0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
48 tayangan27 halaman

Korelasi Indeks Telur dan Daya Tetas Itik Cili

Dokumen tersebut membahas tentang itik cili dan faktor-faktor yang mempengaruhi daya tetas telurnya, termasuk indeks telur. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara indeks telur dengan daya tetas telur itik cili. Diharapkan hasilnya dapat menambah informasi tentang faktor-faktor yang mempengaruhi daya tetas telur itik cili.

Diunggah oleh

Fatimah Pohontu
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
48 tayangan27 halaman

Korelasi Indeks Telur dan Daya Tetas Itik Cili

Dokumen tersebut membahas tentang itik cili dan faktor-faktor yang mempengaruhi daya tetas telurnya, termasuk indeks telur. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara indeks telur dengan daya tetas telur itik cili. Diharapkan hasilnya dapat menambah informasi tentang faktor-faktor yang mempengaruhi daya tetas telur itik cili.

Diunggah oleh

Fatimah Pohontu
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

1

BAB 1 PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Itik merupakan salah satu ternak unggas air (water fowls) yang memiliki

peranan penting sebagai sumber gizi terutama sumber protein hewani untuk

kebutuhan pangan manusia yang saat ini terus mengalami peningkatan. Permintaan

masyarakat terhadap penyediaan telur itik yang semakin meningkat dipengaruhi

oleh kecendrungan masyarakat yang lebih menyukai telur itik. Diantara berbagai

bangsa unggas air, dikenal itik bali yang berasal dari bali. Itik bali merupakan

keturunan dari persilangan itik Indian Runner dari Hindia Timur dengan itik

dosmetik dan liar yang diduga telah berevolusi dalam periode waktu yang lama dan

dikembangkan di Bali, Lombok dan Jawa Timur (Rudolph, 2002). Itik mempunyai

beberapa keunggulan daripada unggas lainnya yaitu : itik lebih tahan penyakit

sehingga memiliki tingkat kematian yang rendah, mampu mempertahankan

produksi telur lebih lama dibandingkan unggas lainnya dan itik tetap mampu

bertelur sehingga pengadaan pakan itik tidak terlalu sulit (Suharno, 2010).

Itik cili merupakan itik hasil persilangan antara itik peking dan itik bali.

Penamaan “itik cili” pertama kali diberikan oleh Prof. Dr. Ir. I Nyoman Suparta,

MS, MM. Itik cili memiliki tingkat pertumbuhan dan produksi karkas serta efisiensi

penggunaan ransum yang lebih baik dibandingkan itik bali. Dengan kualitas genetik

yang baik akan tumbuh dengan baik/cepat sehingga produksi daging menjadi lebih

tinggi, sehingga dapat dikatakan bahwa “itik cili” memiliki mutu genetik yang lebih

baik dibandingkan itik bali (Ambara, 2013).


2

Itik dapat mempertahankan produksi telurnya lebih lama dibandingkan ayam

niaga petelur, itik lokal memiliki sifat mengeram yang sangat rendah, sehingga

untuk menetaskan perlu dilakukan secara buatan (Haqiqi, 2008). Telur itik memiliki

kualitas yang lebih baik dibandingkan dengan telur ayam karena mengandung

protein, kalori dan lemak lebih tinggi (Sultoni, 2004). Selain keunggulan, telur itik

juga mempunyai kekurangan dibandingkan dengan telur unggas lainnya yaitu

mempunyai kandungan asam lemak jenuh yang tinggi sehingga merangsang

peningkatan kadar kolestrol. Ada dua cara yang dapat dilakukan pada proses

penetasan yaitu secara alami oleh induk unggas dan secara buatan (artifisial)

menggunakan mesin tetas (Siboro dkk., 2016). Penetasan dengan mesin tetas juga

dapat meningkatkan daya tetas telur karena temperaturnya dapat diatur lebih stabil

tetapi memerlukan biaya dan perlakuan lebih tinggi dan intensif (Jayasamudera dan

Cahyono, 2005). Telur tetas memberikan peranan besar dalam penetasan maka telur

yang akan di tetaskan harus diseleksi, hal-hal yang perlu diseleksi adalah bobot telur

dan indeks telur. Menurut Lestari dkk., 2013) bahwa bobot telur yang lebih tinggi

akan menghasilkan bobot tetas yang lebih besar.

Telur yang telah melalui proses seleksi diharapkan mampu mengurangi

kematian embrio serta dapat meningkatkan daya tetas (Suprijatna dkk., 2005).

Faktor - faktor yang mempengaruhi daya tetas yaitu teknis memilih telur tetas atau

seleksi telur tetas (bentuk telur, berat telur, keadaan kerabang, warna kerabang dan

lama penyimpanan) dan teknis operasional dari petugas yang menjalankan mesin

tetas (suhu, kelembaban, sirkulasi udara dan pemutaran telur) (Sa’diah dkk., 2015).

Faktor lain yang mempengaruhi daya tetas yaitu genetik, nutrisi, fertilitas, dan
3

penyakit (Sinabutar, 2009). Berdasarkan uraian di atas, maka perlu dilakukan

penelitian yang berjudul “Korelasi Indeks Telur terhadap Daya Tetas Telur Itik

Cili”

1.2 Tujuan Penelitian

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah terdapat hubungan

indeks telur terhadap daya tetas telur itik cili.

1.3 Manfaat Penelitian

Hasil penelitian ini diharapkan dapat menambah informasi mengenai

hubungan indeks telur terhadap daya tetas telur itik cili (itik bali x peking).

1.4 Hipotesis

Gambaran indeks telur dengan daya tetas telur itik cili .


4

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Deskripsi Itik

Itik merupakan salah satu unggas air (water fowls) yang dikenal juga dengan

nama lain bebek dalam bahasa Jawa. Nenek moyang itik berasal dari Amerika Utara

yaitu itik liar (Anas moscha) atau Wild mallard. Proses domestikasi yang terus

menerus oleh manusia, maka jadilah itik yang dipelihara sekarang dengan nama

ilmiah Anas domesticus. Ternak itik mempunyai deskripsi ilmiah sebagai berikut

(Suharno, 2001).

Kelas : Aves

Ordo : Anseriformes

Famili : Anatidae

Sub famili : Anatinae

Genus : Anas

Menurut tujuan utama pemeliharaannya, ternak itik sebagaimana ternak

ayam, dibagi menjadi 3 golongan, yaitu tipe pedaging, petelur dan ornamen.

Penggolongan tersebut didasarkan atas produk atau jasa utama yang dihasilkan oleh

itik tersebut untuk kepentingan manusia. Itik yang termasuk dalam golongan tipe

pedaging biasanya sifat-sifat pertumbuhan yang cepat serta struktur perdagingan

yang baik. Bangsa-bangsa itik yang termasuk dalam golongan petelur biasanya

badannya lebih kecil dibandingkan dengan tipe pedaging, bangsa itik yang

termasuk dalam golongan ini adalah Campbell dan Indian Runner. Selain itu ada

juga segolongan itik yang biasanya mempunyai warna bulu yang menarik atau
5

bentuk badan yang bagus, termasuk dalam golongan itik tipe ornamen atau sebagai

ternak hiasan, terutama di dalam kolam hias, bangsa-bangsa yang termasuk dalam

golongan ini adalah Calls, East India, Mallard, Mandarin dan Wood duck. Ada

bangsa-bangsa itik yang mempunyai tujuan ganda, misalnya di samping tujuan

utama hasil berupa daging, juga menghasilkan telur, misalnya bangsa Orpington

(Srigandono, 1997).

2.1.1 Itik Bali

Itik bali (Anas sp) merupakan itik lokal yang berkembang di Pulau Bali dan

Lombok. Itik bali mempunyai daya tahan hidup yang sangat tinggi dan jarang

menimbulkan angka kematian yang tinggi sehingga dapat dipelihara di berbagai

tempat di Indonesia (Rasyaf, 1992) serupa dengan pernyataan Murtidjo (1992)

yang menyatakan itik bali mempunyai ketahanan hidup yang tinggi dan jarang

menimbulkan angka mortalitas yang tinggi. Itik bali dapat dipelihara secara

terkurung dengan ransum kering yang kandungan nutrisinya seimbang, tanpa

dukungan kolam penggembalaan. Hal ini menunjukkan bahwa itik bali dapat

beradaptasi dengan mudah pada berbagai lingkungan.

Itik bali mempunyai karakteristik khas unggas petelur, tubuh langsing,

mata bersinar, berdiri hampir tegak, lincah dan mampu berjalan jauh (Rasyaf,

1992). Samosir (1993) menyatakan itik bali umumnya memiliki warna bulu

coklat, putih, putih kekuningan, abu-abu hitam dan campuran, kepala kecil, mata

bersinar dan kaki pendek. Jika dibandingkan dengan itik-itik petelur lainnya, itik

bali merupakan itik penghasil telur dengan telur yang relative kecil dengan berat

telur yaitu 59 gram/butir. Itik betina mempunyai kemampuan bertelur sekitar umur
6

lima bulan dengan berat 1,4 kg (Samosir, 1993) dan bertelur rata-rata 60-80 butir

setiap tahun (Darmadja, 1993).

2.1.2 Itik Peking

Gambar 2.1.2. Itik Peking (Wakhid, 2013)

Itik Peking (Anas platyrhynchos domestica) berasal dan dikembangkan di

daratan Tientsien Cina, sebagai itik penghasil daging. Itik Peking dikategorikan

sebagai tipe pedaging yang paling disukai baik di Negara China, Amerika maupun

Australia. Itik Peking merupakan itik yang dapat dibudidayakan diberbagai belahan

dunia (Liste dkk., 2012). Keunggulan itik peking ini sebagai penghasil daging

menyebabkan itik ini banyak disilangkan dengan itik lainnya guna memperbaiki

keturunan, salah satunya pada itik Alyesbury yang sering disilangkan dengan itik

peking. Persilangan itik peking dengan itik alyesbury menghasilkan keturunan

dengan tekstur daging yang lebih baik (Akhmad Nur, 2011).

Itik Peking dapat beradaptasi dengan baik di negara Indonesia yang beriklim

tropis seperti Semarang, Lumajang, Surabaya, Kediri, Pasuruan dan Mojokerto.

Bobot badan itik Peking pada umur 7-9 minggu untuk yang jantan 3,500-4,000

kg/ekor sedangkan untuk yang betina mencapai 3,000-3,500 kg/ekor (Adzitey,


7

2011). Ciri-ciri itik Peking yaitu berbulu putih, paruh dan shank berwarna kuning

serta bertubuh gempal (Agriflo, 2012). Itik ini memiliki kemampuan pertumbuhan

yang sangat cepat karena mampu mengkonsumsi ransum dengan jumlah yang

banyak (Wakhid, 2013).

2.2 Penetasan

Penetasan merupakan suatu proses perkembangan embrio di dalam telur

hingga menetas yang bertujuan untuk mendapatkan individu baru. Cara penetasan

terbagi dua yaitu penetasan alami (menggunakan induk) dan penetasan buatan

(menggunakan alat tetas). Penetasan buatan lebih praktis dan efisien dibandingkan

penetasan alami, penggunaan alat tetas memiliki kelebihan yaitu dengan kapasitas

yang lebih banyak sehingga membantu peternak dalam menjaga kontiunitas

usahanya. Prinsip kerja alat tetas yaitu mengkondisikan panas yang ditimbulkan

oleh hasil eraman induk unggas dengan alat pemanas buatan (Sujionohadi dkk,

2007). Proses penetasan pada telur, penting menciptakan kondisi yang ideal seperti

penetasan alami, sehingga pada mesin tetas temperatur, kelembaban dan sirkulasi

udara dalam ruang mesin tetas harus diperhatikan (Suprijatna dkk., 2005).

2.2.1 Telur tetas

Telur tetas merupakan telur fertil atau telah dibuahi, yang dihasilkan dari

indukan unggas. Telur tetas yang digunakan dalam proses penetasan adalah telur

yang telah diseleksi. Syarat telur tetas yang baik yaitu sehat dan produktivitasnya

tinggi, umur telur dan kualitas fisik telur (bentuk, berat, keadaan kerabang)

(Suprijatna et al., 2005). Kualitas telur tetas tergantung dari kualitas induk, kualitas

pakan yang dikonsumsi dan suhu (Kholis dan Sitanggang, 2001).


8

2.2.2 Seleksi telur tetas

Seleksi telur tetas merupakan tahapan yang harus dilaksanakan karena

adanya hubungan yang erat antara kualitas telur tetas (berat, tebal kerabang, serta

bentuk dan kondisi permukaan kerabang) terhadap kualitas DOD yang menetas

(Yaman, 2010). Hal paling utama yang harus diperhatikan dalam memilih telur tetas

adalah kualitas telur yang baik. Jika kualitas telur tidak baik, persentase jumlah telur

tetas yang menetas akan kurang atau rendah. Untuk memperoleh telur tetas yang

baik, dibutuhkan penyeleksian sebelum telur ditetaskan (Kholis dan Sitanggang,

2001).

Tujuan seleksi telur adalah untuk memperoleh telur yang diharapkan

(Sudaryani dan Santosa, 2002). Telur yang tipis atau terlalu poros akan

mengakibatkan penguapan isi telur terlalu tinggi sehingga akan menurunkan daya

tetas akan tetapi telur yang terlalu tebal juga akan mengakibatkan daya tetas

menurun karena DOD kesulitan memecahkan kulit telur. Telur tetas yang baik

permukaan kulitnya halus, tidak kotor dan tidak retak (Suprijatna et al., 2005).

Kebersihan terhadap telur akan berpengaruh terhadap daya tetas karena

kotoran yang menempel mengandung mikroorganisme yang dapat mengkotaminasi

telur tetas dan embrio yang terdapat didalam telur. Faktor-faktor yang

mempengaruhi kebersihan telur tetas antara lain penanganan telur pada kebersihan

kandang dan induk (Wardiny, 2002).

Umur atau lama penyimpanan telur tetas merupakan salah satu faktor yang

memengaruhi kualitas penetasan telur. Penyimpanan terlalu lama dapat

menyebabkan terjadinya penurunan berat telur dan berkurangnya kantong udara


9

(Hartono dan Isman, 2010). Sama halnya dengan pernyataan Andrianto (2005)

bahwa telur yang disimpan terlalu lama, apabila disimpan dalam lingkungan yang

kurang baik bisa menyebabkan berkurangnya berat telur dan kantong udara.

2.3 Mesin Tetas

Mesin tetas adalah salah satu alat penetasan buatan untuk menetaskan telur

tanpa melalui proses pengeraman induk. Cara kerja mesin tetas pada prinsipnya

meniru induk unggas pada waktu mengerami telurnya. Mesin tetas yang baik dapat

menciptakan kondisi sebagaimana kondisi alami induk unggas. Keuntungan

penggunaan mesin tetas adalah, 1) penetasan dapat dilakukan sewaktu-waktu tanpa

bergantung pada induk, 2) telur dapat ditetaskan secara serentak dan menghasilkan

anak yang seragam, 3) telur yang ditetaskan jauh lebih banyak, 4) induk dapat terus

memproduksi telur selama proses penetasan berlangsung dan 5) hemat energi,

murah biaya, praktis dan mudah (Santa, 2002). Penetasan buatan lebih praktis dan

efisien dibandingkan penetasan alami, dengan kapasitasnya yang lebih besar.

Jayasamudera dan Cahyono, (2005) menyatakan bahwa penetasan dengan mesin

tetas juga dapat meningkatkan daya tetas telur karena temperaturnya dapat diatur

lebih stabil tetapi memerlukan biaya dan perlakuan lebih tinggi dan intensif.

Peralatan mesin tetas terdiri dari lampu yang berfungsi sebagai sumber pemanas,

termometer, termoregulator sebagai pengontrol suhu dan rak telur (Abidin, 2003).

2.4 Indeks Telur

Indeks telur merupakan perbandingan antara lebar telur dibagi panjang telur

dikali 100% (Nikolova, 2006). Indeks telur itik bervariasi sesuai dengan bentuk

telurnya. Apabila telur lonjong maka indeks telurnya dibawah 70%, oval mencapai
10

74-77% dan bulat mencapai 86% pada itik (Yusuf, 2012). Indeks telur merupakan

salah satu indikator untuk menentukan telur yang akan ditetaskan baik atau tidak.

Indeks telur yang normal adalah antara 70-79%. Induk telur yang baru mulai

bertelur memiliki bentuk telur yang dihasilkan cenderung runcing dan memanjang,

sedangkan induk yang semakin tua menghasilkan bentuk telur yang semakin bulat

dan besar (Hermawan, 2000). Bentuk telur yang baik adalah proporsional, tidak

terlalu lonjong dan juga tidak terlalu bulat (Sudaryani, 1996).

2.5 Daya Tetas

Daya tetas merupakan persentase jumlah telur yang menetas dari sejumlah

telur yang fertile (Setiadi, 2000). Daya tetas adalah angka yang menunjukkan tinggi

rendahnya kemampuan telur untuk menetas (Kartasudjana dan Suprijatna, 2006).

Daya tetas yang tinggi dapat dilihat dari nilai indeks telur, yaitu perbandingan lebar

maksimal dengan panjang maksimal telur dikali dengan 100% (Hartono dan Isman,

2010). Rarasati (2002) mengatakan bahwa suhu yang terlalu tinggi dapat

menyebabkan telur mengalami dehidrasi atau kekeringan, sehingga DOD yang

dihasilkan akan lemah, akibatnya DOD akan mengalami kekerdilan dan mortalitas

yang tinggi.

Suhu atau temperatur memegang peranan yang sangat penting dalam

penetasan telur karena mempengaruhi perkembangan embrio di dalam telur. Jika

suhu terlalu rendah maka perkembangan organ-organ embrio tidak berkembang

secara proposional (Susila, 1997). Wiharto (1988) mengatakan bahwa apabila suhu
11

terlalu rendah umumnya menyebabkan kesulitan menetas dan pertumbuhan embrio

tidak normal karena sumber pemanas yang dibutuhkan tidak mencukupi. Suhu dan

kelembaban lingkungan memberikan pengaruh yang sangat besar terhadap

penurunan kualitas telur pada saat penyimpanan. Suhu penyimpanan yang terlalu

tinggi dapat menyebabkan embrio menjadi kekurangan cairan (dehidrasi). Suhu

penyimpanan yang terlalu rendah dapat menyebabkan terjadinya kelembaban yang

berlebihan sehingga embrio mengalami kelebihan cairan, lemas dan mati (Hartono

dan Isman, 2010). Maryadi (2011) menambahkan bahwa selama periode

penyimpanan, telur disimpan pada suhu di bawah yang dibutuhkan untuk

perkembangan embrio. Meliati (2013) mengatakan penyimpanan telur sebaiknya

dilakukan pada suhu 15-18,3°C dengan kelembaban 75-85%.

Hodgetts (2000) mengatakan bahwa suhu yang baik untuk penetasan adalah

37,8°C dengan kisaran 37,2-38,2°C. Pada suhu ini akan dihasilkan daya tetas yang

optimum. Temperatur dan kelembaban merupakan faktor penting untuk

perkembangan embrio. Temperatur yang terlalu tinggi akan menyebabkan kematian

embrio ataupun abnormalitas embrio sedangkan kelembaban mempengaruhi

pertumbuhan normal dari embrio (Wulandari, 2002).

2.6 Faktor-faktor yang mempengaruhi Daya Tetas dan Indeks Telur

Banyak faktor yang mempengaruhi daya tetas telur antara lain : Keutuhan

telur, berat telur, bentuk telur dan kebersihan kulit telur (Amrin, 2008). Faktor lain

yang mempengaruhi daya tetas yaitu genetik, nutrisi, fertilitas dan penyakit

(Sinabutar, 2009). Daya tetas dan kualitas telur tetas dipengaruhi oleh cara

penyimpanan, lama penyimpanan, tempat penyimpanan, suhu mesin tetas dan


12

pembalikan selama penetasan. Penyimpanan yang terlalu lama menyebabkan

kualitas dan daya tetas menurun sehingga telur sebaiknya disimpan tidak lebih dari

7 hari (Raharjo, 2004).

Faktor - faktor yang mempengaruhi daya tetas yaitu teknis memilih telur

tetas atau seleksi telur tetas (bentuk telur, berat telur, keadaan kerabang, warna

kerabang dan lama penyimpanan) dan teknis operasional dari petugas yang

menjalankan mesin tetas (suhu, kelembaban, sirkulasi udara dan pemutaran telur)

serta faktor yang terletak pada induk yang digunakan sebagai bibit (Sa’diah dkk.,

2015).

Beberapa faktor yang mempengaruhi indeks telur antara lain bangsa,

genetik, variasi individu dan kelompok (Roesdiyanto, 2002). Bobot tubuh induk

juga berpengaruh pada bentuk telur, semakin besar tubuhnya memungkinkan

ukuran isthmus yang semakin lebar dan besar, sehingga telur yang diproduksi

memiliki bentuk yang cenderung bulat (Melviyanti, 2013). Bentuk telur

dipengaruhi oleh saluran reproduksi induk dan dapat berubah karena adanya

kelainan pada daerah magnum, isthmus dan uterus (Setiadi, 2000).

Ini sesuai dengan pernyataan Asep (2000) bahwa indeks telur antara 72-

80% menunjukkan hasil daya tetas yang tinggi. Indeks telur yang dihasilkan juga

relatif tidak berbeda dengan indeks telur hasil perkawinan ayam buras yang

dilaporkan oleh Kurnianto et al., (2010) yaitu 76,74%. Wardiny (2002) mengatakan

bahwa bentuk telur yang oval mempunyai daya tetas yang baik sedangkan bentuk

telur yang terlalu bulat dan terlalu lonjong mempunyai daya tetas yang rendah.
13

Indeks telur menujukkan tingkat kelonjongan telur. Semakin besar angka indeks

telur tersebut akan semakin bulat dan sebaliknya (Setiadi, 2000).

2.7 Kematian Embrio

Turunnya daya tetas dapat disebabkan oleh mortalitas (kematian) embrio

selama empat hari pertama dan tiga hari terakhir masa dari pengeraman (Jull, 1951).

Nort (1978) menjelaskan bahwa pada saat pengeraman, posisi kuning telur dapat

naik dan melekat pada bagian luar selaput putih telur. Hal ini disebabkan karena

berat jenis kuning telur yang menurun akibat faktor penyimpanan telur.

Menurut Iskandar (2003), terjadinya kematian embrio dalam proses

penetasan dipengaruhi oleh umur telur, semakin lama telur disimpan dapat

mengakibatkan penguraian zat organik. Temperatur yang terlalu tinggi akan

menyebabkan kematian embrio atau abnormalitas embrio sedangkan kelembaban

memengaruhi pertumbuhan normal dari embrio (Wulandari, 2002). Suhu dan

kelembaban juga mempengaruhi tingkat mortalitas DOD, suhu lingkungan yang

nyaman untuk unggas petelur berkisar antara 21-28°C dengan kelembaban 60-70%

(Astuti, 2009). Perubahan suhu akan berpengaruh terhadap kelembaban, suhu yang

rendah akan menyebabkan kelembaban tinggi, begitu pula sebaliknya. Ancaman

bagi organisme terestrial adalah suhu yang tinggi akan mengakibatkan kelembaban

rendah, apabila kelembaban rendah tubuh akan mengalami kekurangan cairan

akibat terjadi pengeringan (Isnaeni, 2006).


14

BAB 3 MATERI DAN METODE PENELITIAN

3.1 Tempat dan Waktu Penelitian

Penelitian akan dilaksanakan di Kandang Fakultas Peternakan dan

Perikanan Universitas Tadulako. Desa Sibalaya, Kecamatan Tanambulava

Kabupaten Sigi. Palu, Sulawesi Tengah. Rencana Penelitian ini akan dilaksanakan

selama 5 minggu.

3.2 Materi Penelitian

3.2.1 Bahan Penelitian

a. Telur yang digunakan dalam penelitian berjumlah 60 butir yang diperoleh

dari hasil persilangan itik bali dan itik peking (itik cili) yang diternakan

sendiri oleh peneliti. Dari telur tersebut belum diketahui berapa butir telur

yang fertile.

b. Air hangat dan Alkohol

Air hangat yang digunakan memiliki suhu kurang lebih 37°C - 39°C agar

diharapkan telur tidak rusak. Air hangat ini digunakan untuk membersihkan telur

dari kotoran yang menempel pada kerabangnya. Alkohol yang digunakan

merupakan alkohol 70%, penggunaan alkohol ini bertujuan untuk mencegah

terkontaminasinya telur oleh mikroba.

3.2.2 Alat Penelitian

Peralatan yang digunakan dalam penelitian ini terdiri dari :

1) Mesin tetas yang digunakan merupakan mesin tetas tipe semi otomatis

(sumber panas dari lampu merk Philips dilengkapi thermostat digital merk
15

Wilhi sebagai pengatur suhu dan hygrometer merk Extch sebagai alat

pengukur kelembaban dan pembalikan manual dengan tangan).

2) Timbangan (untuk mengetahui bobot telur digunakan timbangan merk

Camry dengan skala ketelitian 0,1 g).

3) Rak telur/ tray (digunakan untuk menempatkan telur selama penyimpanan

dan penetasan)

4) Jangka sorong (untuk mengukur panjang dan lebar telur), dan

5) Nampan plastik (untuk tempat menaruh air selama proses penetasan)

3.3 Prosedur Penelitian

Pengumpulan data dimulai pada waktu mengukur bobot telur sampai

menghitung jumlah telur yang menetas (daya tetas).

3.3.1 Pengumpulan Telur

Pengumpulan telur dilakukan setiap hari selama proses penelitian

berlansung. Telur yang telah dikumpulkan dari kandang di seleksi, seleksi yang

dilakukan meliputi dari kebersihan, bobot telur, warna kerabang, ukuran dan

keutuhan bentuk telur.

3.3.2 Persiapan Telur sebelum dimasukkan ke dalam inkubator

a. Telur dibersihkan menggunakan air hangat dengan suhu kurang lebih antara

37°C-39°C dengan menggunakan kain bersih. Hal ini bertujuan agar

kerabang telur bersih dari kotoran.

b. Menimbang telur yang sudah dibersihkan dengan menggunakan timbangan

merk camry dengan skala ketelitian 0,1 g dan mengukur indeks telur
16

(Panjang dan lebar) menggunakan jangka sorong dengan skala ketelitian

0,01 cm.

3.3.3 Persiapan Mesin Tetas

a. Tiga hari sebelum melakukan penetasan, inkubator/mesin tetas harus bersih

dari kotoran yang terlihat dan yang tidak terlihat. Maka dari itu mesin tetas

dibersihkan dengan cara di fumigasi (Murtidjo, 2005).

b. Menyalakan alat tetas selama 24 jam dan letakkan nampan yang berisi air

sebelum dipergunakan agar kondisi suhu dan kelembaban dalam keadaan

stabil. Suhu mesin tetas yang digunakan adalah 101°F atau 38°C dengan

kelembaban 70-85%.

3.3.4 Peneropongan, Pemutaran dan Pengontrolan telur selama proses penetasan

a. Peneropongan telur dilakukan setiap minggu untuk mengetahui

perkembangan dan kematian embrio selama proses inkubasi. Peneropongan

pertama dilakukan pada hari ke-7 untuk penentuan telur fertile hidup, fertile

mati dan infertile (kosong). Telur fertil ditunjukkan dengan adanya

pembuluh darah seperti jarring laba-laba dengan bintik ditengah sedangkan

telur fertile yang embrionya mati bintik darah berubah menjadi warna hitam.

Telur fertile mati dan infertile dikeluarkan dari inkubator.

b. Pemutaran telur dilakukan 3 kali sehari yaitu pada pagi hari pukul 06.00

WIB, siang hari pukul 12.00 WIB dan malam hari pukul 19.00 WIB, agar

upaya pemberian cahaya bisa merata sehingga pertumbuhan embrio

menjadi sempurna. Dengan pemutaran yang lebih sering maka telur akan

lebih cepat menetas (daya tetas) sehingga kandungan air di dalamnya tidak
17

akan banyak hilang yang dapat membuat bobot badan DOD meningkat dan

sebaliknya pemutaran yang tidak sering akan membuat telur tidak cepat

menetas (daya tetas) dengan baik, sehingga terjadinya penguapan yang

berlebihan dan kadar air di dalam telur akan berkurang yang dapat membuat

bobot badan DOD akan berkurang (North, 1978).

c. Melakukan pengontrolan terhadap suhu, kelembaban dan pemutaran telur.

Banyak kegagalan penetasan karena suhu alat pembangkit pemanas dan

kelembaban tidak dicek.

d. Setelah menetas dilakukan pendataan jumlah telur yang menetas dan telur

yang gagal menetas.

3.4 Peubah yang Diamati dan Cara Pengukuran

Peubah yang diamati antara lain indeks telur dengan daya tetas telur. Data

yang diperoleh kemudian diolah secara deskriptif. Hasil pengukuran kemudian

digunakan untuk menghitung korelasi antara data tersebut dengan menggunakan

rumus korelasi, koefisien determinasi dan regresi linear sederhana.

3.3.5 Indeks Telur

Indeks telur tetas didapatkan dari pengukuran panjang dan lebar dengan

menggunakan jangka sorong (Keynesandy, 2012).

Rumus :
𝑳𝒆𝒃𝒂𝒓 𝑻𝒆𝒍𝒖𝒓
𝑰𝒏𝒅𝒆𝒌𝒔 𝑻𝒆𝒍𝒖𝒓 = 𝑿 𝟏𝟎𝟎%
𝑷𝒂𝒏𝒋𝒂𝒏𝒈 𝑻𝒆𝒍𝒖𝒓
18

3.3.6 Daya Tetas

Penghitungan daya tetas dilakukan dengan menghitung jumlah telur yang

berhasil menetas dari jumlah telur yang fertil. Persentase daya tetas dihitung dengan

menggunakan rumus menurut North and Bell (1990) sebagai berikut:

𝑱𝒖𝒎𝒍𝒂𝒉 𝒕𝒆𝒍𝒖𝒓 𝒚𝒂𝒏𝒈 𝒎𝒆𝒏𝒆𝒕𝒂𝒔


𝑫𝒂𝒚𝒂 𝑻𝒆𝒕𝒂𝒔 = 𝑿 𝟏𝟎𝟎%
𝑱𝒖𝒎𝒍𝒂𝒉 𝒕𝒆𝒍𝒖𝒓 𝒇𝒆𝒓𝒕𝒊𝒍

3.4 Analisis Data

Data indeks telur dan daya tetas diolah secara deskriptif.


19

BAB 4 HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil dan Pembahasan

4.1.1 Indeks Telur Itik Cili

Indeks telur itik cili dapat dilihat pada Tabel 4-1-1.

4.1.2 Daya Tetas Telur Itik Cili

Daya tetas telur itik cili dapat dilihat pada Tabel 4-1-2.

Tabel 4-1. Daya Tetas Telur Itik Cili

Daya tetas Jumlah (n) Persentase (%)

Menetas 27 45

Fertil 33 55

Total 60 100

Berdasarkan tabel 4-1. Dijelaskan bahwa daya tetas telur itik cili cukup

rendah. Presentase jumlah telur itik cili yang menetas dari jumlah telur yang fertil

adalah 45%, sedangkan presentase jumlah telur itik cili yang tidak menetas dari

jumlah telur yang fertil adalah 55%. Faktor utama yang mempegaruhi daya tetas

telur itik cili adalah kurangnya kehati-hatian dalam melakukan pembalikkan telur.

Menurut djannah 1984, faktor-faktor yang mempengaruhi daya tetas yaitu

teknis pada waktu memilih telur tetas atau seleksi telur tetas (bentuk telur, bobot

telur, keadaan kerabang, ruang udara di dalam telur, lama penyimpanan dan teknis

operasional dari petugas yang menjalankan mesin tetas (suhu, kelembaban,

sirkulasi udara dan pemutaran telur). Yang menyebabkan rendahnya daya tetas

bukan hanya disebabkan oleh tata laksana pemeliharaan, tetapi teknik penetasan
20

sangat penting dalam meningkatkan keberhasilan usaha penetasan. Menurut Rasyaf

(1993) untuk menghasilkan daya tetas yang baik tidak hanya dibutuhkan protein

dan energi tetapi juga keseimbangan vitamin dan mineral. Semua itu bertujuan

untuk mendukung pertumbuhan embrio saat telur akan ditetaskan.


21

BAB 5 HASIL DAN PEMBAHASAN

5.1 Kesimpulan

Berdasarkan kesimpulamn
22

LAMPIRAN

Lampiran 1. Dokumentasi Penelitian Telur Itik Cili

Lampiran 2. Pengumpulan telur itik cili didalam kandang.

Lampiran 3. Telur itik cili beserta gambar itik cili (cina x bali) didalam kandang.
23

Lampiran 4. Pengukuran telur dan penimbangan telur.

Lampiran 5. Alat alat untuk penetasan telur itik cili.


24

DAFTAR PUSTAKA

Agriflo, 2012. Itik. Jakarta: Penebar Swadaya.


Astuti, D.A., 2009. Petunjuk Praktis Beternak Ayam Ras Petelur, Itik dan Puyuh.
Agromedia Pustaka. Jakarta.
Adzitey, F and Adzitey, S. P., 2011. Duck Production Has a Potential To Redce
Poverty Among Rural Households in Asian Communities – A Mini Revew.
J. World’s Poult. Res. 1 (1) : 7 – 10.
Ambara, A. A., I. N. Suparta dan I. M. Suasta., 2013. Performan itik Cili
(persilangan itik Peking dan itik Bali) umur 1-9 minggu yang diberi
ransum komersial dan ransum buatan dibandingkan itik Bali. Jurnal
Peternakan Tropika. 1 (1):20-33.
Akhmad, N., 2011. Pembesaran Itik Pedaging Jenis Unggul dan Cepat Panen. Rona
Publishing. Yogyakarta.
Asep, 2000. Pengaruh Bobot dan Indeks Telur terhadap Jenis Kelamin Anak Ayam
Kampung. Skripsi. Institut Pertanian Bogor. Bogor. (tidak dipublikasikan).
Andrianto, T. T., 2005. Panduan Praktis Beternak. Absolut. Yogyakarta.
Amrin, A., 2008. Faktor yang mempengaruhi daya tetas. faktor yang mempengaruhi
daya tetas. Anggorodi, R., 1985. Ilmu Makanan Ternak Unggas Kemajuan
Mutakhir. [Link].
Abidin, Z., 2003. Membuat dan Mengelola Mesin Tetas Semi Modern. Agromedia
Pusat. Jakarta.
Bharoto, K. D., 1981. Cara Beternak Itik. Cetakan ke c1, Aneka Ilmu,
[Link], P. D. 2009. Pengaruh Umur Pejantan Terhadap
Kualitas Semen Beku Sapi Limousin. Skripsi. Fakultas Peternakan
Universitas Brawijaya : Malang. (tidak dipublikasikan).
Baruah, K. K. P. K. Sharma dan N. N Bora., 2001. Fertility, hatchability and
embryonic mortality inducks. J. Indian Veterinaryn 78:529—530
Cahyono, B., 2011. Pembibitan Itik. Cetakan ke-2. Penebar Swadaya. Jakarta.

Hermawan, A., 2002. Pengaruh bobot dan indeks telur terhadap jenis kelamin anak
ayam kampung saat menetas. Skripsi. Fakultas Peternakan. Institut
Pertanian Bogor. Bogor. (tidak dipublikasikan).
Hartono, T dan Isman, 2010. Kiat Sukses Menetaskan Telur Ayam. AgroMedia
Pustaka, Yogyakarta.
Haqiqi, H., 2008. Mengenal Beberapa Jenis Itik Petelur Lokal. Essay. Fakultas
Peternakan Universitas Brawijaya, Malang.
Hodggets, 2000. Incubation The Psichal Requiments. Abor Acress service Bulletin
No. 1, August 1.
25

Iskandar, S. A. R., 2003. Skripsi. Fakultas Pertanian. Universitas Lampung. Bandar


Lampung. (tidak dipublikasikan).
Jayasamudera, D. J. dan B. Cahyono., 2005. Pembibitan Itik. Penebar Swadaya.
Jakarta.
Jull, M. A., 1951. Poultry Husbandry 3th Edition. [Link]-Hill Book Company,
Inc.
Keynesandy, A., 2012. Performa Sifat Produksi dan Kualitas Telur Hasil
Persilangan Resiplokal Antara Itik Alabio dan Itik Peking. Skripsi.
Fakultas Peternakan, Institut Pertanian Bogor. (tidak dipublikasikan).
Kholis, S., dan M. Sitanggang., 2001. Ayam Arab dan Poncin Petelur Unggul. Edisi
ke-1. Agromedia Pustaka. Jakarta.
Kurnianto, E., 2009. Pemuliaan Ternak, Graha Ilmu. Yogyakarta.

Kartasudjana, R., 2006. Manajemen Ternak Unggas. Fakultas Peternakan.


Universitas Padjajaran, Bandung.
Lestari, E., Ismoyowati dan Sukardi. 2013. Korelasi antara bobot telur dengan
bobot tetas dan perbedaan susut bobot pada telur entok dan itik. Jurnal
Ilmiah peternakan 1 (1): 163 – 169.
Murtidjo, B. A., 1992. Mengelola Itik. Kanisius. Yogyakarta.

____________., 2005. Penetasan Telur Itik dengan Sekam. Yogyakarta: Penerbit


Kanisius
Melviyanti, M. T., 2013. Penggunaan Pakan fungsional mengandung omega 3
terhadap bobot badan dan indeks telur ayam [Link]. 1(2):667-683.
North, M.O. and D.D. Bell. 1978. Commercial Chicken production Manual Fourth
Edition. An Avi Book Published by Van Nostrand Reinhold, New York.
Noor, R. R., 1996. Genetika Ternak. Cetakan Pertama Penebar Swadaya. Jakarta.
Nikolova, N. P.Z., 2007. The quantity of abdominal fat in broiler chicken of
different genotypes from fifth to seventh week of age. Biotechnol Animal
Husbandry. 23:331-338.
Rasyaf, M., 1992. Pengelolaan Penetasan. Cetakan ke-1. Kanisius, Yogyakarta. 22-
26; 31-46; 62-93.
_________, 1992. Beternak Itik Komersial. Kanisius. Yogyakarta.
Rarasati, 2002. Pengaruh Frekuensi Pemutaran pada Penetasan Telur Itik Terhadap
Daya Tetas, Kematian Embrio dan Hasil Tetas. Laporan Hasil Penelitian.
Universitas Jenderal Soedirman. Purwokerto.
Roesdiyanto, 2002. Kualitas telur itik Tegal yang dipelihara secara intensif dengan
berbagai tingkat metionin-lancang (Atlanta sp.) dalam pakan. Fakultas
Peternakan Universitas Jendral Soedirman. Purwokerto. Animal
Production. Vol. 4, No. 2, Hal 77-82.
26

Raharjo, P., 2004. Ayam Buras. Agromedia, Yogyakarta.

Rudolph, W., 2002. The Indian Runner Duck: a Historical Guide. Feathered World.
Quoted in Ashon
Santa, 2002. Membuat Mesin Tetas. Balai Pustaka. Jakarta.

Sarwono, 2006. Pengawetan dan Pemanfaatan Telur. Cetakan ke 4. Penebar


Swadaya. Bandung.
Suharno, B dan K. Amri., 2001. Beternak Itik Secara Intesif. Cetakan kedelapan.
Penebar Swadaya. Jakarta.
_____________________,2010. Beternak itik secara intensif. Penebar Swadaya.
Jakarta.
Setiadi, Priyo., 2000. Pengaruh Indeks Bentuk Telur Terhadap Persentase Kematian
Embrio, Gagal Tetas Dan DOD Cacat pada Telur Itik Tegal yang diseleksi.
Balai Penelitian Ternak Ciawi. Bogor.
Siboro, N. D. Garnida dan I. Setiawan., 2016. Pengaruh Umur Induk itik dan
Specifik Gravity terhadap karakteristik tetasan. Jurnal Ilmu Ternak.
5(4):1-7.
Susila, A. B., 1997. Pengaruh Frekuensi Pemutaran Telur dan Berat Telur Terhadap
Fertilitas, Daya Tetas, Mortalitas dan Berat DOD Itik Tegal. Skripsi.
Fakultas Peternakan. Universitas Sumatera Utara. Medan.
Sujionohadi, K. dan A. I. Setiawan., 2007. Ayam Kampung Petelur. Niaga
Swadaya. Jakarta.
Sinabutar, 2009. Pengaruh Frekuensi Inseminasi Buatan terhadap Daya Tetas Telur
Itik Lokal yang di Inseminasi Buatan dengan semen Entok. Skripsi.
Fakultas Pertanian Universitas Sumatra Utara. Medan.
Suprijatna, E. U. A dan R. Kartosudjono., 2005. Ilmu Dasar Ternak Unggas.
Penebar Swadaya. Jakarta.
Sa’diah, I. N. D. Garnida dan A. Mushawwir., 2015. Mortalitas embrio dan daya
tetas itik local (Anas sp.) berdasarkan pola pengaturan temperatur mesin
tetas. Jurnal Ilmiah Peternakan Terpadu. 4 (3):1-12.
Sudaryani, T. H. dan Santoso., 2002. Pembibitan Unggas. Jakarta. Penebar
Swadaya.
___________________________, 1996. Kualitas telur. Jakarta. Penebar Swadaya.

Sultoni A., 2004. “Pengaruh Konsentrasi Larutan Asam Asetat dan Lama
Perendaman terhadap Beberapa Karakteristik Telur Asin dari Telur Itik
Jawa Anas Javanicus”. Skripsi. Fakultas Pertanian Universitas Padjajaran,
Jatinangor. (Tidak Dipublikasikan).
Suprijatna, E., Atmomarsono dan Kartasudjana, 2005. Ilmu Dasar Ternak Unggas.
Penebar Swadaya.
27

Sinabutar, 2009. Pengaruh Frekuensi Inseminasi Buatan terhadap Daya Tetas Telur
Itik Lokal yang di Inseminasi Buatan dengan Semen Entok. Fakultas
Pertanian Universitas Sumatra Utara. Medan.
Samosir, D. J., 1993. Ilmu Ternak Itik. Gramedia:Jakarta.

Sudaryani, T., 1996. Kualitas Telur. Jakarta: Penebar Swadaya.

Sugiyono, 2008. Metode Penelitian Kuantitatif Kualitatif dan R & D. Bandung.


Alfabeta.
Wakhid, A., 2013. Petunjuk Praktis Beternak Itik Petelur. Agromedia Pustaka.
Jakarta.
Wulandari, H. PS, Gunawan, 2002. Kajian karakteristik biologis itik Cihateup dari
Kabupaten Tasikmalaya dan Garut. Dalam Mathius IW, Bahri S,Tarmudji,
Prasetyo LH,Triwulanningsih E,Tiesnamurti B, Sendow I, Suhardono,
penyunting. Inovasi teknologi peternakan untuk meningkat kesejahteraan
masyarakat dalam mewujudkan kemandirian dan ketahanan pangan
nasional. Prosiding Seminar Nasional Teknologi Peternakan dan
Veteriner. Bogor, 12-13 September 2005. Bogor (Indonesia):
Puslitbangnak.p. 795-803.
Wardiny, T. M., 2002. Evaluasi Hubungan antara Indeks Bentuk Telur dengan
Persentase Telur yang menetas. Jurnal Matematika Sains dan Teknologi,
Jurusan Biologi Universitas Terbuka Bogor. 3 (2):25-32.
Wiharto, 1988. Petunjuk Pembuatan Mesin Tetas. Lembaga Penerbit Universitas
Brawijaya. Malang.
Yusuf, M., 2012. Buku Ajar Ilmu Reproduksi Ternak. Fakultas Peternakan.
Universitas Hasanuddin. Makassar.
Yaman, A., 2010, Ayam Kampung Unggul. Jakarta: Penebar Swadaya.

Anda mungkin juga menyukai