Persamaan Schrödinger dan Probabilitas Kuantum
Persamaan Schrödinger dan Probabilitas Kuantum
TINJAUAN PUSTAKA
K + V = Etot
p2
+ V ( x) = E (2.1)
2m
Suku pertama ruas kiri menyatakan energi kinetik, suku kedua menyatakan energi
potensial, dan ruas kanan menyatakan suatu tetapan yang biasanya disebut sebagai
energi total.
1 2
Dimana energi kinetik digunakan bukanlah dalam bentuk K = mv . Karena
2
pada Persamaan Schrödinger berbicara tentang dunia atom. Sehingga digunakan
”Prinsip ketidakpastian” , dengan h = 6,63 x 10 -34 J.s. Ketidakpastian
ini adalah sesuatu yang akurat dan pasti. Pada skala ini memberikan makna terhadap
gejala fisika dalam dunia atom. Dan karena momentum itu sebanding dengan
kecepatan. Ini berarti partikel tidak dapat memiliki posisi dan kecepatan yang akurat
Bentuk persamaan harus taat azas dengan kekekalan energi seperti yang
dijelaskan diatas ( V + K = E ), K muncul dalam pangkat satu dan K = p2 / 2m =
ħ2 k2 / 2m, sehinggga satu-satunya cara untuk memperoleh suku yang mengandung k2
adalah dengan mengambil turunan kedua dari ψ (x) = A sin kx terhadap x. Sehingga
dihasilkan Persamaan Schrödinger sebagai berikut:
d 2ψ ( x) 2m 2m
2
= −k 2ψ ( x) = − 2 kψ ( x) = − 2 ( E − V ( x))ψ ( x)
dx
2 d 2ψ ( x)
− + Vψ ( x) = Eψ ( x)
2m dx 2
(2.2)
P(x)dx=|ψ(x)|2dx (2.3)
x2 x2
∫ P( x)dx = ∫ ψ ( x) dx
2
(2.4)
x1 x1
Dari aturan ini, maka probabilitas untuk menemukan partikel disuatu titik sepanjang
sumbu x, adalah 100 persen, sehingga berlaku:
+∞
∫ ψ ( x) dx = 1
2
(2.5)
−∞
Kedudukan suatu partikel tidak dapat dipastikan,dalam hal ini tidak dapat
menjamin kepastian hasil suatu kali pengukuran suatu besaran fisika yang bergantung
pada kedudukannnya. Namun jika menghitung probabilitas yang berkaitan dengan
setiap kooordinat, maka ditemukan hasil yang mungkin dari pengukuran satu kali atau
rata-rata hasil dari sejumlah besar pengukuran berkali-kali (Eisberg,1970).
Yang dimaksud dengan “Partikel Bebas” adalah sebuah partikel yang bergerak
tanpa dipengaruhi gaya apapun dalam suatu bagian ruang, yaitu,
F = - dV(x) / dx = 0 sehingga menempuh lintasan lurus dengan kelajuan konstan.
Dalam hal ini, bebas memilih tetapan potensial sama dengan nol.
2 ∂ 2ψ ( x)
− + Vψ ( x) = Eψ ( x) (2.6)
2m ∂x 2
2 ∂ 2ψ ( x)
− = Eψ ( x) (2.7)
2m ∂x 2
Atau:
∂ 2ψ ( x) 2mE
+ 2 ψ ( x) = 0
∂x 2 (2.8)
Karena:
2mE 2k 2
k = 2
2
atau E= (2.9)
2m
∂ 2ψ ( x)
= −k 2ψ ( x) (2.10)
∂x 2
Persamaan (2.8) adalah bentuk umum dari persamaan differensial biasa berorde dua,
dengan k2 adalah positif, dimana ψ(x) merupakan kuantitas kompleks yang memiliki
bagian real (nyata) dan bagian imajiner, sehingga pemecahannnya adalah:
Pemecahan ini tidak memberikan batasan pada k, maka partikel yang diperkenankan
memiliki semua nilai (dalam istilah kuantum, bahwa energinya tidak terkuantisasi).
Sedangkan penentuan nilai A dan B mengalami beberapa kesulitan, karena integral
Untuk meninjau sebuah partikel yang bergerak bebas dalam sebuah kotak dalam
dimensi yang panjangnya L, dimana partikelnya benar-benar terperangkap dalam
kotak. Misalnya, sebuah manik-manik yang meluncur tanpa gesekan sepanjang kawat
yang ditegangkan antara dua dinding tegar dan bertumbukan secara eksak dengan
kedua dinding. Potensial ini dapat dinyatakan
V(x) = 0, 0≤x≤L
0 L x
Kita dapat memberi spesifikasi pada gerak partikel dengan mengatakan bahwa
gerak itu terbatas pada gerak sepanjang sumbu-x antara x = 0 dan x = L disebabkan
oleh dinding keras tak berhingga. Sebuah partikel tidak akan kehilangan Energinya
jika bertumbukan dengan dinding, energi totalnya tetap konstan.
∂ 2ψ 2m
+ Eψ ( x) = 0
∂x 2 2 (2.12)
ψ =0 dan x = 0
Pemecahan ini belum lengkap, karena belum ditentukan nilai A dan B, juga
belum menghitung nilai energi E yang diperkenankan. Untuk menghitungnya, akan
diterapkan persyaratan bahwa ψ(x) harus kontinu pada setiap batas dua bagian ruang.
Dalam hal ini, akan dibuat syarat bahwa pemecahan untuk x < 0 dan x > 0 bernilai
sama di x = 0. Begitu pula pemecahan untuk x > L dan x < L haruslah bernilai sama
di x = L. Jika x = 0, Untuk x < 0 Jadi harus mengambil ψ(x) = 0 pada x = 0.
AsinkL = 0 (2.17)
kL = π,2π,3π,…… (2.18)
2mE (2.19)
=k
Dari persamaan (2.18) dan persamaaan (2.19) diperoleh bahwa energi partikel
mempunyai harga tertentu yaitu harga eigen. Harga eigen ini membentuk tingkat
energisitas yaitu:
n 2π 2 2 (2.20)
En =
2mL2
(2.21)
2mE n
ψ n = A sin x
Untuk memudahkan E0 =ħ2π2/2mL2, yang mana tampak bahwa unit energi ini
ditentukan oleh massa partikel dan panjang kotak. Maka E = n2E0 dan demikian
partikelnya hanya dapat ditemukan dengan energi E0, 4 E0, 9 E0, 16 E0 dan
seterusnya. Karena dalam kasus ini energi yang diperoleh hanya pada laju tertentu
yang diperkenankan dimiliki partikel. Ini sangat berbeda dengan kasus klasik,
misalnya manik-manik (yang meluncur tanpa gesekan sepanjang kawat dan
menumbuk kedua dinding secara secara elastik) dapat diberi sembarang kecepatan
awal dan akan bergerak selamanya, bolak-balik, dengan laju tersebut.
Dalam kasus kuantum, hal ini tidaklah mungkin, karena hanya laju awal tertentu
yang dapat memberikan keadaan gerak tetap, keadaan gerak khusus ini disebut
keadaan stasioner (Disebut keadaan”stasioner”karena ketergantungan pada waktu
pengukuran energi sebuah partikel dalam sebuah sumur potensial harus berada pada
salah satu keadaan stasioner, hasil yang lain tidaklah mungkin. Pemecahan bagi ψ (x)
belum lengkap, karena belum ditentukan tetapan A. Untuk menentukannya, ditinjau
−∞
0 ≤ x ≤ Lsehingga berlaku:
L
2mE n
∫A xdx = 1
2
sin 2 (2.22)
0 2
n 2π 2 2
En =
2mL2
2 nπx
ψn = sin n=1,2,3,… (2.23)
L L
Dalam gambar 2.2 akan dilukiskan berbagai tingkat energi, fungsi gelombang
energi terendah, yaitu pada n =1 , dikenal sebagai keadaan dasar dan keadaan dengan
energi yang lebih tinggi (n > 1) dikenal sebagai keadaan eksitasi.
n=1
n=3
n=2
x =0 x=a
20 n=4
15
n2E0 10 n=3
5 n=2
0 n=1
a11 x1 + a12 x 2 = b1
a 21 x1 + a 22 x 2 + a 23 = b2
a 43 x3 + a 44 x 4 + a 45 = b4
a NN −1 x N −1 + a NN x N = bN
a11 a12 0 0 0 0 0 0 x1 b1
a a 22 a 23 0 0 0 0 0 x b
21 2 2
0 a32 a33 a34 0 0 0 0 x3 b3
= (2.25)
0 0 0 0 0 a N −1N − 2 a N −1N −1 a N −1N x N −1 bN −1
0 0 0 0 0 0 a NN −1 a NN x N bN
d1 c1 0 0 0 0 0 0 x1 b1
a
2 d2 c2 0 0 0 0 0 x 2 b2
0 a3 d3 c3 0 0 0 0 x3 b3
= (2.26)
0 0 0 0 0 a N −1 d N −1 c N −1 x N −1 bN −1
0 0 0 0 0 0 aN d N x N bN
Pemecahan SPL dengan koefisien matriks tridiagonal didasari oleh metode doolittle.
Pertama-tama matriks A didekomposisi menjadi LU, yaitu matriks segitiga bawah
dan segitiga atas sesuai algoritma Doolittle. Setelah dekomposisi (2.26) menjadi:
1 0 0 0 0 δ 1 c1 0 0 0 x1 b1
α
2 1 0 0 0 0 δ 2 c2 0 0 x 2 b2
0 α3 1 0 0 x 3 = b3 (2.27)
0 0 0 δ N −1 c N −1
0 0 0 αN 1 0 0 0 0 δ N x N bN
L U x b
δ1 c1 0 0 0 0 0 0 x1 b1
α δ α c + δ c2 0 0 0 0 0 x b
2 1 21 2 2 2
0 α 3δ 2 α 3c2 + δ 3 c3 0 0 0 0 x3 b3 (2.28)
=
0 0 0 0 0 α N −1δ N − 2 α N −1cN − 2 + δ N −1 cN −1 xN −1 bN −1
0 0 0 0 0 0 α N δ N −1 α N cN −1 + δ N xN bN
δ 1 = d1 → α 2δ 1 = a 2 → α 2 = a 2 / δ 1
α 3δ 2 = a 3 → α 3 = a 3 / δ 2
α N δ N −1 = a N → α N = α N / δ N −1
α 2 c1 + δ 2 = d 2 → δ 2 = d 2 − α 2 c1
α 3c2 + δ 3 = d 3 → δ 3 = d 3 − α 3c2
α N c N −1 + δ N = d N → δ N = d N − α N c N −1
d(1) = d(1)
Setelah elemen-elemen pada vektor a dan d dengan α dan δ , persamaan (2.27) dapat
diproses lebih lanjut, jika Ux sebut saja g, maka persamaan (2.27) dapat dituliskan
1 0 0 0 0 g1 b1
α
2 1 0 0 0 g 2 b2
(2.29)
0 α3 1 0 0 g 3 = b3
0 0 0 αN 1 g N bN
L g b
g1 = b1
α 2 g1 + g 2 = b2 → g 2 = b2 − α 2 g1 (2.30)
α 3 g 2 + g 3 = b3 → g 3 = b3 − α 3 g 2
α N g N −1 + g N = bN → g N = bN − α N g N −1
b(1) = b(1)
δ 1 c1 0 0 0 x1 g1
0 δ c2 0 0 x g
2 2 2
x3 = g3 (2.31)
0 0 0 δ N −1 c N −1
0 0 0 0 δ N x N g N
L x g
xN = g N / δ N
δ N −1 x N −1 + c N −1 x N = g N −1 → x N −1 = ( g N −1 − c N −1 x N ) / δ N −1 (2.32)
δ N − 2 x N − 2 + c N − 2 x N −1 = g N − 2 → x N − 2 = ( g N − 2 − c N − 2 x N −1 ) / δ N − 2
δ 1 x1 + c1 x 2 = g1 → x1 = ( g1 − c1 x 2 ) / δ 1
Metode perbedaan hingga adalah metode yang digunakan mengubah problem PDB
nilai batas dari sebuah problem kalkulus menjadi sebuah aljabar. Dengan metode ini
persamaan differensial ψ ' dan ψ " akan diaproksimasikan dengan menggunakan deret
Taylor. Deret Taylor adalah representasi fungsi matematika sebagai jumlahan tak
hingga dari suku-suku yang nilainya dihitung dari turunan fungsi tersebut di suatu
titik. Bentuk deret taylor dapat dituliskan sebagai berikut:
n k
( h)
ψ ( x + h) = ∑ψ k ( x) + Rn (2.33)
k =0 k!
h n (n)
Dengan: Rn = ψ ( x + θh), dengan.0 < θ < 1
n!
Jika: n → ∞, Rn → 0
(2.34)
h2
ψ ( x + h ) = ψ ( x ) + hψ ' ( x ) + ψ " ( x) + ...
2! (2.35)
h2 (2.36)
ψ ( x − h) = ψ ( x) − hψ ' ( x) − ψ " ( x) + ...
2!
Jika dikurangi (2.35) dengan (2.36) dan nilai setelah pangkat 2 diabaikan atau
dianggap sangat kecil atau sama dengan nol (karena pada persoalan ini kita hanya
membutuhkan turunan pertama dan kedua sesuai dengan persamaan diffrensial orde
dua pada persamaan Schrodinger partikel bebas dan dalam kotak lihat persamaan
(2.8) dan (2.12) maka akan didapat:
ψ ( x + h) − ψ ( x − h) (2.37)
ψ ' ( x) =
2h
ψ ( x + h) − 2ψ ( x) + ψ ( x − h)
ψ " ( x) = (2.38)
h2
x N − x0
h= (2.39)
N
xi +1 = xi + h (2.40)
ψ ( xi +1 ) − ψ ( xi −1 )
ψ ' ( xi ) = (2.41)
2h
ψ ( xi +1 ) − 2ψ ( xi ) + ψ ( xi −1 )
ψ " ( xi ) = (2.42)
h2
Pada persoalan engineering lebih sering dijumpai PDB tingkat 2 dengan kondisi batas
yang diberikan pada dua titik. Umumnya kedua titik ini ada pada batas-batas domain
permasalahan. Karena solusi yang dicari berada pada dua batas yang tertutup, maka
problem ini dikenal sebagai problem domain tertutup atau PDB dengan nilai batas.
Bentuk umum dari PDB dengan nilai batas adalah:
d 2ψ dψ
2
+ p( x) + q ( x)ψ = f ( x) x0 ≤ x ≤ x n (2.43)
dx dx
dψ
A1ψ ( x0 ) + B1 ( x0 ) = α (2.44)
dx
dψ
A2ψ ( x n ) + B2 ( xn ) = β (2.45)
dx
maka ψ ( x0 ) + ψ ' ( x0 ) = α
1. PDB linier , jika p(x,y) dan q(x,y) berupa fungsi dari x saja atau berupa sebuah
bilangan konstan p(x,y) = p(x) atau p(x,y) = konstan
2. PDB non linier, jika p(x,y)dan q(x,y) merupakan fungsi dari x dan y.
Adapun yang menjadi pokok permasalahan dalam penelitian ini adalah Persamaan
Schrödinger dalam berbagai potensial yaitu pada partikel bebas (2.8), partikel dalam
kotak (2.12) disebut juga dengan persamaan diffrensial orde dua. Cara umum untuk
memecahkan persamaan tersebut dalam bentuk persamaan diffrensial biasa adalah
menuliskan persamaan tersebut dalam bentuk persamaan diffrerensial dengan syarat
batas.
∂ 2ψ ( x)
= −k 2ψ ( x)
∂x 2
Atau
∂ 2ψ ( x) 2mE
+ 2 ψ ( x) = 0 pada persamaan (2.8)
∂x 2
∂ 2ψ ( x) 2mE
1 Persamaan (2.8) + 2 ψ ( x) = 0 dikonversi ke persamaan umum PDB
∂x 2
∂ 2ψ ( x) ∂ψ ( x)
(2.43) + p( x) + q ( x)ψ ( x) = f ( x) Sehingga diperoleh koefisien
∂x 2
∂x
2mE
dari persamaan (2.8) p(x) = 0 , q(x) = dan f(x) = 0
2
2 Aproksimasi beda hingga turunan pertama pada persamaan (2.41)
ψ ( xi +1 ) − ψ ( xi −1 )
ψ ' ( xi ) = dan turunan kedua pada persamaan (2.42)
2h
ψ ( xi +1 ) − 2ψ ( xi ) + ψ ( xi −1 )
ψ " ( xi ) = disubstitusikan ke persamaan (2.43) maka
h2
didapatkan:
1
[ 2
] 1
1 − 2 hp( x)ψ ( xi −1 ) − 2 − h q( x) ψ ( xi ) + 1 + 2 hp ( x)ψ ( xi +1 ) = h f ( x)
2
(2.47)
1
[ 2
] 1
1 − 2 hp( x)ψ i −1 − 2 − h q( x) ψ i + 1 + 2 hp ( x)ψ i +1 = h f ( x)
2
(2.48)
Dengan memasukkan nilai p(x), q(x) dan f(x) pada langkah 1 ke persamaan
(2.48) maka diperoleh persamaan sebagai berikut:
2mE
ψ i −1 − 2 − h 2 ψ + ψ i +1 = 0
2 i
(2.51)
Persamaan (2.51) diterapkan pada setiap titik diskresitasi, yaitu i =1, 2,…,N-1
Sehinggga terbentuk sistem persamaan linier (SPL) dengan bentuk tri-diagonal yang
dapat dipecahkan dengan algoritma Thomas.
2mE
i =1: − 2 − h 2 2 ψ 1 + ψ2 + 0+ 0 = −ψ 0
2mE
i = 2: ψ 1 − 2 − h 2 2 ψ 2 + ψ3 + 0 = 0
2mE
i = 3: 0 + ψ2 − 2 − h 2 2 ψ 3 + ψ4 = 0
2mE
i =N-1: 0 + 0 + ψ N −2 − 2 − h 2 2 ψ N −1 = −ψ N
Dari i=1 hingga i= N-1 persamaan linier diatas dapat dinyatakan dalam bentuk
matriks dimensi NxN Sebagai berikut:
[
− 2 − h 2 ( −k 2 ) ] 1 0 0 0 ψ 1 −ψ 0
1 [
− 2 − h 2 (−k 2 ) ] 1 0 0
ψ 2 0
0 1 [ ]
− 2 − h 2 (−k 2 ) 1 0 ψ 3 = 0
(2.52)
0 0
0 0 0 [ ]
1 − 2 − h 2 (−k 2 ) −ψ N −1 −ψ N
Pada dasarnya persamaan Schrödinger pada partikel bebas identik dengan persamaan
Schrödinger dalam kotak sehingga memiliki pemecahan yang sama. Sehingga
metode-metode penyelesaian pada partikel bebas juga digunakan untuk mencari
solusi persamaan schrodinger pada partikel dalam kotak.
Program komputer adalah suatu urutan instruksi yang disusun secara sistematis dan
logis dengan menggunakan bahasa pemrograman untuk menyelesaikan suatu
masalah. Program komputer dapat digunakan untuk perhitungan numerik dan
eksprimen simulasi melalui pendekatan fisika komputasi.
Elemen dasar :
a. Cari ikon MATLAB kemudian klik dengan cepat dua kali, jendela kerja
MATLAB akan muncul
c. Setelah selesai menggunakan MATLAB, ketik quit dan [enter], atau klik File/Exit.
[Link] Aritmatika
Penambahan + 2+3
Pengurangan - 5-4
Perkalian * 3*2
Pembagian / 6/3
Pemangkatan ^ 3^2
[Link]
[Link]/tetapan
[Link] baca
2.9.2 input-output
MATLAB juga menyediakan instruksi untuk menerima data dari keyboard (input)
dan menampilkan nilai variabel ke monitor (output) yaitu:
Instruksi seleksi:
a. Pemilihan bersyarat:
if (syarat-1)
instruksi-1
instruksi-2
else
instruksi-3
end.
Pemilihan diatas digunakan untuk memilih satu diantara beberapa instruksi sesuai
dengan syarat yang dipenuhi. Bila syarat 1 dipenuhi maka laksanakan instruksi 1 ,
bila syarat 2 dipenuhi, maka laksanakan instruksi 2 bila tidak ada syarat yang
dipenuhi maka laksanakan instruksi-3.
b. Pemilihan kasus
switch variabel
Otherwise instruksi n
End.
Instruksi seleksi ini akan memilih satu instruksi berdasarkan nilai yang
diberikan pada variabel. Bila nilainya adalah nilai -1 maka instruksi 1 dilaksanakan.
Bila nilainya adalah 2 maka instruksi 2 yang dilaksanakan. Bila nilainya adalah 2
maka instruksi 2 yang dilaksanakan.
Instruksi perulangan
end
Perulangan yang dibatasi oleh nilai var, mulai dari n1 hingga n3 dengan
perubahan nilai sebesar n2 pada setiap putaran. Apakah n2=1 maka n2 tidak perlu
ditulis, sehingga bentuknya menjadi:
instruksi-instruksi
end
b. Perulangan denganWhile
while (syarat)
insruksi-instruksi
end
Perulangan yang ditentukan oleh suatu syarat. Selama syarat terpenuhi maka
perulangan akan belangsung. (Suarga,2005).
MATLAB menyediakan fasilitas grafik yang dapat dipanggil dari baris perintah atau
perintah yang langsung dituliskan pada command window . Berikut adalah tekhnik
untuk memperoleh tampilan grafik yang lebih menarik dengan menggunakan
MATLAB.
Untuk menambahkan judul grafik pada hasil plot harus menggunakan skrip
berikut : Tittle(‘----judulnya------‘);
Dan untuk menambahkan label sumbu y pada hasil plot harus mengggunakan skrip
berikut : ylabel(‘---labelnya--------‘);
Latar belakang grafik secara default berwarna putih dan polos. MATLAB
menyediakan fungsi untuk membuat grid pada latar belakang grafik dengan
menggunakan fungsi grid on dan grid off.
Jika diinginkan tampilan data tidak dalam bentuk garis tepi berupa titik,
lingkaran atau kotak dan mungkin saja dalam warna yang berbeda-beda. Maka
tekhnik yang digunakan adalah memberikan parameter input yang berhubungan
dengan fungsi plot, seperti berikut: Plot (z,y,symbol). Dimana x dan y adalah variabel
data yang akan [Link] adalah karakter yang akan digunakan untuk
menggantikan format tampilan default grafik.