Kewajiban dan Keharusan Pembayaran
Kewajiban dan Keharusan Pembayaran
KEWAJIBAN
OLEH:
KELOMPOK 8
1. NI PUTU ASTRI PRADNYASWARI (1633121179)
FAKULTAS EKONOMI
UNIVERSITAS WARMADEWA
2019
BAB 7
KEWAJIBAN
Pengertian
Menurut FASB : Kewajiban adalah pengorbanan manfaat ekonomik masa datang yang cukup
pasti yang timbul dari keharusan sekarang suatu kesatuan usaha untuk mentransferk aset atau
menyediakan / menyerahkan jasa kepada kesatuan lain dimasa datang sebagai akibat transaksi
atau kejadian masa lalu.
Definisi FASB digunakan sebagai basis pembahasan karena definisi tersebut cukup lengkap
secara semantic. Artinya definisi tersebut telah mencakupi berbagai gagasan atau kata kunci
yang terkandung dalam beberapa definisi kewajiban oleh sumber – sumber lain.
Secara umum dapat dikatakan bahwa kewajiban mempunyai tiga karakteristik utama yaitu :
Tranksaksi atau kejadian yang dapat dijadikan dasar untuk menandai pengakuan hak dan
kewajiban dalam suatu kontrak menurut Most (1982, hlm. 352)
Saat penentuan transaksi masa lampau perlu dipertimbangkan dengan seksama memperhatikan
kondisi yang melingkupi suatu kontraj. Most mengemukakan hal yang harus dipertimbangkan
untuk memilih saat yang tepat :
Karakteristik Pendukung
FASB menyebutkan beberapa karakteristik pendukung yaitu :
Kalau aset yang direprentasi oleh kos mengalami tiga tahap perlakuan (pemerolehan,
pengolahan, dan penyerahan), kewajiban sebenarnya juga mengalami tiga tahap perlakuan
yaitu: penanggungan (pengakuan terjadinya), penelusuran, dan pelunasan (penyelesaian).
Dalam hal kewajiban, penelusuran berarti penentuan status dan jumlah rupiah (kos) kewajiban
pada setiap saat. Penentuan kos setiap saat (termasuk pada tanggal neraca) dapat disebut
dengan penilaian kewajiban.
Pengakuan
Pada prinsipnya, kewajiban diakui pada saat keharusan telah mengikat akibat transaksi yang
sebelumnya telah terjadi. Mengikatnya suatu keharusan harus dievaluasi atas dasar kaidah
pengakuan (recognition rules). kriteria pengakuan lebih berkaitan dengan pedoman umum
dalam rangka memenuhi karakteristik kualitatif informasi sehingga elemen statemen keuangan
hanya dapat diakui bila kriteria definisi, keberpautan, keterandalan, dan keterukuran dipenuhi.
Kriteria umum ini tidak operasional sehingga diperlukan kaidah pengakuan sebagai penjabaran
teknis kriteria pengakuan umum. Dalam hal kewajiban, kaidah pengakuan berkaitan dengan
saat atau apa yang menandai bahwa kewajiban dapan diakui (dibukukan). Empat kaidah
pengakuan untuk menandai pengakuan kewajiban yaitu:
Yang menjadi masalah tekhnis adalah kapan keempat kaidah diatas dipenuhi. Hendriksen dan
van Breda menunjukkan saat- saat untuk mengakui kewajiban yaitu :
1. Pada saat penandatanganan kontrak bila pada saat itu hak dan kewajiban telah mengikat.
2. Bersamaan dengan pengakuan biaya bila barang dan jasa yang menjadi biaya belum
dicatat sebagai asset sebelumnya
3. Bersamaan dengan pengakuan asset.
4. Pada akhir perioda karena penggunaan asa actual melalui proses penyesuaian.
FASB memberi contoh keadaan- keadaan kebergantungan rugi (loss contingencies) yang
berpotensi memicu pengakuan kewajiban sebagai berikut (SFAS No.5, prg.4):
FSAB menetapkan bahwa rugi taksiran yang dapat terjadi kebergantungan rugi harus diakru
(to be accrued) dengan membebankannya ke pendapatan (sebagai biaya atau rugi) bila kedua
kondisi berikut dipenuhi:
a. Informasi yang tersedia sebelum penerbitan statemen keuangan menunjukkan bahwa suatu
aset cukup pasti telah turun nilainnya (impaired) atau suatu kewajiban cukup pasti telah
terjadi pada tanggal statemen keuangan. Pada tanggal statemen keuangan harus sudah
dapat disimpulkan bahwa kewajiban atau beberapa kejadian, yang menegaskan adanya
rugi, cukup pasti (probable) akan terjadi.
b. Jumlah rupiah rugi dapat diestimasi dengan cukup tepat (reasonably estimated).
Bila kondisi diatas tidak dipenuhi, jumlah rupiah rugi potensial harus tetap diungkapkan
dengan menjelaskan sfat dan implikasi kebergantungan tersebut. Ketentuan tentang dpat
diakrunya rugi potensial sebelum kejadian yang menegaskan terjadi dilandasi oleh
interpretasi tentang makna kewajiban dan asset serta konsep dasar penandingan (matching)
dan konservatisma.
Pengukuran
Pengukuran yang paling objektif untuk menentukan kos kewajiban pada saa terjadinya adalah
penghargaan sepakatan dalam transaksi- transaksi tersebut dan bukan jumlah rupiah
pengorbanan ekonomik masa datang. Hal ini berlaku khususnya untuk kewajiban jangka
[Link] kewajiban jangka pendek, kos penundaan dianggap tidak cukup material
sehingga jumlah rupiah kewajiban yang diakui akan sama dengan jumlah rupiah pengorbanan
sumber ekonomik (kas) msa datang. Dengan kata lain, untuk kewajiban jangka pendek, kos
pendanaan atau kos penundaan dianggap tidak material. Penghargaan sepakatan suatu
kewajiban merefleksi nilai setara tunai atau nilai sekarang kewajiban yaitu jumlah rupiah
pengorbanan sumber ekonomik seandainya kewajiban dilunasi pada saat terjadinya.
Dasar pengukuran asset yang paling objektif adalah kos tunai atau kos tunai implisit. Karena
kewajiban merupakan bayangan cermin asset, pengukuran juga mengikuti pengukura
[Link] umumnya,atas dasar kepraktisan,perusahaan tidak berusaha untuk menentukan kos
tunaiimplisit baik dengan cara menanyakan langsung ketoko penjual barang ataupun dengan
cara mendiskusikan nilai kontrak dengan tarif bunga yang berlaku.
Nilai nominal atau jatuh tempo utang obligasi sering dianggap sebagai jumlah rupiah
kesepakatan pada saat penerbitan obligasi baik bagi penerbit maupun kreditor. Dasar
pengukuran demikian sebenarnya tidak tepat. Untuk suatu kontrak utang dengan ketentuan
pembayaran bunga periodik dan pokok pinjaman pada akhir jangka kontrak, pengukuran
jumlah rupiah (kos) utang dan aset untuk dasar pencatatan pertama kali yang tepat adalah
kos tunai implisit. Dalam hal obligasi jangka panjang,jumlah rupiah uang yang diterima oleh
penerbit dan yang dibayarkan oleh kreditor pada saat penerbitan hanyalah merupakan bagian
kecil dari jumlah rupiah total yang terlibat dalam kontrak [Link] rupiah total ini
adalah sseluruh jumlah rupiah pembayaran-pembayaran masa datang.
Segera setelah transaksi terjadi maka “kesepakatan” dalam hubungannya dengan obligasi
tersebut mulai menunjukkan makna yang sebenarnya. Dengan telah mulai berjalannya
kesepakatan dalam transaksi obligasi diatas, bunga Rp. 100.000 tiap tahun mulai terhimpun
dan dibayar secara periodik sampai jauh tempo. Bersamaan dengan itu, jumlah rupiah utang
obligasi yang mula-mula tercatat akan berangsur-angsur berubah (bertambah) menuju jumlah
rupiah nilai jatuh tempo atau nominal.
Diskon Obligasi
Diskon obligasi yang belum diamortisasi bukan merupakan suatu rugi karena asset yang
diperoleh sebelumnya tidak ada yang berkurang atau menguap (dissipation). Diskon obligasi
sebenarnya merupakan bunga yang “belum dibayar”, yaitu bagian bunga efektif total yang baru
akan dibayar pada saat utang obligasi jatuh tempo.
Premium Obligasi
Sejalan dengan penalaran makna diskon obligasi yang dilandasi konsep dasar penghargaan
sepakatan, dapat disimpulkan bahwa premium yang dibayarkan investor untuk obligasi
merupakan unsure dari jumlah rupiah utang perusahaan. Bersamaan denga berjalannya waktu
mendekati jatuh tempo, jumlah rupiah bagian utang yang merupakan premium harus
diamortisasi secara sistematik dengan cara memisahkan dari penghargaan sepakatan bagian
yang diperhitungkan sebagai pembayaran “bunga” periodik. Mengartikan premium obligasi
sebagai “pendapatan tangguhan” (defferend income) jelas tidak tepat karena secara konseptual
pendapatan atau laba tidak timbul dari proses pemerolehan utang. Pendapatan hanya timbul
dari kegiatan pembentukan pendapatan (earning process). Atas dasar konsep kontinuitas usaha,
premium obligasi yang belum diamortisasi adalah benar-benar merupakan utang dan jumlah
amortisasi periodik adalah merupakan penyesuaian (pengurang) terhadap biaya bunga dan
bukannya merupakan elemen pendapatan. Tanpa peneysuaian ini biaya bunga periodik akan
menjadi tersaji lebih (overstated).
Dari segi yudiris, utang memang harus diukur sebesar nilai nomnalnya karena kalau terjadi
likuidasi hak menerima pelunasan yang melekat pada investor adalah sebesar nominal.
Pandangan yudiris yang tidak memperhatikan diskon dilandasi konsep pengukuran dengan
asumsi perusahaan likuidasi. Dalam keadaan likuidasi atau reorganisasi memang dapat
dijustifikasi pengukuran dengan menggunakan konsep yang berbeda dengan akuntasi. Akan
tetapi, secara umum akuntansi tidak harus mendasarkan diri pada konsep tersebut.
Kewajiban moneter adalah kewajiban yang pengorbanan sember ekonomik masa datangnya
berupa kas dengan jumlah rupiah ada saat yang pasti baik jumlah tunggal maupun beberapa
pembayaran secara berkala. Untuk kewajiban moneter jangka pendek, kewajiban dapat diukur
atas dasar nilai nominal (face value) berdasarkan konsep dasar materialitas
Kewajiban nonmoneter adalah keharusan untuk menyediakan barang dan jasa dengan jumlah
saat yang cukup pasti yang bisanya timbul karena penerimaan pembayaran dimuka untuk
barang dan jasa tersebut. Bila pembayaran dimuka penuh, kewajiban nonmoneter harus diukur
atas dasar pembayaran tersebut yang menunjukkan harga yang disepakati untuk barang dan
jasa.
Penilaian
Kalau pengukuran mengacu pada penentuan nilai keharusan sekarang (the valueof current
obligation) pada saat terjadinya, penilaian mengacu pada penentuan nilai keharusan sekarang
pada setiap saat antara terjadinya kewajiban sampa dilunasinya kewajiban. Makin mendekati
saat jatuh tempo, nilai kewajiban akan makin mendekati nilai nominal. Jadi,penilaian
kewajiban pada saat tertentu adalah penentu jumlah rupiah yang harus dikorbankan
seandainya pada saat tersebut kewajiban harus [Link] kata lain,penilaian adalah
penentu nilai sekarang kewajiban
Pelunasan
Pelunasan adalah tindakan atau upaya yang sengaja dilakukan oleh kesatuan usaha untuk
memenuhi (to satisfy) kewajiban pada saatnya dan dalam kondisi normal usaha (in due
course of business) sehingga dia terbebas dari kewajiban [Link] mulanya FASB
menetukan kriteria lenyapnya suatu kewajiban dalam SFAC No. 76 (prg. 3) sebagai berikut :
1. Debitor membayar/melunasi kreditor dan bebas dari semua keharusan yang berkaitan
dengan utang.
2. Debitor telah dibebaskan secara hukum dari statusnya sebagai penanggung utang utama
baik oleh keputusan pengadilan maupun oleh kreditor dan dapat dipastikan bahwa
kreditor tidak akan diharuskan untuk melakukan pembayaran dimasa datang yang
berkaitan dengan utang dengan penjaminan dalam bentuk apapun.
3. Debitur menaruh kas atau asset lainnya yang tidak dapat ditarik kembali dalam suatu
perwalian yang semata- mata digunakan untuk pelunasan pembayaran bunga serta
pokok suatu pinjaman tertentu dan sagat kecil kemungkinan bagi debitor untuk
diharuskan lagi melakukan pembayaran di masa datang yang berkaitan dengan
pinajaman tersebut.
1. Debitor membayar kreditor dan terbebaskan dari keharusan yang melekat pada
kewajiban.
2. Debitor telah dibebaskan secara hukum dari statusnya sebagai penanggung utang utama
baik oleh keputusan pengadilan maupun oleh kreditor.
Transfer Aset Finansial
Untuk melunasi kewajiban, suatu entitas dapat mentransfer asset financial (termasuk kas),
barang, atau jasa. Pada umumnya, bila kewajiban telah dilunasi dengan mentransfer secara
penuh kas, barang, atau jasa ke debitor, maka pada saat itu pelunasan dianggap tuntas.
Debitor tidak lagi terlibat dengan asset atau kreditor secara financial. Pelunasan kewajiban
dengan asset financial juga dapat bersifat tuntas bila penyerahan asset financial bersifat tak
bersyarat dan dianggap sebagai penjualan. Artinya, asset financial dianggap dijual secara
tunai dan kas yang diterima seketika itu pula dianggap untuk melunasi kewajiban.
Bila kewajiban dilunasi pada saat jatuh tempo, nilai jatuh tempo (nominal) dengan sendirinya
merefleksi nilai sekarang (saat pelunasan) kewajiban sehingga tidak ada selisih antara jumlah
rupiah yang dibayar dan nilai nominal. Nilai jatuh tempo juga akan sama dengan nilai buku
atau nilai bawaan (carrying value) kewajiban karena proses amortisasi selisih antara nominal
dan nilai pasar pada saat penerbitan utang (misalnya obligasi). Selama beredar, nilai pasar atau
nilai sekarang kewajiban berfluktuasi mengikuti tingkat bunga yang berlaku tetapi pada
umumnya fluktuasi tersebut tidak diakui dalam pembukuan debitor.
Penarikan kembali obligasi yang beredar adalah suatu transaksi yang mempengaruhi kontrak
debitor atau kreditor tetapi transaksi ini sangat berbeda dengan transaksi aliran kegiatan operasi
dan transaksi penggunaan asset (investasi). Dengan demikian, terdapat pandangan bahwa
untung atau rugi yang berasal dari transaksi tersebut harus dilaporkan sebagai suatu
penyesusian modal. Bergantung pada sifatnya untung atau rugi dapat dilaporkan sebagai pos
diner atau pos ekstraordiner. Kriteria untuk menentukan hal ini adalah apakah pos tersebut
merupakan akibat dari transaksi atau kejadian yang mempunyai sifat sebagai berikut:
APB berargumen bahwa sifat semula pelunasan utang sebelum jatuh tempo pada dasarnya
sama. Untuk perlunasan dengan pendanaan sebenarnya terdapat tiga perlakuan alternative
untuk selisih yaitu:
a. Selisih diamortisasi selama sisa umur semula utang yang ditarik kembali
b. Selisih diamortisasi selama umur utang baru yang diterbitkan
c. Selisih diakui pada saat penarikan dan dilaporkan distatemen laba rugi tahun
bersangkutan
Perlunasan utang sebelum jatuh tempo sama sifatnya dengan perlunasan pada saat jatuh tempo
tanpa memperhatikan cara untuk melaksanakan hal tersebut (dengan pendanaan kembali atau
tidak). Untung atau rugi dapat dilaporkan sebagai pos ordiner atau ektraordiner tergantung pada
penilaian terhadap kondisi yang melingkupi transaksi.
Utang Terkonversi
Instrument financial pada dasarnya merupakan alat pembayaran atau pinjaman sehingga dapat
digunakan oleh pemegangnya untuk melunasi utang. Utang terkontroversi atau convertible
(convertible debt) merupakan salah satu instrument financial tersebut. Sekuritas utang
semacam ini biasanya mempunyai status sebagai kewajiban dan ekuitas sekaligus. Artinya,
pemegang instrument mempunyai hak istimewa untuk mengubah status utang menjadi ekuitas
setiap saat selama hak tersebut masih berlaku (belum habis). Instumen semacam ini merupakan
salah satu bentuk dari apa yang disebut sekuritas hibrida (hybrid securities).
Contoh yang paling sering dijumpai dalam praktik adalah obligasi terkonversi. Obligasi
terkontroversi pada umumnya diterbitkan untuk menarik para investor karena mereka dapat
menggeser resiko atau mengubah status sekuritas menjadi lebih menguntungkan. Hak konversi
digunakan untuk menarik investor untuk mengimbangi tingkat bunga nominal yang terlalu
rendah dibandingka tingkat bunga umum. Harga perdana biasanya jauh lebih tinggi dari
obligasi biasa dengan tingkat resiko yang sama. Jadi, investor bersedia membeli hak konversi
dalam bentuk bunga yang lebih rendah dari bunga obligasi setara yang dijual secara terpisah.
Obligasi terkonversi biasanya mempunyai karakteristik sebagai berikut:
1. Tingkat bunga nominal jauh dibawah tingkat bunga pasar untuk obligasi biasanya yg
setara
2. Harga konversi yang ditetapkan lebih tinggi dari harga pasar saham biasa
3. Harga konversi tidak pernah menurun selama masa hak konversi kecuali karena
penyesuaian yang diperlukan akibat pengambilan hak yang melekat pada saham biasa
seperti dalam hal terjadi poemecahan saham atau dividen saham
Hal diatas menjadi karakteristik obligasi terkontroversi karena pada umumnya perusahaan
penerbit merupakan perusahaan yang agresif dan sedang berkembang sehingga memerlukan
dana yang cukup murah. Bila prospek perusahaan sangat baik, obligasi terkontroversi masih
tetap menarik bagi investor. Walaupun harga konversi cukup tinggi pada saat ditawarkan, pada
saatnya harga saham dapat menjadi lebih tinggi dari harga konversi dan prediksi kenaikan
harga saham dapat menjadi cukup pasti memicu investor untuk mengkonversi obligasinya.
Karakteristik obligasi terkontroversi menimbulkan masalah akuntansi pada saat pengakuan,
pengkonversian, dan perlunasan.
Pendukung alokasi berargumen bahwa karena utang terkonversi mengandung sifat utang dan
ekuitas, kedua komponen harus diakui secara terpisah. Pandangan ini didasarkan atas
pemikiran sebagai berikut:
a. Hak konversi mempunyai nilai ekonomik sehingga tidak berbeda dengan sifat hak opsi
atau waran. Oleh karena itu, nilai tersebut harus dilaporkan secara terpisah dengan nilai
utang sejalan dengan perlakua hak opsi atau waran. Analogi dengan goodwill, nilai hak
konversi secara logis juga harus dipisahkan. Bila tidak dipisahkan, akan terjadi
inkonsistensi perlakuan akuntansi.
b. Pada saat penerbitan hak konversi atau nilai utang obligasi biasa (tanpa hak konversi)
dapat diukur secara cukup andal sehingga tidak ada kesulitan teknis untuk
mengimplementasi pemisahan tersebut. Nilai ionformasional pemisahan jauh lebih
penting dari masalah kepraktisan sehingga kepraktisan tidak relevan sebagai basis
penolakan pemisahan.
c. Tujuan penerbitan utang terkonversi yang sebenarnya adalah pendanaan dengan ekuitas.
Sifat utang semata-mata untuk melindungi investor dari keadaan jelek yang dapat
menimpa perusahaan (dalam likuidasi, utang diprioritaskan). Oleh karena itu, pelunasan
utang bukan merupakan hal yang diharapkan oleh penerbit.
Sementara itu, pendukung semata-mata utang mengajukan argument sebaliknya. Dasar pikiran
yang melandasi perlakuan sebagai utang semata-mata dapat dikemukakan sebagai berikut:
Perdebatan mengenai perlakuan sekuritas hibrida timbul karena pembedaan elemen kewajiban
dan ekuitas secara definisional sehingga selalu timbul masalah klasifikasi terhadap sekuritas
hibrida atau instumen keuangan. Salah satu pemecahan masalah ini adalah mendefinisi ekuitas
dalam arti luas yang mencangkupi utang/kewajiban kemudian mengklasifikasi ekuitas menjadi
beberapa kelas atas dasar hak-hak yang melekat pada tiap kelas.
Masih ada masalah apabila instrument financial harus diakui dan dilaporkan via statemen
keuangan utama karena selain memenuhi definisi, suatu pos atau objek juga harus memenuhi
kriteria pengakuan yang lain yaitu terukur (meansureable), terandalkan (reliable), dan berpaut
(relevant). Oleh karena itu cara lain untuk mengatasi masalah instrument keuangan adalah
bukan dengan pengakuan melainkan dengan pengungkapan (disclosures).
Pembebasan Substantif
Pada mulanya, FASB menetapkan bahwa kewajiban dapat dianggap lenyap bila
kreditor menaruh kas atau lainnya misalnya obligasi pemerintah yang tidak dapat ditarik
kembali dalam satu perwalian dan aliran kas dari aset tersebut akan cukup untuk pelunasan
pembayaran bunga serta pokok pinjaman.
Bila telah dicapai saat sehingga debitor sehingga tidak perlu lagi melakukan pembayaran di
masa datang yang berkaitan dengan pinjaman tersebut, maka pada saat tersebut secara
substansif debitor sudah bebas dari kewajiban sehingga dapat mengakui kewajiban dan aset
dalam perwalian meskipun utang belum jatuh waktu. Bila debitor membentuk dana pelunasan
utang obligasi, pada saat debitor sudah tidak perlu lagi membayar atau menyetor kas ke dana
tersebut karena kas yang telah disetor dan pendapatan dari dana tersebut sudah pasti akan cukup
untuk menutup utang pada saat jatuh tempo, maka pada saat itu kewajiban debitor secara
substantive dianggap lenyao meskipun kewajiban belum jatuh tempo. Jadi, pada saat tidak ada
lagi keharusan membayar, telah terjadi pembebasan substantif.
Dalam standar ini FASB menegaskan bahwa pada saat terjadi pembebasan substantif,
kewajiban tidak dapat dihapus karena kejadian tersebut tidak memenuhi karakteristik atau
criteria kritis sebagai berikut :
a. Debitor tidak hanya sendirinya menjadi bebas dari kewajiban secara hukum hanya lantaran
perusahaan menempatkan aset ke dalam suatu perwalian.
b. Untuk pelunasan kewajiban, sumber dana tidak dibatasi hanya dari dana yang ditempatkan
dalam perwalian.
c. Kreditor tidak mempunyai kekuasaan untuk menggunakan secara bebas aset dalam
perwalian dan juga tidak dapat menghentikan atau membatalkan perwalian tersebut.
d. Kreditor ataupun agennya bukan merupakan pihak yang terikat dalam kontrak
pembentukan dana pembebasan utang.
Alasan lain yang sering dikemukakan adalah pengawakan kewajiban pada saat tercapainya
pembebasan substantive sama saja dengan mengkompensasi kewajiban dengan aset. Kritik lain
adalah pengawaakuan kewajiban pada saat terjadinya pembebasan substantive dapat
dimanfaatkan oleh debitor untuk melakukan manajemen laba dan peningkatan kinerja secara
kosmetik. Hal ini dapat dilakukan karena keuntungan bagi debitor sebagai berikut :
Penyajian
Secara umum, kewajiban disajikan dalam neraca atas dasar urutan kelancarannya sejalan
dengan penyajian aset. PSAK No. 1 (pasal 39) menggariskan bahwa aset lancer disajikan urut
menurut urutan likuidiats sedangkan kewajiban disajikan menurut urutan jatuh tempo. Ini
berarti kewajiban jangka pendek disajikan lebih dahulu daripada kewajiban jangka panjang.
Hal ini dimaksudkan untuk memudahkan pembaca untuk mengevaluasi likuiditas perusahaan.
PSAK No. 1 menentukan bahwa semua kewajiban yang tidak memenuhi criteria
sebagai kewajiban jangka pendek harus diklasifikasikan sebagai kewajiban jangka panjang.
Suatu kewajiban diklasifikasikan sebagai kewajiban jangka pendek bila (paragraph 44) :
a. Diperkirkan akan diselesaikan dalam jangka waktu siklus normal opersi perusahaan
b. Jatuh tempo dalam jangka waktu dua belas bulan dari tanggal neraca
Suatu kewajiban tetap dapat diklasifikasikan sebagai kewajiban jangka panjang bila kewajiban
tersebut tidak akan dilunasi tetapi didanai kembali atau diperbarui. Paragraf 47 menyebutkan
bahwa kewajiban berbunga jangka panjang tetap diklasifikasikan sebagai kewajiban jangka
panjang, walaupun kewajiban tersebut akan jatuh tempo dalam jangka waktu dua belas bulan
sejak tanggal neraca, apabila :
a. Kesepakatan awal perjanjian pinjaman untuk jangka waktu lebih dari dua belas bulan
b. Perusahaan bermaksud membiayai kembali kewajibannya dengan pendanaan jangka
panjang
Hak Mengkompensasi
Ada kalanya hak mengontra diperbolehkan bila kondisi tertentu dipenuhi. kondisi ini biasanya
berkaitan dengan apa yang disebut sebagai kontrak bersyarat dan kontrak pertukaran. Kontrak
bersyarat adalah kontrak yang hak dan kewajibannya bergantung pada timbulnya kejadian
masa datang tertentu yang belum tentu terjadi dan dapat mengubah saat penerimaan,
penyerahan, atau pertukaran jumlah rupiah atau instrument keuangan. Contoh kontrak ini
adalah futures contracts dan forward purchase – sale contracts. Kontrak pertukaran adalah
kontrak yang mewajibkan adanya pertukaran aset dan kewajiban dimasa datang dan bukan
hanya transfer aset dari satu pihak aja. Contoh kontrak ini adalah interest rate swaps dan
currency swaps.
Dalam FASB Interpretation No. 39,45 FASB mendefinisi hak mengontra sebagai berikut
(paragraph 5) :
Hak mengintra adalah hak yuridis debitor, lantaran kontrak antara lainnya, untuk menghapus
semua atau sebagian utang kepada pihak lain dengn cara mengkompensasi utang tersebut
dengan jumlah yang pihak lain berutang kepada debitor. Hak mengontra dikatakan ada
bilamana semua kondisi berikut dipenuhi :
a. Tiap pihak dari dua pihak yang berkontrak utang kepada yang lain suatu jumlah rupiah
tertentu
b. Pihak pelapor mempunyai hak mengontra jumlah yang diutangnya dengan jumlah yang
diutang pihak lain
c. Pihak pelapor memang berniat untuk mengontra
d. Hak mengontra terpaksakan secara hukum