Bab Ii Tinjauan Pustaka
Bab Ii Tinjauan Pustaka
TINJAUAN PUSTAKA
3
4
Paling lama dalam waktu 10 (sepuluh) hari kerja sejak dinayatakan memenuhi
persyaratan CPOB, Kepala Badan mengeluarkan rekomendasi persyaratan CPOB
kepada Direktur Jenderal dengan tembusan kepada Kepala Dinas Kesehatan
Provinsi dan pemohon. Paling lama dalam waktu 10 (sepuluh) hari kerja setelah
menerima rekomendasi serta persyaratan lainnya, Direktur Jenderal menerbitkan
izin industri farmasi. Izin usaha industri farmasi berlaku untuk seterusnya selama
industri farmasi yang bersangkutan masih berproduksi dan memenuhi ketentuan
peraturan perundang-undangan.
II.A.3 Pelaporan
a. Sekali dalam 6 (enam) bulan, meliputi jumlah dan nilai produksi setiap obat
atau bahan obat yang dihasilkan
b. Sekali dalam 1 (satu) tahun, meliputi bentuk sediaan obat, kapasitas produksi,
jumlah yang diproduksi dan nilai produksi setiap bahan obat yang dihasilkan
II.A.5 Sanksi
Cara Pembuatan Obat yang Baik (CPOB) adalah cara pembuatan obat
bertujuan untuk memastikan agar mutu obat yang dihasilkan sesuai dengan
persyaratan dan tujuan penggunaan. Industri dalam seluruh aspek dan kegiatan
rangkaian kegiatan pembuatan obat dan/atau bahan obat wajib menerapkan
CPOB. Pemenuhan persyaratan CPOB dibuktikan dengan sertifikat CPOB.
Sertifikat CPOB berlaku selama 5 (lima) tahun sepanjang memenuhi persyaratan.
a. Peringatan
b. Peringatan keras
c. Penghentian sementara kegiatan
d. Pembekuan Sertifikat CPOB
e. Pencabutan Sertifikat CPOB
f. Rekomendasi pencabutan izin industri farmasi
Industri farmasi harus membuat obat sedemikian rupa agar sesuai dengan
tujuan penggunaannya, memenuhi persyaratan yang tercantum dalam dokumen
izin edar (registrasi) dan tidak menimbulkan risiko yang membahayakan
penggunanya karena tidak aman, mutu rendah atau tidak efektif. Manajemen
bertanggung jawab untuk pencapaian tujuan ini melalui suatu “Kebijakan Mutu”,
yang memerlukan partisipasi dan komitmen jajaran di semua departemen di dalam
perusahaan, para pemasok dan para distributor. Untuk mencapai tujuan mutu
secara konsisten dan dapat diandalkan, diperlukan sistem Pemastian Mutu yang
didesain secara menyeluruh dan diterapkan secara benar serta menginkorporasi
Cara Pembuatan Obat yang Baik termasuk Pengawasan Mutu dan Manajemen
Risiko Mutu. Hal ini hendaklah didokumentasikan dan dimonitor efektivitasnya.
Unsur dasar manajemen mutu adalah suatu infrastruktur atau sistem mutu
yang tepat mencakup struktur organisasi, prosedur, proses dan sumber daya dan
tindakan sistematis yang diperlukan untuk mendapatkan kepastian dengan tingkat
kepercayaan yang tinggi, sehingga produk (atau jasa pelayanan) yang dihasilkan
akan selalu memenuhi persyaratan yang telah ditetapkan. Keseluruhan tindakan
tersebut disebut Pemastian Mutu.
10
j) Pemasok bahan awal dan bahan pengemas dievaluasi dan disetujui untuk
memenuhi spesifikasi mutu yang telah ditentukan oleh perusahaan
k) Penyimpanan dilaporkan, diselidiki dan dicatat
l) Tersedia sistem persetujuan terhadap perubahan yang berdampak pada mutu
produk
m) Prosedur pengolahan ulang produk dievaluasi dan disetujui
n) Evaluasi berkala mutu obat dilakukan untuk verifikasi konsistensi proses dan
memastikan perbaikan proses yang berkesinambungan
Setiap industri farmasi hendaklah mempunyai fungsi Pengawasan Mutu.
Fungsi ini hendaklah independen dari bagian lain. Sumber daya yang memadai
hendaklah tersedia untuk memastikan bahwa semua fungsi Pengawasan Mutu
dapat dilaksanakan secara efektif dan dapat diandalkan. Persyaratan dasar dari
Pengawasan Mutu bahwa:
a) Sarana dan prasarana yang memadai, personil yang terlatih dan prosedur yang
disetujui tersedia untuk pengambilan sampel, pemeriksaan dan pengujian
bahan awal, bahan pengemas, produk antara, produk ruahan dan produk jadi
dan bila perlu untuk pemantauan lingkungan sesuai dengan tujuan CPOB
b) Pengambilan sampel bahan awal, bahan pengemas, produk antara, produk
ruahan dan produk jadi dilakukan oleh personil dengan metode yang disetujui
oleh Pengawasan Mutu
c) Metode pengujian disiapkan dan divalidasi
d) Pencatatan dilakukan secara manual atau dengan alat pencatat selama
pembuatan yang menunjukkan bahwa semua langah yang dipersyaratkan dalam
prosedur pengambilan sampel, inspeksi dan pengujian benar-benar telah
dilaksanakan. Tiap penyimppangan dicatat secara lengkap dan diinvestigasi
e) Produk jadi berisi zat aktif dengan komposisi secara kualitatif dan kuantitatif
sesuai dengan yang disetujui pada saat pendaftaran dengan derajat kemurnian
yang dipersyaratkan serta dikemas dalam wadah yang sesuai dan diberi label
yang benar
f) Dibuat catatan hasil pemeriksaan dan analisis bahan awal, bahan pengemas,
produk antara, produk ruahan dan produk jadi secara formal dinilai dan
dibandingkan terhadap spesifikasi
12
g) Sampel pertinggal bahan awal dan produk jadi disimpan dalam jumlah yang
cukup untuk dilakukan pengujian ulang bila perlu. Sampel produk jadi
disimpan dalam kemasan akhir kecuali untuk kemasan yang benar.
b. Tingkat usaha, formalitas dan dokumentasi dari proses manajemen risiko mutu
sepadan dengan tingkat risiko
II.C.2 Personalia
Sumber daya manusia sangat penting dalam pembentukan dan penerapan
sistem pemastian mutu yang memuaskan dan pembuatan obat yang benar. Oleh
sebab itu industri farmasi bertanggung jawab untuk menyediakan personil yang
terkualifikasi dalam jumlah yang memadai untuk melaksanakan semua tugas. Tiap
personil hendaklah memahami tanggung jawab masing-masing dan dicatat.
Seluruh personil hendaklah memahami prinsip CPOB serta memperoleh pelatihan
awal dan berkesinambungan, termasuk instruksi mengenai hygiene yang berkaitan
dengan pekerjaannya.
Industri farmasi hendaklah memiliki personil yang terkualifikasi dan
berpengalaman praktis dalam jumlah yang memadai. Tiap personil hendaklah
tidak dibebani tanggung jawab yang berlebihan untuk menghindarkan risiko
terhadap mutu obat. Industri farmasi harus memiliki struktur organisasi. Tugas
spesifik dan kewenangan dari personil pada posisi penanggung jawab hendaklah
dicantumkan dalam uraian tugas tertulis. Tugas mereka boleh didelegasikan
kepada wakil yang ditunjuk serta mempunyai tingkat kualifikasi yang memadai.
Hendaklah aspek penerapan CPOB tidak ada yang terlewatkan ataupun tumpang
tindih dalam tanggung jawab yang tercantum pada uraian tugas.
Personil kunci mencakup Kepala Bagian Produksi, Kepala Bagian
Pengawasan Mutu dan Kepala Bagian Manajemen Mutu (Pemastian Mutu). Posisi
utama tersebut dijabat oleh personil purna waktu. Kepala Bagian Produksi dan
Kepala Bagian Manajemen Mutu (Pemastian Mutu) atau Kepala Bagian
Pengawasan Mutu harus independen satu terhadap yang lain.
Struktur organiasi industri farmasi hendaklah sedemikan rupa sehingga
bagian produksi, pengawasan mutu, manajemen mutu (pemastian mutu) dipimpin
oleh orang yang berbeda serta tidak saling bertanggung jawab satu terhadap yang
lain. Masing-masing personil hendaklah diberi wewenang penuh dan sarana yang
memadai yang diperlukan untuk dapat menghambat atau yang dapat menimbulkan
konflik kepentingan pribadi atau finansial. Kepala Bagian produksi hendaklah
seorang Apoteker yang terdaftar dan terkuaifikasi, memperoleh pelatihan yang
15
sesuai, memiliki pengalaman praktis yang memadai dalam bidang pembuatan obat
dan keterampilan manajerial sehingga memungkinkan untuk melaksanakan
tugasnya secara professional. Kepala Bagian produksi hendaklah diberi
kewenangan dan tanggung jawab dalam produksi obat, termasuk:
a) Memastikan bahwa obat diproduksi dan disimpan sesuai prosedur agar
memenuhi persyaratan mutu yang ditetapkan
b) Memberikan persetujuan petunjuk kerja yang terkait dengan produksi dan
memastikan bahwa petunjuk kerja diterapkan secara tepat
c) Memastikan bahwa catatan produksi telah dievaluasi dan ditandatangani oleh
Kepala Bagian Manajemen Mutu (Pemastian Mutu)
d) Memeriksa pemeliharaan bangunan dan fasilitas serta peralatan dibagian
produksi
e) Memastikan bahwa validasi yang sesuai telah dilaksanakan
f) Memastikan bahwa pelatihan awal dan berkesinambungan bagi personil di
departemennya dilaksanakan dan diterapkan sesuai kebutuhan.
Tabel 2.1 Rekomendasi Kekuatan Cahaya Untuk Ruangan atau Daerah Kegiatan
Kekuatan Cahaya (Satuan Lux) Area Kegiatan
100 Ruang Ganti Pakaian, Toilet, Ruang Sarana Penunjang
200 Gudang
Tabel 2.2 Rekomendasi Sistem Tata Udara Untuk Tiap Kelas Kebersihan
Ventilasi
Bagian dari
Kelas Bangunan
Efisiensi Saringan
Kebersiha Sesuai Pertukara
0 Kelembaban Udara Akhir
n Kelompok Suhu ( C) n Udara Keterangan
Nisbi (%) (Sesuai Kode EN
Kegiatan dan per Jam
779 & EN 1822)
Tingkat
Kebersihan
Pengolahan dan
Aliran pengisian
udara satu aseptis
arah dengn Pengisian salep
Dibawah aliran
A 16-25 45-55 H14 (99,995%) kecepatan mata steril
udara laminer
aliran Pengisian
udara 0,36 bubuk steril*
– 0,54 m/dt
Pengisian
suspensi steril
Aliran
Lingkungan
udara
latar belakang
turbulen
zona kelas A
dengan
B Ruang steril 16-25 45-55 H14 (99,995%) untuk
pertukaran
pengolahan dan
udara
pengisian
minimal 20
aseptis
kali
Pembuatan
larutan bila ada
risiko diluar
kebiasaan
Pengisian
produk yang
akan mengalami
sterilisasi akhir
Minimal Pembuatan
C Ruang steril 16-25 45-55 H13 (99,95%)
20 kali larutan yang
akan disaring
kemudian
pengisian secara
aseptis
dilakukan
dikelas A
dengan latar
belakang kelas
B
F8 (75 %) atau 90
% ASHRAE 52/76
Bila menggunakan Pembuatan obat
sistem single pass Minimal
D Bersih 20-27 40-60 steril dengan
(100 % fresh air ) 20 kali
sterilisasi akhir
H13 (99,95%)
20
Bila menggunakan
sistem resirkulasi
ditambah make-up
air (10-20% fresh
air )
F8 (75 %) atau 90
% ASHRAE 52/76
Bila menggunakan
sistem single pass Ruang
(100 % fresh air ) pengolahan da
pengemasan
Umum 20-27 Maks. 70 5-20 primer obat
H13 (99,95%) nonsteril,
pembuatan salep
Bila menggunakan kecuali salep mata
sistem resirkulasi
ditambah make-up
air (10-20% fresh
air )
E
F8 (75 %) atau 90
% ASHRAE 52/76
Bila menggunakan
sistem single pass
(100 % fresh air )
Pengolahan bahan
Khusus 20-27 Maks. 40 5-20
higroskopis
H13 (99,95%)
Bila menggunakan
sistem resirkulasi
ditambah make-up
air (10-20% fresh
air )
Pengemasan
20-28 TD TD TD
sekunder**
F Suhu
Ruang masuk
kamar*** TP TP TD
karyawan
*
Daerah
penerimaan
bahan awal, Suhu
TP TP TD
gudang bahan kamar
awal dan obat
jadi
G
Ruang ganti Suhu
TP TP TD
pakaian luar kamar
Suhu
Kantin TP TP TD
kamar
Suhu
Kamar mandi TP TP TD
kamar
Suhu
Toilet TP TP TD
kamar
Laboratorium 20-28 TD TD TD
Gudang:
< 30 TD TD TD
R. Suhu kamar
< 25 TD TD TD
R. ber-AC
2-8 TD TP TD
R. Dingin
<0 TD TP TD
R. Beku
Keterangan:
* untuk produk tertentu, kelembaban ruangan dapat memengaruhi material
flow pada waktu pengisian bubuk steril sehingga memerlukan
kelembapan nisbi < 40%
** untuk lingkungan kerja pengemasan sekunder disarankan untuk tidak
berhubungan langsung dengan lingkungan luar
*** lihat kode Filter dalam Sistem Tata Udara
**** suhu kamar < 300
TP = Tidak Perlu
TD = Tidak Diklasifikasikan
Penimbangan bahan awal dan perkiraan hasil nyata produk dengan cara
penimbangan hendaklah dilakukan di area penimbangan terpisah yang didesain
khusus untuk kegiatan tersebut. Area ini dapat menjadi bagian dari area
penyimpanan atau area produksi.
Untuk memperkecil risiko bahaya medis yang serius akibat terjadi
pencemaran silang, suatu sarana khusus dan self-contained harus disediakan
untuk produksi obat tertentu seperti produk yang dapat menimbulkan sensitisasi
tinggi (misal golongan penisilin) atau preparat biologis (misal mikroorganisme
hidup). Produk lain seperti antibiotika tertentu, hormon tertentu (misal hormone
22
A 3.520 20 3.520 20
Catatan:
Kelas A, B, C dan D adalah kelas kebersihan ruang untuk pembuatan produk
steril.
Kelas E adalah kelas kebersihan ruang untuk pembuatan produk non steril.
Area penyimpanan hendaklah memiliki kapasitas yang memadai untuk
menyimpan dengan rapi dan teratur berbagai macam bahan dan produk seperti
bahan awal dan bahan pengemas, produk antara, produk ruahan dan produk jadi,
produk dalam status karantina, produk yang telah diluluskan, produk yang ditolak,
produk yang dikembalikan atau produk yang ditarik dari peredaran.
diawasi oleh personil yang kompeten. Penanganan bahan dan produk jadi, seperti
penerimaan dan karantina, pengambilan sampel, penyimpanan, penandaan,
penimbangan, pengolahan, pengemasan dan distribusi hendaklah dilakukan sesuai
dengan prosedur atau instruksi tertulis dan bila perlu dicatat. Seluruh bahan yang
diterima hendaklah diperiksa untuk memastikan kesesuaiannya dengan pesanan.
Wadah hendaklah dibersihkan dimana perlu dan diberi penandaan dengan data
yang diperlukan.
Pembelian bahan awal adalah suatu aktifitas penting dan oleh karena itu
hendaklah melibatkan personil yang mempunyai pengetahuan khusus dan
menyeluruh perihal pemasok. Pembelian awal hendaklah hanya dari pemasok
yang telah disetujui dan memenuhi spesifikasi yang relevan dan bila
memungkinkan, langsung dari produsen. Dianjurkan agar spesifikasi yang dibuat
oleh pabrik pembuat untuk bahan awal dibicarakan dengan pemasok. Sangat
menguntungkan bila semua aspek produksi dan pengawasan bahan awal tersebut,
termasuk persyaratan penanganan, pemberian label dan pengemasan juga prosedur
penanganan keluhan dan penolakan, dibicarakan dengan pabrik pembuat dan
pemasok.
Pencemaran bahan awal atau produk oleh bahan atau produk lain harus
dihindarkan. Risiko pencemaran silang ini dapat timbul akibat tidak terkendalinya
debu, gas, uap, percikan atau organisme dari bahan atau produk yang sedang
diproses, dari sisa yang tertinggal pada alat dan pakaian kerja operator. Tingkat
risiko pencemaran ini tergantung dari jenis pencemar dan produk yang tercemar.
Di antara pencemar yang paling berbahaya adalah bahan yang dapat menimbulkan
sensitisasi kuat, preparat biologis yang mengandung mikroba hidup, hormon
26
tertentu, bahan sitotoksik dan bahan lain berpotensi tinggi. Produk yang paling
terpengaruh oleh pencemaran adalah sediaan parenteral, sediaan yang diberikan
dalam dosis besar dan/atau sediaan yang diberikan dalam jangka waktu yang
panjang.
Hendaklah tersedia sistem yang menjelaskan secara rinci penomoran bets/lot
dengan tujuan untuk memastikan bahwa tiap bets/lot produk antara, produk
ruahan atau produk jadi dapat diidentifikasi. Sistem penomoran bets/lot yang
digunakan pada tahap pengolahan dan tahap pengemasan hendaklah saling
berkaitan. Karantina produk jadi merupakan tahap akhir pengendalian sebelum
penyerahan ke gudang dan siap untuk didistribusikan. Sebelum diluluskan untuk
diserahkan ke gudang, pengawasan yang ketat hendaklah dilaksanakan untuk
memastikan produk dan catatan pengemasan bets memenuhi semua spesifikasi
yang ditentukan.
Pemisahan secara fisik atau cara lain yang tervalidasi (misalnya cara
elektronis) hendaklah disediakan untuk penyimpanan bahan atau produk yang
ditolak, daluwarsa, ditarik dari peredaran atau obat atau bahan kembalian. Bahan
atau produk, dan area penyimpanan tersebut hendaklah diberi identitas yang tepat.
Produk antara dan produk ruahan hendaklah disimpan pada kondisi yang tepat.
membawahi satu atau beberapa laboratorium. Sarana yang memadai harus tersedia
untuk memastikan bahwa segala kegiatan Pengawasan Mutu dilaksanakan dengan
efektif dan dapat diandalkan.
II.C.8 Inspeksi Diri, Audit Mutu dan Audit & Persetujuan Pemasok
Tujuan inspeksi diri adalah untuk mengevaluasi apakah semua aspek
produksi dan pengawasan mutu industri farmasi memenuhi ketentuan CPOB.
Program inspeksi diri hendaklah dirancang untuk mendeteksi kelemahan dalam
pelaksanaan CPOB dan untuk menetapkan tindakan perbaikan yang diperlukan.
Inspeksi diri hendaklah dilakukan secara independen dan rinci oleh petugas yang
kompeten dari perusahaan yang dapat mengevaluasi penerapan CPOB secara
obyektif. Inspeksi diri hendaklah dilakukan secara rutin dan di samping itu pada
situasi khusus, misalnya dalam hal terjadi penarikan kembali obat jadi atau terjadi
penolakan yang berulang. Semua saran untuk tindakan perbaikan supaya
dilaksanakan. Prosedur dan catatan inspeksi diri hendaklah didokumentasikan dan
dibuat program tindak lanjut yang efektif.
Inspeksi diri hendaklah dilakukan secara indipenden dan rinci oleh personil
(personil) perusahaan yang kompeten. Manajemen hendaklah membentuk tim
inspeksi diri yang berpengalaman dalam bidangnya masing-masing dan
memahami CPOB. Audit independen oleh pihak ketiga juga dapat bermanfaat.
Inspeksi diri dapat dilaksanakan per bagian sesuai dengan kebutuhan perusahaan,
namun inspeksi diri yang menyeluruh hendaklah dilaksanakan minimal 1 (satu)
kali dalam setahun. Frekuensi inspeksi diri hendaklah tertulis dalam prosedur
inspeksi diri.
dapat diandalkan memasok bahan awal dan bahan pengemas yang memenuhi
spesifikasi yang telah ditentukan. Hendaklah dibuat daftar pemasok yang disetujui
untuk bahan awal dan bahan pengemas. Daftar pemasok hendaklah disiapkan dan
ditinjau ulang.
Isi dokumen hendaklah tidak bermakna ganda, judul, sifat dan tujuannya
hendaklah dinyatakan dengan jelas. Penampilan dokumen hendaklah dibuat rapi
dan mudah dicek. Dokumen hasil reproduksi hendaklah jelas dan terbaca.
30
Kualifikasi
Kualifikasi dibagi menjadi 4, yaitu:
1. Kualifikasi Desain (KD)
Kualifikasi Desain (KD) adalah unsur pertama dalam melakukan validasi
terhadap fasilitas, sistem atau peralatan baru.
2. Kualifikasi Instalasi (KI)
KI hendaklah mencakup, tapi tidak terbatas pada hal berikut:
a) Instalasi peralatan, pipa dan sarana penunjang dan instrumentasi
hendaklah sesuai dengan spesifikasi dan gambar teknik yang didesain
b) Pengumpulan dan penyusunan dokumen pengoperasian dan perawatan
peralatan dari pemasok
c) Ketentuan dan persyaratan kalibrasi
d) Verifikasi bahan konstruksi
3. Kualifikasi Operasional (KO)
KO hendaklah mencakup, tapi tidak terbatas pada hal berikut:
a) Pengujian yang perlu dilakukan berdasarkan pengetahuan tentang proses,
sistem dan peralatan
b) Pengujian yang meliputi satu atau beberapa kondisi yang mencakup batas
operasional atas dan bawah, sering dikenal sebagai kondisi terburuk (worst
case)
32
Validasi
Validasi dibagi menjadi 7, yaitu:
1. Validasi Proses
Hendaklah tersedia bukti untuk mendukung dan memverifikasi parameter
operasional dan batas variabel kritis pengoperasian alat. Selain itu, kalibrasi,
prosedur pengoperasian, pembersihan, perawatan preventif serta prosedur dan
catatan pelatihan operator hendaklah didokumentasikan. Pada umumnya validasi
proses dilakukan sebelum produk dipasarkan (validasi prospektif). Dalam keadaan
tertentu, jika hal di atas tidak memungkinkan, validasi dapat juga dilakukan
selama proses produksi rutin dilakukan (validasi konkuren). Proses yang sudah
berjalan hendaklah juga divalidasi (validasi retrospektif).
2. Validasi Prospektif
Validasi prospektif hendaklah mencakup, tapi tidak terbatas pada hal
berikut:
a. Uraian singkat suatu proses
b. Ringkasan tahap kritis proses pembuatan yang harus diinvestigasi
c. Daftar peralatan/fasilitas yang digunakan termasuk alat ukur, pemantau dan
pencatat serta status kalibrasinya
33
3. Validasi Konkuren
Dalam kondisi khusus, dimungkinkan tidak menyelesaikan program validasi
sebelum produksi rutin dilaksanakan. Keputusan untuk melakukan validasi
konkuren harus dijustifikasi, didokumentasikan dan disetujui oleh Kepala Bagian
Manajemen Mutu (Pemastian Mutu). Persyaratan dokumentasi untuk validasi
konkuren sama seperti validasi prospektif.
4. Validasi Retrospektif
5. Validasi Pembersihan
Validasi pembersihan hendaklah dilakukan untuk konfirmasi efektivitas
prosedur pembersihan. Penentuan batas kandungan residu suatu produk, bahan
pembersih dan pencemaran mikroba, secara rasional hendaklah didasarkan pada
bahan yang terkait dengan proses pembersihan. Batas tersebut hendaklah dapat
dicapai dan diverifikasi.
Biasanya validasi prosedur pembersihan dilakukan hanya untuk permukaan
alat yang bersentuhan langsung dengan produk. Hendaklah dipertimbangkan juga
untuk bagian alat yang tidak bersentuhan langsung dengan produk. Interval waktu
antara penggunaan alat dan pembersihan hendaklah divalidasi demikian juga
antara pembersihan dan penggunaan kembali. Hendaklah ditentukan metode dan
interval pembersihan.
6. Validasi Metode Analisis
Validasi metode analisis umumnya dilakukan terhadap 4 jenis:
a. Uji identifikasi bertujuan untuk memastikan identitas analit dalam sampel. Uji
ini biasanya dilakukan dengan membandingkan karakteristik sampel (misal:
spektrum, profil kromatogram, reaksi kimia, dan lain-lain) terhadap baku
pembanding
b. Pengujian impuritas dapat dilakukan melalui uji kuantitatif atau uji batas
impuritas dalam sampel. Masing-masing pengujian tersebut bertujuan
merefleksikan secara tepat karakteristik kemurnian sampel. Karakteristik
validasi yang lain diperlukan untuk uji kuantitatif dibanding untuk uji batas
impuritas
c. Prosedur penetapan kadar bertujuan untuk menentukan kadar analit dalam
sampel. Dalam hal ini penetapan kadar menunjukkan pengukuran komponen
utama yang terkandung dalam bahan aktif obat. Untuk obat, karakteristik
validasi yang serupa juga berlaku untuk penetapan kadar zat aktif atau
komponen tertentu. Karakteristik validasi yang sama juga dapat dilakukan
untuk penetapan kadar yang berkaitan dengan metode analisis lain (misal uji
disolusi).
35
Tujuan prosedur analisis hendaklah jelas dan dimengerti karena hal ini akan
menentukan karakteristik validasi yang perlu dievaluasi. Karakteristik validasi
yang umumnya perlu diperhatikan adalah sebagai berikut:
Akurasi
Presisi
Ripitabilitas
Intermediate precision
Spesivitas
Batas deteksi
Batas kuantitasi
Linearitas
Rentang
7. Validasi Ulang
Fasilitas, sistem, peralatan dan proses termasuk proses pembersihan serta
metode analisis hendaklah dievaluasi secara berkala untuk konfirmasi
keabsahannya. Jika tidak ada perubahan yang signifikan terhadap status validasi,
peninjauan dengan bukti bahwa fasilitas, sistem, peralatan, proses dan metode
analisis memenuhi persyaratan yang ditetapkan akan kebutuhan revalidasi.
Validasi ulang mungkin diperlukan pada kondisi sebagai berikut:
Apoteker yang bertugas akan diberikan Surat Izin Kerja (SIK) yang
diberikan oleh Menteri Kesehatan, sehingga dapat digunakan dalam industri
tempat apoteker bekerja. Peran Apoteker dalam industri farmasi yaitu:
1. Decision Maker
Seorang Apoteker merupakan seorang yang mampu menetapkan atau
menentukan keputusan terkait pekerjaan kefarmasian, misalnya memutuskan
dispensing, pergantian jenis sediaan, penyesuaian dosis, pergantian dosis obat jika
obat ditemukan bahaya yang signifikan, serta keputusan-keputusan lainnya yang
bertujuan agar pengobatan lebih aman, efektif dan rasional.
2. Communicator
Seorang Apoteker harus mampu menjadi komunikator yang baik, sehingga
pelayanan kefarmasian dan interaksi kepada pasien, masyarakat dan tenaga
kesehatan berjalan dengan baik, misalnya menjadi komunikator yang baik dalam
PIO (Pelayanan Informasi Obat), penyuluhan, konseling dan konsultasi obat
kepada pasien, melakukan visite ke bangsal atau ruang perawatan pasien,
pengajar, narasumber dan sebagainya.
3. Manager
Seorang Apoteker merupakan seorang manajer dalam aspek kefarmasian
non klinis, kemampuan ini harus ditunjang kemampuan manajemen yang baik,
contohnya sebagai Apoteker Pengelola Apotek (APA) di Apotek, Kepala Instalasi
Farmasi Rumah Sakit harus mampu mengelola perbekalan farmasi dan mengelola
karyawan agar dapat melayani dengan optimal dan produktif dalam hal kinerja
dan profit. Contoh lainnya adalah Apoteker sebagai Manager Quality Control
(QC), Manager Quality Assurance (QA) dan Manager Produksi.
4. Leader
Seorang Apoteker harus mampu menjadi seorang pemimpin, mempunyai
visi dan misi yang jelas dan dapat mengambil kebijaksanaan yang tepat untuk
memajukan institusi atau perusahaan yang dipimpin, misalnya Rektor, Dekan,
Direktur Rumah Sakit, Direktur Utama di Industri Farmasi, Direktur Marketing,
Direktur bagian Produksi dan sebagainya.
37