BAB 1
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Tahun 2011 menjadikan momen sejarah paling penting untuk para pengusaha hijab dan
baju muslim karena pada tahun itulah titik mode hijab dan baju muslim berkembang (kompas,
2011). Permintaan akan hijab dan baju muslim pun semakin hari semakin bertambah karena
semakin banyak muslimah yang mengenal tren berhijab dan baju muslim. Salah satuanggota
Hijabers Community Depok, Ajeng Rahayu, mengungkapkan berbusana hijab dan baju muslim
kini menjadi suatu tren yang tumbuh pesat di kalangan Muslimah Indonesia. Hijab yang berasal
dari bahasa Arab, yang arti harfiahnya penutup, bisa diartikan dengan memakai jilbab atau
kerudung dengan tujuan untuk menutup aurat bagi perempuan Muslim (republika, 2011).
Mayoritas penduduk di Bandung pun memeluk agama Islam. Penduduk Islam pada tahun
2012 di Bandung kini mencapai 180 juta jiwa (Kementerian Agama 2012). Merupakan salah satu
peluang untuk kami dalam membuka bisnis perhijaban dan baju muslim di Bandung karena dilihat
dari target pasar yang mendukung yakni banyaknya jumlah muslim di Bandung.
Kini semakin banyak wanita muslim yang tertarik untuk mengenakan hijab dan
mengenakan busana yang menutup aurat. Selain itu penduduk di Bandung yang mayoritas islam
adalah salah satu faktor pendukung untuk dijadikan target pasar dalam berbisnis hijab dan busana
muslim, membuat usaha hijabpun semakin gencar dari permintaan pasar, semakin luaslah peluang
untuk membuka bisnis tersebut.
Berbekal dengan adanya kewajiban para muslimah untuk menutup aurat, ternyata dapat
dijadikan sebagai prospek bisnis yang sangat bagus. Salah satu peluang bisnis yang dapat
dijalankan yaitu mencoba bisnis baju muslimah. Saat ini bisnis baju muslimah telah banyak dilirik
para wanita, karena bisnis tersebut menjanjikan keuntungan yang cukup besar. Selain memberikan
keuntungan yang cukup besar, bisnis baju muslim juga memiliki target pasar yang cukup jelas.
Sehingga para pelaku usaha tidak terlalu sulit menawarkan produk baju muslimah.
Oleh karena itu, Kami memilih melakukan observasi bisnis pakaian karena peluang yang masih
sangat besar terutama pada busana muslim yang sedang marak saat ini.
1
1.2 Rumusan Masalah
1. Apa yang dimaksud dengan TQM?
2. Apa itu NUN hijab Bandung?
3. Bagaimana penerapan TQM di perusahaan NUN hijab bandung?
1.3 Tujuan
1. Untuk mengetahui ilmu TQM
2. Untuk Mengetahui perusahaan NUN hijab bandung
3. Untuk mengetahui implementasi TQM di produk NUN hijab bandung
2
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Total Quality Mamagement (TQM)
2.1.1 Pengertian TQM (Total Quality Management)
Dalam hal ini, para ahli dalam mendefinisikan TQM terdapat beberapa perbedaan
diantaranya yaitu:
1) Tobin (1990) mendefinisikan TQM sebagai usaha terintegrasi total untuk mendapatkan
manfaat kompetitif dengan cara secara terus-menerus memperbaiki setiap fase budaya
organisasional.
2) F.W. Taylor (1856-1915) Seorang insiyur mengembangkan satu seri konsep yang
merupakan dasar dari pembagian kerja. Analisis dengan pendekatan gerak dan waktu untuk
pekerjaan manual memperoleh gelar “Bapak Manajemen Ilmiah” Management). Dalam
bukunya tersebut Taylor menjelaskan beberapa elemen tentang teori manajemen, yaitu
sebagai berikut:
Setiap orang harus mempunyai tugas yang jelas dan harus diselesaikan dalam satu
hari.
Pekerjaan harus memiliki peralatan yang standar untuk menyelesaikan tugas yang
menjadi bagiannya.
Bonus dan intensif wajar diberikan kepada yang berprestasi maksimal.
Penalti yang merupakan kerugian bagi pekerjaan yang tidak mencapai sasaran yang
telah ditentukan (personal loss). Taylor memisahkan perencanaan dari perbaikan
kerja. Dengan demikian, dia memisahkan pekerjaan dari tanggung jawab untuk
memperbaiki kerja.
Witcher (1990) menekankan pada pentingnya aspek-aspek TQM menggunakan
penjelasan berikut: Total: Menandakan bahwa setiap orang dalam perusahaan harus
dilibatkan (bahkan mungkin pelanggan dan para pemasok), Quality:
Mengindikasikan bahwa keperluan-keperluan pelanggan sepenuhnya dipenuhi, dan
Management: Menjelaskan bahwa eksekutif senior pun harus komit secara penuh.
3
3) Feigenbaum (1991) memberikan definisi yang lebih lengkap dari TQM: “sistem kualitas
total dijelaskan sebagai salah satu yang merangkum keseluruhan siklus kepuasan
pelanggan dari interpretasi keperluannya terutama pada tahap pemesanan, melalui pasokan
produk atau jasa dari harga ekonominya dan pada persepsinya dari produk setelah dia telah
menggunakannya sepanjang perioda waktu”.
4) Definisi TQM menurut BS 4778 adalah : Manajemen Kualitas Total (TQM) adalah konsep
dan metoda yang memerlukan komitmen dan keterlibatan pihak manajemen dan seluruh
organisasi dalam pengolahan perusahaan untuk memenuhi keinginan atau kepuasan
pelanggan secara konsisten. Dalam TQM tidak hanya pihak manajemen yang
bertanggungjawab dalam memenuhi keinginan pelanggan, tetapi juga peran secara aktif
seluruh anggota dalam organisasi untuk memperbaiki kualitas produk atau jasa yang
dihasilkannya (Bennett and Kerr, 1996).
Total Quality Management (TQM) berasal dari kata "Total" yang berarti
keseluruhan atau terpadu, "Quality" yang berarti kualitas, dan "Management" yang telah
disamakan dengan manajemen dalam Bahasa Indonesia yang berarti pengelolaan.
Dalam pengertian mengenai TQM, penekanan utama adalah pada kualitas yang
didefinisikan dengan mengerjakan segala sesuatu dengan baik sejak awal dengan tujuan
untuk memenuhi kepuasan pelanggan.
TQM juga dapat di artikan sebagai strategi manajemen yang ditujukan untuk
menanamkan kesadaran kualitas pada semua proses dalam organisasi. Sesuai dengan
definisi dari ISO, TQM adalah "suatu pendekatan manajemen untuk suatu organisasi yang
terpusat pada kualitas, berdasarkan partisipasi semua anggotanya dan bertujuan untuk
kesuksesan jangka panjang melalui kepuasan pelanggan serta memberi keuntungan untuk
semua anggota dalam organisasi serta masyarakat.
"Filosofi dasar dari TQM adalah "sebagai efek dari kepuasan konsumen, sebuah
organisasi dapat mengalami kesuksesan."
Ada beberapa elemen bahwa sesuatu dikatakan berkualitas, yakni;
1) Kualitas meliputi usaha memenuhi atau melebihi harapan pelanggan
2) Kualitas mencakup produk, jasa, manusia, proses, dan lingkungan
4
3) Kualitas merupakan kondisi yang selalu berubah (apa yang dianggap berkualitas saat ini
mungkin dianggap kurang berkualitas pada saat yang lain).
4) Kualitas merupakan suatu kondisi dinamis yang berhubungan dengan produk, jasa,
manusia, proses, dan lingkungan yang memenuhi atau melebihi harapan.
Mutu terpadu atau disebut juga Total Quality Management (TQM) dapat
didefinisikan dari tiga kata yang dimilikinya yaitu: Total (keseluruhan), Quality (kualitas,
derajat/tingkat keunggulan barang atau jasa), Management (tindakan, seni, cara
menghendel, pengendalian, pengarahan).
Dari ketiga kata yang dimilikinya, definisi TQM adalah: “sistem manajemen yang
berorientasi pada kepuasan pelanggan (customer satisfaction) dengan kegiatan yang
diupayakan benar sekali (right first time), melalui perbaikan berkesinambungan (continous
improvement) dan memotivasi karyawan “ (Kid Sadgrove, 1995).
Seperti halnya kualitas, Total Quality Management dapat diartikan sebagai berikut;
1) Perpaduan semua fungsi dari perusahaan ke dalam falsafah holistik yang dibangun
berdasarkan konsep kualitas, teamwork, produktivitas, dan pengertian serta kepuasan
pelanggan (Ishikawa, 1993, p.135).
2) Sistem manajemen yang mengangkat kualitas sebagai strategi usaha dan berorientasi pada
kepuasan pelanggan dengan melibatkan seluruh anggota organisasi (Santosa, 1992, p.33).
3) Suatu pendekatan dalam menjalankan usaha yang mencoba untuk memaksimumkan daya
saing organisasi melalui perbaikan terus menerus atas produk, jasa, manusia, proses, dan
lingkungannya.
Pengertian lain dikemukakan oleh Drs. M.N. Nasution, M.S.c., A.P.U. mengatakan
bahwa Total Quality Management merupakan suatu pendekatan dalam menjalankan usaha
yang mencoba untuk memaksimumkan daya saing organisasi melalui perbaikan terus-menerus
atas produk, jasa, tenaga kerja, proses, dan lingkungannya.
2.1.2 Unsur-unsur utama TQM
Komponen ini memiliki 10 unsur utama (Goetch dan Davis, 1994) yang masing-masing
akan dijelaskan sebagai berikut:
5
1. Fokus Pada Pelanggan
Dalam TQM, baik pelanggan internal maupun pelanggan eksternal merupakan
driver. Pelanggan eksternal menentukan kualitas produk atau jasa yang disampaikan
kepada mereka, sedangkan pelanggan internal berperan besar dalam menentukan kualitas
manusia, proses, dan lingkungan yang berhubungan dengan produk atau jasa.
2. Obsesi terhadap Kualitas
Dalam organisasi yang menerapkan TQM, penentu akhir kualitas pelanggan
internal dan eksternal. Dengan kualitas yang ditetapkan tersebut, organisasi harus terobsesi
untuk memulai atau melebihi apa yang ditentukan tersebut. Hal ini berarti bahwa semua
karywan pada setiap level berusaha melaksanakan setiap aspek pekerjaannya gberdasarkan
perspektif”bagaimana kita dapat melakukannya dengan lebih baik?” bila suatu organisasi
terobsesi dengan kualitas,maka berlaku prinsip’good enough is never good enough’.
3. Pendekatan Ilmiah
Pendekatan ilmiah sangat di perlukan dalam penerapan TQM,terutama untuk
mendesain pekerjaan dan dalam proses pengambilan keputusan dan pemecahan masalah
yang berkaitan dengan pekerjaan yang didesain tesebut. Dengan demikian data di perlukan
dan dipergunakan dalam menyusun patok duga (benchmark), memantau prestasi, dan
melaksanakan perbaikan.
4. Komitmen Jangka Panjang
TQM merupakan suatu paradigma baru dalam melaksanakan bisnis. Untuk itu
dibutuhkan budaya perusahaan yang baru pula. Oleh karena itu komitmen jangka panjang
sangat penting guna mengadakan perubahan agar penerapan TQM dapat berjalan dengan
sukses.
5. KerjaSama Tim (Teamwork)
Dalam organisasi yang dikelola secara tradisional, seringkali diciptakan persaingan
antar departemen yang ada dalam organisasi tersebut agar daya saingannya terdongkrak .
Akan tetapi persaingan internal tersebut cenderung hanya menggunakan dan
menghabiskan energi yang seharusnya dipusatkan pada upaya perbaikan kualitas, yang
pada gilirannya untuk meningkatkan daya saing eksternal.
6
Sementara itu dalam organisasi yang menerapkan TQM, kerjasama tim, kemitraan
dan hubungan dijalin dan dibina, baik antar karyawan perusahaan maupun dengan
pemasok, lembaga-lembaga pemerintah, dan masyarakat sekitarnya.
6. Perbaikan Sistem Secara Berkesinambungan.
Setiap produk atau jasa dihasilkan dengan memanfaatkan proses-proses tertentu
didalam suatu sistem atau lingkungan. Oleh karena itu system yang ada perlu diperbaiki
secara terus menerus agar kualitas yang dihasilkan dapat meningkat.
7. Pendidikan dan Pelatihan
Dewasa ini masih terdapat perusahaan yang menutup[ mata terhadap pentingnya
pendidikan dan pelatihan. Perusahaan-perusahaan seperti itu hanya akan memberikan
pelatihan-pelatihan yang sekedarnya kepada karyawannya.
Hal ini menyebabkan perusahaan tidak berkembang dan sulit bersaing dengan
perusahaan lainnya. Sedangkan dalam perusahaan yang menerapkan TQM, pendidikan dan
pelatihan merupakan faktor yang fundamental. Dalam hal ini berlaku prinsip bahwa belajar
merupakan proses yang tidak ada akhirnya dan tidak mengenal batas usia.
8. Kebebasan yang Terkendali
Dalam TQM keterlibatan dan pemberdayaan karyawan dalam pengambilan
keputusandan pemecahan masalah merupakan unsure yang sangat penting. Hal ini
dikarenakan unsure tersebut dapat meningkatkan “rasa memiliki“ dan tanggungjawab
karyawan terhadap keputusan yang telah dibuat. Selain itu unsur ini juga dapat
memperkaya wawasan dan pandangan dalam suatu keputusan yang diambil, karena pihak
yang terlibat lebih banyak.
9. Kesatuan Tujuan.
Supaya TQM dapat diterapkan dengan baik maka perusahaan harus memiliki
kesatuan tujuan. Dengan demikian setiap usaha dapat diarahkan pada tujuan yang sama.
Akan tetapi kesatuan tujuan ini tidak berarti bahwa harus selalu ada
persetujuan/kesepakatan antara pihak manajemen dan karyawan mengenai upah dan
kondisi kerja.
10. Adanya Keterlibatan dan Pemberdayaan Karyawan
Keterlibatan dan pemberdayaan karyawan merupakan hal yang penting dalam
penerapan TQM. Usaha untuk melibatkan karyawan membawa 2 manfaat utama. Pertama,
7
hal ini akan meningkatkan kemungkinan dihasilkannya keputusan yang baik, rencana yang
lebih baik, atau perbaikan yang lebih efektif karena juga mencakup pandangan dan
pemikiran dari pihak-pihak yang langsung berhubungan dengan situasi kerja. Kedua,
keterlibatan karyawan juga meningkatkan ‘rasa memiliki” dan tanggung jawab atas
keputusan dengan melibatkan orang-orang yang harus melaksanakannya. Pemberdayaan
bukan sekedar berarti melibatkan karyawan tetapi juga melibatkan mereka dengan
memberikan pengaruh yang sungguh-sungguh berarti. Salah satu cara yang dapat
dilakukan adalah dengan menyusun pekerjaan yang memungkinkan pada karyawan untuk
mengambil keputusan mengenai perbaikan proses pekerjaanya dalam parameter yang
ditetapkan dengan jelas.
2.1.3 Prinsip-prinsip TQM
Ada beberapa tokoh yang mengemukakan prinsip-prinsip TQM. Salah satunya
adalah Bill Crash, 1995, mengatakan bahwa program TQM harus mempunyai empat
prinsip bila ingin sukses dalam penerapannya. Keempat prinsip tersebut adalah sebagai
berikut:
a) Program TQM harus didasarkan pada kesadaran akan kualitas dan berorientasi pada
kualitas dalam semua kegiatannya sepanjang program, termasuk dalam setiap proses dan
produk.
b) Program TQM harus mempunyai sifat kemanusiaan yang kuat dalam memberlakukan
karyawan, mengikutsertakannya, dan memberinya inspirasi.
c) Progran TQM harus didasarkan pada pendekatan desentralisasi yang memberikan
wewenang disemua tingkat, terutama di garis depan, sehingga antusiasme keterlibatan dan
tujuan bersama menjadi kenyataan.
d) Program TQM harus diterapkan secara menyeluruh sehingga semua prinsip,
kebijaksanaan, dan kebiasaan mencapai setiap sudut dan celah organisasi.
Lebih lanjut Bill Creech, 1996, menyatakan bahwa prinsip-prinsip dalam sistem TQM
harus dibangun atas dasar 5 pilar sistem yaitu; Produk, Proses, Organisasi, Kepemimpinan,
dan Komitmen.
Lima Pilar TQM :
1. Produk
2. Proses
8
3. Organisasi
4. Pemimpin
5. Komitmen
Produk adalah titik pusat untuk tujuan dan pencapaian organisasi. Mutu dalam
produk tidak mungkin ada tanpa mutu di dalam proses. Mutu di dalam proses tidak
mungkin ada tanpa organisasi yang tepat. Organisasi yang tepat tidak ada artinya tanpa
pemimpin yang memadai. Komitmen yang kuat dari bawah ke atas merupakan pilar
pendukung bagi semua yang lain. Setiap pilar tergantung pada keempat pilar yang lain, dan
kalau salah satu lemah dengan sendirinya yang lain juga lemah.
Pendapat lain dikemukakan oleh Hensler dan Brunnell (dalam Scheuing dan
Christopher, 1993: 165-166) yang dikutip oleh Drs. M.N. Nasution, M.S.c., A.P.U. dalam
bukkunya yang berjudul Manjemen Mutu Terpadu, mengatakan bahwa TQM merupakan
suatu konsep yang berupaya, melaksanakan sistem manajemen kualitas kelas dunia. Untuk
itu, diperlukan perubahan besar dalam budaya dan sistem nilai suatu organisasi.
ada empat prinsip utama dalam TQM, yaitu :
1. Kepuasan pelanggan.
2. Respek terhadap setiap orang.
3. Manajemen berdasarkan fakta.
4. Perbaikan berkesinambungan.
2.1.4 Manfaat Program TQM
TQM sangat bermanfaat baik bagi pelanggan, institusi, maupun bagi staf organisasi.
a. Manfaat TQM bagi pelanggan adalah:
1. Sedikit atau bahkan tidak memiliki masalah dengan produk atau pelayanan.
2. Kepedulian terhadap pelanggan lebih baik atau pelanggan lebih diperhatikan.
3. Kepuasan pelanggan terjamin.
b. Manfaat TQM bagi institusi adalah:
1. Terdapat perubahan kualitas produk dan pelayanan
2. Staf lebih termotivasi
3. Produktifitas meningkat
4. Biaya turun
9
5. Produk cacat berkurang
6. Permasalahan dapat diselesaikan dengan cepat.
c. Manfaat TQM bagi staf Organisasi adalah:
1. Pemberdayaan
2. Lebih terlatih dan berkemampuan
3. Lebih dihargai dan diakui
d. Manfaat lain dari implementasi TQM yang mungkin dapat dirasakan oleh institusi di
masa yang akan datang adalah:
1. Membuat institusi sebagai pemimpin (leader) dan bukan hanya sekedar pengikut
(follower)
2. Membantu terciptanya tim work
3. Membuat institusi lebih sensitif terhadap kebutuhan pelanggan
4. Membuat institusi siap dan lebih mudah beradaptasi terhadap perubahan
5. Hubungan antara staf departemen yang berbeda lebih mudah
Persyaratan Implementasi TQM, Agar implementasi program TQM berjalan sesuai dengan
yang diharapkan diperlukan persyaratan sebagai berikut:
1. Komitmen yang tinggi (dukungan penuh) dari menejemen puncak.
2. Mengalokasikan waktu secara penuh untuk program TQM.
3. Menyiapkan dana dan mempersiapkan sumber daya manusia yang berkualitas.
4. Memilih koordinator (fasilitator) program TQM.
5. Melakukan banchmarking pada perusahaan lain yang menerapkan TQM.
6. Merumuskan nilai (value), visi (vision) dan misi (mission).
7. Mempersiapkan mental untuk menghadapi berbagai bentuk hambatan.
8. Merencanakan mutasi program TQM.
2.1.5 Konsep Total Quality Managemen (TQM)
Konsep trilogy kualitas oleh Dr. Juran mengetengahkan Perencanaan Kualitas
(quality planning), Pengendalian Kualitas (quality control), dan Peningkatan Kualitas
(quality improvement).
Quality Planning melibatkan aktivitas:
Identifikasi pelanggan dan menentukan kebutuhan pelanggan.
10
Menciptakan keistimewaan produk yang dapat memenuhi kebutuhan pelanggan.
Menciptakan proses yang mampu menghasilkan keinstimewaan produk.
Perencanaan kualitas melibatkan partisipasi mereka yang akan dipengaruhi oleh
rencana. Pendekatan Juran terhadap pengendalian kualitas melibatkan beberapa
aktivitas berikut:
Mengevaluasi kinerja aktual.
Membandingkan aktual dengan sasaran.
Mengambil tindakan atas perbedaan aktual dengan sasaran.
Sedangkan pendekatan terhadap perbaikan atau peningkatan kualitas (quality
improvement) mencakup:
Menciptakan kesadaran dari kebutuhan dan kesempatan untuk peningkatan.
Memastikan peningkatan kualitas sebagai bagian dari deskripsi pekerjaan.
Menciptakan infrastruktur, memilih proyek untuk perbaikan, menentukan tim,
menyiapkan fasilitator.
Memberikan pelatihan.
Meninjau kemajuan secara teratur.
Penghargaan kepada tim yang berhasil.
Mensosialisasikan hasil-hasil perbaikan.
Memperbaiki sistem balas jasa (reward system).
Mempertahankan momentum melalui perluasan rencana bisnis mencakup sasaran
untuk peningkatan kualitas.
Agar sistem kualitas modern menjadi lebih efektif, langkah yang harus ditempuh antara
lain:
Mendefinisikan dan merinci sasaran dan kebijakan kualitas.
Berorientasi pada kepuasan pelanggan.
Mengerahkan semua aktivitas untuk mencapai sasaran dan kebijakan kualitas yang
telah ditetapkan.
Mengintegrasikan aktivitas-aktivitas tersebut di dalam organisasi.
Mengidentifikasi kualitas peralatan dengan cermat.
Melakukan pelatihan dan memotivasi karyawan.
11
Pengendalian terhadap ongkos kualitas dan pengukuran lainnya sesuai standar
kualitas yang diinginkan.
Memeriksa aktivitas dari sistem kualitas modern secara periodik.
2.2 Profil Usaha
Nama usaha : NUN Jilbab Bandung
Alamat kantor pusat : Jl. Raya bojongsoang no 195, Bandung Jawa Barat
Nama pemilik : H. Dani Praja
Skala usaha : Menengah
Bentuk Usaha : Busana Muslim
Produk : Jilbab, Baju muslim, Mukena, Gamis
2.2.1 Bauran pemasaran dari NUN jilbab Bandung
Produk
Produk yang ditawarkan oleh NUN jilbab Bandung ada beberapa varian dintaranya :
Baju muslim kekiniaan
Kerudung
Gamis
Mukena
Tempat
NUN jilbab bandung memilih temopat yang strategis dipinggir jalan di Jl. Raya
bojongsoang no 195, Bandung Jawa Barat
Harga
Kerudung : Rp. 75.000 – Rp.150.000
Gamis : Rp. 100.000 – Rp. 500.000
Baju Muslim : Rp. 125.000 – Rp. 300.000
Mukena : Rp. 200.000 – Rp. 600.000
Promosi
Promosi yang dilakukan oleh NUN jilbab Bandung melalui social media dan catalog
yang dibagikan kepada konsumen.
12
2.2.2 Sejarah Perusahaan
NUN Jilbab bandung didirikan pada tahun 2004, berawal dari pabrik konvensi di
daerah baleendah NUN jilbab bandung memulai usaha dengan membuat gamis, jilbab dan
busana muslim lainnya.
Pada tahun 2006 – 2007 NUN sempat mengalami masa kejayaan karena kondisi
politik sedang bagus dan pemilik NUN juga adalah seorang politikus sehingga mendapat
banyak orderan dan membuka 3 cabang di kota bandung, tapi di akhir 2007 politik tidak
memihak lagi ke pemilik NUN sehingga NUN mengalami kemunduran dan menjual 2
cabangnya dan sekarang hanya tersisa 1 cabang di jl. Bojong soang no. 195, dan akhirnya
sampai sekarang NUN jilbab bandung masih eksis dengan mengandalkan pemasaran
secara online oleh reseller yang tersebar di seluruh Indonesia.
2.2.3 Visi dan Misi
VISI
“ Menjadi Penyedia Busana Muslim Terbaik Di Bandung “
MISI
“Menyediakan barang yang berkulitas dan tidak Ketinggalan zaman “
2.2.4 Struktur Organisasi
Pada gerai busana muslim dipimpin oleh pemiliknya langsung dan memiliki dua
orang karyawan sebagai pramuniaga yang merangkap sebagai kasir.
1. Direktur/pemilik
a. Mengatur dan mengambil seluruh keputusan untuk memajukan butik busana
b. Mengatur seluruh keuangan, baik uang masuk maupun uang keluar.
d. Mengawasi kinerja karyawan.
e. Memberikan pelayanan terbaik kepada karyawan.
2. Pramuniaga merangkap kasir.
13
a. Menawarkan produk terbaru yang ada di butik kepada pelanggan.
b. Membantu pelanggan dalam mencari dan mengepas produk.
c. Mengawasi atau menjaga produk agar tidak hilang atau rusak.
d. Melayani pembeli melakukan pembayaran.
3. Penjahit
a. Menjahit Bahan dengan desain yang telah ditentukan
4. Desainer
a. Mendesain model busana muslim sesuia dengan trend yang sedang ramai
5. Penyortir
a. Menyortir barang sebelum dipasarkan
b. Memastikan barang yang akan dijual dalam keadaan baik.
6. Pemasar
a. Mengatur pemasaran produk
b. membuat katalog
Kualifikasi tenaga kerja
1. Pendidikan minimal SMU/SMK sederajat
2. Status single atau belum menikah
3. Usia maksimum 24 tahun
4. Bisa mengoperasikan computer
5. Ulet dan jujur
6. Mudah beradaptasi dan berpenampilan menarik
Proses Rekrutmen :
1. Membuat informasi lowongan pekerjaan melalui pamflet dan dari mulut ke mulut
2. Seleksi administrasi. Proses ini menyeleksi seluruh surat lamaran yang masuk dan dipilih
orang-orang yang masuk dalam kriteria yang ditentukan.
14
3. Wawancara. Dilakukan untuk mengetahui latar belakang keluarga, pendidikan dan
pekerjaan sebelumnya, juga fisik langsung si pelamar. Selain itu untuk mengetahui apa saja
yang diinginkan oleh si pelamar dari perusahaan jika ia nanti bergabung.
4. Tes ketrampilan. Pelamar yang lolos seleksi administrasi dan wawancara menjalani tes
ini agar perusahaan tahu sejauh mana ketrampilan yang dimiliki oleh si pelamar mengenai
keahlian berkomunikasi dengan pelanggan dan kemampuan mengoperasikan komputer.
5. Penandatanganan kontrak. Bagi pelamar yang sudah lolos seluruh penyeleksian dan
diterima bekerja segera datang dan melaporkan diri untuk penandatanganan kontrak.
2.3 Implementasi TQM di perusahaan NUN Jilbab Bandung
Untuk mengimplementasikan TQM pada kegiatan belajar-mengajar siswa di SMK, pihak
sekolah dapat menerapkan siklus PDCA (Plan, Do, Check, Act) yang dalam dunia industri
dipergunakan oleh perusahaan untuk menyelesaikan masalah. Siklus PDCA diperkenalkan oleh
Deming, salah satu tokoh TQM (Slamet, dkk 1996:5). Pada siklus Deming ini, proses penyelesaian
masalah dengan menggunakan siklus perencanaan, pelaksanaan, evaluasi, dan tindak lanjut.
Berikut delapan langkah dalam penyelesaian masalah berdasarkan siklus PDCA Deming.
A. Perencanaan (Plan)
Menurut Tampubolon (Slamet, dkk 1996:4) tahap perencanaan dimulai dari:
Langkah (1) : Tentukan problem utama. Apabila banyak problema yang dihadapi, carilah yang
paling penting;
Langkah (2) : Tentukan faktor penyebab;
Langkah (3) : Tetapkan urutan penyebab;
Langkah (4) : Perumusan rencana penanggulangan dan sasaran.
Apabila tahap perencanaan dari siklus PDCA ini kita kembangkan pada tahap perencanaan di
perusahaan NUN jilbab bandung, maka langkah pertama yang dilakukan perusahaan adalah
menetapkan permasalahan di seputar produk yang dibuat. Dalam menentukan urutan masalah,
Direktur mengikutsertakan staf untuk membicarakan masalah tentang produk. Selanjutnya
Direktur membentuk bagian atau divisi khusus perbaikan untuk berpartisipasi dalam pembuatan
rencana perbaikan. Dalam mengidentifikasi permasalahan seputar produk perusahaan membatasi
permasalahan yang ada, kemudian mencari kekuatan, kelemahan, peluang, dan ancaman yang
15
mungkin saja ada dari fokus masalah melalui analisis SWOT/SWOT analysis (Strenghts,
Weaknessess, Opportunities, Threat).
Setelah dilakukan identifikasi fokus masalah melalui analisis SWOT, tim akan menentukan
penyebab dari masalah yang ada. Langkah selanjutnya adalah tim perbaikan harus menetapkan
urutan penyebab masalah yang ada dalam pembuatan produk secara sistematis berdasarkan
permasalahan terpenting terlebih dahulu, hingga ke permasalahan ringan. Tahap dari akhir
perencanaan ini adalah tim perbaikan/pihak perusahaan wajib mengadakan perumusan langkah
perbaikan atau usaha pemecahan masalah yang akan dilakukan, beserta maksud dan tujuan dari
langkah penanggulangan itu.
B. Pelaksanaan (Do)
Tahap pelaksanaan ini merupakan tahap implementasi rencana-rencana penanggulangan dari
masalah yang ada. Pada tahap ini, menurut Tampubolon (dalam Slamet, dkk 1996:4), perencanaan
yang telah ada dilaksanakan sesuai dengan yang telah ditetapkan. Pada tahap pelaksanaan ini, tim
perbaikan tetap memantau proses implementasi maupun hasilnya. Apabila pada saat proses
pelaksanaan rencana, tiba-tiba terjadi peristiwa dengan keadaan yang tidak terprediksi
sebelumnya, maka pihak perusahaan harus mampu mengadakan penyesuaian sesuai dengan
kondisi tersebut.
C. Evaluasi (Check)
Pada tahap evaluasi ini, tim perbaikan mutu kegiatan belajar-mengajar harus mengadakan
pemantauan terhadap semua bagian kegiatan dari proses pelaksanaan rencana yang telah
dilaksanakan. Evaluasi dijalankan untuk mengetahui apakah sasaran yang telah ditetapkan berhasil
sesuai rencana atau terdapat penyimpangan Tampubolon (dalam Slamet, dkk 1996:4). Pada tahap
ini, buatlah alat atau cara untuk memantau (memonitor) pelaksanaan proses dan hasilnya,
konfirmasikan bahwa cara atau alat itu absah untuk digunakan, apakah evaluasi itu mendatangkan
efek yang diinginkan, apakah ada konsekuensi yang tak diharapkan (Slamet, dkk 1996:9).
D. Tindak Lanjut (Act)
Tahapan ini merupakan tahapan akhir dari siklus PDCA. Tim perbaikan mutu produk harus
menetapkan usulan standar lanjutan berdasarkan hasil yang telah didapatkan, kemudian tim
16
perbaikan mutu menetapkan langkah perbaikan berikutnya untuk permasalahan yang belum
terselesaikan.
Menurut Slamet, dkk (1996:9) langkah tindak lanjut tersebut sebagai berikut:
1. Nilailah hasil-hasil yang dicapai demikian pula proses pemecahan masalah dan perubahan
proses yang direkomendasikan;
2. Teruskan perbaikan proses bila diperlukan, bakukan bila memungkinkan;
3. Rayakan keberhasilan yang dicapai.
BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Total quality manajemen adalah suatu sistem manajemen dalam meningkatkan
keseluruhan kualitas menuju pencapaian keunggulan bersaing yang berorientasi pada kepuasan
pelanggan dengan melibatkan seluruh anggota organisasi. Oleh karena itu dengan penerapan total
quality manajemen akan memberikan keuntungan bagi perusahaan dan pelanggan.
NUN jilbab Bandung telah mengimplementasikan TQM dengan cara mengadakan bagian
penyortiran agar produk bisa dipastikan kualitas dari produk tersebut. NUN jilbab bandung juga
17
menyediakan layanan service costumer untuk menerima aduan jika ada barang rusak dan akan
segera direturn dan ditinjau oleh pihak penyortir sehingga tidak ada kesalahan yang sama kembali.
Daftar Pustaka
[Link] (di buka
pada tanggal 21 November)
[Link] (di buka pada tanggal 21
November)
18
Lampiran
Gambar 1.1 Gambar 1.2
Gambar
Bersama pelayan dan1.3
Kasir NUN jilbab Tampak depan toko NUN jilbab
Sebagian ProdukBandung
NUN Jilbab Bandung Bandung
19