0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
335 tayangan8 halaman

Panduan Uji CBR Laboratorium Tanah

Dokumen tersebut membahas tentang uji CBR (California Bearing Ratio) untuk mengetahui kekuatan tanah. Uji CBR dilakukan untuk mengevaluasi kualitas dan kekuatan lapisan dasar dan subdasar jalan berdasarkan uji laboratorium. Terdapat dua kondisi uji yaitu tanpa direndam (unsoaked) dan setelah direndam selama 96 jam (soaked) untuk mengetahui pengaruh penjenuhan. Nilai CBR digunakan untuk menentukan kualitas

Diunggah oleh

Hilmi
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
335 tayangan8 halaman

Panduan Uji CBR Laboratorium Tanah

Dokumen tersebut membahas tentang uji CBR (California Bearing Ratio) untuk mengetahui kekuatan tanah. Uji CBR dilakukan untuk mengevaluasi kualitas dan kekuatan lapisan dasar dan subdasar jalan berdasarkan uji laboratorium. Terdapat dua kondisi uji yaitu tanpa direndam (unsoaked) dan setelah direndam selama 96 jam (soaked) untuk mengetahui pengaruh penjenuhan. Nilai CBR digunakan untuk menentukan kualitas

Diunggah oleh

Hilmi
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

Laboratorium Mekanika Tanah

Departemen Teknik Sipil - Fakultas Teknik


Universitas Indonesia

BAB 6
CALIFORNIA BEARING RATIO

6.1. Standar Acuan


ASTM D 1883 “Standard Test Method for CBR (California Bearing Ratio) of
Laboratory-Compacted Soils”
AASHTO T 193 “Standard Method of Test for The California Bearing Ratio”
SNI 1744:1989 “Metode Pengujian CBR Laboratorium”

6.2. Maksud dan Tujuan Percobaan


Mendapatkan nilai CBR (California Bearing Ratio) tanah pada kondisi kadar air
optimum atau pada rentang kadar air tertentu dari uji pemadatan.

Nilai CBR ini merupakan metode dalam evaluasi kualitas dan kekuatan dari
lapisan subgrade, subbase, dan base soils pada perkerasan jalan berdasarkan
uji laboratorium.

6.3. Alat-alat dan Bahan


a. Alat
 Compaction Hammer (10 lbs)
 Mould (diameter 6”)
 Sendok pengaduk tanah
 Wadah untuk mencampur tanah dengan air
 Botol penyemprot air
 Pisau baja (straight edge)
 Timbangan
 Oven
 Aluminum can
 Stopwatch
 Beban logam berbentuk lingkaran ( ± 10 lbs)

Buku Panduan Praktikum Mekanika Tanah 56


Laboratorium Mekanika Tanah
Departemen Teknik Sipil - Fakultas Teknik
Universitas Indonesia

 Bak air
 Piringan berlubang dengan dial pengukur swell
 Mesin Uji CBR

b. Bahan
 Sampel tanah lolos saringan No. 4 ASTM sebanyak minimal 3 kantong
@ 5 kg

a b c

Gambar 5.1 Peralatan praktikum CBR: a) mesin CBR; b) Piringan berlubang dengan dial;
c) Beban logam

6.4. Teori dan Rumus yang Digunakan


Nilai CBR adalah perbandingan antara kekuatan sampel tanah (dengan
kepadatan tertentu dan kadar air tertentu) terhadap kekuatan batu pecah

Buku Panduan Praktikum Mekanika Tanah 57


Laboratorium Mekanika Tanah
Departemen Teknik Sipil - Fakultas Teknik
Universitas Indonesia

bergradasi rapat sebagai standar material dengan nilai CBR = 100. Untuk
mencari nilai CBR dipakai rumus:

test unit load (psi)


CBR = standard unit load (psi) × 100% (6.1)

Dengan Standard Unit Stress pada harga-harga penetrasi:

Tabel 6.1 Standard Unit Stress pada pengujian CBR

PENETRATION STANDARD UNIT STRESS

mm inch MPa psi


2.5 0.10 6.9 1000
5.0 0.20 10.3 1500
7.5 0.30 13.0 1900
10.0 0.40 16.0 2300
12.7 0.50 18.0 2600
Sumber: AASHTO T 193

Beban (load) didapat dari hasil pembacaan dial penetrasi yang kemudian
dikorelasikan dengan grafik Calibration Prooving Ring.

Test Unit Load (psi) = tegangan (σ)

𝑃 𝑀 (𝐿𝑅𝐶)
𝜎= = (6.2)
𝐴 𝐴

Dengan:
A = Luas Piston
P = M. LRC
M = dial reading
LRC = faktor kalibrasi

Buku Panduan Praktikum Mekanika Tanah 58


Laboratorium Mekanika Tanah
Departemen Teknik Sipil - Fakultas Teknik
Universitas Indonesia

Nilai CBR didapatkan berdasarkan rasio beban untuk penetrasi sedalam 2.5
mm (0.1 inch). Namun, jika nilai CBR pada saat penetrasi 5.0 mm lebih besar,
maka pengujian seharusnya diulang. Jika pengujian kedua memiliki nilai CBR
yang lebih besar pada saat penetrasi 5.0 mm, maka nilai CBR tersebut dapat
digunakan.

Dalam uji CBR, dilakukan dua pengujian, yaitu pengujian segera (unsoaked
condition) dan pengujian jenuh (soaked condition). Pengujian unsoaked
condition dilakukan segera setelah sampel tanah dipadatkan. Pengujian
soaked condition dilakukan setelah sampel tanah dalam mould
direndam/dijenuhkan selama 96 jam sambil dibebani oleh beban surcharge
sesuai dengan tekanan perkerasan jalan. Dilakukan pula pembacaan
pengembangan tanah (swell reading) pada interval waktu tertentu.

Perendaman ini dilakukan untuk mengetahui nilai CBR pada saat berada dalam
kondisi jenuh. Nilai CBR pada kondisi jenuh ini akan memberikan informasi
terkait peristiwa pengembangan tanah (soil expansion) di bawah perkerasan
jalan ketika tanah menjadi jenuh, serta memberikan indikasi adanya
perlemahan kekuatan tanah akibat penjenuhan yang terjadi.

Nilai CBR digunakan untuk mengetahui kualitas tanah terutama yang


digunakan sebagai lapisan base dan subgrade dibawah perkerasan jalan atau
lapangan terbang. Berikut merupakan penilaian CBR dan klasifikasinya
berdasarkan The Asphalt Handbook (1970).

Buku Panduan Praktikum Mekanika Tanah 59


Laboratorium Mekanika Tanah
Departemen Teknik Sipil - Fakultas Teknik
Universitas Indonesia

Tabel 6.2 Nilai CBR tanah beserta kualitas dan juga kegunaan serta sistem klasifikasinya
Nilai Sistem Klasifikasi
Kualitas Kegunaan
CBR Unified AASHTO
0-3 Sangat rendah Subgrade OH, CH, MH, OL A5, A6, A7
3-7 Rendah s/d cukup baik Subgrade OH, CH, MH, OL A4, A5, A6, A7
7-20 Cukup baik Subbase OL, CL, ML, SC, A2, A4, A6, A7
SM, SP
20-50 Baik Base atau GM, GC, SW, A1b, A2-5, A-3,
Subbase SM, SP, GP A2-6
>50 Sangat baik Base GW, GM A1a, A2-4, A3
Sumber: The Asphalt Handbook (1970)

6.5. Prosedur Praktikum


6.5.1. Persiapan
1. Siapkan 3 plastik sampel tanah lolos saringan No.4 ASTM seberat 5 kg.
2. Rencanakan kadar air pada masing-masing kantong. Kadar air ini
divariasikan -2% s/d -2.5% dari kadar air optimum pada percobaan
Compaction, dan +2 s/d +2.5% dari kadar air optimum. Untuk membuat
kadar air yang diinginkan, cari kadar air awal terlebih. Kemudian
tambahkan air dengan volume tertentu (V) untuk mencapai kadar air yang
diinginkan menggunakan persamaan berikut:

𝑊𝑋 −𝑊0
𝑉𝑎𝑑𝑑 = × 𝑤 = … ml (5.5)
1+𝑊0

3. Setelah sampel tanah dicampur dengan air hingga merata,


diamkan/peram sampel tanah tersebut selama ± 24 jam sebelum dilakukan
proses pemadatan.

6.5.2. Jalannya Praktikum


1. Padatkan sampel tanah seperti pada percobaan Compaction.
2. Lakukan penetrasi sampel pada kondisi Unsoaked.

Buku Panduan Praktikum Mekanika Tanah 60


Laboratorium Mekanika Tanah
Departemen Teknik Sipil - Fakultas Teknik
Universitas Indonesia

a. Timbang mould dan tanah, kemudian diletakan pada mesin CBR dan
berikan beban ring di atas permukaan sampel tanah. Piston diletakkan
di tengah-tengah beban ring sehingga menyentuh permukaan tanah.
b. Periksa dan set coading dan dial sehingga menjadi nol.
c. Lakukan penetrasi dengan penurunan konstan 0.05“/menit.
d. Catat pembacaan dial pada penetrasi sebagai berikut: 0.025”, 0.050”,
0.075”, 0.100”, 0.125”, 0.150”, 0.175”, 0.200”, 0.250”.

3. Lakukan penetrasi pada kondisi Soaked.


a. Setelah percobaan pada kondisi unsoaked, rendam sampel tanah tadi
± 96 jam untuk mengetahui nilai CBR pada kondisi swelling.
b. Lakukan pencatatan swelling pada jam pertama dan jam kedua sejak
mulai dimasukkan ke dalam bak air. Catat pembacaan selanjutnya
pada jam ke-24, 48, 72, dan 96 jam.
c. Setelah ± 96 jam, angkat mould dan tanah, kemudian lakukan
penetrasi seperti pada percobaan unsoaked namun permukaan yang
digunakan adalah yang sebaliknya.
d. Setelah selesai, keluarkan sampel tanah dan kemudian ambil sebagian
tanah di lapisan atas, sebagian tanah di lapisan tengah, dan sebagian
lagi tanah pada lapisan bawah untuk dihitung kadar airnya.

6.5.3. Perbandingan dengan ASTM


1. Menurut ASTM, pembacaan dial dilakukan pada jam pertama, kedua,
ketiga, hari ke-2, hari ke-3, dan hari ke-4. Sedangkan pada praktikum ini
hanya dilakukan pembacaan pada dua jam pertama berturut-turut dan
dilanjutkan hari ke-2, hari ke-3, dan hari ke-4.
2. Menurut ASTM pembacaan dial dilakukan hingga dial menunjukkan 0.3“,
sedangkan pada praktikum ini dilakukan pembacaan dial hingga 0.25“.

Buku Panduan Praktikum Mekanika Tanah 61


Laboratorium Mekanika Tanah
Departemen Teknik Sipil - Fakultas Teknik
Universitas Indonesia

6.6. Pengolahan Data


6.6.1. Data Hasil Praktikum (terlampir)

6.6.2. Perhitungan
Menentukan Volume air yang ditambahkan
W0 =…%
W1 =…%

𝑊𝑋 −𝑊0
𝑉𝑎𝑑𝑑 = × 𝑤 = … ml (5.5)
1+𝑊0
…− …
𝑉𝑎𝑑𝑑 = × … = … ml
1+ …

Membuat Tabel dan Grafik yang Menunjukkan Penetrasi Tanah terhadap


Tegangan/Beban

Membuat Grafik Perbandingan Seluruh Sampel pada Kondisi Unsoaked

Membuat Grafik Perbandingan Seluruh Sampel pada Kondisi Soaked

Menentukan Nilai CBR pada penetrasi 0.1” dan 0.2” pada kondisi Unsoaked
dan Soaked
Penetrasi 0.1”
…×…
 Unsoaked : CBR = × 100% = … %

…×…
 Soaked : CBR = × 100% = … %

Penetrasi 0.2”
…×…
 Unsoaked : CBR = × 100% = … %

…×…
 Soaked : CBR = × 100% = … %

Buku Panduan Praktikum Mekanika Tanah 62


Laboratorium Mekanika Tanah
Departemen Teknik Sipil - Fakultas Teknik
Universitas Indonesia

CBR
Penetration (inch)
Unsoaked Soaked
0.1 ... ...
0.2 ... ...

Menghitung Nilai Swelling Test


dial (96 jam × 2.54 × 0.001)
𝑆𝑤𝑒𝑙𝑙 = × 100%
tinggi mould

Hasil pengamatan dapat dirangkum seperti tabel di bawah ini:

t (waktu) Dial Reading Swell (%)


0 jam
1 jam
2 jam
3 jam
4 jam

Buku Panduan Praktikum Mekanika Tanah 63

Anda mungkin juga menyukai