Asuhan Keperawatan Penyakit Jantung Rematik
Asuhan Keperawatan Penyakit Jantung Rematik
DISUSUN OLEH :
KELOMPOK 2
Erna Sartika Metaloby
Hardianti Mulyani Putri
Husnul Khatimah
Mega Pertiwi Meturan
Megawati Turalely
Marlin Hemri Ranglalin
Margarita Yaftoran
Mentira Blandina Batlayeri
Melisa
Nurul Mutmainnah
Sitti Raja
Sri Ayu Ashari
Surianti
A. Definisi Pengertian
Penyakit radang berulang akut yang terutama terjadi pada anak-anak usia 5-15
tahun yang biasanya terjadi 1-5 minggu setelah infeksi streptococus (biasanya terjadi
radang tenggorokan). (Robbins dan Kumar, Buku Ajar Patologi edisi 4)
Penyakit yang ditandai dengan kerusakan pada katup jantung akibat serangan
karditis rematik akut yang berulang kali (Kapita Selekta jilid I edisi III).
Kelainan jantung yang terjadi akibat demam reumatik atau kelainan karditis
reumatik (Taranta A dan Markowits, 1981).
Penyakit Jantung Rematik (PJR) atau dalam bahasa medisnya Rheumatic Heart
Disease (RHD) adalah suatu kondisi dimana terjadi kerusakan pada katup jantung yang
bisa berupa penyempitan atau kebocoran, terutama katup mitral (stenosis katup mitral)
sebagai akibat adanya gejala sisa dari Demam Rematik (DR).
B. Epidemiologi
Reumatik heart disease biasanya terjadi pada anak-anak usia 5-15 tahun dengan
puncaknya pada umur 8 tahun, dan kadang-kadang bisa dapat timbul pada usia 30 tahun
yang biasanya terjadi 1-5 minggu setelah infeksi streptococus (biasanya terjadi radang
tenggorokan). Wanita dan pria mempunyai kemungkinan sama untuk terserang. Frekuensi
demam reumatik akut di negara-negara maju dalam 100 tahun terakhir ini banyak sekali
menurun, misalnya di Denmark, terdapat kasus ini kira-kira 200 per 100.000 populasi
pada tahun 1860, dan menurun sampai 10 per 100.000 populasi pada tahun 1960.
Di Srilangka pada tahun 1978 masih tercatat insidensi demam reumatik sebanyak
47 per 100.000 populasi, dan untuk umur 5-19 tahun tercatat 140 per 100.000 populasi.
Penyakit jantung rematik terbanyak terdapat pada sentra industri dengan populasi yang
berlebih .Taranta dan Markowitz (1981) melaporkan demam reumatik merupakan
penyebab utama kelainan jantung pada umur 5-30 tahun. Demam reumatik dan penyakit
jantung reumatik merupakan penyebab kematian utama dari kelainan jantung pada umur
di bawah 45 tahun dan 25-40% penyakit jantung disebabkan oleh penyakit jantung
reumatik untuk semua umur. Di Yogyakarta pada dokumen medis RSUP Dr. Sardjito
tahun 1993 di temukan 8,3% penderita RHD dari seluruh penderita kelainan penyakit
jantung.
C. Etiologi
Penyakit jantung reumatik berhubungan erat dengan infeksi saluran nafas bagian
atas oleh Streptococcus Beta Hemolyticus Grup A. Faktor-faktor predisposisi yang
berpengaruh pada timbulnya demam reumatik dan penyakit jantung reumatik
kemungkinan terdapat pada faktor individu itu sendiri.
a. Jenis kelamin
Demam reumatik sering didapatkan pada anak wanita dibandingkan dengan
anak laki-laki. Tetapi data yang lebih besar menunjukkan tidak ada perbedaan jenis
kelamin, meskipun manifestasi tertentu mungkin lebih sering ditemukan pada satu
jenis kelamin.
b. Umur
Umur agaknya merupakan faktor predisposisi terpenting pada timbulnya
demam reumatik / penyakit jantung reumatik. Penyakit ini paling sering mengenai
anak umur antara 5-15 tahun dengan puncak sekitar umur 8 tahun. Tidak biasa
ditemukan pada anak antara umur 3-5 tahun dan sangat jarang sebelum anak berumur
3 tahun atau setelah 20 tahun. Distribusi umur ini dikatakan sesuai dengan insidens
infeksi streptococcus pada anak usia sekolah. Tetapi Markowitz menemukan bahwa
penderita infeksi streptococcus adalah mereka yang berumur 2-6 tahun.
c. Keadaan gizi dan lain-lain
Keadaan gizi serta adanya penyakit-penyakit lain belum dapat ditentukan
apakah merupakan faktor predisposisi untuk timbulnya penyakit jantung reumatik.
d. Reaksi autoimun
Dari penelitian ditemukan adanya kesamaan antara polisakarida bagian
dinding sel streptokokus beta hemolitikus group A dengan glikoprotein dalam katup
jantung. Kemungkinan ini mendukung terjadinya miokarditis dan valvulitis pada
reumatik fever.
D. Patofisiologi
Penyakit Jantung Reumatik (PJR) adalah kelainan jantung yang terjadi akibat
demam reumatik, atau kelainan karditis reumatik. Penyakit ini disebabkan karena infeksi
bakteri streptokokus beta hemolitikus Grup A. Bakteri ini akan menginfeksi saluran
pernapasan atas yaitu tenggorokan yang nantinya akan menyebabkan peradangan dan
infeksi pada tenggorokan sehingga menyebabkan terjadinya faringitis dan tonsillitis.
Akibat peradangan atau infeksi ini, merangsang terbentuknya antibodi sehingga bereaksi
dengan antigen streptokokus yang mengakibatkan terjadinya reaksi antigen-antibodi.
Akibat terjadinya reaksi imunologis ini menyebabkan terjadinya demam reumatik.
Demam reumatik bisa bersifat menetap dan reversible. Reversible terjadi jika pasien
dengan demam reumatik memilki sistem imun yang baik sehingga dapat disembuhkan.
Sebaliknya, bila sistem imun pasien ini menurun, maka demam reumatik ini bisa berlanjut
(berulang-ulang) dalam jangka waktu yang lama. Demam reumatik dapat mengakibatkan
gejala sisa (sequele), sehingga dalam serum penderita terdapat antibodi anti otot jantung.
Antibody ini mengakibatkan terjadinya respon autoimun dimana antibody ini dianggap
sebagai antigen (antigen pada katup jantung) sehingga terjadi reaksi perlawanan antara
antibodi yang dihasilkan dalam tubuh dengan antigen streptokokus dan antigen katup
jantung. Hal ini menyebabkan terjadinya peradangan pada katup jantung dan dapat pula
disertai dengan gejala –gejala seperti karditis (kriteria mayor dan kriteria minor). Bila
terdapat 2 kriteria mayor /1 kriteria mayor disertai dengan 2 kriteria minor akan
mengakibatkan terjadinya pnyakit jantung reumatik (RHD).
Berikut diuraikan pengalaman keluarga dengan anak yang menderita penyakit
kronis yang peneliti bagi dalam empat kategori, yaitu pengalaman awal mengasuh anak
dengan penyakit kronis, pengalaman tanpa akhir, dampak penyakit kronis terhadap
1. Respon Emosional
Respon emosional berupa perasaan sedih, bingung dan cemas merupakan hal
pertama yang dirasakan oleh keluarga ketika mengetahui anak mereka menderita
penyakit kronis dan akan bergantung seumur hidupnya terhadap pengobatan dan
keluarga (Cohen, 1999). Dari hasil penelitian ini pada umumnya perasaan sedih
dialami oleh seluruh partisipan. Hal ini disebabkan adanya ketidaksesuaian antara
harapan dan kenyataan yang dialami keluarga karena penyakit yang diderita anak
mereka (Kozier et al, 2004). Menurut Peneliti, perasaan bingung yang dialami oleh
mereka. Mereka belum pernah mendengar nama penyakit tersebut namun mereka
langsung berhadapan dengan keadaan penyakit itu setelah anak mereka didiagnosa
bingung dalam hal perawatan dan bingung dengan prosedur pemeriksaan maupun
pelayanan medis yang mereka jalani. Giboa (2000, dalam Giboa 2000), menemukan
bahwa keluarga yang tidak mengetahui kondisi sakit yang dialami oleh anggota
keluarga akan merasa kebingungan dalam menghadapi dan beradaptasi dengan anak
oleh orangtua dikarenakan mereka belum begitu akrab dengan jenis penyakit yang
diderita oleh anaknya dan tidak menyangka bahwa salah satu anggota keluarga
mereka mengidap penyakit kronis. Selain itu karena pengetahuan tentang penyakit
kuat antara rasa sakit dan ketakutan akan kehilangan yang diderita oleh anak yang
menderita penyakit kronis dengan perasaan cemas yang dialami oleh orangtua. Dari
penelitian tersebut juga diketahui bahwa orang tua cenderung merasa bahwa tindakan
medis yang dilalui oleh anak mereka merupakan tindakan yang membahayakan
sehingga orang tua cenderung merasa cemas dan sensitif terhadap tindakan medis.
Pendapat yang sama dinyatakan Madden dkk (2002, dalam Widyawati 2002) meneliti
respon emosi ibu yang mempunyai anak hemofilia, dikatakan bahwa respon ibu
bervariasi dari sikap menerima sampai mengalami distres psikologis yang berat. Rasa
takut akan akibat pengobatan yang bakal diterima anaknya, seperti kesakitan,
handicap, bahkan kemungkinan meninggal, menjadi masalah utama bagi para ibu ini.
Sikap ibu yang bisa menerima kondisi anak sepenuhnya akan dapat berpengaruh
dan tanggung jawab keluarga termasuk memilih fasilitas kesehatan yang tepat
(Friedman, 1999). Perasaan takut akan kehilangan anak dan kondisi pengobatan yang
tidak pasti serta tidak menjamin kesembuhan membuat keluarga sering mencari
lebih dari satu pengobatan tradisional. Hal ini dianggap sebagai suatu bentuk usaha
kesehatan anaknya. Hal ini akan menambah beban psikologis pada anak dan keluarga,
(Farmer, 2004). Banyak orangtua yang berusaha mencari pengobatan alternatif di luar
3. Mencari Informasi
seluruh responden berusaha mencari informasi tentang apa dan bagaimana kondisi
penyakit yang diderita oleh anak mereka. Hal ini dilakukan untuk memenuhi rasa igin
tahu mereka tentang perawatan dan pengobatan yang harus dijalani oleh anaknya.
Mereka khawatir bila ketidaktahuan mereka tentang kondisi kronis yang dialami oleh
anak mereka akan berdampak buruk terhadap kesehatan. Bertanya adalah salah satu
cara orang tua untuk mencari informasi. Mereka akan bertanya tentang jenis penyakit,
medis dan orang-orang yang sudah berpengalaman dalam menghadapi anak yang
sakit kronis merupakan sumber informasi utama yang dicari keluarga. Berbagi
pengalaman dan sharing dengan orang lain adalah cara keluarga untuk memenuhi
keingintahuan mereka. Hal senada ditemukan Cohen (dalam Cohen, 1999) dalam
penelitiannya tentang respon keluarga dengan anak yang menderita penyakit kronis.
Mencari informasi sebanyak mungkin merupakan salah satu bentuk koping keluarga
terhadap kondisi kronis yang dihadapi anaknya. Mereka akan berusaha mengetahui
dan memperlengkapi dirinya dengan pengetahuan yang luas. Mereka takut akan lalai
atau salah mengambil tindakan akibat kurangnya informasi yang mereka miliki.
Dokter, perawat, ahli terapi dan orang sudah berpengalaman merupakan sumber
penyakit yang dideritanya. Untuk itu, orang tua perlu mempelajari bagaimana teknik
4. Aspek Budaya
Banyak hal yang dilakukan orang tua pada tahap awal sakit kronis yang
dialami oleh anaknya baik itu melalui pendekatan medis, non medis, bahkan adat-atau
istiadat. Seperti halnya responden B yang bersuku Jawa, mengatakan bahwa dalam
sukunya ada suatu acara doa bersama yang fungsinya untuk memperoleh kesembuhan
apabila ada aggota keluarga yang sakit. Tempat tinggal di daerah perkotaan juga
merupakan salah satu alasan mengapa hal itu tidak dilakukan karena orang-orang
yang tinggal di sekitar mereka tidak memandang hal tersebut menjadi suatu
keharusan. Budaya tidak pernah lepas dari kondisi sehat-sakit seseorang. Keyakinan
budaya memaknai pengalaman sehat dan sakit individu untuk menyesuaikan diri
menentukan hasil yang diinginkan (Kleinman ,1980 dalam C). Menurut Arthur
adanya budaya yang berbeda-beda juga membuat kesehatan memiliki arti yang
berbeda bagi setiap orang, Kita mengenali dan mengukur perubahannya dengan
berbeda (Anderson dan [Link] 2001). Oleh karena itu cara-cara yang ditempuh
juga berbeda untuk mempertahankan kesehatan. Dalam keadaan sakit kronis, biasanya
keluarga akan menghubungi keluarga besar dan para penatua untuk mengadakan acara
melaksanakannya karena itu adalah nasehat orang tua atau orang yang dihormati
dan kebiasaan kelompok etnis menjadi referensi yang digunakan oleh anggotanya
untuk menilai ketepatan keputusan dan tindakan mereka (Kleinman, 1978, dalam
besar dalam perawatan kesehatan dari pada pengalaman dan pengobatan medis
Hal ini juga bisa dilihat perasaan bingung karena ketidakpastian kondisi sakit
dan hasil pengobatan, konflik sehari-hari dengan peraturan medis, isolasi sosial,
aturan-aturan yang membatasi, dan tekanan finansial adalah stressor yang selalu
dijumpai (King, 2001). Oleh karena itu keluarga sangat rentan dengan stress dalam
adaptasi keluarga dengan anak yang menderita penyakit kronis menyebutkan bahwa
proses perawatan yang lama menuntut perhatian dan penjagaan yang lama dari
orangtua. Hal ini menimbulkan rasa jenuh, bosan dan tekanan mental dalam diri
keluarga. Namun rasa tanggungjawab terhadap keadaan anak membuat orang tua
harus menerima konsekuensi kondisi kronis anaknya. Kondisi seperti ini sangat
Rasa sedih yang mendalam selalu mengikuti setiap tindakan keluarga yang
harus melihat rasa sakit yang diderita anaknya. Hal ini memicu stress bagi keluarga
(Mussatto, 2002)..
5. Tekanan ekonomi
ekonomi keluarga semakin berat setelah beberapa bulan anak didiagnosa menderita
penyakit kronis. Tekanan ekonomi semakin terasa karena biaya rutin yang dibutuhkan
untuk perawatan sementara keluarga tetap harus memenuhi kebutuhan sehari-hari dan
berat oleh karena biaya yang harus dikeluarkan untuk perawatan, pengobatan dan
untuk memenuhi kebutuhan nutrisi anak mereka. Biaya yang dikeluarkan keluarga di
antaranya biaya transportasi, biaya makan selama di rumah sakit, dan biaya obat-
obatan yang harus ditanggung keluarga. Di samping itu juga kebutuhan sehari-hari
keluarga harus diperhatikan. Beban tersebut juga bertambah pada anak yang sudah
sekolah.
maupun yang sehat. Tekanan ekonomi semakin berat karena pengeluaran terus
bertambah sementara pemasukan tetap bahkan berkurang karena salah satu orang tua
Hasil penelitian yang ditemukan sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh
Aldridge (2001) dimana tekanan ekonomi adalah sesuatu hal yang biasa terjadi dan
akan terus berlangsung pada keluarga dengan anak yang menderita penyakit kronis.
Seluruh responden dalam penelitian ini merasakan adanya gangguan fisik dan
fisiologis selama merawat anaknya. Gangguan fisiologis dan fisik itu berupa kurang
tidur, sakit kepala, timbulnya penyakit-penyakit lama dan perasaan mual serta munta.
Menurut peneliti ini terjadi karena selama memberi perawatan di rumah keluarga
tetap harus waspada setiap kali anak menunjukkan gejala-gejala akan jatuh sakit
memperhatikan setiap permainan dan tingkah laku anak agar tidak mengganggu
dengan teman-temannya. Hal itu merupakan salah satu kebutuhan yang harus
dipenuhi oleh keluarga. Namun, keluarga harus terus menjaga fisik anak terus-
menerus agar tidak lelah dan tidak sembarangan mengkonsumsi makanan yang
anaknya, stress responden mengalami penurunan. Keluarga menjadi pasrah dan sudah
menerima keaadaan anak mereka termasuk masa depannya maupun semua prosedur
perawatan yang akan mereka jalani untuk anaknya. Semuanya menjadi sesuatu yang
biasa bagi mereka. Bahkan apa yang tidak normal bagi kita akan menjadi normal bagi
Seharusnya menurut teori yang ada hal ini akan menimbulkan trauma dan ketakutan
yang mendalam pada keluarga. Namun, dalam penelitian ini, hanya satu responden
yang mengakuinya. Peneliti tidak menemukan adanya trauma maupun ketakutan yang
berlebihan dalam diri keluarga yang lain. Mereka mengatakan sudah dapat menerima
hal ini, dan pasrah. Mereka menganggap, anak sebagai titipan Tuhan harus dirawat
dalam kondisi apapun. Dan sudah mejadi tanggungjawab mereka untuk menjaga dan
merawatnya. Dan bila Tuhan berkenan maka Tuhan bisa saja mengambil anaknya
kapanpun [Link] di atas juga ditemukan dalam penelitian Hamid (2004), dalam
penelitian yang dilakukan pada keluarga yang memiliki anak tuna grahita. Dalam
oleh anak mereka adalah keinginan Tuhan, hukuman dari Tuhan dan merupakan
keturunan. Sehingga kondisi anak yang sakit dapat diterima dengan kepasrahan.
dikarenakan mereka sudah menyadari bahwa apa yang mereka jalani sekarang juga
akan mereka jalani di hari-hari berikut nya. Oleh karena itu, untuk mengurangi
tekanan, penerimaan dan pasrah adalah satu-satunya jalan terbaik untuk bisa bertahan
E. Klasifikasi
Perjalanan klinis penyakit demam reumatik / penyakit jantung reumatik dapat
dibagi dalam 4 stadium.
1. Stadium I
Berupa infeksi saluran nafas atas oleh kuman Beta Streptococcus Hemolyticus
Grup A. Keluhannya :
a) Demam
b) Batuk
c) Rasa sakit waktu menelan
d) Muntah
e) Diare
f) Peradangan pada tonsil yang disertai eksudat
2. Stadium II
Stadium ini disebut juga periode laten, ialah masa antara infeksi streptococcus
dengan permulaan gejala demam reumatik; biasanya periode ini berlangsung 1 - 3
minggu, kecuali korea yang dapat timbul 6 minggu atau bahkan berbulan-bulan
kemudian.
3. Stadium III
Yang dimaksud dengan stadium III ini ialah fase akut demam reumatik, saat
ini timbulnya berbagai manifestasi klinis demam reumatik /penyakit jantung reumatik.
Manifestasi klinis tersebut dapat digolongkan dalam gejala peradangan umum dan
menifestasi spesifik demam reumatik /penyakit jantung reumatik.
Gejala peradangan umum :
a) Demam yang tinggi
b) Lesu
c) Anoreksia
d) Lekas tersinggung
e) Berat badan menurun
f) Kelihatan pucat
g) Epistaksis
h) Athralgia
i) Rasa sakit disekitar sendi
j) Sakit perut
4. Stadium IV
Disebut juga stadium inaktif. Pada stadium ini penderita demam reumatik
tanpa kelainan jantung / penderita penyakit jantung reumatik tanpa gejala sisa katup
dan tidak menunjukkan gejala apa-apa. Pada penderita penyakit jantung reumatik
dengan gejala sisa kelainan katup jantung, gejala yang timbul sesuai dengan jenis
serta beratnya kelainan. Pasa fase ini baik penderita demam reumatik maupun
penyakit jantung reumatik sewaktu-waktu dapat mengalami reaktivasi penyakitnya.
F. Gejala klinis
Untuk menegakkan diagnosa demam reumatik dapat digunakan Kriteria
Jones yaitu:
a. Kriteria mayor :
1) Poliarthritis
Pasien dengan keluhan sakit pada sendi yang berpindah-pindah, radang
sendi-sendi besar seperti lutut, pergelangan kaki, pergelangan tangan, siku
(poliarthritis migrans).
2) Karditis
Peradangan pada jantung (miokarditis, endokarditis).
3) Eritema marginatum
Tanda kemerahan pada batang tubuh dan telapak tangan yang tidak terasa
nyeri dan tidak terasa gatal.
4) Noduli subkutan
Terletak pada ekstensor sendi terutama siku, ruas jari, lutut, persendian
kaki, tidak nyeri tekan dan dapat bebas digerakkan.
5) Korea
Gerakkan yang tidak disengaja/gerakkan yang abnormal, sebagai
manifestasi peradangan pada sistem syaraf pusat.
b. Kriteria Minor :
1. Mempunyai riwayat menderita demam reumatik /penyakit jantung reumatik
2. Athralgia atau nyeri sendi tanpa adanya tanda obyektif pada sendi dan pasien
kadang-kadang sulit menggerakkan tungkainya
3. Demam tidak lebih dari 390celcius
4. Leukositosis
5. Peningkatan Laju Endap Darah (LED)
6. C-Reaktif Protein (CRF) positif
7. P-R interval memanjang
8. Peningkatan pulse denyut jantung saat tidur (sleeping pulse)
9. Peningkatan Anti Streptolisin O (ASTO)
Diagnosa ditegakkan bila ada dua kriteria mayor dan dua kriteria minor, atau
dua kriteria minor dan satu kriteria mayor.
7. Pemeriksaan Fisik
Keadaan Umum :
GCS :
Ciri tubuh : kulit, rambut, postur tubuh.
Tanda vital : nadi, suhu tubuh, tekanan darah, dan pernafasan.
Head to toe :
Kepala
Inspeksi : bentuk kepala, distribusi, warna, kulit kepala.
Palpasi : nyeri tekan dikepala.
Wajah
Inspeksi : bentuk wajah, kulit wajah.
Palpasi : nyeri tekan di wajah.
Mata
Inspeksi : bentuk mata, sclera, konjungtiva, pupil,
Palpasi : nyeri tekan pada bola mata, warna mukosa konjungtiva, warna
mukosa sclera
Hidung :
Inspeksi : bentuk hidung, pernapasan cuping hidung, secret
Dipalpasi : nyeri tekan pada hidung
Mulut :
Inspeksi : bentuk mulut, bentuk mulut, bentuk gigi
Palpasi : nyeri tekan pada lidah, gusi, gigi
Leher
Inspksi : bentuk leher, warna kulit pada leher
Palpasi : nyeri tekan pada leher.
Dada
Inspeksi : bentuk dada, pengembangan dada, frekuensi pernapasan.
Palpasi : pengembangan paru pada inspirasi dan ekspirasi, fokal
fremitus, nyeri tekan.
Perkusi : batas jantung, batas paru, ada / tidak penumpukan secret.
Auskultasi : bunyi paru dan suara napas
Payudara dan ketiak
Inspeksi : bentuk, benjolan
Palpasi : ada/ tidak ada nyeri tekan , benjolan
Abdomen
Inspeksi : bentuk abdomen, warna kulit abdomen
Auskultasi : bising usus, bising vena, pergesekan hepar dan lien.
Perkusi : batas hepar,batas ginjal,batas lien,ada/tidaknya pnimbunan
cairan diperut
Genitalia
Inspeksi :bentuk alat kelamin,distribusi rambut kelamin,warna rambut
kelamin,benjolan
Palpasi : nyeri tekan pada alat kelamin
Integumen
Inspeksi : warna kulit,benjolan
Palpasi : nyeri tekan pada kulit
Ekstremitas Atas :
Inspeksi : warna kulit,bentuk tangan
Palpasi : nyeri tekan,kekuatan otot
Ekstremitas Bawah :
Inspeksi : warna kuliy,bentuk kaki
Palpasi : nyeri tekan,kekuatan otot
8. Pemeriksaan Diagnosis
Pemeriksaan laboratorium darah
Foto rontgen menunjukkan pembesaran jantung
Elektrokardiogram menunjukkan aritmia
Echokardiogram menunjukkan pembesaran jantung dan lesi
9. Penatalaksanaan Medis
Tujuan penatalaksanaan medis adalah :
a. Pemberantasan infeksi streptococcus :
Pemberian benzatin penisilin G dengan kriteria sebagai berikut :
Usia < 20 tahun 1,2 juta unit tiap 4 minggu sampai usia 25 tahun
Usia > 20 tahun diberikan selama 5 tahun
Jika kriteri 1 dan 2 sudah terlaksana namunmuncul kekambuhan lagi, maka
akan mendapatkan suntikan yang sama dengan dosis 1,2 juta unit tiap 4 minggu
selama 5 tahun berikutnya. Jika kasusnya berat, diberikan tiap 3 minggu.
b. Pencegahan komplikasi karditis :
Pemberian penisilin benzatin setiap satu kali sebulan untuk pencegahan
sekunder menurut The American Asosiation
Tirah baring bertujuan untuk mengurangi komplikasi karditis dan mengurangi
beban kerja jantung pada saat serangan akut demam reumatik
Bila pasien ada tanda-tanda gagal jantung maka diberikan terapi digitalis 0,04 –
0,06 mg/kg BB.
c. Mengurangi rasa sakit dan anti radang :
Pasien diberi analgetik untuk mengurangi rasa sakit yang dideritanya. Salisilat
diberikan untuk anti radang dengan dosis 100 mg/kg BB/hari dan 25 mg/kg
BB/hari selama satu bulan.
Prednison diberikan selama kurang lebih dua minggu dan tapering off
(dikurangi bertahap). Dosis awal prednison 2 mg/kg BB/hari.
Diagnosa Tujuan /
No Intervensi Rasional
keperawatan kriteria hasil
1. Ketidakefektifan Setelah Mandiri Mandiri
pola nafas tidak diberikan - Evaluasi - Respon pasien bervariasi.
berhubungan askep selama frekuensi Kecepatan dan upaya
dengan 2x24 jam pernapasan dan mungkin meningkat
ketidakadekuatan diharapkan kedalaman. karena nyeri, takut,
oksigen menuju pola nafas demam, penurunan
paru-paru efektif volume sirkulasi
dengan (kehilangan darah atau
kriteria hasil: cairan), akumulasi secret,
- Pasien hipoksia atau distensi
tidak gaster. Penekanan
sesak pernapasan (penurunan
nafa kecepatan) dapat terjadi
- Frekuensi dari penggunaan
pernapas analgesic berlebihan.
an - Catat upaya - Pengenalan dini dan
normal pernapasan, pengobatan ventilasi
(16-24 contoh adanya abnormal dapat
kali dispnea, mencegah komplikasi.
permenit) penggunaan
otot bantu
pernapasan,
pelebaran
nasal.
- Auskultasi - Auskultasi bunyi napas
bunyi napas. ditujukan untuk
Catat area yang mengetahui adanya bunyi
menurun atau napas tambahan.
tidak adanya
bunyi napas
dan adanya
bunyi napas
tambahan,
contoh krekels
atau ronki
Kolaborasi Kolaborasi
Bantu dalam Reekspansi paru dengan
pemasangan pelepasan akumulasi darah
kembali selang atau udara dari tekanan
dada atau negative pleural.
torakosentesis bila
diindikasikan
2. Penurunan curah Setelah Mandiri Mandiri
jantung diberikan - Kaji/pantau - Perbandingan dari
berhubungan askep selama tekanan darah. tekanan memberikan
dengan disfungsi 3x24 jam Ukur pada gambaran yang lebih
miokardium diharapkan kedua tangan lengkap tentang
curah jantung /paha untuk keterlibatan/bidag
normal. evaluasi awal. masalah vaskular.
Dengan Gunakan Hipertensi berat
ukuran manset diklarifikasikan pada
kriteria hasil: yang tepat dan orang dewasa sebagai
- pasien teknik yang peningkatan tekanan
tidak akurat. diastolik sampai 130;
mudah hasil pengukuran
lelah diastolik diatas 130
- Pasien dipertimbangkan sebagai
tidak peningkatan pertama,
sesak kemudian maligna.
napas Hipertensi sistolik juga
- Tekanan merupakan faktor resiko
darah yang ditentukan untuk
normal penyakit serebrovaskular
yaitu dan penyakit iskemi
sistolik jantung bila tekanan
(100- diastolik 90 sampai 115.
140) - Catat - Denyutan karotis,
mmHg keberadaan, jugularis, radialis, dan
dan kualitas femoralis mungkin
diastolik denyutan teramati/ terpalpasi.
(60- sentral dan Denyut pada tungkai
90)mmg perifer. mungkin menurun,
Nadi mencerminkan efek dari
normal vasokontriksi
(60-100 (peningkatan SVR), dan
kali kongesti vena.
permeni - Amati warna - Adanya pucat, dingin,
- Tidak ada kulit, kulit lembab dan masa
sianosis kelembaban, pengisian kapiler lambat
- Tidak ada suhu, dan masa mungkin berkaitan
edema pengisian dengan vasokontriksi
kapiler. atau mencerminkan
dekompensasi /penurunan
curah jantung.
- Catat edema - Dapat mengindikasikan
umum/tertentu. gagal jantung, kerusakan
ginjal atau vaskular.
- Dapat menurunkan
rangsangan yang
menimbulkan stres,
membuat efek tenang,
sehingga akan
menurunkan TD.
Kolaborasi Kolaborasi
Kolaborasi Kolaborasi
Pantau data Indikator perfusi atau fungsi
laboratorium, organ.
contoh: GDA,
BUN, creatinin,
dan elektrolit.
4. Hypertermi Setelah Mandiri Mandiri
berhubungan diberikan - Pantau suhu - Suhu 38,9o – 41,1o C
dengan kerusakan askep selama pasien (derajat menunjukan proses
kontrol suhu 1x24 jam dan pola) penyakit infeksius akut.
sekunder akibat diharapkan perhatikan Pola demam dapat
infeksi penyakit suhu tubuh menggigil atau membantu dalam
kembali diaforesis. diagnosis ; misal kurva
normal demam lanjut berakhir
dengan out lebih dari 24 jam
come : menunjukkan pneumonia
- Suhu pnuemokokal, demam
tubuh scarlet atau tifoit ; demam
pasien remiten (bervariasi hanya
normal beberapa derajat pada
(36,8 - arah tertentu)
37,2 ) °C menunjukan infeksi paru
- Pasien ; kurva intermiten atau
tidak demam yang kembali
menggigl normal sekali dalam
periode 24 jam
menunjukan episode
septic, endokarditis
septic, atau TB.
Menggigil sering
mendahului puncak suhu.
Catatan : penggunaan
antipirektik mengubah
pola demam dan dapat
dibatasi sampai diagnosis
dibuat atau bila demam
tetap lebih besar dari
38,9o C.
- Berikan - Dapat membantu
kompres mandi mengurangi demam.
hangat ; Catatan : penggunaan air
hindari es atau alcohol mungkin
penggunan menyebabkan
alcohol. kedinginan, peningkatan
suhu secara actual. Selain
itu, alcohol dapat
mengeringkan kulit.
Kolaborasi Kolaborasi
Berikan Digunakan untuk
antipiretik, mengurangi demam dengan
misalnya : ASA aksi sentralnya pada
(aspirin), hipotalamus, meskipun
asetaminofen demam mungkin dapat
(Tylenol). berguna dalam membatasi
pertumbuhan organisme, dan
meningkatkan outodestruksi
dari sel-sel yang terinfeksi.
5. Gangguan rasa Setelah Mandiri Mandiri
nyaman (nyeri) diberikan - Ketahui adanya - Dengan mengetahui dan
berhubungan askep selama nyeri. mendengarkan penuh
dengan 2x24 jam, Dengarkan perhatian mengenai nyeri,
penimbunan asam diharapkan dengan penuh akan dapat
laktat pada sendi pasien perhatian dilakukan tindakan yang
merasa mengenai tepat untuk mengatasi
nyaman nyeri. nyeri.
dengan krite - Beri tahu - Teknik penurunan
ria hasil : teknik untuk ketegangan otot rangka
· Tidak ada menurunkan dapat menurunkan
nyeri ketegangan intensitas nyeri.
· Pasien tidak otot rangka,
meringis yang dapat
menurunkan
intensitas
nyeri.
- Ajarkan - Strategi relaksasi dapat
strategi meningkatkan rasa
relaksasi nyaman
khusus (missal:
bernafas
perlahan,
teratur atau
nafas dalam –
kepalkan tinju
– menguap).
6. Intoleransi aktivitas Setelah Mandiri Mandiri
berhubungan diberikan - Periksa tanda - Hipertensi ortostatik
dengan askep selama vital sebelum dapat terjadidengan
metabolisme basal 2x24 jam, dan segera aktivitas karena efek obat
terganggu diharapkan setelah (vasodilasi), perpindahan
pasien dapat aktivitas, cairan (diuretik) atau
melakukan khususnya bila pengaruh fungsi jantung
aktivitas pasien - Penurunan
dengan menggunakan /ketidakmampuan
mandiri vasolidator, miokardium untuk
dengan krite diuretik, meningkatkan volume
ria hasil : penyekat beta. sekuncup selama
· Pasien tidak - Catat respon aktivitas, dapat
mudah lelah kardiopulmona menyebabkan
· Pasien tidak l terhadap peningkatan segera pada
nyeri aktifitas, catat frekuensi jantung dan
· Pasien tidak takikardi, kebutuhan oksigen, juga
meringis disritmia, peningkatan kelelahan
· Pasien tidak dispnea, dan kelemahan.
lemas berkeringat, - Kelemahan adalah efek
· Pasien tidak pusat. samping dari beberapa
pucat obat (beta bloker,
traquilizer dan sedatif).
Nyeri dan program penuh
- Kaji stres juga memerlukan
presipitator energi dan menyebabkan
/penyebab kelemahan.
kelemahan - Dapat menunjukkan
contoh peningkatan
pengobatan, dekompensasi jantung
nyeri, obat. daripada kelebihan
aktivitas.
- Evaluasi - Pemenuhan kebutuhan
peningkatan perawatan diri pasien
intoleran tanpa mempengaruhi
aktivitas. stres miokard/ kebutuhan
Berikan oksigen berlebihan.
bantuan dalam
aktivitas
perawatan diri
sesuai indikasi.
Selingi periode
aktivitas
dengan periode
istirahat.
Kolaborasi
Implementasikan Kolaborasi
program Peningkatan bertahap pada
rehabilitasi aktivitas menghindari kerja
jantung/aktifitas. jantung/konsumsi oksigen
berlebihan. Penguatan dan
perbaikan fungsi jantung
dibawah stres, bila disfungsi
jantung tidak dapat membaik
kembali.
EVALUASI
No. Diagnosa Keperawatan Evaluasi
1. Pola nafas tidak efektif berhubungan - S : Pasien mengatakan tidak sesak nafas
dengan ketidakadekuatan oksigen lagi
menuju paru-paru. - O : Frekuensi pernapasan normal ( 16-20
kali permenit)
- A : Tujuan tercapai.
- P : Pertahankan kondisi pasien.
2. Penurunan curah jantung - S :Pasien mengatakan sudah tidak mudah
berhubungan dengan disfungsi lelah dan tidak sesak napas
miokardium. - O:
Tekanan darah normal yaitu 110/60-
140/90mmHg
Nadi normal (60-100 kali permenit)
Tidak ada sianosis
Tidak ada edema
- A : Tujuan tercapai.
- P : Pertahankan kondisi pasien.
3. Gangguan perfusi jaringan - S :Pasien mengatakan sudah tidak merasa
berhubungan dengan gangguan nyeri
aliran darah sekunder akibat - O:
inflamasi. Tidak ada sianosis
Pasien tidak pucat
Tidak ada edema
- A : Tujuan tercapai.
- P : Pertahankan kondisi pasien.
4. Hypertermi berhubungan dengan - S : pasien mengatakan panas badan pasien
kerusakan kontrol suhu sekunder sudah menurun dan tidak merasa gelisah
akibat infeksi penyakit. lagi
- O:
Suhu tubuh pasien normal (36,8-
37,2°C)
Pasien tidak menggigil
- A : Tujuan tercapai.
- P : Pertahankan kondisi pasien.
5. Gangguan rasa nyaman (nyeri) - S :Pasien sudah merasa tidak ada nyeri
berhubungan dengan penimbunan - O :Pasien tidak meringis kesakitan
asam laktat pada sendi. - A : Tujuan tercapai.
- P : Pertahankan kondisi pasien.
6. Intoleransi aktivitas berhubungan - S:
dengan metabolisme basal Pasien mengatakan sudah tidak
terganggu. mudah lelah
Pasien mengatakan tidak merasa nyeri
- O:
Pasien tidak meringis kesakitan
Pasien tidak lemas
Pasien tidak pucat
- A : Tujuan tercapai.
- P : Pertahankan kondisi pasien.
DAFTAR PUSTAKA
Brunner & Suddart. 2002. Keperawatan Medikal Bedah. Edisi 8. Jakarta : EGC.
Carpenito, L. J. 2003. Buku Saku Diagnosis Keperawatan. Edisi 10. Jakarta : EGC.
Doenges, Marilynn. 1993. Rencana Asuhan Keperawatan. Edisi 3. Jakarta : EGC.
Herdman, T Heather (Ed). 2010. Diagnosis Keperawatan: Definisi dan Klasifikasi
2009-2011. Jakarta : EGC.
Hidayat, A. 2006. Pengantar Ilmu Keperawatan Anak. Jakarta: Salemba Medika.
Mansjoer, Arif. 2000. Kapita Selekta Kedokteran Edisi III Jilid 1. Jakarta : Media
Aesculapius.
Markum, AH. 1999. Ilmu Kesehatan Anak. Jakarta: Balai Penerbit FKUI.
Robbins dan Kumar. 2003. Buku Ajar Patologi. Edisi 4. Jakarta : EGC.
Sachasin Rosa M. 1996. Prinsip Keperawatan Pediatik. Jakarta: EGC.
Sarwono, W. 2001. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam. Jakarta : Balai Penerbit FKUI.
Suriadi dan Yuliani. 2001. Asuhan Keperawatan Pada Pasien Anak. Jakarta : Sagung
Seto.
Suryanah. 2000. Keperawatan Anak. Jakarta : EGC.
Wong, DL. 2004. Pedoman Klinis Keperawatan Pediatrik. Jakarta : EGC.