Analisis Rantai Nilai Ikan Layur
Analisis Rantai Nilai Ikan Layur
PROPOSAL SKRIPSI
Oleh:
ENJELIA ANTIKA
260 103 161 200 33
Enjelia Antika, 260 103 161 200 33. Analisis Rantai Nilai Komoditas Ikan Layur
(Trichiurus sp.) di PPP Tawang, Kabupaten Kendal (Aziz Nur Bambang dan
Hendrik Anggi Setyawan)
ii
DAFTAR ISI
Halaman
DAFTAR ISI ............................................................................................. ii
I. PENDAHULUAN ........................................................................... 1
1.1. Latar Belakang ........................................................................... 1
1.2. Pendekatan Perumusan Masalah ................................................ 2
1.3. Tujuan ........................................................................................ 4
1.4. Manfaat ...................................................................................... 5
1.3. Waktu dan Tempat ..................................................................... 6
iii
3.3.5. Analisis rantai distribusi .................................................. 32
3.3.6. Analisis margin pemasaran .............................................. 32
3.3.7. Analisis fisherman’s share .............................................. 33
3.3.8. Analisis nilai tambah ....................................................... 34
3.3.9. Analisis SWOT ................................................................ 34
iv
DAFTAR TABEL
Halaman
1. Alat yang digunakan dalam penelitian .................................................. 26
v
DAFTAR GAMBAR
Halaman
1. Kerangka Penelitian ............................................................................... 7
vi
BAB I. PENDAHULUAN
Kabupaten Kendal terletak pada 109⁰ 40’ - 110⁰ 18’ Bujur Timur dan 6⁰ 32’ - 7⁰
24’ Lintang Selatan. Jumlah penduduk Kabupaten Kendal tahun 2017 tercatat
sebanyak 978.672 jiwa terdiri dari 500.188 (52,22%) laki-laki dan 478.484 (48,49%)
SMP sederajat (28,87%) dan Universitas (5,24%). Jumlah curah hujan tahun 2017
berkisar 2.610 mm, lebih rendah dibanding tahun 2016 yaitu sebesar 3.194 mm.
Produksi perikanan laut yang dihasilkan di Tempat Pelelangan Ikan (TPI) di lima
tempat pada tahun 2017 menghasilkan 3.326.763 kg ikan dengan nilai 29.914,93 juta
dalam kondisi segar dan olahan. Komoditas laut utama di Kabupaten Kendal terdiri
dari Tenggiri, Tongkol, Pari, Layur, Kembung, Teri, Lemuru, Japuh, Tembang,
Peperek, Kakap, Udang Bago dan Cumi-cumi. Hasil produksi perikanan tangkap
pada 2 Oktober 2019 mencapai 10.5 ton. Jumlah penangkapan Ikan Layur setiap
harinya mencapai 87 kg dengan harga Rp. 8.150/kg (PIPP, 2019). Jumlah ini
merupakan harga awal yang didapat dari nelayan. Nilainya akan semakin bertambah
merupakan ikan yang mempunyai nilai ekonomis yang tinggi. Usaha penangkapan
2
Ikan Layur merupakan suatu usaha yang cukup menguntungkan bagi masyarakat
meningkat, hal ini karena Ikan Layur yang dihasilkan merupakan skala ekspor.
Strategi pemasaran sangat diperlukan untuk menunjang rantai nilai dari komoditas
Ikan Layur tersebut, guna mencapai nilai produksi yang tinggi. Adanya para pelaku
masalah kemiskinan nelayan kecil. Penelitian ini menggunakan analisis rantai nilai
yang terdiri dari analisis rantai distribusi, margin pemasaran, fisherman’share dan
nilai tambah. Pengambilan obyek Ikan Layur dikarenakan Ikan Layur merupakan
(handline).
akan diperoleh. Perbedaan harga Ikan Layur di beberapa pelaku usaha, yang
menetapkan harga sesuai dengan kemauan sendiri. Sehingga terjadi perbedaan harga
antara pelaku usaha satu dengan pelaku usaha lainnya. Harga Ikan Layur yang tinggi
biasanya dipengaruhi oleh jumlah produksi dan nilai produksi yang tinggi. Perlu
3
adanya pemerataan harga sebagai titik tentu harga Ikan Layur, maka dibutuhkan
analisis rantai nilai untuk mengetahui kestabilan harga Ikan Layur di pasaran.
Ikan Layur memiliki sistem distribusi yang cukup kompleks. Produk yang
didistribusikan terdiri dari produk segar dan olahan. Ikan Layur segar ditangkap
menggunakan Pancing ulur dan dipasarkan kepada pedagang ikan segar, pengolah
dan konsumen. Ikan Layur olahan diproduksi oleh pabrik pengolah ikan skala rumah
tangga yang berada di sekitar PPP Tawang. Hal ini melandasi pentingnya identifikasi
Harga yang diperoleh bagi setiap pelaku usaha tergantung dari faktor-faktor
yang mempengaruhinya, termasuk kualitas dan kuantitas produk. Besaran harga ini
dapat berubah-ubah sesuai permintaan pasar. Namun yang perlu diingat adalah daya
saing yang terjadi diantara pelaku usaha perikanan. Perlu adanya strategi pemasaran
yang dilakukan, agar usaha ini dapat berjalan. Kelemahan lembaga pemasaran
terdapat dalam pengelolaan keuangan yang kurang baik, sehingga keuntungan yang
share berkisar di atas 50 % maka sudah dipastikan pemasaran yang terjadi adalah
efisien. Penerimaan yang akan diterima oleh nelayan adalah sepadan. Sebaliknya,
apabila nilai persentase fisherman’s share di bawah 50% maka pemasaran yang
terjadi tidak akan efisien dan penerimaan nelayan tidak sepadan. Hal ini akan
menyebabkan kerugian bagi setiap saluran pemasaran, terutama nelayan yang telah
4
mengeluarkan biaya operasional untuk melaut. Belum lagi ancaman musim barat dan
gerhana bulan yang dapat menyebabkan nelayan gagal melaut dengan minimnya
ketersediaan ikan.
1. Siapa saja yang terlibat dalam rantai distribusi Ikan Layur di PPP Tawang?
2. Berapa selisih margin pemasaran dan efisiensi pemasaran antar pelaku usaha
3. Bagaimana system yang terjadi dalam rantai nilai komoditas Ikan Layur di
Tawang?
4. Faktor apa saja yang dapat menghambat rantai nilai komoditas Ikan Layur di
PPP Tawang?
5. Faktor apa yang mempengaruhi besarnya harga komoditas Ikan Layur di PPP
Tawang?
1.3. Tujuan
5
3. Menganalisis keuntungan yang diperoleh pelaku usaha komoditas Ikan Layur
1.4. Manfaat
Berdasarkan latar belakang masalah yang telah diuraikan, maka manfaat yang
a. Bagi peneliti
penerapan teori yang telah didapat dari mata kuliah yang telah diterima ke dalam
b. Bagi pemerintah
Hasil penelitian dapat dijadikan sebagai sarana dalam mencari sebab masalah
yang terjadi di dalam system distribusi dan rantai nilai Ikan Layur di PPP Tawang.
masalah-masalah yang terjadi dalam pemasaran Ikan Layur tersebut. Hasil penelitian
juga dapat dijadikan sebagai sarana untuk menyusun strategi pemerintah dalam
6
c. Bagi nelayan
komoditas Ikan Layur yang berjalan saat ini di PPP Tawang dan diharapkan nelayan
dapat lebih baik dalam pengelolaan keuangan sehingga kehidupannya dapat berjalan
Penelitian ini rencananya akan dilaksanakan mulai awal bulan November tahun
7
Kerangka penelitian
Kelayakan Usaha
Saluran Pemasaran
Margin Pemasaran
Efisiensi Pemasaran
Nilai Tambah
Output Konsumen
8
BAB II. TINJAUAN PUSTAKA
Ikan Layur umumnya hidup pada perairan yang dalam dengan dasar berlumpur.
Trichiurus sp. dapat ditemukan sampai kedalaman 2000 meter. Habitat utamanya laut
dan terkadang memasuki estuari. Meskipun demikian, Ikan Layur biasanya akan
muncul ke permukaan menjelang senja untuk mencari makan. Kelompok ikan ini
pada umumnya memiliki aktivitas relatif rendah, gerak ruaya tidak terlalu jauh dan
membentuk gerombolan yang tidak terlalu besar. Sehingga sebarannya relatif lebih
merata jika dibandingkan dengan ikan-ikan pelagis. Klasifikasi ikan layur menurut
Kingdom : Animalia
Filum : Chordata
Subfilum : Pisces
Kelas : Teleostei
Ordo : Percomorphi
Subordo : Scombroidae
Superfamili : Trichiuroidea
Famili : Trichiuridae
Genus : Trichiurus
9
Gambar 2. Ikan Layur (Trichiurus sp.)
(Sumber: [Link])
Secara morfologi, Trichiurus sp. memiliki ciri-ciri sebagai berikut. Duri sirip
punggung: 3; jari-jari lunak sirip punggung: 130 - 135; jari-jari lunak sirip dubur: 100
– 105. Tubuh sangat memanjang, pipih dan meruncing pada bagian ekor. Mulut lebar,
memiliki tonjolan kulit pada ujung-ujung rahang. Sirip punggung relatif tinggi; sirip
dubur mengecil menjadi spinula yang biasanya menempel di kulit atau sedikit
menonjol; ujung depan sirip dada tidak bergerigi. Sirip perut dan sirip ekor tidak ada.
Gurat sisi berawal dari bagian atas tutup insang, miring memanjang hingga ke
belakang ujung sirip dada, kemudian lurus mendekati bagian perut di bagian
belakang. Dalam kondisi hidup atau segar ikan ini berwarna kebiruan dengan bercak
keperakan. Jika ikan sudah mati warnanya berubah menjadi abu-abu perak secara
Ikan Layur termasuk jenis ikan karnivor yang dilengkapi dengan gigi yang kuat
dan ikan kecil seperti teri, sardine dan yuwana ikan layur. Trichiurus sp. yang hidup
di daerah Mediterranean memijah pada bulan Juli - Agustus pada perairan hangat.
10
trawl, cantrang, pancing, jaring insang, dan macam-macam perangkap seperti bubu
ikan yang tepat sangat mempengaruhi aktivitas penangkapan ikan. Kondisi daerah
penangkapan ikan harus mempunyai kriteria sebagai berikut: sumberdaya ikan yang
menjadi target utama banyak, perairan yang dijadikan daerah penangkapan ikan
merupakan habitat ikan yang menjadi target utama, teknologi yang digunakan untuk
potensial didasarkan pada tiga indikator yaitu jumlah hasil tangkapan, ukuran hasil
selanjutnya dibagi menjadi tiga kategori yaitu kurang potensial, sedang, dan
potensial.
Ikan (DPI) seperti melihat warna permukaan air, riak kecil, lompatan ikan, adanya
buih, serta melihat keberadaan burung di laut. Kegiatan seperti ini menjadikan
aktivitas penangkapan ikan kurang optimal karena tingkat ketidakpastian cukup tinggi
dan akan berimbas pada biaya operasional. Komponen yang menjadi pertimbangan
sumberdaya ikan yang menjadi target utama banyak, perairan yang dijadikan daerah
penangkapan ikan merupakan habitat ikan yang menjadi target utama. serta teknologi
11
yang digunakan untuk menangkap ikan memiliki kemampuan tinggi. Salah satu
layur yang potensial dapat diperoleh melalui analisis sebaran klorofil-a di perairan.
Fitoplankton ini kemudian akan dimanfaatkan oleh trofik level selanjutnya yang lebih
Menurut Ayu et al. (2016), Pancing ulur adalah alat penangkap ikan jenis
pancing yang sangat sederhana. Biasanya terdiri dari pancing, tali pancing, pemberat
dan umpan serta dioperasikan oleh satu orang. Hasil tangkapan menggunakan
pancing ulur kualitasnya lebih terjaga dan cukup selektif terhadap hasil tangkapan.
Alat tangkap pancing ulur juga terkadang menggunakan rumpon sebagai alat bantu
Pancing ulur adalah pancing yang menggunakan satu mata pancing. Mata
pancing (hook) merupakan bagian yang sangat penting dalam proses penangkapan
Ikan Layur, karena Ikan Layur akan terkait pada mata pancing tersebut. Umumnya
mata pancing yang digunakan nelayan pancing ulur hanya bermata pancing tunggal
dan pada kenyataannya tinggkat keberhasilannya kurang optimal. Hal ini karena
12
sering kali umpan sudah tergigit atau termakan tetapi ikan tidak terkait pada mata
pancing. Selain pancing yang menggunakan satu mata pancing, terdapat pula yang
menggunakan dua atau lebih mata pancing yang dipasang berangkai. Pancing ulur
dengan dua mata pancing yang dipasang berangkai sudah banyak digunakan dan
tangkap yang meiliki nilai tertinggi dari aspek teknis. Hal ini karena alat tangkap ini
memiliki range kedalaman operasi penangkapan yang cukup dalam dan dapat
dioperasikan lebih lama dibandingkan dengan alat tangkap lain. Hasil penilaian aspek
ekonomi menunjukkan alat tangkap pancing memiliki nilai tertinggi karena hasil
tangkapan yang dihasilkan berukuran besar yang masuk dalam mutu ekspor sehingga
memiliki harga jual dan bobot hasil tangkapan yang tinggi. Sedangkan dari aspek
sosial alat tangkap pancing memiliki nilai tertinggi karena dalam operasi
penangkapan memerlukan kerjasama dari semua anak buah kapal (ABK). Pancing
ulur merupakan alat tangkap yang memiliki nlai tertinggi dari total stadarisasi nilai
Sudrajat et al. (2014) menyatakan bahwa, konstruksi pancing ulur terdiri dari:
1. Penggulung (reel) terbuat dari bahan plastik yang berbentuk bulat dengan
diameter 15 cm dan tebal 4,5 cm. Berfungsi untuk menggulung pancing ulur yang
selesai digunakan;
13
2. Tali utama (main line) terbuat dari bahan nylon monofilament nomor 1000
dengan panjang 70 - 110 m. Tali ini berfungsi untuk menempatkan tali cabang
3. Tali cabang (branch line) terbuat dari bahan nylon monofilament nomor 500
4. Mata pancing (hook) terbuat dari baja dengan nomor 10 dan 11 yang jumlah
dipasang pada ujung tali cabang yang dihubungkan dengan mata pancing. Kawat ini
berfungsi agar tali cabang tidak mudah putus akibat gigitan Ikan Layur dimana
6. Kili-kili (swivel) terbuat dari stainless steel dengan ukuran nomor 3 berfungsi
agar tali pancing tidak terbelit pada saat pengoperasian pancing ulur;
7. Pemberat (sink) terbuat dari batu berjumlah 1 buah dengan berat 2 kg dan
berfungsi untuk menenggelamkan alat tangkap agar posisinya tegak lurus dengan
dasar perairan;
8. Umpan, jenis umpan yang digunakan pada alat tangkap Pancing ulur adalah
Konstruksi alat tangkap Pancing ulur sangat sederhana, yaitu tali utama yang
digulung pada jerigen sebagai pelampung atau ada juga yang digulung pada
penggulung plastik, pemberat timah, kemudian disambung dengan tali pancing dan
mata pancing. Tali utama terbuat dari bahan monofilament no. 200 – 300 dengan
14
panjang sekitar 200 – 250 m. Tali pancing terbuat dari bahan monofilament no. 100 –
150 dengan panjang 40 – 50 m dan menggunakan mata pancing no. 2 - 4 yang diikat
pada tali pancing. Nelayan juga membawa batu yang digunakan sebagai pemberat
untuk memasukkan alat tangkap ke dalam air. Setiap operasi penangkapan, nelayan
pancing ulur membawa 5 sampai 10 gulung pancing ulur (Sulisyaningsih et al. 2011).
karena jenis-jenis ikan baik yang berukuran kecil maupun besar pada saat-saat
tertentu berkumpul di sekitar rumpon untuk berlindung dan mencari makan. Sehingga
dapat menghemat waktu dan biaya serta memudahkan nelayan Pancing ulur untuk
menemui gerombolan ikan dan menangkap. Apabila di sekitar rumpon tidak ada
pelamis). Ditandai dengan banyak burung laut yang berterbangan sampai dengan ke
permukaan laut, atau ada gerombolan Ikan Lumba-lumba (Dolphin sp.) yang
(fishing ground) nelayan Pancing ulur adalah di perairan Samudera Hindia selatan
dapat dilakukan secara lebih efektif dan menghemat biaya. Rumpon dipasang sampai
dengan 200 mil dari garis pantai. Jenis rumpon yang dipasang terdiri atas 2 macam,
15
yaitu rumpon laut dalam (kedalaman lebih dari 2.000 m) dan laut dangkal (kurang
Rantai nilai merupakan suatu cara pandang dimana bisnis dilihat sebagai rantai
aktivitas yang mengubah input menjadi output yang bernilai bagi pelanggan yang
berasal dari tiga sumber dasar: aktivitas yang membedakan produk, aktivitas yang
menurunkan biaya produk, dan aktivitas yang dapat segera memenuhi kebutuhan
pelanggan. Analisis Value Chain memandang perusahaan sebagai salah satu bagian
dari rantai nilai produk. Rantai nilai produk merupakan aktifitas yang berawal dari
bahan mentah sampai dengan penanganan purna jual. Rantai nilai ini mencakup
aktivitas yang terjadi karena hubungan dengan pemasok (Supplier Linkages), dan
yang terpisah tapi sangat tergantung satu dengan yang lain. Analisis Value Chain
membantu manajer untuk memahami posisi perusahaan pada rantai nilai produk
Kerangka rantai nilai (Value Chain) memiliki dua syarat yaitu syarat pertama
adalah data biaya sebagai pendukung analisis rantai nilai, syarat kedua adalah
informasi untuk mendukung analisis daur hidup produk. Dengan demikian Value
Chain dapat digunakan sebagai salah satu alat analisis manajemen biaya untuk
ketat. Rantai nilai mencakup margin laba karena markup di atas biaya perusahaan
16
untuk menyediakan aktivitas bernilai tambah. Umumnya merupakan bagian dari
harga yang dibayar oleh pembeli. Pendekatan Analisis Value Chain merupakan
pendekatan terbaik dalam membangun nilai perusahaan ke arah yang lebih baik.
Analisis Value Chain lebih sering berhubungan dengan aktivitas luar perusahaan
Value Chain Analysis yang banyak digunakan oleh perusahaan – perusahaan, yaitu
Primary activities
Gambar 3. Value Chain
2.3.2. Modal
perbandingan antara jumlah hutang jangka panjang dengan modal sendiri. Oleh
karena itu, struktur modal diukur dengan debt to equity ratio (DER). DER merupakan
rasio yang digunakan untuk mengukur tingkat leverage (penggunaan hutang) terhadap
total shareholder’s equity yang dimiliki perusahaan. Total debt merupakan total
liabilities (baik hutang jangka pendek maupun jangka panjang) sedangkan total
17
shareholder’s equity merupakan total modal sendiri (total modal saham yang disetor
dan laba yang ditahan) yang dimiliki perusahaan. Rasio ini menunjukkan komposisi
atau struktur modal dari total pinjaman (hutang) terhadap total modal yang dimiliki
pendek dan jangka panjang) semakin besar dibandingkan dengan total modal sendiri,
sehingga berdampak semakin besar beban perusahaan terhadap pihak luar (kreditur).
Apabila hutang ini tidak bisa dibayarkan oleh perusahaan terkait, maka dipastikan
perusahaan akan mengalami kegagalan operasi dan berbuntut pada kebangkrutan. Hal
ini sesuai dengan sifatnya yang makin lama akan bertambah bunganya.
Kebutuhan dana perusahaan bisa berasal dari internal maupun eksternal. Dana yang
berasal dari modal sendiri bisa berupa modal saham, laba ditahan dan cadangan.
Sedangkan dana dari luar perusahaan dapat berupa hutang (debt financing).
Berdasarkan waktunya, sumber dana perusahaan bisa dibagi menjadi dua, yaitu dana
jangka panjang dan dana jangka pendek. Struktur modal merupakan masalah yang
penting bagi perusahaan, karena baik buruknya struktur modal akan memberikan efek
struktur modal yang tidak baik, dimana perusahan tersebut mempunyai utang yang
sangat besar akan memberikan beban yang sangat berat pada perusahaan yang
18
2.3.3. Biaya
mengurangi kas atau harta lainnya untuk mencapai tujuan, baik yang dapat
dibebankan pada saat ini maupun pada saat yang akan datang. Biaya adalah kas atau
ekuivalen yang dikorbankan untuk membeli barang atau jasa yang diharapkan akan
memberikan manfaat bagi perusahaan saat sekarang atau untuk periode mendatang.
barang atau jasa. Pengorbanan mungkin diukur dalam kas, aktiva yang ditransfer, jasa
ekonomis yang diukur dalam satuan uang yang telah terjadi atau kemungkinan akan
langsung dan biaya tidak langsung. Biaya Langsung (direct cost) adalah biaya yang
langsung dibebankan pada objek atau produk, misalnya bahan baku langsung, upah
tenaga kerja yang terlibat langsung dalam proses produksi, biaya iklan, ongkos
angkut, dan sebagainya. Biaya Tidak Langsung (indirect cost) adalah biaya yang sulit
atau tidak dapat dibebankan secara langsung dengan unit produksi, misalnya gaji
pimpinan, gaji mandor, biaya iklan untuk lebih dari satu macam produk, dan
Proses pemasaran hasil tangkapan dimulai sejak ikan didaratkan. Ikan yang
19
dilakukan sebanyak 4 sampai 5 kali sehari atau tergantung banyaknya kapal yang
mendarat. Pedagang yang mengikuti proses pelelangan terdiri dari pedagang besar
dan pedagang kecil. Ikan hasil pelelangan yang dibawa pedagang kecil dipasarkan di
wilayah sekitar, sedangkan ikan hasil pelelangan yang dibawa oleh pedagang besar
didominasi untuk konsumsi lokal dan antar pulau (sekitar 60%) sedangkan untuk
tujuan ekspor (30%) ke Eropa, Thailand, China dan Malaysia dan untuk olahan
(10%). Pedagang yang paling berperan dalam pelabuhan perikanan adalah pedagang
pengumpul, pedagang antar kota dan pedagang pengecer. Sistem transportasi yang
biasa digunakan untuk memasarkan ikan ke luar kota adalah dengan menggunakan
kapal laut. Sedangkan untuk pemasaran dalam kota biasanya menggunakan motor
dengan cool box. Sistem pembayaran hasil perikanan yang dilakukan adalah dengan
sistem tunai.
Hal ini karena saluran pemasaran berfungsi sebagai perantara antara penjual dan
pembeli. Saluran pemasaran secara garis besar terbagi dalam empat tipe, tipe satu
umumnya dilakukan oleh nelayan pemilik yang istrinya bekerja sebagai pedagang
eceran. Tipe kedua, nelayan menjual produknya melalui TPI kepada pedagang
menjual produk jenis ikan pasar local. Tipe ketiga, nelayan menjual produknya
20
melalui TPI kepada pedagang pengumpul, kemudian pedagang pengumpul menjual
kepada restoran di sepanjang daerah wisata pantai dan restoran menjual kepada
Devi et al. (2014) menyatakan bahwa, Ikan Layur (Trichiurus sp) yang
didaratkan tidak serta merta masuk ke TPI dan dilelang. Hal ini bisa disebabkan
karena proses lelang tidak berjalan dengan lancar. Ikan layur yang sudah didaratkan
oleh nelayan, langsung dibeli oleh bakul dan pedagang kecil. Distribusi pemasaran
Ikan Layur (Trichiurus sp) yaitu Ikan Layur dibongkar dari kapal, nelayan
terbentuk, kemudian bakul menjual Ikan Layur tersebut ke PT yang ada di pelabuhan.
PT akan mengekspor Ikan Layur ke berbagai negara, seperti Korea, Jepang dan Cina.
Ikan yang dijual ke PT merupakan Ikan Layur dengan kualitas mutu yang tinggi.
Maisyaroh et al. (2014) menyatakan bahwa, margin pemasaran terdiri dari dua
komponen yaitu biaya pemasaran dan keuntungan. Margin pemasaran dihitung setiap
dikeluarkan untuk pemasaran. Biaya pemasaran terdiri dari biaya variable dan biaya
tetap. Biaya tetap terdiri dari biaya penyusutan dan biaya tenaga kerja. Biaya variabel
terdiri dari biaya untuk membeli, transportasi, biaya retribusi dan listrik.
21
membeli ikan dalam jumlah besar. Ikan yang dibeli oleh pedagang besar dari
pedagang pengumpul selanjutnya akan dijual kepada pedagang pengecer. Pada tahap
tradisional. Masalah yang timbul dari banyaknya lembaga pemasaran tersebut adalah
harga yang diterima para nelayan menjadi rendah sedangkan para konsumen harus
membayar dengan harga yang mahal. Perbedaan harga beli dan harga jual antara
nelayan dan konsumen menunjukkan adanya margin pemasaran. Hal tersebut dapat
dilihat jika selisihnya hampir dari seratus persen harga ikan yang dibeli dari nelayan
produsen dalam satu alur produksi. Sehingga akan diketahui bahwa harga yang dijual
oleh nelayan sudah memadai dan sepadan atau belum. Nilai fisherman’share dapat
adalah kemampuan jasa pemasaran untuk dapat menyampaikan suatu produk dari
produsen ke konsumen secara adil dengan memberikan kepuasan pada semua pihak
yang terlibat untuk suatu produk yang sama. Pemberikan kepuasan pada semua pihak
yang terlibat berarti mampu menyampaikan hasil dari produsen kepada konsumen
Fisherman’s share merupakan bagian yang diterima oleh nelayan dalam persen.
dengan harga di tingkat konsumen dalam persen. Bila bagian yang diterima produsen
> 50% maka pemasaran dikatakan efisien, dan bila bagian yang diterima produsen <
22
50% berarti pemasaran belum efisien. Setiap rantai pemasaran dapat dikatakan efisien
karena pada setiap distribusi pemasaran nilai efisiensi pemasarannya < 1. Pola
pemasaran yang paling efisien secara ekonomi memiliki margin terkecil dan
fisherman’s share terbesar diantara pola pemasaran lainnya (Septiyani et al., 2016).
Nilai tambah adalah pertambahan nilai yang terjadi karena satu komoditi
faktor teknis dan faktor non teknis. Informasi atau keluaran yang diperoleh dari hasil
analisis nilai tambah adalah besarnya nilai tambah, rasio nilai tambah, margin dan
balas jasa yang diterima oleh pemilik faktor produksi. Industri perikanan tangkap dan
industri pengolahan ikan menjadi inti dari klaster industri perikanan. Hal ini karena
pada kedua jenis industri tersebut terjadi aliran material (ikan) dan proses
ton ikan segar yang telah menjadi produk jadi. Pada pengolahan ikan terjadi
perubahan dari bahan baku utama menjadi produk jadi yang dinyatakan sebagai
indeks konversi produk. Produk pengalengan ikan indeks konversinya sekitar 0,45,
berarti untuk tiap 1 ton produk jadi ikan dalam kaleng, maka bahan baku ikannya
adalah 45%-nya atau 450 kg. Industri pengalengan tiap 1 ton ikan segar dapat
menghasilkan 1,5 ton produk ikan kaleng. Sedangkan untuk cold storage konversi
ikan ke produk adalah 1, untuk tepung ikan 0,25, serta untuk minyak ikan 0,1. Jadi, 1
23
2.4. Penelitian Terdahulu
Abdul Ghani Fakhrudin, Dian Wijayanto, Metode penelitian yang digunakan adalah
Dian Ayunita NND (2017) – dengan judul deskriptif dengan metode pengambilan sampel
Analisis Rantai Nilai Komoditas Ikan Kuwe incidental sampling, snowball sampling, dan
(Caranx sp) di Kecamatan Teluknaga, purposive sampling. Kesimpulan penelitian ini
Kabupaten Tangerang. adalah jenis pelaku pemasaran yang digunakan
meliputi nelayan, bakul, pedagang, dan
restoran. Rantai pemasaran terdiri dari 3 rantai
dengan besar total margin per rantai adalah
84%, 71% dan 62%. Ketiga rantai tersebut
belum dikatakan efisien karena persentase
fisherman’share kurang dari 50% sebesar 29%
pada rantai ketiga dan 38% pada rantai kedua.
Analisis rantai nilai pada penyebaran margin
keuntungan di rantai kedua adalah nelayan
57%, bakul 11%, dan pedagang 32%.
Keuntungan tersebesar dinikmati oleh nelayan.
Penyebaran margin keuntungan di rantai ke 3
adalah 74% nelayan dan 26% keuntungan di
nikmati oleh pedagang kecil.
Rizky Damayanti, Azis Nur Bambang, Metode yang digunakan adalah metode studi
Sardiyatmo (2014) – dengan judul Analisis kasus dengan analisis deskriptif. Kesimpulan
Harga dan Pemasaran Ikan Kembung Lelaki penelitian ini menunjukkan persamaan regresi
(Rastrelliger kanagurta) di Pangkalan Y= 3.168 - 0.084X1 + 0,501X2 + 0,076X3 +
Pendaratan Ikan (Ppi) Cituis Kabupaten 0,350X4 + 0,006811. Pemasaran ikan kembung
Tangerang lelaki terbentuk ada 3 tipe distribusi pemasaran.
Lembaga pemasarannya meliputi nelayan, TPI,
pedagang besar, pedagang pengecer dan
pengolah. Margin pemasaran terbesar dalam
saluran pemasaran ikan kembung lelaki di TPI
Cituis adalah pengasinan sebesar Rp. 10.000,- .
Mutu ikan yang baik akan menghasilkan harga
tinggi, maka disarankan menjaga mutu yang
baik sampai ke konsumen.
Ashri Prastiko Wibowo (2014) – dengan judul Metode analisis yang digunakan adalah analisis
Analisis Rantai Nilai (Value Chain) Komoditas Rantai Nilai (Value Chains Analysis) dengan
Ikan Bandeng di Kecamatan Juwana, Kabupaten metode pengambilan sampel quota sampling
Pati dengan jumlah responden 100 petani tambak
dan metode Snowballing untuk responden
pedagang. Kesimpulan penelitian menunjukkan
bahwa dalam Rantai Nilai Komoditas Ikan
Bandeng dengan margin petani tambak dan
pedagang di pasar Porda adalah 0 dikarenakan
pedagang di pasar Porda bertindak sebagai
komisioner. Margin untuk pedagang di pasar
Porda dengan pengecer adalah 1.000,
sedangkan margin untuk pedagang pengecer
dengan pengolah Ikan Bandeng adalah 20.000,
kenaikan margin yang signifikan ini
dikarenakan dalam pengolahan Ikan Bandeng
terdapat Value added.
24
Estu Sri Luhur dan Risna Yusuf (2017) – Metode yang digunakan adalah teknik
dengan judul Analisis Rantai Nilai Ikan purposive dan snowball sampling. Hasil
Cakalang di Kota Ambon, Maluku penelitian menunjukkan bahwa pemasaran ikan
cakalang memiliki tiga saluran distribusi yaitu:
(1) dari nelayan ke pedagang pengumpul dan ke
pedagang pengecer; (2) dari nelayan ke
pedagang pengumpul kemudian ke pengolah
ikan asar, dan; (3) dari nelayan ke UPI/cold
storage. (50%) didistribusikan ke UPI/cold
storage dan sisanya dengan porsi yang sama
(25%) didistribusikan ke pedagang pengecer
dan pengolah ikan asar. Nilai tambah terbesar
pada saluran pemasaran kedua, yaitu sebesar
Rp.23.062/kg. Rantai pasok tidak efisien pada
ketiga saluran pemasaran.
Marla Wahiu, Siti Suhaeni, Srie J. Sondakh Metode yang digunakan adalah studi kasus
(2018) – dengan judul Analisis Rantai Nilai dengan pengambilan menggunakan metode
Pemasaran Ikan Layang di Desa Kema III sampling, Analisis data secara deskriptif
Kecamatan Kema Kabupaten Minahasa Utara kualitatif dan deskriptif kuantitatif. Kesimpulan
dari penelitian ini adalah terdapat 3 saluran
pemasaran. Saluran 3 paling efektif karena
nelayan menjual langsung ke UPI. Margin
pemasaran terkecil adalah saluran pemasaran ke
3 yaitu 0 karena yang diterima produsen sama
dengan yang dibayarkan konsumen. Nilai
tambah terkecil pada saluran 2 sebesar Rp.
7.671/Kg dan terbesar pada saluran 1 yaitu Rp.
10.069,- per kg.
Adib Khairushubhi, Dian Wijayanto, Metode yang digunakan adalah deskriptif
Trisnani Dwi Hapsari (2017) - dengan judul bersifat studi kasus dengan metode sampel
Analisis Value Chain Komoditas Ikan Teri Accidental sampling dan Sensus. Hasil
(Stolephorus sp.) yang Berpangkalan di TPI penelitian yang didapat bahwa terdapat tiga
Tasik Agung, Rembang Jawa Tengah jenis saluran distribusi pemasaran ikan Teri
(Stolephorus sp.). Marjin pemasaran pada
saluran pemasaran 1, 2 dan 3 adalah 71%, 78%
dan 52%. Keuntungan terbesar diperoleh
nelayan juragan sebesar 38,75% dan terkecil
nelayan ABK sebesar 12,18%. Keuntungan per
individu terbesar adalah bakul sebesar 2.10%
dan terkecil nelayan ABK sebesar 0,03%.
Pelia Naung, Jardie A. Andaki, Jeannette F. Metode penelitian yang digunakan adalah
Pangemanan (2018) – dengan judul Analisis metode survey. Nilai tambah pada rantai pasok
Nilai Tambah pada Rantai Pasok Produk Tuna produk tuna segar antar pulau, berupa nilai
Segar Antar Pulau di Kecamatan Essang Selatan tambah pada margin pemasaran dan
Kabupaten Kepulauan Talaud Provinsi Sulawesi keuntungan, jumlah tenaga kerja dan upah
Utara tenaga kerja. Nilai tambah paling besar berada
pada R2, terutama pada penjualan tuna segar
grade A/B, sedangkan nilai tambah keuntungan
terbesar berada pada R3. Nilai tambah tenaga
kerja paling besar berada pada R3, demikian
juga untuk upah tenaga kerja.
25
Maharani Yulisti, Risna Yusuf dan Hikmah Metode penelitian menggunakan snowball
(2012) – dengan judul Kajian Awal Value Chain sampling, dengan analisis statistik deskriptif.
Rumput Laut (Eucheuma Cottonii) di Kabupaten Hasil penelitian menunjukkan rantai pemasaran
Pangkep, Sulawesi Selatan rumput laut cukup panjang. Keuntungan paling
tinggi adalah pengumpul besar yaitu Rp.
88.660.000,- per tahun dengan value added Rp.
280,- per kilo, pendapatan paling rendah adalah
pengumpul kecil yaitu Rp. 5.500.000,- per
tahun dengan value added Rp. 42,- per kilo.
Keuntungan pembudidaya Rp. 29.075.000,- per
tahun dengan value added Rp. 2.516,- per kilo.
26
BAB III. MATERI DAN METODE PENELITIAN
Materi yang digunakan dalam penelitian yaitu para pelaku usaha pemasaran
komoditas Ikan Layur di PPP Tawang serta nelayan yang mengoperasikan alat
tangkap Pancing Ulur. Data primer berasal dari pedagang pengumpul atau agen
meliputi: jenis ikan, harga beli di tingkat nelayan, ukuran, jumlah, pasar tujuan,
mekanisme distribusi, biaya pemasaran, dan harga jual pada pedagang pengecer.
Pengumpulan data pada tingkat pedagang pengecer meliputi: jenis ikan, ukuran,
jumlah, harga beli, biaya pemasaran dan harga jual pada konsumen akhir. Penyusutan
dilakukan untuk mendapatkan nilai yang valid. Alat yang digunakan dalam penelitian
[Link] penelitian
27
deskriptif dengan tujuan memperoleh gambaran mengenai rantai nilai Ikan Layur di
gambaran umum, sistematis, factual dan valid mengenai data-data yang berupa fakta-
fakta di lapangan dan sifat atau kebiasaan dari populasi tertentu dari suatu kegiatan
kering tawar dan pengolah layur kering asin menggunakan metode accidental
jumlah sampel sudah dianggap dapat mewakili populasi karena informasi yang
diperoleh relatif homogen. Hal ini diperkuat oleh Damayanti et al. (2014), accidental
sampling adalah teknik sampling yang termasuk dalam non random sampling.
Sampel yang diambil adalah individu atau grup yang kebetulan dijumpai atau dapat
Pengolah Ikan Layur kering rebus, pedagang layur kering tawar dan pengolah
layur kering asin menggunakan metode sensus atau mendata seluruh sampel yang
ada. Metode sensus dilakukan biasanya pada jumlah sampel yang tidak begitu
Hal ini diperkuat oleh Nurhayati (2008), sensus dilakukan apabila semua anggota
populasi diobservasi atau diteliti. Populasi memiliki arti bahwa keseluruhan anggota
atau elemen yang diobservasi dalam ruang lingkup penelitian. Sensus memberikan
28
3.2.3. Metode pengambilan data
Data yang dibutuhkan dalam penelitian ada dua data yaitu data primer dan data
sekunder. Data sekunder didapatkan dari instansi yang ada di lokasi penelitian,
a. Metode Observasi
wawancara dan survey. Observasi bisa dipahami sebagai upaya untuk memperoleh
data secara “natural”. Pengertian sederhana dari metode observasi adalah melihat dan
b. Metode Wawancara
keterangan untuk tujuan penelitian dengan cara tanya jawab dan bertatap muka. Hasil
topik penelitian yang tertuang dalam daftar pertanyaan dan situasi wawancara.
Menurut Ayu et al. (2016), wawancara merupakan salah satu data primer yang
29
diperoleh dengan menggunakan daftar pertanyaan terstruktur dengan pola terbuka dan
tertutup.
c. Metode Dokumentasi
penelitian baik berupa sumber tertulis, film, gambar, yang semuanya itu memberikan
penelitian.
Metode studi pustaka adalah sebuah metode pengumpulan data dengan mencari
informasi lewat buku, majalah, koran, dan literatur yang bertujuan untuk membentuk
sebuah landasan teori. Studi pustaka dapat dilakukan sebelum peneliti memulai
penelitiannya. Hal ini bertujuan untuk menemukan informasi yang relefan sesuai
dengan obyek penelitian. Studi pustaka juga dilakukan untuk mendapatkan landasan
teori yang dapat dijadikan pedoman dalam melakukan penelitian. Hapsari (2014)
menyatakan bahwa studi pustaka adalah teknik yang digunakan untuk mengumpulkan
data teoritis yang bersumberkan pada literatur-literatur yang sesuai dengan judul
sekunder.
30
3.3. Metode Analisis Data
Metode rantai nilai yang digunakan dalam penelitian Analisis Rantai Nilai
Komoditas Ikan Layur (Trichiurus sp.) di PPP Tawang, Kabupaten Kendal ini
menggunakan metode porter secara umum. Maka dari itu apabila harga yang dibayar
lebih tinggi daripada total biaya yang dikeluarkan oleh suatu aktivitas maka
antara harga biaya maka akan semakin tinggi marjin yang didapat. Metode rantai nilai
porter membagi rantai nilai menjadi aktivitas utama dan aktivitas pendukung.
distribusi ini menggunakan fungsi rantai nilai dan lembaga pemasaran. Fungsi rantai
nilai merupakan tujuan dari suatu lembaga pemasaran dalam suatu usaha. Lembaga
pemasaran merupakan pelaku usaha dari pelaku usaha Ikan Layur di PPP Tawang.
3.3.2. Pendapatan
barang yang berasal dari pihak lain maupun hasil industri yang dinilai atas dasar
sejumlah uang dari harta yang berlaku saat itu. Pendapatan merupakan sumber
penghasilan seseorang untuk memenuhi kebutuhan sehari – hari dan sangat penting
artinya bagi kelangsungan hidup dan penghidupan seseorang secara langsung maupun
tidak lagsung. Pendapatan dapat diperoleh dengan menghitug rumus sebagai berikut
(Mulyani, 2015).
31
TR = ∑ Pi X Hi ………………………………………. (1)
Dimana:
i = jenis ikan
3.3.3. Pengeluaran
Pengeluaran yang dimaksud adalah pengeluaran didapatkan dari total biaya tetap dan
biaya variabel. Biaya tetap terdiri atas biaya alat-alat seperti mesin, alat tangkap pada
nelayan, gadang, rantang pada pengolah dan basket, timbangan pada pedagang.
Menurut Giamurti et al. (2017), biaya sangat penting artinya bagi dunia usaha yang
Keterangan :
3.3.4. Keuntungan
biaya total. Dalam suatu proses pemasaran tidak selamanya selalu mendapatkan
32
untung tetapi juga mengalami kerugian. Termasuk dalam suatu proses pemasaran
hasil tangkapan. Hal ini dikarenakan suatu proses penangkapan tergantung pada
musim. Apabila saat musim paceklik maka nelayan sering mengalami kerugian,
pendapatan yang dihasilkan lebih sedikit dibandingkan biaya yang harus ditanggung
π = TR – TC …………………………………………(3)
Keterangan:
π = keuntungan (Rp)
komoditas Ikan Layur lumayan kompleks yang terdiri dari beberapa saluran
pemasaran. Ikan Layur segar biasanya tidak melalui saluran yang begitu panjang.
Biasanya Ikan Layur segar dari nelayan ada yang langsung sampai ke konsumen dan
lewat perantara pedagang Layur segar. Namun Ikan Layur olahan biasanya memiliki
saluran yang lebih panjang dan biasanya bisa sampai ke luar daerah karena lebih
tahan lama. Menurut Salindeho (2014), saluran distribusi berfungsi sebagai sarana
untuk menyampaikan produk hasil produksi dari produsen kapada konsumen akhir
lembaga pemasaran tingkat ke-1 dengan harga beli lembaga pemasaran tingkat-1.
Besar kecilnya perbedaan harga ditingkat konsumen akhir akan dipengaruhi oleh
33
banyak sedikitnya lembaga pemasaran yang ikut dalam proses pemasaran, panjang
harga jual yang diterima oleh masing-masing pelaku pemasaran dibandingkan dengan
harga eceran dari bentuk produk yang sama. Nilai margin pemasaran yang diperoleh
M = Hp − Hb …………………………………….(4)
Hb : Harga pembelian
Hp : Harga penjualan
Semakin besar fisherman’s share dan semakin kecil marjin pemasaran maka dapat
dikatakan suatu distribusi pemasaran berjalan secara efisisen dan analisis nilai tambah
adalah salah satu pengembangan nilai yang terjadi karena adanya input yang
diperlakukan pada suatu komoditas. Input yang menyebabkan terjadinya nilai tambah
dari suatu komoditas dapat dilihat dari adanya perubahan-perubahan pada komoditas
tersebut yaitu perubahan bentuk, tempat dan waktu (Giamurti et al., 2017).
yang diterima produsen atau nelayan dengan harga yang dibayarkan oleh konsumen
akhir yang biasa disebut dengan fisherman’s share. Secara matematis, fisherman’s
34
………………………………….. (5)
Nilai tambah adalah nilai yang ditambahkan pada suatu produk seperti Layur
segar, Layur kering tawar dan Layur kering asin. Nilai ditambahkan ini sama dengan
balas jasa atas didapatkannya Layur segar begitupun Layur kering asin dan tawar.
Keterangan :
HP = harga produksi
BP = biaya produksi
faktor internal dan eksternal. Analisis SWOT membandingkan antara faktor internal,
yaitu kekuatan (stregth), dan kelemahan (weakness). Dengan faktor eksternal yaitu
matrik yang disebut matrik faktor IFAS (Internal Strategic Faktor Analisis
Summary). Faktor eksternal dimasukan ke dalam matrik yang disebut matrik faktor
eksternal atau EFAS (Eksternal Strategic Faktor Analisis Summary). Setelah matrik
35
faktor strategi internal dan eksternal selesai disusun kemudian hasilnya dimasukan
kedalam model kualitatif yaitu matrik SWOT untuk merumuskan strategi kompetitif
dan ancaman eksternal yang dihadapi oleh perusahaan dan disesuaikan dengan
kekuataan dan kelemahan yang dimilikinya. Matriks ini menghasilkan empat sel
1. Strategi SO (Strength-Opportunity)
2. Strategi ST (Strength-Treaths)
mengatasi ancaman.
3. Strategi WO (Weakness-Opportunity)
Strategi ini diterapkan berdasarkan pemanfaatan peluang yang ada dengan cara
4. Strategi WT (Weakness-Treaths)
Strategi ini didasarkan pada kegiatan yang bersifat defensive (bertahan) dan
36
DAFTAR PUSTAKA
Ayu. P., D. Wijayanto., dan F. Kurohman. 2016. Analisis Kelayakan Finansial Usaha
Perikanan Tangkap Gillnet di Pelabuhan Perikanan Pantai (PPP) Sadeng,
Kabupaten Gunung Kidul. Journal of Fisheries Resources Utilization
Management and Technology. Vol VI (4): 301-309.
Badan Pusat Statistik Kabupaten Kendal. 2018. Kabupaten Kendal dalam Angka
2018. BPS Kabupaten Kendal, Kabupaten Kendal,351 hlm.
Damayanti, R., A. N. Bambang dan Sardiyatmo. 2014. Analisis Harga dan Pemasaran
Ikan Kembung Lelaki (Rastrelliger kanagurta) di Pangkalan Pendaratan Ikan
(PPI) Citius Kabupaten Tangerang. Journal of Fisheries Resources Utilization
Management and Technology. Vol III (3): 176 – 182.
37
Nusantara Brondong, Lamongan, Jawa Timur. Journal of Fisheries Resources
Utilization Management and Technology. Vol IV (4): 8 – 17.
Https://[Link]/wiki/Layur
Http://[Link]
Luhur, E. S. dan R. Yusuf. 2017. Analisis Rantai Nilai Ikan Cakalang di Kota
Ambon, Maluku. J. Sosek KP. Vol. XII (1): 93-105.
Lutfia, A. 2012. Analisa Pengaruh Value Chain terhadap Persaingan dalam Mencapai
Kepuasan Pelanggan pada Perusahaan Precast di Indonesia. [Skripsi]. Fakultas
Teknik, Universitas Indonesia, 113 hlm.
Maisyaroh, N., Ismail dan H. Boesono. 2014. Analisis Pemasaran Hasil Tangkapan
Lobster (Panulirus sp.) di Tempat Pelelangan Ikan (TPI) Se-Kabupaten Gunung
Kidul. Journal of Fisheries Resources Utilization Management and
Technology. Vol III (3): 131 – 140.
38
Nakamura, I. dan N. V. Parin. 1993. Snake Mackerels and Cutlassfishes of The
World. FAO Species Catalogue No. 125 Vol. 15. FAO. Rome.
Naung, P., J. A. Andaki dan J. F. Pangemanan. 2018. Analisis Nilai Tambah pada
Rantai Pasok Produk Tuna Segar Antar Pulau di Kecamatan Essang Selatan
Kabupaten Kepulauan Talaud Provinsi Sulawesi Utara. AKULTURASI. Vol VI
(11): 821 – 830.
Pradana, H. R., Fachrurrozie dan Kiswanto. 2013. Pengaruh Risiko Bisnis, Struktur
Aset, Ukuran dan Pertumbuhan Penjualan Terhadap Struktur Modal.
Accounting Analysis Journal . Vol II (4): 423 – 429.
Rahmat, E. 2008. Penggunaan Pancing Ulur (Hand Line) untuk Menangkap Ikan
Pelagis Besar di Perairan Bacan, Halmahera Selatan. Vol. VI (1): 29-33
Salindeho dan H. Aristanto. 2014. Pengaruh Saluran Distribusi dan Harga terhadap
Peningkatan Volume Penjualan pada PT. Fastrata Buana, Tbk. Jurnal Imu dan
Riset Manajemen. Vol III (9): 1-15.
39
Saptanto, S. dan T. Apriliani. 2012. Aspek Penting Dalam Pengembangan Pelabuhan
Perikanan Samudera Belawan Untuk Mendukung Program Industrialisasi
Perikanan. Buletin Riset Sosek Kelautan dan Perikanan. Vol. VII (2): 46-53.
Septiyani, D., I. Triarso dan F. Kurohman. 2016. Analisis Distribusi dan Margin
Pemasaran Hasil Tangkapan Cumi-Cumi (Loligo sp.) di Kabupaten Kendal,
Jawa Tengah. Journal of Fisheries Resources Utilization Management and
Technology. Vol V(4): 167-176.
Wahiu, M., S. Suhaeni dan S. J. Sondakh. 2017. Analisis Rantai Nilai Pemasaran
Ikan Layang di Desa Kema III Kecamatan Kema Kabupaten Minahasa Utara.
AKULTURASI. Vol VI (11): 837-850.
Wahyuningrum, P. I., T. W. Nurani dan T. A. Rahmi. 2012. Usaha Perikanan
Tangkap Multi Purpose di Sadeng, Kabupaten Gunungkidul, Daerah Istimewa
Yogyakarta. Maspari Journal. Vol IV (1): 10-22.
Wibowo, A. P. 2014. Analisis Rantai Nilai (Value Chain) Komoditas Ikan Bandeng
di Kecamatan Juwana, Kabupaten Pati [Skripsi]. Semarang (ID): Universitas
Diponegoro.
Widiatmoko. D., Asriyanto., dan A. A. P. Fitri. 2015. Perbedaan Ukuran Mata Jaring
(Mezh size) dan Kecepatan Hela Alat Tangkap Arad (Small Bottom Trawl)
Terhadap Hasil Tangkapan Cumi-cumi (Loligo sp) di Perairan Rembang Jawa
Tengah. Journal of Fisheries Resources Utilization Management and
Technology. Vol IV (4): 215-222.
Yulisti, M., R. Yusuf dan Hikmah. 2012. Kajian Awal Value Chain Rumput Laut
(Eucheuma Cottonii) di Kabupaten Pangkep, Sulawesi Selatan. J. Sosek KP.
Vol. VII (1): 67-77.
40