LEMBAR PENGESAHAN
LAPORAN PRAKTIKUM
LABORATORIUM KIMIA DASAR
KIMIA ANALITIK KLASIK
”PENENTUAN TOTAL HARDNESS DALAM SAMPEL AIR”
Disusun oleh :
Nama : Setyawati Prihatini
NIM : 10 614 014
Kelompok : I (SATU)
Kelas : IIA
Telah diperiksa dan disahkan pada tanggal
..Juni 2010
Mengesahkan dan menyetujui,
Dosen Pembimbing
Zaenal Arifin ST, [Link]
NIP.
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Tujuan
Untuk mengetahui kadar total hardness yang terdapat di dalam sample air
dengan menggunakan metode kompleksometri.
1.2 Dasar Teori
1.2.1 Kesadahan
Kesadahan adalah suatu keadaan atau peristiwa terlarut ion-
ion tertentu di air sehingga menurunkan kualitas air baik secara
distribusi maupun penggunaannnya. Ion-ion tersebut yaitu Ca2+,
Mg2+, Mn2+, Fe2+, Si2+ dan semua kation yang bermuatan Z. Ion-ion
mampu bereaksi dengan sabun untuk presipirat dan anion-anion
yang ada untuk membentuk kerak. (Anonim, 2010)
Air sadah berarti air yang didalamnya terkandung ion-ion
kesadahan. Kesadahan air permukaan lebih kecil daripada air
tanah di daerah kapur, karena pada daerah tanah tersebut banyak
terkandung ion Ca2+ dan Mg2+. Berdasarkan sifatnya, air sadah
dibagi :
a) Air Sadah Sementara
Air sadah sementara adalah air sadah yang mengandung
Ca(HCO3)2 atau Mg(HCO2)2, air sadah sementara dapat
dipisahkan dengan cara pemanasan. Dimana reaksinya
adalah sebagai berikut :
Ca(HCO2)2 → CaCO2 + H2O + CO2
Mg(HCO3)2 → MgCO3 + H2O + CO2
b) Kesadahan Tetap
Air sadah yang mengandung MgCl2, CaCl2, MgSO4, CaSO4,
dan lain-lain. Air sadah dapat dihilangkan dengan
penambahan natrium karbonat. Dimana reaksinya adalah
sebagai berikut:
CaSO4 + NaCO3 → CaCO3 + Na2SO4
MgSO4 + Na2SO3 → MgCO3 + Na2SO4
Kesadahan total adalah jumlah ion-ion Ca 2+ dan Mg2+ yang
dapat ditentukan melalui titrasi EDTA dan menggunakan
indicator yang peka terhadap semua kation tersebut.
Kesadahan total dapat juga ditentukan dengan menggunakan
jumlah ion Ca2+ dan ion Mg2+ yang analisanya secara terpisah
misalnya AAS.
Kesadahan dapat dibagai menjadi 2 tipe, yaitu :
a) Kesadahan Kalsium dan Magnesium (Kesadahan Total)
Kalsium dan magnesium merupakan dua anggota dari
kelompok alkali logam. Kedua struktur ini mempunyai
struktur electron dari reaksi kimia yang sama. Besarnya
kesadahan kalsium dan magnesium dapat dihitung.
b) Kesadahan Karbonat dan Non Karbonat
Kesadahan karbonat ialah bagian kesadahan total yang secara
kimia ekivalen terhadap alkalinitas bikarbonat dan karbonat
dalam air. Jika CaCO3 sebagai alkalinitas dan kesadahan,
maka kesadahan karbonat ditentukan sebagai berikut:
Alkalinitas kesadahan total
Kesadahan karbonat (mg/l) = kesadahan total (mg/l)
Alkalinitas kesadahan total
Kesadahan karbonat (mg/l) = alkalinitas (mg/l)
1.2.2 Dampak Negatif Air Sadah
Air sadah membawa dampak negatif, yaitu :
Menyebabkan sabun tidak berbusa karena adanya hubungan
kimiawi antara kesadahan dengan molekul sabun hingga sifat
deterjen sabun hilang dan pemakaian sabun jadi lebih boros.
Menimbulkan kerak pada ketel yang dapat menyumbat katup-
katup ketel karena terbentuknya endapan kalsium karbonat pada
dinding atau katup ketel. Akibatnya hantaran panas pada ketel
air berkurang sehingga memboroskan bahan bakar.
(Anonim, 2009)
1.2.3 Metoda Penghilang Kesadahan
Metoda yang digunakan untuk menghilangkan kesadahan
pada air, yaitu:
Metoda Pengendapan Senyawa Ca2+ dan Mg2+
Dibutuhkan Ca(OH)2 dan natrium karbonat sebagai pereaksinya.
Hasil akhir reaksi akan membentuk endapan CaCO3 dan Mg CO3,
metoda ini berlangsung dalam waktu yang sangat cepat, dan
mempunyai efisiensi tinggi sehingga biaya yang dikeluarkan
relative kecil.
Metoda Pertukaran Ion Ca2+ dan Mg2+ dengan ion Na+, K+ danH+
Dibutuhkan instalasi yang lengkap. Reaksi berlangsung dalam
waktu yang sangat cepat yaitu dalam hitungan menit, namun
metoda ini membutuhkan biaya yang sangat tinggi sehingg hanya
dipakai dalam industri pengolahan air ketel.
1.2.4 Kalsium Karbonat (CaCO3)
Batu kapur merupakan sumber utama kalsium karbonat. Di
pasaran, kalsium karbonat dijual dalam dua jenis yang berbeda.
Yang mebedakan kedua jenis produk tersebut terletak pada tigkat
kemurnian produk kalsium karbonat di dalamnya. Kedua jenis
produk kalsium karbonat atau CaCO3 yang dimaksud adalah heavy
atau light types.
Kalsium karbonat heavy type diproduksi dengan cara
menghancurkan batu kapur hasil penambangan menjadi bubuk
halus, lalu disaring hingga diperoleh ukuran bubuk yang
diinginkan. Selanjutnya, tepung kalsium karbonat hasil
penyaringan disimpan dalam penyimpanan yang berukuran besar
sebelum dikemas.
Sedangkan light type diperoleh setelah melalui proses
produksi yang agak rumit dibandingkan dengan heavy type.
Pertama-tama batu kapur dibakar dalam tungku berukuran besar
untuk mengubah CaCO3 menjadi CaO (oksida kalsium) dan gas
karbon dioksida atau CO2. Dimana reasksinya adalah sebagai
berikut :
CaCO3→ CaO + CO2
Proses selanjutnya, CaO yang terbentuk kemudian
dicampur dengan air dan diaduk. Maka terbentuklah senyawa
kalsium hidroksida atau Ca(OH)2. Kalsium hidroksida yang telah
terbentuk kemudian disaring untuk memisahkan senyawa-senyawa
pengotor.
CaO + H2O→ Ca(OH)2
Ca(OH)2 yang telah disaring kemudian direaksikan dengan CO2
untuk membentuk CaCO3 dalam air, seperti ditunjukkan oleh
persamaan reaksi berikut :
Ca(OH)2 + CO2→ CaCO3 + H2O
Endapan CaCO3 hasil reaksi di atas kemudian disaring dan
dikeringkan. Selanjutnya, kalsium hidroksida dihaluskan menjadi
powder CaCO3.
(Anonim, 2009)
1.2.5 Eriochrome Black T (EBT)
EBT (Eriochrome Black T) adalah indicator
kompleksometri yang merupakan bagian dari titrasi
pengkompleksian, contonhnya proses determinasi kesadahan air.
Di dalamnya, bentuk protonated Eriochrome Black T berwarna
biru lalu berubah menjadi merah ketika membentuk kompleks
dengan kalsium, magnesium atau ion logam lain. Nama lain dari
Eriochrome Black T adalah Solochrome Black T.
Kelemahannnya adalah larutan tidak stabil, bila disimpan
akan terjadi penguraian secara lambat, setelah jangka waktu
tertentu indicator tidak dapat digunakan lagi.
(Anonim, 2009)
1.2.6 Titrasi Kompleksometri
Titrasi kompleksometri adalah titrasi berdasarkan
pembentukan senyawa kompleks antara kation dengan zat
pembentuk kompleks. Salah satu zat pembentuk kompleks yang
banyak digunakan dalam titrasi kompleksometri adalah garam
dinatrium etilendiamina tetraasetat (dinatrium EDTA).
Kompleksometri merupakan jenis titrasi dimana titran dan
titrat saling mengompleks, membentuk hasil serupa kompleks.
Reaksi pembentukan kompleks atau yang menyangkut kompleks
banyak sekali dan penerapannya juga banyak, tidak hanya dalam
titrasi.
Titrasi kompleksometri juga dikenal sebagai reaksi yang
meliputi reaksi pembentukan ion-ion pengompleks ataupun
pembentukan molekul netral yang terdisosiasi dalam larutan.
(Anonim, 2010)
1.2.7 EDTA (Etilen Diamine Tetra Acetat)
Asam etilen diamin tetra asetat atau yang lebih dikenal
dengan EDTA, merupakan salah satu jenis asam amina
polikarboksilat. EDTA sebenarnya adalah ligan eksidentat yang
dapat berkoordinasi dengan suatu ion logam lewat kedua nitrogen
dan keempat gugus karboksilnya atau disebut ligan multidentat
yang mengandung lebih dari dua atom koordinasi per molekul,
misalnya asam 1,2-diamino etana tetraasetat (asam etilen diamina
tetra asetat, EDTA) yang mempunyai dua atom nitrogen-
penyumbang dan empat atom O2 penyumbang dalam molekul.
Selektivitas kompleks dapat diatur dengan pengendalian
Ph, misal Mg, Ca, Cr, dan Ba dapat dititrasi pada pH=11 EDTA.
1.2.8 Persyaratan Air Minum Kemasan menurut SNI
Persyaratan mutu air minum kemasan antara lain tidak
berbau, zat yang terlarut maksimal 500 mg/L, zat organic 1,0
mg/L, klorida maksimal 250 mg/L, sulfat maksimal 0,15 mg/L.
Persyaratan mutu beberapa kriteria uji yaitu banyaknya
kandungan nitrat (NO3), nitrit (NO2), flourida (F), sianida (SN),
dan sulfat (SO4) yang diperbolehkan. Cemaran logam As, Cr, Mn,
dan Se maksimal 0,05 mg/L. Cemaran logam Sb dan Ca maksimal
0,005 mg/L Ba, Cu, Pb, Hg dan Ni (cemaran kimia organik
Caldrin, diedrin, 1,2-dikloroetan, heptakhlorepoksida, metoshklor,
detergen, PCB dan minyak mineral. Cemaran mikroba (E. Coli,
Streptococcus, C. Perfingens, dan [Link])
BAB II
METODOLOGI
2.1 Alat dan Bahan
2.1.1. Alat yang digunakan
Erlenmeyer 250 ml
Buret
Pipet Volume 50 ml
Bulp
Statif
Pipet ukur 10 ml
Corong
Neraca digital
Gelas kimia
Labu ukur
Pipet tetes
Batang pengaduk
Hot plate
2.1.2. Bahan yang digunakan
Bufffer pH 10
Larutan EDTA 0,01 M
Indikator EBT
Sampel Air
Aquadest
Larutan HCl 1:1
Larutan Ammonia (NH4OH)
Hablur CaCO3
2.2 Prosedur Kerja
Standarisasi Larutan EDTA dengan Standar Primer CaCO3
1. Menimbang dengan teliti 0,1 gram CaCO3 powder, lalu dimasukan ke
dalam gelas kimia 250 ml.
2. Menambahkan beberapa tetes HCl 1:1 sampai semua CaCO3 melarut.
3. Menambahkan aquadest 50 ml yang sudah dipanaskan terlebih
dahulu, membiarkannya sampai dingin, kemudian dipindahkan ke
dalam labu ukur 100 ml dan menambahkan dengan aquadest sampai
tanda batas.
4. Memipet 10 ml larutan tadi lalu dimasukkan ke dalam Erlenmeyer
250 dan menambahkan dengan aquadest sampai volume 100 ml.
5. Menambahkkan ammonia (NH4OH) tetes demi tetes sampai pH-nya
sekitar 10, kemudian menambahkan 5 ml buffer pH 10 dan 5 tetes
indicator EBT.
6. Menitrasi dengan larutan EDTA sampai terjadi perubahan warna
merah menjadi biru muda.
7. Menghitung Mormalitas EDTA yang digunakan dan melakukan
percobaan secara duplo.
Penentuan Total Hardness dalam Air
1. Memipet 50 ml sample air lalu memasukannya ke dalam Erlenmeyer
250 ml dan mengencerkannya dengan aquadest samapai 100 ml.
2. Menambahkan 5 ml larutan buffer pH 10 dan 5 tetes indicator EBT
ke dalam larutan tersebut.
3. Menitrasi dengan larutan EDTA samapai terjadi perubahan warna
merah menjadi biru.
4. Menghitung total hardness yang ada pada sample air dan melakukan
percobaan secara duplo.
2.3 Diagram Alir
Standarisasi Larutan EDTA dengan Standar Primer CaCO3
Menimbang 0,1 gram CaCO3 powder lalu memasukkan kedalam
gelas kimia 50 ml
Menambahkan beberapa tetes HCl 1:1 sampai semua CaCO3
melarut
Menambahkan aquadest kemudian memanaskan larutan hingga
BAB III sampai dingin
mendidih dan membiarkan
Mengencerkan larutan dengan aquadest yang dimasukkan ke
dalam labu ukur 100 mL sampai tanda batas
Memipet 10 mL larutan lalu memasukkan ke dalam Erlenmeyer
250 mL dan menambahkan aquadest sampai 100 mL
Menambahkan beberapa tetes ammonia sampai pH 10,
kemudian menambahkan 5 mL buffer pH 10 dan 5 tetes
indikator EBT
Menitrasi larutan EDTA sampai terjadi perubahan warna dari
merah menjadi biru
Memipet 50 mL sampel air lalu memasukkannya ke dalam
Erlenmeyer 250 mL dan mengencerkannya dengan aquadest
sampai 100 mL
Menghitung normalitas EDTA yang dilakukan secara duplo
Menambahkan 5 mL larutan buffer pH 10ndan 5 tetes indicator
EBT ke dalam
Penentuan Total Hardness larutan
dalam tersebut
Sampel Air
Menitrasi larutan EDTA sampai terjadi perubahan warna merah
menjadi biru
Menghitung total haedness yang ada pada sampel air
BAB III
HASIL DAN PEMBAHASAN
3.1 Data Pengamatan
Tabel 1. Standarisasi Larutan EDTA 0,001 M dengan Standar Primer
Massa
HCl Buffer Indikato Volume Perubahan
Percobaan CaCO NH4OH
1:1 pH10 EBT EDTA Warna
3 (gr)
Merah
I 0,104 8 tetes 2 tetes 5 ml 5 tetes 10,7 ml anggur
Biru muda
Merah
II 0,1146 8 tetes 2 tetes 5 ml 5 tetes 10,3 ml anggur
Biru muda
Merah
III 0,1007 7 tetes 3 tetes 5 ml 5 tetes 10,2 ml anggur
Biru muda
Volume
Volume Indikator Volume Perubahan
No Sampel Buffer pH
Sampel EBT EDTA Warna
10
Air
Merah
Minum
1. 50 ml 5 Tetes 5 ml 6,4 Anggur-
Kemasan
Biru
FESTA
Muda
Tabel 2. Penentuan Total Hardness dalam Sampel Air
Tabel 3. Hasil Perhitungan Total Hardness
mL sampel Volume EDTA N EDTA Total Hardness
50 mL 6,4 mL 0,0102 65,28 ppm
3.2 Pembahasan
Pada percobaan Penentuan Total Hardness Dalam Sampel Air
yang bertujuan untuk mengetahui kadar total hardness yang terdapat dalam
air dengan menggunakan titrasi kompleksometri.
Hal pertama yang dilakukan dalam praktikum ini adalah
menstandarisasi EDTA dengan menggunakan CaCO3 sebagai larutan standar
primer dengan menggunakan indicator EBT. Hal ini dilakukan untuk
mengetahui konsentrasi EDTA yang sebenarnya. Setelah distndarisasi,
konsentrasi EDTA yang didapat adalah 0,0102 N.
Setelah EDTA distandarisasi, selanjutnya yang dilakukan adalah
menentukan total hardness dalam air minum kemasan bermerk Festa.
Pertama, sampel air dipipet sebanyak 50 mL kedalam Erlenmeyer 250 mL
dan diencerkan sampai 100 mL. Kemudian ditetesi dengan indicator EBT
agar dapat diamati bahwa larutan telah mencapai titik ekuivalen yang
ditandai dengan perubahan warna merah menjadi biru. Selanjutnya dititrasi
dengan EDTA sampai terjadi perubahan warna, kemudian volume EDTA
yang digunakan dicatat, dan selanjutnya menentukan kadar total hardness
dalam sampel air minum kemasan. Dalam proses penentuan kadar total
hardness dalam sampel air minum yang telah diencerkan dalam labu ukur 100
mL, diambil 10 mL kemudian dimasukkan kedalam Erlenmeyer 250 mL
sebagai tempat dalam proses titrasi, kemudian menambahkan aquadest
sampai 100 mL.
Setelah dilakukan proses perhitungan, maka didapat kadar hardness
dalam air minum festa sebesar 65,28 ppm. Hal ini menunjukkan bahwa air
minum festa layak untuk dikonsumsi karena dalam persyaratan air minum
kemasan menurut SNI kesadahan air minum maksimal sebesar 500 ppm.
BAB IV
PENUTUP
4.1 Kesimpulan
Kadar total hardness dalam sampel air minum merk Festa adalah 65,28
ppm.
DAFTAR PUSTAKA
[Link]
.html di akses tanggal
[Link]
[Link]
[Link] main/sni/detai sni/7340
[Link]/2010/04_titrasikompleksometri.html
[Link]/doc/13627150/laporan-B-2
LAMPIRAN
Data perhitungan
1. Standarisasi EDTA
Diketahui : Massa Rata-Rata : 0,1064 gram
Volume Rata-Rata : 0,0104 L
Mr CaCO3 : 100
Fp : 10
Valensi :2
Ditanya : N
?
gr / mr
Jawab : Normalitas EDTA = fp V
0,1064 / 100
= 0,0104 x10
= 0,0102 N = 0,01 N
1. Penentuan Total Hardness dalam Sampel Air
Diketahui :Volume EDTA: 6,4 mL
N EDTA : 0,0102 N
Volume Sampel : 50 mL
Ditanya : Kadar Hardness
?
V EDTA M EDTA 100 x1000
Jawab : Kadar Hardness = Volume sampelxV
6,4 0,0102 100 x1000
=
50 x 2
= 65,28 ppm
GAMBAR ALAT
Erlenmeyer Buret & Statif
Pipet Volume Pipet Tetes
Bulp