0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
60 tayangan25 halaman

Perubahan Biokimia Pada Jenazah Setelah Kematian: Disusun Oleh

Perubahan biokimia utama pada jenazah setelah kematian adalah terbentuknya lebam mayat akibat hukum gravitasi darah yang mengisi pembuluh darah bagian bawah tubuh, yang dapat digunakan untuk menentukan waktu kematian.

Diunggah oleh

Masriyani
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
60 tayangan25 halaman

Perubahan Biokimia Pada Jenazah Setelah Kematian: Disusun Oleh

Perubahan biokimia utama pada jenazah setelah kematian adalah terbentuknya lebam mayat akibat hukum gravitasi darah yang mengisi pembuluh darah bagian bawah tubuh, yang dapat digunakan untuk menentukan waktu kematian.

Diunggah oleh

Masriyani
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

Karya Tulis Ilmiah

Perubahan Biokimia pada Jenazah setelah Kematian

Disusun oleh:

Muhammad Aldi Lazuardi Ilmianto NIM : 1910027001


Masriyani NIM : 1910027010
Andi Erika Safitri NIM : 1910027015
Muhammad Fadlan Adam NIM : 1910027012
Abdul Hakam Asyafaq NIM : 1910027003
Ade Afriza Ferani NIM : 1910027005

Pembimbing:

dr. Daniel Umar, SH, Sp.F


dr. Kristina Uli Sp.F.M

Dibawakan Dalam Rangka Tugas Kepaniteraan Klinik


Lab/SMF Ilmu Forensik
Fakultas Kedokteran
Universitas Mulawarman
November 2019
KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kami haturkan kehadirat Allah karena atas rahmat-Nyalah karya
tulis ilmiah yang berjudul “Perubahan Biokimia pada Jenazah setelah Kematian” ini
dapat diselesaikan tepat pada waktunya. Karya tulis ilmiah ini disusun dari berbagai
sumber ilmiah sebagai sumber referensi untuk karya tulis ilmiah ini. Karya tulis ilmiah
ini secara garis besar berisikan tentang peran larva lalat terhadap penentuan saat
kematian.
Dalam proses penyusunan laporan ini, kami mengucapkan terima kasih kepada:
1. dr. Daniel Umar SH,Sp.F, selaku dosen klinik yang membimbing kami dalam
melaksanakan rotasi dokter muda di stase Forensik.
2. dr. Kristina Uli Sp.F.M, selaku dosen klinik yang membimbing kami dalam
melaksanakan rotasi dokter muda di stase Forensik.
3. Sekretaris dan Staf-staf forensik yang sudah membantu kami selama
melaksanakan tugas di stase Forensik sehingga dapat berjalan dengan baik.
.
Tentu saja kami sebagai penyusun mengharapkan agar karya tulis ilmiah ini dapat
berguna baik bagi penyusun maupun bagi para pembaca di kemudian hari.
Sesuai pepatah, tak ada gading yang tak retak, tentunya karya tulis ilmiah ini
sangat jauh dari sempurna. Oleh karena itu saran dan kritik yang bersifat membangun
sangat penyusun harapkan demi tercapainya kesempurnaan dari isi karya tulis ilmiah ini.

Samarinda, 1 November 2019

Dokter Muda

2
DAFTAR ISI

Hal.
HALAMAN JUDUL ................................................................................................... 1
KATA PENGANTAR ................................................................................................. 2
DAFTAR ISI................................................................................................................ 3
BAB 1 PENDAHULUAN .......................................................................................... 4
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA .................................................................................. 5
A. Lebam Mayat .......................................................................................................... 5
B. Penurunan Suhu....................................................................................................... 7
C. Kaku mayat ............................................................................................................. 9
D. Pembusukan ............................................................................................................ 11
E. Adiposera ................................................................................................................. 13
F. Mummifikasi............................................................................................................ 14
G. Perubahan-perubahan yang lain .............................................................................. 15
H. Perkiraan Kematian ................................................................................................. 15
BAB 3 KESIMPULAN................................................................................................ 19
DAFTAR PUSTAKA .................................................................................................. 20

3
BAB I
PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG

Tanatologi adalah bagian Ilmu Kedokteran Forensik yang mempelajari tanda


kematian dan perubahan yang terjadi setelah seseorang mati serta faktor yang
mempengaruhinya. Tanatologi merupakan ilmu paling dasar dan paling penting
dalam ilmu kedokteran kehakiman terutama dalam hal pemeriksaan jenazah
(Budiyanto, et al., 1997).
Perubahan – perubahan yang terjadi setelah kematian dibedakan menjadi
dua yaitu perubahan yang dapat timbul dini pada saat meninggal atau beberapa
menit kemudian, misalnya kerja jantung dan peredaran darah berhenti,
pernapasan berhenti, reflek cahaya dan reflek kornea mata hilang, kulit pucat dan
relaksasi otot. Setelah beberapa waktu timbul perubahan pasca mati yang jelas
yang memungkinkan diagnosis kematian lebih pasti. Tanda-tanda tersebut dikenal
sebagai tanda pasti kematian berupa lebam mayat (hypostasis atau lividitas pasca
mati), kaku mayat (rigor mortis), penurunan suhu tubuh, pembusukan, mumifikasi
dan adiposera (Budiyanto, et al., 1997).
Kepentingan mempelajari perubahan biokimia pada jenazah setelah
kematian adalah untuk menentukan apakah seseorang benar –benar sudah
meninggal atau belum, menetapkan waktu kematian, sebab kematian, cara
kematian, dan untuk membedakan perubahan-perubahan yang terjadi post mortal
dengan kelainan-kelainan yang terjadi pada waktu korban masih hidup. Oleh
karena itu diperlukan pembahasan mengenai perubahan biokimia pada jenazah
setelah kematian.

4
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Lebam Mayat

Setelah kematian klinis maka eritrosit akan menempati tempat terbawah


akibat gaya tarik bumi (gravitasi), mengisi vena dan venula, membentuk bercak
warna merah ungu (livide) pada bagian terbawah tubuh, kecuali pada bagian
tubuh yang tertekan alas keras (FK UI, 1997).

Darah tetap cair karena adanya aktivitas fibrinolisin yang berasal dari
endotel pembuluh darah. Lebam mayat biasanya mulai tampak 20-30 menit paska
mati, makin lama intensitasnya bertambah dan menjadi lengkap dan menetap
setelah 8-12 jam. Sebelum waktu itu, lebam mayat masih hilang (memucat) pada
penekanan dan dapat berpindah tempat jika posisi mayat diubah. Memucatnya
lebam akan lebih cepat dan lebih sempurna apabila penekanan atau perubahan
posisi tubuh tersebut dilakukan dalam 6 jam pertama setelah mati klinis. Tetapi,
walaupun setelah 24 jam, darah masih tetap cukup cair sehingga jumlah darah
masih dapat mengalir dan membentuk lebam mayat ditempat terendah baru.
Kadang-kadang dijumpai bercak perdarahan berwarna biru kehitaman akibat
pecahnya pembuluh darah. Menetapnya lebam mayat disebabkan oleh
bertimbunnya sel-sel darah dalam jumlah cukup banyak sehingga sulit berpindah
lagi. Selain itu kekakuan otot-otot dinding pembuluh darah ikut mempersulit
perpindahan tersebut (FK UI, 1997).

Lebam mayat dapat digunakan untuk tanda pasti kematian;


memperkirakan sebab kematian, misalnya lebam berwarna merah terang pada
keracunan CO atau CN; warna kecoklatan pada keracunan anilin, nitrit, nitrat,
sulfonal; mengetahui perubahan posisi mayat yang dilakukan setelah terjadinya
lebam mayat yang menetap; dan memperkirakan saat kematian (FK UI, 1997).

Apabila pada mayat terlentang yang telah timbul lebam mayat belum
menetap dilakukan perubahan posisi menjadi telungkup, maka setelah beberapa
saat akan terbentuk lebam mayat baru di daerah dada dan perut. Lebam mayat

5
yang belum menetap atau masih hilang pada penekanan menunjukkan saat
kematian kurang dari 8-12 jam sebelum saat pemeriksaan (FK UI, 1997).

Mengingat pada lebam mayat darah terdapat di dalam pembuluh darah,


maka keadaan ini digunakan untuk membedakan dengan resapan darah akibat
trauma (ekstravasasi). Bila pada daerah tersebut dilakukan irisan dan kemudian
disiram air, maka warna merah darah akan hilang atau pudar pada lebam mayat,
sedangkan pada resapan darah tidak menghilang (FK UI, 1997).

Warna lebam mayat :

1. Normal : merah kebiruan

2. Keracunan CO : Cherry red

3. Keracunan CN : Bright red

4. Keracunan nitrobenzena : Chocolate brown

5. Asfiksia : Dark red

Perbedaan Antara Lebam Mayat Dengan Memar


Sifat Lebam mayat Memar
Letak Epidermal, karena pelebaran Subepidermal, karena ruptur
pembuluh darah yang tampak pembuluh darah yang letaknya
sampai ke permukaan kulit bisa superfisial atau lebih dalam
Kultikula Tidak rusak Kulit ari rusak
Lokasi Terdapat pada daerah yang Terdapat di sekitar bisa tampak
luas, terutama luka pada di mana saja pada bagian tubuh
bagian tubuh yang letaknya dan tidak meluas
rendah
Gambaran Pada lebam mayat tidak ada Biasanya membengkak karena
elevasi dari kulit resapan darah dan edema
Pinggiran Jelas Tidak jelas
Warna Warnanya sama Memar yang lama warnanya
bervariasi. Memar yang baru
berwarna lebih tegas daripada

6
warna lebam mayat disekitarnya
Pada Pada pemotongan, darah Menunjukkan resapan darah ke
pemotongan tampak dalam pembuluh, dan jaringan sekitar, susah
mudah dibersihkan. Jaringan dibersihkan jaringan sekitar,
subkutan tampak pucat susah dibersihkan jika hanya
dengan air mengalir. Jaringan
subkutan berwarna merah
kehitaman
Dampak Akan hilang walaupun hanya Warnanya berubah sedikit saja
setelah diberi penekanan yang ringan jika diberi penekanan
penekanan
Warna Tidak beraturan dan terdapat Sama merahnya diseluruh organ
merah pada bagian tubuh yang tubuh
letaknya rendah

B. Penurunan Suhu

Penurunan suhu tubuh setelah kematian atau algor mortis hampir sama
seperti objek yang hangat pada lingkungan dingin. Hukum Newton mengenai
keadaan dingin, menyatakan bahwa panas akan keluar dari badan yang hangat
menuju lingkungan yang dingin dan temperatur badan akan menurun (Payne-
James, Jones, Karch, & Manlove, 2011). Terjadinya algor mortis karena adanya
perbedaan antara suhu tubuh mayat dengan lingkungan, sehingga panas
dipindahkan dengan jalan evaporasi dan konduksi, dan sedikit konveksi dan
radiasi (Budiyanto, et al., 1997). Penurunan suhu mula-mula bergerak lambat
karena masih adanya pembentukan panas hasil metabolisme seluler dan adanya
kelambatan pelepasan panas dari dalam tubuh karena perbedaan daya hantar
panas antar jaringan (temparature gradient belum dicapai) radiasi (Aflanie,
Nirmalasari, & Arizal, 2017).

7
Tetapi setelah fase ini yang biasanya selama 40-60 menit terlalui, maka
suhu turun dengan grafik yang relatif linier hingga mendekati suhu lingkungan.
Selanjutnya grafik agak mendatar lagi. Secara keseluruhan grafik ini berberntuk
sigmoid (menyerupai huruf S) radiasi (Aflanie, Nirmalasari, & Arizal, 2017).

Kecepatan turunnya suhu dipengaruhi oleh radiasi (Aflanie, Nirmalasari, &


Arizal, 2017):

- Bentuk tubuh : lebih banyak lemak, lebih lama


- Suhu pada saat orang mati : lebih tinggi (infeksi), lebih lama
- Pakaian : lebih tebal, lebih lama
- Suhu kamar / sekelilingnya: lebih panas, lebih lama
- Kelembaban /aliran udara : kelembaban tinggi, lebih lama; angin banyak
lebih cepat
Banyaknya faktor yang mempengaruhi kecepatan turunnya suhu ini
mengakibatkan tidak dapat dibuatnya suatu rumus yang berlaku umum. Dalam
memperkirakan saat kematian, penurunan suhu tubuh yang dipantau beberapa kali
dengan interval waktu yang sama pada kondisi lingkungan yang tidak diubah
dapat lebih akurat (pengukuran yang obyektif dan skala waktu yang rapat)
(Aflanie, Nirmalasari, & Arizal, 2017).

Suhu lingkungan diukur dan dianggap konstan karena faktor-faktor


lingkungan dibuat menetap, sedangkan suhu saat mati dianggap 37 derajat celcius
bila tidak ada penyakit demam. Penelitian membuktikan bahwa perubahan suhu
lingkungan kurang dari 2 derajat celcius tidak mengakibatkan perubahan yang
bermakna (Aflanie, Nirmalasari, & Arizal, 2017).

8
C. Kaku mayat

Pada otot orang hidup terdapat cadangan glikogen. Glikogen oleh enzim
diubah menjadi asam laktat dengan hasil berupa energi dalam ikatan senyawa
fosfat. Energi ini kemudian berikatan dengan ADP menjadi ATP. ATP inilah yang
bertanggung jawab atas tetap elastisnya otot (Sampurna, Samsu, & Siswaja,
2008).

Pada orang mati, apabila faktor lainnya mendukung antara lain suhu,
proses seperti diatas masih bisa berlangsung beberapa saat hingga cadangan
glikogen tidak ada, yang berarti ATP tidak terbentuk lagi, sehingga terjadilah
kaku mayat. Dengan demikian kaku mayat cepat terjadi pada orang kurus, pada
yang menderita penyakit/radang, suhu tinggi atau yang melakukan kerja berat
sebelum mati (Sampurna, Samsu, & Siswaja, 2008).

GLIKOGEN

ANTEMORTEM POST MORTEM


(+) (-)

ASAM LAKTAT ENERGI ADP PENUMPUKAN ADP

ATP ≠ TERBENTUK
Ca2+ (RE) ATP

IKATAN AKTIN MIOSIN ≠ TERLEPAS

PERLEPASAN IKATAN AKTIN MIOSIN

RIGOR MORTIS

RELAKSASI OTOT

Gambar 1. Skema terjadinya Rigor Mortis (Aflanie, Nirmalasari, & Arizal,


2017)

Meskipun prosesnya terjadi segera setelah kematian somatis, kaku mayat


mulai terlihat kurang lebih 2 jam setelah mati. Dimulai dari otot-otot kecil
(wajah,leher) ke otot besar (lengan, tungkai). Intensitas kaku mayat menjadi
maksimal dalam kira-kira 12 jam, bertahan selama kira-kira 12 jam kedua, lalu
menghilang dengan urutan yang sama dengan mulainya. Menghilangnya kaku
mayat ini sering tidak dapat kita pantau di negara tropis karena akan didahului
9
oleh pembusukan (Sampurna, Samsu, & Siswaja, 2008). Kaku mayat juga terjadi
pada otot polos, mendahului otot lurik. Fenomena ini antara lain berupa : kutis
anserine (m. erector pili), keluarnya semen pada lelaki, "partus" postmortal pada
gravid tua (FK UI, 1997).

Setelah kematian, otot-otot tubuh akan melalui 3 fase, yaitu: inisial flaksid
atau flaksid primer, onset rigiditas otot yang disebut kaku mayat dan fase flaksid
sekunder (Aflanie, Nirmalasari, & Arizal, 2017). Kelenturan otot setelah kematian
masih dipertahankan karena metabolisme tingkat seluler masih berjalan berupa
pemecahan cadangan glikogen otot yang menghasilkan energi. Energi ini
digunakan untuk mengubah ADP menjadi ATP. Selama masih terdapat ATP
maka serabut aktin dan myosin tetap lentur. Bila cadangan glikogen dalam otot
habis, maka energi tidak terbentuk lagi, aktin dan myosin menggumpal dan otot
menjadi kaku (FK UI, 1997).

Rigor mortis merupakan perubahan fisikokimia yang bergantung pada


temperatur yang terjadi dalam sel-sel otot sebagai akibat dari kekurangan oksigen.
Kurangnya oksigen berarti bahwa energi tidak dapat diperoleh dari glikogen
melalui glukosa menggunakan fosforilasi oksidatif sehingga produksi adenosine
trifosfat (ATP) dari proses ini berhenti dan proses anoksik sekunder mengambil
alih untuk waktu yang singkat tetapi karena asam laktat merupakan produk
sampingan dari respirasi anoksik, sitoplasma sel menjadi semakin asam. Dengan
demikian, jika kadar glikogen otot rendah, atau jika sel-sel otot bersifat asam pada
saat kematian karena kegiatan berat, proses kekakuan akan berkembang lebih
cepat. Pada sengatan listrik juga mengakibatkan kekakuan yang berkembang pesat
karena stimulasi otot yang berulang (Payne-James, Jones, Karch, & Manlove,
2011).
Proses kimia yang menghasilkan pengerasan otot (sama seperti semua
proses kimia) dipengaruhi oleh suhu. Semakin dingin suhu semakin lambat reaksi
dan begitu sebaliknya. Dalam tubuh yang dingin, timbulnya kekakuan akan
tertunda dan durasi waktu kekakuannya akan memanjang, sedangkan tubuh yang
berbaring di lingkungan yang hangat, timbulnya kekakuan akan cepat dan
durasinya akan singkat. Namun pada pendinginan tubuh post-mortem yang sangat
ekstrem, pengerasan tubuh mungkin disebabkan oleh efek fisik pendinginan
(pembekuan) daripada karena kekakuannya. Hal ini akan jelas ketika tubuh

10
tersebut dipindahkan ke lingkungan yang lebih hangat (biasanya kamar mayat),
kekakuan yang disebabkan oleh dingin terlihat menghilang ketika tubuh
menghangat, dan kekakuan yang sebenarnya terlihat ketika proses kimia seluler
dimulai kembali (Payne-James, Jones, Karch, & Manlove, 2011).
Kekakuan berkembang secara seragam di seluruh tubuh tetapi umumnya
terdeteksi pertama kali pada kelompok otot yang lebih kecil seperti di sekitar
mata, mulut, rahang dan jari-jari dan selanjutnya pada otot yang lebih besar,
sehingga tampak kekakuan pada badan dimulai dari kepala hingga ke kaki
(Payne-James, Jones, Karch, & Manlove, 2011).
Meskipun prosesnya terjadi segera setelah kematian somatis, kaku mayat
mulai terlihat kurang lebih 2 jam setelah mati. Kekakuan umumnya dapat
dideteksi di wajah kira-kira antara 1 sampai 4 jam, dan pada tungkai kira-kira
antara 3 sampai 6 jam setelah kematian, dengan kekuatan kekakuan meningkat
secara maksimal sekitar 18 jam setelah kematian. Setelah terbentuk, kekakuan
akan bertahan hingga sekitar 50 jam setelah kematian sampai autolisis dan
dekomposisi sel-sel otot mengintervensi dan otot menjadi lembek kembali dengan
urutan yang sama dengan mulainya (Payne-James, Jones, Karch & Manlove,
2011; Sampurna, Samsu & Siswaja, 2008). Namun waktu-waktu ini hanyalah
pedoman dan tidak pernah absolut. Penilaian ada atau tidaknya kekakuan
digunakan untuk mengetahui "estimasi" waktu kematian, karena kekakuan adalah
suatu proses variabel yang tidak pernah dapat memberikan penilaian akurat
terhadap waktu kematian (Payne-James, Jones, Karch, & Manlove, 2011).
Terdapat kekakuan pada mayat yang menyerupai kaku mayat (FK UI, 1997):
1. Cadaveric spasm (instantaneous rigor) adalah bentuk kekakuan otot yang
terjadi pada saat kematian dan menetap. Cadaveric spasm sesungguhnya
merupakan kaku mayat yang timbul dengan intensitas sangat kuat tanpa
didahului oleh relaksasi primer. Penyebabnya adalah akibat habisnya
cadangan glikogen dan ATP yang bersifat setempat pada saat mati klinis
karena kelelahan atau emosi yang hebat sesaat sebelum meninggal. Cadaveric
spasm ini jarang dijumpai, tetapi sering terjadi dalam masa perang.
Kepentingan medikolegalnya adalah menunjukkan sikap terakhir masa
hidupnya. Misalnya, tangan yang menggenggam erat benda yang diraihnya
pada kasus tenggelam, tangan yang menggenggam senjata pada bunuh diri
(FK UI, 1997).
11
Tabel 1. Perbedaan rigor mortis dan cadaveric spasm (Indries, 1997; Aflanie,
Nirmalasari & Afrizal, 2017).
Pembeda Rigor Mortis Cadaveric Spasm
Waktu timbul Dua jam setelah Sesaat sebelum
meninggal. Rigor meninggal (intravital)
mortis lengkap setelah dan menetap.
12 jam.
Faktor predisposisi - Kelelalahan, emosi
hebat, ketegangan, dll.
Etiologi Habisnya cadangan Habisnya cadangan
glikogen secara glikogen pada otot
general setempat.
Pola terjadinya kaku Sentripetal, dari otot- Kaku otot pada satu
otot otot kecil kemudian kelompok otot tertentu
otot besar.
Kepentingan Untuk penentuan saat Untuk menunjukkan
medikolegal kematian sikap terakhir masa
hidupnya. Biasanya
pada kasus
pembunuhan, bunuh
diri, dan kecelakaan.
Suhu mayat Dingin Hangat
Kematian sel Ada Tidak ada
Relaksasi primer Ada Tidak ada
Timbulnya Lambat Cepat
Lamanya Cepat hilang Lambat hilang
(dipertahankan)
Koordinasi otot Kurang Baik
Lokasi otot Menyeluruh Setempat (yang aktif)
Rangsangan sel Tidak ada respons otot Ada respons otot
Kaku otot Dapat dilawan dengan Perlu tenaga kuat untuk
sedikit tenaga. melawannya.

2. Heat stiffening, yaitu kekakuan otot akibat koagulasi protein otot oleh
panas. Otot-otot berwarna merah muda, kaku, tetapi rapuh (mudah robek).
Keadaan ini dapat dijumpai pada korban mati terbakar. Pada heat
stiffening serabut-serabut ototnya memendek sehingga menimbulkan
fleksi leher, siku, paha dan lutut, membentuk sikap petinju (pugilistic

12
sttitude). Perubahan sikap ini tidak memberikan arti tertentu bagi sikap
semasa hidup, intravitalitas, penyebab atau cara kematian (FK UI, 1997).

3. Cold stiffening, yaitu kekakuan tubuh akibat lingkungan dingin, sehingga


terjadi pembekuan cairan tubuh, termasuk cairan sendi, pemadatan
jaringan lemak subkutan dan otot, sehingga bila sendi ditekuk akan
terdengar bunyi pecahnya es dalam rongga sendi (FK UI, 1997).

D. Pembusukan

Pembusukan adalah proses degradasi jaringan yang terjadi akibat autolisis


dan kerja bakteri. Autolisis adalah pelunakan dan pencairan jaringan yang terjadi
dalam keadaan steril. Autolisis timbul akibat kerja digestif oleh enzim yang
dilepaskan sel pascamati dan hanya dapat dicegah dengan pembekuan jaringan.
Setelah seseorang meninggal, bakteri yang normal hidup dalam tubuh segera
masuk ke jaringan. Darah merupakan media terbaik bagi bakteri tersebut untuk
bertumbuh. Sebagian besar bakteri berasal dari usus dan yang terutama adalah
Clostridium welchii (Budiyanto, et all, 1997). Bakteri tersebut akan membentuk
asam amino, asam lemak, gas H2S, HCN, indol, skatol, CO2, H2O, alcohol dsb.
Proses pembusukan ini sudah terjadi ketika kematian seluler (Sampurna, Samsu,
& Siswaja, 2008).
Untuk terjadinya pembusukan harus ada : (1). Bakteri, (2). Air, (3). Udara,
(4). Suhu optimal sesuai dengan suhu enzim (25-30oC). Pembusukan baru tampak
kira-kira 24 jam pasca mati berupa warna kehijauan pada perut kanan bawah,
yaitu daerah sekum yang isinya lebih cair dan penuh dengan bakteri serta terletak
dekat dinding perut. Warna kehijauan ini disebabkan oleh terbentuknya endapan-
endapan FeS. Secara bertahap warna kehijauan ini akan menyebar ke seluruh
perut dan dada, dan bau busuk pun mulai tercium. Pembuluh darah bawah kulit
akan tampak seperti melebar dan berwarna hijau kehitaman. Selanjutnya kulit ari
akan terkelupas atau membentuk gelembung berisi cairan kemerahan berbau
busuk (Budiyanto, et all, 1997; Sampurna, Samsu, & Siswaja, 2008).
Pembentukan gas di dalam tubuh, dimulai di dalam lambung dan usus,
akan mengakibatkan tegangnya perut dan keluarnya cairan kemerahan dari mulut
dan hidung. Gas yang terdapat di dalam jaringan dinding tubuh akan
mengakibatkan terabanya derik (krepitasi). Gas ini menyebabkan pembengkakan
13
tubuh yang menyeluruh, tetapi ketegangan terbesar terdapat di daerah dengan
jaringan longgar, seperti skrotum dan payudara. Tubuh berada dalam sikap seperti
petinju (pugilistic attitude), yaitu kedua lengan dan tungkai dalam sikap setengah
fleksi akibat terkumpulnya gas pembusukan di dalam rongga sendi. Selanjutnya,
rambut menjadi mudah dicabut dan kuku mudah terlepas, wajah menggembung
dan berwarna ungu kehijauan, kelopak mata membengkak, pipi tembem, bibir
tebal, lidah membengkak dan sering terjulur diantara gigi. Keadaan seperti ini
sangat berbeda dengan wajah asli korban, sehingga tidak dapat lagi dikenali oleh
keluarga. Hewan pengerat akan merusak tubuh mayat dalam beberapa jam pasca
mati, terutama bila mayat dibiarkan tergeletak di daerah rumpun. Luka akibat
gigitan binatang pengerat khas berupa lubang-lubang dangkal dengan tepi
bergerigi (Budiyanto, et all, 1997; Sampurna, Samsu, & Siswaja, 2008).
Larva lalat akan dijumpai setelah pembentukan gas pembusukan nyata,
yaitu kira-kira 36-48 jam pasca mati. Kumpulan telur lalat telah dapat ditemukan
beberapa jam pasca mati, di alis mata, sudut mata, lubang hidung dan diantara
bibir. Telur lalat tersebut kemudian akan menetas menjadi larva dalam waktu 24
jam. Dengan identifikasi spesies lalat dan mengukur panjang larva, maka dapat
diketahui usia larva tersebut, yang dapat dipergunakan untuk memperkirakan saat
mati, dengan asumsi bahwa lalat biasanya secepatnya meletakkan telur setelah
seseorang meninggal (dan tidak lagi dapat mengusir lalat yang hinggap). Alat
dalam tubuh akan mengalami pembusukan dengan kecepatan yang berbeda.
Perubahan warna terjadi pada lambung terutama di daerah fundus, usus, menjadi
ungu kecoklatan. Mukosa saluran napas menjadi kemerahan, endokardium dan
intima pembuluh darah juga kemerahan, akibat hemolisis darah. Difusi empedu
dari kandung empedu mengakibatkan warna coklat kehijauan di jaringan
sekitarnya. Otak melunak, hati menjadi berongga seperti spons, limpa melunak
dan mudah robek. Kemudian alat-dalam akan mengerut. Prostat dan uterus non
gravid merupakan organ padat yang paling lama bertahan terhadap perubahan
pembusukan. Pembusukan akan timbul lebih cepat bila suhu keliling optimal
(26.5 derajat Celcius hingga sekitar suhu normal tubuh), kelembaban dan udara
yang cukup, banyak bakteri pembusuk, tubuh gemuk atau menderita penyakit
infeksi dan sepsis (Budiyanto, et all, 1997; Sampurna, Samsu, & Siswaja, 2008).
Media tempat mayat terdapat juga berperan. Mayat yang terdapat di udara
akan lebih cepat membusuk dibandingkan dengan yang terdapat dalam air atau
14
dalam tanah. Perbandingan kecepatan pembusukan mayat yang berada dalam
tanah : air: udara adalah 1 : 2 : 8 artinya mayat yang dikubur membusuk 8 kali
lebih lambat dari mayat di udara terbuka. Bayi baru lahir umumnya lebih lambat
membusuk, karena hanya memiliki sedikit bakteri dalam tubuhnya dan hilangnya
panas tubuh yang cepat pada bayi akan menghambat pertumbuhan bakteri
(Budiyanto, et all, 1997; Sampurna, Samsu, & Siswaja, 2008).
Faktor-Faktor yang mempengaruhi kecepatan pembusukan mayat
(Aflanie, Nirmalasari, & Hendy, 2017)
Faktor dari dalam Faktor dari luar
Umur Mikroorganisme
Bayi yang belum makan apa-apa paling
lambat terjadi pembusukan
Konstitusi Tubuh Suhu optimal
Tubuh gemuk lebih cepat membusuk Yaitu, 21-38oC mempercepat
daripada tubuh kurus pembusukan
Keadaan saat mati Kelembapan Udara
Edema, infeksi, dan sepsis mempercepat Kelembapan udara yang tinggi
pembusukan. Dehidrasi memperlambat mempercepat pembusukan
pembusukan
Seks Sifat medium
Wanita baru melahirkan (uterus post Hukum Casper udara : air : tanah = 1 : 2
partum) lebih cepat mengalami : 8 (di udara pembusukan paling cepat,
pembusukan ditanah paling lambat)

E. Adiposera

Adiposera (lilin mayat) adalah terbentuknya bahan yang berwarna


keputihan, lunak atau berminyak, berbau tengik yang terjadi di dalam jaringan
lunak tubuh pasca mati. Dulu disebut saponifikasi, tetapi istilah adiposera lebih
disukai karena menunjukkan sifat-sifat diantar (FK UI, 1997).

Syarat-syarat terjadinya adiposera ialah (Sampurna, Samsu, & Siswaja, 2008):

1. Suhu rendah, kelembaban tinggi

2. Lemak cukup

15
3. Aliran udara rendah

4. Waktu yang lama

Adiposera terutama terdiri dari asam-asam lemak tak jenuh yang terbentu
oleh hidrolisis lemak dan mengalami hidrogenisasi sehingga terbentuk asam
lemak jenuh pasca mati yang tercampur dengan sisa-sisa otot, jaringan ikat,
jaringan saraf yang termumifikasi, dan Kristal-kristal sferis dengan gambaran
radial. Adiposera terapung di air, bila dipanaskan mencair dan terbakar dengan
nyala kuning, larut di dalam alkohol panas dan eter (FK UI, 1997).

Adiposera dapat terbentuk di sembaran lemak tubuh, bahkan di dalam hati,


tetapi lemak superfisial yang pertama kali terkena. Biasanya perubahan berbentuk
bercak, dapat terlihat di pipi, payudara atau bokong, bagian tubuh atau
ekstremitas. Jarang seluruh lemak tubuh berubah menjadi adiposera (Sampurna,
Samsu, & Siswaja, 2008).

Pembusukan akan terhambat oleh adanya adiposera, karena derajat


keasaman dan dehidrasi jaringan bertambah. Lemak segar hanya mengandung
kira-kira 0,5% asam lemak bebas, tetapi dalam waktu 4 minggu pasca mati dapat
naik menjadi 20% dan setelah 12 minggu menjadi 70% atau lebih. Pada saat ini
adiposera menjadi jelas secara makroskopik sebagai bahan berwarna putih kelabu
yang menggantikan atau menginfiltrasi bagian-bagian lunak tubuh. Pada stadium
awal pembentukannya sebelum makroskopik jelas, adiposera paling baik dideteksi
dengan analisis asam palmitate (FK UI, 1997).

Adiposera (lilin mayat) adalah perubahan kimiawi pada lemak tubuh yang
dihidrolisis menjadi senyawa berlilin tidak seperti sabun (Payne-James, Jones,
Karch & Manlove, 2011; FK UI, 1997). Proses ini membentuk bahan yang
berwarna keputihan, lunak atau berminyak, berbau tengik yang terjadi di dalam
jaringan lunak tubuh pasca mati (FK UI, 1997).
Adiposera terjadi karena hidrogenisasi asam lemak tidak jenuh (asam
palmitate, asam stearate dan asam oleat). Asam lemak tidak jenuh itu diduga
dibuat oleh bakteri "Clostridium welchii" dengan membentuk enzim lesitinase
yang mengubah lemak menjadi asam lemak. Asam lemak tidak jenuh yang cair itu
kemudian dihidrogenisasi menjadi asam lemak jenuh yang relatif padat. Mayat
yang mengalami adiposera akan tampak seperti keadaan awal, kulitnya licin dan
16
tubuh tidak berkeriput (Sampurna, Samsu & Siswaja, 2008). Adiposera terapung
di air, bila dipanaskan mencair dan terbakar dengan nyala kuning, larut di dalam
alkohol panas dan eter (FK UI, 1997).
Proses ini paling sering terlihat pada mayat yang ditemukan dalam kondisi
basah (terendam air atau terkubur di tanah basah) tetapi hal ini tidak selalu terjadi
dan beberapa mayat dari brankas kering ditemukan memiliki formasi adiposera
(mungkin air tubuh asli cukup untuk terjadinya hidrolisis lemak (Payne-James,
Jones, Karch & Manlove, 2011).
Adiposera dapat terbentuk di sembarang lemak tubuh, bahkan di dalam
hati, tetapi lemak superfisial yang pertama kali terkena. Biasanya perubahan
berbentuk bercak, dapat terlihat di pipi, payudara atau bokong, bagian tubuh atau
ekstremitas. Jarang seluruh lemak tubuh berubah menjadi adiposera (FK, UI,
1997). Ketika hidrolisis berlangsung, bahan menjadi lebih rapuh dan lebih putih,
dan ketika sepenuhnya terbentuk, adiposera berwarna abu-abu, keras, dan
senyawa lilin akan mempertahankan bentuk tubuh yang dapat bertahan hingga
bertahun-tahun, sehingga identifikasi mayat dan perkiraan sebab kematian masih
dimungkinkan (Payne-James, Jones, Karch & Manlove, 2011; FK UI, 1997).
Kecepatan pengembangan adiposera bervariasi, biasanya diperkirakan
akan memakan waktu berminggu-minggu atau berbulan-bulan, tetapi dilaporkan
terjadi hanya dalam 3 minggu (Payne-James, Jones, Karch & Manlove, 2011).
Faktor-faktor yang mempermudah terbentuknya adiposera adalah kelembapan dan
lemak tubuh yang cukup, sedangkan yang menghambat adalah air mengalir yang
membuang elektrolit. Udara yang dingin menghambat pembentukan, sedangkan
suhu yang hangat akan mempercepat. Invasi bakteri endogen ke dalam jaringan
pasca mati juga akan mempercepat pembentukannya (FK UI, 1997).
Pembusukan akan terhambat oleh adanya adiposera, karena derajat
keasaman dan dehidrasi jaringan bertambah. Lemak segar hanya mengandung
kira-kira 0,5% asam lemak bebas, tetapi dalam waktu 4 minggu pasca mati dapat
naik menjadi 20% dan setelah 12 minggu menjadi 70% atau lebih. Pada saat ini
adiposera menjadi jelas secara makroskopik sebagai bahan berwarna putih kelabu
yang menggantikan atau menginfiltrasi bagian-bagian lunak tubuh. Pada stadium
awal pembentukannya sebelum makroskopik jelas, adiposera paling baik dideteksi
dengan analisis asam palmitate (FK UI, 1997).

17
F. Mummifikasi

Mummifikasi adalah proses penguapan cairan atau dehidrasi jaringan yang


cukup cepat sehingga terjadi pengeringan jaringan yang selanjutnya dapat
menghentikan pembusukan. Jaringan berubah menjadi keras dan kering, berwarna
gelap, berkeriput, dan tidak membusuk karena kuman tidak dapat berkembang
pada lingkungan yang kering. Mumifikasi terjadi bila suhu hangat, kelembaban
rendah, aliran udara yang baik, tubuh yang dehidrasi dan waktu yang lama (12-14
minggu). Mumifikasi jarang dijumpai pada cuaca normal (FK UI, 1997).

G. Perubahan-perubahan yang lain

Termasuk kedalamnya adalah perubahan-perubahan biokimiawi, seperti


elektrolit, asam laktat, nitrogen, glukosa, pH dan lain-lain. Selain itu juga
kekeruhan pada kornea serta perubahan-perubahan pada retina mata. Sampel
darah post mortem sangat sulit untuk dinilai karena redistribusi elektrolit dan zat-
zat kimia yang terlarut didalamnya, hilangnya intergritas selular, dan tidak adanya
transportasi energi-dependen transmembran (Aflanie, Nirmalasari, & Arizal,
2017).

Sejarah dalam analisis kimiawi cairan vitreous humor pada post mortem
sudah dilakukan sejak 40 tahun lalu dan sampai sekarang masih tetap
kontroversial. Dasar utama dalam pemeriksaan ini bahwa cairan vitreous humor
pada mata membentuk lingkungan tertutup yang terpisah dari keseluruhan tubuh
manusia, meskipun masih ada kemungkinan untuk terpengaruh dari suhu
disekelilingnya. Perubahan kimiawi yang sering diperiksa adalah konsentrasi
kalium, meskipun hipotesis ini bergantung pada data vitreous humor pre mortem
korban, dimana data-data biokimia tersebut sangat susah didapat saat korban
masih hidup. Hasil studi menemukan bahwa konsentrasi kalium akan meningkat
seiring keluarnya kalium dari sel-sel intraokular karena tidak adanya transportasi
energi-dependen transmembran. Selain di vitreous humor, tempat lain yang dapat
diperiksa adalah biokimia cairan serebrospinal dan cairan sinovial (Swift, 2006).

Estimasi waktu kematian, yang diketahui sebagai post mortem interval,


merupakan hal yang penting dalam ranah forensik. Kesalahan dalam menentukan

18
post mortem interval dapat berakibat fatal dalam investigasi kriminal. Investigasi
post mortem merupakan tugas bagi seorang ahli patologi untuk memperkirakan
keakuratan rentang kematian sejak kematian dan penyebab kematian dengan
melakukan pemeriksaan seperti reaktivitas otot dan flow cytometry. Analisis
vitreous humor untuk menentukan post mortem interval sering digunakan
dibanding darah dan cairan serebrospinal. Vitreous humor tetap awet pada post
mortem karena terisolasi secara struktur anatomi dan terjaga dengan baik,
meskipun pada kasus trauma kepala berat. Selain itu, vitreous humor menjadi
tempat yang memiliki tingkat kontaminasi dan pembusukan yang rendah
dibanding tempat-tempat lainnya, dan tingkat perubahan kimia yang lambat.
Natrium, klorida, kreatinin dan laktat dipertahankan dalam konsentrasi yang stabil
dibandingkan elektrolit lain pada analisis post mortem. Tingkat kalium dalam
vitreous humor tidak terpengaruhi oleh berbagai macam faktor seperti usia, jenis
kelamin, dan keadaan-keadaan patologik yang biasanya menurunkan tingkat
kalium ditempat-tempat lainnya (Kalra, Mulla, & Kopargaonkar, 2016).
Tingkat kestabilan difusi kalium melewati membran pada periode post
mortem memiliki makna dalam analisis waktu kematian. Prinsip analisis
konsentrasi kalium ini berdasarkan asumsi bahwa peningkatan konsentrasi kalium
vitreous humor pada post mortem berbanding lurus dengan waktu kematian dan
perubahan-perubahan post mortem lainnya dengan tingkat yang konstan (Kalra,
Mulla, & Kopargaonkar, 2016).

Gambar 1. Estimasi post mortem interval dengan konsentrasi kalium vitreous


humor

19
Glukosa darah merupakan marker yang paling sering digunakan untuk
menentukan penyakit-penyakit metabolisme glukosa. Pada analisis post mortem,
tingkat glukosa darah antemortem tidak berguna dalam diagnosis karena
konsentrasi glukosa darah setelah kematian tidak stabil. Setelah jantung dan paru-
paru berhenti berfungsi, sel-sel yang bertahan terus melakukan metabolisme
glukosa darah dan glikolisis berlanjut secara spontan, menyebabkan penurunan
drastis pada glukosa darah. Peningkatan konsentrasi glukosa darah selama
mobilisasi glikogen dari hati, merupakan hasil dari pelepasan katekolamin atau
penambahan glukosa saat resusitasi kardiopulmoner menambah kesulitan dalam
perkiraan tingkat glukosa darah ante mortem (Kalra, Mulla, & Kopargaonkar,
2016).
Dalam ranah patologi forensik, penentuan konsentrasi glukosa dan
metabolitnya dilakukan pada cairan selain darah, seperti vitreous humor dan cairan
serebrospinal,hal ini berguna untuk mendeteksi hiperglikemia antemortem
(Palmiere, 2015). Penelitian Iten dan Meier mendapatkan bahwa terdapat
perbedaan kadar glukosa vitreous humor pada pasien diabetes dibandingkan pasien
tanpa diabetes yaitu sekitar 11,6 – 63,2 mmol/L pada pasien diabetes dan 3,9 – 5,8
mmol/L pada pasien tanpa diabetes (Kalra, Mulla, & Kopargaonkar, 2016).

H. Perkiraan Kematian
Tujuan pengetahuan tanatologi adalah untuk kepentingan medicolegal,
terutama berkaitan dengan interval post-mortem. Pengatahuan ini harus selalu
diterapkan dalam pemeriksaan mayat. Bila saat kematian korban tidak diketahui,
maka dapat digunakan beberapa petunjuk dibawah ini (Aflanie, Nirmalasari, &
Hendy, 2017).
Jam pertama Tubuh masih hangat (37oC), relaksasi otot, kornea mata
bening, belum ada lebam mayat
4-6 jam Tubuh mulai dingin (suhu rektal 34-35oC), kaku mayat di
rahang dan beberapa persendian, lebam mayat masih
hilang dengan penekanan
10-12 jam Mayat mulai dingin (suhu sekitar 29-30oC), kaku mayat
lengkap diseluruh tubuh, lebam mayat sangat jelas dan
tidak hilang dengan penekanan

20
16-18 jam Mayat dingin (sama dengan suhu ruang 28-29oC), kaku
mayat dibeberapa persendian hilang, mulai tanda-tanda
pembusukan di perut kanan bawah tampak biru kehijauan,
lebam meluas di bagian terendah
20-24 jam Dingin, kaku mayat sudah menghilang, tanda pembusukan
jelas, perut mulai tegang, bau pembusukan, darah
pembusukan keluar dari hidung & mulut
30-36 jam Mayat menggembung, mata bengkak, bibir tebal, keluar
gas dan air dari hidung dan mulut, garis pemb. darah di
permukaan tubuh
40-48 jam Bulla pembusukan di seluruh tubuh, skrotum bengkak,
lidah bengkak dan terjulur
3 hari Pembusukan berlanjut, uterus dan anus prolapse, muka
bengkak kehitaman, rambut & kuku mudah dicabut
4-5 hari Perut mengempes karena gas keluar, sutura kepala
merenggang, otak melunak seperti bubur
6-10 hari Jaringan lunak tubuh melembek & lama-lama hancur,
rongga dada dan perut terlihat karena sebagian otot hancur,
dan tinggal tulang belulang

Cara lain untuk memperkirakan saat kematian :


1. Perubahan pada mata. Bila mata terbuka pada atmosfer yang kering, sklera
di kiri-kanan kornea akan berwarna kecoklatan dalam beberapa jam berbentuk
segitiga dengan dasar di tepi kornea (taches noires sclerotiques). Kekeruhan
kornea terjadi lapis demi lapis. Kekeruhan yang terjadi pada lapis terluar dapat
dihilangkan dengan meneteskan air, tetapi kekeruhan yang telah mencapai
lapisan lebih dalam tidak dapat dihilangkan dengan tetesan air. Kekeruhan
yang menetap ini terjadi sejak kira-kira 6 jam pasca mati. Baik dalam keadaan
mata tertutup maupun terbuka, kornea menjadi keruh kira-kira 10-12 jam
pasca mati dan dalam beberapa jam saja fundus tidak tampak jelas. Setelah
kematian tekanan bola mata menurun, memungkinkan distorsi pupil pada
penekanan bola mata. Tidak ada hubungan antara diameter pupil dengan
lamanya mati. Perubahan pada retina dapat menunjukkan saat kematian
hingga 15 jam pasca mati. Hingga 30 menit pasca mati tampak kekeruhan
21
makula dan mulai memucatnya diskus optikus. Kemudian hingga 1 jam pasca
mati, makula lebih pucat dan tepinya tidak tajam lagi. Selama 2 jam pertama
pasca mati, retina pucat dan daerah sekitar diskus menjadi kuning. Warna
kuning juga tampak disekitar makula yang menjadi lebih gelap. Pada saat itu
pola vaskular koroid yang tampak sebagai bercak-bercak dengan latar
belakang merah dengan pola segmentasi yang jelas, tetapi pada kira-kira 3 jam
pasca mati menjadi kabur dan setelah 5 jam menjadi homogen dan lebih pucat.
Pada kira-kira 6 jam pasca mati, batas diskus kabur dan hanya pembuluh-
pembuluh besar yang mengalami segmentasi yang dapat dilihat dengan latar
belakang kuning-kelabu. Dalam waktu 7-10 jam pasca mati akan mencapai
tepi retina dan batas diskus akan sangat kabur. Pada 12 jam pasca mati diskus
hanya dapat dikenali dengan adanya konvergensi beberapa segmen pembuluh
darah yang tersisa. Pada 15 jam pasca mati tidak ditemukan lagi gambaran
pembuluh darah retina dan diskus, hanya makula saja yang tampak berwarna
coklat gelap.
2. Perubahan rambut. Dengan mengingat bahwa kecepatan tumbuh rambut
rata-rata 0.4 mm/hari, panjang rambut kumis dan jenggot dapat dipergunakan
untuk memperkirakan saat kematian. Cara ini hanya dapat digunakan bagi pria
yang mempunyai kebiasaan mencukur kumis atau jenggotnya dan diketahui
saat terakhir. Bila diketahui kapan saat cukur terakhir, maka panjang rambut
dapat dipakai untuk perkiraan saat mati secara kasarnya.
3. Perubahan dalam lambung. Kecepatan pengosongan lambung sangat
bervariasi, sehingga tidak dapat digunakan untuk memberikan petunjuk pasti
waktu antara makan terakhir dan saat mati, tetapi rata-rata pengosongan
lambung terjadi 3-5 jam setelah makan terakhir. Namun keadaan lambung dan
isinya mungkin membantu dalam membuat keputusan. Ditemukannya
makanan tertentu (pisang, kulit tomat, biji-bijian) dalam isi lambung dapat
digunakan untuk menyimpulkan bahwa korban sebelum meninggal telah
makan makanan tersebut.
4. Perubahan dalam cairan serebrospinal. Kadar nitrogen asam amino kurang
dari 14 mg% menunjukkan kematian belum lewat 10 jam, kadar nitrogen non-
protein kurang dari 80mg% menunjukkan kematian belum 24 jam, kadar
kreatin kurang dari 5 mg% dan 10 mg% masing-masing menunjukkan
kematian belum mencapai 10 jam dan 30 jam.
22
5. Pertumbuhan kuku. Sejalan dengan pertumbuhan rambut seperti diatas
pertumbuhan kuku diperkirakan tumbuh sekitar 0,1 mm per hari sehingga
dapat digunakan untuk memperkirakan saat kematian bila dapat diketahui saat
terakhir yang bersangkutan memotong kuku.
6. Perubuhan biokimia. Didalam plasma terjadi peningkatan kadar K+, asam
laktat, penurunan kadar glukosa dan pH dll, namun tidak memiliki
keakurasian dalam memperkirakan saat kematian. Sedangkan peningkatan
kadar Kalium di dalam vitreus humor cukup akurat sebagai perkiraan saat
kematian pada 24-100 jam pasca mati.
7. Reaksi supravital. Kontraksi otot dapat terjadi pasca mati sampai 90-120
menit, perdarahan di bawah kulit masih dapat timbul pada pemukulan sampai
1 jam pasca mati, sekresi kelenjar keringkat dan miosis-midriasis masih dapat
dirangsang hingga 60-90 menit pasca mati.
8. Metode Entemologik. Melalui pemeriksaan belatung di mayat yang sudah
busuk. Larva ditentukan dulu spesiesnya; Musca domestica, Sacrophaga
craniria, atau lainnya. Kemudian, ukur panjangnya (catat bila ada lebih dari
satu generasi larva). Larva Musca domestica biasanya mencapai panjang 8
mm pada hari ke-7 dan berubah menjadi kepompong pada hari ke-8, menjadi
lalat pada hari ke-14. Sedangkan larva Sarcophaga cranaria mencapai panjang
20 mm pada hari ke-9, menjadi kepompong pada hari ke-10, dan menjadi lalat
hari ke-18.

23
BAB III
KESIMPULAN

Perubahan – perubahan yang terjadi setelah kematian dibedakan menjadi


dua yaitu perubahan yang dapat timbul dini pada saat meninggal atau beberapa
menit kemudian, misalnya kerja jantung dan peredaran darah berhenti, pernapasan
berhenti, reflek cahaya dan reflek kornea mata hilang, kulit pucat dan relaksasi otot.
Setelah beberapa waktu timbul perubahan pasca mati yang jelas yang
memungkinkan diagnosis kematian lebih pasti. Tanda-tanda tersebut dikenal
sebagai tanda pasti kematian berupa lebam mayat (hypostasis atau lividitas pasca
mati), kaku mayat (rigor mortis), penurunan suhu tubuh, pembusukan, mumifikasi
dan adiposera. Dengan mengetahui perubahan biokimia pada jenazah setelah
kematian maka kita bisa untuk menetapkan hidup atau matinya korban,
memperkirakan saat kematian korban, perkiraan sebab kematian, dan perkiraan cara
kematian

24
DAFTAR PUSTAKA

Aflanie, I., Nirmalasari, N., & Arizal, M. H. (2017). Ilmu Kedokteran Forensik dan
Medikolegal. Jakarta: Rajawali Pers.
Budiyanto, A., Widiatmo, W., Sudiono, S., Winardi, T., Mun’im, A. S., & Hertian, S.
(1997). Ilmu Kedokteran Forensik. 1st ed. Jakarta: Bagian Kedokteran Forensik
Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.
Dahlan S. Thanatologi. In: Ilmu Kedokteran Forensik: Pedoman Bagi Dokter dan
Penegak Hukum. Semarang: Badan Penerbit Universitas Diponegoro. 2007:
47-65
Dix J. Guide to forensic pathology. Columbia: CRC Press LCC, 1998.
FK UI. (1997). Ilmu Kedokteran Forensik. Bagian Kedokteran Forensik Fakultas
Kedokteran Universitas Mulawarman.
Kalra, J., Mulla, A., & Kopargaonkar, A. (2016). Diagnostic value of Vitreous Humor in
Postmortem Analysis. SM Journal of Clinical Pathology, 1(1), 1005.
Palmiere, C. (2015). Postmortem diagnosis of diabetes mellitus and its complications.
Croat Med Journal, 181-93.
Payne-James, J., Jones, R., Karch, S. B., & Manlove, J. (2011). Simpson's Forensic
Medicine (13 ed.). London: Hodder Arnold An Hachette UK Company.
Sampurna, B., Samsu, Z., & Siswaja, T. D. (2008). Peranan Ilmu Forensik dalam
Penegakan Hukum. Jakarta.
Shepherd R. Changes after death. In: Simpson’s forensic medicine. London:
Arnold Publisher, 2003: 37-48
Swift, B. (2006). The Timing of Death. In G. N. Rutty, Essentials of Autopsy Practice (p.
194). London: Springer.

25

Anda mungkin juga menyukai