0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
31 tayangan9 halaman

Keuntungan Sediaan Larutan Farmasi

Tinjauan pustaka membahas pengertian larutan dan sirup, komponen-komponen sirup, cara pembuatan larutan, stabilitas sediaan sirup, serta sifat fisika sirup seperti viskositas dan intensitas warna.

Diunggah oleh

SazgiaMaudara
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
31 tayangan9 halaman

Keuntungan Sediaan Larutan Farmasi

Tinjauan pustaka membahas pengertian larutan dan sirup, komponen-komponen sirup, cara pembuatan larutan, stabilitas sediaan sirup, serta sifat fisika sirup seperti viskositas dan intensitas warna.

Diunggah oleh

SazgiaMaudara
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Dasar Teori

2.1.1 Pengertian Larutan


Larutan adalah sediaan cair yang mengandung satu jenis obat atau lebih dalam pelarut
air suling kecuali dinyatakan lain, dimaksud untuk digunakan sebagai obat dalam, obat luar
atau untuk dimaksukkan ke dalam rongga tubuh. Beberapa contoh sediaan larutan adalah sirup
dan eliksir (Anief, 1993).
Larutan didefinisikan sebagai canpuran homogen antara dua atau lebih zat yang
terdispersi baik sebagai molekul, atom maupun ion yang komposisinya dapat bervariasi.
Larutan dapat berupa gas, cairan, atau padatan. Larutan encer adalah larutan yang mengandung
sebagian kecil solute reatif terhadap jumlah pelarut. Sedangkan larutan pekat adalah larutan
yang mengandung sebagian besar solute. Solute adalah zat terlarut sedangkan solvent (pelarut)
adalah medium dalam dimana solute terlarut (Baroroh, 2004)
Larutan adalah sediaan cair yang mengandung bahan kimia terlarut, kecuali
dinyatakan lain untuk larutan (solution) steril yang digunakan sebagai obat luar harus
memenuhi syarat yang tertera injection (Dirjen POM, 1979).
Larutan adalah sediaan cair yang mengandung bahan kimia yang terlarut, sebagai
pelarut digunakan air suling kecuali dinyatakan lain. Larutan terjadi apabila suatu zat padat
bersinggungan dengan suatu cairan, maka zat padat tadi terbagi secara molecular dalam cairan
tersebut, (Anief, 1997).
2.1.2 Tabel tingkat kelarutan
. Menurut Syamsuni (2006) istilah istilah kelarutan antara lain:

Istilah Bagian pelarut yang dibutuhkan 1 bagian zat


terlarut
Sangat mudah larut Kurang dari 1 bagian
Mudah larut 1 sampai 10 bagian
Larut 10-30 bagian
Agak sukar larut 30-100 bagian
Sukar larut 100-1000 bagian
Sangat sukar larut 1000-10000 bagian
Praktis tidak larut Lebih dari 10000 bagian

2.1.3 Menurut Anief (2010: 99), cara pembuatan larutan secara umum adalah sebagai
berikut:
1. Zat-zat yang mudah larut, dilarutkan dalam botol.
2. Zat-zat yang agak sukar larut, dilarutkan dengan pemanasan.
3. Untuk zat yang akan terbentuk hidrat, maka air dimasukkan dulu dalam erlenmeyer agar
tidak terbentuk senyawa hidrat yang lebih lambat larutnya.
4. Untuk zat yang meleleh dalam air panas dan merupakan tetesan besar dalam dasar
erlenmeyer atau botol maka perlu melarutkan digoyang-goyangkan atau dikocok untuk
mempercepat larutnya zat tersebut.
5. Zat-zat yang mudah terurai pada pemanasan tidak boleh dilarutkan dengan pemanasan
atau dilarutkan secara dingin.
6. Zat-zat yang mudah menguap dipanas, dilarutkan dalam botol tertutup dipanaskan
serendah-rendahnya sambil digoyang-goyangkan.
7. Obat-obat keras harus dilarutkan tersendiri untuk meyakini apakah sudah larut semua.
Dapat dilakukan dalam tabung reaksi, kemudian dibilas.
8. Perlu diperhatikan bahwa pemanasan hanya untuk mempercepat larutnya suatu zat, tidak
untuk menambah kelarutan. Sebab, bila keadaan dingin akan terjadi endapan.
Eliksir biasanya dibuat dengan larutan sederhana dengan pengocokan dan atau pencampuran
dua atau lebih bahan-bahan cair. Komponen yang larut dalam etanol dan air umumnya
dilarutkan terpisah dalam alkohol dan air yang dimurnikan berturut-turut kemudian larutan air
ditambahkan kelarutan alkohol dan sebaliknya, untuk mempertahankan alkohol yang setinggi
mungkin selamanya. Bila dua larutan selesai dicampur, campuran dibuat volume dengan
pelarut atau pembawa tertentu (Ansel, 1989).
2.1.4 Keuntungan dan Kerugian Larutan
1. Keuntungan dari sediaan larutan antara lain:
2. Merupakan campuran homogen
3. Dosis dapat diubah-ubah dalam pembuatan
4. Dapat diberikan dalam larutan encer, sedangkan kapsul dan tablet sulit
diencerkan
5. Kerja awal obat lebih cepat, karena obat cepat di absorbsi
6. Mudah diberi pemanis, pengaroma, pewarna
7. Untuk pemakaian luar mudah digunakan
2.1.5 Hal yang diperhatikan dalam pembuatan larutan menurut Voight (1994) :
a. Kelarutan zat aktif harus jelas dan bisa larut
b. Kestabilan zat aktif dalam larutan/pelarut maupun kosolven harus baik
c. Dosis takaran tepat
d. Penyimpanan yang sesuai
Kandungan sakarosa dari sirup umumnya antara 60-65%. Hal itu menentukan daya
tahan dari sediaan. Atas dasar daya tahannya maka sediaan berkonsentrasi tinggi dinilai paling
baik, meskipun demikian perlu diperhatikan bahwa dengan meningkatnya kandungan gula dari
sirup menyebabkan kelarutan bahan obat tertentu di dalamnya berkurang.
2.1.6 Pengertian Sirup
Sirup adalah salah satu bentuk sediaan cair yang dalam dunia farmasi yang dikenal
luas oleh masyarakat. Saat ini, banyak sediaan sirup yang beredar di pasaran dari berbagai
macam merk, baik yang generic maupun yang [Link], orang-orang mengunakan
sediaan sirup karena disamping mudah penggunaannya, sirup juga mempunyai rasa yang manis
dan aroma yang harum serta warna yang menarik sehingga disukai oleh berbagai kalangan,
terutama anak-anak dan orang yang susah menelan obat dalam bentuk sediaan oral lainnya.
Secara umum sirup merupakan larutan pekat dari gula yang ditambah obat atau zat pewangi
dan merupakan larutan jernih berasa manis. Sirup adalah sediaan cair kental yang minimal
mengandung 50% sakarosa (Ansel et al., 2005).
Menurut Farmakope Indonesia III (1979), sirup adalah sediaan cair berupa larutan
yang mengandung sakarosa. Kadar sakarosa (C12H22O11) tidak kurang dari 64% dan tidak
lebih dari 66%. Sirup adalah larutan oral yang mengandung sukrosa atau gula lain dalam kadar
tinggi. Secara umum sirup merupakan larutan pekat dari gula yang ditambah obat atau zat
pewangi dan merupakan larutan jernih berasa manis. Sirup adalah sediaan cair kental yang
minimal mengandung 50% sakarosa.
Dalam perkembangannya, banyak sekali pengertian mengenai sirup. Sirup adalah
sediaan cair berupa larutan yang mengandung sakarosa. Sirup adalah sediaan cairan kental
untuk pemakaian dalam, yang minimal mengandung 90% sakarosa (Dirjen POM, 1995).
2.1.7 Komponen-komponen sirup terdiri dari (Van Duin, 1991) :
a. Pemanis
Pemanis berungsi untuk memperbaiki rasa dari sediaan. Dilihat dari kalori yang
dihasilkan dibagi menjadi pemanis berkalori tinggi dan pemanis berkalori rendah. Adapun
pemanis berkalori tinggi misalnya sorbitol, sakarin dan sukrosa sdangkan yang berkalori
rendah seperti laktosa.
b. Pengawet antimikroba
Pengawet antimikroba digunakan untuk menjaga kestabilan obat dalam penyimpanan
agar dapat bertahan lebih lama dan tidak ditumbuhi oleh mikroba atau jamur.
c. Perasa dan Pengaroma
Hampir semua sirup disedapkan dengan pemberi rasa buatan atau bahan-bahan yang
berasal dari alam untuk membuat sirup mempunyai rasa yang enak. Karena sirup adalah
sediaan cair, pemberi rasa ini harus mempunyai kelarutan dalam air yang cukup. Pengaroma
ditambahkan ke dalam sirup untuk memberikan aroma yang enak dan wangi. Pemberian
pengaroma ini harus sesuai dengan rasa sediaan sirup, misalkan sirup dengan rasa jeruk diberi
aroma citrus.
d. Pewarna
Pewarna yang digunakan umumnya larut dalam air dan tidak bereaksi dengan
komponen lain dalam sirup dan warnanya stabil dalam kisaran pH selama penyimpanan.
Penampilan keseluruhan dari sediaan cair terutama tergantung pada warna dan kejernihan.
Pemilihan warna biasanya dibuat konsisen dengan rasa. Juga banyak sediaan sirup, terutama
yang dibuat dalam perdagangan mengandung pelarut-pelarut khusus, pembantu kelarutan,
pengental dan stabilisator. Selanjutnya sifat fisika sediaan sirup terdiri dari (Syamsuni, 2006):
a. Viskositas
Viskositas atau kekentalan adalah suatu sifat cairan yang berhubungan erat dengan
hambatan untuk mengalir. Kekentalan didefinisikan sebagai gaya yang diperlukan untuk
menggerakkan secara berkesinambungan suatu permukaan datar melewati permukaan datar
lainnya dalam kondisi mapan tertentu bila ruang diantara permukaan tersebut diisi dengan
cairan yang akan ditentukan kekentalannya. Untuk menentukan kekentalan, suhu zat uji yang
diukur harus dikendalikan dengan tepat, karena perubahan suhu yang kecil dapat menyebabkan
perubahan kekentalan yang berarti untuk pengukuran sediaan farmasi. Suhu dipertahankan
dalam batas idak lebi dari 0,1 C.
b. Uji mudah tidaknya dituang
Uji mudah tidaknya dituang adalah salah satu parameter kualitas sirup. Uji ini
berkaitan erat dengan viskositas. Viskositas yang rendah menjadikan cairan akan smakin
mudah dituang dan sebaliknya. Sifat fiik ini digunakan untuk melihat stabilitas sediaan cair
selama [Link] kecilnya kadar suspending agent berpengaruh terhadap kemudahan
sirup untuk dituang. Kadar zat penstabil yang terlalu besar dapat menyebabkan sirup kental
dan sukar dituang.
c. Uji Intensitas Warna
Uji intensitas warna dilakukan dengan melakukan pengamatan pada warna sirup mulai
minggu 0-4. Warna yang terjadi selama penyimpanan dibandingkan dengan warna pada
minggu 0. Uji ini bertujuan untuk mengetahui perubahan warna sediaan cair yang disimpan
Selama waktu tertentu.
2.1.8 Stabilitas Sediaan Sirup
1. Stabilitas Kimia
Stabilitas kimia adalah kemampuan suatu produk untuk bertahan dalam batas yang
ditetapkan sepanjang periode penyimpanan dan penggunaan, sifat kimia dan karakteristiknya
sarna dengan yang dimilikinya pada saat dibuat. Stabilitas kimia pada sediaan sirup dilakukan
untuk mempertahankan keutuhan kimiawi dan potensiasi yang tertera pada etiket dalam batas
yang dinyatakan dalam spesifikasi. Uji stabilitas kimia sediaan sirup :
a. Identifikasi
b. Penetapan Kadar
2. Stabilitas Fisika
Stabilitas fisika adalah tidak terjadinya perubahan sifat fisik dari suatu produk selama
waktu penyimpanan. Stabilitas fisika pada sediaan sirup dilakukan untuk mempertahankan
keutuhan fisik meliputi perubahan warna, perubahan rasa, perubahan bau, perubahan tekstur
atau penampilan. Uji stabilitas fisika sediaan sirup :
a. Organoleptik seperti bau, rasa, warna
b. pH
c. Berat jenis
d. Viskositas
e. Kejernihan larutan
f. Volume terpindahkan
g. Kemasan, meliputi etiket, brosur, wadah, peralatan pelengkap seperti sendok, no.
batch dan leaflet.
3. Stabilitas Mikrobiologi
Stabilitas mikrobiologi suatu sediaan adalah keadaan di mana sediaan bebas dari
mikroorganisme atau tetap memenuhi syarat batas mikroorganisme hingga batas waktu
tertentu. Stabilitas mikrobiologi pada sediaan sirup untuk menjaga atau mempertahankan
jumlah dan menekan pertumbuhan mikroorganisme yang terdapat dalam sediaan sirup hingga
jangka waktu tertentu yang diinginkan. Uji stabilitas mikrobiologi sediaan sirup :
a. Jumlah cemaran mikroba ( uji batas mikroba ), untuk sediaan oral (sirup, tablet, granul,
sirup kering, granul) dan rektal : Total bakteri aerob : Tidak lebih dari 10.000 CFU / gram atau
ml. Total jamur/fungi : Tidak lebih dari 100 CFU / gram atau ml Escherichia coli,
staphyloccocus : negatif
4 Uji efektivitas pengawet
Untuk sediaan antibiotik dilakukan Penetapan Antibiotik secara Mikrobiologi
5. Stabilitas Farmakologi
Stabilitas farmakologi pada sediaan sirup dilakukan untuk menjamin identitas,
kekuatan, kemurnian,dan parameter kualitas lainnya dalam kurun waktu tertentu sehingga efek
terapi tidak berubah selarna usia guna sediaan sirup. Uji stabilitas farmakologi sediaan sirup :
a. Pemerian : warna, bau, rasa
b. Identifikasi
c. Penetapan Kadar
6. Stabilitas Toksikologi
Stabilitas toksikologi sediaan sirup dilakukan untuk menguji kemampuan suatu produk
untuk bertahan dalam batas yang ditetapkan sepanjang periode penyimpanan dan penggunaan,
sifat dan karakteristiknya sarna dengan yang dimilikinya pada saat dibuat sehigga tidak terjadi
peningkatan bermakna dalam toksisitas selama usia guna. Uji stabilitas farmakologi sediaan
sirup :
a. Pemerian : warna, bau, rasa
b. Identifikasi
c. Penetapan Kadar
2.1.9 Kelebihan dan kekurangan sediaan sirup Menurut syamsuni (2006) yaitu ;
a Kelebihan
- Sesuai untuk pasien yang sulit menelan (pasien anak-anak,lansia,parkinson)
- Obat terlarut lebih mudah diabsorbsi
- Pendosisan fleksibel
- Varian rasa obat banyak
b Kekurangan
- Tidak cocok untuk obat yang tidak stabil dalam bentuk larutan
- Formulasi suhu untuk badan berkelarutan rendah
- Tidak bias untuk sediaan yang sukar larut dalam air.
2.2 Studi Preformulasi Zat Aktif
Zat Aktif : Pseudofedrin HCL
Kekuatan Sediaan :60 mL
Kelarutan :Sangat mudah larut dala larut dalam air, mudah larut dalam pelarut
etanol (Dirjen POM,1995)
Pka : 9,2 (Marcan, 2016)
pH : 5,9 (Marcan,2016)
Ukuran Partikel : 5 nm (Gonjare, 2014)
Inkompatibilitas :Tidak inkompatibel dengan agen pengoksida, asam klorida
pengoksidasi kuat,asam anhidrat
Stabilitas :Stabilitas pada keadaan dibawah normal.
Efek farmakologi :Efek dekongestan pseudoefedrin hcl pada selaput lendir di dalam
hidung berdasarkan pada efek dasar vsocontriction dan senyawa
adrenergic. Pseudoeferin hcl menstimulasi reseptor adrenergic
didalam rongga hidung, sehingga mengerutkan arteri yang membesar
di dalam mukosa mengurangi aliran darah sehingga mukosa menutup
dan hidung menjadi lega kembali (Novi, 2007).
Dosis : 50 mg, dosis sehari 50 x 3 =150 mg/hari, dosis maksimal 240 mg
% dosis = 150/240 x100% = 62,5 % (Tidak OD)
2.3 Analisis permasalahan
a. Flu merupakan suatu infeksi saluran pernapasan atau oleh virus,seperti virus influenza
atau rhinovirus influenza dan pilek biasa atau common cold disebabkan oleh virus berbeda,
namun gejala yang ditimbulkan oleh kedua penyakit ini kurang lebih sama. Contohnya demam
batuk hidung berair atau tersumbat (Taufia, 2014)
b. Obat-obat yang digunakan untuk mengatasi gejala tersebut antara lain obat
antihistamin, tetes hidung dekongestan oral, antitusik respektoran, dan antipiretik/analgesik
(Taufia, 2014).
c. Obat dekongestan bekerja dengan mengurangi gejala pembengkakan yang terjadi di
saluran pernapasan yang nantinya akan membantu melancarkan pernapasan (Taufia, 2014).
d. Pseudoefedrin hcl banyak digunakan sebagai oral dekongestan pada pengobatan
hidung tersumbat pada penyakit pilek, yang saling timbul bersama rhinitis dan dalam alergi
rhinitis (Novi,2017)
e. Dilihat dari kelarutan pseudoefedrin hcl yaitu sangat mudah larut dalam air, mudah
larut dalam etanol agak sukar larut dalam kloroform maka dibuat sediaan sirup. Sirup adalah
sediaan pakat dalam air dari gula atau pengganti gula dengan atau tanpa bahan penambahan
bahan pewangi, dan zat obat (Ansel, 1989).
f. Sirup merupakan sediaan cair yang mengandung sukrosa tidak kurang dari 64% dan
tidak lebih dari 66%. Masalah yang sering timbul selama proses penyimpanan sirup adalah
terjadinya caplocking (Brigita, 2007)
g. Caplocking merupakan salah satu manifestasi dari kristalisasi sukrosa yang ditandai
dengan terbentuknya Kristal pada leher dan tutup botol. Untuk mencegah terjadinya caplocking
digunakan sorbitol.
h. Sorbitol merupakan suatu gula alcohol yang stabil dan tahan panas, bahan ini dapat
berfungsi sebagai anticrystallzing agent sehingga diharapakan dapat menghambat laju
kristalisasi sukrosa (Brigita, 2007)
i. Kombinasi pengawet metil paraben dan propilparaben dalam formulasi akan
menghasilkan kombinasi pengawet dengan aktivitas antimikroba yang kuat (Astri, 2006).

Anda mungkin juga menyukai