0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
33 tayangan64 halaman

Paving Block dengan Batu Andesit

Proposal metodologi penelitian ini membahas pengaruh penambahan batu andesit sebagai substitusi semen pada paving block. Tujuannya adalah mengetahui karakteristik fisik paving block dan fase yang terbentuk pada batu andesit sebelum dan sesudah kalsinasi. Batasan masalahnya adalah variasi substitusi batu andesit 10-50% dan karakterisasi fisik paving block meliputi kuat tekan, porositas, dan absorpsi. Manfaatnya adal
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
33 tayangan64 halaman

Paving Block dengan Batu Andesit

Proposal metodologi penelitian ini membahas pengaruh penambahan batu andesit sebagai substitusi semen pada paving block. Tujuannya adalah mengetahui karakteristik fisik paving block dan fase yang terbentuk pada batu andesit sebelum dan sesudah kalsinasi. Batasan masalahnya adalah variasi substitusi batu andesit 10-50% dan karakterisasi fisik paving block meliputi kuat tekan, porositas, dan absorpsi. Manfaatnya adal
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

1

PROPOSAL METODOLOGI PENELITIAN

PENGARUH PENAMBAHAN BATU ANDESIT SEBAGAI SUBSTITUSI


SEMEN TIPE PCC PADA PAVING BLOCK

Oleh :
Ariq Jibran
17137045

Dosen Pengampu :

Dr. FADHILAH, [Link], [Link]

JURUSAN TEKNIK PERTAMBANGAN


FAKULTAS TEKNIK
FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS NEGERI PADANG
2019
2

A. Judul

PENGARUH PENAMBAHAN BATU ANDESIT SEBAGAI


SUBSTITUSI SEMEN TIPE PCC PADA PAVING BLOCK

B. Latar Belakang Masalah

Dalam menghadapi era globalisasi dunia, Indonesia yang dikenal


sebagai salah satu negara berkembang di Asia dituntut untuk lebih kreatif
serta memiliki keterampilan dalam melakukan penelitian dan
pengembangan bidang konstruksi, terutama pada teknologi pembuatan
beton (Putra dan Sutikno, 2016). Semakin banyak inovasi-inovasi baru
dalam bidang ini, mulai dari alternatif bahan pembuatan beton hingga
bahan perkerasan jalan. Pengerasan jalan umumnya menggunakan media
aspal. Namun, saat ini sering terlihat pengerasan jalan dengan media
selain aspal yaitu paving block (Soehardjono dkk, 2013).

Paving block atau bata beton untuk lantai merupakan batu cetak
buatan yang sudah dikenal di masyarakat serta banyak dipergunakan
untuk keperluan bangunan. Paving block terbuat dari bahan campuran
semen portland, agregat halus dengan atau tanpa bahan tambahan lain
yang dicetak pada suatu tekanan tertentu, sehingga menjadi batu cetak
buatan yang cukup keras (Pamuji, 2007). Kemudahan dalam pemasangan,
perawatan relatif murah serta memenuhi aspek keindahan membuat
paving block lebih banyak diminati. Keunggulan dari paving block yaitu
memiliki daya serap air yang baik melalui pemasangan paving block
dapat menjaga keseimbangan air tanah (Mulyati dan Maliar, 2015).
Keberadaan paving block dapat dijumpai di trotoar, area bermain atau
taman, jalan lingkungan perumahan dan tidak menutup kemungkinan
digunakan pada daerah pelabuhan. Hal ini terbukti, hampir di berbagai
3

tempat seperti daerah parkiran dan trotoar di Universitas Lampung


menggunakan paving block.

Akan tetapi, tingginya permintaan konsumen terhadap paving


block tidak diimbangi dengan ketersediaan kualitas yang memadai baik
dari segi kekuatan, umur pakai, dan durability (ketahanan terhadap segala
kondisi) paving block. Banyak paving block yang dijumpai pada
permukaan jalan mengalami retak-retak, mudah patah, banyak ditumbuhi
oleh lumut karena paving block bersifat getas. Hal ini disebabkan oleh
mutu bahan yang tidak sesuai, gerusan air hujan, komposisi bahan yang
tidak sesuai dengan standar, perbedaan tingkat pemadatan (pressing)
paving block, bahkan beban kejut (impact resistance) yang sangat besar
dari lintasan roda kendaraan (Riyaldi, 2015). Seiring semakin
berkembangnya zaman dikhawatirkan akan berkurangnya bahan baku
pmbuatan paving block, khususnya semen (Soehardjono dkk, 2013).
Berdasarkan hal tersebut, maka dianggap perlu untuk melakukan
pengembangan teknologi bahan untuk mendapatkan bahan baru yang
dapat dijadikan alternatif atau substitusi bahan untuk mengurangi
penggunaan semen.

Berdasarkan data yang dimiliki Badan Geologi (2010), Indonesia


memiliki sumber daya batuan andesit sebesar 75.244,10 juta ton. Menurut
Dinas Pertambangan dan Energi Provinsi Lampung (2014), produksi
pertambangan batu andesit di Provinsi Lampung mencapai 140.000 ton
setiap tahun. Jumlah cadangan batu andesit yang begitu banyak, akan
tetapi sampai saat ini baru dimanfaatkan sebagai bahan konstruksi
(bangunan dan jalan), alas jalan, agregat kasar, pondasi, batu hias atau
sebagai bahan baku industri seperti tegel dan ornamen.

Banyak penelitian yang dikembangkan untuk mendapatkan bahan


baru yang dapat dijadikan alternatif atau substitusi bahan untuk
mengurangi penggunaan semen. Triyono (2010) melakukan penelitian
4

mengenai limbah tempurung kelapa sawit sebagai substitusi semen untuk


pembuatan paving block dengan persentase 0%, 5%, 10%, 15%, 20% dan
25% dari berat semen. Hasil menunjukkan paving block mengalami
penurunan kuat tekan dengan bertambahnya limbah tempurung kelapa
sawit. Kuat tekan tertinggi dan serapan air terendah campuran tempurung
kelapa sawit pada persentase 0% sedangkan kuat tekan terendah dan
serapan air tertinggi campuran tempurung kelapa sawit 25%.

Sementara itu Nurzal dan Mahmud (2013) memanfaatkan fly ash


(abu layang) yang merupakan limbah hasil pembakaran dari batu bara
yang terbawa gas buang, untuk campuran paving block. Komposisi fly
ash pada pembuatan paving block yaitu sebesar 0%, 5%, 10%, 15% berat
fly ash ditambah dengan material paving block (semen dan pasir). Hasil
menunjukkan daya serap tertinggi pada komposisi 0% berat fly ash, yaitu
sebesar 2,701%, diikuti oleh komposisi 5%, 10%, 15% berat fly ash (daya
serap air sebesar 2,678%, 2,651%, 2,614%). Hal ini disebabkan karena
ukuran partikel fly ash lebih kecil dari material lainnya sehingga fly ash
menutupi rongga antar partikel atau porositas dari paving block.

Selain itu, Soehardjono dkk (2013) melakukan penelitian mengenai


pengaruh penggunaan bottom ash (abu dasar) yang merupakan limbah
hasil pembakaran dari batu bara yang tertinggal di dalam tungku (ukuran
lebih besar dari fly ash) sebagai pengganti semen terhadap kuat tekan dan
kemampuan resapan air paving block. Benda uji dibuat 9 variasi yaitu 0%,
25%, 30%, 35%, 40%, 45%, 50%, 55% dan 60% dari berat semen. Hasil
pengujian penyerapan air dan kuat tekan paving block, diketahui bahwa
penggunaan 25%, 30%, 35%, dan 40% termasuk antara mutu A dan mutu
B, penggunaan 45% termasuk antara mutu B dan mutu C dan 50%, 55%
dan 60% termasuk antara mutu C dan mutu D.

Batu andesit mengandung 52 hingga 66% senyawa silika (SiO2).


Mineral-mineral penyusun batu andesit terdiri dari plagioclase feldspar
5

dan juga terdapat mineral pyroxene (clinopyroxene dan orthopyroxene)


dan hornblende dalam jumlah yang kecil (Suparno, 2009). Sedangkan
menurut Sariisik et al (2011) batu andesit mengandung komposisi kimia
SiO2 sebesar 62,30%, Al2O3 sebesar 14,70%, Fe2O3 sebesar 4,04%, MgO
sebesar 2,78%, CaO sebesar 4,26%, Na2O sebesar 2,95%, K2O sebesar
6,06%, TiO2 sebesar 0,98, P2O5 sebesar 0,81%, MnO sebesar 0,07%, dan
Cr2O3 sebesar 0,014%. Dengan komposisi kimia SiO2 + Al2O3 + Fe2O3

> 70%, maka batu andesit dapat digunakan sebagai pozzolan dalam
substitusi semen sesuai dengan ASTM C 618-92a.

Berdasarkan uraian diatas, dalam penelitian ini akan dilakukan


pembuatan paving block dengan menggunakan bahan semen tipe PCC,
pasir pantai serta batu andesit halus yang telah melalui proses kalsinasi
sebagai substitusi semen. Sebelum digunakan dalam pembuatan paving
block, bahan batu andesit dikarakterisasi menggunakan XRF (X-Ray
Fluorescence) dan XRD (X-Ray Diffraction) untuk mengetahui kandungan
unsur serta fase struktur kristal.

C. Identifikasi Masalah

Berdasarkan latar belakang diatas, rumusan masalah yang dapat


diteliti adalah:

1. Bagaimana karakteristik fisik paving block dengan penambahan batu


andesit sebagai substitusi semen dilihat dari nilai kuat tekan, porositas,
dan absorpsi ?

2. Apakah fase yang terbentuk pada batu andesit halus sebelum dan
setelah kalsinasi ?

D. Batasan Masalah

Permasalahan yang dibatasi pada penelitian ini adalah:

1. Perbandingan komposisi bahan antara semen : pasir yaitu 1 : 4.


6

2. Pada pembuatan benda uji variasi substitusi batu andesit terhadap


semen sebesar 10%, 20%, 30%, 40% dan 50% dari berat semen.

3. Perawatan benda uji (curing) dengan perendaman di dalam air


selama 7 hari, 14 hari dan 28 hari.

4. Karakterisasi pada batu andesit halus meliputi XRF dan XRD,


sedangkan karakterisasi pada benda uji paving block hanya
meliputi XRF.

5. Suhu kalsinasi pada batu andesit hanya sampai pada suhu 900oC.

E. Rumusan Masalah

Berdasarkan batasan masalah yang telah diuraikan di atas maka


dirumuskan masalah yaitu:

1. Bagaimana karakteristik fisik paving block dengan penambahan


batu andesit sebagai substitusi semen dilihat dari nilai kuat
tekan, porositas, dan absorpsi ?

2. Apakah fase yang terbentuk pada batu andesit halus sebelum dan
setelah kalsinasi ?

F. Tujuan Penelitian

Agar penelitian ini dapat dilakukan secara terstruktur maka


memiliki tujuan penelitian yaitu:

1. Untuk mengetahui karakteristik fisik paving block dengan


penambahan batu andesit sebagai substitusi semen apabila dilihat
dari nilai kuat tekan, porositas, dan absorpsi.

2. Untuk mengetahui fase yang terbentuk pada batu andesit halus


sebelum dan setelah kalsinasi

G. Manfaat Penelitian
7

Adapun manfaat yang diharapkan dari penelitian ini adalah


sebagai berikut:

1. Menambah pengetahuan terkait proses pembuatan paving block


dengan penambahan batu andesit sebagai substitusi semen.

2. Memperoleh pengetahuan mengenai potensi batu andesit yang dapat


dijadikan sebagai substitusi semen.

3. Meningkatkan nilai tambah batu andesit sebagai substitusi semen,


sehingga menjadikan nilai jual batu andesit lebih tinggi.

4. Memperoleh informasi mengenai persentase komposisi


penambahan batu andesit sebagai substitusi semen yang optimal
dalam pembuatan paving block sehingga dihasilkan produk paving
block dengan mutu yang lebih baik.

5. Meningkatkan pendapatan asli daerah (PAD) daerah setempat


serta menciptakan lapangan pekerjaan baru.

H. Kajian Pustaka

1. Semen
Semen merupakan senyawa atau zat pengikat hidrolis yang
terdiri dari senyawa C-S-H (kalsium silikat hidrat) yang apabila
bereaksi dengan air akan dapat mengikat bahan-bahan padat lainnya
membentuk satu kesatuan yang kompak, padat dan keras (Refnita dkk,
2012). Reaksi pembentukan CSH (Hambali dkk, 2013) sebagai
berikut:
xCa(OH)2 + SiO2 + nH2O → xCaO.SiO2.nH2O (2.1)
Fungsi semen adalah untuk mengisi rongga-rongga diantara
butiran agregat agar terjadi suatu massa yang kompak atau padat
(Pangaribuan dan Narlis, 2015). Kandungan terbesar dalam semen
adalah kandungan CaO yang memiliki fungsi dalam proses perekatan,
8

sedangkan SiO2 berfungsi sebagai bahan pengisi (filler), Al2O3


memiliki fungsi dalam mempercepat proses pengerasan. Sedangkan
Fe2O3 memiliki suhu leleh yang rendah yang menyebabkannya sebagai
bahan bakar dalam proses pembakaran klinker (Wiryasa dkk, 2008).
1. Jenis Semen
Adapun jenis semen yang ada di Indonesia dibedakan menjadi
tiga golongan yaitu:
a. OPC (Ordinary Portland Cement)
Semen portland adalah semen hidrolis yang dihasilkan dengan
cara menggiling terak semen portland terutama yang terdiri atas
kalsium silikat yang bersifat hidrolis. Lalu digiling bersama-sama
dengan bahan tambahan berupa satu atau lebih bentuk kristal senyawa
kalsium sulfat dan boleh ditambah dengan bahan tambahan lain (Craig,
1991). Bahan utama dari semen portland adalah batu kapur yang
mengandung komponen CaO (kapur/lime), lempung yang mengandung
komponen SiO2 (silikat), Al2O3 (oksida alumina), FeO3 (oksida besi)
dengan bahan tambahan biasanya digunakan gipsum (Subakti, 1994).
Semen portland dibagi menjadi lima jenis (Standar Nasional
Indonesia/SNI 15-2049-2004) yaitu:
 Jenis I yaitu semen portland untuk penggunaan umum yang tidak
memerlukan persyaratan-persyaratan khusus seperti yang
disyaratkan pada jenis-jenis lain.
 Jenis II yaitu semen portland yang dalam penggunaannya
memerlukan ketahanan terhadap sulfat atau kalor hidrasi sedang.
 Jenis III yaitu semen portland yang dalam penggunaannya
memerlukan kekuatan tinggi pada tahap permulaan setelah
pengikatan terjadi.
 Jenis IV yaitu semen portland yang dalam penggunaannya
memerlukan kalor hidrasi rendah.
 Jenis V yaitu semen portland yang dalam penggunaanya
memerlukan ketahanan tinggi terhadap sulfat.
9

Sifat fisik, kimia dan mekanik dari semen tipe OPC


ditampilkan pada Tabel 2.1.

Tabel 2.1. Komposisi Kimia Semen Portland (Aydin et al.,


2008).
No. Komposisi kimia (%) Persentase

1. SiO2 18,69

2. Al2O3 5,00

3. Fe2O3 3,49

4. CaO 63,12

5. MgO 1,09

6. Na2O 0,29

7. K2O 0,76

8. SO3 2,95

9. Cl- 0,01

10. Hilang pijar 3,56

11. Bagian tak larut 0,38

12. CaO bebas 1,27

b. PCC (Portland Cement Composite)

PCC adalah bahan pengikat hidrolis hasil penggilingan


bersama-sama terak semen portland dan gipsum dengan satu atau
lebih bahan anorganik, atau hasil pencampuran antara bubuk semen
1
0

portland dengan bubuk bahan anorganik lain. Bahan anorganik


tersebut antara lain terak tanur tinggi (blast furnace slag), pozzolan,
senyawa silikat, batu kapur, dengan kadar total bahan anorganik 6%
hingga 35% dari massa semen portland komposit (SNI 15-7064-
2004).

Keunggulan semen tipe PCC adalah mudah pengerjaannya,


suhu adukan rendah sehingga hasilnya tidak mudah retak. Semen
PCC menghasilkan permukaan plesteran dan beton yang halus, kedap
air, tahan terhadap serangan sulfat, mempunyai kuat tekan yang
tinggi, menjadikan bangunan atau konstruksi tahan lama (Yusuf dkk,
2013). Adapun kandungan kimia semen PCC dapat dilihat pada
Tabel 2.2.

Tabel 2.2. Kandungan Kimia Semen tipe PCC (Aruntas et al.,


2010).

No. Oksida (%) Persentase


1. CaO 47,64

2. SiO2 30,53

3. Al2O3 7,63

4. Fe2O3 3,63

5. MgO 1,86

6. SO3 2,71

7. K2O 1,03

8. Na2O 0,80

9. Hilang pijar 4,52

10. Bagian tak larut -


1
1

c. PPC (Portland Pozzoland Cement)

PPC adalah suatu semen hidrolis yang terdiri dari campuran


yang homogen antara semen portland dengan pozzolan halus, yang
diproduksi dengan menggiling klinker semen portland dan pozzolan
bersama-sama. Dimana kadar pozzolan 6% sampai 40% dari massa
semen portland pozzolan. Keunggulan semen PPC adalah semakin
lama semakin kuat, tahan terhadap retak, tahan terhadap sulfat dan
asam (SNI 15-0302-2004). Kandungan kimia semen tipe PPC dapat
dilihat dalam Tabel 2.3.

Tabel 2.3. Kandungan Kimia Semen tipe PPC (Astuti, 2006).


No. Jenis Komposisi Kimia Persentase (%)

1. Silikon Dioksida (SiO2) 23,13

2. Aluminium Oksida (Al2O3) 8,76

3. Ferri Oksida (Fe2O3) 4,62

4. Kalsium Oksida (CaO) 58,66

5. Magnesium Oksida (MgO) 0,90

6. Sulfur Trioksida (SO3) 2,18

7. Hilang Pijar (LOI) 1,69

8. Kapur Bebas 0,69

9. Bagian Tidak Larut 8,82

2. Faktor Air Semen (FAS)


1
2

Pada beton mutu tinggi, pengertian FAS bisa diartikan sebagai


water to cementitious ratio, yaitu rasio berat air terhadap berat total semen
dan aditif cementitious yang umumnya ditambahkan pada campuran beton
mutu tinggi (Afif, 2013).

Jadi dapat dituliskan sebagai

FAS= (2.2)

Fungsi FAS yaitu untuk memungkinkan reaksi kimia yang


menyebabkan pengikatan dan berlangsungnya pengerasan serta
memberikan kemudahan dalam pengerjaan beton (Sari dkk, 2015). FAS
yang rendah merupakan faktor yang paling menentukan dalam
menghasilkan beton mutu tinggi, dengan tujuan untuk mengurangi
seminimal mungkin porositas beton yang dihasilkan. Oleh karena itu
semakin besar FAS, maka semakin rendah kuat tekan betonnya (Afif,
2013).

Namun demikian, nilai FAS yang semakin rendah tidak selalu


berarti bahwa kekuatan beton semakin tinggi. Nilai FAS yang rendah
akan menyebabkan kesulitan dalam pengerjaan, yaitu kesulitan dalam
pelaksanaan pemadatan yang pada akhirnya menyebabkan mutu beton
menurun. Umumnya nilai FAS minimum diberikan sekitar 0,4 dan
maksimum 0,65 (Mulyono, 2003). FAS optimum akan memberikan
kekuatan dan kepadatan maksimum. Penggunaaan FAS yang terlalu
tinggi mengakibatkan pasta semen menjadi terlalu cair dan akan
mengalir meninggalkan agregat serta menyebabkan pengendapan pasta
semen di dasar sehingga mengakibatkan penurunan porositas. FAS
yang terlalu rendah mengakibatkan pasta tidak cukup untuk melapisi
agregat (Ginting, 2015).
1
3

Air pada campuran pembuatan paving block mempunyai


peranan yang penting yaitu menyebabkan terjadinya reaksi kimia
dengan semen yang menyebabkan pengikatan dan berlangsung
pengerasan. Selain itu, air juga berfungsi sebagai pelembab campuran
sehingga campuran menjadi mudah dicetak dan tidak pecah (Wiryasa
dkk, 2008). Berdasarkan spesifikasi bahan bangunan bagian A, air
sebagai bahan bangunan (SK SNI S-04-1989-F) memenuhi syarat
sebagai berikut:

a. Air harus bersih.

b. Tidak mengandung lumpur, minyak, dan benda melayang lainnya,


yang dapat dilihat secara visual. Benda-benda tersuspensi ini tidak
boleh lebih dari 2 gram/liter.

c. Tidak mengandung garam-garam yang dapat larut dan dapat


merusak beton (asam, zat organik, dan sebagainya) lebih dari 15
gram/liter.

d. Tidak mengandung klorida (Cl) lebih dari 0,5 gram/liter. Khusus


untuk beton prategang kandungan klorida tidak boleh lebih dari
0,05 gram/liter.

e. Tidak mengandung senyawa sulfat (SO3) lebih dari 1 gram/liter.

2. Pasir

Pasir merupakan agregat halus yang terdiri dari butiran-butiran


sebesar 0,15 sampai 4,8 mm. Pasir didapat dari disintegrasi batuan alam
ataupun dengan memecahnya sendiri (Putra dan Sutikno, 2016). Pasir
termasuk dalam kelompok bulk material dan karakteristik bulk
1
4

ditentukan oleh sifat mekanik dan sifat spesifik, kelembaban, mobilitas


partikel, angle of repose (sudut tumpukan) dan abrasivitas (Hamsi,
2011). Pasir berfungsi sebagai bahan pengisi dalam campuran mortar
serta menempati kira-kira sebanyak 70% volume mortar. Pasir sangat
berpengaruh terhadap sifat-sifat mortar sehingga pemilihan pasir
merupakan suatu bagian penting dalam pembuatan mortar atau beton.
Pasir

harus mempunyai bentuk yang baik (bulat mendekati kubus),


bersih, keras, kuat, dan bergradasi baik (Kardiyono, 2000).

Pasir sebagai bahan pengisi dalam adukan berfungsi untuk


mengurangi penyusutan. Butiran yang cukup keras dan gradasi yang
bervariasi, menghasilkan spesi (campuran antara semen, agregrat serta
air) yang tahan pengaruh cuaca serta tahan juga pengaruh lain
(Supribadi, 1996). Distribusi ukuran butiran pasir berpengaruh terhadap
kekuatan mortar. Bila butir mempunyai ukuran yang sama (seragam)
volume pori pasir akan besar. Sebaliknya bila ukuran butiran pasir
bervariasi akan terjadi volume pori yang kecil. Hal ini disebabkan
butiran yang kecil akan mengisi pori diantara butiran yang lebih besar,
sehingga pori-porinya menjadi sedikit (dengan kata lain
kemampatannya tinggi) (Tugino, 2010). Sifat fisik pasir dapat dilihat
dalam Tabel 2.4.

Tabel 2.4. Sifat Fisik Pasir (Khosama, 2012).

No. Sifat Persentase

1. Berat jenis (kg/m3) 2,65

2. Modulus kehalusan 2,68


1
5

3. Absorpsi maksimum (%) 13,27

4. Pori (%) 46,20

5. Ukuran maksimum 4

6. Bulk density (kg/m3) 1695

7. Kadar lumpur (%) 4

8. Kadar air (%) 14,483

9. Nilai abrasi (%) -

Pasir alam dapat digolongkan menjadi tiga macam yaitu pasir


galian, pasir sungai dan pasir pantai.

1. Pasir galian diperoleh langsung dari permukaan tanah atau dengan


cara menggali terlebih dahulu. Pasir ini biasanya tajam bersudut,
berpori dan bebas dari kandungan garam (Tjokrodimuljo, 1992).

2. Pasir sungai adalah pasir yang bersumber dari penggalian atau


penambangan di sungai. Sungai-sungai yang terjal memiliki aliran
yang deras, sehingga deposit dari partikel batu-batuannya akan
bervariasi cukup besar pada suatu jarak tertentu. Pada sungai-sungai
yang landai, variasi perbedaan ukuran partikel tidak berubah dari
tempat yang satu ke tempat yang lain (Mulyono, 2003).

3. Pasir pantai adalah pasir yang diambil dari tepian pantai, bentuk
butirannya halus dan bulat akibat gesekan dengan sesamanya. Pasir ini
banyak mengandung garam. Garam ini menyerap kandungan air dari
udara dan mengakibatkan pasir selalu tampak agak basah serta
menyebabkan pengembangan volume bila dipakai pada bangunan.
1
6

Pasir pantai dapat digunakan pada campuran beton dengan perlakuan


khusus, yaitu dengan cara dicuci sehingga kandungan garamnya
berkurang atau hilang (Dumyati dan Manalu, 2015).

Persyaratan pasir agar dapat digunakan menjadi bahan


bangunan (Persyaratan Umum Bahan Bangunan di Indonesia/PUBI,
1982) adalah sebagai berikut:

1. Pasir harus bersih dalam pengujian dengan larutan pencuci khusus,


tinggi endapan pasir yang kelihatan dibanding tinggi seluruhnya tidak
kurang dari 70%.

2. Tidak mengandung lumpur (butiran halus yang lewat ayakan 0,06


mm) lebih dari 5%.

3. Angka modulus halus butir (MHB) terletak antara 2,2 sampai 3,2 bila
diuji dengan rangkaian ayakan dengan rangkaian ayakan berukuran
0,16 mm, 0,315 mm, 0,63 mm, 1,25 mm, 2,5 mm, dan 10 mm dengan
fraksi yang lewat ayakan 0,3 mm minimal 15% dari berat.

4. Pasir tidak boleh mengandung zat-zat organik yang dapat


mengurangi mutu beton, untuk itu bila direndam dengan larutan
NaOH 3% cairan di atas endapan tidak boleh lebih gelap dari warna
larutan pembanding.

Kekekalan, tidak pecah atau hancur oleh pengaruh cuaca (terik


matahari dan hujan) jika diuji dengan larutan MgSO4 tidak lebih dari
10% berat

3. Batuan Andesit

Batuan andesit merupakan batuan intermediate yang terjadi hasil

pendinginan magma pada permukaan bumi ataupun aktivitas gunung api.


1
7

Akibat perbedaan suhu pada saat pendinginan batuan andesit secara

umum terdiri dari batuan padat, pori dan antara (Khosama, 2012).

Andesit diklasifikasikan ke dalam kelompok batuan vulkanik, yang

merupakan sub kelompok dari batuan magmatik (Sariisik et al., 2011).

Saat ini batuan andesit banyak digunakan untuk sektor kontruksi

terutama infrastruktur seperti sarana jalan raya, jembatan, gedung-

gedung, irigasi, maupun perumahan dan fasilitas umum lainnya.

Kandungan mineral yang ada di dalam batuan andesit berupa kalium

feldspar dengan jumlah < 10% dari kandungan feldspar total, natrium

plagioklas, kuarsa

< 10%, feldspatoid < 10%, bornblende, biotit, dan piroksen

(Stepanus dkk, 2014).

Jenis batuan ini berstruktur porfiritik afanitik, komposisi mineral

utama jenis plagioklas, mineral mefik adaalah piroksen dan amfibol

sedang mineral tambahan adalah apatir dan zirkon. Batuan ini memiliki

berat jenis 2,3 gr/cm3 hingga 2,7 gr/cm3 dan memiliki kuat tekan 600

hingga 2400 kg/cm2 (Sukandarrumibi, 1999). Bentuk visual dari batu

andesit dapat dilihat pada Gambar 2.1.


1
8

Gambar 2.1. Batu Andesit (Nishikant et al., 2016).

Komposisi kimia batu andesit dapat

ditunjukkan pada Tabel 2.5. Tabel 2.5. Komposisi Kimia

Batu Andesit (Sariisik et al., 2011).

No. Komposisi Kimia Satua Nilai


n
1. SiO2 (%) 62,30
2. Al2O3 (%) 14,70
3. Fe2O3 (%) 4,04
4. MgO (%) 2,78
5. CaO (%) 4,26
6. Na2O (%) 2,95
7. K2O (%) 6,06
13.
8. Total TiO2 (%)
(%) 99,86
0,98
9. P2O5 (%) 0,81
10. MnO (%) 0,07
11. Cr2O3 (%) 0,014
12. LOI (%) 0,6
1
9

4. Paving Block

Paving block atau bata beton untuk lantai adalah suatu komponen

bahan bangunan yang dibuat dari campuran semen hidrolis atau

sejenisnya, agregat (betu pecah dan pasir) dan air dengan atau tanpa

bahan tambahan lainnya yang tidak mengurangi mutu paving block

tersebut. Seperti pada pembuatan beton lainnya, persyaratan yang

diperlukan agregat, semen dan air yang digunakan harus memenuhi

persyaratan seperti tercantum pada spesifikasi bahan-bahan beton

(Adibroto, 2014). Perbandingan campuran semen dengan pasir untuk

paving block yang umum digunakan berkisar antara 1 : 4 sampai 1 : 6

dengan perbandingan air semen antara 0,3 sampai 0,4 (Pamuji, 2007).

Keunggulan paving block adalah menjaga keseimbangan air

tanah, menjadi penopang utama agar pondasi rumah tetap stabil, serta

menjadi serapan air yang baik. Sedangkan kelemahan paving block

adalah mudah bergelombang apabila pondasinya tidak kuat dan kurang

nyaman untuk kendaraan dengan kecepatan tinggi (Wintoko, 2012). Jika

paving block dipasang hanya satu buah, maka akan bersifat seperti

perkerasan kaku dan bila dipasang dengan interlocking atau saling

mengisi akan bersifat seperti perkerasan lentur (Istiwarni, 2009). Macam-

macam bentuk dari paving block dapat dilihat pada Gambar 2.2
2
0

Gambar 2.2. Bentuk-bentuk Paving Block (Nurzal dan Putra,

2014).

Berdasarkan cara pembuatannya, paving block dapat digolongkan dalam


beberapa jenis yaitu:

1. Paving block Press Manual/Tangan

Paving block jenis ini termasuk jenis beton kelas D (K50-100).


Sesuai dengan mutunya yang rendah, paving jenis ini memiliki nilai
jual rendah dan umumnya digunakan untuk perkerasan non struktur
seperti halaman rumah, trotoar jalan, dan perkerasan lingkungan
dengan daya beban rendah.

2. Paving block Press Mesin Vibrasi/Getar

Paving block jenis ini diproduksi dengan mesin press sistem getar
2
1

dan umumnya mutu beton kelas C-B (K150-250). Dalam


pemakaiannya banyak digunakan sebagai alternatif perkerasan di
pelataran garasi rumah dan lahan parkiran.

3. Paving block Press Mesin Hidrolik

Paving jenis ini diproduksi dengan mesin press hidrolik dengan kuat
tekan diatas 300 kg/cm2 serta dikategorikan sebagai paving block
dengan mutu beton kelas B-A (K 300-450). Pemakaian paving jenis
ini dapat digunakan untuk keperluan non struktural maupun
struktural yang berfungsi untuk menahan beban yang berat yang
dilalui diatasnya. Seperti areal jalan lingkungan hingga sebagai
perkerasan lahan pelataran terminal peti kemas (Putra dan Sutikno,
2016).

Syarat mutu bata beton (paving block) (SNI 03-0691-1989) sebagai


berikut:

1. Sifat tampak

Paving block harus mempunyai permukaan yang rata, tidak terdapat

retak- retak dan cacat, bagian sudut dan rusuknya tidak mudah

dirapihkan dengan kekuatan jari tangan.

2. Ukuran

Paving block harus mempunyai ukuran tebal nominal minimum 60

mm dengan toleransi ± 8%.


2
2

3. Sifat Fisis

Bata beton untuk lantai harus mempunyai kekuatan fisis sesuai

dengan SNI 03-0691-1996.

5. Ball Milling

Ball milling merupakan suatu proses penghancuran serbuk karbon

dengan menggunakan mekanisme tumbukan antara sampel dengan bola-

bola baja berukuran heterogen. Proses ini diasumsikan dapat

memperkecil ukuran pori karena ketika serbuk karbon dicetak maka

struktur pori akan lebih mengikuti morfologi partikel karbon yang

dihasilkan dari proses ball milling tersebut (Sari dkk, 2014). Metode ball

milling ini berprinsip pada penghancuran bahan menggunakan sejumlah

bola penumbuk dalam sebuah tabung horizontal yang berputar. Bola-bola

akan terangkat pada sisi tabung kemudian jatuh ke bahan yang ditumbuk

dan menyebabkan fragmentasi pada struktur bahan menjadi ukuran yang

sangat halus. Keunggulan metode ball milling adalah waktu penepungan

lebih cepat dan tepung yang dihasilkan relatif lebih halus sehingga

mampu meningkatkan hidrasi tepung dengan air (Widjanarko dan

Suwasito, 2014).
2
3

Gambar 2.3. Ball Mill (Sumber: Laboratorium Non-Logam Balai

Penelitian Teknologi Mineral - LIPI).

6. Pozzolan

Pozzolan merupakan bahan yang mengandung senyawa silika atau silika

alumina dan alumina, yang tidak mempunyai sifat mengikat seperti

semen akan tetapi dalam bentuknya yang halus dan dengan adanya air.

Senyawa-senyawa tersebut akan bereaksi dengan kalsium hidroksida

pada suhu normal membentuk senyawa kalsium silikat hidrat dan

kalsium hidrat yang bersifat hidrolis dan mempunyai angka kelarutan

yang cukup rendah (Subakti, 1994). Standar mutu pozzolan dapat

dibedakan menjadi tiga kelas (ASTM C 618-86):

1. Kelas N

Pozzolan alam atau hasil pembakaran pozzolan alam, yang dapat

digolongkan ke dalam jenis seperti tanah diatomic, opaline cherts,

shales, tuff dan abu terbang vulkanik atau punicite. Semuanya bisa

diproses melalui pembakaran atau tanpa pembakaran.

2. Kelas C

Fly ash mengandung CaO diatas 10% yang dihasilkan dari


pembakaran
2
4

lignite atau sub bitumen batu bara.

3. Kelas F
Fly ash mengandung CaO kurang dari 10% yang dihasilkan dari

pembakaran antharite atau bitumen batubara

Dilihat dari proses pembetukannya, bahan pozzolan dapat dibedakan

menjadi dua jenis yaitu pozzolan alam dan pozzolan buatan. Pozzolan

alam adalah bahan alam yang merupakan sedimentasi dari abu atau lava

gunung berapi yang mengandung silika aktif. Sedangkan untuk pozzolan

buatan sebenarnya banyak macamnya seperti sisa pembakaran dari

tungku, maupun hasil pemanfaatan limbah yang diolah menjadi abu yang

mengandung silika reaktif dengan melalui proses pembakaran. Seperti

abu terbang (fly ash), abu sekam (rice husk ash), silica fume dan lain-lain

(ASTM C 593-82). Persyaratan kimia pozzolan diatur dalam ASTM C

618-92a.

7. Kalsinasi

Proses kalsinasi didefinisikan sebagai pengerjaan sampel pada

temperatur tinggi tetapi masih dibawah titik leleh tanpa disertai

penambahan reagen dengan maksud untuk mengubah bentuk senyawa

konsentrat. Temperatur kalsinasi berpengaruh terhadap fasa suatu zat,

dimana fasa adalah bagaian dalam suatu material yang berbeda dengan

bagian-bagian lainnya dalam hal struktur atau komposisi (Delvita dkk,


2
5

2015). Kalsinasi berfungsi melepaskan gas-gas dalam bentuk karbonat

atau hidroksida sehingga menghasilkan bahan dalam bentuk oksida.

Kalsinasi juga menghilangkan zat-zat yang tidak dibutuhkan seperti H2O,

air kristal (dalam bentuk OH) dan gas (CO2) (Rohmah dan Zainuri,

2016).

Peristiwa yang terjadi selama proses kalsinasi antara lain:

1. Pelepasan air bebas (H2O) dan terikat (OH) berlangsung sekitar suhu

100oC hingga 300oC.

2. Pelepasan gas-gas seperti CO2 berlangsung sekitar suhu 600oC dan

pada tahap ini disertai terjadinya pengurangan berat yang cukup

berarti.

3. Pada suhu lebih tinggi sekitar 800oC struktur kristalnya sudah

terbentuk, dimana pada kondisi ini ikatan diantara partikel serbuk

belum kuat dan mudah lepas (Patimah dan Saraswati, 2016).

8. Pengujian dan Karakterisasi

Pengujian fisik pada paving block meliputi :

1. Kuat Tekan

Kekuatan tekan adalah sifat kemampuan menahan atau

memikul suatu beban tekan (Irawati dkk, 2015). Kuat tekan


2
6

dipengaruhi oleh komposisi mineral utama. C3S memberikan

kontribusi yang besar pada perkembangan kuat tekan awal,

sedangkan C2S memberikan kekuatan semen pada umur yang lebih

lama. C3A mempengaruhi kuat tekan sampai pada umur 28 hari dan

selanjutnya pada umur berikutnya pengaruh ini semakin kecil

(Widojoko, 2010). Apabila C3S dan C2S bereaksi dengan air kembali

membentuk senyawa CSH dan Ca(OH)2. Adapun reaksi yang

berlangsung (Hambali dkk, 2013) yaitu:

2(3CaO.SiO2) + 6H2O → 3Ca(OH)2 + 3CaO.


2SiO2.3H2O (2.3)

2(2CaO.SiO2) + 6H2O → Ca(OH)2 + 3CaO.


2SiO2.3H2O (2.4)

Ca(OH)2 yang dihasilkan akan menyebabkan larutan pori

beton bersifat basa kuat dan tidak larut dalam air sehingga dapat

menurunkan kuat tekan beton tersebut (Widari dkk, 2015).

Gambar 2.4. Mesin Pengujian Kuat Tekan (Sumber :


2
7

Laboratorium Beton Teknik Sipil UNILA)


Pada hakekatnya faktor-faktor yang mempengaruhi kuat tekan paving
block

sama halnya dengan kuat tekan beton, yaitu sebagai berikut:

a. Faktor air semen (FAS).

Nilai FAS yang tinggi menyebabkan adukan beton menjadi

banyak pori- pori yang berisi air, setelah beton keras akan

menimbulkan rongga-rongga sehingga kekuatannya akan rendah.

Sedangkan nilai FAS yang rendah menyebabkan adukan akan sulit

dipadatkan sehingga menimbulkan banyak rongga udara. Hal ini

mengakibatkan beton yang dihasilkan berkualitas rendah dan

adukan beton sulit dikerjakan.

b. Kepadatan

Kepadatan adukan beton akan mempengaruhi kekuatan beton

setelah mengeras (Tjokrodimuljo, 1996). Tujuan pemadatan beton

adalah untuk menghilangkan rongga-rongga udara dan untuk

mencapai kepadatan yang maksimal (Murdock and Brook, 1999).

c. Umur beton

Umur beton dihitung sejak beton dibuat, kekuatan beton


2
8

akan bertambah sesuai dengan bertambahnya umur. Kecepatan

kenaikan kekuatan beton dipengaruhi oleh FAS dan suhu

perawatan. Semakin tinggi FAS maka akan semakin lambat

kenaikan kekuatannya, dan semakin tinggi suhu perawatan maka

kenaikan kekuatan beton semakin cepat.

d. Jenis semen

Setiap jenis semen mempunyai laju kenaikan yang berbeda-beda.

e. Jumlah semen

Jumlah kandungan semen berpengaruh terhadap kuat tekan beton.

Pada jumlah semen yang sedikit dan jumlah air sedikit adukan

beton akan sulit dipadatkan sehingga kekuatan tekan beton rendah.

Jika jumlah semen berlebihan maka jumlah air juga berlebihan,

sehingga beton akan menjadi berpori dan berakibat kekuatan tekan

beton rendah (Tjokrodimuljo, 1996).

f. Sifat agregat

Agregat terdiri dari agregat halus dan agregat kasar. Beberapa sifat

agregat yang mempengaruhi kekuatan beton (Tjokrodimuljo,

2007).

2. Porositas
2
9

Porositas merupakan persentase pori-pori atau ruang kosong dalam beton

terhadap volume benda (volume total beton). Porositas berhubungan erat

dengan permeabilitas beton. Porositas juga dapat diakibatkan adanya

partikel-partikel bahan penyusun beton yang relatif besar, sehingga

kerapatan tidak maksimal. Porositas menggambarkan besar kecilnya

kekuatan beton dalam menopang suatu konstruksi. Semakin padat beton,

semakin tinggi tingkat kepadatan maka semakin besar kuat tekan atau

mutu beton serta kekuatannya dalam menyangga konstruksi yang lebih

berat (Tumingan dkk, 2016).

3. Absorpsi

Absorpsi merupakan salah satu tolak ukur apakah beton nantinya

dari segi keawetan dapat diandalkan atau tidak. Absorpsi pada

beton dapat diukur setelah umur 28 hari. Faktor-faktor yang

mempengaruhi besarnya absorpsi antara lain yaitu faktor air semen

dan susunan butir (gradasi) agregat (Syamsuddin dkk, 2011).

4. Berat Jenis

Berat jenis (specific gravity) adalah perbandingan berat dari suatu

volume bahan pada suatu temperatur terhadap berat air dengan

volume yang sama pada temperatur tersebut (Laoli dkk, 2013).

Agregat dapat dibedakan berdasarkan berat jenisnya, yaitu agregat

normal, agregat berat, dan agregat ringan.


3
0

a. Agregat normal adalah agregat yang berat jenisnya antara 2,5

gr/cm3 sampai 2,7 gr/cm3. Agregat ini biasanya berasal dari

agregat granit, basalt, kuarsa, dan sebagainya. Beton yang

dihasilkan memiliki berat jenis sekitar 2,3 gr/cm3 dengan kuat

tekan antara 15 MPa sampai 40 MPa. Betonnya disebut beton

normal.

b. Agregat berat mempunyai berat jenis lebih dari 2,7 gr/cm3

misalnya magnetik (Fe3O4), barytes (BaSO4), atau serbuk besi.

Beton yang dihasilkan juga berat jenisnya tinggi (sampai 5

gr/cm3), yang efektif sebagai dinding pelindung sinar radiasi sinar

X.

c. Agregat ringan mempunyai berat jenis kurang dari 2,5 gr/cm3 yang

biasanya dibuat untuk non struktural. Akan tetapi dapat pula untuk

beton struktural atau blok dinding tembok (Tjokrodimuljo, 1996).

5. XRF (X-Ray Fluorescence)

XRF merupakan salah satu metode analisis tidak merusak

digunakan untuk analisis unsur dalam bahan secara kualitatif dan

kuantitatif (Kriswarini dkk, 2010). Analisis menggunakan XRF


3
1

dilakukan berdasarkan identifikasi dan pencacahan karakteristik sinar-X

yang terjadi dari peristiwa efek fotolistrik. Bila energi sinar tersebut lebih

tinggi dari pada energi ikat elektron dalam orbit K, L, atau M atom

target, maka elektron atom target akan keluar dari orbitnya. Dengan

demikian atom target akan mengalami kekosongan elektron. Kekosongan

elektron ini akan diisi oleh elektron dari orbital yang lebih luar diikuti

pelepasan energi berupa sinar-X. Spektrometri XRF memanfaatkan

sinar-X yang dipancarkan oleh bahan yang selanjutnya ditangkap

detektor untuk dianalisis kandungan unsur dalam bahan (Munasir dkk,

2012). Skematik proses identifikasi dengan XRF tampak pada Gambar

2.5.

Gambar 2.5. Prinsip XRF (Fansuri, 2010).

6. XRD (X-Ray Diffraction)

Difraksi sinar-X merupakan instrumen yang digunakan untuk

mengidentifikasi material kristalit maupun non-kristalit. Sebagai contoh

identifikasi struktur kristal dan fase dalam bahan, memanfaatkan radiasi


3
2

gelombang elektromagnetik sinar-X dengan cara menentukan parameter

struktur kisi serta untuk mendapatkan ukuran partikel. Sinar-X memiliki

rentang energi 10-100 MeV dengan panjang gelombang 10 sampai 10-3

nm dan diklasifikasikan sebagai gelombang elektromagnetik yang

berbeda dari gelombang radio, cahaya, dan sinar gamma (Waseda et al.,

2011).

Difraksi sinar-X digunakan untuk mengidentifikasikan struktur

kristal suatu padatan dengan membandingkan nilai jarak d (bidang

kristal) dan intensitas puncak difraksi dengan data standar (Delvita dkk,

2015). Fase struktur kristal merupakan susunan dari deretan atom yang

letaknya teratur pada suatu bahan, masing-masing atom pada kristal

dapat menghamburkan gelombang elektromagnetik yang datang

padanya. Peristiwa hamburan sinar-X oleh atom- atom pada kristal

disebut difraksi sinar-X. Pengukuran data difraksi menghasilkan keluaran

penting yaitu sudut 2θ dan intensitas pada sudut yang bersesuaian

(Pratapa, 2004).

I. Review jurnal

I. Judul : Analisis Kinerja Alat Crushing Plant Pada Tambang Andesit

Untuk Meningkatkan Produksi 125.000 Ton/Bulan di PT Mandiri


3
3

Sejahtera Sentra, Desa Sukamulya, Kecamatan Tegal Waru, Kabupaten

Purwakarta, Provinsi Jawa Barat

Penulis : Taufan Agustiar, Zainal, Dudi Nasrudin Usman

A Latar Belakang

Batuan andesit berasal dari pembekuan magma di dekat atau di atas

permukaan bumi, karena itu sering disebut batuan beku luar. Andesit

sebagian besar berwarna gelap vesicular batuan vulkanik yang bisanya

porfiritik (berisi Kristal yang lebih besar diatur dalam massa dasar halus).

Fenokris (Kristal lebih besar) terdiri dari plagioklas, kaya kalsium, kalsium

miskin piroksen, dan titanium oksida besi diatur dalam halus.

Saat ini permintaan akan produk batuan andesit untuk wilayah jawa barat

sangat tinggi, sehingga dengan perminataan pasar yang sangat tinggi

potensi bisnis untuk pengolahan batuan andesit sangat bagus.

Tingkat kekerasan kuat tekan batuan andesit 165 mpa dengan tingkat

kekerasan yang 165 mpa untuk bisa digunakan sebagai bahan dasar

kontruksi bangunan, jalan dan jembatan maka, diperlukan peralatan mesin

sebagai pemecah. Unit peralatan mesin pemecah batuan dikenal dengan

nama Crushing [Link] pemanfaatan batuan andesit secara umum

meliputi tahap penambangan, dimana pada tahapan penambangan ada

proses pembongkaran dengan metoda peledakan, pemuatan dengan alat

excavator, pengangkutan dengan alat dump truck dan pengolahan untuk

menjadi product batu belah, sirtu, split dan abu batu di lakukan di crushing
3
4

plant dengan unit hopper, feeder, jaw crusher, cone crusher, screen, dan

belt conveyor. Analisis Kinerja Alat Crushing Plant Pada Tambang

Andesit Untuk Meningkatkan Produksi

Target produksi yang diterapkan dari 100.000 ton/bulan menjadi 125.000

ton/bulan. Berdasarkan pengamatan di lapangan, produksi ini sudah

terpenuhi, tetapi dikarenakan tingginya permintaan pasar akan batuan

andesit maka perlu diupayakan analisa terhadap peralatan mekanis, agar

perusahaan dapat menaikkan sasaran produksi yang telah ada untuk

menghasilkan produksi yang memenuhi permintaan pasar.

Dari uraian di atas, maka dirasakan perlu dilakukan penelitian

terhadapkemampuan kerja dari peralatan mekanis seperti unit peremuk

batu. Berdasarkan latar belakang masalah tersebut diatas maka penulis

melakukan penelitian Tugas Akhir dengan judul “Analisis Kinerja Alat

Crushing Plant Pada Tambang Andesit Untuk Meningkatkan Produksi Dari

100.000 Ton/Bulan Menjadi 125.000 Ton/Bulan Di PT Mandiri Sejahtera

Sentra, Gunung Miun, Kampung Pamalayan, Desa Sukamulya, Kecamatan

Tegal Waru, Kabupaten Purwakarta, Provinsi Jawa Barat”.

B. Metode Penelitian

Metode penelitian dari jurnal ini yaitu mengamati dan membandingkan

hasil dari kerja alat Jaw Crusher serta perhitungan sederhana dalam

pengolahan baha galian.

C. Hasil
3
5

PT Mandiri Sejahtera Sentra merupakan perusahaan tambang yaitu bahan

galian golongan C yaitu batuan andesit yang memproduksi dengan target

produksi 100.000 ton/bulan, Setelah dilakukan penelitian dari tanggal 18

Maret sampai 16 April 2014 ada peningkatan produksi menjadi 125.000

ton/bulan,dengan tercapaimya peningkatan produksi, maka didapatkan

efisiensi alat Jaw Crusher Shift 1 sebesar 75,53 % dan Shift 2 sebesar

81,22 %

Upaya yang telah di lakukan untuk mencapai target produksi 125.000

ton/bulan adalah dengan meningkatkan kinerja Jaw Crusher (Mechanikal

Power Transmission) dari 190 rpm menjadi 210 rpm.

Dengan upaya yang telah di lakukan, dari perhitungan produksi unit

Crushing Plant saat ini 143.299,73 ton/bulan dapat diketahui bahwa target

produksi 125.000 ton/bulan tercapai.

II. Judul : Strategi Pengembangan Pemasaran Batu Andesit (Studi Kasus


pada PT Duta Keluarga Imfaco, Bogor Jawa Barat)

Penulis : Tubagus Imron, Rizal Syarief Sjaiful Nazli, Sapta Raharja

A. Latar Belakang
Nama andesit disadur dari pegunungan Andes. Ini dikarenakan batuan
andesit banyak ditemukan di sekitar pegunungan Andes. Batuan andesit di
pegunungan Andes terbentuk sebagai lava “interbeded” bersamaan dengan
deposit abu vulkanik (ash) dan tuff di sisi-sisi stratovulcano yang curam.
Batuan Andesit atau disebut juga dengan lavastone adalah batuan beku yang
3
6

ter- susun atas mineral yang halus (fine-grained), serta memiliki kandungan
silica yang lebih tinggi dari batu basal dan lebih rendah dari batuan
rhylolite dan felsite. Hasil penelitian Munaji et al. (2013), menyatakan
bahwa nilai tahanan jenis (resistivitas) batuan andesit sebesar 212-300 Ωm
dengan kedalaman 1,3-1,86 terdapat pada Lintas- an 1 dan 2. Hasil uji
keteknikan didapatkan nilai rataan tekan uniaksial (UCS) batu andesit
410,93 (kg/cm2 (konstruksi ringan, ketahanan hancur 22,6% (konstruksi
ringan) dan Absortion 1,82% (konstruksi berat), sehingga batu andesit
termasuk dalam kelas III, artinya hanya dapat digunakan sebagai pondasi
bangunan dan agregat aduk beton kelas ringan (Hardiyono, 2013).
Meskipun pembentukan batuan endosit juga terjadi di bawah permukaan
bumi, umumnya batuan endosit terbentuk di permukaan bumi sebagai akibat
letusan gunung merapi. Oleh karena itu para ahli mengklasifikasikannya ke
dalam bagian batuan beku ekstrusif (Ilmu Geografi 2016).

Batuan Andesit terbentuk dari magma dengan temperatur antara 900 sampai
1.100 derajat celcius. Mineral-mineral yang dikandung batuan andesit
bersifat mikroskopis, sehingga tak bisa dilihat tanpa batuan mikroskop.
Material- material itu (Ilmugeografi 2016) antara lain (1) silika (SiO2)
dengan jumlah antara 52-63%, (2) kuarsa dengan jumlah sekitar 20%, (3)
biotite, (4)

basalt, (5) feltise, (6) plagiocase feldspar, (7) pyroxene (clinopyroxene dan
orthopyroxene), dan (8) horn- blende dengan persentase sangat kecil. Lebih
jauh, energi yang dapat disimpan oleh tumpukan batu andesit sebesar 835,2
kJ dengan durasi charging 50 menit dan durasi discharging 200 menit
(Yusup, 2016).

Morfologi batuan andesit dapat dikenali dari warna abu-abu yang dominan
sampai merah. Warna ini menandakan kandungan silicanya yang cukup
besar. Ciri morfologi lainnya adalah memiliki pori-pori yang cukup padat
dan struktur yang sangat pejal. Batu Andesit mampu membuat struktur
3
7

bangunan menjadi lebih kokoh dan akan menimbulkan kesan dingin yang
kuat dan memiliki nilai seni tersendiri (Prasadewo et al., 2016). Namun
demikian, struktur kepadatan batuan andesit masih dibawah batuan granit.
Batuan Andesit berbentuk kristalin. Terdapat beberapa macam kristal
mineral pada batuan andesit. Kristal-kristal ini sudah terbentuk jauh
sebelum proses pembekuan magma terjadi. Karena itu, para ahli geologi
bisa mengidentifikasi sejarah perjalanan magma dari kristalin yang terdapat
pada batuan andesit. Menurut Purwasat- riya (2013), survai geolistrik dapat
membantu interpretasi geologi bawah permukaan dengan menggunakan
analisis nilai dan kontras resisti- vitas batuan. Kristal-kristal penyusun
batuan andesit memiliki dua ukuran. Perbedaan ukuran ini terjadi karena
magma yang keluar ke permukaan bumi belum sempat terkristal akan
terkristal dengan cepat karena suhu permukaan yang rendah. Hasilnya
adalah dua kristal dengan ukuran yang berbeda, yaitu: (1) fenokris adalah
kristal besar yang sudah terbentuk perlahan-lahan sejak di bawah
permukaan bumi dan (2) groundmass adalah kristal berukuran kecil yang
terbentuk dengan cepat di permukaan.

Tujuan penelitian adalah (1) Mengidentifi- kasi faktor internal dan eksternal
yang dilakukan PT Duta Keluarga Imfaco; (2) Menyusun strategi
pengembangan pasar yang tepat; dan (3) Menyu- sun alternatif strategi
pengembangan pemasaran batu andesit pada PT Duta Keluarga Imfaco.

B. Metode Penelitian

Kajian ini menggunakan metode deskriptif dan analitik yang bersifat studi
kasus. Untuk mengindentifikasi makna dan implikasi dari masalah yang
ingin dipecahkan, yaitu fenomena tentang pemasaran dan evaluasi
lingkungan (internal dan eksternal) dilakukan wawancara langsung dengan
responden menggunakan kuesioner. Penentuan responden yang dipilih
untuk mengisi kuesioner dilakukan dengan purposive sampling, yaitu
responden ditentukan secara sengaja berdasarkan pertimbangan tertentu
3
8

(Sugiyono, 2012). Responden yang dipilih untuk mengisi kuesioner adalah


pemilik perusahaan, manajer produksi dan manajer pemasaran. Hasil
identifikasi dianalisis, sehingga dapat diketahui posisi usaha saat ini dan
selanjutnya dilakukan penyusunan strategi pemasaran yang dapat
diimplementasikan, serta prospek perkembangan usaha ke depan

C. Hasil

Berdasarkan hasil pada matriks IFE dan EFE, mengindikasikan posisi


perusahaan berada pada tingkat stabil, mampu merespon situasi eksternal
dan pada matriks Matriks IE menun- jukkan posisi perusahaan berada di
kuadran V (Pertumbuhan dan Stabilitas), dengan alternatif strategi yang
dapat diterapkan yaitu penetrasi pasar dan pengembangan produk.
Berdasarkan hasil perhitungan dalam matriks QSP, diperoleh tiga strategi
yang paling tepat diimplementasikan adalah :

(1) Memperluas jaringan pemasaran olahan batu andesit

(2) Meningkatkan pelayanan dan loyalitas konsumen

(3) Memperkuat permodalan agar dapat bersaing dengan pesaing.

No. Alternatif Strategi Total nilai

daya tarik
1. Memperluas jaringan pemasaran olahan batu andesit 5,94
2. Meningkatkan pelayanan dan loyalitas konsumen 5,90
3. Memperkuat permodalan agar dapat bersaing dengan pesaing 5,84
4. Meningkatkan produktivitas olahan batu andesit 5,80
5. Meningkatkan teknologi produksi dan mutu produk 5,79
3
9

6. Meningkatkan kerjasama dengan pihak lain dalam bentuk kemitraan 5,76

pemasaran
7. Meningkatkan volume penjualan dengan meningkatkan efektifitas 5,76

pemasaran
8. Memanfaatkan sistem informasi dalam meningkatkan penjualan 5,51
9. Konsisten mempertahankan produktivitas untuk dapat diterima 5,43
pasar
10. Memperbaiki mutu SDM 5,14
11. Mengadakan pelatihan dan peningkatan pengetahuan karyawan 4,76
12. Memanfaatkan kebijakan pemerintah daerah sesuai kebutuhan 4,34
masyarakat

III. Judul : Studi Potensi Sumberdaya Andesit Menggunakan Metode


Geolistrik Di Daerah Kokap, Kabupaten Kulonprogo, Daerah Istimewa
Yogyakarta

Penulis : Eko Bayu Purwasatriya

A. Latar Belakan

Andesit merupakan salah satu komoditi pertambangan bahan galian yang


banyak dibutuhkan oleh masyarakat, seperti untuk pondasi bangunan,
pengaspalan jalan, pembuatan jembatan, pembuatan bronjong sungai dan
lain sebagainya. Andesit dengan jumlah yang berlimpah dan dekat dengan
lokasi proyek pembangunan akan bernilai ekonomis untuk ditambang.
Namun demikian, dalam eksplorasinya andesit ini tidak semuanya
tersingkap di permukaan sehingga perlu dilakukan penyelidikan lebih
lanjut dengan menggunakan metode geofisika untuk mengetahui
keberadaan andesit di bawah permukaan untuk mengurangi resiko
kegagalan dalam penambangan serta dapat memperkirakan potensi
sumberdaya andesit di daerah penelitian.
4
0

Metode geolistrik merupakan salah satu metode geofisika yang dapat


mengetahui kondisi geologi bawah permukaan berdasarkan sifat
kelistrikan batuannya (Purwasatriya dan Waluyo, 2011). Metode geolistrik
membedakan jenis-jenis batuan di bawah permukaan berdasarkan kontras
nilai resistivitasnya. Metode ini dapat pula dimanfaatkan untuk survei
daerah potensi longsor, khususnya dalam menentukan ketebalan lapisan
yang berpotensi longsor, kedalaman batuan basement, serta lithologi
perlapisan batuan bawah permukaan (Rasimeng, dkk., 2006). Andesit di
daerah penelitian secara geologi termasuk dalam satuan batuan intrusif
andesit yang terdiri atas andesit hipersten sampai andesit augit-hornblende
dan trakiandesit (Rahardjo, dkk., 1995). Namun demikian yang perlu
diperhatikan oleh penambang adalah bahwa dalam satuan batuan intrusif
tersebut, tidak semuanya merupakan batuan intrusif (terobosan) karena
biasanya batuan intrusif berasosiasi dengan jenis batuan beku aliran lava.
Hal ini menjadi penting bagi calon penambang karena jenis batuan intrusif
bersifat sangat tebal tapi penyebarannya umumnya tidak luas, sedangkan
lava penyebarannya luas tetapi tipis. Perbedaan karakter ini menyebabkan
perbedaan dalam perhitungan potensi sumberdayanya sehingga survai
geolistrik ini sangat penting dalam eksplorasi awal pencarian sumberdaya
andesit untuk mengurangi resiko kegagalan yang lebih besar jika daerah
tersebut akan ditambang. Tema penelitian ini adalah untuk mengetahui
potensi sumberdaya andesit dengan menggunakan metode geolistrik di
daerah Kokap, Kabupaten Kulonprogo, Daerah Istimewa Yogyakarta

B. Metode Penelitian

Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode


survai, dimana data primer diambil langsung dari survai lapangan yang
kemudian akan dianalisis dan diinterpretasi dengan data-data sekunder
lainnya.

1. Studi pendahuluan peta geologi dan citra landsat


4
1

2. Penelitian lapangan (Metode Geolistrik)

C. Hasil

Beberapa kesimpulan yang dapat diambil dari hasil dan pembahasan


adalah sebagai berikut :

1. Survai geolistrik dapat membantu interpretasi geologi bawah permukaan


dengan menggunakan analisis nilai dan kontras resistivitas batuan.
2. Batuan beku pada daerah penelitian ternyata tidak hanya berupa batuan
beku intrusif saja, akan tetapi juga terdapat batuan beku tipe aliran berupa
lava.
3. Potensi sumberdaya andesit total dangkal dan dalam daerah penelitian
adalah sebesar 5.072.354 ton.
4. Potensi sumberdaya andesit dangkal sebesar 3.162.566 ton.

IV. Judul : PEMANFAATAN ENERGI PANAS MATAHARI PADA


BATU ANDESIT TERHADAP THERMOELECTRIC COOLER TIPE
12706

Penulis : Ary Akbar Nugraha

A. Latar Belakang

Energi matahari sangat melimpah di daerah khatulistiwa dan beriklim


tropis seperti letak geografis Indonesia. Letak geografis Indonesia selalu
disinari matahari selama 10 12 jam dalam sehari. Matahari bersinar
berkisar 2.000 jam per tahun, sehingga Indonesia tergolong kaya sumber
energi matahari. Potensi energi matahari di Indonesia sangat besar yakni
sekitar 4,8 kWh (kilo-Watt-hour) per meter persegi atau setara dengan
112.000 GWp (Giga- Watt-peak), namun yang sudah dimanfaatkan baru
sekitar 10 MWp (Mega-Watt-peak)
4
2

Dalam skala laboratorium, sistem penghasil listrik berbasis TEC


(Thermoelectric Cooler) dapat dijadikan solusi yang terbaik. Dalam
aplikasinya, selain sebagai komponen sistem pendinginan, modul TEC
juga digunakan sebagai alternatif penghasil listrik yang erat kaitannya
dengan pemanfaatan panas atau kalor untuk menghasilkan energi listrik.
Modul TEC memanfaatkan perbedaan suhu untuk menghasilkan energi
listrik.

Prinsip kerja modul TEC ialah mengonversi perbedaan suhu panas dan
dingin menjadi energi listrik. Energi panas didapatkan dengan
memanfaatkan energi panas matahari atau fluida yang bertemperatur panas
(sedang-tinggi), sedangkan sisi dinginnya didapatkan dari pendinginan
berupa heatsink, kipas, dan water jacket/block. Panas matahari didapatkan
dengan cara memanfaatkan daya hantar berupa logam dan jenis batuan
yang mempunyai kandungan silika. Salah satu jenis batuan yang
mengandung silika tinggi yaitu batu andesit. Batu andesit berasal dari
lelehan lava gunung merapi yang meletus, sehingga memiliki kandungan
silika yang cukup tinggi.

B. Metode Penelitian

Tempat pengujian untuk penelitian ini akan dilaksanakan di Laboratorium


Instrumentasi dan Kalibrasi Teknik Elektro Lantai 1 Universitas Negeri
Jakarta. Perancangan dan pembuatan dilakukan dari bulan April 2015-Mei
2015. Kemudian pengujian dilakukan pada bulan Juni 2015.

Sebelum melakukan pengujian alat, kami melakukan berbagai


perancangan dalam pembuatan prototipe ini karena dalam hal ini yang
menjadi disebarkan ke setiap sirip. Ditambah lagi, aliran fluida (air atau
udara) yang melalui ruang antar sirip, akan membantu membuang kalor
yang tadi telah terbagi disetiap sirip. Andesit terbentuk (membeku) ketika
temperatur lava yang meleleh turun antara 900 sampai dengan 1,100
4
3

derajat Celsius, sehingga tergolong batuan beku luar. pertimbangan dalam


melakukan suatu pengujian prototipe. Dalam penelitian ini kami
menggunakan batu andesit. Batu andesit adalah batuan beku yang
mempunyai kandungan silica lebih tinggi dibandingkan dengan batuan
basalt, dan mempunyai kandungan silika lebih rendah dibandingkan
dengan batuan rhyolite atau felsit

C. Hasil

Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa media batu andesit dapat


dimanfaatkan sebagai media untuk menyimpan panas, sehingga TEC dapat
dibangkitkan menghasilkan listrik. Data yang peneliti peroleh ialah
terdapat 3 hasil pengujian yaitu, pegujian TEC tanpa beban, pegujian TEC
dengan beban resistor 100 ohm dan pengujian TEC dengan beban 250
ohm. Dari ketiga data pengujian tersebut bahwa perbedaan suhu dan
tegangan yang dihasilkan TEC lebih optimal pada pengujian TEC tanpa
beban yaitu menghasilkan tegangan sebesar 175 mV dan perbedaan suhu
8,1 °C selama penyinaran 30 menit.

V. Judul : Rancangan Teknis Kemajuan Penambangan Andesit Jangka


Pendek Di Kuari PT Holcim Beton Kecamatan Rumpin Kabupaten Bogor
Jawa Barat

Penulis : Abdul Halim Pelu, Anton Sudiyanto, Tedy Agung Cahyadi, Arif
Munandar

A. Latar Belakang

PT. Holcim Beton mulai didirikan pada tahun 2001 dan perusahaan ini
merupakan cabang dari PT. Holcim Indonesia Tbk. PT. Holcim Beton
4
4

memiliki kuari andesit yaitu di Gunung Maloko, Desa Sukasari,


Kecamatan Rumpin, Kabupaten Bogor, Provinsi Jawa Barat dengan Izin
Usaha Pertambangan (IUP) No. 541.3/567/DISTAMB/2008. Lokasi
penambangan ini menempati area seluas 49,48 Ha (PT. Holcim, 2008).

Kegiatan rencana penambangan dibagi menjadi dua yaitu jangka pendek


dan jangka panjang. Kegiatan jangka pendek (short term) merupakan
kegiatan penambangan untuk merencanakan desain tambang yang
dilakukan dalam harian, mingguan, bulanan, dan tiga bulanan. Jangka
panjang (long term) merupakan rencana desain tambang dan rencana
pekerjaan yang dilakukan selama proses penambangan berjalan sampai
dengan pasca tambang (reklamasi, rehabilitasi). Rencana tahunan yang
mengacu pada target produksi dan mine design customer meliputi target
produksi bulanan, mine design, penjadwal kerja, dan aktivitasnya beserta
parameter-parameter yang disepakati sebagai acuan kerja untuk aktivitas
satu tahun kedepan (Tebay, 2011); (Littik, 2004); (Nugroho, 2017).

PT Holcim Beton memiliki kegiatan penambangan di kuari andesit dengan


target produksi sebesar 2.600.000 ton/tahun. Perancangan penambangan
andesit PT. Holcim Beton dilakukan dengan sistem tambang terbuka. Alat
muat yang digunakan adalah Caterpillar EX385 C dengan kapasitas bucket
5,8 m3 dan alat angkut yang digunakan adalah Caterpillar DT 771 C
dengan kapasitas bak 40 ton. Oleh karena itu perlu dilakukan pembuatan
rancangan teknis penambangan short term atau rancangan kemajuan
tambang yang dibuat berdasarkan target produksi per tiga bulanan dimulai
dari elevasi 125 mdpl dengan batasan akhir pada elevasi 90 mdpl serta
pembukaan pit yang menggunakan metode kuari pit type dengan batasan
akhir pada elevasi 75 mdpl.

B. Metode Penelitian
4
5

Penelitian dilakukan dengan pengamatan lapangan kemudian


dilanjutkan dengan studi pustaka dan melakukan analiasis dari keduanya
untuk mendapatkan penyelesaian masalah yang baik. Adapun urutan
pekerjaan penelitian adalah sebagai berikut:

Studi Pustaka

Membuat rancangan teknis kemajuan penambangan (Bargawa, 2017);


(Fadela, dkk, 2016); (Hastrulid dan Kuchta, 2013); (Raja, 2012). Hal yang
harus diketahui adalah data hasil uji geoteknik lapangan yang dapat
menghasilkan geometri jenjang. Data geoteknik pada penelitian ini ialah
rekomendasi dari PT. Holcim Beton.

Orientasi Lapangan

Orientasi lapangan yang dilakukan dengan pemetaan wilayah IUP PT.


Holcim Beton menggunakan total station Topcon GTS 230 selama tiga
hari

Pengelompokan Data

Pengelompokan data dibagi menjadi dua yaitu data primer dan sekunder.
Data primer pada penelitian ini ialah peta topografi dan tata letak lokasi
penambangan, sedangkan data sekunder yaitu data curah hujan, hari hujan,
data geoteknik, peta geologi, target produksi.

Pengolahan Data

Perhitungan volume yang dibongkar pertahun dihitung menggunakan


rumus mean area dan frustum yang dimuat dalam spread sheet Microsoft
Excel.

Kesimpulan
4
6

Kesimpulan yang dihasilkan dari rancangan ini yaitu desain teknis


berdasarkan target produksi umur tambang pada elavasi 125 mdpl sampai
90 mdpl, serta kebutuhan alat yang diperlukan selama kegiatan
penambangan.

C. Hasil

Berdasarkan pada perencanaan kemajuan penambangan andesit pada kuari


PT. Holcim Beton yang dibuat dapat diambil kesimpulan sebagai berikut:

Dari rancangan kemajuan tambang yang telah dibuat sesuai dengan target
produksi sebesar 2.600.000 ton pertahun, yang dibagi dalam tiap tiga bulan
dengan rata-rata sebesar 650.000 ton.

Berdasarkan hasil perancangan tambang, dengan menggunakan rumus


Mean Area dan Frustum, didapatkan cadangan andesit PT. Holcim Beton
dari elevasi 125 mdpl–75 mdpl adalah sebesar 2.110.746,3 m3 dengan
berat jenis 2,5 ton/m3 maka setara dengan 5.276.865,8 ton.

Kebutuhan dump truck pada kemajuan tambang bulan januari 2018–


Desember 2019 konstan, sehingga tidak ada perubahan tetap 4 unit
dikarenakan produksi tetap, sedangkan pada alat muat yang dibutuhkan
selama kemajuan tambang sejumlah 1 unit.

VI. Judul : PERHITUNGAN SUMBERDAYA BATUAN BREKSI


ANDESIT BERDASARKAN UKURAN FRAGMEN DENGAN
MENGGUNAKAN METODE GEOLISTRIK(Studi Kasus Lahan 52 Ha,
Desa Mekarsari, Kecamatan Merak, Kabupaten Cilegon, Provinsi Banten)

Penulis : Andyono B Santoso, Hidayatullah Sidiq

A. Latar Belakang
4
7

Pemerintah saat ini sedang mencanangkan program Infrastruktur yang


berkelanjutan, dalam program tersebut akan dibutuhkan berbagai macam
sumberdaya untuk ikut menyukseskannya. Salah satu sumberdaya yang
ikut berperan besar adalah breksi andesit yang merupakan salah satu
komoditi pertambangan bahan galian yang banyak dibutuhkan oleh
masyarakat, seperti untuk pondasi bangunan, pembuatan jembatan, dan
lain sebagainya.

Desa Mekarsari, Kecamatan Merak, Kabupaten Cilegon, Provinsi Banten


merupakan salah satu daerah yang memiliki sumberdaya breksi andesit.
Geomorfologi area penyelidikan membentuk sebuah perbukitan yang
memanjang dari barat ke timur, seperti terlihat pada Gambar 1, yang
berelevasi mulai dari 20 hingga 110 meter dpl. Secara regional terlihat
bahwa perbukitan ini adalah bagian terluar dari sebuah pola radial kerucut
gunung api purba yang berpuncak kurang lebih berjarak 5 km ke arah
timur dari area penyelidikan, yaitu Puncak Gunung Salak (568 mdpl) dan
Puncak Gunung Gede (598 mdpl). Namun demikian, dalam eksplorasinya
breksi ini tidak semuanya tersingkap di permukaan sehingga perlu
dilakukan penyelidikan lebih lanjut dengan menggunakan metode
geofisika untuk mengetahui keberadaan breksi dibawah permukaan untuk
mengurangi resiko kegagalan dalam penambangan serta dapat
memperkirakan potensi sumberdaya breksi di daerah penelitian.

B. Metode Penelitian

Dalam jurnal ini penulis menggunakan metode geolistrik yang merupakan


salah satu metode geofisika yang dapat mengetahui kondisi geologi bawah
permukaan berdasarkan sifat kelistrikan batuannya. Prinsip dasar dari
metode Resistivity ini adalah penginjeksian arus ke bawah permukaan
melalui dua buah titik elektroda pada titik yang lain di sekitar aliran arus
4
8

diukur sebagai respon dari media bawah permukaan[3]. Metode geolistrik


membedakan jenis-jenis batuan di bawah permukaan berdasarkan kontras
nilai resistivitasnya. Besarnya resistivity yang terukur akan bervariasi
akibat ketidakhomogenan medium. Ketidakhomogenan ini diakibatkan
oleh variasi beberapa faktor, antara lain: ukuran butir penyusun batuan,
komposisi mineral batuan, kandungan air, kelarutan garam, kepadatan,
dan porositas [4]. Nilai resistivity diperoleh melalui perumusan ra :
resistivty (ohmmeter), K : faktor geometri, ΔV: beda potensial (mV), dan
I : arus (mA).

Metode Resistivity yang dilakukan di area ini menggunakan konfigurasi


elektroda dipol-dipol. Spasi antar elektroda adalah 5 meter. Skema
pengukuran yang dilakukan dengan menggunakan konfigurasi elektroda
dipol-dipol dapat dilihat pada gambar berikut ini. C1 dan C2 merupakan
elektroda yang bertindak sebagai elektroda yang menginjeksikan arus,
sedangkan elektroda P1, P2, dan seterusnya sebagai elektroda potensial
yang menghitung beda potensial dari kedua eketroda tersebut ketika arus
dikirimkan. N merupakan factor pengali spasi elektroda (n=1 hingga n=8)

C. Hasil

Nilai anomali resitivitas tinggi yang berkorelasi dengan breksi berfragment


andesite diinterpretasi berkisar pada nilai 80 ohmm – 300 ohmm. Dimana
nilai anomali resistivitas tertinggi dikorelasikan dengan breksi dengan
ukuran fragmen andesit yang relatif besar (> 60 cm). Sedangkan nilai
anomali resistivitas 80 ohmm – 25 ohmm dapat diinterpretasi sebagai
breksi tuffan. Volume batuan andesit di daerah penelitian berdasarkan
perhitungan voxel untuk nilai resistivitas > 150 Ohmm adalah sebesar
4
9

15.600.000 BCM, sedangkan volume batuan andesit untuk nilai


resistivitas > 400 Ohmm adalah sebesar 3.384.000 BCM.

VII. Judul : POLA PERSEBARAN DAN ESTIMASI CADANGAN


ANDESIT PADA DESA CILULUK, KECAMATANCICALENGKA,
KABUPATEN BANDUNG

Penulis : Arif Swastika, Syafriyono, Dipo Caesario, Ahmad Yuda Pratama,


Sony Malik Kartanegara, Wahyu Budhi Khorniawan, Muhammad Sayyidi,
Nanda Natasia

A. Latar Belakang

Industri pertambangan di Indonesia memegang peranan yang cukup vital,


mengingat Indonesia saat ini termasuk ke dalam negara yang sedang
berkembang diantaranya dalam bidang industri dan infrastruktur. Andesit
merupakan salah satu komoditas bahan galian tambang yang banyak
dibutuhkan terkait dengan proyek pembangunan seperti pondasi bangunan,
pembuatan jalan dan jembatan, dan lain sebagainya. Hal itu yang
mendorong pengusaha lokal pemegang IUP pada daerah Cicalengka,
Kabupaten Bandung untuk mengeksploitasi andesit. Namun pada
kenyataannya, penambangan andesit tidaklah semudah yang dibayangkan
karena andesit ini tidak semuanya tersingkap di permukaan sehingga perlu
dilakukan tahapan eksplorasi guna mengetahui persebaran dan jumlah
cadangan yang dapat mengurangi resiko dalam upaya penambangan
andesit. Tim ekplorasi menggunakan metode geofisika yaitu geolistrik 1D
dan 2D untuk mengetahui keberadaan dan persebaran andesit di daerah
tersebut.

B. Metode Penelitian’
5
0

Penelitian ini secara garis besar dibagi menjadi 3 tahap yaitu tahap
pendahuluan, tahap pengambilan data dan observasi lapangan serta tahap
analisis dan interpretasi data penelitian, serta pengambilan data geolistrik
sebanyak 10 lintasan untuk pengukuran 2D dengan konfigurasi dipole-
dipole, dan 4 lintasan untuk pengukuran 1D dengan konfigurasi
Schlumberger. Kemudian dilakukan analisis dan pembuatan model 3D
untuk memberikan gambaran bawah permukaan yang lebih rinci sehingga
menghasilkan perhitungan cadangan yang lebih akurat,Metode geolistrik
merupakan salah satu metode yang dapat menggambarkan kondisi geologi
bawah permukaan berdasarkan sifat kelistrikannya. Aliran arus listrik di
dalam batuan dapat digolongkan menjadi tiga macam, yaitu konduksi
secara elektronik, konduksi secara elektrolitik, dan konduksi secara
dielektrik. (W. M Telford, L.P Geldart, R.E., 1990).Tahanan jenis dari
macam- macam batuan, material tanah, dan bahan- bahan kimia dapat
dilihat pada tabel hubungan antara jenis batuan dan tahanan jenis Telford,
1990. Jika sebuah titik elektroda arus yang mengalir (C1) terletak pada
permukaan medium homogen isotropis, maka arus tersebut akan tersebar
ke segala arah dengan sama besar. Arus yang mengalir akan menimbulkan
medan equipotensial dan medan equipotensial tersebut memiliki jarak r.

C. Hasil

Berdasarkan hasil analisis dan interpretasi, maka dapat disimpulkan


beberapa hal antara lain:

1. Andesit di lokasi penelitian merupakan aliran lava yang dapat dibagi


menjadi 2 jenis, yaitu soft dan hard andesite. Keduanya tersebar dengan
pola umum barat-timur.
2. Perhitungan cadangan dilakukan menggunakan 2 skenario, yaitu
meratakan pada interval 725 mdpl, dan pada interval 670 mdpl. Jumlah
cadangan didapatkan adalah:
5
1

a. Skenario 1 dengan besar cadangan andesit sebesar 2.714.650 ton untuk soft
andesite dan 1.146.617 ton untuk hard andesite
b. Skenario 2 dengan besaran sumberdaya andesit sebesar 4.261.885 ton
untuk soft andesitedan 5.355.342 ton untuk hard andesite.

VIII. Judul : PENAKSIRAN SUMBERDAYA BATU ANDESIT METODE


CROSS SECTION DAN METODE CONTOUR DI PT. BUMI
KALIMASADA PERTAMBANGAN KABUPATEN KULON PROGO,
YOGYAKARTA

Penulis : Yanuar Putra Perdana, Eddy Winarno

A. Latar Belakang

Indonesia memiliki banyak potensi sumber daya alam yang belum


tereksplorasi yang bisa dimanfaatkan demi kepentingan orang banyak.
Salah satu potensi bahan galian mineral batuan (UU No. 4 Tahun 2009
Tentang Pertambangan Mineral dan Batubara) di IUP PT. Bumi
Kalimasada Pertambangan Kabupaten Kulon Progo adalah batu andesit.
Batu andesit merupakan bahan galian industri yang berguna pada proses
pembuatan kontruksi sipil, dimana negara Indonesia sedang gencar-
gencarnya dalam hal pembangunan. Untuk mengetahui kuantitas
sumberdaya batu andesit tersebut perlu dilakukan penaksiran sumberdaya.
Dalam penaksiran sumberdaya ada beberapa metode yang bisa digunakan
untuk mengestimasi besarnya sumberdaya batu andesit. Dalam penelitian
ini menggunakan metode cross section dan metode contour dalam
melakukan penaksiran sumberdaya batu andesit.

memaksimalkan potensi sumberdaya bahan galian andesit di Desa


Kalirejo, Kecamatan Kokap, Kabupaten Kulon Progo adanya penelitian
5
2

potensi bahan galian andesit yang dapat memberikan taksiran kuantitas,


kualitas bahan galian andesit.

B. Metode Penelitian

Metode penelitian yang dilakukan di PT. Bumi Kalimasada Pertambangan


yaitu dengan cara melakukan studi literatur, obeservasi lapangan,
pengambilan data sampai dengan pengolahan data.

C. Hasil

Perhitungan yang digunakan untuk menghitung volume sumberdaya batu andesit


pada daerah penelitian menggunakan metode cross section dengan pedoman rule
of gradual change. Penggunaan metode dan pedoman tersebut dikarenakan
penampang yang digunakan untuk perhitungan mempunyai luas yang relatif
sama. Berikut tabel hasil perhitungan volume batu andesit di PT. Bumi
Kalimasada :
Jarak (m) Metode Contour

volume m3

8 37.067.020,00

10 37.049.645,00

12 37.085.253,00

14 36.919.686,00

Hasil Perhitungan Metode Cross Section

Jarak (m) Barat Timur Utara Selatan


5
3

volume m3 volume m3

15-25 34.897.720,00 36.750.990,00

20-30 35.186.105,00 36.540.712,00

25-35 35.484.168,00 36.320.620,00

30-40 35.804.928,00 34.491.615,00

35-45 33.207.281,00 31.211.903,00

40-50 31.504.692,00 35.228.575,00

Hasil penaksiran sumberdaya batu andesit digunakan untuk mencari


keakurasian berdasarkan persen kesalahan. Metode Cross Section arah
sayatan Barat-Timur memiliki persen kesalahan sebesar 0,90%, yang
berarti memiliki tingkat keakurasian sebesar 99,10%. Metode Cross
Section arah sayatan Utara-Selatan memiliki persen kesalahan sebesar
0,61%, yang berarti memiliki tingkat keakurasian sebesar 99,39%. Dan
metode Contour memiliki persen kesalahan sebesar 0,10%, yang berarti
memiliki tingkat keakurasian sebesar 99,90%. Metode Contour lebih baik
bila dibandingkan dengan metode Cross Section karena memiliki
keakuratan yang lebih tinggi dengan persentase keakurasian sebesar
99,90%, pada jarak antar elevasi 12 meter dengan hasil penaksiran
sumberdaya batu andesit sebesar 37.085.253 m3.

IX. Judul : KARAKTERISTIK ALTERASI ANDESIT FORMASI


HULUSIMPANG, CEKUNGAN BENGKULU

Penulis : Herawati, Thea Ardelia Hashilah, Edy Sutriyonodst

A. Latar Belakang

Cekungan Bengkulu merupakan cekungan muka busur berumur Tersier


dengan intensitas tektonik yang relatif tinggi diantara cekungan yang ada
di Sumatera. Berdasarkan letak geografis Cekungan Bengkulu berada
5
4

dekat dengan jalur subduksi Lempeng Eurasia dan Indo-Australia pada


bagian barat dan zona Bukit Barisan pada bagian timur dengan bentuk
cekungan relatif oval yang memanjang dengan arah baratlaut – tenggara.
Sesar Semangko dan Sesar Mentawai memiliki peranan penting dalam
pembentukan Cekungan Bengkulu dengan pergerakan strike-slip fault dan
memiliki intensitas struktur yang aktif hingga sekarang. Kehadiran sumber
daya alam seperti batubara dan mineral menjadikan Cekungan Bengkulu
menjadi salah satu cekungan yang memiliki komiditi tambang dengan nilai
ekonomis yang baik.

Wilayah penelitian terletak di Desa Bangun Karya dan sekitarnya,


Kabupaten Bengkulu Utara, Cekungan Bengkulu (Gambar 1) dan meliputi
pengendapan Paleogen dan Neogen. Endapan Paleogen meliputi Formasi
Hulusimpang dan endapan neogen termasuk Formasi Lemau dan
Bintunan. Dalam hal ini lokasi spesifik penelitian berada pada Formasi
Hulusimpang. Formasi Hulusimpang merupakan proses dari awal
pengendapan pada Cekungan Bengkulu yang selaras dengan Formasi
Talang Akar di Cekungan Sumatera Selatan, dengan umur Oligosen Akhir
– Miosen Awal. Formasi ini terbentuk pada fase trasisi darat – laut yang
memiliki ciri dengan kehadiran material karbonatan pada lapisan atas
formasi, sedangkan pada lapisan bawah formasi terdapat kehadiran produk
gunung api. Pada proses sedimentasi yang berlangsung, mengindikasikan
adanya pengaruh perubahan air laut sebagai fase awal transgresi dengan
lingkungan pengendapan beralih dari darat - transisi. Formasi
Hulusimpang tersusun atas lava, breksi gunung api, tuf, andesit, basalt dan
basalt- andesitik. Formasi ini terbentuk tidak selaras dan beda fasies
menjari dengan Formasi Seblat pada Miosen Awal (Yulihanto dkk., 1995).

B. Metode Penelitian
5
5

Metode yang digunakan dalam penelitian ini didasarkan pada data survei
lapangan, analisis laboratorium, dan data inti. Metode penelitian terdiri
dari penelitian lapangan dan analisis laboratorium berdasarkan pembuatan
sayatan tipis pada beberapa conto batuan. Analisis sayatan tipis dilakukan
pada 7 conto batuan andesit terindikasi mengalami ubahan yang tersebar
pada beberapa lokasi daerah penelitian. Pengamatan dilakukan secara
megaskopis dan mikroskopis untuk mengetahui komposisi mineral, tekstur
khusus mineral dan kaitannya terhadap proses alterasi yang mengontrol
batuan. Penggabungan data primer dan data sekunder bertujuan untuk
mendapatkan hasil yang lebih akurat dalam penentuan pengaruh alterasi
pada daerah penelitian.

C. Hasil

Berdasarkan pengolahan data secara megaskopis maupun mikroskopis,


andesit yang tersebar didaerah penelitian telah mengalami ubahan yang
memiliki karakteristik kristalinitas holokristalin, tekstur umum
inequigranular, tekstur porfiritik, aliran hyalopilitik, trakitik dan tekstur
khusus berupa zoning pada mineral plagioklas. Terdiri dari fenokris berupa
mineral felsik kuarsa dan plagioklas, mineral mafik hornblende, dan
mineral sekunder berupa mineral klorit, mineral lempung, kalsit, kuarsa
sekunder dan mineral sulfida pirit. Tergolong kedalam zona ubahan
propilitik pada temperatur 180°C-220° hingga 300°C (Reyes, 1998). Hasil
penelitian ini dapat dijadikan acuan mengenai studi alterasi hidrothermal
tipe propilitik secara petrologi dan petrografis serta dapat digunakan untuk
melakukan penelitian hal terkait lebih lanjut pada batuan andesit Formasi
Hulusimpang.

X. Judul : DAMPAK KEGIATAN PELEDAKAN PERTAMBANGAN


ANDESIT TERHADAP LINGKUNGAN PEMUKIMAN DI GUNUNG
SUDAMANIK KECAMATAN CIGUDEG KABUPATEN BOGOR
5
6

Penulis : Aljon Albertus Manotar Simbolon, Muhamad Yani, Irzaman

A. Latar Belakang

Aspek lingkungan hidup di Indonesia sering kali dipinggirkan dalam


pelaksanaan pembangunan demi memacu pertumbuhan ekonomi untuk
kesejahteraan sosial dan kemapanan budaya. Hal ini terlihat dari
dominannya aspek ekonomi dan social budaya dalam perencanaan dan
penetapan sebuah kebijakan. Menurut Sugandhy dan Hakim (2007) pola
pembangunan perlu memperhatikan fungsi sumberdaya alam dan
sumberdaya manusia, agar proses pembangunan terlaksana secara
berkelanjutan. Mengingat pemerintah memegang peranan strategis dalam
penetapan kebijakan pembangunan, maka salah satu konsep yang
diharapkan dapat menjadikan aspek lingkungan sebagai mainstream
pembangunan di Indonesia bersama-sama dengan aspek ekonomi dan
sosial budaya adalah konsep kepemerintahan lingkungan (environmental
governance). Menurut Keraf (2010) ada korelasi sangat positif antara
penyelenggaraan pemerintahan dengan pengelolaan lingkungan hidup, di
mana pemerintahan yang buruk akan menciptakan pengelolaan lingkungan
hidup yang buruk pula, dan pemerintahan yang baik akan menghasilkan
pengelolaan yang baik juga

B. Metode Penelitian

Pendekatan kuantitatif dipilih jika penelitian diinginkan untuk


menunjukkan hubungan antar variabel, menguji teori dan mencari
generalisasi yang mempunyai nilai prediktif. Oleh sebab itu pengumpulan
data yang diterapkan dalam penelitian ini adalah pendekatan kuantitatif
dengan melakukan pengukuran langsung pada lokasi peledakan batuan
andesit. Setiap sekali peledakan dikumpulkan empat macam data yang
meliputi kuantitas bahan peledak, jarak antara titik ledakan ke lokasi
minimate, tingkat getaran tanah dan intensitas bunyi yang diakibatkan
5
7

peledakan. Keempat macam data ini merupakan data primer yang


dikumpulkan dari lokasi peledakan batuan andesit

Analisis kuantitas bahan peledak dan jarak terhadap getaran tanah, dicoba
menerapkan analyze response surface dengan menggunakan software
Minitab. Ada empat macam model analisis yang tersedia pada software,
yaitu: linier, linier dan interaksi, linier dan kuadrat, serta kuadrat lengkap.
Model persamaan yang sesuai adalah model yang mempunyai galat
koefisien regresi dan galat ANOVA yang lebih kecil dari taraf nyata 5%
serta mempunyai koefisien determinasi R2 lebih besar dari 80%. Jika tidak
ada model yang sesuai, analisis dilanjutkan dengan menggunakan
persamaan Du Pont

Analisis kuantitas bahan peledak dan jarak terhadap TI bunyi ledakan,


dicoba menerapkan analyze response surface dengan menggunakan
software Minitab. Ada empat macam model analisis yang tersedia pada
software, yaitu: linier, linier dan interaksi, linier dan kuadrat, serta kuadrat
lengkap. Model persamaan yang sesuai adalah model yang mempunyai
galat koefisien regresi dan galat ANOVA yang lebih kecil dari taraf nyata
5% serta mempunyai koefisien determinasi R2 lebih besar dari 80%.Jika
tidak ada model yang sesuai, analisis dilanjutkan dengan menggunakan
persamaan bahwa hubungan antara TI bunyi dengan jarak adalah
5
8

berbentuk logaritma. Menurut Tipler (1991) TI bunyi memenuhi


persamaan

C. Hasil

Tingkat getaran tanah akibat peledakan pertambangan andesit masih di


bawah baku mutu SNI 7571: 2010, yang berarti bahwa kegiatan peledakan
tidak menyebabkan keretakan konstruksi rumah masyarakat pada
lingkungan pemukiman yang berada di sekitar pertambangan andesit.
Pengaruh kuantitas bahan peledak dan jarak secara simultan terhadap
tingkat getaran tanah memenuhi persamaan berbentuk pecahan eksponen
yang berbanding lurus jumlah maksimum delay bahan peledak berpangkat
0,8 dan berbanding terbalik jarak berpangkat 1,6 dengan koefisien pengali
365. Instansi pemerintah sebagai regulator dan pihak perusahaan tambang
dapat menggunakan persamaan (3) untuk memperkirakan jumlah
maksimum pemakaian bahan peledak agar tingkat getaran tanah akibat
peledakan masih di bawah baku mutu lingkungan.

Taraf intensitas bunyi ledakan akibat peledakan pertambangan andesit


masih di bawah baku mutu SNI 7570: 2010, yang berarti bahwa kegiatan
peledakan tidak menyebabkan kebisingan atau tidak mengganggu
kenyamanan masyarakat pada pemukiman yang berada di sekitar
pertambangan andesit. Pengaruh kuantitas bahan peledak yang sama dan
jarak secara simultan terhadap taraf intensitas bunyi ledakan memenuhi
persamaan berbentuk logaritma dari perbandingan jarak titik ledak ke
tempat pemukiman masyarakat.

J. Kerangka konseptual
5
9

Input Proses Hasil


Data Sekunder 1. pengujian berat jenis 1. Hasil pengujian kuat
pasir menggunakan tekan
1) Pengambilan metode pycnometer
sampel semen time sesuai dengan 2. Kasil pengujian porositas
PCC
American Society for
Testing and Materials
3. Hasil pengujian absorbs
2) Pengambilan
(ASTM) D-854
sampel pasir pantai 4. Hasil pengujian XRF
2. pengujian kadar

3) Pengambilan lumpur pasir sesuai 5. Hasil analisis dari


sampel batu andesit dengan SNI 03- 2461- keempat pengujian
2002
3. pemeriksaan kadar air
pada pasir
4. pengujian absorpsi
pasir
5. pengujian gradasi
pasir
6. pemeriksaan visual
serta menganalisa
komposisi kimia serta
fisik semen tipe PCC
7. Pemeriksaan batu
andesit dengan
karakterisasi
menggunakan XRF dan
XRD
8. Pengujian kuat tekan,
porositas dan absorbsi

Gamabr 6. Kerangka konseptual


6
0

K. Metode penelitian

1. Desain Penelitian
Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan alat penelitian berupa ball
mill merk Yuema Helical Geat type TR67-A-D112.M4 no. 01307.30166,
mixer B10 capacity 10 Liter serta rotation 360/164 rpm, beaker glass
Pyrex made in Thailand, 500 mL; 100 mL; 50 mL, cetakan kubus ukuran
5 x 5 x 5 cm, timbangan analog merk Five Goat capacity 5 kg serta
graduation 20 gr, timbangan digital merk Gold series Ohaus, panel
electrical furnace, oven merk Memmert, gelas ukur Pyrex 25 mL,
pycnometer Pyrex 50 mL, ayakan berukuran 2 mm; 0,5 mm; 0,42 mm;
0,354 mm; 0,250 mm dan 0,149 mm, mesin uji kuat tekan merk
Wykeham Farrance Engineering model capacity 1500 KN, mesin uji
XRF Type 7602 EA, mesin uji XRD Typenr 9430 030 40602, ember,
cawan, tumbukan, spatula, sarung tangan dan masker.

2. Jenis Penelitian
Jenis penelitian yang peneliti lakukan adalah penelitian terapan (applied
research). Menurut Sugiyono (2009:9-11), penelitian terapan adalah
menerapkan, menguji, mengevaluasi kemampuan suatu teori yang
diterapkan dalam memecahkan masalah-masalah praktis.
Penelitian terapan ini digolongkan menurut tujuan, penelitian yang
bertujuan untuk menemukan pengetahuan yang secara praktis dapat
diaplikasikan. Walaupun ada kalanya penelitian terapan juga untuk
6
1

mengembangkan produk penelitian dan pengembangan bertujuan untuk


menemukan, mengembangkan dan memvalidasi suatu produk.
3. Lokasi
Penelitian ini dilakukan pada bulan Januari 2017 sampai
Agustus 2017 di Laboratorium Non-Logam, Laboratorium Preparasi,
Laboratorium Analisis Kimia Balai Penelitian Teknologi Mineral – LIPI,
dan Laboratorium Beton Teknik Sipil Fakultas Teknik Universitas
Lampung.

4. Teknik Pengumpulan Data


Dalam teknik pengumpulan data dilakukan dengan cara yaitu Studi
[Link] mengumpulkan data yang dibutuhkan dengan membaca
buku- buku literatur yang berkaitan dengan masalah yang akan dibahas
dan data- data serta arsip perusahaan sehingga dapat digunakan sebagai
landasan dalam pemecahan masalah.
L. Diagram alir penelitian
6
2

Secara garis besar, tahapan yang dilakukan pada penelitian ini disajikan
dalam diagram alir pada Gambar

M. Daftar pustaka

Adibroto, F. 2014. Pengaruh Penambahan Berbagai Jenis Serat Pada Kuat


Tekan Paving Block. Jurnal Rekayasa Sipil. 10(1): 1-11. ISSN: 1858-
2133.
Afif, M. 2013. Pengaruh Penambahan Silica Fume Dan Superplasticizer
Dengan Pemakaian Semen Tipe PPC Dan Tipe PCC Terhadap
6
3

Peningkatan Mutu Beton [Skripsi]. Semarang: Universitas Negeri


Semarang.
Aruntas, H. Y., Guru, M., Mustafa, D., and Ilker, T. 2010. Utilization Of
Waste Marble Dust As An Additive In Cement Production. Materials and
Design. 31:4039-4042.
ASTM C 618-86. Standard Specification for Fly Ash and Raw or
Calcined Natural Pozzolan For Use as Mineral Admixture in Portland
Cement Concrete. American Society for Testing and Materials.
ASTM C 618-92a. Standard Specification of Pozzolan. American Society
for Testing and Materials.
ASTM C 593-82. Standard Specification for Fly Ash and Raw or
Calcined Natural Pozzolan For Use as Mineral Admixture in Portland
Cement Concrete. American Society for Testing and Materials.
ASTM D-854. Standard Test Method for Specific Gravity of Soil Solids
by Water Pycnometer. American Society for Testing and Materials.
ASTM D-2216. Standard Method of Laboratory Determination of
Moisture Content of Soil. American Society for Testing and Materials.
Astuti, A. W., 2006. Perancangan Kegiatan Perawatan Yang Optimal
Dengan Menggunakan Metode Reliability Centered Maintenance II
(RCM II) [Tugas Akhir]. Surabaya: ITS.
Aydin, S., Yazici, H., and Bulent, B. 2008. High Temperature Resistance
of Normal Strength and Autoclaved High Strength Mortars Incorporated
Polypropylene and Steel Fibers. Construction and Building Materials. 22:
504-512.
Badan Geologi Indonesia. 2011. Data Dasar Gunung Api Indonesia,
Edisi ke-2.
Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral. Bandung.
Craig, R. F. 1991. Mekanika Tanah. Jakarta: Erlangga.
Delvita, H., Djamas, D., dan Ramli. Pengaruh Variasi Temperatur
Kalsinasi terhadap Karakteristik Kalsium Karbonat (CaCO3 dalam
Cangkang Keong Sawah (Pila ampullacea) yang terdapat di Kabupaten
6
4

Pasaman. Pillar of Physics. 6: 17-24.


Dinas Pertambangan dan Energi Provinsi Lampung. 2014. Potensi Bahan
Galian Lampung.
Direktorat Penyelidikan Masalah Bangunan. 1982. Persyaratan Umum
Bahan Bangun Bangunan di Indonesia (PUBI-1982). Jakarta: Depdikbud.
Dumyanti, A., and Manalu, D. F. 2015. Analisis Penggunaan Pasir Pantai
Sampur Sebagai Agregat Halus Terhadap Kuat Tekan Beton. Jurnal
Fropil. 3(1): 1-13.
Fansuri, H. 2010. Modul Pelatihan Operasional XRF. Laboratorium
Energi dan Rekayasa. LPPM ITS.
Ginting, A. 2015. Kuat Tekan dan Porositas Beton Porous Dengan Bahan
Pengisi Styrofoam. Jurnal Teknik Sipil. 11(2): 76-168.
Hambali, M., Lesmania, I., Midkasna, A. 2013. Pengaruh Komposisi
Kimia Bahan Penyusun Paving Block terhadap Kuat Tekan dan Daya
Serap Airnya. Jurnal Teknik Kimia. 19(4): 14-21.
Irawati, N., Putri, N. T., dan Alexie, H. 2015. Strategi Perencanaan
Jumlah Material Tambahan Dalam Memproduksi Semen Dengan
Pendekatan Taguchi Untuk Meminimalkan Biaya Produksi (Study Kasus
PT Semen Padang). Jurnal Optimasi Sistem Industri. 14(1):159-172.
ISSN 2088- 4842.
Istiwarni. 2009. Analisa Paving Block dan Limbah Karbit [Skripsi].
Yogyakarta : Universitas Negeri Yogyakarta.
Kardiyono, T. J. 2000. Teknologi Beton. Yogyakarta : Navitri.
Khosama, L. K. 2012. Kuat Tekan Beton Beragregat Kasar batuan Tuff
Merah, Batuan Tuff Putih, dan Batuan Andesit. Jurnal Ilmiah Media
Engineering. 2(1): 1-10. Hal 273-278. ISSN 2087-9334.
Kriswarini, R., Anggraini, D dan Agus, D. 2010. Validasi Metoda XRF
(X-Ray Fluorescence) secara Tunggal dan Simultan untuk Analisis Unsur
Mg, Mn

Anda mungkin juga menyukai