0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
156 tayangan16 halaman

Asuhan Keperawatan pada Pasien COS

Tiga kalimat ringkasan dokumen tersebut adalah: Laporan ini membahas tentang definisi, etiologi, manifestasi klinis, dan penatalaksanaan keperawatan pada pasien dengan diagnosis cidera otak sedang di Ruang Bougenville RSUD Mardi Waluyo Kota Blitar.

Diunggah oleh

Shinta Gitayu
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
156 tayangan16 halaman

Asuhan Keperawatan pada Pasien COS

Tiga kalimat ringkasan dokumen tersebut adalah: Laporan ini membahas tentang definisi, etiologi, manifestasi klinis, dan penatalaksanaan keperawatan pada pasien dengan diagnosis cidera otak sedang di Ruang Bougenville RSUD Mardi Waluyo Kota Blitar.

Diunggah oleh

Shinta Gitayu
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

LAPORAN PENDAHULUAN DAN ASUHAN KEPERAWATAN

DEPARTEMEN KEPERAWATAN MEDIKAL BEDAH


PADA PASIEN DENGAN DIAGNOSIS
COS (CIDERA OTAK SEDANG)
DI RUANG BOUGENVILLE
RSUD MARDI WALUYO
KOTA BLITAR

OLEH :
SHINTA PUTRI GITAYU
NIM. 40219018

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN PROFESI NERS


FAKULTAS ILMU KESEHATAN
INSTITUT ILMU KESEHATAN BHAKTI WIYATA
KEDIRI
2019
LEMBAR PENGESAHAN

NAMA : SHINTA PUTRI GITAYU


NIM : 40219018
PRODI : PENDIDIKAN PROFESI NERS

PEMBIMBING INSTITUSI PEMBIMBING LAHAN (CI)

(..................................................) (................................................)
LAPORAN PENDAHULUHAN DAN
ASUHAN KEPERAWATAN MEDIKAL BEDAH
PADA PASIEN COS (CIDERA OTAK SEDANG)

A. Definisi
Menurut Brain Injury Assosiation of America (2009), cedera kepala
adalah suatu kerusakan pada kepala, bukan bersifat kongenital ataupun
degeneratif, tetapi disebabkan oleh serangan atau benturan fisik dari luar,
yang dapat mengurangi atau mengubah kesadaran yang mana menimbulkan
kerusakan kemampuan kognitif dan fungsi fisik.
Cedera kepala dapat di klasifikasikan menurut tingkat kesadaran
dengan nilai GCS, yaitu :

1. Cidera kepala ringan


a. Nilai GCS 13-15
b. Dapat terjadi kehilangan kesadaran tetapi kurang dari 30 menit
c. Tidak ada kontusio tengkorak, tidak ada fraktur cerebral, hematoma
(Andra&Yessie, 2012)
2. Cidera kepala sedang
a. Nilai GCS 9-12
b. Saturasi O2 >90% dan tekanan darah systole >100 mmHg
c. Dapat terjadi kehilangan kesadaran >30 menit dalam 24 jam
d. Dapat terjadi fraktur tengkorak ( Padila, 2012)
3. Cidera kepala berat
a. Nilai GCS 8-3
b. Kehilangan kesadaran atau terjadi amnesia lebih dari 24 jam
c. Juga meliputi kontusio serebral , laserasi atau hematoma intracranial
(Andra&Yessie, 2012 )
B. Etiologi
Rosjidi (2007), penyebab cedera kepala antara lain:
1. Kecelakaan, jatuh, kecelakaan kendaraan bermotor atau sepeda, dan
mobil.
2. Kecelakaan pada saat olah raga, anak dengan ketergantungan.
3. Cedera akibat kekerasan.
4. Benda tumpul, kerusakan terjadi hanya terbatas pada daerah dimana dapat
merobek otak.
5. Kerusakan menyebar karena kekuatan benturan, biasanya lebih berat
sifatnya.
6. Benda tajam, kerusakan terjadi hanya terbatas pada daerah dimana dapat
merobek otak, misalnya tertembak peluru atau benda tajam.
C. Macam- Macam Cedera Kepala
Menurut, Brunner dan Suddarth, (2001) cedera kepala ada 2 macam yaitu:
a. Cedera kepala terbuka
Luka kepala terbuka akibat cedera kepala dengan pecahnya tengkorak atau
luka penetrasi, besarnya cedera kepala pada tipe ini ditentukan oleh massa
dan bentuk dari benturan, kerusakan otak juga dapat terjadi jika tulang
tengkorak menusuk dan masuk kedalam jaringan otak dan melukai
durameter saraf otak, jaringan sel otak akibat benda tajam/ tembakan,
cedera kepala terbuka memungkinkan kuman pathogen memiliki abses
langsung ke otak.
b. Cedera kepala tertutup
Benturan kranial pada jaringan otak didalam tengkorak ialah goncangan
yang mendadak. Dampaknya mirip dengan sesuatu yang bergerak cepat,
kemudian serentak berhenti dan bila ada cairan akan tumpah. Cedera
kepala tertutup meliputi: kombusio gagar otak, kontusio memar, dan
laserasi.

D. Patofisiologi

Trauma yang disebabkan oleh benda tumpul dan benda tajam atau
kecelakaan dapat menyebabkan cidera kepala. Cidera otak primer adalah
cidera otak yang terjadi segera setelah trauma. Cidera kepala primer dapat
menyebabkan kontusio dan laserasi. Cidera kepala ini dapat berlanjut menjadi
cidera kepala sekunder. Akibat trauma terjadi peningkatan kerusakan sel otak
dan terjadi gangguan perfusi otak. Peningkatan rangsangan simpati
menyebabkan peningkatan tahanan vaskuler sisitemik dan peningkatan
tekanan darah. Penurunan tekanan pembuluh darah di daerah pulmonal
mengakibatkan peningkatan tekanan tekanan hidrolistik sehingga terjadi
kebocoran cairan kapiler. Trauma kepala dapat menyebabkan oedem dan
hematoma pada serebral sehingga menyebabkan peningkatan tekanan intra
kranial. Sehingga pasien akan menyebabkan pusingserta nyeri hebat pada
daerah kepala (Padila, 2012).

E. Manifestasi Klinis
Gejala-gejala yang ditimbulkan tergantung pada besarnya dan distribusi
cedera otak.

1. Cedera kepala ringan menurut Sylvia A (2005)


a. Kebingungan saat kejadian dan kebinggungan terus menetap setelah
cedera.
b. Pusing menetap dan sakit kepala, gangguan tidur, perasaan cemas.
c. Kesulitan berkonsentrasi, pelupa, gangguan bicara, masalah tingkah
laku
Gejala-gejala ini dapat menetap selama beberapa hari, beberapa
minggu atau lebih lama setelah konkusio cedera otak akibat trauma ringan.

2. Cedera kepala sedang, Diane C (2002)


a. Kelemahan pada salah satu tubuh yang disertai dengan kebinggungan
atau hahkan koma.
b. Gangguan kesedaran, abnormalitas pupil, awitan tiba-tiba defisit
neurologik, perubahan TTV, gangguan penglihatan dan pendengaran,
disfungsi sensorik, kejang otot, sakit kepala, vertigo dan gangguan
pergerakan.
3. Cedera kepala berat, Diane C (2002)
a. Amnesia tidak dapat mengingat peristiwa sesaat sebelum dan sesudah
terjadinya penurunan kesehatan.
b. Pupil tidak aktual, pemeriksaan motorik tidak aktual, adanya cedera
terbuka, fraktur tengkorak dan penurunan neurologik.
c. Nyeri, menetap atau setempat, biasanya menunjukan fraktur.
d. Fraktur pada kubah kranial menyebabkan pembengkakan pada area
tersebut.
F. Komplikasi
Rosjidi (2007), kemunduran pada kondisi klien diakibatkan dari perluasan
hematoma intrakranial edema serebral progresif dan herniasi otak, komplikasi
dari cedera kepala adalah;
1. Edema pulmonal
Komplikasi yang serius adalah terjadinya edema paru, etiologi
mungkin berasal dari gangguan neurologis atau akibat sindrom distress
pernafasan dewasa. Edema paru terjadi akibat refleks cushing/perlindungan
yang berusaha mempertahankan tekanan perfusi dalam keadaan konstan.
Saat tekanan intrakranial meningkat tekanan darah sistematik meningkat
untuk memcoba mempertahankan aliran darah keotak, bila keadaan semakin
kritis, denyut nadi menurun bradikardi dan bahkan frekuensi respirasi
berkurang, tekanan darah semakin meningkat. Hipotensi akan memburuk
keadan, harus dipertahankan tekanan perfusi paling sedikit 70 mmHg, yang
membutuhkan tekanan sistol 100-110 mmHg, pada penderita kepala.
Peningkatan vasokonstriksi tubuh secara umum menyebabkan lebih banyak
darah dialirkan ke paru, perubahan permiabilitas pembulu darah paru
berperan pada proses berpindahnya cairan ke alveolus. Kerusakan difusi
oksigen akan karbondioksida dari darah akan menimbulkan peningkatan TIK
lebih lanjut.
2. Peningkatan TIK
Tekanan intrakranial dinilai berbahaya jika peningkatan hingga 15
mmHg, dan herniasi dapat terjadi pada tekanan diatas 25 mmHg. Tekanan
darah yang mengalir dalam otak disebut sebagai tekan perfusi rerebral. yang
merupakan komplikasi serius dengan akibat herniasi dengan gagal
pernafasan dan gagal jantung serta kematian.
3. Kejang
Kejang terjadi kira-kira 10% dari klien cedera otak akut selama fase
akut. Perawat harus membuat persiapan terhadap kemungkinan kejang
dengan menyediakan spatel lidah yang diberi bantalan atau jalan nafas oral
disamping tempat tidur klien, juga peralatan penghisap. Selama kejang,
perawat harus memfokuskan pada upaya mempertahankan, jalan nafas paten
dan mencegah cedera lanjut. Salah satunya tindakan medis untuk mengatasi
kejang adalah pemberian obat, diazepam merupakan obat yang paling
banyak digunakan dan diberikan secara perlahan secara intavena. Hati-hati
terhadap efek pada system pernafasan, pantau selama pemberian diazepam,
frekuensi dan irama pernafasan.
4. Kebocoran cairan serebrospinalis
Adanya fraktur di daerah fossa anterior dekat sinusfrontal atau dari
fraktur tengkorak basilar bagian petrosus dari tulangan temporal akan
merobek meninges, sehingga CSS akan keluar. Area drainase tidak boleh
dibersihkan, diirigasi atau dihisap, cukup diberi bantalan steril di bawah
hidung atau telinga. Instruksikan klien untuk tidak memanipulasi hidung
atau telinga.
5. Infeksi
G. Pemeriksaan Penunjang
1. Foto polos tengkorak
2. Angiografi serebral
3. CT Scan
H. Penatalaksanaan
Menurut Pedoman Tatalaksana Cidera Otak 2014 :
1. Stabilitasi airway, breathing, sirkulasi
2. Melakukan anamneses, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan neurologis
3. Pemasangan cateter untuk mengevaluasi produk urin
4. Terapi medika mentosa :
a. Cairan IV NS 0,9 1,5 ml/kgBB/jam
b. Obat simtomatik melalui IV
c. Obat anti kejang
d. Obat analgesic
5. Pembedahan dilakukan bila terjadi fraktur pada tulang tengkorak.
ASUHAN KEPERAWATAN

1. Riwayat kesehatan
Waktu kejadian, penyebab trauma, posisi saat kejadian, status kesadaran saat
kejadian, pertolongan yang diberikan segera setelah kejadian.
2. Pemeriksaan fisik
a. Sistem respirasi: Suara nafas, pola nafas (kusmaull, cheyene stokes, biot,
hiperventilasi, ataksik), nafas berbunyi, stridor, tersedak, ronki, mengi positif (
kemungkinan karena aspirasi ).
b. Kardiovaskuler: Pengaruh perdarahan organ atau pengaruh PTIK
c. Kemampuan komunikasi: Kerusakan pada hemisfer dominan, disfagia atau afasia
akibat kerusakan saraf hipoglosus dan saraf fasialis.
d. Psikososial:Data ini penting untuk mengetahui dukungan yang didapat pasien dari
keluarga.
e. Aktivitas/istirahat
S : Lemah, lelah, kaku dan hilang keseimbangan
O : Perubahan kesadaran, letargi, hemiparese, guadriparese, goyah dalam
berjalan (ataksia), cidera pada tulang dan kehilangan tonus otot.
f. Sirkulasi
O : Tekanan darah normal atau berubah (hiper/normotensi), perubahan frekuensi
jantung nadi bradikardi, takhikardi dan aritmia.
g. Integritas Ego
S : Perubahan tingkah laku/kepribadian
O : Mudah tersinggung, delirium, agitasi, cemas, bingung, impulsive dan depresi
h. Eliminasi
O : BAB/BAK inkontinensia/disfungsi.
i. Makanan/cairan
S : Mual, muntah, perubahan selera makan
O : Muntah (mungkin proyektil), gangguan menelan (batuk, disfagia ).
j. Neurosensori
S : Kehilangan kesadaran sementara, vertigo, tinitus, kehilangan pendengaran,
perubahan penglihatan, diplopia, gangguan pengecapan/pembauan.
O : Perubahan kesadara, koma. Perubahan status mental (orientasi, kewaspadaan,
atensi dan kinsentarsi) perubahan pupil (respon terhadap cahaya), kehilangan
penginderaan, pengecapan dan pembauan serta pendengaran. Postur (dekortisasi,
desebrasi), kejang. Sensitive terhadap sentuhan / gerakan.
k. Nyeri/Keyamanan
S : Sakit kepala dengan intensitas dan lokai yang berbeda.
O : Wajah menyeringa, merintih, respon menarik pada rangsang nyeri yang
hebat, gelisah
l. Keamanan
S : Trauma/injuri kecelakaan
O : Fraktur dislokasi, gangguan penglihatan, gangguan ROM, tonus otot hilang
kekuatan paralysis, demam, perubahan regulasi temperatur tubuh.
m. Penyuluhan/Pembelajaran
Riwayat penggunaan alcohol/obat-obatan terlarang (Doenges, 1999).
Diagnosis Keperawatan
1. Resiko perfusi jaringan serebral tidak efektif b.d cedera kepala
2. Nyeri akut b.d agen pencedera fisiologis
3. Gangguan pertukaran gas b.d PH arteri menurun
4. Pola nafas tidak efektif b.d gangguan neurologis
5. Gangguan mobilitas fisik b.d gangguan sensori persepsi
6. Resiko infeksi b.d port de entry kuman
7. Resiko cidera b.d perubahan fungsi psikomotor

Dx 1 Resiko perfusi jaringan serebral b.d cedera kepala

SLKI SIKI

Tujuan : Manjemen peningkatan tekanan


intrakranial
Setelah dilakukan tindakan
keperawatan diharapkan Obseervasi
masalah resiko perfusi
jaringan serebral dapat 1. Identifikasi penyebab peningkatan TIK
menurun (misal : lesi, ganggguan metabolisme,
edema serebral)
Kriteria hasil : 2. Monitor tanda dan gejala peningkatan
TIK ( TD meningkat, penurunan
- Tingkat kesadaran kesadaran, tekanan nadi melebar, pola
meningkat napas ireguler )
- Kognitif meningkat 3. Monitor MAP
- TIK menurun 4. Monitor CVP
- Sakit kepala 5. Monitor PAP jika perlu
menurun 6. Monitor ICP (intra cranial pressure) jika
- Gelisah menurun tersedia
- Agitasi menurun 7. Monitor status pernapasan
- Demam menurun 8. Monitor intake dan output cairan
- Nilai rata rata 9. Monitor cairan serebrospinalis
tekanan darah
membaik Terapeutik
- Tekanan darah
sisitolik membaik 1. Minimalkan stimulasi dengan
- Tekanan darah menyediakan lingkungan yang tenang
diastolic membaik 2. Berikan posisi semi fowler
3. Hindari maneuver valsava
4. Cegah terjadinya kejang
5. Hindari penggunaan PEEP
6. Atur ventilator
7. Pertahankan suhu tubuh normal
Kolaborasi
1. Kolaborasi pemberian sedasi dan anti
konvulsan
2. Kolaborasi pemberian diuretic osmotic
3. Kolaborasi pemberian pelunak tinja

Dx 2 nyeri akut b.d agen pecedera fisiologis

SLKI SIKI
Tujuan : Observasi :
Setelah dilakukan tindakan 1. Identifikasi lokasi nyeri,
keperawatan 3x24 jam karakteristik, durasi,
diharapkan nyeri teratasi frekuensi, kualitas, intensitas,
Kriteria hasil : skala nyeri
- Skala nyeri menurun 2. Identifikasi respon nyeri
- Tidak ada keterbatasan nonverbal
dalam melakukan 3. Identifikasi faktor yang
mobilisasi memperberat dan
- Luka membaik memperingan nyeri
- Pasien merasa nyaman Terapeutik
1. Berikan teknik
nonfarmakologis untuk
mengurangi rasa nyeri (seperti
: TENS, relaksasi distraksi,
terapi music, dll)
2. Control lingkungan yang
memperberat rasa nyeri (mis:
suhu ruangan, pencahayaan,
kebisingan )
Edukasi
1. Jelaskan penyebab , periode,
dan pemicu nyeri
2. Jelaskan strategi meredakan
nyeri
Kolaborasi
1. Kolaborasi dengan tim medis
dalam pemberian analgesic

Dx 3 gangguan pertukaran gas b.d ph arteri menurun

Tujuan dan Kriteria Hasil Intervensi


NOC : NIC :
 Respiratory Status : Gas Airway Management
exchange  Buka jalan nafas, guanakan teknik chin
 Respiratory Status : lift atau jaw thrust bila perlu
ventilation  Posisikan pasien untuk memaksimalkan
 Vital Sign Status ventilasi
setelah dilakukan tindakan  Identifikasi pasien perlunya
keperawatan selama 2 x 24 jam pemasangan alat jalan nafas buatan
pasien menunjukkan gangguan  Pasang mayo bila perlu
pertukaran gas teratasi  Lakukan fisioterapi dada jika perlu
dibuktikan dengan kriteria hasil
:  Keluarkan sekret dengan batuk atau
 Mendemonstrasikan suction
peningkatan ventilasi dan  Auskultasi suara nafas, catat adanya
oksigenasi yang adekuat suara tambahan
 Memelihara kebersihan paru  Lakukan suction pada mayo
paru dan bebas dari tanda  Berikan bronkodilator bila perlu
tanda distress pernafasan  Barikan pelembab udara
 Mendemonstrasikan batuk  Atur intake untuk cairan
efektif dan suara nafas yang mengoptimalkan keseimbangan.
bersih, tidak ada sianosis
 Monitor respirasi dan status O2
dan dyspneu (mampu
Respiratory Monitoring
mengeluarkan sputum,
 Monitor rata – rata, kedalaman, irama
mampu bernafas dengan
dan usaha respirasi
mudah, tidak ada pursed
 Catat pergerakan dada,amati
lips)
kesimetrisan, penggunaan otot
 Tanda tanda vital dalam
tambahan, retraksi otot supraclavicular
rentang normal
dan intercostal
 Monitor suara nafas, seperti dengkur
 Monitor pola nafas : bradipena,
takipenia, kussmaul, hiperventilasi,
cheyne stokes, biot
 Catat lokasi trakea
 Monitor kelelahan otot diagfragma
(gerakan paradoksis)
 Auskultasi suara nafas, catat area
penurunan / tidak adanya ventilasi dan
suara tambahan
 Tentukan kebutuhan suction dengan
mengauskultasi crakles dan ronkhi pada
jalan napas utama
 Auskultasi suara paru setelah tindakan
untuk mengetahui hasilnya

Dx 4 Pola nafas tidak efektif b.d gangguan neurologis

Tujuan dan Kriteria Hasil Intervensi


NOC NIC
 Respiratory status : Airway Management
Ventilation  Buka jalan nafas, guanakan teknik chin lift
 Respiratory status : Airway atau jaw thrust bila perlu
patency  Posisikan pasien untuk memaksimalkan
 Vital sign Status ventilasi
setelah dilakukan tindakan  Identifikasi pasien perlunya pemasangan
keperawatan selama 2 x 24 alat jalan nafas buatan
jam pasien menunjukkan  Pasang mayo bila perlu
keefektifan pola nafas  Lakukan fisioterapi dada jika perlu
dibuktikan dengan kriteria  Keluarkari sekret dengan batuk atau suction
hasil :  Auskultasi suara nafas, catat adanya suara
 Mendemonstrasikan batuk tambahan
efektif dan suara nafas  Lakukan suction pada mayo
yang bersih, tidak ada  Berikan bronkodilator bila perlu
sianosis dan dyspneu  Berikan pelembab udara Kassa basah
1. (mampu
D mengeluarkan  NaCl Lembab
sputum,
x mampu bernafas  Atur intake untuk cairan, mengoptimalkan
dengan mudah, tidak ada keseimbangan.
pursed lips)  Monitor respirasi dan status O2
 Menunjukkan
5 jalan nafas Oxygen Therapy
yang paten (klien tidak  Bersihkan mulut, hidung dan secret trakea
merasa tercekik, irama  Pertahankan jalan nafas yang paten
nafas
g frekuensi pernafasan  Atur peralatan oksigenasi
dalam rentang normal,
a ada suara nafas  Monitor aliran oksigen
tidak
abnormal)  Pertahankan posisi pasien
n
 Observasi adanya tanda tanda hipoventilasi
 Tanda Tanda vital dalam
g
rentang normal (tekanan  Monitor adanya kecemasan pasien terhadap
darah,
g nadi, pernafasan) oksigenasi
Vital sign Monitoring
u  Monitor TD, nadi, suhu, dan RR
a  Catat adanya fluktuasi tekanan darah
 Monitor Vital Sign saat pasien berbaring,
n duduk, atau berdiri
m  Auskultasi Tekanan Darah pada kedua
lengan dan bandingkan
o  Monitor TD, nadi, RR, sebelum, selama,
b dan setelah aktivitas
 Monitor kualitas dari nadi
i
 Monitor frekuensi dan irama pernapasan
l  Monitor suara paru
i  Monitor pola pernapasan abnormal
 Monitor suhu, warna, kelembaban kulit
t  Monitor sianosis perifer
a  Monitor adanya cushing triad (tekanan nadi
yang melebar, bradikardi, peningkatan
2. g sistolik)
d  Identifikasi penyebab perubahan vital sign
Dx. 5 Gangguan mobilitas fisik b.d gangguan sensori persepsi

SLKI SIKI

Tujuan : Observasi
1. Identifikasi adanya nyeri atau keluhan
Setelah dilakukan tindakan fisik lainnya
keperawatan diharapkan 2. Identifikasi toleransi fisik melakukan
masalah gangguan mobilitas ambulasi
fisik dapat menurun 3. Monitor kondisi umum selama melakukan
ambulasi
Kriteria Hasil :
Terapeutik
- Pergerakan 1. Fasilitasi aktivitas ambulasi dengan alat
ekstremitas bantu (mis : tongkat, kruk)
meningkat 2. Fasilitasi mobilisasi fisik
- Kekuatan otot 3. Libatkan keluarga untuk membantu pasien
meningkat dalam meningkatkan ambulasi
- Rentang gerak
(ROM) meningkat Edukasi
- Kelemahan fisik 1. Jelaskan tujuan dan prosedur ambulasi
menurun 2. Anjurkan melakukan ambulasi dini
3. Ajarkan ambulasi sederhana yang harus
D dilakukan (mis : berjalan dari tempat tidur
ke kursi roda, berjalan dari tempat tidur ke
x kamar mandi, berjalan sesuai toleransi)

Dx. 6 resiko infeksi b.d port de entry kuman

NOC NIC
Tujuan : - Observasi tanda tanda
Setelah dilakukan tindakan adanya infeksi (tumor,
keperawatan 3x24 jam diharapkan kalor, dolor, rubor, fusio
masalah dapat teratasi lesa)
- Lakukan rawat luka
Kriteria hasil : (tutup luka dengan kassa
- Tidak ada tanda tanda infeksi steril)
(tumor, kalor, dolor, rubor, - Kolaborasi dengan tim
fusio lesa) medis dalam pemeberian
- Pemulihan pascabedah (rawat antibiotik
luka)
- Perfusi jaringan perifer normal

Dx. 7 Resiko Cidera b.d perubahan fungsi psikomotor

SLKI SDKI

Tujuan : Manajemen keselamatan


lingkungan
Setelah dilakukan tindakan
keperawatan diharapkan masalah resiko Observasi
cidera teratasi
1. Identifikasi kebutuhan
Kriteria hasil : keselamatan
2. Monitor perubahan status
- Toleransi aktivitas meningkat keamanan lingkungan
- Nafsu makan meningkat
- Kejadian cedera menurun Terapiutik
- Tidak ada luka atau lecet
- Ketegangan otot menurun 1. Hilangkan bahaya
- Tidak ada fraktur keselamatan lingkungan
- Perdarahan menurun 2. Modifikasi lingkungan
- Ekspresi wajah kesakitan untuk meminimalkan
menurun bahaya dan resiko
- Agitasi menurun 3. Sediakan alat bantu
- Gangguan mobilitas menurun keamanan lingkungan (
- Gangguan kognitif menurun mis : pegangan tangan )
- Tekanan darah membaik 4. Gunakan perangkat
- Nadi membaik pelindung ( pengekangan
- Pola napas membaik fisik, rel samping, pintu
terkunci, pagar)
Kolaborasi :
1. Ajarkan individu,
keluarga, dan kelompok
resiko tinggi bahaya
lingkungan
DAFTAR PUSTAKA

Andra, S. W., & Yessie, M. P. 2013. KMB 1 Keperawatan Medikal Bedah


Keperawatan Dewasa Teori dan Contoh Askep. Yogyakarta: Nuha Medik.

Baughman, Diane [Link] Medikal Bedah, Brunner and Suddarth.


Jakarta : EGC

Brain Injury Association of America.2009. Types of Brain Injury.


[Link] of brain injury. html. [Accessed 13
September 2013.

Nanda. 2015. Diagnosis Keperawatan Definisi & Klasifikasi 2015-2017 Edisi 10


Editor T Heather Herdmand, Shigemi Komitsuru. Jakarta: EGC.

PPNI. (2017). Standar Diagnosa Keperawatan Indonesia : Definisi dan Indikator


Diagnostik (1st ed.). Jakarta: DPP PPNI.

PPNI. (2018). Standar Intervensi Keperawatan Indonesia : Definisi dan Tindakan

Padila. 2012. BukuAjar :KeperawatanMedikalBedah. Yogyakarta :NuhaMedika.

Price, A. Sylvia, Lorraine Mc. Carty Wilson. [Link] :KonsepKlinis


Proses-proses Penyakit, Edisi 6, (terjemahan), Peter Anugrah, EGC, Jakarta.

Rosjidi, C. H. 2007. AsuhanKeperawatanKliendenganCederaKepala. Yogyakarta.


Ardana Media.

Anda mungkin juga menyukai