TEKNIS-TEKNIS SECARA AGRONOMI BUDIDAYA
TANAMAN SEMUSIM PADA LAHAN CEKAMAN AIR
Oleh
GUSTI IRAWAN
180310020
PROGRAM STUDI AGROEKOTEKNOLOGI
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS MALIKUSSALEH
ACEH UTARA
2019
KATA PENGANTAR
Puji syukur penulis ungkapkan kepada Allah [Link] segala rahmat dan
hidayah yang telah dilampahkan-Nya sehingga penulis mampu menyeesaikan
makalah yang berjudul teknis-teknis secara agronomi budidaya tanaman semusim
pada lahan cekaman air. Selanjutnya selawat dan salam penulis sanjungkan
kepada Rasulullah [Link] keluarga dan para sahabat beliau yang telah
membawa umat manusia dari alam kebodohan ke alam yang penuh dengan ilmu
pengethuan.
Makalah ini disusun untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah dasar
dasar agronomi. Makalah ini disusun sebagai sarana memperluas pengetahuan
tentang teknis-teknis secara agronomi budidaya tanaman semusim pada lahan
cekaman air.. Penulis mengucapkan terimakasih kepada dosen pembimbing mata
kuliah dasar dasar agronomi yang telah memberikan tugas ini untuk menambah
pemahaman penulis tentang dasar dasar agronomi.
Dalam makalah ini akan di bahas mengenai teknis-teknis secara agronomi
budidaya tanaman semusim pada lahan cekaman air dan lain-lain. Penulis
mengharapakan kepada pembaca dapat memahami isi makalah ini. Semoga
makalah ini dapat memberikan manfaat khususnya bagi penulis umumnya bagi
pembaca.
Releut, 8 Oktober 2019
Penulis,
i
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR ............................................................................................ i
BAB I PENDAHULUAN ...................................................................................... 1
1.1 Latar Belakang .............................................................................................. 1
1.2 Masalah ......................................................................................................... 1
1.3 TUJUAN ....................................................................................................... 2
BAB II PEMBAHASAN ....................................................................................... 3
2.1 Pengertian Tanaman Semusim ...................................................................... 3
2.2 Pengertian Cekaman Air................................................................................ 4
2.3 Pengaruh Cekaman Air Terhadap Pertumbuhan Tanaman ........................... 5
2.4 Teknis-Teknis Secara Agronomis Atau Cara-Cara Budidaya Tanaman
Semusim Pada Lahan Cekaman Air .................................................................... 8
BAB III PENUTUP ............................................................................................. 12
3.1 Kesimpulan .................................................................................................. 12
3.2 Saran ............................................................................................................ 12
DAFTAR PUSTAKA .......................................................................................... 13
ii
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Tumbuhan semusim atau tanaman semusim atau tanaman tahunan atau
tumbuhan tahunan merupakan istilah agrobotani bagi tumbuhan yang dapat
dipanen hasilnya dalam satu musim tanam. Dalam pengertian botani,
pengertiannya agak diperlonggar menjadi tumbuhan yang menyelesaikan seluruh
siklus hidupnya dalam rentang setahun. Istilah dalam bahasa Inggris, annual plant,
menunjukkan bahwa yang dimaksud "satu musim" adalah satu tahap dalam
setahun. Bagi pertanian di daerah beriklim sedang seringkali yang dimaksud
semusim adalah apabila tanaman yang dimaksud tidak perlu mengalami musim
dingin bagi pembungaannya (vernalisasi). Contoh dari tanaman semusim adalah
jagung, padi,kedelai dan lain-lain.
Cekaman air merupakan kondisi lingkungan dimana tanaman tidak
menerima asupan air yang cukup, sehingga tanaman tidak dapat melakukan proses
pertumbuhan dan perkembangan secara optimal serta produksi menurun.
Cekaman kekeringan adalah masalah utama pada hasil produksi tanaman di
seluruh dunia.
Cekaman air pada tanaman terjadi karena (1) ketersediaan air pada media
tidak cukup, (2) transpirasi yang berlebihan atau kombinasi kedua faktor tersebut.
Walaupun di dalam tanah air cukup tersedia, tanaman dapat mengalami cekaman
air.
1.2 Masalah
1). Apa yang dimaksud tanaman semusim?
2). Apa yang dimaksud dengan cekaman air ?
3). Bagaimana pengaruh pertumbuhan tanaman terhadap cekaman air ?
4). Bagaimana teknis-teknis secara agronomis atau cara-cara budidaya tanaman
semusim pada lahan cekaman air ?
1
1.3 TUJUAN
1). Mengetahui pengertian tanaman semusim.
2). Mengetahui pengertian cekaman air.
3). Mengetahui pengaruh pertumbuhan tanaman terhadap cekaman air.
4). Mengetahui teknis-teknis secara agronomis atau cara-cara budidaya tanaman
semusim pada lahan cekaman air.
2
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Pengertian Tanaman Semusim
Tanaman semusim merupakan istilah agrobotani bagi tumbuhan yang dapat
dipanen hasilnya dalam satu musim tanam. Dalam pengertian botani,
pengertiannya agak diperlonggar menjadi tumbuhan yang menyelesaikan seluruh
siklus hidupnya dalam rentang setahun. Istilah dalam bahasa Inggris, annual plant,
menunjukkan bahwa yang dimaksud "satu musim" adalah satu tahap dalam
setahun. Bagi pertanian di daerah beriklim sedang seringkali yang dimaksud
semusim adalah apabila tanaman yang dimaksud tidak perlu mengalami musim
dingin bagi pembungaannya (vernalisasi).
Menurut Sampaguita Syafrezani (2009:12), tumbuhan semusim itu adalah
tanaman yang berkecambah, tumbuh, berbunga, menghasilkan biji, dan mati
hanya dalam setahun atau bahkan kurang sedikit daripada setahun. Jenis tanaman
seperti ini biasanya berkecambah 8-10 minggu apabila ditanam memakai biji. Di
daerah tropis, tumbuhan ini dapat tumbuh di mana saja atau pekarangan rumah
kita. Di daerah subtropis, tumbuhan ini hanya dapat ditumbuhkan pada musim
semi saja. Beberapa spesies bisa tumbuh di musim dingin. Bunga matahari, tomat,
dan kacang polong termasuk dalam kategori ini. Beberapa spesies lainnya tumbuh
dengan sangat lambat. Tukang kebun biasa menanamnya di bibit semai. Ada
orang menamanya sendiri, namun yang lain bisa membelinya di kios bunga.
Sejumlah tumbuhan dari daerah beriklim sedang atau tumbuhan gurun
memiliki perilaku musiman yang sangat ekstrem. Mereka menyelesaikan seluruh
siklus hidupnya dalam waktu sangat singkat (4 hingga 8 minggu). Tumbuhan
seperti narsisus, yang dikenal sebagai spring plants (tumbuhan musim semi),
mengeluarkan daun di akhir musim dingin (musim salju) lalu berbunga dan
3
kemudian layu kembali hanya dalam waktu sekitar 3 bulan, untuk kemudian
kembali beristirahat dalam bentuk umbi.
Perilaku musiman ini diatur secara hormonal dan dipengaruhi oleh suhu
udara, panjang hari, serta ketersediaan air di tanah.
Berikut yaitu beberapa ilustrasi. Untuk petani di wilayah beriklim tropika, jagung
yaitu tanaman semusim karena beliau ditanam dan dipanen sedang pada musim
yang sama. Untuk petani kawasan beriklim sedang, jagung disebut tanaman
semusim karena beliau ditanam pada pertengahan musim semi dan dipanen pada
pertengahan sampai penghujung musim gugur. contoh tanaman semusim ialah
tanaman padi, tanaman sayur-sayuran dan lain-lain.
2.2 Pengertian Cekaman Air
Cekaman air merupakan kondisi lingkungan dimana tanaman tidak
menerima asupan air yang cukup, sehingga tanaman tidak dapat melakukan proses
pertumbuhan dan perkembangan secara optimal serta produksi menurun.
Cekaman kekeringan adalah masalah utama pada hasil produksi tanaman di
seluruh dunia. Cekaman air pada tanaman disebabkan oleh kekurangan suplai air
di daerah perakaran dan permintaan air yang berlebihan oleh daun dalam kondisi
laju evapotranspirasi melebihi laju absorbsi air oleh akar tanaman. Serapan air
oleh akar tanaman dipengaruhi oleh laju transpirasi, sistem perakaran, dan
ketersediaan air tanah (Lakitan, 1996). Secara umum tanaman akan menunjukkan
respon tertentu bila mengalami cekaman kekeringan. Staff Lab Ilmu Tanaman
(2008) mengemukakan bahwa cekaman kekeringan dapat dibagi ke dalam tiga
kelompok yaitu:
1 Cekaman ringan :jika potensial air daun menurun 0.1 Mpa atau kandungan air
nisbi menurun 8 – 10 %
2 Cekaman sedang: jika potensial air daun menurun 1.2 s/d 1.5 Mpa atau
kandungan air nisbi menurun 10 – 20 %
3 Cekaman berat: jika potensial air daun menurun >1.5 Mpa atau kandungan air
nisbi menurun > 20%
Kekurangan air akan mengganggu aktifitas fisiologis maupun morfologis,
sehingga mengakibatkan terhentinya pertumbuhan. Defisiensi air yang terus
4
menerus akan menyebabkan perubahan irreversibel (tidak dapat balik) dan pada
gilirannya tanaman akan mati (Haryati, 2008). Respon tanaman terhadap stres air
sangat ditentukan oleh tingkat stres yang dialami dan fase pertumbuhan tanaman
saat mengalami cekaman. Respon tanaman yang mengalami cekaman kekeringan
mencakup perubahan ditingkat seluler dan molekuler seperti perubahan pada
pertumbuhan tanaman, volume sel menjadi lebih kecil, penurunan luas daun, daun
menjadi tebal, adanya rambut pada daun, peningakatan ratio akar-tajuk,
sensitivitas stomata, penurunan laju fotosintesis, perubahan metabolisme karbon
dan nitrogen, perubahan produksi aktivitas enzim dan hormon, serta perubahan
ekspresi.
Tumbuhan merespon kekurangan air dengan mengurangi laju transpirasi
untuk penghematan air. Terjadinya kekurangan air pada daun akan menyebabkan
sel-sel penjaga kehilangan turgornya. Suatu mekanisme control tunggal yang
memperlambat transpirasi dengan cara menutup stomata. Kekurangan air juga
merangsang peningkatan sintesis dan pembebasan asam absisat dari sel-sel
mesofil daun. Hormon ini membantu mempertahankan stomata tetap tertutup
dengan cara bekerja pada membrane sel penjaga. Daun juga berespon terhadap
kekurangan air dengan cara lain. Karena pembesaran sel adalah suatu proses yang
tergantung pada turgor, maka kekurangan air akan menghambat pertumbuhan
daun muda. Respon ini meminimumkan kehilangan air melalui transpirasi dengan
cara memperlambat peningkatan luas permukaan daun. Ketika daun dari
kebanyakan rumput dan kebanyakan tumbuhan lain layu akibat kekurangan air,
mereka akan menggulung menjadi suatu bentuk yang dapat mengurangi
transpirasi dengan cara memaparkan sedikit saja permukaan daun ke matahari.
2.3 Pengaruh Cekaman Air Terhadap Pertumbuhan Tanaman
Pengaruh cekaman air terhadap pertumbuhan tanaman tergantung pada
tingkat cekaman yang dialami dan jenis atau kultivar yang ditanam. Pengaruh
awal dari tanaman yang mendapat cekaman air adalah terjadinya hambatan
terhadap pembukaan stomata daun yang kemudian berpengaruh besar terhadap
proses fisiologis dan metabolisme dalam tanaman .
Cekaman air berpengaruh langsung maupun tidak langsung terhadap
tanaman. Gardner et al. (1985) menyatakan bahwa cekaman air mempengaruhi
5
semua aspek pertumbuhan tanaman, termasuk proses fisiologis dan biokimia
tanaman serta menyebabkan terjadinya modifikasi anatomi dan morfologi
tanaman.
A. Pengaruh Cekaman Kelebihan Air
Dampak genangan air adalah menurunkan pertukaran gas antara tanah dan
udara yang mengakibatkan menurunnya ketersediaan O2 bagi akar, menghambat
pasokan O2 bagi akar dan mikroorganisme (mendorong udara keluar dari pori
tanah maupun menghambat laju difusi). Genangan berpengaruh terhadap proses
fisiologis dan biokimiawi antara lain respirasi, permeabilitas akar, penyerapan air
dan hara, penyematan N. Genangan menyebabkan kematian akar di kedalaman
tertentu dan hal ini akan memacu pembentukan akar adventif pada bagian di dekat
permukaan tanah pada tanaman yang tahan genangan. Kematian akar menjadi
penyebab kekahatan N dan cekaman kekeringan fisiologis (Staff Lab Ilmu
Tanaman, 2008).
B. Pengaruh Cekaman Kekurangan Air
Secara umum tanaman akan menunjukkan respon tertentu bila mengalami
cekaman kekeringan. Staff Lab Ilmu Tanaman (2008) mengemukakan bahwa
cekaman kekeringan dapat dibagi ke dalam tiga kelompok yaitu:
a. Cekaman ringan :jika potensial air daun menurun 0.1 Mpa atau kandungan air
nisbi menurun 8 – 10 %
b. Cekaman sedang: jika potensial air daun menurun 1.2 s/d 1.5 Mpa atau
kandungan air nisbi menurun 10 – 20 %
c. Cekaman berat: jika potensial air daun menurun >1.5 Mpa atau kandungan air
nisbi menurun > 20%
Dampak dari cekaman kekurangan air:
a. Menurunya Pembelahan Sel
Ritche (1980) menyatakan bahwa proses yang sensitif terdapat kekurangan
air adalah pembelahan sel. Hal ini dapat diartikan bahwa pertumbuhan tanaman
sangat peka terhadap defisit (cekaman) air karena berhubungan dengan turgor dan
hilangnya turgiditas dapat menghentikan pembelahan dan pembesaran sel yang
mengakibatkan tanaman lebih kecil. Sebelumnya Whigham dan Minor (1978),
6
telah melaporkan bahwa pengaruh cekaman air pada pertumbuhan tanaman
dicerminkan oleh daun-daun yang lebih kecil.
b. Menurunya Proses Fotosintesis
Menurunnya aktivitas fotosintesis akibat menutupnya stomata daun dan
berkurangnya jumlah CO2 yang berdifusi ke dalam daun juga telah dilaporkan
oleh Sutoro, et al., (1989) pada tanaman jagung cekaman air yang lebih tinggi
(KATT rendah) berkaitan dengan menurunnya aktivitas fotosintesis.
c. Kandungan Prolin Bebas
Kandungan prolin bebas pada tanaman kedelai kultivar Willis dan Tidar
meningkat dengan meningkatnya tingkat cekaman air (kadar air tanah tersedia
rendah). Pada kultivar Willis kandungan prolin bebas mulai meningkat pada
tingkat cekaman air 60% KATT. Demikian juga dengan kultivar Tidar, bahkan
sampai pada tingkat cekaman air yang paling ekstrim (40% KATT) kandungan
prolinnya nyata lebih tinggi dari kandungan prolin kultivar Willis (penelitian
Mepegau, 2006)
d. Hasil Biji Kering
pengaruh kekurangan air yang terjadi pada fase generatif lebih menekan
hasil dibandingkan bila kekurangan air yang terjadi pada fase vegetatif.
Selanjutnya Zen et. al. (1993) menambahkan bahwa kekurangan air pada fase
pembungaan kedelai akan menyebabkan gagalnya pembentukan polong. Hasil biji
kering per tanaman menurun dengan meningkatnya tingkat cekaman air. Pada
kultivar Willis penurunan hasil biji kering mulai terjadi pada tingkat cekaman
60% KATT, sedangkan pada kultivar Tidar penurunan hasil tersebut baru terjadi
pada tingkat cekaman air 40% KATT .
d. Kematian Pada Tanaman
Defisiensi air yang terus menerus akan menyebabkan perubahan irreversibel
(tidak dapat balik) dan pada gilirannya tanaman akan mati (Haryati, 2008).
7
2.4 Teknis-Teknis Secara Agronomis Atau Cara-Cara Budidaya Tanaman
Semusim Pada Lahan Cekaman Air
Budidaya tanaman pertanian di lahan kering perlu memperhatikan aspek
ketersediaan air bagi tanaman, agar tanaman dapat tumbuh dan memberikan hasil
yang baik. Oleh karena penyediaan air bagi tanaman di lahan berkaitan berkaitan
langsung dengan turunnya hujan maka penanaman perlu menyesuaikan dengan
waktu datangnya hujan. Untuk itu penanaman pada lahan kering umumnya
dilakukan pada awal, pertengahan maupun akhir musim hujan.
Untuk mendapatkan hasil yang baik, selain menyesuaikan waktu tanam
dengan musim hujan, budidaya tanaman di lahan kering dapat pula dilakukan
dengan mengatur/menyusun pertanaman agar dapat memanfaatkan air maupun
faktor tumbuh lainnya dengan baik. Ada tanaman yang membutuhkan intensitas
cahaya tinggi untuk dapat tumbuh dan memberikan hasil yang baik, tetapi ada
pula jenis tanaman lain membutuhkan intensitas yang yang lebih rendah. Jenis
tanaman tertentu dapat menjadi penyuplai unsur hara tertentu bagi tanaman lain
sedangkan jenis tanaman lain rakus unsur hara.
Air hujan selain dapat menyediakan kebutuhan tanaman akan air, dapat pula
berpengaruh negatif terhadap tanaman maupun lahan yang terbuka karena dapat
menyebabkan terjadinya erosi. Erosi menyebabkan terangkutnya unsur hara
tanaman ke tempat yang lebih rendah sehingga dapat menurunkan kesuburan
tanah. Pada lahan yang memiliki kemiringan tinggi resiko erosi sangat besar.
Dengan demikian hujan yang turun perlu pula diupayakan agar tidak
menimbulkan dampak negatif terhadap lahan maupun tanaman.
Berdasarkan atas pertimbangan-pertimbangan yang dikemukakan di atas
maka budidaya di lahan kering diantaranya dapat dilakukan dengan mengatur pola
tanam, melaksanakan pertanaman secara tumpang gilir dan melaksanakan teknik
budidaya konservasi. Ketiga cara tersebut dapat dilakukan secara tersendiri
maupun dilakukan secara bersamaan.
1. Pengaturan Pola Tanam
Pengaturan Pola tanam merupakan tata urutan jenis tanaman yang
diusahakan dalam waktu satu tahun. Tanaman yang membutuhkan air lebih
banyak dan berakar dangkal ditanam pada saat musim hujan, sedangakan jenis
tanaman yang membutuhkan air relatif sedikit sedikit dapat ditanam pada akhir
8
musim hujan. Tanaman tertentu yang relatif tahan terhadap kekeringan dapat
ditanam pada musim kemarau. Sebagai contoh, salah satu pola tanam dapat
dilakukan seperti dibawah ini :
Padi / Jagung Kacang Tanah/K. Hijau/Kedelai Tanaman Sayur-sayuran
JAN FEB MAR APR MEI JUN JUL AGU SEP OKT NOV DES
2. Sistem Tumpang Gilir (Multiple Cropping)
Sistem tanam tumpang gilir merupakan kegiatan penanaman satu atau lebih
jenis tanaman dalam waktu satu tahun pada lahan yang sama. Ada beberapa
bentuk dari sistem tumpang gilir.
a. Tanaman campuran
b. Tanaman beruntun
c. Tumpang sari seumur
d. Tumpangsari beda umur
e. Tanaman sela.
a. Tanaman campuran
Tanaman campuran merupakan penanaman dua jenis tanaman atau lebih
yang berumur relatif sama pada lahan yang sama. Pada cara ini setiap jenis
maupun individu tanaman ditanam secara acak tanpa ada jarak yang teratur. Cara
ini merupakan sistem tumpang gilir paling tua karena tidak ada pengaturan
tanaman pada lahan. Pada cara ini terdapat beberapa kelemahan seperti susah
melakukan pemeliharaan maupun panen. Tanaman campuran dapat berupa
campuran tanaman jagung, kacang tanah, kedelai dan kacang hijau.
b. Tanaman beruntun
Tanaman beruntun merupakan penanaman dua jenis tanaman atau lebih
secara berurutan pada lahan yang sama. Pada cara ini jenis tanaman ke dua dan
seterusnya ditanam setelah jenis tanaman sebelumnya dipanen. Contoh tanaman
beruntun seperti : jagung – kacang tanah – kacang hijau.
c. Tumpangsari seumur
Tumpangsari seumur merupakan penanaman dua jenis tanaman atau lebih
yang berumur relatif sama dengan setiap jenis tanaman membentuk barisan yang
lurus, pada lahan yang sama. Kombinasi jenis tanaman diupayakan yang dapat
9
saling memberikan pengaruh satu sama lain, atau setidaknya tidak merugikan
salah jenis. Tumpang sari ini yang paling populer adalah antara jagung dengan
kacang tanah/kedelai/kacang hijau atay padi dengan jagung. Tumpang sari ini
merupakan cara tanam yang paling banyak dipilih dapat memberikan hasil yang
lebih baik.
d. Tumpangsari beda
Tumpangsari beda umur merupakan penanaman dua jenis tanaman atau
lebih yang berumur tidak sama dengan setiap jenis tanaman membentuk barisan
yang lurus, pada lahan yang sama. Contoh yang paling banyak dijumpai adalah
antara ubi kayu dengan jagung atau ubi kayu dengan padi.
e. Tanaman sela
Tanaman sela merupakan penanaman tanaman pangan/palawija di sela
tanaman tahunan. Misalnya tanaman padi/kacang-kacangan di antara barisan
tanaman karet. Cara ini biasa dilakukan untuk mendapatkan hasil dari tanaman
pangan sebelum karet menjadi rimbun.
Pertanaman secara tumpang gilir ini dapat memberikan banyak manfaat bagi
petani Manfaat tersebut dapat berupa :
1. Mengurangi resiko kegagalan tanaman.
2. Terdapat distribusi lapangan pekerjaan sepanjang tahun.
3. Dapat menyediakan makanan beragam sehingga dapat meningkatkan gizi
masyarakat.
4. Meningkatkan hasil tanaman per satuan luas, yang dapat dihitung dengan
nisbah kesetaraan tanah.
5. Dapat saling mendukung pertumbuhan antar tanaman yang dikombinasikan
3. Sistem Budidaya Lorong (Alley Cropping)
Budidaya lorong adalah budidaya tanaman pangan atau hortikultura pada
lorong yang terdapat di antara dua guludan/teras. Umumnya cara ini digunakan
pada kondisi lahan miring, namun pada lahan datar dapat juga dilaksanakan
terutam pada tempat-tempat yang ketersediaan pupuknya terbatas. Budidaya ini
dilalukan dilakukan terlebih dahulu dengan membuat teras/guludan dengan jarak
tertentu sesuai dengan kemiringan dan kontur tanah. Semakin tinggi kemiringan
10
tanam semakin dekat jarat antar teras/guludan. Bentuk-bentuk teras pada budidaya
lorong dapat dibedakan menjadi teras datar (untuk kemirngan 0 – 4 %), teras
guludan (kemirangan 5 – 7 %), teras kredit (8 – 10%) dan teras bangku untuk
lahan curam. Guludan dibuat pada ketinggian yang sama pada lahan dengan
mengikuti garis kontur. Penentuan garis kontus secara sederhana dapat dilakukan
dengan menggunakan bingkai A. Pada bagian atas teras dibuat saluran air selebar
30 cm dengan kedalaman 30 cm. Saluran ini berfungsi untuk menahan dan
meresapkan air hujan ke dalam tanah. Saluran dan teras yang dibuat berfungsi
memperpendek lereng dan mencegah terjadinya erosi. Pada teras/guludan ditanam
tanaman penguat teras sekaligus sebagai penghasil bahan organik untuk
menyuburkan tanaman. Tanaman penguat teras ini biasanya Flamengia congesta.
Tanaman ini menghasilkan banyak daun yang cepat terurai setelah jatuh ke tanah.
11
BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
1). Tanaman semusim merupakan istilah agrobotani bagi tumbuhan yang dapat
dipanen hasilnya dalam satu musim tanam. Dalam pengertian botani,
pengertiannya agak diperlonggar menjadi tumbuhan yang menyelesaikan seluruh
siklus hidupnya dalam rentang [Link] dari tanaman semusim adalah
jagung,padi dan lain-lain.
2). Cekaman air merupakan kondisi lingkungan dimana tanaman tidak menerima
asupan air yang cukup, sehingga tanaman tidak dapat melakukan proses
pertumbuhan dan perkembangan secara optimal serta produksi menurun.
Cekaman kekeringan adalah masalah utama pada hasil produksi tanaman di
seluruh dunia.
3). Pengaruh cekaman kelebihan air adalah menyebabkan kematian akar di
kedalaman tertentu dan hal ini akan memacu pembentukan akar adventif pada
bagian di dekat permukaan tanah pada tanaman yang tahan genangan. Kemudian
pengaruh cekaman kekurangan air adalah menurunya pembelahan sel, menurunya
proses fotosintesis, kandungan prolin bebas, hasil biji kering, dan kematian pada
tanaman.
3.2 Saran
Materi dan pembelajaran tentang teknis-teknis budidaya tanaman semusim
pada lahan cekaman air ini memiliki ruang lingkup yang sangat luas. Untuk itu
diperlukan pemahaman dan wawasan yang lebih dalam. Teori-teori dan materi
tentang teknis-teknis budidaya tanaman semusim pada lahan cekaman air yang
digunakan masih terlalu sedikit sehingga diperlukan referensi yang lebih banyak
lagi.
12
DAFTAR PUSTAKA
Epta.2009. “Cekaman PadaTumbuhan”.([Link]
pada [Link]). diakses tanggal 7 oktober 2019
Hamzah. 2003. Pelatihan Budidaya Di Lahan Kering. Bogor: Faculty of Forestry IPB
Haryati. 2003. “Pengaruh Cekaman Air Terhadap Pertumbuhan Dan Hasil Tanaman “. (
[Link]
[Link]). Diakses tanggal 7 oktober
2019.
Syafrezani ,sampaguita (2009). Tumbuhan Semusim,hal 12. Bandung: titian ilmu
13