0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
395 tayangan11 halaman

Metode Penilaian Persediaan Akhir

Bab V membahas metode penghitungan nilai persediaan akhir yang meliputi metode fisik, perpetual, taksiran, dan nilai terendah. Metode fisik meliputi penandaan khusus, rata-rata sederhana, dan rata-rata tertimbang. Metode perpetual menggunakan FIFO dan LIFO. Metode taksiran menggunakan harga eceran dan laba kotor.

Diunggah oleh

Mina Fauziah
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOC, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
395 tayangan11 halaman

Metode Penilaian Persediaan Akhir

Bab V membahas metode penghitungan nilai persediaan akhir yang meliputi metode fisik, perpetual, taksiran, dan nilai terendah. Metode fisik meliputi penandaan khusus, rata-rata sederhana, dan rata-rata tertimbang. Metode perpetual menggunakan FIFO dan LIFO. Metode taksiran menggunakan harga eceran dan laba kotor.

Diunggah oleh

Mina Fauziah
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOC, PDF, TXT atau baca online di Scribd

BAB V

MENGHITUNG NILAI PERSEDIAAN AKHIR

Macam – macam metode yang digunakan dalam penilaian persediaan akhir


A. Metode pisik / periodik
Dalam metode ini ada beberapa cara dalam menetapkan persediaan antara lain :
1. Tanda pengenal khusus
2. Rata – rata sederhana
3. Rata – rata tertimbang
4. FIFO / MPKP ( Masuk paling awal / pertama harus keluar awal / pertama )
5. LIFO / MTKP ( Masuk paling akhir harus keluar paling awal / pertama )

B. Metode Perpetual / Permanen / Terus Menerus


Dalam metode ini ada beberapa cara dalam menetapkan persediaan akhir antara lain :
1. FIFO / MPKP
2. LIFO / MTKP
3. Rata – rata tertimbang / Rata – rata bergerak

C. Penilaian persediaan akhir memakai metode taksiran / kira – kira


Metode ini dipakai kalau secara fisik tidak memungkinkan ( Karena kebakaran ), maka
dipakai taksiran / kira – kira. Metode ini ada dua ( 2 ) cara :
1. Metode harga eceran
2. Metode laba kotor

D. Penilaian persediaan akhir memakai metode nilai terendah


Dalam metode ini persediaan akhir dihitung dengan cara menentukan nilai terendah
antara harga pembelian dan harga pasaran.

A. Metode Pisik / Periodik


1. Metode tanda pengenal khusus :
Setiap barang dagangan yang mempunyai harga pokok yang sama diberi tanda
pengenal yang sama waktu dilaksanakan inventarisasi serta dihitung jumlahnya. Jumlah
harga / nilai persediaan akhir dihitung berdasarkan harga tanda pengenal khusus seperti
yang tertera pada masing – masing barang.

Contoh soal :
Data – data suatu perusahaan diketahui sebagai berikut :
Barang kelompok A. Persediaan tgl. 1/1 sebanyak 500 unit @ Rp. 100,00
Barang kelompok B. Pembelian tgl 3/1 sebanyak 800 unit @ Rp. 200,00
Barang kelompok C. Pembelian tgl 12/1 sebanyak 900 unit @ Rp. 300,00
Barang kelompok D. Pembelian tgl 18/1 sebanyak 1000 unit @ Rp. 400,00
Barang kelompok E. Pembelian tgl 25/1 sebanyak 500 unit @ Rp. 500,00
Jika diketahui pada tgl. 31/1 setelah dilakukan inventarisasi secara fisik / nyata, masih
terdapat persediaan sebanyak 1000 – Unit yang terdiri dari barang kelompok B = 400 unit,
barang kelompok D = 400 unit dan barang kelompok E = 200 unit. Berapakah harga / nilai
persediaan barang tersebut ?
Jawab :
Barang kelompok B = 400 unit = 400 x Rp. 200,00 = Rp. 80.000,00
Barang kelompok D = 400 unit = 400 x Rp. 400,00 = Rp. 160.000,00
Barang kelompok E = 200 unit = 200 x Rp. 500,00 = Rp. 100.000,00
Jumlah 1000 unit Rp. 340.000,00

46
2. Metode rata – rata sederhana
Harga pokok rata – rata per unit dengan metode rata – rata sederhana sama dengan
Total Harga per unit masing – masing kelompok dibagi dengan jumlah kelompok.
Σ harga per unit masing - masing
HP Rata – rata per unit = Σ kelompok
Nilai persediaan akhir ( NPA ) sama dengan sisa persediaan akhir dikalikan dengan
banyak.
Harga rata – rata :

NPA = Banyak persediaan akhir x HP rata – rata per unit metode sederhana

Contoh soal :
Sama dengan soal No. 1 pada soal metode Tanda Pengenal Khusus
Jawab :
Jadi harga pokok rata – rata per unit :
Kelompok A harga pokok per unit = Rp. 100,00
Kelompok B harga pokok per unit = Rp. 200,00
Kelompok C harga pokok per unit = Rp. 300,00
Kelompok D harga pokok per unit = Rp. 400,00
Kelompok E harga pokok per unit = Rp. 500,00
5 kelompok = Rp. 1.500,00

Maka harga rata – ratanya = Rp. 1.500,00 : 5 = Rp. 300,00


Saldo / sisa persediaan akhir 1000 unit = 1000 x Rp. 300,00 = Rp. 300.000,00

3. Metode Rata – rata Tertimbang :


Harga pokok rata – rata per unit dengan metode rata – rata tertimbang sama
dengan hasil penjumlahan masing nilai kelompok dibagi dengan total unit dari masing
kelompok
HP Rata – rata tertimbang = Σ NP masing –masing kelompok
Total unit masing – masing kelompok

NPA = Banyaknya persediaan akhir x HP rata – rata tertimbang

Contoh soal :
Sama dengan soal No. 1 pada soal metode Tanda Pengenal Khusus
Jawab :
Barang kelompok A tgl. 1/1 sebanyak 500 unit
500 x Rp. 100,00 = Rp. 50.000,00
Barang kelompok B tgl. 3/1 sebanyak 800 unit
800 x Rp. 200,00 = Rp. 160.000,00
Barang kelompok C tgl. 12/1 sebanyak 900 unit
900 x Rp. Rp. 300,00 = Rp. 270.000,00
Barang kelompok D tgl. 18/1 sebanyak 1000 unit = Rp. 400.000,00
Barang kelompok E tgl . 25/1 sebanyak 500 unit
500 x Rp. 500,00 = Rp. 250.000,00
sebanyak 3700 unit = Rp. 1.130.000,00

Maka harga pokok rata – rata per unit = Rp. 1.130.000,00 : 3.700
47
= Rp. 305.4054054 = Rp. 305,41
Jumlah harga / nilai persediaan akhir untuk 1000 unit = 1000 x Rp. 305,41
= Rp. 305.410,00

4. Metode First In – First Out ( FIFO ) = Masuk pertama keluar / dijual pertama
( MPKP ) Secara fisik.
Prinsip metode FIFO :
 Barang ayng dibeli pertama dijual pertama
 Nilai persediaan akhir dihitung secara mundur dari barang yang dibeli paling akhir.
Slogan metode FIFO : “ Ingat beras ingat Cosmos “ atau “ Beli awal masak awal “
Cara perhitungan :
 Nilai persediaan akhir dihitung mundur dari barang yang dibeli paling akhir
 Bila jumlah persediaan akhir masih bersisa dari hasil pengurangan dengan barang
yang dibeli paling akhir maka dihitung lagi dari barang yang dibeli dari nomor dua
( 2 ) terakhir dan seterusnya.

Contoh soal dan Jawab :


Tgl 1/1 Pembelian barang 500 unit @ Rp. 100,00
3/1 Pembelian barang 800 unit @ Rp. 200,00
12/1 Pembelian barang 900 unit @ Rp. 300,00
18/1 Pembelian barang 1000 unit @ Rp. 400,00
25/1 Pembelian barang 500 unit @ Rp. 500,00
Bila saldo akhir 1000 unit, hitunglah nilai persediaan akhir dengan metode FIFO secara
fisik.
Jawab :
Nilai persediaan akhir sbb :
Jumlah unit persediaan akhir = 1000 unit
Pembelian 25/1 500 unit x Rp. 500,00 = Rp. 250.000,00
Pembelian 18/1 500 unit x Rp. 400,00 = Rp. 200.000,00 (+)
 Nilai persediaan akhir = Rp. 450.000,00

5. Metode Last in, First out ( LIFO ) masuk paling akhir, keluar / dijual paling awal /
pertama secara fisik.
Slogan metode LIFO : Ingat beras ingat gentong atau Yang dibeli akhir dimasak awal
Prinsip metode LIFO :
 Barang yang dibeli terakhir dijual lebih awal
 Nilai persediaan akhir dihitung secara maju mulai dari barang yang dibeli paling
awal.
Cara perhitungan :
 Nilai persediaan akhir dihitung secara maju mulai dari barang yang dibeli paling
awal.
 Bila jumlah persediaan akhir masih bersisa setelah dikurangi dengan barang yang
dibeli paling awal maka dihitung lagi dari barang yang dibeli dari nomor dua paling
awal dan seterusnya.
Contoh soal sama dengan soal LIFO :
Jawab :
Nilai persediaan akhir sbb :
Jumlah unit persediaan akhir = 1000 unit
Pembelian 1/1 = 500 unit @ Rp. 100,00 = Rp. 50.000,00
Pembelian 3/1 = 500 unit @ Rp. 200,00 = Rp. 100.000,00 (+)
Nilai persediaan akhir = Rp. 150.000,00

48
B. Metode Perpetual / Permanen / Terus Menerus
Dalam penyelesaian PERPETUAL setiap transaksi / kejadian mempengaruhi
besar / banyaknya persediaan akhir. Baik persediaan awal, pembelian serta penjualan
dicatat harga / nilainya menurut sebesar harga pokok pembelian masing – masing unitnya.

1. Perhitungan nilai persediaan akhir metode perpetual secara FIFO


Bila dalam metode fisik saldo akhir harga diketahui pada akhir suatu periode,
maka pada metode perpetual setiap saat dapat diketahui nilai saldo akhirnya. Setiap terjadi
transaksi prinsip dan slogannya sama dengan metode FIFO secara perpetual adalah sama.
Contoh :
Persediaan awal barang tgl. 1/1 sebanyak 600 unit @ Rp. 100,00
Pembelian tgl. 3/1 sebanyak 800 unit @ Rp. 200,00
Penjualan tgl. 8/1 sebanyak 1000 unit @ Rp.
Pembelian tgl. 12/1 sebanyak 600 unit @ Rp. 300,00
Pembelian tgl. 18/1 sebanyak 900 unit @ Rp. 400,00
Penjualan tgl. 20/1 sebanyak 1500 unit @ Rp.
Pembelian tgl. 25/1 sebanyak 500 unit @ Rp. 500,00

Jawab ..............

Jawab :
Cara I : Perhitungan Perpetual FIFO / MKP ( nilai dalam ratusan rupiah )
Tgl [Link] PEMASUKAN / PEMBELIAN PENGELUARAN / PENJUALAN PERSEDIAAN / SALDO / SISA
HP/UNIT JUMLAH [Link] HP UNIT JUMLAH [Link] HP UNIT JUMLAH
1/1 600 1 600
3/1 800 2 1600 800 2 1600
1400 2200
8/1 600 1 600 400 2 800
400 2 800
400 2 800
12/1 600 3 1800 600 3 1800
1000 2600
400 2 800
600 3 1800
18/1 900 4 1800 900 4 3600
1900 6200
20/1 400 2 800
600 3 1800 400 4 1600
500 4 2000
25/1 500 5 2500 400 4 1600
25/1 500 5 2500 500 5 2500
900 4100
 Jumlah unit saldo akhir = 900 unit
Nilai saldo akhir = Rp. 410.000,00

FIFO cara lainnya :


Keterangan [Link] [Link] Jumlah
1/1 [Link] 600 100 Rp. 60.000,00
3/1 Pembelian 800 200 Rp. 160.000,00
1400 Rp. 220.000,00
8/1 Penjualan 600 100
Rp. 140.000,00
400 200
400 Rp. 80.000,00
12/1 Pembelian 600 300 Rp. 180.000,00

49
1000 Rp. 260.000,00
18/1 Pembelian 900 400 Rp. 360.000,00
1900 Rp. 620.000,00
20/1 Penjualan 400 200
600 300 Rp. 460.000,00
500 400
400 Rp. 160.000,00
25/1 Pembelian 500 500 Rp. 250.000,00
900 Rp. 410.000,00

 Jumlah unit saldo alhir = 900 unit


Nilai persediaan akhir = Rp. 410.000,00
Keterangan :
1. Persediaan awal dan pembeliaan selalu ditambahkan
2. Sedangkan penjualan selalu dikurangkan

Contoh :
Penjualan tgl. 8/1 = 1000 unit, barang yang dijual berasal dari :
Pembelian tgl. 1/1 = 600 unit @ Rp. 100
Pembelian tgl. 3/1 = 400 unit @ Rp. 200,00
Penjualan tgl. 20/1 = 1500 unit, barang yang dijual berasal dari :
Pembelian tgl. 3/1 = 400 unit @ Rp. 200,00
Pembelian tgl. 12/1 = 600 unit @ Rp. 300,00
Pembelian tgl. 18/1 = 500 unit @ Rp. 400,00

2. Perhitungan nilai persediaan akhir metode perpetual secara LIFO


Slogan : Sama dengan slogan metode LIFO secara fisik yaitu ingat beras ingat gentong
atau Yang dibeli terakhir dimasak lebih dahulu
Prinsip : Sama dengan prinsip metode LIFO secara fisik :
 Barang yang dibeli terakhir dijual lebih dahulu
 Nilai persediaan akhir dihitung secara maju mulai dari barang yang dibeli paling
awal
Cara perhitungan :
 Untuk pembelian selalu ditambahkan pada setiap transaksi
 Untuk penjualan selalu dikurangkan dari pembelian sebelumnya atau pembelian
paling akhir, kalau belum mencukupi diambil dari pembelian nomor dua (2)
terakhir dari tanggal transaksi penjualan dan seterusnya.

Contoh soal metode LIFO secara perpetual sama dengan soal metode FIFO secara
perpetual.
Jawab :
Perhitungan perpetual LIFO = NIKE (dalam ratusan rupiah)
(Masuk / pembelian terakhir keluar / dijual pertama / paling awal)
Pembelian / Pemasukan Penjualan / Pengeluaran Sisa / Saldo / Persediaan
Tgl B. Unit HP/Unit Jumlah B. Unit HP/Unit Jumlah B. Unit HP/Unit Jumlah
1/1 600 1 600
600 1 600
3/1 800 2 1600 800 2 1600
1400 2200
8/1 800 2 1600 400 1 400
200 1 200
400 1 400
12/1 600 3 1800 600 3 1800
50
1000 2200

400 1 400
600 3 1800
18/1 900 4 3600 900 4 3600
1900 5800
900 4 3600 400 1 400
20/1 600 3 1800
400 1 400
25/1 500 5 2000 500 5 2500
900 2900
 Jumlah unit persediaan akhir = 900 unit
Nilai persediaan akhir Rp. 290.000,00

Untuk lebih jelasnya sebagai berikut :


Persediaan awal tgl. 1/1 sebanyak 600 unit @ Rp. 1.00,00 = Rp. 600,00
Persediaan tgl. 3/1 sebanyak 800 unit @ Rp. 200,00 = Rp. 1600,00
1400 unit Rp. 2200,00

Penjualan tgl. 18/1 = 1000 unit


Diambil dulu dari :
Pembelian tgl. 3/1 = 800 unit (-) @ Rp. 200 = Rp. ……………
Pembelian tgl. 1/1 = 200 unit @ Rp. 100 = Rp. ……………
Penjualan tgl. 20/1 = 1500 unit
Diambil dari :
Pembelian tgl 18/1 = 900 unit (-) @ Rp. 400 = Rp. ……………
Pembelian tgl. 12/1 = 600 unit @ Rp. 300 = Rp. ……………
Penyelesaian secara lainnya (LIFO) :
Tgl Keterangan B. Unit HP. Unit Jumlah
1/1 Pers. awal 600 Rp. 100.00 Rp. 660.000
3/1 Pembelian 800 Rp. 200.00 Rp. 160.000
1400 Rp. 220.000
- 800
8/1 Penjualan 1000 Rp. 200.00 Rp. 180.000
- 200 Rp. 100.00
400 Rp. 40.000
12/1 Pembelian 600 Rp. 300.00 Rp. 180.000
1000 Rp. 220.000
18/1 Pembelian 900 Rp. 400.00 Rp. 360.000
1900 Rp. 580.000
- 900 Rp. 400.00 Rp. 540.000
20/1 Penjualan 1500
- 600 Rp. 300.00
400 Rp. 40.000
25/1 Pembelian 500 Rp. 500.00 Rp. 250.000
900 Rp. 290.000

3. Metode perpetual rata – rata tertimbang / bergerak


Perhitungan nilai persediaan akhir dengan metode perpetual rata – rata tertimbang
/ bergerak. Pada prinsip harga rata – rata perunit setiap terjadi transaksi selalu terjadi
perubahan.
Total harga setelah terjadi transaksi
Harga pokok rata – rata per unit = Jumlah unit setelah terjadi transaksi

Contoh Soal : sama dengan soal pada soal metode FIFO secara perpetual
Jawab :

51
Perhitungan Perpetual Rata – Rata Tertimbang / Bergerak (nilai ratusan rupiah)
Pembelian / Pemasukan Penjualan / Pengeluaran Sisa / Saldo / Persediaan
Tgl B. Unit HP/Unit Jumlah B. Unit HP/Unit Jumlah B. Unit HP/Unit Jumlah
1/1 600 1 600,00
3/1 800 2 1600 1400 1.5714 2200,00
8/1 1000 1.5714 1.5714 400 1.5714 628,60
12/1 600 3 1800 1000 2.4286 2.428,60
18/1 900 4 3600 1900 3.1729 6.028,60
20/1 1500 3.1729 4.759,35 400 3.1731 1.269,25
25/1 500 5 2500 900 4.1880 3.769,25

Untuk lebih jelasnya sebagai berikut :


Persediaan / saldo / sisa awal tgl. 1/1 sebanyak 600 unit @ Rp. 1,00 = Rp. 600,00
Pembelian tgl. 3/1 sebanyak 800 unit @ Rp. 2,00 = Rp. 1.600,00 (+)
1400 unit Rp. 2.200,00
Maka harga pokok rata – rata per unit = Rp. 2.200,00 : 1.400 = Rp. 1,5714
Penjualan tgl. 8/1 sebanyak 1000 unit harga pokoknya / unit = Rp. 1.5714
1000 x Rp. 1.5714 = Rp. 1.571,40
Selisih harga pokok yang tersedia dengan harga pokok yang terjual.
Harga pokok tersedia = Rp. 2.200,00
Harga pokok yang terjual = Rp. 1.571,40 (-)
Rp. 628,60

Maka harga pokok / unit dari sisa barang = Rp. 628,60 : 400 = Rp. 1,5715
Pembelian barang tgl. 12/1 sebanyak 600 unit @ Rp. 300 =
600 x Rp. 3,00 = Rp. 1.800,00
Sisa tgl. 8/1 400 unit @ Rp. 1.5715 = 400 x Rp. 1,5715 = Rp. 628,60 (+)
1000 unit Rp. 2.428,60

Maka harga pokok rata – rata / unit dari sisa barang : Rp. 2.428,60 : 1000 = Rp. 2,4286
Pembelian barang tgl. 8/1 – 900 unit @ Rp. 4,00 = 900 x Rp. 4,00 = Rp. 3.600,00
Barang yang tersedia tgl. 18/1 = 1000 unit @ Rp. 2,4286 = Rp. 2.428,60
900 unit @ Rp. 4,00 = Rp. 3.600,00 (+)
1900 unit Rp. 6.028,60
Maka harga pokok rata – rata / unit = Rp. 6.028,600 : 1900 = Rp. 3,1729
Penjualan barang tgl. 20/1 1500 unit harga pokok / unit Rp. 3,1729
1500 x Rp. 3,1729 = Rp. 4.759,35
Sisa barang = 1990 unit – 1500 unit = 400 unit
Selisih harganya = Rp. 6.028,60 – Rp. 4.759,35 = Rp. 1.269,25

Harga pokok rata – rata / unit = Rp. 1.269,25 : 400 = Rp. 3,1731
Persediaan barang / saldo / selisih sampai dengan akhir tgl. 25/1 :
Sisa barang tgl. 20/1 = 400 unit @ Rp. 3,1731 = Rp. 1.269,25
Pembelian akhir tgl. 20/1 1500 unit @ Rp. 5,00 = Rp. 2.500,00
Jumlah persediaan / saldo 900 unit Rp. 3.769,25

Cara lain : Metode Perpetual Rata – Rata Tertimbang / Bergerak


Persediaan awal tgl. 1/1 600 unit @ Rp. 100,00 = Rp. 60.000,00 [Link] – rata
Pembelian tgl. 3/1 800 unit @ Rp. 200,00 = Rp. 160.000,00 Rp. 220.000,00
1400 unit Rp. 220.000,00 1400
= Rp. 157,15

Penjualan tgl. 18/1 1000 unit @ Rp. 157,15 = Rp. 157.140,00 hp. Rata – rata
400 unit Rp. 62.860,00 Rp. 62.860,00
400
52
= Rp. 157,15

Pembelian tgl. 12/1 500 unit @ Rp. 300,00 = Rp. 18.000,00 [Link] – rata
1000 unit Rp. 242.860,00 Rp. 242.860,00
1000
= Rp. 242,86

C. Penilaian Persediaan Akhir Memakai Metode Taksiran / Kira - Kira


1. Metode harga eceran.
Pemakaian persediaan akhir dengan metode harga eceran mempunyai prosedur
sebagai berikut :
(a) Tiap kelompok yang dimiliki tetapkan dulu harga ecerannya.
(b) Barang yang dijual cari perbandingannya antara harga pokok dan harga eceran.
Biasanya dinyatakan dalam % ( prosentase ), yaitu :
Harga pokok
Harga eceran x 100 %
(c) Persediaan akhir eceran diperoleh dari persediaan barang untuk dijual ada
berapa / seharga berapa dikurangi oleh yang terjual.
(d) Persediaan akhir menurut harga pokok ditetapkan oeh jumlah proses ( % ) dari
hasil perbandingan antara harga pokok dan harga eceran dikalikan jumlah
persediaan akhir eceran
Persediaan akhir eceran diperoleh dari :
Persediaan barang untuk dijual ada beberapa dikurangi oleh barang yang dijual (penjualan)

Contoh menetapkan persediaan akhir memakai Metode Taksiran Harga Eceran.


Data – data dari suatu perusahaan sebagai berikut :
KETERANGAN HARGA POKOK HARGA ECERAN
Persediaan awal Rp. 25.000,00 Rp. 35.000,00
Pembelian Rp. 65.000,00 Rp. 85.000,00
Penjualan menunjukkan Rp. 80.000,00
Ditanya : Berapakah Nilai Persediaan Akhir ?
Jawab :
KETERANGAN HARGA POKOK HARGA ECERAN
Persediaan awal Rp. 25.000,00 Rp. 35.000,00
Pembelian Rp. 65.000,00 Rp. 85.000,00
Persediaan akhir ter-
sedia Untuk dijual Rp. 90.000,00 Rp. 120.000,00
Maka perbandingan Harga Pokok dan Harga Eceran =
Rp. 90.000,00
Rp. 120.000,00 x 100 % = 75 %
Barang tersedia untuk dijual menurut harga eceran Rp. 120.000,00
Jumlah penjualan menunjukkan Rp. 80.000,00 (-)
Maka persediaan akhir harga eceran Rp. 40.000,00
Maka persediaan harga pokoknya = 75% x Rp. 40.000,00 = Rp. 30.000,00

2. Metode Laba Kotor


Dalam metode ini perusahaan beranggapan / menganggap bahwa prosen ( % )
laba kotor untuk dua ( 2 ) periode berturut – turut sama besarnya. Persediaan akhir
memakai laba kotor ditentukan :
(a) Barang dijual menurut Harga Pokok Pembelian dikuranggi oleh Harga Pokok
Penjualan
(b) Harga Pokok Penjualan ditetapkan Penjualan dikurangi Laba Kotor.

53
Data – Data Perusahaan Memakai Metode Taksiran Laba Kotor
KETERANGAN Tahun 1980 Tahun 1981
Persediaan awal Rp. 200.000,00 Rp. 250.000,00
Pembelian Rp. 400.000,00 Rp. 800.000,00
Retur pembelian Rp. 25.000,00 Rp. 30.000,00
Penjualan Rp. 750.000,00 Rp. 700.000,00
Retur penjualan Rp. 50.000,00 Rp.
Ditanya : Berapakah Nilai Persediaan Akhir tahun 1980 – 1981 ?
Jawab : Tahun 1980
Penjualan Rp. 750.000,00
Retur penjualan Rp. 50.000,00 (-)
Rp. 700.000,00

Harga pokok penjualan :


Persediaan awal Rp. 200.000,00
Pembelian Rp. 400.000,00 (+)
Rp. 600.000,00
Retur pembelian Rp. 25.000,00 (-)
Rp. 575.000,00
Persediaan akhir Rp. 250.000,00 (-) ( yang terdapat dipersediaan awal tahun 1981)

Laba kotornya Rp. 325.000,00


Prosennya : Rp. 325.000,00
Rp. 700.000,00 x 100 % = 46,42857142 = 46,28 %

Tahun 1981 :
Persediaan awal Rp. 250.000,00
Pembelian Rp. 800.000,00 (+)
Rp. 1.050.000,00
Retur pembelian Rp. 30.000,00 (-)
Pembelian bersih Rp. 1.020.000,00

Penjualan ……………………………………. Rp. 700.000,00


Laba kotor 46,28 % x Rp. 700.000,00 = Rp. 32.396,00 (-)
Harga pokok penjualan ……………………….. Rp. 667.604,00
Maka persediaan akhirnya Rp. 1.020.000,00
Rp. 667.000,00 (-)
Rp. 352.396,00

Contoh menetapkan persediaan akhir memakai metode rata – rata terendah antara Harga
Pokok Pembelian dan Harga Pasaran dilakukan sebagai berikut :
a. Untuk setiap jenis barang / individu / masing – masing unit
b. Untuk masing – masing kelompok
c. Jumlah seluruh persediaan

D. Penilaian Persediaan Akhir Memakai Metode Nilai Terendah

54
Dalam metode ini persediaan akhir dihitung dengan cara menentukan nilai
terendah antara harga pembelian dan harga pasaran.
Penyelesaian Harga Terendah Antara Harga Pokok dan Harga Pasaran Per Kelompok
Kelompok Bahan B. Unit H. Pokok Harga Pasaran
Baku
I A 6000 6000 x 0,20 = Rp. 1200 6000 x 0,15 = Rp. 900
Bahan Baku B 5000 500 x 0,10 = Rp. 500 5000 x 0,09 = Rp. 450
C 3000 3000 x 0,30 = Rp. 900 3000 x 0,40 = Rp. 1200
Rp. 2600 Rp. 2550
II
Bahan dalam D 8000 8000 x 0,10 = Rp. 800 8000 x 0,08 = Rp. 640
proses E 9000 9000 x 0,05 = Rp. 450 9000 x 0,10 = Rp. 900
Rp. 1250 Rp. 1540

III F 5000 5000 x 3,30 = Rp. 1500 5000 x 0,25 = Rp 1250


Bahan jadi G 3000 3000 x 0,40 = Rp. 1200 3000 x 0,50 = Rp 1500
Rp. 2700 Rp. 2750

Maka harga terendah di Kel. I Rp. 2.550,00


Kel. II Rp. 1.250,00
Kel. III Rp. 2.700,00
Jumlah harga terendah dari Kel. I, II, dan III ( secara kolektif ) = Rp. 6.500,00

Penyelesaian Harga Terendah Antara Harga Poko dan Harga Pasaran Secara Keseluruhan
Kelompok Bahan Baku B. Unit H. Pokok Harga Pasaran
I A 6000 6000 x 0,20 = Rp. 1200 6000 x 0,15 = Rp. 900
B 5000 500 x 0,10 = Rp. 500 5000 x 0,09 = Rp. 450
C 3000 3000 x 0,30 = Rp. 900 3000 x 0,40 = Rp. 1200
D 8000 8000 x 0,10 = Rp. 800 8000 x 0,08 = Rp. 640
E 9000 9000 x 0,05 = Rp. 450 9000 x 0,10 = Rp. 900
F 5000 5000 x 3,30 = Rp. 1500 5000 x 0,25 = Rp 1250
G 3000 3000 x 0,40 = Rp. 1200 3000 x 0,50 = Rp 1500
Rp. 6550 Rp. 6840

Maka jumlah Persediaan dan harga terendah adalah menurut harga pokok = Rp. 6.550,00

Penyelesaian Harga Terendah antara harga pokok dengan harga pasaran, persatuan,
perkelompok dan secara keseluruhan. ( Nilai dinyatakan dalam ribuan rupiah ) adalah
sebagai berikut :

Jumlah
HP./ H. Psr / Tiap jenis nilai terendah antar harga pokok dan harga pasaran
Kelompok Jenis Jumlah Unit Unit H. Pokok [Link]. Jenis Kel Pers.
Keseluruhan
I B. Baku A 6.000 0,2 0,15 1.200 900 900

55
B 5.000 0,1 0,09 500 450 450
C 3.000 0,3 0,40 900 1200 900
2.600 2.550 2.550

II B. Dalam D 8.000 0,1 0,08 800 640 640


Proses E 9.000 0,05 0,10 450 900 450
1.250 1.540 1.250

III Barang F 5.000 0,3 0,25 1.500 1.250 1.250


jadi G 3.000 0,4 0,50 1.200 1.500 1.200
2.700 2.750 2.700
6.550 6.840 6.550
5.790 6.500 6.550

 Harga terendah antara Harga Pokok dengan


Harga satuan persatuan = Rp. 5.790.000
Harga satuan perkelompok = Rp. 6.500.000
Harga satuan secara keseluruhan = Rp. 6.550.000

56

Anda mungkin juga menyukai