Korelasi Indeks Telur dan Daya Tetas Itik Cili
Korelasi Indeks Telur dan Daya Tetas Itik Cili
BAB 1 PENDAHULUAN
Itik merupakan salah satu ternak unggas air (water fowls) yang memiliki
peranan penting sebagai sumber gizi terutama sumber protein hewani untuk
kebutuhan pangan manusia yang saat ini terus mengalami peningkatan. Permintaan
oleh kecendrungan masyarakat yang lebih menyukai telur itik. Diantara berbagai
bangsa unggas air, dikenal itik bali yang berasal dari bali. Itik bali merupakan
keturunan dari persilangan itik Indian Runner dari Hindia Timur dengan itik
dosmetik dan liar yang diduga telah berevolusi dalam periode waktu yang lama dan
dikembangkan di Bali, Lombok dan Jawa Timur (Rudolph, 2002). Itik mempunyai
beberapa keunggulan daripada unggas lainnya yaitu : itik lebih tahan penyakit
produksi telur lebih lama dibandingkan unggas lainnya dan itik tetap mampu
bertelur sehingga pengadaan pakan itik tidak terlalu sulit (Suharno, 2010).
Itik cili merupakan itik hasil persilangan antara itik peking dan itik bali.
Penamaan “itik cili” pertama kali diberikan oleh Prof. Dr. Ir. I Nyoman Suparta,
MS, MM. Itik cili memiliki tingkat pertumbuhan dan produksi karkas serta efisiensi
penggunaan ransum yang lebih baik dibandingkan itik bali. Dengan kualitas genetik
yang baik akan tumbuh dengan baik/cepat sehingga produksi daging menjadi lebih
tinggi, sehingga dapat dikatakan bahwa “itik cili” memiliki mutu genetik yang lebih
niaga petelur, itik lokal memiliki sifat mengeram yang sangat rendah, sehingga
untuk menetaskan perlu dilakukan secara buatan (Haqiqi, 2008). Telur itik memiliki
kualitas yang lebih baik dibandingkan dengan telur ayam karena mengandung
protein, kalori dan lemak lebih tinggi (Sultoni, 2004). Selain keunggulan, telur itik
peningkatan kadar kolestrol. Ada dua cara yang dapat dilakukan pada proses
penetasan yaitu secara alami oleh induk unggas dan secara buatan (artifisial)
menggunakan mesin tetas (Siboro dkk., 2016). Penetasan dengan mesin tetas juga
dapat meningkatkan daya tetas telur karena temperaturnya dapat diatur lebih stabil
tetapi memerlukan biaya dan perlakuan lebih tinggi dan intensif (Jayasamudera dan
Cahyono, 2005). Telur tetas memberikan peranan besar dalam penetasan maka telur
yang akan di tetaskan harus diseleksi, hal-hal yang perlu diseleksi adalah bobot telur
dan indeks telur. Menurut Lestari dkk., 2013) bahwa bobot telur yang lebih tinggi
kematian embrio serta dapat meningkatkan daya tetas (Suprijatna dkk., 2005).
Faktor - faktor yang mempengaruhi daya tetas yaitu teknis memilih telur tetas atau
seleksi telur tetas (bentuk telur, berat telur, keadaan kerabang, warna kerabang dan
lama penyimpanan) dan teknis operasional dari petugas yang menjalankan mesin
tetas (suhu, kelembaban, sirkulasi udara dan pemutaran telur) (Sa’diah dkk., 2015).
Faktor lain yang mempengaruhi daya tetas yaitu genetik, nutrisi, fertilitas, dan
3
penelitian yang berjudul “Korelasi Indeks Telur terhadap Daya Tetas Telur Itik
Cili”
hubungan indeks telur terhadap daya tetas telur itik cili (itik bali x peking).
1.4 Hipotesis
Itik merupakan salah satu unggas air (water fowls) yang dikenal juga dengan
nama lain bebek dalam bahasa Jawa. Nenek moyang itik berasal dari Amerika Utara
yaitu itik liar (Anas moscha) atau Wild mallard. Proses domestikasi yang terus
menerus oleh manusia, maka jadilah itik yang dipelihara sekarang dengan nama
ilmiah Anas domesticus. Ternak itik mempunyai deskripsi ilmiah sebagai berikut
(Suharno, 2001).
Kelas : Aves
Ordo : Anseriformes
Famili : Anatidae
Genus : Anas
ayam, dibagi menjadi 3 golongan, yaitu tipe pedaging, petelur dan ornamen.
Penggolongan tersebut didasarkan atas produk atau jasa utama yang dihasilkan oleh
itik tersebut untuk kepentingan manusia. Itik yang termasuk dalam golongan tipe
yang baik. Bangsa-bangsa itik yang termasuk dalam golongan petelur biasanya
badannya lebih kecil dibandingkan dengan tipe pedaging, bangsa itik yang
termasuk dalam golongan ini adalah Campbell dan Indian Runner. Selain itu ada
juga segolongan itik yang biasanya mempunyai warna bulu yang menarik atau
5
bentuk badan yang bagus, termasuk dalam golongan itik tipe ornamen atau sebagai
ternak hiasan, terutama di dalam kolam hias, bangsa-bangsa yang termasuk dalam
golongan ini adalah Calls, East India, Mallard, Mandarin dan Wood duck. Ada
utama hasil berupa daging, juga menghasilkan telur, misalnya bangsa Orpington
(Srigandono, 1997).
Itik bali (Anas sp) merupakan itik lokal yang berkembang di Pulau Bali dan
Lombok. Itik bali mempunyai daya tahan hidup yang sangat tinggi dan jarang
yang menyatakan itik bali mempunyai ketahanan hidup yang tinggi dan jarang
menimbulkan angka mortalitas yang tinggi. Itik bali dapat dipelihara secara
dukungan kolam penggembalaan. Hal ini menunjukkan bahwa itik bali dapat
mata bersinar, berdiri hampir tegak, lincah dan mampu berjalan jauh (Rasyaf,
1992). Samosir (1993) menyatakan itik bali umumnya memiliki warna bulu
coklat, putih, putih kekuningan, abu-abu hitam dan campuran, kepala kecil, mata
bersinar dan kaki pendek. Jika dibandingkan dengan itik-itik petelur lainnya, itik
bali merupakan itik penghasil telur dengan telur yang relative kecil dengan berat
telur yaitu 59 gram/butir. Itik betina mempunyai kemampuan bertelur sekitar umur
6
lima bulan dengan berat 1,4 kg (Samosir, 1993) dan bertelur rata-rata 60-80 butir
daratan Tientsien Cina, sebagai itik penghasil daging. Itik Peking dikategorikan
sebagai tipe pedaging yang paling disukai baik di Negara China, Amerika maupun
Australia. Itik Peking merupakan itik yang dapat dibudidayakan diberbagai belahan
dunia (Liste dkk., 2012). Keunggulan itik peking ini sebagai penghasil daging
menyebabkan itik ini banyak disilangkan dengan itik lainnya guna memperbaiki
keturunan, salah satunya pada itik Alyesbury yang sering disilangkan dengan itik
Itik Peking dapat beradaptasi dengan baik di negara Indonesia yang beriklim
Bobot badan itik Peking pada umur 7-9 minggu untuk yang jantan 3,500-4,000
2011). Ciri-ciri itik Peking yaitu berbulu putih, paruh dan shank berwarna kuning
serta bertubuh gempal (Agriflo, 2012). Itik ini memiliki kemampuan pertumbuhan
yang sangat cepat karena mampu mengkonsumsi ransum dengan jumlah yang
2.2 Penetasan
hingga menetas yang bertujuan untuk mendapatkan individu baru. Cara penetasan
terbagi dua yaitu penetasan alami (menggunakan induk) dan penetasan buatan
(menggunakan alat tetas). Penetasan buatan lebih praktis dan efisien dibandingkan
penetasan alami, penggunaan alat tetas memiliki kelebihan yaitu dengan kapasitas
usahanya. Prinsip kerja alat tetas yaitu mengkondisikan panas yang ditimbulkan
oleh hasil eraman induk unggas dengan alat pemanas buatan (Sujionohadi dkk,
2007). Proses penetasan pada telur, penting menciptakan kondisi yang ideal seperti
penetasan alami, sehingga pada mesin tetas temperatur, kelembaban dan sirkulasi
udara dalam ruang mesin tetas harus diperhatikan (Suprijatna dkk., 2005).
Telur tetas merupakan telur fertil atau telah dibuahi, yang dihasilkan dari
indukan unggas. Telur tetas yang digunakan dalam proses penetasan adalah telur
yang telah diseleksi. Syarat telur tetas yang baik yaitu sehat dan produktivitasnya
tinggi, umur telur dan kualitas fisik telur (bentuk, berat, keadaan kerabang)
(Suprijatna et al., 2005). Kualitas telur tetas tergantung dari kualitas induk, kualitas
adanya hubungan yang erat antara kualitas telur tetas (berat, tebal kerabang, serta
bentuk dan kondisi permukaan kerabang) terhadap kualitas DOD yang menetas
(Yaman, 2010). Hal paling utama yang harus diperhatikan dalam memilih telur tetas
adalah kualitas telur yang baik. Jika kualitas telur tidak baik, persentase jumlah telur
tetas yang menetas akan kurang atau rendah. Untuk memperoleh telur tetas yang
2001).
(Sudaryani dan Santosa, 2002). Telur yang tipis atau terlalu poros akan
mengakibatkan penguapan isi telur terlalu tinggi sehingga akan menurunkan daya
tetas akan tetapi telur yang terlalu tebal juga akan mengakibatkan daya tetas
menurun karena DOD kesulitan memecahkan kulit telur. Telur tetas yang baik
permukaan kulitnya halus, tidak kotor dan tidak retak (Suprijatna et al., 2005).
telur tetas dan embrio yang terdapat didalam telur. Faktor-faktor yang
mempengaruhi kebersihan telur tetas antara lain penanganan telur pada kebersihan
Umur atau lama penyimpanan telur tetas merupakan salah satu faktor yang
(Hartono dan Isman, 2010). Sama halnya dengan pernyataan Andrianto (2005)
bahwa telur yang disimpan terlalu lama, apabila disimpan dalam lingkungan yang
kurang baik bisa menyebabkan berkurangnya berat telur dan kantong udara.
Mesin tetas adalah salah satu alat penetasan buatan untuk menetaskan telur
tanpa melalui proses pengeraman induk. Cara kerja mesin tetas pada prinsipnya
meniru induk unggas pada waktu mengerami telurnya. Mesin tetas yang baik dapat
bergantung pada induk, 2) telur dapat ditetaskan secara serentak dan menghasilkan
anak yang seragam, 3) telur yang ditetaskan jauh lebih banyak, 4) induk dapat terus
murah biaya, praktis dan mudah (Santa, 2002). Penetasan buatan lebih praktis dan
tetas juga dapat meningkatkan daya tetas telur karena temperaturnya dapat diatur
lebih stabil tetapi memerlukan biaya dan perlakuan lebih tinggi dan intensif.
Peralatan mesin tetas terdiri dari lampu yang berfungsi sebagai sumber pemanas,
termometer, termoregulator sebagai pengontrol suhu dan rak telur (Abidin, 2003).
Indeks telur merupakan perbandingan antara lebar telur dibagi panjang telur
dikali 100% (Nikolova, 2006). Indeks telur itik bervariasi sesuai dengan bentuk
telurnya. Apabila telur lonjong maka indeks telurnya dibawah 70%, oval mencapai
10
74-77% dan bulat mencapai 86% pada itik (Yusuf, 2012). Indeks telur merupakan
salah satu indikator untuk menentukan telur yang akan ditetaskan baik atau tidak.
Indeks telur yang normal adalah antara 70-79%. Induk telur yang baru mulai
bertelur memiliki bentuk telur yang dihasilkan cenderung runcing dan memanjang,
sedangkan induk yang semakin tua menghasilkan bentuk telur yang semakin bulat
dan besar (Hermawan, 2000). Bentuk telur yang baik adalah proporsional, tidak
Daya tetas merupakan persentase jumlah telur yang menetas dari sejumlah
telur yang fertile (Setiadi, 2000). Daya tetas adalah angka yang menunjukkan tinggi
Daya tetas yang tinggi dapat dilihat dari nilai indeks telur, yaitu perbandingan lebar
maksimal dengan panjang maksimal telur dikali dengan 100% (Hartono dan Isman,
2010). Rarasati (2002) mengatakan bahwa suhu yang terlalu tinggi dapat
dihasilkan akan lemah, akibatnya DOD akan mengalami kekerdilan dan mortalitas
yang tinggi.
secara proposional (Susila, 1997). Wiharto (1988) mengatakan bahwa apabila suhu
11
tidak normal karena sumber pemanas yang dibutuhkan tidak mencukupi. Suhu dan
penurunan kualitas telur pada saat penyimpanan. Suhu penyimpanan yang terlalu
berlebihan sehingga embrio mengalami kelebihan cairan, lemas dan mati (Hartono
Hodgetts (2000) mengatakan bahwa suhu yang baik untuk penetasan adalah
37,8°C dengan kisaran 37,2-38,2°C. Pada suhu ini akan dihasilkan daya tetas yang
Banyak faktor yang mempengaruhi daya tetas telur antara lain : Keutuhan
telur, berat telur, bentuk telur dan kebersihan kulit telur (Amrin, 2008). Faktor lain
yang mempengaruhi daya tetas yaitu genetik, nutrisi, fertilitas dan penyakit
(Sinabutar, 2009). Daya tetas dan kualitas telur tetas dipengaruhi oleh cara
kualitas dan daya tetas menurun sehingga telur sebaiknya disimpan tidak lebih dari
Faktor - faktor yang mempengaruhi daya tetas yaitu teknis memilih telur
tetas atau seleksi telur tetas (bentuk telur, berat telur, keadaan kerabang, warna
kerabang dan lama penyimpanan) dan teknis operasional dari petugas yang
menjalankan mesin tetas (suhu, kelembaban, sirkulasi udara dan pemutaran telur)
serta faktor yang terletak pada induk yang digunakan sebagai bibit (Sa’diah dkk.,
2015).
genetik, variasi individu dan kelompok (Roesdiyanto, 2002). Bobot tubuh induk
ukuran isthmus yang semakin lebar dan besar, sehingga telur yang diproduksi
dipengaruhi oleh saluran reproduksi induk dan dapat berubah karena adanya
Ini sesuai dengan pernyataan Asep (2000) bahwa indeks telur antara 72-
80% menunjukkan hasil daya tetas yang tinggi. Indeks telur yang dihasilkan juga
relatif tidak berbeda dengan indeks telur hasil perkawinan ayam buras yang
dilaporkan oleh Kurnianto et al., (2010) yaitu 76,74%. Wardiny (2002) mengatakan
bahwa bentuk telur yang oval mempunyai daya tetas yang baik sedangkan bentuk
telur yang terlalu bulat dan terlalu lonjong mempunyai daya tetas yang rendah.
13
Indeks telur menujukkan tingkat kelonjongan telur. Semakin besar angka indeks
selama empat hari pertama dan tiga hari terakhir masa dari pengeraman (Jull, 1951).
Nort (1978) menjelaskan bahwa pada saat pengeraman, posisi kuning telur dapat
naik dan melekat pada bagian luar selaput putih telur. Hal ini disebabkan karena
berat jenis kuning telur yang menurun akibat faktor penyimpanan telur.
penetasan dipengaruhi oleh umur telur, semakin lama telur disimpan dapat
nyaman untuk unggas petelur berkisar antara 21-28°C dengan kelembaban 60-70%
(Astuti, 2009). Perubahan suhu akan berpengaruh terhadap kelembaban, suhu yang
bagi organisme terestrial adalah suhu yang tinggi akan mengakibatkan kelembaban
Kabupaten Sigi. Palu, Sulawesi Tengah. Rencana Penelitian ini akan dilaksanakan
selama 5 minggu.
dari hasil persilangan itik bali dan itik peking (itik cili) yang diternakan
sendiri oleh peneliti. Dari telur tersebut belum diketahui berapa butir telur
yang fertile.
Air hangat yang digunakan memiliki suhu kurang lebih 37°C - 39°C agar
diharapkan telur tidak rusak. Air hangat ini digunakan untuk membersihkan telur
1) Mesin tetas yang digunakan merupakan mesin tetas tipe semi otomatis
(sumber panas dari lampu merk Philips dilengkapi thermostat digital merk
15
Wilhi sebagai pengatur suhu dan hygrometer merk Extch sebagai alat
dan penetasan)
berlansung. Telur yang telah dikumpulkan dari kandang di seleksi, seleksi yang
dilakukan meliputi dari kebersihan, bobot telur, warna kerabang, ukuran dan
a. Telur dibersihkan menggunakan air hangat dengan suhu kurang lebih antara
merk camry dengan skala ketelitian 0,1 g dan mengukur indeks telur
16
0,01 cm.
dari kotoran yang terlihat dan yang tidak terlihat. Maka dari itu mesin tetas
b. Menyalakan alat tetas selama 24 jam dan letakkan nampan yang berisi air
stabil. Suhu mesin tetas yang digunakan adalah 101°F atau 38°C dengan
kelembaban 70-85%.
pertama dilakukan pada hari ke-7 untuk penentuan telur fertile hidup, fertile
telur fertile yang embrionya mati bintik darah berubah menjadi warna hitam.
b. Pemutaran telur dilakukan 3 kali sehari yaitu pada pagi hari pukul 06.00
WIB, siang hari pukul 12.00 WIB dan malam hari pukul 19.00 WIB, agar
menjadi sempurna. Dengan pemutaran yang lebih sering maka telur akan
lebih cepat menetas (daya tetas) sehingga kandungan air di dalamnya tidak
17
akan banyak hilang yang dapat membuat bobot badan DOD meningkat dan
sebaliknya pemutaran yang tidak sering akan membuat telur tidak cepat
berlebihan dan kadar air di dalam telur akan berkurang yang dapat membuat
d. Setelah menetas dilakukan pendataan jumlah telur yang menetas dan telur
Peubah yang diamati antara lain indeks telur dengan daya tetas telur. Data
Indeks telur tetas didapatkan dari pengukuran panjang dan lebar dengan
Rumus :
𝑳𝒆𝒃𝒂𝒓 𝑻𝒆𝒍𝒖𝒓
𝑰𝒏𝒅𝒆𝒌𝒔 𝑻𝒆𝒍𝒖𝒓 = 𝑿 𝟏𝟎𝟎%
𝑷𝒂𝒏𝒋𝒂𝒏𝒈 𝑻𝒆𝒍𝒖𝒓
18
berhasil menetas dari jumlah telur yang fertil. Persentase daya tetas dihitung dengan
Daya tetas telur itik cili dapat dilihat pada Tabel 4-1-2.
Menetas 27 45
Fertil 33 55
Total 60 100
Berdasarkan tabel 4-1. Dijelaskan bahwa daya tetas telur itik cili cukup
rendah. Presentase jumlah telur itik cili yang menetas dari jumlah telur yang fertil
adalah 45%, sedangkan presentase jumlah telur itik cili yang tidak menetas dari
jumlah telur yang fertil adalah 55%. Faktor utama yang mempegaruhi daya tetas
telur itik cili adalah kurangnya kehati-hatian dalam melakukan pembalikkan telur.
teknis pada waktu memilih telur tetas atau seleksi telur tetas (bentuk telur, bobot
telur, keadaan kerabang, ruang udara di dalam telur, lama penyimpanan dan teknis
sirkulasi udara dan pemutaran telur). Yang menyebabkan rendahnya daya tetas
bukan hanya disebabkan oleh tata laksana pemeliharaan, tetapi teknik penetasan
20
(1993) untuk menghasilkan daya tetas yang baik tidak hanya dibutuhkan protein
dan energi tetapi juga keseimbangan vitamin dan mineral. Semua itu bertujuan
5.1 Kesimpulan
Berdasarkan kesimpulamn
22
LAMPIRAN
Lampiran 3. Telur itik cili beserta gambar itik cili (cina x bali) didalam kandang.
23
DAFTAR PUSTAKA
Hermawan, A., 2002. Pengaruh bobot dan indeks telur terhadap jenis kelamin anak
ayam kampung saat menetas. Skripsi. Fakultas Peternakan. Institut
Pertanian Bogor. Bogor. (tidak dipublikasikan).
Hartono, T dan Isman, 2010. Kiat Sukses Menetaskan Telur Ayam. AgroMedia
Pustaka, Yogyakarta.
Haqiqi, H., 2008. Mengenal Beberapa Jenis Itik Petelur Lokal. Essay. Fakultas
Peternakan Universitas Brawijaya, Malang.
Hodggets, 2000. Incubation The Psichal Requiments. Abor Acress service Bulletin
No. 1, August 1.
25
Rudolph, W., 2002. The Indian Runner Duck: a Historical Guide. Feathered World.
Quoted in Ashon
Santa, 2002. Membuat Mesin Tetas. Balai Pustaka. Jakarta.
Sultoni A., 2004. “Pengaruh Konsentrasi Larutan Asam Asetat dan Lama
Perendaman terhadap Beberapa Karakteristik Telur Asin dari Telur Itik
Jawa Anas Javanicus”. Skripsi. Fakultas Pertanian Universitas Padjajaran,
Jatinangor. (Tidak Dipublikasikan).
Suprijatna, E., Atmomarsono dan Kartasudjana, 2005. Ilmu Dasar Ternak Unggas.
Penebar Swadaya.
27
Sinabutar, 2009. Pengaruh Frekuensi Inseminasi Buatan terhadap Daya Tetas Telur
Itik Lokal yang di Inseminasi Buatan dengan Semen Entok. Fakultas
Pertanian Universitas Sumatra Utara. Medan.
Samosir, D. J., 1993. Ilmu Ternak Itik. Gramedia:Jakarta.