0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
15 tayangan58 halaman

Perencanaan Dimensi Bangunan Pondokan

Dokumen tersebut membahas perencanaan dimensi balok, kolom, dan tebal pelat lantai untuk bangunan pondokan mahasiswa dua lantai. Termasuk perhitungan awal dimensi balok, kolom, dan asumsi tebal pelat lantai serta perhitungan nilai-nilai penting seperti lebar efektif balok, moment inersia, dan nilai α dan β untuk menentukan tebal pelat optimal.

Diunggah oleh

Ida Amalia
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
15 tayangan58 halaman

Perencanaan Dimensi Bangunan Pondokan

Dokumen tersebut membahas perencanaan dimensi balok, kolom, dan tebal pelat lantai untuk bangunan pondokan mahasiswa dua lantai. Termasuk perhitungan awal dimensi balok, kolom, dan asumsi tebal pelat lantai serta perhitungan nilai-nilai penting seperti lebar efektif balok, moment inersia, dan nilai α dan β untuk menentukan tebal pelat optimal.

Diunggah oleh

Ida Amalia
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

BAB IV

PERENCANAAN

4.1 Data Perancangan


Bangunan yang dirancang adalah bangunan Pondokan Mahasiswa
bertingkat dua dengan data-data sebagai berikut :
1) Luas bangunan : 12.5 x 12 m
2) Jarak antar portal : 4m, 4m, 4m
3) Panjang bangunan : 12.5 m
4) F’c : 20 MPa
5) Fy (tulangan utama/lentur) : 390 MPa
6) Fy (tulangan sengkang/geser) : 250 MPa

4.2 Preliminary Desain


4.2.1 Dimensi Balok
Berdasarkan peraturan SNI-03-2847-2013 Pasal 9.5(a) tebal minimum balok
non
prategang adalah sebagai berikut:
Tabel 4.1 tebal minimum balok non-prategang atau pelat satu arah bila
lendutan tidak dihitung
Menghitung Dimensi Balok Lantai dan Dak
 Portal melintang

Gambar 4.1 Tampak Atas Portal

 Balok Lantai
1) Melintang
Untuk balok A1 (satu ujung menerus)
𝑙 𝑓𝑦 500 390
ℎ= (0,4 + 700) = 18,5 (0,4 + 700) = 25,869 ≈ 30
18.5
2
𝑏 = 3 ℎ = 17,246 ≈ 20
𝑏
Diambil = 20⁄30

Untuk balok A5 (kedua ujung menerus)


𝑙 𝑓𝑦 450 390
ℎ= (0,4 + 700) = (0,4 + 700) = 20,510 ≈ 25
18.5 21
2
𝑏 = 3 ℎ = 13,673 ≈ 15
𝑏
Diambil = 15⁄25

2) Memanjang
Untuk balok A2 (satu ujung menerus)
𝑙 𝑓𝑦 400 390
ℎ= (0,4 + 700) = 18,5 (0,4 + 700) = 20,695 ≈ 25
18.5
2
𝑏 = 3 ℎ = 13,797 ≈ 15
𝑏
Diambil = 15⁄25

Untuk balok A13 (kedua ujung menerus)


𝑙 𝑓𝑦 𝑙 390
ℎ= (0,4 + 700) = 21 (0,4 + 700) = 18,231 ≈ 20
21
2
𝑏 = 3 ℎ = 12,154 ≈ 15
𝑏
Diambil = 15⁄20

Gambar 4.2 Tampak Atas Portal

 Balok Dak
 Melintang
Untuk balok A1 (satu ujung menerus)
𝑙 𝑓𝑦 500 390
ℎ= (0,4 + 700) = 18,5 (0,4 + 700) = 25,869 ≈ 30
18.5
2
𝑏 = 3 ℎ = 17,246 ≈ 20
𝑏
Diambil = 20⁄30

Untuk balok A5 (kedua ujung menerus)


𝑙 𝑓𝑦 450 390
ℎ= (0,4 + 700) = (0,4 + 700) = 20,510 ≈ 25
18.5 21
2
𝑏 = 3 ℎ = 13,673 ≈ 15
𝑏
Diambil = 15⁄25

 Memanjang
Untuk balok A2 (satu ujung menerus)
𝑙 𝑓𝑦 400 390
ℎ= (0,4 + 700) = 18,5 (0,4 + 700) = 20,695 ≈ 25
18.5
2
𝑏 = 3 ℎ = 13,797 ≈ 15
𝑏
Diambil = 15⁄25

Untuk balok A13 (kedua ujung menerus)


𝑙 𝑓𝑦 𝑙 390
ℎ= (0,4 + 700) = 21 (0,4 + 700) = 18,231 ≈ 20
21
2
𝑏 = 3 ℎ = 12,154 ≈ 15
𝑏
Diambil = 15⁄20

Untuk perhitungan dimensi balok lainnya, lihat pada Tabel 4.2 Hasil
Perhitungan Dimensi Balok Lantai dan Dak.

Tabel 4.2 Hasil Perhitungan Dimensi Balok


Dari tabel 4.2 dapat kita rencanakan dimensi balok Lantai adalah (b/h) =
20/30 dan dimensi balok untuk Dak = 20/30.

4.2.2 Dimensi Kolom


Ukuran panjang dan tinggi kolom adalah sama atau lebih dari dimensi balok
terbesar. Jadi dimensi kolom yang digunakan adalah 20⁄20 untuk semua kolom.

4.2.3 Perhitungan Tebal Pelat Lantai dan Dak


Desain tebal pelat yakni untuk pelat atau lantai kerja dengan tebal 125 mm
dan untuk pelat dak 100 mm adalah asumsi awal.
a. Perhitungan Tebal Pelat Lantai
 Lebar Efektif Balok L
Lebar efektif balok L diambil dari nilai yang paling kecil dari kedua perhitungan
B efektif.
Ukuran Balok b = 200 mm, h = 300 mm dan tp = 125 mm (Asumsi)
Be = bw + (h-tp) Be = bw + [Link]
Be = 200 + (300-125) Be = 200 + 4.125
Be = 375 mm Be = 700 mm
Sehingga Be yang digunakan adalah Be = 375 mm
375 mm
125 mm
300 mm

200 mm
Gambar 4.2 Balok L Pelat Lantai

 Lebar efektif balok T


Lebar efektif balok T diambil dari nilai yang paling kecil dari kedua perhitungan
B efektif.
Ukuran Balok b = 200 mm, h = 300 mm dan tp = 125 mm (nilai tp adalah asumsi)

Be = bw + 2 (h-tp) Be = bw + [Link]
Be = 200 + 2 .(300-125) Be = 200 + 8.125
Be = 550 mm Be = 1200 mm

Sehingga Be yang digunakan untuk balok T adalah Be = 550 mm

550 mm

125 mm
300 mm

200 mm

Gambar 4.3 Balok T Pelat Lantai


 Momen Inersia Balok dan flens

Balok L ( Ib1)
𝑏𝑒 𝑡 𝑡 𝑡 2 𝑏𝑒 𝑡
1+( −1).( ).(4−6).( )+4.( ) +( −1).( )3
𝑏𝑤 ℎ ℎ ℎ 𝑏𝑤 ℎ
Ki = 𝑏𝑒 𝑡
1+( −1).( )
𝑏𝑤 ℎ

375 125 125 125 2 375 125


1+( −1).( ).(4−6.( )+4.( ) +( −1).( )3
200 300 300 300 300 300
Kl = 375 125 = 1,6889
1+( −1).( )
200 300

𝑏𝑤.ℎ3
Ibl = Kl. 12
200.3003
Ibl = 1,6889. 12

Ibl = 759995229 mm4

Balok T ( Ib3)
550 125 125 125 2 550 125
1+( −1).( ).(4−6.( )+4.( ) +( −1).( )3
200 300 300 300 300 300
K3 = = 550 125 = 1,6857
1+( −1).( )
200 300

𝑏𝑤.ℎ3
Ibl = Kl. 12
200.3003
Ibl = 1,6857. 12

Ibl = 758546687 mm4

 Menghitung Nilai bentang bersih Ln


 Bentang arah melintang
Ln1 = L1 – ½ (bw1+bw2)
Ln1 = 5000 – ½(200 + 200)
Ln1= 4800 mm

Ln2 = L2- ½ (bw2+bw3)


Ln2 = 4500 – ½(200 + 200)
Ln2 = 4300 mm

Ln3 = L3- ½ (bw3+bw4)


Ln3 = 3000 – ½(200 + 200)
Ln3 = 2800 mm
 Bentang arah memanjang
Ln4 = L4 – ½ (bw4+bw5)
Ln4 = 4000 – ½ (200 + 200)
Ln4 = 3800 mm
Ln4 = Ln5 = Ln6 = 3800 mm

Gambar 4.4 Kode β Pada Pelat Lantai

1 Contoh Perhitungan untuk menghitung nilai β


Dengan β adalah rasio bentang bersih (ln) dalam arah panjang terhadap pendek
pelat.
𝐿𝑛1 4800
β panel 1 = 𝐿𝑛4= 3800 = 1,263
𝐿𝑛2 4300
β panel 2 = 𝐿𝑛4= 3800 = 1,132

Perhitungan selanjutnya lihat Tabel 4.5 Hasil Perhitungan Tebal Pelat.

2. Menentukan Nilai α
Momen Inersia Pelat Lantai
 Untuk L = 4000 mm
1
I= (0.5*L) tp3
12
1
I= (0.5*4000) 1253
12

I = 325520833 mm4
Nilai α untuk α2 (Balok L).
𝐸𝑏.𝐼𝑏 759995229
α= = 325520833 = 2,335
𝐸𝑠.𝐼𝑠

Nilai α untuk α4 (Balok T).


𝐸𝑏.𝐼𝑏 758546687
α= = = 2,330
𝐸𝑠.𝐼𝑠 325520833

 Untuk L = 5000 mm
1
I = 12(0.5*L) tp3
1
I= (0.5*5000) 1253
12

I = 406901042 mm4
Nilai α untuk α3 (Balok T).
𝐸𝑏.𝐼𝑏 758546687
α= = = 1,864
𝐸𝑠.𝐼𝑠 406901042

Nilai α untuk α1 (Balok L).


𝐸𝑏.𝐼𝑏 759995229
α= = 406901042 = 1,868
𝐸𝑠.𝐼𝑠

 Untuk L = 4500 mm
1
I = 12(0.5*L) tp3
1
I= (0.5*4500) 1253
12

I = 366210938 mm4
Nilai α untuk α6 (Balok T).
𝐸𝑏.𝐼𝑏 758546687
α= 𝐸𝑠.𝐼𝑠
= 366210938 = 2,071
Nilai α untuk α5 (Balok L).
𝐸𝑏.𝐼𝑏 759995229
α= = 366210938 = 2,075
𝐸𝑠.𝐼𝑠

 Untuk L = 3000 mm
1
I = 12(0.5*L) tp3
1
I= (0.5*3000) 1253
12

I = 244140625 mm4
Nilai α untuk α9 (Balok T).
𝐸𝑏.𝐼𝑏 758546687
α= = 244140625 = 3,107
𝐸𝑠.𝐼𝑠

Nilai α untuk α8 (Balok L).


𝐸𝑏.𝐼𝑏 759995229
α= = 244140625 = 3,113
𝐸𝑠.𝐼𝑠

Perhitungan selanjutnya lihat Tabel 4.5 Hasil Perhitungan Tebal Pelat.


Tabel 4.3 Hasil perhitungan nilai α pada lantai
No Α Nilai No Α Nilai
1 α1 1,868 13 α13 2,330
2 α2 2,335 14 α14 2,071
3 α3 1,864 15 α15 2,330
4 α4 2,330 16 α16 3,107
5 α5 2,075 17 α17 2,335
6 α6 2,071 18 α18 2,335
7 α7 2,330 19 α19 1,868
8 α8 3,113 20 α20 2,330
9 α9 3,107 21 α21 2,075
10 α10 2,335 22 α22 2,330
11 α11 2,335 23 α23 3,113
12 α12 1,864 24 α24 2,335

Menghitung αm tiap Panel :


αm Panel 1 = ¼ (α1 + α2 + α3 + α4)
= ¼ (1,868 + 2,335 + 1,864 + 2,330)
= 2,099
αm Panel 2 = ¼ (α3 + α5 + α6 + α7)
= ¼ (1,864 + 2,075+ 2,071 + 2,330)
= 2,202

Untuk hasil perhitungan Panel lainnya, lihat Tabel 4.4 Hasil Perhitungan
αm Panel.
Tabel 4.4 Hasil Perhitungan αm Panel

Berdasarkan SNI 03-2847-2013


Untuk αm > 2,0 ..... tp min = 9 cm; Ln = 2800 dan β = 1,357
𝑓𝑦
Ln (0,8 + )
h≥ 1400
36+9.𝛽
390
2800 (0,8 + )
1400
125 mm ≥ 36+9.1,357

125 mm ≥ 62,637 mm .... Aman!

Untuk 0,2 < αm < 2,0 ..... tp min = 9 cm; Ln = 4800 dan β = 1,263
𝑓𝑦
Ln (0,8 + )
h ≥ 36+5.𝛽(αm−0,2)
1400

390
4800 (0,8 + )
1400
125 mm ≥ 36+ 9.1,267(1,868−0,2)

125 mm ≥ 111,253 mm .... Aman!


Diambil h = 125 mm atau 12,5 cm

Tabel 4.5 Hasil Perhitungan Tebal minimum pelat lantai

Solusi agar tebal pelat lantai dikatakan aman adalah dengan


menggunakan tebal pelat lantai sebesar 125 mm.

b. Perhitungan Tebal Pelat Dak


1. Menghitung Lebar Efektif
 Lebar Efektif Balok L
Lebar efektif balok L diambil dari nilai yang paling kecil dari kedua
perhitungan B efektif.
Ukuran Balok b = 200 mm, h = 300 mm dan tp = 100 mm (Asumsi)
Be = bw + [Link]
Be = bw + (h-tp)
Be = 200 + 4.(100)
Be = 200 + (300-100)
Be = 600
Be = 400 mm
Sehingga Be yang digunakan adalah Be = 400 mm

400

300

200
Gambar 4.5 Balok L Pada Dak
 Lebar efektif balok T
Lebar efektif balok L diambil dari nilai yang paling kecil dari kedua
perhitungan B efektif.
Ukuran Balok b = 200 mm, h = 200 mm dan tp = 100 mm (Asumsi)
Be = bw + [Link]
Be = bw + 2 (h-tp)
Be = 200 + 8.(100)
Be = 200 + 2 (300-100)
Be = 1000 mm
Be = 600 mm

Sehingga Be yang digunakan untuk balok T adalah Be = 600 mm


600 mm

300
mm

200 mm
Gambar 4.6 Balok T Pelat Dak
2. Momen Inersia Balok dan flens

Balok L ( Ib1)
𝑏𝑒 𝑡 𝑡 𝑡 2 𝑏𝑒 𝑡
1+( −1).( ).(4−6).( )+4.( ) +( −1).( )3
𝑏𝑤 ℎ ℎ ℎ 𝑏𝑤 ℎ
Ki = 𝑏𝑒 𝑡
1+( −1).( )
𝑏𝑤 ℎ

400 100 100 100 2 400 100


1+( −1).( ).(4−6.( )+4.( ) +( −1).( )3
200 300 300 300 200 300
Kl = 400 100 = 1,6111
1+( −1).( )
200 300

𝑏𝑤.ℎ3
Ibl = Kl. 12
200.3003
Ibl = 1,6111. 12

Ibl = 725000000 mm4

Balok T ( Ib3)
600 100 100 100 2 600 100
1+( −1).( ).(4−6.( )+4.( ) +( −1).( )3
200 300 300 300 200 300
Kl = 600 100 = 1,7111
1+( −1).( )
200 300

𝑏𝑤.ℎ3
Ibl = Kl. 12
200.3003
Ibl = 1,7111.
12

Ibl = 770000000 mm4


Gambar 4.7 Kode β Pada Pelat Dak

3. Menghitung Nilai bentang bersih Ln

 Menghitung Nilai bentang bersih Ln


 Bentang arah melintang
Ln1 = L1 – ½ (bw1+bw2)
Ln1 = 5000 – ½(250 + 250)
Ln1= 4800 mm

Ln2 = L2- ½ (bw2+bw3)


Ln2 = 4500 – ½(200 + 200)
Ln2 = 4300 mm
Ln3 = L3- ½ (bw3+bw4)
Ln3 = 3000 – ½(200 + 200)
Ln3 = 2800 mm

 Bentang arah memanjang


Ln4 = L4 – ½ (bw4+bw5)
Ln4 = 4000 – ½ (200 + 200)
Ln4 = 3800 mm
Ln4 = Ln5 = Ln6 = 3800 mm

Gambar 4.4 Kode β Pada Pelat Dak


2 Contoh Perhitungan untuk menghitung nilai β
Dengan β adalah rasio bentang bersih (ln) dalam arah panjang terhadap pendek
pelat.
𝐿𝑛1 4800
β panel 1 = 𝐿𝑛4= 3800 = 1,263
𝐿𝑛2 4300
β panel 2 = 𝐿𝑛4= 3800 = 1,132

Perhitungan selanjutnya lihat Tabel 4.4 Hasil Perhitungan Tebal Pelat.


3. Menentukan Nilai α
Momen Inersia Pelat Dak
Untuk L = 4000 mm
1
I = 12(0.5*L) tp3
1
I= (0.5*4000) 1003
12

I = 166666667 mm4
Nilai α untuk α2 (Balok L).
𝐸𝑏.𝐼𝑏 725000000
α= = 166666667 = 4,350
𝐸𝑠.𝐼𝑠

Nilai α untuk α4 (Balok T).


𝐸𝑏.𝐼𝑏 770000000
α= = = 4,620
𝐸𝑠.𝐼𝑠 166666667

 Untuk L = 5000 mm
1
I = 12(0.5*L) tp3
1
I= (0.5*5000) 1003
12

I = 208333333 mm4
Nilai α untuk α3 (Balok T).
𝐸𝑏.𝐼𝑏 725000000
α= = 208333333 = 3,696
𝐸𝑠.𝐼𝑠

Nilai α untuk α1 (Balok L).


𝐸𝑏.𝐼𝑏 725000000
α= = = 3,480
𝐸𝑠.𝐼𝑠 208333333

 Untuk L = 4500 mm
1
I = 12(0.5*L) tp3
1
I= (0.5*4500) 1003
12

I = 187500000 mm4
Nilai α untuk α6, α14 (Balok T).
𝐸𝑏.𝐼𝑏 725000000
α= = 187500000 = 4,107
𝐸𝑠.𝐼𝑠

Nilai α untuk α5 (Balok L).


𝐸𝑏.𝐼𝑏 725000000
α= 𝐸𝑠.𝐼𝑠
= 187500000
= 3,867

 Untuk L = 3000 mm
1
I = 12(0.5*L) tp3
1
I= (0.5*3000) 1003
12

I = 125000000 mm4
Nilai α untuk, α9 (Balok T).
𝐸𝑏.𝐼𝑏 725000000
α= = 125000000 = 6,160
𝐸𝑠.𝐼𝑠

Nilai α untuk α8 (Balok L).


𝐸𝑏.𝐼𝑏 725000000
α= = 125000000 = 5,800
𝐸𝑠.𝐼𝑠

Perhitungan selanjutnya lihat Tabel 4.5 Hasil Perhitungan Tebal Pelat.


Tabel 4.3 Hasil perhitungan nilai α pada Dak
No Α Nilai No Α Nilai
1 α1 3,480 13 α13 4,620
2 α2 4,350 14 α14 4,107
3 α3 3,696 15 α15 4,620
4 α4 4,620 16 α16 6,160
5 α5 3,867 17 α17 4,350
6 α6 4,107 18 α18 4,350
7 α7 4,620 19 α19 3,480
8 α8 5,800 20 α20 4,620
9 α9 6,160 21 α21 3,867
10 α10 4,350 22 α22 4,620
11 α11 4,350 23 α23 5,800
12 α12 3,696 24 α24 4,350

Menghitung αm tiap Panel :


αm Panel 1 = ¼ (α1 + α2 + α3 + α4)
= ¼ (3,480 + 4,350 + 3,696 + 4,620)
= 4,037
αm Panel 2 = ¼ (α3 + α5 + α6 + α7)
= ¼ (3,696 + 3,867 + 4,107 + 4,620)
= 4,304
Untuk hasil perhitungan Panel lainnya, lihat Tabel 4.4 Hasil Perhitungan
αm Panel
Tabel 4.4 Hasil Perhitungan αm Panel

Berdasarkan SNI 03-2847-2013


Untuk αm > 2,0 ..... tp min = 9 cm; Ln = 4800 dan β = 1,263
𝑓𝑦
Ln (0,8 + )
h≥ 1400
36+9.𝛽
390
4800 (0,8 + )
1400
100 mm ≥ 36+9.1,263

100 mm ≤109,295 mm .... Tidak aman!

Untuk αm > 2,0 ..... tp min = 9 cm; Ln = 3800 dan β = 1,132


𝑓𝑦
Ln (0,8 + )
h≥ 1400
36+9.𝛽
390
3800 (0,8 + )
1400
100 mm ≥ 36+9.1,132

100 mm ≥ 88,744 mm .... Aman!


Lihat Tabel 4.5 untuk nilai tebal pelat minimum untuk Dak.

Tabel 4.5 Hasil Perhitungan Tebal minimum pelat Dak


Solusi agar tebal pelat lantai dikatakan aman adalah dengan
menggunakan tebal pelat lantai sebesar 110 mm.
Tabel 4.9 Hasil Preliminary Desain

Dimensi
No Perhitungan
B (cm) H (cm)
1 Balok lantai 20 30
2 Balok dak 20 30
3 Kolom 20 20
4 Pelat Lantai Tebal = 12,5 Cm
5 Pelat Dak Tebal = 11 Cm
4.2.4 Pembebanan Berdasarkan SNI 1727-2013 Pasal 4.1
Gambar 4.8 Tabel 4.10 beban hidup pada lantai gedung SNI 1727 – 2013
Pasal 4.1
Gambar 4.9 Beban mati pada lantai gedung SNI 1727 – 2013
Gambar 4.10 Beban mati pada lantai gedung PPURG 1987

[Link] Pembebanan Pelat Lantai Perpustakaan


 Beban pada Balok Lantai 1

Beban pada pelat lantai dipengaruhi oleh:


 Beban mati
Berat sendiri ubin = 24 kg/m2
Berat Plesteran = 21 kg/m2
Berat plafond = 11 kg/m2
Berat penggantung = 7
kg/m2cccc
qDL = 63 kg/m2
 Beban hidup
Beban hidup untuk perpustakaan/kantor :
Ruang Baca = 292.66
2
kg/m
Ruang Penyimpanan = 732.16
2
kg/m
Ruang Komputer = 488.44
2
kg/m
Ruang Kantor = 244.73
kg/m2

 Beban dinding setengah bata ( h= 3,8 m)


q’ = 250 x (3,8-0,35)) = 862,5
2
kg/m

 Beban pada Balok Lantai 2

Beban pada pelat lantai dipengaruhi oleh:


 Beban mati
Berat sendiri ubin = 24 kg/m2
Berat Plesteran = 21 kg/m2
Berat plafond = 11 kg/m2
Berat penggantung = 7
kg/m2cccc
qDL = 63 kg/m2
 Beban hidup
Beban hidup untuk perpustakaan/kantor :
Ruang Baca = 292.66
2
kg/m
Ruang Penyimpanan = 732.16
2
kg/m
Ruang Komputer = 488.44
2
kg/m
Ruang Rapat (Ruang pertemuan kursi dapat dipindahkan) = 488.44
kg/m2

 Beban dinding setengah bata ( h= 3,8 m)


q’ = 250 x (3,8-0,35)) = 862,5
kg/m2

[Link] Pembebanan Pelat Dak


 Beban pada Balok Dak

Beban pada pelat dak dipengaruhi oleh:


 Beban mati

Berat plafond = 11 kg/m2


Berat penggantung = 7 kg/m2
qDL = 28 kg/m2

 Beban hidup

Beban air hujan = 40 kg/m2


Beban hidup pada atap = 100 kg/m2
qLL = 140 kg/m2
4.2.5 Perancangan dengan SAP 2000 V.14

Gambar 4.9 Tampilan Windows SAP2000 Ver. 14

[Link] Langkah-langkah
1) Klik New Model, tentukan Satuan dalam Kg dan Meter. Pilih 3D Frames

Gambar 4.10 Menentukan Model Struktur

2) Input data bangunan berupa jumlah bentang, dan tinggi bangunan


Gambar 4.11 Penginputan Jumlah Bentang Struktur
3) Klik Kanan Mouse – Edit Grid Data untuk modifikasi tampak bangunan
agar sesuai dengan rencana

Gambar 4.12 Memasukkan Jumlah Bentang dan Tinggi Bangunan


4) Klik Define -Material – add new material, pilih Concrete. Input data
elastisitas = 4700 x√𝑓𝑐 ′ , Poisson Ratio = 0,3 dan Weight per Unit Volume (berat
volume = 0 karena beban sendiri dihitung terpisah secara manual). Ganti nama
default menjadi Beton 20 MPa sesuai data perencanaan

Gambar 4.13 Memilih Material

 Define -Material – add new material, pilih Rebar untuk Tulangan Lentur
input nilai Fy = 390 MPa dengan Fu = 1.5 x Fy = 585 MPa, E = 200000 MPa
Gambar 4.14 Membuat Material Tulangan Lentur

 Define -Material – add copy material, pilih Rebar untuk Tulangan Geser,
ganti nilai input Fyh = 250 MPa dan Fuh = 1.5 x Fy = 375 MPa
Gambar 4.15 Membuat Material untuk Tulangan Geser

5) Define – Section Properties – Frame Section – Add New Property. Pilih


Concrete-Rectangular
Gambar 4.16 Membuat Dimensi Balok

Input dimensi balok sesuai Preliminary Design. Pilih material Beton 20 MPa.
Digunakan balok 20/30 untuk lantai
Gambar 4.17 Memasukkan Dimensi Balok

Gambar 4.18 Memasukkan Data Penguatan Beton untuk Balok

Gambar 4.19 Mengatur Pengubahan untuk Balok


 Untuk balok 20/30 untuk dak

Gambar 4.20 Membuat Balok Dak

 Untuk kolom 20/20

Gambar 4.21 Membuat Kolom


Gambar 4.22 Memasukkan Data Penguatan Beton untuk Kolom

Gambar 4.23 Mengatur Pengubahan untuk Kolom

6) Mendefinisikan Pelat
Pilih menu define – Section properties – area section - add new section. Ganti
section name menjadi pelat.

Gambar 4.24 Membuat Pelat Lantai = 12,5 cm

Gambar 4.25 Membuat Pelat Dak = 11 cm


7) Klik Define – Load pattern. Pastikan Beban yang bekerja hanya Beban Mati
(Dead) dengan Multiplier = 1
Beban Live (Live) dengan Multiplier = 0
Gambar 4.26 Menentukan Beban Mati dan Beban Hidup

8) Klik Define – Load Combination – Add New Combo.

Gambar 4.27 Membuat Kombinasi Beban 1


Gambar 4.28 Membuat Kombinasi Beban 2

9) Seleksi Frame, klik Assign – Frame – Frame section, pilih dimensi


penampang sesuai desain preliminary. Klik OK.

Gambar 4.29 Menyeleksi Frame


Gambar 4.30 Hasil dari Menyeleksi Frame

10) Menggambar Joint-joint perletakan


Ubah salah satu windows pada bidang xy, kemudian select semua jont pada ujung
kolom yang terletak paling [Link] assign-joint-restrains-ubah jepit.

Gambar 4.31 Menggambar Joint Perletakan


11) Menggambar Pelat Lantai dan Dak
Ubah salah satu windows pada bidang xy untuk menggambar pelat lantai dan dak.
Klik shortcut Quick Draw Area Element pada properties of object pilih pelat

Gambar 4.32 Menggambar Pelat Lantai

Gambar 4.33 Menggambar Pelat Dak


12) Seleksi Frame yang akan di beri beban. Klik Assign – Area load – Uniform
loads to frame. Input Nilai beban Uniform untuk beban mati dan hidup sesuai
perencanaan
 Untuk lantai

Gambar 4.34 Memasukkan Beban Mati

Gambar 4.35 Memasukkan Beban Hidup


 Untuk Dak

Gambar 4.36 Memasukkan Beban Mati

Gambar 4.37 Memasukkan Beban Hidup


Gambar 4.38 Hasil dari Memasukkan Beban Mati dan Beban Hidup

 Untuk mengaplikasikan beban dinding sesuai perhitungan pada balok


lantai, lakukan langkah berikut : Blok pada balok lantai - Klik Assign –
Frame Load – Distribute- Masukkan pada uniform load - Klik OK.

Gambar 4.39 Memasukkan Beban Dinding


13) Membagi Pelat
Select pelat yang akan di mesh, kemudian klik assign- area- automatic area mesh

Gambar 4.40 Membagi Pelat

Gambar 4.41 Hasil dari Membagi Pelat

14) Klik Run atau tekan F5 pada keyboard untuk memulai analisis struktur pada
frame. Periksa nilai momen, geser dan normal hasil kalkulasi analisa struktur.
Gambar 4.42 Run Analysis

Gambar 4.43 Hasil Deformasi

15) Klik Design – Concrete Design – View/Revise Preference. Ubah Design


Code menjadi ACI 318-02. Sesuaikan factor reduksi dengan SNI 03-2847-2013
tentang perencanaan struktur beton bertulang untuk gedung. Factor reduksi yang
diubah yakni sebagai berikut :
a. Phi ( Compression Spiral ) = 0,75
b. Ultilization Factor Limit = 1

Gambar 4.45 Mengubah Faktor Reduksi

16) Klik Design – Concrete Design – Select Design Combo. Klik Kombinasi 1
dan dan Kombinasi 2, kemudian add kombinasi tersebut untuk kalkulasi
penulangan balok dan kolom.

Gambar 4.46 Masukkan Kombinasi Pembebanan


17) Klik Design – Concrete Design – Start Design/Check of Structure. Setelah
Running periksa penulangan struktur dengan mengklik Design – Conctere Design
– Design Display Info untuk menampilkan Luas perlu Tulangan pada struktur.
Gambar 4.47 Mulai Desain

Gambar 4.48 Cek Struktur

Dimensi balok dan kolom diatas menggunakan ukuran 20/30 dan ukuran kolom
20/20 gagal tegangan atau kapasitas tidak sesuai desain. Maka dilakukan
perbesaran ukuran balok dan kolom balok 30/40 dan kolom 40/40.
Gambar 4.49 Perbesaran Balok dan Kolom
18) Cek struktur keseluruhan dengan mengklik toolbar Concrete Design –
Verify All member Passed. Struktur dikatakan aman jika muncul dialog text “All
Concrete frames passed the stress/capacity check or designed”

Gambar 4.50 Cek Struktur


Gambar 4.51 Desain Penulangan
4.2.6 Perbandingan Perhitungan Luas Tulangan Perlu Manual dengan
SAP2000
[Link] Perhitungan Jumlah Tulangan Berdasarkan Hasil Output SAP2000
Hasil perhitungan yang diambil merupakan hasil dari perhitungan pada
balok yang memiliki nilai Luas Tulangan Perlu terbesar baik pada lapangan
maupun pada tumpuan bentang. Balok yang menghasilkan luas tulangan perlu
terbesar adalah balok 106 yaitu balok tengah lantai 1 pada portal memanjang.
As perlu = 1050 mm2
Dicoba tulangan D22
1
(As tul. = 4 ∗ 𝜋 ∗ 𝐷2 )

Jumlah tulangan
As perlu 1172
n= = 1 = 3,08 ≈ 3 buah
As tul xπx222
4

Sehingga n yang digunakan adalah 3 buah tulangan


As terpasang = 3. 0,25.𝜋. ∅2
= 3. 0,25.𝜋. 222
= 1139,82 mm2

[Link] Validasi dengan Perhitungan Manual


[Link].1 Reduksi Momen Hasil Analisa Struktur dengan dibantu
SAP2000
Hasil perhitungan yang diambil merupakan hasil dari perhitungan
pada balok yang memiliki nilai momen baik pada lapangan maupun
pada tumpuan bentang.
Adapun kombinasi pembebanan yang digunakan:
1. Kombinasi 1 = 1,4 D
2. Kombinasi 2 = 1,2 D + 1,6 L (Kombinasi yang menghasilkan
momen terbesar)

Balok yang menghasilkan momen terbesar adalah balok 106 yaitu


pada balok tepi lantai 1 pada portal memanjang. Momen hasil output dari
SAP2000 merupakan momen di as kolom sehingga perlu direduksi agar
didapat momen desain yang bekerja pada tepi kolom. Berikut merupakan
hasil aoutput analisis struktur pada SAP2000 dan besarnya reduksi serta
momen desain.

Tumpuan Lapangan Tumpuan Luar


Dalam
Gaya Lintang Qo
128,71 135,622
(KN)
Momen Teoritis
121,4178 64,303 104.28
(KN.m)
Reduksi :
Tumpuan (1/[Link].a) 22,64 21,45
Lapangan (1/[Link].a) 5,36
Momen Desain 98,78 82,828
(KN.m) 58,94

[Link].2 Perhitungan Manual Penulangan Lentur


Pada penulangan lentur balok digunakan nilai momen desain terbesar dari
seluruh kombinasi pembebanan pada balok yang ditinjau. Dalam hal ini momen
yang terbesar adalah di tumpuan, maka :
Penulangan Balok Persegi pada Balok 30/40
Data Perencanaan:
Kuat tekan beton fc’ = 20 MPa
Tegangan leleh baja fy = 390 Mpa
𝛽1 = 0,85
Faktor reduksi kekuatan ∅ = 0,8 (untuk Lentur)
Selimut beton (ds) = 40 mm
Tulangan sengkang (∅𝑠) = 10 mm
Tulangan utama (D) = 22 mm
Lebar balok (bw) = 30 cm
Tinggi balok (h) = 40 cm
Tebal plat (hf) = 125 mm
Panjang bentang (L) = 500 cm
Momen desain tumpuan (Mdtump − 𝑟𝑒𝑑𝑢𝑘𝑠𝑖) = 98,783 kN.m
Momen desain lapangan (Mdlap − 𝑟𝑒𝑑𝑢𝑘𝑠𝑖) = 58,94 kN.m
d = h – ds - ∅s – ½ D = 400 – 40 – 10 – 0,5 (22) = 338 mm

Daerah Tumpuan:
1. Momen desain tumpuan = Mdtump = 98,783 kN.m

2. Momen nominal (Mn)

𝑀𝑢 98,783 × 106
𝑀𝑛 = = = 123479166,67 N. mm
∅ 0,8
3. Menentukan nilai k maks

600 600
0,75 ∙ (𝛽1 ∙ ) = 0,75 ∙ (0,85 ∙ ) = 0,386
600 + 𝑓𝑦 600 + 390
4. Menentukan nilai Mn1
Mn1 = 0,85 . fc’ . b . d2 . k maks . (1 - ½ . k maks )
= 0,86 . 20 . 300 . 3382 . 0,386 . (1 - ½ . 0,386)
= 181494895,88 [Link]
5. Menetukan nilai Mn2
Mn2 = Mn − Mn2
= 130350000 – 181494895,88
= -51144895,88 [Link]
Karena Mn2 < 0 , maka cukup dipakai tulangan tunggal
6. Menentukan nilai k perlu

2∙𝑀𝑛 2∙(130350000)
𝑘 = 1 − √1 − = 1 − √1 − 0,85∙20∙300∙3382 = 0,2410
0,85∙𝑓𝑐 ′ ∙𝑏∙𝑑2

7. Menentukan luas tulangan perlu


Mn 130350000
ASperlu = kperlu = 0,2410 = 1065,0416 mm2
fy∙d∙(1− ) 390∙338∙(1− )
2 2
𝐴𝑆𝑝𝑒𝑟𝑙𝑢 1065,0416
𝜌𝑝𝑒𝑟𝑙𝑢 = = = 0,0105
𝑏∙𝑑 300∙338

8. Luas tulangan maksimum (ASperlu )

0,85∙𝑓𝑐′ 600
𝜌𝑚𝑎𝑘𝑠 = 0,75 ∙ (𝛽1 ∙ ∙ (600+𝑓𝑦))
𝑓𝑦

0,85 ∙ 20 600
= 0,75 ∙ (0,85 ∙ ∙( )) = 0,0168
390 600 + 390

ASmaks = 𝜌𝑚𝑎𝑘𝑠 . 𝑏 . 𝑑
= 0,0168 . 300 . 338
= 1707,7273 mm2

9. Luas tulangan minimum (ASmin )


1,4 1,4
𝜌𝑚𝑖𝑛 = = = 0,0036
𝑓𝑦 390

𝐴𝑆𝑚𝑖𝑛 = 𝜌𝑚𝑖𝑛 . 𝑏 . 𝑑
= 0,0036 . 300 . 338
= 364 mm2

10. Kontrol Syarat Daktilitas


Syarat Daktilitas: 𝜌𝑚𝑖𝑛 ≤ 𝜌𝑝𝑒𝑟𝑙𝑢 ≤ 𝜌𝑚𝑎𝑘𝑠
Karena 𝜌𝑝𝑒𝑟𝑙𝑢 = 𝜌𝑚𝑖𝑛 = 0,0112. Maka :Karena 𝜌𝑝𝑒𝑟𝑙𝑢 = 𝜌𝑚𝑖𝑛 = 0,0112. Maka :
𝜌𝑚𝑖𝑛 ≤ 𝜌𝑝𝑒𝑟𝑙𝑢 ≤ 𝜌𝑚𝑎𝑘𝑠
𝐴𝑠𝑚𝑖𝑛 ≤ 𝐴𝑠𝑝𝑒𝑟𝑙𝑢 ≤ 𝐴𝑠𝑚𝑎𝑘𝑠
364 ≤ 1065,04 ≤ 1707,7273 (Memenuhi syarat daktilitas)

11. Menghitung Jumlah Tulangan (Ast)


1 1
Luas 1 buah tulangan = 4 . 𝜋. 𝐷2 = . 𝜋. 222 = 379,94 mm2
4

Jumlah tulangan (n) = As/Ast = 2,803 ≈ 3 buah


Digunakan 3D-22
Maka :
Luas Tulangan Terpasang (Ast)
1
Ast = n (4 . 𝜋. 𝐷 2 ) = 1139,82 mm2
12. Persentasi perbandingan perhitungan manual dan pada SAP2000 Asperlu

𝐴𝑠 𝑝𝑒𝑟𝑙𝑢 𝑆𝐴𝑃2000 − 𝐴𝑠 𝑝𝑒𝑟𝑙𝑢 𝑀𝑎𝑛𝑢𝑎𝑙


Persentasi =
𝐴𝑠 𝑝𝑒𝑟𝑙𝑢 𝑆𝐴𝑃2000
1172 − 1065,04
Persentasi = = 9,13 %
1172
Pada perbandingan perhitungan secara manual didapatkan As perlu =
1065,04 mm2, nilai tersebut lebih kecil dari pada nilai As perlu yang dihasilkan
oleh perhitungan menggunakan SAP2000 yaitu = 1172 mm2. Nilai pada
perhitungan manual dan pada SAP2000 tidak terlalu jauh dan juga pada
perhitungan tulangan menghasilkan jumlah tulangan yang sama yaitu pada
perhitungan manual di dapat jumlah tulangan 3 buah dan pada SAP2000 3 buah
dan persentasi kesalahannya yaitu 9,1 %
4.2.7 Perhitungan Penulangan Geser Balok

Gambar 4.80 Diagram Bentang 101 Pada Balok Lantai

A. Tulangan pada Lantai


diketahui :
fc’ = 20 MPa
fy = 390 Mpa
fyh = 240 MPa
b = 300 mm
h = 400 mm
d = h - ds - ∅𝑠 − 1/2 D
= 400 – 40 – 10 – 0,5(22)
= 338 mm
VD kiri = 121,9 kN
VD kanan = 116,4 kN
L = 5,5 m
• Menghitung nilai gaya geser ultimit pada lokasi kritis
 Gaya Geser pada as  Gaya Geser di depan  Gaya Geser ultimit pada
kolom (VD) tumpuan (Ru) lokasi kritis (Vu)

VD = 121,9 kN Ru Vu

𝐿𝑛 5460 𝐿𝑛

𝑐1
=
5460

400 𝐿𝑛 𝑐1 5460 400
= 2 2 2 2 − −𝑑 = − − 319
2 2 = 2530 mm 2 2 2 2
= 2730 mm =2211 mm

• Mencari nilai Ru
121,9/2730 = Ru/2530
Ru = 112,97 kN

• Mencari nilai Vu
116,4 /2530 = Vu / 2211
Vu = 101,72 kN

• Gaya geser yang ditahan tanpa tulangan geser (Vc)


Kasus lentur dan gaya aksial tarik
Ag = 300 x 400 = 120000 𝑚𝑚2
Vc = 0,17√𝑓𝑐′ bw x d x λ
Vc = 77090.679 N = 77,09 kN
ϕ Vc = 0,75 x 77,09 = 57,81 kN …. < Vu
• Jarak max sengkang :
S<0,5d
S<160
Dambil S = 150 mm

Karena Vu > ϕ Vc maka diperlukan tulangan geser, dengan gaya yang harus
ditahan oleh sengkang sebesar Vs:

= 31,99
Av pakai = 2 x asTul 10 = 157 mm2
𝐴𝑣.𝐹𝑦ℎ.𝑑
Vs = = 84,905 kN
s
√𝑓′𝑐
Nilai Vs harus lebih kecil dari (2 )bw.d
3
√𝑓′𝑐 2√25
(2 3
)bw.d = ( 3
)𝑥300𝑥338 = 302,31 kN > Vs = 84,905 kN

Dicoba øs = 10 mm (Luas 1 Kaki = 78,5 mm2)


Av = 2 x As = 2 x 78,5 mm2 = 157 mm2

Di pasang sengkang ø = 10 mm dengan jarak 150 mm (ø10- 150 mm)


 Persentasi perbandingan perhitungan manual dan pada SAP2000
157
Hasil perhitungan manual : Av/S = 150 = 1,05

Hasil output SAP : Av/S = 1,239


Karena hasil output SAP untuk penulangan geser adalah berupa luas tulangan
geser per 1 mm tanpa memperhitungkan jarak spasi antar tulangan geser. Maka hasil
perhitungan manual pun harus berupa luas tulangan geser per 1 mm sehingga hasil
penulangan manual harus dibagi dengan jarak spasi antar tulangan geser yang
direncanakan.
Adapun Persentasi Perbandingan Perhitungan Manual Penulangan Geser dengan
Perhitungan SAP 2000 yaitu :
𝐴𝑠 𝑝𝑒𝑟𝑙𝑢 𝑆𝐴𝑃2000 – 𝐴𝑠 𝑝𝑒𝑟𝑙𝑢 𝑀𝑎𝑛𝑢𝑎𝑙
𝑃𝑒𝑟𝑠𝑒𝑛𝑡𝑎𝑠𝑖 =
𝐴𝑠 𝑝𝑒𝑟𝑙𝑢 𝑆𝐴𝑃2000
1,2−1,1
𝑃𝑒𝑟𝑠𝑒𝑛𝑡𝑎𝑠𝑖 = = 8,31 %
1,2

Pada perbandingan perhitungan secara manual didapatkan As perlu = 0,848, nilai


tersebut lebih kecil dari pada nilai As perlu yang dihasilkan oleh perhitungan
menggunakan SAP2000 yaitu = 0,877 . Nilai pada perhitungan manual dan pada
SAP2000 memiliki perbedaan dengan persentasi kesalahannya yaitu 8,31 %

Anda mungkin juga menyukai