Macam Macam Majas dan Contoh
Majas Perbandingan
Jenis majas perbandingan meliputi majas yang menggunakan gaya bahasa ungkapan
dengan cara menyandingkan atau membandingkan suatu objek dengan objek yang lainnya,
yakni melalui proses penyamaan, pelebihan, atau penggantian. Di dalam majas perbandingan
ini pun masih dapat dibagi ke dalam beberapa sub jenis, seperti :
1. Majas Personifikasi
Majas personifikasi menggunakan gaya bahasa yang ungkapannya seakan
menggantikan fungsi benda mati yang dapat bersikap seperti manusia. Majas ini
membandingkan benda mati dan manusia. Jadi, intinya adalah pada kata ‘person’ yang
berarti orang, atau meng-orang-kan benda mati.
Contoh: Pensil itu menari –nari di atas kertas untuk menghasilkan gambar yang begitu
indah.
Keterangan: pensil adalah benda mati yang sudah pasti tidak bisa menari, tapi
digambarkan benda mati tersebut bisa menari layaknya manusia.
Contoh Majas Personifikasi:
a. Pena itu menari-nari di atas kertas.
b. Lia termenung menatap daun-daun yang berjoget diterpa angin.
c. Leptopku sedang kelelahan karena digunakan semalam suntuk.
d. Pepohonan di hutan itu tampak sedih karena musim kemarau panjang.
e. Lautan biru itu seolah menatapku dalam hening.
f. Aku bisa merasakan dinding-dinding di sekitarku mendengar pembicaraan kita.
g. Baju ini memelukku tubuhku yang kedinginan.
h. Bunga-bunga di taman bercengkerama riang di bawah terik hangat mentari.
i. Aku tidak bisa menemukan jam tanganku, mungkin dia melarikan diri.
j. Jam berjalan dengan sangat lambat.
2. Majas Metafora
Majas metafora adalah suatu majas yang menggunakan sebuah objek yang
bersifat sama dengan pesan yang ingin disampaikan, melalui suatu ungkapan. Jadi, satu
objek dibandingkan dengan objek lain yang serupa sifatnya, tetapi bukan manusia.
Contoh: Lily adalah anak emas di keluarga besar Pak Badar.
Keterangan: anak emas adalah ungkapan bagi orang yang dianggap kesayangan.
Contoh Majas Metafora:
a. Mila adalah bunga desa yang selalu mengagumkan.
b. Lia selalu menjadi buah bibir karena tingkah lakunya yang urakan.
c. Kita harus waspada dengan orang itu karena ia terkenal panjang tangan.
d. Raja hutan itu memiliki suara yang paling menggelegar.
e. Dodi senang sekali dengan buah tangan yang diberikan paman.
f. Ali berusaha keras untuk mengasilkan buah pena ini.
g. Tulisan ini adalah buah pikiran kawan sekelasku.
h. Sang Raja Siang memang selalu membawa kehangatan.
i. Dinda adalah buah hati pasangan yang fenomenal itu.
j. Budi hanya bisa pasrah dianggap sebagai sampah masyarakat.
3. Majas Asosiasi
Majas asosiasi adalah majas yang menggunakan ungkapan dengan
membandingkan dua objek berbeda, namun dianggap sama, yang dilakukan dengan
pemberian kata sambung bagaikan, bak, atau seperti.
Contoh: Meskipun bukan saudara kembar, tapi kakak beradik itu bak pinang dibelah
dua.
Keterangan: bak pinang dibelah dua artinya kedua saudara itu memiliki wajah sangat
mirip.
Contoh Majas Asosiasi:
a. Sita dan Siti sangat mirip bak pinang dibelah dua.
b. Harapannya terpenuhi sesuai keinginan bak gayung bersambut.
c. Penderiannya memang mudah berubah seperti air di daun talas.
d. Dia sudah lama tidak muncul bagaikan ditelan bumi.
e. Layaknya tiada gading yang tak retak, begitu juga tiada manusia yang sempurna.
f. Nasib kita pasti berganti seperti roda yang berputar.
g. Memberi Heni hadiah sama saja seperti menabur garam di lautan.
h. Menasehati kakak beradik itu seperti berbicara dengan tembok.
i. Aku sangat kecewa dengan tindakanmu yang bagaikan duri dalam sekam.
j. Dia sungguh tak tahu balas budi, bak pagar makan tanaman.
4. Majas Hiperbola
Majas hiperbola adalah majas yang mengungkapkan sesuatu dengan kesan yang
berlebihan, dan bahkan membandingkan sesuatu dengan cara yang hampir tidak masuk
akal.
Contoh: Kakek itu bekerja banting tulang siang malam untuk menghidupi cucu –
cucunya.
Keterangan: bekerja banting tulang siang malam menunjukkan kesan berlebihan dari
tindakan bekerja keras.
Contoh Majas Hiperbola:
a. Dia sudah terbiasa memeras keringat untuk menafkahi keluarga.
b. Luluk girang setengah mati karena mendapat lotre.
c. Dinda menangis sampai air matanya habis karena kehilangan dompet.
d. Lari marathon sungguh melelahkan sampai kakiku terasa mau lepas.
e. Suaranya hampir memecahkan gendang telingaku.
f. Gadis itu berbicara dengan lantang sampai suaranya memenuhi dunia.
g. Dia menguap sampai aku hampir tertelan.
h. Guruku sangat baik seperti malaikat.
i. Soal matematika ini sangat mudah bagiku, sampai bisa kuselesaikan dalam sekejap
mata.
j. Dia bisa berlari sangat cepat secepat kilat.
5. Majas Eufemisme
Majas eufemisme adalah majas dengan gaya bahasa yang menggantikan kata-kata
yang dianggap kurang baik ata kurang etis, dengan padanan kata yang lebih halus dan
bermakna sepadan.
Contoh: Perusahaan XYZ mengeluarkan kebijakan untuk memberikan kuota pekerjaan
khusus bagi kaum difabel.
Keterangan: kata difabel menggantikan frasa yang dianggap kurang baik, yakni “orang
cacat”.
Contoh Majas Eufemisme:
a. Dia adalah seorang tuna daksa.
b. Kita harus menolong orang yang tuna wisma.
c. Kasihan anak itu, ia terlahir tuna rungu.
d. Guru itu adalah seorang difabel, tapi ia sangat pandai mengajar.
e. Dia terpaksa mendekam di hotel prodeo karena kecelakaan itu.
f. Karena terjerat kasus korupsi, ia harus dihadapkan di meja hijau.
g. Orang tua itu sudah tidak memiliki sanak saudara, makanya ia diletakkan di panti
jompo.
h. Meskipun ia adalah kaum marginal, tapi ia memiliki semangat belajar tinggi.
i. Jika kita bertemu kaum fakir, kita tidak boleh menghinanya.
j. Dia mengalami gangguan jiwa karena kehilangan pekerjaan dan keluarga sekaligus.
6. Majas Metonimia
Majas metonimia adalah majas yang menggunakan gaya bahasa dengan
menyandingkan merek atau istilah tertentu yang sudah populer, untuk merujuk benda
yang sebenarnya lebih umum.
Contoh: Agar gigi bersih, kita harus rajin menggosok gigi dengan odol.
Keterangan: yang dimaksud dengan odol di sini adalah pasta gigi, karena odol
sebetulnya adalah merek dagang dari pasta gigi.
Contoh Majas Metonimia:
a. Ayah suka menghisap gudang garam.
b. Paman memintaku membeli djarum super.
c. Agar tidak mabuk perjalanan, minum dulu antimo sebelum berpergian.
d. Jika sedang akhir bulan, aku biasa makan supermi.
e. Tolong ambilkan aqua dingin, aku haus sekali.
f. Rasanya gerah sekali siang ini, aku ingin minum teh gelas saja.
g. Ayo kita pergi naik honda.
h. Aku ingin terbang naik garuda.
i. Tolong ambilkan nokia milik Kakak di dalam kamar.
j. Jika merasa lemas, Kamu bisa meminum sangobion.
7. Majas Simile
Majas Simile ini bisa dikatakan menyerupai majas asosiasi yang menggunakan
kata hubung berupa : bak, bagaikan, atau seperti. Hanya bedanya, pada majas simile ini
tidak membandingkan dua objek yang berbeda, melainkan membandingkan kegiatan
dengan menggunakan ungkapan yang maknanya serupa.
Contoh: Setelah kehilangan kakaknya, Dito bagaikan anak ayam kehilangan induknya,
selalu kebingungan.
Keterangan: bagaikan anak ayam kehilangan induknya menunjukkan adanya kegiatan
yang selalu dalam kebingunan tanpa arah dan tujuan.
Contoh Majas Simile:
a. Sering-seringlah bergaul, agar tidak seperti kura-kura dalam tempurung.
b. Dia selalu saja patuh pada ketua geng itu, seperti kerbau yang ditusuk hidungnya.
c. Lili memang sudah terkenal sebagai pemalas, seperti beruang di musim dingin.
d. Adikmu tampak sangat lapar, jalannya seperti singa kelaparan.
e. Rapat hari ini sangat kacau, seperti hutan terserang angin ribut.
8. Majas Alegori
Majas alegori adalah majas dengan gaya bahasa yang menyandingkan suatu objek
dengan kata-kata kiasan bermakna konotasi atau ungkapan.
Contoh: Dalam bahtera rumah tangga, suami adalah nakhodanya.
Keterangan: kata suami diungkapkan sebagai nahkoda, yang bermaksud sebagai
pemimpin keluarga.
Contoh Majas Alegori:
a. Jika sudah sampai pada dermaga kehidupan, pada anaklah kita akan berlabuh.
b. Ani sedang mencari pelabuhan cintanya, dan pada Adilah ia berlabuh.
c. Dalam pertarungan mencari jati diri, diri kita sendirilah petarungnya, dan orang
tua adalah pelatihnya.
d. Pertandingan politik ini, membutuhkan kapten yang tepat.
e. Di dalam perlombaan memenangkan hati, jurinya adalah perasaan.
9. Majas Sinekdok
Gaya bahasa sinekdok ini menunjukkan adanya perwakilan dalam
mengungkapkan sesuatu. Agar lebih jelas, kita bisa melihat pada pembagian majas
sinekdok ini, di mana majas ini masih terbagi lagi dalam dua macam, yaitu sinekdok pars
pro toto dan sinekdok totem pro parte.
Sinekdok pars pro toto (part/ sebagian mewakili total) adalah gaya bahasa yang
menyebutkan sebagian unsur dengan maksud mewakili keseluruhan benda. Sedangkan
sinekdok totem pro parte (total mewakili part/ sebagian) adalah kebalikannya, yaitu
berupa gaya bahasa yang menunjukkan keseluruhan bagian yang mewakili hanya pada
sebagian benda atau situasi saja.
Contoh:
Pars pro Toto: Selama seminggu ini, Riyan belum juga menampakkan batang hidungnya.
Keterangan: batang hidung adalah hanya sebagian dari Riyan, padahal yang dimaksud
adalah Riyan seluruhnya.
Totem pro Parte: Indonesia telah berhasil mendapatkan 11 medali emas Asian Games
tahun ini.
Keterangan: Indonesia adalah seluruhnya, padahal yang dimaksud mendapat medali
hanya beberapa orang yang mewakili Indonesia saja.
Contoh Majas Sinekdok Pars Pro Toto:
a. Kita hanya perlu mewakilkan satu kepala saja dalam rapat ini.
b. Ibu membeli tiga ekor ayam untuk pesta nanti malam.
c. Dia hanya menampakkan batang hidungnya sebentar saja, lalu pergi.
Contoh Majas Sinekdok Totem Pro Parte :
a. Malaysia berhasil mengalahkan Thailand dalam pertandingan bola itu.
b. Amerika Serikat menyerang negara-negara yang dianggapnya berbahaya.
c. China menyatakan bahwa negaranya telah terbuka dalam hubungan internasional.
d. Jepang berhasil menerbangkan rudal tempur terbaru yang diklaim sangat canggih.
e. Sekolahku memenangkan lomba cerdas cermat di Semarang.
10. Majas Simbolik
Majas simbolik menggunakan gaya bahasa yang membandingkan antara manusia
dengan sikap makhluk hidup lain dalam bentuk ungkapan.
Contoh: Silvi adalah bunga desa yang banyak memiliki kelebihan.
Keterangan: bunga desa menunjukkan sosok yang banyak dikagumi.
Contoh Majas Simbolik:
a. Rian sangat berani seperti raja hutan.
b. Dina disebut-sebut sebagai kembang desa yang dikagumi semua pria.
c. Lisa seperti ratu lebah yang dipuja oleh banyak orang.
d. Dian yang masih menyendiri hingga sekarang memang layak dianggap bunga
teratai, indah tapi susah dijangkau.
JENIS – JENIS IMBUHAN
1. Jenis afiks atau imbuhan menurut tempat atau posisinya:
Prefiks atau awalan merupakan afiks atau imbuhan yang terletak di awal kata dasar,
misalnya meng, ter, ber, ke, per, peng, se me, meng, memper- dan lainnya.
Sufiks atau akhiran merupakan afiks atau imbuhan yang terletak di akhir kata dasar,
misalnya -an, -kan, -nya, -i
Infiks atau sisipan merupakan afiks atau imbuhan yang disisipkan di tengah kata
dasar, misalnya : em, el, in, er, ah.
Konfiks atau simulfiks merupakan afiks atau imbuhan yang terletak di awal dan akhir
kata dasar sekaligus, misalnya : ke-an, per-an, ber-an, di-i di-kan, peng-an, ke-an,
memper-i, memper-kan, me-kan.
2. Jenis afiks atau imbuhan menurut frekuensi penggunaannya:
Afiks produktif, yaitu afiks atau imbuhan yang mempunyai frekuensi penggunaan
yang tinggi. Contoh: se-, ber-, meng-, peng-, per-, dan seterusnya.
Afiks tak produktif yaitu imbuhan atau afiks yang mempunyai frekuensi penggunaan
rendah. Contoh: -em, -el, -wati, -is, -er, dan seterusnya.
3. Jenis imbuhan atau afiks asing atau afiks serapan:
Akhiran atau sufiks dari bahasa Sansekerta: -wan, -man, -wati.
Akhiran atau sufiks dari bahasa Arab: -i, -wi, -at, -ah, -in.
Akhiran atau sufiks dari bahasa Barat:-isme, -tas, -logi, -is, -ika, (asi), dsb (kata
benda), -al, -or, -if, -is, dsb.
Kaidah Alomorf
Alomorf merupakan variasi bentuk dari morfem yang perubahannya dipengaruhi oleh kata
yang menyertainya.
Misalnya : morfem ber- dalam implementasinya bisa berubah menjadi ber-, bel-, be- dalam
kata dasar tertentu.
Morfem ber- dipakai hampir seluruh kata dasar seperti:
ber-layar
ber-sepatu
ber-gerilya
morferm be- jika memasuki kata dasar yang awal hurufnya r / k atau yang suku kata pertama
mengandung er seperti:
be- rasa
be- kerja
morferm bel- jika berdasarkan asas disimilasi seperti:
bel- ajar
Alomorf imbuhan atau afiks meliputi :
ber- : ber-, be-, dan bel-
ter- : ter-, te-, tel
per : per-, pe-, pel-
meng : meny-, menge-, mem-, men-, me-
peng : peny, penge-, pem-, pen-, pe-