Pengenalan Metoda Disain dan Penerapannya pada Studio Perancangan
Arsitektur
Erfan M. Kamil
Staff Pengajar Prodi Arsitektur Fakultas Teknik
Universitas Muhammadiyah Palembang
Email : erfanmk@[Link]
ABSTRAK
Merancang bangunan dalam konteks perkotaan harus ditempatkan berbeda, terutama dalam hal
metoda perancangannya. Terdapat banyak metoda yang dapat digunakan, tetapi pendekatan rasional
dan kontekstual yang menjadi salah satu kekuatan dari Responsive Environment, menjadi salah satu
dasar dari penggunaannya pada Studio Perancangan Arsitektur 6. Fungsi bangunan tidak lagi tunggal,
tetapi campuran Mix-Used yang merupakan perpaduan dari fungsi hunian dan non-hunian
(perkantoran, toko). Mahasiswa tidak hanya ditugaskan untuk merancang bangunannya tetapi juga
sekaligus membuat analisa kawasan serta kelayakan fungsi bangunan tersebut baik secara politis,
sosial dan tentu saja secara ekonomis.
Pembuatan analisa kawasan dilakukan secara kelompok sedangkan untuk perancangan bangunan
dilakukan secara perorangan. Pembagian tugas ini adalah selain bertujuan untuk mempertajam
pembahasan materi juga membiasakan kerja sama yang bertujuan untuk melatih perbedaan pendapat
dan penyajian materi. Pemberian materi dilakukan pada 4 (empat) sampai dengan 6 (enam) minggu
pertama, dan pada minggu ke 8 (delapan) diadakan penyajian materi analisa kawasan perkelompok.
Untuk minggu ke-9 (Sembilan) dan seterusnya sampai dengan minggu ke-16 (enam belas) digunakan
untuk disain perorangan bangunan perkavling.
Hasil akhir dari studio ini adalah kajian kawasan dengan usulan konsep kawasan, serta desain salah
satu bangunan dengan fungsi campuran (mix-used) dengan prinsip medium-rise, perimeter block.
Kata kunci: Studio Perancangan 6, Arsitektur Kota, Responsive Environment
PENDAHULUAN
Dalam pendidikan Arsitektur, kegiatan studio adalah suatu kegiatan utama untuk melihat,
mengukur dan menilai kemampuan perancangan dari mahasiswa. Proses perancangan sendiri
adalah suatu bagian dari rangkaian pemecahan masalah. Didalam proses perancangan terdapat
analisa, sintesa dan akhirnya solusi terhadap suatu permasalahan arsitektural. Mata kuliah
studio perancangan ini tidaklah berdiri sendiri, bahkan keberhasilannya sangatlah tergantung
pada mata kuliah teori lainnya. Studio perancangan pada dasarnya merupakan sintesa dari
berbagai mata kuliah teori dan sejauh mana pemahaman mahasiswa terhadap teori tersebut
dapat dinilai dari hasil karya tugas yang dibuat oleh masing-masing mahasiswa.
Perancangan arsitektur sendiri sangatlah tergantung pada metoda apa yang digunakan. Tulisan
ini bertujuan untuk menawarkan sudut pandang tentang Studio Perancangan Arsitektur 6
diselenggarakan. Materi dan proses pembelajaran yang ada hendaknya disusun secara
bertahap dan dengan metoda yang sudah dipilih dan ditentukan terlebih dahulu. Kegiatan
yang akan dilaksanakan juga telah dilengkapi dengan petunjuk dan tata cara yang harus
diikuti, sehingga siswa dapat dengan perlahan mengetahui apa yang harus dilakukan dan
bagaimana melakukannya. Pemahaman akan suatu materi akan lebih mudah didapat jika
Jurnal Arsir Vol.1 No.1 Juni 2017 19
siswa sekaligus menerapkan dan melakukan langsung aplikasi teori pada tugas yang
diberikan.
Suatu teori dalam arsitektur digunakan untuk mencari apa yang sebenarnya harus dicapai
dalam arsitektur dan bagaimana cara yang baik untuk merancang. Teori dalam arsitektur
cenderung tidak seteliti dan secermat dalam ilmu pengetahuan yang lain (obyektif), satu ciri
penting dari teori ilmiah yang tidak terdapat dalam arsitektur ialah pembuktian yang
terperinci. Desain arsitektur sebagaian besar lebih merupakan kegiatan merumuskan dari pada
kegiatan menguraikan. Arsitektur tidak memilahkan bagian-bagian, ia mencernakan dan
memadukan bermacam ramuan unsur dalam cara-cara baru dan keadaan baru. Sehingga hasil
seluruhnya tidak dapat diramalkan.
Teori dalam arsitektur adalah hipothesa, harapan dan dugaan-dugaan tentang apa yang terjadi
bila semua unsur yang menjadikan bangunan dikumpulkan dalam suatu cara, tempat, dan
waktu tertentu. Dalam teori arsitektur tidak terdapat rumusan atau cara untuk meramalkan
bagaimana nasib rancangannya. Dalam pada ini perlu dibedakan antara konsep dan metode.
Konsep bisa dipahami sebagai teori yang tanpa perlu dibuktikan (sebagai landasan
perancangan) sedangkan metode merupakan cara untuk membuktikan dan metode sendiri
memerlukan teori sebagai alat ujinya (tidak ada metode tanpa teori).
Pembahasan akan diawali dari Pentingnya pemahaman konteks yang lebih luas (tidak hanya
perkavling), Posisi teori Responsive Environment dalam teori arsitektur, Resume dari teori
Responsive Environment, Implementasi teori ini dalam pengajaran, Hasil yang dicapai sebagai
tolak ukur pemahaman mahasiswa terhadap materi.
TINJAUAN PUSTAKA
Perancangan Konteks Perkotaan
Dalam memahami konteks perkotaan, mahasiswa tidak hanya merancang bermula dari tapak
tempat bangunan akan dibuat. Analisa terhadap konteks perkotaan sebagaimana tapak tersebut
dalam kota juga harus diketahui dan difahami. Perancangan tidak hanya berawal dari kavling
saja, tetapi harus dari analisa tempat dan konteks kavling tersebut dalam skala yang lebih luas.
Sebagian besar perancangan studio arsitektur mulai dari studio perancangan arsitektur 1
sampai dengan studio arsitektur 5 lebih banyak melakukan analisa tapak yang berkaitan
dengan bangunan itu sendiri. Seperti misalnya analisa lingkungan (kondisi di sekitar tapak,
ukuran, luas, kontur, drainase, pepohonan, sirkulasi pejalan kaki, sirkulasi kendaraan,
pemandangan dari dan melalui tapak, kebisingan, angin, curah hujan, matahari, dan lain-lain),
tetapi bahasan mengenai posisi tapak itu sendiri terhadap kota dan bagaimana pembahasannya
sering tidak dilakukan. Hal ini dapat dimengerti karena tujuan dari studio perancangan
tersebut adalah menghasilkan bangunan yang antisipatif terhadap tapak saja. Keberhasilannya
adalah suatu rancangan yang mengatasi segala masalah tapak dengan uraian konsep yang
sesuai.
Teori Responsive Environment
Saat ini terminologi urban design (desain perkotaan) dan new urbanism (faham urbanisme
baru) adalah kurang lebih sama. Kata kunci “Mixed-use” (fungsi campuran) adalah ide kuat
yang diusung oleh faham ini.
Teori ini menekankan bahwa lingkungan binaan (arsitektur dan elemen bangunan lainnya)
adalah bagian yang tidak terpisahkan yang memberikan kontribusi terhadap kehidupan
Jurnal Arsir Vol.1 No.1 Juni 2017 20
manusia. Hal yang terpenting dan merupakan inovasi dari pendekatan ini adalah usaha untuk
memberikan suatau kerangka kerja konseptual dalam bentuk lembar kerja yang dapat
meningkatkan kualitas hubungan antara manusia dengan tempat. Untuk menangkal kritik
bahwa pendekatan ini terlalu kaku dan tidak pasti, maka lembar kerja yang ada diperlakukan
sebagai bagian dari proses kreatif dalam merancang tempat/ ruang dan bukanlah resep baku
yang memasung kebebasan desain.
Pada dasarnya Responsive Environment merupakan uraian dari kualitas perancangan sebagai
berikut: permeability, variety, legibility, robustness, visual appropriateness, richness,
personalisation.
Permeability: Berbagai kemungkinan rute dalam lingkungan yang dapat dipilih oleh
pengguna. Variety: Berbagai fungsi dan pilihan pengalaman yang dapat dipilih. Legibility:
Kemudahan tata letak/ tata ruang yang dapat dimengerti oleh pengguna. Robustness:
Keragaman suatu tempat yang dapat digunakan untuk kegiatan yang berbeda. Visual
Appropriateness: Kemudahan suatu tempat dapat dikenali akan pilihan fungsi/ kegiatan yang
tersedia. Richness: Berbagai pilihan pengalaman indra yang dapat dirasakan. Personalisation:
Merupakan suatu kemampuan suatu tempat untuk memberikan kemungkinan personalisasi
dari penggunanya.
METODELOGI PENELITIAN
Pada pelaksanaannya, teori akan diajarkan bertahap sejalan dengan pemahaman dari para
mahasiswa. Teori dan penjelasan penggunaan lembar kerja diajarkan pada pertemuan awal,
kemudian aplikasi lembar kerja serta desain per tapak pada pertemuan selanjutmya. Pada
dasarnya mahasiswa akan mengikuti 2 kegiatan utama, yaitu kegiatan kelompok (satu
kelompok dengan jumlah mahasiswa 2 orang dan maksimum 3 orang) dalam membahas
analisa kota (sesuai dengan teori Responsive Environment) dan berikutnya kegiatan
perorangan, yaitu masing-masing mahasiswa merancang bangunan yang telah dianalisa
kawasannya secara berkelompok sebelumnya.
Kegiatan analisa kawasan secara kelompok haruslah diselesaikan dalam 8 minggu pertama,
sedangkan kegiatan perancangan perorangan akan diselesaikan 8 minggu berikutnya. Pada 4
minggu pertemuan awal akan dijelaskan secara umum 7 aspek dari Responsive Environment,
dengan pembahasan penggunaan lembar kerja sesuai dengan urutan aspek yang ada.
Sebagai materi kajian, lahan yang harus dianalisa adalah kawasan perkotaan dengan luas
lahan lebih kurang 8 – 10 ha. Kriteria lokasi haruslah berada di pusat kota dengan ditandai
berbagai fungsi campuran yang ada (hunian, komersial, industri, perkantoran, dan lain-lain).
Setiap kelompok menganalisa kawasan yang berbeda, dengan pendekatan teori yang sama.
Setiap materi yang akan dibahas harus mengikuti lembar kerja yang telah disediakan. Format
dan bentuk penyajiannya juga sesuai dengan lembar kerja yang ada.
Pembahasan materi kelompok ini hanya dibatasi pada 4 aspek dari Responsive Environment
yaitu: permeability, variety, legibility, robustness. Hal ini dikarenakan ke-4 aspek tersebut
adalah analisa yang berkaitan langsung pada konteks perkotaan, sedangkan 3 faktor lainnya,
visual appropriateness, richness, personalization berkaitan pada desain final yang nantinya
berpengaruh pada tugas perorangan.
Pemilihan lokasi dan kelayakan sebagai obyek tugas haruslah diasistensi dan didiskusikan
sebelum pada akhirnya disepakati sebagai lokasi terpilih. Kriteria umum berdasarkan lokasi
pusat kota, keberagaman fungsi yang ada serta kompleksitas dan dukungan informasi yang
Jurnal Arsir Vol.1 No.1 Juni 2017 21
ada (peta, peraturan setempat). Setiap kelompok memiliki kajian kawasan yang berbeda dan
sebaiknya tidak berdekatan.
Kegiatan pengkajian kawasan ini dilakukan berkelompok agar terjadi diskusi dan interaksi
antar mahasiswa, sehingga kesimpulan dan analisa yang dihasilkan lebih kaya. Dengan
pembahasan materi/ teori yang berjenjang diharapkan agar pemahaman yang terjadi juga
bertahap, demikian pula dengan ketajaman dan hasil analisa.
PEMBAHASAN
Hasil dari kajian analisa perkotaan ini akan menjadi batasan perancangan kavling untuk
perorangan. Bentukan kavling (blok) yang telah ditentukan hasil dari kelompok akan menjadi
tapak terpilih. Mahasiswa akan merancang bangunan berdasarkan fungsi, dan bentuk tapak
yang ada, untuk kemudian membuat analisa tapak yang berkesesuaian dengan fungsi yang
telah ditentukan tersebut.
Setiap aspek Responsive Environment memiliki implikasi perancangan yang untuk kemudian
disertai dengan lembar kerja (checklist) yang harus dilakukan oleh mahasiswa. Dengan
panduan yang terstruktur seperti ini, akan sangat mudah mengetahui, memeriksa dan menilai
hasil kerja yang dilakukan. Setiap aspek disusun berurutan dan bertahap, dan dibagi per bab
pembahasan. Semuanya saling berkaitan, dalam proses pembahasan, setiap aspek dibahas
secara ringkas untuk nantinya akan dikupas detail pada contoh tugas perkelompok. Pada
akhirnya semua aspek tersebut akan digabungkan dalam satu kesimpulan utama terhadap
lahan terpilih.
Berikut adalah contoh urutan kegiatan yang disesuaikan dengan materi yang disampaikan.
a. Permeability
Pada prinsipnya adalah kualitas lingkungan yang didasarkan atas kemudahan aksesibilitas.
Permeability sendiri terbagi atas umum (public) dan khusus (private) yang keduanya tidak
dapat berdiri sendiri. Keduanya saling melengkapi dan manusia membutuhkan akses yang
menghubungkan antara keduanya. Permeability dari ruang public sangatlah tergantung pada
sejumlah jalur alternative yang mengarahkan dari suatu tempat ke tempat lainnya. Tentu saja
jalur ini haruslah mudah terlihat, jadi tidak hanya secara fisik tetapi juga visual. Beberapa
pendekatan disain yang dapat menurunkan kualitas permeability adalah: meningkatnya skala
pengembangan, penggunaan tata letak yang hirarkis/ berjenjang, dan pemisahan antara jalur
pejalan kaki dan kendaraan bermotor.
Prinsip perancangan yang meningkatkan permeability adalah dengan menerapkan perimeter
block, yaitu dengan cara:
- Muka bangunan menghadap ke ruang publik (jalan, taman) cukup dekat untuk dapat
menikmati keduanya.
- Bagian belakang menghadap ke bagian dalam blok bangunan
- Ruang luar private berada pada bagian belakang bangunan
Implikasi Perancangan
Untuk menghasilkan permeability, langkah yang harus dilakukan adalah sebagai berikut:
1. Analisa jalan dan blok dari lingkungan sekitar yang ada, untuk kemudian menentukan
prioritas secara relative dari setiap jalan masuk ke sekitar tapak (lembar kerja 1.1)
Jurnal Arsir Vol.1 No.1 Juni 2017 22
2. Tentukan rute baru melalui tapak (lembar kerja 1.2)
3. Analisa peran jalan dari semua jalan usulan yang dibuat dan periksa lebar jalan dan
persimpangan sesuai dengan standar yang berlaku (lembar kerja 1.3)
4. Periksa blok yang dihasilkan dari jalan yang ada sesuai dengan ukuran yang standar
(lembar kerja 1.4)
b. Variety
Kemudahan aksesibilitas hanyalah bernilai jika tempat tersebut menawarkan berbagai pilihan
fungsi. Berbagai fungsi yang berbeda membuka tingkatan kemungkinan lain:
- Suatu tempat dengan berbagai fungsi akan memiliki berbagai bangunan dengan
bermacam bentuk.
- Hal tersebut akan menarik bermacam orang, pada waktu yang berbeda dengan alasan
yang berbeda pula.
- Karena adanya perbedaan aktifitas, bentuk dan orang yang menggunakan, akan
menciptakan persepsi yang beragam. Pengguna yang berbeda akan menginterpretasi
suatu tempat dengan cara yang berbeda pula, yang pada akhirnya akan memberikan
makna yang berbeda pula.
Gambar 1. Hubungan timbal balik antara fungsi, bentuk, pengguna dan makna
Implikasi Perancangan
Untuk mendorong variety, langkah yang harus dilakukan adalah sebagai berikut:
1. Pergunakan struktur pembagian blok lahan yang sudah dikerjakan pada bab 1 sebagai
langkah awal untuk mengembangkan variety
2. Pertimbangkan kemungkinan terbanyak yang sesuai dari penggunaan, kumpulkan data
berdasarkan kebutuhan dan juga dari pihak yang dapat berkaitan dengan ini (Lembar kerja
2.1)
3. Temukan daya tarik bagi pejalan kaki, sehingga arus sirkulasi akan memperkuat fungsi
bangunan yang membutuhkannya (Lembar kerja 2.2)
4. Temukan fungsi lainnya untuk meminimalisasi interaksi negative antara keduanya
(Lembar kerja 2.3) dan periksa kembali ukuran blok t, tapak sementara yang sudah
ditentukan pada pada bab 1.
5. Hitung semua skema pembiayaan (Lembar kerja 2.4)
6. Hitung nilai proyek keseluruhan (Lembar kerja 2.5)
7. Periksa kelayakan ekonomis dan komitmen dari pihak yang terlibat (Lembar kerja 2.6)
c. Legibility
Aspek permeability dan variety akan sangat berdaya guna apabila masyarakat pengguna dapat
dengan mudah mencerap dan memahami tata letak ruang yang ada. Legibility adalah kualitas
Jurnal Arsir Vol.1 No.1 Juni 2017 23
suatu tempat yang mudah untuk dikenali. Karakternya dapat dikenali dari bentuk fisik dan
pola aktifitas yang terjadi. Keduanya dapat saja saling terpisah, tetapi untuk mendapatkan
potensi tempat yang maksimal kedua karakter tersebut haruslah saling melengkapi, hal ini
penting terutama untuk para pendatang, yang memerlukan pemahaman suatu tempat secara
tepat.
Perkembangan arsitektur yang semakin mendunia, membuat tempat-tempat saling
menyerupai. Bangunan baru terkadang tidak dapat dikenali fungsinya berdasarkan bentuknya
saja. Bangunan publik dan bangunan swasta terkadang memiliki tampilan yang serupa yang
dapat membingungkan penggunanya. Pemisahan jalur kendaraan bermotor dan pejalan kaki
semakin memperburuk kondisi legibility, karena pada umumnya jalur pejalan kaki berada
pada ruang sisa dan tidak dirancang dari awal.
Tata ruang fisik yang mudah dimengerti berarti bahwa pengguna dapat dengan mudah
menggambarkan secara jelas dan akurat apa saja yang terdapat pada ruang tersebut. Adalah
pengguna sebagai subyek dan bukanlah perancang/ arsitek yang membuat gambar tersebut.
Arsitek hanyalah yang mengatur tata letak fisiknya saja. Beberapa teori mengenai elemen
fisik utama yang berkaitan dengan mental maps yang ada, terutama yang diperkenalkan oleh
Kevin lynch, yaitu: Path, Nodes, Landmarks, Edges dan Districts.
Implikasi Perancangan
Untuk mencapai legibility, langkah yang harus dilakukan adalah sebagai berikut:
1. Pergunakan tata letak jalan/ blok dan daftar fungsi yang ada pada bab1 dan bab 2 sebagai
bahan dasar untuk mengembangkan legibility.
2. Kumpulkan potensi legibility yang ada pada lokasi dan lingkungan sekitarnya (Lembar
kerja 3.1)
3. Periksa hasil yang didapat dengan pendapat yang ada pada pengguna setempat (Lembar
kerja 3.2)
4. Sesuaikan tata letak jalan/ blok yang ada untuk menghasilkan penggunaan terbaik dari
potensi legibility lokasi dan lingkungan sekitarnya yang ada (Lembar kerja 3.3)
5. Periksa pembagian blok untuk menentukan karakter kawasan yang sesuai dan
konsekwensinya pada perancangan (Lembar kerja 3.4)
6. Jika terdapat kawasan dengan karakter path yang kuat, kembangkan suatu data
perancangan berdasarkan tinggi bangunan dan lebar jalan untuk disain baru (Lembar kerja
3.5)
7. Periksa selubung jalan (path enclosure) yang sesuai bagi legibility (Lembar kerja 3.6)
8. Perkuat legibility dari tiap simpul pada setiap skema sesuai dengan tingkat
kepentingannya (Lembar kerja 3.7)
9. Anjurkan intermediate markers pada path bilamana perlu (Lembar kerja 3.8)
d. Robustness
Suatu tempat yang dapat digunakan untuk berbagai kebutuhan akan menawarkan pilihan yang
lebih banyak bagi penggunanya dibandingkan dengan tempat yang membatasi pada satu
kegunaan saja. Kualitas yang seperti ini disebut sebagai Robustness.
Untuk situasi perkotaan, aktifitas pada ruang luar sangatlah dipengaruhi oleh apa yang terjadi
pada bagian sisi bangunan. Perancangan yang ada haruslah dimulai dari luar ke ruang luar
Jurnal Arsir Vol.1 No.1 Juni 2017 24
terdekat. Dalam konteks bangunan, dibedakan antara large-scale (kemampuan bangunan
secara keseluruhan untuk berubah fungsi/penggunaan) dan small-scale robustness
(kemampuan dari ruang tertentu untuk digunakan bagi berbagai fungsi.
Gambar 2. Large-scale robustness, memungkinkan fungsi yang berbeda pada bangunan atau sebagian
besar elemen bangunan
Gambar 3. Small-scale robustness, memungkinkan fungsi yang berbeda pada ruang
Implikasi Perancangan
Untuk mencapai Robustness, langkah yang harus dilakukan adalah sebagai berikut:
1. Pilih konfigurasi yang paling maksimal bagi rumah keluarga (Lembar kerja 4.1)
2. Pada bangunan lain, temukan semua elemen yang ada mengikuti batasan sebagai berikut:
- Sesuaikan semaksimal mungkin segala fungsi yang ada pada konfigurasi bangunan
yang diinginkan (Lembar kerja 4.2)
- Pastikan area lantai dasar yang berdampingan dengan ruang terbuka publik merupakan
ruang yang aktif digunakan (Lembar kerja 4.3)
- Tempatkan hardzone pada lokasi yang tidak akan membatasi penggunaan ruang
lainnya (Lembar kerja 4.4)
3. Sesuaikan ukuran ruang dan detilnya untuk memaksimalkan small-scale robustness
(Lembar kerja 4.5)
4. Rencanakan ruang terbuka pribadi untuk perumahan (Lembar kerja 4.6)
5. Rencanakan bagian pertemuan antara bangunan dan ruang publik untuk mendukung
sebanyak mungkin aktifitas yang dapat terjadi (Lembar kerja 4.7)
Jurnal Arsir Vol.1 No.1 Juni 2017 25
6. Rencanakan semua ruang public secara terinci sebagaimana berikut:
- Jalur sibuk kendaraan (Lembar kerja 4.8)
- Jalur jalan berbagi (Lembar kerja 4.9)
- Jalur khusus pejalan kaki (Lembar kerja 4.10)
7. Periksa rancangan iklim mikro (Lembar kerja 4.11)
Ke-4 aspek diatas adalah bagian dari materi kelompok yang setiap lembar kerja per bab harus
diasistensikan dan pada akhirnya setelah lengkap pada bab ke-4 akan dipresentasikan sebagai
bagian dari penilaian. Karena bentuk dan format penyajian telah ada, yang diperlukan
hanyalah modifikasi dalam bentuk presentasi langsung selain tentunya laporan tertulis.
Setelah presentasi kelompok dinilai cukup, untuk selanjutnya, kegiatan akan dipecah menjadi
kegiatan studio perancangan perorangan, yaitu berbekal penzoningan yang ada, setiap
mahasiswa harus merancang bangunan mixed-use (fungsi campuran) sesuai dengan kaidah 3
aspek berikutnya yaitu: Visual appropriateness, Richness dan Personalisation.
Pembagian kerja perorangan pada 3 aspek tersebut dikarenakan, secara aplikasi ketiganya
sudah masuk pada ranah perancangan arsitektur dan lebih dekat ke unsur bangunan daripada
unsur kota. Artinya peran arsitek lebih dominan dalam menghasilkan solusi akhir
bangunannya. Pembahasannya tidak lagi melalui presentasi lembar kerja, tetapi langsung pada
rancangan bangunannya. Aspek Responsive Environment dapat dinilai dari hasil akhir disain
bangunan yang ada.
e. Visual Appropiateness
Pengguna menginterpretasi suatu tempat dan memaknainya secara bebas. Jika makna tersebut
mendukung Responsiveness, maka tempat tersebut disebut memiliki kesesuaian visual.
Kesesuaian visual dapat dicapai dengan 3 cara sebagai berikut:
- Dengan mendukung legibility, dengan bentuk dan fungsi
- Dengan mendukung variety kawasan
- Dengan mendukung robustness baik skala besar atau pun kecil
Gambar 4. Petunjuk desain dalam menciptakan visual appropriateness
Jurnal Arsir Vol.1 No.1 Juni 2017 26
f. Richness
Merupakan kualitas yang berkaitan dengan bermacam pengalaman indra manusia. Sebagian
besar informasi diterima oleh mata, tetapi Richness bukanlah visual semata tetapi juga
pergerakan, bau, pendengaran dan raba.
Terdapat 2 cara pengalaman indra yang berbeda yang dapat dipilih jika lingkungan binaan
tersebut adalah tetap, yaitu:
- Dengan memusatkan perhatian pengguna pada sumber pengalaman indra yang
berbeda pada lokasi yang berbeda
- Dengan menjauhi satu sumber dengan sumber lainnya
Efektifitas dari tiap metode tersebut tergantung pada sejauh mana pengalaman indra tersebut
dapat diarahkan dengan selektif atau pada informasi yang dapat dipilih secara tidak acak.
Indra sangatlah bervariasi dari sangat acak sampai dengan sangat selektif, seperti gambar ini.
Gambar 5. Urutan pengalaman indra
Implikasi Perancangan
Untuk mencapai Richness, langkah yang harus dilakukan adalah sebagai berikut:
1. Gunakan detail pada bab 5 sebagai dasar untuk pengembangan Richness.
2. Tentukan lokasi yang berpotensi pada non-visual richness dan rencanakan untuk
pengalaman kinetic, bau, pendengaran dan raba (Lembar kerja 6.1)
3. Analisa berbagai kemungkinan skema permukaan tampak untuk mendapatkan strategi
yang sesuai dalam menciptakan kontras secara visual (Lembar kerja 6.2)
4. Analisa jarak pandang dan waktu pandang pada setiap tampak, dan hitung sejumlah
pengguna yang terlibat (Lembar kerja 6.3)
5. Kembangkan setiap tampak permukaan yang ada di Bab 5, tingkatkan richness, jika
diperlukan lebih dari jarak pandang yang tersedia (Lembar kerja 6.4)
Jurnal Arsir Vol.1 No.1 Juni 2017 27
6. Kembangkan richness yang lebih banyak pada permukaan yang kemungkinan dilihat
dalam rentang waktu yang lebih lama (Lembar kerja 6.5)
7. Periksa kelayakan material dan teknik dan ubah perancangan jika diperlukan.
g. Personalisation
Pengguna dapat melakukan personalisasi dengan alasan sebagai berikut:
- Untuk meningkatkan penggunaan secara praktis
- Untuk mengubah kesan/ tampilan suatu tempat.
Gambar 6. Kaitan antara kepemilikan dan kemungkinan untuk melakukan personalisasi.
Implikasi Perancangan
Untuk mencapai Personalisation, langkah yang harus dilakukan adalah sebagai berikut:
1. Gunakan detail pada bab 6 sebagai dasar untuk pengembangan Personalisation.
2. Kembangkan perancangan detail pada dinding interior (Lembar kerja 7.1)
3. Kembangkan perancangan detail pada batas pemilikan (Lembar kerja 7.2)
4. Kembangkan perancangan detail pada jendela (Lembar kerja 7.3)
5. Kembangkan perancangan detail pada permukaan luar bangunan. Elaborasi pengaruh dari
personalisasi ruang yang terlihat publik (Lembar kerja 7.4)
KESIMPULAN
Pendekatan teori ini haruslah diimbangi oleh teori perancangan kota lainnya seperti
Christopher Alexander dengan New Theory of Urban Design (1987), Jane Jacobs dengan
Death and Life of Great American Cities (1961), Oscar Newman dengan Community of
Interest (1980) yang bermanfaat agar mahasiswa memiliki pemahaman yang lebih kaya dalam
membuat perancangan yang berbasiskan ruang kota. Pemahaman yang lebih beragam
terutama pada kesamaan konsep atau pun bahkan perbedaannya, akan membuat mereka lebih
luwes dalam penyusunan program dan bahkan perancangan fisiknya. Teori Responsive
Environment ini membantu memperluas wawasan mahasiswa dalam pemahaman dan visi
Jurnal Arsir Vol.1 No.1 Juni 2017 28
perancangan yang pada akhirnya memperluas daya jangkau disain kearah yang sebelumnya
tidak diketahui.
Sebagian besar contoh perancangan yang ditampilkan pada teori ini adalah sistim jaringan
grid jalan, yang merupakan cerminan kota Eropa dan Amerika, sehingga dalam penerapannya
haruslah disesuaikan dengan konteks yang tepat dengan beberapa reinterpretasi. Prinsip
dasarnya adalah pengembangan dalam skala kecil dan memperkuat pedestarian dalam
perancangan kota. Fungsi komersial dipadukan dengan hunian dengan prinsip saling
mendukung.
Perancangan kota meliputi aspek hubungan antara satu bangunan dengan lainnya; ruang
diantara bangunan-bangunan, keberadaan ruang publik dan ruang privat; penggunaan ruang
yang diciptakan untuk meningkatkan interaksi sosial dan pertukaran; kesenangan dan rasa
nyaman dan komunitas. Aspek ini akan berpengaruh juga finalisasi perancangan bangunan
pada kavling masing-masing.
Responsive Environment memberikan sumbangan pendekatan kualitatif dan deskriptif
terhadap pengalaman dan perancangan lingkungan yang berhasil yaitu berdasarkan atas
kebebasan memilih. Sudut pandang ini sangatlah berharga karena memberi pemahaman
bahwa lingkungan binaan berfungsi sebagai kontributor aktif kepada kualitas hidup manusia.
Arsitek tidak hanya berkutat pada ideologi sosial dan politik saja, tetapi juga haruslah
memahami bahwa lingkungan binaan juga membantu keberlangsungan kehidupan manusia
dan komunitasnya.
Pada dasarnya kota tidak didasarkan pada perencanaan pasti akan terbentuk nantinya. Ia
diciptakan oleh proses pengambilan keputusan yang berkelanjutan. Keputusan yang
berdasarkan atas alokasi biaya pemerintah yang dibenturkan pada perbedaan kebutuhan dan
kepentingan politik atau ekonomi. Tetapi pendekatan preskriptif ini dapat menjadi suatu
alternatif dalam suatu pendekatan perancangan dalam konteks perkotaan.
DAFTAR PUSTAKA
Bentley, Ian, Responsive environments: a manual for designers, London, The Architectural
Press. Ltd. 1985
Urban Design Quarterly; The Journal of the Urban Design Group; Spring 2001 / Issue 78
[Link]
[Link]
Jurnal Arsir Vol.1 No.1 Juni 2017 29