0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
56 tayangan10 halaman

Definisi dan Macam Strategi Pembelajaran

1. Strategi pembelajaran didefinisikan sebagai kegiatan pembelajaran yang harus dilakukan guru dan siswa agar tujuan pembelajaran dapat dicapai secara efektif dan efisien. 2. Ada beberapa jenis strategi pembelajaran seperti discovery learning, inkuiri learning, problem based learning, project based learning, dan scientific learning. 3. Fungsi strategi pembelajaran adalah membantu pencapaian tujuan pembelajaran secara optimal.
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
56 tayangan10 halaman

Definisi dan Macam Strategi Pembelajaran

1. Strategi pembelajaran didefinisikan sebagai kegiatan pembelajaran yang harus dilakukan guru dan siswa agar tujuan pembelajaran dapat dicapai secara efektif dan efisien. 2. Ada beberapa jenis strategi pembelajaran seperti discovery learning, inkuiri learning, problem based learning, project based learning, dan scientific learning. 3. Fungsi strategi pembelajaran adalah membantu pencapaian tujuan pembelajaran secara optimal.
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

Definisi Strategi Pembelajaran

Strategi pembelajaran adalah suatu kegiatan pembelajaran yang harus


dikerjakan guru dan siswa agar tujuan pembelajaran dapat dicapai secara efektif
dan efisien.(Wina Senjaya, 2008.

Macam-Macam Strategi Pembelajaran

Bila dilihat dari penyajiannya strategi pembelajaran dibagi 2 yaitu induktif dan
deduktif. Strategi pembelajaran ini sifatnya konseptual. Strategi atau model
pembelajaran ini bisa diimplementasikan dengan bentuk metode pembelajaran yang
nyata.

Metode pembejaran yang bisa dipilih dari konsep strategi pembelajaran adalah 1.
Ceramah, 2. Diskusi kelompok, 3. Demonstrasi , 4. Simulasi, 5. Pengalaman
lapangan, 6. Mind Mapping, 7. [Link] lain-lain

Dalam kurikulum 2013 strategi pembelajaran atau model pembelajaran ada 5


1. Strategi discovery Learning (DL) (Menyingkap Pembelajaran)
2. Strategi inkuiri Learning (IL) (Penyelidikan Pembelajaran)
3. Strategi Problem Based Learning (PBL) (Pembelajaran berbasis masalah)
4. Strategi Project Based Learning (PBL) (Pembelajaran Berbasis proyek)
5. Strategi Saintifik Learning (SL) ( Pembelajaran Ilmiah)

Definisi dari Macam-Macam Strategi Pembelajaran

Strategi discovery learning adalah teori belajar yang didefinisikan sebagai


proses pembelajaran yang terjadi bila pelajar tidak disajikan dengan pelajaran
dalam bentuk finalnya, tetapi diharapkan mengorganisasi sendiri
Strategi Inkuiri Learning didefinisikan oleh Piaget (Sund dan Trowbridge,
1973) sebagai: Pembelajaran yang mempersiapkan situasi bagi anak untuk
melakukan eksperimen sendiri; dalam arti luas ingin melihat apa yang terjadi, ingin
melakukan sesuatu, ingin menggunakan simbul-simbul dan mencari jawaban atas
pertanyaan sendiri, menghubungkan penemuan yang satu dengan penemuan yang
lain, membandingkan apa yang ditemukan dengan yang ditemukan orang lain.

Strategi Problem Based Learning (PBL) adalah metode pengajaran yang


bercirikan adanya permasalahan nyata sebagai konteks untuk para peserta didik
belajar berfikir kritis dan keterampilan memecahkan masalah, dan memperoleh
pengetahuan (Duch,1995).

Strategi Project Based Learning adalah pembelajaran yang menggunakan


proyek/kegiatan sebagai media. Peserta didik melakukan eksplorasi, penilaian,
interpretasi, sintesis, dan informasi untuk menghasilkan berbagai bentuk hasil
belajar.

Strategi Saintifik Learning adalah Proses pembelajaran yang dirancang


sedemikian rupa agar peserta didik secara aktif mengonstruk konsep, hukum atau
prinsip melalui tahapan-tahapan mengamati (untuk mengidentifikasi atau
menemukan masalah), merumuskan masalah, mengajukan atau merumuskan
hipotesis, mengumpulkan data dengan berbagai teknik, menganalisis data, menarik
kesimpulan dan mengomunikasikan konsep, hukum atau prinsip yang
“ditemukan”.

skema Strategi pembelajaran


1. Strategi discovery Learning (DL) (Penyingkapan Pembelajaran)

2. Strategi inkuiri Learning (IL) (Penyelidikan Pembelajaran)

3. Strategi Problem Based Learning (PBL) (Pembelajaran berbasis


masalah)
4. Strategi Project Based Learning (PBL) (Pembelajaran Berbasis proyek)

5. Strategi Saintifik Learning (SL) ( Pembelajaran Ilmiah)


A. PENGERTIAN STRATEGI PEMBELAJARAN SD/MI
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), strategi adalah rencana yang cermat mengenai
kegiatan untuk mencapai sasaran khusus. Syaiful Bahri Djamarah, mengartikan strategi adalah suatu garis-
garis besar haluan untuk bertindak dalam usaha mencapai sasaran yang telah ditentukan.
Strategi digunakan untuk memperoleh kesuksesan atau keberhasilan dalam mencapai tujuan. Strategi
berbeda dengan metode, strategi menunjuk pada sebuah perencanaan untuk mencapai sesuatu, sedangkan
metode adalah cara yang dapat digunakan untuk melaksanakan strategi. Dengan kata lain, strategi adalah a
plan of operation achieving something; Sedangkan metode adalah a way in achieving something.
Beberapa ahli pendidikan, memberikan pengertian strategi pembelajaran dengan beragam, yaitu:
1. Dewi Salma Prawiradilaga. Strategi pembelajaran adalah upaya yang dilakukan oleh perancang dalam
menentukan tehnik penyampaian pesan, penentuan metode, dan media, alur isi pelajaran, serta interaksi
antara pengajar dan peserta didik.
2. Wina Sanjaya. Strategi pembelajaran merupakan rencana tindakan (rangkaian kegiatan) termasuk
penggunaan metode dan pemanfaatan berbagai sumber daya dalam pembelajaran untuk mencapai
tujuan tertentu.
3. Made Wena. Kata strategi berarti cara dan seni menggunakan sumber daya untuk mencapai tujuan
tertentu. Pembelajaran berarti upaya membelajarkan peserta didik. Dengan demikian, strategi pembelajaran
berarti cara dan seni untuk menggunakan semua sumber bel ajar dalam upaya membelajarkan peserta didik.
4. Mansur Muslih. Strategi pembelajaran merupakan cara pandang dan pola pikir guru dalam mengajar.
Dari beberapa pengertian strategi pembelajaran, disimpulkan bahwa strategi pembelajaran
merupakan pendekatan dalam mengelola kegiatan, dengan mengintegrasikan urutan kegiatan, peralatan dan
bahan serta waktu yang digunakan dalam proses pembelajaran, untuk mencapai tujuan pembelajaran yang
telah ditentukan secara aktif dan efisien.
Strategi pembelajaran diklasifikasikan menjadi enam, yaitu:
1. Strategi pembelajaran langsung
Strategi pembelajaran langsung merupakan pembelajaran yang banyak diarahkan oleh guru. Bahan
pelajaran disajikan dalam bentuk jadi dan siswa dituntut untuk menguasai bahan tersebut. pembelajaran
langsung biasanya bersifat deduktif.
2. Strategi Pembelajaran Tak Langsung
Strategi ini sering disebut inkuiri, induktif, pemecahan masalah, pengambilan keputusan, dan
penemuan. Pembelajaran berpusat pada peserta didik, guru hanya sebagai fasilitator, dan pengelola
lingkungan belajar, peserta didik diberi kesempatan untuk terlibat aktif dalam proses pembelajaran.
3. Strategi Pembelajaran Interaktif
Pembelajaran ini menekankan pada diskusi dan sharing diantara peserta didik. Diskusi dan sharing memberi
kesempatan peserta didik untuk bereaksi terhadap gagasan, pengalaman, pendekatan, pengetahuan guru
atau teman sebaya serta untuk membangun cara berfikir dan merasakan.
4. Strategi Pembelajaran Empiric (Experiential)
Pembelajaran empirik berorientasi pada kegiatan induktif, berpusat pada peserta didik, dan berbasis
aktivitas.
5. Strategi Pembelajaran Mandiri
Strategi pembelajaran mandiri merupakan strategi pembelajaran yang bertujuan untuk membangun
inisiatif individu, kemandirian, dan peningkatan diri.

B. TUJUAN STRATEGI PEMBELAJARAN SD/MI


Sebagaimanaa yang telah dikemukakan oleh para ahli bahwa pengertian pembelajaran secara garis
besarnya adalah suatu proses belajar mengajar antar guru dan anak didik atau pun ada sangkut pautnya
dengan manusia. Dalam proses belajar mengajar, strategi pembelajaran sangat dibutuhkan. Hal ini
bertujuan untuk lebih mengikatkan kualitas anak didik menuju terbinanya insan yang handal dan mampu.
Tentunya untuk tujuan ini maka strategi pembelajaran termasuk dalam mengidentifikasi segala bentuk
dalam pelaksanaan proses belajar mengajar.
Muhaimin, mengemukakan bahwa strategi pembelajaran tersebut sangat bermanfaat pada setiap
tahapan dan proses belajara mengajar, baik pada tahap kesiapan (Readiness), pemberian motovasi,
perhatian, memberikan persepsi, retensi maupun dalam melakukan transfer ilmu pengetahuan kepada
siswa.8
Dapat di jelaskan bahwa strategi yang dibutuhkan dalam persiapan proses belajar mengajar yang
harus diperhatikan adalah kesiapan belajar siswa baik fisik maupun psikis (Jasmani-Rohani) yang
memungkinkan siswa atau subjek untuk melakukan proses belajar. Selanjutnya, pada aspek pemberian
motivasi, strategi sangat memberikan pengaruh pada siswa. Strategi motivasi ini mengharuskan adanya
tenaga pendorong (motivasi) atau penarik yang menyebabkan adanya tingkah laku kearah suatu tujuan
tertentu dalam hal ini adalah pada pencapaian tujuan proses belajar mengajar.
Adapaun target ideal dari strategi dalam proses pembelajaran adalah kemampuan siswa memahami
apa yang telah dipelajari bak kemampuan kognitif, afektif maupun psikomotorik. Atas dasar ini maka
perhatian atau dapat dikatakan kesungguhan dan keseriusan siswa dalam proses belajar mengajar menjadi
sangat urgen (Penting). Pada prinsip ini menyangkut suatu proses yang bersifat kompleks yang
menyebabkan orang dapat menerima atau meringkas informasi yang diperoleh dari lingkungannya.
Untuk menjelaskan tentang fungsi strategi pendidikan alangkah pentingnya untuk menjelaskan
terlebih dahulu tentang fungsi pendidikan Nasional sebagai tujuan nasional dari suatu pendidikan di
Indonesia. Perlunya hal ini mengingat bahwa seluruh proses pendidikan yang di selenggarakan bermuara
pada fungsi pendidikan nasional itu sendiri.

C. FUNGSI STRATEGI PEMBELAJARAN SD/MI


Fungsi strategi pandidikan dalam arti mikro (sempit) adalah suatu cara atau teknik yang dapat
membantu (secara sadar) pelaksanaan pendidikan dalam mengembangkan aspek jasmani dan rohani peserta
didik.
Berkenaan dengan pencapaian tujuan pembelajaran, strategi pendidikan merupakan salah satu aspek
yang perlu dipertimbangkan termasuk dalam merencanakan pembelajaran hingga pada pelaksaan
pembelajaran. Sebab segala kegiatan pembelajar muaranya pada tercapainya tujuan tersebut.

D. JENIS-JENIS STRATEGI PEMBELAJARAN SD/MI


Proses pembelajaran merupakan suatu hal yang dilakukan untuk menyampaikan suatu materi
terhadap siswa dari sumber informasi yaitu guru. Strategi pembelajaran ini menjadi langkah awal yang
harus diketahui sebelum guru melakukan proses belajar mengajar pada siswa didalam kelas. Banyaknya
macam metode pembelajaran akan memudahkan para guru dalam menyampaikan suatu materi terhadap
penerima materi yaitu guru. Seorang guru pasti akan menerapkan suatu strategi pembelajaran yang baik
untuk menghasilkan suatu prestasi kepada muridnya. Dengan strategi yang pas guru akan lebih mudah
dalam mengajar begitu juga dengan murid akan lebih mudah dalam menerima materi dari sumber informasi
tersebut.
Terdapat beberapa macam strategi pembelajaran yang bisa diterapkan dalam proses mengajar.
Berikut ini terdapat beberapa strategi yang akan kami jelaskan secara singkat untuk memudahkan proses
belajar mengajar.
1. Strategi Ekspositori.
Strategi inimerupakan strategi pembelajaran yang menitik beratkan pada proses penyampaian materi
secara verbal dari guru kepada anak didiknya. Tujuan strategi yang menerapkan penyampaian materi secara
verbal supaya mampu menguasai materi pelajaran dari guru sehingga mampu membawa hasil positif yaitu
prestasi. Strategi ini merupakan salah satu bentuk pendekatan pada proses belajar yang berorientasi kepada
guru.
2. Strategi Inquiry.
Didalam strategi ini terdapat beberapa konsep yang harus dilakukan sehingga memudahkan proses
pembelajaran. Salah satunya adalah strategi pembelajaran iquiry SPI merupakan rangkaian kegiatan
pembelajaran yang menitik beratkan pada proses pemikiran secara kritis dan analitis untuk menemukan
setiap jawaban dari suatu pertanyaan.
3. Strategi Inquiry Sosial.
Strategi pembelajaran dari kelompok sosial untuk sekelompok masyarakat. Strategi ini bisanya
dilakukan pada proses penyuluhan dimana seseorang menjelaskan suatu materi dengan cara terjun secara
langsung pada masyarakat.
Dengan mengetahui beberapa strategi pembelajaran diatas proses belajar mengajar akan lebih mudah
dan membawa hasil positif dengan menciptakan kualitas anak didik secara baik. Setiap strategi
pembelajaran memiliki kelemahan dan kelebihan secara sendiri sehingga setiap orang pembimbing dalam
proses pembelajaran bisa menyimpulkan secara sendiri karena setiap orang itu berbeda dalam cara
menyampaikan materi.
Strategi pembelajaran merupakan cara-cara yang berbeda untuk mencapai hasil pembelajaran yang
berbeda di bawah kondisi yang berbeda (Reigeluth, 1983; Degeng, 1989). Variable strategi pembelajaran
diklafisikasikan menjadi tiga, yaitu
a. Strategi Pengorganisasian Pembelajaran
Strategi pengorganisasian adalah cara untuk membuat urutan (sequencing ) dan mensintesis (synthesizing
) fakta, konsep, prosedur, dan prinsip yang berkaitan, suatu isi pembelajaran. sequencing terkait dengan
cara pembuatan urutan penyajian isi suatu bidang studi, dan synthesizing terkait dengan cara untuk
menunjukan kepada siswa hubungan? Keterkaitan anatara fakta, konsep, prosedur, atau prinsip suatu
pembelajaran.
b. Strategi Penyampain Pembelajaran
Strategi penyampain pembelajaaran menekankan pada media apa yang dipakai untuk menyampaikan
pembelajaran, kegiatan belajar yang dilakukan oleh siswa, dan struktur belajar mengajar bagaimana yang
digunakan. Strategi penyampaian ( delivery strategy)adalah cara-cara yang dipakai untuk menyampaikan
pembelajaran kepada siswa, dan sekaligus untuk menerima serta merespons masukan-masukan dari siswa.
c. Strategi Pengelolaan Pembelajaran
Strategi pengelolaan pembelajaran sangat penting dalam sistem strategi pembelajaran secara keseluruhan.
Bagaimanapun baiknya perencanaan strategi pengorganisasian dan strategi penyamapaian pembelajaran,
namun jika strategi pengelolaan tidak diperhatikan maka efektivitas pembelajaran terkait dengan usaha
penataan interaksi anatarsiswa dengan komponen strategi pembelajaran yang terkait, baik berupa strategi
pengoorganisasian maupun strategi penyampaian pembelajaran.
Strategi pengelolaan berkaiatan dengan penetapan kapan suatu strategi atau komponen strategi tepat dipakai
dalam suatu situasi pembelajaran, paling tidak ada empat hal yang menjadi urusan strategi pengelolaan,
yaitu
1) Penjadwalan Penggunaan staregi pembalajaran,
2) Pembuatan catatan kemajuan belajar siswa
3) Pengelolaan motivisional, dan
4) Kontrol belajar

E. MENENTUKAN STRATEGI PEMBELAJARAN SD/MI YANG TEPAT


Strategi pembelajaran yang dipilih oleh guru selayaknya didasari pada berbagai pertimbangan sesuai
dengan situasi, kondisi dan lingkungan yang akan dihadapinya. Pemilihan strategi pembelajaran umumnya
bertolak dari
1. Rumusan tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan,
2. Analisis kebutuhan dan karakteristik peserta didik yang dihasilkan, dan
3. Jenis materi pelajaran yang akan dikomunikasikan.
Kozma dalam Gafur (1989) Secara umum menjelaskan bahwa strategi pembelajaran dapat diartikan
sebagai setiap kegiatan yang dipilih, yaitu yang dapat memberikan fasilitas atau bantuan kepada peserta
didik menuju tercapainya tujuan pembelajaran tertentu. Komponen strategi pembelajaran
1. Kegiatan Pembelajaran Pendahuluan
Kegiatan pendahuluan sebagai bagian dari suatu sistem pembelajaran secara keseluruhan memegang
peranan penting.
2. Penyampaian Informasi
Penyampaian informasi seringkali dianggap sebagai suatu kegiatan paling penting dalam proses
pembelajaran, padahal bagian ini hanya merupakan salah satu komponen dari strategi pembelajaran.
Artinya tanpa adanya kegiatan pendahuluan yang menarik atau dapat memotivasi peserta didik dalam
belajar maka kegiatan penyampaian informasi inimenjadi tidak berarti.
Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam penyampaian informasi adalah urutan, ruang lingkup danjenis
materi.
a. Urutan penyampaian
b. Ruang lingkup materi yang disampaikan
c. Materi yang akan disampaikan
Materi pelajaran umumnya merupakan gabungan antara jenis materi yang berbentuk pengetahuan (fakta
dan informasi yang terperinci), keterampilan (langkah-langkah, prosedur, keadaan dan syarat-syarat
tertentu) dan sikap (berisi pendapat ide, saran atau tanggapan) (Kemp, 1977). Merril (1977, h.37)
membedakan isi pelajaran menjadi 4 jenis yaitu fakta, konsep, prosedur dan prinsip.
3. Partisipasi Peserta Didik
Berdasarkan prinsip student centered maka peserta didik merupakan pusat dari suatu kegiatan belajar.
Dalam masyarakat belajar dikenal istilah CBSA (Cara Belajar Siswa Aktif) yang diterjemahkan dari’ SAL
(Student Active Learning) yang maknanya adalah bahwa proses pembelajaran akan iebih berhasil apabila
peserta didik secara aktif melakukan latihan-latihan secara langsung dan relevan dengan tujuan
pembelajaran yang sudah ditetapkan (Dick dan Carey, 1978, h 108).
Terdapat beberapa hal penting yang berhubungan dengan partisipasi peserta didik, yaitu:
a. Latihan dan praktek seharusnya dilakukan setelah peserta didik diberi informasi tentang suatu
pengetahuan, sikap atau keterampiian tertentu.
b. Umpan Balik Segera setelah peserta didik menunjukkan perilaku tertentu sebagai hasil belajarnya, maka
, guru memberikan umpan batik (feedback) terhadap hasil belajar tersebut. Melalui umpan balik yang
diberikan oleh guru, peserta didik akan segera mengetahui apakah jawaban yang merupakan kegiatan yang
telah mereka lakukan itu benar/atau salah, tepat/tidak tepat atau ada sesuatu yang perlu diperbaiki.
4. Tes
Serangkaian tes umum yang digunakan oleh guru untuk mengetahui
a. Apakah tujan pembelajaran khusus telah tercapai atau belum, dan
b. Apakah pengetahuan, sikap dan keterampilan telah benar-benar dimiliki oleh peserta didik atau belum.
5. Kegiatan Lanjutan
Kegiatan yang dikenal dengan istilah follow up dari suatu hasil kegiatan yang telah dilakukan seringkali
tidak dilaksanakan dengan baik oleh guru. Dalam kenyataannya, setiap kali setelah tes dilakukan selalu saja
terdapat peserta didik yang berhasil dengan bagus atau di atas rata-rata :
a. Hanya menguasai sebagian atau cenderung di rata-rata tingkat penguasaan yang diharapkan dapat dicapai
b. Peserta didik seharusnya menerima tindak lanjut yang berbeda sebagai konsekuensi dari hasil belajar yang
bervariasi tersebut.
Kriteria pemelihan strategi pembelajaran yang dapat digunakan dalam memilih strategi pembelajaran,
yaitu:
1. Berorientasi pada tujuan pembelajaran
2. Pilih teknik pembelajaran sesuai dengan keterampilan yang diharapkan dapat dimiliki saat bekerja nanti
(dihubungkan dengan dunia kerja).
3. Gunakan media pembelajaran yang sebanyak mungkin memberikan rangsangan pada indera peserta
didik.
Gerlach dan Ely (1990, him 173) menjelaskan pola umum pemilihan strategi pembelajaran yang akan
digambarkan melalui bagan berikut ini: pemilihan strategi pembelajaran yang didasari pada prinsip
efisiensi, efektivftas, dan keterlibatan peserta didik.
1. Efisiensi
Penggunaan strategi pembelajaran yang tepat dan pemilihan metode yang mendukung tercapainya tujuan
yang telah ditetapkan.

2. Efektivitas
Pada dasarnya efektivitas ditujukan untuk menjawab pertanyaan seberapajauh tujuan pembe¬lajaran telah
dapat dicapai oleh peserta didik. Perlu diingat bahwa strategi yang paling efisien sekalipun tidak otomatis
menjadi strategi yang efektif.

3. Keterlibatan Peserta Didik


Pada dasamya keteriibatan peserta didik dalam proses pembelajaran sangat dipengaruhi oleh tantangan
yang dapat membangkitkan motivasinya dalam pembelajaran. Strategi pembelajaran yang besifat inkuiri
pada umumnya dapat memberikan rangsangan belajar yang lebih intensif dibandingkan dengan strategi
pembelajaran yang hanya bersifat ekspositori.

4. Strategi Kontekstual
Pendekatan kontektual(Contextual Teaching and Learning /CTL) merupakan konsep belajar yang
membantu guru mengaitkan antara materi yang diajarkan dengan situasi dunia nyata siswa dan mendorong
siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan
mereka sebagai anggota keluarga dan masyarakat. Dengan konsep itu, hasil pembelajaran diharapkan lebih
bermakna bagi siswa. Proses pembelajaran berlangsung alamiah dalam bentuk kegiatan siswa bekerja dan
mengalami, bukan mentransfer pengetahuan dari guru ke siswa. Strategi pembelajaran lebih dipentingkan
daripada hasil.

Dalam kelas kontektual, tugas guru adalah membantu siswa mencapai tujuannya. Maksudnya, guru lebih
banyak berurusan dengan strategi daripada memberi informasi. Tugas guru mengelola kelas sebagai sebuah
tim yang bekerja bersama untuk menemukan sesuatu yang baru bagi anggota kelas (siswa). Sesuatu yang
baru datang dari menemukan sendiri bukan dari apa kata guru. Begitulah peran guru di kelas yang dikelola
dengan pendekatan kontekstual
Beberapa strategi pengajaran yang dapat dikembangkan oleh guru melalui pembelajaran kontekstual, antara
lain:
1. Pembelajaran berbasis masalah
Sebelum memulai proses belajar-mengajar di dalam kelas, siswa terlebih dahulu diminta untuk
mengobservasi suatu fenomena terlebih dahulu. Kemudian siswa diminta untuk mencatat permasalahan-
permasalahan yang muncul. Setelah itu, tugas guru adalah merangsang siswa untuk berpikir kritis dalam
memecahkan masalah yang ada. Tugas guru adalah mengarahkan siswa untuk bertanya, membuktikan
asumsi, dan mendengarkan perspektif yang berbeda dengan mereka.
2. Memanfaatkan lingkungan siswa untuk memperoleh pengalaman belajar
Guru memberikan penugasan yang dapat dilakukan di berbagai konteks lingkungan siswa antara lain
di sekolah, keluarga, dan masyarakat. Penugasan yang diberikan oleh guru memberikan kesempatan bagi
siswa untuk belajar di luar kelas. Misalnya, siswa keluar dari ruang kelas dan berinteraksi langsung untuk
melakukan wawancara. Siswa diharapkan dapat memperoleh pengalaman langsung tentang apa yang
sedang dipelajari. Pengalaman belajar merupakan aktivitas belajar yang harus dilakukan siswa dalam
rangka mencapai penguasaan standar kompetensi, kemampuan dasar dan materi pembelajaran.
3. Memberikan aktivitas kelompok
Aktivitas belajar secara kelompok dapat memperluas perspektif serta membangun kecakapan
interpersonal untuk berhubungan dengan orang lain. Guru dapat menyusun kelompok terdiri dari tiga, lima
maupun delapan siswa sesuai dengan tingkat kesulitan penugasan.
4. Membuat aktivitas belajar mandiri
Peserta didik tersebut mampu mencari, menganalisis dan menggunakan informasi dengan sedikit
atau bahkan tanpa bantuan guru. Supaya dapat melakukannya, siswa harus lebih memperhatikan bagaimana
mereka memproses informasi, menerapkan strategi pemecahan masalah, dan menggunakan pengetahuan
yang telah mereka peroleh. Pengalaman pembelajaran kontekstual harus mengikuti uji-coba terlebih
dahulu; menyediakan waktu yang cukup, dan menyusun refleksi; serta berusaha tanpa meminta bantuan
guru supaya dapat melakukan proses pembelajaran secara mandiri (independent learning).
5. Membuat aktivitas belajar bekerjasama dengan masyarakat
Sekolah dapat melakukan kerja sama dengan orang tua siswa yang memiliki keahlian khusus untuk
menjadi guru tamu. Hal ini perlu dilakukan guna memberikan pengalaman belajar secara langsung dimana
siswa dapat termotivasi untuk mengajukan pertanyaan. Selain itu, kerja sama juga dapat dilakukan dengan
institusi atau perusahaan tertentu untuk memberikan pengalaman kerja. Misalnya meminta siswa untuk
magang di tempat kerja.
6. Menerapkan penilaian autentik
Dalam pembelajaran kontekstual, penilaian autentik dapat membantu siswa untuk menerapkan
informasi akademik dan kecakapan yang telah diperoleh pada situasi nyata untuk tujuan tertentu. Menurut
Johnson (2002: 165), penilaian autentik memberikan kesempatan luas bagi siswa untuk menunjukkan apa
yang telah mereka pelajari selama proses belajar-mengajar. Adapun bentuk-bentuk penilaian yang dapat
digunakan oleh guru adalah portfolio, tugas kelompok, demonstrasi, dan laporan tertulis.
Portfolio merupakan kumpulan tugas yang dikerjakan siswa dalam konteks belajar di kehidupan
sehari-hari. Siswa diharapkan untuk mengerjakan tugas tersebut supaya lebih kreatif. Mereka memperoleh
kebebasan dalam belajar. Selain itu, portfolio juga memberikan kesempatan yang lebih luas untuk
berkembang serta memotivasi siswa. Penilaian ini tidak perlu mendapatkan penilaian angka, melainkan
melihat pada proses siswa sebagai pembelajar aktif. Sebagai contoh, siswa diminta untuk melakukan survey
mengenai jenis-jenis pekerjaan di lingkungan rumahnya.
Tugas kelompok dalam pembelajaran kontekstual berbentuk pengerjaan proyek. Kegiatan ini
merupakan cara untuk mencapai tujuan akademik sambil mengakomodasi perbedaan gaya belajar, minat,
serta bakat dari masing-masing siswa. Isi dari proyek akademik terkait dengan konteks kehidupan nyata,
oleh karena itu tugas ini dapat meningkatkan partisipasi siswa. Sebagai contoh, siswa diminta membentuk
kelompok proyek untuk menyelidiki penyebab pencemaran sungai di lingkungan siswa.
Dalam penilaian melalui demonstrasi, siswa diminta menampilkan hasil penugasan kepada orang
lain mengenai kompetensi yang telah mereka kuasai. Para penonton dapat memberikan evaluasi
pertunjukkan siswa. Sebagai contoh, siswa diminta membentuk kelompok untuk membuat naskah drama
dan mementaskannya dalam pertunjukan drama.
Bentuk penilaian yang terakhir adalah laporan tertulis. Bentuk laporan tertulis dapat berupa surat, petunjuk
pelatihan teknis, brosur, essai penelitian, essai singkat.
Menurut Brooks&Brooks dalam Johnson (2002: 172), bentuk penilaian seperti ini lebih baik dari
pada menghafalkan teks, siswa dituntut untuk menggunakan ketrampilan berpikir yang lebih tinggi agar
dapat membantu memecahkan masalah yang dihadapi dalam kehidupan sehari-hari.
Berdasarkan penjabaran yang telah dikemukakan diatas, kurikulum berbasis kompetensi perlu
dikembangkan supaya dapat diterapkan secara efektif di dalam proses belajar mengajar. Guru sebagai
pelaksana kurikulum dapat menerapkan strategi pembelajaran kontekstual supaya dapat memberikan
bentuk pengalaman belajar. Dengan demikian, siswa diharapkan dapat memiliki kecakapan untuk
memecahkan permasalahan hidup sesuai dengan kegiatan belajar yang mengarahkan siswa untuk terlibat
secara langsung dalam konteks rumah, masyarakat maupun tempat kerja.
Keberhasilan penerapan pembelajaran kontekstual perlu melibatkan berbagai pihak. Dalam hal ini,
penulis menyarankan supaya pihak sekolah dan masyarakat memiliki kesadaran akan pentingnya beberapa
hal, yaitu:sumber belajar tidak hanya berasal dari buku dan guru, melainkan juga dari lingkungan sekitar
baik di rumah maupun di masyarakat; strategi pembelajaran kontekstual memiliki banyak variasi sehingga
memungkinkan guru untuk mengembangkan model pembelajaran yang berbeda dengan keajegan yang ada;
pihak sekolah dan masyarakat perlu memberikan dukungan baik materiil maupun non-materiil untuk
menunjang keberhasilan proses belajar siswa.

Anda mungkin juga menyukai