BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Aktivitas manusia dalam kehidupan sehari-hari hampir tidak pernah dapat
terlepas dari kegiatan belajar, baik ketika seseorang melaksanakan aktivitas
sendiri, maupun di dalam suatu kelompok. Belajar merupakan proses
pemerolehan berbagai keampuan dan keterampilan, tentang strategi untuk
menjalankan peran di dunia, serta tentang sikap dan nilai yang memandu
tindakan seseorang (Gredler, 2011). Belajar memiliki hubungan erat dengan
mengajar. Mengajar adalah suatu keadaan atau aktivitas untuk menciptakan
situasi yang mampu mendorong siswa untuk belajar
(Aunurrahman,2016).Mengajar juga dapat diartikan sebagai usaha
mengorganisasi lingkungan sehingga menciptakan kondisi belajar bagi siswa
(Hamalik, 2015). Menurut Kamus Besar Bahasa Indosesia cara diartikan
sebagai jalan, aturan, sistem yang dilakukan seseorang untuk berbuat sesuatu.
Dalam mengajar, harus ada teori yang mendasari kegitatan belajar.
Pembelajaran merupakan hal yang harus direncanakan dan disusun sebaik-
baiknya, agar peserta didik dapat belajar dengan baik. Teori belajar dapat
digunakan untuk menjelaskan peristiwa tertentu dalam proses pembelajaran.
Dalam Undang-undang Republik Indonesia Nomor 14 Tahun 2005
tantang guru dan dosen yakni pasal 20 ayat 1 menegaskan bahwa dalam
melaksanakan tugas keprofesional, guru berkewajiban merencanakan
pembelajaran, melaksanakan proses pembelajaran yang bermutu serta menilai
dan mengevaluasi pembelajaran. Dengan demikian merencanakan
pembelajaran menjadi tugas utama seorang guru. Merenanakan kegiatan
pembelajaran sangat penting bagi guru sebagai acuan untuk melaksanakan
kegiatan pembelajaran agar lebih terarah, efektif dan efisien (Irwantoro dan
Suryana, 2016)
Teori belajar adalah suatu pendekatan pada bidang pengetahuan cara
menganalisis, membicarakan dan meneliti pembelajaran. Teori pembelajaran
berfungsi untuk membantu guru memahami cara siswa belajar, membimbing
guru merancang dan merencanakan proses pembelajaran, memandu guru
untuk mengelola kelas, membantu guru untuk mengevaluasi proses perilaku
guru serta hasil belajar yang telah dicapai, dan membantu guru dalam
memberikan dukungan dan bantuan kepada siswa sehingga dapat membantu
proses belajar yang lebih efektif.
1.2 Rumusan Masalah
1. Teori siapakah yang digunakan dalam rencana pelaksanaan pembelajaran
struktur atom dan tabel periodik kelas X semester ganjil di SMA N 1
Abiansemal?
1
1.3 Tujuan
Berdasarkan rumusan masalah yang telah disebutkan, tujuan makalah ini
adalah mendeskripsikan teori belajar yang digunnakan guru dalam merancang
pelaksanaan pembelajaran.
Untuk menjelaskan penggunaan teori-teori belajar yang digunakan
1.4 Manfaat
a. Bagi pembaca, makalah ini dapat menambah pengetahuan dan sumber
belajar tentang teori-teori belajar yang digunakan guru dalam membuat
rencana pelaksanaan pembelajaran.
b. Bagi penulis, makalah ini dapat menambah pengetahuan tentang teori-teori
belajar yang digunakan guru dalam membuat rencana pelaksanaan
pembelajaran.
2
BAB II
KAJIAN TEORI
2.1 Teori Belajar Behavioristik
Menurut teori behavioristik, belajar adalah perubahan tingkah laku
sebagai akibat dari adanya interaksi antara stimulus dengan respon yang
menghasilkan perubahan tingkah laku. (Budiningsih, 2012). Faktor yang
dianggap penting dalam teori behavioristik ini adalah faktor penguatan
(reinforcement) yang dapat memperkuat timbulnya respon. Tokoh-tokoh
aliran behavioristik diantaranya adalah Skiner, Throndike, Pavlov, dan masih
banyak lagi.
a. Teori belajar menurut Thorndike
Thorndike mengemukakan bahwa belajar adalah proses interaksi antara
stimulus dan respon. Menurut Thorndike, belajar dapat dilakukan dengan
cara mencoba-coba (trial and error) mencoba-coba dilakukan bila seseorang
tidak tahu bagaimana harus memberikan respon terhadap sesuatu (Irwantoro
dan Suryana, 2016). Dalam teori trial and error ini, apabila seseorang
dihadapkan dengan keadaan atau situasi yang baru maka secara otomatis
akan memberikan respon atau tindakan-tindakan yang bersifat coba-coba atau
biasa juga berdasarkan naluri karena pada dasarnya disetiap stimulus itu pasti
ditemukan respon. Pada saat seseorang dihadapkan pada situasi yang baru
maka berbagai macam respon yang berbeda akan dilakukan sampai seseorang
menemukan respon yang sesuai untuk stimulus yang diberikan.
Menurut Thorndike situasi belajar harus menyerupai dunia nyata karena
proses belajar akan di transfer dari ruang kelas ke lingkungan luar sepanjang
dua situasi itu mirip. Oleh karena itu lingkungan belajar yang akan
memunulkan respon yang diinginkan bersama dengan adanya stimulus yang
diberikan kepada peserta didik. (Hergenhahn & Olson, 2008). Ketika
seseorang dihadapkan dengan situasi yang baru, seseorang dapat merespon
situasi tersebut menggunakan analogi yaitu merespon situasi yang mirip
dengan situasi yang baru. Dalam hal ini, guru dan siswa harus tau stimulus
yang diberikan kepada siswa dan mengetahui respon yang harus ditunjukan
sesudah pemberian respon tersebut (Hergenhahn & Olson, 2008).
b. Teori belajar menurut Skinner
Menurut Skiner perilaku adalah perbuatan yang dilakukan seseorang pada
situasi tertentu. Suatu respon sesungguhnya menghasilkan sejumlah
konsekuensi yang akan mempengaruhi tingkah laku manusia (Irwantoro dan
Suryana, 2016). Stimulus yang diberikan kepada seseorang akan saling
berinteraksi dan interaksi ini akan mempengaruhi respon. Respon inilah yang
menyebabkan akibat dari perubahan tingkah laku. Penggunaan konsekuensi-
konsekuensi yang menyenangkan dan tidak menyenangkan untuk mengubah
tingkah laku disebut operant conditioning. Dalam kaitannya dengan psikologi
3
belajar adalah proses belajar dengan mengendalikan semua atau sembarang
respon yang muncul sesuai konsekuensi (resiko) yang mana seseorang akan
cenderung untuk mengulang respon-respon yang di ikuti oleh penguatan.
Menurut Skinner, unsur penting dalam pembelajaran adalah penguatan.
Skinner membagi penguatan ini menjadi dua yaitu penguatan positif dan
penguatan negatif. Penguatan positif adalah penguatan berdasarkan prinsif
bahwa frekuensi respons meningkat karena diikuti dengan stimulus yang
mendukung (rewarding). Bentuk-bentuk penguatan positif adalah berupa
hadiah (permen, kado, makanan, dll), perilaku (senyum, menganggukkan
kepala untuk menyetujui, bertepuk tangan, mengacungkan jempol), atau
penghargaan (nilai A, juara 1 dan sebagainya). Penguatan negatif adalah
penguatan berdasarkan prinsif bahwa frekuensi respons meningkat karena
diikuti dengan penghilangan stimulus yang merugikan (tidak
menyenangkan). Bentuk-bentuk penguatan negatif antara lain menunda/tidak
memberi penghargaan, memberikan tugas tambahan atau menunjukkan
perilaku tidak senang (menggeleng, kening berkerut, muka kecewa dll).
Skinner lebih percaya pada penguatan negatif daripada dengan hukuman.
Perbedaan antara penguatan negatif dengan hukuman adalah bila hukuman
harus diberikan sebagai stimulus agar respon yang timbul berbeda dari
stimulus yang diberikan sebelumnya. Sedangkan penguatan negatif diberikan
sebagai stimulus harus dikurangi agar respon yang sama semakin kuat. Jadi,
menurut Skinner pembelajaran yang berlangsung akan sangat efektif apabila
setelah belajar, guru memberikan umpan balik (feedback) mengenai
perkembangan belajar mereka. Selain itu, Skinner juga sependapat dengan
Thorndike bahwa guru dan peserta didik harus tau stimulus yang akan
diberikan kepada siswa dan respon yang harus dicapai dalam pembelajaran.
c. Teori belajar menurut Pavlov
Teori yang dikemukakan oleh Pavlov dikenal dengan responed
conditioning, yaitu pengkondisian pemberian stimulus baru yang dilakukan
secara berulang-ulang untuk menghasilkan respon yang spontan (Irwantoro
dan Suryana, 2016). Respon yang ditampilkan berupa pemberian stimulus
yang baru, dengan adanya stimulus yang baru maka yang dilakukan secara
berulang-ulang maka akan menghasilkan respon secara spontan.
2.2 Teori belajar kognitif
Teori belajar kognitif berbeda dengan teori belajar perilaku. Teori belajar
kognitif lebih mementingkan proses belajar daripada hasil belajar. Teori
kognitif berpandangan bahwa belajar merupakan suatu proses internal yang
mencakup ingatan dan pengolahan informasi (Budiningsih,2012). Tokoh-
tokoh yang mengembangkan teori kognitif diantaranya adalah:
4
a. Teori belajar Piaget
Menurut Piaget, proses belajar terdiri dari tiga tahapan, yakni asimilasi,
akomodasi, dan equilibrasi (Irwantoro dan Suryana, 2016). Asimilasi dan
akomodasi dapat terjadi apabila seseorang mengalami perbedaan atau
ketidakseimbangan antara apa yang telah diketahui dengan apa yang dilihat
sekarang. Proses asimilasi merupakan proses penyatuan informasi baru ke
dalam struktur kognitif yang telah dimiliki seseorang. Proses akomodasi
merupakan proses penyesuaian struktur kognitif dengan situasi yang baru.
Sedangkan proses ekuilibrasi adalah penyesuaian berkesinambungan antara
asimilasi dan akomodasi. Tanpa proses ekuilibrasi maka perkembangan
kognitif seseorang akan mengalami gangguan (Budiningsih, 2012).
b. Teori belajar Bruner
Teori Bruner yang terkenal adalah free discovery learning. Teori ini
menjelaskan bahwa proses belajar akan berjalan dengan baik jika guru
memberikan kesempatan kepada siswa untuk menemukan suatu konsep, teori
atau pemahaman melalui contoh-contoh yang dijumpai dalam kehidupan
sehari-hari. Keuntungan dari teori free discovery learning ini adalah
menimbulkan rasa ingin tahu peserta didik dan dapat momotivasi untuk
menemukan jawaban-jawaban (Irwantoro dan Suryana, 2016).
c. Teori belajar bermakna Ausubel
Menurut Ausubel, seseorang memperoleh ilmu pengetahuan melalui
penerimaan bukan melalui penemuan. Menurut Ausubel ada dua jenis belajar
yaitu belajar bermakna dan belajar menghafal. Belajar bermakna adalah
proses menghubungkan informasi baru dengan struktur informasi yang yang
telah dimiliki oleh seseorang yang sedang belajar. Belajar akan dianggap
bermakna apabila siswa mampu mengaitkan informasi baru ke dalam konsep
atau fakta yang telah diingatnya (Harefa, 2013).
Advance organizers yang juga dikembangkan oleh Ausubel merupakan
penerapan konsepsi tentang struktur kognitif dalam merancang pembelajaran.
Penggunaan advance organizers sebagai kerangka yang dapat meningkatkan
kemampuan siswa dalam mempelajari informasi baru (Budiningsih, 2012).
Dalam hal ini guru hendaknya memberikan serta menghubungkan fakta-fakta
atau contoh yang konkret terhadap materi yang akan dipelajari.
2.3 Teori belajar sosial
Menurut Holson (dalam Santrock, 2008), teori belajar sosial merupakan
proses dimana informasi diperoleh dengan memerhatikan kejadian-kejadian
dalam lingkungan. Teori belajar sosial sama dengan teori belajar
sosiokultural yang berarti belajar bukan sebagai proses individual, tetapi
sebagai hubungan dua orang bahkan lingkungan kultural yang lebih luas. Ada
5
beberapa tokoh yang mengemukakan tentang teori belajar sosial diantaranya
adalah Vygotsky, Rogers, dan Bandura.
a. Teori belajar Vygotsky
Pengetahuan dan perkembangan kognitif individu berasal dari sumber-
sumber sosial di luar dirinya. Maka teori Vygotsky ini sering dikenal sebagai
sebagai teori sosial konstruktivis. Teori ini menekankan bahwa
perkembangan kognitif manusia berasal dari masyarakat, lingkungan dan
budayanya (Adam, 2017). Vigotsky setuju dengan teori Piaget bahwa
perkembangan kognitif terjadi secara bertahap dan dicirikan dengan gaya
berpikir yang berbeda-beda, akan tetapi Vygotsky tidak setuju dengan
pandangan Piaget bahwa anak menjelajahi dunianya sendirian dan
membentuk gambaran realitasnya sendirian, karena menurut Vygotsky suatu
pengetahuan tidak hanya didapat oleh anak itu sendiri melainkan mendapat
bantuan dari lingkungannya juga (Schunk, 2012). Menurut Vygotsky siswa
sebaiknya belajar melalui interaksi dengan orang dewasa dan teman sebaya
yang lebih mampu. Interaksi sosial ini memacu terbentuknya ide baru dan
memperkaya perkembangan intelektual siswa.
b. Teori Rogers
Rogers mengemukakan bahwa peserta didik yang belajar hendaknya tidak
dipaksa, melainkan dibiarkan belajar bebas (Irwantoro dan Suryana, 2016).
Menurut Roger, peranan guru dalam kegiatan belajar siswa menurut
pandangan teori humanisme adalah sebagai fasilitator yang berperan aktif
dalam membantu menciptakan iklim kelas yang kondusif agar siswa bersikap
positif terhadap belajar, membantu siswa untuk memperjelas tujuan
belajarnya dan memberikan kebebasan kepada siswa untuk belajar,
membantu siswa untuk memanfaatkan dorongan dan cita-cita mereka sebagai
kekuatan pendorong belajar, menyediakan berbagai sumber belajar kepada
siswa, dan menerima pertanyaan dan pendapat, serta perasaan dari berbagai
siswa sebagaimana adanya.
c. Teori Bandura
Menurut Bandura, individu melakukan pembelajaran dengan meniru
perilaku orang lain yang ada di lingkungannya. Teori belajar sosial Bandura
disebut sebagai teori sosial kognitif selain itu teori belajar sosial Bandura
disebut juga sebagai teori pembelajaran melalui peniruan individu akan
mengamati perilaku di lingkungannya sebagai model, kemudian ditirunya
sehingga menjadi perilaku miliknya. Sehingga guru hendaknya berperan
sebagai model atau contoh yang dapat ditiru oleh peserta didiknya. Sehingga
apa saja yang dilakukan oleh guru akan mendapatkan perhatian/sorotan dari
peserta didik atau orang di sekitar lingkungannya.
6
BAB III
METODE
3.1 Jenis Kegiatan
Jenis kegiatan yang dilakukan dalam makalah ini adalah menganalisis
teori belajar yang digunakan guru kimia SMA N 1 Abiansemal dalam
rencana pelaksanaan pembelajaran.
3.2 Tempat dan Waktu
Rencana pelaksanaan pembelajaran yang dianalisis adalah RPP yang
dibuat oleh guru kimia di sekolah SMA N 1 Abiansemal pada tahun
akademik 2017/2018.
3.3 Materi
Rencana pelaksanaan yang dianalisis adalah materi tentang struktur atom
dan tabel periodik kelas X semester ganjil.
3.4 Metode Analisis
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif.
Data hasil penelitian kualitatif berupa fakta yang dipaparkan sesuai dengan
kenyataan yang terjadi dalam penelitian (Budiyono, 2003).
3.5 Instrumen
Instrumen yang digunakan dalam analisis RPP ini adalah dokumentasi.
Pengambilan hasil penelitian dapat dijabarkan dalam tabel berikut:
Aplikasi Aplikasi
dalam dalam rpp
Teori Tokoh Bukti
pembelajara Ada Tidak
n
Belajar Guru memberikan
dilakukan gambaran tentang
dengan cara manfaat
mencoba- mempelajari
coba.. pelajaran yang akan
Thorndi dipelajari.
Behav ke Guru
ioristi menyampaikan
k tujuan pembelajaran
pada pertemuan
yang berlangsung
Skiner Menurut Guru memeriksa
Skiner, unsur pekerjaan siswa yang
penting selesai langsung
7
dalam diperiksa. Peserta didik
pembelajaran yang selesai
adalah mengerjakan projek
penguatan. dengan benar diberi
Yang terdiri paraf serta diberi nomor
dari urut peringkat, untuk
penguatan penilaian projek.
positif dan Guru memberikan
penguatan penghargaan kepada
negatif. kelompok yang
memiliki kinerja dan
kerjasama yang baik
Pavlov Teori yang Guru menyiapkan fisik
dikemukakan dan psikis peserta didik
oleh Pavlov dalam mengawali
dikenal kegiatan pembelajaran.
dengan Peserta didik membuat
responed resume dengan
conditioning bimbingan guru tentang
yaitu point-point penting
pengkondisia yang muncul dalam
n situasi kegiatan pembelajaran
belajar dalam yang baru dilakukan.
menerima
stimulus baru
secara
berulang
untuk
mengkasilka
n respon
spontan.
Piaget Teori belajar Guru mengaitkan
Piaget materi/tema/kegiatan
menekankan pembelajaran yang
bahwa akan dilakukan dengan
pengetahuan pengalaman peserta
dikonstruksi didik dengan
melalui materi/tema/kegiatan
pengetahuan sebelumnya, yaitu :
Kognit sebelumnya. Hakikat dan Peran
if
Kimia dalam kehidupan
serta Metode Ilmiah
Mengingatkan kembali
materi prasyarat dengan
bertanya.
Peserta didik
mendiskusikan hasil
pengamatannya dan
8
memverifikasi hasil
pengamatannya
dengan data-data atau
teori pada buku
sumber.
Bruner Teori Bruner Peserta didik diberi
yang terkenal motivasi atau
adalah free rangsangan untuk
discovery memusatkan perhatian
learning. pada topik
Guru perkembangan model
memberikan atom.
kebebasan Guru memberikan
bagi siswa kesempatan pada
untuk peserta didik untuk
menggali mengidentifikasi
informasi sebanyak mungkin
serta konsep pertanyaan yang
melaliu berkaitan dengan
contoh- gambar yang disajikan
contoh dalam dan akan dijawab
kehidupan melalui kegiatan
sehari-hari. belajar.
Peserta didik
mengumpulkan
informasi yang relevan
untuk menjawab
pertanyan yang telah
diidentifikasi.
Ausubel Ausubel
mengemukak
an tentang
belajar
bermakna,
bukan belajar
menghafal.
Belajar
bermakna
dapat terjadi
apabila siswa
mampu
mengaitkan
informasi
baru ke
dalam
konsep atau
fakta yang
konkret dan
9
mengaitkan
dengan
pengetahuan
yang telah
dimiliki
sebelumnya.
Vygotsk Vygotsky Guru membagi
y menekankan kelompok belajar.
bahwa Peserta didik dalam
pentingnya kelompoknya
interaksi berdiskusi mengolah
sosial dalam data hasil pengamatan.
proses Peserta didik berdiskusi
belajar. untuk menyimpulkan
Untuk itu hasil pengamatan.
penerapan
cooperative
learning
sangat cocok
digunakan
bagi anak
untuk
berinteraksi
Sosial dengan
teman
sebayanya.
Rogers Rogers
mengemukak
an bahwa
peserta didik
yang belajar
hendaknya
tidak dipaksa
dan dibiarkan
untuk belajar
bebas tanpa
ancaman dan
hukuman.
Bandura Belajar
merupakan
peniruan.
10
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
Berdasarkan hasil analisis yang telah diperoleh dalam Rencana
Pelaksanaan Pembelajaran materi struktur atom dan tabel periodik unsur SMA N
1 Abiansemal diperoleh hasil bahwa teori belajar yang digunakan dalam Rencana
pembelajaran tersebut dari pertemuan satu sampai delapan menerapkan teori
Pavlov, Piaget, Thorndike, Brunner, Vygotsky, dan Skiner. Pada pertemuan
pertama sebelum memulai pembelajaran, guru melakukan pembukaan dengan
salam pembukan lalu memeriksa kehadiran peserta didik. Setelah memeriksa
kehadiran peserta didik guru menyiapkan fisik dan psikis peserta didik dalam
mengawali kegiatan pembelajaran. Dalam hal ini guru mengkondisikan siswa agar
siap untuk belajar. Menurut teori conditioning yang dikemukakan oleh Pavlov
bahwa belajar adalah suatu proses yang terjadi karena adanya syarat-syarat
(conditions) kemudian akan menimbulkan respon (Dahar, 2002). Guru
mengkondisikan siswa agar siswa siap untuk belajar dengan syarat melakukan
salam pembukaan dan berdoa. Dengan demikian, anak secara bertahap akan
mengalami kesiapan dalan proses pembelajaran.
Pada kegiatan apersepsi guru mengaitkan materi/tema/kegiatan
pembelajaran yang akan dilakukan dengan pengalaman peserta didik dengan
materi sebelumnya, mengingatkan kembali materi prasyarat dengan bertanya, dan
mengajuka pertanyaan yang ada keterkaitannya dengan pelajaran yang akan
dilakukan. Menurut teori Piaget bahwa anak menyusun pengetahuan dan
mentransformasikan, mengorganisasikan, dan mereorganisasikan pengetahuan
sebelumnya (Santrock, 2007). Menurut Piaget proses belajar terdiri dari tiga
tahapan, yaitu asimilasi, akomodasi, dan equilibrasi (Irwantoro dan Suryana,
2016). Pada proses asimilasi, ketika seseorang menerima informasi baru dan
pengalaman baru maka informasi tersebut akan menyesuaikan dengan struktur
kognitif yang dimiliki oleh peserta didik. Pada proses akomodasi, ketika
seseorang menerima informasi baru atau pengalaman baru maka struktur
kognitiflah yang menyesuaikan dengan informasi tersebut (Budiningsih, 2012).
Dalam hal ini, guru mengeksplorasi pengetahuan awal yang dimiliki oleh siswa
untuk menyesuaikan dengan pengetahuan baru yang akan diberikan oleh guru.
Sehingga saat terjadi asimilasi dan akomodasi, pengetahuan awal yang dimiliki
oleh peserta didik bisa menguat atau diperbaiki dengan adanya pengetahuan baru.
Setelah kegiatan apersepsi, guru memberikan gambaran tentang manfaat
mempelajari pelajaran yang akan dipelajari. Apabila materi yang dikerjakan
dengan baik dan sungguh-sungguh maka peserta didik dapat menjalaskan tentang
perkembangan model atom. Lalu guru menyampaikan tujuan pembelajaran pada
pertemuan yang berlangsung. Menurut Thorndike, belajar dapat dilakukan dengan
cara mencoba-coba (Irwantoro dan Suryana, 2016). Seperti yang dikatakan oleh
Thorndike bahwa belajar dapat dilakukan dengan cara mencoba-coba, maka
tujuan pembelajaran harus diketahui secara jelas oleh guru maupun peserta didik,
11
agar guru dan peserta didik mengetahui stimulus yang akan diberikan kepada
peserta didik dan respon yang ditimbulkan dari pemberian stimulus tersebut.
Pada kegiatan inti, peserta didik diberi motovasi atau rangsangan untuk
memusatkan perhatian pada topik perkembangan model atom dengan cara
melihat, mengamati, membaca, mendengar, dan menyimak. Lalu guru
memberikan kesempatan pada peserta didik untuk mengidentifikasi sebanyak
mungkin pertanyaan yang berkaitan dengan gambar yang disajikan dan akan
dijawab melalui kegiatan belajar. Dalam hal ini peserta didik diarahkan untuk
menemukan hal-hal yang berkaitan dengan materi tentang struktur atom dan tabel
periodik melalui kegiatan melihat, mengamati, membaca, mendengar, dan
menyimak. Menurut Brunner proses belajar akan berjalan dengan baik jika guru
memberikan kesempatan kepada siswa untuk menemukan suatu konsep, teori atau
pemahaman melalui contoh-contoh yang dijumpai dalam kehidupan sehari-hari.
Keuntungan dari teori free discovery learning ini adalah menimbulkan rasa ingin
tahu peserta didik dan dapat momotivasi untuk menemukan jawaban-jawaban
(Irwantoro dan Suryana, 2016).
Setelah peserta didik menemukan hal-hal yang berkaitan tentang struktur atom
dan tabel periodik, peserta didik mengumpulkan informasi yang relevan untuk
menjawab pertanyaan yang telah diidentifikasi. Lalu peserta didik dalam
kelompoknya berdiskusi mengolah data hasil pengamatan dan memverifikasi hasil
pengamatan dengan data-data atau teori pada buku lalu peserta didik berdiskusi
menyimpulkan hadil pengamatan. Dalam hal ini guru menginginkan agar antara
peserta didik satu dengan yang yang lainnya saling berinteraksi. Menurut
Vygotsky bahwa siswa sebaiknya belajar melalui interaksi dengan orang dewasa
dan teman sebaya yang lebih mampu. Interaksi sosial ini memacu terbentuknya
ide baru dan memperkaya perkembangan intelektual siswa (Schunk, 2012). Hal
ini bertujuan agar siswa bisa saling bertukar informasi dan pengetahuan dengan
teman sebayanya.
Pada kegiatan akhir, guru memeriksa pekerjaan siswa. Peserta didik yang
selesai mengerjakan projek dengan benar diberi paraf serta diberi nomor urut
peringkat. Lalu guru memberikan penghargaan kepada kelompok yang memiliki
kinerja dan kerjasama yang baik. Menurut Skinner, unsur penting dalam
pembelajaran adalah penguatan (Budiningsih, 2012). Dalam hal ini guru memberi
penguatan positif kepada peserta didik dengan cara memberi hadiah atau
penghargaan.
12
BAB V
PENUTUP
5.1 Kesimpulan
Dari hasil analisis yang telah dilakukan maka dapat sisimpulkan bahwa
dalam Rencana Pelaksanaan Pembelajaran materi struktur aton dan tabel periodik
unsur kelas X semester ganjil di SMA N 1 Abiansemal menerapkan teori belajar
menurut Skinner, Pavlov, Piaget, Brunner dan Vygotsky.
5.2 Saran
Dalam pembuatan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran harus
menyesuaikan dengan teori belajar agar peserta didik mudah memahami materi
yang akan diajarkan.
13
DAFTAR PUSTAKA
Adam, Sumarlin. 2017. Aplikasi Teori Perkembangan Bahasa Menurut Vygotsky
dalam Pendidikan.
[Link]
le=APLIKASI%20TEORI%20PERKEMBANGAN%20BAHASA%20ME
NURUT%20VYGOTSKY%20DALAM%20PENDIDIKAN. Diakses 14
April 2018.
Aunurahman. 2016. Belajar dan Pembelajaran. Bandung : Penerbit Alfabeta.
Budiningsih, Asri. 2005. Belajar dan Pembelajaran. Jakarta: Rineka Cipta.
Budiyono. 2003. Metodologi Penelitian Pendidikan. Surakarta: UNS Press.
Gredler, Margaret E. 2013. Learning and Instruction. Terjemahan Tri Wibowo.
Learning and Intruction: Theory into Practice. 2011. Jakarta:
KENCANA Prenada Media Group.
Hamalik, Oemar. 2015. Proses Belajar Mengajar. Jakarta : Bumi Aksara.
Harefa, Amin Otoni. 2013. Penerapan Teori Pembelajaran Ausubel dalam
Pembelajaran. Medan: Universitas Dharmawangsa.
Ibrahim dan Syaodih. 1993. Perencanaan pengajaran. Jakarta: departemen
pendidikan dan kebudayaan direktorat jenderal pendidikan tinggi proyek
pembinaan tenaga kependidikan.
Irwantoro, N.& Suryana, Yusuf. 2016. Kompetensi Pedagogik. Surabaya : Genta
Group Production.
Santrock, John W. 2011. Psikologi Pendidikan. Terjemahan Tri Wibowo.
Educational Psychology. 2004. Jakarta: Kencana Prenada Media Group.
Thobroni, M. & Mustofa, A. 2011. Belajar dan Pembelajaran : Pengembangan
Wacana dan Praktik Pembelajaran Dalam Pembangunan Nasional.
Jogjakarta : Ar-Ruzz Media.
Uno, Hamzah B. 2006. Perencanaan Pembelajaran. Jakarta: PT Bumi Aksara.
14