Bangkitan dan Tarikan Perjalanan Medan
Bangkitan dan Tarikan Perjalanan Medan
Disusun Oleh:
i
ii
iii
ABSTRAK
iv
ABSTRACT
Awaken and Pull is the movement of daily activities that occur for various
purposes, from the purpose of work, school and shopping. The trip generation and
attraction aims to get the number of trips generated by each origin zone that are
attracted by a destination zone based on the trip. This study aims to find out trip
generation and attraction in Medan Labuhan District. Travel time depends on the
conditions of the subdistrict activities that are reviewed, because the cause of the
trip is the human need to carry out activities. Each activity has a movement from
the origin zone and the destination zone, where the origin zone is the result of the
behavior of the movement, while the destination zone is the zone that attracts the
movement of the actors who carry out the activity. The generation and drag
method is used to predict future movements while the target to be achieved is to
identify the movement patterns found in the subdistrict area, by analyzing the
number of work objectives, school objectives. The analytical method used in the
research process uses the Furness Method. Data results obtained on growth or
generation and pull models using furness method, (E) of 1.18 based on school
objectives and 1.20 based on work objectives.
v
KATA PENGANTAR
Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Segala
puji dan syukur penulis ucapkan kehadirat Allah SWT yang telah memberikan
karunia dan nikmat yang tiada [Link] saudari nikmat tersebut adalah
keberhasilan penulis dalam menyelesaikan laporan Tugas Akhir ini yang
berjudul“Bangkitan dan Tarikan perjalan di Kecamatan Medan Labuhan”sebagai
syarat untuk meraih gelar akademik Sarjana Teknik pada Program Studi Teknik
Sipil, Fakultas Teknik, Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara (UMSU),
Medan.
Banyak pihak telah membantu dalam menyelesaikan laporan Tugas Akhir
ini, untuk itu penulis menghaturkan rasa terimakasih yang tulus dan dalam
kepada:
1. Ibu Ir Zurkiyah,M.T selaku Dosen Pembimbing I dan Penguji yang telah
banyak membimbing dan mengarahkan penulis dalam menyelesaikan Tugas
Akhir ini.
2. Ibu Ir Sri Asfiati,M.T selaku Dosen Pimbimbing II dan Penguji yang telah
banyak membimbing dan mengarahkan penulis dalam menyelesaikan Tugas
Akhir ini.
3. Bapak Andri S.T,MT selaku Dosen Pembanding I dan Penguji yang telah
banyak memberikan koreksi dan masukan kepada penulis dalam
menyelesaikan Tugas akhir ini.
4. Bapak Dr. Fahrizal Zulkarnain, ST, MSc selaku Dosen Pembanding II yang
telah banyak memberikan koreksi dan masukan kepada penulis dalam
menyelesaikan Tugas akhir ini sekaligus Ketua Prodi Teknik Sipil, Universitas
Muhammadiyah Sumatera Utara.
5. Bapak Dr. Ade Faisal, ST, MSc selaku wakil Dekan-I yang selalu baik dan
sabar menghadapi mahasiswanya.
6. Bapak Munawar Alfansury Siregar, ST, MT selaku Dekan Fakultas Teknik,
Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara.
vi
vii
DAFTAR ISI
LEMBAR PENGESAHAN ii
LEMBAR PERNYATAN KEASLIAN SKRIPSI iii
ABSTRAK iv
ABSTRACT v
KATA PENGANTAR vi
DAFTAR ISI viii
DAFTAR TABEL xi
DAFTAR GAMBAR xiii
DAFTAR NOTASI xiv
BAB 1 PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang 1
1.2. Perumusan masalah 3
1.3. Ruang lingkup penelitian 3
1.4. Tujuan Penelitian 4
1.5. Manfaat Penelitian 4
1.6. Sistematika Penulisan 4
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 6
2.1. Pengertian Transportasi 6
2.3.1 Konsep Transportasi 6
2.2. Fungsi dan Manfaat Transportasi 7
2.2.1 Fungsi Transportasi 7
2.2.2 Manfaat Transportasi 7
2.3 Jenis Transportasi dan Alat Transportasi 8
2.4 Metode Distribusi Perjalanan 9
2.5 Sistem Jaringan Jalan 11
2.6 Pola Pergerakan 14
2.6.1 Pergerakan 14
2.6.2 Karakteristik Pola Pergerakan 15
2.6.3 Bangkitan Pergerakan Tarikan Pergerakan 16
2.7 Konsep Pemodelan Bangkitan Pergerakan 19
viii
2.7.1 Konsep Metode Analisis Regresi Linear Berganda 20
2.8 Berdasarkan Tujuan Pergerakan 21
2.8.1 Berdasarkan Waktu 22
2.8.2 Berdasarkan Jenis Orang 22
2.9 Tata Guna Lahan dan Transportasi 22
2.10 Permasalahan Transportasi 24
2.11 Perencanaan transportasi 25
2.12 Sistem Transportasi Kota 26
2.13 Jaringan Transportasi 28
2.14 Migrasi 29
2.15 Sebaran Pergerakan 31
2.16 Moda Pergerakan 31
BAB 3 METODOLOGI PENELITIAN
3.1 Bagan Alir Penelitian 34
3.2 Lokasi Dan Waktu Penelitian 35
3.3 Teknik Pengumpulan Data 36
3.4 Metode Studi Kepustakaan 36
3.5 Jenis Dan Sumber Data 36
3.5.1 Data Primer 37
3.5.2 Data Sekunder 38
BAB 4 HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Populasi dan Data Sampel 46
4.2 Karakteristik Responden 49
4.2.1 Jumlah Anggota Keluarga 49
4.2.2 Anggota Keluarga yang Bekerja 50
4.2.3 Jumlah Anggota Keluarga yang Bersekolah 51
4.2.4 Jumah Kepemilikan Kenderaan 52
4.2.5 Jenis Pekerjaan 53
4.3 Generator Aktifitas 54
4.4 Analisis Bangkitan Perjalanan dengan Metode Furness 55
4.4.1 Analisa Bangkitan Berdasarkan Tujuan Sekolah 55
ix
4.4.2 Analisa Bangkitan Berdasarkan Tujuan Bekerja 55
x
DAFTAR TABEL
xi
Tabel 4.14 Data awal produksi perjalanan (tujuan bekerja) 61
Tabel 4.15 Iterasi ke 1 61
Tabel 4.16 Iterasi ke 2 61
Tabel 4.17 Iterasi ke 3 62
Tabel 4.18 Iterasi ke 4 62
Tabel 4.19 Iterasi ke 5 62
xii
DAFTAR GAMBAR
xiii
DAFTAR NOTASI
xiv
BAB 1
PENDAHULUAN
Model ini sangat dibutuhkan apabila efek tata guna lahan dan pemilikan
pergerakan terhadap besarnya bangkitan dan tarikan pergerakan berubah sebagai
fungsi waktu. Tahapan bangkitan pergerakan ini meralamalkan jumlah pergerakan
1
yang akan dilakukan oleh seseorang pada setiap zona asal dengan menggunakan
data rinci mengenai tingkat bangkitan pergerakan.
2
Wilayah-wilayah di Kecamatan Medan Labuhan dari tahun ke tahun telah
berubah sebagai akibat terjadinya pergeseran yang dramatis dari catchment area
menjadi daerah bisnis dan permukiman. Daerah-daerah tersebut saat ini menjadi
pusat-pusat kegiatan finansial dan peluang-peluang bisnis yang ekstensif dimana
kompleksitas dan diversitasnya mengalami siklus perubahan akibat beragam
pengaruh sosial dan ekonomi. Karakteristiknya mulai berubah cepat dengan
adanya hubungan waktu dan jarak yang baru berkat perjalanan yang semakin
cepat dan komunikasi elektronik yang murah.
3
pemikiran untuk mengatasinya. Untuk mendapatkan suatu sasaran yang lebih
terarah dan jelas, maka ruang lingkup dalam penelitian ini adalah :
1. Untuk mendapatkan data yang akurat maka penelitian ini hanya
menggunakan satu metode yaitu metode Furnes.
2. Agar penelitian ini dapat terarah dan sesuai dengan tujuan, maka perlunya
pembatasan masalah. Dalam penelitian ini permasalahan dibatasi pada
wilayah Kecamatan Medan Labuhan sebagai kajian penelitian.
Tujuan dari studi ini untuk mengetahui bagaimana bangkitan dan tarikan
perjalanan di Kecamatan Medan Labuhan dengan menggunakan metode Furness.
BAB 1. Pendahuluan
4
BAB 2. Tinjauan Pustaka
Bab ini menguraikan tentang metode penelitian dan model analisis deskriptif
yang digunakan, sumber dan jenis data yang akan digunakan, populasi dan sampel
yang diambil, definisi operasional, dan pengukuran variabel yang diperlukan
dalam penelitian ini.
BAB 5. Penutup
Pada bab ini merupakan bab penutup yang berisi tentang kesimpulan dan
saran, keterbatasan dan implikasi dari analisis yang telah dilakukan pada bagian
sebelumnya serta saran-saran yang berguna untuk hal-hal yang terkait dengan
penelitian ini.
5
BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA
6
2.2. Fungsi dan Manfaat Transportasi
7
proses tukar menukar antara penjual dan pembeli. Tujuan dari kegiatan ekonomi
adalah memenuhi kebutuhan manusia dengan menciptakan manfaat. Transportasi
adalah salah satu jenis kegiatan yang berhubungan dengan peningkatan kebutuhan
manusia melalui cara mengubah letak geografi orang maupun barang. Dengan
transportasi, bahan baku dibawa ke tempat produksi, dan dengan transportasi pula
hasil produksi dibawa ke pasar. Para konsumen datang ke pasar atau tempat-
tempat pelayanan yang lain (rumah sakit, pusat rekreasi, pusat perbelanjaan dan
seterusnya) dengan menggunakan transportasi .
Manfaat Sosial
Manfaat Politis
8
2. Transportasi air (sungai, danau, laut). Alat transportasi air contohnya seperti
kapal,tongkang, perahu, rakit.
3. Transportasi udara. Alat transportasi udara dapat menjangkau tempat – tempat
yang tidak dapat ditempuh dengan alat transportasi darat atau alat transportasi
laut, di samping mampu bergerak lebih cepat dan mempunyai lintasan yang
lurus, serta praktis bebas hambatan. Contoh alat transportasi udara misalnya
pesawat terbang, helicopter, balon udara, dll.
4. Transportasi Publik. Transportasi publik adalah seluruh alat transportasi di
mana penumpang tidak bepergian menggunakan kendaraannya sendiri. Alat
transportasi publik umumnya termasuk kereta dan bis, namun juga termasuk
pelayanan maskapai penerbangan, feri, taxi, dan [Link] transportasi
publik sendiri tidak dapat dilepaskan dari konsep kendaraan umum. Pengertian
kendaraan umum berdasarkan Keputusan Menteri Perhubungan Nomor. 35
Tahun 2003 Tentang Penyelenggaraan Angkutan Orang di Jalan dengan
kendaraan umum yaitu Kendaraan umum adalah setiap kendaraan bermotor
yang disediakan untuk dipergunakan oleh umum dengan dipungut bayaran baik
langsung maupun tidak lagsung.
9
2. Model seragam Pertumbuhan lalu lintas dianggap sama untuk seluruh daerah.
Kesalahan akan terjadi pada kota-kota yang mempunyai tingkat pertumbuhan
rata-rata yang tidak merata.
3. Metode Fratar; Fratar (1954) mengembangkan metode yang mencoba
mengatasi kekurangan metode seragam dan metode rata-rata. Asumsi dasar
metode ini adalah:
a. Sebaran pergerakan dari zona asal pada masa mendatang sebanding dengan
sebaran pergerakan pada masa sekarang.
[Link] pergerakan pada masa mendatang dimodifikasi dengan nilai tingkat
pertumbuhan zona tujuan pergerakan tersebut.
4. Metode Detroit. Metode ini dikembangkan bersamaan dengan pelaksanaan
pekerjaan Detroit Metropolitan Area Traffic Study dalam usaha mengatasi
kekurangan metode sebelumnya dan sekaligus mengurangi waktu operasi
komputer.
5. Metode Furness. Furness (1965) mengembangkan metode yang pada saat
sekarang sangat sering digunakan dalam perencanaan transportasi.
Metodenya sangat sederhana dan mudah digunakan. Pada metode ini, sebaran
pergerakan pada masa mendatang didapatkan dengan mengalikan sebaran
pergerakan pada saat sekarang dengan tingkat pertumbuhan zona asal atau
zona tujuan yang dilakukan secara [Link] metode ini, pergerakan
awal (masa sekarang) pertama kali dikalikan dengan tingkat pertumbuhan
zona [Link] kemudian dikalikan dengan tingkat pertumbuhan zona
tujuan dan zona asal secara bergantian (modifikasi harus di lakukan setelah
setiap perkalian) sampai total MAT (matriks asal tujuan ) untuk setiap arah
(baris atau kolom) sama dengan total MAT yang diinginkan .Dengan
menggunakan data awal MAT maka dengan metode furness dihasilkan
MAT pada pengulangan ke 1 yang didapat dengan mengalikan MAT pada
saat ini dengan tingkat pertumbuhan zona asal (Ei).
Secara matematis,metode Furness dapat dinyatakan pad persamaan 2.1:
Keterangan :
10
Tid = pergerakan pada masa mendatang dari zona asal i ke zona tujuan d
tid = pergerakan pada masa sekarang dari zona asal i ke zona tujuan d
E = tingkat pertumbuhan
Fungsi Utama dari Jalan adalah sebagai prasarana lalu lintas atau angkutan
guna mendukung kelancaran arus barang dan Jasa serta aktifitas
[Link] jalan untuk memberikan pelayanan lalu lintas secara
optimal juga erat hubungannya dengan bentuk atau dimensi dari jalan tersebut,
sedangkan faktor lain yang diperlukan agar jalan dapat memberikan pelayanan
secara optimal adalah faktor kekuatan atau konstruksi jalan (bagian jalan yang
memikul beban lalu lintas) (Dewi Handayani, 2010). Jaringan merupakan
serangkaian simpul-simpul, yang dalam hal ini berupa persimpangan / terminal,
yang dihubungkan dengan ruas-ruas jalan/trayek. Untuk mempermudah mengenal
jaringan maka ruas-ruas ataupun simpul-simpul diberi nomor atau nama tertentu.
Penomoran/penamaaan dilakukan sedemikian sehingga dapat dengan mudah
dikenal dalam bentuk model jaringan [Link] mempunyai suatu sistim jaringan
jalan yang mengikat dan menghubungkan pusat pusat pertumbuhan dengan
wilayah yang berada dalam pengaruh pelayanannya dalam suatu hubungan hirarki
(BAPPEDA, 2005). Keberadaan jaringan jalan yang terdapat dalam suatu kota
sangat menetukan pola pergerakan. Karakteristik jaringan jalan meliputi jenis
jaringan, klasifikasi, kapasitas serta kualitas [Link] jenisideal jaringan
(Morlok, 1978) adalah jaringan jalan grid (kisi-kisi), radial, cincin radial, spinal
(tulang belakang), heksagonal, dan [Link] ini menggambarkan jenis
jaringan jalan tersebut, Seperti pada gambar 2.1:
11
Gambar 2.1: jenis jaringan jalan (Morlok,1978).
Jaringan jalan grid merupakan bentuk jaringan jalan pada sebagian besar kota
yang mempunyai jaringan jalan yang telah direncanakan. Jaringan ini terutama
cocok untuk situasi dimana pola perjalanan sangat terpencar dan untuk layanan
transportasi yang samapada semua area.
Jenis jaringan radial difokuskan kepada daerah inti tertentu seperti CBD
(central business distrik). Pola jalan seperti menunjukkan pentingnya CBD
dibandingkan dengan berbagai pusat kegiatan lainnya di wilayah kota tersebut.
Jenis populer lainnya dari jaringan jalan terutama untuk jalan-jalan arteri utama,
adalah kombinasi bentuk-bentuk radial dan cincin. Jaringan jalan ini tidak saja
memberikan akses yang baik menuju pusat kota, tetapi juga cocok untuk lalu-
lintas dari dan ke pusat-pusat kota lainnya dengan memutar pusat-pusat
kemacetan.
Bentuk lain adalah jaringan jalan spinal yang biasa terdapat pada jaringan
transportasi antar kota pada banyak koridor perkotaan yang telah berkembang
pesat. Ada bentuk lainnya bersifat abstrak yang memang mingkin untuk
diterapkan tetapi tidak pernah dipakai, yaitu jaringan jalan heksagonal.
Keuntungan jaringan jalan ini adalah adanya persimpangan-persimpangan jalan
yang berpencar dan mengumpul, tetapi tanpa melintang satu sama lain secara
langsung.
Jalan mempunyai suatu sistem jaringan jalan yang mengikat dan
menghubungkan pusat-pusat pertumbuhan dengan wilayah yang berada dalam
pengaruh pelayanannya dalam suatu hubungan hirarki (Munawar, 2005). Menurut
pelayanan jasa distribusinya, sistem jaringan jalan terdiri dari :
12
1. Sistem jaringan jalan primer, yaitu sistem jaringan jalan dengan peranan
pelayanan jasa distribusi untuk pengembangan semua wilayah di tingkat
nasional dengan semua simpul jasa distribusi yang kemudian berwujud kota.
2. Sistem jaringan jalan sekunder, yaitu sistem jaringan jalan dengan peranan
pelayanan distribusi untuk masyarakat di dalam kota. Pengelompokkan jalan
berdasarkan peranannya dapat digolongkan menjadi :
a. Jalan arteri, yaitu jalan yang melayani angkutan jarak jauh dengan
kecepatan rata-rata tinggi dan jumlah jalan masuk dibatasi secara efisien.
b. Jalan kolektor, yaitu jalan yang melayani angkutan pengumpulan dan
pembagian dengan ciri-ciri perjalanan jarak dekat dengan kecepatan rata-
rata rendah dan jumlah jalan masuk dibatasi.
c. Jalan lokal, yaitu jalan yang melayani angkutan stempat dengan ciri-ciri
perjalanan jarak dekat, kecepatan rata-rata rendah dengan jumlah jalan
masuk tidak dibatasi.
Jalan perkotaan berdasarkan Manual Kapasitas Jalan Indonesia (MKJI)
merupakan jalan yang mempunyai perkembangan secara permanen dan menerus
sepanjang seluruh atau hampir seluruhnya minimal pada satu sisi jalan
[Link] itu karakeristik arus lalu-lintas puncak pada pagi hari dan sore hari
secara umum lebih tinggi dalam komposisi [Link] jalan
berkaitan dengan tingkat pelayanan [Link] pelayanan jalan tergantung
kepada arus lalu-lintas. Defenisi ini digunakan oleh Highway Capacity Manual
yang diiliustrasikan pada gambar berikut yang mempunyai enam buah tingkatan
pelayanan, yaitu :
13
Gambar 2.2: Tingkat pelayanan jalan (Tamin, 2008).
Kualitas jalan berkaitan dengan kondisi jalan dan pemukaan jalan. Jalan-jalan
sempit dengan permukaan jalan yang rusak mengakibatkan tingkat mobilitas yang
rendah, karena kenderaan tidak dapat bergerak dengan lancar, mengalami banyak
hambatan dan [Link] jalan yang baik selain memberikan kemudahan
bergerak di atas jalan raya juga terpenuhinya unsur keamanan dalam
berkendaraan.
2.6.1 Pergerakan
14
yang dapat menggambarkan pola penyebaran pusat kegiatan dalam kota (Tamin,
2000).
15
a. Pola perjalanan orang
Dalam hal ini pola penyebaran spasial yang sangat berperan adalah sebaran
spasial dari daerah industri, perkantoran dan [Link] sebaran spasial dari
ketiga jenis tata guna lahan ini sangat berperan dalam menentukan pola perjalanan
orang, terutama perjalanan dengan maksud [Link] saja sebaran spasial
untuk pertokoan dan areal pendidikan juga berperan.
b. Pola perjalanan barang
Pola perjalanan barang sangat dipengaruhi oleh aktifitas produksi dan
konsumsi, yang sangat tergantung pada sebaran pola tata guna lahan pemukiman
(konsumsi), serta industri dan pertanian (produksi). Selain itu pola perjalanan
barang sangat dipengaruhi oleh rantai distribusi yang menghubungkan pusat
produksi ke daerah konsumsi.
16
Gambar 2.3: Trip Production Dan Trip Attraction
1. Tempat bekerja
2. Kawasan perbelanjaan
17
3. Kawasan pendidikan
a. Penghasilan keluarga
d. Moda perjalanan
e. Penggunaan kenderaan
f . Saat/waktu
Dalam sistem perencanaan transportasi terdapat empat langkah yang saling terkait
satu dengan yang lain (Tamin, 1997), yaitu:
1. Bangkitan pergerakan
2. Distribusi perjalanan
3. Pemilihan moda
4. Pembebanan jaringan
Untuk lingkup penelitian ini tidak semuanya akan diteliti, tetapi hanya pada
18
a. Pendapatan
b. Pemilikan kendaraan
c. Struktur rumah tangga
d. Ukuran rumah tangga
e. Nilai lahan
f. Kepadatan daerah permukiman
g. Aksesibilitas
Empat faktor pertama (pendapatan, pemilikan kendaraan, struktur, dan ukuran
rumah tangga) telah digunakan pada beberapa kajian bangkitan pergerakan,
sedangkan nilai lahan dan kepadatan daerah permukiman hanya sering dipakai
untuk kajian mengenai zona.
2. Tarikan pergerakan untuk manusia
Faktor yang paling sering digunakan adalah luas lantai untuk kegiatan
industri, komersial, perkantoran, pertokoan dan pelayanan lainnya. Faktor lain
yang dapat digunakan adalah lapangan kerja. Akhir-akhir ini beberapa kajian
mulai berusaha memasukkan ukuran aksesibilitas.
Model dapat didefenisikan sebagai alat bantu atau media yang dapat
digunakan untuk mencerminkan dan menyederhanakan suatu realita (dunia
sebenarnya) secara terukur (Tamin, 1997), termasuk diantaranya:
1. Model fisik
2. Peta dan diagram (grafis)
3. Model statistika dan matematika (persamaan)
Semua model tersebut merupakan penyederhanaan realita untuk tujuan
tertentu, seperti memberikan penjelasan, pengertian, serta [Link]
transportasi hanya merupakan salah satu unsur dalam perencanaan
[Link], pengambil keputusan, masyarakat, administrator, peraturan
dan penegak hukum adalah beberapa unsur lainnya.
Model merupakan penyederhanaan dari keadaan sebenarnya dan model dapat
memberikan petunjuk dalam perencanaan [Link]
systemtransportasi untuk daerah-daerah terpilih seperti CBD sering dianalisis
19
dengan [Link] memungkinkan untuk mendapatkan penilaian yang cepat
terhadap alternatif-alternatif transportasi dalam suatu daerah (Morlok,
1991).Model dapat digunakan untuk mencerminkan hubungan antara sistem tata
guna lahan dengan sistem prasarana transportasi dengan menggunakan beberapa
seri fungsi atau persamaan (model matematik). Model tersebut dapat
menerangkan cara kerja sistem dan hubungan keterkaitan antar sistem secara
terukur. Salah satu alasan penggunaan model matematik untuk mencerminkan
sistem tersebut adalah karena matematik adalah bahasa yang jauh lebih tepat
dibandingkan dengan bahasa [Link] yang didapat dari penggantian kata
dengan simbol sering menghasilkan penjelasan yang jauh lebih baik dari
padapenjelasan dengan bahasa verbal (Black, 1981).
1. Variabel terikat (Y) merupakan fungsi linear dari variabel bebas (X).
2. Variabel, terutama variabel bebas adalah tetap atau telah diukur tanpa galat.
3. Tidak ada korelasi antara variabel bebas.
4. Variansi dari variabel terikat terhadap garis regresi adalah sama untuk nilai
semua variabel terikat.
5. Nilai variabel terikat harus tersebar normal atau minimal mendekati normal.
Sebagian besar studi tentang bangkitan pergerakan yang berbasis rumah tangga
20
menunjukkan bahwa variabel-variabel penting yang berkaitan dengan produksi
perjalanan seperti perjalanan ketempat kerja, sekolah dan perdagangan.
(Tamin, 1997), yaitu:
21
sangat berfluktuatif atau bervariasi sepanjang hari. Kebanyakan pergerakan pada
jam sibuk pagi merupakan pergerakan utama yang dilakukan setiap hari (untuk
bekerja dan pendidikan) yang tidak terjadi pada jam sibuk.
22
Sistem Kegiatan Sistem Jaringan
Sistem pergerakan
Sistem Kelembagaan
1. Aksesibilitas
Aksesibilitas adalah suatu kemudahan mengenai cara lokasi tata guna lahan
berinteraksi satu sama lain melalui sistem jaringan transportasi. Tahapan ini
digunakan untuk mengalokasikan masalah yang terdapat dalam sistem transportasi
dan mengevaluasi pemecahan alternatif.
2. Bangkitan pergerakan
3. Sebaran pergerakan
23
ketahui, dapat diambil langkah-langkah kebijakan untuk mempengaruhi atau
mengubah sebaran yang tidak dikehendaki. Atau merancang jaringan jalan guna
menampung volume lalu lintas taksiran tersebut.
4. Pemilihan moda
5. Pemilihan rute
Menyatakan bahwa tata guna lahan sangat terkait dengan jumlah bangkitan
perjalanan, sehingga untuk mempelajari bangkitan perjalanan kita perlu terlebih
dahulu mengetahui tataguna lahan daerah yang akan di teliti. Guna lahan
menunjukan kegiatan perkotaan yang menempati petak yang bersangkutan. Setiap
petak dapat dicirikan dengan tiga ukuran dasar, yaitu jenis kegiatan,intensitas
penggunaan dan hubungan antar guna lahan.
2. Penduduk
24
Penduduk termasuk segi utama dalam perencanaan transportasi. Dalam
seluruhlingkup perencanaan, penduduk tidak dapat diabaikan. Pelaku pergerakan
utama di jalan adalah manusia, karena itulah pengetahuan akan tingkah laku dan
perkembangan penduduk merupakan bagian pokok dalam proses perencanaan
transportasi.
1. Pertumbuhan
25
b. Bila sistem pemindahan massa tidak ekonomis lagi, dan dengan demikian perlu
koordinasi
3. Perkembangan kota
Menurut Miro (1997:5) Sistem transportasi kota dapat diartikan sebagai suatu
kesatuan daripada elemen-elemen, serta komponen-komponen yang saling
mendukung dan bekerjasama dalam pengadaan transportasi yang melayani suatu
wilayah perkotaan. Komponen utama transportasi tersebut adalah (Morlok,
1991:87-92) :
1. Manusia dan barang (yang diangkut)
2. Kendaraan dan peti kemas (alat angkut)
3. Jalan (tempat alat angkut bergerak)
4. Terminal (tempat memasukkan dan mengeluarkan yang diangkut ke dalam dan
dari alat angkut)
5. Sistem pengoperasian (yang mengatur empat (4) komponen : manusia/barang,
kendaraan/peti kemas, jalan dan terminal)
Sedangkan menurut Menheim dalam Miro (1997:5) membatasi komponen utama
transportasi menjadi tiga yaitu :
a. Jalan dan Terminal
b. Kendaraan
c. Sistem Pengelolaan
Dimana ketiganya saling terkait dalam memenuhi permintaan akan
transportasi yang berasal dari manusia dan barang. Dengan telah diketahuinya
komponen utama dari transportasi, baik versi Morlok atau Menheim, maka
batasan Sistem Transportasi Kota secara umum Miro (1997:5-6) adalah gabungan
elemen-elemen jalan dan terminal (way andterminal), kendaraan (vehicle), dan
sistem pengoperasian (operation planning) yang saling berkait dan bekerjasama
dalam mengantisipasi permintaan dari manusia dan barang yang melayani wilayah
26
perkotaan. Definisi tersebut dapat dijelaskan dalam bagan alir berikut (Gambar
2.6) :
SISTEM TRANSPORTASI
MELAYANAI :
Dalam kota
Antar Kota
ASAL
Antar Propinsi TUJUAN
Pedesaan
Antar Negara
PERMINTA TRANSPORTASI
Kita telah melihat bahwa fungsi permintaan adalah suatu hubungan antara
jumlah permintaan atas suatu barang dengan harga barang tersebut. Dengan alasan
yang hampir serupa, fungsi penawaran atau (fungsi pelayanan) mempresentasikan
jumlah barang yang ingin ditawarkan oleh produsen pada tingkat harga tertentu.
Jika fungsi permintaan dan penawaran akan suatu fasilitas transportasi telah
diketahui, maka kita bisa mulai berbicara tentang konsep keseimbangan
(equilibrium).
Keseimbangan dikatakan tercapai ketika faktor-faktor yang mempengaruhi
jumlah permintaan dan juga faktor-faktor yang mempengaruhi jumlah penawaran
berada dalam kondisi yang secara statistik sama (atau bertemu di titik
keseimbangan (Khisty dan Lall, 2005:33).
27
2.13. Jaringan Transportasi
28
a. Jalan Kelas I, yaitu jalan arteri yang dapat dilalui kendaraan bermotor
termasuk muatan dengan lebar ≤ 2,50 m dan panjang ≤ 18 m serta besar MST
> 10 ton.
b. Jalan Kelas II, yaitu jalan arteri yang dapat dilalui kendaraan bermotor
termasuk muatan dengan lebar ≤ 2,50 m dan panjang ≤ 18 m serta besar MST
≤ 10 ton.
c. Jalan Kelas III A, yaitu jalan arteri atau kolektor yang dapat dilalui
kendaraan bermotor termasuk muatan dengan lebar ≤ 2,50 m dan panjang ≤18
m dan MST ≤ 8 ton.
d. Jalan Kelas III B, yaitu jalan kolektor yang dapat dilalui kendaraan bermotor
termasuk muatan dengan lebar ≤ 2,50 m dan panjang ≤12 m dan MST ≤ 8 ton.
e. Jalan Kelas III C, yaitu jalan kolektor yang dapat dilalui kendaraan bermotor
termasuk muatan dengan lebar ≤ 2,10 m dan panjang ≤ 9 m dan MST ≤ 8 ton.
f. Untuk jalan desa ialah jalan yang melayani angkutan pedesaan danwewenang
pembinaannya oleh masyarakat serta mempunyai MST kurang dari 6 ton belum
dimasukkan dalam UU No. 13 tahun 1980 maupun PP No. 43 tahun 1993.
Secara umum pola dan sistem jaringan jalan angkutan umum dapat dibedakan
atas dua (2) jenis jalan (Miro, 1997:28) yaitu :
1. Jalan umum. Jalan umum merupakan prasarana angkutan yang diperuntukkan
bagi seluruh lalu lintas umum.
2. Jalan khusus. Jalan khusus adalah prasarana angkutan yang diperuntukkan bagi
lalu lintas selain lalu lintas umum seperti jaringan jalan yang terdapat pada
komplek-komplek tertentu, misalnya jalan di komplek perkebunan, kehutanan,
jalan irigasi (saluran irigasi, gas dan pipa-pipa minyak), dll.
2.14 Migrasi
Pertumbuhan penduduk kota secara umum dapat disebabkan oleh dua faktor,
yaitu pertumbuhan alamiah dan migrasi. Pertumbuhan alamiah adalah
pertumbuhan akibat kelahiran dikurangi kematian, sedangkan pertumbuhan
migrasi adalah perpindahan penduduk dari satu daerah ke daerah lain dengan
tujuan tertentu, seperti faktor sosial, ekonomi maupun politik. Dalam penelitian
ini kajian terhadap fenomena pertumbuhan penduduk lebih disoroti dari aspek
29
[Link] terdiri dari dua jenis, yaitu migrasi permanen dan migrasi
[Link] permanen adalah perpindahan penduduk yang berakhir pada
menetapnya migran pada tujuannya, sedangkan migrasi sementara adalah
perpindahan penduduk yang tidak menetap pada tujuan migran, tetapi kembali ke
tempat semula.(Sinulingga, 1999).Interaksi antara aspek-aspek psikologis
keruangan akan menimbulkan akibat yang lain yaitu perpindahan orang-orang
dari kota yang berfasilitas lengkap tetapi padat ke kota pinggiran yang mulai
mengembangkan fasilitas-fasilitasnya.
Migrasi yang seperti ini disebut migrasi dalam kota atau kadang-kadang
disebut pergerakan bermukim. Fenomena ini dapat menjelaskan berkurangnya
jumlah penduduk dari kota yang lebih padat penduduknya dan berkembangnya
kota-kotayang relative belum padat termasuk kota-kota di pinggiran kota.
a. Perjalanan. Pergerakan satu arah dari zona asal ke zona tujuan, termasuk
pergerakan pejalan kaki.
b. Pergerakan berbasis rumah. Pergerakan yang salah satu atau kedua zona (asal
dan/atau tujuan) pergerakan tersebut adalah rumah.
c. Pergerakan berbasis bukan rumah. Pergerakan yang asal maupun tujuan
pergerakan adalah bukan rumah.
d. Bangkitan Pergerakan. Digunakan untuk suatu pergerakan berbasis rumah yang
mempunyai tempat asal dan /tujuan bukan rumah atau pergerakan yang
dibangkitkan oleh pergerakan berbasis bukan rumah.
30
e. Tarikan Pergerakan. Digunakan untuk suatu pergerakan berbasis rumah yang
mempunyai tempat asal dan/atau tujuan bukan rumah atau pergerakan yang
tertarik oleh pergerakan berbasis bukan rumah.
f. Tahapan bangkitan pergerakan. Sering digunakan untuk menetapkan besarnya
bangkitan pergerakan yang dihasilkan oleh rumah tangga (baik untuk
pergerakan berbasis rumah maupun berbasis bukan rumah) pada selang waktu
tertentu (perjam atau per hari).
31
adalah untuk membantu orang atau kelompok orang dalam menjangkau tempat
yang dikehendaki atau mengirirm barang dari tempat asal ke tempat tujuan.
Vuchic dalam Tahir (2005) membagi moda pergerakan menurut tipe dan
penggunaanya sebagai berikut :
32
4. Ciri kota atau zona, jarak dari pusat kota dan kepadatan penduduk.
Sistem pergerakan memegang peranan penting dalam menampung pergerakan
agar terciptanya pergerakan yang lancar. Pergerakan yang terjadi dalam suatu kota
sebagian besar merupakan pergerakan rutin dari tempat tinggal ke tempat
[Link] ini akan membentuk suatu pola misalnya arah pergerakan,
maksud perjalanan, pilihan moda dan pilihan rute tertentu.
33
BAB 3
METODOLOGI PENELITIAN
Kerangka pemecahan masalah sangat berguna agar dapat melihat secara jelas
langka-langka yang akan dilakukan untuk mencapai tujuan. Bagan alir dapat
dilihat pada Gambar 3.1.
Mulai
Survei Lapangan
Permasalahan
Tujuan
Pengumpulan Data
Analisa Data :
Menganalisis sebaran pergerakan atau
bangkitan menggunakan metode
furness. Furness (1965)
Hasil
Selesai
34
Gambar 3.1. Bagan Alir Penelitian
3.2 Lokasi Dan Waktu Penelitian
Pada penelitian ini yang menjadi lokasi penelitian adalah Kecamatan Medan
Labuhan tepatnya adalah:
Persimpangan Titi Papaan pada tanggal 28 Maret 2018 sampai 4 April 2018 pada
jam sibuk:
35
3.3 Teknik Pengumpulan Data
Metode pengumpulan data adalah teknik atau cara mendapatkan data yang
dibutuhkan sesuai dengan variabel-variabel yang diperlukan. Metode
pengumpulan data dalam studi ini dilakukan dengan menggunakan metode
dokumentasi, yaitu dalam memperoleh informasi bersumber pada data mengenai
hal-hal atau variabel berupa catatan, transkrip, buku, surat kabar, majalah dan
sebagainya. Data dokumentasi adalah dokumen atau catatan berupa tulisan, angka
atau gambar (Sangadji, 2010).
Cara pengumpulan data dalam studi ini dilakukan dengan melakukan survai
instansional untuk mendapatkan data yang bersumber dari tulisan, sperti buku
laporan, peraturan, dokumen dan sebagainya, sesuai dengan variabel-variabel
yang diperlukan dapat berupa angka-angka, peta, dan kebijakan atau statement
dari instansi-instansi pemerintah yang berwenang mengeluarkannya. Berbagai
data tersebut didapatkan dari Bappeda, Kantor Badan Pusat Statistik, Dinas
Perhubungan dan lain-lain.
Data adalah segala fakta dan angka yang dapat dijadikan bahan untuk
menyusun suatu informasi. Data dapat dibedakan menjadi data primer dan data
sekunder. Data primer adalah sumber data penelitian yang diperoleh secara
langsung dari sumber asli (tidal melalui perantara). Sedangkan data sekunder
merupakan data yang bukan diusahakan sendiri dalam pengumpulannya,
diperoleh dari instansi atau institusi lain yang terkait dan sumber data tambahan
yang berasal dari buku, majalah ilmiah, jurnal ataupun arsip (Sangadji, 2010:170).
36
Dalam penulisan tugas akhir ini, sumber data yang digunakan adalah data
sekunder dan data primer.
Menurut sifatnya data yang digunakan terdiri dari data kualitatif dan data
kuantitatif. Data kualitatif adalah data yang berupa pendapat atau judgement
sehingga tidak berupa angka, tetapi berupa kata atau kalimat. Sedangkan data
kuantitatif adalah data yang berupa angka ataupun tabel angka.
Data primer (primary base data) adalah data yang diperoleh secara langsung
dari sumber penelitian (responden) melalui penyebaran angket yang berisi daftar
pertanyaan yang harus dijawab oleh responden meliputi asal-tujuan,dan data lain
yang terkait.
Langkah 1. Data yang telah terkumpul berdasarkan survei lapangan dicek kembali
kelengkapannya agar data yang diperoleh valid.
Langkah 2. Setelah data dicek reabilitasnya (tepat) dan validitasnya (benar),data
tersebut dianalisa untuk memperoleh data kendaraan dan lain-lain.
Langkah 3. Menganalisis arus pergerakan kendaraan antar zona, yaitu zona asal
dan zona tujuan.
37
Langkah 4. Menghitung pola perjalanan antar zona sekarang diproyeksikan ke
masa yang akan datang dengan menggunakan metode furness yang
digambarkan dalam bentuk tabel Matriks Asal Tujuan (MAT).
Data geometrik yang didapat pada survey yaitu pada tabel 3.1.
Selatan 8 4 - 0,5
Timur 8 4 - 1
a. Geografis
38
Data geografis Kecamatan Medan Labuhan yang dilakukan penelitain yaitu
dilihat pada table 3.2.
Tabel 3.2: Luas Kelurahan di Medan Labuhan (BPS Kecamatan Medan labuhan,
2016).
Kelurahan Luas KM²
Kecamatan Medan Labuhan adalah bagian dari Kota Medan yang mempunyai
luas wilayah sekitar 41,275 km².
Besar 14,54
Tangkahan 14,55
Martubung 19,38
b. Pemerintahan
39
Kecamatan Labuhan dipimpin oleh seorang Camat, saat ini terdiri dari 6
kelurahan yang terbagi atas 100 lingkungan.
Tahun 2016, Kecamatan Medan Labuhan memiliki total 98 pegawai negeri
sipil yang sebagian besar dialokasikan di kantor-kantor kelurahan yakni sebanyak
34 pegawai. Bila dirinci menurut golonan, dari 29 pegawai negeri sipil di kantor-
kantor kelurahan se Kecamatan Medan Labuhana, ternyata sebagian besar peg wai
negeri sudah bergolongan III yaitu sebanyak 70 pegawai. Jumlah pegawai negeri
sipil terbanyak berada di Kelurahan Besar.
Kelurahan 6
Lingkungan 100
c. Penduduk
Bila di Lihat dari kelurahan, Sei Mati memliki luar yang terbesar yakni 12,87
km² sedangkan Pekan Labuhan memiliki Luas terkecil yakni 3,6 km²
40
bandingkan antara jumlah penduduk serta luas wilayahnya, maka Kelurahan
Pekan Labuhan merupakan kelurahan terpadat yaitu 7.755 jiwa tiap km².
d. Ketenaga kerjaan
Dari total jumlah penduduk Kecamatan Medan Labuhan pada Tahun 2016,
tercatat sebanyak 65.971 orang yang bekerja.
Sebanyak 2.650 orang atau 4,00 persen bekerja sebagai pegawai negeri,
sebanyak 14.160 orang atau 21,40 persen bekerja sebagai pegawai swasta,
sebanyak 640 orang atau 1,00 persen bekerja sebagai ABRI, sebanyak 2813
orang atau 4,20 persen bekerja sebagai Petani, sebanyak 5.116 orang atau 7,70
persen bekerja sebagai nelayan, sebanyak 7.681 orang atau 11,64 persen bekerja
sebagai pedagang, sebanyak 3323 orang atau 5,00 persen berstatus sebagai
pensiun dan sebanyak 29.538 orang atau 44,77 persen bekerja pada kegiatan
lainnya.
41
Tabel 3.7: Komposisi Mata Pencaharian Penduduk di Kecamatan Medan Labuhan
Tahun 2016 Jiwa (BPS Kecamatan Medan Labuhan, 2016).
Jenis Pekerjaan Jumlah Jenis Pekerjaan Persen (%)
PNS 2.650 4
Pegawai swasta 14.160 21,40
ABRI 640 1.00
Petani 2813 4,20
Nelayan 5.116 7,70
Pedagang 7.681 11,64
Pensiunan 3323 5,00
Lainnya 29.538 44,77
Jumlah 65.971 100%
e. Pendidikan
TK 18
SD 49
42
SLTP 28
SLTA 17
SMK 5
f. Kesehatan
Table 3.9: Statistik Kesehatan Kecamatan Medan Labuhan Tahun 2016 (BPS
Kecamatan Medan Labuhan, 2016).
Jenis Fasilitas Kesehatan Jumlah
43
Praktek Bidan 33
g. Perumahan
Selain Listrik dan PAM, ada pula Gas Negara yang dikonsumsi oleh
masyarakat di Kecamatan Medan Labuhan yakni sebanyak 978 pelanggan.
Tabel 3.10: Jumlah Pelanggan Listrik Negara, PAM dan GAS Negara di
Kecamatan Medan Labuhan Tahun 2016 (BPS Kecamatan Medan Labuhan,
2016).
Kelurahan Listrik Negara PAM Gas Negara
44
BAB 4
Tabel 4.1: Data sampel sementara untuk pengambilan data sampel yang
sebenarnya.
No No Produksi perjalanan
Produksi perjalanan perhari
Sampel Sampel perhari
1 5 51 3
2 3 52 5
3 5 53 3
4 5 54 5
5 8 55 4
6 4 56 5
45
Table 4.1: Lanjutan.
7 6 57 3
8 6 58 5
9 6 59 4
10 5 60 5
11 4 61 4
12 3 62 6
13 6 63 5
14 6 64 6
15 5 65 5
16 4 66 4
17 6 67 4
18 7 68 4
19 4 69 7
20 5 70 5
21 4 71 7
22 5 72 5
23 4 73 6
24 6 74 8
25 4 75 4
26 5 76 5
27 4 77 5
28 4 78 4
29 8 79 5
30 6 80 4
31 6 81 5
32 5 82 3
33 6 83 4
34 6 84 8
35 4 85 7
36 5 86 5
37 6 87 5
38 5 88 6
39 6 89 5
40 4 90 4
41 4 91 4
42 4 92 4
43 5 93 5
44 4 94 4
45 5 95 3
46
Table 4.1: Lanjutan.
No No Produksi perjalanan
Produksi perjalanan perhari
Sampel Sampel perhari
46 5 96 7
47 5 97 5
48 6 98 4
49 6 99 6
50 4 100 4
jumlah 254 243
jumlah
total 497
Tabel 4.2: Deskripsi statistik data sampel untuk uji kecukupan data.
Produksi Perjalanan/Keluarga/Hari
N Minimum Maksimum Mean Std. deviasi
100 3 8 4,97 1,167
Uji kecukupan data dimaksud untuk memastikan bahwa data yang diambil
adalah data yang akurat dan jumlah sampel yang diambil dapat mewakili populasi
yang ada. Spesifikasi tingkat kepercayaan 95% kemungkinan sampling error tidak
lebih dari 5% dari sampel mean. Untuk convident level (z) 95% dari tabel statistik
diperoleh angka 1,96 dari standart error. Agar error yang diterima tidak lebih dari
5% maka jumlah sampel data harus dicari dengan perhitungan sebagai berikut:
Sampling error (Se) yang dapat diterima = 0,05 × rata-rata produksi perjalanan
= 0,05× 4,97 perjalanan/kel/hari
= 0.248
Maka: Se(x) = Se/z
= 0.248/1,96
= 0.126
Besarnya jumlah sampel:
n’ = (s2) / [se(x)]
= (1,167)2 / [0.126]
=85
n = (n’) / [(1+ (n’/N)] , untuk populasi yang terbatas
= (85) / [(1+ (85/26.131) = 85
47
Dari hasil perhitungan diatas dapat diambil kesimpulan bahwa jumlah data
sampel yang harus dipenuhi adalah 85 sampel. Atau boleh dilebihkan menjadi 100
sampel.
b. Menurut tabel yang dibuat oleh Morgan dan Kreajcie jumlah sampel yang
dibutuhkan dalam penelitian ini jumlah populasi 546 adalah berkisar 200
sampel.
c. Menurut Guys dalam buku sampel yang dibutuhkan dalam suatu penelitian
dengan populasi >30 sampel yang harus diambil adalah 10% dari jumlah
populasi.
Dari hasil kuesioner data jumlah anggota keluarga dalam satu rumah tangga
sebagai mana yang ditunjukkan pada Tabel 4.3.
48
Tabel 4.3: Jumlah anggota keluarga.
Anggota Keluarga
2-3 orang 3-4 orang 5-6 orang 7-8 orang
34 42 18 6
Dari data anggota keluarga yang paling banyak dalam satu rumah tangga
diperoleh dari hasil kuisioner yaitu 3 sampai 4 orang sebanyak 42 kuisioner, dan
yang paling sedikit yaitu keluarga yang memiliki anggota keluarga 7 sampai 8
orang sebanyak 6 kuisioner.
6%
18% 34%
42%
Dari hasil kuesioner data jumlah anggota keluarga yang bekerja dalam satu
rumah tangga sebagai mana yang ditunjukkan pada Tabel 4.4.
49
Tabel 4.4: Lanjutan
34 47 12 7
Dari data anggota keluarga yang bekerja paling banyak dalam satu rumah
tangga diperoleh dari hasil kuisioner yaitu 2-3 orang sebanyak 47 kuisioner , dan
yang paling sedikit kuisioner yaitu >5 orang sebanyak 7 kuisioner.
7%
12%
34%
47%
Dari hasil kuesioner data jumlah anggota keluarga dalam satu rumah tangga
sebagai mana yang ditunjukkan pada Tabel 4.3.
50
Dari data anggota keluarga yang besekolah paling banyak dalam satu rumah
tangga diperoleh dari hasil kuisioner yaitu 2-3 orang sebanyak 47 kuisioner, dan
yang paling sedikit yaitu keluarga yang memiliki anggota keluarga >5 orang
sebanyak 5 kuisioner
5%
20% 29%
46%
Dari hasil kuesioner data jumlah kepemilikan kenderaan dalam satu rumah
tangga sebagai mana yang ditunjukkan pada Tabel 4.6.
51
Dari data kepemilikan kenderaan yang paling banyak dalam satu rumah
tangga diperoleh dari hasil kuisioner yaitu 1-2 buah sebanyak 43 kuisioner, dan
yang paling sedikit yaitu keluarga yang memiliki kenderaan 5-6 sebanyak 5
kuisioner.
Jumah Kepemilikan
Kenderaan
tidak ada 1-2 buah 3-4 buah 5-6 buah
5% 12%
39%
44%
Dari hasil kuesioner data jenis pekerjaan satu rumah tangga sebagai mana
yang ditunjukkan pada Tabel 4.7.
Dari data jenis pekerjaan paling banyak dalam satu rumah tangga diperoleh
dari hasil kuisioner yaitu pegawaiswasta / petani sebanyak 40 kuisioner, dan
yang paling sedikit yaitu pegawai negeri/BUMN sebanyak 11 kuisioner.
52
Jenis Pekerjaan
pegawai negeri /BUMN pegawai swasta/ petani wiraswasta lain-lain
27% 11%
39%
23%
Dari survey yang dilakukan pada simpang Titipapan yang menjadi generator
aktifitas bagi masyarakat yang tinggal di kawasan kecamatan Medan Labuhan
yaitu:
a. Tujuan Bekerja
b. Tujuan Sekolah
53
4.4 Analisis Bangkitan Perjalanan dengan Metode Furness
Jumlah produksi perjalanan yang paling banyak terdapat pada tujuan sekolah
maka yang akan di analisi pada penelitian ini adalah pada tujuan sekolah. Analisa
dapat di lihat pada Tabel 4.8 sampai dengan tabel 4.13
C 27 31 46 47 22 10 183 3 549
D 28 26 38 53 23 2 170 2,5 425
E 33 34 34 24 56 4 185 2 370
F 22 15 23 13 22 12 107 2 214
Total 203 186 193 225 169 33
Kenaikan 2 3 3 2 2 2
Prediksi 406 558 579 450 338 66
54
Tabel 4.10: Iterasi 2
TUJUAN
Seharusny
A B C D E F Total a [Link]
A 101 142,03 73,446 68,073 41,229 3,3 429,5863 426 0,99165
B 83,7 91,309 80,790 106,86 56,691 7,4 426,8136 438 1,02620
ASAL
55
Tabel 4.13: Lanjutan
D 56,87 79,32 112 110,8 52,37 4,026 411,8123
E 57,96 89,71 86,9 2,873 110,2 6,964 347,8199
F 36,60 37,49 55,73 22,2 1,086 19,79 153,1952
Total 389,6 534,6 553,1 428,8 322,6 63,27 2292,295
Seharusnya 406 558 579 450 338 66 2397
[Link] 1,041999 1,043666 1,046714 1,04921 1,047496 1,043023 1,04567673
Pada iterasi ke-5 angka kenaikan sudah stabil yaitu 1,04 dimana angka
toleransi atau faktor koreksi tidak boleh lebih dari 5% sehingga iterasi dapat
dihentikan, dikarenakan sudah empat iterasi sebelumnya angka kenaikan sudah
stabil dan tidak mengalami perubahan. Dimana factor koreksi 5% yaitu 0,95 > 1 <
1.05. Maka kenaikan bangkitan perjalanan pada masa mendatang sudah
didapatkan yaitu pada Tabel 4.13
C 25 39 32 38 12 2 148 3 444
D 28 26 38 73 5 2 172 2,5 430
E 30 45 20 14 57 4 170 2 340
F 10 15 10 10 13 12 70 2 140
Total 185 175 184 178 143 25
2 3 3 2 2 2
Kenaikan
Prediksi 370 525 552 356 286 50
56
Tabel 4.15: Iterasi 1
TUJUAN
A B C D E F Total
A 92 46 108 54 108 4 408
B 138 81 90 48 6 9 363
ASAL
57
D 58,94 82,21 120,7 158,1 13,19 4,626 437,8528 420,4287 0,960205
Tabel 4.18: Lanjutan
E 50,24 113,2 50,57 3 119,6 7,36 344,0518 324,7263 0,943829
F 16,15 36,39 24,38 16,62 1,071 21,3 94,63344 92,83614 0,981007
Total 353,8 488,6 527,6 339 284,9
Pada iterasi ke-5 angka kenaikan sudah stabil yaitu 1,04 dimana angka
toleransi atau faktor koreksi tidak boleh lebih dari 5% sehingga iterasi dapat
dihentikan, dikarenakan sudah empat iterasi sebelumnya angka kenaikan sudah
stabil dan tidak mengalami perubahan. Dimana factor koreksi 5% yaitu 0,95 > 1 <
1.05. Maka kenaikan bangkitan perjalanan pada masa mendatang sudah
didapatkan yaitu pada Tabel 4.19.
A : Besar
B : Tangkahan
C : Martubung
D : Sei Mati
E : Pekan Labuhan
F : Nelayan Indah
58
BAB 5
KESIMPULAN DAN SARAN
5.1. Kesimpulan
5.2. Saran
59
DAFTAR PUSTAKA
Kecamatan Medan labuhan dalam angka 2017. Bps Kecamatan Medan Labuhan
60
LAMPIRAN
1
SURVEI PADA PENGGUNA JALAN
2
Gambar L3 : Survei pada ibu rumah tangga dan anaknya di jalan.
3
4
5
DAFTAR RIWAYAT HIDUP
RIWAYAT PENDIDIKAN