Media Trend Vol 11 No. 1 Maret 2016, Hal 1-19
Media Trend Vol 11 No. 1 Maret 2016, Hal 1-19
ABSTRACT
It is well understood that transportation improves the accessibility and
transportation is needed in production and consumption activities. This study is
aimed to describe the pattern of the movement of people and goods among
districts/cities within the Province of East Java, to estimate the density of people
and goods, and to measure the inequality of transport density. This study is also
to test whether transport affects welfare. It is found that the Malang District and
Surabaya City are the most destination of goods transport. Regression analysis
shows that the density of transport only affects the welfare (as measured by the
HDI) when together with other variables, namely poverty and GDP/capita.
However, partial density of transport has no effect on the welfare.
PENDAHULUAN
Provinsi Jawa Timur merupakan salah satu provinsi di Indonesia yang
memiliki posisi strategis karena menjadi penghubung antara kawasan barat dan
tengah dengan kawasan timur Indonesia. Posisi ini membuat arus lalu lintas
barang maupun orang dari kawasan barat ke kawasan timur atau sebaliknya
harus melalui wilayah ini. Semakin tingginya mobilitas barang dan orang dari
waktu ke waktu mencerminkan semakin intensifnya kegiatan ekonomi yang
selanjutnya dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Kinerja perekonomi-
an Jawa Timur berdasarkan tahun dasar 2010 pada triwulan II 2015 mencapai
5,3% (yoy) meningkat dibanding triwulan I 2015 sebesar 5,2% (BPS, 2015).
Pertumbuhan ini lebih tinggi dibandingkan Nasional (4,7%) dan Kawasan Jawa
(5,1%).Akan tetapi, tidak semua daerah di Provinsi Jawa Timur dapat mencapai
tingkat kesejahteraan yang tinggi. Kementerian Pembangunan Daerah Tertinggal
menyebutkan masih ada 5 kabupaten di Jawa Timur masih tergolong daerah
tertinggal, yaitu Bondowoso, Situbondo, Bangkalan, Sampang dan Pamekasan
([Link]/hal/300027).Salah satu faktor yang menyebabkan suatu
daerah sulit berkembang adalah kurangnya prasarana dan sarana, termasuk
transportasi.
Transportasi dibutuhkan untuk berpindah dan berinteraksi. Interaksi intra-
daerah maupun antardaerah dibutuhkan karena adanya saling keterkaitan dan
ketergantungan pada beberapa aktivitas di zona-zona yang berbeda, misalnya di
zona perdagangan, memerlukan pergerakan dan mobillitas barang dari zona
industri. Ini dapat menjadi faktor penarik bagi transportasi. Dengan
mengidentifikasi pergerakan antardaerah, dapat diketahui pola pergerakan
barang dan orang antardaerah. Semakin intensif pergerakan antardaerah, dapat
diartikan bahwa semakin tinggi pula tingkat ketergantungan spasial. Intensifnya
pergerakan barang dan orang juga bisa diartikan semakin tingginya tingkat
aktivitas ekonomi dan selanjutnya berdampak pada tingkat kesejahteraan
1
ISSN : 1858 - 1307
EISSN : 2460 - 7649 Media Trend Vol 11 No. 1 Maret 2016, hal 1-19
masyarakat.
Tujuan umum yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah mengungkap
ada tidaknya kesenjangan transportasi di kabupaten/kota di Provinsi Jawa Timur
dan melihat pengaruhnya terhadap kesejahteraan masyarakat. Secara khusus,
tujuan yang ingin dicapai adalah: mengukur ketimpangan kepadatan transportasi
di kabupaten/kota di Provinsi Jawa Timur; mengukur ketimpangan wilayah di
Provinsi Jawa Timur dan memperkirakan pengaruh transportasi terhadap
kesejahteraan masyarakat Jawa Timur.
Kajian literatur dalam penelitian ini meliputi: 1) Pembangunan Wilayah
dan 2) Keterkaitan, Interaksi Spasial dan Interkoneksi. Pembangunan di suatu
wilayah secara administratif dibatasi oleh ruang/space. Umumnya pembatasan
wilayah dilakukan secara administratif oleh pemerintah. Di Indonesia, pembagian
wilayah administratif dilakukan menurut wilayah provinsi, kabupaten/kota,
kecamatan, dan perdesaan/kelurahan. Situasi dan kondisi masing-masing
wilayah berbeda satu sama lain, dan tingkat kemajuan dari pembangunan
perekonomian juga berbeda.
Adanya perbedaan dalam tingkat pencapaian target-target pembangunan
menunjukkan adanya ketimpangan. Beberapa daerah mencapai tingkat
kemajuan yang cukup tinggi, di sisi lain beberapa daerah lainnya mengalami
keterbelakangan. Ketimpangan ekonomi antar wilayah dapat terjadi karena
beberapa hal (Sjafrizal 2012:119-122): 1) Perbedaan kandungan sumber daya
alam, 2) Perbedaan kondisi demografis, 3) Kurang lancarnya mobilitas barang
dan jasa, 4) Konsentrasi kegiatan ekonomi wilayah, 5) Alokasi dana
pembangunan antar wilayah.
Masing-masing daerah memiliki ragam dan kapasitas sumber daya alam
yang berbeda. Mengikuti teori Hecksher-Ohlin, suatu daerah akan memiliki
keunggulan komparatif pada output/komoditi di mana dalam proses produksinya
dilakukan secara intensif terhadap sumberdaya yang berlimpah di daerahnya.
Apabila di daerah tersebut memiliki kandungan minyak dan gas alam, maka
otomatis daerah tersebut unggul dalam produksi minyak dan gas alam. Daerah
yang memiliki kandungan batubara, maka daerah tersebut unggul dalam
produksi batubara. Demikian juga dengan daerah yang memiliki iklim dan tanah
yang cocok untuk lahan perkebunan kelapa sawit, maka akan unggul dalam
produksi kelapa sawit.
Kegiatan produksi yang dilakukan oleh masyarakat menghasilkan produk
yang bisa dikonsumsi sendiri (subsisten) ataupun dijual/diperdagangkan. Hasil
produksi yang diperdagangkan memerlukan prasarana dan sarana untuk
memindahkan barang/output dari lokasi produksi ke lokasi konsumen, distributor,
atau pasar. Dalam proses pemindahan produk inilah diperlukan jasa transportasi.
Elemen-elemen dalam sistem transportasi mencakup prasarana
jalan/air/udara, sarana moda yang digunakan untuk pengangkutan, sistem lalu
lintas, dan tempat tunggu serta tempat pemberhentian. Kegiatan perdagangan
merupakan proses penukaran atau transaksi antara penjual dan pembeli. Penjual
berkepentingan dengan transportasi dalam memindahkan produk, konsumen
berkepentingan dengan transportasi dalam perjalanannya dari lokasi pemukiman
ke lokasi penjualan, konsumen juga berkepentingan dengan transportasi dalam
perjalanannya untuk bekerja di lokasi produksi barang/jasa dalam rangka
memperoleh pendapatan. Sistem transportasi yang efisien akan mempercepat
mobilitas manusia dan barang dan mempercepat roda perekonomian.
2
-
ISSN : 1858 - 1307
Media Trend Vol 11 No. 1 Maret 2016, hal 1-19 E-ISSN : 2460 - 7649
3
ISSN : 1858 - 1307
EISSN : 2460 - 7649 Media Trend Vol 11 No. 1 Maret 2016, hal 1-19
4
-
ISSN : 1858 - 1307
Media Trend Vol 11 No. 1 Maret 2016, hal 1-19 E-ISSN : 2460 - 7649
untuk telekomunikasi, 0,13 untuk listrik dan 0,21 untuk jalan. Di sisi lain, korelasi
antara kualitas infrastruktur dengan pertumbuhan ekonomi juga positif; 0,12
untuk telekomunikasi dan listrik, serta 0,17 untuk jalan. Baik dari segi kuantitas
maupun kualitas, infrastruktur transportasi mempunyai pengaruh paling besar
terhadap pertumbuhan ekonomi dibanding infrastruktur lainnya.
Selain memperkirakan pengaruh infrastruktur terhadap pertumbuhan
ekonomi, Calderon dan Serven juga mengukur pengaruh infrastruktur terhadap
ketimpangan distribusi pendapatan. Ketimpangan distribusi pendapatan diukur
dengan koefisien Gini, yang nilainya antara 0 s/d 1. Koefisien Gini sama dengan
0 berarti distribusi pendapatan merata sempurna, dan koefisien Gini sama
dengan 1 berarti ada ketimpangan sempurna. Mereka menemukan bahwa
infrastruktur berpengaruh negatif terhadap koefisien Gini. Artinya bahwa
pembangunan infrastruktur yang semakin baik akan semakin memperbaiki
distribusi pendapatan menuju distribusi yang lebih merata. Pengaruh kuantitas
infrastruktur terhadap koefisien Gini ditemukan -0,39 untuk telekomunikasi, -0,44
untuk listrik dan -0,48 untuk jalan dan -0,57 untuk rel. Sedangkan pengaruh
kualitas infrastruktur terhadap koefisien Gini ditemukan -0,34 untuk
telekomunikasi, -0,26 untuk listrik dan -0,55 untuk transportasi. Hasil temuan ini
menunjukkan bahwa infrastruktur transportasi paling berpengaruh terhadap
pemerataan distribusi pendapatan dibanding infrastruktur lainnya.
Selanjutnya Calderon (2010) mengungkapkan adanya ketimpangan
akses terhadap infrastruktur antar kelompok negara; yaitu kelompok negara-
negara industri, Asia Timur, Amerika Latin dan negara-negara berpenghasilan
menengah selain Asia Timur. Ia menemukan bahwa ketimpangan infrastruktur
terjadi pada infrastruktur telekomunikasi, transportasi, listrik, air bersih dan
sanitasi, baik secara kuantitas mapupun kualitas. Calderon menemukan bahwa
akses infrastruktur di negara-negara Amerika Latin relatif berada di bawah
kelompok negara lainnya. Akses terhadap fixed telephone, di negara industri
mencapai 92,5; Asia Timur 51,8; negara berpenghasilan menengah selain Asia
Timur 50,9 dan Amerika Latin 46,6 (hampir setengah dari negara industri).
Ketimpangan juga terjadi pada akses transportasi, di mana di negara-negara
industri akses transportasi 93,7; Asia Timur 85,3; negara berpenghasilan
menengah selain Asia Timur 76; dan Amerika Latin 64,3.
METODE PENELITIAN
Penelitian ini dilakukan untuk lingkup wilayah Propinsi Jawa Timur
dengan fokus pembahasan pada pola pergerakan orang dan barang
antarkabupaten/kota. Selanjutnya dianalisis ketimpangan transportasi dan juga
ketimpangan ekonomi wilayah, serta memperkirakan pengaruh transportasi
terhadap kesejahteraan masyarakat.
Data yang digunakan dalam penelitian meliputi baik data kuantitatif
maupun data kualitatif. Data kuantitatif yang digunakan meliputi: Produk
Domestik Regional Bruto (PDRB), jumlah penduduk, jumlah penumpang, jumlah
muatan barang, panjang jalan, Indeks Pembangunan Manusia (IPM) dan lain-
lain. Adapun data kualitatif yang digunakan antara lain arah pergerakan muatan
barang dan orang dan jaringan jalan nasional. Berdasarkan sumbernya, data
yang digunakan adalah berupa data sekunder. Data sekunder yang digunakan
dalam penelitian ini dikumpulkan dari berbagai instansi yang terkait antara lain
Dinas Perhubungan Provinsi Jawa Timurdan Badan Pusat Statistik (BPS).
5
ISSN : 1858 - 1307
EISSN : 2460 - 7649 Media Trend Vol 11 No. 1 Maret 2016, hal 1-19
Tabel 2
Pola Pergerakan Barang dan Penumpang
Tujuan
D1 D2 D3 ... Dj
Asal
O1 a11 a12 a13 ... a1j
O2 a21 a22 a23 ... a2j
O3 a31 a32 a33 ... a3j
... ... ...
Oj ai1 ai2 aij ... aij
6
-
ISSN : 1858 - 1307
Media Trend Vol 11 No. 1 Maret 2016, hal 1-19 E-ISSN : 2460 - 7649
menjadi ranking 1 ini merupakan pemasok utama perjalanan ke zona ini. Dengan
mengamati urutan-urutan ini, dapat diketahui pola intensitas pergerakan muatan
antar zona (antar kabupaten/kota).
Ketimpangan Transportasi
Sebelum dilakukan pengukuran terhadap ketimpangan transportasi,
terlebih dahulu dilakukan analisis tipologi transportasi daerah kebupaten/kota di
Provinsi Jawa Timur. Tipologi transportasi dibedakan menjadi 4 kelompok yang
diletakkan pada 4 bidang kuadran berdasarkan pada tingkat kepadatan muatan
orang dan barang, yaitu: 1) Kepadatan transportasi barang maupun penumpang
tinggi, 2) Kepadatan transportasi barang rendah, namun kepadatan transportasi
penumpang tinggi, 3) Kepadatan transportasi barang tinggi, namun kepadatan
transportasi penumpang rendah, 4) Kepadatan transportasi barang dan
penumpang keduanya rendah.
Selanjutnya dilakukan pengukuran terhadap tingkat ketimpangan
transportasi. Pendekatan yang dilakukan untuk mengukur ketimpangan
transportasi adalah menggunakan pendekatan Indeks Williamson. Formula
Indeks Williamson untuk mengukur kesenjangan adalah sebagai berikut:
∑ ( − ̅) ( )
=
̅
Dimana Vw = Indeks Variasi Williamson,ti= Kepadatan transportasi di
kabupaten/kota i, ̅ = Kepadatan transportasi rata-rata provinsi,ji = Panjang jalan
di kabupaten/kota i, J = Panjang jalan di Provinsi Jawa Timur.
Formula ini mengadopsi dari Indeks Williamson yang mula-mula
dicetuskan oleh Jeffrey G. Williamson (1966) untuk mengukur ketimpangan
pendapatan. Kepadatan transportasi bisa diukur dengan beberapa pendekatan,
antara lain rata-rata jumlah kendaraan untuk setiap kilometer panjang jalan,
jumlah kendaraan untuk setiap satuan waktu tertentu, ataupun volume muatan
pergerakan untuk setiap panjang jalan. Penelitian ini menggunakan pendekatan
volume muatan pergerakan rata-rata untuk setiap panjang jalan.
Ketimpangan Wilayah
Dalam ketimpangan wilayah Analisis Klassen Typology digunakan untuk
melihat gambaran tentang pola dan struktur pertumbuhan masing‐masing sektor
ekonomi. Analisis Klassen Typology mengklasifikasikan daerah berdasarkan
pada pencapaian PDRB per kapita dan tingkat pertumbuhan ekonomi daerah.
Menurut analisis tipologi daerah, daerah dibagi menjadi 4 klasifikasi, yaitu
(Sjafrizal 2012, Kuncoro 2012): 1) Daerah cepat maju dan cepat tumbuh adalah
daerah yang memiliki laju pertumbuhan ekonomi dan pendapatan perkapita
yanglebih tinggi dari rata‐rata wilayah, 2) Daerah maju tapi tertekanadalah
daerah yang memiliki pendapatan perkapita yang lebih tinggi, tetapi tingkat
pertumbuhan ekonominya lebih rendah dari rata‐rata, 3) Daerah berkembang
cepat adalah daerah yang memiliki tingkat pertumbuhan tinggi, tetapi tingkat
pendapatan perkapita lebih rendah dari rata‐rata, 4) Daerah relatif tertinggal
adalah daerah yang memiliki tingkat pertumbuhan ekonomi dan pendapatan
perkapita yang rendah.
7
ISSN : 1858 - 1307
EISSN : 2460 - 7649 Media Trend Vol 11 No. 1 Maret 2016, hal 1-19
8
-
ISSN : 1858 - 1307
Media Trend Vol 11 No. 1 Maret 2016, hal 1-19 E-ISSN : 2460 - 7649
Tabel 2
Total Bangkitan dan Total Tarikan
No Kabupaten/Kota Total Bangkitan Total Tarikan Perbedaan
1 Kab. Pacitan 15.275.442,71 16.532.326,55 (1.256.883,84)
2 Kab. Ponorogo 27.183.164,44 30.074.129,91 (2.890.965,48)
3 Kab. Trenggalek 25.155.745,77 24.909.076,63 246.669,14
4 Kab. Tulungagung 40.975.301,99 44.026.300,20 (3.050.998,21)
5 Kab. Blitar 59.833.621,76 66.065.349,05 (6.231.727,28)
6 Kab. Kediri 84.254.303,62 87.787.815,91 (3.533.512,28)
7 Kab. Malang 171.821.286,53 116.749.078,65 55.072.207,88
8 Kab. Lumajang 43.295.772,16 46.061.376,35 (2.765.604,18)
9 Kab. Jember 99.349.890,65 81.276.895,38 18.072.995,27
10 Kab. Banyuwangi 74.342.151,32 42.841.931,15 31.500.220,17
11 Kab. Bondowoso 27.022.169,44 29.867.670,86 (2.845.501,42)
12 Kab. Situbondo 23.306.439,47 22.870.888,89 435.550,58
13 Kab. Pasuruan 66.289.935,23 68.657.349,44 (2.367.414,21)
14 Kab. Probolinggo 103.783.043,55 91.861.061,46 11.921.982,08
15 Kab. Sidoarjo 85.868.142,20 85.438.528,49 429.613,71
16 Kab. Mojokerto 64.402.464,06 72.346.756,32 (7.944.292,26)
17 Kab. Jombang 48.339.252,32 54.011.385,88 (5.672.133,56)
18 Kab. Nganjuk 42.633.704,81 46.557.700,70 (3.923.995,89)
19 Kab. Madiun 31.442.667,44 34.568.065,54 (3.125.398,09)
20 Kab. Magetan 15.998.880,89 18.496.946,65 (2.498.068,76)
21 Kab. Ngawi 25.525.890,98 26.830.442,67 (1.304.531,69)
22 Kab. Bojonegoro 45.820.023,02 41.404.540,86 4.415.482,16
23 Kab. Tuban 37.729.195,51 35.627.737,17 2.101.458,34
24 Kab. Lamongan 52.257.762,88 55.866.010,59 (3.608.247,71)
25 Kab. Gresik 54.445.815,94 56.067.976,65 (1.622.160,95)
26 Kab. Bangkalan 36.136.851,94 38.784.292,43 (2.647.440,49)
27 Kab. Sampang 26.119.277,31 27.752.819,19 (1.633.541,88)
28 Kab. Pamekasan 21.008.556,09 24.580.693,48 (3.572.137,38)
29 Kab. Sumenep 25.147.418,68 24.430.317,03 717.101,65
30 Kota Kediri 10.011.347,24 13.281.515,00 (3.270.167,77)
31 Kota Blitar 4.165.454,43 5.833.135,66 (1.667.681,24)
32 Kota Malang 30.160.348,50 41.497.984,22 (11.337.635,72)
33 Kota Probolinggo 7.087.281,69 11.174.699,29 (4.087.417,60)
34 Kota Pasuruan 7.152.382,16 9.933.026,64 (2.780.644,48)
35 Kota Mojokerto 4.491.845,10 5.993.248,10 (1.501.403,00)
36 Kota Madiun 5.015.307,27 6.716.014,21 (1.700.706,94)
37 Kota Surabaya 106.183.752,85 138.685.234,56 (32.501.481,71)
38 Kota Batu 10.878.443,16 14.450.030,08 (3.571.586,93)
Sumber: Data ATTN 2011, diolah
9
ISSN : 1858 - 1307
EISSN : 2460 - 7649 Media Trend Vol 11 No. 1 Maret 2016, hal 1-19
Tabel 2 menunjukkan total bangkitan dan tarikan pergerakan barang dari dan
menuju zona asal dan zona tujuan menurut kabupaten/kota di Provinsi Jawa
Timur.
Pada Tabel 2 dapat dilihat bahwa perbedaan bangkitan dengan tarikan
ada yang positif dan ada yang negatif. Secara keseluruhan terdapat 10 daerah
yang memiliki perbedaan positif, artinya bahwa lebih banyak muatan barang
yang keluar dibanding yang datang. Kesepuluh daerah tersebut adalah
Kabupaten Trenggalek, Kabupaten Malang, Jember, Banyuwangi, Situbondo,
Pasuruan, Sidoarjo, Bojonegoro, Tuban, dan Kabupaten Sumenep.
Tabel 2 juga menunjukkan bahwa total pergerakan antar-zona di dalam
wilayah Provinsi Jawa Timur untuk muatan barang adalah sebesar
[Link] ton. Kabupaten Malang menjadi sumber pergerakan barang
terbesar di Jawa Timur, diikuti oleh Kota Surabaya, Kabupaten Pasuruan,
Kabupaten Jember dan Kabupaten Sidoarjo. Sementara itu Kota Blitar, Kota
Mojokerto, Kota Madiun, Kota Probolinggo dan Kota Pasuruan menjadi daerah
yang menjadi sumber pergerakan terkecil. Namun menjadi sumber pergerakan
terkecil tidak berarti bahwa daerah ini menjadi daerah tujuan terbesar. Enam
daerah yang menjadi zona tujuan terbesar pergerakan barang di Jawa Timur
berturut-turut adalah Kota Surabaya, Kabupaten Malang, Kabupaten Pasuruan,
Kabupaten Kediri, Kabupaten Sidoarjo dan Kabupaten Jember. Ternyata daerah-
daerah tujuan terbesar ini sekaligus juga menjadi daerah-daerah sumber
pergerakan barang terbesar. Intensitas pergerakan barang antar kabupaten/kota
ini mencerminkan besarnya arus lalu lintas yang bergerak di wilayah ini. Hal ini
juga dapat diartikan bahwa ada saling ketergantungan di antara daerah-daerah
ini. Demikian juga yang terjadi pada zona-zona tujuan terkecil. Tujuh zona
terkecil berturut-turut adalah Kota Blitar, Kota Mojokerto, Kota Madiun, Kota
Pasuruan, Kota Probolinggo, Kota Kediri dan Kota Batu. Daerah-daerah yang
menjadi zona tujuan pergerakan barang terkecil ini juga sekaligus juga menjadi
daerah-daerah yang menjadi zona asal (sumber) pergerakan barang terkecil.
Lima daerah yang menjadi tujuan utama pergerakan barang ditunjukkan
dalam Lampiran 1. Berdasarkan pada Lampiran 1, terlihat nama Kabupaten
Malang sering muncul sebagai 5 daerah tujuan pergerakan barang terbesar dari
daerah kabupaten/kota lainnya (34 kali). Daerah-daerah yang menetapkan
Kabupaten Malang sebagai daerah tujuan terbesar ada sejumlah 2 daerah yaitu
Kota Malang dan Kota Batu; yang menjadikan Kabupaten Malang sebagai
daerah tujuan pergerakan barang terbesar kedua ada sebanyak 10 daerah yaitu
Kabupaten Pacitan, Bondowoso, Nganjuk, Ngawi, Bojonegoro, Tuban, Kota
Kediri, Kota Blitar, dan Kota Probolinggo. Sementara yang menempatkan
Kabupaten Malang sebagai terbesar ketiga ada sejumlah 12 daerah, yang
menempatkan sebagai terbesar keempat ada 7 daerah dan yang menempatkan
sebagai daerah tujuan terbesar kelima ada 3 daerah.
Daerah yang menjadi lima besar tujuan pergerakan barang selanjutnya
adalah Kota Surabaya, Kabupaten Kediri dan Kabupaten Pasuruan. Daerah yang
memposisikan Kota Surabaya sebagai tujuan pergerakan barang terbesar ada
sejumlah 9 daerah, yang menempatkan sebagai tujuan terbesar kedua sebanyak
3 daerah, yang menempatkan sebagai tujuan terbesar ketiga, keempat dan
kelima berturut-turut sejumlah 3 daerah, 5 daerah dan 3 daerah. Sembilan
daerah yang menempatkan Kota Surabaya sebagai tujuan utama pergerakan
barang adalah: 1) Kabupaten Probolinggo; 2) Kabupaten Pasuruan; 3)
Kabupaten Sidoarjo; 4) Kabupaten Lamongan; 5) Kabupaten Gresik; 6)
10
-
ISSN : 1858 - 1307
Media Trend Vol 11 No. 1 Maret 2016, hal 1-19 E-ISSN : 2460 - 7649
11
ISSN : 1858 - 1307
EISSN : 2460 - 7649 Media Trend Vol 11 No. 1 Maret 2016, hal 1-19
12
-
ISSN : 1858 - 1307
Media Trend Vol 11 No. 1 Maret 2016, hal 1-19 E-ISSN : 2460 - 7649
13
ISSN : 1858 - 1307
EISSN : 2460 - 7649 Media Trend Vol 11 No. 1 Maret 2016, hal 1-19
Gambar 1
Tipologi Transportasi
Ketimpangan Wilayah
Secara umum, lebih banyak daerah kabupaten/kota yang memiliki
PDRB/kapita di bawah rata-rata provinsi. Sementara ada satu daerah yang
menonjol yaitu Kota Kediri, yang memiliki nilai PDRB/kapita jauh malampaui
PDRB/kapita rata-rata provinsi. Enam daerah lainnya yang memiliki nilai
PDRB/kapita di atas rata-rata provinsi adalah Kota Surabaya, Kota Malang,
Kabupaten Gresik, Kabupaten Sidoarjo, Kota Madiun dan Kota Mojokerto.
Perbedaan yang cukup menyolok ini mengindikasikan adanya ketimpangan
wilayah di Provinsi Jawa [Link] daerah-daerah ini diklasifikasikan
mengikuti tipologi Klassen, yang dikelompokkan berdasarkan PDRB/kapita dan
tingkat pertumbuhan ekonominya, maka diperoleh gambaran sebagai berikut:
14
-
ISSN : 1858 - 1307
Media Trend Vol 11 No. 1 Maret 2016, hal 1-19 E-ISSN : 2460 - 7649
Gambar 2
Tipologi Klassen
Daerah-daerah yang termasuk dalam tipe I, II, III, dan IV adalah sebagai
berikut:
I. Daerah cepat maju dan cepat tumbuh: Kota Surabaya, Kota Malang,
Kabupaten Gresik, Kabupaten Sidoarjo, Kota Madiun dan Kota
Mojokerto.
II. Daerah maju tapi tertekan:Kediri
III. Daerah berkembang cepat: Kabupaten Jember; Kab. Banyuwangi;
Kab. Situbondo; Kab. Pasuruan; Kab. Mojokerto; Kab. Nganjuk; Kab.
Magetan; Kab. Ngawi; Kab. Tuban; Kab. Lamongan; Kota
Probolinggo dan Kota Batu.
IV. Daerah relatif tertinggal adalah daerah yang memiliki tingkat
pertumbuhan ekonomi dan pendapatan perkapita yang rendah, yang
meliputi: Kabupaten Pacitan;Kab. Ponorogo, Kab. Trenggalek; Kab.
Tulungagung; Kab. Blitar; Kab. Kediri; Kab. Malang; Kab. Lumajang;
Kab. Bondowoso; Kab. Probolinggo; Kab. Jombang; Kab. Madiun;
Kab. Bojonegoro; Kab. Bangkalan; Kab. Sampang; Kab.
Pamekasan; Kab. Sumenep; Kota Blitar; Kota Pasuruan.
Berdasarkan perhitungan mengikuti metode Klassen, ternyata masih
banyak daerah-daerah di Jawa Timur yang tergolong dalam klasifikasi daerah
relatif tertinggal. Sementara yang tergolong dalam daerah cepat maju dan cepat
tumbuh ada 6 daerah. Keadaan ini memerlukan perhatian yang lebih intensif
untuk dapat mengembangkan perekonomian daerah.
15
ISSN : 1858 - 1307
EISSN : 2460 - 7649 Media Trend Vol 11 No. 1 Maret 2016, hal 1-19
PENUTUP
Ada 10 daerah yang menjadi pengekspor neto muatan barang. Kesepuluh
daerah tersebut adalah: Kabupaten Trenggalek, Kabupaten Malang, Kabupaten
Jember, Kabupaten Banyuwangi, Kabupaten Situbondo, Kabupaten Pasuruan,
Kabupaten Sidoarjo, Kabupaten Bojonegoro, Kabupaten Tuban, dan Kabupaten
Sumenep.
Kabupaten Malang menjadi sumber pergerakan barang terbesar di Jawa
Timur, diikuti oleh Kota Surabaya, Kabupaten Pasuruan, Kabupaten Jember dan
Kabupaten Sidoarjo. Sementara itu Kota Blitar, Kota Mojokerto, Kota Madiun,
Kota Probolinggo dan Kota Pasuruan menjadi daerah yang menjadi sumber
16
-
ISSN : 1858 - 1307
Media Trend Vol 11 No. 1 Maret 2016, hal 1-19 E-ISSN : 2460 - 7649
pergerakan terkecil.
Di samping sebagai sumber pergerakan terbesar, Kabupaten Malang juga
sering menjadi daerah tujuan pergerakan barang terbesar dari daerah
kabupaten/kota lainnya. Daerah-daerah yang menetapkan Kabupaten Malang
sebagai daerah tujuan terbesar ada sejumlah 2 daerah yaitu Kota Malang dan
Kota Batu; yang menjadikan Kabupaten Malang sebagai daerah tujuan
pergerakan barang terbesar kedua ada sebanyak 10 daerah yaitu Kabupaten
Pacitan, Bondowoso, Nganjuk, Ngawi, Bojonegoro, Tuban, Kota Kediri, Kota
Blitar, dan Kota Probolinggo.
Daerah yang menjadi lima besar tujuan pergerakan barang setelah
Kabupaten Malang adalah Kota Surabaya, Kabupaten Kediri dan Kabupaten
Pasuruan. Daerah yang memposisikan Kota Surabaya sebagai tujuan
pergerakan barang terbesar ada sejumlah 9 daerah, yang menempatkan sebagai
tujuan terbesar kedua sebanyak 3 daerah, yang menempatkan sebagai tujuan
terbesar ketiga, keempat dan kelima berturut-turut sejumlah 3 daerah, 5 daerah
dan 3 daerah. Sembilan daerah yang menempatkan Kota Surabaya sebagai
zona tujuan utama adalah: Kabupaten Probolinggo, Kabupaten Pasuruan,
Kabupaten Sidoarjo, Kabupaten Lamongan, Kabupaten Gresik, Kabupaten
Bangkalan, Kabupaten Sampang, Kabupaten Pamekasan dan Kabupaten
Sumenep.
Berdasarkan perhitungan mengikuti metode Klassen, ternyata masih
banyak daerah-daerah di Jawa Timur yang tergolong dalam klasifikasi daerah
relatif tertinggal. Sementara yang tergolong dalam daerah cepat maju dan cepat
tumbuh ada 6 daerah. Keenam daerah tersebut adalah: 1) Kota Surabaya; 2)
Kota Malang; 3) Kabupaten Gresik; 4) Kabupaten Sidoarjo; 5) Kota Madiun; dan
6) Kota Mojokerto.
Daerah yang tergolong dalam daerah maju tapi tertekan adalah Kota
Kediri; sementara yang tergolong dalam daerah berkembang cepat adalah: 1)
Kabupaten Jember; 2) Kabupaten Banyuwangi; 3) Kabupaten Situbondo; 4)
Kabupaten Pasuruan; 5) Kabupaten Mojokerto; 6) Kabupaten Nganjuk; 7)
Kabupaten Magetan; 8) Kabupaten Ngawi; 9) Kabupaten Tuban; 10) Kabupaten
Lamongan; 11) Kota Probolinggo dan 12) Kota Batu.
Daerah yang tergolong dalam daerah relatif tertinggal adalah: 1)
Kabupaten Pacitan; 2) Kabupaten Ponorogo; 3) Kabupaten Trenggalek; 4)
Kabupaten Tulungagung; 5) Kabupaten Blitar; 6) Kabupaten Kediri; 7) Kabupaten
Malang; 8) Kabupaten Lumajang; 9) Kabupaten Bondowoso; 10) Kabupaten
Probolinggo; 11) Kabupaten Jombang; 12) Kabupaten Madiun; 13) Kabupaten
Bojonegoro; 14) Kabupaten Bangkalan; 15) Kabupaten Sampang; 16) Kabupaten
Pamekasan; 17) Kabupaten Sumenep; 18) Kota Blitar; 19) Kota Pasuruan.
Kepadatan transportasi dapat mempengaruhi kesejahteraan masyarakat
yang diukur dengan IPM hanya apabila bersama-sama dengan faktor-faktor lain
seperti kemiskinan dan PDRB/kapita. Namun kepadatan transportasi tidak dapat
mempengaruhi kesejahteraan secara parsial.
17
ISSN : 1858 - 1307
EISSN : 2460 - 7649 Media Trend Vol 11 No. 1 Maret 2016, hal 1-19
DAFTAR PUSTAKA
Bank Indonesia. 2014. Kajian Ekonomi Regional Provinsi Jawa Timur TW II.
Loayza, Norman V dan Odawara, Rei. 2010. Infrastructure and Economic Growth
in Egypt. Policy Research Working Paper 5177. The World Bank Middle
East & North Africa Region Social Development Group.
18
-
ISSN : 1858 - 1307
Media Trend Vol 11 No. 1 Maret 2016, hal 1-19 E-ISSN : 2460 - 7649
Peraturan Daerah Provinsi Jawa Timur No. 5 tahun 2012 tentang Rencana Tata
Ruang Wilayah Provinsi tahun 2011-2030.
Tarigan, Robinson. 2009. Ekonomi Regional; Teori dan Aplikasi. Jakarta: Bumi
Aksara.
19