0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
22 tayangan34 halaman

Asuhan Keperawatan Penyakit Jantung Rematik

1. RHD adalah penyakit jantung yang disebabkan oleh infeksi streptokokus yang menyebabkan kerusakan pada katup jantung. 2. Penyakit ini sering terjadi pada anak usia 5-15 tahun dengan puncak pada usia 8 tahun setelah infeksi tenggorokan. 3. Faktor risiko penyakit ini adalah jenis kelamin, umur, dan keadaan gizi yang rendah.

Diunggah oleh

Sri Ayu Ashari
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
22 tayangan34 halaman

Asuhan Keperawatan Penyakit Jantung Rematik

1. RHD adalah penyakit jantung yang disebabkan oleh infeksi streptokokus yang menyebabkan kerusakan pada katup jantung. 2. Penyakit ini sering terjadi pada anak usia 5-15 tahun dengan puncak pada usia 8 tahun setelah infeksi tenggorokan. 3. Faktor risiko penyakit ini adalah jenis kelamin, umur, dan keadaan gizi yang rendah.

Diunggah oleh

Sri Ayu Ashari
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

LAPORAN PENDAHULUAN DAN ASUHAN KEPERAWATAN

“RHD (RHEUMATIC HEART DISEASE)”

DISUSUN OLEH :

KELOMPOK 2
Erna Sartika Metaloby
Hardianti Mulyani Putri
Husnul Khatimah
Mega Pertiwi Meturan
Megawati Turalely
Marlin Hemri Ranglalin
Margarita Yaftoran
Mentira Blandina Batlayeri
Melisa
Nurul Mutmainnah
Sitti Raja
Sri Ayu Ashari
Surianti

PROGRAM STUDI KEPERAWATAN


SEKOLAH TINGGI ILMU KEPERAWATAN STIK FAMIKA MAKASSAR
TAHUN AJARAN 2019/2020
LAPORAN PENDAHULUAN
REUMATIK HEART DISEASE (RHD)

A. Definisi Pengertian

Penyakit radang berulang akut yang terutama terjadi pada anak-anak usia 5-15
tahun yang biasanya terjadi 1-5 minggu setelah infeksi streptococus (biasanya terjadi
radang tenggorokan). (Robbins dan Kumar, Buku Ajar Patologi edisi 4)
Penyakit yang ditandai dengan kerusakan pada katup jantung akibat serangan
karditis rematik akut yang berulang kali (Kapita Selekta jilid I edisi III).
Kelainan jantung yang terjadi akibat demam reumatik atau kelainan karditis
reumatik (Taranta A dan Markowits, 1981).
Penyakit Jantung Rematik (PJR) atau dalam bahasa medisnya Rheumatic Heart
Disease (RHD) adalah suatu kondisi dimana terjadi kerusakan pada katup jantung yang
bisa berupa penyempitan atau kebocoran, terutama katup mitral (stenosis katup mitral)
sebagai akibat adanya gejala sisa dari Demam Rematik (DR).

B. Epidemiologi
Reumatik heart disease biasanya terjadi pada anak-anak usia 5-15 tahun dengan
puncaknya pada umur 8 tahun, dan kadang-kadang bisa dapat timbul pada usia 30 tahun
yang biasanya terjadi 1-5 minggu setelah infeksi streptococus (biasanya terjadi radang
tenggorokan). Wanita dan pria mempunyai kemungkinan sama untuk terserang. Frekuensi
demam reumatik akut di negara-negara maju dalam 100 tahun terakhir ini banyak sekali
menurun, misalnya di Denmark, terdapat kasus ini kira-kira 200 per 100.000 populasi
pada tahun 1860, dan menurun sampai 10 per 100.000 populasi pada tahun 1960.
Di Srilangka pada tahun 1978 masih tercatat insidensi demam reumatik sebanyak
47 per 100.000 populasi, dan untuk umur 5-19 tahun tercatat 140 per 100.000 populasi.
Penyakit jantung rematik terbanyak terdapat pada sentra industri dengan populasi yang
berlebih .Taranta dan Markowitz (1981) melaporkan demam reumatik merupakan
penyebab utama kelainan jantung pada umur 5-30 tahun. Demam reumatik dan penyakit
jantung reumatik merupakan penyebab kematian utama dari kelainan jantung pada umur
di bawah 45 tahun dan 25-40% penyakit jantung disebabkan oleh penyakit jantung
reumatik untuk semua umur. Di Yogyakarta pada dokumen medis RSUP Dr. Sardjito
tahun 1993 di temukan 8,3% penderita RHD dari seluruh penderita kelainan penyakit
jantung.

C. Etiologi
Penyakit jantung reumatik berhubungan erat dengan infeksi saluran nafas bagian
atas oleh Streptococcus Beta Hemolyticus Grup A. Faktor-faktor predisposisi yang
berpengaruh pada timbulnya demam reumatik dan penyakit jantung reumatik
kemungkinan terdapat pada faktor individu itu sendiri.
a. Jenis kelamin
Demam reumatik sering didapatkan pada anak wanita dibandingkan dengan
anak laki-laki. Tetapi data yang lebih besar menunjukkan tidak ada perbedaan jenis
kelamin, meskipun manifestasi tertentu mungkin lebih sering ditemukan pada satu
jenis kelamin.
b. Umur
Umur agaknya merupakan faktor predisposisi terpenting pada timbulnya
demam reumatik / penyakit jantung reumatik. Penyakit ini paling sering mengenai
anak umur antara 5-15 tahun dengan puncak sekitar umur 8 tahun. Tidak biasa
ditemukan pada anak antara umur 3-5 tahun dan sangat jarang sebelum anak berumur
3 tahun atau setelah 20 tahun. Distribusi umur ini dikatakan sesuai dengan insidens
infeksi streptococcus pada anak usia sekolah. Tetapi Markowitz menemukan bahwa
penderita infeksi streptococcus adalah mereka yang berumur 2-6 tahun.
c. Keadaan gizi dan lain-lain
Keadaan gizi serta adanya penyakit-penyakit lain belum dapat ditentukan
apakah merupakan faktor predisposisi untuk timbulnya penyakit jantung reumatik.
d. Reaksi autoimun
Dari penelitian ditemukan adanya kesamaan antara polisakarida bagian
dinding sel streptokokus beta hemolitikus group A dengan glikoprotein dalam katup
jantung. Kemungkinan ini mendukung terjadinya miokarditis dan valvulitis pada
reumatik fever.

D. Patofisiologi
Penyakit Jantung Reumatik (PJR) adalah kelainan jantung yang terjadi akibat
demam reumatik, atau kelainan karditis reumatik. Penyakit ini disebabkan karena infeksi
bakteri streptokokus beta hemolitikus Grup A. Bakteri ini akan menginfeksi saluran
pernapasan atas yaitu tenggorokan yang nantinya akan menyebabkan peradangan dan
infeksi pada tenggorokan sehingga menyebabkan terjadinya faringitis dan tonsillitis.
Akibat peradangan atau infeksi ini, merangsang terbentuknya antibodi sehingga bereaksi
dengan antigen streptokokus yang mengakibatkan terjadinya reaksi antigen-antibodi.
Akibat terjadinya reaksi imunologis ini menyebabkan terjadinya demam reumatik.
Demam reumatik bisa bersifat menetap dan reversible. Reversible terjadi jika pasien
dengan demam reumatik memilki sistem imun yang baik sehingga dapat disembuhkan.
Sebaliknya, bila sistem imun pasien ini menurun, maka demam reumatik ini bisa berlanjut
(berulang-ulang) dalam jangka waktu yang lama. Demam reumatik dapat mengakibatkan
gejala sisa (sequele), sehingga dalam serum penderita terdapat antibodi anti otot jantung.
Antibody ini mengakibatkan terjadinya respon autoimun dimana antibody ini dianggap
sebagai antigen (antigen pada katup jantung) sehingga terjadi reaksi perlawanan antara
antibodi yang dihasilkan dalam tubuh dengan antigen streptokokus dan antigen katup
jantung. Hal ini menyebabkan terjadinya peradangan pada katup jantung dan dapat pula
disertai dengan gejala –gejala seperti karditis (kriteria mayor dan kriteria minor). Bila
terdapat 2 kriteria mayor /1 kriteria mayor disertai dengan 2 kriteria minor akan
mengakibatkan terjadinya pnyakit jantung reumatik (RHD).
Berikut diuraikan pengalaman keluarga dengan anak yang menderita penyakit

kronis yang peneliti bagi dalam empat kategori, yaitu pengalaman awal mengasuh anak

dengan penyakit kronis, pengalaman tanpa akhir, dampak penyakit kronis terhadap

keluarga dan kekhawatiran masa depan anak dengan penyakit kronis :

1. Respon Emosional

Respon emosional berupa perasaan sedih, bingung dan cemas merupakan hal

pertama yang dirasakan oleh keluarga ketika mengetahui anak mereka menderita

penyakit kronis dan akan bergantung seumur hidupnya terhadap pengobatan dan

perawatan. Banyak faktor-faktor yang mempengaruhi perasaan tersebut baik dari

dalam diri sendiri maupun dari lingkungannya.

Faktor-faktor tersebut jugalah yang mempengaruhi penurunan tingkat emosi

keluarga (Cohen, 1999). Dari hasil penelitian ini pada umumnya perasaan sedih

dialami oleh seluruh partisipan. Hal ini disebabkan adanya ketidaksesuaian antara
harapan dan kenyataan yang dialami keluarga karena penyakit yang diderita anak

mereka (Kozier et al, 2004). Menurut Peneliti, perasaan bingung yang dialami oleh

responden dikarenakan ketidaktahuan mereka tentang penyakit yang diderita anak

mereka. Mereka belum pernah mendengar nama penyakit tersebut namun mereka

langsung berhadapan dengan keadaan penyakit itu setelah anak mereka didiagnosa

menderita penyakit kronis.

Keluarga menjadi kebingungan untuk mengambil keputusan pengobatan,

bingung dalam hal perawatan dan bingung dengan prosedur pemeriksaan maupun

pelayanan medis yang mereka jalani. Giboa (2000, dalam Giboa 2000), menemukan

bahwa keluarga yang tidak mengetahui kondisi sakit yang dialami oleh anggota

keluarga akan merasa kebingungan dalam menghadapi dan beradaptasi dengan anak

mereka. Dalam penelitiannya Giboa mengidentifikasi sikap bingung yang dialami

oleh orangtua dikarenakan mereka belum begitu akrab dengan jenis penyakit yang

diderita oleh anaknya dan tidak menyangka bahwa salah satu anggota keluarga

mereka mengidap penyakit kronis. Selain itu karena pengetahuan tentang penyakit

yang diderita menimbulkan kekhawatiran.

Dalam penelitian Martin, dkk (2007), menunjukkan adanya hubungan yang

kuat antara rasa sakit dan ketakutan akan kehilangan yang diderita oleh anak yang

menderita penyakit kronis dengan perasaan cemas yang dialami oleh orangtua. Dari

penelitian tersebut juga diketahui bahwa orang tua cenderung merasa bahwa tindakan

medis yang dilalui oleh anak mereka merupakan tindakan yang membahayakan

sehingga orang tua cenderung merasa cemas dan sensitif terhadap tindakan medis.

Pendapat yang sama dinyatakan Madden dkk (2002, dalam Widyawati 2002) meneliti

respon emosi ibu yang mempunyai anak hemofilia, dikatakan bahwa respon ibu

bervariasi dari sikap menerima sampai mengalami distres psikologis yang berat. Rasa
takut akan akibat pengobatan yang bakal diterima anaknya, seperti kesakitan,

handicap, bahkan kemungkinan meninggal, menjadi masalah utama bagi para ibu ini.

Sikap ibu yang bisa menerima kondisi anak sepenuhnya akan dapat berpengaruh

positif pada menyesuaian diri si anak tersebut.

2. Membawa Anaknya ke Pengobatan di luar Medis

Membawa anggota keluarga yang sakit ke fasilitas kesehatan adalah tugas

dan tanggung jawab keluarga termasuk memilih fasilitas kesehatan yang tepat

(Friedman, 1999). Perasaan takut akan kehilangan anak dan kondisi pengobatan yang

tidak pasti serta tidak menjamin kesembuhan membuat keluarga sering mencari

alternatif lain di luar medis untuk memperoleh kesembuhan.

Mereka berharap dengan membawa anak mereka ke berbagai pengobatan,

anak mereka akan mendapatkan kesembuhan. Terkadang responden mengunjungi

lebih dari satu pengobatan tradisional. Hal ini dianggap sebagai suatu bentuk usaha

dari keluarga untuk kesembuhan anaknya. Ketidakpastian kesembuhan melalui jalan

medis sering menimbulkan ketidakpuasan pada keluarga dalam mengupayakan

kesehatan anaknya. Hal ini akan menambah beban psikologis pada anak dan keluarga,

menurunkan kemampuan keluarga untuk meningkatkan kesehatan anak-anak, dan

berdampak dalam mencari dan pemanfaatan pelayanan medis secara berlebihan

(Farmer, 2004). Banyak orangtua yang berusaha mencari pengobatan alternatif di luar

medis yang dipercaya mampu untuk menyembuhkan anggota keluarga.

3. Mencari Informasi

Berdasarkan wawancara dengan responden peneliti menemukan bahwa

seluruh responden berusaha mencari informasi tentang apa dan bagaimana kondisi

penyakit yang diderita oleh anak mereka. Hal ini dilakukan untuk memenuhi rasa igin

tahu mereka tentang perawatan dan pengobatan yang harus dijalani oleh anaknya.
Mereka khawatir bila ketidaktahuan mereka tentang kondisi kronis yang dialami oleh

anak mereka akan berdampak buruk terhadap kesehatan. Bertanya adalah salah satu

cara orang tua untuk mencari informasi. Mereka akan bertanya tentang jenis penyakit,

prosedur pengobatan, cara merawat, tanda-tanda kekambuhan, dan lain-lain. Para

medis dan orang-orang yang sudah berpengalaman dalam menghadapi anak yang

sakit kronis merupakan sumber informasi utama yang dicari keluarga. Berbagi

pengalaman dan sharing dengan orang lain adalah cara keluarga untuk memenuhi

keingintahuan mereka. Hal senada ditemukan Cohen (dalam Cohen, 1999) dalam

penelitiannya tentang respon keluarga dengan anak yang menderita penyakit kronis.

Mencari informasi sebanyak mungkin merupakan salah satu bentuk koping keluarga

terhadap kondisi kronis yang dihadapi anaknya. Mereka akan berusaha mengetahui

dan memperlengkapi dirinya dengan pengetahuan yang luas. Mereka takut akan lalai

atau salah mengambil tindakan akibat kurangnya informasi yang mereka miliki.

Dokter, perawat, ahli terapi dan orang sudah berpengalaman merupakan sumber

informasi yang tepat. Kadang-kadang anak-anak akan bertanya tentang kondisi

penyakit yang dideritanya. Untuk itu, orang tua perlu mempelajari bagaimana teknik

yang baik dalam menjawab pertanyaan anak-anak agar tidak menimbulkan

kekhawatiran kepada anak-anaknya.

4. Aspek Budaya

Banyak hal yang dilakukan orang tua pada tahap awal sakit kronis yang

dialami oleh anaknya baik itu melalui pendekatan medis, non medis, bahkan adat-atau

istiadat. Seperti halnya responden B yang bersuku Jawa, mengatakan bahwa dalam

sukunya ada suatu acara doa bersama yang fungsinya untuk memperoleh kesembuhan

apabila ada aggota keluarga yang sakit. Tempat tinggal di daerah perkotaan juga

merupakan salah satu alasan mengapa hal itu tidak dilakukan karena orang-orang
yang tinggal di sekitar mereka tidak memandang hal tersebut menjadi suatu

keharusan. Budaya tidak pernah lepas dari kondisi sehat-sakit seseorang. Keyakinan

budaya memaknai pengalaman sehat dan sakit individu untuk menyesuaikan diri

secara kultural dengan penyebab penyakit yang rasional, aturan dalam

mengekspresikan gejala, norma interaksi, strategi mencari pertolongan, dan

menentukan hasil yang diinginkan (Kleinman ,1980 dalam C). Menurut Arthur

Kleinman dalam penelitiannya tentang sistem kesehatan menurut berbagai budaya,

adanya budaya yang berbeda-beda juga membuat kesehatan memiliki arti yang

berbeda bagi setiap orang, Kita mengenali dan mengukur perubahannya dengan

berbeda (Anderson dan [Link] 2001). Oleh karena itu cara-cara yang ditempuh

juga berbeda untuk mempertahankan kesehatan. Dalam keadaan sakit kronis, biasanya

keluarga akan menghubungi keluarga besar dan para penatua untuk mengadakan acara

doa bersama. Orang-orang yang dituakan di keluarganya untuk membawa ke

pengobatan yang dianjurkan oleh keluarga besarnya. Ia merasa harus

melaksanakannya karena itu adalah nasehat orang tua atau orang yang dihormati

sehingga Ia tak kuasa menolaknya. Dalam konteks sehat-sakit, kepercayaan, simbol

dan kebiasaan kelompok etnis menjadi referensi yang digunakan oleh anggotanya

untuk menilai ketepatan keputusan dan tindakan mereka (Kleinman, 1978, dalam

Anderson dan [Link] 2001).

Kadang-kadang komponen budaya dan etnisitas memegang peran yang lebih

besar dalam perawatan kesehatan dari pada pengalaman dan pengobatan medis

(Anderson dan [Link]).

Hal ini juga bisa dilihat perasaan bingung karena ketidakpastian kondisi sakit

dan hasil pengobatan, konflik sehari-hari dengan peraturan medis, isolasi sosial,

aturan-aturan yang membatasi, dan tekanan finansial adalah stressor yang selalu
dijumpai (King, 2001). Oleh karena itu keluarga sangat rentan dengan stress dalam

berbagai kondisi. Mussato (dalam mussatto 2002) dalam penelitiannya tentang

adaptasi keluarga dengan anak yang menderita penyakit kronis menyebutkan bahwa

proses perawatan yang lama menuntut perhatian dan penjagaan yang lama dari

orangtua. Hal ini menimbulkan rasa jenuh, bosan dan tekanan mental dalam diri

keluarga. Namun rasa tanggungjawab terhadap keadaan anak membuat orang tua

harus menerima konsekuensi kondisi kronis anaknya. Kondisi seperti ini sangat

potensial menimbulkan stress.

Rasa sedih yang mendalam selalu mengikuti setiap tindakan keluarga yang

harus melihat rasa sakit yang diderita anaknya. Hal ini memicu stress bagi keluarga

(Mussatto, 2002)..

5. Tekanan ekonomi

Dari wawancara yang peneliti lakukan, peneliti mengidentifikasi bahwa beban

ekonomi keluarga semakin berat setelah beberapa bulan anak didiagnosa menderita

penyakit kronis. Tekanan ekonomi semakin terasa karena biaya rutin yang dibutuhkan

untuk perawatan sementara keluarga tetap harus memenuhi kebutuhan sehari-hari dan

pendidikan anak-anak lainnya. Seluruh responden merasakan tekanan ekonomi yang

berat oleh karena biaya yang harus dikeluarkan untuk perawatan, pengobatan dan

untuk memenuhi kebutuhan nutrisi anak mereka. Biaya yang dikeluarkan keluarga di

antaranya biaya transportasi, biaya makan selama di rumah sakit, dan biaya obat-

obatan yang harus ditanggung keluarga. Di samping itu juga kebutuhan sehari-hari

keluarga harus diperhatikan. Beban tersebut juga bertambah pada anak yang sudah

sekolah.

Keluarga harus memenuhi biaya pendidikan anak-anaknya baik yang sakit

maupun yang sehat. Tekanan ekonomi semakin berat karena pengeluaran terus
bertambah sementara pemasukan tetap bahkan berkurang karena salah satu orang tua

harus mengorbankan pekerjaan demi perawatan anak.

Hasil penelitian yang ditemukan sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh

Aldridge (2001) dimana tekanan ekonomi adalah sesuatu hal yang biasa terjadi dan

akan terus berlangsung pada keluarga dengan anak yang menderita penyakit kronis.

6. Gangguan Fisiologis dan fisik

Seluruh responden dalam penelitian ini merasakan adanya gangguan fisik dan

fisiologis selama merawat anaknya. Gangguan fisiologis dan fisik itu berupa kurang

tidur, sakit kepala, timbulnya penyakit-penyakit lama dan perasaan mual serta munta.

Menurut peneliti ini terjadi karena selama memberi perawatan di rumah keluarga

tetap harus waspada setiap kali anak menunjukkan gejala-gejala akan jatuh sakit

maupun dalam upaya mempertahankan kesehatan anaknya. Keluarga juga harus

memperhatikan setiap permainan dan tingkah laku anak agar tidak mengganggu

kesehatannya. Masa anak-anak adalah masa bermain dan membutuhkan sosialisasi

dengan teman-temannya. Hal itu merupakan salah satu kebutuhan yang harus

dipenuhi oleh keluarga. Namun, keluarga harus terus menjaga fisik anak terus-

menerus agar tidak lelah dan tidak sembarangan mengkonsumsi makanan yang

mengganggu kesehatannya. Keadaan-keadaan yang menuntut perhatian tersebut

sering menyebabkan orang tua tidak memperhatikan kesehatannya sendiri dan

cenderung lalai. Sehingga mereka merasakan gangguan pada diri mereka.

7. Pasrah dan Menunjukkan Penerimaan

Setelah menjalani dan mengikuti beberapa kali pengobatan terhadap

anaknya, stress responden mengalami penurunan. Keluarga menjadi pasrah dan sudah

menerima keaadaan anak mereka termasuk masa depannya maupun semua prosedur

perawatan yang akan mereka jalani untuk anaknya. Semuanya menjadi sesuatu yang
biasa bagi mereka. Bahkan apa yang tidak normal bagi kita akan menjadi normal bagi

[Link] responden pernah mengalami kehilangan anaknya sebelumnya.

Seharusnya menurut teori yang ada hal ini akan menimbulkan trauma dan ketakutan

yang mendalam pada keluarga. Namun, dalam penelitian ini, hanya satu responden

yang mengakuinya. Peneliti tidak menemukan adanya trauma maupun ketakutan yang

berlebihan dalam diri keluarga yang lain. Mereka mengatakan sudah dapat menerima

hal ini, dan pasrah. Mereka menganggap, anak sebagai titipan Tuhan harus dirawat

dalam kondisi apapun. Dan sudah mejadi tanggungjawab mereka untuk menjaga dan

merawatnya. Dan bila Tuhan berkenan maka Tuhan bisa saja mengambil anaknya

kapanpun [Link] di atas juga ditemukan dalam penelitian Hamid (2004), dalam

penelitian yang dilakukan pada keluarga yang memiliki anak tuna grahita. Dalam

penelitian tersebut, ditemukan bahwa keluarga menganggap penyakit yang diderita

oleh anak mereka adalah keinginan Tuhan, hukuman dari Tuhan dan merupakan

keturunan. Sehingga kondisi anak yang sakit dapat diterima dengan kepasrahan.

Menurut peneliti, keluarga bisa menunjukkan penerimaan dan kepasrahan

dikarenakan mereka sudah menyadari bahwa apa yang mereka jalani sekarang juga

akan mereka jalani di hari-hari berikut nya. Oleh karena itu, untuk mengurangi

tekanan, penerimaan dan pasrah adalah satu-satunya jalan terbaik untuk bisa bertahan

dengan kondisi tersebut.

E. Klasifikasi
Perjalanan klinis penyakit demam reumatik / penyakit jantung reumatik dapat
dibagi dalam 4 stadium.
1. Stadium I
Berupa infeksi saluran nafas atas oleh kuman Beta Streptococcus Hemolyticus
Grup A. Keluhannya :
a) Demam
b) Batuk
c) Rasa sakit waktu menelan
d) Muntah
e) Diare
f) Peradangan pada tonsil yang disertai eksudat
2. Stadium II
Stadium ini disebut juga periode laten, ialah masa antara infeksi streptococcus
dengan permulaan gejala demam reumatik; biasanya periode ini berlangsung 1 - 3
minggu, kecuali korea yang dapat timbul 6 minggu atau bahkan berbulan-bulan
kemudian.
3. Stadium III
Yang dimaksud dengan stadium III ini ialah fase akut demam reumatik, saat
ini timbulnya berbagai manifestasi klinis demam reumatik /penyakit jantung reumatik.
Manifestasi klinis tersebut dapat digolongkan dalam gejala peradangan umum dan
menifestasi spesifik demam reumatik /penyakit jantung reumatik.
Gejala peradangan umum :
a) Demam yang tinggi
b) Lesu
c) Anoreksia
d) Lekas tersinggung
e) Berat badan menurun
f) Kelihatan pucat
g) Epistaksis
h) Athralgia
i) Rasa sakit disekitar sendi
j) Sakit perut
4. Stadium IV
Disebut juga stadium inaktif. Pada stadium ini penderita demam reumatik
tanpa kelainan jantung / penderita penyakit jantung reumatik tanpa gejala sisa katup
dan tidak menunjukkan gejala apa-apa. Pada penderita penyakit jantung reumatik
dengan gejala sisa kelainan katup jantung, gejala yang timbul sesuai dengan jenis
serta beratnya kelainan. Pasa fase ini baik penderita demam reumatik maupun
penyakit jantung reumatik sewaktu-waktu dapat mengalami reaktivasi penyakitnya.
F. Gejala klinis
Untuk menegakkan diagnosa demam reumatik dapat digunakan Kriteria
Jones yaitu:
a. Kriteria mayor :
1) Poliarthritis
Pasien dengan keluhan sakit pada sendi yang berpindah-pindah, radang
sendi-sendi besar seperti lutut, pergelangan kaki, pergelangan tangan, siku
(poliarthritis migrans).
2) Karditis
Peradangan pada jantung (miokarditis, endokarditis).
3) Eritema marginatum
Tanda kemerahan pada batang tubuh dan telapak tangan yang tidak terasa
nyeri dan tidak terasa gatal.
4) Noduli subkutan
Terletak pada ekstensor sendi terutama siku, ruas jari, lutut, persendian
kaki, tidak nyeri tekan dan dapat bebas digerakkan.
5) Korea
Gerakkan yang tidak disengaja/gerakkan yang abnormal, sebagai
manifestasi peradangan pada sistem syaraf pusat.

b. Kriteria Minor :
1. Mempunyai riwayat menderita demam reumatik /penyakit jantung reumatik
2. Athralgia atau nyeri sendi tanpa adanya tanda obyektif pada sendi dan pasien
kadang-kadang sulit menggerakkan tungkainya
3. Demam tidak lebih dari 390celcius
4. Leukositosis
5. Peningkatan Laju Endap Darah (LED)
6. C-Reaktif Protein (CRF) positif
7. P-R interval memanjang
8. Peningkatan pulse denyut jantung saat tidur (sleeping pulse)
9. Peningkatan Anti Streptolisin O (ASTO)
Diagnosa ditegakkan bila ada dua kriteria mayor dan dua kriteria minor, atau
dua kriteria minor dan satu kriteria mayor.
7. Pemeriksaan Fisik
Keadaan Umum :
GCS :
 Ciri tubuh : kulit, rambut, postur tubuh.
 Tanda vital : nadi, suhu tubuh, tekanan darah, dan pernafasan.
Head to toe :
 Kepala
Inspeksi : bentuk kepala, distribusi, warna, kulit kepala.
Palpasi : nyeri tekan dikepala.
 Wajah
Inspeksi : bentuk wajah, kulit wajah.
Palpasi : nyeri tekan di wajah.
 Mata
Inspeksi : bentuk mata, sclera, konjungtiva, pupil,
Palpasi : nyeri tekan pada bola mata, warna mukosa konjungtiva, warna
mukosa sclera
 Hidung :
Inspeksi : bentuk hidung, pernapasan cuping hidung, secret
Dipalpasi : nyeri tekan pada hidung
 Mulut :
Inspeksi : bentuk mulut, bentuk mulut, bentuk gigi
Palpasi : nyeri tekan pada lidah, gusi, gigi
 Leher
Inspksi : bentuk leher, warna kulit pada leher
Palpasi : nyeri tekan pada leher.
 Dada
Inspeksi : bentuk dada, pengembangan dada, frekuensi pernapasan.
Palpasi : pengembangan paru pada inspirasi dan ekspirasi, fokal
fremitus, nyeri tekan.
Perkusi : batas jantung, batas paru, ada / tidak penumpukan secret.
Auskultasi : bunyi paru dan suara napas
 Payudara dan ketiak
Inspeksi : bentuk, benjolan
Palpasi : ada/ tidak ada nyeri tekan , benjolan
 Abdomen
Inspeksi : bentuk abdomen, warna kulit abdomen
Auskultasi : bising usus, bising vena, pergesekan hepar dan lien.
Perkusi : batas hepar,batas ginjal,batas lien,ada/tidaknya pnimbunan
cairan diperut
 Genitalia
Inspeksi :bentuk alat kelamin,distribusi rambut kelamin,warna rambut
kelamin,benjolan
Palpasi : nyeri tekan pada alat kelamin
 Integumen
Inspeksi : warna kulit,benjolan
Palpasi : nyeri tekan pada kulit
 Ekstremitas Atas :
Inspeksi : warna kulit,bentuk tangan
Palpasi : nyeri tekan,kekuatan otot
 Ekstremitas Bawah :
Inspeksi : warna kuliy,bentuk kaki
Palpasi : nyeri tekan,kekuatan otot

8. Pemeriksaan Diagnosis
 Pemeriksaan laboratorium darah
 Foto rontgen menunjukkan pembesaran jantung
 Elektrokardiogram menunjukkan aritmia
 Echokardiogram menunjukkan pembesaran jantung dan lesi
9. Penatalaksanaan Medis
Tujuan penatalaksanaan medis adalah :
a. Pemberantasan infeksi streptococcus :
Pemberian benzatin penisilin G dengan kriteria sebagai berikut :
 Usia < 20 tahun 1,2 juta unit tiap 4 minggu sampai usia 25 tahun
 Usia > 20 tahun  diberikan selama 5 tahun
 Jika kriteri 1 dan 2 sudah terlaksana namunmuncul kekambuhan lagi, maka
akan mendapatkan suntikan yang sama dengan dosis 1,2 juta unit tiap 4 minggu
selama 5 tahun berikutnya. Jika kasusnya berat, diberikan tiap 3 minggu.
b. Pencegahan komplikasi karditis :
 Pemberian penisilin benzatin setiap satu kali sebulan untuk pencegahan
sekunder menurut The American Asosiation
 Tirah baring bertujuan untuk mengurangi komplikasi karditis dan mengurangi
beban kerja jantung pada saat serangan akut demam reumatik
 Bila pasien ada tanda-tanda gagal jantung maka diberikan terapi digitalis 0,04 –
0,06 mg/kg BB.
c. Mengurangi rasa sakit dan anti radang :
 Pasien diberi analgetik untuk mengurangi rasa sakit yang dideritanya. Salisilat
diberikan untuk anti radang dengan dosis 100 mg/kg BB/hari dan 25 mg/kg
BB/hari selama satu bulan.
 Prednison diberikan selama kurang lebih dua minggu dan tapering off
(dikurangi bertahap). Dosis awal prednison 2 mg/kg BB/hari.

Diagnosis dibuat berdasarkan kriteria jones yang dimodifikasi dari American


Heart Association. Prognosis tergantung pada beratnya keterlibatan jantung.
ASUHAN KEPERAWATAN RHD
1. Pengkajian
a. Informasi Umum Pasien
1) Identitas pasien dan penanggung
2) Riwayat penyakit keluarga
3) Satus kesehatan saat ini
4) Status kesehatan masa lalu
b. Pola Fungsi Kesehatan (11 Pola Fungsional Gordon)
1) Pemeliharaan dan persepsi terhadap kesehatan
 Cara pemeliharaan kesehatan dan persepsi keluarga pasien terhadap penyakit
yang dialami yang kurang tepat
2) Pola Nutrisi/metabolic
 Tidak nafsu makan, perubahan dalam kemampuan mengenali makan,
mual/muntah
 Disfagia, nyeri retrosternal saat menelan
 Penurunan BB yang cepat atau progresif
 Malnutrisi
 Dapat menunjukan adanya bising usus hiperaktif
 Penurunan BB: perawakan kurus, menurunnya lemah subkutan/masa otot.
 Turgor kulit buruk.
 Kesehatan gigi/gusi yang buruk, adanya gigi yang tanggal.
 Edema (umum, dependen)
3) Pola eliminasi
 Penurunan berat badan
 Nyeri panggul, rasa terbakar saat miksi.
 Feses encer dengan/tanpa disertai mukus atau darah.
 Nyeri tekan abdominal.
 Lesi/abses rektal, perianal
 Perubahan dalam jumlah, warna, dan karakteristik urine.

4) Pola aktivitas dan latihan


 Mudah lelah
 Berkurangnya toleransi terhadap aktivitas biasanya
 Progresi kelelahan/malaise
 Perubahan kedalaman pernafasan
 Bradipnea, dispnea, ortopnea, takipnea
 Peningkatan diameter anterior posterior
 Pernafasan cuping hidung
 Fase ekspirasi memanjang
 Pernafasan bibir mencucu
 Penggunaan otot aksesorius untuk bernafas
 Pasien mengatakan tidak bisa ke kamar mandi sendiri dan memakai pakaian
sendiri, pasien mengatakan susah keramas dan menggosok gigi sehingga
membutuhkan bantuan orang lain.
 Perubahan cara berjalan
 Pergerakan gemetar
 Keterbatasan melakukan keterampilan motorik kasar dan motorik halus
 Keterbatasan rentang pergerakan sendi, tremor akibat pergerakan,
ketidakstabilan postur, pergerakan lambat, dan tidak terkoordinasi
5) Pola tidur dan istirahat
 Perubahan pola tidur
 Sulit untuk memulai tidur akibat nyeri yang dirasakan
 Sering terbangun dimalam hari
 Tidur kurang dari 6 jam setiap harinya
 Pasien tidak biasa tidur siang
 Pasien mengeluh nyeri pada sekitar umbilical sampai ke area diafragma, sendi
pergelangan tangan, pergelangan kaki, lutut, sikut yang muncul bergantian,
pasien tampak meringis akibat nyeri, tampak lesu, dan tidak bergairah (nyeri
dikaji dengan PQRST : faktor penyebabnya, kualitas/kuantitasnya, lokasi,
lamanya dan skala nyeri).
 Mengekspresikan prilaku gelisah, waspada, iritabilitas, mendesah, merengek,
menangis
 Perubahan posisi untuk menghindari nyeri
 Perilaku berjaga – jaga melindungi area nyeri
 Diaforesis
 Perubahan tekanan darah, frekuensi jantung, dan frekuensi pernafasan
6) Pola kognitif-perseptual
 Pusing/pening, sakit kepala.
 Pasien mengatakan tidak memahami mengenai pencegahan penyakitnya,
perawatan dan tindakan yang harus dilakukan
 Pasien tampak bertanya pencegahan, perawatan dan pengobatannya.
7) Pola persepsi diri/konsep diri
 Ide paranoid
 Ansietas yang berkembang bebas
 Harapan yang tidak realistis
8) Pola seksual dan reproduksi
 Menurunnya libido untuk melakukan hubungan seks.
9) Pola peran-hubungan
 Mempertanyakan kemampuan untuk tetap mandiri, tidak mampu membuat
rencana.
 Perubahan pada interaksi keluaga/orang terdekat
 Aktivitas yang tak terorganisasi, perubahan penyusunan tujuan.
10) Pola manajemen koping stress
 Faktor stres yang berhubungan dengan kehilangan, misal dukungan keluarga,
hubungan dengan orang lain, penghasilan, gaya hidup tertentu, dan distres
spiritual
 Mengingkari diagnosa, merasa tidak berdaya, putus asa, tidak berguna, rasa
bersalah, kehilangan kontrol diri, dan depresi
 Mengingkari, cemas, depresi, takut, menarik diri
 Perilaku marah, postur tubuh mengelak, menangis, dan kontak mata yang
kurang.
11) Pola keyakinan-nilai
 Mengungkapkan kurang dapat menerima (kurang pasrah)
 Mengungkapkan kurangnya motivasi
 Mengungkapkan kekurangan harapan, cinta, makna hidup, tujuan hidup,
ketenangan (mis. Kedamaian)
 Mengungkapkan marah kepada Tuhan, ketidakberdayaan, penderitaan
 Ketidakmampuan berintrospeksi, mengalami pengalaman regiositas,
berpartisipasi dalam aktivitas keagamaan, berdoa
 Meminta menemui pemimpin keagamaan
 Perubahan yang tiba – tiba dalam praktik spiritual
DIAGNOSA KEPERAWATAN

1. Ketidakefektifan pola nafas berhubungan dengan ketidakadekuatan oksigen menuju paru-


paru ditandai dengan perubahan kedalaman pernafasan, bradipnea, dispnea, ortopnea,
takipnea, peningkatan diameter anterior posterior, pernafasan cuping hidung, fase
ekspirasi memanjang, pernafasan bibir mencucu, dan penggunaan otot aksesorius untuk
bernafas.
2. Ketidakefektifan perfusi jaringan perifer berhubungan dengan gangguan aliran darah
sekunder akibat inflamasi ditandai dengan perubahan karakteristik kulit (warna,
elastisitas, kelembapan, kuku, sensasi suhu), perubahan tekanan darah di ekstremitas,
penurnan nadi, edema, warna tidak kembali ke tungkai saat tungka diturunkan, warna
kulit pucat saat elevasi, parestesia, dan penurunan nadi.
3. Penurunan curah jantung berhubungan dengan disfungsi miokardium atau perubahan
kontraktilitas jantung ditandai dengan aritmia, bradikardi, palpitasi, takikardia, edema,
keletihan, murmur, distensi vena jugularis, dispnea, penurunan nadi perifer, oliguria,
pengisian ulang kapiler memanjang, perubahan warna kulit, ortopnea, ansietas, dan
gelisah.
4. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan ketidakseimbangan antara suplai dan kebutuhan
oksigen ditandai dengan pasien menyatakan merasa letih, lemah, ketidaknyamanan
setelah beraktivitas, dispnea setelah beraktivitas, respom tekanan darah dan frekuensi
jantung abnormal terhadap aktivitas, perubahan EKG yang mencerminkan aritmia atau
iskemia.
5. Pk Anemia
6. Nyeri akut berhubungan dengan agen cedera biologis (penimbunan asam laktat pada
sendi, pergesekan daerah sekitar sendi dan peradangan pada daerah sendi) ditandai
dengan melaporkan nyeri secara verbal, mengekspresikan prilaku gelisah, waspada,
iritabilitas, mendesah, merengek, menangis, perubahan posisi untuk menghindari nyeri,
perilaku berjaga – jaga melindungi area nyeri, diaforesis, perubahan tekanan darah,
frekuensi jantung, dan frekuensi pernafasan .
7. Hipertermi berhubungan dengan kerusakan kontrol suhu sekunder akibat infeksi penyakit
ditandai dengan kulit kemeraha, peningkatan suhu tubuh diatas normal, kejang,
takikardia, takipnea, dan kulit teraba hangat.
8. Keletihan berhubungan dengan penurnan energi akibat metabolisme basal terganggu
ditandai dengan ketidakmampuan mempertahankan aktivitas fisik pada tingkat yang
biasanya, ketidakmampuan mempertahankan rutinitas yang biasanya, peningkatan
keluhan fisik, peningkatan kebutuhan istirahat, kurang energy, letargi, lesu, lelah,
mengatakan kurang energi yang luar biasa dan tidak kunjung reda.
9. Hambatan mobilitas fisik berhubungan dengan penurunan massa otot ditandai dengan
perubahan cara berjalan, pergerakan gemetar, keterbatasan melakukan keterampilan
motorik kasar dan motorik halus, keterbatasan rentang pergerakan sendi, tremor akibat
pergerakan, ketidakstabilan postur, pergerakan lambat, dan tidak terkoordinasi.
10. Risiko cedera berhubungan dengan disfungsi efektor (Korea Sydenham)
11. Kerusakan integritas kulit berhubungan dengan proses penyakit (eritema marginatum dan
nodul subkutan) ditandai dengan kerusakan lapisan kulit, gangguan permukaan kulit, dan
invasi struktur tubuh.
12. Ansietas berhubungan dengan perubahan dalam status kesehatan ditandai dengan gelisah,
khawatir, ketakutan, kesedihan yang mendalam, wajah tampak tegang, tremor,
peningkatan keringat, suara bergetar, letih, diare, nyeri abdomen, anoreksia, mulut kering,
peningkatan frekuensi pernafasan, sering berkemih, penurunan tekanan darah dan denyut
nadi.
13. Defisiensi pengetahuan berhubungan dengan kurangnya pajanan informasi ditandai
dengan pengungkapan masalah, ketidakakuratan mengikuti perintah, perilaku hiperbola,
dan perilaku tidak tepat (hysteria, agitasi, apatis)
INTERVENSI KEPERAWATAN

Diagnosa Tujuan /
No Intervensi Rasional
keperawatan kriteria hasil
1. Ketidakefektifan Setelah Mandiri Mandiri
pola nafas tidak diberikan - Evaluasi - Respon pasien bervariasi.
berhubungan askep selama frekuensi Kecepatan dan upaya
dengan 2x24 jam pernapasan dan mungkin meningkat
ketidakadekuatan diharapkan kedalaman. karena nyeri, takut,
oksigen menuju pola nafas demam, penurunan
paru-paru efektif volume sirkulasi
dengan (kehilangan darah atau
kriteria hasil: cairan), akumulasi secret,
- Pasien hipoksia atau distensi
tidak gaster. Penekanan
sesak pernapasan (penurunan
nafa kecepatan) dapat terjadi
- Frekuensi dari penggunaan
pernapas analgesic berlebihan.
an - Catat upaya - Pengenalan dini dan
normal pernapasan, pengobatan ventilasi
(16-24 contoh adanya abnormal dapat
kali dispnea, mencegah komplikasi.
permenit) penggunaan
otot bantu
pernapasan,
pelebaran
nasal.
- Auskultasi - Auskultasi bunyi napas
bunyi napas. ditujukan untuk
Catat area yang mengetahui adanya bunyi
menurun atau napas tambahan.
tidak adanya
bunyi napas
dan adanya
bunyi napas
tambahan,
contoh krekels
atau ronki

Kolaborasi Kolaborasi
Bantu dalam Reekspansi paru dengan
pemasangan pelepasan akumulasi darah
kembali selang atau udara dari tekanan
dada atau negative pleural.
torakosentesis bila
diindikasikan
2. Penurunan curah Setelah Mandiri Mandiri
jantung diberikan - Kaji/pantau - Perbandingan dari
berhubungan askep selama tekanan darah. tekanan memberikan
dengan disfungsi 3x24 jam Ukur pada gambaran yang lebih
miokardium diharapkan kedua tangan lengkap tentang
curah jantung /paha untuk keterlibatan/bidag
normal. evaluasi awal. masalah vaskular.
Dengan Gunakan Hipertensi berat
ukuran manset diklarifikasikan pada
kriteria hasil: yang tepat dan orang dewasa sebagai
- pasien teknik yang peningkatan tekanan
tidak akurat. diastolik sampai 130;
mudah hasil pengukuran
lelah diastolik diatas 130
- Pasien dipertimbangkan sebagai
tidak peningkatan pertama,
sesak kemudian maligna.
napas Hipertensi sistolik juga
- Tekanan merupakan faktor resiko
darah yang ditentukan untuk
normal penyakit serebrovaskular
yaitu dan penyakit iskemi
sistolik jantung bila tekanan
(100- diastolik 90 sampai 115.
140) - Catat - Denyutan karotis,
mmHg keberadaan, jugularis, radialis, dan
dan kualitas femoralis mungkin
diastolik denyutan teramati/ terpalpasi.
(60- sentral dan Denyut pada tungkai
90)mmg perifer. mungkin menurun,
Nadi mencerminkan efek dari
normal vasokontriksi
(60-100 (peningkatan SVR), dan
kali kongesti vena.
permeni - Amati warna - Adanya pucat, dingin,
- Tidak ada kulit, kulit lembab dan masa
sianosis kelembaban, pengisian kapiler lambat
- Tidak ada suhu, dan masa mungkin berkaitan
edema pengisian dengan vasokontriksi
kapiler. atau mencerminkan
dekompensasi /penurunan
curah jantung.
- Catat edema - Dapat mengindikasikan
umum/tertentu. gagal jantung, kerusakan
ginjal atau vaskular.
- Dapat menurunkan
rangsangan yang
menimbulkan stres,
membuat efek tenang,
sehingga akan
menurunkan TD.

- Anjurkan - Dapat mengindikasikan


teknik gagal jantung, kerusakan
relaksasi, ginjal atau vaskuler.
panduan Dapat menurunkan
imajinasi, rangsangan yang
aktivitas menimbulakan stres,
pengalihan. membuat efek tenang,
sehingga akan
menurunkan TD.

- Pantau respon Respon terhadap terapi

terhadap obat obat “steppen” (yang

untuk terdiri atas neureting,

mengontrol inhibitor simpatis dan

tekanan darah. vasodilator) tergantung


pada individu dan efek
sinergis obat. Karena efek
samping tersebut, maka
penting untuk
menggunakan obat dalam
jumlah paling sedikit dan
dosis paling rendah

Kolaborasi Kolaborasi

Berikan Pembatasan ini dapat

pembatasan cairan menangani retensi cairan


dan diet natrium dengan respon hipertensif,
sesuai indikasi dengan demikian
menurunkan beban gagal
jantung.
3. Gangguan perfusi Setelah Mandiri Mandiri
jaringan diberikan - Selidiki - Perfusi serebral secara
berhubungan askep selama perubahan tiba- langsung sehubungan
dengan gangguan 3x24 jam tiba atau dengan curah jantung dan
aliran darah diharapkan gangguan juga dipengaruhi oleh
sekunder akibat tidak ada mental elektrolit atau variasi
inflamasi gangguan kontinyu, asam basa, hipoksia, atau
perfusi contoh: cemas, emboli sistemik.
jaringan bingung,
dengan letargi,
kriteria hasil: pingsan.
- Pasien - Lihat pucat, - Vasokontriksi sistemik
tidak sianosis, diakibatkan oleh
merasa belang, kulit penurunan curah jantung
nyeri dingin atau mungkin dibuktikan oleh
- Tidak ada lembab. Catat penurunan perfusi kulit
sianosis kekuatan nadi dan penurunan nadi.
- Pasien perifer.
tidak - Kaji tanda - Indikator trombosis vena
pucat edema. dalam.
- Tidak ada - Pantau - Pompa jantung gagal
edema pernapasan, dapat mencetuskan
catat kerja distress pernapasan.
pernapasan. Namun dispnea tiba-tiba
atau berlanjut
menunjukkkan
komplikasi tromboemboli
paru.

Kolaborasi Kolaborasi
Pantau data Indikator perfusi atau fungsi
laboratorium, organ.
contoh: GDA,
BUN, creatinin,
dan elektrolit.
4. Hypertermi Setelah Mandiri Mandiri
berhubungan diberikan - Pantau suhu - Suhu 38,9o – 41,1o C
dengan kerusakan askep selama pasien (derajat menunjukan proses
kontrol suhu 1x24 jam dan pola) penyakit infeksius akut.
sekunder akibat diharapkan perhatikan Pola demam dapat
infeksi penyakit suhu tubuh menggigil atau membantu dalam
kembali diaforesis. diagnosis ; misal kurva
normal demam lanjut berakhir
dengan out lebih dari 24 jam
come : menunjukkan pneumonia
- Suhu pnuemokokal, demam
tubuh scarlet atau tifoit ; demam
pasien remiten (bervariasi hanya
normal beberapa derajat pada
(36,8 - arah tertentu)
37,2 ) °C menunjukan infeksi paru
- Pasien ; kurva intermiten atau
tidak demam yang kembali
menggigl normal sekali dalam
periode 24 jam
menunjukan episode
septic, endokarditis
septic, atau TB.
Menggigil sering
mendahului puncak suhu.
Catatan : penggunaan
antipirektik mengubah
pola demam dan dapat
dibatasi sampai diagnosis
dibuat atau bila demam
tetap lebih besar dari
38,9o C.
- Berikan - Dapat membantu
kompres mandi mengurangi demam.
hangat ; Catatan : penggunaan air
hindari es atau alcohol mungkin
penggunan menyebabkan
alcohol. kedinginan, peningkatan
suhu secara actual. Selain
itu, alcohol dapat
mengeringkan kulit.

Kolaborasi Kolaborasi
Berikan Digunakan untuk
antipiretik, mengurangi demam dengan
misalnya : ASA aksi sentralnya pada
(aspirin), hipotalamus, meskipun
asetaminofen demam mungkin dapat
(Tylenol). berguna dalam membatasi
pertumbuhan organisme, dan
meningkatkan outodestruksi
dari sel-sel yang terinfeksi.
5. Gangguan rasa Setelah Mandiri Mandiri
nyaman (nyeri) diberikan - Ketahui adanya - Dengan mengetahui dan
berhubungan askep selama nyeri. mendengarkan penuh
dengan 2x24 jam, Dengarkan perhatian mengenai nyeri,
penimbunan asam diharapkan dengan penuh akan dapat
laktat pada sendi pasien perhatian dilakukan tindakan yang
merasa mengenai tepat untuk mengatasi
nyaman nyeri. nyeri.
dengan krite - Beri tahu - Teknik penurunan
ria hasil : teknik untuk ketegangan otot rangka
· Tidak ada menurunkan dapat menurunkan
nyeri ketegangan intensitas nyeri.
· Pasien tidak otot rangka,
meringis yang dapat
menurunkan
intensitas
nyeri.
- Ajarkan - Strategi relaksasi dapat
strategi meningkatkan rasa
relaksasi nyaman
khusus (missal:
bernafas
perlahan,
teratur atau
nafas dalam –
kepalkan tinju
– menguap).
6. Intoleransi aktivitas Setelah Mandiri Mandiri
berhubungan diberikan - Periksa tanda - Hipertensi ortostatik
dengan askep selama vital sebelum dapat terjadidengan
metabolisme basal 2x24 jam, dan segera aktivitas karena efek obat
terganggu diharapkan setelah (vasodilasi), perpindahan
pasien dapat aktivitas, cairan (diuretik) atau
melakukan khususnya bila pengaruh fungsi jantung
aktivitas pasien - Penurunan
dengan menggunakan /ketidakmampuan
mandiri vasolidator, miokardium untuk
dengan krite diuretik, meningkatkan volume
ria hasil : penyekat beta. sekuncup selama
· Pasien tidak - Catat respon aktivitas, dapat
mudah lelah kardiopulmona menyebabkan
· Pasien tidak l terhadap peningkatan segera pada
nyeri aktifitas, catat frekuensi jantung dan
· Pasien tidak takikardi, kebutuhan oksigen, juga
meringis disritmia, peningkatan kelelahan
· Pasien tidak dispnea, dan kelemahan.
lemas berkeringat, - Kelemahan adalah efek
· Pasien tidak pusat. samping dari beberapa
pucat obat (beta bloker,
traquilizer dan sedatif).
Nyeri dan program penuh
- Kaji stres juga memerlukan
presipitator energi dan menyebabkan
/penyebab kelemahan.
kelemahan - Dapat menunjukkan
contoh peningkatan
pengobatan, dekompensasi jantung
nyeri, obat. daripada kelebihan
aktivitas.
- Evaluasi - Pemenuhan kebutuhan
peningkatan perawatan diri pasien
intoleran tanpa mempengaruhi
aktivitas. stres miokard/ kebutuhan
Berikan oksigen berlebihan.
bantuan dalam
aktivitas
perawatan diri
sesuai indikasi.
Selingi periode
aktivitas
dengan periode
istirahat.

Kolaborasi
Implementasikan Kolaborasi
program Peningkatan bertahap pada
rehabilitasi aktivitas menghindari kerja
jantung/aktifitas. jantung/konsumsi oksigen
berlebihan. Penguatan dan
perbaikan fungsi jantung
dibawah stres, bila disfungsi
jantung tidak dapat membaik
kembali.
EVALUASI
No. Diagnosa Keperawatan Evaluasi
1. Pola nafas tidak efektif berhubungan - S : Pasien mengatakan tidak sesak nafas
dengan ketidakadekuatan oksigen lagi
menuju paru-paru. - O : Frekuensi pernapasan normal ( 16-20
kali permenit)
- A : Tujuan tercapai.
- P : Pertahankan kondisi pasien.
2. Penurunan curah jantung - S :Pasien mengatakan sudah tidak mudah
berhubungan dengan disfungsi lelah dan tidak sesak napas
miokardium. - O:
 Tekanan darah normal yaitu 110/60-
140/90mmHg
 Nadi normal (60-100 kali permenit)
 Tidak ada sianosis
 Tidak ada edema
- A : Tujuan tercapai.
- P : Pertahankan kondisi pasien.
3. Gangguan perfusi jaringan - S :Pasien mengatakan sudah tidak merasa
berhubungan dengan gangguan nyeri
aliran darah sekunder akibat - O:
inflamasi.  Tidak ada sianosis
 Pasien tidak pucat
 Tidak ada edema
- A : Tujuan tercapai.
- P : Pertahankan kondisi pasien.
4. Hypertermi berhubungan dengan - S : pasien mengatakan panas badan pasien
kerusakan kontrol suhu sekunder sudah menurun dan tidak merasa gelisah
akibat infeksi penyakit. lagi
- O:
 Suhu tubuh pasien normal (36,8-
37,2°C)
 Pasien tidak menggigil
- A : Tujuan tercapai.
- P : Pertahankan kondisi pasien.
5. Gangguan rasa nyaman (nyeri) - S :Pasien sudah merasa tidak ada nyeri
berhubungan dengan penimbunan - O :Pasien tidak meringis kesakitan
asam laktat pada sendi. - A : Tujuan tercapai.
- P : Pertahankan kondisi pasien.
6. Intoleransi aktivitas berhubungan - S:
dengan metabolisme basal  Pasien mengatakan sudah tidak
terganggu. mudah lelah
 Pasien mengatakan tidak merasa nyeri
- O:
 Pasien tidak meringis kesakitan
 Pasien tidak lemas
 Pasien tidak pucat
- A : Tujuan tercapai.
- P : Pertahankan kondisi pasien.
DAFTAR PUSTAKA

Brunner & Suddart. 2002. Keperawatan Medikal Bedah. Edisi 8. Jakarta : EGC.
Carpenito, L. J. 2003. Buku Saku Diagnosis Keperawatan. Edisi 10. Jakarta : EGC.
Doenges, Marilynn. 1993. Rencana Asuhan Keperawatan. Edisi 3. Jakarta : EGC.
Herdman, T Heather (Ed). 2010. Diagnosis Keperawatan: Definisi dan Klasifikasi
2009-2011. Jakarta : EGC.
Hidayat, A. 2006. Pengantar Ilmu Keperawatan Anak. Jakarta: Salemba Medika.
Mansjoer, Arif. 2000. Kapita Selekta Kedokteran Edisi III Jilid 1. Jakarta : Media
Aesculapius.
Markum, AH. 1999. Ilmu Kesehatan Anak. Jakarta: Balai Penerbit FKUI.
Robbins dan Kumar. 2003. Buku Ajar Patologi. Edisi 4. Jakarta : EGC.
Sachasin Rosa M. 1996. Prinsip Keperawatan Pediatik. Jakarta: EGC.
Sarwono, W. 2001. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam. Jakarta : Balai Penerbit FKUI.
Suriadi dan Yuliani. 2001. Asuhan Keperawatan Pada Pasien Anak. Jakarta : Sagung
Seto.
Suryanah. 2000. Keperawatan Anak. Jakarta : EGC.
Wong, DL. 2004. Pedoman Klinis Keperawatan Pediatrik. Jakarta : EGC.

Anda mungkin juga menyukai