0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
68 tayangan18 halaman

Kewajiban dan Keharusan Pembayaran

Dokumen tersebut membahas tentang pengertian, karakteristik, dan perlakuan akuntansi atas kewajiban menurut standar akuntansi keuangan. Kewajiban didefinisikan sebagai pengorbanan manfaat ekonomis masa depan yang timbul dari kewajiban sekarang untuk mentransfer aset atau jasa kepada pihak lain sebagai akibat transaksi masa lalu. Kewajiban harus diakui, diukur, dan dinilai sesuai dengan prins

Diunggah oleh

Arhy Supitri
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
68 tayangan18 halaman

Kewajiban dan Keharusan Pembayaran

Dokumen tersebut membahas tentang pengertian, karakteristik, dan perlakuan akuntansi atas kewajiban menurut standar akuntansi keuangan. Kewajiban didefinisikan sebagai pengorbanan manfaat ekonomis masa depan yang timbul dari kewajiban sekarang untuk mentransfer aset atau jasa kepada pihak lain sebagai akibat transaksi masa lalu. Kewajiban harus diakui, diukur, dan dinilai sesuai dengan prins

Diunggah oleh

Arhy Supitri
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

BAB 7

KEWAJIBAN

OLEH:

KELOMPOK 8
1. NI PUTU ASTRI PRADNYASWARI (1633121179)

2. NI KOMANG RATIH PERTIWI (1633121197)

3. NI NYOMAN ARI SUPITRI (1633121199)

4. NI LUH AYU RIKA MARGARENI (1633121203)

5. NI LUH KUMALA DEWI (1633121206)

6. NI KADEK DWI LESTARI (1633121227)

FAKULTAS EKONOMI

UNIVERSITAS WARMADEWA

2019
BAB 7
KEWAJIBAN

Pengertian

Menurut FASB : Kewajiban adalah pengorbanan manfaat ekonomik masa datang yang cukup
pasti yang timbul dari keharusan sekarang suatu kesatuan usaha untuk mentransferk aset atau
menyediakan / menyerahkan jasa kepada kesatuan lain dimasa datang sebagai akibat transaksi
atau kejadian masa lalu.

Definisi FASB digunakan sebagai basis pembahasan karena definisi tersebut cukup lengkap
secara semantic. Artinya definisi tersebut telah mencakupi berbagai gagasan atau kata kunci
yang terkandung dalam beberapa definisi kewajiban oleh sumber – sumber lain.

Secara umum dapat dikatakan bahwa kewajiban mempunyai tiga karakteristik utama yaitu :

1. Pengorbanan Manfaat Ekonomik


Untuk dapat disebut sebagai kewajiban, suatu objek harus memuat suatu tugas (duty) atau
tanggung jawab (responbility) kepada pihak lain yang mengharuskan kesatuan usaha untuk
melunasi, menunaikan atau melaksanakannya dengan cara mengorbankan manfaat
ekonomik yang cukup pasti di masa datang. Pengorbanan manfaat ekonomik diwujudkan
dalam bentuk transfer atau penggunaan asset kesatuan usaha. Cukup pasti dimasa datang
mengandung makna bahwa jumlah rupiah pengorbanan dapat ditentukan dengan layak.
Secara umum,keharusan mengorbankan sumber ekonomik masa datang tidak dapat
menjadi kewajiban kalau keharusan tersebut bersifat terbuka atau tidak pasti. Kewajiban
ekonomik harus dikaitkan dengan pihak lain berarti bahwa kewajiban hanya dapat terjadi
antar kesatuan usaha yang lain.
2. Keharusan Sekarang
Untuk dapat disebut sebagai kewajiban, suatu pengorbanan ekonomik masa datang harus
timbul akibat keharusan sekarang. Pengertian “sekarang” dalam hal ini mengacu pada dua
hal : waktu dan adanya. Waktu yang dimaksud adalah tanggal pelaporan (neraca). Artinya
: pada tanggal neraca kalau perlu atau kalau dipaksakan secara yuridis, etis, atau rasional
pengorbanan sumber ekonomik harus dipenuhi karena keharusan itu telah ada.
Keharusan kewajiban mencakupi keharusan kontraktual, keharusan konstruktif atau
bentukan, keharusan demi keadilan dan keharusan bergantung atau bersyarat.
a. Keharusan Kontraktual
Keharusan yang timbul akibat perjanjian atau peraturan hukum yang di dalam nya
kewajiban bagi suatu kesatuan udaha di nyatakan secara eksplit atau implicit dan mengikat.
Contoh : utang pajak, utang bunga, utang usaha, utang wesel, dan utang obligasi
b. Keharusan Konstruktif
Keharusan yang timbul akibat kebijakan kesatuan usaha dalam rangka menjalankan dan
memajukan usahanya untuk memenuhi apa yang disebut praktik usaha yang baik atau etika
bisnis dan bukan untuk memenuhi kewajiban yuridis. Contoh : servis gratis sepeda motor
yang dijanjikan oleh dealer sepeda motor, pengembalian uang untuk barang yang ternyata
cacat atau rusak, dan tunjangan hari raya
c. Keharusan Demi Keadilan
Keharusan yang ada sekarang yang menimbulkan kewajiban bagi perusahaan semata –
mata karena panggilan etis atau moral daripada karena peraturan hukum atau praktik bisnis
yang sehat. Contoh : kewajiban memberikan donasi untuk badan amal tiap akhir tahun dan
kewajiban member hadiah kepada penduduk yang tinggal di sekitar pabrik karena
ketidaknyamanan yang ditimbulkannya.
d. Keharusan Bergantung atau bersyarat
Keharusan yang pemenuhannya tidak pasti karena bergantung pada kejadian masa datang
atau terpenuhinya syarat – syarat tertentu dimana datang.
3. Akibat Transaksi atau Kejadian Masa Lalu
Sama seperti definisi aset, criteria ini sebenarnya menyempurkan criteria keharusan
sekarang dan sekaligus sebagai tes pertama pengakuan suatu pos sebagai kewajiban tetapi
tidak cukup untuk mengakui secara resmi dalam system pembukuan. Untuk mengakui
sebagai kewajiban, selain definisi, criteria yang lain seoerti keterukuran, keberpautan, dan
keterandalan juga harus dipenuhi. Transaksi atau kejadian masa lalu adalah criteria untuk
memenuhi definisi tetapi bukan criteria untuk pengakuan. Jadi, adanya pengorbanan
manfaat ekonomik masa datang tidak cukup untuk mengakui suatu objek ke dalam
kewajiban kesatuan usaha untuk dilaporkan via statemen keuangan.

Hak – Kewajiban Tak Bersyarat


Konsep ini menyatakan bahwa walaupun kontrak telah ditandatangani, salah satu pihak tidak
mempunyai kewajiban apapun sebelum pihak lain memenuhi apa yang menjadi hak pihak
lain. Suatu pihak tidak mempunyai kewajiban kalau tia tidak mendapatkan hak atas sesuatu
yang nyata dari pihak lain (misalnya penguasaan aset). Jadi, konsep hak-kewajiban tak
bersyarat menyatakan “tidak ada hak tanpa kewajiban dan sebaliknya tidak kewajiban tanpa
hak”. Secara tekhnis, konsep ini diartikan bahwa hak atau kewajiban timbul bila salah satu
pihak telah berbuat sesuatu (to perform). Kontrak- kontrak semacam ini dikenal dengan nama
saling- mengimbangi tak bersyarat atau kontrak eksekutori.

Tranksaksi atau kejadian yang dapat dijadikan dasar untuk menandai pengakuan hak dan
kewajiban dalam suatu kontrak menurut Most (1982, hlm. 352)

1. Tanggal kontrak ditandatangani


2. Tanggal objek kontrak telah diperoleh salah satu pihak
3. Tanggal objek kontrak telah siap digunakan oleh salah satu pihak
4. Tanggal objek kontrak telah dipisahkan untuk digunakan oleh pihak lain.
5. Tanggal objek kontrak telah diserahkan
6. Tanggal telah diterima/dibayarnya uang muka, kalau ada.
7. Dalam kasus kontrak kontruksi jangka panjang:
a. Suatu titik selama konstruksi berjalan
b. Pada saat konstruksi dimulai

Saat penentuan transaksi masa lampau perlu dipertimbangkan dengan seksama memperhatikan
kondisi yang melingkupi suatu kontraj. Most mengemukakan hal yang harus dipertimbangkan
untuk memilih saat yang tepat :

a. Pemenuhan definisi aset dan kewajiban


b. Kekuatan mengikat yaitu seberapa kuat bahwa pelaksanaan kontrak tidak dapat
dibatalkan
c. Kebermanfaatan bagi keputusan

Karakteristik Pendukung
FASB menyebutkan beberapa karakteristik pendukung yaitu :

1. Keharusan membayar kas


Pelunasan kewajiban pada umumnya dilakukan dengan pembayaran kas. Esensi kewajiban
lebih terletak pada pengorbanan manfaat ekonomik masa datang daripada terjadinya
pengeluaran kas. Adanya pengeluaran kas merupakan hal penting untuk mengaplikasikan
definisi kewajiban karena dua hal :
a. Sebagai bukti adanya suatu kewajiban
b. Sebagai pengukur atribut atau besarnya kewajiban yang cukup objektif
2. Identitas terbayar jelas
Bila identitas terbayar sudah jelas, hal tersebut hanya menguatkan bahwa kewajiban
memang ada tetapi untuk menjadi kewajiban identitas terbayar tidak harus dapat
ditentukan pada saat keharusan terjadi. Jadi, yang penting adalah bahwa keharusan
sekarang pengorbanan sumber ekonomik dimasa datang telah ada dan bukan siapa yang
harus dilunasi atau dibayar. Akan tetapi, pada saat pelunasan kewajiban, terbayar dengan
sendirinya harus teridentifikasi.
3. Berkekuatan hukum
Keharusan melakukan pengorbanan manfaat ekonomik masa deatang tidak harus timbul
dari desakan pihak eksternal tetapi dari minat atau kebijakan internal manajemen. Itulah
sebabnya kewajiban mencakupi pengorbanan sumber ekonomik masa depan yang timbul
akibat keharusan konstruktif dan demi keadilan. Main pihak lain seperti utang usaha tidak
harus di dukung oleh dokumen yang berkekuatan hukum atau mempunyai daya paksa
secara hukum untuk memenuhi definisi kewajiban. Akan tetapi, demi keadilam dan
kewajaran, perusahaan harus membayar utang usaha tersebut. Pendapatan sewa tak terhak,
laba kotor tangguhan, dan beberapa pos lain yang timbuk dalam penyesuaian akhir tahun
memenuhi criteria sebagai kewajiban meskipun tidak dilandasi oleh daya paksa secara
hukum dan bahkan bukan merupakan keharusan pengorbanan sumber ekonomik. Itulah
sebabnya, definisi kewajiban APB memasukkan beberapa pos kredit tangguhan yang non
keharusan sebagai kewajiban. Laba kotor tangguhan adalah contoh kredit tangguhan yang
bukan keharusan. Pos kredit tangguhan yang merupakan keharusan misalnya adalah kredit
pajak tangguhan.

Pengakuan, Pengukuran, dan Penilaian


Sebagai bayangan cermin aset, kewajiban juga harus diukur dan diakui pada saat terjadinya.
Kalau aset diukur atas dasar penghargaan sepakatan (kos), demikian juga kewajiban. Jadi, kos
sebagai pengukur tidak hanya diterapkan untuk aset pada saat pemerolehan tetapi juga untuk
kewajiban pada saat terjadinya. Sebagai ketentuan umum, pengukuran kewajiban harus sejalan
dengan pengukuran aset yang berkaitan.

Kalau aset yang direprentasi oleh kos mengalami tiga tahap perlakuan (pemerolehan,
pengolahan, dan penyerahan), kewajiban sebenarnya juga mengalami tiga tahap perlakuan
yaitu: penanggungan (pengakuan terjadinya), penelusuran, dan pelunasan (penyelesaian).
Dalam hal kewajiban, penelusuran berarti penentuan status dan jumlah rupiah (kos) kewajiban
pada setiap saat. Penentuan kos setiap saat (termasuk pada tanggal neraca) dapat disebut
dengan penilaian kewajiban.

Pengakuan

Pada prinsipnya, kewajiban diakui pada saat keharusan telah mengikat akibat transaksi yang
sebelumnya telah terjadi. Mengikatnya suatu keharusan harus dievaluasi atas dasar kaidah
pengakuan (recognition rules). kriteria pengakuan lebih berkaitan dengan pedoman umum
dalam rangka memenuhi karakteristik kualitatif informasi sehingga elemen statemen keuangan
hanya dapat diakui bila kriteria definisi, keberpautan, keterandalan, dan keterukuran dipenuhi.
Kriteria umum ini tidak operasional sehingga diperlukan kaidah pengakuan sebagai penjabaran
teknis kriteria pengakuan umum. Dalam hal kewajiban, kaidah pengakuan berkaitan dengan
saat atau apa yang menandai bahwa kewajiban dapan diakui (dibukukan). Empat kaidah
pengakuan untuk menandai pengakuan kewajiban yaitu:

1. Ketersediaan dasar hukum


Ketersediaan dasar hukum yang menimbulkan daya paksa hanya merupakan karakteristik
pendukung definisi kewajiban. Jadi, kaidah ini tidak mutlak sehingga kewajiban juga dapat
diakui bila terdapat bukti substantive adanya keharusan konstruktif atau demi keadilan.

2. Keterterapan konsep dasar


Kaidah ini merupakan penjabaran teknis kriteria keterandalan. Keadaan-keadaan tertentu
yang menjadikan konsep konservatisma terterapkan dapat memicu pengakuan kewajiban.
Implikasi dianutnya konsep konservatisma adalah rugi dapat segera diakui tetapi tidak
demikian dengan untung. Ini berarti kewajiban dapat diakui segera sedangkan aset tidak.
3. Ketertentuan substansi ekonomik transaksi
Kaidah ini berkaitan dengan masalah relevansi informasi. Utang sewaguna (lease
obligations) dapat diakui pada saat transaksi meskipun tidak ada transfer hak milik dalam
transaksi sewaguna tersebut. Dalam hal ini, kewajiban dapat atau bahkan harus diakui
kalau secara substantif sewaguna tersebut sebenarnya adalah pembelian angsuran (yaitu
memenuhi salah satu kriteria kapitalisasi).
4. Keterukuran nilai kewajiban
Keterukuran merupakan salah satu syarat untuk mencapai kualitas keterandalan informasi.
Definisi kewajiban mengandung kata cukup pasti (probable) yang mengacu tidak hanya
pada terjadinya pengorbanan sumber ekonomik masa datang tetapi juga pada jumlah
rupiahnya.

Yang menjadi masalah tekhnis adalah kapan keempat kaidah diatas dipenuhi. Hendriksen dan
van Breda menunjukkan saat- saat untuk mengakui kewajiban yaitu :

1. Pada saat penandatanganan kontrak bila pada saat itu hak dan kewajiban telah mengikat.
2. Bersamaan dengan pengakuan biaya bila barang dan jasa yang menjadi biaya belum
dicatat sebagai asset sebelumnya
3. Bersamaan dengan pengakuan asset.
4. Pada akhir perioda karena penggunaan asa actual melalui proses penyesuaian.

Pengakuan Kewajiban Bergantung

FASB memberi contoh keadaan- keadaan kebergantungan rugi (loss contingencies) yang
berpotensi memicu pengakuan kewajiban sebagai berikut (SFAS No.5, prg.4):

a. Ketertagihan piutang usaha


b. Keharusan berkaitan dengan jaminan produk dan kerusakan produk
c. Risiko rugi atau kerusakan properitas (fasilitas) kesatuan usaha akibat kebakaran,
ledakan, dan bahaya lainnya.
d. Ancaman pengambilalihan asset oleh pemerintah.
e. Persengketaan yang memberatkan atau menunggu keputusan
f. Klaim atau pungutan yang telah diajukan/dikenakan atau yang mungkin terjadi.
g. Risiko rugi akibat bencana yang ditanggung oleh perusahaan asuransu kerugian dan
kecelakaan dan perusahaan reasuransi.
h. Jaminan atas utang pihak lain.
i. Perjanjian untuk membeli kembali piutang atau asset yang terkait yang telah dijual.
j. Keharusan bank komersial dalam ikatan standby letters of credit
k. Perjanjian untuk membeli kembali piutang atau asset yang terkait yang telah dijual.

FSAB menetapkan bahwa rugi taksiran yang dapat terjadi kebergantungan rugi harus diakru
(to be accrued) dengan membebankannya ke pendapatan (sebagai biaya atau rugi) bila kedua
kondisi berikut dipenuhi:

a. Informasi yang tersedia sebelum penerbitan statemen keuangan menunjukkan bahwa suatu
aset cukup pasti telah turun nilainnya (impaired) atau suatu kewajiban cukup pasti telah
terjadi pada tanggal statemen keuangan. Pada tanggal statemen keuangan harus sudah
dapat disimpulkan bahwa kewajiban atau beberapa kejadian, yang menegaskan adanya
rugi, cukup pasti (probable) akan terjadi.
b. Jumlah rupiah rugi dapat diestimasi dengan cukup tepat (reasonably estimated).
Bila kondisi diatas tidak dipenuhi, jumlah rupiah rugi potensial harus tetap diungkapkan
dengan menjelaskan sfat dan implikasi kebergantungan tersebut. Ketentuan tentang dpat
diakrunya rugi potensial sebelum kejadian yang menegaskan terjadi dilandasi oleh
interpretasi tentang makna kewajiban dan asset serta konsep dasar penandingan (matching)
dan konservatisma.

Pengukuran

Pengukuran yang paling objektif untuk menentukan kos kewajiban pada saa terjadinya adalah
penghargaan sepakatan dalam transaksi- transaksi tersebut dan bukan jumlah rupiah
pengorbanan ekonomik masa datang. Hal ini berlaku khususnya untuk kewajiban jangka
[Link] kewajiban jangka pendek, kos penundaan dianggap tidak cukup material
sehingga jumlah rupiah kewajiban yang diakui akan sama dengan jumlah rupiah pengorbanan
sumber ekonomik (kas) msa datang. Dengan kata lain, untuk kewajiban jangka pendek, kos
pendanaan atau kos penundaan dianggap tidak material. Penghargaan sepakatan suatu
kewajiban merefleksi nilai setara tunai atau nilai sekarang kewajiban yaitu jumlah rupiah
pengorbanan sumber ekonomik seandainya kewajiban dilunasi pada saat terjadinya.

Kewajiban Dalam Pembelian Kredit

Dasar pengukuran asset yang paling objektif adalah kos tunai atau kos tunai implisit. Karena
kewajiban merupakan bayangan cermin asset, pengukuran juga mengikuti pengukura
[Link] umumnya,atas dasar kepraktisan,perusahaan tidak berusaha untuk menentukan kos
tunaiimplisit baik dengan cara menanyakan langsung ketoko penjual barang ataupun dengan
cara mendiskusikan nilai kontrak dengan tarif bunga yang berlaku.

Diskon dan Premium Utang Obligasi

Nilai nominal atau jatuh tempo utang obligasi sering dianggap sebagai jumlah rupiah
kesepakatan pada saat penerbitan obligasi baik bagi penerbit maupun kreditor. Dasar
pengukuran demikian sebenarnya tidak tepat. Untuk suatu kontrak utang dengan ketentuan
pembayaran bunga periodik dan pokok pinjaman pada akhir jangka kontrak, pengukuran
jumlah rupiah (kos) utang dan aset untuk dasar pencatatan pertama kali yang tepat adalah
kos tunai implisit. Dalam hal obligasi jangka panjang,jumlah rupiah uang yang diterima oleh
penerbit dan yang dibayarkan oleh kreditor pada saat penerbitan hanyalah merupakan bagian
kecil dari jumlah rupiah total yang terlibat dalam kontrak [Link] rupiah total ini
adalah sseluruh jumlah rupiah pembayaran-pembayaran masa datang.

Makna Harga Efektif Obligasi

Segera setelah transaksi terjadi maka “kesepakatan” dalam hubungannya dengan obligasi
tersebut mulai menunjukkan makna yang sebenarnya. Dengan telah mulai berjalannya
kesepakatan dalam transaksi obligasi diatas, bunga Rp. 100.000 tiap tahun mulai terhimpun
dan dibayar secara periodik sampai jauh tempo. Bersamaan dengan itu, jumlah rupiah utang
obligasi yang mula-mula tercatat akan berangsur-angsur berubah (bertambah) menuju jumlah
rupiah nilai jatuh tempo atau nominal.

Diskon Obligasi

Diskon obligasi yang belum diamortisasi bukan merupakan suatu rugi karena asset yang
diperoleh sebelumnya tidak ada yang berkurang atau menguap (dissipation). Diskon obligasi
sebenarnya merupakan bunga yang “belum dibayar”, yaitu bagian bunga efektif total yang baru
akan dibayar pada saat utang obligasi jatuh tempo.
Premium Obligasi

Sejalan dengan penalaran makna diskon obligasi yang dilandasi konsep dasar penghargaan
sepakatan, dapat disimpulkan bahwa premium yang dibayarkan investor untuk obligasi
merupakan unsure dari jumlah rupiah utang perusahaan. Bersamaan denga berjalannya waktu
mendekati jatuh tempo, jumlah rupiah bagian utang yang merupakan premium harus
diamortisasi secara sistematik dengan cara memisahkan dari penghargaan sepakatan bagian
yang diperhitungkan sebagai pembayaran “bunga” periodik. Mengartikan premium obligasi
sebagai “pendapatan tangguhan” (defferend income) jelas tidak tepat karena secara konseptual
pendapatan atau laba tidak timbul dari proses pemerolehan utang. Pendapatan hanya timbul
dari kegiatan pembentukan pendapatan (earning process). Atas dasar konsep kontinuitas usaha,
premium obligasi yang belum diamortisasi adalah benar-benar merupakan utang dan jumlah
amortisasi periodik adalah merupakan penyesuaian (pengurang) terhadap biaya bunga dan
bukannya merupakan elemen pendapatan. Tanpa peneysuaian ini biaya bunga periodik akan
menjadi tersaji lebih (overstated).

Dari segi yudiris, utang memang harus diukur sebesar nilai nomnalnya karena kalau terjadi
likuidasi hak menerima pelunasan yang melekat pada investor adalah sebesar nominal.
Pandangan yudiris yang tidak memperhatikan diskon dilandasi konsep pengukuran dengan
asumsi perusahaan likuidasi. Dalam keadaan likuidasi atau reorganisasi memang dapat
dijustifikasi pengukuran dengan menggunakan konsep yang berbeda dengan akuntasi. Akan
tetapi, secara umum akuntansi tidak harus mendasarkan diri pada konsep tersebut.

Kewajiban Moneter dan Nonmoneter

Kewajiban moneter adalah kewajiban yang pengorbanan sember ekonomik masa datangnya
berupa kas dengan jumlah rupiah ada saat yang pasti baik jumlah tunggal maupun beberapa
pembayaran secara berkala. Untuk kewajiban moneter jangka pendek, kewajiban dapat diukur
atas dasar nilai nominal (face value) berdasarkan konsep dasar materialitas

Kewajiban nonmoneter adalah keharusan untuk menyediakan barang dan jasa dengan jumlah
saat yang cukup pasti yang bisanya timbul karena penerimaan pembayaran dimuka untuk
barang dan jasa tersebut. Bila pembayaran dimuka penuh, kewajiban nonmoneter harus diukur
atas dasar pembayaran tersebut yang menunjukkan harga yang disepakati untuk barang dan
jasa.
Penilaian

Kalau pengukuran mengacu pada penentuan nilai keharusan sekarang (the valueof current
obligation) pada saat terjadinya, penilaian mengacu pada penentuan nilai keharusan sekarang
pada setiap saat antara terjadinya kewajiban sampa dilunasinya kewajiban. Makin mendekati
saat jatuh tempo, nilai kewajiban akan makin mendekati nilai nominal. Jadi,penilaian
kewajiban pada saat tertentu adalah penentu jumlah rupiah yang harus dikorbankan
seandainya pada saat tersebut kewajiban harus [Link] kata lain,penilaian adalah
penentu nilai sekarang kewajiban

Pelunasan

Pelunasan adalah tindakan atau upaya yang sengaja dilakukan oleh kesatuan usaha untuk
memenuhi (to satisfy) kewajiban pada saatnya dan dalam kondisi normal usaha (in due
course of business) sehingga dia terbebas dari kewajiban [Link] mulanya FASB
menetukan kriteria lenyapnya suatu kewajiban dalam SFAC No. 76 (prg. 3) sebagai berikut :

1. Debitor membayar/melunasi kreditor dan bebas dari semua keharusan yang berkaitan
dengan utang.
2. Debitor telah dibebaskan secara hukum dari statusnya sebagai penanggung utang utama
baik oleh keputusan pengadilan maupun oleh kreditor dan dapat dipastikan bahwa
kreditor tidak akan diharuskan untuk melakukan pembayaran dimasa datang yang
berkaitan dengan utang dengan penjaminan dalam bentuk apapun.
3. Debitur menaruh kas atau asset lainnya yang tidak dapat ditarik kembali dalam suatu
perwalian yang semata- mata digunakan untuk pelunasan pembayaran bunga serta
pokok suatu pinjaman tertentu dan sagat kecil kemungkinan bagi debitor untuk
diharuskan lagi melakukan pembayaran di masa datang yang berkaitan dengan
pinajaman tersebut.

Ketentuan diatas telah diganti melalui SFAS No.125, yaitu :

1. Debitor membayar kreditor dan terbebaskan dari keharusan yang melekat pada
kewajiban.
2. Debitor telah dibebaskan secara hukum dari statusnya sebagai penanggung utang utama
baik oleh keputusan pengadilan maupun oleh kreditor.
Transfer Aset Finansial

Untuk melunasi kewajiban, suatu entitas dapat mentransfer asset financial (termasuk kas),
barang, atau jasa. Pada umumnya, bila kewajiban telah dilunasi dengan mentransfer secara
penuh kas, barang, atau jasa ke debitor, maka pada saat itu pelunasan dianggap tuntas.
Debitor tidak lagi terlibat dengan asset atau kreditor secara financial. Pelunasan kewajiban
dengan asset financial juga dapat bersifat tuntas bila penyerahan asset financial bersifat tak
bersyarat dan dianggap sebagai penjualan. Artinya, asset financial dianggap dijual secara
tunai dan kas yang diterima seketika itu pula dianggap untuk melunasi kewajiban.

Perlunasan Sebelum Jatuh Tempo

Bila kewajiban dilunasi pada saat jatuh tempo, nilai jatuh tempo (nominal) dengan sendirinya
merefleksi nilai sekarang (saat pelunasan) kewajiban sehingga tidak ada selisih antara jumlah
rupiah yang dibayar dan nilai nominal. Nilai jatuh tempo juga akan sama dengan nilai buku
atau nilai bawaan (carrying value) kewajiban karena proses amortisasi selisih antara nominal
dan nilai pasar pada saat penerbitan utang (misalnya obligasi). Selama beredar, nilai pasar atau
nilai sekarang kewajiban berfluktuasi mengikuti tingkat bunga yang berlaku tetapi pada
umumnya fluktuasi tersebut tidak diakui dalam pembukuan debitor.

Penarikan kembali obligasi yang beredar adalah suatu transaksi yang mempengaruhi kontrak
debitor atau kreditor tetapi transaksi ini sangat berbeda dengan transaksi aliran kegiatan operasi
dan transaksi penggunaan asset (investasi). Dengan demikian, terdapat pandangan bahwa
untung atau rugi yang berasal dari transaksi tersebut harus dilaporkan sebagai suatu
penyesusian modal. Bergantung pada sifatnya untung atau rugi dapat dilaporkan sebagai pos
diner atau pos ekstraordiner. Kriteria untuk menentukan hal ini adalah apakah pos tersebut
merupakan akibat dari transaksi atau kejadian yang mempunyai sifat sebagai berikut:

a. Sangat berbeda dengan kegiatan operasi rutin kesatuan usaha


b. Tidak diharapkan akan sering terjadi
c. Berpengaruh material terhadap operasi perusahaan secara keseluruhan

APB berargumen bahwa sifat semula pelunasan utang sebelum jatuh tempo pada dasarnya
sama. Untuk perlunasan dengan pendanaan sebenarnya terdapat tiga perlakuan alternative
untuk selisih yaitu:

a. Selisih diamortisasi selama sisa umur semula utang yang ditarik kembali
b. Selisih diamortisasi selama umur utang baru yang diterbitkan
c. Selisih diakui pada saat penarikan dan dilaporkan distatemen laba rugi tahun
bersangkutan

Perlunasan utang sebelum jatuh tempo sama sifatnya dengan perlunasan pada saat jatuh tempo
tanpa memperhatikan cara untuk melaksanakan hal tersebut (dengan pendanaan kembali atau
tidak). Untung atau rugi dapat dilaporkan sebagai pos ordiner atau ektraordiner tergantung pada
penilaian terhadap kondisi yang melingkupi transaksi.

Utang Terkonversi

Instrument financial pada dasarnya merupakan alat pembayaran atau pinjaman sehingga dapat
digunakan oleh pemegangnya untuk melunasi utang. Utang terkontroversi atau convertible
(convertible debt) merupakan salah satu instrument financial tersebut. Sekuritas utang
semacam ini biasanya mempunyai status sebagai kewajiban dan ekuitas sekaligus. Artinya,
pemegang instrument mempunyai hak istimewa untuk mengubah status utang menjadi ekuitas
setiap saat selama hak tersebut masih berlaku (belum habis). Instumen semacam ini merupakan
salah satu bentuk dari apa yang disebut sekuritas hibrida (hybrid securities).

Contoh yang paling sering dijumpai dalam praktik adalah obligasi terkonversi. Obligasi
terkontroversi pada umumnya diterbitkan untuk menarik para investor karena mereka dapat
menggeser resiko atau mengubah status sekuritas menjadi lebih menguntungkan. Hak konversi
digunakan untuk menarik investor untuk mengimbangi tingkat bunga nominal yang terlalu
rendah dibandingka tingkat bunga umum. Harga perdana biasanya jauh lebih tinggi dari
obligasi biasa dengan tingkat resiko yang sama. Jadi, investor bersedia membeli hak konversi
dalam bentuk bunga yang lebih rendah dari bunga obligasi setara yang dijual secara terpisah.
Obligasi terkonversi biasanya mempunyai karakteristik sebagai berikut:

1. Tingkat bunga nominal jauh dibawah tingkat bunga pasar untuk obligasi biasanya yg
setara
2. Harga konversi yang ditetapkan lebih tinggi dari harga pasar saham biasa
3. Harga konversi tidak pernah menurun selama masa hak konversi kecuali karena
penyesuaian yang diperlukan akibat pengambilan hak yang melekat pada saham biasa
seperti dalam hal terjadi poemecahan saham atau dividen saham

Hal diatas menjadi karakteristik obligasi terkontroversi karena pada umumnya perusahaan
penerbit merupakan perusahaan yang agresif dan sedang berkembang sehingga memerlukan
dana yang cukup murah. Bila prospek perusahaan sangat baik, obligasi terkontroversi masih
tetap menarik bagi investor. Walaupun harga konversi cukup tinggi pada saat ditawarkan, pada
saatnya harga saham dapat menjadi lebih tinggi dari harga konversi dan prediksi kenaikan
harga saham dapat menjadi cukup pasti memicu investor untuk mengkonversi obligasinya.
Karakteristik obligasi terkontroversi menimbulkan masalah akuntansi pada saat pengakuan,
pengkonversian, dan perlunasan.

Pendukung alokasi berargumen bahwa karena utang terkonversi mengandung sifat utang dan
ekuitas, kedua komponen harus diakui secara terpisah. Pandangan ini didasarkan atas
pemikiran sebagai berikut:

a. Hak konversi mempunyai nilai ekonomik sehingga tidak berbeda dengan sifat hak opsi
atau waran. Oleh karena itu, nilai tersebut harus dilaporkan secara terpisah dengan nilai
utang sejalan dengan perlakua hak opsi atau waran. Analogi dengan goodwill, nilai hak
konversi secara logis juga harus dipisahkan. Bila tidak dipisahkan, akan terjadi
inkonsistensi perlakuan akuntansi.
b. Pada saat penerbitan hak konversi atau nilai utang obligasi biasa (tanpa hak konversi)
dapat diukur secara cukup andal sehingga tidak ada kesulitan teknis untuk
mengimplementasi pemisahan tersebut. Nilai ionformasional pemisahan jauh lebih
penting dari masalah kepraktisan sehingga kepraktisan tidak relevan sebagai basis
penolakan pemisahan.
c. Tujuan penerbitan utang terkonversi yang sebenarnya adalah pendanaan dengan ekuitas.
Sifat utang semata-mata untuk melindungi investor dari keadaan jelek yang dapat
menimpa perusahaan (dalam likuidasi, utang diprioritaskan). Oleh karena itu, pelunasan
utang bukan merupakan hal yang diharapkan oleh penerbit.

Sementara itu, pendukung semata-mata utang mengajukan argument sebaliknya. Dasar pikiran
yang melandasi perlakuan sebagai utang semata-mata dapat dikemukakan sebagai berikut:

a. Utang obligasi terkonversi merupakan sekuritas hibrida sehingga harus dipandang


sebagai satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan. Hak kontroversi tidak independen
terhadap utang obligasi.
b. Penilaian hak konversi akan bersifat subjektif karena ketidakterpisahan kedua komponen
(utang dan hak konversi). Alasannya adalah adanya ketidakpastian dalam hal saat
pengambilan hak konversi dan nilai saham pada saat konversi. Kesulitan praktis akan
lebih terasa bila tidak ada sekuritas sejenis yang dijual secara bebas tanpa hak konversi.
Jadi, ketidakterpisahkan dan kepraktisan menjadi ladasan pikiran untuk memperlukan utang
terkonversi semata-mata sebagai utang. Hal ini menjadi bisnis opini APB yang memandang
nilai obligasi dan hak konversi sebagai satu kesatuan. Walaupun demikian, APB lebih
menekankan alasannya pada ketidakterpisahan daripada kepraktisan.

Perdebatan mengenai perlakuan sekuritas hibrida timbul karena pembedaan elemen kewajiban
dan ekuitas secara definisional sehingga selalu timbul masalah klasifikasi terhadap sekuritas
hibrida atau instumen keuangan. Salah satu pemecahan masalah ini adalah mendefinisi ekuitas
dalam arti luas yang mencangkupi utang/kewajiban kemudian mengklasifikasi ekuitas menjadi
beberapa kelas atas dasar hak-hak yang melekat pada tiap kelas.

Masih ada masalah apabila instrument financial harus diakui dan dilaporkan via statemen
keuangan utama karena selain memenuhi definisi, suatu pos atau objek juga harus memenuhi
kriteria pengakuan yang lain yaitu terukur (meansureable), terandalkan (reliable), dan berpaut
(relevant). Oleh karena itu cara lain untuk mengatasi masalah instrument keuangan adalah
bukan dengan pengakuan melainkan dengan pengungkapan (disclosures).

Pembebasan Substantif

Pada mulanya, FASB menetapkan bahwa kewajiban dapat dianggap lenyap bila
kreditor menaruh kas atau lainnya misalnya obligasi pemerintah yang tidak dapat ditarik
kembali dalam satu perwalian dan aliran kas dari aset tersebut akan cukup untuk pelunasan
pembayaran bunga serta pokok pinjaman.

Bila telah dicapai saat sehingga debitor sehingga tidak perlu lagi melakukan pembayaran di
masa datang yang berkaitan dengan pinjaman tersebut, maka pada saat tersebut secara
substansif debitor sudah bebas dari kewajiban sehingga dapat mengakui kewajiban dan aset
dalam perwalian meskipun utang belum jatuh waktu. Bila debitor membentuk dana pelunasan
utang obligasi, pada saat debitor sudah tidak perlu lagi membayar atau menyetor kas ke dana
tersebut karena kas yang telah disetor dan pendapatan dari dana tersebut sudah pasti akan cukup
untuk menutup utang pada saat jatuh tempo, maka pada saat itu kewajiban debitor secara
substantive dianggap lenyao meskipun kewajiban belum jatuh tempo. Jadi, pada saat tidak ada
lagi keharusan membayar, telah terjadi pembebasan substantif.

Dalam standar ini FASB menegaskan bahwa pada saat terjadi pembebasan substantif,
kewajiban tidak dapat dihapus karena kejadian tersebut tidak memenuhi karakteristik atau
criteria kritis sebagai berikut :
a. Debitor tidak hanya sendirinya menjadi bebas dari kewajiban secara hukum hanya lantaran
perusahaan menempatkan aset ke dalam suatu perwalian.
b. Untuk pelunasan kewajiban, sumber dana tidak dibatasi hanya dari dana yang ditempatkan
dalam perwalian.
c. Kreditor tidak mempunyai kekuasaan untuk menggunakan secara bebas aset dalam
perwalian dan juga tidak dapat menghentikan atau membatalkan perwalian tersebut.
d. Kreditor ataupun agennya bukan merupakan pihak yang terikat dalam kontrak
pembentukan dana pembebasan utang.

Alasan lain yang sering dikemukakan adalah pengawakan kewajiban pada saat tercapainya
pembebasan substantive sama saja dengan mengkompensasi kewajiban dengan aset. Kritik lain
adalah pengawaakuan kewajiban pada saat terjadinya pembebasan substantive dapat
dimanfaatkan oleh debitor untuk melakukan manajemen laba dan peningkatan kinerja secara
kosmetik. Hal ini dapat dilakukan karena keuntungan bagi debitor sebagai berikut :

a. Kewajiban dihapus dari neraca sehingga rasio kewajiban – ekuitas membaik


b. Laba tahun berjalan akan meningkat dengan jumlah untung yang terjadi dalam
pengawaakuan kewajiban
c. Untung pengawaakuan kewajiban tidak dikenai pajak karena untung tersebut sebenarnya
belum terealisasi sehingga perusahaan dapat menghemat atau menunda pajak dan
meningkatkan profitabilitas secara cukup berarti pada saat pembebasan substantive
d. Bila aset berupa obligasi pemerintah, perusahaan dapat menghemat pajak karena untuk
perhitungan pajak pendapatan bunga obligasi pemerintah dapat dikompensasi oleh biaya
bunga utang
e. Pembebasan substantive memungkinkan perusahaan untuk memperlakukan kewajiban
jangka seperti mengelola surat – surat berharga di sisi aset.

Penyajian

Secara umum, kewajiban disajikan dalam neraca atas dasar urutan kelancarannya sejalan
dengan penyajian aset. PSAK No. 1 (pasal 39) menggariskan bahwa aset lancer disajikan urut
menurut urutan likuidiats sedangkan kewajiban disajikan menurut urutan jatuh tempo. Ini
berarti kewajiban jangka pendek disajikan lebih dahulu daripada kewajiban jangka panjang.
Hal ini dimaksudkan untuk memudahkan pembaca untuk mengevaluasi likuiditas perusahaan.
PSAK No. 1 menentukan bahwa semua kewajiban yang tidak memenuhi criteria
sebagai kewajiban jangka pendek harus diklasifikasikan sebagai kewajiban jangka panjang.
Suatu kewajiban diklasifikasikan sebagai kewajiban jangka pendek bila (paragraph 44) :

a. Diperkirkan akan diselesaikan dalam jangka waktu siklus normal opersi perusahaan
b. Jatuh tempo dalam jangka waktu dua belas bulan dari tanggal neraca

Suatu kewajiban tetap dapat diklasifikasikan sebagai kewajiban jangka panjang bila kewajiban
tersebut tidak akan dilunasi tetapi didanai kembali atau diperbarui. Paragraf 47 menyebutkan
bahwa kewajiban berbunga jangka panjang tetap diklasifikasikan sebagai kewajiban jangka
panjang, walaupun kewajiban tersebut akan jatuh tempo dalam jangka waktu dua belas bulan
sejak tanggal neraca, apabila :

a. Kesepakatan awal perjanjian pinjaman untuk jangka waktu lebih dari dua belas bulan
b. Perusahaan bermaksud membiayai kembali kewajibannya dengan pendanaan jangka
panjang

Hak Mengkompensasi

Ada kalanya hak mengontra diperbolehkan bila kondisi tertentu dipenuhi. kondisi ini biasanya
berkaitan dengan apa yang disebut sebagai kontrak bersyarat dan kontrak pertukaran. Kontrak
bersyarat adalah kontrak yang hak dan kewajibannya bergantung pada timbulnya kejadian
masa datang tertentu yang belum tentu terjadi dan dapat mengubah saat penerimaan,
penyerahan, atau pertukaran jumlah rupiah atau instrument keuangan. Contoh kontrak ini
adalah futures contracts dan forward purchase – sale contracts. Kontrak pertukaran adalah
kontrak yang mewajibkan adanya pertukaran aset dan kewajiban dimasa datang dan bukan
hanya transfer aset dari satu pihak aja. Contoh kontrak ini adalah interest rate swaps dan
currency swaps.

Dalam FASB Interpretation No. 39,45 FASB mendefinisi hak mengontra sebagai berikut
(paragraph 5) :

Hak mengintra adalah hak yuridis debitor, lantaran kontrak antara lainnya, untuk menghapus
semua atau sebagian utang kepada pihak lain dengn cara mengkompensasi utang tersebut
dengan jumlah yang pihak lain berutang kepada debitor. Hak mengontra dikatakan ada
bilamana semua kondisi berikut dipenuhi :
a. Tiap pihak dari dua pihak yang berkontrak utang kepada yang lain suatu jumlah rupiah
tertentu
b. Pihak pelapor mempunyai hak mengontra jumlah yang diutangnya dengan jumlah yang
diutang pihak lain
c. Pihak pelapor memang berniat untuk mengontra
d. Hak mengontra terpaksakan secara hukum

Anda mungkin juga menyukai