SATUAN ACARA PENYULUHAN
TOPIK : DIABETES MELITUS
WAKTU : 20 MENIT
TEMPAT : RUANG KOMODO
HARI/TANGGAL : SABTU, 7 DESEMBER 2019
SASARAN : PASIEN DAN KELUARGA PASIEN
[Link]
1. Tujuan Umum
Setelah diberikan penyuluhan diharapkan agar pasien dapat memahami tentang
diabetes melitus.
2. Tujuan Khusus
Diharapkan setelah diberi penyuluhan, pasien dapat :
- Menjelaskan pengertian dari DM
- Menyebutkan klasifikasi dari DM
- Menyebutkan penyebab dari DM
- Menyebutkan tanda dan gejala dari DM
- Menjelaskan cara penanganan dari DM
- Menjelaskan cara pencegahan dari DM
B. MATERI
1. Pengertian dari DM
2. Klasifikasi dari DM
3. Penyebab dari DM
4. Tanda dan gejala dari DM
5. Cara penanganan dari DM
6. Cara pencegahan dari DM
C. STRATEGI KEGIATAN
No TAHAP KEGIATAN
Penyuluh Audiens WAKTU
1 Pendahuluan Salam pembukaan Mendengarkan 5 menit
Perkenalan
Menjelaskan Tujuan
2 Pelaksanaan 1. Memberikan Mendengar, 10 menit
Dan Tanya ceramah tentang memperhatikan
jawab dan mencatat
- Pengertian dari DM
- Klasifikasi dari DM
- Penyebab dari DM
- Tanda dan gejala dari Audiens bertanya
DM
- Cara penanganan pada
DM
- Cara pencegahan pada
DM
2. Memberikan
kesempatan kepada
audiens untuk
bertanya
3. Menjawab
pertanyaan audiens
3 Penutup Mengevaluasi dengan Menjawab 5 menit
mengajukan kembali pertanyaan yang
pertanyaan diberikan secara
Membuat kesimpulan benar dan tepat
Salam penutup Mendengar dan
memperhatikan
D. PENGORGANISASIAN
1. Moderator :
2. Penyaji :
3. Observer :
4. Notulen :
E. METODE
Ceramah dan tanya jawab
F. MEDIA
SAP, leaflet
H. EVALUASI
Apa itu DM?
Sebutkan klasifikasi dari DM
Apa penyebab dari DM?
Sebutkan tanda dan gejala dari DM!
Bagaiman cara penanganan dari DM?
Bagaimana cara pencegahan dari DM?
H. RUJUKAN
Smeltzer, Suzanne C, (2002). Buku Ajar Asuhan Keperawatan. Yogjakarta : Nuha
Medika
Brunner dan Suddarth, (2001). Aplikasi Asuhan Keperawatan. Yogjakarta : Nuha
Medika
MATERI PENYULUHAN
A. Pengertian
- Diabetes melitus adalah gangguan metabolisme yang ditandai dengan
hiperglikemia yang berhubungan dengan abnormalitas metabolisme
karbohidrat, lemak, dan protein yang disebabkan oleh penurunan sekresi
insulin atau penurunan sensitivitas insulin atau keduanya dan menyebabkan
komplikasi kronis (Amin Huda, 2013).
- Keadaan giperglikemia kronik disertai berbagai kelainan metabolik akibat
gangguan hormonal yang menimbulkan komplikasi pada mata, ginjal, saraf,
dan pembuluh darah. (dr. Taufan, 2011).
- Menurut kami, Diabetes melitus (DM) atau bahasa awam dikenal dengan
nama kencing manis adalah suatu penyakit yang disebabkan karena adanya
peningkatan kadar gula (glukosa) dalam darah akibat kekurangan insulin.
B. Klasifikasi
Berdasarkan klasifikasi dari WHO (1985) dibagi beberapa type yaitu :
1. Diabetes Mellitus type insulin, Insulin Dependen Diabetes Mellitus (IDDM)
yang dahulu dikenal dengan nama Juvenil Onset Diabetes (JOD), penderita
tergantung pada pemberian insulin untuk mencegah terjadinya ketoasidosis
dan mempertahankan hidup. Biasanya pada anak-anak atau usia muda, dapat
juga disebabkan karena keturunan. Insulin – Dependent Diabetes Melitus
(IDDM) atau tipe I yang tergantung pada insulin. Umumnya dimulai dari usia
muda yang memerlukan suntikan insulin secara teratur agar penderita tetap
sehat.
2. Diabetes Mellitus type II, Non Insulin Dependen Diabetes Mellitus
(NIDDM), yang dahulu dikenal dengan nama Maturity Onset Diabetes
(MOD) terbagi dua yaitu :
1.) Non obesitas
2.) Obesitas
Disebabkan karena kurangnya produksi insulin dari sel beta pancreas, tetapi
biasanya resistensi aksi insulin pada jaringan perifer. Biasanya terjadi pada
orang tua (umur lebih 40 tahun) atau anak dengan obesitas. Non – Insulin –
Dependent Diabetes Melitus (NIDDM) atau tipe II yang tidak tergantung
pada insulin dan berkaitan dengan usia, umumnya penderita berusia
menengah atau lanjut dan dapat dikontrol dengan tablet atau diet.
Diabetes Mellitus type lain
Diabetes oleh beberapa sebab seperti kelainan pancreas, kelainan hormonal,
diabetes karena obat/zat kimia, kelainan reseptor insulin, kelainan genetik dan
lain-lain.
Obat-obat yang dapat menyebabkan huperglikemia antara lain :
Furasemid, thyasida diuretic glukortikoid, dilanting dan asam hidotinik
Diabetes Gestasional (diabetes kehamilan) intoleransi glukosa selama
kehamilan, tidak dikelompokkan kedalam NIDDM pada pertengahan
kehamilan meningkat sekresi hormon pertumbuhan dan hormon chorionik
somatomamotropin (HCS). Hormon ini meningkat untuk mensuplai asam
amino dan glukosa ke fetus.
Sistem untuk klasifikasi DM dikembangkan oleh The National Diabetes Data
Group of the National Institutes of Health (USA) dengan masukan dari Word
Health Organization tahun 1985 adalah :
1. IDDM ( DM Type 1 ).
Diabetes tipe I ditandai dengan sekresi insulin oleh pankreas tidak ada dan
sering terjadi pada orang muda. Secara normal, insulin bekerja untuk
menurunkan kadar glukosa darah dengan membolehkan glukosa masuk
kedalam sel untuk dimetabolisme. Caranya dengan mengikat dirinya secara
kuat pada tempat reseptor pada membran sel. Efek utama metabolik insulin
adalah di otot dan jaringan adiposa. Pada orang diabetes, kekurangan atau
ketiadaan insulin menimbulkan kelaparan pada jaringan ini dan ini
menjelaskan mengapa pasien menjadi lelah dan berat badan menurun.
Karena insulin tidak digunakan, terjadi penumpukan didalam darah pada orang
diabet dan meluap kedalam urine yang menyebabkan haus dan keluarnya urine
dalam jumlah yang banyak. Lebih lanjut masalah ini akan menimbulkan
komplikasi physiologic, kecuali kalau diberikan penggantian insulin. Sehingga
orang yang menderita DM Tipe I perlu injeksi insulin secara teratur dalam
hidupnya untuk mencegah ketosis. Suatu komplikasi yang muncul,akibat
gangguan metabolisme lemak. Untuk alasan ini, DM tipe I dikenal sebagai
IDDM (Insulin Dependent Diabetes Melitus).
Pulau langerhans manusia, mengandung tiga jenis sel utama, yaitu :
- Sel - sel A ( alpha ), jumlahnya sekitar 20 - 40 % ; memproduksi glikagon
yang manjadi faktor hiperglikemik, suatu hormon yang mempunyai “anti
insulin like activity“.
- Sel - sel B (betha), jumlahnya sekitar 60 - 80 % , membuat insulin.
- Sel - sel D (delta), jumlahnya sekitar 5 - 15 %, membuat somatostatin.
2. NIDDM ( DM Type 2 ).
Type II akibat dari tidak sensitifnya reseptor insulin terhadap insulin yang
sudah tersedia. Pada kelompok ini diit khusus diajurkan untuk menurunkan BB
dan diberikan tablet untuk merangsang pancreas untuk mensekresi lebih
banyak insulin. Karena tidak dibutuhkan insulin maka diabetes tipe II dikenal
sebagai NIDDM (Non Insulin Dependent Diabetes melitus). Diabetes Mellitus
Tidak Tergantung Insulin disebabkan kegagalan relatif sel β pulau Langerhans
dan resistensi insulin. Resitensi insulin adalah turunnya kemampuan insulin
untuk merangsang pengambilan glukosa oleh jaringan perifer dan untuk
menghambat produksi glukosa oleh hati. Sel β tidak mampu mengimbangi
resistensi insulin ini sepenuhnya, artinya terjadi defisiensi relatif insulin.
Ketidakmampuan ini terlihat dari berkurangnya sekresi insulin pada
rangsangan glukosa, maupun pada rangsangan glukosa bersama bahan
perangsang sekresi insulin lain. Berarti sel β pankreas mengalami desensitisasi
terhadap glukosa (Mansjoer, A., 1999).
Orang-orang yang DM saat hamil atau gestational diabetes (GDM) biasanya
dikenal sebagai type II. Faktor risiko Diabetes Mellitus tipe II antara lain usia,
obesitas, riwayat keluarga dengan Diabetes Mellitus tipe II, etnis, , kebiasaan
diet, kurang berolahraga, wanita dengan hirsutisme, dan/atau penyakit ovarium
polikistik, diabetes gestasional, dan/atau dengan berat badan bayi lebih dari 4
kg saat dilahirkan.
C. Etiologi
Etiologi dari Diabetes Mellitus sampai saat ini masih belum diketahui
dengan pasti dari studi-studi eksperimental dan klinis kita mengetahui bahwa
Diabetes Mellitus adalah merupakan suatu sindrom yang menyebabkan
kelainan yang berbeda-beda dengan lebih satu penyebab yang mendasarinya.
Menurut banyak ahli beberapa faktor yang sering dianggap penyebab yaitu :
a. Faktor genetik
Riwayat keluarga dengan diabetes :
Pincus dan White berpendapat perbandingan keluarga yang menderita
Diabetes Mellitus dengan kesehatan keluarga sehat, ternyata angka
kesakitan keluarga yang menderita Diabetes Mellitus mencapai 5, 33 % bila
dibandingkan dengan keluarga sehat yang memperlihatkan angka hanya 1,
96 %.
b. Faktor non genetic
- Infeksi
Virus dianggap sebagai “trigger” pada mereka yang sudah mempunyai
predisposisi genetic terhadap Diabetes Mellitus.
- Nutrisi
Obesitas (kegemukan) dianggap menyebabkan resistensi terhadap
insulin.
Malnutrisi protein
Alkohol, dianggap menambah resiko terjadinya pankreatitis.
- Stres
Stres berupa pembedahan, infark miokard, luka bakar dan emosi
biasanya menyebabkan hyperglikemia sementara.
- Hormonal
Sindrom cushing karena konsentrasi hidrokortison dalam darah tinggi,
akromegali karena jumlah somatotropin meninggi, feokromositoma
karena konsentrasi glukagon dalam darah tinggi, feokromositoma karena
kadar katekolamin meningkat.
Mekanisme lain di dalam tubuh bekerja sama dengan insulin untuk
mempertahankan tingkat gula darah yang tepat. Jadi insulin adalah satu-satunya
zat di dalam tubuh yang dapat menurunkan tingkat gula darah, sehingga jika
suplainya berkurang, seluruh sistem tidak seimbang lagi.
Setelah makan tidak ada yang mengerem penyerapan gula dari makanan,
sehingga tingkat gula dalam darah meningkat.
Seperti yang dijelaskan di atas selama mengatur gula darah, insulin juga
mencegah turunnya berat badan dan membantu membuat jaringan maka orang
yang gagal atau kurang menghasilkan insulin biasanya akan kehilangan berat
badan.
Ada beberapa penyebab mengapa produksi insulin berkurang dan bisa terjadi
pada lebih dari satu orang dalam keluarga, seperti :
1. Gen
Dari hasil penyelidikan para pakar yang menyelidiki kembar identik dan
silsilah keluarga pasien penderita diabetes melitus menemukan bahwa
keturunan merupakan faktor penting pada kedua jenis diabetes. Pada
diabetes tipe I, ada kemungkinan 50% anak kembar yang lain terkena jika
anak yang satunya menderitanya dan 5 % kemungkinan pada anak dari
orang tua penderita diabetes.
Pada diabetes tipe II, sudah dapat dipastikan bahwa jika salah seorang
terkena, yang lain juga pasti akan terkena.
2. Lingkungan
Mereka yang terkena diabetes tipe II, umumnya kelebihan berat badan
dengan diet tak seimbang. Bahwa mereka yang pindah dari daerah yang
beresiko rendah ke resiko tinggi cenderung terkena penyakit ini
sebagaimana penduduk di tempat baru.
3. Stress
Ada juga orang menghubungkan timbulnya diabetes melitus dengan
keadaan stress, seperti saat terjadi kecelakaan atau penyakit lain, namun
masih sulit untuk menghubungkan stress dengan diabetes melitus.
D. Manifestasi Klinik
Gejala yang lazim terjadi, pada Diabetes Mellitus sebagai berikut :
Pada tahap awal sering ditemukan :
a. Poliuri (banyak kencing)
Hal ini disebabkan oleh karena kadar glukosa darah meningkat sampai
melampaui daya serap ginjal terhadap glukosa sehingga terjadi osmotic diuresis
yang mana gula banyak menarik cairan dan elektrolit sehingga penderita
mengeluh banyak kencing.
b. Polidipsi (banyak minum)
Hal ini disebabkan pembakaran terlalu banyak dan kehilangan cairan banyak
karena poliuri, sehingga untuk mengimbangi penderita lebih banyak minum.
c. Polifagi (banyak makan)
Hal ini disebabkan karena glukosa tidak sampai ke sel, sehingga sel mengalami
starvasi (lapar).
d. Berat badan menurun, lemas, lekas lelah, tenaga kurang. Hal ini disebabkan
kehabisan glikogen yang telah dilebur jadi glukosa, maka tubuh berusama
mendapat peleburan zat dari bagian tubuh yang lain yaitu lemak dan protein.
e. Mata kabur
Hal ini disebabkan oleh gangguan lintas polibi (glukosa – sarbitol fruktasi) yang
disebabkan karena insufisiensi insulin. Akibat terdapat penimbunan sarbitol dari
lensa, sehingga menyebabkan pembentukan katarak.
Gejala akibat tipe I dan tipe II :
Haus
Dehidrasi
Urine dalam jumlah banyak
Infeksi saluran kencing, sariawan
Penurunan BB
Badan lelah dan lemas
Penglihatan kabur akibat dehidrasi pada lensa mata.
E. Penatalaksanaan
Tujuan utama penatalaksanaan klien dengan Diabetes Mellitus adalah untuk
mengatur glukosa darah dan mencegah timbulnya komplikasi acut dan kronik. Jika
klien berhasil mengatasi diabetes yang dideritanya, ia akan terhindar dari
hyperglikemia atau hypoglikemia. Penatalaksanaan diabetes tergantung pada
ketepatan interaksi dari tiga faktor aktifitas fisik, diet dan intervensi farmakologi
dengan preparat hyperglikemik oral dan insulin. Penyuluhan kesehatan awal dan
berkelanjutan penting dalam membantu klien mengatasi kondisi ini dan mengontrol
berat badan.
Terapi non farmakologi
o Diet
Jenis makanan yang harus diikuti seorang penderita penyakit diabetes melitus
bukan berarti menyangkal makanan yang bergizi, tetapi yang dimaksud adalah
makan makanan yang sehat dan menolak makanan yang tidak baik, sesuai
anjuran ahli gizi.
o Makan secara teratur
Akan mudah mengontrol gula darah bila makan secara teratur. Bila memakai
insulin, ahli gizi atau perawat akan menjelaskan tentang pentingnya makan
dengan suntikan. Biasanya akan diberi saran bagi para penderita mengenai
jadwal makan.
o Makan karbohidrat yang tepat, terdapat 2 jenis karbohidrat yang memberi
energi seperti : Mengandung gula : permen, biskuit, puding dan lain-lain.
Mengandung tepung : roti, kentang, nasi, sereal buah dan lain-lain.
o Makan lemak yang tepat
Lemak jenis seperti : susu full cream, mentega, lemak babi
Lemak tak jenuh seperti :
Lemak tak jenuh ganda misalnya : minyak jagung, minyak sayur murni dan
lain-lain
Lemak tak jenuh tunggal misalnya : minyak zaitun dan minyak lobak
o Makanan serat yang tepat
Beberapa jensi serat yang dapat larut dapat membantu mengontrol kadar gula
darah agar normal dan menjaga tingkat kolesterol darah agar turun, seperti
buncis matang, bubur kacang hijau, bubur gandum, sereal dan lain-lain.
Sedangkan sereal berkadar serat tinggi seperti : roti, sayuran, buah-buahan,
tepung terigu, beras dan [Link].
o Makan protein yang tepat
Protein dapat diperoleh dari berbagai macam sereal (roti, nasi, pasta dan lain-
lain) atau dari hewani (daging, ikan, telur hasil peternakan).
o Hindari garam
Terlalu banyak garam tidak baik bagi siapapun dan menyebabkan tekanan
darah tinggi, karena itu garam dikonsumsi sedikit saat memasak
o Vitamin dan mineral yang cukup
Pengobatan farmakologi
Pengobatan tipe I
1. Suntikan insulin
Suntikan adalah pilihan praktis saat ini. Tidak ada pilihan lain untuk
menggantikan insulin yang hilang dan suntikan setiap hari.
2. Suntikan di bawah kulit
Secara teoritis, insulin dapat disuntikan ke pembuluh darah atau otot, seperti
halnya obat antibiotik lain, namun dalam praktek sulit untuk menyuntikan
insulin ke dalam pembuluh darah beberapa kali dalam sehari, dan suntikan ke
dalam otot terasa sakit.
3. Jenis insulin
Perbedaan yang mendasar adalah seberapa cepat kerjanya sehingga digolongkan
dalam jenis cepat, sedang, lama. Insulin yang kerja cepat biasanya jernih dan
tidak berwarna, sedangkan kedua jenis lainnya agak keruh, karena mengandung
zat tambahan untuk mengurangi penyerapan insulin di bawah kulit.
4. Beberapa suntikan sehari-hari
Ada beberapa cara melakukan hal ini dengan menyuntikan insulin ke dalam
tubuh. Misalnya : penderita diabetes menyuntikan insulin jangka pendek 3x
sehari sebelum makan, ditambah satu suntikan jangka sedang atau panjang
untuk mengontrol gula darah selama tidur.
5. Tempat menyuntik insulin
a. Di perut
b. Bagian depan dan belakang paha atas
Pengobatan tipe II
- Farmakologi
Ada 4 jenis obat utama bagi penderita diabetes melitus tipe 2, yakni :
1. Sulfonilurea
2. Biguanida
3. Acarbose
4. Thiazolidine
Thiazolidinedione
Jenis obat ini meningkatkan kepekaan terhadap insulin hingga memungkinkan
hormon ini menurunkan gula darah secara lebih efektif.
Banyak penderita DM merasa cocok dengan obat-obatan ini disertai pola makan yang
membuat penyakit mereka terkontrol dengan baik.
F. Pencegahan
1. Diet gizi seimbang
2. Kelola stres
3. Istirahat yang cukup
4. Rajin aktivitas fisik
5. Cek kesehatan secara rutin