0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
617 tayangan16 halaman

Desain Penelitian Pra-Eksperimental

Ringkasan dokumen tersebut adalah: (1) Dokumen tersebut membahas desain penelitian pra-eksperimental dan dua jenis desain pra-eksperimental yaitu Post test Only Design dan One Group Pre test Post test; (2) Post test Only Design menggunakan dua kelompok yang diuji hanya pasca perlakuan, sedangkan One Group Pre test Post test menguji satu kelompok sebelum dan sesudah perlakuan; (3) Kedua desain tersebut memiliki kelebihan dan

Diunggah oleh

usnida mubarokah
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
617 tayangan16 halaman

Desain Penelitian Pra-Eksperimental

Ringkasan dokumen tersebut adalah: (1) Dokumen tersebut membahas desain penelitian pra-eksperimental dan dua jenis desain pra-eksperimental yaitu Post test Only Design dan One Group Pre test Post test; (2) Post test Only Design menggunakan dua kelompok yang diuji hanya pasca perlakuan, sedangkan One Group Pre test Post test menguji satu kelompok sebelum dan sesudah perlakuan; (3) Kedua desain tersebut memiliki kelebihan dan

Diunggah oleh

usnida mubarokah
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

BAB VI

PRA-EKSPERIMENTAL

Capaian Pembelajaran
Mahasiswa mampu menjelaskan tentang desain penelitian pra-eksperimental.
Kemampuan Akhir yang diharapkan
Menjelaskan tentang desain penelitian pra-eksperimental.

Desain yang dibicarakan pada saat ini berkaitan dengan desain penelitian
yang tidak memerlukan persyaratan tertentu yang harus diikuti oleh peneliti.
Persyaratan tertentu yang dimaksud misalnya prosedur penentuan subjek atau
partisipan penelitian, penetapan homogenitas varian, dan persyaratan lain. Desain
penelitian banyak mengandung kelemahan-kelemahan. Desain pra-eksperimental
atau non-desain ini tidak memerlukan desain yang cermat, dan bahkan setiap orang
bisa melakukan dengan mudah.
Dikatakan desain pra-eksperimental, karena desain ini belum merupakan
eksperimen sungguh-sungguh. Hal ini disebabkan karena masih terdapat variabel
luar yang ikut berpengaruh terhadap terbentuknya variabel terikat (dependen). Jadi
hasil eksperimen yang merupakan variabel terikat (dependen) itu bukan semata-
mata dipengaruhi oleh variabel bebas (independen). Hal ini bisa saja terjadi karena
tidak adanya variabel kontrol dan sampel tidak dipilih secara acak (random).
Ada dua alasan, mengapa kita menggunakan rancangan non-desain. Pertama,
walaupun desain ini memiliki berbagai kelemahan, desain ini bukan berarti tidak
memiliki kebaikan. Hal yang mungkin (tetapi sulit diwujudkan), yaitu memberikan
gambaran kesimpulan yang valid dari beberapa penelitian dengan non-desain ini.
Biasanya sesuatu yang mengandung banyak kelemahan tidak banyak dilakukan
oleh peneliti. Kedua, desain ini memberikan suatu landasan yang baik bagi alasan
penggunaan pendekatan desain kuasi-eksperimen. Dengan mengetahui banyak segi
kelemahannya, maka kita tidak ingin membuat keputusan dan kesimpulan yang
keliru dalam penelitian yang kita lakukan.
6.1. Post test Only Design
1. Pengertian Post test Only Design
Dalam desain ini terdapat dua kelompok yang masing-masing dipilih secara acak
(R). Kelompok pertama diberi perlakuan (X) dan kelompok lain tidak.
Kelompok yang diberi perlakuan disebut kelompok eksperimen dan kelompok
yang tidak diberi perlakuan disebut kelompok kontrol. Randomisasi dan
perbandingan kedua kelompok kontrol dan kelompok eksperimen digunakan
dalam jenis desain ini. Setiap kelompok yang dipilih dan ditempatkan secara
acak diberi perlakuan atau beberapa jenis kontrol. Post test kemudian diberikan
pada setiap subjek untuk menentukan jika ada perbedaan antara kedua
kelompok. Dalam penelitian, pengaruh perlakuan dianalisis dengan
menggunakan statistik t-tes. Jika ada perbedaan yang signifikan antara kelompok
eksperimen dan kelompok kontrol maka perlakuan yang diberikan berpengaruh
secara signifikan.

Desain ini cocok digunakan bila pre test tidak mungkin dilaksanakan atau
pre test mempunyai kemungkinan untuk berpengaruh pada perlakauan
eksperimen. Karena kasus-kasus telah dirandomisasi baik pada kelompok
eksperimen maupun kelompok kontrol. Kelompok-kelompok tersebut dianggap
sama sebelum dilakukan perlakuan. Bentuk desain ini sebagai berikut:

Table 1.8 Bentuk Post test Only Design


Kelompok Perlakuan Post test
(R) Eksperimen X O2

(R) Kontrol - O2

Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental laboratorik, yaitu untuk


mempelajari suatu fenomena dalam korelasi sebab-akibat, dengan cara
memberikan suatu perlakuan pada subjek penelitian kemudian melihat dan
mempelajari efek dari perlakuan tersebut (Notoatmodjo, 2012).

2. Kelebihan dan Kekurangan Post test Only Design


a. Kelebihan :
1) Desain ini cocok digunakan apabila pre test tidak mungkin dilaksanakan
atau pre test mempunyai kemungkinan berpengaruh pada perlakuan
eksperiman.
2) Populasi cukup besar.
3) Pemilihan dua kelompok secara acak lebih mudah.
b. Kekurangan :
1) Desain ini memiliki sedikit kelemahan pada pengukuran pre test.
2) Sulit menentukan jika perbedaan pada akhir studi merupakan perbedaan
aktual dari kemungkinan perbedaan pada permulaan studi.
3) Randomisasi baik untuk mencampur subjek, tetapi tidak dapat menjamin
pencampuran ini benar-benar menciptakan kesamaan antara kedua
kelompok. Desain ini akan lebih cocok dalam eksperimen yang berkaitan
dengan pembentukan sikap karena dalam eksperimen yang demikian akan
berpengaruh terhadap perilaku.
4) Desain ini mampu mengendalikan faktor histori, maturasi, dan pre tes,
tetapi tidak mampu mengukur besarnya efek dari faktor-faktor tersebut.
5) Tidak ada pre-test sehingga perbedaan post test antar kelompok dapat
didistribusikan kepada efek perlakuan atau perbedaan karena proses
seleksi antar kelompok itu.

6.2 One Group Pre test Post test


1. Pengertian One Group Pre test Post test
Menurut Arikunto (2010:124) control group pre test post test design yaitu
desain yang merupakan gabungan dari pre test and post test group dan static
group comparison yaitu observasi yang dilakukan sebanyak 2 kali yaitu sebelum
dan sesudah eksperimen dan terdapat kelompok pembanding atau kelompok
kontrol yang tidak mendapat perlakuan. Setelah melihat pengertian tersebut
dapat ditarik kesimpulan bahwa hasil perlakuan dapat diketahui lebih akurat
karena dapat membandingkan dengan keadaan sebelum diberikan perlakuan.
Penggunaan desain ini disesuaikan dengan tujuan yang hendak dicapai, contoh
untuk mengetahui kemampuan membaca siswa pada pembelajaran,
mengidentifikasi unsur kalimat efektif pada teks eksposisi sebelum dan sesudah
dan sesudah diberikan perlakuan.
Jenis penelitian ini adalah termasuk penelitian quasi experimental.
Penelitian ini tidak menggunakan kelas pembanding namun sudah menggunakan
tes awal sehingga besarnya efek atau pengaruh penggunaan peta konsep dapat
diketahui secara pasti.
Secara sederhana, desain penelitian yang digunakan dapat digambarkan
sebagai berikut:
O1------- X ------- O2
Keterangan:
O1 : tes awal (pre test)
O2 : tes akhir (post test)
X : Perlakuan
Dalam desain ini terdapat dua kelompok yang dipilih secara acak kemudian
diberi pre test untuk mengetahui perbedaan keadaan awal antara kelompok
eksperimen dan kelompok kontrol. Hasil pre test yang baik adalah jika nilai
kelompok eksperimen tidak berbeda secara signifikan.

2. Prosedur One Group Pre test Post test


Dalam desain ini, Sugiyono menyatakan “bahwa terdapat dua kelompok
yang dipilih secara acak, kemudian sebelumnya diberi pre test untuk
mengetahui keadaan awal antara kelompok eksperimen dan kelompok kontrol”
(Sugiyono, 2012:112). Selanjutnya setelah diketahui hasil dari pre test dua
kelompok tersebut, maka pada kelas eksperimen diberikan perlakuan (X),
sedangkan pada kelas kontrol tidak diberikan perlakuan (X). Setelah diberikan
perlakuan atau treatment pada salah satu kelompok sampel (kelompok
eksperimen) dilanjutkan dengan pemberian post test pada kedua kelas atau
kedua kelompok sampel yang digunakan. Pengaruh perlakuan disimbolkan
dengan (O2-O1)-(O4-O3) dan selanjutnya untuk melihat pengaruh perlakuan
berdasarkan signifikasinya adalah dengan menggunakan uji statistik
parametrik ataupun uji statistik non-parametrik. Jika terdapat perbedaan yang
signifikan antara kelompok eksperimen dengan kelompok kontrol, maka
perlakuan yang diberikan berpengaruh secara signifikan. Untuk lebih jelasnya
tentang desain penelitian yang digunakan dalam penelitian ini, dapat dilihat
pada tabel sebagai berikut :

Keterangan :
R = kelompok dipilih secara acak.
X = perlakuan atau sesuatu yang diujikan.
O1 = hasil pre test kelas eksperimen.
O3 = hasil pre test kelas control.
O2 = hasil post test kelas eksperimen.
O4 = hasil post test kelas control.
Pengaruh perlakuan adalah: (O2 - O1) - (O4 -O3).
Sumber : (Sugiyono, 2012:112).

3. Ciri-Ciri One Group Pre test Post test


Dalam penelitian ini, subjek penelitian terlebih dahulu diberikan tes awal
(pre test) untuk mengetahui sejauh mana kemampuan awal subjek sebelum
diberikan perlakuan dengan menggunakan peta konsep. Setelah diberikan pre
test, selanjutnya kepada subjek tersebut diberikan perlakuan, dengan
menggunakan peta konsep. Setelah selesai perlakuan dengan peta konsep,
selanjutnya kepada seluruh subjek diberikan tes akhir (post test) untuk
mengetahui sejauh mana pengaruh perlakuan dengan menggunakan peta konsep
terhadap hasil.
4. Tujuan One Group Pre test Post test
Tujuan dari penelitian eksperimen ini adalah untuk mengetahui dan
menyelidiki ada tidaknya pengaruh dan hubungan sebab-akibat suatu model atau
metode mengajar yang dilakukan atau yang diujikan oleh peneliti dengan cara
memberikan perlakuan-perlakuan tertentu pada beberapa kelompok yang
diujikan, yaitu pada kelompok eksperimen dan kelompok pada kontrol yang
telah ditentukan.
5. Kelebihan dan Kekurangan One Group Pre test Post test
Kelebihan dan kekurangan desain eksperimen (One Group Pre Test-Post
Test design) menurut Nazir (2003: 232), yaitu:
Kelebihan: karena ada pre test sebelum dikenakan perlakuan, dan adanya
post test sesudah perlakuan dikenakan, maka dapat dibuat perbandingan
terhadap variabel terikat dari kelompok percobaan yang sama. Sedang bias
pemilihan variabel mortalitas (hilang atau mati) dapat dihilangkan dengan
menjamin bahwa kedua tes tersebut adalah semua unit percobaan.
Kelemahan: validasi internal dirasakan kurang, hal ini dikarenakan tidak ada
jaminan yang menyatakan bahwa perbedaan antara O1 dan O2 selalu disebabkan
oleh perlakuan X (keterampilan kolase dengan kemampuan motorik halus).
Desain ini juga menghasilkan error, antara lain:
1. Efek testing: error yang disebabkan oleh karena berubahnya mood seseorang
dengan adanya pemberian pre test, sehingga akan mengubah sikap atau minat
dalam bermain serta dapat mempengaruhi pada post test. Jadi, perubahan
ukuran pada hasil (nilai) bukan saja disebabkan oleh X tetapi juga dipengaruhi
oleh O1.
2. Pengaruh maturasi: perubahan yang terjadi atas murid karena gerakan waktu,
seperti lebih dewasa, menjadi lebih berminat dan lain-lain.
3. Error regresi: error statistik yang dapat dihindarkan jika kelompok-kelompok
ekstrem dibandingkan dalam pre test dan post test. Subjek dengan skor tinggi
pada uji awal cenderung akan turun skornya pada uji akhir, sebaliknya subjek
dengan skor rendah pada uji awal akan cenderung naik pada uji akhir. Skor
tinggi atau rendah pada uji awal (pre test) dapat terjadi karena faktor
kebetulan saja sehingga jika terjadi prubahan skor hasil tes pada uji kedua
bukan karena perubahan yang sesungguhnya, tetapi adanya efek regresi
statistik ini.
6.3. Perbandingan Kelompok Statis
1. Definisi Perbandingan Kelompok Statis
Penelitian jenis ini menggunakan satu kelompok yang dibagi menjadi
dua, yang satu memperoleh stimulus eksperimen (yang diberi perlakuan)
dan yang lain tidak mendapatkan stimulus apapun sebagai alat kontrol.
Masalah yang akan muncul dalam desain ini adalah alat kontrol. Masalah
yang akan muncul dalam desain ini adalah menyangkut risiko penyeleksian
terhadap subjek yang akan diteliti. Oleh karena itu, kelompok tersebut harus
dipilih secara acak. Adapun bagian desain penelitian ini adalah sebagai
berikut:

X O1

O2

O1 : Hasil pengukuran satu kelompok yang diberi perlakuan.


O2 : Hasil pengukuran satu kelompok yang tidak diberi perlakuan
Ketiga bentuk desain eksperimen itu jika diterapkan untuk penelitian
akan banyak variabel luar masih berpengaruh dan sulit dikontrol sehingga
validitas internal penelitian menjadi rendah.
Menurut Syamsudin dan Damaianti (2011:158), perbandingan
kelompok statis (the static group comparison) adalah penelitian yang
dilakukan dengan cara menyeleksi dua kelas untuk penelitian. Dua kelas
tersebut antara lain adalah satu kelompok kelas eksperimen dan satu kelas
kontrol yang berjumlah sama. Oleh karena itu pada desain penelitian ini
terdapat dua tes, yaitu O1 adalah pre test dan O2 adalah post test.
Menurut Emzir, desain ini berupaya untuk melengkapi kekurangan
kelompok konrol, tetapi gagal dalam hubungan memperlihatkan bahwa
suatu perubahan telah muncul. Dalam studi perbandingan kelompok statis,
dua kelompok dipilih, satu diantaranya menerima perlakuan dan satu yang
lain tidak menerima perlakuan. Suatu skor post test ditentukan untuk
mengukur perbedaan, setelah perlakuan, antara kedua kelompok (Emzir,
2007:97).
Dalam desain ini, sekelompok subjek yang diambil dari populasi
tertentu dikelompokkan secara acak menjadi dua kelompok, yaitu kelompok
eksperimen dan kelompok kontrol. Dengan desain ini, beberapa faktor
pengganggu seperti sejarah, kematangan, prosedur tes dan instrumen, dapat
dikontrol walaupun tidak diperhitungkan efeknya.
a. Sejarah
Peristiwa yang terjadi pada waktu yang lalu kadang-kadang dapat
berpengaruh terhadap variable terikat. Oleh karena itu terjadi perubahan
variabel terikat, kemungkinan bukan sepenuhnya disebabkan karena
perlakuan atau eksperimen, tetapi juga dipengaruhi oleh faktor sejarah
atau pengalaman subjek penelitian terhadap masalah yang dicobakan,
atau masalah-masalah lain yang berhubungan dengan eksperimen
tersebut.
b. Kematangan ( Maturitas )
Manusia, binatang atau makhluk hidup lainnya sebagai subjek penelitian
selalu mengalami perubahan. Pada manusia perubahan berkaitan dengan
proses kematangan atau maturitas, baik secara biologis maupun
psikologis. Dengan bertambahnya kematangan pada subjek ini akan
berpengaruh terhadap variabel terikat. Dengan demikian, maka
perubahan yang terjadi pada variabel terikat bukan saja karena adanya
eksperimen, tetapi juga disebabkan karena proses kematangan pada
subjek yang mendapatkan perlakuan atau eksperimen.
c. Prosedur Tes ( Testing )
Pengalaman pada Pre test dapat mempengaruhi hasil Post test, karena
kemungkinan pada subjek penelitian dapat mengingat kembali jawaban-
jawaban yang salah pada waktu pre test, dan kemudian pada waktu post
test subjek tersebut dapat memperbaiki jawabannya. Oleh sebab itu,
perubahan variabel terikat tersebut bukan karena hasil eksperimen saja,
melainkan juga karena pengaruh dari pre test.
d. Instrumen (Instrumentation)
Alat ukur atau alat pengumpul data (instrumen) pada pre test biasanya
digunakan lagi pada post test. Hal ini sudah tentu akan berpengaruh
terhadap hasil post test tersebut. Dengan perkataan lain, perubahan yang
terjadi pada variabel terikat, tidak disebabkan oleh perlakuan atau
eksperimen saja, tetapi juga karena pengaruh instrumen.
2. Kelemahan Perbandingan Kelompok Statis
Desain ini mempunyai kelemahan dasar. Karena desain ini tidak
menggunakan pengacak (randomization) ataupun pemadanan (matching) dalam
menempatkan subjek ke dalam kelompok coba dan kelompok pengendali, kita
tidak dapat berasumsi bahwa kedua kelompok tersebut sama sebelum perlakuan
eksperimental diberikan. Kedua kelompok tersebut mungkin berbeda dalam
beberapa variabel relevan tertentu, dan mungkin perbedaan inilah yang
menyebabkan perubahan yang diamati itu, bukan X. Karena tidak bisa merasa
yakin bahwa kedua kelompok tersebut sama dalam semua faktor yang mungkin
dapat mempengaruhi variabel terikat, maka desain ini dianggap tidak cukup
memiliki pengendalian yang diperlukan dan harus digolongkan sebagai desain
pra- eksperimen. Dengan kata lain, desain ini seperti desain pertama, hanya
bedanya menambahkan kelompok kontrol atau kelompok pembanding.
Kelompok eksperimen menerima perlakuan (X) yang diikuti dengan pengukuran
kedua atau observasi (O2). Hasil observasi ini kemudian dikontrol atau
dibandingkan dengan hasil observasi pada kelompok kontrol, yang tidak
menerima program atau intervensi. Dengan faktor ini, beberapa faktor
pengganggu seperti sejarah, kematangan, prosedur tes dan instrumen dapat
dikontrol walaupun tidak dapat diperhitungkan efeknya.
3. Metode Tes
Menurut Arikunto (2010:193) tes adalah sederetan pertanyaan atau latihan
serta alat lain yang digunakan untuk mengukur keterampilan, pengetahuan
inteligensi. Kemampuan atau bakat yang dimiliki oleh individu atau kelompok.
Sedangkan menurut Muliawan (2014:70) metode tes merupakan metode
penilitian yang digunakan untuk tujuan evaluasi atau penelitian dan paling tepat
dan akurat digunakan pada penilitian pendidikan yang memusatkan perhatian
pada aspek kognitif atau intelektual. Metode tes pada penilitian ini untuk
mengukur hasil belajar siswa pada aspek kognitif, tes yang diberikan pada saat
tes awal (pre test) dan tes akhir (post test). Pre test diberikan untuk mengetahui
kemampuan awal siswa tentang pengetahuan sosial sebelum melakukan
pembelajaran. Sedangkan post test diberikan untuk mengetahui tingkat
kemajuan atau pengaruh metode pembelajaran dalam pembelajaran. Tes
dilakukan menggunakan soal yang sama untuk di kelas kontrol dan eksperimen.
Menurut Syamsuddin dan Damaianti (2011:158), Perbandingan Kelompok
Statis (The Static group comparison) adalah penelitian yang dilakukan dengan
cara menyeleksi dua kelas untuk penelitian. Dua kelas tersebut antara lain adalah
satu kelompok kelas eksperimen dan satu kelas kontrol yang berjumlah sama.
4. Langkah – Langkah Penelitian
Langkah-langkah penelitian ini adalah:
a. Tahap Persiapan
1) Melakukan penelitian pendahuluan,
2) Peneliti menyiapkan gambar sebagai media untuk menyampaikan materi
pelajaran. Menurut Huda (2013:234) contoh bukan contoh merupakan
metode pembelajaran yang menggunakan gambar sebagai media untuk
menyampaikan materi pelajaran,
3) Peneliti membagi menjadi dua kelompok kelas, yaitu kelas dengan
kelompok eksperimen dan kelas dengan kelompok kontrol.
b. Tahap Pelaksanaan
a. Melaksanakan pembelajaran di kelas eksperimen,
b. Peneliti memberikan gambar sebagai media untuk menyampaikan materi
pelajaran untuk membantu menulis berita,
c. Mengadakan tes (post test).
d. Dilakukan Observasi
a. Melaksanakan post test di kelas kontrol kemudian dilakukan observasi
pada kelompok tersebut,
b. Hasil observasi ini kemudian dikontrol atau dibandingkan dengan hasil
observasi pada kelompok kontrol, yang tidak menerima program atau
intervensi.
d. Tahap Pengolahan Data
a. Mengumpulkan data penelitian,
b. Mengolah dan menganalisis data penelitian,
c. Menyusun laporan hasil penelitian.
5. Uji Hipotesis dan Hasil
Berdasarkan perhitungan hasil analisis uji hipotesis = 9.929 >= 2,005 maka
Ha diterima dan Ho ditolak. Data tersebut menunjukkan adanya pengaruh metode
contoh bukan contoh terhadap kemahiran menulis teks berita siswa kelas VIII
Sekolah Menengah Pertama Negeri 17 Bintan tahun pelajaran 2014/2015.

6.4. Rangkuman
Rancangan yang dibicarakan pada saat ini berkaitan dengan rancangan
penelitian yang tidak memerlukan persyaratan tertentu yang harus diikuti oleh
peneliti. Persyaratan tertentu yang dimaksud misalnya prosedur penentuan subjek
atau partisipan penelitian, penetaapan homogenitas varian, dan persyaratan lain.
Rancangan pra-eksperimen belum merupakan eksperimen sungguh-sungguh.
Hal ini disebabkan karena masih terdapat variabel luar yang ikut berpengaruh
terhadap terbentuknya variabel terikat. Jadi hasil eksperimen yang merupakan
variabel terikat itu bukan semata-mata dipengaruhi oleh variabel bebas. Hal ini bisa
saja terjadi karena tidak adanya variabel kontrol dan sampel tidak dipilih secara
acak (random). Rancangan penelitian banyak mengandung kelemahan. Rancangan
pra-eksperimen atau non-rancangan ini tidak memerlukan rancangan yang cermat,
dan bahkan setiap orang bisa melakukan dengan mudah. Macamnya adalah Posttest
Only Design, One Group Pretest Postest, dan Perbandingan Kelompok Statis.
6.5. Bahan Diskusi
Diskusikan bagaimana membuat desain penelitian pra-eksperimental lalu
bandingkan desain pra-eksperimental dengan desain penelitian lain.

6.6. Bacaan/ Rujukan Pengayaan


Ada cukup banyak referensi yang dapat dibaca untuk lebih memahami materi
pada bab ini. Beberapa referensi dalam Bahasa Indonesia diantaranya Nazir (2003),
Emzir (2007), Arikunto (2010), Syamsudin dan Damaianti (2011), Notoatmodjo
(2012), Sugiyono (2012), Huda (2013), dan Muliawan (2014).

6.7. Latihan Soal-Soal


1. Latihan Soal Post test Only Design
a. Buatlah contoh desain penelitian epidemiologi post test only design.
Jawab: Pengaruh ruang kelas ber-AC (X) terhadap daya tahan belajar murid
(0). Terdapat kelompok murid yang menggunakan ruang ber- AC kemudian
diukur daya tahan belajarnya. Pengaruh ruang kelas ber-AC terhadap daya
tahan belajar diukur dengan membandingkan daya tahan sebelum
menggunakan AC dengan daya tahan belajar setelah menggunakan ruangan
kelas ber-AC (misalnya sebelum menggunakan kelas ber-AC daya tahan
belajarnya 4 jam, setelah menggunakan kelas ber-AC daya tahan belajarnya
menjadi 6 jam. Jadi pengaruh ruang kelas AC terhadap daya tahan belajar
murid 6-4 = 2 jam.
b. Buatlah contoh desain penelitian epidemiologi post test only design.
Jawab: Pengaruh Model Pembelajaran Langsung terhadap Hasil Belajar
Passing Bawah Bola Voli.
Metode: Dalam penelitian ini metode yang digunakan adalah eksperimen
One-Group Pre test-Post tes Design. Hasil : Berdasarkan analisis data hasil
penelitian yang telah dilakukan maka dapat disimpulkan bahwa: Terdapat
pengaruh model pembelajaran langsung terhadap hasil belajar passing bawah
bola voli, hal ini dapat di lihat dari hasil t hitung = 21, 152 t tablel= 2,042
sedangkan untuk peningkatan hasil belajar passing bawah bola voli dalam
penelitian ini adalah 11,57% dengan adanya peningkatan hasil belajar siswa
menunjukan bahwa model pembelajaran langsung baik digunakan dalam
bidang pendidikan jasmani.
2. Latihan Soal One Group Pre test Post test.
a. Buatlah contoh desain penelitian epidemiologi pre test post test.
Jawab: Desain Bahan Ajar Materi Gelombang dan Bunyi Model Inkuiri
Terbimbing untuk Melatihkan Keterampilan Proses Sains Siswa SMP.
Metode: Desain penelitian menggunakan One group pre test-post test
design. Desain penelitian ini melibatkan satu kelompok yang diobservasi
pada tahap pre test (O1) yang kemudian dilanjutkan dengan perlakuan
tertentu (X) dan post test (O2) (Sugiyono, 2014). Teknik pengumpulan data
yang digunakan dalam penelitian ini adalah: dokumentasi, pengamatan, tes,
dan angket. Analisis data peneliti menggunakan teknik analisis data
kuantitatif dan kualitatif. Analisis data dalam penelitian ini mendeskripsikan
validitas, efektivitas, dan kepraktisan Prototipe Buku Guru dan Buku Siswa.
Analisis data yang dilakukan bersifat induktif berdasarkan fakta-fakta yang
digunakan untuk menjawab rumusan masalah yang telah dirumuskan dalam
penelitian lebih menekankan makna dari pada generalisasi (Sugiyono, 2014).
Perangkat pembelajaran dinyatakan layak digunakan jika minimal tingkat
validitas mencapai kategori valid dengan skor minimal 2.60 (Ratumanan &
Laurens, 2006). Hasil: Dihasilkan desain Bahan Ajar (Silabus, RPP, Buku
Guru, Buku Siswa, LKS, dan LP) materi gelombang, dan bunyi yang telah
memenuhi syarat validitas baik konstruk maupun validitas konten. Desain
Bahan Ajar telah memenuhi syarat kepraktisan ditinjau dari indikator
keterbacaan oleh siswa, dukungan pelaksanaan pembelajaran, pengkondisian
siswa belajar aktif, dan hambatan pembelajaran. Desain Bahan Ajar telah
memenuhi syarat keefektifan ditinjau dari indikator hasil belajar dan respon
siswa.
b. Buatlah contoh desain penelitian epidemiologi pre test post test.
Jenis penelitian ini adalah quasi experimental dengan menggunakan one
group pre test post test design yang dapat divisualisasikan pada Tabel 1.9.
Tabel 1.9 Desain Penelitian (One Group Pre test-Post test Design)
Kelompok Pre Perlakuan Post
test test
Kelas eksperimen V V V
(Arikunto, 2010)
Penelitian ini menggunakan satu kelas sebagai objek penelitian. Dalam
penelitian ini hanya ada satu kelompok yang berfungsi sebagai kelompok
kontrol (sebelum dikenalkan perlakuan ujinya) maupun kelompok
eksperimen (setelah dikenalkan perlakuan ujinya). Jenis penelitian ini dipilih
karena kelompok kontrolnya tak mungkin diperoleh. Data yang diperoleh
sebelum perlakuan baik berupa hasil tes maupun data lain digolongkan
sebagai data dari kelompok kontrol, sedangkan data yang dikumpulkan
setelah adanya perlakuan digolongkan sebagai data dari kelompok
eksperimen. Data dari kelompok kontrol sering disebut juga tes awal (pre test)
dan data kelompok eksperimen disebut tes akhir (post test). Selama proses
pembelajaran berlangsung, peneliti melakukan pengamatan terhadap aktivitas
siswa dan aktivitas guru. Setelah selesai pembelajarannya, selanjutnya
diberikan post test di akhir pembelajaran dengan maksud untuk mengetahui
perkembangan siswa.
3. Latihan Soal Perbandingan Kelompok Statis
a. Buatlah contoh desain penelitian epidemiologi kelompok statis
Jawab: Dilakukan penelitian untuk mengetahui pengaruh metode demostrasi
terhadap prestasi belajar murid muncul dalam pelajaran praktek mengelas
pada SMK. Terdapat dua kelas yang praktek las. Dari dua tersebut, satu kelas
diberi pelajaran dengan praktek las dengan metode demonstrasi (X) dan di
lakukan observasi atau pengamatan kemudian dilakukan Post Test (O2). Dari
Kelompok Kelas yang lain tidak diberikan pelajaran dengan praktek Las,
kemudian dilakukan Post Test (O2).
b. Buatlah contoh desain penelitian epidemiologi kelompok statis
Jawab: Pengaruh Metode Contoh Bukan Contoh (Examples Non examples)
terhadap Kemahiran Menulis Teks Berita Siswa Kelas VIII Sekolah
Menengah Pertama Negari 17 Bintan Tahun Pelajaran 2014/2015. Tujuan
Penelitian: untuk mengetahui pengaruh metode contoh bukan contoh
terhadap kemahiran menulis teks berita siswa kelas VIII Sekolah Menengah
Pertama Negeri 17 Bintan tahun pelajaran 2014/2015. Metode Penelitian:
metode eksperimen yaitu jenis pra-eksperimen dengan menggunakan desain
perbandingan kelompok statis. Populasi penelitian: siswa kelas VIII SMP
Negeri 17 Bintan yang berjumlah 183 siswa Penentuan sampel:
Menggunakan cluster sampling yaitu diperoleh kelas VIII C. Kelompok
kontrol: 29 siswa dari kelas VIII D. Kelompok eksperimen: berjumlah 27
siswa kelas VIII D. Metode eksperimen: jenis pra-eksperimen dengan
menggunakan desain perbandingan kelompok statis. Teknik pengumpulan
data: Test yang berbentuk uraian bebas.

6.8. Daftar Istilah/ Glosarium


Uji t-test : uji komparatif atau ujibeda untuk mengetahui adakah perbedaan
mean atau rerata yang bermakna antara 2 kelompok bebas yang berskala data
interval/rasio.
Uji Parametrik : ilmu statistik yang mempertimbangkan jenis sebaran atau
distribusi data, yaitu apakah data menyebar secara normal atau tidak.
Uji Non Parametrik : metode statistik yang dapat digunakan dengan
mengabaikan asumsi-asumsi yang melandasi penggunaan metode statistic
parametrik, terutama yang berkaitan dengan distribusi normal.

Common questions

Didukung oleh AI

"One Group Pre test-Post test" melibatkan satu kelompok yang diuji sebelum dan sesudah perlakuan untuk menilai pengaruhnya, sementara "Perbandingan Kelompok Statis" melibatkan dua kelompok yang dipilih secara acak, satu menerima perlakuan dan satu lagi tidak menerima. Perbedaan kunci adalah bahwa "One Group Pre test-Post test" menggunakan hasil dari pre-test sebagai acuan perbandingan, sedangkan "Perbandingan Kelompok Statis" mengandalkan perbandingan post-test antara kelompok eksperimen dan kontrol untuk mengevaluasi pengaruh perlakuan .

"One Group Pre test-Post test" tidak cocok untuk penelitian yang memerlukan validasi internal tinggi karena sulit memastikan bahwa perubahan dari pre-test ke post-test sepenuhnya disebabkan oleh perlakuan. Error seperti efek testing, pengaruh maturasi, dan error regresi dapat mempengaruhi hasil, membuat kesimpulan tentang hubungan sebab-akibat menjadi kurang kuat .

Dalam desain 'Perbandingan Kelompok Statis', faktor sejarah dapat mempengaruhi hasil jika kejadian luar yang relevan mempengaruhi variabel terikat selama periode penelitian, sehingga perubahannya tidak sepenuhnya disebabkan oleh perlakuan. Oleh karena itu, perubahan yang diamati dalam variabel terikat mungkin juga mencerminkan dampak peristiwa sejarah luar ini, bukan hanya akibat perlakuan yang diberikan .

Melakukan randomisasi dalam pemilihan dua kelompok pada desain eksperimen penting untuk memastikan bahwa kedua kelompok sebisa mungkin sama dalam hal variabel-variabel yang dapat mempengaruhi hasil. Randomisasi membantu mengurangi bias seleksi dan membuat distribusi variabel pengganggu lebih merata di antara kelompok eksperimen dan kontrol, meskipun tidak bisa menjamin kesetaraan total antara kelompok .

Desain bersifat "eksperimen semu" dipilih dalam penelitian ketika eksperimen sejati tidak dapat dilakukan, seperti ketika tidak mungkin menggunakan kelompok kontrol yang setara atau melakukan randomisasi subjek secara penuh. Desain seperti "One Group Pre test-Post test" dan "Perbandingan Kelompok Statis" digunakan dalam situasi ini meskipun memiliki keterbatasan dalam validitas internal .

Tantangan validitas internal dalam desain "One Group Pre test-Post test" termasuk efek testing, di mana pemberian pre-test dapat mengubah sikap atau motivasi subjek yang kemudian mempengaruhi post-test. Selain itu, perubahan dapat terjadi karena pengaruh maturasi seperti berkembangnya minat atau kematangan subjek secara alami, dan error regresi, di mana nilai ekstrem pada pre-test kemungkinan mendekati nilai rata-rata di post-test bukan karena perlakuan .

Kelebihan utama dari desain eksperimen "One Group Pre test-Post test" adalah kemampuannya untuk membuat perbandingan terhadap variabel terikat dari kelompok percobaan yang sama melalui tes awal (pre test) dan tes akhir (post test). Hal ini memungkinkan peneliti untuk mengukur besarnya pengaruh perlakuan dengan lebih akurat karena bias pemilihan variabel mortalitas dapat diminimalkan dengan memastikan bahwa semua unit percobaan diuji .

Desain "Perbandingan Kelompok Statis" mengatasi pengaruh variabel luar seperti sejarah dan maturasi dengan pengelompokan subjek secara acak menjadi kelompok eksperimen dan kontrol. Walaupun variabel-variabel luar tersebut masih dapat mempengaruhi variabel terikat, desain ini berusaha mengontrolnya untuk meningkatkan validitas internal. Namun, harus diakui bahwa tidak semua efek dapat sepenuhnya dikontrol atau diukur dalam desain ini .

Kekurangan utama dari desain eksperimen tanpa pre-test adalah kesulitan dalam menentukan apakah perbedaan yang muncul pada akhir studi benar-benar merupakan akibat dari perlakuan atau sudah ada sejak awal. Tanpa pre-test, tidak ada data acuan untuk menilai perubahan yang terjadi karena perlakuan, dan ini melemahkan kemampuan untuk menilai efek perlakuan secara akurat .

Desain "One Group Pre test-Post test" digunakan untuk mengevaluasi efektivitas pembelajaran dengan peta konsep dengan memberikan pre-test kepada subjek sebelum menerima pembelajaran menggunakan peta konsep. Setelah pembelajaran, subjek diberikan post-test untuk mengukur perubahan dalam hasil belajar. Pengaruh peta konsep diukur dengan membandingkan hasil pre-test dan post-test, sehingga memungkinkan peneliti untuk menilai efektivitas metode tersebut secara lebih akurat .

Anda mungkin juga menyukai