0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
9 tayangan13 halaman

Penyuluhan Keluarga tentang Psikofarmaka

Dokumen ini membahas tentang satuan acara penyuluhan (SAP) yang dilaksanakan untuk keluarga pasien gangguan jiwa. SAP ini memberikan penjelasan tentang penyakit yang diderita pasien, pentingnya kepatuhan mengkonsumsi obat, dan peran keluarga dalam mendukung pengobatan.

Diunggah oleh

Windy Viiantari
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
9 tayangan13 halaman

Penyuluhan Keluarga tentang Psikofarmaka

Dokumen ini membahas tentang satuan acara penyuluhan (SAP) yang dilaksanakan untuk keluarga pasien gangguan jiwa. SAP ini memberikan penjelasan tentang penyakit yang diderita pasien, pentingnya kepatuhan mengkonsumsi obat, dan peran keluarga dalam mendukung pengobatan.

Diunggah oleh

Windy Viiantari
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

SATUAN ACARA PENYULUHAN (SAP)

Hari/Tanggal : Minggu, 28 Oktober 2018


Waktu : 09.00 – 09.45 WITA (45 menit)
Tempat Pelaksanaan : Rumah Pasien Gangguan Jiwa
Sasaran : Keluarga Pasien
Topik Kegiatan : Pendidikan Kesehatan Psikofarmaka
Sub Topik : 1. Pengertian Penyakit yang diderita oleh Pasien
2. Pengertian Obat dan Pengobatan Ganggua Jiwa
3. Pengertian Putus Obat
4. Penyebab Terjadinya Putuis Obat
5. Masalah yang Timbul Akibat Obat
6. Upaya Keluarga untuk Menghindari Putus Obat
7. Lingkungan yang Mendukung Kepatuhan Pengobatan

A. LATAR BELAKANG
Gangguan jiwa adalah salah satu dari empat masalah kesehatan utama di
Negara maju, modern dan industri. Meskipun gangguan jiwa tersebut tidak
dianggap sebagai masalah yang menyebakan kematian secara langsung,
namun penyakit kangguan jiwa dapat menghambat pembangunan karena
terhambatnya produktivitas penderita (Hawari, 2001; Lestari & Wardhani,
2014). Gangguan jiwa adalah gangguan pada fungsi mental, yang meliputi
emosi, pikiran, prilaku, motivasi daya tilik diri dan persepsi yang
menyebabkan penurunan semua fungsi psikologis seperti minat dan motivasi,
sehingga dapat mengganggu proses hidup penderita dimasyarakat (Nasir &
Muhith, 2011).
Berdasarkan dara WHO (World Health Organization) tahun 2011,
penderita gangguan jiwa berat telah menempati tingkat yang cukup tinggi di
dunia, yakni sebanyak lebih dari 24 juta jiwa. Riset Kesehatan Dasar
(Riskesdas) pada tahun 2013 menyebutkan bahwa di Indonesia, terdapat
sekitar 1 juta pasien yang telah mengalami gangguan jiwa berat dan 19 juta
pasien mengalami gangguan jiwa ringan.
Terapi yang komperehensif dan holistikkini kini sudah mulai
dikembangkan seperti terapi obat-obatan anti skizofrenia (psikofarmaka),
psikoterapi, terapi psikososial dan terapi psikoreligius. Terapi psikofarmaka
harus diberikan dalam jangka waktu yang lama. Hal ini bertujuan untuk
menekan sekecil mungkin munculnya kekambuhan (relapse). Namun
keberhasilan terapi obat psikofarmaka pada pasien gangguan jiwa sangat
ditentukan oleh peran keluarga dan masyarakat (Hawari, 2001). Dimana
keberhasilan perawatan di rumah sakit yakni pemberian obat tidak akan
tercapai maksimal tanpa adanya peran serta dukungan keluarga.
Salah satu penyebab banyaknya pasien jiwa yang mengalami
kekambuhan saat sedang berada dalam masa terapi adalah ketidak patuhan
mengkonsumsi obat. Hal ini terjadi karena klien dengan gangguan jiwa belum
mampu mengatur dan mengetahui jadwal dan jenis obat yang tepat untuk
diminum (Nasir dan Muhith, 2011). Keluarga merupakan bagian yang penting
dalam proses pengobatan pasien jiwa. Oleh karena itu dukungan keluarga
sangat diperlukan pada penderita gangguan jiwa dalam memotivasi mereka
selama perawatan dan pengobatan (Yosep, 2010).

B. TUJUAN
1. Tujuan Instruksional Umum :
Setelah dilakukan penyuluhan diharapkan keluarga dapat memahami
tentang penyakit yang diderita pasien dan pentingnya dukungan keluarga
terjadap kepatuhan pengobatan pasien.
2. Tujuan Instruksional Khusus :
Setelah dilakukan penyuluhan selama … menit, diharapkan keluarga
mampu:
a. Memahami sedikit tentang penyakit psikologi yang diderita oleh
pasien.
b. Mengetahui pentingnya kepatuhan pengobatan pada penyakit
psikologi pasien.
c. Menjadi sistem pendukung untuk menghindari adanya putus obat pada
pasien.
d. Membentuk lingkungan untuk mendukung kepatuhan pengobatan
pasien.

C. MEDIA
Media penyuluhan dengan menggunakan leaflet (media terlampir)

D. WAKTU DAN TEMPAT


Hari / Tanggal : Minggu, 28 Oktober 2018
Jam : 09.00 – 09.45 WITA
Tempat : Rumah pasien

E. PENGORGANISASIAN
Presenter : Windy Noviantary
Moderator : Sipo Adnyana
Observer : Kartika Suryani
Fasit : Ratih Pinari

F. SETTING TEMPAT

O Peserta F

Pre Mo

G. JADWAL KEGIATAN

No. Waktu Kegiatan Mahasiswa Kegiatan Peserta


1. 5 Menit Pembukaan
a. Mengucapkan salam a. Menjawab salam
b. Perkenalan b. Memperhatikan
c. Menjelaskan tujuan c. Memperhatikan
2. 35 Menit Pelaksanaan
a. Pemberian Materi a. Mendengarkan
mengenai gangguan
jiwa, obat yang
dikonsumsi pasien
dengan gangguan jiwa,
yang dimaksud dengan
putus obat, penyebab
terjadinya putus obat,
komplikasi/efek samping
putus obat, apa yang
dilakukan keluarga untuk
menghindari putus obat,
dan lingkungan yang
mendukung agar tidak
terjadi putus obat
b. Sesi Bertanya oleh [Link]
Keluarga ke pemberi
materi
c. Sesi Menjawab [Link]
Pertanyaan Keluarga
5. 5 Menit Penutup
a. Melakukan evaluasi a. Menjawab pertanyaan
b. Menyimpulkan dan b. Memperhatikan
menutup diskusi
c. Mengucapkan salam c. Menjawab salam

H. KRITERIA EVALUASI
1. Evaluasi Struktur
 Tempat dan media serta alat penyuluhan sesuai rencana
2. Evaluasi Proses
 Peran dan tugas mahasiswa sesuai dengan perencanaan
 Peserta ikut berpartisipasi aktif dalam kegiatan
 Waktu yang direncanakan sesuai dalam pelaksanaannya
 Suasana yang mendukung
3. Evaluasi Hasil
 Peserta mampu menjelaskan definisi dari gangguan jiwa
 Peserta mampu menjelaskan pengertian dari psikofarmaka
 Peserta mampu menyebutkan 5 dari 7 klasifikasi dari psikofarmaka
 Peserta mampu menjelaskan pengertian dari putus obat
 Peserta mampu menyebutkan 6 dari 8 penyebab putus obat
 Peserta mampu menyebutkan 5 efek samping obat secara umum
 Peserta mampu menyebutkan 2 daro 4 peran keluarga untuk
mneghindari putus obat
 Peserta mampu menyebutkan lingkungan pendukung dalam
pencegahan putus obat pada pasien
DAFTAR PUSTAKA

Balitbang Kemenkes RI. (2013). Riset Kesehatan Dasar; RISKESDAS. Jakarta:


Balitbang Kemenkes RI.
David, A.T. (2004). Buku Saku Psikiatri. Editor: Tiara Mahatmi N (Edisi: 6).
Jakarta: EGC, 2003.
Dewi, G.K. (2018). Pengalaman caregiver dalam merawat klien skizofrenia di
Kota Sungai Penuh. Jurnal Endurance, 3(1), 200-212.
Hawari, D. (2001). Pendekatan Holistik Pada Gangguan Jiwa Skizofrenia. Jakarta
Indonesia:Gaya Baru
Lestari, W., & Wardhani, Y.F. (2014). Stigma dan Penanganan Penderita
Gangguan Jiwa Berat yang Dipasung. Surabaya: Pusat Humaniora,
Kebijakan Kesehatan dan Pemberdayaan Masyarakat, Badan Litbang
Kemenkes RI.
Nasir, A. & Muhith, A. (2011). Dasar-Dasar Keperawatan Jiwa, Pengantar dan
Teori. Jakarta: Salemba Medika.
Puspitasari, E. (2017). Faktor yang mempengaruhi kekambuhan orang dengan
gangguan jiwa. Jurnal Perawat Indonesia, 1(2), 58-62.
Rawa, F., Rattu, A.J. & Posangi, J. (2015). Faktor-faktor yang berhubungan
dengan kepatuhan minum obat pada penderita skizofrenia di Rumah Sakit
Jiwa Prof. DR. V. L. Ratumbuysang Provinsi Sulawesi Utara. Jurnal
Kesehatan, (1)2, 67-81.
World Health Organization (WHO). (2011). Mental health: Schizophrenia.
Retrieved from: [Link]
management/schizophrenia/en/.
Yosep, I. (2010). Keperawatan Jiwa. Bandung : Refia Aditama.
MATERI PENYULUHAN

A. Pengertian Gangguan Jiwa


Saat ini gangguan jiwa didefinisikan dan ditangani sebagai masalah
medis. Gangguan jiwa menurut Depkes RI (2010) adalah suatu perubahan
pada fungsi jiwa yang menyebabkan adanya gangguan pada fungsi jiwa yang
menimbulkan penderitaan pada individu dan hambatan dalam melaksanakan
peran sosial. Gangguan jiwa atau mental illenes adalah kesulitan yang harus
dihadapi oleh seseorang karena hubungannya dengan orang lain, kesulitan
karena persepsinya tentang kehidupan dan sikapnya terhadap dirinya sendiri-
sendiri (Budiman, 2010).
Sedangkan menurut (Maramis, 2009), gangguan jiwa adalah gangguan
alam: cara berpikir (cognitive), kemauan (volition), emosi (affective),
tindakan (psychomotor). Gangguan jiwa merupakan kumpulan dari keadaan-
keadaan yang tidak normal, baik yang berhubungan dengan fisik, maupun
dengan mental. Keabnormalan tersebut dibagi ke dalam dua golongan yaitu :
gangguan jiwa (Neurosa) dan sakit jiwa (Psikosa). Keabnormalan terlihat
dalam berbagai macam gejala yang terpenting diantaranya adalah ketegangan
(tension), rasa putus asa dan murung, gelisah, cemas, perbuatan-perbuatan
yang terpaksa (convulsive), hysteria, rasa lemah, tidak mampu mencapai
tujuan, takut, pikiran-pikiran buruk. Gangguan Jiwa menyebabkan
penderitanya tidak sanggup menilai dengan baik kenyataan, tidak dapat lagi
menguasai dirinya untuk mencegah mengganggu orang lain atau
merusak/menyakiti dirinya sendiri (Yosep, 2009). Gangguan Jiwa
sesungguhnya sama dengan gangguan jasmaniah lainnya, hanya saja
gangguan jiwa bersifat lebih kompleks, mulai dari yang ringan seperti rasa
cemas, takut hingga yang tingkat berat berupa sakit jiwa atau lebih kita kenal
sebagai gila (Budiman, 2010).

B. Pengertian Psikofarmaka
Psikofarmaka atau obat psikotropik adalah obat yang bekerja secara
selektif pada Sistem Saraf Pusat (SSP) dan mempunyai efek utama terhadap
aktivitas mental dan perilaku, digunakan untuk terapi gangguan psikiatrik
yang berpengaruh terhadap taraf kualitas hidup pasien. Obat psikotropik
dibagi menjadi beberapa golongan, diantaranya: antipsikosis, anti-depresi,
anti-mania, anti-ansietas, anti-insomnia. Pembagian lainnya dari obat
psikotropik antara lain: transquilizer, neuroleptic, antidepressants dan
psikomimetika

C. Klasifikasi Psikofarmaka
Berikut tabel yang menunjukkan klasifikasi obat psikofarmaka dengan istilah
dan obat acuan yang dipakai (Andri, 2009):
Golongan Sinonim Obat Acuan
Antipsikosis Neuroleptika, Major Chlorpromazine
Tranquillizer, Ataractics
Antidepresan Thymoleptics, Psychic Amitriptyline
energizers
Anti manik Mood modulator, mood Lithium Carbonate
stabilizer, antimanics
Anti ansietas Psycholeptics, Minor Diazepam/
tranquillizer, Anxyolitic Chlordiazepoxide
Anti insomnia Hypnotics, Somnifacient, Phenobarbital
Hipnotika
Anti obsesif konvulsif Drugs used in Chlomipramin
obsesivecompulsive
disorder
Anti panik Drugs used in panic Imipramine
disorder

D. Pengertian Putus Obat


Putus Obat adalah istilah yang digunakan untuk menggambarkan
sindrom dari efek yang disebabkan oleh penghentian pemberian obat. Hal ini
merupakan hasil dari perubahan keseimbangan (neuro) fisiologis yang
disebabkan oleh kehadiran obat. Putus obat juga merupakan seperangkat
gejala yang terjadi ketika pecandu atau seorang individu melakukan
penghentian pengunaan obat karena kecanduan atau ketergantungan yang
sudah lama digunakan Gejala putus obat ini terjadi jika pemakaian obat
dihentikan atau jika efek obat dihalangi oleh suatu antagonis. Pecandu yang
mengalami gejala putus obat akan merasakan sakit dan dapat menunjukkan
banyak gejala, seperti sakit kepala, diare atau gemetar (tremor). Gejala putus
obat dapat merupakan masalah yang seirus dan bahkan bisa berakibat fatal.

E. Penyebab Putus Obat


Pemberhentian terapi pengobatan sehingga menimbulkan kekambuhan gejala
penyakit.
Pendidikan: Menurut Stuart (2013) orang dengan pendidikan yang lebih
tinggi memiliki koping lebih baik dibandingkan orang dengan pendidikan
rendah, salah satunya dalam pengambilan keputusan pengobatan dan
perawatan kesehatan.
Ketidakpatuhan minum obat: Menurut Baiq (2014) ada beberapa faktor
mempengaruhi kepatuhan obat (1) Pasien rawat jalan atau rawat inap
dalam 72 jam menunjukkan lebih dua episode penolakan obat yang
diresepkan baik secara aktif atau pasif; adanya bukti atau kecurigaan
menyimpan atau meludahkan obat yang diberikan; pasien menunjukkan
keragu-raguan terhadap obat yang diberikan. (2) Pasien rawat inap
dengan riwayat tidak patuh pada pengobatan sewaktu rawat jalan
minimal tidak patuh selama 7 hari dalam sebulan. (3) Pasien rawat jalan
dengan riwayat ketidakpatuhan pengawasan dengan ketat oleh orang lain
dalam waktu sebulan. (4) Pasien rawat inap yang mengatakan dirinya
tidak dapat menelan obat-obatan walaupun tidak ditemukan kondisi
medis yang dapat mengakibatkan gg. menelan.
 Waktu: semakin lama pasien menderita semakin kecil kepatuhan
terhadap pengobatan, karena pasien mudah bosan, sulit diarahkan,
penurunan motivasi, kurang tanggung jawab, apatis, perawatan diri
kurang/dibantu, dan menghindari hubungna dengan orang lain.
 Jumlah dan jenis obat: Samalin (2013) semakin banyak jenis obat
yang diminum tiap hari maka penderita skizofrenia semakin tidak
patuh dengan pengobatan (Kawa dkk, 2015).
 Kurangnya perhatian keluarga: keluarga kurang mengawasi dan
peduli terhadap kepatuhan minum obat sesuai 5B yaitu benar orang,
benar waktu, benar obat, benar dosis, dan benar cara.
 Pasien merasa sudah sembuh: pasien merasa tidak sakit dan tidak
cocok dengan pengobatan medis.
 Takut efek samping: efek samping obat yang sangat mengganggu,
seperti adanya rasa berhayal saat tidur, sehingga klien merasa
semakin tidak nyaman setelah meminum obat sehingga pasien lebih
memilih jalur spiritual (Dewi, 2018).
 Jarak rumah dg RS: saat obat habis caregiver pasien sulit untuk
menjangkau RS sehingga berisiko mengalami putus obat.

F. Efek Samping Obat


a. Anti Psikotik
ESU: Mengantuk, gg. memori, kognitif, pemanjangan waktu refleks,
libido menurun, ketergantungan.
ESK:
- neurologi: tremor, parkinsonisme, akatisia
- jantung: gg. pompa jantung, hipotensi
- pencernaan & eliminasi: mulut kering, konstipasi, dan retensi urin
- psikiatorik: reaksi paradoxal, depresi
- hormonal: amenorhoe, libido menurun, galaktorhoe
ESL:
- alergi
- icterus
- neuroleptik maglinan syndrome
- lekopeni
- Agranulisitosis
- kenaikan BB
- retinitis pigmentosa
- diskinensia tardiva
b. Anti Depresan
- Gangguan hantaran jantung
- Peningkatan tekanan intra okular  glaucoma
- Mulut kering
- Sembelit
- Retensio urin  hati – hati pada oang tua / BPH (tumor prostrat)
- Orthostatik hipotensi Tremor
c. Anti Ansietas (benzodiazepine dan non benzodiazepine)
- Tremor
- Perkinsonisme
- Tortikolis (otot leher berkontraksi/ migrain)
- protusio (spasme otot lidah)
- sulit menelan
- akatisia (pergerakan kaki berlebih)
d. Anti Manik
- Tremor
- Diarhea & vomiting
- Fatique
- Konvulsi
- Oligouria
- Edema
e. Anti Insomnia
- konstipasi
- kantuk berat
- suit berkemih
- mulut dan tenggorokan kering
- mual

G. Peran Keluarga Untuk Menghindari Putus Obat


- pengawasan pemberian obat dirumah
- mengingatkan pemberian obat
- memberikan motivasi pada pasien agar terus berpikir positif terhadap
pengobatan
- mengantarkan pemeriksaan rutin pasien (Puspitasari, 2017)

H. Lingkungan Pendukung Agar Tidak Putus Obat/Lingkungan


Pendukung Untuk Pengobatan Pasien
- memberikan penjelasan terkait pentingnya obat untuk mencegah
kekambuhan melalui konseling
- memberdayakan orang terdekat pasien yang dipercaya untuk melakukan
pengawasan pengobatan.
Lampiran

Program
Studi Sarjana
Keperawatan
dan Profesi
Ners
Fakultas
Kedokteran
Universitas
Udayana

Anda mungkin juga menyukai