MAKALAH ILMU PANGAN
KARAKTERISTIK MUTU DAGING DAN UNGGAS DAN OLAHANNYA
PENGERTIAN DAGING DAN JENIS-JENIS NYA
KARAKTERISTIK MUTU DAGING
HASIL OLAHAN SETENGAH JADI DAGING
PERUBAHAN KOMPONEN DAGING
PERUBAHAN SELAMA PENYIMPANAN DAGING
DISUSUN OLEH:
KELOMPOK 7 / D-IV / I-A
CINTIA ASMARA BR. GINTING
NOVA ASTRYANI SILABAN
TAQIYYA ANDINI
POLITEKNIK KESEHATAN NEGERI MEDAN
JURUSAN GIZI
T.A 2018/2019
Kata Pengantar
Dengan menyebut nama Tuhan yang Maha Pengasih lagi Maha Panyayang, Kami
panjatkan puja dan puji syukur atas kehadirat-Nya, yang telah melimpahkan rahmat, hidayah,
dan inayah-Nya kepada kami, sehingga kami dapat menyelesaikan makalah tentang
Karakteristik Mutu Daging dan Olahannya.
Makalah ini telah kami susun dengan maksimal dan mendapatkan bantuan dari berbagai
pihak sehingga dapat memperlancar pembuatan makalah ini. Untuk itu kami menyampaikan
banyak terima kasih kepada semua pihak yang telah berkontribusi dalam pembuatan
makalah ini.
Terlepas dari semua itu, Kami menyadari sepenuhnya bahwa masih ada kekurangan baik
dari segi susunan kalimat maupun tata bahasanya. Oleh karena itu dengan tangan terbuka
kami menerima segala saran dan kritik dari pembaca agar kami dapat memperbaiki makalah
ilmiah ini.
Akhir kata kami berharap semoga makalah tentang Karakteristik Mutu Daging dan
Olahannya ini dapat memberikan manfaat terhadap pembaca.
Lubuk Pakam, September 2018
Penyusun
Daftar Isi
Kata Pengantar ........................................................................................................... i
Daftar Isi ..................................................................................................................... ii
BAB I Pendahuluan
A. Latar Belakang Masalah .................................................................................. 1
B. Rumusan Masalah ........................................................................................... 1
C. Tujuan Penelitian ............................................................................................. 1
BAB II Pembahasan
A. Pengertian Daging dan Jenis-Jenis nya ........................................................... 3
B. Karakteristik Mutu Daging ................................................................................ 5
C. Hasil Olahan Setengah Jadi Daging ................................................................ 9
D. Perubahan Komponen Daging ......................................................................... 12
E. Perubahan Selama Penyimpanan Daging ....................................................... 14
BAB III Penutup
A. Kesimpulan ...................................................................................................... 17
B. Saran dan Kritik................................................................................................ 18
Daftar pustaka ............................................................................................................ 19
BAB. I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Daging merupakan salah satu makanan yang sering di konsumsi masyarakat pada
umumnya, terutama sebagai makanan pelengkap setiap harinya. Akan tetapi masyarakat
sedikit mengabaikan apa saja yang terkandung di dalamnya, dan terkadang salah
memilih daging yang sudah tidak layak konsumsi.
Terkadang bukan hanya para konsumen nya saja yang mengabaikan mana daging
yang sehat atau tidak, akan tetapi para produsennya juga demikian sebaliknya. Demi
mendapatkan keuntungan yang besar sehingga membuat mereka menjual daging yang
sudah tidak layak, seperti daging sapi glondongan, semua itu hanya untuk mendapatkan
keuntungan yang sebesar-besarnya.
Menurut Departemen Perdagangan RI Daging ialah urat daging atau otot daging
yang melekat pada rangka, kecuali urat daging pada bagian bibir, hidung, dan telinga,
yang berasal dari hewan sehat sewaktu dipotong.
B. Rumusan Masalah
1. Apa pengertian dari daging? Serta berikan jenis-jenisnya!
2. Bagaimanakah mutu daging yang baik untuk dikonsumsi?
3. Apa saja hasil olahan setengah jadi daging?
4. Bagaimanakah perubahan komponen daging?
5. Bagaimanakah perubahan selama penyimpanan daging?
C. Tujuan Penelitian
1. Untuk mengetahui apa pengertian daging beserta jenisnya.
2. Untuk mengetahui bagaimanakah mutu daging yang baik dan hasil olahan
setengah jadi dari daging.
3. Untuk mengetahui bagaimanakah perubahan komponen dan perubahan
selama penyimpanan daging.
BAB. II
ISI
A. Pengertian Daging dan Jenis-Jenisnya
Daging ialah bagian lunak pada hewan yang terbungkus kulit dan melekat
pada tulang yang menjadi bahan makanan. Daging tersusun sebagian besar dari
jaringan otot, ditambah dengan lemak yang melekat padanya, urat, serta tulang rawan.
Sebagai komoditas dagang, daging biasanya disematkan untuk yang berasal dari
hewan besar (mamalia dan reptil) saja. Daging semacam ini disebut pula "daging merah",
dan diperdagangkan dalam bentuk potongan-potongan, Sementara
itu ikan, amfibi, hewan laut dan unggas tidak termasuk komoditas daging, karena dapat
diperdagangkan secara utuh. Daging non-komoditas disebut pula "daging putih".
Menurut Departemen Perdagangan RI Daging ialah urat daging atau otot daging yang
melekat pada rangka, kecuali urat daging pada bagian bibir, hidung, dan telinga, yang
berasal dari hewan sehat sewaktu dipotong.
Menurut food and drug (FAD) administration, daging merupakan bagian tubuh yang
berasal dari ternak sapi, kambing, atau domba yang dipotong dalam keadaan sehat dan
cukup umur, tetapi hanya terbatas pada bagian muskulus yang berserat yaitu yang berasal
dari muskulus skeletal atau lidah, diafragma, jantung, dan useofogus (yakni pembuluh
makanan yang menghubungkan mulut dengan perut) dan tidak termasuk bibir, hidung, atau
pada telinga dengan atau tanpa lemak yang menyertainya, serta bagian-bagian dari tulang,
urat, urat saraf, dan pembuluh-pembuluh darah.
Jenis-jenis daging terbagi atas:
1. Daging sapi
Sumber utama daging sapi adalah sapi (baik dari kelompok zebu maupun
taurus) dan beberapa kerabat dekat (seperti sapi bali) atau persilangan
antarmereka. Daging sapi segar berwarna merah cerah, tekstur lunak.
Sebagai komoditas dagang, daging sapi dibedakan nilainya berdasarkan
bagian asal di tubuh; juga berdasarkan usia potong. Bagian yang diambil
dagingnya mulai dari kepala, leher, seluruh badan, tungkai, dan ekor.
2. Daging Kerbau
Secara umum, daging kerbau relatif keras konsistensinya dengan warna
merah agak gelap. Kandungan lemak daging kerbau relatif rendah daripada
daging sapi. Daging kerbau dikonsumsi oleh banyak penduduk di Asia
Selatan dan Asia Tenggara, tempat asal hewan ini.
3. Daging kambing
Daging kambing merupakan sumber zat gizi yang penting bagi negara
berkembang yang biasanya terletak di iklim tropis. Daging kambing lebih
empuk daripada daging sapi dan kerbau, serat dagingnya lebih halus dan
mempunyai rasa dan aroma khusus yang digemari beberapa bangsa di
negara berkembang.
Daging kambing yang ada di pasaran berasal dari dua golongan umur, yaitu
daging kambing tua dan daging kambing tua. Perbedaan umur daging
tersebut diduga akan berpengaruh terhadap flavor daging kambing.
4. Daging domba
Daging domba merupakan pangan hewani alternatif selain daging sapi.
Daging domba juga dapat dijadikan bakso. Kualitas fisik daging domba juga
dapat dipengaruhi oleh pakan yang diberikan.
5. Daging babi
Secara umum, daging babi memiliki tekstur yang empuk. Daging babi
dikonsumsi oleh banyak penduduk di Tionghoa dan Eropa. Pengolahan
daging babi biasanya sama dengan daging sapi.
6. Daging kuda
Daging kuda memiliki kadar protein yang tinggi, rendah lemak, cita rasa
yang agak manis dan memiliki karakteristik cita rasa antara sapi dan rusa.
Ada perbedaan karakteristik daging kuda antara kuda jantan dan betina,
daging kuda betina lebih empuk dibanding kuda jantan.
7. Daging unta
Unta dapat menyediakan daging yang cukup banyak. Unta dromedari jantan
dapat memiliki tubuh dengan massa 300–400 kg, sedangkan daging unta
baktrian jantan mencapai 650 kg. Daging unta betina lebih ringan. Daging
bagian punggung, rusuk, dan pinggang adalah yang paling dicari, bagian
punuk lebih jarang. Punuk unta mengandung lemak berwarna keputihan
yang dapat digunakan untuk mengawetkan daging unta, kambing, dan sapi.
Daging unta disebutkan memiliki rasa seperti daging sapi yang kasar, dan
unta yang lebih tua memiliki daging yang lebih alot. Daging unta dapat
menjadi lunak jika dimasak lebih lama.
8. Daging kelinci
Daging kelinci memliki sifat yang mirip dengan daging ayam, sehingga
dapat dijadikan alternatif pangan hewani pengganti daging ayam. Salah
satu caranya yaitu dengan mengolahnya menjadi sosis yang berbahan
dasar daging kelinci yang menghasilkan karakteristik menyerupai sosis
daging ayam. Daging kelinci memiliki sifat fisik dan kimia daging yang
berbeda antara jenis kelinci yang dapat dipengaruhi oleh perbedaan
manajemen pemeliharaannya.
B. Karakteristik Mutu Daging
1. Syarat umum daging sehat
Daging yang dapat dikonsumsi adalah daging yang berasal dari hewan yang
sehat. Saat penyembelihan dan pemasaran berada dalam pengawasan petugas
rumah potong hewan serta terbebas dari pencemaran mikroorganisme. Secara
fisik, kriteria, atau ciri-ciri daging yang baik adalah:
a. Bersih atau terang
b. Berwarna merah segar
c. Lapisan luar kering
d. Berasal dari rumah potong hewan
e. Ada cap pemeriksaan dari pemerintah setempat
f. Daging yang sudah ditiriskan tidak berdarah
g. Aroma bau tidak amis dan tidak bau asam
h. Daging masih elastis dan tidak kaku
i. Bila diletakkan tidak banyak mengeluarkan cairan
2. Standar/persyaratan mutu daging
Mutu merupakan gabungan atribut produk yang dinilai secara organoleptik
dan digunakan konsumen untuk memilih produk. Pada daging dan produk olahan
daging, mutu daging ditentukan oleh mutu komposisi gizi atau rasio antara daging
non-lemak dengan lemak dan palatabilitasnya yang mencakup penampakan,
tekstur (juiciness dan keempukan) dan [Link] visual, mutu daging dinilai
dari warna, marbling, dan daya ikat air.
Kualitas daging dipengaruhi oleh beberapa faktor, baik pada waktu hewan
masih hidup maupun setelah dipotong. Faktor penentu kualitas daging pada
waktu hewan hidup adalah cara pemeliharaan, yang meliputi : pemberian pakan,
tata laksana pemeliharaan, dan perawatan kesehatan. Kualitas daging juga
dipengaruhi oleh pengeluaran darah pada waktu hewan dipotong dan kontaminasi
sesudah hewan dipotong.
a) Kualitas daging yang baik
Kriteria yang dipakai sebagai pedoman untuk menentukan kualitas
daging yang layak konsumsi adalah:
Keempukan daging ditentukan oleh kandungan jaringan ikat.
Semakin tua usia hewan susunan jaringan ikat semakin
banyak sehingga daging yang dihasilkan semakin liat. Jika
ditekan dengan jari daging yang sehat akan memiliki
konsistensi kenyal.
Kandungan lemak (marbling) adalah lemak yang terdapat
diantara serabut otot (intramuscular). Lemak berfungsi
sebagai pembungkus otot dan mempertahankan keutuhan
daging pada waktu dipanaskan. Marbling berpengaruh
terhadap citra rasa.
Warna daging bervariasi tergantung dari jenis hewan secara
genetik dan usia, misalkan daging sapi potong lebih gelap
daripada daging sapi perah, daging sapi muda lebih pucat
daripada daging sapi dewasa.
Rasa dan aroma dipengaruhi oleh jenis pakan. Daging
berkualitas baik mempunyai rasa gurih dan aroma yang
sedap.
Kelembaban: Secara normal daging mempunyai permukaan
yang relatif kering sehingga dapat menahan pertumbuhan
mikroorganisme dari luar. Dengan demikian mempengaruhi
daya simpan daging tersebut.
b) Kualitas daging yang tidak baik
Bau dan rasa tidak normal akan segera tercium sesudah hewan
dipotong. Hal tersebut dapat disebabkan oleh adanya kelainan
sebagai berikut:
Hewan sakit terutama yang menderita radang bersifat akut
pada organ dalam yang akan menghasilkan daging berbau
seperti mentega tengik.
Hewan dalam pengobatan terutama dengan pengobatan
antibiotik akan menghasilkan daging yang berbau obat-
obatan.
Warna daging tidak normal tidak selalu membahayakan
kesehatan, namun akan mengurangi selera konsumen.
Konsistensi daging tidak normal yang ditandai kekenyalan
daging rendah (jika ditekan dengan jari akan terasa lunak)
dapat mengindikasikan daging tidak sehat, apabila disertai
dengan perubahan warna yang tidak normal maka daging
tersebut tidak layak dikonsumsi.
Daging busuk dapat menganggu kesehatan konsumen karena
menyebabkan gangguan saluran pencernaan. Pembusukan
dapat terjadi karena penanganan yang kurang baik pada
waktu pendinginan, sehingga kativitas bakteri pembusuk
meningkat, atau karena terlalu lama dibiarkan ditempat
terbuka dalam waktu relatif lama pada suhu kamar, sehingga
terjadi proses pemecahan protein oleh enzim-enzim dalam
daging yang menghasilkan amonia dan asam sulfit.
C. Hasil Olahan Setengah Jadi Daging
1. Bakso
Bakso atau baso adalah makanan berupa bola daging. Bakso umumnya
dibuat dari campuran daging sapi dan tepung tetapi ada juga yang terbuat dari
daging ayam atau ikan. Untuk jenis bakso daging sapi, ayam, dan ikan
sekarang banyak ditawarkan dalam bentuk frozen yang dijual di minimarket,
supermarket, swalayan dan mall. Dalam penyajiannya bakso biasa disajikan
dengan kuah kaldu dan mi. Ada beberapa pedagang yang dalam proses
pembuatanya menggunakan boraks atau bleng untuk membuat tepung lebih
kenyal mirip daging, hal ini membuat bakso pernah dianggap makanan yang
kurang aman oleh BPOM.
Pembuatan bakso terdiri dari tahap pemotongan daging, penggilingan
daging, penghalusan daging giling sekaligus pencampuran dengan bahan
pembantu dan bumbu, pencampuran dengan tepung tapioka dan sagu aren,
pembentukan bola-bola dan perebusan.
Perebusan bakso dilakukan dalam dua tahap agar permukaan bakso
yang dihasilkan tidak keriput dan tidak pecah akibat perubahan suhu yang
terlalu [Link] pertama, bakso dipanaskan dalam panci berisi air hangat
sekitar 60oC sampai 80oC, sampai bakso mengeras dan [Link]
kedua, bakso direbus sampai matang dalam air mendidih.
2. Sosis
Sosis adalah makanan yang terbuat dari daging cincang, lemak hewan
dan rempah serta bahan-bahan lain. Sosis umumnya dibungkus dalam suatu
pembungkus yang secara tradisional menggunakan usus hewan, tapi sekarang
kebanyakan menggunakan bahan sintesis serta diawetkan dengan suatu cara,
misalnya pengasapan. Pembuatan sosis merupakan suatu teknik produksi dan
pengawetan makanan yang telah dilakukan sejak lama. Dibanyak Negara,
sosis merupakan toping popular untuk pizza.
Komposisi nilai gizi pada sosis yang sesuai dengan Standar Nasional
Indonesia (SNI 01-3820-1995), dengan ketentuan sebagai berikut:
a. memiliki kadar air maksimal 67%
b. memiliki kandungan abu maksimal 3%
c. memiliki kandungan protein minimal 13%
d. memiliki kandungan lemak maksimal 25%
e. memiliki kandungan karbohidrat maksimal 8%
Namun dibalik kelezatan sepotong sosis, perlu diwaspadai pula bahaya
yang dapat ditimbulkan bagi kesehatan. Pada beberapa jenis produk sosis
mengandung kadar lemak dan kolesterol serta sodium yang cukup tinggi yang
berpotensi dapat menyebabkan timbulnya penyakit jantung, stroke, maupun
hipertensi apabila dikonsumsi secara berlebihan.
3. Kornet
Daging kornet atau cornet beef adalah daging sapi yang diawetkan
dalam brine yang kemudian dimasak dengan cara simmering. Biasanya
digunakan potongan daging yang seratnya memanjang seperti brisket. Nama
cornet beef berasal dari garam kasar yang digunakan. Corn artinya butiran,
yaitu butiran [Link] Indonesia Daging kornet sering disajikan sebagai
campuran mi instan bersama telur yang dijual di warung-warung kaki lima.
Dapat juga dicampurkan dengan telur dan kemudian digoreng.
4. Steak
Steak atau bistik adalah sepotong daging besar biasanya daging sapi.
Daging merah, dada ayam dan ikan sering kali dijadikan steak. Kebanyakan
steak dipotong tegak lurus dengan fiber otot, menambah kelegitan daging.
Steak biasanya dipanggang meskipun dapat digoreng atau dibroil.
Jumlah waktu pemasakan steak tergantung perorangan, pemasakan
yang lebih cepat menghasilkan daging yang lebih lembut, dan bersari, dan
pemasakan yang lebih lama mengurangi penampakan darah dan juga
mengurangi masalah tentang penyakit.
D. Perubahan Komponen Daging
Kerusakan daging ditandai oleh terbentuknya senyawa-senyawa berbau
busuk seperti amonia, H2S, indol, dan amin, yang merupakan hasil pemecahan
protein oleh mikroorganisme. Daging yang rusak memperlihatkan perubahan
organoleptik, yaitu bau, warna, kekenyalan, penampakan, dan rasa.
Berbagai tanda-tanda kerusakan pada daging:
Perubahan kekenyalan pada daging disebabkan oleh pemecahan
struktur daging oleh berbagai bakteri.
Pembentukan lendir pada daging disebabkan oleh pertumbuhan
berbagai mikroba seperti kamir, bakteri asam laktat (terutama oleh
Lactobacillus, misalnya Lactobacillus. Viredences yang membentuk
lendir berwarna hijau), Enterococcus, dan Bacillus thermosphacta.
Pembentukan asam, umumnya disebabkan oleh berbagai bakteri
seperti Lactobacillus, Acinebacter, Bacillus, Pseudomonas,
Microrocci, Clostidium, dan enterokoki.
Pembentukan warna hijau pada daging, terutama disebabkan oleh:
pembentukan hydrogen peroksida (H2O2) oleh Lactobacillus
Viridescens, Lactobacillus fructovorans, Lactobacillus jenseni Di,
Leuconostoc, Enterococcus faecium dan Enterococcus faecalis,
pembentukan hidrogen sulfida (H2S) oleh Pseudomonas mephita,
Shewanell putrefaciens, dan Lactobacillus sake.
Pembentukan warna kuning pada daging, disebabkan oleh
Enterococcus cassliflavus dan Enterococcus mundtii.
Perubahan bau, misalnya: timbulnya bau busuk oleh berbagai bakteri
karena terbentuknya amonia, H2S, Indol dan senyawa senyawa amin
seperti diamin kadaverin dan putresin.
Proses perubahan warna pada daging:
Pigmen prinsipal pada jaringan otot yang berhubungan dengan
warna adalah pigmen darah hemoglobin, terutama dalam aliran darah,
dan mioglobin yang terdapat dalam sel.
Ada tiga macam mioglobin yang memberikan warna yang
berbeda; pada jaringan otot yang masih hidup, mioglobin dalam bentuk
tereduksi dengan warna merah keunguan, mioglobin ini seimbang
dengan mioglobin yang mengalami kontak dengan oxigen, oximioglobin
yang berwarna merah cerah.
Jika daging segar dipotong, warnanya adalah merah keunguan
dari mioglobin. Ketika berada didalam lingkungan beroksigen, maka
permukaan daging segar akan berwarna merah terang karena terjadinya
oksigenasi mioglobin menjadi oksimioglobin.
Oksigen yang masuk kedalam otot kemudian dipakai untuk reaksi
biokimiawi didalam otot. Kondisi ini menghasilkan gradien oksigen dari
jenuh di permukaan sampai nol pada beberapa cm didalam otot.
Pada konsentrasi oksigen rendah (1-2%), atom fero (Fe+2) akan
teroksidasi menjadi feri (Fe+3) dan sisi ikatan keenam akan berikatan
dengan air membentuk metmioglobin berwarna coklat. Reaksi oksidasi
fero menjadi feri bersifat reversible dan juga terjadi pada bentuk
mioglobin.
Bentuk warna kimia daging segar yang diinginkan oleh
kebanyakan konsumen adalah merah terang oksimioglobin. Proporsi
relatif dan distribusi ketiga pigmen daging yaitu mioglobin yang merah
keunguan, oksimioglobin yang merah terang dan metmioglobin yang
berwarna coklat akan menentukan intensitas warna daging.
Reaksi oksigenasi biasanya dapat ditandai pada daging segar <
0,5 jam dan biasanya disebut blooming pada industri daging.
Oksimioglobin yang merah tetap stabil sepanjang heme tetap terok
sigenasi dan besi dalam heme tetap pada status tereduksi.
Bentuk lain dari mioglobin ditandai adanya oxidasi besi dari heme
di dalam mioglobin dari bentuk Fe2+ (ferrous) menjadi Fe3+ (ferric),
disebut sebagai metmioglobin dan berwarna coklat.
Metmiglobin adalah pigmen utama penyebab penyimpangan
warna daging yang normal sebagai akibat dari oksidasi atom besi.
Nampaknya merupakan pigmen merah kecoklatan yang tidak diinginkan.
Reaksi ini dapat reversible sepanjang ada senyawa pereduksi,
seperti NADH (nicotinamide adenine dinucleotide) didalam daging.
E. Perubahan Selama Penyimpanan Daging
Daging merupakan bagian daging hewan yang telah disembelih dan aman
dikonsumsi manusia. Daging memiliki nilai gizi yang baik sehingga bagus untuk
dikonsumsi manusia. Namun tingginya kandungan gizi juga berpotensi terhadap
pencemaran mikroba. Maka dari itu daging yang telah disembelih dan akan diolah
pada waktu tertentu perlu dilakukan penanganan yang tepat. Salah satu penanganan
tersebut adalah proses pembekuan daging atau daging beku.
Masyarakat tentu akan memilih daging yang mempunyai kualitas baik sesuai
dengan biaya yang dikeluarkan. Oleh karena itu penyimpanan daging sebelum
dikonsumsi sangat penting dalam mempertahankan kualitasnya. Suhu penyimpanan
daging merupakan faktor penting, penyimpanan pada suhu 5°C selama 2 hari tidak
menurunkan kualitas daging (Candra-Dewi, 2000).
Kebutuhan daging akan meningkat pada saat tertentu misalnya pada hari-hari
besar keagamaan atau hari libur. Pada saat itu harga daging pun mengalami
peningkatan karena permintaan di pasaran tinggi sedang ketersediaan daging sedikit.
Umumnya masyarakat mengatasinya dengan cara menyediakan daging sebelum hari-
hari besar tersebut, kemudian disimpan dengan cara dibekukansehingga menjadi
daging beku. Namun penyimpanan daging dengan cara dibekukan mempengaruhi
kondisi daging.
Sebelum proses daging beku atau pembekuan daging tahap sebelumnya
adalah proses pelayuan daging. Pada pelayuan daging terjadi denaturasi protein yang
mengakibatkan keempukan daging meningkat, tetapi sebaliknya water holding
capacity (WHC) daging menurun yang mengakibatkan cooking lost meningkat.
Lama pelayuan daging berhubungan dengan selesainya proses rigormortis
(proses kekakuan daging), apabila proses rigormortis belum selesai dan daging
terlanjur dibekukan maka akan menurunkan kualitas daging atau daging mengalami
proses coldshortening (pengkerutan dingin) ataupun thaw rigor (kekakuan akibat
pencairan daging) sehingga pada saat thawing akan dihasilkan daging yang tidak
empuk.
Menurut penelitian penyimpanan daging beku selama 4 minggu akan
mengalami peningkatan mikroba salah satunya adalah phychrotrophic akan
meningkat. Selain itu Penyimpanan beku pada suhu -18°C tidak mempengaruhi pH
daging, hal ini disebabkan karena sebelum daging dibekukan telah dilakukan
pelayuan postmortem sehingga glikolisis postmortem telah selesai (Jamhari, 1999).
Peningkatan total mikroba dan pH pada daging tentu saja akan mempengaruhi
kualitas daging dan akan mengalami kerusakan sebelum dikonsumsi.
Namun jika konsumen ingin menyimpan daging untuk dikonsumsi di lain waktu
diharapkan tidak lebih dari 8 minggu untuk menyimpan daging beku tersebut.
Penyimpanan daging beku selama 8 minggu meningkatkan keempukan daging,
sedang sifat fisik lainnya tidak berbeda dengan daging segar. Oleh sebab itu
konsumen dapat menyimpan daging sapi dengan cara dibekukan untuk menghindari
harga daging sapi yang tinggi menjelang hari besar keagamaan.
BAB. III
Penutup
A. Kesimpulan
Daging adalah bagian lunak pada hewan yang terbungkus kulit dan melekat
pada tulang yang menjadi bahan makanan. Daging tersusun sebagian besar dari
jaringan otot, ditambah dengan lemak yang melekat padanya, urat, serta tulang rawan.
Jenis-jenis daging:
Daging sapi
Daging kerbau
Daging kambing
Daging domba
Daging babi
Daging kuda
Daging unta
Daging kelinci
Secara fisik, kriteria, atau ciri-ciri daging yang baik adalah:
a. Bersih atau terang
b. Berwarna merah segar
c. Lapisan luar kering
d. Berasal dari rumah potong hewan
e. Ada cap pemeriksaan dari pemerintah setempat
f. Daging yang sudah ditiriskan tidak berdarah
g. Aroma bau tidak amis dan tidak bau asam
h. Daging masih elastis dan tidak kaku
i. Bila diletakkan tidak banyak mengeluarkan cairan
Berbagai hasil olahan setengah jadi daging:
Bakso
Sosis
Kornet
Steak
Menurut penelitian penyimpanan daging beku selama 4 minggu akan mengalami
peningkatan mikroba salah satunya adalah phychrotrophic akan meningkat. Selain itu
Penyimpanan beku pada suhu -18°C tidak mempengaruhi pH daging, hal ini disebabkan
karena sebelum daging dibekukan telah dilakukan pelayuan postmortem sehingga glikolisis
postmortem telah selesai. Peningkatan total mikroba dan pH pada daging tentu saja akan
mempengaruhi kualitas daging dan akan mengalami kerusakan sebelum dikonsumsi.
Namun jika konsumen ingin menyimpan daging untuk dikonsumsi di lain waktu
diharapkan tidak lebih dari 8 minggu untuk menyimpan daging beku tersebut. Penyimpanan
daging beku selama 8 minggu meningkatkan keempukan daging, sedang sifat fisik lainnya
tidak berbeda dengan daging segar.
B. Saran dan Kritik
Daftar Pustaka
[Link]
[Link]
[Link]
[Link]
[Link]
[Link]