REFRESHING
“PENYAKIT DAN PERLUKAAN PADA BAYI BARU LAHIR”
Oleh :
Afifah Qonita
NIM :
2013730123
Pembimbing :
dr. Rusmaniah, [Link]
STASE OBSTETRI DAN GINEKOLOGI
RUMAH SAKIT ISLAM JAKARTA SUKAPURA
FAKULTAS KEDOKTERAN DAN KESEHATAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH JAKARTA
2019
Penyakit dan Perlukaan pada Bayi Baru Lahir
Trauma lahir merupakan trauma pada bayi sebagai akibat tekanan mekanik (seperti
kompresi dan traksi) selama proses persalinan. Factor-faktor yang mempengaruhi trauma mekanik
dapat terjadi bersamaan dengan trauma hipoksi iskemik.
Trauma lahir kadang-kadang masih terjadi dan tidak dapat dihindari, dengan kejadian rata-
rata 6-8 kejadian per1000 kelahiran hidup. Umumnya bayi yang lebih besar (BMK) lebih rentan
mengalami trauma lahir. Kejadian paling sering dilaporkan pada bayi dengan berat lahir lebih dari
4.500 gram. Adapun factor risiko lainnya adalah persalinan dengan bantuan alat, terutama forserps
atau vakum; persalinan sungsang dan traksi abnormal/berlebihan selama proses persalinan.
Penanganan persalinan yang baik dapat mengurangi angka kejadian trauma lahir.
Sebagian besar trauma lahir dapat sembuh sendiri dan prognosisnya baik. Namun, pada
beberapa kasus dapat pula menyebabkan kecacatan dan kematian. Hampir 50% kasus dapat
dihindari dengan mengetahui dan mengantisipasi factor resiko obstetric. Keluaraan pada bayi
merupakan akibat dari berbagai factor.
Mortalitas dan Morbiditas
Kurang dari 2% kematian neonatal dan stillbirth di Amerika Serikat disebabkan oleh
trauma lahir mati. Sejak tahun 1970-1985 mortalitas akibat trauma lahir turun dari 64,2 menjadi
7,5 kematian per 100.000 kelahiran hidup (menurun 88%). Penurunan ini sebagian disebabkan
kemajuan teknologi yang memungkinkan dokter spesialis kebidanan mengenal factor-faktor risiko
trauma lahir melalui USG dan alat-alat untuk memantau kesejahteraan janin sebelum memutuskan
persalinan pervaginam. Penggunaan peralatan yang menyebabkan trauma lahir seperti rotasi
midforseps atau vakum juga berkurang. Adapun alternative yang dipilih saat ini adalah persalinan
dengan cara bedah sesar.
Penyebab
Proses kelahiran merupakan kombinasi dari kompresi, kontraksi, torsi dan traksi. Jika janin
besar, adanya kelainan letak, atau imaturitas neurologis, proses kelahiran dapat menimbulkan
kerusakan jaringan, edema, perdarahan atau fraktur pada bayi baru lahir. Persalinan dengan alat
akan meningkatkan kejadian trauma lahir. Pada kondisi tertentu, bedah sesar dapat merupakan
suatu alternative, meskipun tidak menjamin kelahiran yang bebas trauma. Factor predisposisi
terjadinya trauma lahir antara lain primigravida, disproporsi sefalopelvik (ibu pendek, kelainan
rongga panggul), persalinan yang berlangsung terlalu lama atau cepat, oligohidroamnion,
presentasi abnormal (sungsang), ekstraksi froseps atau vakum (midcavity), versi dan ekstraksi,
bayi berat lahir sangat rendah atau sangat premature, makrosomia, ukuran kepala janin besar dan
anomali janin.
Trauma Lahir dengan Prognosis Jangka Panjang yang Baik
A. Jaringan Lunak
Abrasi
Petekia atau Eritema
Ekimosis
Laserasi
Nekrosis Lemak Subkutan
B. Tulang Tengkorak
Kaput Suksedanum
Hematoma Sefal
Fraktur Linier
C. Wajah
Perdarahan Subkkonjungtiva
Perdarahan Retina
D. Trauma Muskuloskeletal
Fraktur Klavikula
Fraktur Tulang Panjang
Trauma Strenokleoidomastoid
E. Trauma Intraabdomen
Hematoma Hati
Hematoma Limpa
Perdarahan Adrenal
Perdarahan Ginjal
F. Saraf Tepi
Paralisis Nervus VII
Paralisis Pita Suara Unilateral
Paralisis Nervus Radialis
Trauma Pleksus Lumbosakral
Trauma Jaringan Lunak
Trauma jaringan lunak biasanya sebagai akibat tindakan yang dilakukan untuk memantau
kesejahteraan janin (pengambilan darah dari kulit kepala janin untuk mengetahui pH atau
pemasangan electrode pada kulit kepala untuk memantau detak jantung janin). Perlukaan ini
umumnya tidak akan menimbulkan perdarahan infeksi atau abses.
Hematoma Sefal
Hematoma sefal merupakan pengumpulan darah di subperiosteal akibat rupture pembuluh
darah yang berada di antara tulang tengkorak dengan periosteum. Kelainan ini berbatas tegas pada
tulang yang bersangkutan dan tidak melampaui sutura. Tulang tengkorak yang sering terkena
adalah tulang parietal, tetapi kadang-kadang dapat terjadi pada tulang oksipital. Hematoma sefal
dapat ditemukan pada 0,5 sampai 2% dari kelahiran hidup. Hematoma sefal dapat terjadi pada
persalinan normal, tetapi lebih sering pada partus lama atau partus dengan menggunakan forcep
atau vakum.
Perdarahan yang terjadi dapat menyebabkan anemia dan hipotensi. Namun, hal ini jarang
terjadi. Penyembuhan hematoma merupakan predisposisi terhadap terjadinya hiperbilirubinemia.
Hiperbilirubinemia terjadi akibat penghancuran sel darah merah pada hematoma.
Hiperbilirubinemia karena hematoma sefal terjadi lebih lambat dari pada hiperbilirubinemia
fisiologis. Kadang-kadang hematoma sefal disertai pula dengan fraktur tulang tengkorak di
bawahnya (5-20% kasus) atau perdarahan intrakranial. Hematoma sefal jarang menjadi fokus
infeksi yang menyebabkan meningitis atau osteomilitis. Resolusi hematoma sefal terjadi dalam
beberapa minggu dan umumnya disertai klasifikasi.
Tidak ada pemeriksaan laboratorium yang diperlukan. Pemeriksaan radiologi kepala atau
CT-scan kepala dilakukan bila terdapat kelainan neurologis atau jika terdapat fraktur tulang
tengkorak. Penanganan hematoma sefal biasanya hanya observasi. Transfusi karena anemia atau
hypovolemia hanya diperlukan bila terdapat akumulasi darah yang cukup banyak. Aspirasi
hematoma sefal tidak dianjurkan dan cenderung dapat meningkatkan resiko infeksi. Terjadinya
gangguan pembekuan darah harus dipertimbangkan pada setiap kasus hematoma sefal.
Hematoma Subgaleal
Hematoma subgaleal merupakan perdarahan pada ruang antara periosteum tulang
tengkorak dan aponeurosis galea kulit kepala. Sembilan puluh persen kasus terjadi akibat alat
vakum yang dipasang pada kepala bayi saat proses kelahiran. Hematoma subgaleal memliki
kekerapan yang tinggi terhadap terjadinya trauma kepala (40%), seperti perdarahan intracranial
atau fraktur tulang tengkorak. Kejadian tersebut tidak memiliki hubungan yang signifikan dengan
beratnya perdarahan subgaleal. Diagnosis umumnya atas dasar klinik, yaitu adanya massa yang
berfluktuasi pada kulit kepala (terutama pada daerah oksipital). Pembengkakan tersebut timbul secara
bertahap dalam 12-72 jam setelah proses persalinan. Meskipun demikian, pada kasus yang berat dapat
terjadi segera setelah lahir. Hematoma tersebar melampaui seluruh kalvaria. Hematoma subgaleal
timbulnya secara perlahan dan kadang-kadang tidak dapat dikenali dalam beberapa jam. Pasien dengan
hematoma subgaleal dapat mengalami syok hemoragik. Pembengkakan dapat mengaburkan fontanel
dan melawati garis sutura (berbeda dengan hematoma sefal). Harus diantisipasi kemungkinan
terjadinya Hiperbilirubinemia yang signifikan. Bila tidak disertai syok atau trauma intracranial,
prognosis jangka panjang umumnya baik.
Pemeriksaan laboratorium meliputi pemeriksaan hematokrit. Penanganan meliputi
observasi ketat untuk mendeteksi perburukan klinik dan terapi terhadap terjadinya syok dan
anemia. Transfusi dan fototerapi mungkin diperlukan. Pemeriksaan untuk mengetahui adanya
gangguan pembekuan darah mungkin diperlukan.
Kaput Suksedaneum
Kaput suksedaneum merupakan penumpukan cairan serosanguineous, subkutan dan
ekstraperiosteal dengan batas tidak jelas. Kelainan ini biasanya pada presentasi kepala,sesuai
dengan posisi bagian yang bersangkutan. Pada bagian tersebut terjadi edema sebagai akibat
pengeluaran serum dari pembuluh darah. Kelainan ini disebabkan oleh tekanan bagian terbawah
janin saat melawan dilatasi servik. Kaput Succedaneum menyebar melewati garis tengah dan
sutura serta berhubungan dengan moulding tulang kepala. Kaput succedaneum biasanya tidak
menimbulkan komplikasi dan akan menghilang dalam beberapa hari setelah kelahiran, terapi
hanya berupa observasi.
Trauma Muskulus Strenokleidomastoideus
Dalam minggu pertama setelah bayi lahir ditemukan suatu benjolan pada muskulus
sternokleidomastoideus dengan diameter 1-2 cm, berbatas tegas, dan sukar di gerakkan dari
dasarnya. Tumor ini umumnya dianggap sebagai suatu hematoma akibat perlukaan karena usaha
untuk melahirkan kepala bayi pada persalinan sungsang. Kepala serta leher bayi cenderung miring
ke sisi yang sakit (tortikolis). Keadaan ini jika dibiarkan akan sembuh, tetapi otot akan menjadi
lebih pendek dari normal. Sebelum hal itu terjadi, perlu dilakukan fisioterapi. Pada keadaan
tertentu diperlukan tindakan operasi.
Abrasi dan Laserasi
Abrasi dan laserasi kadang-kadang terjadi sebagai akibat sayatan pisau bedah pada saat
bedah sesar atau persalinan dengan menggunakan alat (seperti vakum, cunam). Laserasi kadang-
kadang dapat mengenai sutura. Komplikasi infeksi mungkin terjadi meskipun kemungkinannya
kecil. Penanganan terdiri atas pembersihan dan pengeringan kulit yang terluka, pemberian salep
antibiotic dan observasi. Kadang-kadang laserasi memerlukan tindakan penjahitan.
Eritema, Petekiae dan Ekimosis
Kelainan ini ditemukan dibawah kulit bagian tubuh yang mengalami tekanan pada waktu
bayi dilahirkan. Jenis persalinan yang sering menyebabkan kelainan ini adalah presentasi muka
dan persalinan dengan ekstraksi forceps atau vakum. Kelainan ini tidak memerlukan pengobatan
khusus dan biasanya menghilang dalam minggu pertama.
Nekrosis Jaringan Lemak Subkutan
Nekrosis jaringan lemak subkutan biasanya tidak terdeteksi pada saat lahir. Kelainan ini
dapat ditemukan pada persalinan lama atau persalinan dengan alat yang menyebabkan tekanan
yang lama pada bagian tertentu. Kulit bersama lemak subkutan menjadi nekrotik dengan batas
yang tidak tegas sehingga terbentuk plak yang ireguler, keras, nonpitting berwarna merah-ungu
kehitaman pada ekstremitas, wajah, tubuh atau bokong. Tidak ada terapi khusus. Biasanya
diperlukan waktu 6-8 minggu untuk penyembuhan. Nekrosis jaringan lemak subkutan kadang-
kadang mengalami kalsifikasi. Bahaya terbesar adalah infeksi.
Perdarahan Subkonjungtiva
Kelainan ini sering ditemukan pada bayi, baik pada persalinan biasa maupun pada
persalinan yang sulit. Darah yang tampak pada konjungtiva bulbi biasanya diserap lagi setelah 1-
2 minggu tanpa memerlukan pengobatan khusus.
Trauma pada Saraf Perifer
Trauma Pleksus Brakialis (Brachial Palsy)
Kelainan ini dibagi atas:
Paralisis Erb yaitu kelumpuhan bagian-bagian tubuh yang disarafi oleh cabang-cabang C5
dan C6 dari pleksus brakialis
Paralisis Klumpke yaitu kelumpuhan bagian-bagian tubuh yang disarafi oleh cabang-
cabang C8-Th 1 pleksus brakialis.
Trauma pleksus brakialis umumnya terjadi pada bayi besar. Kelainan ini timbul akibat
tarikan yang kuat pada leher saat melahirkan bayi sehingga terjadi kerusakan pada pleksus
brakialis. Biasanya ditemukan pada persalinan letak sungsang bila dilakukan traksi yang kuat saat
melahirkan kepala bayi. Pada persalinan letak kepala, kelainan ini dapat terjadi pada kasus
distosia bahu. Pada kasus tersebut kadang-kadang dilakukan tarikan pada kepala yang agak kuat
ke belakang untuk melahirkan bahu depan.
Insidens paralisis pleksus brakialis ialah 0,5-2,0 per 1000 kelahiran hidup. Kebanyakan
kasus merupakan paralisis Erb. Paralisis pada seluruh pleksus brakialis terjadi pada 10% kasus.
Lesi traumatik yang berhubungan dengan paralisis pleksus brakialis antara lain fraktur klavikula
(10%), fraktur humerus (10%), subluksasi cervical spine (5%), trauma cervival cord (5-10%), dan
paralisis nervus fasialis (10-20%).
Paraslisis Erb (C5-C6) paling sering terjadi dan berhubungan dengan terbatasnya gerakan
bahu. Anggota gerak yang terkena akan berada dalam posisi adduksi, pronasi, dan rotasi internal.
Reflex Moro, biseps, dan radialis pada sisi yang terkena akan menghilang. Reflex menggenggam
biasanya masih ada. Pada lima persen kasus disertai paresis nervus frenikus ipsilateral.
Paralisis Klumpke (C7-C8, Th1) jarang terjadi dan mengakibatkan kelemahan pada otot-
otot intrinsic tangan sehingga bayi kehilangan reflex menggenggam. Bila serabut simpatis
servikal pada spina torakal pertama terlibat, maka akan dijumpai sindrom Horner. Tidak ada
pedoman dalam penentuan prognosis. Narakas mengembangkan system klasifikasi (tipe I-V)
berdasarkan beratnya dan luasnya lesi dalam menentukan prognosis pada 2 bulan pertama setelah
lahir. Berdasarkan studi kolaboratif perinatal yang melibatkan 59 bayi, 88% kasus sembuh pada
4 bulan pertama, 92% sembuh dalam 12 bulan, dan 93% sembuh dalam 48 bulan. Penelitian lain
pada 28 bayi dengan paralisis pleksus parsial dan 38 bayi dengan paralisis pleksus total, 92% bayi
sembuh spontan.
Gejala sisa dapat berupa deformitas tulang yang progresif, atrofi otot, kontraktur sendi,
kemungkinan terganggunya pertumbuhan anggota gerak dan kelemahan bahu. Pemeriksaan
penunjung meliputi pemeriksaan radiologi daerah bahu dan lengan atas untuk menyingkirkan
trauma tulang. Foto toraks harus dikerjakan untuk menyingkirkan kemungkinan paresis nervus
frenikus. Elektromiografi (EMG) dan pemeriksaan konduksi saraf kadang-kadang diperlukan.
MRI dapat digunakan untuk menilai trauma pleksus secara noninvasif dalam waktu yang relative
singkat dan dapat dikerjakan tanpa anestesi umum. MRI dapat mengetahui adanya meningokel
dan membedakan antara akar saraf yang utuh dengan pseudomeningokel (kemungkinan avulsi
komplit). Apabila dilakukan dengan hati-hati, CT mielografi intratekal dapat memperlihatkan
disrupsi preganglion, pseudomeningokel, dan avulsi akar saraf parsial. CT mielografi lebih
invasive dan memeliki beberapa keuntungan jika dibandingkan MRI.
Penanganan meliputi pencegahan kontraktur. Imobilisasi anggota gerak dengan cara
meletakkan anggota gerak atas pada rongga abdomen selama minggu pertama dan selanjutnya
mulai latihan dengan pergerakan pasif pada semua sendi anggota gerak. Gunakan bantuan bidai
pergelangan tangan. Hasil yang baik dari terapi bedah adalah bila dikerjakan pada tahun pertama
kehidupan. Beberapa peneliti merekomendasikan eksplorasi bedah dan pencangkokan (grafting)
bila tidak terdapat fungsi pada akar atas pada usia 3 bulan. Tindakan eksplorasi awal umumnya
tidak dianjurkan. Komplikasi eksplorasi pleksus brakialis antara lain infeksi, prognosis buruk dan
luka bakar karena penggunaan mikroskop pada saat operasi. Pasien dengan avulsi akar
prognosisnya buruk. Prosedur paliatif dengan cara transfer tendon telah beberapa kali dikerjakan.
Transfer latissimus dorsi dan teres mayor direkomendasikan untuk meningkatkan fungsi otot baju
pada paralisis Erb.
Trauma Nervus Kranialis dan Medula Spinalis
Trauma pada nervus kranialis dan medulla spinalis merupakan akibat dari hiperekstensi,
traksi, dan peregangan yang berlebihan bersamaan dengan rotasi. Trauma dapat bervariasi antara
neurapraksia local sampai transeksi nervus dan medulla spinalis secara lengkap.
Trauma Nervus Kranialis
Cabang unilateral nervus fasialis dan nervus vagus unilateral yaitu nervus laryngeal
rekurens merupakan saraf kranial yang paling sering mengalami trauma dan dapat mengakibatkan
paralisis yang menetap atau sementara. Kompresi karena daun forceps sering dihubungkan
dengan paralisis nervus fasialis. Namun, sebenarnya sebagian besar paralisis nervus fasialis tidak
berhubungan dengan trauma karena persalinan dengan bantuan alat (seperti forceps). Kompresi
terjadi saat kepala janin melewati os sacrum.
Gejala klinik pada trauma nervus VII sentral adalah muka yang tidak semetris pada saat
menangis. Mulut tertarik ke sisi yang normal, kerutan lebih dalam disisi yang normal, sedangkan
gerakan dahi dan kelopak mata tidak terpengaruh. Sisi yang paralisis licin dan tampak
membengkak, lipatan nasolabial menghilang, dan sudut mulut turun. Tidak ada bukti trauma pada
wajah. Gejala klinik pada trauma nervus VII perifer adalah wajah asimetris saat menangis.
Kadang-kadang terdapat bekas penggunaan forceps. Pada trauma cabang perifer, paralisis
mengenai dahi, mata atau mulut.
Diagnosis banding antara lain sindrom Mobius, tidak adanya otot wajah secara kongenital,
tidak adanya otot orbicularis oris unilateral, dan perdarahan intracranial. Sebagian besar bayi
mulai mengalami penyembuhan pada minggu pertama, tetapi untuk penyembuhan sempurna
memerlukan waktu beberapa bulan. Paralisis karena trauma biasanya akan sembuh atau membaik,
sedangkan paralisis yang menetap biasanya disebabkan oleh tidak adanya persarafan. Penanganan
meliputi menutup mata yang terbuka dengan pelindung mata dan pemberian air mata sintetik
(metilselulose) setiap 4 jam. Konsultasi dengan spesialis saraf dan spesialis bedah harus dilakukan
bila tidak ada perbaikan dalam 7-10 hari.
Paralisis diafragma akibat trauma akar nervus servikal yang selanjutnya menjadi nervus
frenikus dapat terjadi sebagai suatu kelainan tersendiri (isolated) atau bersamaan dengan paralisis
nervus brakialis. Gejala kliniknya bervariasi. Perjalanan penyakitnya bifasik, pada awalnya bayi
mengalami gangguan pernapasan dengan takipnea dan analisis gas darah menunjukkan
hipoventilasi (antara lain hipoksemia, hiperkapnia, asidosis). Dalam beberapa hari berikutnya,
bayi membaik dengan pemberian oksigen dan kadang-kadang diperlukan alat bantu napas.
Diafragma yang letaknya tinggi mungkin tidak tampak pada awal perjalanan penyakit. Sekitar
80% kasus umumnya mengenai sisi sebelah kanan dan hanya 10% yang bilateral.
Diagnosis ditegakkan dengan pemeriksaan ultrasonografi atau fluroskopi rongga toraks,
yang memperlihatkan peningkatan diafragma dengan gerakan paradoks pada sisi yang terkena
pada saat bernapas. Mortalitas pada lesi unilateral sekitar 10-15%. Sebagian besar pasien akan
mengalami penyembuhan pada 6-12 bulan pertama. Prognosis lesi bilateral lebih buruk.
Mortalitas mencapai 50%, dan kadang-kadang diperlukan bantuan ventilator untuk waktu yang
lama. Terapi terdiri atas pemantauan status respirasi secara terus menerus dan intervensi jika
memungkinkan.
Paralisis Nervus Laringeal
Gangguan pada nervus laryngeal dapat mempengaruhi proses menelan dan bernapas.
Trauma nervus laryngeal terjadi sebagai akibat posisi janin intrauterine yang mengalami rotasi
kepala dan fleksi lateral. Selama proses kelahiran, pergerakan kepala yang sama dapat mencederai
nervus laryngeal. Trauma lahir ini merupakan penyebab paralisis pita suara pada 10% kasus. Pada
paralisis nervus laryngeal unilateral suara bayi terdengar serak dan stridor respirasi. Proses
menelan dapat terpengaruh bila cabang superior terkena. Paralisis bilateral mungkin disebabkan
oleh trauma pada kedua nervus laryngeal, atau lebih sering karena trauma SSP seperti hipoksia
atau perdarahan yang mengenai batang otak. Pasien dengan paralisis bilateral akan mengalami
gangguan napas berat atau asfiksia.
Pemeriksaan laringoskopi direk diperlukan untuk menegakkan diagnosis dan
membedakan paralisis pita suara dari penyebab lain gangguan napas dan stridor pada bayi baru
lahir. Tindakan ini dapat membedakan paralisis dengan etiologi lain yang jarang, seperti gangguan
kardiovaskular, malformasi SSP, atau tumor mediastinal.
Paralisis akan sembuh dalam 4-6 minggu meskipun penyembuhan dapat terjadi dalam 6-
12 bulan pada kasus yang berat. Terapi bersifat simptomatik. Saat kondisi bayi mengalami
perbaikan, pemberian minum sedikit-sedikit dengan frekuensi yang lebih sering dapat
mengurangi resiko aspirasi. Bayi dengan paralisis bilateral memerlukan pemberian minum
melalui sonde lambung dan trakeotomi.
Kerusakan Medula Spinalis
Trauma pada medulla spinalis dapat terjadi selama persalinan sebagai akibat traksi atau
rotasi berlebihan. Traksi kadang-kadang dilakukan pada persalinan sungsang, sedangkan torsi
terutama pada persalinan letak vertex. Angka kejadian yang sebenernya sulit diketahui. Daerah
serviks bagian bawah dan toraks bagian atas pada persalinan sungsang, dan daerah serviks bagian
atas dan tengah pada persalinan vertex merupakan daerah-daerah yang paling sering mengalami
trauma.
Perubahan neuropatologi yang utama meliputi lesi akut yang berupa perdarahan
epidural/intraspinal, dan edema. Perdarahan biasanya disebabkan oleh adanya peregangan,
laserasi, dan disrupsi. Kadang-kadang dijumpai dura meter yang robek dan sangat jarang di
jumpai fraktur/dislokasi vertebra.
Manifestasi klinik dapat berupa lahir mati atau kematian neonatal dini karena gangguan
pernapasan yang berat, terutama pada kasus dengan trauma pada serviks bagian atas atau batang
otak bagian bawah. Kegagalan respirasi yang berat kadang-kadang tersamar dengan penggunaan
alat bantu napas. Hal ini kadang-kadang menimbulkan masalah etis. Bayi-bayi yang tertolong
akan mengalami kelemahan dan hipotoni. Penyebab pasti dari kelemahan ini tidak diketahui,
seringkali dipikirkan suatu kelainan neuromuscular atau ensefalopati hipoksi atau iskemi yang
sementara. Bayi-bayi ini selanjutnya akan mengalami spastisitas sehingga seringkali dianggap
palsi serebral.
Pencegahan merupakan aspek yang sangat penting dalam penanganan pasien. Penanganan
obstetric pada persalinan sungsang, persalinan dengan menggunakan alat, dan pemberian obat-
obatan untuk menguatkan his harus dilakukan dengan benar. Kadang-kadang trauma terjadi pada
saat janin dalam uterus. Diagnosis ditegakkan dengan bantuan MRI atau CT mielografi. Sedikit
bukti yang memperlihatkan bahwa laminektomi dan dekompresi memberi manfaat. Pemberian
metilprednisolon dianjurkan. Terapi suportif sangat penting.
Perdarahan Intrakranial
Kelainan ini dapat disebabkan oleh 2 macam peristiwa, yaitu (1) hipoksia dan (2) tekanan
mekanik. Walaupun kedua peristiwa ini saling mempengaruhi, kadang-kadang lokalisasi
perdarahan yang ditimbulkannya berbeda-beda. Atas dasar lokalisasi, perdarahan intracranial
dapat dibagi dalam 3 golongan
Perdarahan Subdural
Kelainan terjadi akibat tekanan mekanik pada tengkorak yang dapat menimbulkan
robekan falks serebri atau tentorium serebeli, sehingga terjadi perdarahan. Hal ini misalnya
ditemukan pada persalinan dengan disproporsi sefalopelvik dengan janin dipaksakan untuk lahir
pervaginam. Dengan lebih banyaknya dilakukan bedah sesar dalam hal ini, frekuensi perdarahan
subdural karena disproporsi sefalopelvik dapat dikurangi. Pungsi subdural menunjukan adanya
sel-sel darah merah dan peninggian kadar protein. Pengeluaran cairan dari rongga subdural secara
teratur kadang-kadang dapat menolong bayi, tetapi gejala-gejala lanjut masih sering ditemukan
pada penderita.
Perdarahan Subependimal dan Perdarahan Intraventrikular
Kejadian ini lebih sering disebabkan oleh hipoksia dan biasanya terdapat pada bayi-bayi
premature.
Perdarahan Subaraknoidal
Perdarahan ini juga ditemukan pada bayi-bayi premature dan mempunyai hubungan erat
dengan anoksia atau hipoksia pada saat lahir. Bayi dengan perdarahan intracranial menunjukan
gejala-gejala asfiksia yang sukar di atasi. Ia setengah sadar, merintih, pucat, sesak nafas, muntah
dan kadang-kadang kejang. Ia dapat meninggal atau dapat hidup terus tanpa gejala-gejala lanjut
atau menunjukkan gejala-gejala neurologic yang beraneka ragam, bergantung pada tempat dan
luasnya kerusakan jaringan otak akibat perdarahan. Gambaran klinik gejala-gejala tersebut
terkenal sebagai cerebral palsy.
Trauma Tulang
Fraktur lebih sering terjadi setelah persalinan sungsang dan/atau distosia bahu pada bayi
makrosomia.
Fraktur Klavikula
Klavikula merupakan tulang yang paling sering mengalami fraktur pada neonates karena
proses kelahiran. Fraktur klavikula merupakan komplikasi yang tidak dapat diprediksi dan
dihindari pada persalinan normal. Fraktur klavikula biasanya berhubungan dengan berat lahir,
persalinan midforseps, dan distosia bahu. Bayi dapat memperlihatkan pseudoparalisis. Pada
pemeriksaan didapatkan krepitasi, perabaan tulang yang ireguler, dan spasme otot
strenokledomastodius. Pemeriksaan radiologic akan memastikan adanya fraktur.
Penyembuhan biasanya terjadi dalam 7-10 hari dengan imobilisasi dalam posisi abduksi 60 dan
fleksi 90 dari siku yang terkena. Untuk mengurangi rasa sakit, pergerakan lengan harus dibatasi.
Jangan lupa untuk mencari adanya trauma lainnya pada medulla spinalis, fleksus brakialis dan
humerus.
Fraktur Tulang Panjang
Tidak adanya gerakan spontan lengan atau tungkai merupakan tanda awal fraktur tulang
panjang, diikuti oleh pembengkakan dan nyeri pergerakan pasif. Dokter kandungn dapat merasa
atau mendengar derik fraktur pada saat kelahiran bayi. Pemeriksaan radiologic anggota gerak
akan memastikan diagnosis.
Fraktur humerus terjadi pada kesalahan teknik dalam melahirkan lengan pada presentasi
kepala atau pada sungsang lengan menjungkit keatas. Pada keadaan ini biasanya sisi yang terkena
tidak dapat digerakan dan reflex morro sisi tersebut menghilang. Prognosis penderita sangat baik
dengan dilakukanya imobilisasi lengan selama 2 sampai 4 minggu.
Fraktur femur jarang terjadi dan biasanya disebabkan oleh kesalahan teknik dalam
menolong persalinan sungsang. Gejala yang tampak pada pasien adalah pembengkakan pada paha
disertai nyeri bila dilakukan gerakan pasif pada tungkai. Diagnosis pasti dibuat dengan palpasi
dan pemerikasaan radiologic. Pengobatan yang optimal dikerjakan dengan melakukan traksi pada
kedua tungkai, walaupun fraktur hanya terjadi unilateral. Penyembuhan sempurna dapat terjadi
setelah 3 sampai 4 minggu pengobatan.
Pembentukan kalus dan pembentukan sempurna diharapkan terjadi dalam 2 sampai 4
minggu. Dalam 8 sampai 10 hari, pembentukan kalus sudah cukup untuk menghentikan
imobilisasi. Konsultasi dengan dokter spesialis bedah tulang disarankan. Pemeriksaan radiologic
dapat membedakan fraktur dengan artritis septic.
Pergeseran Epifisis
Pergeseran epifisis humerus atau femur terjadi melalui lapisan hipertrofi sel tulang rawan
pada epifisis. Diagnosis dibuat secara klinis berdasarkan adanya pembengkakan pada daerah
bahu, krepitasi, dan nyeri ketika bahu digerakan. Pergerakan menyebabkan nyeri, dan lengan
terletak lemah pada sisi tersebut. Karena epifisis humerus proksimal tidak mengalami osifikasi
pada saat lahir, maka tidak akan terlihat pada pemeriksaan radiologic. Kalus terbentuk dalam 8
sampai 10 hari dan terlihat dalam pemeriksaan ragiologic. Penanganan meliputi imobilisasi
lengan selama 8 sampai 10 hari. Fraktur epifisis distar cenderung akan menimbulkan deformitas
residual yang signifikan jika dibandingkan dengan fraktur humerus proksimal.
Fraktur Tengkorak
Fraktur tengkorak dapat berupa fraktur linear atau depressed. Kelainan ini dapat
ditemukan bila terjadi tekanan tulang tengkorak janin pada promontorium, atau simfisis ibu pada
persalinan dengan dispropsi sefalopelvik, atau karena kesalahan teknik pada ekstraksi forceps.
Bila tidak ditemukan komplikasi lain, penyembuhan sempurna dapat terjadi tanpa pengobatan
khusus.
Fraktur dan Diskolasi Tulang Belakang
Kelainan ini jarang ditemukan dan biasanya terjadi jika diadakan traksi kuat untuk
melahirkan kepala janin pada presentasi sungsang atau untuk melahirkan bahu pada presentasi
kepala. Fraktur atau dislokasi terjadi lebih sering pada tulang belakang servikal bagian bawh dan
tulang belakang torakal bagian atas. Terjadinya perlukaan pada medulla spinalis dalam hal ini
sudah dibahas sebelumnya.
Perlukaan Intraabdominal
Trauma rongga abdomen secara relative jarang terjadi dan kadang-kadang dapat
terabaikan sebagai penyebab kematian pada neonatus. Perdarahan merupakan komplikasi akut
yang paling serius, dan hati merupakan organ yang paling sering terkena.
Gejala dan Tanda Perdarahan Intraperitoneal
Perdarahan mungkin fulminan atau secara perlahan, tetapi pasien pada akhirnya akan
mengalami kolaps sirkulasi. Perdarahan intraabdomen harus dipertimbangkan pada setiap bayi
yang mengalami syok, pucat, anemia yang tidak dapat dijelaskan, dan distensi abdomen.
Permukaan kulit rongga abdomen dapat berwarna kebiruan. Pemeriksaan radiologic tidak dapat
menegakkan diagnosis, tetapi dapat memberikan petunjuk adanya cairan bebas dalam rongga
peritoneum. Parasentesis merupakan tindakan darurat yang perlu dikerjakan. Rupture hepar,
limpa dan perdarahan adrenal merupakan organ yang mungkin menimbulkan perdarahan. Operasi
serta tranfusi darah dapat memperbaiki prognosis.
Rupture Hepar
Lesi yang paling sering terjadi adalah hematoma subcapsular, yang meningkat 4-5cm
sebelum rupture. Gejala syok dapat terjadi belakangan. Laserasi jarang terjadi, biasanya
disebabkan oleh tarikan abnormal pada ligament peritoneal atau akibat tekanan berlebihan oleh
tepi tulang iga. Bayi dengan hepatomegaly memiliki resiko yang lebih besar. Factor predisposisi
lainnya antara lain prematuritas, pascamaturitas, gangguan koagulasi, dan asfiksia. Pada kasus
asfiksia, usaha resusitasi yang terlalu bersemangat (sering dengan cara yang salah) merupakan
suatu kesalahan. Rupture limpa paling sedikit terjadi lima kali lebih sering dibandingkan laserasi
hati. Factor predisposisi dan mekanisme terjadi trauma pada kedua organ tersebut sama.
Pengenalan dini, stabilisasi bayi dan evaluasi adanya defek koagulasi sangat penting
dalam penatalaksanaan bayi dengan rupture hati. Transfusi darah merupakan tahap awal yang
sangat penting. Koagulopati yang menetap mungkin dapat ditangani dengan pemberian fresh
frozen plasma dan transfuse trombosit.
Rupture hepar tidak memiliki spesifikasi terhadap ras tertentu. Laki dan perempuan
mempunyai resiko yang sama terjadinya rupture hati. Bayi biasanya mengalami rupture segera
setelah lahir, atau rupture menjadi jelas pada beberapa jam setelah lahir atau hari-hari pertama.
Kesimpulan
Pengenalan trauma lahir memerlukan pemeriksaan fisik dan evaluasi neurologic yang teliti pada
bayi untuk menentukan apakah ada trauma lainnya. Kadang-kadang trauma terjadi sebagai akibat
resusitasi. Simetri dari struktur dan fungsi harus dinilai seperti melakukan penilaian saraf otak,
gerakan sendi, dan integritas tulang dan kulit kepala.