LAPORAN PENDAHULUAN
INTOLERANSI AKTIVITAS
DISUSUN OLEH :
ENDAH SUDARSIH
P272200192023
KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA
POLITEKKES KEMENKES SURAKARTA
JURUSAN KEPERAWATAN
PRODI PROFESI NERS
2019/2020
LAPORAN PENDAHULUAN
INTOLERANSI AKTIVITAS
A. Konsep Intoleransi aktivitas
1. Definisi
Menurut (Heriana, 2014) aktivitas adalah suatu energi atau keadaan
bergerak dimana manusia memerlukan untuk dapat memenuhi kebutuhan
hidup. Salah satu tanda kesehatan adalah adanya kemampuan seseorang
melakukan aktivitas seperti berdiri, berjalan dan bekerja. Kemampuan
aktivitas seseorang tidak terlepas dari keadekuatan sistem persarafan dan
musculoskeletal.
Aktivitas sendiri sebagai suatu energi atau keadaan bergerak
dimana manusia memerlukan hal tersebut agar dapat memenuhi kebutuhan
hidupnya. (Asmadi, 2010). Jadi dapat diartikan bahwa gangguan aktivitas
merupakan ketidakmampuan seseorang untuk melakukan kegiatan dalam
memenuhi kebutuhan hidupnya.
Aktivitas adalah suatu energi atau keadaan bergerak dimana
manusia memerlukan untuk dapat memenuhi kebutuhan hidup. Sedangkan
gangguan aktivitas/intoleransi aktivitas adalah ketidakcukupan energi
fisiologis atau psikologis untuk melanjutkan atau menyelesaikan aktivitas
sehari-hari yang ingin atau harus dilakukan (Nanda, 2015).
2. Etiologi
Menurut Vera (2016) penyebab intoleransi aktivitas, diantaranya adalah :
a. Kelemahan umum.
b. Ketidakseimbangan suplai oksigen dengan kebutuhan tubuh.
c. Gaya hidup.
d. Peningkatan kebutuhan metabolik.
e. Ketidakadekuatan sumber energi.
f. Nyeri.
g. Efek pengobatan.
h. Depresi atau kurangnya motivasi.
3. Patofisiologi dan Pathway
Intoleransi aktivitas merupakan suatu diagnosa yang lebih
menitikberatkan respon tubuh yang tidak mampu untuk bergerak terlalu
banyak karena tubuh tidak mampu memproduksi energi yang cukup.
Secara sederhana dapat dijelaskan bahwa, untuk bergerak, kita
membutuhkan sejumlah energi. Pembentukan energi dilakukan di sel,
tepatnya di mitokondria melalui beberapa proses tertantu. Untuk
membentuk energi, tubuh memerlukan nutrisi dan CO2.
Pada kondisi tertentu, dimana suplai nutrisi dan O2 tidak sampai ke
sel, tubuh akhirnya tidak dapat memproduksi energi yang banyak. Jadi,
apapun penyakit yang membuat terhambatnya/terputusnya suplai nutrisi
dan O2 ke sel, dapat mengakibatkan respon tubuh berupa intoleransi
aktifitas.
Intoleransi aktivitas pada klien dengan anemia disebabkan kehilangan
sel darah merah berlebihan. Berkurangnya jumlah sel darah merah
mengakibatkan oksigen yang dikirimkan ke jaringan menjadi sedikit. Pada
kasus ini dapat terjadi hipoksia jaringan. Hipoksia jaringan merupakan
suatu kondisi kurangnya pasokan oksigen di jaringan tubuh untuk
menjalankan fungsi normalnya. Saat pasokan oksigen ke jaringan sedikit
maka akan terjadi mekanisme kompensasi tubuh, diantaranya seperti
adanya peningkatan curah jantung atau pernapasan, meningkatnya
pelepasan oksigen dan hemoglobin, terjadi pengembangan volume plasma,
dan redistribusi aliran darah ke organ-organ vital. Peningkatan frekuensi
jantung mengakibatkan beban kerja jantung meningkat dan terjadi
hipertrofi ventrikel. Hipertrofi ventrikel menyebabkan curah jantung
menurun dan mengakibatkan terjadinya kelemahan fisik dan terjadi
intoleransi aktivitas. Pada saat adanya penurunan energi menyebabkan
kelemahan otot juga bisa menyebabkan adanya resiko jatuh pada pasien.
(Muttaqin, 2014). Pasien dengan anemia juga akan mengalami anoreksia
sehingga bisa menyebabkan adanya resiko gangguan nutrisi kurang dari
kebutuhan tubuh.
Pathway
Anemia
Resiko Anoreksia Suplai oksigen dalam darah menurun
gangguan
nutrisi kurang
dari kebutuhan
Le Lemes Metabolisme oksidatif menurun
tubuh
Gangguan pemeliharaan Kesehatan Energi menurun
(BAB,BAK,Mandi,Makan,minum)
Lemes
Defisit Perawatan
Diri Kelemahan otot
Intoleransi Aktivitas
Resiko Jatuh
4. Manifestasi Klinik
Menurut Vera (2016) penyebab intoleransi aktivitas, diantaranya adalah :
a. Kelemahan umum.
b. Ketidakseimbangan suplai oksigen dengan kebutuhan tubuh.
c. Gaya hidup.
d. Nyeri.
e. Nadi dengan karakteristik lemah, terdapat perubahan ritme, dan
frekuensi meningkat.
f. dispnea saat aktivitas, sesak napas, menambah atau menurunkan RR
secara berlebihan.
g. Respon abnormal tekanan darah terhadap aktivitas.
h. Tekanan darah tidak dapat ditingkatkan dengan aktivitas.
5. Penatalaksanaan
a. Pencegahan primer
Pencegahan primer merupakan proses yang berlangsung sepanjang
kehidupan dan episodic. Sebagai suatu proses yang berlangsung
sepanjang khidupan, mobilitas dan aktivitas tergantung pada system
musculoskeletal, kardiovaskuler, pulmonal. Sebagai suatu proses
episodic pencegahan primer diarahkan pada pencegahan masalah-
masalah yang dapat timbul akibat imobilitas atau ketidakaktifan.
1) Hambatan terhadap latihan
2) Pengembangan program latihan
3) Keamanan
b. Pencegahan sekunder
Spiral menurun yang terjadi akibat eksaserbasi akut dari imobilitas
dapat dikurangi atau dicegah dengan intervensi keperawatan.
Keberhasian intervensi berasal dari suatu pengertian tentang berbagai
factor yang menyebabkan atau turut berperan terhadap imobilitas dan
penuaan. Pencegahan sekunder memfokuskan pada pemliharaan
fungsi dan pencegahan komplikasi.
c. Penatalaksanaan terapeutik
6. Pemeriksaan Penunjang
a. Pemeriksaan Diagnostik
1) Foto Rontgen (Untuk menggambarkan kepadatan tulang, tekstur,
erosi, dan perubahan hubungan tulang).
2) CT Scan tulang (mengidentifikasi lokasi dan panjangnya patah
tulang di daerah yang sulit untuk dievaluasi)
3) MRI (untuk melihat abnormalitas : tumor, penyempitan jalur
jaringan lunak melalui tulang)
b. Pemeriksaan laboratorium
1) Pemeriksaan darah dan urine
2) Pemeriksaan Hb.
7. Komplikasi
a. Denyut nadi frekuensinya mengalami peningkatan, irama tidak teratur
b. Tekanan darah biasanya terjadi penurunan tekanan sistol/hipotensi
orthostatic
c. Pernafasan terjadi peningkatan frekuensi, pernafasan cepat dan
dangkal
d. Warna kulit dan suhu tubuh terjadi penurunan
e. Status emosi stabil (Rosidawati, dkk 2010)
B. Asuhan Keperawatan
1. Pengkajian
Identitas :
a. Identitas pasien berupa nama, tanggal lahir, umur, jenis kelamin,
status, agama, pendidikan, pekerjaan, alamat, nomor RM, diagnosa
medis.
b. Identitas penanggung jawab berupa nama, tanggal lahir, jenis kelamin,
status, agama, pendidikan, pekerjaan, alamat, hubungan dengan
pasien.
c. Catatan medis.
Riwayat Kesehatan :
a. Keluhan utama
b. Riwayat kesehatan sekarang
c. Riwayat kesehatan dahulu
d. Riwayat kesehatan keluarga
Pengkajian Fungsional Gordon :
a. Pola persepsi dan pemeliharaan kesehatan
b. Pola nutrisi
c. Pola eliminasi
d. Pola istirahat dan tidur
e. Pola personal hygiene
f. Pola aktivitas dan latihan
Pola aktivitas atau latihan dapat dinilai dengan tabel berikut :
Aktivitas 0 1 2 3 4
Makan dan minum
Mandi
Eliminasi (BAK&BAB)
Berpakaian
Mobilisasi di tempat tidur
Pindah
Ambulasi
Keterangan :
0 : mandiri
1 : alat bantu
2 : dibantu orang lain
3 : dibantu orang lain dan alat
4 : tergantung total
g. Pola manajemen kesehatan
h. Pola konsep diri
i. Pola hubungan dan peran
j. Pola seksual dan reproduksi
Pemeriksaan Fisik :
a. Keadaan umum dan kesadaran umum
b. Tanda-tanda vital berupa tekanan darah, nadi, pernapasan, dan suhu
c. Pemeriksaan fisik
d. Data penunjang
e. Program terapi
f. Data fokus
2. Diagnosa Keperawatan Yang Mungkin Muncul
a. Intoleransi aktivitas
b. Resiko ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh
c. Defisit perawatan diri
d. Resiko Jatuh
3. Intervensi
Dx Tujuan dan KH Intervensi
(NOC) (NIC)
1. Setelah dilakukan tindakan 1) Monitor TTV dan KU
keperawatan selama 3 x 24 jam pasien
diharapkan aktivitas pasien dapat 2) Monitor pasien akan
terpenuhi dengan kriteria hasil : adanya kelelahan fisik dan
1. Berpartisipasi dalam aktivitas emosi
fisik tanpa disertai peningkatan 3) secara berlebihan
tekanan darah, nadi dan RR 4) Kaji kekuatan otot dan
2. Mampu melakukan aktivitas ADL pasien
sehari-hari (ADLs) secara 5) Observasi adanya
mandiri pembatasan klien dalam
3. mampu berpindah dengan atau melakukan
tanpa bantuan alat 6) aktivitas
4. Keseimbangan aktivitas dan 7) Bantu pasien untuk
istirahat memenuhi aktivitas
5. Status kardiopulmonari 8) Anjurkan pada keluarga
adekuat untuk selalu mendampingi
pasien
9) kolaborasi dengan tim
kesehatan lain (fisioterapi)
2. Setelah dilakukan tindakan 1) Monitor TTV dan
keperawatan selama 3 x 24 jam mengkaji KU pasien
diharapkan kebutuhan nutrisi 2) Monitor pucat,
pasien dapat terpenuhi dengan kemerahan, dan
kriteria hasil : kekeringan
1. Mampu mengindentifikasi jaringankonjungtiva
kebutuhan nutrisi 3) Monitor intake nuntri
2. Tidak ada tanda-tanda 4) Beri makan sedikit tapi
malnutrisi sering pada klien
3. Tidak terjadi penurunan berat 5) Informasikan pada klien
badan yang berarti dan keluarga tentang
manfaatnutrisi
6) Kolaborasi dengan ahli
gizi dalam pemberian gizi
seimbang
3 Setelah dilakukan tindakan 1) Kaji kemampuan pasien
keperawatan selama 3 x 24 jam untuk melakukan
diharapkan defisit perawatan diri perawatan diri
pasien terpenuhi dengan kriteria 2) Ganti pakaian yang kotor
hasil : dengan yang bersih.
1. Klien terbebas dari bau badan 3) Berikan pujian pada
2. Menyatakan kenyamanan pasien tentang
terhadap kemampuan untuk kebersihannya
melakukan aktivitas 4) Bimbing keluarga pasien
3. Dapat melakukan aktivitas memandikan / menyeka
dengan bantuan pasien
5) Kolaborasi dengan
keluarga dan pemenuhan
kebutuhan pasien
4 Setelah dilakukan tindakan 1) Kaji KU dan TTV pasien
keperawatan selama 3 x 24 jam 2) Posisikan pasien dengan
diharapkan tidak terjadi jatuh aman pada tempat tidur
pada pasien dengan kriteria hasil : 3) Pasang restrain pada
1. Tidak terjadi kejadian jatuh tempat tidur
2. Adanya perilaku pencegahan 4) Anjurkan pada keluarga
jatuh untuk selalu mendampingi
3. Lingkungan pasien aman pasien
5) Beri informasi
1. kepada
pasien 2. danekluarga
tentnag resiko jatuh
6) Kolaborasi dengan dokter
dalam pemberian terapi
Nurarif (2015), Aplikasi Asuhan Keperawatan Nanda NIC-NOC 2015
4. Evaluasi
Tahap evaluasi merupakan proses yang menentukan sejauh mana criteria
hasil terpenuhi sehingga evaluasi terjadi. Kemungkinan evaluasi
a. Masalah teratasi
b. Masalah teratasi sebagian
c. Masalah belum teratasi
d. Dapat muncul masalah baru
DAFTAR PUSTAKA
Asmadi. 2010. Konsep dan Aplikasi Kebutuhan Dasar Klien. Jakarta: Salemba
Medika.
Bulechek, G., Butcher, H., Dochterman, J., & Wagner, C. (2017). Nursing
intervention classification (NIC). Singapore: Elsevier.
Heriana, Pelapina. 2014. Buku Ajar Kebutuhan Dasar Manusia. Tangerang
selatan: Binarupa aksara
Hidayat, A. Aziz Alimul dan Musrifatul Uliyah. 2014. Pengantar Kebutuhan
Dasar Manusia. Jakarta: Salemba medika
Muttaqin, A. (2014). “Asuhan Keperawatan Klien dengan Gangguan Sistem
Pernapasan” . Jakarta : Salemba Medika
Moorhead, S., Johnson, M., Maas, M. L., & Swanson, E. (2017). Nursing outcome
classification (NOC), edisi ke-5. Singapore: Elsevier.
NANDA NIC NOC. 2015. Aplikasi Asuahan Keperawatan Berdasarkan
Diagnosa Medis. Yogyakarta: Mediaction Publishing
Rosidawati, dkk. 2010. Mengenal Usia Lanjut dan Perawatannya. Jakarta:
Salemba Medika
Vera, M. (2016). Activity intolerance. Nurseslabs. Dilihat pada 17 Oktober 2019
di https//[Link]/activity-intolerance/?amp