Perubahan Biokimia Pada Jenazah Setelah Kematian: Disusun Oleh
Perubahan Biokimia Pada Jenazah Setelah Kematian: Disusun Oleh
Disusun oleh:
Pembimbing:
Puji dan syukur kami haturkan kehadirat Allah karena atas rahmat-Nyalah karya
tulis ilmiah yang berjudul “Perubahan Biokimia pada Jenazah setelah Kematian” ini
dapat diselesaikan tepat pada waktunya. Karya tulis ilmiah ini disusun dari berbagai
sumber ilmiah sebagai sumber referensi untuk karya tulis ilmiah ini. Karya tulis ilmiah
ini secara garis besar berisikan tentang peran larva lalat terhadap penentuan saat
kematian.
Dalam proses penyusunan laporan ini, kami mengucapkan terima kasih kepada:
1. dr. Daniel Umar SH,Sp.F, selaku dosen klinik yang membimbing kami dalam
melaksanakan rotasi dokter muda di stase Forensik.
2. dr. Kristina Uli Sp.F.M, selaku dosen klinik yang membimbing kami dalam
melaksanakan rotasi dokter muda di stase Forensik.
3. Sekretaris dan Staf-staf forensik yang sudah membantu kami selama
melaksanakan tugas di stase Forensik sehingga dapat berjalan dengan baik.
.
Tentu saja kami sebagai penyusun mengharapkan agar karya tulis ilmiah ini dapat
berguna baik bagi penyusun maupun bagi para pembaca di kemudian hari.
Sesuai pepatah, tak ada gading yang tak retak, tentunya karya tulis ilmiah ini
sangat jauh dari sempurna. Oleh karena itu saran dan kritik yang bersifat membangun
sangat penyusun harapkan demi tercapainya kesempurnaan dari isi karya tulis ilmiah ini.
Dokter Muda
2
DAFTAR ISI
Hal.
HALAMAN JUDUL ................................................................................................... 1
KATA PENGANTAR ................................................................................................. 2
DAFTAR ISI................................................................................................................ 3
BAB 1 PENDAHULUAN .......................................................................................... 4
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA .................................................................................. 5
A. Lebam Mayat .......................................................................................................... 5
B. Penurunan Suhu....................................................................................................... 7
C. Kaku mayat ............................................................................................................. 9
D. Pembusukan ............................................................................................................ 11
E. Adiposera ................................................................................................................. 13
F. Mummifikasi............................................................................................................ 14
G. Perubahan-perubahan yang lain .............................................................................. 15
H. Perkiraan Kematian ................................................................................................. 15
BAB 3 KESIMPULAN................................................................................................ 19
DAFTAR PUSTAKA .................................................................................................. 20
3
BAB I
PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
4
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Lebam Mayat
Darah tetap cair karena adanya aktivitas fibrinolisin yang berasal dari
endotel pembuluh darah. Lebam mayat biasanya mulai tampak 20-30 menit paska
mati, makin lama intensitasnya bertambah dan menjadi lengkap dan menetap
setelah 8-12 jam. Sebelum waktu itu, lebam mayat masih hilang (memucat) pada
penekanan dan dapat berpindah tempat jika posisi mayat diubah. Memucatnya
lebam akan lebih cepat dan lebih sempurna apabila penekanan atau perubahan
posisi tubuh tersebut dilakukan dalam 6 jam pertama setelah mati klinis. Tetapi,
walaupun setelah 24 jam, darah masih tetap cukup cair sehingga jumlah darah
masih dapat mengalir dan membentuk lebam mayat ditempat terendah baru.
Kadang-kadang dijumpai bercak perdarahan berwarna biru kehitaman akibat
pecahnya pembuluh darah. Menetapnya lebam mayat disebabkan oleh
bertimbunnya sel-sel darah dalam jumlah cukup banyak sehingga sulit berpindah
lagi. Selain itu kekakuan otot-otot dinding pembuluh darah ikut mempersulit
perpindahan tersebut (FK UI, 1997).
Apabila pada mayat terlentang yang telah timbul lebam mayat belum
menetap dilakukan perubahan posisi menjadi telungkup, maka setelah beberapa
saat akan terbentuk lebam mayat baru di daerah dada dan perut. Lebam mayat
5
yang belum menetap atau masih hilang pada penekanan menunjukkan saat
kematian kurang dari 8-12 jam sebelum saat pemeriksaan (FK UI, 1997).
6
warna lebam mayat disekitarnya
Pada Pada pemotongan, darah Menunjukkan resapan darah ke
pemotongan tampak dalam pembuluh, dan jaringan sekitar, susah
mudah dibersihkan. Jaringan dibersihkan jaringan sekitar,
subkutan tampak pucat susah dibersihkan jika hanya
dengan air mengalir. Jaringan
subkutan berwarna merah
kehitaman
Dampak Akan hilang walaupun hanya Warnanya berubah sedikit saja
setelah diberi penekanan yang ringan jika diberi penekanan
penekanan
Warna Tidak beraturan dan terdapat Sama merahnya diseluruh organ
merah pada bagian tubuh yang tubuh
letaknya rendah
B. Penurunan Suhu
Penurunan suhu tubuh setelah kematian atau algor mortis hampir sama
seperti objek yang hangat pada lingkungan dingin. Hukum Newton mengenai
keadaan dingin, menyatakan bahwa panas akan keluar dari badan yang hangat
menuju lingkungan yang dingin dan temperatur badan akan menurun (Payne-
James, Jones, Karch, & Manlove, 2011). Terjadinya algor mortis karena adanya
perbedaan antara suhu tubuh mayat dengan lingkungan, sehingga panas
dipindahkan dengan jalan evaporasi dan konduksi, dan sedikit konveksi dan
radiasi (Budiyanto, et al., 1997). Penurunan suhu mula-mula bergerak lambat
karena masih adanya pembentukan panas hasil metabolisme seluler dan adanya
kelambatan pelepasan panas dari dalam tubuh karena perbedaan daya hantar
panas antar jaringan (temparature gradient belum dicapai) radiasi (Aflanie,
Nirmalasari, & Arizal, 2017).
7
Tetapi setelah fase ini yang biasanya selama 40-60 menit terlalui, maka
suhu turun dengan grafik yang relatif linier hingga mendekati suhu lingkungan.
Selanjutnya grafik agak mendatar lagi. Secara keseluruhan grafik ini berberntuk
sigmoid (menyerupai huruf S) radiasi (Aflanie, Nirmalasari, & Arizal, 2017).
8
C. Kaku mayat
Pada otot orang hidup terdapat cadangan glikogen. Glikogen oleh enzim
diubah menjadi asam laktat dengan hasil berupa energi dalam ikatan senyawa
fosfat. Energi ini kemudian berikatan dengan ADP menjadi ATP. ATP inilah yang
bertanggung jawab atas tetap elastisnya otot (Sampurna, Samsu, & Siswaja,
2008).
Pada orang mati, apabila faktor lainnya mendukung antara lain suhu,
proses seperti diatas masih bisa berlangsung beberapa saat hingga cadangan
glikogen tidak ada, yang berarti ATP tidak terbentuk lagi, sehingga terjadilah
kaku mayat. Dengan demikian kaku mayat cepat terjadi pada orang kurus, pada
yang menderita penyakit/radang, suhu tinggi atau yang melakukan kerja berat
sebelum mati (Sampurna, Samsu, & Siswaja, 2008).
GLIKOGEN
ATP ≠ TERBENTUK
Ca2+ (RE) ATP
RIGOR MORTIS
RELAKSASI OTOT
Setelah kematian, otot-otot tubuh akan melalui 3 fase, yaitu: inisial flaksid
atau flaksid primer, onset rigiditas otot yang disebut kaku mayat dan fase flaksid
sekunder (Aflanie, Nirmalasari, & Arizal, 2017). Kelenturan otot setelah kematian
masih dipertahankan karena metabolisme tingkat seluler masih berjalan berupa
pemecahan cadangan glikogen otot yang menghasilkan energi. Energi ini
digunakan untuk mengubah ADP menjadi ATP. Selama masih terdapat ATP
maka serabut aktin dan myosin tetap lentur. Bila cadangan glikogen dalam otot
habis, maka energi tidak terbentuk lagi, aktin dan myosin menggumpal dan otot
menjadi kaku (FK UI, 1997).
10
tersebut dipindahkan ke lingkungan yang lebih hangat (biasanya kamar mayat),
kekakuan yang disebabkan oleh dingin terlihat menghilang ketika tubuh
menghangat, dan kekakuan yang sebenarnya terlihat ketika proses kimia seluler
dimulai kembali (Payne-James, Jones, Karch, & Manlove, 2011).
Kekakuan berkembang secara seragam di seluruh tubuh tetapi umumnya
terdeteksi pertama kali pada kelompok otot yang lebih kecil seperti di sekitar
mata, mulut, rahang dan jari-jari dan selanjutnya pada otot yang lebih besar,
sehingga tampak kekakuan pada badan dimulai dari kepala hingga ke kaki
(Payne-James, Jones, Karch, & Manlove, 2011).
Meskipun prosesnya terjadi segera setelah kematian somatis, kaku mayat
mulai terlihat kurang lebih 2 jam setelah mati. Kekakuan umumnya dapat
dideteksi di wajah kira-kira antara 1 sampai 4 jam, dan pada tungkai kira-kira
antara 3 sampai 6 jam setelah kematian, dengan kekuatan kekakuan meningkat
secara maksimal sekitar 18 jam setelah kematian. Setelah terbentuk, kekakuan
akan bertahan hingga sekitar 50 jam setelah kematian sampai autolisis dan
dekomposisi sel-sel otot mengintervensi dan otot menjadi lembek kembali dengan
urutan yang sama dengan mulainya (Payne-James, Jones, Karch & Manlove,
2011; Sampurna, Samsu & Siswaja, 2008). Namun waktu-waktu ini hanyalah
pedoman dan tidak pernah absolut. Penilaian ada atau tidaknya kekakuan
digunakan untuk mengetahui "estimasi" waktu kematian, karena kekakuan adalah
suatu proses variabel yang tidak pernah dapat memberikan penilaian akurat
terhadap waktu kematian (Payne-James, Jones, Karch, & Manlove, 2011).
Terdapat kekakuan pada mayat yang menyerupai kaku mayat (FK UI, 1997):
1. Cadaveric spasm (instantaneous rigor) adalah bentuk kekakuan otot yang
terjadi pada saat kematian dan menetap. Cadaveric spasm sesungguhnya
merupakan kaku mayat yang timbul dengan intensitas sangat kuat tanpa
didahului oleh relaksasi primer. Penyebabnya adalah akibat habisnya
cadangan glikogen dan ATP yang bersifat setempat pada saat mati klinis
karena kelelahan atau emosi yang hebat sesaat sebelum meninggal. Cadaveric
spasm ini jarang dijumpai, tetapi sering terjadi dalam masa perang.
Kepentingan medikolegalnya adalah menunjukkan sikap terakhir masa
hidupnya. Misalnya, tangan yang menggenggam erat benda yang diraihnya
pada kasus tenggelam, tangan yang menggenggam senjata pada bunuh diri
(FK UI, 1997).
11
Tabel 1. Perbedaan rigor mortis dan cadaveric spasm (Indries, 1997; Aflanie,
Nirmalasari & Afrizal, 2017).
Pembeda Rigor Mortis Cadaveric Spasm
Waktu timbul Dua jam setelah Sesaat sebelum
meninggal. Rigor meninggal (intravital)
mortis lengkap setelah dan menetap.
12 jam.
Faktor predisposisi - Kelelalahan, emosi
hebat, ketegangan, dll.
Etiologi Habisnya cadangan Habisnya cadangan
glikogen secara glikogen pada otot
general setempat.
Pola terjadinya kaku Sentripetal, dari otot- Kaku otot pada satu
otot otot kecil kemudian kelompok otot tertentu
otot besar.
Kepentingan Untuk penentuan saat Untuk menunjukkan
medikolegal kematian sikap terakhir masa
hidupnya. Biasanya
pada kasus
pembunuhan, bunuh
diri, dan kecelakaan.
Suhu mayat Dingin Hangat
Kematian sel Ada Tidak ada
Relaksasi primer Ada Tidak ada
Timbulnya Lambat Cepat
Lamanya Cepat hilang Lambat hilang
(dipertahankan)
Koordinasi otot Kurang Baik
Lokasi otot Menyeluruh Setempat (yang aktif)
Rangsangan sel Tidak ada respons otot Ada respons otot
Kaku otot Dapat dilawan dengan Perlu tenaga kuat untuk
sedikit tenaga. melawannya.
2. Heat stiffening, yaitu kekakuan otot akibat koagulasi protein otot oleh
panas. Otot-otot berwarna merah muda, kaku, tetapi rapuh (mudah robek).
Keadaan ini dapat dijumpai pada korban mati terbakar. Pada heat
stiffening serabut-serabut ototnya memendek sehingga menimbulkan
fleksi leher, siku, paha dan lutut, membentuk sikap petinju (pugilistic
12
sttitude). Perubahan sikap ini tidak memberikan arti tertentu bagi sikap
semasa hidup, intravitalitas, penyebab atau cara kematian (FK UI, 1997).
D. Pembusukan
E. Adiposera
2. Lemak cukup
15
3. Aliran udara rendah
Adiposera terutama terdiri dari asam-asam lemak tak jenuh yang terbentu
oleh hidrolisis lemak dan mengalami hidrogenisasi sehingga terbentuk asam
lemak jenuh pasca mati yang tercampur dengan sisa-sisa otot, jaringan ikat,
jaringan saraf yang termumifikasi, dan Kristal-kristal sferis dengan gambaran
radial. Adiposera terapung di air, bila dipanaskan mencair dan terbakar dengan
nyala kuning, larut di dalam alkohol panas dan eter (FK UI, 1997).
Adiposera (lilin mayat) adalah perubahan kimiawi pada lemak tubuh yang
dihidrolisis menjadi senyawa berlilin tidak seperti sabun (Payne-James, Jones,
Karch & Manlove, 2011; FK UI, 1997). Proses ini membentuk bahan yang
berwarna keputihan, lunak atau berminyak, berbau tengik yang terjadi di dalam
jaringan lunak tubuh pasca mati (FK UI, 1997).
Adiposera terjadi karena hidrogenisasi asam lemak tidak jenuh (asam
palmitate, asam stearate dan asam oleat). Asam lemak tidak jenuh itu diduga
dibuat oleh bakteri "Clostridium welchii" dengan membentuk enzim lesitinase
yang mengubah lemak menjadi asam lemak. Asam lemak tidak jenuh yang cair itu
kemudian dihidrogenisasi menjadi asam lemak jenuh yang relatif padat. Mayat
yang mengalami adiposera akan tampak seperti keadaan awal, kulitnya licin dan
16
tubuh tidak berkeriput (Sampurna, Samsu & Siswaja, 2008). Adiposera terapung
di air, bila dipanaskan mencair dan terbakar dengan nyala kuning, larut di dalam
alkohol panas dan eter (FK UI, 1997).
Proses ini paling sering terlihat pada mayat yang ditemukan dalam kondisi
basah (terendam air atau terkubur di tanah basah) tetapi hal ini tidak selalu terjadi
dan beberapa mayat dari brankas kering ditemukan memiliki formasi adiposera
(mungkin air tubuh asli cukup untuk terjadinya hidrolisis lemak (Payne-James,
Jones, Karch & Manlove, 2011).
Adiposera dapat terbentuk di sembarang lemak tubuh, bahkan di dalam
hati, tetapi lemak superfisial yang pertama kali terkena. Biasanya perubahan
berbentuk bercak, dapat terlihat di pipi, payudara atau bokong, bagian tubuh atau
ekstremitas. Jarang seluruh lemak tubuh berubah menjadi adiposera (FK, UI,
1997). Ketika hidrolisis berlangsung, bahan menjadi lebih rapuh dan lebih putih,
dan ketika sepenuhnya terbentuk, adiposera berwarna abu-abu, keras, dan
senyawa lilin akan mempertahankan bentuk tubuh yang dapat bertahan hingga
bertahun-tahun, sehingga identifikasi mayat dan perkiraan sebab kematian masih
dimungkinkan (Payne-James, Jones, Karch & Manlove, 2011; FK UI, 1997).
Kecepatan pengembangan adiposera bervariasi, biasanya diperkirakan
akan memakan waktu berminggu-minggu atau berbulan-bulan, tetapi dilaporkan
terjadi hanya dalam 3 minggu (Payne-James, Jones, Karch & Manlove, 2011).
Faktor-faktor yang mempermudah terbentuknya adiposera adalah kelembapan dan
lemak tubuh yang cukup, sedangkan yang menghambat adalah air mengalir yang
membuang elektrolit. Udara yang dingin menghambat pembentukan, sedangkan
suhu yang hangat akan mempercepat. Invasi bakteri endogen ke dalam jaringan
pasca mati juga akan mempercepat pembentukannya (FK UI, 1997).
Pembusukan akan terhambat oleh adanya adiposera, karena derajat
keasaman dan dehidrasi jaringan bertambah. Lemak segar hanya mengandung
kira-kira 0,5% asam lemak bebas, tetapi dalam waktu 4 minggu pasca mati dapat
naik menjadi 20% dan setelah 12 minggu menjadi 70% atau lebih. Pada saat ini
adiposera menjadi jelas secara makroskopik sebagai bahan berwarna putih kelabu
yang menggantikan atau menginfiltrasi bagian-bagian lunak tubuh. Pada stadium
awal pembentukannya sebelum makroskopik jelas, adiposera paling baik dideteksi
dengan analisis asam palmitate (FK UI, 1997).
17
F. Mummifikasi
Sejarah dalam analisis kimiawi cairan vitreous humor pada post mortem
sudah dilakukan sejak 40 tahun lalu dan sampai sekarang masih tetap
kontroversial. Dasar utama dalam pemeriksaan ini bahwa cairan vitreous humor
pada mata membentuk lingkungan tertutup yang terpisah dari keseluruhan tubuh
manusia, meskipun masih ada kemungkinan untuk terpengaruh dari suhu
disekelilingnya. Perubahan kimiawi yang sering diperiksa adalah konsentrasi
kalium, meskipun hipotesis ini bergantung pada data vitreous humor pre mortem
korban, dimana data-data biokimia tersebut sangat susah didapat saat korban
masih hidup. Hasil studi menemukan bahwa konsentrasi kalium akan meningkat
seiring keluarnya kalium dari sel-sel intraokular karena tidak adanya transportasi
energi-dependen transmembran. Selain di vitreous humor, tempat lain yang dapat
diperiksa adalah biokimia cairan serebrospinal dan cairan sinovial (Swift, 2006).
18
post mortem interval dapat berakibat fatal dalam investigasi kriminal. Investigasi
post mortem merupakan tugas bagi seorang ahli patologi untuk memperkirakan
keakuratan rentang kematian sejak kematian dan penyebab kematian dengan
melakukan pemeriksaan seperti reaktivitas otot dan flow cytometry. Analisis
vitreous humor untuk menentukan post mortem interval sering digunakan
dibanding darah dan cairan serebrospinal. Vitreous humor tetap awet pada post
mortem karena terisolasi secara struktur anatomi dan terjaga dengan baik,
meskipun pada kasus trauma kepala berat. Selain itu, vitreous humor menjadi
tempat yang memiliki tingkat kontaminasi dan pembusukan yang rendah
dibanding tempat-tempat lainnya, dan tingkat perubahan kimia yang lambat.
Natrium, klorida, kreatinin dan laktat dipertahankan dalam konsentrasi yang stabil
dibandingkan elektrolit lain pada analisis post mortem. Tingkat kalium dalam
vitreous humor tidak terpengaruhi oleh berbagai macam faktor seperti usia, jenis
kelamin, dan keadaan-keadaan patologik yang biasanya menurunkan tingkat
kalium ditempat-tempat lainnya (Kalra, Mulla, & Kopargaonkar, 2016).
Tingkat kestabilan difusi kalium melewati membran pada periode post
mortem memiliki makna dalam analisis waktu kematian. Prinsip analisis
konsentrasi kalium ini berdasarkan asumsi bahwa peningkatan konsentrasi kalium
vitreous humor pada post mortem berbanding lurus dengan waktu kematian dan
perubahan-perubahan post mortem lainnya dengan tingkat yang konstan (Kalra,
Mulla, & Kopargaonkar, 2016).
19
Glukosa darah merupakan marker yang paling sering digunakan untuk
menentukan penyakit-penyakit metabolisme glukosa. Pada analisis post mortem,
tingkat glukosa darah antemortem tidak berguna dalam diagnosis karena
konsentrasi glukosa darah setelah kematian tidak stabil. Setelah jantung dan paru-
paru berhenti berfungsi, sel-sel yang bertahan terus melakukan metabolisme
glukosa darah dan glikolisis berlanjut secara spontan, menyebabkan penurunan
drastis pada glukosa darah. Peningkatan konsentrasi glukosa darah selama
mobilisasi glikogen dari hati, merupakan hasil dari pelepasan katekolamin atau
penambahan glukosa saat resusitasi kardiopulmoner menambah kesulitan dalam
perkiraan tingkat glukosa darah ante mortem (Kalra, Mulla, & Kopargaonkar,
2016).
Dalam ranah patologi forensik, penentuan konsentrasi glukosa dan
metabolitnya dilakukan pada cairan selain darah, seperti vitreous humor dan cairan
serebrospinal,hal ini berguna untuk mendeteksi hiperglikemia antemortem
(Palmiere, 2015). Penelitian Iten dan Meier mendapatkan bahwa terdapat
perbedaan kadar glukosa vitreous humor pada pasien diabetes dibandingkan pasien
tanpa diabetes yaitu sekitar 11,6 – 63,2 mmol/L pada pasien diabetes dan 3,9 – 5,8
mmol/L pada pasien tanpa diabetes (Kalra, Mulla, & Kopargaonkar, 2016).
H. Perkiraan Kematian
Tujuan pengetahuan tanatologi adalah untuk kepentingan medicolegal,
terutama berkaitan dengan interval post-mortem. Pengatahuan ini harus selalu
diterapkan dalam pemeriksaan mayat. Bila saat kematian korban tidak diketahui,
maka dapat digunakan beberapa petunjuk dibawah ini (Aflanie, Nirmalasari, &
Hendy, 2017).
Jam pertama Tubuh masih hangat (37oC), relaksasi otot, kornea mata
bening, belum ada lebam mayat
4-6 jam Tubuh mulai dingin (suhu rektal 34-35oC), kaku mayat di
rahang dan beberapa persendian, lebam mayat masih
hilang dengan penekanan
10-12 jam Mayat mulai dingin (suhu sekitar 29-30oC), kaku mayat
lengkap diseluruh tubuh, lebam mayat sangat jelas dan
tidak hilang dengan penekanan
20
16-18 jam Mayat dingin (sama dengan suhu ruang 28-29oC), kaku
mayat dibeberapa persendian hilang, mulai tanda-tanda
pembusukan di perut kanan bawah tampak biru kehijauan,
lebam meluas di bagian terendah
20-24 jam Dingin, kaku mayat sudah menghilang, tanda pembusukan
jelas, perut mulai tegang, bau pembusukan, darah
pembusukan keluar dari hidung & mulut
30-36 jam Mayat menggembung, mata bengkak, bibir tebal, keluar
gas dan air dari hidung dan mulut, garis pemb. darah di
permukaan tubuh
40-48 jam Bulla pembusukan di seluruh tubuh, skrotum bengkak,
lidah bengkak dan terjulur
3 hari Pembusukan berlanjut, uterus dan anus prolapse, muka
bengkak kehitaman, rambut & kuku mudah dicabut
4-5 hari Perut mengempes karena gas keluar, sutura kepala
merenggang, otak melunak seperti bubur
6-10 hari Jaringan lunak tubuh melembek & lama-lama hancur,
rongga dada dan perut terlihat karena sebagian otot hancur,
dan tinggal tulang belulang
23
BAB III
KESIMPULAN
24
DAFTAR PUSTAKA
Aflanie, I., Nirmalasari, N., & Arizal, M. H. (2017). Ilmu Kedokteran Forensik dan
Medikolegal. Jakarta: Rajawali Pers.
Budiyanto, A., Widiatmo, W., Sudiono, S., Winardi, T., Mun’im, A. S., & Hertian, S.
(1997). Ilmu Kedokteran Forensik. 1st ed. Jakarta: Bagian Kedokteran Forensik
Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.
Dahlan S. Thanatologi. In: Ilmu Kedokteran Forensik: Pedoman Bagi Dokter dan
Penegak Hukum. Semarang: Badan Penerbit Universitas Diponegoro. 2007:
47-65
Dix J. Guide to forensic pathology. Columbia: CRC Press LCC, 1998.
FK UI. (1997). Ilmu Kedokteran Forensik. Bagian Kedokteran Forensik Fakultas
Kedokteran Universitas Mulawarman.
Kalra, J., Mulla, A., & Kopargaonkar, A. (2016). Diagnostic value of Vitreous Humor in
Postmortem Analysis. SM Journal of Clinical Pathology, 1(1), 1005.
Palmiere, C. (2015). Postmortem diagnosis of diabetes mellitus and its complications.
Croat Med Journal, 181-93.
Payne-James, J., Jones, R., Karch, S. B., & Manlove, J. (2011). Simpson's Forensic
Medicine (13 ed.). London: Hodder Arnold An Hachette UK Company.
Sampurna, B., Samsu, Z., & Siswaja, T. D. (2008). Peranan Ilmu Forensik dalam
Penegakan Hukum. Jakarta.
Shepherd R. Changes after death. In: Simpson’s forensic medicine. London:
Arnold Publisher, 2003: 37-48
Swift, B. (2006). The Timing of Death. In G. N. Rutty, Essentials of Autopsy Practice (p.
194). London: Springer.
25