MAKALAH NUTRISI IKAN
KEBUTUHAN PROTEIN PADA IKAN
Dosen Pengampu; Dr. Ir. Diana Rachmawati, [Link]
Disusun oleh:
Kelompok 3
1. Ika Puspitasari 26020118130047
2. Wazna Bilqisti 26020118130048
3. Dian Nur Riski 26020118130075
4. Ninda Arum Sari 26020118130076
DEPARTEMEN AKUAKULTUR
FAKULTAS PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN
UNIVERSITAS DIPONEGORO
2019
BAB I
A. PENGERTIAN PROTEIN
Istilah protein berasal dari bahasa yunani yaitu proteos , yang berarti yang utama atau
yang didahulukan. Kata ini di perkenalkan oleh ahli kimia Belanda, gerardus mulder (1802-
1880). Ia berpendapat bahwa protein adalah zat yang paling penting dalam setiap organisme
atau senyawa organik kompleks yang tersusun atas asam amino yang mengandung unsur C
(carbon), H (hidrogen), O (oksigen), dan N (nitrogen) yang tidak dimiliki oleh lemak atau
karbohidrat.
Secara umum, protein dengan komposisi asam amino yang sama dengan tubuh ikan
mempunyai nilai nutrisi yang tinggi dalam pembuatan pakan dapat diformulasi dari beberapa
sumber protein untuk mensimulasi komposisi asam amino yang sesuai dengan asam amino
tubuh ikan. Asam amino esensial sangat dibutuhkan oleh ikan dalam pertumbuhannya, tidak
dapat dbentuk/disintesis oleh ikan serta harus tersedia dalam [Link] asam amino
non esensial dapat disintesis dalam tubuh ikan itu sendiri dengan bantuan unsur-unsur lain
dalam tubuh ikan.
Protein sangat diperlukan oleh tubuh ikan, baik untuk pertumbuhan maupun untuk
menghasilkan tenaga. Jenis dan umur ikan menentukan jumlah kebutuhan protein. Untuk
mengetahui kebutuhan energi pada ikan, harus terlebih dahulu mengetahui tingkat kebutuhan
protein optimal dalam pakan bagi petumbuhan . Kebutuhan protein pakan, jumlah pakan
yang diberikan memegang peran penting dalam efektivitas penggunaan pakan. Penyediaan
pakan buatan yang tidak sesuai dengan jumlah dan kualitas yang dibutuhkan ikan
menyebabkan laju pertumbuhan ikan menjadi terhambat dan dapat menyebabkan ikan
menjadi stress. Pemberian pakan dalam jumlah yang berlebihan menimbulkan berbagai
masalah seperti meningkatkan biaya dan menyebabkan turunnya kualitas air akibat
pencemaran. Oleh karena itu, penggunaan pakan dengan kandungan protein sesuai kebutuhan
dan dalam jumlah yang optimum akan diperoleh efisiensi pakan yang optimal dan menekan
penurunan kualitas lingkungan budidaya (Marzuqi et al., 2012)
Sebagian besar energi yang dapat dicerna (digestible energy) dalam protein juga
dapat dimetabolisme dengan lebih baik oleh tubuh ikan. Selain sebagai sumber energi,
protein pada ikan juga berfungsi memperbaiki jaringan rusak, membantu pertumbuhan ikan,
sebagai enzim, pembentuk antibody, penyembuh luka dan meregenerasi sel terutama kulit,
pengatur metabolisme tubuh, penghancur dan penetral zat-zat asing yang terdapat di dalam
tubuh dan sebagai penyeimbang asam basa dengan cairan tubuh, dengan cara menjaga
stabititas ph cairan yang ada di dalam tubuh itu sendiri. Fungsi protein yang terdapat pada
hemoglobin yang memiliki peran dalam pembentukan sel darah merah, dapat mengangkut
oksigen pada eritrosit. Sedangkan protein yang terdapat pada mioglobin akan mengangkut
oksigen pada otot. Protein dibutuhkan oleh tubuh ikan secara kontinue karena asam amino
dalam protein dibutuhkan secara terus menerus terutama untuk mengganti protein rusak
selama masa pemeliharaan dan membentuk protein baru selama masa pertumbuhan dan masa
reproduksi.
Protein merupakan nutrient yang sangat diperlukan untuk pertumbuhan dan
mempertahankan kehidupan dari semua [Link] berbagai makro-nutrien, protein
merupakan komponen paling mahal dalam pembuatan pakan khususnya untuk ikan
dikarenakan ikan membutuhkan tigkat protein yang lebih tinggi (30 hingga 55%) guna
pertumbuhan yang [Link] sedikitnya 2 penentuan dari nilai protein [Link]
adalah nilai digestibilitas atau [Link] protein tidak tercerna, protein tersebut
tidak memiliki nilai [Link] adalah komposisi kimia [Link] berbagai usaha
telah dilakukan dengan berbagai spesies ikan guna menentukan tingkat protein pakan yang
optimum.
B. PENTINGNYA PROTEIN BAGI IKAN
Sebagian besar energi yang dapat dicerna (digestible energy) dalam protein juga dapat
dimetabolisme dengan lebih baik oleh tubuh ikan. Selain sebagai sumber energi, protein pada
ikan juga berfungsi memperbaiki jaringan rusak, membantu pertumbuhan ikan, sebagai
enzim, pembentuk antibody, penyembuh luka dan meregenerasi sel terutama kulit, pengatur
metabolisme tubuh, penghancur dan penetral zat-zat asing yang terdapat di dalam tubuh dan
sebagai penyeimbang asam basa dengan cairan tubuh, dengan cara menjaga stabititas ph
cairan yang ada di dalam tubuh itu sendiri. Fungsi protein yang terdapat pada hemoglobin
yang memiliki peran dalam pembentukan sel darah merah, dapat mengangkut oksigen pada
eritrosit. Sedangkan protein yang terdapat pada mioglobin akan mengangkut oksigen pada
otot. Protein dibutuhkan oleh tubuh ikan secara kontinue karena asam amino dalam protein
dibutuhkan secara terus menerus terutama untuk mengganti protein rusak selama masa
pemeliharaan dan membentuk protein baru selama masa pertumbuhan dan masa reproduksi.
Protein merupakan unsur yang paling penting dalam penyusunan formulasi pakan
karena usaha budidaya mengharapkan pertumbuhan ikan yang cepat. Dalam hal ini
mempunyai fungsi bagi tubuh ikan yaitu:
Sebagai zat pembangun
Berperan untuk membentuk jaringan baru untuk pertumbuhan, menganti jaringan
yang rusak maupun untuk reproduksi.
Sebagai zat pengatur
Berperan untuk pembentukkan enzim dan hormon penjaga dan pengatur berbagai
proses metabolisme di dalam tubuh.
Sebagai zat pembakar
Karena unsur karbon yang terkandung didalamnya dapat difungsikan sebagai sumber
energi pada saat kebutuhan energi tidak terpenuhi oleh karbohidrat dan [Link]
protein tesusun dari sejumlah asam amino sebagai bahan dasar. Mutu protein sangat
ditentukan oleh komposisi asam amino penyusunnya komposisi ini akan berbeda antara
satu bahan dengan bahan lainnya.
Berperan dalam proses osmoregulasi di dalam tubuh.
Ketersediaan protein dibutuhkan secara terus-menerus karena asam amino digunakan
secara terus-menerus untuk membentuk protein baru.
C. SUMBER PROTEIN PADA PAKAN IKAN
Pakan merupakan sumber energi dan materi bagi pertumbuhan dan kehidupan
makhluk hidup, salah satunya ikan. Pakan buatan adalah pakan yang dibuat dengan
formulasi tertentu berdasarkan pertimbangan pembuatnya. Pembuatan pakan buatan harus
didasarkan pada pertimbangan kebutuhan nutrisi ikan yang bersangkutan, sumber dan
kualitas bahan baku, dan nilai ekonomis. Pakan ikan harus mengandung dua bahan utama
yaitu protein dan [Link] protein pada pakan ikan ada 2, yaitu sumber protein
hewani dan sumber protein nabati.
Sumber utama protein pakan ikan umumya masih bertumpu pada penggunaan tepung
ikan. Tepung ikan merupakan faktor penentu kualitas pakan buatan dan sumber protein
hewani yang banyak digunakan dalam pembuatan pakan ikan. Formulasi pakan ikan dari
berbagai tepung ikan dengan sumber bahan baku berbeda seperti ikan rucah, ikan asin, dan
kepala ikan dapat digunakan sebagai pengganti tepung ikan komersial dan dapat dijadikan
sebagai sumber protein yang dapat memberikan pertumbuhan (Utomo et al., 2013).
Dalam pembuatan pakan ikan, analisis proksimat beberapa bahan baku dan pakan
buatan pelet sangat diperlukan untuk menjaga kualitasnya, demikian halnyauntuk kebutuhan
ikan baik itu kandungan protein, lemak, serat, ekstraksi bebas nitrogen dan [Link] analisis
proksimat bahan baku pakan berupa kandungan protein,lemak, abu, dan bahan ekstrak tanpa
nitrogen (BETN).
Tepungikan,tepung bungkil kedelai, dan DDGS memiliki kandungan protein di atas 2
0%, sehinggadijadikan sebagai sumber protein pakan. SedangkanPollardmenjadi
sumberkarbohidrat [Link] dan tepung bungkil kedelai selain sebagai sumber protein
juga menjadi sumber [Link] sumber lemak pakan berasal dari DDGS dan
tepung [Link] proksimat merupakan analisis kandungan makro zat dalam
suatu bahan makanan Analisis proksimat adalah analisis yang dapat dikatakan berdasarkan pe
rkiraan saja, tetapi sudah dapat menggambarkan komposisi bahanyang dimaksud. Analisis
proksimat yang dilakukan dalam penelitian ini meliputianalisis kadar air, abu, protein, lemak,
karbohidrat, serat, dan mineral.
Tabel 1. Kandungan protein dalam sumber pakan hewani dan nabati
Sumber Pakan Kandungan Protein Sumber Pakan Kandungan
Hewani (%) Nabati Protein (%)
Tepung Ikan 61,85 Ampas Tahu 23,55
Tepung Rebon 59,4 Tepung Kedelai 46,36
Tepung Kepala Udang 53,74 Dedak Jagung 9,8
Tepung Bekicot Bungkil Kacang
54,29 47,9
Tanah
BAB II
A. KEBUTUHAN PROTEIN IKAN HERBIVORA
Sekitar 50% dari kebutuhan kalori yang diperlukan oleh ikan berasal dari protein.
Bahan ini berfungsi untuk membangun otot, sel-sel dan jaringan tubuh, terutama bagi ikan-
ikan muda. Kebutuhan protein sendiri bervariasi tergantung pada jenis ikannya. Umumnya,
ikan membutuhkan protein lebih banyak dari pada hewan-hewan ternak di darat. Ikan
karnivora membutuhkan protein yang lebih banyak dibandingkan ikan herbivora dan ikan
omnivora. Ikan herbivora lebih banyak memanfaatkan karbohidrat sebagai sumber energi
dibandingkan ikan karnivora dan omnivora, sehingga kandungan protein yang dibutuhkan
lebih rendah untuk tetap tumbuh dengan optimal. Menurut Usman et al. (2014), ikan
herbivora (pemakan tumbuh-tumbuhan) relatif mampu memanfaatkan karbohidrat lebih
banyak sebagai sumber energi dibandingkan ikan karnivora dan omnivora, sehingga
pakannya berpeluang memiliki kandungan protein yang lebih rendah untuk tetap tumbuh
dengan normal.
Jenis dan umur ikan juga berpengaruh pada kebutuhan protein. Salah satu contoh
ikan herbivora adalah ikan bandeng. Ikan bandeng adalah ikan herbivora yang membutuhkan
protein yang lebih sedikit dibanding ikan karnivora, yaitu sebesar 15-30% dari total pakan
(Hadijah et al. 2017). Menurut Aslamyah dan Yusri (2012), pakan yang dihasilkan sangat
efektif dalam meningkatkan pertumbuhan ikan bandeng dengan kadar protein 30% dan
karbohidrat 40%. Ikan herbivora lebih memanfaatkan pakan dengan kandungan nabati dan
karbohidrat yang tinggi, sehingga protein yang rendah lebih dapat dimanfaatkan secara
efisien untuk pertumbuhan. Semakin tinggi nilai efisiensi protein suatu pakan berarti semakin
efisien penggunaan protein pakan tersebut dalam menunjang pertumbuhan (Masitoh et al.
2015).
B. SISTEM PENCERNAAN IKAN HERBIVORA
Ikan herbivora merupakan golongan ikan yang memakan bahan tumbuhan yang
hidup di air atau di dalam lumpur, misal alga, hifa jamur, alga biru. Sesuai dengan morfologi
dari gigi dan saluran pencernaan ikan baronang yaitu mulu yang berukuran kecil, usus halus
panjang dan mempunyai permukaan yang luas, ikan ini juga tidak mempunyai lambung yang
benar yaitu bagian usus dengan dinding halus dan cukup panjang berliku-liku. Contoh ikan
herbivora lainnya adalah ikan baronang. Menurut Muliati et al. (2017), ikan baronang sesuai
dengan morfologis dari gigi dan saluran pencernaannya yaitu mulut yang berukuran kecil,
dinding lambung agak tebal, usus halus panjang dan mempunyai permukaan yang luas,
sehingga ikan ini termasuk pemakan tumbuh-tumbuhan.
Proses pencernaan ikan herbivora membutuhkan waktu yang lama sehingga ususnya
berukuran panjang. Menurut Meliawati et al. (2014), ikan herbivora memiliki panjang usus
antara 2-21 kali panjang tubuhnya. Usus ikan herbivora cenderung mensekresikan enzim-
enzim yang dapat mempercepat reaksi hidrolisis karbohidrat dan lemak seperti lipase dan
maltase. Menurut Gadri et al. (2014), ikan herbivora memiliki aktivitas amilase lebih tinggi
dari pada aktivitas protease dan lipase. Ikan herbivora juga mensekresikan protease yang
berfungsi mempercepat hidrolisis protein dan memotong ikatan peptida. Namun aktivitas
protease tergolong rendah sehingga jika diberikan pakan dengan jumlah yang berlebih dan
memiliki kandungan protein yang tinggi maka protein tidak dapat dicerna dengan baik dan
akan dikeluarkan dalam bentuk feses.
Saluran Pencernaan Ikan Herbivora
1. Mulut
Keberadaan mulut berkaitan erat dengan cara mendapatkan makanan dimana mulut
merupakan tempat masuknya makanan ke dalam tubuh.
2. Rongga mulut
Rongga mulut ini berhubungan langsung dengan segmen faring. Secara anatomis
organ yang terdapata pada rongga mulut adalah gigi, lidah dan organ palatin. Permukaan
rongga mulut diselaputi oleh lapisan sel permukaan (epitelium) yang berlapis. Pada lapisan
permukaan terdapat sel-sel penghasil lendir (mukosit) untuk mempermudah masuknya
makanan. Disamping mukosit, di bagian mulut juga terdapat organ pengecap (organ
penerima rasa) yang berfungsi menyeleksi makanan.
3. Faring
Lapisan permukaan faring hampir sama dengan rongga mlut, masih ditemukan organ
pengecap, sebagai tempat proses penyaringan makanan.
4. Esofagus
Permulaan dari saluran pencernaan yang berbentuk seperti pipa, mengandung lendir
untuk membantu penelanan makanan. Pada ikan laut, esofagus berperan dalam penyerapan
garam melalui difusi pasif menyebabkan konsentrasi garam air laut yang diminum akan
menurun ketika berada di lambung dan usus sehingga memudahkan penyerapan air oleh
usus belakang dan rectum (proses osmoregulasi)
5. Lambung
Lambung merupakan segmen pencernaan yang diameternya relatif lebih besar bila
dibandingkan dengan organ pencernaan yang lain. Besarnya ukuran lambung berkaitan
dengan fungsinya sebagai penampung makanan. Seluruh permukaan lambung ditutupi
oleh sel mukus yang mengandung mukopolisakarida yang agak asam berfungsi sebagai
pelindung dinding lambung dari kerja asam klorida. Sebagai penampung makanan dan
mencerna makanan secara kimiawi. Pada ikan-ikan herbivora terdapat gizard (lambung
khusus) berfungsi untuk menggerus makanan (pencernaan secara fisik).
6. Pilorus
Pilorus merupakan segmen yang terletak antara lambung dan usus depan. Segmen ini
sangat mencolok karena ukurannya yang mengecil/menyempit.
7. Usus ( intestinum)
Merupakan segmen yang terpanjang dari saluran pencernaan. Intestinum berakhir dan
bermuara keluar sebagai anus. Merupakan tempat terjadinya proses penyerapan zat
makanan
8. Rektum
Rektum merupakan segmen saluran pencernaan yang terujung. Secara anatomis sulit
dibedakan batas antara usus dengan rektum. Namun secara histologis batas antara kedua
segmen tersebut dapat dibedakan dengan adanya katup rektum.
9. Anus
Anus merupakan ujung dari saluran pencernaan. Pada ikan bertulang sejati anus
terletak di sebelah depan saluran genital. Pada ikan yang bentuk tubuhnya memanjang,
anus terletak jauh dibelakang kepala bedekatan dengan pangkal ekor. Sedangkan ikan yang
tubuhnya membundar, posisi anus terletak jauh di depan pangkal ekor mendekati sirip
dada.
BAB III
A. KEBUTUHAN PROTEIN IKAN OMNIVORA
Kebutuhan protein merupakan aspek penting dalam nutrisi ikan karena protein
merupakan salah satu nutrien yang diperlukan oleh ikan untuk pertumbuhan. Kebutuhan
protein setiap ikan berbeda – beda. Umumnya ikan membutuhkan protein sekitar 20 – 60%
dan optimum 30 – 36%. Ikan–ikan omnivora seperti ikan nila (Oreochromis niloticus) yang
berukuran juvenil membutuhkan protein 35%, ikan mas (Cyprinus carpio) yang berukuran
121 gram membutuhkan 31,6% protein, ikan gurame (Osphronemus gouramy) yang
berukuran 0,27 gram membutuhkan 43,29% dan yang berukuran 27 – 31 gram membutuhkan
32% protein. Komposisi pakan yang baik untuk ikan gurame yaitu protein 30-32% dan
karbohidrat 20–30% dalam komposisi tersebut terlihat bahwa kandungan protein merupakan
jumlah yang lebih dominan dibandingkan karbohidrat (Ahmad et al., 2017).
Kebutuhan protein yang optimal dipengaruhi oleh penggunaan protein untuk energi,
komposisi asam amino, kecernaan pakan, serta imbangan energi-protein (Haetami, 2012).
Apabila kandungan protein dalam pakan terlalu tinggi, hanya sebagian yang akan diserap
(diretensi) dan digunakan untuk membentuk ataupun memperbaiki sel-sel tubuh yang rusak,
sementara sisanya akan diubah menjadi energi. Pertumbuhan dan kebutuhan protein ikan
memiliki hubungan linear. Dengan demikian, kadar protein dan rasio protein terhadap energi
pakan harus sesuai dengan kebutuhan ikan agar pakan buatan dapat efisien dan memberikan
pertumbuhan yang optimal.
B. SISTEM PENCERNAAN IKAN OMNIVORA
Pada dasarnya sistem pencernaan makanan dalam tubuh dibagi menjadi 3 bagian,
yaitu proses penghancuran makanan yang terjadi dalam mulit hingga lambung. Selanjutnya
adalah proses penyerapan sari-sari makanan yang terjadi di dalam usus. Kemudian proses
pengeluaran sisa-sisa makanan melalui anus. Secara anatomis, struktur alat pencernaan ikan
berkaitan dengan bentuk tubuh, kebiasan makanan, tingkah laku ikan dan umur ikan. Sistem
atau alat pencernaan pada ikan terdiri dari dua bagian, yaitu saluran pencernaan (Tractus
digestivus dan kelenjar pencernaan (Glandula digestoria). Organ-organ dalamsistem
pencernaan di luar saluran pencernaan adalah lidah, kelenjar ludah, hati, pankreasdan
kandung empedu. Bagian dari sistem saraf dan perdaran darah juga berperan penting dalam
sistem pencernaan. Berkembangnya saluran pencernaan berkorelasi dengan produksi enzim
pencernaan serta berpengaruh terhadap pertumbuhan larva baik pertumbuhan panjang
maupun laju pertumbuhan spesifik harian (Nurhayati et al., 2014).
Ikan pada golongan omnivora memiliki sistem pencernaan antara bentuk herbivora
dan karnivora. Dilihat dari fungsinya, organpencernaan ikan dapat dibedakan atas dua bagian,
yaitu saluranpencernaan dan kelenjar pencernaan. Saluran pencernaan adalah organ-organ
yang bekerja langsung dalam proses pencernaan dan penyerapan. Saluran pencernaan pada
ikan omnivora meliputi mulut, rongga mulut, faring, esofagus, lambung, usus, rektum dan
anus.
1. Mulut dan Rongga Mulut
Mulut merupakan bagian depan dari saluran pencernaan yang berfungsi untuk
mengambilmakanan yang biasanya ditelan bulat-bulat tanpa adaperubahan. Lendir yang
dihasilkan oleh sel-sel kelenjar dariepithel rongga mulut akan bercampur dengan
makanan, memperlancar proses penelanan makanan yang dibantu oleh kontraksi otot
dinding mulut. Pada umumnya ikan memiliki tipe mulut yang berbeda. Letak dan ukuran
mulut sangat bervariasi, tergantung dari lingkungan dan jenis makanan yang dikonsumsi.
Sebagai contoh ikan herbivora seperti ikan mas meiliki letak mulut terminal, yaitu mulut
ikan yang letaknya di ujung depan kepala ikan. Adapunciri-ciri dari ikan jenis omnivora
yaitu susunan giginya memiliki tiga macam, yaitu gigigeraham untuk mengunyah
makanan, gigi taring untuk mengoyak makanan, gigi seri untukmemotong makanan
2. Faring
Lapisan permukaan faring hampir sama dengan rongga mulut, masih ditemukan organ
pengecap, sebagai tempat proses penyaringan makanan.
3. Esofagus
Organ ini merupakan lanjutan pharinx,bentuknya seperti kerucut dan terdapat di
belakang daerah insang. Pada organ esofagus terdapat lendir yang berfungsi untuk
membantu proses penelanan.
4. Lambung
Pada ikan omnivora, seringkali lambung berbentuk seperti kantung. Lambung ikan
herbivora berbeda dengan lambung ikan karnivora. Ikan herbivora tidak mempunyai
lambung yang sebenarnya, kalaupun ada maka merupakan lambung palsu
yang merupakan penggelembungan usus bagian depan. Lambung pada ikan meiliki dua
fungsi. Lambung juga mempunyai sel-sel penghasil cairan gastrik. Besarnya ukuran
lambung berkaitandengan fungsinya sebagai penampung makanan. Seluruh permukaan
lambung ditutupi olehsel mukus yang mengandung mukopolisakarida yang agak asam
berfungsi sebagai pelindung dinding lambung dari kerja asam klorida. Sebagai
penampung makanan dan mencerna makanan secara kimiawi.
5. Pilorus
Pada pilorus terdapat kelenjar bergelung pendek yang mensekresikan enzim lisosim.
Diantara sel-sel mukus ke lenjar pilorus terdapat sel-sel gastrin (G) yang berfungsi
mengeluarkan hormone gastrin. Gastrin berfungsi merangsang pengeluaran asam
lambung oleh kelenjar-kelenjar lambung.
6. Usus
Merupakan segmen yang terpanjang dari saluran pencernaan. Intestinum berakhirdan
bermuara keluar sebagai anus. Merupakan tempat terjadinya proses penyerapan
zatmakanan. Kinerja usus memiliki hubungan yang erat dengan keberhasilan proses
pencernaan dan penyerapan nutrisi yang berasal dari asupan makanan yang dikonsumsi
ikan. Selain ituusus juga berperan mengatur keseimbangan air dan elektrolit serta.
kekebalan tubuh. Ikan omnivora memiliki usus yang hampir sama dengan herbivora
tetapi lebih pendek. Usus ikan bandeng memiliki ukuran yang lebih panjang dari ikan
karnivora dan lebih pendek dari ikan herbivora pada umumnya. Sehingga ikan bandeng
cenderung digolongkan kedalam ikan omnivora. Panjang usus ikan sangat dipengaruhi
oleh filogeni, umur ikan, jenis makanan yang dikonsumsi serta kondisi fisiologis ikan
(Zulfahmi dan Rhindira, 2018).Ikan omnivora cenderung mempunyai struktur usus
dengan vili yang pendek/rendah dibandingkan ikan karnivora sehingga memerlukan
waktu pencernaan yang lebih lama dan saluran pencernaan yang lebih panjang (Pratiwi et
al., 2016).
7. Rektum
Di belakang usus terdapat segmen rektum. Rektumini terletak di antara katup rektum
(rektal valvel) dan anus. Katup rektum yang merupakan penyempitan saluran pencernaan
akibat penebalan otot licin meluingkar, mengatur pengeluaran makanan yang tidak
tercerna dari bagian usus ke bagian rektum. Fungsi utamarektum adalah menyerap air
dan mineral, dan memproduksi lendir untuk mempermudah pengeluaran makanan
taktercerna.
8. Anus
Anus merupakan ujung dari saluran pencernaan. Pada ikan bertulang sejati
anusterletak di sebelah depan saluran genital. Pada ikan yang bentuk tubuhnya
memanjang,anus terletak jauh dibelakang kepala bedekatan dengan pangkal ekor.
Sedangkan ikan yangtubuhnya membundar, posisi anus terletak jauh di depan pangkal
ekor mendekati sirip dada.
C. FORMULASI PAKAN IKAN OMNIVORA
Proses formulasi pakan sesuai perlakuan diawali dengan menguji kandungan bahan-
bahan yang akan digunakan dengan uji proksimat. Setelah diketahui kandungan dari bahan
penyusun yang digunakan, dilakukan formulasi dan menghitung formulasi pakan yang akan
digunakan. Setelah didapat formulasi pakan yang sesuai dilakukan pembuatan pakan dengan
cara menyiapkan semua bahan baku yang digunakan dalam pembuatan pakan uji, menimbang
semua bahan yang akan digunakan, kemudian mencampur semua bahan dimulai dari bahan
yang jumlahnya paling sedikit hingga yang paling banyak sampai semua bahan tercampur
merata dan homogen (Putranti et al.,2015).
BAB IV
A. KEBUTUHAN PROTEIN IKAN KARNIVORA
Ikan karnivora merupakan ikan yang memiliki kecenderungan mengonsumsi protein
hewani dengan memangsa ikan atau hewan lain yang ukuran tubuhnya lebih [Link]
ikan yang tergolong ikan karnivora yaitu ikan kerapu macan (E. fuscoguttatus), ikan kakap
(Lates calcarifer) ikan gabus (Ophicephalus striatus), dan ikan cakalang (Katsuwonus
pelamis).Ikan kerapu macan memerlukan banyak sumber protein hewani karena tergolong
ikan karnivora.(Rachmawati, 2013). Pakan ikan kerapu macan berupa ikan rucah, cacing
tanah, pellet atau pakan buatan yang formulasi pakan tepung ikan lebih tinggi. Ikan gabus
merupakan salah satu jenis ikan karnivora air tawar yang menghuni kawasan Asia Tenggara,
namun belum banyak diketahui tentang sejarah dan sifat biologisnya. (Listyanto dan Septyan,
2010).
B. SISTEM PENCERNAAN IKAN KARNIVORA
Ikan karnivora pada umumnya memiliki gigi yang tajam dan kuat di
dalam ronggamulut. Tulang tapisnya berjumlah sedikit, ukurannya pendek dan kaku (Lovell,
2014). Jenis makanan ikan dapat diprediksi dari perbandingan panjang saluran
pencernaannya dengan panjang total tubuhnya. Panjang usus ikan karnivora lebih pendek dari
panjang total tubuhnya. Ikan karnivora memiliki panjang usus yang lebih pendek
dibandingkan usus ikan jenis lainnya (Zuliani et al., 2016). Hal tersebut karena daging yang
dimakan oleh ikan karnivora. Daging mengandung sedikit seratsehingga mudah untuk
dicerna oleh usus. Ikan karnivora memilikilambung dengan berbagai macam bentuk.
Lambung ikan karnivora membesar dan berdinding tebal yang kuat (Rian, 2010).
Formulasi pakan pada kelompok ikan karnivora bebeda dengan kelompok ikan
herbivora dan omnivora. Formulasi ini tergantung dari jumlah kebutuhan protein tiap
kelompok. Kebutuhan protein ikan karnivora lebih tinggi bila dibandingkan dengan ikan
herbivora.(Handajani, 2011). Kelompok ikan karnivora membutuhkan protein berkisar 30-
60% di dalam pakannya untuk pertumbuhan yang optimal (Devani dan Sri, 2016).
KESIMPULAN
Protein adalah zat yang paling penting dalam setiap organism atau senyawa organik
kompleks yang tersusun atas asam amino yang mengandung unsur C (carbon), H (hidrogen),
O (oksigen), dan N (nitrogen) yang tidak dimiliki oleh lemak atau [Link] relative
hanya membutuhkankadar kandungan protein berkisar antara 20 – 60%, pada
umumnyakebutuhan protein untuk ikan sangat bervariasi tergantung pada umur, stadia ikan.
Pada umumnya kebutuhan ikan terhadap protein dapat digolongkan secara garis besar sebagai
berikut yaitu ikan-ikan herbivor 15-30% dari total pakan dan 45% bagi ikan karnivor.
Sedangkan untuk ikan-ikan omnivor diperlukan dengan kandungaan protein 50%.Sumber
protein pada pakan ikan berasal dari protein nabati dan protein hewani.
DAFTAR PUSTAKA
Ahmad, N., S. Martudi dan Dawami. 2017. Pengaruh Kadar Protein yang Berbeda Terhadap
Pertumbuhan Ikan Gurami (Osphronemus gouramy). Jurnal Agroqua. 15(2):51-58.
Aslamyah, S dan M. Y. Karim. 2012. Uji Organoleptik, Fisik dan Kimiawi Pakan Buatan
untuk Ikan Bandeng yang Disubtitusi dengan Tepung Cacing Tanah (Lumbricus
sp.). Jurnal Akuakutur Indonesia. 11(2):124-131.
Devani, V dan S. Basriati. 2015. Optimasi Kandungan Nutrisi Pakan Ikan Buatan dengan
Menggunakan Multi Objective (Goal) Proramming Model. Jurnal Sains, Teknologi
dan Industri. 12(2):255-261.
Gadri, S. F. A., U. Susilo dan S. Priyanto. 2014. Aktivitas Protease dan Amilase pada
Hepatopankreas dan Intestine Ikan Nilem Osteochilus hasseltiC.V. Jurnal SCRIPTA
BIOLOGICA. 1(1):43-48.
Hadijah., A. Akmal., Mariana dan I. Sohilauw. 2017. Pertumbuhan Ikan Bandeng yang
Menggunakan Pakan Komersil Merk “174” pada Berbagai Level Protein. Jurnal
Ecosystem. 17(2):774-781.
Haetami. 2012. Konsumsi dan Efisiensi Pakan dari Ikan Jambal Siam yang Diberi Pakan
dengan Tingkat Energi Protein Berbeda. Jurnal Akuatika. 3(2):146-158.
Handajani, H. 2011. Optimalisasi Substitusi Tepung Azolla Terfermentasi pada Pakan Ikan
Untuk Meningkatkan Produktivitas Ikan Nila Gift. Jurnal Tenik Industri. 12(2):177-
181.
Listyanto, N dan S. Andriyanto. 2009. Ikan Gabus (Channa striata) Manfaat Pengembangan
dan Alternatif Teknik Budidayanya. Media Akuakultur, 4(1): 18-25.
Lovell, R. L. 2014. Nutrition of Aquaculture Species. Jurnal of Animal Science, (69):4193-
4200.
Masitoh, D., Subandiyono dan Pinandoyo. 2015. Pengaruh Kandungan Protein Pakan yang
Berbeda dengan Nilai E/P 8,5 kkal/g terhadap Pertumbuhan Ikan Mas (Cyprinus
carpio). Journal of Aquaculture Management and Technology. 4(3):46-53.
Marzuqi, M., N.W. Astuti dan K. Suwirya. 2012. Pengaruh Kadar Protein dan Rasio
Pemberian Pakan terhadap Pertumbuhan Ikan Kerapu Macan (Epinephelus
fuscoguttatus). BBPP Budidaya Laut Gondol, Bali. Vol. 4(1): 5565.
Meliawati., R. Elvyra dan Yusfiati. 2014. Analisis Lambung Ikan Lais Panjang Lampung
(Kryptopterus apogon) di Desa Mentulik Sungai Kampar Kiri dan Desa Kota Garo
Sungai Tapung Provinsi Riau. JOM FMIPA. 1(2):500-510.
Muliati., F. Yasidi dan H. Arami. 2017. Studi Kebiasaan Makan Ikan Baronang (Siganus
canaliculatus) di Perairan Todonggeu Kecamatan Abeli Sulawesi Tenggara. Jurnal
Manajemen Sumber Daya Perairan. 2(4):287-294.
Nurhayati, N. B., D. Utomo dan M. Setiawati. 2014. Perkembangan Enzim Pencernaan dan
Pertumbuhan Larva Ikan Lele Dumbo, Clarias gariepinus Burchell 1822, yang Diberi
Kombinasi Cacing Sutra dan Pakan Buatan. Jurnal Ikhtiologi Indonesia. 14(3):167-
178.
Pratiwi, N., Jusadi D dan Nuryati S. 2016. Pemanfaatan minyak cengkeh Syzigium
aromaticum untuk meningkatkan efisiensi pakan pada ikan patin Pangasianodon
hypophthalmus (Sauvage, 1876). Jurnal Iktiologi Indonesia 16 (3):233-242.
Putranti, G. P., Subandiyono dan Pinandoyo. 2015. Pengaruh Protein dan Energi yang
Berbeda pada Pakan Buatan Terhadap Efisiensi Pemanfaatan Pakan dan Pertumbuhan
Ikan Mas (Cyprinus carpio). Journal of Aquaculture Management and Technology.
4(3):38-45.
Rachmawati, D. 2013. Performa Laju Pertumbuhan Relatif dan Kelulushidupan Kerapu
Macan (Epinephelus fuscoguttatus) melalui Substitusi Tepung Ikan dengan Tepung
Cacing Tanah (Lumbricus rubellus) dalam Pakan Buatan. Jurnal Buletin Oseanografi
Mariana. 2(4):9-17.
Rian. 2010. Ikan dan Segala Aspek Kehidupannya. Pustaka Utama : Yogyakarta.
Usman., A. Laining dan E. Sutikno. 2014. Suplementasi Crude Enzim Papain dalam Pakan
Pembesaran Ikan Beronang, Siganus Guttatus. J. Fish. Sci. XVI(1):10-16.
Utomo., N. B. P., Susan dan M. Setiawati. 2013. Peran tepung ikan dari berbagai bahan baku
terhadap pertumbuhan lele sangkuriang Clarias sp. Jurnal Akuakultur Indonesia.
12(2): 158–168.
Zulfahmi, I. Dan R. Humairani. 2018. Kondisi Biometrik dan Histologi Usus Ikan Bndeng (
Chanos chanos FORSKA., 1755) yang Diberi Pakan Berkomposisi Tepung yang
Diberi Tepung Bungkil Sawit : 607-613.
Zuliani, Z., Z. A. Muchlisin dan N. Nurfadillah. Kebiasaan Makanan dan Hubungan Panjang
Berat Ikan Julung - Julung (Dermogenys sp.) di Sungai Alur Hitam Kecamatan
Bendahara Kabupaten Aceh [Link] Ilmiah Mahasiswa Kelautan dan
Perikanan Unsyiah. 1(1):12-24.