KONDISI AKTUAL DAN SISTEM PERENCANAAN
PENYALIRAN TAMBANG
DISUSUN OLEH:
ALDY ALFHENDY PUTRA
09320170061
C2
JURUSAN TEKNIK PERTAMBANGAN
FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI
UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA
MAKASSAR
2019
KATA PENGANTAR
Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh
Puja dan puji syukur penulis panjatkan atas kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena
berkat RahmatNyalah penulis dapat menyelesaikan makalah yang berjudul “Kondisi Aktual
dan Sistem Perencanaan Penyaliran Tambang” tepat pada waktunya.
Penulis mengucap terima kasih pada pihak-pihak yang telah membantu menyelesaikan
makalah ini. Penulis menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari sempurna. Untuk itu setiap
pihak diharapkan dapat memberikan masukan berupa kritik dan saran yang bersifat
membangun.
Makassar, 15 November 2019
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR
DAFTAR ISI
BAB I PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
B. MANFAAT
C. TUJUAN
BAB II PEMBAHASAN
A. DASAR TEORI
B. METODOLOGI PENELITIAN
C. HASIL PENELITIAN
BAB III PENUTUP
A. KESIMPULAN
DAFTAR PUSTAKA
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Pada industri pertambangan, khususnya tambang terbuka, tingginya curah hujan
dapat mempengaruhi bahkan menghambat kegiatan operasional penambangan, Metode
tambang terbuka ( o p e n p i t ) akan menyebabkan terbentuknya cekungan yang luas
sehingga sangat potensial untuk menjadi daerah tampungan air, baik yang berasal dari
air limpasan permukaan maupun air tanah. Pada saat kondisi cuaca ekstrim berupa
adanya curah hujan yang tinggi maka air yang berasal dari limpasan permukaan dapat
menggenangi lantai dasar dan menyebabkan berlumpurnya front penambangan
sehingga membawa dampak kerugian bagi perusahaan. Disamping itu, material yang
dibawa oleh air limpasan jika tidak ditangani dengan baik akan berdampak terhadap
kerusakan ekosistem sekitar. Pengamatan di lapangan terlihat adanya daerah tangkapan
hujan yang luas. Permasalahan tersebut akan menghambat aktifitas penambangan yang
mengakibatkan tidak tercapainya target produksi. Diperlukan suatu bentuk upaya yang
optimal untuk penanganan air yang masuk ke pit melalui suatu bentuk kajian teknik
sistem penyaliran tambang dengan menganalisis semua aspek yang berpengaruh
terhadap penanganan air yang masuk ke pit. Melalui upaya penanganan air yang masuk
ke pit, maka diharapkan permasalahan yang timbul akibat tidak terkontrolnya air yang
masuk ke pit dapat dihindari dan diminimalisir, sehingga aktifitas penambangan tetap
dapat dilakukan walaupun dalam cuaca yang ekstrim.
Lokasi penelitian, penambangan emas di Pit Durian PT. J Resources Bolaang
Mongondow (JRBM), secara geografis terletak di daerah pegunungan dan termasuk
dalam kategori wilayah yang memiliki curah hujan cukup tinggi. Pada data curah hujan
tahun 2016, curah hujan tertinggi di Pit Durian PT. JRBM mencapai 150 mm/hari
dengan kumulatif curah hujan mencapai 2905 mm/tahun dan total hari hujan sebanyak
258 hari (Base Control Department PT. JRBM). Ketika cuaca ekstrim terjadi, berupa
curah hujan dengan intensitas yang tinggi, menyebabkan kondisi front penambangan
berlumpur dan meluapnya air yang berada pada sump di Pit Durian. Hal ini tentunya
dapat menghambat proses produksi yang dikhawatirkan dapat menjadi penyebab target
produksi tidak tercapai. Target produksi tidak tercapai merupakan suatu hal yang sangat
dihindari dan oleh karenanya diperlukan sebuah evaluasi sistem penyaliran tambang
yang baik berupa sistem mine drainage dan mine dewatering dan perencanaan sistem
penyaliran yang baik untuk di tahun 2018 dan di tahun-tahun selanjutnya. Kondisi
jalanan tambang yang berlumpur tentunya menjadi salah satu penyebab kegiatan
produksi penambangan terhambat sehingga target produksi tidak tercapai. Pada tahun
2017, PT. JRBM memiliki 2 sump yang berbeda lokasi pada Pit Durian dan untuk
mencegah terjadinya hambatan kerja yang yang disebabkan oleh kondisi sistem
penyaliran yang belum mampu maka dibutuhkan evaluasi terhadap sistem penyaliran
tambang untuk tahun 2017 dan perencanaan sistem penyaliran tambang untuk tahun
2018 terhadap sump, saluran terbuka, kebutuhan pemompaan dan kolam pengendapan.
Dari upaya penanganan air dan evaluasi yang dilakukan, diharapkan dapat mendukung
keberlangsungan aktivitas penambangan PT J Resources Bolaang Mongondow untuk
dapat melakukan kegiatan penambangan yang lebih baik di tahun selajutnya.
B. Manfaat
1. Agar para pekerja mengetahui tingginya curah hujan dapat mempengaruhi bahkan
menghambat kegiatan operasional penambangan.
2. Agar para pekerja mengetahui bahwa cuaca ekstrim berupa adanya curah hujan
tinggi dapat menimbulkan kerugian pada perusahaan dan kerusakan pada ekosistem
sekitar.
C. Tujuan
Untuk mengetahui sistem, kondisi aktual dan perencanaan penyaliran tambang
serta hal-hal yang membahas tentang penyaliran tambang.
BAB II
PEMBAHASAN
A. Dasar Teori
1. Cathcment area
Catchment area atau yang juga disebut sebagai drainage basin, watershed
atau daerah aliran sungai (DAS) adalah suatu daerah yang dibatasi oleh
punggung perbukitan atau titik tertinggi yang apabila terjadi hujan maka air
hujan tersebut akan mengalir ke titik terendah di daerah tersebut. Penentuan
catchment area pada suatu area penambangan dapat ditentukan dengan
menganalisis peta topografi dan peta kemajuan penambangan. Catchment area
didapat dengan cara menghubungkan titiktitik tertinggi pada peta dengan
memperhatikan arah aliran air di daerah tersebut hingga didapatkan sebuah
polygon tertutup. Luas dari polygon tersebut dapat dihitung dengan
menggunakan planimeter, millimeter block, atau dengan bantuan software
(Widodo, 2012).
2. Curah Hujan Rencana dan Intensitas Hujan
a.) Curah huan rencana
Pengolahan data curah hujan dimaksudkan untuk mendapatkan data curah
hujan yang siap pakai untuk suatu perencanaan sistem penyaliran.
Pengolahan data ini dapat dilakukan dengan beberapa metode, salah satunya
dengan metode Gumbel, yaitu suatu metode yang didasarkan atas distribusi
normal (distribusi harga ekstrim) (Gautama, 1999).
b.) Intensitas hujan
Intensitas hujan adalah jumlah hujan yang dinyatakan dalam tinggi hujan
atau volume hujan dalam satuan waktu. Dalam menentukan intensitas curah
hujan.
3. Debit
a.) Air limpasan
Untuk memperkirakan debit air limpasan dapat digunakan Rumus Rasional
(Asdak, 2010).
Q = 0,00278 x C x I x A
Keterangan:
Q = Debit air (m3/detik)
C = Koefisien limpasan
I = Intensitas curah hujan (mm/jam)
A = Luas daerah tangkapan hujan (Ha)
b.) Air tanah merupakan air yang terdapat dibawah permukaan tanah,
khususnya yang berada di dalam zona jenuh air. Air tanah menjadi
parameter dalam perencanaan suatu sistem penyaliran di tambang. Oleh
karena itu jumlah air tanah yang masuk ke tambang harus diketahui.
4. Saluran (open channel)
Saluran berfungsi untuk menampung sementara serta mengalirkan air ke
tempat lain. Bentuk penampang saluran umumnya dipilih berdasarkan debit
air, material pengotor dan kemudahan dalam pembuatannya.
5. Sump
Sump pada tambang berfungsi sebagai tempat penampungan air dan lumpur
sementara sebelum dipompa ke luar tambang.
6. Pompa
Pompa dan pipa digunakan untuk mengalirkan air keluar dari tambang, bila
cara gravitasi tidak mampu lagi untuk digunakan. Perhitungan pompa dan pipa
dilakukan untuk mengetahui jumlah pompa dan pipa.
7. Kolam Pengendapan (settling pond)
Kolam pengendapan adalah suatu daerah yang dibuat khusus untuk
menampung air tambang sebelum dibuang langsung menuju daerah pengaliran
umum seperti sungai maupun danau. Kolam pengendapan berfungsi untuk
mengendapkan lumpur–lumpur atau material padatan yang bercampur dengan
air limpasan yang disebabkan adanya aktivitas penambangan maupun karena
erosi. Bentuk kolam pengendapan biasanya berupa kolam berbentuk empat
persegi panjang, tetapi sebenarnya bentuk tersebut dapat bermacammacam,
disesuaikan dengan keperluan dan keadaan lapangannya. Pada setiap kolam
pengendap akan selalu ada 4 zona penting yang terbentuk karena proses
pengendapan material padatan yaitu zona masukan, pengendapan, endapan
lumpur dan keluaran.
B. Metodologi Penelitian
Metode yang digunakan dalam penelitian ini yaitu menghitung besaran kuantitas air
berdasarkan data curah hujan, menghitung debit limpasan yang akan masuk ke
sump dan menentukan pemasangan pompa untuk mengeluarkan air yang masuk ke
sump.
1. Pengolahan data
Data yang telah di peroleh kemudian diolah sebagai berikut:
a.) Menentukan frekuensi curah hujan periode ulang 2 tahun.
b.) Menghitung intensitas hujan berdasarkan parameter besaran curah hujan
rencana dan waktu kosentrasi yang ditentukan berdasarkan jarak dari titik
terjauh menuju titik terkumpulnya air.
c.) Menginterpretasi luasan catchment area pada peta situasi pit ab ekstention
PT. Andalan Mining Mining menggunakan software minex.
d.) Menghitung besaran debit limpasan yang masuk ke pit penambangan
berdasarkan parameter koefisien aliran, intensitas hujan, dan luasan
catchment area menggunakan persamaan rasional. Menghitung head pompa
dan kapasitas pompa untuk mengeluarkan air dari pit penambangan.
e.) Menghitung kapasitas pompa yang digunakan untuk menangani volume
sump.
C. Hasil Penelitian
1. Curah hujan
Dalam penelitian ini pengolahan data curah hujan dilakukan untuk
mendapatkan besarnya nilai curah hujan dan intensitas curah hujan dalam satu
jam. Hujan rencana ini ditentukan dari hasil analisis frekuensi data curah hujan
yang tersedia dengan menggunakan metode partial duration series, yaitu dengan
mengambil/mencatat curah hujan maksimum periode 2004–2014 dengan
mengabaikan waktu kejadian hujan. Berdasarkan data curah hujan, diperoleh
data curah hujan rata– rata 89,95 mm/hari, dan curah hujan maksimum terjadi
bulan januari–mei dengan curah hujan tertinggi sebesar 130,2 mm/hari.
2. Debit Air
Air yang akan masuk ke dalam pit ab ekstention adalah air tanah.
a.) Debit air tanah
Studi hidrogeologi pada daerah penambangan di pit ab ekstention belum
pernah dilakukan, sehingga dilakukan tinjauan langsung terhadap pengaruh
air tanah pada pit ab ekstention. Hasil tinjauan lapangan menunjukkan pada
lereng-lereng jenjang di lokasi penelitian tidak memperlihatkan adanya
rembesan air tanah meskipun pada musim hujan. Lapisan batupasir dan
batulempung menunjukkan sifat permeabilitas yang kecil. Pengamatan
terhadap peta geologi daerah penelitian menunjukkan bahwa daerah
penelitian termasuk dalam Formasi Balikpapan dan Formasi Kampungbaru
dengan batuan penyusunnya adalah batulempung, batulanau, dan serpih,
dengan sisipan batubara dan batupasir. Dengan melihat hal tesebut dapat
diasumsikan bahwa air tanah yang ada didaerah penambangan tidak terlalu
berpengaruh terharap aktivitas penambangan.
b.) Debit air limpasan
Air yang masuk ke dalam sump pit ab ekstention merupakan air yang berasal
dari limpasan hujan. Jumlah debit limpasan yang masuk ke sump pit
dihitung menggunakan parameter waktu kosentrasi, intensitas curah hujan,
koefisien aliran dan luasan cathment area.
3. Sump
Sump berfungsi sebagai tempat penampungan air sementara sebelum
dipompakan keluar tambang. Perhitungan debit air limpasan didapatkan
volume air total yang akan masuk ke dalam sump dengan waktu konsentrasi
3,52 Jam atau 0,15 Hari. Berdasarkan hasil perhitungan dengan parameter
debit limpasan dan waktu konsentrasi diperoleh volume sump
jika terjadi hujan dalam 1 hari dengan rumus sebagai berikut :
Vsump = Q x Tc
= 120.168 x 3,52
= 422.991,36 m3
Letak sump berada pada elevasi -118 pada pit ab ekstention. Sump yang
dibuat bersifat kondusif yang berfungsi sebagai tempat terakumulasinya air
pada saat hujan dan sebagai front kerja ketika tidak terjadi hujan dan
memiliki kapasitan untuk menampung air sebanyak 422991,36 m3. Waktu
yang diperlukan untuk memompa air dalam sump yaitu 20 jam/hari dengan
ketentuan 4 jam digunakan untuk maintenance.
4. Pemompaan dan Pemipaan
Pompa yang digunakan adalah 3 unit pompa tipe mutiflo 420 (Gambar 1).
kapasitas pompa dapat diketahui dari kurva pompa multiflo 420 (Gambar 4).
diketahui kapasitas pompa yang digunakan adalah 828 m3/jam atau 19.872
m3/hari, total head yaitu 125 m dengan RPM 1.100 (Tabel 5) tingkat efisiensi
73%. Pipa yang digunakan adalah pipa polypipe (Gambar 2) yang mempunyai
panjang 10 m atau 60 m/joint dengan diameter 8 inch. Jumlah pipa yang
digunakan adalah 90 batang. Air yang berada pada sump akan dipompakan ke
boster (Gambar 3) setelah itu di alirkan ke kolam pengendapan.
5. Kolam Pengendapan
Kolam pengendapan ( s e t t l i n g p o n d ) ditempatkan pada sebelah timur pit
ab extention. Pemilihan tersebut didasarkan pada pertimbangan bahwa
penempatan kolam pengendapan pada daerah ini tidak akan mengganggu
aktivitas penambangan dan akan lebih mudah dalam penanganan air yang keluar
dari kolam pengendapan. Bentuk kolam pengendapan berbentuk sederhana,
yaitu berupa kolam berbentuk zig zag yang disesuaikan dengan kondisi
lapangan. Air yang masuk ke kolam pengendapan akan dilakukan proses
pengapuran setelah itu dialirkan menuju penampungan yang dimana air tersebut
sudah bersih dan digunakan untuk keperluan seperti pengisian water truck,
pencucian mobil dan lain-lain.
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
1. Sistem penyaliran tambang yang digunakan pada ab extention adalah sistem
pengeringan air tambang ( mine dewatering).
2. Metode yang digunakan dalam perhitungan Curah Hujan adalah Metode Gumbel.
Diketahui curah hujan rencana 86,88 mm/hari, debit air limpasan sebesar 120.168
m3/hari dan waktu konsentrasi yang diperlukan untuk mengalir dari titik terjauh
didalam area tangkapan hujan sampai sump adalah 3,52 jam sehingga didapatkan
volume sump 422.991,36 m3 dengan intensitas curah hujan sebesar 30,44
mm/jam.
3. Untuk mengeluarkan air yang berada di pit ab ektention digunakan sistem
pemompaan dengan kapasitas 828 m3/jam sebanyak tiga unit pompa multiflo 420
dengan waktu pemompaan untuk mengeluarkan air yang berada di sump selama
8,71 hari dengan melihat terjadinya hujan selama 1 kali.
DAFTAR PUSTAKA
Ashdak, Chay. 2010. Hidrologi dan Pengelolaan Daerah Aliran Sungai. Yogyakarta:
Gajah Mada University Press
Bambang, Triatmodjo.1993. Hidraulika I. Yogyakarta: Beta Offset.
Bambang, Triatmodjo.1993. Hidraulika II. Yogyakarta: Beta Offset.
Bambang, Triatmodjo. 2008. Hidrologi Terapan. Yogyakarta: Beta Offset.
Carlile, J.C., Digdowirogo, S., dan Darius, K., 1990. Geological Setting, Characteristics
and Regional Exploration for Gold in the Volcanic Arcs of North Sulawesi, Indonesia.
Journal of Geochemical Exploration, vol.35, h. 105-140.
Chow, Ven Te. 1989. Hidrolika Saluran Terbuka. Jakarta: Erlangga
Endriantho, Muhammad dan Muhammad, Ramli. 2013. Perencanaan Sistem Penyaliran
Terbuka Tambang Batubara. Journal of Universitas Hasanudin, vol.09. h.30
Gautama, RS dan Prahastini, SD. 2012. Perancangan Aplikasi Untuk Sistem Penyaliran
Tambang Terbuka. Journal of JTM, [Link], no.03
Hartono. 2013. Modul Kuliah Sistem Penyaliran Tambang. Yogyakarta: Program Studi
Teknik Pertambangan UPN.
Hermawan, Andhika Budi. 2011. Rancangan Sistem Penyaliran Tambang Batubara Di
Sub Blok 4I Dan 4III PT. Antang Gunung Meratus Provinsi Kalimantan Selatan.
Laporan Penelitian. ITB
Iip, Hardjana. 2012. The Discovery, Geology, and Exploration of the High Sulphidation
Au-Mineralization System in the Bakan District, North Sulawesi. Journal ofMajalah
Geologi Indonesia. vol.27, h.143-157.
Kavalieris, I. Van Leeuwen, T. dan Wilson, M., 1992. Geological Setting and Style of
Mineralization, North Arm of Sulawesi, Indonesia. Journal of Southeast Asian Earth
Sciences, vol.7, no.2/3, p.113-129.
Komatsu. (2009). Specifications and Application Handbook Edition 30. Japan Pasha,
Muhammad Ilham. 2010. Rancangan Sistem Penyaliran Di Pit I.2 Site Lati PT. Berau
Coal Untuk Kemajuan Penambangan Tahun 2010-2011. Laporan Penelitian. ITB
Pearson, D.F., and Caira, N.M., 1999, The Geology And Metallogeny Of CentralNorth
Sulawesi, In Weber, Graeme, ed., PACRIM 99 Congress International Congress on
Earth Science, Exploration and Mining around the Pacific Rim, Bali, Indonesia,
October 1013, 1999, Proceedings: Carlton, Australia, Australasian Institute of Mining
and Metallurgy Publication Series no. 4/99,p. 311326.
Puspita, Gania. 2017. Analisis Air Limbah Pertambangan Emas di Desa Bakan
Kecamatan Lolayan Kabupaten Bolaang Mongondow. Journal of MIPA UNSRAT,
vol.6, h.7.
Rudi, Sayoga. 1999, Diktat Kuliah Sistem Penyaliran Tambang, Bandung: Jurusan
Teknik Pertambangan Fakultas Teknologi Mineral ITB.
Soemarto, CD. 1995. Hidrologi Teknik. Jakarta: Erlangga.