Kerusuhan Asrama Papua Surabaya 2019
Kerusuhan Asrama Papua Surabaya 2019
NIM : 125180518
Kelas : AY
Jakarta, CNN Indonesia -- Asrama Mahasiswa Papua, di Kalasan, Kota Surabaya, Jawa
Timur digeruduk ratusan massa yang berasal dari sejumlah organisasi masyarakat (ormas) pada
Jumat (16/8) siang. Berdasarkan pantauan [Link] di lokasi, dari ratusan massa
yang memadati depan asrama mahasiswa itu, ada yang mengenakan atribut ormas Front
Pembela Islam (FPI) dan Pemuda Pancasila (PP). Namun, sebagian besar dari mereka
mengenakan pakaian bebas.
Sekelompok orang dari massa tersebut menyanyikan lagu bernada kebencian dengan
lantang yang ditujukan bagi penghuni asrama mahasiswa. Salah satu perwakilan massa,
Muhammad, mengaku datang bersama ratusan orang setelah melihat foto tiang bendera merah
putih yang telah dipatahkan oleh mahasiswa Papua. Foto itu sendiri, kata Muhammad sudah
beredar di grup-grup media sosial. "Di satu grup (WhatsApp) bendera merah putih dipatah-
patahkan dan dibuang di selokan, ini kelihatan kan tiang-tiangnya, saya lihat di grup Aliansi
Pecinta NKRI," kata Muhammad, saat ditemui di lokasi.
Usai melihat foto tersebut, kata Muhammad, massa langsung bergegas menuju Asrama
Mahasiswa Papua sekitar pukul 14.00 WIB. Namun setibanya di depan asrama, mereka
mendapati bendera tersebut telah kembali terpasang. Kendati demikian, Muhammad seolah tidak
puas. "Pantaskah bendera kita dibuang di selokan," tuturnya.
Sementara itu, juru bicara mahasiswa Papua Dorlince Iyowau mengatakan kejadian itu
bermula ketika sejumlah aparat keamanan dan Satpol PP diduga mendatangi asrama pukul 15.20
WIB. Mereka merusak pagar asrama. "Pukul 15.20 tentara masuk depan asrama, kemudian susul
lagi Pol PP, lalu rusaki semua pagar. Mereka maki kami dengan kata-kata rasis," kata Dorlince
saat dihubungi melalui sambungan telepon. Tak lama setelah itu, lanjut Dorlince, sekelompok
ormas datang dan melempari batu hingga mengakibatkan kaca asrama pecah. "Mereka sedang
dobrak-dobrak pintu depan dan belakang asrama Papua. Kami terkurung di aula. Sampai saat ini
ormas, tentara, dan Pol PP belum masuk. Masih di luar pagar," katanya.
Hingga kini, sejumlah ratusan ormas dan anggota kepolisian terus memadati depan asrama
Papua. Sementara Jalan Kalasan ditutup dan disterilkan dari arus kendaraan.
[Link] sudah menghubungi Kabid Humas Polda Jawa Timur Kombes Pol Frans
Barung, namun belum ada respons dari yang bersangkutan.
Aksi Massa di Ternate. Terpisah, sekelompok massa Front Rakyat Indonesia untuk West
Papua (FRI-WP) diduga mendapat perlakuan represif dari aparat kepolisian dan TNI saat hendak
melakukan aksi di Kota Ternate, Maluku Utara, pada Kamis (15/8) kemarin. Juru bicara FRI-WP
Malut, Arbi M Nur mengatakan, peristiwa itu berawal ketika massa dari FRI-WP akan melakukan
aksinya di depan Pasar Barito, Kota Ternate. Tiba-tiba muncul sejumlah aparat kepolisian dengan
seragam dan berpakaian bebas serta TNI yang membubarkan paksa. "Itu kemarin sekitar pukul
16.30 WIT kami dibubarkan paksa. Ada tindakan kekerasan yang dilakukan, semua dipukul di
seluruh bagian tubuh," ujar Arbi saat dihubungi, Jumat (16/8).
Bahkan, lanjut Arbi, salah satu peserta aksi hampir pingsan karena dipukul oleh aparat. Ia
mengaku sempat meminta pada aparat agar membuka ruang bagi massa untuk membubarkan
diri namun permintaan itu diabaikan. "Kami bilang ke mereka akan bubar dan minta diberi ruang
untuk jalan. Tapi kami dipukulin sampai kami diangkut ke polres pakai mobil pikap," tuturnya. Arbi
mengklaim sebelumnya telah menyampaikan surat pemberitahuan pada polisi terkait aksi massa
yang akan dilakukan. Namun permintaan itu ditolak tanpa alasan yang jelas. Arbi mengatakan,
aksi itu awalnya hanya untuk memperingati perjanjian antara Belanda dengan Indonesia dalam
Republik Indonesia Serikat (RIS). Menurutnya, perjanjian itu membicarakan masa depan West
Papua namun tak sedikit pun melibatkan warga Papua. "Kami ingin agar RIS bertanggung jawab
atas penjajahan itu," ucapnya. Aksi serupa juga dilakukan di sejumlah wilayah di Indonesia, di
antaranya Jakarta, Surabaya, Semarang, Salatiga, dan Yogyakarta. "Hanya di Yogyakarta saja
yang tidak dibubarkan," katanya.
Sebelumnya, di Manokwari dan Sorong di Papua Barat, pada Senin, dan demo di Jayapura,
Papua, juga telah terjadi. Pemicu ketegangan diawali dari Kamis (15/8/2019), saat sejumlah
mahasiswa Papua berencana melakukan demo di depan Balai Kota Malang. Mereka tergabung
dalam Aliansi Mahasiswa Papua (AMP) dan Front Rakyat West Papua di Malang. Demo itu dalam
rangka memperingati 57 tahun perjanjian New York, dengan tema ‘Amerika Serikat Harus
Bertanggung Jawab Atas Penjajahan di West Papua’. Massa berjumlah sekitar 70 orang awalnya
hendak menggelar aksi menuju Balaikota dari Alun-Alun Kota Malang. Mereka berencana melalui
jalan Jalan Basuki Rahmad dan Jalan Kahuripan.
Beberapa warga dari arah Balaikota atau Jalan Kahuripan, dengan jumlah seimbang
meneriakkan penolakan. Massa menganggap demo AMP mengganggu ketertiban umum. “Hai
Pulang, mengganggu ketertiban umum saja di Malang,” kata sekelompok massa. Kedua pihak
pun akhirnya saling mengolok hingga terlibat aksi saling lempar batu dan kejar-kejaran. Aksi
lempar dan kejar-kejaran terjadi di sepanjang jalan Basuki Rahmad dengan memanfaatkan
bebatuan seadanya di pinggir jalan. Demikian laporan dari [Link].
Masalahnya, mahasiswa asal Papua ini berdemo dengan tidak mengantongi izin demo. Unjuk
rasa itu berujung rusuh. Usai kerusuhan, muncul isu adanya pernyataan pejabat yang ingin
memulangkan mahasiswa Papua.
Asrama Papua di Surabaya. Masih di Jawa Timur, namun kali ini di Kota Surabaya, terjadi
ketegangan antara warga dan Mahasiswa pada Jumat (16/8). Ratusan warga gabungan berbagai
ormas di Surabaya menggeruduk Asrama Mahasiswa Papua di Jalan Kalasan. Massa geram
lantaran mendapatkan kabar bahwa mahasiswa asal Papua tidak mau memasang Bendera
Merah Putih.
“Mereka tidak mau pasang bendera. Terus ketika dipasang oleh pihak Muspika bendera di
depan, bendera dibuang oleh oknum mereka,” kata salah satu massa Hari Sundoro, Jumat
(16/8/2019). “Ya jelas kita tersinggung, bendera kita dibuang. Kalau nggak mau pasang jangan
tinggal di Indonesia apalagi di Surabaya,” pungkas Hari. Namun, seorang mahasiswa Papua
membantah tuduhan tak mau memasang bendera itu. Dia mengaku tidak tahu menahu soal
kasus bendera.
“Kalau soal itu (pembuangan bendera) kami tidak tahu menahu. Karena ada beberapa teman
termasuk saya sendiri keluar untuk beli makan siang itu. Setelah masuk benderanya memang
sudah tidak ada,” kata salah satu penghuni Asrama Mahasiswa Papua Dorlince Iyowau
kepada detikcom, Senin (19/8/2019). Dorlince menuturkan, usai masuk asrama setelah membeli
makanan pada Jumat (16/8) pukul 15.20 WIB, ada orang-orang yang menggebrak pintu. Sambil
berkata rasis mereka menyuruh penghuni asrama keluar dan menantang beradu fisik.
“Jam 15.20 WIB kami kemudian didatangi dan gebrak-gebrak pintu dan ngata-ngatain kami
monyet, babi, anjing keluar dan kata-kata rasis. Kemudian kami minta negosiasi atau pendekatan
hukum. Kami mau klarifikasi bersama tapi pihak mereka tidak mau,” tutur Dorlince. Dari video
yang beredar luas di media sosial, ucapan-ucapan rasis memang terdengar dari massa yang
mencoba masuk ke dalam asrama.
Mengenai ini, Kepala Biro Penerangan Masyarakat Divisi Humas Polri Brigjen (Pol) Dedi
Prasetyo juga sudah berjanji, akan mengusut tuntas dugaan praktik rasisme terhadap mahasiswa
asal Papua itu, seperti diungkap Tribunnews. Dedi mengatakan, pintu masuk penyelidikan adalah
dari video yang disebarkan dan viral di media sosial. Video itu menampilkan situasi ketika
mahasiswa asal Papua di asrama Surabaya didatangi sekelompok ormas, personel Polri dan TNI
terkait dugaan penghinaan bendera merah putih, Jumat (16/8/2019) lalu. “Nanti akan kami coba
dalami lagi. Alat bukti dari video itu dulu. Video itu didalami dulu, setelah itu barulah siapa orang-
orang atau oknum-oknum yang terlibat menyampaikan diksi dalam narasi (rasisme) seperti itu,”
ujar Dedi di Gedung Humas Mabes Polri, Jakarta Selatan, Senin.
Dia menjelaskan dirinya dan massa ormas yang lain mendatangi asrama mahasiswa Papua
di Jalan Kalasan, Surabaya karena mendengar isu ada perusakan dan pembuangan bendera
merah putih. “Kami ini hanya ingin menegakkan bendera merah putih di sebuah asrama yang
selama ini mereka menolak memasang. Jadi, ini bukan agenda yang pertama kali,” ujar Susanti.
Meskipun demikian, Susanti membantah massa ormas yang ia koordinir melakukan pengusiran
terhadap mahasiswa Papua di Surabaya. “Kalau dibilang bahwa masyarakat Surabaya terjadi
bentrok atau ada teriakan rasis, itu sama sekali tidak ada,” kata Susanti. Dia mengatakan dirinya
dan ormas lainnya di Surabaya berharap keadaan di Papua tetap kondusif dan tidak terjadi hal-
hal yang
Jakarta, CNN Indonesia -- Juru Bicara Front Rakyat Indonesia untuk West Papua (FRI-WP)
Surya Anta bersuara terkait peristiwa penyerangan dan pengepungan asrama mahasiswa Papua
di Surabaya, Jawa Timur.
Surya menjelaskan berdasarkan informasi yang diperoleh dari mahasiswa, awal kejadian itu
terjadi pada Jumat (16/8), sore sekitar pukul 16.00 WIB. Selain aparat keamanan, kata Surya,
sejumlah organisasi massa juga turut menyerang dan mengepung asrama. "Mahasiswa Papua
yang sedang berkumpul di Asrama Kamasan Surabaya, dikepung oleh beberapa aparat. Saya
tidak tahu apakah TNI, Polri. Tapi juga ada penyerangan dari Ormas reaksioner juga," kata Surya
dalam konferensi pers di Menteng, Jakarta Pusat, Minggu (18/8).
Surya menjelaskan, awal mula pengepungan itu disebabkan oleh perusakan Bendera Pusaka
yang terletak di depan Asrama. Pihak aparat pun menduga perusakan Bendera Pusaka dilakukan
oleh oknum mahasiswa di asrama. Surya menyayangkan pengepungan tersebut. Menurutnya,
aparat tidak melakukan investigasi mendalam terlebih dulu terkait perusakan Bendera Pusaka.
Selain itu, aparat juga 'membiarkan' ormas reaksioner yang turut melakukan pengepungan.
Parahnya lagi, kata dia, aparat justru ikut menyerang asrama yang disertai tembakan gas air
mata. "Saya menyayangkan, pihak aparat yang ada di lokasi sebelumnya tidak melakukan proses
penanyaan atau investigasi kepada mahasiswa di asrama terlebih dahulu. Bukannya
mengamankan penyerangan, tapi malah menembakkan gas air mata, dan ikut menyerang,"
katanya.
Surya lebih jauh mengatakan pengepungan dan penyerangan ini juga diiringi perusakan
berbagai fasilitas asrama. Para pengepung juga beberapa kali melontarkan makian bernada rasis
kepada mahasiswa Papua. "Penembakan gas air mata berkali-kali, dan juga perusakan fiber di
pagar asrama. Makian bernada rasis pun terus dilakukan," ujarnya. Surya menambahkan,
pihaknya mencatat ada 43 mahasiswa yang terjebak di asrama. Mereka bertahan dan
mengamankan diri di dalam asrama tanpa makan dan minum semalaman. "Mereka tidak makan
dan minum semalaman, tidur di emperan lantai asrama yang masih ada gas air matanya. Tak
bisa keluar karena dikepung, ada anjing penjaga juga di depan pagar, mereka takut untuk keluar,"
ujar Surya. Akibat peristiwa tersebut sedikitnya lima mahasiswa asal Papua yang terluka.
Keesokan harinya, Sabtu (17/8), polisi merangsek ke dalam asrama dan mengangkut para
mahasiswa ke Polrestabes Surabaya. Mereka menjalani pemeriksaan oleh polisi. Pada Minggu
(18/8) dini hari, polisi memulangkan 43 mahasiswa asal Papua tersebut. "Tadi malam sudah
(dipulangkan) pukul 00.00 WIB malam (dini hari), setelah selesai diperiksa semua dari 43 orang
itu," kata Kapolrestabes Surabaya Kombes Pol Sandi Nugroho, Minggu (18/8). Dari hasil
pemeriksaan tersebut, kata Sandi, seluruh mahasiswa Papua mengaku tak tahu menahu perihal
perusakan bendera merah putih yang ditemukan di depan asrama mereka. "Dari hasil
pemeriksaan mengaku tidak mengetahui (perusakan bendera), makanya sementara kita
pulangkan ke asrama yang bersangkutan," ujar Sandi.
Sandi mengatakan pihaknya akan tetap mendalami keterangan para mahasiswa. Polisi kini
masih mempelajari alat-alat bukti yang ditemukan di tempat kejadian perkara. "Sementara masih
kita pelajari karena itu ada 43 itu perlu dievaluasi secara menyeluruh, sehingga kita tahu bahan
keterangannya secara utuh," kata dia.
4. Ini Kronologi Ketegangan di Asrama Mahasiswa Papua Versi Polisi
Sebelumnya, pada 16 Agustus, Luki mengatakan, pihaknya telah berada di lokasi untuk
menjaga keamanan. Saat itu, polisi dibantu TNI menjaga agar massa hingga ormas yang datang
tidak merangsek masuk. Saat itu ketegangan mulai mereda sekitar pukul 21.00 WIB. "Jadi
memang tanggal 16 itu kami aparat dari TNI dan Polri memang menjaga masyarakat ormas dan
yang lain untuk tidak masuk ke tempat asrama dan itu selesai jam 21.00 WIB," imbuhnya. Luki
juga menampik kabar hoaks di media sosial yang menyebut saat itu terjadi pengepungan AMP
selama 24 jam penuh. Luki menegaskan pada Jumat (16/8) massa mulai mendatangi AMP sekitar
pukul 13.00 WIB dan situasi telah kondusif pada pukul 21.00 WIB. "Setelah itu tidak ada kegiatan,
tidak ada pengepungan. Nah, ini yang beredar bahwa asrama itu dikepung selama 24 jam lebih.
Jadi ini semoga informasi ini bisa diluruskan. Kami sampaikan bahwa kejadian jam 13.00 WIB
siang hingga sore massa bertambah banyak, lalu jam 21.00 WIB mereka kembali dan sudah tidak
ada kegiatan," papar Luki.
Meski sudah tidak ada massa, Luki menceritakan, pihaknya masih berada di lokasi untuk
mengamankan mahasiswa di AMP. Lalu ada yang mengirim makanan. "Hanya ada petugas dan
kita mengamankan warga Papua yang ada di sana. Bahkan pukul 01.00 WIB malam ada yang
mengirim makanan. Kami juga memeriksa hingga jangan sampai ada hal-hal yang tidak
diinginkan. Setelah kami periksa, makanan tersebut memang permintaan dan tidak ada masalah,
kita persilakan masuk. Ini langkah-langkah kami yang kami lakukan terkait berita yang simpang
siur," jelasnya.
Sementara itu, Luki menambahkan di media sosial banyak kabar yang beredar terkait apa
yang terjadi di AMP. Untuk itu, Luki meminta masyarakat tidak mudah percaya dan bersabar
menunggu hasil penyidikan polisi. "Dampak dari itu terkait di media sosial ini kami sedang
mendalami tentang adanya rasis dan yang lain-lain karena ini digital, kami butuh waktu untuk
pemeriksaan. Namun pemeriksaan bendera, kami terus mencari terkait siapa yang memasang
dan siapa yang merusak," pungkasnya.
5. Buntut Aksi di Asrama Mahasiswa Papua, Kodam Panggil Pria Penggedor Asrama
hingga Periksa Para Saksi
[Link] - Rekaman video yang banyak beredar seputar peristiwa pengepungan
asrama mahasiswa Papua di Surabaya pada 17 Agustus lalu memperlihatkan sejumlah pria
berseragam TNI. Salah satu video menayangkan seorang pria berpakaian loreng khas TNI
sedang menggedor gerbang asrama. Aksi itu diikuti sahutan perempuan dari dalam asrama:
"Tidak boleh begitu, bapak." Video itu adalah satu dari sekian banyak video yang dapat disaksikan
publik di media sosial. Video lainnya memperdengarkan pengepungan asrama disertai makian
yang menyebut hewan. Lima hari sejak video-video tersebut beredar, Komando Daerah Militer
Brawijaya menyatakan telah memanggil sejumlah laki-laki berseragam TNI dalam tayangan itu.
"Semuanya sudah kita panggil. Ada pendalaman dari Disintel Kodam, semua sudah kita
panggil. Begitu ada potongan video pendek yang viral ini, semuanya sudah kita panggil," kata
Kepala Dinas Penerangan Kodam Brawijaya, Imam Hariyadi, kepada wartawan BBC Indonesia,
Abraham Utama, di Surabaya, Kamis (22/8/2019). "Pasti ada sanksi-sanksinya. Setelah ada
proses hukum, tentunya sanksi tersebut akan kita sampaikan," sambungnya. Peristiwa di sekitar
asrama mahasiswa Papua itu memicu rangkaian demonstrasi di Provinsi Papua dan Papua Barat
yang telah berlangsung sejak Senin (19/8/2019) lalu. Peneliti Lembaga Ilmu Pengetahuan
Indonesia, Adriana Elisabeth, meyakini rentetan unjuk rasa tersebut akan dapat diredam jika
proses hukum dijalankan.
"Simpel saja sebetulnya. Investigasi ini prosesnya harus terbuka kemudian keputusannya
harus adil. Siapapun pelakunya harus ditindak, dihukum. Oknum yang mengata-ngatai orang
Papua apakah dia akan mendapat hukuman?" "Misalnya anggota TNI atau siapapun yang
melakukan, atau ormas, misalnya, yang menuduh mahasiswa Papua merusak bendera betul-
betul terbukti bersalah dan dihukum, itu bisa. Sedikit memenuhi rasa keadilan yang selama ini
orang-orang Papua merasakan itu hilang," papar Adriana. Hal ini sejalan dengan pernyataan
Ketua Majelis Rakyat Papua (MRP) Timotius Murib. "Orang Papua meminta keadilan!"
Papua 'Penumpang gelap' Asrama Mahasiswa Papua di Surabaya, Jawa Timur, Rabu
(21/8/2019)(dok BBC Indonesia) Soal rangkaian unjuk rasa sendiri, Presiden Joko Widodo
mengatakan dalam wawancara dengan harian Kompas bahwa ada penumpang gelap. "Ya biasa
dalam sebuah peristiwa itu ada yang membonceng, ada penumpang gelap, biasalah menurut
saya," kata Jokowi. Presiden Jokowi tidak secara eksplisit menyebut siapa yang dia maksud
penumpang gelap.
Namun Peneliti LIPI, Adriana Elisabeth, meyakini Jokowi sedang merujuk pada kelompok-
kelompok prokemerdekaan. "Ini kan ada juga kemudian demo dari kelompok-kelompok di Papua,
kelompok yang mendukung merdeka. Jadi ini momentum yang digunakan untuk mengusung
kembali isu-isu kemerdekaan, isu referendum," paparnya. Akan tetapi, Victor Yeimo selaku juru
bicara Komite Nasional Papua Barat (KNPB) yang prokemerdekaan, berdalih pihaknya tidak
pernah menyuruh rakyat Papua menyuarakan kemerdekaan dalam demonstrasi terkait peristiwa
pengepungan asrama Papua di Surabaya.
"Kami tidak pernah menyuruh rakyat menyuarakan kemerdekaan, tapi kami memediasi
mereka. Toh, di lapangan mereka menyuarakan kemerdekaan," kata Victor. Dia mencontohkan
dalam orasi rakyat di depan kantor Gubernur Papua, ada sejumlah orang yang menyerukan
referendum untuk kemerdekaan. Klaim bahwa demonstrasi di Papua dan Papua Barat
merupakan aksi rakyat tanpa digerakkan kelompok-kelompok prokemerdekaan juga disuarakan
Ketua Majelis Rakyat Papua (MRP) Timotius Murib. "Ini murni, murni dari aspirasi rakyat. Karena
kata rasis tidak baru kali ini, berkali-kali bertahun-tahun kita terima. Menyudutkan orang Papua
sebagai hewan. Oleh karenanya saya pikir ini terakumulasi," papar Timotius.
Kendati demikian, seperti yang dilaporkan wartawan harian Cahaya Papua di Manokwari,
Safwan Ashari, untuk BBC News Indonesia, berbagai ajakan berunjuk rasa telah tersebar di
media sosial sejak Minggu (18/8/2019). Pendekatan kesejahteraan Sejumlah pendemo
mengusung bendera Bintang Kejora dalam demonstrasi mengecam peristiwa pengepungan
asrama mahasiswa Papua di Surabaya. (dok BBC Indonesia) Guna meredam demonstrasi,
Presiden Jokowi sendiri mengatakan ia akan merangkul rakyat Papua dengan pendekatan
kesejahteraan. "Pendekatan kesejahteraan, bukan lain-lainnya," tegas Presiden Jokowi kepada
wartawan harian Kompas. Tetapi peneliti LIPI, Adriana Elisabeth, pendekatan semacam itu tidak
cukup. "Jangan sekedar kesejahteraan fisik, tetapi juga kesejahteraan nonfisik. Selain tentunya
pemberdayaan manusia dari pendidikan kesehatan itu memang harus menjadi fokus," jelas
Adriana.
Pada hari keempat demonstrasi di Papua dan Papua Barat, Kapolri Jenderal Tito Karnavian
bersama Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto dan Menko Polhukam Wiranto bertolak ke
Manokwari. Menko Polhukam Wiranto menegaskan pelecehan bendera serta penghinaan
kepada orang-orang Papua "bukan karena ada unsur yang disengaja, tapi adanya oknum-oknum
yang tidak bisa menahan diri".
Namun, Mak Susi mengaku jika pihaknya mendapat kabar jika bendera tersebut dalam
kondisi rusak dan ditemukan di selokan. Mak Susi akhirnya mengecek kebenaran kabar tersebut
dengan bersepeda ke AMP. "Itu ada yang ngirim foto ke Mbak Susi. Setelah Jumat jam 1 siang,
tiangnya itu patah, itu bengkok jadi tiga dan masuk ke selokan. Lalu jam 1 siang terjadi
ketegangan, setelah terjadi itu, sudah banyak massa dari pihak danramil, Polrestabes, Satpol
PP," lanjutnya.
Malamnya, Sahid menyebut sudah tidak terjadi ketegangan. Karena bertepatan dengan
malam tirakat menjelang 17 Agustus. Tak hanya itu, Sahid menegaskan kliennya tidak
mengetahui siapa yang melontarkan kalimat rasialisme. Sahid mengatakan Mak Susi ke AMP
hanya untuk menegakkan hukum terkait dugaan pengrusakan bendera merah putih. "Jadi ditanya
kata-kata rasis, Mbak Susi bilang ndak ada kata rasis. Itu juga bukan ranahnya pasal 28 kan
bukan melalui ITE, mungkin pihak lain atau siapa Mbak Susi Ya ndak tahu karena kondisinya
ramai. Yang jelas bukan dari Mbak Susi," pungkasnya.
7. Asrama Papua: Kasus Bendera Merah Putih dan Makian Rasialisme di Surabaya
Dalam video itu, Camat Tambaksari, Ridwan Mubarun, terlihat berdiri di depan pagar asrama
dan bertukar kalimat dengan beberapa mahasiswa Papua. Ridwan terdengar berkata, "Biar saya
yang pasang bendera daripada ormas yang datang ke sini." Anggota Satpol PP akhirnya
menancapkan tiang berbendera Merah Putih di depan gerbang Asrama Kamasan. Penuturan
versi kecamatan ini sesuai dengan kronologi yang dipublikasikan penghuni asrama dan Sahura,
pengacara publik LBH Surabaya yang mendampingi mereka. "Kami didatangi camat, Satpol PP,
dan TNI untuk memasang bendera di depan asrama," begitu kronologi tertulis versi penghuni
Asrama Kamasan.
16 Agustus. Pejabat kecamatan yang meminta namanya tak disebut, mengklaim, tiang yang
mereka tancapkan sehari sebelumnya telah berpindah tempat. Menurutnya, tiang yang tadinya
berdiri di depan pagar hari itu berada di antara batas asrama dan rumah sebelahnya. Sekitar
pukul 09.00 WIB, versi mahasiswa Papua, rombongan kecamatan, koramil, dan polsekta lalu
mengecor tiang bendera bendera baru. Titiknya persis di lokasi sebelumnya.
Dalam kronologi tertulis mereka, penghuni asrama Kamasan berkata pengecoran tiang
bendera itu dilakukan anggota Satpol PP serta polisi dan tentara tak berseragam. Sebelum pukul
16.00 sore, rombongan pejabat kecamatan, koramil, dan polsekta Tambaksari kembali datang ke
asrama. Pemicunya, tiang bendera yang mereka pasang bengkok ke arah tanah. Bendera Merah
Putih yang terpasang pada tiang itu menyentuh got di depan pagar asrama. Pimpinan rukun
warga menyebut foto kondisi tiang dan bendera itu menyebar di grup Lembaga Pemberdayaan
Masyarakat Kelurahan Pacar Keling, Tambaksari.
Siapa yang sebenarnya merusak tiang bendera? Dorlince Iyowau, perwakilan mahasiswa
Papua di Surabaya berkata kepada BBC, "Kami tidak tahu-menahu soal bendera yang jatuh di
got itu." "Kami tahu ketika TNI datang dobrak-dobrak tanpa pendekatan hukum, yang langsung
main hakim sendiri dengan Satpol PP dan ormas reaksioner." "Jadi sekali lagi kami tidak tahu
soal kejadian bendera yang jatuh dan kami tidak pernah membuang bendera yang mereka
maksud itu ke got," kata Dorlince. Sementara itu, pimpinan RW di kawasan asrama Kamasan
juga tak mengetahui pelakunya. "Kondisi bendera itu kami tahu dari grup WhatsApp. Saya tidak
melihat dengan mata sendiri. Tapi yang semua yang melihat pasti emosi," ujarnya. Pimpinan RW
ini enggan namanya disebut. Ia beralasan, proses hukum atas peristiwa itu tengah berlangsung
di kepolisian. Yang kemudian terjadi, terekam pada sejumlah video yang beredar di media sosial.
Penghuni asrama Kamasan berhadapan dengan massa yang terdiri dari orang-orang
berseragam tentara, satpol PP, polisi, dan mereka yang berbaju bebas. Pria yang dilingkari dalam
cuplikan video ini beberapa kali menudingkan tangannya ke penghuni yang berada di balik pagar.
"Jangan banyak omong kamu, keluar sini," begitu salah satu kalimat yang terdengar jelas keluar
dari mulutnya. Bersamaan dengan itu, sejumlah kata-kata rasial berupa nama-nama binatang
terlontar ke arah mahasiswa Papua. Dalam video lain yang direkam penghuni asrama, seorang
mahasiswa Papua berkata, "Apa? Mau tangkap saya? Ketok pintu, kita bicara baik-baik."
Seorang perempuan dari kelompok penghuni asrama juga terdengar mengatakan, "Ada proses
hukumnya, Pak. Kenapa main hakim sendiri begitu?"
Dalam video itu, seseorang berseragam tentara dan berkacamata hitam juga menuding-
nudingkan tangan ke arah penghuni asrama. "Hei kau pulang sana...," begitu salah satu
penggalan kalimat yang terdengar darinya. Dalam video lain dari arah asrama, orang berseragam
tentara lainnya berkata, "Kamu merusak bendera, tak sikat kamu." Ia terlihat menendang pagar
dan menyebut nama binatang ke penghuni asrama. Dalam berbagai video, tampak semakin
banyak orang berkumpul di depan asrama Kamasan. Lontaran kata-kata rasial juga makin kerap
terdengar.
Beberapa penghuni asrama terlihat kabur ke dalam hunian mereka untuk menghindari
lemparan batu dari luar pagar. Menurut versi mahasiswa Papua, salah satu pria berseragam
tentara yang mengeluarkan kata-kata rasial adalah Komandan Koramil Tambaksari, Mayor NH
Irianto. Mereka menuding kalimat yang dilontarkan Irianto juga memprovokasi massa. Sahura,
pengacara LBH Surabaya, menyebut tentara kala itu adalah pihak yang pertama kali datang ke
asrama, sebelum polisi, Satpol PP, dan anggota ormas. BBC datang ke markas Koramil
Tambaksari, Kamis (22/08) untuk mengonfirmasi hal itu. Namun seorang anggota koramil
bernama Rusdi menyebut Irianto tengah berkegiatan di markas Kodam Brawijaya. Rusdi juga
menolak memberikan kontak atasannya.
Pada hari yang sama, BBC bertemu Juru Bicara Kodam Brawijaya, Letkol Imam Haryadi.
Secara komando, Koramil Tambaksari berada di bawah Kodam Brawijaya. Kepada Imam, BBC
menunjukkan dua video yang memperlihatkan beberapa orang berseragam tentara. Namun
Imam tak dapat menjawab siapa di antara orang-orang itu yang merupakan Mayor Irianto.
"Posisinya mereka (dalam video itu) agak kabur," kata Imam.
[Link] - Ekses rasisme terhadap mahasiswa Papua di Jawa tak pernah siap dikendalikan oleh
pemerintah Indonesia sendiri di Jakarta. Pada Senin kemarin, 19 Agustus, dua hari setelah
negara ini merayakan kemerdekaannya ke-74, gelombang orang Papua menumpahkan
kekecewaannya di Jayapura, ibu kota Papua, dan di Manokwari, ibu kota Papua Barat, serta Kota
Sorong. Di Jayapura, lautan manusia berdemo jalan kaki sepanjang 18 kilometer dari Waena,
pusat keramaian di kota itu, menuju kantor gubernur; menuntut rasialisme terhadap orang Papua
harus dihentikan.
Gubernur Papua Lukas Enembe bahkan tegas berkata bahwa "kami bukan bangsa monyet,
kami manusia." Di Manokwari, situasinya lebih panas. Gedung parlemen daerah dibakar. Pohon
di tepi jalan ditebang. Ban dibakar. Melumpuhkan aktivitas dan mobilitas warga. Di Sorong,
sebuah kota pantai di ujung kepala burung Papua, fasilitas publik seperti bandara dirusak. Mobil-
mobil di lahan parkir bandara itu dirusak. Penerbangan lumpuh dalam beberapa jam. Jalan raya
lumpuh. Aksi itu—entah spontanitas atau ada motif selain respons atas rasisme di Jawa—
menjalar ke pembakaran gedung penjara.
United Liberation Movement for West Papua (ULMWP), organisasi payung untuk gerakan
politik kemerdekaan Papua, mencatat polisi menangkap 226 mahasiswa Papua pada demo 14-
18 Agustus kemarin. Lokasi demo di Jayapura, Maluku, Surabaya, dan Malang. Di Surabaya,
personel Brigade Mobil melancarkan 23 kali tembakan gas air mata ke asrama mahasiswa
Papua. Sekitar 43 mahasiswa Papua di asrama itu ditangkap paksa dan dibawa ke Markas
Kepolisian Resor Kota Besar Surabaya. “Ada lima orang luka-luka. Satu terkena tembakan gas
air mata di kakinya, tiga dipukul, satu bapak kena tampol di alis matanya," ujar Dorlince Iyowau,
salah satu mahasiswa yang ditangkap, kepada Tirto, akhir pekan lalu.
Di Semarang, ada spanduk memuat kalimat provokatif yang dipasang di depan asrama
Papua, 18 Agustus. Isinya: "Kami warga Kelurahan Candi tidak setuju Asrama West Papua
digunakan untuk kegiatan yang mengarah pemisahan Papua dari NKRI. Jika hal tersebut
dilakukan kami sepakat menolak keberadaan West Papua di Kelurahan Candi. NKRI harga mati."
Di Malang, pada 15 Agustus, bentrok terjadi antara mahasiswa Papua dan kelompok ormas.
Akibatnya, 23 mahasiswa Papua terluka. Mahasiswa Papua di Surabaya dan Malang itu
melakukan aksi politik damai. Mereka memperingati Perjanjian New York pada 15 Agustus 1962
antara pemerintah Indonesia dan Belanda—tahap internasional perdana yang dianggap oleh
orang Papua sebagai pintu masuk Papua bergabung Indonesia pada 1969.
Tahun lalu, kepada Tirto, peneliti dari Institute for Criminal Justice Reform Anggara Suwahju
menjelaskan tuntutan hak menentukan nasib sendiri tidak termasuk perbuatan makar.
Musababnya, prinsip hukum pidana, kata Anggara, terikat prinsip yang ketat: lex certa dan lex
stricta. "Harus pasti dan tidak bisa diartikan lain. Makar artinya serangan yang sifatnya fisik,"
katanya. Namun, aparat keamanan maupun ormas di Indonesia mengabaikan hukum
internasional itu, yang telah diadopsi oleh Sidang Majelis Umum PBB pada 16 Desember 1966.
Ia terikat dalam kovenan hak-hak sipil dan politik yang sudah diratifikasi oleh Indonesia menjadi
UU 12/2005.
Buntut peristiwa bentrok mahasiswa Papua di Surabaya dan Malang ini lantas menjadi
pemicu kerusuhan di Kota Manokwari, Papua Barat. Demonstrasi memprotes kekerasan dan
pengusiran mahasiswa Papua di Malang dan Surabaya membuat lalu lintas Senin pagi
(19/8/2019), di Kota Manokwari macet total.
Sejumlah ruas jalan di Manokwari, terutama jalan Yos Sudarso yang merupakan jalan utama
kota Manokwari diblokade massa yang mengakibatkan aktivitas masyarakat maupun arus lalu
lintas lumpuh. Tidak hanya memblokade jalan saja, menurut informasi yang dikutip dari Antara,
dalam aksi tersebut warga juga menebang pohon dan membakar ban di jalan raya. Aparat
kepolisian Polda Papua Barat dan Polres Manokwari mulai turun ke jalan guna mengendalikan
situasi aksi protes warga atas insiden pengepungan asrama mahasiswa Papua di Surabaya
tersebut. Kerusuhan lantas melebar ke Sorong, Papua.
Massa merusak Bandara Domine Eduard Osok, Sorong, dan membakar sebagian barang
di bandara. Hingga akhirnya, jadwal penerbangan Timika-Sorong dibatalkan hari ini. Bentrok
lantas terjadi di asrama Mahasiswa Papua di Makassar. Mahasiswa bentrok dengan masyarakat
sekitar. Namun, menurut penuturan Gubernur Sulawesi Selatan (Sulsel) Nurdin Abdullah, bentrok
ini hanya karena salah paham. Nurdin Abdullah menceritakan awal mula terjadinya bentrokan di
asrama mahasiswa Papua awalnya karena ada warga yang mendatangi asrama tersebut. Nurdin
menyebut warga tersebut bermaksud untuk memastikan bahwa keamanan mahasiswa Papua di
Makassar terjamin. Namun, warga tersebut malah diusir.
Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan Wiranto menyesalkan adanya
pernyataan negatif terkait insiden dugaan pelecehan bendera Merah Putih di Jawa Timur. Meski
tak menjelaskan detailnya, namun menurut Wiranto, pernyataan negatif tersebut memicu aksi
demonstrasi di sejumlah daerah di Papua. “Kami menyesalkan adanya insiden pelecehan
bendera Merah Putih di Jawa Timur, yang disusul dengan pernyataan negatif oleh oknum-
oknum,” kata Wiranto seusai rapat membahas situasi di Papua dengan sejumlah menteri dan
pimpinan lembaga negara di Kantor Menko Polhukam, Senin (19/8/2019), seperti
dikutip [Link]. “Pernyataan itu memicu aksi di Papua dan Papua Barat yang nyata-nyata
kita anggap mengganggu kebersamaan, persatuan kita sebagai bangsa,” lanjut Wiranto. Wiranto
melanjutkan, pemerintah telah menginstruksikan kepada pihak berwenang untuk mengusut
insiden pelecehan bendera.
Hal senada juga disampaikan oleh Presiden Joko Widodo (Jokowi). Jokowi mengingatkan
tentang kebaikan dalam memaafkan soal ketersinggungan masyarakat Papua terhadap kasus
Surabaya dan Malang. “Saudara-saudaraku, Pace, Mace, Mama-mama di Papua, di Papua
Barat, saya tahu ada ketersinggungan. Oleh sebab itu, sebagai saudara sebangsa dan setanah
air, yang paling baik adalah memaafkan. Emosi itu boleh, tetapi memaafkan lebih baik. Sabar itu
lebih baik,” kata Jokowi di kompleks Istana Merdeka, Jakarta, Senin (19/8).
Presiden memaklumi jika masyarakat Papua tersinggung dengan adanya ungkapan rasial
dan diskriminatif yang terjadi. Wajar jika masyarakat Papua emosi. Namun, ia mengatakan
memaafkan dan sabar adalah langkah yang lebih baik. “Yakinlah bahwa pemerintah akan terus
menjaga kehormatan dan kesejahteraan pace, mace, mama-mama yang ada di Papua dan
Papua Barat,” kata Presiden seperti dikutip [Link].
Terkait hal ini, Gubernur Khofifah Indar Parawansa meminta maaf kepada masyarakat Papua.
Dia meminta maaf mewakili seluruh masyarakat Jawa Timur. “Teman-teman semua ini antara
lain yang terkonfirmasi ke beberapa elemen kemudian menimbulkan sensitivitas adalah kalimat-
kalimat yang kurang sepantasnya terucap. Saya ingin menyampaikan bahwa itu sifatnya personal
itu tidak mewakili masyarakat Jatim,” kata Khofifah saat menemani kunjungan Kapolri di RS
Bhayangkara Polda Jatim, Jalan Ahmad Yani Surabaya, Senin (19/8/2019).
Hal senada juga diungkapkan oleh Wali Kota Malang Sutiaji, yang mengaku ingin bertemu
dengan Gubernur Papua Lukas Enembe. Sutiaji mengucapkan permintaan maaf, atas insiden
yang terjadi beberapa waktu lalu. “Kalaupun ada insiden kecil yang dimaknai besar, kalau antar
masyarakat kami mohon maaf sebesar-besarnya. Siapapun berhak menyampaikan pendapat,
asalkan tidak keluar dari koridor hukum,” kata Wali Kota Malang Sutiaji kepada wartawan di Balai
Kota Malang Jalan Tugu.
Sementara itu, Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini (Risma) meminta maaf bila ada
kesalahpahaman terkait kejadian di asrama mahasiswa Papua. Dia menyesalkan adanya
kejadian tersebut. “Saya pikir itu tidak perlu saya, sekali lagi kalau memang itu ada kesalahan di
kami di Surabaya, saya mohon maaf, tapi tidak benar kalau kami dengan sengaja mengusir, tidak
ada itu,” kata Risma di kantor DPP PDIP, Jl Diponegoro, Jakarta Pusat. Gubernur Papua Lukas
Enembe pun turut angkat bicara. Dia lantas mengungkit cerita tentang sosok Gus Dur. “Saya
sampaikan orang Papua mencintai Gus Dur (Presiden RI ke-4 Abdurrahman Wahid). Ibu
gubernur (Khofifah) tuh kadernya Gus Dur, kenapa mahasiswa saya dianiaya seperti itu hanya
karena masalah bendera, tidak dibenarkan,” kata Lukas di halaman kantor Gubernur Papua, Jl
Soa Siu Dok 2, Jayapura seperti dikutip detikcom.
Dalam surat yang diterima [Link], SA menuliskan atas nama pribadi dan warga
Surabaya memohon maaf sebesar-besarnya kepada masyarakat Papua. "Saya atas nama
personal dan mewakili warga Surabaya, meminta maaf yang sebesar-besarnya kepada saudara-
saudara Papua di tanah air Indonesia atas perbuatan yang saya lakukan," katanya. SA mengaku
tindakannya itu tak bermaksud melecehkan atau merendahkan suku dan etnis apapun, termasuk
terhadap masyarakat Papua. Ia mengatakan perbuatannya itu hanyalah untuk membela
Sangsaka Merah Putih yang diduga dibengkokkan tiangnya dan dibuang oleh oknum ke selokan.
SA kecewa simbol negara dilecehkan oleh orang tak dikenal. "Bagi saya NKRI harga mati. Surat
pernyataan ini saya buat tanpa ada unsur paksaan dan tekanan dari pihak manapun," tambah
SA, menutup suratnya. Akibat perbuatannya, SA kini telah ditetapkan tersangka oleh penyidik
Polda Jatim. Tak hanya itu, ia juga telah resmi ditahan di Mapolda Jatim, Surabaya, hingga 20
hari ke depan.
Salah satu kuasa hukum SA, Hishom Prasetyo membenarkan bahwa kliennya telah resmi
ditahan. Selanjutnya pihaknya pun masih mempertimbangkan langkah penangguhan penahanan
atau jika perlu pra peradilan. "Jadi klien kami ditahan selama kurang lebih 20 hari. Selebihnya
kami akan mendiskusikan dengan tim apakah akan mengajukan (penangguhan) penahanan atau
mengajukan upaya hukum lain seperti pra peradilan," kata Hishom. SA merupakan salah satu
orang yang diduga melontarkan ujaran rasial ke arah mahasiswa Papua. Aksi SA tersebut
terekam dalam video yang beredar di media sosial. SA merupakan oknum Aparatur Sipil Negara
(ASN) di lingkungan Pemerintah Kota Surabaya yang berdinas di salah satu kecamatan di Kota
Pahlawan. Atas perbuatannya, ia disangkakan melanggar Undang-Undang Nomor 40 Tahun
2008 tentang Penghapusan Rasis dan Etnis, dengan ancaman pidana penjara paling lama 5
tahun dan denda paling banyak Rp 500 juta.
12. Kegagapan Indonesia Menangani Rasisme terhadap Orang Papua
[Link] - Jumat, 13 Juli 2016, adalah hari yang mungkin tak bisa dilupakan oleh Obby Kogoya,
mahasiswa Papua di Yogyakarta. Di depan asrama Kamasan di Jalan Kusumanegara, tanpa tahu
apa salahnya, ia dikejar-kejar, ditendang, dipukuli, lalu ditangkap polisi Indonesia. Peristiwa itu
diabadikan oleh fotografer lepas Suryo Wibowo. Kameranya menangkap kepala Obby diinjak oleh
polisi, ada pula foto ikonik mengabadikan perlakuan rasis aparat keamanan Indonesia terhadap
orang Papua: kedua hidung Obby ditarik oleh kedua jari seorang polisi dan tangan Obby diborgol.
Tapi, keributan itu segera dilupakan publik. Ormas yang turut mengepung asrama bersama
polisi juga terlupakan. Polisi daerah Yogyakarta berdalih: tidak ada kericuhan di asrama Papua
Yogyakarta; kondisi di Yogyakarta kondusif; foto Obby Kogoya adalah hoaks. Bahkan, polisi
berkata akan memburu penyebar foto itu. Masalah selesai. Obby justru diseret ke meja hijau dan
diadili. Keributan kembali terjadi dua tahun kemudian di Surabaya. Saat itu mahasiswa Papua
dikepung ormas dan polisi di asrama Kamasan di Jalan Kalasan. Sejak pagi, mahasiswa Papua
yang belajar di Jawa dan Bali, tergabung dalam Aliansi Mahasiswa Papua, menggelar aksi demo
memperingati 1 Desember, dianggap sebagai hari kedaulatan Papua.
Mereka melakukan aksi jalan kaki dari Monumen Kapal Selam menuju Gedung Grahadi. Aksi
itu berujung pada kericuhan. Mahasiswa dilempari batu oleh ormas, mengakibatkan tiga
mahasiswa bocor kepalanya. Bukan menangkap para pelaku pelempar batu, polisi Indonesia
justru memulangkan mahasiswa dan membiarkan kasus kekerasan itu menguap. Persis seperti
apa yang terjadi di Yogyakarta. Publik Indonesia dengan cepat melupakannya.
Kekerasan ormas dan pengepungan polisi, lalu mayoritas publik Indonesia melupakannya,
adalah semacam formula saat pemerintah lewat aparatur kepolisian berhadapan dengan
mahasiswa Papua. Formula ini diterapkan pada kasus pengepungan asrama mahasiswa Papua
di Surabaya pada 16 Agustus lalu. Ormas mendatangi asrama, melempari mahasiswa dengan
batu, memaki mahasiswa Papua dengan ujaran rasis, sementara polisi dan aparat TNI cuma
diam.
Bukan menangkap para anggota ormas itu, polisi justru menyerbu asrama dan
menemabakkan gas air mata dengan dalih "pengamanan." Kekerasan terhadap mahasiswa di
asrama itu pun didiamkan saja. Sehari setelah kejadian, pemerintah dan aparat Indonesia tetap
diam. Seakan tak punya salah terhadap para mahasiswa Papua. Anggota ormas tanpa tersentuh
hukum setelah meneriaki dengan kata-kata rasis terhadap mahasiswa Papua. Namun, kali ini,
pemerintah dan aparat kepolisian Indonesia salah perhitungan. Formula itu sudah tidak mempan.
Dua hari usai kejadian, tindakan rasisme itu direspons luar biasa di Papua.
Tepat sehari setelah negara ini merayakan kemerdekaan ke-74, Papua bergolak. Dari
Jayapura, Manokwari, Nabire, Sorong, lalu menyusul Fakfak dan Mimika. Ujaran rasis di
Surabaya memicu kemarahan. Mereka melakukan aksi besar-besaran. Membakar. Merusak.
Bahkan, di Fakfak, terjadi pertikaian di jalan antara orang Papua dengan orang Papua, salah
satunya mewakili milisi pro-NKRI.
13. Respon Gagap Pemerintah Indonesia terhadap Kasus Rasis Orang Papua
Sehari setelah ujaran rasis, Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parwansa sibuk dengan
peringatan kemerdekaan RI ke-74. Pagi itu ia menjadi inspektur upacara pengibaran bendera
Merah Putih di Gedung Negara Grahadi, Surabaya. Dalam pidatonya, Khofifah sama sekali tidak
menyinggung rasisme terhadap mahasiswa Papua di daerahnya. Sore hari, Khofifah
mengundang tukang becak, anak yatim dan yatim-piatu, difabel dan lansia, sebagai tamu khusus
dalam upacara penurunan bendera. Malam hari peringatan kemerdekaan, ia menggelar
kemeriahan dengan hiburan penyanyi dangdut Via Vallen.
Dari sore sampai malam, tidak ada pernyataan apa pun dari Khofifah terkait rasisme itu.
Barulah sampai esok hari, setelah Papua bergolak, Khofifah angkat bicara soal rasisme di
Surabaya. Ia didampingi Kapolri Jendral Tito Karnavian mengucapkan permintaan maaf terhadap
warga Papua atas ujaran rasisme yang terjadi di wilayahnya. "Saya ingin menyampaikan bahwa
itu sifatnya personal, itu tidak mewakili masyarakat Jawa Timur. Oleh karena itu, saya ingin
menyampaikan permohonan maaf atas nama masyarakat Jawa Timur. Sekali lagi, itu tidak
mewakili masyarakat Jawa Timur," katanya.
Pada hari yang sama, Presiden Joko Widodo juga merespons rasisme di Surabaya yang
berakibat kerusuhan di Manokwari: “Saudara-saudaraku, pace, mace, mama-mama di Papua, di
Papua Barat, saya tahu ada ketersinggungan. Oleh sebab itu, sebagai saudara sebangsa dan
setanah air yang paling baik adalah saling memaafkan." Polisi segera merespons isu rasisme.
Namun, masih menggunakan formula lama. Alih-alih menangkap pelaku rasisme atau meminta
maaf, polisi sempat menyangkal rasisme itu dan berencana memburu penyebar video ujaran
rasis terhadap mahasiswa Papua. "Mana yang rasis? Tidak ada tindakan rasis," kata Kepala Biro
Penerangan Masyarakat Mabes Polri Brigjen Dedi Prasetyo."Justru kami evakuasi agar tidak
terjadi bentrokan dan jatuh korban. Itu yang penting."
Saat demonstrasi besar-besaran di Papua, Dedi menutupi situasinya dengan berkata para
pendemo hanya terprovokasi media sosial. Dengan logika itu, maka Tim Siber Bareskrim
melakukan profiing pemilik akun penyebar informasi. Per 20 Agustus 2019, sudah ada lima akun
yang "didalami" polisi. Pada saat bersamaan, polisi merespons aksi di Papua dengan menambah
pasukan. Dedi mengatakan kepolisian Indonesia akan menambah 6 satuan setingkat kompi—
setara 600 personel—demi "mengamankan objek vital" di Papua. Sementara polisi menambah
jumlah pasukan, Kementerian Komunikasi dan Informatika memperlambat jaringan internet di
beberapa wilayah di Papua. Menurut Pelaksana Tugas Kepala Biro Humas Kominfo Ferdinandus
Setu, throttling itu atas "permintaan dari Polri."
14. Soal Ucapan Rasis kepada Mahasiswa Papua, Staf Kecamatan Ngaku Spontan
Surabaya - Polisi tengah memeriksa tersangka staf kecamatan yang bertindak rasis
terhadap mahasiswa Papua, SA. Menurut sang kuasa hukum, apa yang diucapkan SA hanya
kata-kata spontan belaka. Sebelumnya, SA ditetapkan sebagai tersangka karena melontarkan
ujaran rasialisme di Asrama Mahasiswa Papua (AMP) di Jalan Kalasan Surabaya. Aksi SA
terekam dalam video. Pemeriksaan SA dilakukan sejak kemarin siang hingga tengah malam dan
dilanjutkan hari ini. Sementara itu, kuasa hukum SA, Ari Hans Simaela, mengatakan ujaran
tersebut terlontar secara spontan.
Ia menambahkan ujaran tersebut terucap tanpa disengaja. Menurut Ari, umpatan semacam
itu lazim dilontarkan di Surabaya, tanpa maksud merendahkan. "Itu hanya spontan sebagai orang
yang marah tiba-tiba mengumpat dan betul-betul mengumpat. Bukan untuk menistakan atau
bahasa kerennya diskriminasi ras, tidak seperti itu," kata Ari di Mapolda Jatim, Jalan Ahmad Yani
Surabaya, Selasa (3/9/2019). Selain itu, Ari mencontohkan kliennya spontan mengucap bahasa
slang umpatan Suroboyoan atau misuh. Umpatan ini, menurutnya, kerap diucapkan warga
Surabaya saat emosional. "Jadi kaya orang Surabaya kalau misuh (mengumpat) seperti apa sih.
Spontan, kalau kita marah kan 'kebun binatang' keluar kan, ya seperti itulah," tambahnya.
Sementara itu, Ari membenarkan kliennya merupakan aparatur sipil negara di Pemkot
Surabaya, tepatnya sebagai staf di kecamatan. "Betul, statusnya di Pemkot Surabaya sebagai
ASN. Silakan cek saja dulu," ungkapnya. Dalam kesempatan yang sama, Ari mengatakan
kliennya menitipkan ucapan permintaan maaf kepada semua masyarakat,
khususnya mahasiswa Papua. "Pemeriksaan dilanjutkan, dan saya sampaikan, pesan dari klien
kami, dirinya meminta maaf kepada semua masyarakat. Dirinya sama sekali tidak melakukan
tindak diskriminasi pada ras atau suku tertentu," pungkas Ari.
Kekerasan langsung berkaitan dengan kekerasan fisik yang pelaku dan korbannya bisa
secara jelas terlihat. Contohnya adalah pembunuhan dan penyerangan. Sementara kekerasan
struktural berkaitan dengan adanya struktur atau hukum tertentu yang menghalangi suatu
kelompok mendapatkan hak atau kesempatan yang [Link], kekerasan kultural, yaitu
adanya karakter, norma, atau budaya yang membenarkan terjadinya kekerasan langsung atau
strukural terhadap suatu kelompok. Lalu dari ketiga bentuk kekerasan tersebut, mana yang
dialami oleh masyarakat Papua? Jawabannya bisa kita temukan dalam penelitian yang dilakukan
oleh Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI).
Menurut penelitian LIPI, yang dipublikasikan dalam buku berjudul Papua Road Map,
setidaknya ada empat hal yang menjadi sumber konflik Papua. Pertama, marjinalisasi dan
tindakan diskriminatif terhadap orang asli Papua yang disebabkan oleh perkembangan ekonomi,
kebijakan kultural, dan imigrasi ke Papua sejak tahun 1970. Pada tahun 2010-2011, jumlah
penduduk di Papua didominasi oleh warga pendatang. Tidak hanya masalah komposisi
penduduk, warga pendatang juga mendominasi perekonomian di Papua, khusunya dalam bidang
agrikultur dan jasa.
Selain itu sebagian masyarakat Papua memiliki pandangan bahwa ketika mereka
mengekspresikan budayanya, hal tersebut akan dilihat sebagai bentuk separatisme ataupun
perlawanan terhadap negara. Kesan kecurigaan negara terhadap budaya Papua ini diperkuat
dengan adanya Peraturan Pemerintah Nomor 77 tahun 2007 yang melarang penggunaan simbol-
simbil kulutral tertentu.
Tidak hanya di tanah Papua, diskriminasi ini juga dialami oleh masyarakat Papua yang
pergi ke pulau lain. Permasalahan pun semakin kompleks karena masyarakat di pulau-pulai lain
juga menjadi sumber diskriminasi. Mahasiswa asal Papua misalnya, dalam
beberapa kesempatan kerap ditolak ketika mencari tempat indekos di Yogyakarta hanya karena
berasal dari Papua. Bentuk rasisme ini terjadi lantaran adanya stigma negatif dan generalisasi
atau stereotype masyarakat terhadap perilaku orang Papua.
Rasisme juga diduga dilakukan oleh aparat keamanan yang sering kali mendatangi
asrama mahasiswa Papua dengan kekuatan lengkap tanpa alasan yang jelas selain hanya
karena dasar kecurigaan terhadap aktivitas mahasiswa Papua. Tidak berhenti di situ, tindakan
pembubaran ataupun penangkapan yang dilakukan aparat terhadap masyarakat Papua juga
beberapa kali dinilai berlebihan, termasuk apa yang terjadi di Surabaya beberapa hari lalu.
Tindakan diskriminasi dan rasisme pada akhirnya membuat sebagian masyarakat Papua
merasa dimarjinalkan dan mempertajam stigma yang ada. Sumber kedua adalah gagalnya
pembangunan dalam hal pendidikan, kesehatan, dan kesejahteraan ekonomi. Sebagian
masyarakat Papua tidak merasakan manfaat atau dilibatkan dalam pembangunan di Papua,
utamanya terkait eksploitasi sumber daya alam.
Hal ini masih terlihat pada Indeks Pembangunan Manusia Papua yang meskipun
meningkat tiap tahunnya masih menjadi yang terendah di Indonesia. Rendahnya IPM ini juga
menjadi penyebab kenapa masyarakat asli Papua sulit bersaing dengan warga pendatang. Selain
itu pembangunan yang dilakukan pemerintah pusat dinilai lebih didasari oleh keperluan untuk
menjaga integrasi wilayah nasional dan untuk memastikan bahwa Papua tetap menjadi bagian
Indonesia. Hal ini menyebabkan kebijakan pemerintah pusat terhadap Papua lebih didominasi
oleh pendekatan militeristik dan intelijen.
Sumber ketiga berkaitan dengan adanya perbedaan pandangan politik antara pemerintah
dengan masyarakat Papua, serta di antara masyarakat Papua itu sendiri. Perbedaan ini terjadi
karena tidak adanya dialog yang pada akhirnya memperparah rasa ketidakpercayaan, bahkan
penolakan di antara pemerintah dan berbagai faksi di masyarakat Papua sendiri. Perbedaan
pandangan dan tidak adanya dialog ini utamanya terlihat terjadi antara pemerintah dengan
kelompok bersenjata Organisasi Papua Merdeka (OPM). Keduanya terus saling serang
dan menolak segala bentuk negosiasi.
Pandangan mengenai buruknya kondisi HAM di Papua juga datang dari Pendeta Benny
Giay, Ketua Sinode Gereja Kemah Injil. Giay melihat bahwa Jokowi hanya fokus kepada
pembangunan infrastruktur dan dengan sengaja tidak menyentuh permasalahan HAM di
Papua. Tidak diselesaikannya kasus-kasus dugaan pelanggaran HAM di Papua ini menyebabkan
adanya kesan impunitas (kekebalan hukum) terhadap tindakan represif aparat keamanan.