0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
22 tayangan11 halaman

Pengelolaan Pembibitan Karet di Sembawa

Dokumen ini membahas pengelolaan pembibitan karet di Balai Penelitian Sembawa, Palembang, Sumatera Selatan. Urusan Bahan Tanam memisahkan diri dari bagian kebun dan memiliki struktur organisasi sendiri untuk fokus menyediakan bibit bagi konsumen. Namun, permintaan bibit karet yang tinggi dan keterbatasan lahan menyebabkan kesulitan memenuhi permintaan. Proses pembelian bibit dilakukan di kantor UBT setelah kon

Diunggah oleh

arfandi
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
22 tayangan11 halaman

Pengelolaan Pembibitan Karet di Sembawa

Dokumen ini membahas pengelolaan pembibitan karet di Balai Penelitian Sembawa, Palembang, Sumatera Selatan. Urusan Bahan Tanam memisahkan diri dari bagian kebun dan memiliki struktur organisasi sendiri untuk fokus menyediakan bibit bagi konsumen. Namun, permintaan bibit karet yang tinggi dan keterbatasan lahan menyebabkan kesulitan memenuhi permintaan. Proses pembelian bibit dilakukan di kantor UBT setelah kon

Diunggah oleh

arfandi
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

Bul.

Agrohorti 3 (2) : 252 – 262 (2015)

Pengelolaan Pembibitan Karet (Hevea brassiliensis Muel Arg.) di Balai Penelitian Sembawa, Palembang,
Sumatera Selatan

Manajement Of Rubber Nursery (Hevea brassiliensis Muel Arg.) at Rubber Research Sembawa in
Palembang, South Sumatera

Putri Ratna Sari dan Supijatno*

Agronomi dan Hortikultura, Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor


(Bogor Agricultural University), Jl. Meranti, Kampus IPB Darmaga, Bogor 16680, Indonesia
Telp.&Faks. 62-251-8629353 e-mail agronipb@[Link]
*Penulis untuk korespondensi: supijatno@[Link]

Disetujui 7 Mei 2015 / Published online 15 Mei 2015

ABSTRACT

This research undertaken to determine the rubber nursery management. This research carried out at the
Rubber Research Sembawa, Pelembang, South Sumatra from February to June 2014. Urusan Bahan Tanam
(UBT) which provide rubber seedlings move from the plantation and has its own organizational structure with
the aim of focusing on the provision of seeds required by consumers. Demand for rubber seedlings are very
much of all the public, private, government, and farmers resulted in the UBT should have good management in
meeting consumer demand. The lack of the amount of land required to grow rootstock is the main factor that led
to the UBT overwhelmed in order to meet the rubber seeds needed by consumers. The process of purchasing
rubber seedlings UBT performed directly in the office where the consumer must first pay a down payment of
30% and a certification activities conducted by the Board of Certification and Crops Plantation.

Keywords: Rubber seedling, grafting, manajement, UBT

ABSTRAK

Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui pengelolaan pembibitan karet. Penelitian dilakukan di Balai
Penelitian Sembawa, Pelembang, Sumatera Selatan pada bulan Februari sampai Juni 2014. Bagian Urusan
Bahan Tanam (UBT) telah memisahkan diri dari bagian kebun dan memiliki susunan organisasi sendiri dengan
tujuan berfokus pada penyediaan bibit yang dibutuhkan oleh konsumen. Permintaan bibit karet yang sangat
tinggi dari kalangan masyarakat baik swasta, pemerintah, dan petani mengakibatkan UBT harus memiliki
manajemen yang baik dalam memenuhi permintaan konsumen. Terbatasnya jumlah lahan yang diperlukan untuk
menanam batang bawah merupakan faktor utama yang menyebabkan UBT tidak dapat dalam memenuhi seluruh
permintaan bibit karet yang dibutuhkan oleh konsumen. Proses pembelian bibit karet dilakukan langsung di
kantor UBT, konsumen terlebih dahulu membayar uang muka sebesar 30% dan kegiatan sertifikasi dilakukan
oleh Badan Sertifikasi dan Tanaman Perkebunan.

Kata kunci: bibit karet, okulasi, pengelolaan, UBT

Manjemen Pembibitan Karet… 252


Bul. Agrohorti 3 (2) : 252 – 262 (2015)

PENDAHULUAN sudah sangat signifikan. Peningkatan produktivitas


perkebunan karet Indonesia sejak tahun 1963
Tanaman karet (Hevea brasiliensis Muell hingga sekarang sudah mulai membaik, hal ini
Arg.) merupakan tanaman perkebunan yang diakibatkan dari adanya perhatian pemerintah
memiiki nilai ekonomi sangat tinggi terutama bagi terhadap peremajaan tanaman karet dengan
Indonesia yang merupakan negara penghasil karet menggunakan klon-klon unggul anjuran dan
alam terbesar kedua di dunia setelah Thailand. Hasil perbaikan ekonomi petani karet. Upaya peningkatan
berupa getah atau lateks dari tanaman ini kualitas dan kuantitas karet yang optimal, juga
dimanfaatkan sebagai sumber bahan utama industri, harus ditunjang oleh ketersediaan bibit yang
mulai dari peralatan masak, alat medis, transportasi berkualitas dari klon-klon unggul (Chatib, 2007).
dan lain-lain. Perkembangan teknologi dan industri Ekspor karet Indonesia selama 20 tahun
yang semakin berkembang menyebabkan terakhir terus menunjukkan adanya peningkatan dari
penggunaan karet alam semakin luas dalam 1.0 juta ton pada tahun 1985 menjadi 1.3 juta ton
kehidupan sehari-hari dan mendorong peningkatan pada tahun 1995 dan pada tahun 2007 menjadi 2.75
konsumsi karet dunia serta permintaan karet alam. juta ton. Pendapatan non-migas ini pada tahun 2007
Sebagai salah satu negara pengekspor karet alam mencapai US$ 6.65 milyar, 5% dari pendapatan
terbesar dunia, Indonesia memiliki peluang besar non-migas (Bank Indonesia, 2007) dan tahun 2010
dalam peningkatan hasil produktivitas tanaman ekspor karet Indonesia mengalami peningkatan
karet ini. sebesar 10%. Data perbandingan antara luas lahan
Kontribusi yang dikenal juga sebagai “green karet, produksi dan produktivitas karet tahun 2007-
factory” ini dalam meningkatan devisa negara 2011 dapat dilihat pada Tabel 1.

Tabel 1. Perbandingan luas lahan produksi, dan produktivitas karet tahun 2007 – 2011
Tahun Luas Lahan Produksi Pruduktivitas
(juta Ha) (juta ton) (Kg/Ha)
2007 3.41 2.75 967
2008 3.42 2.75 994
2009 3 44 2.44 901
2010 3.45 2.74 986
2011 3.46 2.99 1 071
2012 3.48 3.04 1 080
Sumber : [Link]

Peningkatan kontribusi karet alam Indonesia banyak yang dapat menyediakan bibit unggul dan
dalam meningkatkan devisa negara ini tidak bermutu karena keterbatasan sumber entres, scion
diimbangi dengan penerapan budidaya yang baik dan kemurnian bibit tersebut. Para pengusaha karet
terlihat pada masih rendahnya produktivitas karet pun banyak yang mengeluhkan tentang ketersediaan
Indonesia. Masalah yang paling pokok adalah bibit karet yang unggul dan bermutu serta banyak
penggunaan bahan tanam, penggunaan benih unggul sekali pemalsuan terhadap bibit karet hasil okulasi.
bermutu untuk komoditi karet yang masih sangat Prospek bisnis penyediaan bibit karet menjadi usaha
rendah sekitar 41% (Disbun Sumut, 2012).Tanaman yang sangat menjanjikan karena pasar yang masih
karet umumnya diperbanyak melalui okulasi, terbuka dan potensi keuntungan yang akan
sehingga untuk menghasilkan bibit yang baik perlu didapatkan oleh penangkar bibit sangat besar.
mempersiapkan adanya batang atas dan batang Tujuan penelitian ini untuk mengetahui dan
bawah. Batang bawah berupa tanaman semaian dan menganalisis pengelolaan pembibitan karet di Balai
biji klon anjuran sedangkan batang atasnya berasal Penelitian Sembawa, Palembang, Sumatera Selatan.
dari mata klon–klon anjuran (Haryanto, 2012).
Penggunaan benih unggul dan bermutu untuk BAHAN DAN METODE
komoditas karet terutama pada perkebunan karet
merupakan kendala yang harus diperhatikan dalam Penelitian ini dilaksanakan di Perkebunan
meningkatkan produktivitas karet Indonesia. Balai Penelitian Sembawa lokasi kebun Sembawa,
Pemulia dan balai-balai penelitian karet tidak Palembang Sumatera Selatan. Penelitian
253 Putri Ratna Sari dan Supijatno
Bul. Agrohorti 3 (2) : 252 – 262 (2015)

berlangsung selama empat bulan yaitu Februari Sumber Entres dan Scion. Mengetahui klon
hingga Juni 2014. Metode yang digunakan pada entres dan rootstock yang digunakan, luas kebun,
penelitian ini yaitu metode langsung dan metode jumlah tanaman, proses sertifikasi yang dilakukan
tidak langsung. Metode langsung dilakukan dengan oleh perusahaan.
mengikuti seluruh aspek teknik yang ada di Transportasi Bibit. Mengetahui dan
lapangan sedangkan metode tidak langsung menganalisis kapasitas produksi bibit,
dilaksanakan dengan pengambilan data melalui pengangkutan, jaminan mutu, sistem pembayaran
arsip-arsip ataupun laporan-laporan yang ada di yang dilakukan, tujuan pengiriman, serta frekuensi
perusahaan dengan jangka waktu tiga sampai lima pengangkutan bibit dari perusahaan.
tahun terakhir. Kedua metode ini dilakukan untuk Data sekunder merupakan data dan
mengumpulkan data primer dan data sekunder yang informasi yang dikumpulkan dari arsip-arsip
dibutuhkan selama penelitian. perusahaan. Data sekunder ini meliputi:
Kegiatan teknis dimulai dari divisi Urusan Kondisi Umum Kebun. Kondisi ini meliputi
Bahan Tanam hingga Divisi III karet. Kegiatan tanah dan agroklimat. Informasi ini didapatkan dari
manejerial diamati mulai dari pendamping mandor data-data yang ada di perusahaan.
kerja, mandor besar, krani kantor, krani timbang, Produksi Bibit. Kemampuan perusahaan
hingga pendamping asisten dalam melaksanakan atau kebun untuk memproduksi bibit dalam jangka
fungsi pengawasan, pengecekan buku harian, waktu lima tahun terakhir. Informasi ini didapatkan
mencatat hasil produksi dan lain-lain. dari laporan data produksi yang ada di perusahaan.
Pemasaran. Mengetahui distribusi, klon
Pengamatan dan Pengumpulan Data bibit yang diperjualbelikan, cara pembelian, dan
tujuan pengguna dari bibit dari bibit karet selama
Pengumpulan data yang dilakukan dalam tiga atau lima tahun terakhir.
kegiatan magang ini menggunakan data primer dan Organisasi dan Tenaga Kerja. Mengetahui
data sekunder. Data primer merupakan data yang susunan organisasi dan jumlah tenaga kerja yang
diamati langsung melalui pengamatan dan terdapat pada bagian-bagian pengelolaan bibit karet
wawancara dengan pekerja di lapangan yang dan spesifikasi tenaga kerja yang dibutuhkan dalam
meliputi: setiap pengelolaan.
Kapasitas dan Tingkat Keberhasilan
Okulasi. Mengetahui kapasitas okulasi yang dapat KONDISI UMUM
dilakukan oleh pekerja dan persentase keberhasilan
dari okulasi yang dilakukan. Kondisi iklim di Kebun Riset Balai
Tinggi Bibit (cm). Pengukuran tinggi Penelitian Sembawa menurut klasifikasi Schmidth
dilakukan pada bibit hasil okulasi diukur dari dan Ferguson memiliki tipe iklim B (basah) dengan
pertautan okulasi. Pengamatan ini menggunakan nilai Q yaitu 30.3 dengan perbandingan antara bulan
tanaman contoh dengan cara mengambil 1 - 2% dari kering (bulan dengan curah hujan < 60 mm) dan
jumlah tanaman yang ada di lapangan dengan bulan basah (bulan dengan curah hujan > 100 mm)
penyebaran variasi umur dan dilakukan sebulan sama dengan nol atau Q dibawah 14.3-33.3%.
sekali. Kelembaban udara rata-rata berkisar antara 80-90%
Diameter Bibit Okulasi (cm). Diameter dan suhu udara maksimum setiap tahun 32 oC serta
bibit diukur 5 cm dari pertautan okulasi dengan suhu udara minimum 22 oC. Curah hujan rata-rata 2
menggukan jangka sorong atau meteran. 200 mm tahun-1 serta terdapat dua bulan kering,
Pengamatan ini menggunakan tanaman contoh yaitu bulan Juli dan Agustus. Jenis tanah podsolik
dengan cara mengambil 1 - 2% dari jumlah tanaman merah kuning dengan tekstur lempung berliat
yang ada di lapangan dengan penyebaran variasi hingga berpasir, drainase agak baik, dan struktur
umur dan dilakukan sebulan sekali. teguh. Ketinggian tempat ± 10 m diatas permukaan
Jumlah Payung. Payung pada karet laut dan topografi tergolong datar sampai berombak
merupakan serangkaian daun yang telah membuka dengan lereng 0 - 15 %. Kesuburan tanah tergolong
sempurna pada tanaman karet. Pengamatan ini rendah sampai sedang.
menggunakan tanaman contoh dengan cara Luas Areal Konservasi dan Tata Guna Lahan
mengambil 1 – 2% dari jumlah bibit yang ada di
lapangan dengan penyebaran variasi umur dan Perkebunan Karet Balai Penelitian Sembawa
dilakukan sebulan sekali. lokasi Kebun Riset Sembawa memiliki luas lahan
Manjemen Pembibitan Karet… 254
Bul. Agrohorti 3 (2) : 252 – 262 (2015)

mencapai 3 314.23 ha. Luas kebun riset karet TM lokasi kebun riset Sembawa dapat dilihat pada
dan TBM (Div I, II, III) adalah 1 399.43 ha. Tabel 2.
Penggunaan lahan di Balai Penelitian Sembawa

Tabel 2. Rincian luasan areal Balai Penelitian Sembawa, lokasi Kebun Riset Sembawa
Luas Areal Divisi(ha)
No Uraian Jumlah
Pembibitan I II III IV V Pabrik
1 Tm Karet 305.81 270.04 386.67 962.5
2 TBM karet 126.73 310.18 0 436.9
3 Pembibitan 28.63 59.37 88.0
4 Kebun entres 20.8 20.8
5 Jalan dalam areal kebun 18.27 19.20 11.50 23.00 16.640 88.6
6 Area lainnya 3.04 77.58 82.53 29.68 327.70 520.5
7 TBM sawit 5.00 45.00 50.0
8 TM sawit 31.00 18.49 39.48 536.15 548.70 1200.8
9 Emplasmen 30.54 30.5
Total 515.39 695.49 520.18 593.83 938.04 3.5 3314.2
Sumber : Laporan tata guna lahan kebun Balai Penelitian Sembawa, lokasi Kebun Riset Sembawa

(a) (b)

Gambar 1. Kondisi kebun : (a) kebun entres; (b) kebun batang bawah

Keadaan Tanaman dan Produksi macam jenis klon karet yang unggul dan anjuran.
Tahun tanam karet TM terdiri dari tahun tanam
Kebun Balai Penelitian Sembawa mulai 1982, 1983, 1984, 1985, 1987, 1988, 1992, 1995,
melakukan pembukaan lahan dan penanaman pada 1995, 1997, 1999, 2000, 2001, 2003, 2004, 2005,
tahun 1982 hingga sekarang. Jarak tanam yang 2006, 2008, sedangkan untuk TBM karet tahun
digunakan bervariasi karena berfokus pada tanam 2009, 2010, 2011, 2012, 2013 yang tersebar
penelitian tanaman karet seperti 7 m x 3 m, 6 m x 3 di setiap divisi karet. Produksi dan produktivitas
m, dan ukuran jarak tanam lainnya. Klon klon lateks tahun 2004 - 2014 dapat dilihat pada Tabel 3
tanaman yang digunakan merupakan klon mixed, untuk kebun riset yang berlokasi di Sembawa.
dimana dalam satu lokasi terdapat bermacam-

255 Putri Ratna Sari dan Supijatno


Bul. Agrohorti 3 (2) : 252 – 262 (2015)

Tabel 3. Produksi dan produktivitas lateks di Balai Penelitian Sembawa tahun 2004 – 2013
Tahun Luas (ha) Produksi (kg) Produktivitas (kg)
2004 1 172.15 1 588 338 1 355.06
2005 1 084.02 1 272 993 1 174.33
2006 1 085.32 1 292 397 1 190.80
2007 1 116.68 1 341 486 1 201.32
2008 1 125.71 1 487 789 1 321.65
2009 1 133.16 1 497 882 1 321.86
2010 1 156.34 1 539 068 1 330.98
2011 996.45 1 598 831 1 604.53
2012 938.57 1 492 826 1 590.53
2013 923.60 1 532 649 1 659.43
Sumber : Kantor Balai Penelitian Sumbawa

Kebun karet Balai Penelitian Sembawa tingginya hasil produksi lateks. Produksi bibit
merupakan kebun yang di gunakan untuk penelitian Stump Mata Tidur (SMT) dihasilkan tahun 2009 -
sehingga produktivitas ha-1 lateksnya, tidak seperti 2013 dapat dilihat pada Tabel 4.
perusahaan swasta lainnya yang berfokus pada

Tabel 4. Tabel produksi SMT bertahun tanam


Tahun Tanam
Produksi tahun -1 (batang)
2009 2010 2011 2012 2013
2006 0
2007 549 304 0
2008 491 187 16 497
2009 271 813 397 474 0
2010 562 256 408 646 0
2011 360 533 467 544 0
2012 858 592 543 000
2013 1 033 373
Jumlah 1 312 304 966 225 769 179 1 326 136 1 576 373
Sumber : Laporan manajemen urusan bagian tanam (UBT)

Struktur Organisasi dan Ketenagakerjaan


2 asisten. Tenaga kerja yang terdapat baik pada
Perkebunan Balai Penelitian Sembawa lokasi Kebun maupun UBT terdiri dari staf, karyawan,
dipimpin oleh Kepala Kebun dan Divisi Urusan buruh tetap, buruh lepas, dan pekerja musiman.
Bahan Tanam yang memisahkan diri dari bagian Komposisi tenaga kerja pada UBT dapat dilihat
kebun dipimpin oleh Kepala UBT yang membawahi pada Tabel 5.

Tabel 5. Jumlah dan komposisi tenaga kerja urusan bahan tanam (UBT)
Jabatan TK UBT ( orang)
Karyawan Staff 2
Bulanan Tetap 16
Harian Lepas/musiman 263
Karyawan Tidak Tetap :
Borongan 0
Total 281
Sumber : Laporan ketenagakerjaan UBT

Manjemen Pembibitan Karet… 256


Bul. Agrohorti 3 (2) : 252 – 262 (2015)

HASIL DAN PEMBAHASAN

Tabel 6. Kapasitas dan persen keberhasilan okulasi


jumlah batang yang
no Nama Okulator Keberhasilan Okulasi (batang) Tingkat keberhasilan (%)
diokulasi (plastik)
1 Ardyanto 300 211 70.3
2 Mirawati 300 204 68.0
3 Priani 230 214 71.3
4 Rumawati 290 172 57.3
5 Fitri S 350 250 83.3
6 Turiman 300 207 69.0
7 Nunung 300 200 66.6
8 Supriatin 230 230 76.6
9 Johan limau 300 235 78.3
10 Andre Alfiansyah 400 260 86.6
11 Ponirah 300 200 66.6
12 Boyem 300 206 68.6
13 Suparmi 300 180 60.0
14 Surjiman 310 250 83.3
15 Boitu Akbar 300 220 73.3
Jumlah 4510 3239 1 079.6
Rata-rata 301 216 72.0

Berdasarkan hasil pengamatan tingkat lahan batang entres sehingga kualitas mata entres
keberhasilan okulasi, okulator atau orang yang yang digunakan untuk kegiatan okulasi tidak baik.
melakukan kegiatan okulasi rata–rata dapat Kegiatan okulasi yang dilakukan bersifat borongan,
mengokulasi sesuai dengan target, akan tetapi sehingga banyak okulator memanen entres secara
tingkat keberhasilan tidak mencapai 80% atau sembarangan yang mengakibatkan ketidakcocokan
sekitar 240 batang. Okulasi yang umumnya antara mata entres yang ditempelkan dengan batang
dilakukan di Balai Penelitian Sembawa adalah bawah. Selain itu, pengawasan mandor terhadap
okulasi coklat. Kegiatan okulasi dilakukan dengan karyawan saat proses pemanenan entres sangat
cara borongan, dimana norma yang diberlakukan kurang. Menurut Boerhendry dan Amypalupy
untuk setiap okulator yaitu bisa mengokulasi (2010), perbedaan tingkat keberhasilan okulasi
sebanyak–banyaknya minimal 300 bungkus okulasi disebabkan oleh kompatibel atau kecocokan antara
atau 300 batang per hari dengan tingkat batang atas dan batang bawah saat dilakukan
keberhasilan sebesar 80 %. okulasi. Oleh sebab itu perlu diperhatikan
Faktor yang menyebabkan rendahnya tingkat kompatibel antar umur entres dan batang bawah
keberhasilan okulasi dikarenakan jauhnya lokasi serta jenis okulasi yang dilakukan pada kegiatan
lahan batang bawah yang diokulasi dengan lokasi tersebut.

257 Putri Ratna Sari dan Supijatno


Bul. Agrohorti 3 (2) : 252 – 262 (2015)

Tinggi Tunas

35
30 29.4
25
25.0
20 22.3
15 14.4
10
5
0
20 HST 30 HST 60 HST 90 HST
Umur bibit

Gambar 2. Rata-rata pertumbuhan tinggi bibit karet dalam polybag klon PB 260 pada berbagai variasi umur

Berdasarkan hasil (Gambar 2) pengamatan, ini terjadi karena adanya pembentukan payung satu.
rata-rata pertumbuhan tinggi tunas mengalami Menurut Marchino et al (2010), pertambahan tinggi
peningkatan yang signifikan setiap bulannya. tunas suatu saat akan terhambat atau terhenti
Pertumbuhan tunas ini dipengaruhi oleh faktor sementara diakibatkan oleh pertumbuhan payung
genetik dan faktor lingkungan. Goncalves et al satu setelah payung terbentuk sempurna
(2006) menyatakan bahwa kecepatan tinggi pertumbuhan tinggi akan kembali tumbuh dengan
tanaman dipengaruhi oleh faktor genetik misalnya cepat untuk pertumbuhan payung berikutnya.
fitohormon yang berkorelasi dengan lingkungan. Tinggi rendahnya payung pertama pada bibit karet
Pada grafik 1, terlihat bahwa pertumbuhan bibit akan mempengaruhi tinggi rendahnya
karet mengalami peningkatan yang sangat perkembangan tunas kedua dan secara tidak
signifikan saat berumur 20 hari setelah tanam (HST) langsung mempengaruhi persiapan karet untuk
hingga 30 HST. Penurunan kecepatan pertumbuhan disadap saat memasuki masa tanaman menghasilkan
tinggi tunas pada bibit saat memasuki umur 60 - 90 (TM).
hst. Penurunan kecepatan pertumbuhan tinggi tunas

Diameter Bibit Okulasi

3
2.5
2
1.5
1
0.5
0
bulan 1 bulan 2 bulan 3

21 hst 30 hst 60 hst 90 hst

Manjemen Pembibitan Karet… 258


Bul. Agrohorti 3 (2) : 252 – 262 (2015)

Gambar 3. Pertumbuhan diameter bibit karet dalam polybag klon PB 260 dengan berbagai umur

Pertumbuhan diameter pada bibit polybag sangat dipengaruhi oleh suplay hara dari media
karet klon PB 260 dengan berbagai variasi tanam, sehingga jika pasokan sumber hara
umur dapat dilihat pada Gambar 3. Berdasarkan terhambat akan menjadi faktor penghambat
hasil pengamatan pada grafik dua, pertumbuhan pertumbuhan tanaman. Hal ini terlihat pada
diameter bibit karet setiap bulannya mengalami bibit polybag yang berumur 90 hari memiliki
peningkatan. Pertumbuhan diameter bibit diameter batang yang lebih kecil dibandingkan
dipengaruhi oleh suplay hara dan nutrisi yang dengan umur bibit lainnya. Kemungkinan
dapat diambil oleh batang bawah atau scion. disebabkan oleh kurangnya suplay hara yang
Salisbury dan Ross (1995), pertumbuhan bisa diambil oleh batang bawah serta
diameter batang terjadi akibat pembelahan dan dipengaruhi juga oleh faktor lingkungan seperti
perkembangan sel kambium pembuluh yang iklim, curah hujan, dan suhu.

Jumlah Payung

1.2
1
0.8
0.6
0.4
0.2
0
Bulan 1 Bulan 2 Bulan 3

21 hst 30 hst 60 hst 90 hst

Gambar 4. Pertambahan pertumbuhan bibit karet dalam polybag klon PB 260 dengan berbagai variasi umur

Berdasarkan hasil pengamatan (Gambar 4) batang. Pertumbuhan tanaman semakin lama akan
yang dilakukan selama tiga bulan, jumlah payung semakin berkurang jika laju fotosintesis berkurang.
yang tumbuh selama pengamatan adalah satu Hal ini disebabkan oleh kurangnya unsur hara dan
tingkatan payung. Pembentukan payung karet air karena okulasi yang tidak bersatu dengan baik.
pertama membutuhkan waktu 60 hari untuk tumbuh Selai itu, Menurut Marchino, Zhen, dan Suliansyah
dengan sempurna. Payung atau mahkota karet (2010), kondisi lingkungan yang tidak mendukung
adalah serangkaian daun karet atau daun yang dapat menyebabkan pertumbuhan daun yang tidak
keluar secara berkelompok yang bentuknya seperti optimal sehingga mengganggu proses fotosintesis.
payung. Menurut Setyamidjaja (1995), bibit karet Hal ini mengakibatkan tanaman akan kekurangan
dalam polybag sudah membentuk payung dua saat energi untuk pertumbuhan payung berikutnya.
berumur lima bulan. Pernyataan ini tidak sesuai Tidak terbentuknya payung kedua pada bibit karet
dengan pengamatan yang dilakukan, terlihat pada dalam polybag yang berumur 90 hari, disebabkan
bibit karet umur 90 hari yang memasuki umur lima oleh kompatibel antara batang atas dan batang
bulan tidak membentuk payung kedua pada bawah yang kurang baik serta adanya faktor
pengamatan bulan ketiga. lingkungan yang tidak mendukung pertumbuhan
Lakitan (1995), menyatakan bahwa laju bibit karet tersebut.
fotosintat dapat mempengaruhi pertumbuhan

259 Putri Ratna Sari dan Supijatno


Bul. Agrohorti 3 (2) : 252 – 262 (2015)

Sumber Batang Atas Entres (Scion), Batang Bawah penyimpanan karena kadar air benih dan
(Rootstock), dan Sertifikasi Benih kualitasnya semakin berkurang. Oleh sebab itu,
benih untuk batang bawah didapatkan dari Balai
Klon karet pada kebun batang entres yang Penelitian Sungai Putih dan perusahaan-perusahaan
ada di Balai ini pada awalnya berasal dari Balai yang masa panen biji karet pada bulan Juli-
Penelitian Sungei Putih di Medan, Sumatera Utara September. Balit Sungai Putih mengirimkan benih
serta Pusat-Pusat Penelitian karet lainnya. karet dengan setiap kali pengirimannya sebanyak
Pengembangan terus dilakukan, sehingga saat ini 5000 biji yang digunakan UBT untuk ditanam di
batang atas langsung berasal dari Balai Penelitian lapangan sebagai batang bawah. Klon yang
Sembawa dengan luas 20.8 ha yang terdiri dari digunakan untuk entres maupun batang bawah
kebun komersial dan kebun koleksi. Batang bawah merupakan klon-klon anjuran yang memiliki
(rootstock) berasal dari benih (seedling) yang kualitas yang unggul. Klon yang digunakan untuk
langsung di tanam di lapangan setelah dilakukan batang bawah merupakan klon campuran. klon
pendederan atau penyemaian terlebih dahulu. Luas entres yaitu jenis PB, IRR, BPM, RRIC, PR, RRIM,
lahan untuk batang bawah ini tidak menentu karena GT, AVROS, PPN, BN, DS, TR, dan IHP.
tidak memiliki lahan yang tetap. Penenaman batang Sertifikasi bibit (Gambar 5) karet di Balai
bawah dilakukan di gawangan TBM karet yang Penelitian Sembawa dilakukan oleh Badan
berumur 1-3 tahun, sehingga penanaman batang Sertifikasi dan Tanaman Perkebunan. Sertifikasi ini
bawah selanjutnya harus menunggu peremajaan dilakukan agar mutu bibit yang diperjualbelikan di
karet tua. Balai Penelitian ini memiliki kualitas yang sangat
Benih batang bawah diperoleh dari Balai baik. Bibit karet yang dinyatakan sebagai bibit yang
Penelitian Sungai Putih dan Perusahaan swasta. Hal baik memiliki kriteria-kriteria tertentu. Bibit Stump
ini disebabkan masa panen benih atau pecah biji di Mata Tidur (SMT) karet memiliki kriteria panjang
Balai Penelitian ini terjadi pada bulan Februari akar yang lurus 30 cm, pangkal akar hingga mata
sedangkan penanaman dilakukan pada bulan tunas berukuran 10 cm, dan dari mata tunas hingga
September yang merupakan awal musim hujan. ujung 5-7 cm.
Sifat benih karet yang rekalsitran mengakibatkan
benih karet tidak bisa bertahan lama dalam

Gambar 5. Bibit yang memiliki sertifikasi oleh Badan Sertifikasi Tanaman Perkebunan

Pemasaran Bibit Karet beda. Harga benih karet Rp 80, harga SMT karet
karet Rp 6500, dan harga bibit karet dalam polybag
Konsumen yang melakukan pembelian di Rp 9000. Konsumen yang melakukan pembelian
Balai Penelitian ini yaitu petani, pemerintah, dapat melakukannya langsung di kantor bagian
maupun perusahaan-perusahaan swasta. Bibit yang Urusan Bahan Tanam (UBT) atau kantor pemasaran
diperjual belikan dapat berupa benih, bibit stump Balai Penelitian Sembawa. Data jumlah
mata tidur (SMT) dan bibit dalam polybag. Harga ketersediaan dan pembelian bibit SMT dapat dilihat
yang diberlakuakan untuk setiap jenisnya berbeda- pada Tabel 7.

Manjemen Pembibitan Karet… 260


Bul. Agrohorti 3 (2) : 252 – 262 (2015)

Tabel 7. Data pembelian stump mata tidur (SMT) karet tahun 2011 – 2013
Tahun SMT
Ketersediaan Pembelian

2011 769 179 481 127


2012 1 326 136 537 335
2013 1 576 373 1 142 945
Jumlah 3 671 688 2 161 407
Sumber : Laporan produksi dan pembelian bibit SMT tahu 2011 - 2013

Peningkatan permintaan konsumen terlihat Bibit yang telah diseleksi dengan kriteria
dari tahun ke tahun terutama permintaan terhadap yang telah ditentukan dikemas dalam kotak kayu
SMT karet. Permintaan ini berasal dari perusahaan- yang berukaran 50cm x 50 cm x 50 cm yang dalam
perusahaan swata yang membeli bibit dalam jumlah satu kotaknya terdapat 204 SMT. Sebelumnya kotak
yang sangat besar. Jenis klon karet yang memiliki tersebut diisi dengan serbuk gergaji yang disiram
tingkat permintaan yang paling tinggi adalah PB dengan air dengan tujuan menjaga kelembaban
260 baik dalam bentuk SMT maupun bibit polybag SMT selama perjalanan. Kotak kayu tersebut
dibandingkan dengan klon karet jenis lainnya. ditutup menggunakan papan kayu yang dipaku dan
Permintaan bibit SMT karet tahun 2014 mencapai 8 tali plastizer serta dijepit dengan aluminum untuk
000 000 SMT untuk pemenuhan permintaan menguatkan ikatan. Pembayaran dilakukan dengan
tersebut telah disediakan lebih kurang 5000 bibit cara tunai dan konsumen membayar uang muka 30
dan bibit SMT yang masih tersedia pada pada tahun % dari bibit yang dibelinya. Alat transportasi yang
2013. Keterbatasan lahan batang bawah yang digunakan untuk transportasi bibit tidak langsung
dimiliki sehingga untuk pemenuhan permintaan disediakan oleh Balai Penelitian Sembawa tetapi
bibit dilakukan secara bertahap. disiapkan sendiri oleh konsumen.
Bibit dengan jenis polybag dapat langsung
dilakukan bila klon dan jumlah yang ingin KESIMPULAN
dibeli konsumen sesuai. Bila tidak pembelian
Manajemen pembibitan sangat dipengaruhi
dapat dilakukan secara bertahap. Proses oleh kualitas dan kuantitas para karyawan mulai
pembelian bibit karet dengan jenis SMT dari manajer hingga mandor mampu merencanakan
dilakukan dengan kontrak pembelian yang telah dan mempunyai strategi dalam mencapai tujuan
disepakati oleh konsumen dan pihak UBT. bersama. Keberhasilan okulasi yang masih rendah
Biasanya untuk pembelian SMT dalam jumlah yaitu 72 %, dipengaruhi oleh kurangnya
banyak memiliki kontrak lebih kurang lima pengawasan mandor dalam pemanenan batang atas
tahun atau lebih. Hal ini disesuaikan oleh oleh karyawan, jauhnya lokasi batang bawah yang
kemampuan bagian UBT untuk memenuhi atau diokulasi membuat kualitas batang atas menurun.
menolak permintaan bibit dari konsumen dalam Pertumbuhan bibit polybag dipengaruhi oleh suplay
pembelian SMT. Penggunaan bibit yang dibeli hara yang dipasok oleh batang bawah dan faktor
lingkungan. Sertifikasi bibit karet dilakukan oleh
konsumen biasanya untuk kebutuhan pribadi
Badan Pengawasan dan Perkebunan dengan kriteria-
atau penanaman karet dilahan baru yang akan kriteria bibit yang telah ditentukan. Transportasi
ditanami lahan karet oleh perusahaan besar bibit disediakan langsung oleh konsumen.
maupun petani di berbagai wilayah Indonesia
seperti Jambi, Bangka Belitung, Lampung, DAFTAR PUSTAKA
Kalimantan, Sulawesi, dan lain-lain.
[BI] Bank Indonesia. 2007. Sistem Informasi Pola
Transportasi Pembiayaan/Lending Model Usaha Kecil
[internet]. [diunduh 2013 Maret 16]

261 Putri Ratna Sari dan Supijatno


Bul. Agrohorti 3 (2) : 252 – 262 (2015)

tersedia pada Yield in Hevea Brassiliensis. Agriculture


(http:/[Link]./sipuk/lm/ind/karet). science. 63(3): 246-254

Haryanto, B. 2012. Budidaya Karet Unggul.


Boerhendry, I., Amypalupi, K. 2010. Optimalisasi Cetakan pertama. Yogyakarta (ID): Pustaka
produktivitas karet melalui penggunaan Baru Press. 240 hlm.
bahan tanam, Pemeliharaan, Sistem
Eksploitasi dan Peremajaan Tanaman. J. Lakitan, B. 1996. Holtikultura: Teori, Budidaya,
Litbang Pert. 30(2) : 23-30. dan Pasca Panen. Rajawali. Jakarta (ID):
CV. Yasaguna. 75 hlm
Chatib, H.S.P. 2012. Budidaya Tanaman Karet.
Palembang (ID). Dinas Perkebunan Provinsi Marchino, F., Suliansyah, I., Zen, M.F. 2010.
Sumatera Selatan. Pertumbuhan Stump Mata Tidur Klon
Entres Tanaman Karet (Hevea
Dinas Perkebunan Provinsi Sumatera Utara. brassiliensis Muel Arg) Pada Batang
Kebijakan Pembinaan Penangkaran Benih Bawah PB 260 Di lapangan. Jerami.
Tanaman Perkebunan. Makalah yang 2010; 3(3): 7-14.
disampaikan dalam kegiatan pembinaan
dan inventarisasi penangkar benih Salisbury, F.B. dan Ross C W. 1995. Plant
tanaman perkebunan dinas Provinsi Physiology. D R Lukman, Ir Sumaryono.
Sumatera Utara. 28-29 Juni 2012. Penerjemah. Bandung (ID). 344 hlm.

Goncalves, Silva, dan Scalovi. 2006. Genetic Setyamidjaja, D. 1995. Karet, Budidaya dan
Variability for Grith Grow and Rubber Pengolahan. Yogyakarta (ID); Kanisius. 206
hlm

Manjemen Pembibitan Karet… 262

Common questions

Didukung oleh AI

The supply and demand dynamics of rubber seedlings in Indonesia's agricultural sector present significant economic implications. A major factor is the increasing demand for high-quality seedlings, driven by both governmental replanting initiatives and private sector expansion, leading to lucrative opportunities for seedling suppliers . However, the mismatch in supply, characterized by inconsistent availability of high-grade clonal stocks, can result in volatile market prices and risk factors for both producers and purchasers . Additionally, economic dependency on seedling imports or external sourcing can affect local nursery businesses' competitiveness, impacting potential revenue streams for research institutions like Balai Penelitian Sembawa . Strategically managing this imbalance through structured contracts and scalability solutions could enhance stability and profitability in the sector .

Seedling management practices at Balai Penelitian Sembawa are pivotal for the long-term sustainability of Indonesian rubber plantations. Effective nursery management ensures the production of high-quality seedlings, which are fundamental for establishing robust plantations capable of yielding high latex output . By focusing on cloning elite varieties and implementing stringent certification processes, the institution guarantees a steady supply of superior planting material, reducing dependency on inferior genetic stocks . Moreover, addressing management issues like better supervision during grafting and ensuring material compatibility enhances grafting success rates, enabling healthier plantations . However, sustainability is threatened by challenges such as fluctuating supply, inadequate training, and logistical hindrances, which must be managed to improve resilience and efficiency .

The nursery management at Balai Penelitian Sembawa presents several benefits, such as the use of controlled environments for research to improve rubber tree propagation methods and certification processes that ensure high-quality seedlings . The significant drawback, however, includes the low success rate of grafting (72%), which is affected by issues like insufficient supervisor oversight, inconsistency between the location of rootstocks and scions, and compatibility issues . While the site offers an organized production of seedlings and research benefits, practical challenges like labor management, reliance on external sources for seeds due to timing and quality issues, and inefficient observation measures remain critical concerns .

The primary factors influencing the success of rubber seedling development before field planting include genetic factors, environmental conditions, and nursery management practices. Genetically, the selection of high-quality clones like PB 260 ensures vigorous growth traits and disease resistance . Environmentally, providing optimal conditions such as adequate light, temperature, and sufficient water through irrigation systems supports seedling vitality . Nursery management practices, including the use of quality potting media, balanced fertilization, and timely transplantation, also play a critical role . Any inefficiencies or mismatches in these factors, such as poor quality or incompatible rootstock, can hinder successful establishment and lead to poor field performance .

The Indonesian rubber industry faces several challenges in increasing rubber productivity, including the low use of high-quality seeds, which is currently around 41% for rubber commodities . There is also a significant issue with the quality of planting materials due to the lack of superior planting material supply from breeders and research institutions . Furthermore, there is mismanagement in the process of grafting, exemplified by a low success rate due to inadequate supervision and compatibility between the rootstock and scion . Additionally, logistical challenges, such as the distance between the location of rootstocks and scions, reduce the quality of the grafts .

Rubber seedlings in polybags at Balai Penelitian Sembawa show significant improvements in metrics such as height and diameter over specific periods . Factors contributing to this improvement include genetic enhancements of the PB 260 clone, which ensures robust growth, optimized planting conditions that tailor to heightened nutrient uptake through improved rootstock compatibility, and favorable environmental factors like controlled irrigation and shading . Environmental factors such as climate conditions also play a critical role in enhancing photosynthetic rates leading to better plant development . However, constraints such as inadequate soil nutrient availability and seedling quality variations due to nursery management can occasionally hinder these growth improvements .

The demand for high-quality rubber clones significantly impacts operations at research institutions like Balai Penelitian Sembawa by necessitating increased production and improvement of nursery practices to meet market demand. This involves investing in better nursery facilities, pursuing rigorous clone certification protocols, and expanding the cultivation of superior clones such as PB 260 . The need to balance research responsibilities and commercial demands can lead to resource allocation challenges, requiring efficient management strategies to optimize productivity and ensure superior output while maintaining research integrity . These demands also underscore the importance of enhancing staff capabilities and adopting advanced agricultural techniques to sustain operational efficiency and research excellence .

The export of Indonesian natural rubber has shown a significant increase from 1985 to 2010. In 1985, exports were at 1.0 million tons, which grew to 1.3 million tons in 1995. By 2007, this figure had increased to 2.75 million tons, representing a substantial rise in exports over the two decades. In 2010, the export of rubber from Indonesia increased by an additional 10% .

The compatibility between rootstock and scion is crucial for the success of grafting in rubber plant management as it directly affects nutrient flow and growth viability. Incompatibility can lead to unsuccessful graft unions, as seen with the mismatch in growth environments which affects the uptake of nutrients and plant hormone balance essential for growth . This incompatibility may result in physical barriers at the graft union or physiological disparities like varied growth rates, ultimately leading to graft failure . As such, selecting compatible genetic materials and ensuring proximity in growth parameters are vital for optimizing the grafting success rates .

Government policies have played a crucial role in enhancing the productivity and quality of the rubber industry in Indonesia. By promoting the development and dissemination of high-performing clones, and investing in research and cultural practices for rubber cultivation, the government aids in overcoming productivity barriers . Policies encouraging replanting with superior clones and offering incentives for quality improvement further bolster productivity . However, challenges such as insufficient government support for seed distribution and regulation, along with the need for effective monitoring of seed quality, remain obstacles to reaching optimal productivity . Overall, while governmental policies provide essential support, there is room for improved strategic planning and execution to fully realize the industry's potential.

Anda mungkin juga menyukai