POA Manajemen Keperawatan RSUD Pasar Minggu
POA Manajemen Keperawatan RSUD Pasar Minggu
MANAJEMEN KEPERAWATAN
DI RUANG ALAMANDA LANTAI 11 RSUD PASAR MINGGU
OLEH
KELOMPOK 3
A. Latar Belakang
Rumah sakit merupakan organisasi yang sangat komplek dan
merupakan komponen yang sangat penting dalam upaya peningkatan
status kesehatan bagi masyarakat. Salah satu fungsi rumah sakit adalah
menyelenggarakan pelayanan dan asuhan keperawatan yang merupakan
bagian dari sistem pelayanan kesehatan dengan tujuan memelihara
kesehatan masyarakat seoptimal mungkin (Depkes, 2015).
Pelayanan keperawatan merupakan bagian integral dari pelayanan
kesehatan. Dalam pelayanan kesehatan, keberadaan perawat merupakan
posisi kunci, yang dibuktikan oleh kenyataan bahwa 40-60 % pelayanan
rumah sakit merupakan pelayanan keperawatan dan hampir semua
pelayanan promosi kesehatan dan pencegahan penyakit baik di rumah sakit
maupun tatanan pelayanan kesehatan lain dilakukan oleh perawat (Sitorus,
2006).
Profesi perawat sebagai ujung tombak pemberi pelayanan kesehatan
saat ini diharapkan dapat meningkatkan profesionalisme dalam berbagai
aspek keilmuan dalam menghadapi tuntutan masyarakat yang semakin
tinggi untuk mendapatkan pelayanan asuhan keperawatan yang
berkualitas. Perawat dituntut untuk memberikan asuhan keperawatan yang
komprehensif dan berperan penting di dalam mencapai tujuan asuhan
keperawatan yaitu kesehatan atau kesembuhan pasien.
Keperawatan merupakan suatu bentuk pelayanan profesional yang
merupakan bagian integral dari pelayanan kesehatan yang didasarkan pada
ilmu keperawatan. Pelayan tersebut meliputi pelayanan secara
komprehensif meliputi aspek bio-psiko-sosio-kultural-spiritual ditujukan
kepada perorangan, keluarga masyarakat baik sakit maupun sehat dan
mencakup seluruh proses kehidupan manusia.
Pengetahuan tentang manajemen merupakan pengetahuan yang
universal dan sangat krusial bagi penerapan asuhan keperawatan secara
umum di bidang pelayanan. Arwani dan Supriyatno (2006) mendefinisikan
menajemen sebagai proses menyelesaikan pekerjaan melalui orang lain
untuk mencapai tujuan organisasi dalam suatu lingkungan yang berubah.
Manajemen juga merupakan proses pengumpulan dan mengorganisasi
sumber-sumber dalam mencapai tujuan (melalui kerja orang lain) yang
mencerminkan dinamika suatu organisasi.
Tujuan ditetapkan berdasarkan misi, filosofi dan tujuan organisasi.
Manajemen keperawatan menurut Gillies (1986) dikutip oleh Nursalam
(2015), yaitu suatu proses bekerja melalui anggota staf keperawatan untuk
memberikan asuhan keperawatan secara profesional. Manajer
keperawatan dituntut untuk merencanakan, mengorganisir, memimpin dan
mengevaluasi sarana dan prasarana yang tersedia untuk dapat memberikan
asuhan keperawatan yang seefektif dan seefisien mungkin bagi individu,
keluarga dan masyarakat.
Komponen utama dalam proses manajemen keperawatan berfokus
pada sumber daya manusia, uang, alat, dan metode yang akan diproses
sehingga menciptakan pelayanan dan pengelolaan asuhan keperawatan
yang optimal. Tujuan manajemen keperawatan itu sendiri yaitu untuk
meningkatkan dan mempertahankan kulaitas pelayanan keperawatan bagi
kepuasan klien. (Nursalam,2015).
Dalam suatu manajemen terdapat suatu proses yang mengubah input
menjadi output dimana input meliputi manusia, uang, materi dan metode.
Selanjutnya input ini akan diproses dengan melewati beberapa tahap
seperti perencanaan, pengambilan keputusan, pengorganisasian,
ketenagaan dan pengarahan sehingga dapat dicapai output yang
diinginkan. Adapaun output yang diinginkan yaitu efisiensi, staf yang
kompeten dan pelayanan yang berkulailtas.
Pada manajemen keperawatan kegiatan ini terintegrasi pada praktik
nyata di dalam pengelolaan klien sehingga dihasilkanlah suatu pelayanan
keperawatan yang efektif dan efisien yang dapat diterapkan kepada klien,
keluarga klien dan [Link] manajemen keperawatan
bertujuan untuk mempersiapkan mahasiswa sebagai agen pembaharu
dalam rangka meningkatkan kemampuan perawat dalam melaksanakan
menajemen asuhan keperawatan yang profesional. (Nursalam, 2015)
Rumah Sakit Umum Daerah Pasar Minggu adalah rumah sakit tipe
B pendidikan, RSUD Pasar Minggumemiliki beberapa bagian ruangan,
Instalasi Rawat Jalan, Instalasi Gawat Darurat, Instalasi Rawat Inap,
Instalasi Bedah Sentral, Instalasi Rawat Intensive, Instalasi Maternal dan
Neonatal, Unit Rehab Medik, Insatalasi Farmasi, Instalasi Radiologi dan
Instalasi Laboratorium, gedung pelayanan administrasi, dan pelayanan
penunjang lainnya.
Rumah Sakit Umum Daerah Pasar Minggu merupakan Rumah sakit
berusaha melakukan pelayanan terbaik dengan cara merencanakan visi –
misi yang disosialisasikan kepada semua petugas yang terlibat dalam
asuhan keperawatan pada klien disamping, mnajemen khususnya dibidang
keperawatan yang berupa miningkatkan mutu asuhan keperawatan
profesional .
Dalam rangka mencapai tujuan tersebut maka sekelompok
mahasiswa manajemen keperawatan program profesi ners Studi Ilmu
Keperawatan Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Indonesia Maju 2019 yang
terdiri dari 10 orang melakukan praktik di ruang perawatan rawat inap
lantai 11 Alamanda Rumah Sakit Umum Daerah Pasar Minggu selama
satu bulan. Waktu pelaksanaan terhitung mulai tanggal 20 Mei sampai 28
Juni 2019.
Visi :
Visi RSUD Pasar Minggu adalah “Menjadikan rumah sakit pilihan
masyarakat dengan layanan terbaik menuju Jakarta sehat 2019”
Misi :
Misi RSUD Pasar Minggu
1. Memberikan pelayanan kesehatan yang cepat, tanggap bermutu dan
nyaman secara paripurna.
2. Menerapkan sistem manajemen yang efektif, efisien, transparan, dan
akuntabel.
3. Pengembangan SDM yang profesional dengan peningkatan
kompetensi yang berkesinambungan.
B. Tujuan
1. Tujuan Umum
Setelah menyelesaikan praktek profesi manajemen keperawatan,
mahasiswa mampu menerapkan konsep dan prinsip manajemen
keperawatan dan menjadi “Change Agent” pada unit pelayanan secara
nyata dalam meningkatkan mutu pelayanan keperawatan.
2. Tujuan Khusus
Setelah melakukan praktik profesi manajemen diharapkan mahasiswa
mampu :
a. Mahasiswa mampu mengidentifikasimasalah dalam manajemen
keperawatan di ruang Alamanda lantai 11 RSUD Pasar Minggu
b. Mahasiswa mampu menganalisa masalah manajemen
keperawatan di ruang Alamanda lantai 11 RSUD Pasar Minggu
c. Mahasiswa mampu melakukan implementasi pencegahan
masalah yang ada di ruang Alamanda lantai 11 RSUD Pasar
Minggu.
d. Mahasiswa mampu melakukan evaluasi terhadap penyelesaian
masalah yang telah dilaksanakan di ruang Alamanda lantai 11
RSUD Pasar Minggu.
C. Manfaat Penulisan
1. Bagi mahasiswa
Mahasiswa dapat meningkatkan dalam memenerapkan fungsi –
fungsi manajemen secara nyata dilahan praktek maupun tempat
bekerja masing – masing.
2. Bagi pelayanan keperawatan
Penulisan ini dapat digunakan sebagai rujukan dan gambaran
kondisi ruangan serta rencana pelaksanaan konsep manajemen di
ruang Alamanda lantai 11 RSUD Pasar Minggu sehingga pihak
pelayanan dapat memberikan asuhan keperawatan yang
komprehensif.
3. Bagi pendidikan
Mengetahui tingkat kemampuan mahasiswa dalam mengaplikasikan
ilmu yang diperoleh pada masa pendidikan akademik serta
bermanfaat untuk meningkatkan kualitas pengajaran tentang
manajemen keperawatan bagi mahasiswa yang akan menjalani
praktik profesi di masa mendatang.
BAB II
HASIL KAJIAN SITUASI DAN TINJAUAN TEORITIS
A. INPUT
1. Profil Ruangan
Ruang Perawatan rawat inap Lantai 11 ALAMANDA RSUD
PASAR MINGGU, terdiri dari 13 ruangan ranap, 1 ruangan tindakan, 1
ruangan laken, 2nursestationuntuk 2 tim. 1 ruangan obat, 1 ruangan spool
hoek, 1 toilet umum, dan 1 ruangan gudang. 13 ruangan ranap terdiri dari
kamar 1101, 1102, 1103, 1104, 1105, 1106, 1107, 1108, 1109, 1110, 1111,
1112, 1113, dan memiliki 65 tempat tidur
2. Denah Ruangan
3. Struktur Organisasi RuanganAlamanda
4. Ketenagaan Ruangan
a. Pola Tenaga dan Kualifikasi
Ketenagaan adalah anggota organisasi atau badan usaha yang
memperoleh imbalan. Tujuan manajemen ketenagaan diruang rawat :
mendayagunakan tenaga keperawatan yang efektif dan produktif yang
dapat memberikan pelayanan bermutu sehingga dapat memenuhi
penggunaan [Link] kebutuhan perawat harus memperhatikan :
kategori klien yang dirawat, rasio perawat, dan metode penugasan yang
digunakan.
Tenaga perawat di ruang rawat inap lantai 11Alamanda saat ini
berjumlah 28 orang. 1 orang karu, 2 orang katim dan sisanya 25 orang
perawat pelaksana.
Berikut adalah tabel ketenagaan dan tingkat pendidikan di ruang
Alamanda lantai 11 RSUD Pasar Minggu :
Penghitungan tenaga :
1. Rumus Dougles :
Berdasarkan :
1. Tingkat ketergantungan pasien
2. Rata-rata pasien per hari
3. Jam perawatan yang diperlukan/hari/pasien
4. Jam perawatan yang diperlukan/ruangan/hari
5. Jam kerja efektif setiap perawat
Kategori keperawatan klien:
a. Keperawatan mandiri/self care: Klien memerlukan bantuan
minimaldalam melakukan tindakan perawatan dan pengobatan
b. Keperawatan sebagian/partial care: klien memerlukan bantuan
sebagian dan tindakan keperawatan dan pengobatan tertentu seperti
pemberian obat intravena.
c. Keperawatan penuh/total care: klien memerlukan bantuan secara
penuh dalam perawatan diri dan memerlukan observasi ketat.
5. Fasilitas
a. Fasilitas Ruangan
Adapun fasilitas ruang perawatan rawat inap lantai 11 Alamanda, pada
setiap kamar fasilitas yang tersedia 1 tv. acc, 5 tempat tidur, 5 lemari
kecil, 5 kursi, 5 bel pasien dan oksigen sentral disetiap tempat tidur,
kamar mandi dan 1 tempat sampah.
b. Fasilitas Alkes
TROLLEY EMERGENCY
No Nama Jumlah Exp. Ket
Date
1. Otsu Ns 0,9% 2 2023 Bukan di troli
2. Asering 500 ml - - emergency
3. Ecosol RF 500 ml - - jadi tidak
4. Otsu D10 % 500 ml 2 2021 dimasukan
5. Ecosol G 5 1 2021
6. Otsu wl 25 ml 2020
7. Otsu D 40 25 ml
8. Atropine 0,25 mg/ml 10 2020
9. Kalmethason 5 mg/ml
10. Epinephrine 1 mg/ml 12
11. Aminophiline 24 mg/ml 2
12. Diazepam 5 mg - Tidak tersedia
13. Diazepam 10 mg 2020
14. Suction catheter no.14
15. ETT, size 4/ size 3,5 12
16. Guedel airway 40 mm/ 7
50mm
17. Three way
18. Terumo 26/24 - Tidak tersedia
19. Toung spatle -
20. Kapas -
21. Senter -
22. Tegaderm 2020
23. Spuit 1 cc 3 - tersedia
24. Spuit 3 cc 5 2020
25. Spuit 5 cc
26. Spuit 10 cc 5
27. Spuit 20 cc
28. Infuse set macro 1
29. Blood set 1
30. Nasal kanul 4
31. Rebreathing mask 3
32. Non rebreathing mask 2
33. Sarung tangan steril 10
34. Laryngoscope 1
35. Ambubag 1 liter untuk 2
dewasa
ALAT KESEHATAN
No Nama Jumlah Expayer date
1. Terumo 16 2 2020
2. Needle 18 2
3. Needle 20 2
4. Needle 24 2
b. Rencana bulanan
1) Rencana bulanan kepala ruangan
Setiap akhir bulan kepala ruangan melakukan evaluasi hasil keempat
pilar atau nilai MPKP dan berdasarkan hasil evaluasi tersebut, kepala
ruangan akan membuat rencana tindak lanjut dalam rangka
peningkatan kualitas hasil. Dalam fungsi perencanaan kepala
ruangan membuat laporan tentang evaluasi rencana harian yang di
buat ketua tim dan perawat pelaksana
2) Rencana bulanan ketua tim
Setiap akhir bulan melakukan evaluasi tentang keberhasilan kegiatan
yang dilakukan di tim yaitu asuahan keperawatan dan kinerja
perawat pelaksanaan. Berdasarkan hasil tersebut, membuat rencana
tindak lanjut untuk perbaikan pada bulan berikut. Ketua tim
membuat laporan evaluasi rencana kegiatan harian asuhan
keparawatan yang dilakukan oleh perawat pelaksana dan
melaporkan hasil audit asuhan keperawatan serta melakukan
perbaikan asuhan keperawatan dengan merencanakan diskusi kasus.
2. Pengorganisasian
Pengorganisasian adalah pengelompokan/pengaturan kegiatan yang
dilakukan untuk mencapai tujuan organisasi, yang meliputi supervisi,
koordinasi dengan unit kerja lain secara vertical/atasan dan
horizontal/bawahan (Depkes, RI 2015, dalam Kurniadi 2016). Adapun
menurut Hersey & Blanchard (2015, dalam La Monica 2013) menyatakan
pengorganisasian adalah kegiatan mengintegrasikan semua sumber daya,
semua bertujuan agar kelompok mau bekerjama.
a. Pengorganisasian tenaga
Pengorganisasian di ruangan MPKP menggunakan metode
penugasan tim keperawatan yang di modifikasi. Perawat dibagi dalam
tim sesuai dengan jumlah pasien di ruangan. Jumlah pasien untuk tiap
tim 22-26 orang dan jumlah perawat 3-5 orang, setiap perawat
memengang 5 pasien. Sedangkan perawat yang baru hanya memengang
2-3 orang, struktur organisasi sudah terlihat diruangan lantai 11, daftar
dinas dan daftar pasien dan terdapat juga jadwal perawat on cal apabila
terjadi peningkatan jumlah pasien di ruangan tersebut.
1) Struktur organisasi
2) Daftar dinas ruangan
3) Daftar Pasien
Daftar pasien adalah daftar semua pasien yang menjadi
tanggung jawab tiap kelompok selama 24 jam. Secara individu,
setiap pasien mempunyai perawat yang bertanggung jawab secara
total selama dirawat dan juga setiap shift dinas. Hal ini
menggambarkan tanggung jawab dan tanggung gugat perawat atas
asuhan keperawatan pasien sehingga terwujudlah perawatan pasien
yang holistik. Daftar pasien juga memberi informasi bagi kolega
kesehatan lain dan keluarga untuk berkolaborasi tentang
perkembangan dan perawatan pasien. Daftar pasien ruangan diisi
oleh katim sebelum operan dengan dinas berikutnya.
Hasil analisis
1) Struktur organisasi
(a). Wawancara:
Menurut kepala ruangan perawatan rawat inap Lantai 11
RSUDPASAR MINGGU didapatkan informasi bahwa
struktur ketenagaan yang ada dibentuk menjadi 2 TIM
sebagai penerapan dari konsep MPKP di ruangan. TIM 1
menangani ruangan 1104, 1105, 1106, 1107, 1108, 1109,
1110 dan TIM 2 menangani ruangan 1101, 1102, 1103, 1111,
1112, 1113. Ketua tim hanya ada pada shift pagi saja,
sedangkan pada shift sore dan malam ada penanggung jawab
shift yang sudah ditetapkan namanya. Ketua tim memiliki
Perawat Pelaksana yang tetap dan mereka menangani pasien
kelolaan masing–masing yang sudah ditetap setiap harinya
untuk mempermudah asuhan keperawatan ke pasien. Ketua
tim juga membantu perawat pelaksana dalam menangani
pasien.
(b). Observasi :
Sudah ada struktur organisasi yang dipasang di dinding
ruangan nurse station. Berdasarkan hasil observasi di ruang
Perawatan Rawat InapLantai 11 ALAMANDA RSUD
PASAR MINGGU didapatkan data bahwa struktur
organisasi, visi, misi, SPO, uraian tugas dari masing-masing
jabatan di struktur organisasi ruangan tersebut sudah terdapat
di ruangan dan sudah didokumentasikan. Tugas Kepala
ruangan dilaksanakan berdasarkan panduan dari bidang
keperawatan, uraian tugas ketua tim dan pelaksana sudah
tertulis dan terdokumentasikan. Penugasan di ruangan
dilaksanakan dengan metode tim.
3. Pengarahan
Pengarahan (directing) adalah proses pemberian tugas, perintah-
perintah, instruksi yang membuat staf bisa memahami keinginan pimpinan
organisasi dan pengarahan tersebut membuat staf untuk berkontribusi secara
efektif dan efisien untuk mencapai tujuan (Kurniadi, 2013).
Pengarahan dilakukan dalam beberapa kegiatan yaitu program
motivasi, manajemen konflik, dan supervisi. Program motivasi dimulai
dengan membudayakan cara berfikir positif bagi setiap SDM dengan
mengungkapkannya melalui pujian (reinforcement) pada setiap orang yang
bekerja bersama-sama. Kebersamaan dalam mencapai visi, dan misi
merupakan pendorong kuat untuk focus pada potensi masing-masing
anggota.
Metode Praktek Keperawatan Profesional (MPKP) merupakan
pendekatan baru, maka kemungkinan menimbulkan konflik yang
disebabkan oleh persepsi, pandangan dan pendapat yang berbeda. Untuk itu
dilakukan pelatihan tentang sistem pelayanan dan asuhan keperawatan bagi
semua SDM yang ada. Selain itu dalam implementasi MPKP, Kepala
subdepartemen keperawatan, kepala ruangan (karu) dan katim agar
melakukan komunikasi, informasi dan edukasi (KIE) untuk mencegah dan
menyelesaikan konflik. Komunikasi yang terbuka diarahkan kepada
penyelesaian konflik dengan win-win solution.
Supervisi / pengawasan merupakan hal yang penting dilakukan
untuk memastikan pelayanan dan asuhan keperawatan berjalan sesuai
standar mutu yang ditetapkan. Pelayanan tidak diartikan sebagai
pemeriksaan dan mencari kesalahan, tetapi lebih pada pengawasan
partisipatif yaitu perawat yang mengawasi pelaksanaan kegiatan
memberikan penghargaan pada pencapaian atau keberhasilan dan memberi
jalan keluar pada hal-hal yang belum terpenuhi. Dengan demikian
pengawasan mengandung makna pembinaan. Pengawasan dapat dilakukan
secara langsung dan tidak langsung. Pengawasan langsung dilakukan saat
tindakan atau kegiatan sedang berlangsung, misalnya perawat pelaksanan
sedang melakukan ganti balutan, maka katim mengobservasi tentang
pelaksanaan dengan memperhatikan apakah standar kerja dijalankan.
Pengawasan terkait pula dengan kinerja dan kompetisi perawat, yang akan
berguna dalam program jenjang
Karir perawat bersangkutan. Pengawasan tidak langsung dilakukan
melalui pelaporan atau dokumen yang menguraikan tindakan dan kegiatan
yang telah dilakukan.
Kegiatan yang perlu diawasi adalah pelaksanaan berbagai kegiatan yang
berjalan:
a. Manajemen
1) Perencanaan : Pelaksanaan dan hasil dari rencana harian, mingguan
dan rencana bulanan.
2) Pengorganisasian : Pelaksanaan struktur organisasi, jadual dinas
dan daftar pasien
3) Pengarahan: Pemberian motivasi kepada katim dan perawat
pelaksana. Penyelesaian konflik yangterjadi dan pengawasan
terhadap pekerjaan katim dan pelaksana.
4) Pengendalian : Proses pengendalian mutu, hasil kerja ruangan dan
kinerja perawat ruangan.
b. Compensatory Reward
1) Program pengembangan perawat di dalam ruangan (on the job
training)
2) Pengembangan jenjang karir tekait dengan persiapan uji
kompetensi perawat
c. Profesional Relationship
Pelaksanaan operan, pendelegasian, konferensi kasus, rapat rutin
keperawatan dan tim kesehatan, serta koordinasi dengan bidang terkait
diluar ruang rawat.
d. Patient Care Delivery
Kemampuan manajemen pemberian asuhan keperawatan yang bermutu.
Ketersediaan standart asuhan keperawatan kepada pasien dan keluarga,
serta kemampuan menyelesaikan complaint pasien dan keluarga.
Kegiatan ketua tim yang perlu diawasi adalah pelaksanaan berbagai
kegiatan :
1) Pendekatan manajemen
a) Perencanaan : Pelaksanaan dan hasil rencana harian dan bulanan
untuk timnya
b) Pengorganisasian: Pengalokasian perawat setiap shift pada
daftar pasien. Pengisian daftar dinas.
c) Pengarahan : Pemberian motivasi pada perawat pelaksana,
penyelesaian konflik dalam tim, pengawasan terhadap
penyelesaian pekerjaan perawat pelaksana
d) Pengendalian: Pengendalian mutu asuhan keperawatan kepada
pasien dan kinerja perawat pelaksana.
2) Penghargaan Karir
a) Program pengembangan perawat dalam tim (on the job trainning
)
b) Program pencapaian kompetensi terkait dengan persiapan uji
kompetensi
3) Hubungan Profesional
Pelaksanaan pre-post conference, kolaborasi dengan dokter dan
pendelegasian.
4) Sistem pemberian asuhan pasien
Kemampuan memberi asuhan keperawatan untuk masalah
keperawatan bagi pasien dan keluarga.
Untuk evaluasi fungsi pengarahan ini, kepala ruangan menyusun
rencana terhadap ketua tim dan perawat pelaksana sebagai rencana
bulanan.
Analisa
1. Wawancara : Kepala ruangan mengatakan ada supervisi dilakukan setiap 2
minggu sekali
Kepala ruangan menggunakan sistem reward dan punishment, dan
bimbingan serta arahan dalam menyelesaikan masalah. Metode yang
digunakan untuk meningkatkan motivasi kerja perawat adalah dengan
menggunakan bimbingan dan arahan serta menjadikan bawahan sebagai
partner, memberikan support penuh untuk meningkatkan pelatihan.
Menurut kepala ruangan program pelatihan untuk perawat sudah ada dan
pelaksanaannya berjalan tidak sesuai dengan program karena kesulitan
dalam mengumpulkan perawat. Tidak adanya reward dan punishment bagi
perawat yang ikut pelatihan ataupun tidak. Menurut perawat, mereka
bersedia untuk mengikuti pelatihan tetapi program penjadwalan untuk
pelatihan tidak menentu.
2. Wawancara: menurut kepala ruangan supervisi dilakukan satu kali dalam
seminggu kadang lebih dan harus melihat kondisi
Observasi: hasil observasi diruang perawatan rawat inap lantai 11
ALAMANDA RSUD PASAR MINGGU sudah dilakukan supervisi oleh
Karu secara tidak langsung.
4. Pengendalian
Pengendalian adalah kegiatan kompleks dan menentukan dalam
rangka membandingkan rencana dan pelaksanaan serta mencari
kekurangan/ hambatan di setiap tahapan manajemen untuk segera
menemukan masalah dan memberikan tindak lanjut agar sesuai dengan
rencana awal yang telah ditetapkan (Kurniadi, 2013).
Dari sistem pengendalian, didapatkan data peningkatan mutu dan
pelayanan di ruangan dilakukan dengan memantau berdasarkan tingkat
kepuasan pasien. Sistem penilaian dan standar penilaian kinerja staf
dilaksanakan berdasarkan mekanisme yang ditetapkan oleh kepegawaian
RSUD PASAR MINGGU.
C. OUTPUT
1. Indikator Mutu Umum Rumah Sakit
Indikator-indikator pelayanan rumah sakit dapat dipakai untuk mengetahui
tingkat pemanfaatan, mutu, dan efisiensi pelayanan rumah sakit. Indikator-
indikator berikut bersumber dari sensus harian rawat inap :
a. BOR (Bed Occupancy Ratio = Angka penggunaan tempat tidur)
BOR menurut Huffman (1994) adalah “the ratio of patient service days
to inpatient bed count days in a period under consideration”.
Sedangkan menurut Depkes RI (2005), BOR adalah prosentase
pemakaian tempat tidur pada satuan waktu tertentu. Indikator ini
memberikan gambaran tinggi rendahnya tingkat pemanfaatan tempat
tidur rumah sakit. Nilai parameter BOR yang ideal adalah antara 60-
85% (Depkes RI, 2005). BOR Jumlah pasien bulan April 2019 di lantai
11 Alamanda RSUD Pasar Minggu sebanyak 85,90 % = 422 pasien.
Rumus:
BOR = (Jumlah hari perawatan rumah sakit / (Jumlah tempat tidur X
Jumlah hari dalam satu periode)) X 100%
b. ALOS (Average Length of Stay = Rata-rata lamanya pasien dirawat)
ALOS menurut Huffman (1994) adalah “The average hospitalization
stay of inpatient discharged during the period under consideration”.
ALOS menurut Depkes RI (2005) adalah rata-rata lama rawat seorang
pasien. Indikator ini disamping memberikan gambaran tingkat efisiensi,
juga dapat memberikan gambaran mutu pelayanan, apabila diterapkan
pada diagnosis tertentu dapat dijadikan hal yang perlu pengamatan yang
lebih lanjut.
Secara umum nilai ALOS yang ideal antara 6-9 hari (Depkes, 2005).\
Rumus:
ALOS = Jumlah lama dirawat / Jumlah pasien keluar (hidup + mati)
Jumlah pasien lama dirawat di lantai 11 ALAMANDA RSUD PASAR
MINGGU pada bulan April 2019 berjumlah 1636 pasien.
c. TOI (Turn Over Interval = Tenggang perputaran)
TOI menurut Depkes RI (2005) adalah rata-rata hari dimana tempat
tidur tidak ditempati dari telah diisi ke saat terisi berikutnya. Indikator
ini memberikan gambaran tingkat efisiensi penggunaan tempat tidur.
Idealnya tempat tidur kosong tidak terisi pada kisaran 1-3 hari.
Rumus
TOI = ((Jumlah tempat tidur X Periode) – Hari perawatan) / Jumlah
pasien keluar (hidup +mati)
Jumlah TOI di lantai 11 ALAMANDA RSUD PASAR MINGGU pada
bulan April berjumlah 0,9.
d. BTO (Bed Turn Over = Angka perputaran tempat tidur)
BTO menurut Huffman (1994) adalah “...the net effect of changed in
occupancy rate and length of stay”. BTO menurut Depkes RI (2005)
adalah frekuensi pemakaian tempat tidur pada satu periode, berapa kali
tempat tidur dipakai dalam satu satuan waktu tertentu. Idealnya dalam
satu tahun, satu tempattidur rata-rata dipakai 40-50 kali.
Rumus:
BTO = Jumlah pasien keluar (hidup + mati) / Jumlah tempat tidur
Jumlah BTO di lantai 11 ALAMANDA RSUD PASAR MINGGU pada
bulan April 2018 berjumlah 6,11.
Table 2.1
Hasil Presentasi
No. Aspek yang dinilai Jumlah RM Pendokumentasian
3. Indikator Penyakit
a. ILO
Infeksi Luka Operasi (ILO) atau Infeksi Tempat Pembedahan
(ITP)/ Surgical Site Infection (SSI) adalah infeksi pada luka operasi
atau organ/ruang yang terjadi dalam 30 hari paska operasi atau dalam
kurun 1 tahun apabila terdapat implant. Sumber bakteri pada ILO dapat
berasal dari pasien, dokter dan tim, lingkungan, dan termasuk juga
instrumentasi (Hidayat NN, 2012).
b. Dekubitus
Dekubitus atau luka tekan merupakan masalah serius yang
sering terjadi pada pasien yang mengalami gangguan mobilitas, seperti
pasien stroke, cedera tulang belakang atau penyakit degeneratif.
Adanya dekubitus yang tidak ditangani dengan baik dapat
mengakibatkan masa perawatan pasien menjadi panjang dan
peningkatan biaya RS.
c. Pasien Jatuh
Pasien dikategorikan beresiko jatuh apabila memiliki satu atau lebih
faktor beresiko jatuh pada saat pengkajian.
Analisa :
Berdasarkan hasil wawancara dengan kepala ruangan untuk penilaian
indikator ILO tidak tersedia di ruangan karena ruangan ALAMANDA
merupakan ruangan khusus untuk perawatan penyakit dalam dan penyakit
Paru non TB untuk pasien dewasa. Untuk decubitus terdapat beberapa pasien
dan pasien jatuh hampir tidak ada.
Kepuasan Pasien
Valid Cumulativ
Frequency Percent Percent e Percent
Valid Puas
19 100.0 100.0 100.0
BAB III
PERMASALAHAN DAN RENCANA KEGIATAN
A. Analisa Data
Analisa SWOT di Ruangan Alamanda lantai 11 RSUD PASAR MINGGU
Strenght Weakness Opportunity Threatened
1. Ruangan memiliki Visi, Misi dan 1. Pelaksanaan discharge planing 1. Adanya kesempatan 1. Adanya tuntutan
Motto sebagai acuan melaksanakan belum optimal karena perawat melanjutkan pendidikan masyarakat yang
kegiatan pelayanan. belum menggunakan media ke jenjang yang lebih tinggi untuk
2. Jenis ketenagaan (leaflet/lembar balik) tinggi. pelayanan yang lebih
Jenjang pendidikan perawat Ruang 2. Pelaksanaan five moment yang 2. Adanya kerjasama professional.
Rawat Inap Alamandaadalah : belum optimal dengan pendidikan 2. Makin tingginya
Sarjana S1 Keperawatan + Ners 3. Perawat kadang tidak melibatkan keperawatan dan kesadaran
14 orang, keluarga maupun pasien dalam digunakan sebagai lahan masyarakat akan
Diploma III keperawatan 3 pendokumentasian pemberian obat praktek untuk hukum
orang 4. Perawat kadang tidak memberikan keperawatan klinik. 3. Makin tingginya
3. Hubungan kerja di Ruang Rawat label identitas pada cairan infus 3. Pembayaran jasa kesadaran
Inap Alamanda antara Perawat, pasien dan tidak pelayanan Umum dan masyarakat akan
BPJS langsung dilakukan
dokter, pekarya, ahli gizi dan tata mendokumentasikan waktu transaksi di Kasir RSUD pentingnya
usaha terjalin dengan baik. pemberian cairan Pasar Minggusesuai kesehatan.
4. Sudah ada model penugasan yang 5. Keterbatasan alat kesehatan (set dengan rincian tindakan 4. Adanya tuntutan
dilaksanakan yaitu modifikasi tim- GV) yang tidak sesuai dengan rasio 4. RSUD Pasar yang lebih tinggi dari
primer (MPKP) pasien Minggumemberikan masyarakat untuk
5. Supervisi sudah dilakukan oleh 6. Perawat kadang tidak melakukan kesejahteraan pegawai mendapatkan
kepala ruang discharge planning (edukasi pasien berupa jasa pelayanan peleyanan
6. Terlaksananya komunikasi yang masuk) tentang manfaat gelang tiap bulan. keperawatan yang
adekuat antar perawat dan tim identitas, kerugian/akibat tidak 5. Adanya izin/tugas belajar professional
kesehatan lain. memakai gelang identitas dan dari pimpinan/direktur. 5. Meningkatnya
7. Kebutuhan alat kesehatan seperti peraturan serta fasilitas ruangan kesadaran
bahan habis pakai dan obat-obatan masyarakat tentang
sudah terpenuhi di ruangan sesuai tanggung jawab dan
dengan kebutuhan dan ada tanggung gugat
uraiannya di ruangan. perawat sebagai
8. Adanya formulir pendokumentasian pemberi asuhan
obat yang diterima disetiap status keperawatan.
pasien.
9. Ketua Tim memimpin kegiatan
operan pada pagi hari. Operan
dilaksanakan secara rutin setiap
shift.
10. Adanya format discharge planning
atau perencanaan pulang untuk
pasien yang telah dijadikan acuan di
ruangan, sehingga memudahkan
perawat dalam mempersiapkan
pasien pulang.
11. Format asuhan keperawatan
tersedia.
12. Kelengkapan dokumentasi asuhan
keperawatan di ruang Alamanda
100%.
13. Hasil survey kepuasan pasien yang
dibagikan pada 19 orang pasien
diperoleh hasil bahwa 100%
menyatakan puas.
A. Perumusan Masalah
Permasalahan :
No Masalah
1 Pelaksanaan discharge planning belum optimal karena perawat
belum menggunakan media (leaflet/lembar balik)
2 Pelaksanaan five moment yang belum optimal
3 Perawat kadang tidak melibatkan keluarga maupun pasien dalam
pendokumentasian pemberian obat
4 Perawat kadang tidak memberikan label identitas pada cairan
infus pasien dan tidak mendokumentasikan waktu pemberian
cairan
5 Keterbatasan alat kesehatan (set GV) yang tidak sesuai dengan
rasio pasien
6 Perawat kadang tidak melakukan discharge planning (edukasi
pasien masuk) tentang manfaat gelang identitas, kerugian/akibat
tidak memakai gelang identitas dan peraturan serta fasilitas
ruangan
Alternatif Pemecahan
No C A R L Skor Ranking
Masalah
Pelaksanaan discharge
1 planning belum optimal
(perencanaan pulang)
Pelaksanaan five
2 moment yang belum
optimal
Label identitas pada
cairan infus pasien dan
3
dokumentasi waktu
pemberian cairan
2 Pelaksanaan Mampu melakukan 1. Memberikan sosialisasi 1. Pengetahuan perawat 1 Ryan 19 Juni 2019
five moment five moment secara kepada perawat tentang tentang five moment Seftiawan
yang belum optimal untuk pentingnya pelaksanaan five meningkat 2 Levina Olivier
mencegah moment 2. Tidak terjadinya infeksi 3 Rismawar
optimal
nosocomial pada perawat Tamba
terjadinya infeksi 2. Mahasiswa melakukan five
nosokomial moment
3. Menganjurkan perawat
untuk melakukan five
moment
3. Label identitas Mampu melakukan 1. Memberikan sosialisasi 1. Terlaksana pemberian terapi 1 Lilis Suryani 20 Juni 2019
pada cairan pelabelan pada kepada perawat tentang cairan sesuai dengan waktu 2 Margareta
infus pasien cairan infus pasien pentingnya pemantauan yang diinstruksikan. Kelibulin
dan terapi cairan bagi pasien 3 Fefin
dan
mendokumentasikan 2. Mahasiswa melakukan Fradianty
dokumentasi
waktu pemberian pelabelan pada cairan infuse
waktu
cairan pasien dan
pemberian
mendokumentasikan waktu
cairan pemberian cairan
3. Menganjurkan perawat
untuk melakukan pelabelan
pada cairan infuse pasien
dan mendokumentasikan
waktu pemberian infus
DAFTAR PUSTAKA