TUGAS MANAGEMEN MUTU
STANDAR NASIONAL INDONESIA (SNI)
DISUSUN OLEH :
KELOMPOK VI
1. ANDY KURNIAWAN NIT. 16252931
2. BAYU ABDI SUCIPTA NIT. 16252936
3. GANDHIS SULISTYORINI NIT. 16252982
4. IIS TADU NIT. 16252948
5. NURDIN EKO PAMBUDI WIYONO NIT. 16252996
6. PRAWIRA DANU REJA NIT. 16252999
SEMESTER VII / PERPETAAN
KEMENTERIAN AGRARIA DAN TATA RUANG / BPN
SEKOLAH TINGGI PERTANAHAN NASIONAL
PROGRAM DIPLOMA IV PERTANAHAN
2019
STANDAR NASIONAL INDONESIA (SNI)
Standardisasi di Indonesia diatur dalam Peraturan Pemerintah RI Nomor
102 Tahun 2000 tentang Standardisasi Nasional yang selanjutya disebut PP
0
Nomor 102 Tahun 2000, yang mencakup Metrologi Teknik (Standar Nasional
Satuan Ukuran dan Kalibrasi), Standar, Pengujian, dan Mutu. Konsep tersebut
mengacu pada konsep internasional tentang Measurement, Standard, Testing and
Quality Management (MSTQ) Infrastructure.
Standar Nasional Indonesia (SNI), berdasarkan Pasal 1 angka 3 Peraturan
Pemerintah Nomor 102 Tahun 2000 tentang Standardisasi Nasional, SNI adalah
standar yang ditetapkan oleh Badan Standarisasi Nasional (BSN) dan berlaku
secara nasional dan satu-satunya standar yang berlaku secara nasional di
Indonesia. SNI dirumuskan oleh Komite Teknis (dulu disebut sebagai Panitia
Teknis) dan kemudian ditetapkan oleh BSN. Tujuan dari Standarisasi Nasional
sesuai dengan Pasal 3 PP Nomor 102 Tahun 2000 adalah untuk:
a. Meningkatkan perlindungan kepada konsumen, pelaku usaha, tenaga kerja
dan masyarakat lainnya baik untuk keselamatan, keamanan, kesehatan
maupu pelestarian fungsi lingkungan hidup.
b. Membantu kelancaran perdagangan
c. Mewujudkan persaingan usaha yang sehat dalam perdagangan.
Agar SNI memperoleh keberterimaan yang luas antara para stakeholder,
maka SNI dirumuskan dengan memenuhi WTO Code of good practice, yaitu:
a. Openess (keterbukaan)
Terbuka bagi agar semua stakeholder yang berkepentingan dapat
berpartisipasi dalam pengembangan SNI;
b. Transparency (transparansi)
Transparan agar semua stakeholder yang berkepentingan dapat
mengikuti perkembangan SNI mulai dari tahap pemrograman dan
perumusan sampai ke tahap penetapannya . Dan dapat dengan
mudah memperoleh semua informsi yang berkaitan dengan
pengembangan SNI;
c. Consensus and impartiality (konsensus dan tidak memihak)
Tidak memihak dan konsensus agar semua stakeholder dapat
menyalurkan kepentingannya dan diperlakukan secara adil;
d. Effectiveness and relevance
1
Efektif dan relevan agar dapat memfasilitasi perdagangan karena
memperhatikan kebutuhan pasar dan tidak bertentangan dengan
peraturan perundang-undangan yang berlaku;
e. Coherence
Koheren dengan pengembangan standar internasional agar
perkembangan pasar negara kita tidak terisolasi dari perkembangan
pasar global dan memperlancar perdagangan internasional; dan
f. Development dimension (berdimensi pembangunan)
Berdimensi pembangunan agar memperhatikan kepentingan publik
dan kepentingan nasional dalam meningkatkan daya saing
perekonomian nasional.
Sejalan dengan perkembangan kemampuan nasional di bidang standardisasi
dan dalam mengantisipasi era globlalisasi perdagangan dunia, AFTA (2003) dan
APEC (2010/2020), kegiatan standardisasi yang meliputi standar dan penilaian
kesesuaian (conformity assessment) secara terpadu perlu dikembangkan secara
berkelanjutan khususnya dalam memantapkan dan meningkatkan daya saing
produk nasional, memperlancar arus perdagangan dan melindungi kepentingan
umum. Untuk membina, mengembangkan serta mengkoordinasikan kegiatan di
bidang standardisasi secara nasional menjadi tanggung jawab Badan Standardisasi
Nasional. (Sumber Strategi BSN 2006-2009)
Manfaat Penetapan pemberlakuan SNI dilakukan untuk kesehatan,
keamanan, keselamatan manusia, hewan dan tumbuhan, pelestarian fungsi
lingkungan hidup, persaingan usaha yang sehat, peningkatan daya saing, dan/atau
peningkatan efisiensi serta kinerja industri. Serta menghadapi Asean Economic
Community (AEC) atau Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) yang berlaku pada
Desember 2015, SNI sangat dibutuhkan untuk meningkatkan daya saing produk
dalam negeri.
Ada dua jenis SNI yaitu yang bersifat wajib yang bersifat sukarela.
Berdasarkan Pasal 12 ayat (2) PP Nomor 102 Tahun 2000, Prinsip penerapan SNI
sendiri sesungguhnya bersifat sukarela. Akan tetapi, untuk tujuan tertentu seperti
(1) perlindungan konsumen, tenaga kerja yang membuat produk, dan masyarakat
2
dari aspek keselamatan, keamanan, dan kesehatan, (2) pertimbangan keamanan
negara, (3) tuntutan perkembangan ekonomi dan kelancaran iklim usaha dan
persaingan yang sehat, atau (4) pelestarian fungsi lingkungan hidup, maka
pemerintah menetapkan produk-produk tertentu yang wajib memiliki SNI
sebelum diedarkan di masyarakat.
Berikut ini adalah peran pemerintah dalam penetapan produk SNI:
a. Berhati-hati, jangan sampai menghambat produktivitas dan kreativitas
masyarakat dalam menciptakan produk ekonomis.
b. Melindungi usaha mikro, kecil dan menengah, sehingga penetapan standar
SNI justru mendorong mereka meningkatkan daya saing dan menaikkan
kualitas barang/ jasa yang diproduksi.
c. Jangan sampai penerapan wajib SNI menimbulkan persaingan usaha yang
tidak sehat antarpelaku (produsen atau pemilik merek dagang).
d. Melalui Badan Standardisasi Nasional (BSN) memberikan layanan cuma-
cuma untuk produsen berskala mikro dan kecil untuk mendapatkan SNI
atas produk mereka.
e. Mengedepankan fungsi pembinaan dibandingkan pengawasan yang
merugikan usaha mikro kecil.
Cara yang paling baik adalah membatasi penerapan SNI wajib bagi kegiatan
atau produk yang memiliki tingkat risiko yang cukup tinggi, sehingga pengaturan
kegiatan dan peredaran produk mutlak diperlukan. Pemberlakuan SNI wajib perlu
didukung oleh pengawasan pasar, baik pengawasan pra-pasar untuk menetapkan
kegiatan atau produk yang telah memenuhi ketentuan SNI wajib tersebut maupun
pengawasan pasca- pasar untuk mengawasi dan mengkoreksi kegiatan atau produk
yang belum memenuhi ketentuan SNI itu.
Apabila fungsi penilaian kesesuaian terhadap SNI yang bersifat sukarela
merupakan pengakuan, maka bagi SNI yang bersifat wajib penilaian kesesuaian
merupakan salah satu persyaratan yang harus dipenuhi oleh semua pihak yang
terkait. Dengan demikian penilaian kesesuaian berfungsi sebagai bagian dari
pengawasan pra-pasar yang dilakukan oleh regulator.
Pelaku usaha dilarang memproduksi dan atau mengedarkan barang dan atau
jasa, yang tidak memenuhi atau tidak sesuai dengan SNI yang telah diberlakukan
3
secara wajib. Pelaku usaha, yang barang dan atau jasanya telah memperoleh
sertifikat produk dan atau tanda SNI dilarang memproduksi dan mengedarkan
barang dan atau jasa yang tidak memenuhi SNI.
Sanksi bagi pelaku usaha yang melakukan pelanggaran:
a. Sanksi administratif, berupa pencabutan sertifikat produk, pencabutan
hak penggunaan tanda SNI, pencabutan izin usaha,bahkan penarikan
barang dari peredaran.
b. Sanksi pidana, berupa pidana sesuai perundang undangan yang
berlaku.
Standar SNI dikenakan pada berbagai produk seperti tabung LPG, helm,
lampu, kabel listrik, pupuk, kopi, teh, kakao, minuman, berbagai jenis minyak,
gula, tepung, produk besi dan baja, kaca, karet, ban, dan berbagai bahan
konstruksi. Bagi produsen, prosedur mengurus SNI tentu menjadi hal yang
penting untuk dipahami.
Berikut beberapa contoh tentang pemberlakuan SNI secara wajib:
1. Peraturan Menteri Perindustrian (Permenperin) Nomor 35/M-IND/
ER/4/2007 tanggal 17 April 2007 tentang Pemberlakuan Standard
Nasional Indonesia (SNI) Semen Secara Wajib dan mulai berlaku enam
bulan setelah tanggal ditetapkan.
2. SNI wajib dipenuhi produsen dan importir pupuk menyusul diterbitkannya
Permenperin No. 19/M-IND/Per/2/2009 tentang Pemberlakuan SNI Pupuk
Secara Wajib.
3. Pemerintah Republik Indonesia melalui Kementerian Perindustrian,
mengeluarkan Peraturan Menteri Perindustrian nomor : 24/M-
IND/PER/4/2013 tentang Pemberlakuan Standar Nasional Indonesia (SNI)
Mainan secara wajib. Namun, sejak diberlakukan pada Oktober 2013,
hanya 2% importir yang melabeli produknya dengan label SNI.
Pemerintah padahal sudah menerbitkan Peraturan Menteri Perindustrian
Nomor 24 Tahun 2013 mengenai Pemberlakuan SNI Mainan secara wajib.
Mengingat bahwa pemberlakuan regulasi teknis di suatu negara juga
berlaku untuk produk impor, maka untuk menghindarkan terjadinya hambatan
4
perdagangan internasional/ negara anggota WTO termasuk Indonesia telah
menyepakati Agreement on Technical Barrier to Trade (TBT) dan Agreement on
Sanitary and Phyto Sanitary Measures (SPS). Upaya pengurangan hambatan
perdagangan tersebut akan berjalan dengan baik apabila masing-masing negara
dalam memberlakukan standar wajib, menerapkan Good Regulatory Practices.
Supaya penetapan SNI dapat dipertanggungjawabkan, ada beberapa prinsip
etis atau dari sisi manfaat, setidaknya ada tiga pihak yang memperoleh manfaat
langsung atas penerapan SNI suatu produk.
a. Produsen.
SNI mendorong terciptanya suatu produk dengan standar tertentu, yang
hanya bisa dihasilkan jika proses produksinya memenuhi kriteria tertentu.
Untuk mencapai itu, produsen akan berusaha untuk mencari proses yang
efisien dan efektif, mulai dari pemilihan bahan baku, proses produksi,
sampai dengan pengemasan dan distribusi. Dengan kata lain, produsen
akan terus melakukan inovasi sehingga produk yang dihasilkannya
memiliki daya saing di pasar.
b. Konsumen.
Adanya SNI akan membantu konsumen untuk memilih produk yang
berkualitas. Adanya SNI akan membantu konsumen terbebas dari produk
yang berbahaya bagi keselamatan hidup, kesehatan, ataupun lingkungan.
SNI juga membuat konsumen dapat menikmati barang yang sesuai antara
harga dan kualitasnya.
c. Pemerintah.
Adanya SNI membuat pasar di dalam negeri memiliki mekanisme
perlindungan dari serbuan barang-barang asing yang tidak diketahui
kualitasnya. Manfaat yang lain, dengan penerapan SNI yang lebih luas,
maka akan tumbuh dinamika ekonomi baru, di mana para produsen akan
berusaha untuk mendapatkan SNI atas produk mereka, sedangkan di
masyarakat akan tumbuh lebih banyak lembaga sertifikasi produk yang
juga kredibel untuk menilai dan menguji suatu produk.
Penerapan SNI dilakukan melakui kegiatan sertifikasi dan akreditasi.
Sertifikasi adalah rangkaian kegiatan penerbitan sertifikat terhadap barang atau
jasa. Kemudian akreditasi adalah rangkaian kegiatan pengakuan formal oleh
5
Komite Akreditasi Nasional (KAN), yang menyatakan bahwa suatu lembaga/
laboraturium telah memenuhi persyaratan untuk melakukan kegiatan sertifikasi
tertentu. Sertifikasi dilakukan oleh lembaga sertifikasi, lembaga inspeksi, lembaga
pelatihan atau laboraturium.
Terhadap barang dan atau jasa, proses, sistem dan personel yang telah
memenuhi ketentuan/ spesifikasi teknis SNI dapat diberikan sertifikat dan atau
dibubuhi tanda SNI (Pasal 14 ayat [1] PP 102/2000). Sertifikat itu sendiri adalah
jaminan tertulis yang diberikan oleh lembaga/laboratorium yang telah diakreditasi
untuk menyatakan bahwa barang, jasa, proses, sistem atau personel telah
memenuhi standar yang dipersyaratkan (Pasal 1 angka 12 PP Nomor 102 Tahun
2000). Sedangkan, Tanda SNI adalah tanda sertifikasi yang dibubuhkan pada
barang kemasan atau label yang menyatakan telah terpenuhinya persyaratan
Standar Nasional Indonesia (Pasal 1 angka 13 PP 102/2000).
Tata cara permohonan Sertifikat Produk Penggunaan Tanda (SPPT) SNI
kepada Lembaga Sertifikasi Produk Pusat Standarisasi (LSPro-Pustan)
Departemen Perindustrian (Deperin) seperti yang dipaparkan dalam dokumen
LSPro-Pustan/P.19.:
1. Mengisi Formulir Permohonan SPPT SNI
Daftar isian permohonan SPPT SNI dilampiri:
a) Fotokopi Sertifikasi Sistem Manajemen Mutu SNI 19-9001-2001 (ISO
9001:2000) yang dilegalisir. Sertifikasi tersebut diterbitkan Lembaga
Sertifikasi Sistem Mutu (LSSM) yang diakreditasi Komite Akreditasi
Nasional (KAN).
b) Jika berupa produk impor perlu dilengkapi sertifikat dari LSSM
negara asal dan yang telah melakukan Perjanjian Saling Pengakuan
(Mutual Recognition Arrangement/MRA) dengan KAN.
Proses pada tahap pertama ini biasanya berlangsung selama satu hari.
2. Verifikasi Permohonan
LSPro-Pustan melakukan verifikasi meliputi : semua persyaratan untuk
SPPT SNI, jangkauan lokasi audit, kemampuan memahami bahasa setempat
(jika ada kesulitan, perlu penerjemah bahasa setempat untuk audit
6
kesesuaian). Selanjutnya akan terbit biaya (invoice) yang harus dibayar
produsen. Proses verifikasi perlu waktu satu hari.
3. Audit Sistem Manajemen Mutu Produsen
a) Audit Kecukupan (tinjauan dokumen): Memeriksa kelengkapan dan
kecukupan dokumen sistem manajemen mutu produsen terhadap
persyaratan SPPT SNI. Bila hasilnya ditemukan ketidaksesuaian
kategori mayor maka permohonan harus melakukan koreksi dalam
jangka waktu dua bulan. Jika koreksi produsen tidak efektif,
permohonan SPPT SNI akan ditolak.
b) Audit Kesesuaian: Memeriksa kesesuaian dan keefektifan penerapan
Sistem Manajemen Mutu di lokasi produsen. Bila hasilnya ditemukan
ketidaksesuaian, pemohon harus melakukan koreksi dalam jangka
waktu dua bulan. Jika tindakan koreksinya tidak efektif, maka LSPro-
Pustan Deperin akan melakukan audit ulang. Bila hasil audit ulang
tidak memenuhi persyaratan SNI, pemohonan SPPT SNI produsen
ditolak.
Proses audit biasanya perlu waktu minimal 5 hari.
4. Pengujian Sampel Produk
Jika diperlukan pengambilan sampel untuk uji laboratorium, pemohon
menjamin akses Tim Asesor dan Petugas Pengambil Contoh (PPC) untuk
memperoleh catatan dan dokumen yang berkaitan dengan Sistem
Manajemen Mutu. Sebaliknya, LSPro-Pustan Deperin menjamin para
petugasnya ahli di bidang tersebut. Pengujian dilakukan di laboratorium
penguji atau lembaga inspeksi yang sudah diakreditasi. Jika dilakukan di
laboratorium milik produsen., diperlukan saksi saat pengujian. Sampel
produk diberi Label Contoh Uji (LCU) dan disagel. Proses ini butuh waktu
minimal 20 hari kerja.
5. Penilaian Sampel Produk
Laboratorium penguji menerbitkan Sertifikasi Hasil Uji. Bila hasil
pengujian tidak memenuhi persyaratan SNI, pemohon diminta segera
7
melakukan pengujian ulang. Jika hasil uji ulang tak sesuai persyaratan SNI,
permohonan SPPT SNI ditolak.
6. Keputusan Sertifikasi
Seluruh dokumen audit dan hasil uji menjadi bahan rapat panel Tinjauan
SPPT SNI LSPro-Pustan Deperin. Proses penyiapan bahan biasanya perlu
waktu 7 hari kerja, sementara rapat panel sehari.
7. Pemberian SPPT-SNI
LSPro-Pustan melakukan klarifikasi terhadap perusahaan atau produsen
yang bersangkutan. Proses klarifikasi ini perlu waktu 4 hari kerja.
Keputusan pemberian sertifikat oleh Panel Tinjauan SPPT SNI didasarkan
pada hasil evaluasi produk yang memenuhi : kelengkapan administrasi
(aspek legalitas), ketentuan SNI, dan proses produksi serta sistem
manajeman mutu yang diterapkan dapat menjamin konsistensi mutu produk.
Jika semua syarat terpenuhi, esoknya LSPro-Pustan Deperin menerbitkan
SPPT SNI untuk produk pemohon.
8. Biaya Pengurusan SNI
Biaya Pengurusan SNI diatur dalam Peraturan Pemerintah RI Nomor 47
Tahun 2011, yang berlaku pada Kementerian Perindustrian.
Perlunya Survey Kadaster Ber- SNI
Kementerian Agraria dan Tata Ruang/BPN telah menerbitkan Peraturan
Pemerintah Negara Agraria/Kepala Pertanahan Nasional Nomor 3 Tahun 1997
tentang Ketentuan Pelaksanaan Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 1997
tentang Pendaftaran Tanah, akan tetapi persepsi dan implementasinya di lapangan
ternyata berbeda-beda. Dengan adanya perbedaan dalam pelaksanaan survey
kadaster di beberapa daerah seperti disebutkan pada uraian di atas perlu adanya
upaya untuk dilakukan restandarisasi survey kadaster yang disepakati bersama
agar tidak terjadi persepsi yang berbeda-beda dalam hal mengatasi permasalahan
yang dihadapi di lapangan (Kusmiarto, 2015). Restandarisasi tersebut diperlukan
instrumen untuk mengatasi permasalahan yang banyak dihadapi dalam penerapan
standar yang telah ada. Disamping itu juga, instrumen baru tersebut harus
8
memperhatikan dan mempertahankan prinsip-prinsip dasar survey kadaster.
Instrumen tersebut dapat berupa Standar Nasional Indonesia (SNI) yang juga telah
dipergunakan oleh banyak instasi baik sektor swasta dan sektor pemerintah untuk
menjamin bahwa proses dan produk-produk hasil pelayanan pertanahan telah
dilaksanakan dan dibuat dengan kualitas yang baik yang sesuai dengan SNI
(Kusmiarto, 2016).
Sebagai contoh di Badan Informasi Geospasial (BIG), beberapa regulasi
teknis BIG yang telah ber-SNI antara lain: SNI Jaring Kontrol Gaya Berat, SNI
Jaring Kontrol Vertikal Metode Sipat Datar, SNI Jaring Kontrol Horizontal, SNI
Survey Hidrografi.
ATR/BPN dalam menyusun regulasi teknis yang berlaku secara nasional
sudah selayaknya menggunakan standar yang berlaku secara nasional. Sehingga
diperlukan instrumen yang disusun dan disepakati bersama dan tetap dalam
koridor hokum yang berlaku serta tidak menyimpang dari prinsip-prinsip dasar
kadaster. SNI Survey Kadaster diperlukan untuk menyamakan persepsi dan
mengatasi permasalahan yang dihadapi dalam penerapan (Peraturan dan Petunjuk
Teknis) survey kadaster yang telah ada di Kementerian ATR/BPN. Mungkin
seperti: SNI prosedur pengukuran dan pemetaan, SNI GU, SNI Peralatan
Pengukuran dan Pemetaan, ataupun SNI Kompetensi Petugas Ukur.