berikut: (244; 99,2%) menjawab dengan tepat terkait definisi dari bencana

alam, lalu sebagian besar responden (245; 99,6%) menjawab merasakan

adanya guncangan dan melihat benda-benda disekitar ikut berguncang


46

sebagai fenomena saat terjadi gempa, serta apabila terjadi gempa didalam lift

mayoritas responden (238; 96,7%) memilih tetap tenang dan tepat

berhubungan dengan ruang kontrol sambil menekan tombol darurat dan

apabila terjadi gempa saat luar ruangan mayoritas responden (239; 97,2%)

memilih mencari tempat terbuka yang jauh dari bangunan dan tiang listrik.

Beberapa pertanyaan pada kuesioner yang dijawab dengan kurang

tepat oleh responden adalah sebagai berikut: sebanyak 71 (28,9%) memilih

rehabilitasi sebagai upaya yang dilakukan pasca bencana untuk memulihkan

kondisi rumah dan failitas umum. Sebagian kecil responden (49; 19,9%)

memilih berlutut, lindungi, dan berpegangan sebagai teknik perlindungan diri

saat terjadi gempa di dalam ruangan. Sebanyak 70 (28,5%) responden yang

memilih anak-anak sebagai kelompok masyarakat yang paling rentan

terhadap bencana.

Tabel 4.2 Gambaran Pengetahuan Mahasiswa Keperawatan tentang


Bencana (n=246)
Frekuensi
Kategori n (%)
(f)
Tingkat Pengetahuan Bencana
Baik 116 47.2
Kurang 130 52.8
47

Tabel 4.3 Gambaran Sebaran Item Pengetahuan Mahasiswa Keperawatan


tentang Bencana (n=246)
Pertanyaan Respon Frekuensi (f) n (%)
Definisi bencana alam Bencana akibat perilaku manusia 2 0.8
Bencana akibat kejadian alam 244 99.2
Fenomana bencana Kebakaran gedung 2 0.8
alam Banjir 15 16,1
Letusan gunung berapi 229 83.1
Fenomena saat gempa Merasakan suhu udara sekitar menjadi lebih 1 0.4
panas
Merasakan adanya guncangan dan 255 99,6
melihat benda-benda di sekitar ikut
bergoncang
Skala gempa 8 skala richter 3 1.2
berukuran sedang 7 skala richter 36 14.6
6 skala richter 207 84.1
Tindakan saat terjadi Segera turun menggunakan lift 1 0.4
gempa di gedung Berlari keluar gedung dengan menuruni 59 24
bertingkat tangga
Mencari tempat perlindungan di bawah 186 75.6
meja yang kokoh, menunggu sampai
gempa berhenti dan aman untuk
bergerak
Tindakan saat terjadi Segera membuka pintu lift dengan paksa 6 2.4
gempa di dalam lift Tetap tenang dan tetap berhubungan
dengan ruang kontrol sambil memencet 238 96.7
tombol darurat
Panik dan berteriak minta tolong 2 0.8
Tindakan saat terjadi Mencari tempat terbuka dekat dengan 7 2.8
gempa di luar ruangan bangunan untuk berlindung
Mencari tempat terbuka yang jauh dari 239 97.2
bangunan dan tiang lisktrik
Tindakan saat terjadi Berlari keluar lobby 109 44.3
gempa di lobby utama Segera berlindung dan menjauhi daerah 137 55.7
gedung berkaca
Fenomena saat Banyak orang berlari dan berteriak 28 11.4
kebakaran kebakaran
Melihat adanya api dan asap di ruangan 217 88.2
kampus
Mendengar suara orang berteriak minta 1 0.4
tolong
Tindakan saat melihat Menyelamatkan dokumen penting di tempat 57 23.2
tanda-tanda kebakaran yang jauh dari sumber api
Berlari menjauh dari sumber kebakaran 177 72
Berteriak minta tolong 12 4.9
Bahan pemicu Listrik 135 54.9
kebakaran besar Bensin 103 41.9
Plastik 8 3.3
Potensi resiko gempa Runtuhan bangunan dan pecahan kaca 219 89
di kampus Bahan yang mudah terbakar (bensin, minyak 9 3.7
tanah)
Kerumunan orang yang berlarian 18 7.3
48

Pertanyaan Respon Frekuensi (f) n (%)


Potensi resiko Bahan yang mudah terbakar (bensin, 121 49,2
kebakaran di kampus minyak tanah)
Runtuhan bangunan dan pecahan kaca 22 8.9
Asap benda yang terbakar 103 41.9
Upaya pasca bencana Rehabilitasi 71 28.9
untuk memulihkan Pemulihan 157 63.8
kondisi rumah dan Tanggap Darurat 18 7.3
fasilitas umum
Upaya mengurangi Mitigasi 102 41.5
resiko bencana Pencegahan 125 50.8
Peringatan dini 19 7.7
Kondisi gawat darurat Hubungan pendek listrik 32 13
saat terjadi bencana, Tumpahan bahan kimia di laboratorium 170 69.1
kecuali: Runtuhnya langit-langit gedung bertingkat 44 17.9
Definisi kesiapan Upaya yang dilakukan segera saat bencana 78 31.7
bencana untuk menanggulangi dampak bencana
Kesiapan untuk menyelamatkan diri, 162 65,9
membantu anggota keluarga, teman,
warga
Program jangka menengah dan panjang guna 6 2.4
perbaikan fisik, sosial, dan ekonomi pasca
bencana
Tempat yang aman Jalur evakuasi 22 8.9
untuk berkumpul pasca Titik kumpul sementara 202 82.1
proses evakuasi Bangunan tahan gempa 22 8.9
bencana gempa
Layanan telepon 110 30 12.2
apabila terjadi 113 108 43.9
kebakaran 118 108 43.9
Keadaan darurat Hubungan pendek arus listrik 116 47.2
tingkat sedang Terjatuh di tangga gedung bertingkat 109 44.3
Gempa bumi 21 8.5
Teknik perlindungan Berpegangan, lindungi, berlutut 158 64.2
diri saat gempa Lindungi, berlutut, berpegangan 39 15.9
Berlutut, lindungi,berpegangan 49 19.9
Kelonpok masyarakat Penyandang cacat 107 43.5
rentan terhadap Ibu hamil 69 28
bencana Anak-anak 70 28.5
Peran perawat saat Menolong korban meninggal 8 3.3
bencana Menyediakan tenda darurat untuk tempat 1 0.4
berlindung
Memberikan pertolongan gawat darurat 237 96.3
Definisi triage Pengelompokan korban berdasarkan hasil 65 26.4
pemeriksaan fisik
Pengelompokan korban berdasarkan status 42 17.1
kesadaran
Pengelompokan korban berdasarkan 139 56.5
beratnya cidera
49

C. Gambaran Pengetahuan Mahasiswa Keperawatan tentang Resiko


Bencana di Lingkungan Kampus

Gambaran pengetahuan responden terkait resiko bencana di

lingkungan kampus Departemen Ilmu Keperawatan ditunjukkan pada tabel

4.4 Hasil penelitian menunjukkan mayoritas responden (143; 58,1%) menilai

lingkungan kampus tidak berada pada area rawan bencana. Sebagian besar

responden (205; 83,3%) menilai pihak kampus telah siap mengahadapi

bencana. Sebagian besar responden (234; 95,1%) setuju apabila gempa

sebagai resiko bencana di kampus, (94; 38,2%) setuju apabila resiko bencana

lainnya adalah erupsi gunung berapi, dan (31; 12,6%) menyetujui kebakaran

dapat menjadi resiko bencana di kampus.

Tabel 4.4 Gambaran Pengetahuan Mahasiswa Keperawatan tentang Resiko


Bencana di Lingkungan Kampus (n=246)
No Frekuensi
Resiko Bencana n (%)
(f)
1 Lingkungan kampus rawan mengalami bencana
Ya 103 41.9
Tidak 143 58.1
2 Kesiapan pihak kampus menghadapi bencana
Ya 205 83.3
Tidak 41 16.7
3 Resiko bencana di lingkungan kampus
Gempa 234 95.1
Kebakaran 31 12.6
Banjir 16 6.5
Erupsi gunung berapi 94 38.2
Badai 8 3.3
Tsunami 17 6.9

D. Gambaran Kesiapsiagaan Mahasiswa Keperawatan Menghadapi Bencana


Dalam Kehidupan Sehari-hari

Gambaran kesiapsiagaan bencana responden dalam kehidupan sehari-

hari ditunjukkan pada tabel 4.5. Hasil penelitian menunjukkan mayoritas

responden memiliki tingkat kesiapsiagaan kurang baik (173; 70,3%),


50

sebagian besar responden (173; 70,3%) belum pernah melakukan kegiatan

simulasi bencana bersama keluarga. Namun seluruh responden (246;100%)

telah memiliki beberapa perlengkapan di rumah untuk menghadapi bencana

diantaranya memiliki handphone (244; 99,2%), memiliki persiapan baju dan

selimut (239; 97,2%), dan menyatakan bahwa memiliki perlengkapan sanitasi

cadangan (229; 93,1%). Sebagian besar responden (140; 56,9%) memilih

rumah saudara sebagai tempat mengungsi apabila mengalami bencana.

Sebgaian beesar reponden (243; 98,2%) mengetahui adanya fasilitas

penyelamatan diri di lingkungan kampus Departemen Ilmu Keperawatan

berupa alarm darurat yang terpasang di kampus (240; 97,6%), Alat Pemadam

Api Ringan (APAR) (237; 96,3%), dan mengetahui adanya tangga darurat di

kampus sebagai sarana penyelamatan diri (219; 89%).

Tabel 4.5 Gambaran Kesiapsiagaan Mahasiswa Keperawatan Menghadapi


Bencana Dalam Kehidupan Sehari-hari (n=246)
Frekuensi
Kategori Aplikasi Kesiapsiagaan Bencana n (%)
(f)
Baik 73 29.7
Kurang 173 70.3
51

Tabel 4.6 Gambaran Sebaran Item Kesiapsiagaan Mahasiswa Keperawatan


Menghadapi Bencana Dalam Kehidupan Sehari-hari (n=246)
No Frekuensi
Aplikasi Kesiapsiagaan Bencana n (%)
(f)
1 Simulasi bencana di rumah
Ya 73 29.7
Tidak 173 70.3
2 Memiliki perlengkapan menghadapi bencana di rumah
(handphone, baju, selimut, senter, perlengkapan sanitasi)
Ya 246 100
Tidak 0 0
Item Disaster Kit
Tas Punggung 207 84.1
Baju dan selimut 239 97.2
P3K 168 68.3
Senter dan baterai 227 92.3
Handphone 244 99.2
Cadangan makanan dan minuman untuk 3 hari 174 70.7
Cadangan kacamata 101 41.1
Kartu debit atau kredit 198 80.5
Perlengkapan sanitasi 229 93.1
Alat pemadam api 34 13.8
Nomor telepon darurat 140 56.8
Pelampung 10 4.1
3 Tempat berlindung apabila terjadi bencana
Sekolah 11 4.5
Tempat ibadah 95 38.6
Rumah saudara 140 56.9
4 Mengetahui fasilitas penyelamatan diri yang tersedia di area
kampus Departemen Ilmu Keperawatan (alarm darurat,
APAR, tangga darurat)
Ya 243 98.8
Tidak 3 1.2
Item fasilitas penyelamatan diri di kampus
Pintu darurat 174 70.7
Tangga darurat 219 89
Papan petunjuk arah keluar 218 88.6
Denah jalur evakuasi 168 68.3
Tempat berkumpul sementara (Assembly point) 197 80.1
Penerangan darurat 82 33.3
Alat Pemadam Api Ringan 237 96.3
Alarm darurat 240 97.6

E. Hubungan Antara Tingkat Pengetahuan dengan Tingkat Kesiapsiagaan


Bencana
Tabel 4.7 menunjukkan bahwa mayoritas responden (104; 80%)

memiliki tingkat kesiapsiagaan kurang baik dan memiliki tingkat

pengetahuan kurang baik sedangkan sebanyak 47 (40,5%) responden


52

dengan tingkat pengetahuan baik dan memiliki tingkat kesiapsiagaan

yang baik. Hasil analisa hubungan pengetahuan dan kesiapsiagaan

bencana didapatkan nilai ρ = 0,000 (ρ = 0,05) maka H0 ditolak, sehingga

terdapat hubungan antara kedua variabel.

Tabel 4.7 Hubungan Antara Tingkat Pengetahuan dengan Tingkat


Kesiapsiagaan Bencana (n=246)

Kesiapsiagaan Bencana
Pengetahuan Total Value
Baik Kurang Baik
Baik 47 (40,5%) 69 (59,95%) 116 (100%)
0,000
Kurang 26 (20%) 104 (80%) 130 (100%)
Total 73 (29,7%) 173 (70,3%) 246 (100%)
BAB V
PEMBAHASAN

Bab ini membahas tentang pengetahuan dan sikap kesiapsiagaan bencana

pada mahasiswa Departemen Ilmu Keperawatan Universitas Diponegoro.

A. Gambaran Pengetahuan Mahasiswa Keperawatan Tentang Kesiapsiagaan


Bencana
Hasil penelitian menunjukkan bahwa mayoritas responden memiliki

tingkat pengetahuan tentang bencana yang kurang. Hasil penelitian ini tidak

selaras dengan hasil penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh Pangestu 17


18
dan Rahayu juga menunjukkan tingkat pengetahuan baik. Pada peneliian
19
Kurniawati menunjukkan hasil bahwa pengetahuan mahasiswa mengenai

bencana adalah masih kurang. Selain itu, mayoritas ketidaktepatan jawaban

reponden terdapat pada pertanyaan tentang cara berlindung saat terjadi

bencana, kelompok masyarakat yang rentan terhadap bencana, dan upaya

pemulihan kondisi lingkungan pasca bencana.

Tingkat pengetahuan mahasiswa dipengaruhi oleh beberapa faktor

diantaranya adalah informasi baik dari pendidikan formal maupun non formal

seperti seminar, pelatihan dan simulasi serta frekuensi informasi yang

diterima 38 berdasarkan data dari penelitian ini sebagian besar responden telah

mengikuti mata kuliah Keperawatan Bencana dan memiliki pengalaman

mengikuti simulasi bencana akan tetapi tingkat pengetahuannya masih


17
kurang. Penelitian ini selaras dengan penelitian Pangestu pada tahun 2012

yang menyebutkan bahwa tingkat pengetahuan reponden yang mengikuti

53
54

mata kuliah terkait kebencanaan masuk pada kategori rendah. Hal ini dapat

disebabkan oleh faktor lainnya seperti kesadaran mahasiswa akan resiko

bencana yang masih kurang.52 Tingkat resiko bencana selain dari potensi

bencana yang dapat terjadi juga ditentukan oleh upaya mitigasi dan

kesiapsiagaan dalam menghadapi bencana.

Faktor lain yang dapat menyebabkan tingkat pengetahuan kurang adalah

akses informasi atau materi. Pada pendidikan formal di kelas materi

pembelajaran adalah bahan yang diperlukan untuk pembentukan

pengetahuan, keterampilan, dan sikap yang harus dikuasai oleh peserta didik

sesuai dengan standar kompetensi yang ditetapkan.53 Materi yang diberikan

oleh tim dosen mata kuliah Keperawatan Bencana antara lain konsep

keperawatan bencana, pemberdayaan masyarakat, triase kebencanaan,

mitigasi bencana, pendidikan dan kesiapsiagaan bencana, serta telah

melakukan simulasi bencana sebagai evaluasi proses pembelajaran. Metode

pembelajaran yang diterapkan berupa seminar atau ceramah tanya jawab dan

diskusi kelompok. Masih terbatasnya akses informasi terkait kebencanaan

yang tersedia di fasilitas kampus seperti buku, booklet, poster maupun video

tentang bencana. Perlunya media pembelajaran yang lebih menarik untuk

menggugah minat belajar pada mahasiswa.

Kesadaran mahasiswa untuk belajar juga menentukan tingkat

pengetahuan dan pemahaman.. Pada penelitian ini menunjukkan bahwa

mayoritas mahasiswa hanya mengakses informasi bencana apabila terjadi


54
bencana melalui internet dan media sosial. Menurut Notoatmodjo
55

kesadaran terkait pengetahuan dan sikap yang positif akan menciptakan

perilaku yang bertahan lama.

Faktor lain yang mempengaruhi tingkat pengetahuan adalah pengalaman

menghadapi bencana yang mampu meningkatkan kesadaran untuk mencegah

terjadinya dampak yang lebih besar dari suatu kejadian bencana.37 Mayoritas

responden pada penelitian ini memiliki pengalaman menghadapi bencana

seperti gempa bumi, dan beberapa diataranya memiliki pengalaman

menghadapi banjir, dan kebakaran. Penelitian lain oleh Tanaka 47 menujukkan

hasil mayoritas masyarakat di Jepang setidaknya pernah menghadapi bencana

sebanyak satu kali mampu meningkatkan pengetahuan kesiapsiagaan

menghadapi bencana bahkan mempersiapkan perlengkapan untuk

menghadapi bencana.

B. Gambaran Sikap Kesiapsiagaan Bencana Pada Mahasiswa Keperawatan


Hasil penelitian menunjukkan sebagian besar responden memiliki tingkat

kesiapsiagaan yang kurang. Hasil penelitian ini selaras dengan penelitian

yang dilakukan oleh Rahayu pada tahun 2017 bahwa tingkat kesiapsiagaan

mahasiswa keperawatan masih rendah dalam menghadapi bencana.18

Penelitian lain yang sesuai adalah penelitian yang dilakukan oleh

Kurniawati19 yang mendapatkan gambaran kesiapsiagaan mahasiswa masih

tergolong kurang. Beberapa faktor yang mempengaruhi tingkat


31
kesiapasiagaan menurut Muhammad dan Abdul diantaranya pendidikan

serta pengalaman. Mayoritas responden tidak pernah melakukan kegiatan

simulasi bencana di rumah bersama dengan anggota keluarga.


56

Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa kesadaran mahasiswa akan


55
bencana di kampus masih kurang. Menurut Husna pada tahun 2012

kesadaran tentang resiko bencana baik pengetahuan maupun potensi dampak

dan kerugian akibat bencana dapat mempengaruhi tingkat kesiapsiagaan


56
bencana. Pendapat lain yang mendukung yaitu menurut Tuhusetya tujuan

dari pendidikan kebencanaan untuk menanamkan sikap tanggap dan

responsif, tidak sekedar mengetahui dan memahami tentang bencana.

Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa responden telah memiliki

sebagian besar dari perlengkapan menghadapi bencana diantaranya tas, baju,

selimut, handphone, cadangan makanan dan minuman, perlengkapan P3K,

kartu debit atau kredit, serta perlengkapan sanitasi. Responden yang memiliki

perlengkapan pemadam api dan pelampung di rumah hanya sedikit padahal

negara Indonesia ini merupakan wilayah yang rawan dilanda bencana banjir.4

Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Pangestu

berupa kurangnya kelengkapan elemen perlengkapan menghadapi bencana di

rumah.17

Lokasi evakuasi yang mayoritas dipilih oleh responden untuk berlindung

sementara waktu apabila terjadi bencana adalah rumah saudara, hal ini selaras
48
dengan hasil penelitian Widiyanita,dkk yang memilih rumah sanak saudara

sebagai tempat berlindung sementara dikarenakan faktor kenyamanan dan

keamanan dibandingkan mengungsi di tempat pengungsian bersama dengan

pengungsi lainnya.
57

Hasil analisa dari pengetahuan responden terkait fasilitas penyelamatan

diri yang tersedia di kampus Departemen Keperawatan menunjukkan

mayoritas mengetahui adanya alarm darurat, alat pemadam api ringan, dan

tangga darurat. Sedangkan yang paling sedikit diketahui adalah sarana

penerangan darurat. Sesuai dengan Keputusan Menteri Pekerjaan Umum No.

10 yang menyatakan bahwa setiap bangunan gedung harus memiliki sarana

penyelamatan jiwa berupa tangga darurat, papan petunjuk jalan keluar

darurat, titik kumpul, alarm darurat, denah jalur evakuasi dan nomor telepon

darurat.49

Kesiapsiagaan bencana merupakan tahap lanjutan dari pengetahuan

bencana pada mahasiswa keperawatan. Mahasiswa keperawatan merupakan

calon perawat yang akan melakukan tugas profesi di lingkungan masyarakat.

Profesi keperawatan bersifat luwes dan mencakup segala kondisi, tidak

terbatas pada lingkungan rumah sakit namun juga dituntut mampu bekerja

dalam kondisi siaga tanggap bencana. Situasi penanganan antara keadaan

siaga dan keadaan normal memang sangat berbeda, sehingga mahasiswa

perawat harus mampu secara keterampilan dan teknik dalam menghadapi

kondisi tersebut.14

C. Hubungan antara Pengetahuan dan Sikap Kesiapsiagaan Menghadapi


Bencana
Hasil analisa hubungan pengetahuan dan kesiapsiagaan bencana

didapatkan nilai ρ = 0,000 (ρ = 0,05) sehingga terdapat hubungan antara


58

kedua variabel. Selain itu, dapat dikatakan apabila tingkat pengetahuan baik

maka tingkat kesiapsiagaan bencana juga akan baik.

Hasil penelitian ini selaras dengan penelitian yang dilakukan oleh Rizki,
50
dkk pada tahun 2017 yang menemukan adanya hubungan antara

pengetahuan dengan sikap kesiapsiagaan warga Wonogiri dalam menghadapi


51
bencana. Penelitian serupa juga telah dilakukan oleh Pratiwi di Puskesmas

Banda Aceh menunjukkan adanya hubungan yang signifikan antara tingkat

pengetahuan dengan sikap kesiapsiagaan bencana pada tenaga kesehatan.

Pada penelitian ini 74,2% responden dengan tingkat pengetahuan baik

memiliki tingkat kesiapsiagaan yang baik, sedangkan 40,9% respon dengan

dengan tingkat pengetahuan kurang memiliki tingkat kesiapsiagaan yang

kurang. Pengetahuan merupakan faktor utama dari kesiapsiagaan bencana.

Pengalaman bencana yang melanda beberapa daerah di Indonesia telah

menjadikan pelajaran yang berarti tentang pentingnya pengetahuan bencana.

Selain itu, dengan adanya pengetahuan maka akan mempengaruhi sikap dan

kepedulian terkait bencana terlebih pada daerah rawan bencana. 53

Pendapat lainnya adalah pengetahuan di dalam domain kognitif memiliki

6 tingkatan yang mana pada tingkatan ketiga adalah aplikasi atau kemampuan

untuk menggunakan materi yang telah dipelajari pada situasi atau kondisi

sebenarnya.33 Aplikasi berkaitan dengan dimensi pengetahuan prosedural

(procedural knowledge) meliputi kegiatan menerapkan sebuah prosedur

(executing) dan mengimplementasikan (implementing).33 Seperti menerapkan


59

prosedur penyelamatan diri apabila terjadi bencana dan penggunaan fasilitas

penyelamatan diri yang tersedia di gedung. Perlunya informasi yang adekuat

terkait bencana melalui pendidikan kebencanaan secara formal maupun non

formal baik di lingkungan kampus maupun di rumah.

D. Keterbatasan Penelitian
Keterbatasan dalam penelitian ini adalah menggunakan metode

purposive sampling sehingga skor yang diteliti hanyalah skor mahasiswa

yang bersedia untuk menjadi responden.


60

BAB VI
KESIMPULAN DAN SARAN

Bab ini membahas tentang kesimpulan dan saran. Saran ditujukan bagi

Departemen Ilmu Keperawatan, mahasiswa, dan peneliti selanjutnya.

A. Kesimpulan

Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan jenis

penelitian deskriptif survei dimana tidak dilakukan perlakuan khusus

terhadap variabel. Hasil penelitian yang telah dilakukan pada 246

mahasiswa Departemen Ilmu Keperawatan Universitas Diponegoro dapat

disimpulkan bahwa pengetahuan mahasiswa tentang bencana adalah

kurang dan perawat memiliki kesiapsiagaan yang kurang. Hasil analisa

hubungan pengetahuan dan kesiapsiagaan bencana didapatkan nilai ρ =

0,000 (ρ = 0,05) sehingga terdapat hubungan antara kedua variabel, dapat

dikatakan apabila tingkat pengetahuan semakin baik maka tingkat

kesiapsiagaan bencana juga akan semakin baik.

B. Saran

Hasil penelitian ini diharapkan bagi mahasiswa keperawatan untuk

meningkatkan pengetahuan dan kesiapsiagaan bencana di lingkungan

rumah maupun kampus dengan mengikuti pelatihan dan pendidikan, serta

melakukan simulasi bencana bersama dengan keluarga sehingga dapat

turut serta dalam upaya tanggap bencana.


61

Hasil penelitian ini diharapkan kepada institusi untuk dapat

mengembangkan metode pembelajaran pada mata kuliah Keperawatan

Bencana dengan media yang menarik seperti poster maupun video untuk

meningkatkan pengetahuan dan kesiapsiagaan mahasiswa dalam

menghadapi bencana sehingga dapat menjadi bekal mahasiswa saat

menjalankan tugasnya sebagai perawat di intansi pelayan kesehatan

maupun di masyarakat.

Saran untuk peneliti selanjutnya dapat melakukan penelitian

tentang kesiapsiagaan bencana dengan melibatkan mahasiswa profesi

kesehatan lainnya yang ada di Fakultas Kedokteran Universitas

Diponegoro.
DAFTAR PUSTAKA

1. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB). Peraturan Kepala


Badan Nasional Penanggulangan Bencana Nomor 8 Tahun 2011 Tentang
Standardisasi Data Kebencanaan [Internet]. Jakarta: Badan Nasional
Penanggulangan Bencana (BNPB); 2011. 1-38 p. Available from:
[Link]
2. Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2007 Tentang Penanggulangan Bencana
[Internet]. 24 Republik Indonesia; 2007. Available from:
[Link]
3. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB). Data Informasi
Bencana Indonesia: Bencana Menurut Jenisnya di Indonesia Tahun
2013/2018. [Link]. 2018.
4. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB). Data Informasi
Bencana Indonesia: Bencana Menurut Wilayah di Indonesia Tahun
2013/2018 [Internet]. [Link]. 2018. Available from:
[Link]
5. Alimin K. Bencana alam angin ribut melanda UIN SUSKA Riau [Internet].
[Link]. 2017. Available from: [Link]
[Link]/2017/11/07/bencana-alam-angin-ribut-melanda-uin-suska-riau/
6. Kompas. Gempa Ambon Rusak 40 Rumah, 4 Sekolah dan 2 Gedung
Kampus. [Link] [Internet]. 2017; Available from:
[Link]
rusak-40-rumah-4-sekolah-dan-2-gedung-kampus
7. Kompas. Kampus IPB Kebakaran, Kerugian Ditaksir Rp 2 Milyar.
[Link] [Internet]. 2017; Available from:
[Link]
[Link]
8. Kompas. Gedung Rektorat Unimal Sengaja Dibakar. [Link]
[Internet]. 2017; Available from:
[Link]
55
9. Kompasiana. Si Jago Merah Melahap Asrama Mahasiswa di Depan
Kampus UHO. 2018; Available from:
[Link]
merah-melahap-asrama-mahasiswa-di-depan-kampus-universitas-halu-
oleo-kendari
10. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Semarang. Daerah

62
63

Rawan Bencana di Kota Semarang [Internet]. [Link].


Kota Semarang; 2018. Available from:
[Link]
11. Antaranews. Gempa Kagetkan Warga Semarang. [Link]
[Internet]. 2017; Available from:
[Link]
12. Kebakaran Dekat Kampus Undip, 1 Orang Tewas. [Link]
[Internet]. 2016; Available from:
[Link]
[Link]
13. Departemen Kesehatan Republik Indonesia (Depkes RI). Pedoman Teknis
Penanggulangan Krisis Kesehatan Akibat Bencana. 2007.
14. Putra A, Juwita R, Risna, Alfiandi R, Arnita Y, M. Iqbal E. Peran dan
Kepemimpinan Perawat Dalam Manajemen Bencana Pada Fase Tanggap
Darurat. Idea Nurs J. 2017;1(1):25–31.
15. Achora S, Kamanyire JK. Disaster preparedness: Need for inclusion in
undergraduate nursing education. Sultan Qaboos Univ Med J.
2016;16(1):e15–9.
16. Kim U, Mayner L. Disaster Nursing: A Descriptive Survey of Australian
Undergraduate Nursing Curricula. Australas Emerg Nurs J. 2011;14:1–5.
17. Dwi A, Pangesti H. Gambaran Tingkat Pengetahuan Dan Aplikasi Fakultas
Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia Tahun 2012 Fakultas Ilmu
Keperawatan Universitas Indonesia Tahun 2012. 2012;
18. Rahayu. Gambaran Tingkat Kesiapsiagaan Bencana Gempa Bumi Pada
Mahasiswa Program Studi Ilmu Keperawatan Universitas Muhammadiyah
Yogyakarta. 2017;1–23.
19. Kurniawati D. Program Studi Pendidikan Geografi. 2017;135–42.
20. Departemen Ilmu Keperawatan. Profil Program Pendidikan Ners 2014.
Semarang; 2014.
21. International Council of Nurses (ICN). ICN Framework of Disaster
Nursing Competencies [Internet]. Geneva: International Council of Nurses
(ICN); World Health Organization (WHO); 2009. Available from:
[Link]
sNetwork/Disaster_Nursing_Competencies_lite.pdf
22. Tyas MDC. Keperawatan Kegawatdaruratan dan Manajemen Bencana. 1st
ed. Jakarta: Kementrian Kesehatan Republik Indonesia; 2016.
23. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB). Indeks Resiko Bencana
64

Indonesia. 1st ed. Jakarta: Direktorat Pengurangan Risiko Bencana Deputi


Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan; 2013. 314 p.
24. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB). Risiko Bencana
Indonesia. Jakarta: Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB);
2016. 218 pp.
25. Divisi Manajemen Bencana Paramartha. Buku Saku: Pedoman
Kesiapsiagaan Menghadapi Gempa Bumi. Bandung; 2010.
26. Kementerian Perhubungan Republik Indonesia (Kemenhub RI). Pedoman
Induk Penanggulangan Darurat Kebakaran dan Bencana Alam di
Lingkungan Kantor Pusat Kementerian Perhubungan [Internet]. Available
from: [Link]
27. International Labour Organization Jakarta (ILO). Keselamatan dan
Kesehatan Kerja Sarana Untuk Produktivitas. 1st ed. Jakarta; 2013.
28. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (Kemenkes RI). Peraturan
Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 19 Tahun 2016 Tentang
Sistem Penanggulangan Gawat Darurat Terpadu. 19 Republik Indonesia;
2016 p. 1–18.
29. Sudibyakto D. Waspadai Puting Beliung. Yogyakarta: UGM; 2008.
30. United Nations (UN). Disaster Preparedness for Effective Response. United
Nation (UN); 2015.
31. Mohammad-pajooh E, Ab. Aziz K. Investigating factors for disaster
preparedness among residents of Kuala Lumpur. Nat Hazards Earth Syst
Sci Discuss [Internet]. 2014;2(5):3683–709. Available from:
[Link]
32. Notoatmodjo. Promosi kesehatan teori dan Aplikasi. Jakarta: PT Rineka
Cipta; 2005.
33. Anderson, L. W. dan Krathwohl DR. Kerangka Landasan Untuk
Pembelajaran, Pengajaran, dan Asesmen. Prihantoro A, editor. Yogyakarta:
Pustaka Pelajar; 2017.
34. Firmansyah I, Rasni H, Rondhianto. Hubungan Pengetahuan dengan
Perilaku Kesiapsiagaan dalam Menghadapi Bencana Banjir dan Longsor
pada Remaja Usia 15-18 tahun di SMA Al-Hasan Kemiri Kecamatan Panti
Kabupaten Jember ( The Correlation Between Knowledge and behavior
preparedness in Facing of. 2014;1–8. Available from:
[Link]
[Link]?sequence=1
35. Sunarti V. Peranan Pendidikan Luar Sekolah Dalam Rangka Mitigasi
65

Bencana. 2014;2(2):31.
36. Maryanti S, Lestari E, Putri W, Wardani AR, Haris, Faza. Hubungan
Tingkat Pendidikan Masyarakat Terhadap Kesiapsiagaan Bencana Tanah
Longsor di Kelurahan Giritirto Kecamatan Wonogiri. 2008;(S
540907024):1–93.
37. Hoffmann R, Muttarak R. Learn from the Past, Prepare for the Future:
Impacts of Education and Experience on Disaster Preparedness in the
Philippines and Thailand. World Dev [Internet]. 2017;96:32–51. Available
from: [Link]
38. Riyanto, Budiman. Pengetahuan dan Sikap dalam Penelitian Kesehatan.
Jakarta: Salemba Medika; 2013.
39. Setiadi. Konsep dan Praktik Penulisan Riset Keperawatan. 2nd ed.
Yogyakarta: Graha Ilmu; 2013. xiv, 354 hlm.
40. Sastroasmoro S. Dasar-dasar Metodologi Penelitian Klinis. 5th ed. Jakarta:
CV. Sagung Seto; 2014.
41. Nursalam. Metodologi Penelitian Ilmu Keperawatan: Pendekatan Praktis.
4th ed. Lestari PP, editor. Jakarta: Salemba Medika; 2016. 454 hlm.
42. Murti B. Desain dan Ukuran Sampel untuk Penelitian Kuantitatif dan
Kualitatif di Bidang Kesehatan. Yogyakarta: Gadjah Mada University
Press; 2006.
43. Faisal, Sony, Bagya M. Metodelogi Penelitian dan Satiatistika. Jakarta:
Kemenkes RI; 2017.
44. Swarjana IK. Metodologi Penelitian Kesehatan- Tuntunan Praktis
Pembuatan Proposal Penelitian untuk Mahasiswa Keperawatan, Kebidanan
dan Profesi Bidang Kesehatan Lainnya. 1st ed. Yogyakarta: Andi Offset;
2015.
45. Hidayat AAA. Metode Penelitian Keperawatan dan Teknik Analisa Data.
Jakarta: Salemba Medika; 2009.
46. Santoso S. Mengatasi Berbagai Masalah Statistik dengan SPSS. Jakarta: PT
Gramedia; 2005.
47. Tanaka, Kazuko. The Impact of Disaster Education on Public Preparation
and Mitigation for Earthquakes: a Cross-country Comparison Between
Fukui, Japan, and San Fransisco Bay Area, California, USA. Journal of
Applied Geography. 2005.
48. Widiyanita, dkk. Tingkat Kesiapsiagaan Keluarga Terhadap Bencana
Banjir di Kelurahan Nglorog Kecamatan Sragen Kabupaten Sragen.
Prosiding Seminar Nasional Geografi UMS. 2017
66

49. Keputusan Menteri Pekerjaan Umum Nomor 10 Tahun 2000 Tentang


Ketentuan Teknis Pengamanan Terhadap Bahaya Kebakaran Pada
Bangunan Gedung dan Lingkungan.
50. Rizki, dkk. Hubungan Tingkat Pengetahuan Bencana dengan
Kesiapsiagaan Masyarakat di Kecamatan Wonogiri Dalam Menghadapi
Bencana Gempa Bumi. Prosiding Seminar Nasional UMS. 2017
51. Pratiwi, Ningrum RA. Hubungan Antara Tingkat Pengetahuan dengan
Sikap Kesiapsiagaan Bencana Pada Tenaga Kesehatan Puskesmas Banda
Aceh. 2016
52. Herdwiyanti, F & Sudaryono. Perbedaan n Kesiapsiagaan Menghadapi
Bencana Ditinjau dari Tingkat Self-Efficacy Pada Anak Usia Sekolah
Dasar di Daerah Dampak Bencana Dunung Kelud. Jurnal Fakultas
Psikologi Universitas Airlangga. 2013
53. LIPI dan UNESCO. Kajian Kesiapsiagaan Masyarakat Dalam
Mengantisipasi Bencana Gempa Bumi dan Tsunami. Jakarta; Deputi
Pengetahuan Kebumian LIPI. 2006
54. Notoadmodjo, S. Promosi Kesehatan dan Perilaku Kesehatan. Jakarta:
Rinka Cipta. 2012
55. Husna, Cut. Faktor-faktor yang Mmepengaruhi Kesiapsiagaan Bencana di
RSUDZA Banda Aceh. Idea Nursing Journal Vol. 2 (2). 2017
56. Tuhusetya, S. Pendidikan Kebencanaan dan Kesigapan Mengurangi
Resiko. 2010
LAMPIRAN

67
Lampiran 1. Permohonan Ijin Penggunaan Kuesioner
Lampiran 2. Lembar Persetujuan Sebagai Responden dan Kuesioner Penelitian

KUESIONER PENELITIAN

Judul Penelitian:
“HUBUNGAN ANTARA PENGETAHUAN DENGAN
KESIAPSIAGAAN BENCANA PADA MAHASISWA KEPERAWATAN
UNIVERSITAS DIPONEGORO”

Peneliti:
Rana Rofifah (22020114130117)

DEPARTEMEN ILMU KEPERAWATAN


FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS DIPONEGORO
2018
LEMBAR PERSETUJUAN

Perkenalkan, nama saya Rana Rofifah, mahasiswa Sarjana Reguler (S1)


di Departemen Ilmu Keperawatan, Universitas Diponegoro. Saat ini saya
sedang merancang penelitian yang berjudul “Hubungan Antara Pengetahuan
dengan Kesiapsiagaan Bencana Pada Mahasiswa Keperawatan
Universitas Diponegoro” sebagai persyaratan meraih gelar sarjana. Penelitian
ini bertujuan mengetahui lebih jauh hubungan tingkat pengetahuan dan
kesiapan bencana mahasiswa Departemen Ilmu Keperawatan Universitas
Diponegoro. Penelitian ini dilakukan di Kampus Departemen Ilmu
Keperawatan, FK Undip, Tembalang dengan melibatkan kurang lebih 200
mahasiswa DIK Undip, Program Sarjana Reguler dan Program Sarjana
Ekstensi.

Saat ini Anda diminta untuk berpartisipasi dalam penelitian saya


(peneliti). Peneliti (saya) akan menjelaskan bahwa keterlibatan Anda dalam
penelitian ini atas dasar sukarela. Keputusan Anda untuk ikut ataupun tidak
dalam penelitian ini, tidak berpengaruh pada status akademis Anda di DIK
Undip. Anda juga berhak memutuskan bersedia atau tidak untuk menjadi
responden pada penelitian ini. Saya akan menjaga kerahasiaan Anda dan
keterlibatan Anda dalam penelitian ini. Nama Anda tidak akan dicatat
dimanapun. Semua kuesioner yang telah terisi hanya akan diberikan nomor
kode yang tidak bisa digunakan untuk mengidentifikasi identitas Anda. Apabila
hasil penelitian ini dipublikasikan, tidak ada satu identifikasi yang berkaitan
dengan Anda akan di tampilkan dalam publikasi tersebut. Siapa pun yang
bertanya tentang keterlibatan Anda dan apa yang Anda jawab di penelitian ini,
Anda berhak untuk tidak menjawabnya. Namun, jika diperlukan catatan
penelitian ini dapat dijadikan barang bukti apabila pengadilan memintanya.
Keterlibatan Anda dalam penelitian ini, sejauh yang saya ketahui, tidak
menyebabkan risiko yang lebih besar dari pada risiko yang biasa Anda hadapi
sehari-hari.

Kuesioner yang akan saya berikan terdiri dari 4 (empat) bagian. Bagian
pertama berisi pertanyaan tentang identitas Anda. Bagian kedua berisi
pertanyaan tentang pengetahuan kebencanaan. Bagian ketiga berisi pertanyaan
tentang pengalaman terkait bencana. Bagian keempat berisi pertanyaan tentang
aplikasi kesiapan bencana dalam kehidupan sehari-hari. Diharapkan Anda
dapat menyelesaikan pengisian kuesioner ini antara 15-20 menit.
Apabila di kemudian hari terdapat hal-hal yang perlu ditanyakan, Anda
dapat menghubungi saya kembali. Alamat saya di Departemen Ilmu
Keperawatan, Fakultas Kedokteran, Universitas Diponegoro. Saya dapat
dihubungi di nomor telepon +62-857-4303-7979. Pembimbing saya adalah Ibu
Nana Rochana, [Link]., MN dari Departemen Ilmu Keperawatan, Fakultas
Kedokteran, Universitas Diponegoro.
Walaupun keterlibatan dalam penelitian ini tidak memberikan
keuntungan langsung pada Anda, hasil penelitian ini dapat bermanfaat untuk
mengetahui lebih jauh tentang hubungan pengetahuan dengan kesiapan
bencana mahasiswa DIK Undip. Setelah menyelesaikan pengisian kuesioner
ini, Anda akan diberikan cendera mata dari penulis.
Setelah membaca informasi di atas dan memahami tentang tujuan
penelitian dan peran yang diharapkan dari saya di dalam penelitian ini, saya
setuju untuk berpartisipasi dalam penelitian ini.
Nama Responden :
Nomor Telepon :

SETUJU/TIDAK SETUJU*
Semarang,……………….2018
TTD Responden

(…...............................)
*Coret salah satu

* No Telp diperlukan hanya untuk keperluan klarifikasi bila ada jawaban pertanyaan
yang dianggap kurang jelas
Bagian ini berisi data terkait identitas diri Anda.
Petunjuk Pengisian: Beri tanda checklist (√) pada kotak pilihan yang
tersedia

1. Kode responden (diisi oleh peneliti)

2. Jenis kelamin Laki-laki Perempuan

3. Usia tahun (dibulatkan berdasarkan ulang tahun terakhir)

4. Program Pendidikan

Sarjana Reguler
Sarjana Ekstensi
5. Angkatan

2017 2016 2015


2014
6. Pernahkah Anda mendapatkan Mata Ajar yang terkait bencana:
Ya Tidak

7. Apabila Ya, sebutkan nama Mata Ajar yang bersangkutan:


Keperawatan Kebencanaan

Dll, sebutkan …………………………………………


8. Pernahkan Anda mendapatkan Pelatihan/Seminar tentang Bencana,
misalnya Nursing First Aid (NUFA), School of Volunteer (SoV), dll
Ya Tidak

9. Apabila Ya, sebutkan nama Pelatihan/Seminar tersebut:

……………………………………………………………………

10. Tahun mengikuti Mata Ajar/Pelatihan/Seminar terkait Bencana:


……………………………………………..

11. Pernahkah Anda mengikuti simulasi penyelamatan diri saat bencana?

Ya, tahun ………… Tidak


II. Bagian Kedua

Bagian ini berisi pertanyaan terkait pengetahuan Anda seputar bencana.

Petunjuk Pengisian: Beri tanda silang (X) pada jawaban yang menurut
Anda paling benar.

1. Apa yang dimaksud bencana alam:


a. Bencana akibat perilaku manusia
b. Bencana akibat kerusuhan sosial politik
c. Bencana akibat kejadian alam
2. Mana diantara fenomena berikut yang merupakan bencana alam:
a. Kebakaran gedung
b. Banjir
c. Letusan gunung merapi
3. Fenomena yang dapat Anda ketahui untuk menyatakan suatu
keadaan tersebut adalah gempa diantaranya?
a. Merasakan adanya angin kencang diikuti runtuhnya pepohonan
b. Merasakan suhu udara sekitar menjadi lebih panas
c. Merasakan adanya guncangan dan melihat benda-
benda di sekitar ikut bergoncang
4. Menurut Anda, gempa berkekuatan sedang adalah gempa dengan
kekuatan :
a. 8 Skala Richter
b. 7 Skala Richter
c. 6 Skala Richter
5. Apa yang akan Anda lakukan seandainya terjadi gempa dan posisi
Anda sedang berada di dalam gedung bertingkat?
a. Segera turun menggunakan lift
b. Berlari keluar dari gedung bertingkat dengan menuruni tangga
darurat
c. Mencari tempat perlindungan di bawah meja yang
kokoh, menunggu sampai goncangan berhenti dan aman
untuk bergerak
6. Apa yang akan Anda lakukan seandainya terjadi gempa dan posisi
Anda sedang berada di dalam lift ?
a. Segera membuka pintu lift dengan paksa
b. Tetap tenang dan tetap berhubungan dengan ruang control
dan sambil menekan tombol darurat yang ada
c. Panik dan berteriak minta tolong
7. Apa yang akan Anda lakukan seandainya terjadi gempa dan posisi
anda sedang berada di luar ruangan ?
a. Mencari tempat terbuka dekat dengan bangunan untuk
berlindung
b. Mencari tempat terbuka yang jauh dari bangunan dan tiang
listrik
c. Mencari tempat terbuka dan berlindung di bawah tiang listrik
8. Apa yang akan Anda lakukan seandainya terjadi gempa dan posisi
anda sedang berada di lobby utama gedung ?
a. Berlari ke luar lobby
b. Segera berlindung dan menjauhi daerah berkaca
c. Hanya berdiam saja tidak melakukan apa-apa (pasrah)
9. Fenomena yang dapat Anda ketahui untuk menyatakan suatu
keadaan tersebut adalah kebakaran gedung diantaranya?
a. Banyak orang yang berlari dan berteriak kebakaran
b. Melihat adanya api dan asap di ruangan kampus
c. Mendengar suara orang berteriak meminta tolong
10. Saat saya melihat tanda-tanda kebakaran, hal yang saya lakukan adalah:
a. Menyelamatkan dokumen penting di tempat yang jauh dari
sumber api
b. Berlari menjauh dari sumber kebakaran
c. Berteriak minta tolong
11. Salah satu bahan yang mudah memicu kebakaran besar, yaitu:
a. Listrik
b. Bensin
c. Plastik
12. Menurut Anda, potensi risiko yang terdapat di lingkungan kampus
saat terjadi gempa adalah?
a. Potensi risiko yang berasal dari runtuhan bangunan dan
pecahan kaca
b. Potensi risiko yang berasal dari bahan yang mudah
terbakar (bensin, minyak tanah)
c. Potensi risiko yang berasal dari kerumunan orang yang
berlarian
13. Menurut Anda, potensi risiko yang terdapat di lingkungan kampus saat
terjadi kebakaran gedung adalah ?
a. Potensi risiko yang berasal dari bahan yang mudah
terbakar (bensin, minyak tanah)
b. Potensi risiko yang berasal dari runtuhan bangunan dan
pecahan kaca
c. Potensi risiko yang berasal dari asap benda yang terbakar
14. Upaya kegiatan yang dilakukan setelah kejadian bencana dengan
membantu masyarakat memulihkan kondisi rumah dan fasilitas umum
disebut dengan :
a. Rehabilitasi (rehabilitation)
b. Pemulihan (recovery)
c. Tanggap darurat (response)
15. Upaya untuk mengurangi risiko bencana, baik melalui
pembangunan fisik maupun peningkatan kemampuan
menghadapi ancaman bencana disebut dengan:
a. Mitigasi (mitigation)
b. Pencegahan (prevention)
c. Peringatan dini (early warning)
16. Fenomena berikut tergolong sebagai kondisi gawat darurat saat
bencana, kecuali:
a. Hubungan pendek listrik
b. Tumpahan bahan kimia di laboratorium
c. Runtuhnya langit-langit gedung bertingkat
17. Apa yang dimaksud dengan kesiapan bencana:
a. Upaya yang dilakukan segera pada saat kejadian bencana
untuk menanggulangi dampak yang ditimbulkan
b. Kesiapan untuk menyelamatkan diri, membantu anggota
keluarga, teman, dan warga sekitar saat bencana
c. Program jangka menengah dan jangka panjang guna
perbaikan fisik, sosial, dan ekonomi pasca bencana
18. Suatu tempat yang dapat dijadikan tempat berlindung setelah proses
evakuasi bencana gempa dilakukan disebut:
a. Jalur evakuasi (Evacuation Rute)
b. Tempat berkumpul sementara (Assembly Point)
c. Bangunan tahan gempa (Earthquake Resistant Building)
19. Layanan pertolongan yang bisa dihubungi saat terjadi
kebakaran gedung, yaitu:
a. 110
b. 113

c. 118
20. Dibawah ini yang tergolong keadaan darurat tingkat sedang adalah:
a. Hubungan pendek listrik
b. Terjatuh di tangga gedung bertingkat
c. Gempa bumi
21. Teknik perlindungan diri yang tepat saat terjadi gempa di dalam
ruangan adalah:
a. Berpegang (Hold), lindungi (cover), berlutut (down)
b. Lindungi, berlutut, berpegang
c. Berlutut, lindungi, berpegang
22. Kelompok masyarakat yang paling rentan terhadap bencana alam
adalah :
a. Penyandang cacat
b. Ibu hamil
c. Anak-anak
23. Peran perawat saat terjadi bencana antara lain :
a. Menolong korban meninggal
b. Menyediakan tenda darurat untuk tempat berlindung
c. Memberikan pertolongan gawat darurat
24. Yang dimaksud dengan triage adalah :
a. Pengelompokan korban bencana berdasarkan hasil pemeriksaan
fisik
b. Pengelompokan korban bencana berdasarkan status kesadaran
c. Pengelompokan korban bencana berdasarkan beratnya cidera
III. Bagian Ketiga

Bagian ini berisi pertanyaan terkait pengalaman Anda menghadapi kejadian


bencana.

Petunjuk Pengisian: Beri tanda silang (X) pada jawaban yang menurut
Anda paling benar.

1. Apakah Anda pernah mengalami kejadian gempa ?


a. Pernah b. Tidak Pernah
2. Jika Iya, tanda-tanda apa yang PERNAH ANDA RASAKAN saat
gempa tersebut berlangsung ? [Khusus No. 2, Beri tanda checklist (√)
pada pilihan yang sesuai, jawaban boleh lebih dari satu]
Pernah Tanda-Tanda Gempa Bumi
Dirasakan
Benda-benda di meja bergerak
Beberapa orang berteriak gempa
Pintu bergerak
Pohon-pohon bergoyang
Bangunan sekitar runtuh
Bangunan hancur dan tanah retak
Benda melayang di udara

3. Dampak yang Anda rasakan terhadap kejadian gempa adalah


a. Biasa saja, karena Anda tidak merasakan langsung dampaknya
b. Sangat besar, hingga menimbulkan trauma tersendiri terhadap
Anda
4. Apakah Anda pernah mengalami kejadian kebakaran ?
a. Pernah b. Tidak Pernah
5. Jika iya, tanda-tanda apa yang PERNAH ANDA RASAKAN saat
kebakaran tersebut berlangsung ? [Khusus No. 5, beri tanda checklist
(√) pada pilihan yang sesuai, jawaban boleh lebih dari satu]
Pernah Tanda-Tanda Kebakaran
Dirasakan
Mengalami luka bakar
Melihat korban yang mengalami luka bakar serius
Melihat gedung yang terbakar secara langsung
Melihat api dari kompor yang meledak

6. Dampak yang Anda rasakan terhadap kejadian kebakaran adalah


a. Biasa saja, karena Anda tidak merasakan langsung dampaknya
b. Sangat besar, hingga menimbulkan trauma tersendiri terhadap
Anda
7. Jenis bencana lainnya yang PERNAH ANDA ALAMI adalah :
[Khusus No. 7, jawaban boleh lebih dari satu)
a. Banjir
b. Erupsi gunung merapi
c. Badai
d. Tsunami
e. Bencana lainnya, sebutkan ………………………
8. Bencana yang PALING BERISIKO terjadi di lingkungan sekitar
kampus Anda (Departemen Keperawatan Undip) adalah :
a. Gempa bumi
b. Kebakaran
c. Banjir
d. Erupsi gunung merapi
e. Badai
f. Tsunami
g. Bencana lainnya, sebutkan ………………
9. Apakah Anda merasa tertarik untuk menggali informasi terkait kejadian
bencana ?
a. Iya b. Tidak
10. Jika Iya, sumber informasi yang Anda gunakan untuk meningkatkan
pemahaman tentang bencana adalah : [Khusus No. 10, jawaban boleh
lebih dari satu]
a. Koran
b. Televisi
c. Radio
d. Internet
e. Simulasi bencana
f. Bahan kuliah
11. Seberapa sering Anda mengakses informasi tentang penanggulangan
bencana :
a. Setiap hari
b. 1x per minggu
c. 1x per bulan
d. Hanya bila ada kejadian bencana
12. Menurut Anda, apakah lingkungan kampus Anda saat ini berada di
daerah yang rawan bencana ?
a. Iya b. Tidak

13. Menurut Anda, apakah pihak kampus telah siap menghadapi


kemungkinan terjadinya bencana ?
a. Iya b. Tidak

IV. Bagian Keempat

Bagian ini berisi pernyataan terkait aplikasi kesiapan bencana dalam


kehidupan sehari-hari.

Petunjuk Pengisian: Beri tanda silang (X) pada jawaban yang


menurut Anda paling benar.

1. Pernahkan Anda memperagakan simulasi bencana di keluarga Anda ?


a. Iya b. Tidak
2. Tindakan apa yang pernah Anda lakukan saat bencana? [Khusus No.2,
jawaban boleh lebih dari satu]
a. Perawatan luka
b. Resusitasi jantung paru (RJP)
c. Mengangkat korban ke tempat yang aman
d. Tidak pernah
3. Mana diantara perlengkapan berikut yang SUDAH ANDA MILIKI di
rumah ?

Memiliki Nama Perlengkapan


Tas punggung
Baju dan selimut
Perlengkapan P3K (kotak, set luka, obat-obatan)
Senter, baterai
Handphone
Cadangan makan dan minum selama 3 hari
Cadangan kacamata
Kartu debet/kredit
Perlengkapan sanitasi (sabun, tissue, kantong sampah)
Alat pemadam api
Nomor telepon darurat (polisi, pemadam kebakaran)
Pelampung

4. Dimana tempat yang menurut Anda paling aman untuk berlindung


seandainya rumah Anda terkena bencana ?
a. Sekolah
b. Tempat ibadah
c. Rumah saudara
5. Mana diantara fasilitas berikut yang menurut Anda sudah tersedia di
kampus Departemen Ilmu Keperawatan?

Tersedia Nama Fasilitas


di Kampus
Pintu darurat
Sarana jalan keluar darurat (tangga darurat)
Papan petunjuk arah keluar, bertuliskan EXIT
Denah jalur evakuasi darurat
Tempat berkumpul sementara (Assembly Point)
Penerangan darurat
Alat Pemadam Api Ringan
Alarm darurat
Petunjuk nomor telepon darurat

- TERIMA KASIH ATAS PARTISIPASI ANDA -


Lampiran 3. Permohonan Ijin Pengambilan Data Awal
Lampiran 4. Permohonan Izin Mengajukan Ethical Clearence
Lampiran 5. Ethical Clearence
Lampiran 6. Surat Izin Pengambilan Data
Lampiran 7. Hasil Penelitian

Jenis Kelamin

Cumulative
Frequency Percent Valid Percent Percent

Valid Laki-laki 23 9.3 9.3 9.3

Perempuan 223 90.7 90.7 100.0

Total 246 100.0 100.0

Usia

Cumulative
Frequency Percent Valid Percent Percent

Valid 19 25 10.2 10.2 10.2

20 55 22.4 22.4 32.5

21 74 30.1 30.1 62.6

22 66 26.8 26.8 89.4

23 11 4.5 4.5 93.9

28 1 .4 .4 94.3

33 5 2.0 2.0 96.3

34 3 1.2 1.2 97.6

36 2 .8 .8 98.4

37 1 .4 .4 98.8

39 2 .8 .8 99.6

43 1 .4 .4 100.0
Jenis Kelamin

Cumulative
Frequency Percent Valid Percent Percent

Valid Laki-laki 23 9.3 9.3 9.3

Perempuan 223 90.7 90.7 100.0

Total 246 100.0 100.0

Program Pendidika

Cumulative
Frequency Percent Valid Percent Percent

Valid Sarjana Ekstensi 14 5.7 5.7 5.7

Sarjana Reguler 232 94.3 94.3 100.0

Total 246 100.0 100.0

Angkatan

Cumulative
Frequency Percent Valid Percent Percent

Valid 2014 81 32.9 32.9 32.9

2015 64 26.0 26.0 58.9

2016 55 22.4 22.4 81.3

2017 46 18.7 18.7 100.0

Total 246 100.0 100.0

Mata kuliah Keperawatan Bencana


Cumulative
Frequency Percent Valid Percent Percent

Valid Tidak 104 42.3 42.3 42.3

Ya 142 57.7 57.7 100.0

Total 246 100.0 100.0

Seminar dan Pelatihan

Cumulative
Frequency Percent Valid Percent Percent

Valid Tidak 174 70.7 70.7 70.7

ya 72 29.3 29.3 100.0

Total 246 100.0 100.0

Simulasi

Cumulative
Frequency Percent Valid Percent Percent

Valid Tidak 71 28.9 28.9 28.9

ya 175 71.1 71.1 100.0

Total 246 100.0 100.0

Pengalaman bencana

Cumulative
Frequency Percent Valid Percent Percent

Valid 1 36 14.6 14.6 14.6


2 210 85.4 85.4 100.0

Total 246 100.0 100.0

Definisi bencana alam

Cumulative
Frequency Percent Valid Percent Percent

Valid Bencana akibat kejadian


244 99.2 99.2 99.2
alam

Bencana akibat perilaku


2 .8 .8 100.0
manu

Total 246 100.0 100.0

Fenomena bencana

Cumulative
Frequency Percent Valid Percent Percent

Valid Banjir 15 6.1 6.1 6.1

Kebakaran gedung 2 .8 .8 6.9

Letusan gunung merapi 229 93.1 93.1 100.0

Total 246 100.0 100.0

Tanda-tanda gempa

Cumulative
Frequency Percent Valid Percent Percent
Valid Merasakan adanya
guncangan dan melihat
245 99.6 99.6 99.6
benda-benda di sekitar ikut
bergoncang

Merasakan suhu udara


1 .4 .4 100.0
sekitar menjadi lebih panas

Total 246 100.0 100.0

Skala gempa sedang

Cumulative
Frequency Percent Valid Percent Percent

Valid 6 SR 207 84.1 84.1 84.1

7 SR 36 14.6 14.6 98.8

8 SR 3 1.2 1.2 100.0

Total 246 100.0 100.0

Perlindungan diri saat gempa

Cumulative
Frequency Percent Valid Percent Percent

Valid Berlari keluar dari gedung


bertingkat dengan menuruni 59 24.0 24.0 24.0
tangga darurat

Mencari tempat perlindungan


di bawah meja yang kokoh,
menunggu sampai 186 75.6 75.6 99.6
goncangan berhenti dan
aman untuk bergerak
Segera turun menggunakan
1 .4 .4 100.0
lift

Total 246 100.0 100.0

Yang dilakukan saat gempa

Cumulative
Frequency Percent Valid Percent Percent

Valid Panik dan berteriak minta


2 .8 .8 .8
tolong

Segera membuka pintu lift


6 2.4 2.4 3.3
dengan paksa

Tetap tenang dan tetap


berhubungan dengan ruang
238 96.7 96.7 100.0
control dan sambil menekan
tombol darurat yang ada

Total 246 100.0 100.0

Yang dilakukan saat bencana diluar

Cumulative
Frequency Percent Valid Percent Percent

Valid Mencari tempat terbuka


dekat dengan bangunan 7 2.8 2.8 2.8
untuk berlindung

Mencari tempat terbuka yang


jauh dari bangunan dan tiang 239 97.2 97.2 100.0
listrik

Total 246 100.0 100.0

Bencana saat di lobby


Cumulative
Frequency Percent Valid Percent Percent

Valid Berlari ke luar lobby 109 44.3 44.3 44.3

Segera berlindung dan


137 55.7 55.7 100.0
menjauhi daerah berkaca

Total 246 100.0 100.0

Tanda-tanda kebakaran

Cumulative
Frequency Percent Valid Percent Percent

Valid Banyak orang yang berlari


28 11.4 11.4 11.4
dan berteriak kebak

Melihat adanya api dan asap


217 88.2 88.2 99.6
di ruangan kampus

Mendengar suara orang


1 .4 .4 100.0
berteriak meminta tolon

Total 246 100.0 100.0

Yang dilakukan apabila ada tanda kebakaran

Cumulative
Frequency Percent Valid Percent Percent

Valid Berlari menjauh dari sumber


177 72.0 72.0 72.0
kebakaran

Berteriak minta tolong 12 4.9 4.9 76.8

Menyelamatkan dokumen
penting di tempat yang jauh 57 23.2 23.2 100.0
dari sumber api
Definisi bencana alam

Cumulative
Frequency Percent Valid Percent Percent

Valid Bencana akibat kejadian


244 99.2 99.2 99.2
alam

Bencana akibat perilaku


2 .8 .8 100.0
manu

Total 246 100.0 100.0

Bahan pemicu kebakaran besar

Cumulative
Frequency Percent Valid Percent Percent

Valid Bensin 103 41.9 41.9 41.9

Listrik 135 54.9 54.9 96.7

Plastik 8 3.3 3.3 100.0

Total 246 100.0 100.0

Potens iresiko gempa dikampus

Cumulative
Frequency Percent Valid Percent Percent

Valid Potensi risiko yang berasal


dari bahan yang mudah 9 3.7 3.7 3.7
terbakar (bensin,

Potensi risiko yang berasal


dari kerumunan orang yang 18 7.3 7.3 11.0
berlarian
Potensi risiko yang berasal
dari runtuhan bangunan dan 219 89.0 89.0 100.0
pecahan kaca

Total 246 100.0 100.0

Potensi resiko kebakaran di kampus

Cumulative
Frequency Percent Valid Percent Percent

Valid Potensi risiko yang berasal


dari asap benda yang 103 41.9 41.9 41.9
terbakar

Potensi risiko yang berasal


dari bahan yang mudah 121 49.2 49.2 91.1
terbaka

Potensi risiko yang berasal


dari runtuhan bangunan dan 22 8.9 8.9 100.0
pe

Total 246 100.0 100.0

Upaya pemulihan pasca bencana

Cumulative
Frequency Percent Valid Percent Percent

Valid Pemulihan (recovery) 157 63.8 63.8 63.8

Rehabilitasi (rehabilitation) 71 28.9 28.9 92.7

Tanggap darurat (response) 18 7.3 7.3 100.0

Total 246 100.0 100.0


Upaya mengurangi resiko bencana

Cumulative
Frequency Percent Valid Percent Percent

Valid Mitigasi (mitigation) 102 41.5 41.5 41.5

Pencegahan (preventio 125 50.8 50.8 92.3

Peringatan dini (earl 19 7.7 7.7 100.0

Total 246 100.0 100.0

Fenomena gawat darurat saat bncana

Cumulative
Frequency Percent Valid Percent Percent

Valid Hubungan pendek listrik 32 13.0 13.0 13.0

Runtuhnya langit-langit
44 17.9 17.9 30.9
gedung berti

Tumpahan bahan kimia di


170 69.1 69.1 100.0
laboratorium

Total 246 100.0 100.0

Definisi kesiapsiagaan bencana

Cumulative
Frequency Percent Valid Percent Percent

Valid Kesiapan untuk


menyelamatkan diri,
membantu anggota 162 65.9 65.9 65.9
keluarga, teman, dan warga
sekitar saat bencan
Program jangka menengah
dan jangka panjang guna
6 2.4 2.4 68.3
perbaikan fisik, sosial, dan
ekonomi pasca bencana

Upaya yang dilakukan


segera pada saat kejadian
bencana untuk 78 31.7 31.7 100.0
menanggulangi dampak
yang ditimbulkan

Total 246 100.0 100.0

Tempat berkumpul pasca evakuasi

Cumulative
Frequency Percent Valid Percent Percent

Valid Bangunan tahan gempa


22 8.9 8.9 8.9
(Earthquake Resistant

Jalur evakuasi (Evacuation


22 8.9 8.9 17.9
Rute)

Tempat berkumpul
202 82.1 82.1 100.0
sementara (Assembly Point)

Total 246 100.0 100.0

Nomor damkar

Cumulative
Frequency Percent Valid Percent Percent

Valid 110 30 12.2 12.2 12.2

113 108 43.9 43.9 56.1

118 108 43.9 43.9 100.0


Definisi bencana alam

Cumulative
Frequency Percent Valid Percent Percent

Valid Bencana akibat kejadian


244 99.2 99.2 99.2
alam

Bencana akibat perilaku


2 .8 .8 100.0
manu

Total 246 100.0 100.0

Keadaan darurat tingkat sedang

Cumulative
Frequency Percent Valid Percent Percent

Valid Gempa bumi 21 8.5 8.5 8.5

Hubungan pendek listrik 116 47.2 47.2 55.7

Terjatuh di tangga gedung


109 44.3 44.3 100.0
bertingkat

Total 246 100.0 100.0

Teknik berlindung saat gempa

Cumulative
Frequency Percent Valid Percent Percent

Valid Berlutut, lindungi, berpegang 49 19.9 19.9 19.9

Berpegang (Hold), lindungi


158 64.2 64.2 84.1
(cover), berlutut (down)

Lindungi, berlutut,
39 15.9 15.9 100.0
berpegang
Definisi bencana alam

Cumulative
Frequency Percent Valid Percent Percent

Valid Bencana akibat kejadian


244 99.2 99.2 99.2
alam

Bencana akibat perilaku


2 .8 .8 100.0
manu

Total 246 100.0 100.0

Kelompok rentan saat bencana

Cumulative
Frequency Percent Valid Percent Percent

Valid Anak-anak 70 28.5 28.5 28.5

Ibu hamil 69 28.0 28.0 56.5

Penyandan 107 43.5 43.5 100.0

Total 246 100.0 100.0

Peran perawat saat bencana

Cumulative
Frequency Percent Valid Percent Percent

Valid Memberikan pertolongan


237 96.3 96.3 96.3
gawat darurat

Menolong korban meninggal 8 3.3 3.3 99.6

Menyediakan tenda darurat


1 .4 .4 100.0
untuk temp

Total 246 100.0 100.0


Definisi triage bencana

Cumulative
Frequency Percent Valid Percent Percent

Valid Pengelompokan korban


bencana berdasarkan 139 56.5 56.5 56.5
beratnya cidera

Pengelompokan korban
bencana berdasarkan hasil 65 26.4 26.4 82.9
pemeriksa

Pengelompokan korban
bencana berdasarkan status 42 17.1 17.1 100.0
kesadara

Total 246 100.0 100.0

Kategori Tingkat Pengetahuan

Cumulative
Frequency Percent Valid Percent Percent

Valid baik 116 47.2 47.2 47.2

kurang 130 52.8 52.8 100.0

Total 246 100.0 100.0

Kategori Tingkat Kesiapsiagaan

Cumulative
Frequency Percent Valid Percent Percent

Valid kurang 173 70.3 70.3 70.3

baik 73 29.7 29.7 100.0


Statistics

Skor kebakaran skor gempa

N Valid 246 246

Missing 0 0

Mean 3.90 5.09

Std. Error of Mean .069 .057

Median 4.00 5.00

Minimum 0 2

Skor gempa

Cumulative
Frequency Percent Valid Percent Percent

Valid kurang 1 .4 .4 .4

kurang 9 3.7 3.7 4.1

kurang 55 22.4 22.4 26.4

baik 83 33.7 33.7 60.2

baik 98 39.8 39.8 100.0

Total 246 100.0 100.0


Skor kebakaran

Cumulative
Frequency Percent Valid Percent Percent

Valid kurang 1 .4 .4 .4

kurang 2 .8 .8 1.2

kurang 22 8.9 8.9 10.2

kurang 67 27.2 27.2 37.4

baik 61 24.8 24.8 62.2

baik 90 36.6 36.6 98.8

baik 3 1.2 1.2 100.0

Total 246 100.0 100.0

Krostabulasi Kategori Pengetahuan * Kategori Kesiapsiagaan

KategoriKesiapsiagaan

kurang baik Total

KategoriPengetahuan baik Count 69 47 116

% within
59.5% 40.5% 100.0%
KategoriPengetahuan

% of Total 28.0% 19.1% 47.2%

Std. Residual -1.4 2.1

kurang Count 104 26 130


% within
80.0% 20.0% 100.0%
KategoriPengetahuan

% of Total 42.3% 10.6% 52.8%

Std. Residual 1.3 -2.0

Total Count 173 73 246

% within
70.3% 29.7% 100.0%
KategoriPengetahuan

% of Total 70.3% 29.7% 100.0%

Chi-Square Tests

Asymp. Sig. (2- Exact Sig. (2- Exact Sig. (1-


Value df sided) sided) sided)

Pearson Chi-Square 12.365a 1 .000

Continuity Correctionb 11.402 1 .001

Likelihood Ratio 12.460 1 .000

Fisher's Exact Test .000 .000

Linear-by-Linear
12.315 1 .000
Association

N of Valid Casesb 246

a. 0 cells (.0%) have expected count less than 5. The minimum expected count is 34.42.

b. Computed only for a 2x2 table

Symmetric Measures

Asymp. Std.
Value Errora Approx. Tb Approx. Sig.
Interval by Interval Pearson's R -.224 .062 -3.594 .000c

Ordinal by Ordinal Spearman


-.224 .062 -3.594 .000c
Correlation

N of Valid Cases 246

a. Not assuming the null hypothesis.

b. Using the asymptotic standard error assuming the null hypothesis.

c. Based on normal approximation.


Lampiran 8. Lembar Konsultasi
LEMBAR KONSULTASI

No Tanggal Materi Konsultasi Dosen


Ns. Nana Rochana,
1 20 Desember 2017 Topik Penelitian
[Link].,MN
Topik, Judul dan Jurnal Ns. Nana Rochana,
2 23 Maret 2018
Pendukung [Link].,MN
Ns. Nana Rochana,
3 13 April 2018 Judul Penelitian dan BAB I
[Link].,MN
Ns. Nana Rochana,
4 25 Mei 2018 BAB I-II
[Link].,MN
Ns. Nana Rochana,
5 02 Juni 2018 BAB I-III dan Kuesioner
[Link].,MN
Ns. Nana Rochana,
6 18 Juli 2018 BAB I-III dan Kuesioner
[Link].,MN
Ns. Nana Rochana,
7 23 Juli 2018 BAB I-III dan Kuesioner
[Link].,MN
Ns. Nana Rochana,
8 24 Juli 2018 BAB I-III dan Kuesioner
[Link].,MN
Ns. Nana Rochana,
9 06 Agustus 2018 Seminar Proposal
[Link].,MN
27 September Ns. Dody Setyawan,
10 Revisi Seminar Proposal
2018 [Link].,[Link]
13 November Agus Santoso,
11 Revisi Seminar Proposal
2018 [Link].,[Link]
14 November Ns. Nana Rochana,
12 Revisi Seminar Proposal
2018 [Link].,MN
Ns. Nana Rochana,
15 07 Januari 2019 Izin engambilan data
[Link].,MN
Ns. Nana Rochana,
18 29 Januari 2019 BAB III-VI
[Link].,MN
Ns. Nana Rochana,
19 31 Januari 2019 BAB III-VI
[Link].,MN
Ns. Nana Rochana,
20 6 Februari 2019 BAB III-VI
[Link].,MN
Lampiran 9. Lembar Pencapaian Penelitian
Waktu Pencapaian (Tiap Minggu)
Des Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Agust
Kegiatan
1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4
Penentuan Topik
Dan Judul
Bab 1 Pendahuluan
Bab 2 Tinjauan
Teori
Pengambilan Data KKN UNDIP 2017
Awal
Bab 3 Metode
Penelitian
Seminar Proposal
Revisi

Waktu Pencapaian (Tiap Minggu)


Sept Okt Nov Des Jan
Kegiatan
1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4
Permohonon EC
Revisi
Permohonan Ijin Penelitian
Pengambilan Data Penelitian
Bab 4 Hasil Penelitian
Bab 5 Pembahasan
Bab 6 Penutup
Seminar Hasil

Anda mungkin juga menyukai