Laporan Resmi
Praktikum Teknologi F ormulasi Sediaan Semi Solid dan Cair
Emulsi
Wahyudi 121524175
Muharrir Maisaldi 121524173
Zahara 121524176
Liza Aulia 121524177
Silvia Rahmi 121524174
Anita Jaya Naibaho 121524178
Yunita Harefa 121524180
Laboratorium Formulasi
Departemen Farmasetika
Fakultas Farmasi
Universitas Sumatera Utara
Medan
2013
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 LATAR BELAKANG
Emulsi adalah sediaan yang mengandung bahan obat cair atau larutan obat,
terdispersi dalam cairan pembawa, distabilkan dengan zat pengemulsi atau surfaktan yang
cocok. Emulsi merupakan sediaan yang mengandung dua zat yang tidak tercampur, biasanya
air dan minyak, dimana cairan terdispersi menjadi butir-butir kecil dalam cairan yang lain.
Dispersi ini tidak stabil, butir-butir ini bergabung (koalesen) dan membentuk dua lapisan air
dan minyak yang terpisah.
Zat pengemulsi (emulgator) merupaqkan komponen yang paling penting agar
memperoleh emulsi yang stabil. Semua emulgator bekerja dengan membentuk lapisan
disekeliling butir-butir tetesan yang terdispersi dan lapisan ini berfungsi agar mencegah
terjadinya koalesen dan terpisahnya cairan dispersi sebagai fase terpisah. Terbentuk dua
macam tipe emulsi yaitu M/A dimana tetes minyak terdispersi dalam fase cair dan tipe A/M
dimana fase intern adalah air dan fase extern adalah minyak (Anief, 2008).
Emulsi merupakan suatu sistem heterogen yang terdiri atas dua cairan tidak
tercampur. Salah satunya terdispersi secara uniform dalam bentuk tetesan halus secara
menyeluruh dalam sistem cair yang lain. Emulsi secara termodinamika tidak stabil dan
cenderung membentuk dua fasa terpisah melalui fusi atau koalesensi tetesan, kecuali bila
ditambahkan komponen ketiga, yaitu pengemulsi. Fasa yang berada dalam bentuk globul
halus dikatakan fasa terdispersi atau fasa internal. Cairan lain yang menunjang sistem
dinamakan fasa kontinu atau fasa luar. Menurut konvensi, cairan tidak tercampur tersebut
dinyatakan sebagai air dan minyak. Pengertian minyak termasuk cairan yang bersifat
hidrofobik dan nonpolar, sedangkan kebanyakan cairan bersifat hidrofilik dan polar
dinamakan air. Rasio fasa atau rasio fasa volume adalah rasio volume fasa internal terhadap
volume total emulsi.
Diameter ukuran tetesan emulsi berada pada daerah tampak secara mikroskopik,
lebih kurang 0,1-50 μm. Pada umumnya, tetesan halus akan mempromosikan sistem lebih
stabil, sedangkan distribusi ukuran akan menentukan sifat biofarmasetika.
Mikroemulsi digunakan untuk membedakan dari emulsi biasa sesuai dengan definisi
dari mikroemulsi, dimana fasa minyak terdispersi atau globul air berada pada dimensi
koloidal lebih kurang 10-100 nm (Syamsuni, 2006).
1.2 Tujuan Percobaan
1. Mengenal bentuk sediaan emulsi
2. Mengetahui bentuk sediaan emulsi
3. Mengetahui bahan-bahan pembantu untuk sediaan emulsi
4. Mengetahui dan memahami cara pembuatan sediaan emulsi
5. Mengetahui evaluasi emulsi
1.3 Prinsip Percobaan
Gom dihaluskan, ditambah minyak sehingga bercampur kemudian tambahkan air
sekaligus, gerus dengan cepat dan terus menerus sampai terbentuk korpus emulsi yang
berwarna putih, encerkan dengan sirup. Bahan-bahan lain dalam formula ditambahkan ke
dalamnya setelah dilarutkan.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Emulsi
Emulsi adalah sediaan yang mengandung bahan obat cair atau larutan obat, terdispersi
dalam cairan pembawa, distabilkan dengan zat pengemulsi atau surfaktan yang cocok.
Kecuali dinyatakan lain, disimpan dalam wadah tertutup baik di tempat sejuk. Pada etiket
harus juga tertera “kocok dahulu” ( Farmakope Indonesia Edisi III, 1979)
Emulsi adalah sistem dua fase, yang salah satu cairannya terdispersi dalam cairan
yang lain, dalam bentuk tetesan kecil. Jika minyak yang merupakan fase terdispersi dan
larutan air merupakan fase pembawa, sistem ini disebut emulsi minyak dalam air. Sebaliknya,
jika air atau larutan air yang merupakan fase terdispersi dan minyak atau bahan seperti
minyak merupakan fase pembawa, sistem ini disebut emulsi air dalam minyak (Farmakope
Indonesia Edisi IV, 1996)..
Emulsi merupakan sistem dua fase, yang salah satu cairannya terdispersi dalam cairan
lain dalam bentuk tetesan kecil. Tipe emulsi ada dua yaitu tipe minyak dalam air (m/a) dan
tipe air dalam minyak (a/m). Emulsi dapat distabilkan dengan penambahan bahan pengemulsi
yang disebut emulgator (emulsifying agent) atau surfaktan yang dapat mencegah terjadinya
koalesensi, yaitu penyatuan tetesan kecil menjadi tetesan besar dan akhirnya menjadi satu
fase tunggal yang memisah. Surfaktan menstabilkan emulsi dengan cara menempati
antarpermukaan tetesan dan fase eksternal, dan dengan membuat batas fisik di sekeliling
partikel yang akan berkoalesensi. Surfaktan juga mengurangi tegangan permukaan antarfase
sehingga meningkatkan proses emulsifikasi selama pencampuran.
Emulsi berasal dari kata emulgeo yang artinya menyerupai susu, dan warna emulsi
memang putih seperti susu. Pada abad XVII hanya dikenal emulsi dari biji-bijian yang
mengandung lemak, protein, dan air. Emulsi semacam ini disebut emulsi vera atau emulsi
alam, dimana protein bertindak sebagai emulgator dari campuran lemak atau minyak dengan
air yang terdapat dalam biji-bijian tersebut.
Pada pertengahan abad XVIII, seorang ahli farmasi dari Perancis memeperkenalkan
pembuatan emulsi dari Oleum olivarum, Oleum Anisi,dan Eugenol oil dengan menggunakan
penambahan gom arab, tragakan dan kuning telur sebagai emulgator. Emulsi yang terbentuk
karena penambahan emulgator dari luar ini disebut emulsi spuria atau emulsi buatan
( Syamsuni, 2006).
Jenis/tipe mana emulsi terjadi tergantung pada beberapa faktor, yaitu:
Jenis emulgator yang digunakan, emulgator yang sifatnya larut dalam air umumnya
digunakan untuk emulsi tipe m/a dan sebaliknya.
Volume fasa yang digunakan, yaitu perbandingan antara fasa air dengan fasa minyak.
Pencampuran komponen yang akan dibuat apakah fasa air ke dalam fasa minyak atau
fasaa minyak ke dalam fasa air.
2.2 Komponen Emulsi
Komponen emulsi dapat digolongkan menjadi dua macam, yaitu:
1. Komponen dasar, yaitu bahan pembentuk emulsi yang harus terdapat di dalam emulsi,
terdiri atas:
a. Fase dispers/fase internal/fase diskontinu, fase terdispersi/fase dalam, yaitu zat cair
yang terbagi-bagi menjadi butiran kecil di dalam zat cair lain.
b. Fase eksternal/fase kontinu/fase pendispersi/fase luar, yaitu zat cair dalam emulsi
yang berfungsi sebagai bahan dasar (bahan pendukung) emulsi tersebut.
c. Emulgator, yaitu bagian dair emulsi yang berfungsi untuk menstabilkan emulsi.
2. Komponen tambahan, yaitu bahan tambahan yang sering ditambahkan ke dalam emulsi
untuk memperoleh haisl yang lebih baik, misalnya corigen saforis, odoris, coloris,
pengawet (preservative), dan antioksidan. Pengawet yang sering digunakan dalam
sediaan emulsi adalah metil-, etil-, propil-, dan butil-paraben, asam benzoat, dan senyawa
amonium kuarterner. Antioksidan yang sering digunakan antara lain asam askorbat, α-
tokoferol, asam sitrat, propil galat, dan asam galat (Syamsuni, 2006).
2.3 Tipe Emulsi
Berdasarkan macam zat cair yang berfungsi sebagai fase internal ataupun eksternal,
emulsi digolongkan menjadi dua macam, yaitu:
1. Emulsi tipe minyak dalam air (m/a) adalah emulsi yang terdiri atas butiran minyak yang
tersebar atau terdispersi ke dalam air. Minyak sebagai fasa internal dan air sebagai fasa
eksternal.
2. Emulsi tipe air dalam minyak (a/m) adalah emulsi yang terdiri atas butiran air yang
tersebar atau terdispersi ke dalam minyak. Air sebagai fasa internal dan minyak sebagai
fasa eksternal (Syamsuni, 2006).
2.4 Tujuan Pemakaian Emulsi
Emulsi dibuat untuk mendapatkan preparat atau sediaan yang stabil dan merata atau
homogen dari campuran dua cairan yang saling tidak bercampur.
Adapun master formula dari emulsi adalah:
R/ bahan obat (minyak)
Emulgator
Korigensia (safaris, koloris, odoris)
Pengawet
Pelarut
Dalam formulanya tidak boleh ada alkohol karena alkohol sifatnya memecah emulsi
(Syamsuni, 2006).
2.5 Bahan-Bahan Pengemulsi
Ada beberapa jenis emulgator atau surfaktan (Suface Active Agent), yaitu:
Surfaktan anionic, dalam air akan terionisasi dan bagian yang aktif adalah bagian
anioniknya, misalnya sabun-sabun alkali, sabun logam, sabun amin dan ester asam sulfat.
Surfaktan kationik, dalam air terionisasi dan bagian yang aktif adalah bagian kationnya,
misalnya garam-garam amin dan garam ammonium kuarterner.
Surfaktan nonionic, tidak terionisasi dalam air dan tidak mengandung muatan listrik.
Untuk aktivitas permukaan tergantung pada seluruh molekul surfaktan tersebut, misalnya
tween 80, span 20, tween 20, tween 60, span 40, span 60, span 80.
Amfolitik, mengandung paling sedikit satu grup kation hidrofilik ini dapat berjumlah
sama (seimbang) atau tidak seimbang. Surfaktan ini dapat bermuatan positif atau negative
atau netral, tergantung pada pH larutan, misalnya setrimid (Syamsuni, 2006).
2.6 Metode Pembuatan Emulsi
Dikenal tiga metode dalam pembuatan emulsi, yaitu:
1. Metode gom kering atau metode continental
Dalam metode ini, zat pengemulsi (biasanya gom arab) dicampur dengan minyak terlebih
dahulu, kemudian ditambahkan air untuk membentuk korpus emulsi, lalu diencerkan
dengan sisa air yang tersedia.
2. Metode gom basah atau metode Inggris
Zat pengemulsi ditambahkan ke dalam air (zat pengemulsi umumnya larut dalama air)
agar membentuk suatu musilago, kemudian perlahan-lahan minyak dicampurkan untuk
membentuk emulsi, lalu diencerkan dengan sisa air.
3. Metode botol atau metode botol forbes
Digunakan untuk minyak menguap dan zat-zat yang bersifat minyak dan mempunyai
viskositas rendah (kurang kental). Serbuk gom dimasukkan ke dalam botol kering,
ditambahkan 2 bagian air, botol ditutup, kemudian campuran tersebut dikocok dengan
kuat. Tambahkan sisa air sedikit demi sedikit sambil dikocok (Syamsuni, 2006)
2.7 Faktor-Faktor yang diperhatikan
Emulgator yang digunakan harus:
a. Mempunyai kualitas yang baik
b. Dapat bercampur dengan bahan-bahan yang ada dalam formulasi emulsi
c. Tidak boleh mengganggu efektifitas zat aktifnya
d. Tidak toksis
e. Mempunyai kemampuan untuk membentuk emulsi dan menjaga stabilitasnya.
Pemilihan jenis minyak
Umumnya yang banyak digunakan adalah minyak tumbuhan karena bersifat tidak toksis,
misalnya [Link], [Link], paraffin liq (minyak mineral).
1. Perbandingan volume fasa
Perbandingan volume fasa yang paling ideal adalah 50:50, tetapi ada juga yang
menyatakan jika fasa dalam 70%, masih diperoleh emulsi yang stabil (Syamsuni, 2006).
2.8 Teori Terbentuknya Emulsi (Teori Emulsifikasi)
Untuk mengetahui proses terbentuknya emulsi dikenal empat macam teori yang melihat
proses terjadinya emulsi dari sudut pandang yang berbeda-beda.
1. Teori tegangan permukaan (Surface Tension)
Molekul memiliki daya tarik menarik antara molekul yang sejenis yang disebut daya
kohesi. Selain itu, molekul juga memiliki daya tarik menarik antarmolekul yang tidak sejenis
yang disebut daya adhesi.
Daya kohesi suatu zat selalu sama sehingga pada permukaan suatu zat cair akan
terjadi perbedaan tegangan karena tidak adanya keseimbangan daya kohesi. Tegangan yang
terjadi pada permukaan tersebut dinamakan tegangan permukaan (surface tension).
Dengan cara yang sama dapat dijelaskan terjadinya perbedaan tegangan bidang atas
dua cairan yang tidak dapat bercampur. Tegangan yang terjadi antara dua cairan tersebut
dinamakan tegangan bidang batas. Semakin tinggi perbedaan tegangan yang terjadi di bidang
batas, semakin sulit kedua zat cair tersebut untuk bercampur (Syamsuni, 2006)
Tegangan yang terjadi pada air akan bertambah dengan penambahan garam-garam
anorganik atau senyawa elektrolit, tetapi akan berkurang dengan penambahan senyawa
organic tertentu, antara lain sabun (sapo). Dalam teori ini dikatakan bahwa penambahan
emulgator akan menurunkan atau menghilangkan tegangan yan terjadi pada bidang batas
sehingga antara kedua zat cair tersebut akan mudah bercampur.
2. Teori orientasi bentuk baji (Oriented Wedge)
Teori ini menjelaskan fenomena terbentuknya emulsi berdasarkan adanya kelarutan
selektif dari bagian molekul emulgator. Ada bagian yang bersifat suka air atau mudah larut
dalam air dan ada bagian yang suka minyak atau mudah larut dalam minyak.
Jadi, setiap molekul emulgator dibagi menjadi dua kelompok, yaitu:
a. Kelompok hidrofilik, yaitu bagian emulgator yang suka air.
b. Kelompok lipofilik, yaitu bagian emulgator yang suka minyak.
Masing-masing kelompok akan bergabung dengan zat cair yang disenanginya,
kelompok hidrofil ke dalam air dan kelompok lipofil ke dalam minyak. Dengan demikian,
emulgator seolah-lah menjadi tali pengikat antara air dan minyak. Antara kedua kelompok
tersebut akan membuat suatu keseimbangan (Syamsuni, 2006).
Setiap jenis emulgator memiliki harga keseimbangan yang besarnya tidak sama.
Harga keseimbangan ini dikenal dengan istila HLB (Hydrophyl Liophyl Balance), yaitu angka
yang menunjukkan perbandingan antara kelompok hidrofil dengan kelompok lipofil. Semakin
besar harga HLB, berarti semakin banyak kelompok yang suka air, artinya emulgator tersebut
lebih mudah larut dalam air dan demikian sebaliknya.
3. Teori film plastic (Plastic Film)
Teori ini mengatakan bahwa emulgator akan diserap pada batas antara air dan
minyak, sehingga terbentuk lapisan film yang akan membungkus partikel fasa terdispers atau
fasa internal. Dengan terbungkusnya partikel tersebut, usaha antara partikel yang sejenis
untuk bergabung menjadi terhalang. Dengan kata lain, fasa terdispers menjadi stabil. Untuk
memberikan stabilitas maksimum pada emulsi, syarat emulgator yang dipakai adalah:
a. Dapat membentuk lapisan film yang kuat tetapi lunak.
b. Jumlahnya cukup untuk menutup semua permukaan partikel fasa terdispers.
c. Dapat membentuk laisan film dengan cepat dan dapat menutup semua partikel dengan
segera (Syamsuni, 2006).
Metode untuk Mengetahui Tipe Emulsi
1. Metode pengenceran
Prinsip: suatu emulsi dapat bercampur dengan fasa luarnya.
Setiap emulsi dapat diencerkan dengan fase eksternalnya. Dengan prinsip tersebut, emulsi
tipe m/a dapat diencerkan dengan air dan emulsi tipe a/m dapat diencerkan dengan
minyak.
2. Metode kelarutan zat warna
Prinsip: bahan pewarna akan tersebar merata di dalam emulsi jika zat warna tersebut laru
di dalam fasa luarnya. Misalnya:
a. Emulsi + larutan Sudan III dapat member warna merah pada emulsi tipe a/m karena
Sudan III larut dalam minyak.
b. Emulsi + larutan metilen biru dapat memberikan warna biru pada emulsi tipe m/a
karena metilen biru dapat larut dalam air. Selain metilen biru, metilen merah dan
amaranth juga dapat digunakan untuk emulsi m/a yang memberikan warna merah.
3. Metode konduktifitas elektrik
Prinsip: air dapat menghantarkan arus listrik sedangkan minyak tidak.
Ke dalam emulsi dimasukkan suatu electrode dan elektroda ini dihubungkan dengan bola
lampu. Apabila bola lampunya menyala, berarti emulsinya tipe m/a. sebaliknya jika bola
lampu tidak menyala, maka tipe emulsinya a/m.
4. Metode fluoresensi
Prinsip: bahwa yang dapat berfluoresensi bila disinari dengan lampu UV adalah minyak.
Setetes emulsi dilekkan di bawah mikroskop, kemudian disinari dengan lampu UV, maka
apabila terjadi fluoresensi berarti emulsinya tipe a/m (Syamsuni, 2006).
Stabilitas Emulsi
Pada umumnya, emulsi dikatakan tidak stabil jika mengalami hal-hal seperti di bawah
ini:
a. Koalesensi dan cracking (breaking) adalah pecahnya emulsi karena film yang
meliputi partikel rusak dan butir minyak berkoalesensi atau menyatu menjadi fase
tunggal yang memisah. Emulsi ini bersifat irreversible. Hal ini dapat terjadi karena:
1. Peristiwa kimia, seperti penambahan alcohol, perubahan pH, penambahan elektrolit
CaO/CaCl2 eksikatus.
2. Peristiwa fisika, seperti pemanasan, penyaringan, pendinginan, dan pengadukan.
3. Peristiwa biologis, seperti fermentasi bakteri, jamur, atau ragi.
b. Inversi fase adalah peristiwa berubahnya tipe emulsi m/a menjadi a/m secara tiba-tiba
atau sebaliknya dan sifatnya irreversible.
c. Creaming , yaitu terpisahnya emulsi menjadi dua bagian lapisan, yaitu terbentuknya
massa krim yang mengarah ke atas (up ward creaming) dan terbentuknya massa krim
yang mengarah ke bawah (Syamsuni, 2006).
BAB III
METODE PERCOBAAN
3.1 Alat
Timbangan
Anak timbangan (gram dan miligram)
Cawan porselen
Lumpang
Stamper
Sudip
Batang pengaduk
Beaker glass 50 ml
Beaker glass 1000 ml
Gelas Ukur 50 ml
3.2 Bahan
R/ Ol. Jecoris Aseli 40
Ol. Cinnamon 0,1
Pulv. Gummi Arabici 15
Natrium Hypophospat 0,5
Gliserin 10
Aqua 34
[Link]
d.i.d
[Link].C
#
Pro : Khairani (10 th)
3.3 Perhitungan Bahan
1
Ol. Jecoris Aseli = x 40 20 g
2
1
Ol. Cinnamon = x 0,1 0,05 g
2
Pulv. Gummi Arabici = 1
x15 7,5 g
2
1
Aqua corpus = 1 x7,5 11,25 ml
2
1
Natrium Hypophospat = x0,5 0,25 g
2
1
Gliserin = x10 5 g
2
1
Aqua ad = x34 17
2
= 17 ml - 11,25 ml
= 5,75 ml
3.4 Prosedur Kerja
1. Campurkan [Link] Aselli dengan PGA, homogenkan.
2. Tambahkan air corpus sekaligus sampai terbentuk sediaan seperti susu.
3. Encerkan dengan glycerin
4. Larutkan Natrium hypoposfat dalam sisa air, masukkan ke dalam corpus emulsi, gerus
homogen.
3.5 Evaluasi Emulsi
1. Sedimentasi ratio
Masukkan emulsi ke dalam gelas ukur
Tutup gelas ukur dengan kertas perkamen kemudian ikat
Catat volume awal
Diamkan selama satu minggu
Amati volume endapan yang terjadi
Hitung sedimentasi ratio dengan membandingkan volume endapan yang terjadi
terhadap volume emulsi mula-mula
Hasil pengamatan
Volume endapan yang diperoleh setelah didiamkan selama satu minggu adalah 11
ml.
Volume emulsi mula-mula adalah 30 ml.
15
Jadi, sedimentasi ratio, F = 0,5
30
2. Up ward creaming/down ward cream
Up ward creaming/down ward cream dilakukan dengan mengamati emulsi yang
telah didiamkan selama satu minggu apakah terjadi pemisahan massa terdispersa ke
atas atau ke arah bawah.
Hasil Pengamatan
Terjadi down ward cream dengan volume 15 ml.
3. Pengujian tipe emulsi
Pengujian tipe emulsi dilakukan dengan penambahan zat warna metil biru, yakni
dengan mengambil sedikit massa emulsi ke atas objek glass, kemudian tetesi dengan
metil biru.
Prinsip: Metil biru larut dalam air
Hasil Pengamatan
Metil biru tidak larut dalam emulsi, artinya tipe emulsi yang diperoleh adalah emulsi
tipe a/m.
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Hasil
4.2 Pembahasan
Emulsi yang dibuat dalam praktikum ini adalah emulsi tipe a/m, yakni fase
terdispersi berupa air dan fase pendispersi adalah minyak karena volume fasa minyak lebih
besar daripada volume fasa air. Hal ini dibuktikan pada evaluasi terhadap pengujian tipe
emulsi dengan penambahan metil biru pada sedikit emulsi di atas objek glass. Hasil yang
diperoleh adalah bahwa metil biru tidak larut dalam emulsi, ini menunjukkan bahwa fase
pendispersa dari emulsi yang dibuat adalah minyak. Artinya, tipe emulsi yang diperoleh
memang emulsi tipe a/m. Berdasarkan hasil evaluasi sedimentasi ratio, diperoleh harga
sedimentasi ratio sebesar 0,5 dan membentuk down ward creamin (pemisahan massa ke arah
bawah). Artinya, fase terdispersa dari emulsi memiliki bobot jenis yang lebih besar daripada
fase pendispersa.
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
5.1 Kesimpulan
1. Tipe emulsi yang dibuat dalam praktikum ini adalah emulsi tipe a/m.
2. Bahan-bahan pembantu yang dapat digunakan untuk sediaan emulsi adalah emulgator,
corigensia dan pengawet.
3. Pembuatan emulsi dapat dilakukan dengan 3 cara, yaitu metode GOM kering, metode
GOM basah, dan metode botol.
4. Evaluasi emulsi dapat dilakukan dengan cara sedimentasi ratio, up ward
creaming/down ward creaming, dan dengan penambahan zat warna sepeerti metil biru
dan sudan III.
5.2 Saran
1. Diharapkan kepada praktikan agar lebih teliti dalam menimbang bahan-bahan dalam
pembuatan emulsi sehingga stabilitas emulsi dapat diperoleh.
2. Diharapkan kepada praktikan agar lebih teliti dalam mencampur bahan-bahan yang
akan diemulsikan
Daftar Pustaka
Anief, Moh. (2008). Ilmu Meracik Obat. Bandung: Gadjah Mada University Press. Hal. 153.
Departemen Kesehatan RI. (1979). Farmakope Indonesia, Edisi III. Hal. 32.
Departemen Kesehatan RI. (1995). Farmakope Indonesia, Edisi IV. Hal. 17-18.
Syamsuni, A. (2006). Ilmu Resep. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC. Hal. 135-145.