LAPORAN PENDAHULUAN
ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN DENGAN CA LARING
A. KONSEP PENYAKIT.
[Link].
Karsinoma Laring adalah suatu tumor yang terjadi pada daerah laring, yang
dibagi 3 macam yaitu : supraglotik, glotik dan infraglotik. Pada tumor yang supraglotik
termasuk permukaan posterior epiglottis, plika ariepiglotik dan plika ventrikularis. Pada
tumor yang glotik termasuk yang kordavokalis, komisura anterior dan posterior,
sedangkan pada karsinoma infraglotik termasuk jaringan dibawa kordavokalis sampai
tepi bawah krikoid (Sjamsuhidajat, 1997 ; 461)
II. Etiologi.
[Link] Herediter
[Link] Non Herediter
1) Faktor fisik, misal : sinar Ultra Violet
2) Faktor biologik, misal : virus, parasit, bakteri.
3) Faktor karsinogen.
III. Klasifikasi Tumor.
[Link] Primer (T)
Tis : Karsinoma in situ
T1 : Tumor < 2 cm
T2 : Tumor > 2 cm dan < 4 cm
T3 : Tumor > 4 cm
T4 : Perluasan berat disekelilingnya.
b. Pembesaran Kelenjar Limfe (N)
No : Tidak teraba kelenjar limfe
N1 : Kelenjar limfe homolateral tidak terfiksasi
N2 : Kelenjar limfe bilateral atau kontra lateral tidak terfiksasi
N3 : Kelenjar limfe terfiksasi
Nx : Pembesaran kelenjar limfe tidak dapat dikaji, karena perluasan yang berat.
[Link] (M)
Mo : Tidak terdapat metastase
M1 : Metastase kekelenjar limfe didaerah sekitar
M2 : Metastase dengan perluasan, sulit untuk dideteksi.
Staging (stadium):
S I : T1, N0, M0.
S II : T2, N0, M0.
S III : T3, N0, M0, T1/T2/T3 N1, M0
SIV : T4, N0/N1, M0
T1/T2/T3/T4 N2 N3
T1, T2, T3, T4, N1, N2, N3, M1.
IV. Epidemiologi.
Kebanyakan (70 – 90 %) karsinoma laring ditemukan pada pria berusia
lanjut. Kebanyakan pada orang laki-laki. Hal ini mungkin berkaitan dengan
kebiasaan merokok, bekerja dengan debu serbuk kayu, kimia toksik atau serbuk,
logam berat. Bagaimana terjadinya belum diketahui secara pasti oleh para
[Link] kepala dan leher menyebabkan 5,5% dari semua penyakit keganasan.
Tipe glotik merupakan 60 – 65 % , supraglotik 30 – 35 % dan infraglotik hanya 5
%.
[Link]
Faktor Herediter Faktor Non Herediter
(fisik, biologik, karsinogenik)
Ca pada Laring
- pita suara (suara serak)
- Penyempitan saluran napas
(Stridor. Dispnoe)
- Pembengkakan dileher/laring
(nyeri leher, rahang, telinga)
Tindakan operasi Total Laringektomi
Pengangkatan organ Laring/korda vokalis
Kehilangan suara Penurunan kemampuan refleks batuk
Penumpukan prod. Secret saluran napas
- Kerusakan komunikasi verbal - Bersihan jalan napas tidak efektif
- Gannguan Citra Tubuh
[Link] Klinis
1. Nyeri/sakit pada waktu menelan
2. Stridor ataupun dispnea terjadi oleh karena sumbatan jalan napas.
3. Suara serak lebih dari 2 mgg / berbulan-bulan, tanpa disertai gejala sistemik,
seperti demam.
4. Nyeri yang menyebar keleher, rahang atau telinga
5. Pembengkakan kelenjar dileher ok penyebaran limfogen
6. Pembengkakan pada laring.
7. Terjadi penurunan berat badan / KU semakin lemah.
[Link] Pemeriksaan.
[Link] dan palpasi
Perlu pemeriksaan kelenjar yang mencurigakan dileher. Pada tumor yang
lebih besar dan menimbulkan rasa nyeri perlu pemeriksaan dibawa narkose.
Pemeriksaan pelengkap mengarah kepada adanya defisiensi makanan (berat
badan protein serum), gangguan fungsi hepar (alcohol) dan paru (rokok ) dan
metastasis umum
[Link].
Jika proses tumor berada dekat bagian skelet, foto gigi. Foto thoraks
dalam dua arah mengarah kepada kemungkinan metastasis paru atau tumor
primer yang kedua
[Link]
Dengan pemeriksaan dibawa narkose (vriescoupe)
d,Pemeriksaan dahak, EKG dan hemoglobin darah.
VIII. Medical Managament
Pada kasus karsinoma laring dapat dilakukan pengobatan dengan radiasi
dan pengangkatan laring ( Laringektomi ).Pengobatan dipilih berdasar
[Link] diberikan pada stadium 1 dan [Link] mempunyai
keuntungan dapat mempertahankan suara yang normal, tetapi jarang dapat
menyembuhkan tumor yang sudah lanjut,lebih-lebih jika sudah terdapat
pembesaran kelenjar [Link] karena itu radioterapi sebaiknya dipergunakan
untuk penderita dengan lesi yang kecil saja tanpa pembesaran kelenjar [Link]
yang ideal adalah pada tumor yang terbatas pada satu pita suara, dan masih mudah
digerakkan. Sembilan dari sepuluh penderita dengan keadaan yang demikian dapat
sembuh sempurna dengan radioterapi serta dapat dipertahankannya suara yang
[Link] pita suara menunjukkan penyebaran sudah mencapai lapisan otot.
Jika tumor belum menyebar kedaerah supraglotik atau subglotik, lesi ini masih
dapat diobati dengan radioterapi, tetapi dengan prognosis yang lebih buruk.
Penderita dengan tumor laring yang besar disertai dengan pembesaran kelenjar
limfe leher, pengobatan terbaik adalah laringektomi total dan diseksi radikal
kelenjar [Link] hal ini masuk stadium 2 dan 3. Ini dilakukan pada jenis tumor
supra dan subglotik.
Pada penderita ini kemungkinan sembuh tidak begitu besar, hanya satu diantara
tiga penderita akan sembuh [Link] diklasifikasikan kedalam :
1. Laringektomi parsial. Tumor yang terbatas pada pengangkatan hanya satu pita
suara dan trakeotomi sementara yang di lakukan untuk mempertahankan jalan
napas. Setelah sembuh dari pembedahan suara pasien akan parau.
2. Hemilaringektomi atau vertikal. Bila ada kemungkinan kanker termasuk pita
suara satu benar dan satu [Link] ini diangkat sepanjang kartilago
aritenoid dan setengah kartilago [Link] sementara dilakukan dan
suara pasien akan parau setelah pembedahan.
3. Laringektomi supraglotis atau horisontal. Bila tumor berada pada epiglotis
atau pita suara yang salah, dilakukan diseksi leher radikal dan trakeotomi.
Suara pasien masih utuh atau tetap [Link] epiglotis diangkat maka
resiko aspirasi akibat makanan peroral meningkat.
4. Laringektomi total. Kanker tahap lanjut yang melibatkan sebagian besar laring,
memerlukan pengangkatan laring, tulang hihoid, kartilago krikoid,2-3 cincin
trakea, dan otot penghubung ke [Link] kehilangan suara dan
sebuah lubang ( stoma ) trakeostomi yang permanen. Dalam hal ini tidak ada
bahaya aspirasi makanan peroral, dikarenakan trakea tidak lagi berhubungan
dengan saluran udara – [Link] sayatan radikal telah dilakukan
dileher pada jenis laringektomi [Link] ini meliputi pengangkatan pembuluh
limfatik, kelenjar limfe di leher, otot sternokleidomastoideus, vena jugularis
interna, saraf spinal asesorius, kelenjar salifa submandibular dan sebagian kecil
kelenjar parotis (Sawyer, 1990).Operasi ini akan membuat penderita tidak
dapat bersuara atau berbicara. Tetapi kasus yang dermikian dapat diatasi
dengan mengajarkan pada mereka berbicara menggunakan esofagus
( Esofageal speech ), meskipun kualitasnya tidak sebaik bila penderita
berbicara dengan menggunakan organ [Link] latihan berbicara dengan
esofagus perlu bantuan seorang binawicara.
Radioterapi dilakukan pada stadium T1, T2 tipe glotik dan supraglotik,
bila pita suara masih bergerak. Radioterapi juga diberikan sebagai terapi
adjuvant setelah laringetomi total pada stadium T3, T4. Laringektomi total
kuratif menyebabkan penderita kehilangan suara selamanya. Kordektomi
merupakan tindakan bedah terbatas yang dianjurkan pada stadium Tis dan
stadium T1 dipita suara. Laringektomi partial merupakan operasi terbatas yang
dapat dilakukan pada tumor yang terbatas di supraglotik atau bilamana hanya
satu sisi laring yang terserang.
IX. Perawatan Lanjut Pasca Laringektomi.
Sesudah laringektomi, kebanyakan penderita memerlukan rehabilitasi yang
ekstensif. Mereka harus dilatih berbicara melalui esophagus oleh seorang terapis.
Oleh karena penderita ini mendapat traheostoma perman3en, maka mereka
biasanya memakai kanul trakeotomi. Walaupun demikian, mereka tidak
memakainya lagi setelah satu atau beberapa bulan mungkin hanya dipakai waktu
tidur untuk mencegah kontraksi stoma. Oleh karena udara inspirasi tidak lagi diisap
melalui hidung, maka terbentuknya krusta pada trahea yang disebabkan inhalasi
udara kering, kadang-kadang merupakan suatu masalah, ini dapat diatasi dengan
menempatkan pelembab udara pada kamar tidur. Dan yang lebih penting adalah
bahwa penderita membutuhkan kepastian dan dorongan untuk menghadapi
kehidupan yang lebih normal.
B. KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN
Dasar data pengkajian keperawatan
Data pre dan posoperasi tergantung pada tipe kusus atau lokasi proses kanker dan
komplikasi yang ada.
I. INTEGRITAS EGO
Gejala : Perasaan takut akan kehilangan suara,mati, terjadi atau berulangnya
kanker. Kuatir bila pembedahan mempengaruhi hubungan keluarga, kemampuan
kerja dan keuangan.
Tanda : Ansietas, depresi, marah dan menolak operasi.
II. MAKANAN ATAU CAIRAN
Gejala :Kesulitan menelan.
Tanda : Kesulitan menelan, mudah tersedak, sakit menelan, sakit tenggorok yang
[Link], luka. Inflamasi atau drainase oral, kebersihan gigi buruk.
Pembengkakan lidah dan gangguan reflek.
III. HIGIENE
Tanda : kemunduran kebersihan gigi. Kebutuhan bantuan perawatan dasar.
IV. NEUROSENSORI
Gejala : Diplopia ( penglihatan ganda ), ketulian.
Tanda : Hemiparesis wajah ( keterlibatan parotid dan submandibular ). Parau
menetap atau kehilangan suara ( gejala dominan dan dini kanker laring
intrinsik ).Kesulitan menelan. Kerusakan membran mukosa.
V. NYERI ATAU KENYAMANAN
Gejala : Sakit tenggorok kronis, benjolan pada tenggorok. Penyebaran nyeri ke
telinga, nyeri wajah ( tahap akhir, kemungkinan metastase ). Nyeri atau rasa
terbakar dengan pembengkakan ( kususnya dengan cairan panas ), nyeri lokal pada
orofaring. Pascaoperasi : Sakit tenggorok atau mulut ( nyeri biasanya tidak
dilaporkan kecuali nyeri yang berat menyertai pembedahan kepala dan
leher,dibandingkan dengan nyeri sebelum pembedahan).
Tanda : Perilaku berhati-hati, gelisah, nyeri wajah dan gangguan tonus otot.
VI. PERNAPASAN
Gejala : Riwayat merokok atau mengunyah tembakau. Bekerja dengan debu serbuk
kayu, kimia toksik atau serbuk, dan logam berat. Riwayat penyakit paru kronik.
Batuk dengan atau tanpa sputum. Drainase darah pada nasal.
Tanda : Sputum dengan darah, hemoptisis, dispnoe ( lanjut ), dan stridor.
VII. KEAMANAN
Gejala : Terpajan sinar matahari berlebihan selama periode bertahun-tahun atau
[Link] penglihatan atau pendengaran.
Tanda : Massa atau pembesaran nodul.
VIII. INTERAKSI SOSIAL
Gejala : masalah tentang kemampuan berkomunikasi, dan bergabung dalam
interaksi sosial.
Tanda : Parau menetap,perubahan tinggi suara, bicara kacau, enggan untuk
bicara,dan menolak orang lain untuk memberikan perawatan atau terlibat dalam
rehabilitasi.
A. Prioritas keperawatan pre dan posoperasi
PREOPERASI
1. Ansietas berhubungan dengan kurang pengetahuan tentang pra dan pascaoperasi
dan takut akan kecacatan.
Batasan Karakteristik : Mengungkapkan keluhan khusus, merasa tidak mampu,
meminta informasi, mengungkapkan kurang mengerti dan gelisah, menolak operasi.
Goal : Cemas berkurang atau hilang.
Kriteria Hasil : Mengungkapkan perasaan dan pikirannya secara terbuka,
melaporkan berkurangnya cemas dan takut, mengungkapkan mengerti tentang pre
dan posoprasi, secara verbal mengemukakan menyadari terhadap apa yang
diinginkannya yaitu menyesuaikan diri terhadap perubahan fisiknya.
Rencana Tindakan :
1. Jelaskan apa yang terjadi selama periode praoperasi dan pascaoperasi, termasuk
tes laboratorium praoperasi, persiapan kulit, alasan status puasa,obat-obatan
praoperasi,obat-obatan posoperasi, tinggal di ruang pemulihan, dan program
paskaoprasi. Informasikan pada klien obat nyeri tersedia bila diperlukan untuk
mengontrol [Link] pengetahuan tentang apa yang diperkirakan membantu
mengurangi kecemasan dan meningkatkan kerjasama pasien.
2. Jika laringektomi total akan dilakukan, konsultasikan dulu dengan pasien dan
dokter untuk mendapatkan kunjungan dari anggota klub [Link] waktu
untuk berdiskusi dengan terapi tentang alternatif metoda-metoda untuk rehabilitasi
[Link] mengetahui apa yang diharapkan dan melihat hasil yang sukses
membantu menurunkan kecemasan dan memungkinkan pasien berpikir realistik.
3. Izinkan pasien untuk mengetahui keadaan pascaoperasi : satu atau dua hari akan
dirawat di UPI sebelum kembali ke ruangan semula, mungkin ruangan penyakit
dalam atau ruangan [Link] saja akan dipasang NGT. Pemberian makan
per sonde diperlukan sampai beberapa minggu setelah pulang hingga insisi luka
sembuh dan mampu untuk menelan ( jika operasi secara radikal di leher
dilaksanakan ).Alat bantu jalan napas buatan ( seperti trakeostomi atau selang
laringektomi ) mungkin akan terpasang hingga pembengkakan dapat
[Link] trakeostomi atau selang T akan terpasang di jalan napas buatan,
untuk pemberian oksigen yang telah dilembabkan atau memberikan udara dengan
tekanan tertentu. Rasional pengetahuan tentang apa yang diharapkan dari
intervensi bedah membantu menurunkan kecemasan dan memungkinkan pasien
untuk memikirkan tujuan yang realistik.
4. Jika akan dilakukan laringektomi horizontal atau supraglotik laringektomi, ajarkan
pasien dan latih cara-cara menelan sebagai berikut :
Ketika makan duduk dan tegak lurus ke depan dengan kepala fleksi, letakan porsi
kecil makanan di bagian belakang dekat tenggorok, tarik napas panjang dan tahan
( ini akan mendorong pita suara bersamaan dengan menutupnya jalan masuk ke
trakea ), menelan dengan menggunakan gerakan menelan,batukan dan menelan
kembali untuk memastikan tidak ada makanan yang tertinggal di tenggorok.
Rasional karena epiglotis sudah diangkat pada jenis laringektomi seperti ini,
aspirasi karena makanan per oral merupakan komplikasi yang paling sering
terjadi. Belajar bagaimana beradaptasi dengan perubahan fisiologik dapat
menjadikan frustrasi dan menyebabkan [Link] secara terus – menerus
dapat membantu mempermudah belajar dan beradaptasi terhadap perubahan
tersebut
2. Menolak operasi berhubungan dengan kurang pengetahuan tentang prosedur
pre dan paskaoperasi, kecemasan, ketakutan akan kecacatan dan ancaman
kematian.
Karakteristik data : kurang kerjasama dan menolak untuk dioperasi,menanyakan
informasi tentang persiapan pre dan prosedur posoperasi.
Goal : Klien akan bersedia dioperasi.
Kriteria hasil : Mengungkapkan perasaan dan pikirannya secara terbuka,
mengatakan mengerti pre dan posoperasi, mengatakan berkurangnya kecemasan,
klien dioperasi.
Rencana tindakan :
1. Kaji faktor-faktor yang menyebabkan klien menolak untuk dioperasi.
2. Anjurkan keluarga untuk memberikan suport seperti dukungan spiritual.
3. Direncanakan tindakan sesuai diagnosa keperawatan no.1.
POST OPERASI
1. Mempertahankan jalan napas tetap terbuka, ventilasi adekuat.
2. Membantu pasien dalam mengembangkan metode komunikasi alternatif.
3. Memperbaiki atau mempertahankan integritas kulit.
4. Membuat atau mempertahankan nutrisi adekuat.
5. Memberikan dukungan emosi untuk penerimaan gambaran diri yang terganggu.
6. Memberikan informasi tentang proses penyakit atau prognosis dan pengobatan.
1. Tujuan Pemulangan
1. Ventilasi atau oksigenasi adekuat untuk kebutuhan individu.
2. Komunikasi dengan efektif.
3. Komplikasi tercegah atau minimal.
4. Memulai untuk mengatasi gambaran diri.
5. Proses penyakit atau prognosis dan program terapi dapat dipahami.
2. Diagnosa Keperawatan
1. Bersihan jalan napas tidak efektif berhubungan dengan pengangkatan
sebagian atau seluruh glotis, gangguan kemampuan untuk bernapas, batuk
dan menelan, serta sekresi banyak dan kental.
Batasan karakteristik : sulit bernapas, perubahan pada frekwensi atau kedalaman
pernapasan,penggunaan otot aksesori pernapasan, bunyi napas tidak
normal,sianosis.
Goal : Klien akan mempertahankan jalan napas tetap terbuka.
Kriteria hasil : bunyi napas bersih dan jelas, tidak sesak, tidak sianosis,frekwensi
napas normal.
Rencana tindakan :
Mandiri
1. Awasi frekwensi atau kedalaman [Link] bunyi napas. Selidiki
kegelisahan, dispnea, dan sianosis. Rasional perubahan pada pernapasan,
adanya ronki,mengi,diduga adanya retensi sekret.
2. Tinggikan kepala 30-45 derajat. Rasional memudahkan drainase sekret, kerja
pernapasan dan ekspansi paru.
3. Dorong menelan bila pasien mampu. Rasional mencegah pengumpulan sekret
oral menurunkan resiko aspirasi. Catatan : menelan terganggu bila epiglotis
diangkat atau edema paskaoperasi bermakna dan nyeri terjadi.
4. Dorong batuk efektif dan napas dalam. Rasional memobilisasi sekret untuk
membersihkan jalan napas dan membantu mencegah komplikasi pernapasan.
5. Hisap selang laringektomi atau trakeotomi, oral dan rongga nasal. Catat
jumlah, warna dan konsistensi sekret. Rasional mencegah sekresi menyumbat
jalan napas, khususnya bila kemampuan menelan terganggu dan pasien tidak
dapat meniup lewat hidung.
6. Observasi jaringan sekitar selang terhadap adanya perdarahan. Ubah posisi
pasien untuk memeriksa adanya pengumpulan darah dibelakang leher atau
balutan [Link] sedikit jumlah perembesan mungkin terjadi. Namun
perdarahan terus-menerus atau timbulnya perdarahan tiba-tiba yang tidak
terkontrol dan menunjukkan sulit bernapas secara tiba-tiba.
7. Ganti selang atau kanul sesuai indikasi. Rasional mencegah akumulasi sekret
dan perlengketan mukosa tebal dari obstruksi jalan napas. Catatan : ini
penyebab umum distres pernapasan atau henti napas pada paskaoperasi.
a. Kolaborasi
8. Berikan humidifikasi tambahan, contoh tekanan udara atau oksigen dan
peningkatan masukan [Link] fisiologi normal ( hidung) berarti
menyaring atau melembabkan udara yang [Link] kelembaban
menurunkan mengerasnya mukosa dan memudahkan batuk atau penghisapan
sekret melalui stoma.
9. Awasi seri GDA atau nadi oksimetri, foto dada. Rasional pengumpulan sekret
atau adanya ateletaksis dapat menimbulkan pneumonia yang memerlukan
tindakan terapi lebih agresif.
2. Kerusakan komunikasi verbal berhubungan dengan defisit anatomi
( pengangkatan batang suara ) dan hambatan fisik ( selang trakeostomi ).
Karakteristik data :Ketidakmampuan berbicara, perubahan pada karakteristik
suara.
Goal : Komunikasi klien akan efektif .
Kriteria hasil : Mengidentifikasi atau merencanakan pilihan metode berbicara
yang tepat setelah sembuh.
Rencana tindakan :
Mandiri
1. Kaji atau diskusikan praoperasi mengapa bicara dan bernapas
terganggu,gunakan gambaran anatomik atau model untuk membantu
[Link] untuk mengurangi rasa takut pada klien.
2. Tentukan apakah pasien mempunyai gangguan komunikasi lain seperti
pendengaran dan [Link] adanya masalah lain mempengaruhi
rencana untuk pilihan komunikasi.
3. Berikan pilihan cara komunikasi yang tepat bagi kebutuhan pasien misalnya
papan dan pensil, papan alfabet atau gambar, dan bahasa [Link]
memungkingkan pasien untuk menyatakan kebutuhan atau masalah. Catatan :
posisi IV pada tangan atau pergelangan dapat membatasi kemampuan untuk
menulis atau membuat tanda.
4. Berikan waktu yang cukup untuk [Link] kehilangan bicara dan
stres menganggu komunikasi dan menyebabkan frustrasi dan hambatan
ekspresi, khususnya bila perawat terlihat terlalu sibuk atau bekerja.
5. Berikan komunikasi non verbal, contoh sentuhan dan gerak fisik. Rasional
mengkomunikasikan masalah dan memenuhi kebutuhan kontak dengan orang
lain.
6. Dorong komunikasi terus-menerus dengan dunia luar contoh koran,TV, radio
dan kalender. Rasional mempertahankan kontak dengan pola hidup normal dan
melanjutkan komunikasi dengan cara lain.
7. Beritahu kehilangan bicara sementara setelah laringektomi sebagian dan atau
tergantung pada tersedianya alat bantu suara. Rasional memberikan dorongan
dan harapan untuk masa depan dengan memikirkan pilihan arti komunikasi dan
bicara tersedia dmungkin.
8. Ingatkan pasien untuk tidak bersuara sampai dokter memberi [Link]
meningkatkan penyembuhan pita suara dan membatasi potensi disfungsi pita
permanen.
9. Atur pertemuan dengan orang lain yang mempunyai pengalaman prosedur ini
dengan tepat. Rasional memberikan model peran, meningkatkan motivasi
untuk pemecahan masalah dan mempelajari cara baru untuk berkomunikasi.
b. Kolaborasi
10. Konsul dengan anggota tim kesehatan yang tepat atau terapis atau agen
rehabilitasi ( contoh patologis wicara, pelayanan sosial, kelompok laringektomi
) selama rehabilitasi dasar dirumah sakit sesuai sumber komunikasi ( bila ada ).
Rasional Kemampuan untuk menggunakan pilihan suara dan metode bicara
( contoh bicara esofageal ) sangat bervariasi, tergantung pada luasnya prosedur
pembedahan, usia pasien, dan motivasi untuk kembali ke hidup aktif. Waktu
rehabilitasi memerlukan waktu panjang dan memerlukan sumber dukungan
untuk proses belajar.
3. Kerusakan integritas kulit atau jaringan berhubungan dengan bedah
pengangkatan, radiasi atau agen kemoterapi, gangguan sirkulasi atau suplai
darah,pembentukan udema dan pengumpulan atau drainase sekret terus-
menerus.
Karakteristik data : kerusakan permukaan kulit atau jaringan, kerusakan lapisan
kulit atau jaringan.
Goal : Menunjukkan waktu penyembuhan yang tepat tanpa komplikasi.
Kriteria hasil : integritas jaringan dan kulit sembuh tanpa komplikasi
Rencana tindakan :
1. Kaji warna kulit, suhu dan pengisian kapiler pada area operasi dan tandur
[Link] kulit harus berwarna merah muda atau mirip dengan warna kulit
sekitarnya. Sianosis dan pengisian lambat dapat menunjukkan kongesti vena,
yang dapat menimbulkan iskemia atau nekrosis jaringan.
2. Pertahankan kepala tempat tidur 30-45 derajat. Awasi edema wajah ( biasanya
meningkat pada hari ketiga-kelima pascaoperasi ).Rasional meminimalkan
kongesti jaringan paskaoperasi dan edema sehubungan dengan eksisi saluran
limfe.
3. Lindungi lembaran kulit dan jahitan dari tegangan atau tekanan. Berkan bantal
atau gulungan dan anjurkan pasien untuk menyokong kepala atau leher selama
aktivitas. Rasional tekanan dari selang dan plester trakeostomi atau tegangan
pada jahitan dapat menggangu sirkulasi atau menyebabkan cedera jaringan.
4. Awasi drainase berdarah dari sisi operasi, jahitan dan [Link] drainase
berdarah biasanya tetap sedikit setelah 24 jam pertama. Perdarahan terus-
menerus menunjukkan masalah yang memerlukan perhatian medik.
5. Catat atau laporkan adanya drainase seperti susu. Rasional drainase seperti
susu menunjukkan kebocoran duktus limfe torakal ( dapat menyebabkan
kekurangan cairan tubuh dan elektrolit ).Kebocoran ini dapat sembuh spontan
atau memerlukan penutupan bedah.
6. Ganti balutan sesuai indikasi bila digunakan. Rasional balutan basah
meningkatkan resiko kerusakan jaringan atau infeksi. Catatan : balutan tekan
tidak digunakan diatas lembaran kulit karena suplai darah mudah dipengaruhi.
7. Bersihkan insisi dengan cairan garam faal steril dan peroksida ( campuran 1 : 1
) setelah balutan diangkat. Rasional mencegah pembetukan kerak , yang dapat
menjebak drainase purulen, merusak tepi kulit, dan meningkatkan ukuran luka.
Peroksida tidak banyak digunakan karena dapat membakar tepi dan
menggangu penyembuhan.
8. Bersihka sekitar stoma dan selang bila dipasang serta hindari sabun dan
[Link] pada pasien bagaimana melakukan perawatan stoma atau
selang sendiri dalam membersihkan dengan air bersih dan peroksida,
menggunakan kain bukan tisu atau katun. Rasional mempertahankan area
bersih meningkatkan penyembuhan dan kenyamanan. Sabun dan agen kering
lainnya dapat menimbulkan iritasi stoma dan kemungkinan [Link]
lain selain kain dapat meninggalkan serat pada stoma yang dapat mengiritasi
atau terhisap ke paru.
c. Kolaborasi
9. Berikan antibiotik oral, topikal dan IV sesuai indikasi. Rasional mencegah atau
mengontrol infeksi.
4. Perubahan membran mukosa oral berhubungan dengan dehidrasi,
kebersihan oral tidak adekuat, kanker oral, penurunan produksi saliva
sekunder terhadap radiasi atau prosedur pembedahan dan defisit nutrisi.
Karakteristik data : Xerostomia ( mulut kering ), ketidaknyamanan mulut, saliva
kental atau banyak, penurunan produksi saliva, lidah kering,pecah dan kotor,bibir
inflamasi, tidak ada gigi.
Goal : menunjukkan membran mukosa oral baik atau integritas membran mukosa
baik.
Kriteria Hasil : mulut lembab atau tidak kering, mulut terasa segar, lidah normal,
bersih dan tidak pecah, tidak ada tanda inflamasi pada bibir.
Rencana tindakan :
Mandiri
1. Inspeksi rongga oral dan perhatikan perubahan pada [Link]
kerusakan pada kelenjar saliva dapat menurunkan produksi saliva,
mengakibatkan mulut kering. Penumpukan dan pengaliran saliva dapat terjadi
karena penurunan kemampuan menelan atau nyeri tenggorok dan mulut.
2. Perhatikan perubahan pada lidah, bibir, geligi dan gusi serta membran
mukosa. Rasional pembedahan meliputi reseksi parsial dari lidah, platum
lunak, dan faring. Pasien akan mengalami penurunan sensasi dan gerakan
lidah, dengan kesulitan menelan dan peningkatan resiko aspirasi sekresi, serta
potensial hemoragi. Pembedahan dapat mengankat bagian bibir
mengakibatkan pengaliran saliva tidak terkontrol. Geligi mungkin tidak utuh
( pembedahan ) atau mungkin kondisinya buruk karena malnutrisi dan terapi
kimia. Gusi juga dapat terinflamasi karena higiene yang buruk, riwayat lama
dari merokok atau mengunyah tembakau atau terapi kimia. Membran mukosa
mungkin sangat kering, ulserasi,eritema,dan edema.
3. Hisapan rongga oral secara perlahan atau sering. Biarkan pasien melakukan
pengisapan sendiri bila mungkin atau menggunakan kasa untuk mengalirkan
sekresi. Rasional saliva mengandung enzim pencernaan yang mungkin
bersifat erosif pada jaringan yang terpajan. Karena pengalirannya konstan,
pasien dapat meningkatkan kenyamanan sendiri dan meningkatkan higiene
oral.
4. Tunjukkan pasien bagaimana menyikat bagian dalam mulut, platum, lidah dan
geligi dengan sering. Rasional menurunkan bakteri dan resiko infeksi,
meningkatkan penyembuhan jaringan dan kenyamanan.
5. Berikan pelumas pada bibir; berikan irigasi oral sesuai indikasi. Rasional
mengatasi efek kekeringan dari tindakan terapeutik; menghilangkan sifat
erosif dari sekresi.
5. Nyeri akut berhubungan dengan insisi bedah, pembengkakan
jaringan,adanya selang nasogastrik atau orogastrik.
Karakteristik data : Ketidaknyamanan pada area bedah atau nyeri karena
menelan, nyeri wajah, perilaku distraksi, gelisah, perilaku berhati-hati.
Goal : Nyeri klien akan berkurang atau hilang.
Kriteria hasil : klien mengatakan nyeri hilang, tidak gelisah, rileks dan ekpresi
wajah ceria.
Rencana tindakan :
1. Sokong kepala dan leher dengan [Link] pada pasienbagaimana
menyokong leher selama [Link] kelemahan otot diakibatkan oleh
reseksi otot dan saraf pada struktur leher dan atau bahu. Kurang sokongan
meningkatkan ketidaknyamanan dan mengakibatkan cedera pada area jahitan.
2. Dorong pasien untuk mengeluarkan saliva atau penghisap mulut dengan
hati-hati bila tidak mampu menelan. Rasional menelan menyebabkan aktivitas
otot yang dapat menimbulkan nyeri karena edema atau regangan jahitan.
3. Selidiki perubahan karakteristik nyeri, periksa mulut, jahitan tenggorok
untuk trauma [Link] dapat menunjukkan terjadinya komplikasi yang
memerlukan evaluasi lanjut atau [Link] terinflamasi dan kongesti
dapat dengan mudah mengalami trauma dengan penghisapan kateter dan selang
makanan.
4. Catat indikator non verbal dan respon automatik terhadap nyeri. Evaluasi
efek analgesik. Rasional alat menentukan adanya nyeri dan keefektifan obat.
5. Anjurkan penggunaan perilaku manajemen stres, contoh teknik relaksasi,
bimbingan imajinasi. Rasional meningkatkan rasa sehat, dapat menurunkan
kebutuhan analgesik dan meningkatkan penyembuhan.
6. Kolaborasi dengan pemberian analgesik, contoh codein, ASA, dan Darvon
sesuai indikasi. Rasional derajat nyeri sehubungan dengan luas dan dampak
psikologi pembedahan sesuai dengan kondisi [Link] dapat
menurunkan atau menghilangkan nyeri.
6. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan
gangguan jenis masukan makanan sementara atau permanen, gangguan
mekanisme umpan balik keinginan makan, rasa, dan bau karena perubahan
pembedahan atau struktur, radiasi atau kemoterapi.
Karakteristik data : tidak adekuatnya masukan makanan,ketidakmampuan
mencerna makanan, menolak makan, kurang tertarik pada makanan,laporan
gangguan sensasi pengecap, penurunan berat badan, kelemahan otot yang
diperlukan untuk menelan atau mengunyah.
Goal : Klien akan mempertahankan kebutuhan nutrisi yang adekuat.
Kriteria hasil : Membuat pilihan diit untuk memenuhi kebutuhan nutrisi dalam
situasi individu, menunjukkan peningkatan BB dan penyembuhan jaringan atau
insisi sesuai waktunya.
Rencana tindakan :
1. Auskultasi bunyi usus. Rasional makan dimulai hanya setelah bunyi usus
membik setelah operasi.
2. Pertahankan selang makan, contoh periksa letak selang : dengan mendorongkan air
hangat sesuai indikasi. Rasional selang dimasukan pada pembedahan dan biasanya
[Link] selang digabungkan dengan penghisap untuk menurunkan mual
dan muntah. Dorongan air untuk mempertahankan kepatenan selang.
3. Ajarkan pasien atau orang terdekat teknik makan sendiri, contoh ujung spuit,
kantong dan metode corong, menghancurkan makanan bila pasien akan pulang
dengan selang makanan. Yakinkan pasien dan orang terdekat mampu melakukan
prosedur ini sebelum pulang dan bahwa makanan tepat dan alat tersedia di rumah.
Rasional membantu meningkatkan keberhasilan nutrisi dan mempertahankan
martabat orang dewasa yang saat ini terpaksa tergantung pada orang lain untuk
kebutuhan sangat mendasar pada penyediaan makanan.
4. Mulai dengan makanan kecil dan tingkatkan sesuai dengan toleransi. Catat tanda
kepenuhan gaster, regurgitasi dan [Link] kandungan makanan dapat
mengakibatkab ketidaktoleransian GI, memerlukan perubahan pada kecepatan atau
tipe formula.
5. Berikan diet nutrisi seimbang ( misalnya semikental atau makanan halus ) atau
makanan selang ( contoh makanan dihancurkan atau sediaan yang dijual ) sesuai
indikasi. Rasional macam-macam jenis makanan dapat dibuat untuk tambahan atau
batasan faktor tertentu, seperti lemak dan gula atau memberikan makanan yang
disediakan pasien.
7. Gangguan citra diri berhubungan dengan kehilangan suara,perubahan
anatomi wajah dan leher.
Karakteristik data :perasaan negatif tentang citra diri, perubahan dalam
keterlibatan sosial, ansietas, depresi, kurang kontak mata.
Goal : Mengidentifikasi perasaan dan metode koping untuk persepsi negatif pada
diri sendiri.
Kriteria hasil : menunjukkan adaptasi awal terhadap perubahan tubuh sebagai
bukti dengan partisipasi aktivitas perawatan diri dan interaksi positip dengan
orang [Link] dengan orang terdekat tentang perubahan peran yang
telah [Link] mengembangkan rencana untuk perubahan pola hidup.
Berpartisipasi dalam tim sebagai upaya melaksanakan rehabilitasi.
Rencana tindakan :
1. Diskusikan arti kehilangan atau perubahan dengan pasien,
identifikasi persepsi situasi atau harapan yang akan [Link] alat
dalam mengidentifikasi atau mengartikan masalah untuk memfokuskan
perhatian dan intervensi secara konstruktif.
2. Catat bahasa tubuh non verbal, perilaku negatif atau bicara sendiri.
Kaji pengrusakan diri atau perilaku bunuh diri. Rasional dapat menunjukkan
depresi atau keputusasaan, kebutuhan untuk pengkajian lanjut atau intervensi
lebih intensif.
3. Catat reaksi emosi, contoh kehilangan, depresi, marah. Rasional
pasien dapat mengalami depresi cepat setelah pembedahan atau reaksi syok
dan menyangkal. Penerimaan perubahan tidak dapat dipaksakan dan proses
kehilangan membutuhkan waktu untuk membaik.
4. Susun batasan pada perilaku maladaptif, bantu pasien untuk
mengidentifikasi perilaku positip yang akan membaik. Rasional penolakan
dapat mengakibatkan penurunan harga diri dan mempengaruhi penerimaan
gambaran diri yang baru.
5. Kolaboratif dengan merujuk pasien atau orang terdekat ke sumber
pendukung, contoh ahli terapi psikologis, pekerja sosial, konseling keluarga.
Rasional pendekatan menyeluruh diperlukan untuk membantu pasien
menghadapi rehabilitasi dan kesehatan. Keluarga memerlukan bantuan dalam
pemahaman proses yang pasien lalui dan membantu mereka dalam emosi
mereka. Tujuannya adalah memampukan mereka untuk melawan
kecendrungan untuk menolak dari atau isolasi pasien dari kontak social.
DAFTAR PUSTAKA
Barbara Engram (1998), Rencanma Asuhan Keperawatan Medikal-Bedah jilid II Penerbit
buku Kedokteran EGC, Jakarta.
Barbara C Long (1996), Perawatan Medikal Bedah Suatu pendekatan Proses
Keperawatan, The C.V Mosby Company St. Louis, USA.
Hudak & Gallo (1997), Keperawatan Kritis. Pendekatan Holistik Volume 1, Penerbit Buku
Kedokteran EGC, Jakarta.
Marylin E Doenges (2000), Rencana Asuhan Keperawatan. Pedoman Untuk Perencanaan
dan Pendokumentasian Perawatan Pasien Edisi 3. Penerbit Buku Kedokteran
EGC, Jakarta.
R. Sjasuhidajat, Wim De Jong (1997), Buku ajar ilmu Bedah Edisi Revisi. Penerbit Buku
Kedokteran EGC, Jakarta.
Sylvia A. Price (1995), Patofisiologi Konsep Klinis Proses-Proses Penyakit Edisi 4, Buku
2. Penerbit Buku Kedokteran EGC, Jakarta.