0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
429 tayangan7 halaman

Kesedihan Rangga dalam Harapan Keluarga

Cerita ini menceritakan tentang seorang gadis bernama Fisika Larasati yang hidup dalam kemiskinan setelah ayahnya meninggal dan ibunya sakit. Ia berjualan jamu untuk mendapatkan uang demi keluarganya, meskipun kakinya lelah berjalan di bawah terik matahari. Cerita ini menggambarkan kisah kehidupan yang penuh penderitaan namun tetap tabah.

Diunggah oleh

Fitria Nisa
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
429 tayangan7 halaman

Kesedihan Rangga dalam Harapan Keluarga

Cerita ini menceritakan tentang seorang gadis bernama Fisika Larasati yang hidup dalam kemiskinan setelah ayahnya meninggal dan ibunya sakit. Ia berjualan jamu untuk mendapatkan uang demi keluarganya, meskipun kakinya lelah berjalan di bawah terik matahari. Cerita ini menggambarkan kisah kehidupan yang penuh penderitaan namun tetap tabah.

Diunggah oleh

Fitria Nisa
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

Tuhan, Aku Lelah!

Cerpen Karangan: Ika Septi


Kategori: Cerpen Kehidupan, Cerpen Keluarga, Cerpen Remaja, Cerpen
Sedih
Lolos moderasi pada: 20 October 2019

Rangga mendekap kaleng racun serangga yang isinya nyaris habis tak
bersisa, sementara itu seekor kecoak di hadapannya menari gembira.

Hari ini adalah awal semester ganjil. Rangga melangkahkan kakinya ringan
menuju kelas. Seragam putih abunya terlihat cemerlang di bawah sinar
mentari pagi. Kelas 2 kemarin, seperti biasa, hasil rapor Rangga
memuaskan. Ranking satu lagi. Apa yang dikatakan orangtuanya setiap
semester baru selalu terngiang ngiang di telinganya.
“Kamu adalah putra kami satu satunya. Oleh karena itu jangan pernah
mengecewakan kami.”
“Mama tidak mau kamu lengah sedikit pun, di luar sana banyak sekali yang
menginginkan posisi yang kamu tempati sekarang.”
“Mama dan papa menjadi seperti sekarang ini karena perjuangan kami yang
sangat berat. Kamu ingin seperti kami kan? Menjadi orang terpandang,
punya keahlian, disegani, dan berpenghasilan besar? Belajar dan belajar
adalah kuncinya. Jangan sampai ada hal hal lain yang mengusik dan
membuatmu melemah.”

Rangga terkadang merasa lelah dan bosan dengan semua yang harus
dijalaninya.
Les ini les itu, sesekali ingin rasanya mengalihkan pandangannya barang
sejenak untuk melihat dunia. Dunia remaja yang indah. Namun ia selalu
meyakinkan dirinya sendiri bahwa semua itu hanyalah keinginan yang tak
layak ia dapatkan. Ia tidak ingin membuat orangtuanya kecewa. Ia tidak
ingin membuat rasa bangga orangtuanya luntur ketika ada pertemuan
keluarga.

Pagi yang ribut. Semua orang berceloteh gembira. Saling bercerita tentang
liburan yang mereka lalui dua minggu kemarin, termasuk Gery teman
sebangku Rangga yang kini tengah bersenda gurau dengan Andre dan
Raisa. Hanya Rangga yang duduk diam memandangi wajah wajah ceria
teman temannya untuk kemudian ia goreskan di atas lembar buku tulisnya.

Lalu saat itu pun tiba. Saat dimana matanya terpaku menatap wajah
seseorang yang baru saja datang bersama pak Ikhwan.
“Anak anak perkenalkan, ini Sisi, teman baru kalian. Semoga kalian bisa
menjadi teman yang baik bagi Sisi ya.”
Ucapan pak Ikhwan disambut dengan sorak sorai teman-teman prianya.
Sementara itu para anak wanita saling berbisik dengan teman
sebangkunya. Sisi duduk tepat di depan Rangga bersama Reni. Lila, teman
sebangku Reni, semester ini pindah sekolah mengikuti orangtuanya yang
harus berdinas di luar pulau.
Rangga melirik Gery yang terlihat sangat antusias dengan keberadaan Sisi,
dan entah mengapa hal itu membuatnya kesal.

Rangga tidak tahu apa yang terjadi dengan dirinya. Wajah Sisi yang
diterjemahkan oleh Gery sebagai wajah bidadari yang turun dari langit itu
selalu menghampiri di setiap mimpinya. Padahal sampai detik ini Rangga
belum pernah sekalipun berbincang dengannya. Selama ini, ia cukup puas
hanya menikmati wangi rambut panjang Sisi yang selalu berkelebat di
hidungnya. Mengagumi leher jenjangnya. Memandangi ikat rambutnya yang
mempunyai bandul bandul berwarna pink lembut. Hal hal kecil namun bagi
Rangga itu terasa sangat besar. Dan ia sangat menyukai itu semua.

Rangga menekuri lukisan indah di lembar buku yang terbuka di


hadapannya. Perpustakaan selalu menjadi bungkernya ketika waktu
istirahat tiba.
“Hei, kamu bawa pulpen gak, boleh pinjam?” Sebuah suara merdu
terdengar di telinga Rangga, namun tak membuat matanya beranjak dari
halaman yang tengah ia resapi.
“Rangga? Bawa pulpen atau pensil mungkin?”

Rangga menoleh ke asal suara. Ia terpana dengan seseorang yang baru


saja mengajaknya bicara.
“Oh iya, ini.” Rangga mengambil pensil 2B yang ada di saku kemejanya
dengan gugup.
“Kamu sering kesini ya? Aku perhatikan setiap istirahat kamu pasti pergi
kesini. Pulang sekolah juga.”
Dia memperhatikanku.
Hidung Rangga kembang kempis, sementara ia hanya bisa menganggukan
kepalanya kikuk.
“Sedang baca apa?”
Tanpa berkata sepatah pun, Rangga menggeser buku di hadapannya. Sisi
tersenyum.
“Eh, tahu gak, nanti siang di Galeri Serambi ada pameran lukisan dari
perupa ini. Kita bisa bertemu dengan perupanya sekalian omong omong,
asik kan?” Sisi menggeser balik buku itu.
“Aku ingin kesana, tapi semua orang yang aku ajak gak ada yang tertarik.
Bagaimana dengan kamu? Kamu tertarik gak, ke sana yuk?”
Rangga sangat senang sekali dengan ajakan Sisi itu, perupa ini adalah
favoritnya yang selalu memberinya banyak inspirasi, tapi di kepalanya telah
menumpuk daftar acara hari ini yang pantang ia lewatkan.
“Maaf, aku ada bimbel di Sigma.” Jawab Rangga datar.
“Hmm, bimbel kamu jam berapa memangnya?”
“Jam 3, tapi sebelumnya aku ada…” Belum sempat Rangga menuntaskan
kalimatnya, Sisi lebih dulu angkat bicara.
“Nah, ini namanya cocok, gimana kalau kita kesana dulu, Serambi kan
letaknya di belakang tempat bimbel kamu itu kan?”
Rangga mengangguk.
“Jadi gimana? satu kayuh dua pulau terlampaui kan? Bayangkan kamu bisa
bertemu dengan orangnya plus mengagumi lukisan dan beberapa karya
instalasinya secara langsung, daripada di sini hanya melihat dari buku.”
Rangga terdiam sejenak, betul juga apa yang dikatakan Sisi.
Mungkin tidak akan menjadi masalah bila dia membolos barang satu kali
pertemuan di Les Robotik nya, pikirnya.
Rangga lalu menatap Sisi dan akhirnya mengangguk dengan pasti.
“Kamu telah mengecewakan Mama, seorang gadis hanya akan membuat
konsentrasi kamu buyar. Seorang gadis hanya bisa mengacaukan isi kepala
kamu.”
Rangga terdiam, menundukkan kepalanya dalam. Ternyata Mama melihat
dirinya tengah bersama Sisi keluar dari Galeri Serambi tadi siang dan itu
membuat wanita itu murka.
“Rangga, kamu sudah punya jadwal yang harus kamu ikuti. Mengapa kamu
melanggarnya. Kami telah membayar mahal untuk kelas robotik kamu itu.”
Rangga diam. Ia tahu Mamanya tidak bisa di debat.
“Kamu tahu, apa yang Mama dan papa lakukan terhadap kamu adalah demi
kebaikan kamu sendiri. Demi masa depan kamu. Agar kamu bisa melakukan
banyak hal, menjadi yang terunggul. Dan tidak mudah ditumbangkan.”
Rangga mendengus.
Aku tak ingin menjadi manusia super, aku hanya ingin menjadi diriku
sendiri.

Sejak mamanya berbicara keras kepadanya, Rangga selalu menghindari


Sisi, dan membuat gadis itu bertanya-tanya.
Rangga hanya bicara seperlunya, bila Sisi mengajaknya berbincang.

Satu tahun telah dilewati Rangga dengan baik. Nilai UN nya adalah yang
tertinggi di sekolah. Bukan main bangganya kedua orangtuanya. Alih alih
merasa senang, Rangga justru sedih karena saat ini apa yang ia cita citakan
telah kandas di tangan orangtuanya sendiri. Rangga menatap formulir
pendaftaran masuk perguruan tinggi itu dengan hati yang terkoyak.

“Hei, sudah lama kita gak ngobrol ya?”


Rangga terlonjak, Sisi tersenyum
Awalnya ia berpikir untuk pergi dari tempat itu, namun ia urungkan. Ia
meyakinkan dirinya sendiri bahwa mungkin ini adalah pertemuan
terakhirnya dengan gadis itu karena sebentar lagi mereka akan keluar dari
sekolah ini untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi.

“Selamat ya, seperti biasa, kamu memang tak tergoyahkan.”


Rangga tersenyum.
“Makasih, selamat juga untuk kamu.”

Sisi melirik kertas yang ada di tangan Rangga.


“Rencananya pilih jurusan apa? Senirupa?”
Rangga menggeleng.
“Arsitektur?”
Rangga menggeleng lagi.
“Lalu?”
“Kedokteran.”
“Oh ya? Ternyata aku salah tebak ya?”
“Kamu gak salah tebak. Bila boleh memilih aku memang ingin masuk ke
salah satu jurusan itu.”
“Lantas kenapa enggak?”
Rangga menaikan bahunya.
Sisi menatap wajah murung pemuda itu.
“Keinginan orangtua ya?”
Rangga mengangguk.
“Kamu gak ngomong apa yang kamu inginkan?”
“Percuma, aku tidak berhak mempunyai keinginan. Ada yang bilang anak
adalah aset. Dan aset tidak bisa berkembang sendiri tanpa campur tangan
sang pemilik aset.”
Sisi menggigit bibirnya.
“Hei semangat ya. Walau terasa berat, orangtua kamu pasti tahu bahwa
semua ini yang terbaik untuk kamu.”
Rangga tersenyum kecut.

Rangga menundukkan kepalanya dalam. Sementara mamanya melontarkan


kekecewaan yang sangat kepadanya ditimpali oleh papanya. Marah, kesal,
kecewa mereka lampiaskan saat itu juga. Telinga Rangga sampai panas
dibuatnya. Rangga tahu ini memang salahnya karena telah mengecewakan
orangtuanya. Sebenarnya soal soal itu mudah saja baginya, namun entah
apa yang ada di dalam pikirkannya saat itu sehingga ia menghitami bulatan
bulatan yang bukan seharusnya.

“Rangga, mulai besok akan ada guru private untuk kamu. Kamu tidak ingin
mengecewakan mama dan papa lagi tahun depan kan?”
Rangga mengangguk lemah.
“Sekarang masuk kamar. Kamu dihukum. Itulah yang pantas kamu
dapatkan saat ini.”
Rangga tersaruk memasuki kamarnya. Hatinya tercerabik.
Akulah Tulang Rusukmu
Cerpen Karangan: Creafids
Kategori: Cerpen Cinta, Cerpen Kehidupan, Cerpen Sedih
Lolos moderasi pada: 23 October 2019

Perlahan, kristal-kristal bening mengucur tenang di pelipis gadis itu.


Wajahnya tetap memeancarkan keteduhan, walau sinar terik matahari
menyiram seluruh inci bagian wajahnya. Cerahnya biru terang terlukis di
petala langit. Gumpalan-gumpalan kapas putih sibuk mengarungi
cakrawala, ditemani sinar mentari yang kian memanas. Memanggang bumi
serta seluruh isinya.

Gadis berumur Sembilan belas tahun ini terus berjalan menjajakan


jualannya. Walau kakinya sudah lelah berjalan, ia tetap memaksakan diri.
Ia tak berhenti sejenak untuk beristirahat, mengingat ia sangat-sangat
membutuhkan sepeser uang untuk dirinya dan keluarganya.

Jika dilihat dari sisi ekonominya, miris memang. Rumah sang gadis itu
hanyalah sebuah gubuk reyot yang seperti tertimpa angin. Ayahnya telah
tiada semenjak dirinya masih berumur sepuluh dan Ibunya sudah dua
tahun ke belakang digerogoti penyakit keras.

“Jamu, jamu…,”
Mulut mungil sang gadis itu tidak henti-hentinya mebgumandangkan kata
‘jamu’.
Kendati ia telah meneriakkan kata jamu berkali-kali serta sekuat tenaga,
namun sayang. Orang-orang di sekitarnya hanya menganggap ia sebagai
angin lewat.
Gadis itu masih terus berjalan, menyusuri jalanan kota yang makin lama
kian dipadati kendaraan.

Namanya Fisika Larasati, biasa dipanggil Fi. Hari-harinya disibukkan untuk


bekerja banting tulang dalam ingar-bingarnya tembok beton.
Kadang, ia cemburu pada orang-orang yang seusia dengannya. Mereka
pastilah sedang menikmati masa mudanya. Bermain bersama teman,
bercanda-ria, atau sedang menuntut ilmu demi menyongsong masa depan.
Tapi dirinya?
Fi hanya bisa berjualan jamu. Ingin melamar pekerjaan yang lebih
menjanjikan pun tak bisa, sebab dirinya hanya sekolah hingga kelas 6 SD.
Fi tak mengenal aljabar, tak mengenal hokum khirchoff. Ia hanya mengenal
angka, huruf, perkalian, dan berbagai ilmu dasar yang ia pelajari di SD.

Kini, sudah pukul 12 siang. Fi berangkat dari rumah pukul 5 pagi, tapi
hingga sekarang baru lima orang yang membeli jamu-nya. Botol-botol yang
berisi jamu itu masih terisi penuh.
Dinding-dinding kalbunya pun seketika muram. Sudah siang bolong begini,
tapi dirinya baru mendapatkan sedikit pelanggan. Bagaimana bisa ia dan
Ibunya makan? Bagaimana bisa ia membeli obat untuk Ibunya?

Fi terus berjalan sembari meneriakkan kata jamu. Dalam benaknya, ia


selalu berharap ada yang membeli dagangannya. Saat ia sedang berjalan,
tiba-tiba sebuah motor berkekuatan tinggi melenggang kencang beberapa
senti di dekatnya.
Lantas wadah besar yang berisi botol-botol yang dibakul oleh Fi membuat
Fi terempas ke belakang. Ia kehilangan keseimbangan.
Praaang!
Botol-botol jamu itu pecah. Fi menyapa tanah. Ia tergeletak lemah.
Kepalanya terbentur aspal, begitu juga badannya.
Sementara motor yang membuat Fi begitu, tak menghiraukan keadaan Fi.
Ia terus melajukan motor dengan kekuatan tinggi. Kencang sekali. Terang
saja, ia sedang mabuk-mabukan.

Kehidupan Fi kini semakin memburuk. Semakin gelap, gelap sangat pekat.


Seperti kopi yang sejatinya berasa pahit.
Beberapa saat setelah kejadian motor menyerempet Fi, ada warga yang
mengetahuinya. Spontan, Fi diboyong warga ke rumah sakit terdekat.
Darah mengucur tiada henti dari kepala Fi. Mata Fi tertutup, enggan untuk
membuka. Ia sekarang tak sadarkan diri. Berbagai luka, hinggap di
badannya. Sementara botol-botol jamu itu, masih berada di jalanan dalam
keadaan hancur berkeping-keping.

Sedangkan di lain tempat, di rumah Fi, Ibunya sedang berbatuk-batuk ria.


Batuknya semakin parah. Ras alemas menyerbu dirinya. Semakin lama,
semakin kencang batuk yang ia layangkan. Ibunya pun tertidur tanpa sadar
saking lelahnya.

Beberapa hari kemudian, Fi dipulangkan dari rumah sakit. Ia pulang dengan


keadaan kepalanya diperban, dan beberapa titik badannya dibaluti kain
kassa. Ia sangat bersyukur, karena ia masih diberi kesempatan untuk
hidup. Terlebih, ia bahagia karena ada yang mau membiayai dirinya di
rumah sakit selama beberapa hari ini.
Tapi kemudian, di tengah jalan Fi kembali bersedih. Ia baru ingat, botol-
botol jamu itu sudah tidak ada lagi. Mungkin sudah terbuang dan menjadi
sampah tak berguna.
“Lalu, dengan apa aku bekerja?” suara parau Fi terdengar. Ia menunduk.

Tidak terasa, ia pun sampai di rumahnya. Dan alangkah kagetnya ia, kala
mengetahui Ibunya sudah tidak bangun untuk selamanya.

Lembayung senja menghiasi langit kala Fi sedang berada di tempat


peristirahatan terakhir Ibunya.
Wangi bunga pemakaman menyerbak, menusuk hidung Fi. Tapi, yang Fi
rasakan kini adalah kesedihan yang luar biasa mendalamnya.
Kehidupannya kini betul-betul hancur. Satu harapannya, telah hilang dari
dunia. Lalu, apa yang harus ia perbuat sekarang?
Di bawah mentari yang sedang turun ke peraduannya, Fi memeluk erat batu
nisan. Mengeluarkan semua tangisannya.

Saat sedang menumpahkan seluruh emosinya, seseorang menepuk pundak


Fi dari belakang. Dalam keadaan masih menangis, Fi menoleh.
Rupanya ada seorang lelaki berparas tampan tersenyum ke arahnya.
“Halo Nona Muda, kaulah yang aku cari selama ini.” Lelaki itu tersenyum
penuh arti. Menebarkan sebuah senyuman termanis yang pernah Fi lihat.
Fi masih menangis. Ia tak tahu, siapa lelaki ini sebenarnya.
“Siapa namamu? Kenalkan, aku Pratama,” ia mengulurkan sebuah mawar
merah kepada Fi. “Sejak aku melihatmu di pasar beberapa bulan lalu, entah
mengapa aku begitu terpukau melihatmu. Kau selalu hadir dalam mimpi-
mimpiku, kau selalu ada dalam baying-bayangku. Lantas, mulai dari situ
aku berusaha untuk mencarimu. Hingga kini, aku berhasil menemui
dirimu..,”

Fi terdiam. Tangisannya mulai mereda, namun ia masih bingung dengan


apa yang dibicarakan lelaki itu.
“Akulah tulang rusukmu. Aku janji, akan selalu menjagamu walau badai
meluluhlantahkan seisi bumi dan berusaha mengombang-ambingkan
hubungan kita.” Lelaki bernama Pratama tu lagi-lagi tersenyum.

“Kamu tidak perlu lagi bingung mengapa aku berhasil menemuimu. Yang
jelas, sekarang aku sangat bersyukur karena sudah menemukanmu.
Seseorang yang kucari selama ini.” Pratama menarik napas dalam-dalam.
“Dan jika kau bertanya, kenapa aku jatuh cinta padamu.. Aku akan bilang,
memangnya cinta butuh alasan?”

Hening menjeda. Fi merasakan sebuah atmosfer kebahagiaan berkelindan


dalam benaknya.
“Jadi, maukah kamu menjadi pendamping hidupku?”

Anda mungkin juga menyukai