STANDAR OPERASIONAL PROSEDUR
Pasien yang mendapat kemoterapi atau pengobatan risiko tinggi lain
UPN “VETERAN”
JAKARTA
1. Definisi Kemoterapi adalah pemberian obat anti kanker (sitostatika) yang bertujuan
untuk membunuh sel kanker.
2. Tujuan Tujuan Pemberian Kemoterapi :
a. Kuratif : sebagai pengobatan
b. Mengurangi massa tumor selain dengan pembedahan atau radiasi.
c. Meningkatkan kelangsungan hidup dan kwalitas hidup penderita.
d. Mengurangi komplikasi akibat metastase.
3. Kebijakan 1. Pelayanan pada pasien kemoterpi melibatkan multidisiplin ilmu, dan
tersedia dalam suatu tim asuhan
2. Setiap pasien kemoterapi mendapatkan pelayanan yang sesuai
dengan kebutuhan asuhannya
4. Prosedur A. Persiapan dan syarat kemoterapi
1) Persiapan
Sebelum pengobatan dimulai maka terlebih dahulu dilakukan
pemeriksaan yang meliputi:
a. Darah Lengkap
b. Fungsi hepar; bilirubin, SGOT, SGPT, Alkali phosphat.
c. Fungsi ginjal; Ureum, Creatinin dan Creatinin Clearance Test bila
serim creatinin meningkat.
d. Audiogram (terutama pada pemberian Cis-plastinum)
e. EKG (terutama pemberian Adriamycin, Epirubicin).
2) Syarat
a. Keadaan umum cukup baik.
b. Penderita mengerti tujuan dan efek samping yang akan terjadi
c. Informed concent.
d. Faal ginjal dan hati baik.
e. Diagnosis patologik
f. Jenis kanker diketahui cukup sensitif terhadap kemoterapi.
g. Riwayat pengobatan (radioterapi/kemoterapi) sebelumnya.
h. Pemeriksaan laboratorium menunjukan hemoglobin > 10 gram %,
leukosit > 5000/mm³, trombosit > 150 000/mm³.
i. Menggunakan kriteria Eastern Cooperative Oncology Group
(ECOG) yaitu status penampilan < 2
B. Persiapan Penderita
1. Aspek penderita dan keluarga, meliputi :
a. Penjelasan tentang tujuan dan perlunya kemoterapi sehubungan
dengan penyakitnya.
b. Penjelasan mengenai macam dan jenis obatnya, jadwal pemberian
dan persiapan setiap siklus obat kemoterapi.
c. Penjelasan mengenai efek samping yang mungkin terjadi pada
penderita.
d. Pejelasan mengenai harga obat kemoterapi (kalau perlu)
e. Informed Consent.
2. Aspek Onkologis, meliputi:
a. Diagnosa keganasan telah confirmed baik secara klinis (besarnya
tumor diukur dengan kaliper atau penggaris), radiologis dan
patologis (triple diagnostic), kalau memungkinkan diperiksa juga
tumor marker.
b. Tentukan stadium (klinis, imaging) dengan sistem TNM.
c. Tentukan tujuan terapi (neoajuvan, ajuvan, terapeutik atau paliatif).
d. Tentukan regimen kombinasi terapi, dosis dan prosedur
pemberianya.
3. Aspek Medis
a. Anamnesa yang cermat mengenai adanya komorbiditas yang
mungkin ada yang dapat mempengaruhi pemberian kemoterapi
seperti usia, penyakit jantung, hipertensi, diabetes, kelainan fungsi
ginjal atau hati, kehamilan dan lain-lain.
b. Pemeriksaan secara menyeluruh semua keadaan yang berhubungan
dengan penyakit tersebut di atas (klinis, imaging dan
laboratorium).
c. Penentuan status performance (karnoffsky atau ECOG).
C. Persiapan Perawat (Alat Pelindung Diri (Personal Protective
Equipment))
1. Selalu menggunakan sarung tangan nitrile rangkap (double), atau
sarung tangan yang khusus di disain untuk kemoterapi, ketika
menangani (menyiapkan atau memberikan) agent kemoterapeutik.
Sarung tangan tebal, panjang yang menutup bagian lengan gaun, di
rekomendasikan. Pastikan sarung tangan tidak tertusuk, terobek atau
terpotong. Sarung tangan harus harus dibuang setiap kali
penggunaan, ketika penyiapan agent kemoterapeutik atau
kontaminasi dengan produk (agent kemoterapeutik).
Sarung tangan Nitrile
2. Alat pelindung lain seperti
kaca mata pelindung
( protective eye goggles) ,
penggunaan gaun panjang
(long-sleeved smock) sekali
pakai, harus digunakan
untuk memaksimal keamanan ( maximum safety). Hanya
menggunakan spuit dengan jarun yang dapat ditarik kembali (
retractable needles)
Kaca mata Pelindung
Gaun panjang
3. Ketika terjadi percikan,
semburan, atau semprotan
bertekanan tinggi
(aerosol) , facesheilds (pelindung wajah) digunakan untuk
mencegah kontak dengan mata, mulut, dan hidung.
Pelindung wajah
D. Keamanan Praktek Kerja
1. Pelaksanaan pemberian dan penyiapan obat harus dan wajib di
area yang telah di diasin khusus untuk pelaksanaan kemoterapi.
Pastikan telah memperhatikan label obat, nama dan kandungan
serta label peringatan khusus seperti “Toxic, Special Handling
Required ” (“racun, di butuhkan penanganan khusus”).
2. Hanya menggunakan suntikan dengan jarum yang dapat ditarik
kembali dan letakan pada bak injeksi.
3. Kehati-hatian dibutuhkan pada saat obat dalam bentuk ampul
dengan bahan obat kering harus secara perlahan diketuk terlebih
dahulu ke bawah.
E. Persiapan Pemberian Obat Sitostatika
Keamanan penanganan obat sitostatika merupakan hal yang penting yang
harus diperhatikan oleh dokter, perawat, farmasi, penderita,
gudang/distribusi. Oleh karena itu persiapannya harus sesuai prosedur.
1. Persiapan Obat
a. Dosis : ditentukan dengan menggunakan luas permukaan tubuh
(body surface area /BSA) yang diketahiu dengan mengukur TB
dan BB.
b. Storage dan Stability
Baca petunjuk mengenai storage dan stability masing-masing obat sehingga
tetap dalam keadaan baik. Obat yang tidak mengandung preservasi
setelah dibuka/dilarutkan (oplos) harus segera dibuang dalam
waktu 8-24 jam.
c. Preparasi (pelarutan)
Pelarut untuk masing-masing obat biasanya disebutkan dalam penjelasan
pemakaian masing-masing obat. Kadang ada pelarut yang
incompatible terhadap obat-obat tertentu.
2. Persiapan provider
Menggunakan Alat Pelindung Diri (APD), yaitu :
a. Pakaian (Gown)
● Pakaian terdiri dari pakaian dalam dan pakaian luar
● Pakaian Pelindung (pakaian luar) harus terbuat dari material
yang tidak melepaskan debu dan serat.
● Bahan yang digunakan tidak tembus oleh cairan
● Pakaian pelindung dibuat lengan panjang dengan manset elastik
pada tangan dan kaki
b. Sarung tangan
● Sarung tangan yang digunakan double untuk melindungi jika
terjadi tusukan dan harus menutupi manset baju.
● Sarung tangan yang dipakai harus bebas dari bedak, untuk
menghindari partikel tersebut masuk kedalam vial.
● Sarung tangan yang robek harus segera diganti
c. Tutup Kepala
Tutup kepala harus dapat menutupi rambut sekeliling agar tidak ada partikel
kotoran yang dapat mengkontaminasi sediaan.
d. Tutup Kaki
Tutup kaki digunakan sampai menutup manset baju dalam
e. Masker & Kaca mata
● Untuk melindungi mata dan mengurangi inhalasi digunakan
kaca mata dan masker.
● Di samping untuk melindungi petugas penggunaan masker juga
untuk mengurangi kontaminan.
● Kaca mata yang digunakan harus dapat melindungi mata dari
kemungkinan adanya percikan obat kanker.
3. Persiapan peralatan dan cairan
a. Jarum suntik yang kecil, abocath no 20 atau 24 (disesuaikan
dengan ukuran vena).
b. Spuit disposibel 3cc, 5cc, 20cc.
c. Infus set, pada obat golongan taxan telah disediakan infus set
khusus.
d. Larutan NaCl 0,9% 100 cc, NaCl 0,9% 500 cc dan aquadest 25 cc.
e. Syringe pump/infuse pump kalau ada.
f. Alas penyuntikan, untuk menghindari kontak obat dengan laken.
4. Penyuntikan
a. Teliti protokol pemberian obat kemoterapi yang akan diberikan.
b. Cek apakah informed consent sudah ada.
c. Pilih vena yang paling distal dan lurus (biasanya metacarpal bagian
distal) dan kontralateral dengan kankernya. Dipastikan tidak terjadi
ekstravasasi yaitu dengan memasang infus dan drip cepat.
d. Setelah penyuntikan selesai, alat-alat atau botol bekas dan obat
sitostatika dimasukkan ke dalam kantong plastik dan diikat serta
dimasukkan dalam wadah sampah medis khusus.
e. Buat catatan pada rekam medik penderita, catat semua tindakan.
Intrumen Akreditas Rumah Sakit 2012
5. Referensi Pedoman Pemberian obat resiko tinggi atau kemoterapi RS Pratama
Sangkulirang, 2017.