KEBUDAYAAN SUKU SUNDA
Makalah ini disusun guna memenuhi mata kuliah Pendidikan Bahasa Daerah
Dosen: Anih Sumiati, [Link]
Disusun oleh:
Tri Anitasari (160641239)
Kelas H2B
PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNUVERSITAS MUHAMMADIYAH CIREBON
KATA PENGANTAR
Dengan menyebut nama Allah SWT yang Maha Pengasih lagi Maha
Penyayang, kami panjatkan segala puja dan puji syukur atas kehadirat-Nya yang
telah melimpahkan Rahmat, hidayah, dan inayah-Nya kepada kami. Sehingga
kami diberi kemudahan dapat menyelesaikan makalah ini dengan tepat waktu.
Tanpa pertolongan-Nya tentunya kami tidak akan sanggup untuk menyelesaikan
makalah ini dengan baik. Shalawat serta salam semoga terlimpah curahkan kepada
baginda tercinta kita yaitu Nabi Muhammad SAW yang kita nanti-nantikan
syafa’atnya di akhirat nanti.
Penulis mengucapkan syukur kepada Allah SWT atas limpahkan nikmat
sehat-Nya, baik itu berupa sehat fisik maupun akal pikiran, sehingga penulis
mampu untuk menyelesaikan pembuatan makalah sebagai tugas dari mata kuliah
Pendidikan Bahasa Daerah.
Penulis tentu menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari kata sempurna
dan masih banyak terdapat kesalahan serta kekurangan di dalamnya. Untuk itu,
penulis mengharapkan kritik serta saran dari pembaca untuk makalah ini, supaya
makalah ini nantinya dapat menjadi makalah yang lebih baik. Demikian, dan
apabila terdapat banyak kesalahan pada makalah ini penulis mohon maaf yang
sebesar-besarnya.
Demikian, semoga makalah ini dapat bermanfaat. Terima kasih
Cirebon, Oktober 2019
Penyusun
i
ii
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR ..................................................................... i
DAFTAR ISI .................................................................................... ii
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang ...................................................................... 1
B. Rumusan Masalah ................................................................. 1
C. Tujuan Makalah .................................................................... 2
BAB II PEMBAHASAN
A. Kebudayaan Suku Sunda. ....................................................... 3
B. Masalah Sosial Yang Ada Dalam Masyarakat Sunda. ............... 12
C. Sistem Interaksi Dalam Kehidupan Keseharian Suku Sunda...... 13
D. Akan Stratifikasi Suku Sunda ................................................. 14
BAB III PENUTUP
A. Kesimpulan ........................................................................... 17
DAFTAR PUSTAKA ...................................................................... 1
iii
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Masyarakat Indonesia merupakan suatu masyarakat majemuk yang
memiliki keanekaragaman di dalam berbagai aspek kehidupan. Bukti nyata
adanya kemajemukan di dalam masyarakat kita terlihat dalam beragamnya
kebudayaan di Indonesia. Tidak dapat kita pungkiri bahwa kebudayaan
merupakan hasil cipta, rasa, karsa manusia yang menjadi sumber kekayaan
bagi bangsa Indonesia. Tidak ada satu masyarakat pun yang tidak memiliki
kebudayaan. Begitu pula sebaliknya tidak akan ada kebudayaan tanpa adanya
masyarakat. Ini berarti begitu besar kaitan antara kebudayaan dengan
masyarakat. Melihat realita bahwa bangsa Indonesia adalah bangsa yang
plural maka akan terlihat pula adanya berbagai suku bangsa di Indonesia.
Tiap suku bangsa inilah yang kemudian mempunyai ciri kahas kebudayaan
yang berbeda- beda. Suku Sunda merupakan salah satu suku bangsa yang ada
di Jawa. Sebagai salah satu suku bangsa di Indonesia, suku Sunda memiliki
kharakteristik yang membedakannya dengan suku lain. Keunikan
kharakteristik suku Sunda ini tercermin dari kebudayaan yang mereka miliki
baik dari segi agama, mata pencaharian, kesenian dan lain sebagainya.
Suku Sunda dengan sekelumit kebudayaannya merupakan salah satu
hal yang menarik untuk dipelajari dalam bidang kajian mata kuliah Pluralitas
dan Integritas Nasional yang pada akhirnya akan menjadi bekal ilmu
pengetahuan bagi kita.
B. Rumusan Masalah
Untuk emudahkan dalam pembahasan masalah maka penulis membatasi pada
1. Seperti apakah kebudayaan suku Sunda ?
2. Bagaimana masalah sosial yang ada dalam masyarakat Sunda ?
3. Bagaimana sistem interaksi dalam masyarakat Sunda ?
4. Bagaimana stratifikasi masyarakat Sunda ?
1
C. Tujuan Makalah
Adapun tujuan dari makalah ini yaitu :
1. Mengetahui kebudayaan suku Sunda.
2. Memahami salah satu bentuk masalah sosial yang ada dalam masyarakat
Sunda.
3. Menelaah sistem interaksi dalam kehidupan keseharian suku Sunda.
4. Mengetahui akan stratifikasi suku Sunda.
2
BAB II
PEMBAHASAN
A. Kebudayaan Suku Sunda
Kebudayaan Sunda merupakan salah satu kebudayaan yang menjadi
sumber kekayaan bagi bangsa Indonesia yang dalam perkembangannya perlu
dilestarikan. Kebudayaan- kebudayaan tersebut akan dijabarkan sebagai
berikut :
1. Sistem Kepercayaan
Hampir semua orang Sunda beragama Islam. Hanya sebagian kecil
yang tidak beragama Islam, diantaranya orang-orang Baduy yang tinggal
di Banten Tetapi juga ada yang beragama Katolik, Kristen, Hindu,
[Link]. Praktek-praktek sinkretisme dan mistik masih dilakukan.
Pada dasarnya seluruh kehidupan orang Sunda ditujukan untuk
memelihara keseimbangan alam semesta.
Keseimbangan magis dipertahankan dengan upacara-upacara adat,
sedangkan keseimbangan sosial dipertahankan dengan kegiatan saling
memberi (gotong royong). Hal yang menarik dalam kepercayaan Sunda,
adalah lakon pantun Lutung Kasarung, salah satu tokoh budaya mereka,
yang percaya adanya Allah yang Tunggal (Guriang Tunggal) yang
menitiskan sebagian kecil diriNya ke dalam dunia untuk memelihara
kehidupan manusia (titisan Allah ini disebut Dewata). Ini mungkin bisa
menjadi jembatan untuk mengkomunikasikan Kabar Baik kepada
mereka.
2. Mata Pencaharian
Suku Sunda umumnya hidup bercocok tanam. Kebanyakan tidak
suka merantau atau hidup berpisah dengan orang-orang sekerabatnya.
Kebutuhan orang Sunda terutama adalah hal meningkatkan taraf hidup.
Menurut data dari Bappenas (kliping Desember 1993) di Jawa Barat
terdapat 75% desa miskin. Secara umum kemiskinan di Jawa Barat
disebabkan oleh kelangkaan sumber daya manusia. Maka yang
3
dibutuhkan adalah pengembangan sumber daya manusia yang berupa
pendidikan, pembinaan, dll.
3. Kesenian Kirab Helaran
Kirap helaran atau yang disebut sisingaan adalah suatu jenis
kesenian tradisional atau seni pertunjukan rakyat yang dilakukan dengan
arak-arakan dalam bentuk helaran. Pertunjukannya biasa ditampilkan
pada acara khitanan atau acara-acara khusus seperti ; menyambut tamu,
hiburan peresmian, kegiatan HUT Kemerdekaan RI dan kegiatan hari-
hari besar lainnya. Seperti yang diikuti ratusan orang dari perwakilan
seluruh kelurahan di Cimahi, yang berupa arak-arakan yang pernah
digelar pada saat Hari Jadi ke-6 Kota Cimahi. Kirap ini yang bertolak
dari Alun-alun Kota Cimahi menuju kawasan perkantoran Pemkot
Cimahi, Jln. Rd. Demang Hardjakusumah itu, diikuti oleh kelompok-
kelompok masyarakat yang menyajikan seni budaya Sunda, seperti
sisingaan, gotong gagak, kendang rampak, calung, engrang, reog,
barongsai, dan klub motor.
a. Karya Sastra
Di bawah ini disajikan daftar karya sastra dalam bahasa Jawa yang
berasal dari daerah kebudayaan Sunda. Daftar ini tidak lengkap,
apabila para pembaca mengenal karya sastra lainnya dalam bahasa
Jawa namun berasal dari daerah Sunda,
1. Babad Cerbon
2. Cariosan Prabu Siliwangi
3. Carita Ratu Galuh
4. Carita Purwaka Caruban Nagari
5. Carita Waruga Guru
6. Kitab Waruga Jagat
7. Layang Syekh Gawaran
8. Pustaka Raja Purwa
9. Sajarah Banten
10. Suluk Wuyung Aya
4
11. Wahosan Tumpawarang
12. Wawacan Angling Darma
13. Wawacan Syekh Baginda Mardan
14. Kitab Pramayoga/jipta Sara
b. Pencak Sialat Cikalong
Pencak silat Cikalong tumbuh dikenal dan menyebar, penduduk
tempatan menyebutnya "Maempo Cikalong". Khususnya di Jawa
Barat dan diseluruh Nusantara pada umumnya, hampir seluruh
perguruan pencak silat melengkapi teknik perguruannya dengan
aliran ini.
Daerah Cianjur sudah sejak dahulu terkenal sebagai daerah
pengembangan kebudayaan Sunda seperti; musik kecapi suling
Cianjuran, klompen cianjuran, pakaian moda Cianjuran yang sampai
kini dipergunakan dll.
c. Seni Tari
1. Tari Jaipongan
2. Tari Merak
3. Tari Topeng
d. Seni Musik Dan Suara
Selain seni tari, tanah Sunda juga terkenal dengan seni suaranya.
Dalam memainkan Degung biasanya ada seorang penyanyi yang
membawakan lagu-lagu Sunda dengan nada dan alunan yang khas.
Penyanyi ini biasanya seorang wanita yang dinamakan Sinden. Tidak
sembarangan orang dapat menyanyikan lagu yang dibawakan Sinden
karena nada dan ritme-nya cukup sulit untuk ditiru dan
[Link] ini salah salah satu musik/lagu daerah Sunda :
Bubuy Bulan
Es Lilin
Manuk Dadali
Tokecang
5
e. Wayang Golek
Jepang boleh terkenal dengan 'Boneka Jepangnya', maka tanah
Sunda terkenal dengan kesenian Wayang Golek-nya. Wayang Golek
adalah pementasan sandiwara boneka yang terbuat dari kayu dan
dimainkan oleh seorang sutradara merangkap pengisi suara yang
disebut Dalang. Seorang Dalang memiliki keahlian dalam menirukan
berbagai suara manusia. Seperti halnya Jaipong, pementasan
Wayang Golek diiringi musik Degung lengkap dengan Sindennya.
Wayang Golek biasanya dipentaskan pada acara hiburan, pesta
pernikahan atau acara lainnya. Waktu pementasannya pun unik,
yaitu pada malam hari (biasanya semalam suntuk) dimulai sekitar
pukul 20.00 - 21.00 hingga pukul 04.00 pagi. Cerita yang dibawakan
berkisar pada pergulatan antara kebaikan dan kejahatan (tokoh baik
melawan tokoh jahat). Ceritanya banyak diilhami oleh budaya Hindu
dari India, seperti Ramayana atau Perang Baratayudha. Tokoh-tokoh
dalam cerita mengambil nama-nama dari tanah [Link] Wayang
Golek, ada 'tokoh' yang sangat dinantikan pementasannya yaitu
kelompok yang dinamakan Purnakawan, seperti Dawala dan Cepot.
Tokoh-tokoh ini digemari karena mereka merupakan tokoh yang
selalu memerankan peran lucu (seperti pelawak) dan sering
memancing gelak tawa penonton. Seorang Dalang yang pintar akan
memainkan tokoh tersebut dengan variasi yang sangat menarik.
f. Alat Musik
1. Calung adalah alat musik Sunda yang merupakan prototipe dari
angklung. Berbeda dengan angklung yang dimainkan dengan
cara digoyangkan, cara menabuh calung adalah dengan mepukul
batang (wilahan, bilah) dari ruas-ruas (tabung bambu) yang
tersusun menurut titi laras (tangga nada) pentatonik (da-mi-na-
ti-la). Jenis bambu untuk pembuatan calung kebanyakan dari
awi wulung (bambu hitam), namun ada pula yang dibuat dari
awi temen (bambu yang berwarna putih).
6
2. Angklung adalah sebuah alat atau waditra kesenian yang terbuat
dari bambu khusus yang ditemukan oleh Bapak Daeng Sutigna
sekitar tahun 1938. Ketika awal penggunaannya angklung masih
sebatas kepentingan kesenian local atau tradisional
g. Ketuk Tilu
Ketuk Tilu adalah suatu tarian pergaulan dan sekaligus hiburan yang
biasanya diselenggarakan pada acara pesta perkawinan, acara
hiburan penutup kegiatan atau diselenggrakan secara khusus di suatu
tempat yang cukup luas. Pemunculan tari ini di masyarakat tidak ada
kaitannya dengan adat tertentu atau upacara sakral tertentu tapi
murni sebagai pertunjukan hiburan dan pergaulan. Oleh karena itu
tari ketuk tilu ini banyak disukai masyarakat terutama di pedesaan
yang jarang kegiatan hiburan.
h. Seni Bangreng
Seni Bangreng adalah pengembangan dari seni "Terbang" dan
"Ronggeng". Seni terbang itu sendiri merupakan kesenian yang
menggunakan "Terbang", yaitu semacam rebana tetapi besarnya tiga
kali dari alat rebana. Dimainkan oleh lima pemain dan dua orang
penabu gendang besar dan kecil.
4. Sistem Kekerabatan
Sistem keluarga dalam suku Sunda bersifat parental, garis
keturunan ditarik dari pihak ayah dan ibu bersama. Dalam keluarga
Sunda, ayah yang bertindak sebagai kepala keluarga. Ikatan kekeluargaan
yang kuat dan peranan agama Islam yang sangat mempengaruhi adat
istiadat mewarnai seluruh sendi kehidupan suku [Link] suku
Sunda dikenal adanya pancakaki yaitu sebagai istilah-istilah untuk
menunjukkan hubungan kekerabatan. Dicontohkannya, pertama, saudara
yang berhubungan langsung, ke bawah, dan vertikal. Yaitu anak, incu
(cucu), buyut (piut), bao, canggahwareng atau janggawareng, udeg-udeg,
kaitsiwur atau gantungsiwur. Kedua, saudara yang berhubungan tidak
langsung dan horizontal seperti anak paman, bibi, atau uwak, anak
7
saudara kakek atau nenek, anak saudara piut. Ketiga, saudara yang
berhubungan tidak langsung dan langsung serta vertikal seperti
keponakan anak kakak, keponakan anak adik, dan seterusnya. Dalam
bahasa Sunda dikenal pula kosa kata sajarah dan sarsilah (salsilah,
silsilah) yang maknanya kurang lebih sama dengan kosa kata sejarah dan
silsilah dalam bahasa Indonesia. Makna sajarah adalah susun galur/garis
keturunan.
5. Bahasa
Bahasa yang digunakan oleh suku ini adalah bahasa Sunda. Bahasa
Sunda adalah bahasa yang diciptakan dan digunakan sebagai alat
komunikasi oleh Suku Sunda, dan sebagai alat pengembang serta
pendukung kebudayaan Sunda itu sendiri. Selain itu bahasa Sunda
merupakan bagian dari budaya yang memberi karakter yang khas sebagai
identitas Suku Sunda yang merupakan salah satu Suku dari beberapa
Suku yang ada di Indonesia.
6. Ilmu Pengetahuan Dan Teknologi
Masalah pendidikan dan teknologi di dalam masyarakat suku
Sunda sudah bisa dibilang berkembang [Link] terlihat dari peran dari
pemerintah Jawa Barat. Pemerintah Jawa Barat memiliki tugas dalam
memberikan pelayanan pembangunan pendidikan bagi warganya, sebagai
hak warga yang harus dipenuhi dalam pelayanan pemerintahan. Visi
Pemerintah Jawa Barat, yakni "Dengan Iman dan Takwa Jawa Barat
sebagai Provinsi Termaju di Indonesia dan Mitra Terdepan Ibukota
Negara Tahun 2010" merupakan kehendak, harapan, komitmen yang
menjadi arah kolektif pemerintah bersama seluruh warga Jawa Barat
dalam mencapai tujuan pembangunannya.
Pembangunan pendidikan merupakan salah satu bagian yang
sangat vital dan fundamental untuk mendukung upaya-upaya
pembangunan Jawa Barat di bidang lainnya. Pembangunan pendidikan
merupakan dasar bagi pembangunan lainnya, mengingat secara hakiki
8
upaya pembangunan pendidikan adalah membangun potensi manusia
yang kelak akan menjadi pelaku pembangunan.
Dalam setiap upaya pembangunan, maka penting untuk senantiasa
mempertimbangkan karakteristik dan potensi setempat. Dalam konteks
ini, masyarakat Jawa Barat yang mayoritas suku Sunda memiliki potensi,
budaya dan karakteristik tersendiri. Secara sosiologis-antropologis,
falsafah kehidupan masyarakat Jawa Barat yang telah diakui memiliki
makna mendalam adalah cageur, bageur, bener, pinter, tur singer. Dalam
kaitan ini, filosofi tersebut harus dijadikan pedoman dalam
mengimplementasikan setiap rencana pembangunan, termasuk di bidang
pendidikan. Cageur mengandung makna sehat jasmani dan rohani.
Bageur berperilaku baik, sopan santun, ramah, bertata krama. Bener yaitu
jujur, amanah, penyayang dan takwa. Pinter, memiliki ilmu pengetahuan.
Singer artinya kreatif dan [Link] sebuah upaya mewujudkan
pembangunan pendidikan berfalsafahkan cageur, bageur, bener, pinter,
tur singer tersebut, ditempuh pendekatan social cultural heritage
approach. Melalui pendekatan ini diharapkan akan lahir peran aktif
masyarakat dalam menyukseskan program pembangunan pendidikan
yang digulirkan pemerintah
7. Adat Istiadat Upacara Adat Perkawinan Suku Sunda
Adat Sunda merupakan salah satu pilihan calon mempelai yang
ingin merayakan pesta pernikahannya. Khususnya mempelai yang
berasal dari Sunda. Adapun rangkaian acaranya dapat dilihat berikut ini.
Nendeun Omong, yaitu pembicaraan orang tua atau utusan pihak
pria yang berminat mempersunting seorang gadis.
Lamaran. Dilaksanakan orang tua calon pengantin beserta keluarga
dekat. Disertai seseorang berusia lanjut sebagai pemimpin upacara.
Bawa lamareun atau sirih pinang komplit, uang, seperangkat pakaian
wanita sebagai pameungkeut (pengikat). Cincin tidak mutlak harus
9
dibawa. Jika dibawa, bisanya berupa cincing meneng,
melambangkan kemantapan dan keabadian.
Tunangan. Dilakukan ‘patuker beubeur tameuh’, yaitu penyerahan
ikat pinggang warna pelangi atau polos kepada si gadis.
Seserahan (3 - 7 hari sebelum pernikahan). Calon pengantin pria
membawa uang, pakaian, perabot rumah tangga, perabot dapur,
makanan, dan lain-lain.
Ngeuyeuk seureuh (opsional, Jika ngeuyeuk seureuh tidak dilakukan,
maka seserahan dilaksanakan sesaat sebelum akad nikah.)
Dipimpin pengeuyeuk.
Pengeuyek mewejang kedua calon pengantin agar meminta ijin dan
doa restu kepada kedua orang tua serta memberikan nasehat melalui
lambang-lambang atau benda yang disediakan berupa parawanten,
pangradinan dan sebagainya.
Diiringi lagu kidung oleh pangeuyeuk
Disawer beras, agar hidup sejahtera.
dikeprak dengan sapu lidi disertai nasehat agar memupuk kasih
sayang dan giat bekerja.
Membuka kain putih penutup pengeuyeuk. Melambangkan rumah
tangga yang akan dibina masih bersih dan belum ternoda.
Membelah mayang jambe dan buah pinang (oleh calon pengantin
pria). Bermakna agar keduanya saling mengasihi dan dapat
menyesuaikan diri.
Menumbukkan alu ke dalam lumpang sebanyak tiga kali (oleh calon
pengantin pria).
Membuat lungkun. Dua lembar sirih bertangkai saling dihadapkan.
Digulung menjadi satu memanjang. Diikat dengan benang kanteh.
Diikuti kedua orang tua dan para tamu yang hadir. Maknanya, agar
kelak rejeki yang diperoleh bila berlebihan dapat dibagikan kepada
saudara dan handai taulan.
10
Berebut uang di bawah tikar sambil disawer. Melambangkan
berlomba mencari rejeki dan disayang keluarga.
Upacara Prosesi Pernikahan
Penjemputan calon pengantin pria, oleh utusan dari pihak wanita
Ngabageakeun, ibu calon pengantin wanita menyambut dengan
pengalungan bunga melati kepada calon pengantin pria, kemudian
diapit oleh kedua orang tua calon pengantin wanita untuk masuk
menuju pelaminan.
Akad nikah, petugas KUA, para saksi, pengantin pria sudah berada
di tempat nikah. Kedua orang tua menjemput pengantin wanita dari
kamar, lalu didudukkan di sebelah kiri pengantin pria dan
dikerudungi dengan tiung panjang, yang berarti penyatuan dua insan
yang masih murni. Kerudung baru dibuka saat kedua mempelai akan
menandatangani surat nikah.
Sungkeman, Wejangan, oleh ayah pengantin wanita atau
keluarganya.
Saweran, kedua pengantin didudukkan di kursi. Sambil penyaweran,
pantun sawer dinyanyikan. Pantun berisi petuah utusan orang tua
pengantin wanita. Kedua pengantin dipayungi payung besar diselingi
taburan beras kuning atau kunyit ke atas payung.
Meuleum harupat, pengantin wanita menyalakan harupat dengan
lilin. Harupat disiram pengantin wanita dengan kendi air. Lantas
harupat dipatahkan pengantin pria.
Nincak endog, pengantin pria menginjak telur dan elekan sampai
pecah. Lantas kakinya dicuci dengan air bunga dan dilap pengantin
wanita.
Buka pintu. Diawali mengetuk pintu tiga kali. Diadakan tanya jawab
dengan pantun bersahutan dari dalam dan luar pintu rumah. Setelah
kalimat syahadat dibacakan, pintu dibuka. Pengantin masuk menuju
pelaminan
11
B. Masalah Sosial Dalam Masyarakat Suku Sunda
Kebudayaan Sunda termasuk salah satu kebudayaan suku bangsa di
Indonesia yang berusia tua. Bahkan, dibandingkan dengan kebudayaan Jawa
sekalipun, kebudayaan Sunda sebenarnya termasuk kebudayaan yang berusia
relatif lebih tua, setidaknya dalam hal pengenalan terhadap budaya tulis.
"Kegemilangan" kebudayaan Sunda di masa lalu, khususnya semasa Kerajaan
Tarumanegara dan Kerajaan Sunda, dalam perkembangannya kemudian
seringkali dijadikan acuan dalam memetakan apa yang dinamakan
kebudayaan Sunda. Dalam perkembangannya kebudayaan Sunda kini seperti
sedang kehilangan ruhnya kemampuan beradaptasi, kemampuan mobilitas,
kemampuan tumbuh dan berkembang, serta kemampuan regenerasi.
Kemampuan beradaptasi kebudayaan Sunda, terutama dalam merespons
berbagai tantangan yang muncul, baik dari dalam maupun dari luar, dapat
dikatakan memperlihatkan tampilan yang kurang begitu menggembirakan.
Bahkan, kebudayaan Sunda seperti tidak memiliki daya hidup manakala
berhadapan dengan tantangan dari luar. Akibatnya, tidaklah mengherankan
bila semakin lama semakin banyak unsur kebudayaan Sunda yang tergilas
oleh kebudayaan asing. Sebagai contoh paling jelas, bahasa Sunda yang
merupakan bahasa komunitas orang Sunda tampak semakin jarang digunakan
oleh pemiliknya sendiri, khususnya para generasi muda Sunda. Lebih
memprihatinkan lagi, menggunakan bahasa Sunda dalam komunikasi sehari-
hari terkadang diidentikkan dengan "keterbelakangan", untuk tidak
mengatakan primitif. Akibatnya, timbul rasa gengsi pada orang Sunda untuk
menggunakan bahasa Sunda dalam pergaulannya sehari-hari. Bahkan, rasa
"gengsi" ini terkadang ditemukan pula pada mereka yang sebenarnya
merupakan pakar di bidang bahasa Sunda, termasuk untuk sekadar mengakui
bahwa dirinya adalah pakar atau berlatar belakang keahlian di bidang bahasa
Sunda.
Adanya kondisi yang menunjukkan lemahnya daya hidup dan mutu
hidup kebudayaan Sunda disebabkan karena ketidakjelasan strategi dalam
mengembangkan kebudayaan Sunda serta lemahnya tradisi, baca, tulis , dan
12
lisan (baca, berbeda pendapat) di kalangan komunitas Sunda. Ketidakjelasan
strategi kebudayaan yang benar dan tahan uji dalam mengembangkan
kebudayaan Sunda tampak dari tidak adanya "pegangan bersama" yang lahir
dari suatu proses yang mengedepankan prinsip-prinsip keadilan tentang upaya
melestarikan dan mengembangkan secara lebih berkualitas kebudayaan
Sunda. Apalagi jika kita menengok sekarang ini kebudayaan Sunda
dihadapkan pada pengaruh budaya luar. Jika kita tidak pandai- pandai dalam
memanajemen masuknya budaya luar maka kebudayaan Sunda ini lama
kelamaan akan luntur bersama waktu.
Berbagai unsur kebudayaan Sunda yang sebenarnya sangat potensial
untuk dikembangkan, bahkan untuk dijadikan model kebudayaan nasional
dan kebudayaan dunia tampak tidak mendapat sentuhan yang memadai.
Ambillah contoh, berbagai makanan tradisional yang dimiliki orang Sunda,
mulai dari bajigur, bandrek, surabi, colenak, wajit, borondong, kolontong,
ranginang, opak, hingga ubi cilembu, apakah ada strategi besar dari
pemerintah untuk mengemasnya dengan lebih bertanggung jawab agar bisa
diterima komunitas yang lebih luas.
Lemahnya budaya baca, tulis, dan lisan ditengarai juga menjadi
penyebab lemahnya daya hidup dan mutu hidup kebudayaan Sunda.
Lemahnya budaya baca telah menyebabkan lemahnya budaya tulis.
Lemahnya budaya tulis pada komunitas Sunda secara tidak langsung
merupakan representasi pula dari lemahnya budaya tulis dari bangsa
Indonesia. Fakta paling menonjol dari semua ini adalah minimnya karya-
karya tulis tentang kebudayaan Sunda ataupun karya tulis yang ditulis oleh
orang Sunda
C. Sistem Interaksi Dalam Suku Sunda
Jalinan hubungan antara individu- individu dalam masyarakat suku
Sunda dalam kehidupan sehari- hari berjalan relatif positif. Apalagi
masyarakat Sunda mempunyai sifat someah hade ka semah. Ini terbukti
banyak pendatang tamu tidak pernah surut berada ke Tatar Sunda ini,
termasuk yang enggan kembali ke tanah airnya. Lebih jauh lagi, banyak
13
sekali sektor kegiatan strategis yang didominasi kaum pendatang. Ini juga
sebuah fakta yang menunjukkan bahwa orang Sunda mempunyai sifat ramah
dan baik hati kepada kaum pendatang dan tamu.
Diakui pula oleh etnik lainnya di negeri ini bahwa sebagian besar
masyarakat Sunda memang telah menjalin hubungan yang harmonis dan
bermakna dengan kaum pendatang dan mukimin. Hal ini ditandai oleh
hubungan mendalam penuh empati dan persahabatan Tidaklah mengherankan
bahwa persahabatan, saling pengertian, dan bahkan persaudaraan kerap
terjadi dalam kehidupan sehari-hari antara warga Sunda dan kaum pendatang.
Hubungan urang Sunda dengan kaum pendatang dari berbagai etnik dalam
konteks apa pun-keseharian, pendidikan, bisnis, politik, dan sebagainya-
dilakukan melalui komunikasi yang efektif. Akan tetapi tidak dapat
dipungkiri bahwa kesalahpahaman dan konflik antarbudaya antara
masyarakat Sunda dan kaum pendatang kerap terjadi dalam kehidupan sehari-
hari. Yang menjadi penyebab utamanya adalah komunikasi dari posisi-posisi
yang terpolarisasikan, yakni ketidakmampuan untuk memercayai atau secara
serius menganggap pandangan sendiri salah dan pendapat orang lain benar.
Perkenalan pribadi, pembicaraan dari hati ke hati, gaya dan ragam
bahasa (termasuk logat bicara), cara bicara (paralinguistik), bahasa tubuh,
ekspresi wajah, cara menyapa, cara duduk, dan aktivitas-aktivitas lain yang
dilakukan akan turut memengaruhi berhasil tidaknya komunikasi antarbudaya
dengan orang Sunda. Pada akhirnya, di balik kearifan, sifat ramah, dan baik
hati orang Sunda, sebenarnya masih sangat kental sehingga halini menjadi
penunjang di dalamterjalinnya system interaksi yang berjalan harmonis.
D. Stratifikasi Suku Sunda
Masyarakat Jawa Barat, yaitu masyarakat Sunda, mempunyai ikatan
keluarga yang sangat erat. Nilai individu sangat tergantung pada penilaian
masyarakat. Dengan demikian, dalam pengambilan keputusan, seperti
terhadap perkawinan, pekerjaan, dll., seseorang tidak dapat lepas dari
keputusan yang ditentukan oleh kaum keluarganya. Dalam masyarakat yang
lebih luas, misalnya dalam suatu desa, kehidupan masyarakatnya sangat
14
banyak dikontrol oleh pamong desa. Pak Lurah dalam suatu desa merupakan
“top leader” yang mengelola pemerintahan setempat, berikut perkara-perkara
adat dan keagamaan. Selain pamong desa ini, masih ada golongan lain yang
dapat dikatakan sebagai kelompok elite, yaitu tokoh-tokoh agama. Mereka ini
turut selalu di dalam proses pengambilan keputusan-keputusan bagi
kepentingan kehidupan dan perkembangan desa yang bersangkutan. Paul
Hiebert dan Eugene Nida, menggambarkan struktur masyarakat yang
demikian sebagai masyarakat suku atau agraris.
Perbedaan status di antara kelompok elite dengan masyarakat umum
dapat terjadi berdasarkan status kedudukan, pendidikan, ekonomi, prestige
sosial dan kuasa. Robert Wessing, yang telah meneliti masyarakat Jawa Barat
mengatakan bahwa ada kelompok “in group” dan “out group” dalam struktur
masyarakat. Kaum memandang sesamanya sebagai “in group” sedang di luar
status mereka dipandang sebagai “out group.
W.M.F. Hofsteede, dalam disertasinya Decision–making Process in
Four West Java Villages (1971) juga menyimpulkan bahwa ada stratifikasi
masyarakat ke dalam kelompok elite dan massa. Elite setempat terdiri dari
lurah, pegawai-pegawai daerah dan pusat, guru, tokoh-tokoh politik, agama
dan petani-petani kaya. Selanjutnya, petani menengah, buruh tani, serta
pedagang kecil termasuk pada kelompok massa. Informal leaders, yaitu
mereka yang tidak mempunyai jabatan resmi di desanya sangat berpengaruh
di desa tersebut, dan diakui sebagai pemimpin kelompok khusus atau seluruh
desa.
Hubungan seseorang dengan orang lain dalam lingkungan kerabat atau
keluarga dalam masyarakat Sunda menempati kedudukan yang sangat
penting. Hal itu bukan hanya tercermin dari adanya istilah atau sebutan bagi
setiap tingkat hubungan itu yang langsung dan vertikal (bao, buyut, aki, bapa,
anak, incu) maupun yang tidak langsung dan horisontal (dulur, dulur misan,
besan), melainkan juga berdampak kepada masalah ketertiban dan kerukunan
sosial. Bapa/indung, aki/nini, buyut, bao menempati kedudukan lebih tinggi
dalam struktur hubungan kekerabatan (pancakaki) daripada anak, incu, alo,
15
suan. Begitu pula lanceuk (kakak) lebih tinggi dari adi (adik), ua lebih tinggi
dari paman/bibi. Soalnya, hubungan kekerabatan seseorang dengan orang lain
akan menentukan kedudukan seseorang dalam struktur kekerabatan keluarga
besarnya, menentukan bentuk hormat menghormati, harga menghargai,
kerjasama, dan saling menolong di antara sesamanya, serta menentukan
kemungkinan terjadi-tidaknya pernikahan di antara anggota-anggotanya guna
membentuk keluarga inti baru.
Pancakaki dapat pula digunakan sebagai media pendekatan oleh
seseorang untuk mengatasi kesulitan yang sedang dihadapinya. Dalam
hubungan ini yang lebih tinggi derajat pancakaki-nya hendaknya dihormati
oleh yang lebih rendah, melebihi dari yang sama dan lebih rendah derajat
pancakaki-nya.
16
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Suku Sunda merupakan salah satu suku bangsa yang ada di Jawa.
Suku Sunda memiliki kharakteristik yang unik yang membedakannya dengan
masyarakat suku lain. Kekharakteristikannya itu tercermin dari kebudayaan
yang dimilikinya baik dari segi agama, bahasa, kesenian, adat istiadat, mata
pencaharian, dan lain sebagainya.
Kebudayaan yang dimiliki suku Sunda ini menjadi salah satu
kekayaan yang dimiliki oleh bangsa Indonesia yang perlu tetap dijaga
kelestariannya. Dengan membuat makalah suku Sunda ini diharapkan dapat
lebih mengetahui lebih jauh mengenai kebudayaan suku Sunda tersebut dan
dapat menambah wawasan serta pengetahuan yang pada kelanjutannya dapat
bermanfaat dalam dunia kependidikan.
17
DAFTAR PUSTAKA
[Link]
[Link]
%20Silat%[Link]
[Link]
[Link]
[Link]
[Link]
[Link]
[Link]
[Link]
18